Yang Salah Itu Pelaku, Bukan Korban

Diundurnya pembahasan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) menimbulkan polemik di masyarakat. Apalagi, alasan yang dikeluarkan oleh DPR bisa dibilang non-sense.

Banyak yang menganggap ditariknya RUU PKS dari Program Legislatif Nasional 2020 sebagai bukti kalau pemerintah tidak serius dalam melindungi warga negaranya sendiri.

Hal itu membuat banyak orang menyuarakan pengalaman pelecehan seksual yang pernah mereka alami. Mereka ingin menunjukkan bahwa permasalahan ini bukanlah hal yang sepele.

Bukan Karena Baju Minim

Infografis Pelecehan Seksual (Tirto)

Tirto membuat infografis mengenai kasus pelecehan seksual berdasarkan survei yang dilakukan pada tahun 2018. Data yang ditunjukkan membuat Penulis mengerenyitkan dahi.

Ternyata, kebanyakan korban tidak mengenakan pakaian yang minim. Bahkan, 17% korban mengenakan hijab yang notabene tertutup dari atas sampai bawah.

Hal ini diperkuat dengan cerita-cerita yang Penulis baca di Twitter. Ketika membacanya, Penulis baru menyadari betapa gentingnya permasalahan ini.

Seorang wanita dewasa bebas mengenakan apa saja yang mereka inginkan, entah cadar ataupun celana hot pants. Mereka sudah cukup umur untuk menentukan pilihan, termasuk dalam berpakaian.

Yang salah adalah pelaku pelecehan. Titik. Mau lihat wanita telanjang sekalipun, kalau pelaku bisa menahan dirinya, tidak akan terjadi pelecehan seksual.

Konklusi yang bisa diambil adalah pelaku pelecehan melakukan tindakannya bukan karena pakaian yang dikenakan oleh korban. Otak mereka saja yang memang ngeres dan cabul.

Jujur saja, Penulis jadi merasa sedikit takut apabila nanti memiliki anak perempuan. Penulis akan sering merasa cemas anaknya nanti akan mendapatkan pelecehan dari orang-orang tersebut.

Sudah Korban, Disalahkan Pula

Victim Blamming (Tirto)

Apa yang lebih parah? Para korban pelecehan kerap dituding bersalah oleh beberapa pihak. Bayangkan, sudah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, masih dihakimi orang lain seperti itu.

Contohnya, jika ada kasus pelecehan atau bahkan pemerkosaan, biasanya akan muncul komentar-komentar semacam ini:

  • Salah sendiri keluar sendirian
  • Salah sendiri malam-malam keluar
  • Salah sendiri pakai pakaian yang seksi
  • Salah sendiri blablabla…

Kita ini memang bisa dengan sangat mudah menghakimi orang lain tanpa merasa perlu melakukan klarifikasi. Bisa saja mereka terpaksa pulang malam karena tuntutan pekerjaan atau pergi sendiri karena memang tidak ada yang bisa mengantar.

Jika Penulis membayangkan ada di posisi mereka, entah apa yang akan Penulis perbuat. Yang jelas, Penulis akan merasa down karena merasa tidak mendapatkan dukungan atas musibah yang menimpanya.

Ketidakadilan hukum bagi sang korban juga semakin menambah luka bagi mereka. Beberapa tahun terakhir, ada banyak sekali kasus pelecehan seksual yang memberatkan pihak korban, seolah tidak ada perlindungan sama sekali.

Penutup

Penulis tidak mau munafik karena dirinya sendiri belum bisa menjaga pandangan jika melihat seorang wanita cantik. Penulis sendiri masih belajar untuk menjaga dirinya agar tidak mudah terpancing oleh hawa nafsu seperti itu.

Kesadaran kita akan betapa bahayanya pelecehan seksual masih tergolong rendah. Hal ini diperparah dengan adanya victim blaming dari masyarakat.

Kasus-kasus pelecehan ini bahkan kerap terjadi di ruang publik dalam berbagai bentuk, mulai dari verbal hingga tindakan fisik yang kurang ajar.

Dengan ditariknya pembahasan RUU PKS, entah sampai kapan kasus pelecehan seksual, terutama terhadap wanita, akan disepelekan.

 

 

Kebayoran Lama, 5 Juli 2020, terinspirasi dari banyaknya cerita pelecehan seksual yang Penulis baca di Twitter

Foto: Claudia Soraya

Sumber Artikel: Tirto 1, Tirto 2

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.