<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>penulis Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/penulis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/penulis/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Sep 2021 13:18:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>penulis Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/penulis/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Perjalanan Cita-Cita Saya, Mulai Astronot hingga Menteri Pendidikan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/perjalanan-cita-cita-saya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/perjalanan-cita-cita-saya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2021 14:54:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[astronot]]></category>
		<category><![CDATA[cita-cita]]></category>
		<category><![CDATA[dosen]]></category>
		<category><![CDATA[ilmuwan]]></category>
		<category><![CDATA[impian]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5161</guid>

					<description><![CDATA[<p>Entah mengapa secara random Penulis ingin berbagi kronologi cita-citanya mulai kecil hingga sekarang. Kebetulan, Penulis ingat apa saja karir yang diinginkan mulai SD hingga usianya yang sudah mendekati kepala tiga ini. SD: Astronot dan Ilmuwan Penulis merasa bersyukur memiliki privilege berupa orangtua yang gemar memberikan bacaan sejak kecil. Bukunya pun semacam ensiklopedia mini dengan beragam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/perjalanan-cita-cita-saya/">Perjalanan Cita-Cita Saya, Mulai Astronot hingga Menteri Pendidikan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Entah mengapa secara <em>random </em>Penulis ingin berbagi kronologi cita-citanya mulai kecil hingga sekarang. Kebetulan, Penulis ingat apa saja karir yang diinginkan mulai SD hingga usianya yang sudah mendekati kepala tiga ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">SD: Astronot dan Ilmuwan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5167" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Menjadi Astronot (<a href="https://www.spaceflightinsider.com/obituary/untethered-humanity-first-free-flying-astronaut-bruce-mccandless-passes-away-aged-80/">SpaceFlight Insider</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis merasa bersyukur <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/apa-yang-salah-dengan-privilege/">memiliki <em>privilege</em></a><em> </em>berupa orangtua yang gemar memberikan bacaan sejak kecil. Bukunya pun semacam ensiklopedia mini dengan beragam topik.</p>



<p>Menariknya, sejak kecil Penulis sudah menunjukkan ketertarikan terhadap luar angkasa. Rasanya semesta menyimpan begitu banyak misteri yang begitu indah sekaligus menakutkan.</p>



<p>Oleh karena itu, kalau tidak salah ketika kelas 2 SD, Penulis bercita-cita menjadi seorang <strong>astronot</strong>. Tidak pernah terbesit pikiran untuk menjadi dokter, tentara, guru, ataupun pekerjaan yang lebih umum di saat itu.</p>



<p>Ketika kelas 5 atau 6, Penulis sudah mulai membaca komik Seri Tokoh Dunia yang berisi tentang biografi singkat orang-orang penting. Beberapa di antaranya adalah <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/kekepoan-yang-hakiki-ala-thomas-alva-edison/">Thomas Alva Edison</a>, Albert Einstein, Loius Pasteur, dan lainnya.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis sempat berangan-angan menjadi <strong>ilmuwan </strong>seperti mereka, walau belum tahu apa yang dikerjakan oleh para ilmuwan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">SMP: Penulis</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5166" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Menjadi Penulis (<a href="https://www.entrepreneur.com/article/346919">Enterpreneur</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mengapa-kita-harus-gemar-membaca/">mulai suka membaca</a> novel ketika SMP. Beberapa novel yang Penulis baca adalah <em>Sherlock Holmes </em>dan <em>Harry Potter</em>. Tumbuhnya kesukaan membaca ini mendorong hobi baru yang masih dijalani hingga sekarang: menulis.</p>



<p><em>Draft </em>pertama novel <em><a href="https://whathefan.com/category/leonkenji/">Leon dan Kenji</a> </em>tercipta ketika ada tugas PPKN yang menyuruh muridnya untuk menunjukkan bakat apa yang dimiliki. Karena merasa tidak punya bakat lain, Penulis pun memutuskan untuk membuat sebuah cerita pendek dan berhasil mendapatkan nilai 90.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis bercita-cita untuk menjadi seorang <strong>penulis </strong>yang ternyata menjadi jalan hidupnya sekarang. Memang belum bisa menerbitkan novelnya sendiri, tapi setidaknya Penulis bisa merintis karir dari hobinya sejak SMP ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">SMA: Diplomat</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5165" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Menjadi Diplomat (<a href="https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/06/14/profesi-diplomat-tak-sekadar-pembawa-pesan-dari-negara">Good News From Indonesia</a>)</figcaption></figure>



<p>Selain membaca buku-buku yang berkaitan tentang luar angkasa, sejak SD Penulis juga sangat suka membaca atlas. Entah berapa ibukota dan bendera negara yang sudah Penulis hafal sejak dini.</p>



<p>Ketika duduk di bangku SMA, entah mengapa muncul dorongan untuk bisa hidup dan tinggal di luar negeri. Karena tidak punya biaya sendiri, Penulis pun coba mencari peluang pekerjaan apa yang bisa membuat Penulis mendapatkan hal tersebut.</p>



<p>Jawabannya pun adalah <strong>diplomat</strong>. Terserah tinggal di mana, yang penting Penulis bisa merasakan sensasi tinggal di negara lain selain Indonesia.</p>



<p>Ketika memilih jurusan SBMPTN, Penulis memilih jurusan Hubungan Internasional sebagai pilihan keduanya karena merasa jurusan ini bisa membawa dirinya ke cita-cita tersebut.</p>



<p>Sayangnya (atau untungnya?), takdir berkata lain. Penulis justru diterima di jurusan pilihan pertamanya: Informatika.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kuliah: Dosen dan Punya S<em>oftware House</em></h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5163" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Menjadi Dosen (<a href="https://lp2m.uma.ac.id/benefits-of-already-fulfilling-lecturer-accreditation-standards/">LP2M</a>)</figcaption></figure>



<p>Kuliah di jurusan Informatika benar-benar berbeda dari yang dibayangkan. Penulis memang suka dengan komputer sejak kecil, tapi tidak pernah bersentuhan dengan yang namanya bahasa pemograman.</p>



<p>Sejak semester awal, Penulis sudah merasa yakin kalau dirinya tidak berbakat untuk menjadi seorang <em>programmer</em> ataupun pekerjaan lain yang bersentuhan dengan itu.</p>



<p>Maka dari itu, Penulis ingin menjadi seorang <strong>dosen</strong>. Penulis sempat memiliki rencana untuk melanjutkan studi S2 dengan jurusan Manajemen Informatika. Harapannya, setidaknya Penulis bisa menjadi dosen untuk jurusan Sistem Informasi. </p>



<p>Selain itu, Penulis dan teman-temannya ingin memiliki semacam<strong> <em>software house</em></strong>. Kami sudah mencobanya, sayang kurang berhasil karena berbagai kendala.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Selepas Kuliah: Menteri Pendidikan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-5-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5164" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-5-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-5-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-5-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/perjalanan-cita-cita-saya-5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Pernah Punya Cita-Cita yang Sama dengan Dia (<a href="https://beritakbb.pikiran-rakyat.com/hiburan/pr-961179915/profil-biodata-dan-cerita-jerome-polin-raih-beasiswa-jepang-hingga-impian-jadi-menteri-pendidikan">Berita KBB</a>)</figcaption></figure>



<p>Anehnya, walau punya cita-cita sebagai seorang dosen, Penulis malah coba untuk <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-net-tv-tahap-pertama/">melamar pekerjaan di NET TV</a>. Sayangnya, Penulis gagal di babak seleksi terakhir.</p>



<p>Keinginan untuk menjadi seorang dosen pun timbul lagi. Berkat nasihat seseorang, Penulis jadi terdorong untuk mengombinasikan beberapa cita-citanya: pergi ke luar negeri untuk kuliah, lalu pulang ke Indonesia untuk menjadi seorang dosen.</p>



<p>Penulis pun sampai harus pergi ke Kampung Inggris untuk persiapan tes IELTS. Nah, saat itu Penulis sedang membaca buku karya Rhenald Khasali yang berjudul <em>Strawberry Generation</em>. </p>



<p>Buku tersebut membuat Penulis tergugah untuk bisa membantu memperbaiki pendidikan di Indonesia. Tercetuslah cita-cita yang kedengarannya sangat tinggi: <strong>Menteri Pendidikan</strong>. Cita-cita yang sama dengan <a href="https://whathefan.com/buku/kisah-jerome-polin-pada-buku-latihan-soal-mantappu-jiwa/">Jerome Polin</a>.</p>



<p>Sayangnya, kegagalan mendapatkan beasiswa secara bertubi-tubi menjatuhkan Penulis. Boro-boro jadi menteri, sekadar mendapatkan beasiswa saja tidak berhasil.</p>



<p>Dengan segala kondisinya yang penuh kelimbungan, Penulis memutuskan untuk <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/">merantau ke ibukota</a> dan menemukan jenjang karir yang akhirnya cocok dengan dirinya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Sebagai luluan Informatika yang tidak memiliki kemampuan <em>programming</em>, berkesempatan untuk merintis karir sebagai <em>Content Writer </em>adalah kesempatan yang luar biasa.</p>



<p>Tidak hanya itu, Penulis juga sempat mencicipi bidang pekerjaan lain seperti <em>Social Media Specialist</em> hingga <em>Apps &amp; Games Lead</em>. Karir Penulis sekarang sebagai seorang editor juga tidak lepas dari pengalaman-pengalaman tersebut.</p>



<p>Memiliki banyak cita-cita yang unik dan kerap berubah justru menjadi kebanggaan bagi Penulis. Setidaknya, cita-cita sebagai seorang penulis pada waktu SMP tersampaikan, walau dalam bentuk yang berbeda dengan bayangannya.</p>



<p>Jika ditanya apa cita-citanya sekarang, Penulis pun akan kebingungan untuk menjawabnya. Setidaknya, Penulis akan berusaha untuk terus mengembangkan diri dan karirnya. Hasilnya seperti apa, kita lihat saja nanti.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 3 Agustus 2021, terinspirasi dari pikiran <em>random </em>yang tiba-tiba muncul</p>



<p>Foto: <a href="https://www.macleayargus.com.au/story/6234470/should-you-plan-each-career-step-or-wing-it/">The Macleay Argus</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/perjalanan-cita-cita-saya/">Perjalanan Cita-Cita Saya, Mulai Astronot hingga Menteri Pendidikan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/perjalanan-cita-cita-saya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Selamat Tinggal</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selamat-tinggal/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selamat-tinggal/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2021 10:49:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[bajakan]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[novel Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<category><![CDATA[Sutan Pane]]></category>
		<category><![CDATA[Tere Liye]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4255</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis berkali-kali mengungkapkan kekecewaan terhadap karya-karya terbaru Tere Liye, seperti novel Si Anak Badai, Si Anak Cahaya, Komet Minor, hingga Pergi. Harusnya jika berkali-kali dikecewakan, Penulis berhenti membeli novel-novelnya. Ternyata, Penulis tetap membeli novel-novel karyanya. Yang terbaru adalah Selamat Tinggal yang satu ini. Salah satu alasannya adalah buku ini merupakan novel yang berdiri sendiri, bukan serial. Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selamat-tinggal/">Setelah Membaca Selamat Tinggal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis berkali-kali mengungkapkan kekecewaan terhadap karya-karya terbaru <strong>Tere Liye</strong>, seperti novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/anak-anak-muara-pada-si-anak-badai/">Si Anak Badai</a>, <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-si-anak-cahaya/">Si Anak Cahaya</a>, <a href="https://whathefan.com/buku/teknik-marketing-pada-komet-minor/">Komet Minor</a>,</em> hingga <a href="https://whathefan.com/buku/antara-pulang-dan-pergi/"><em>Pergi</em></a>.</p>
<p>Harusnya jika berkali-kali dikecewakan, Penulis berhenti membeli novel-novelnya. Ternyata, Penulis tetap membeli novel-novel karyanya.</p>
<p>Yang terbaru adalah <em><strong>Selamat Tinggal</strong> </em>yang satu ini. Salah satu alasannya adalah buku ini merupakan novel yang berdiri sendiri, bukan serial.</p>
<p>Penulis memilki pengalaman bagus dengan novel Tere Liye yang berdiri sendiri, seperti <em>Tentang Kamu, Rindu, Ayahku (Bukan) Pembohong, </em>dan lainnya.</p>
<p>Setelah menamatkan novel ini, Penulis merasakan amarah yang menggebu-gebu dari Tere Liye terkait pembajakan buku!</p>
<p><strong>SPOILER ALERT!</strong></p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Menggunakan sudut pandang orang ketiga, tokoh utama dari buku ini adalah <strong>Sintong</strong>, seorang mahasiswa yang tak lulus-lulus sekaligus penjaga toko buku bajakan di dekat kampus negeri.</p>
<p>Sintong berasal dari Sumatera. Ia merantau jauh untuk kuliah di Jawa dan menumpang di rumah saudaranya. Karena kuliahnya dibiayai,</p>
<p>Terlihat berantakan dan tidak punya masa depan, sebenarnya Sintong merupakan salah satu penulis berbakat. Karyanya sudah banyak masuk ke media nasional.</p>
<p>Hidup Sintong mulai berubah sejak ia bertemu dengan <strong>Jess</strong>, salah satu adik tingkatnya yang berparas menarik. Kehadiran gadis tersebut membuat ia merasa semangat lagi.</p>
<p>Tidak hanya itu, Sintong juga menemukan sebuah <em>draft </em>berisikan tulisan <strong>Sutan Pane</strong>, seorang penulis besar yang keberadaannya tidak banyak yang tahu.</p>
<p>Sintong berniat untuk membuat skripsi yang membahas Sutan Pane, terutama mencari alasan mengapa Sutan Pane tiba-tiba berhenti menulis pada tahun 1965.</p>
<p>Inilah perjalanan Sintong menelusuri kehidupan penulis hebat di masa lalu, sembari memerangi dirinya sendiri yang sudah muak menjual buku bajakan.</p>
<h3>Sindiran untuk Barang Bajakan</h3>
<p>Begitu membaca novel ini, Penulis sadar kalau Tere Liye terinspirasi dari maraknya <strong>penyebaran file PDF buku-buku secara ilegal</strong> melalui WhatsApp dan media lainnya.</p>
<p>Sebagai salah satu penulis terpopuler di Indonesia, karya-karya Tere Liye tentu menjadi mangsa empuk bagi pembajak.</p>
<p>Penulis merasakan sedikit dampaknya karena artikel tentang novel <em>Pulang</em> dan <em>Pergi</em> mendapatkan lonjakan <em>traffic</em>. Padahal, padahal Penulis tidak mendapatkan <em>link </em>file PDF-nya.</p>
<p>Secara sarkas, Tere Liye mengatakan bahwa yang salah adalah penulis yang tidak ikhlas dalam menulis. Harusnya mereka senang-senang saja karya mereka dibagikan secara gratis dan dinikmati oleh banyak orang.</p>
<p><strong>Sindiran yang sangat keras, bahkan Penulis yang hanya sekali membeli buku bajakan karena tidak tahu merasa tertampol.</strong></p>
<p>Tidak hanya meluapkan emosinya tentang buku bajakan, semua hal yang sifatnya bajakan disenggol sama Tere Liye.</p>
<p>Mulai film, lagu, <em>streaming </em>sepakbola, aplikasi, semua kena. Siapapun yang membaca novel ini pasti akan merasa tersindir seandainya pernah membeli atau menggunakan barang bajakan.</p>
<p>Bahkan, <em>marketplace online </em>yang juga kerap menjadi tempat beredarnya buku bajakan kena semprot. Sebuah kekesalan bisa menjadi ide cerita, Tere Liye memang sesuatu.</p>
<h3>Setelah Membaca <em>Selamat Tinggal</em></h3>
<p>Jika Tere Liye ingin <strong>menyampaikan kekesalannya terhadap pembajakan buku</strong> sekaligus <strong>edukasi kepada masyarakat</strong>, novel ini bisa dibilang berhasil melakukan tugasnya.</p>
<p>Dengan nada sarkas yang hampir muncul di setiap bab, kita akan dibuat berpikir ulang jika ingin membeli atau menggunakan barang-barang bajakan.</p>
<p>Ada banyak penulis buku yang sangat dirugikan dengan pembajakan. Bukan tidak mungkin, di masa depan jumlah penulis akan berkurang karena merasa jerih payahnya tidak dihargai.</p>
<p>Tere Liye sendiri mengakui bahwa segala upaya sudah dilakukan untuk meminimalisir pembajakan, namun hasilnya nihil. Buku bajakan tetap beredar luas, bahkan lebih masif karena bisa dijual daring.</p>
<p>Tokoh Sintong sendiri dibuat <strong>memiliki konflik internal di dalam dirinya sendiri</strong>. Ia menentang buku bajakan karena tahu itu tidak menghargai upaya penulis, tapi secara munafik ia malah berjualan buku bajakan demi menyelesaikan pendidikannya.</p>
<p>Menurut Penulis, konflik internal seperti ini sangat cocok untuk tema yang diangkat karena akan membuat pembacanya mengalami dilema yang sama.</p>
<p>Alur ceritanya memang mengangkat perjalanan &#8220;detektif&#8221; Sintong menyelesaikan skripsinya dengan mencari tahu lebih dalam tentang tokoh Sutan Pane, tapi Penulis justru merasa itu <em>side-story</em>-nya. Alur utamanya ya tentang buku bajakan.</p>
<p>Bumbu-bumbu cerita lain seperti perjalanan cinta Sintong hanya muncul sebagai pemanis. Di novel ini juga tidak terlalu banyak bab tidak penting yang tidak berpengaruh pada keseluruhan alur.</p>
<p>Bahasanya juga mudah dicerna sebagaimana karya-karya Tere Liye pada umumnya. Ringan, tapi ada nilai-nilai yang bisa dipetik. Ada saja dialog yang mengundang tawa ringan.</p>
<p>Hanya saja, Penulis merasa novel ini <strong>terasa datar</strong>. Hampir tidak ada konflik yang membuat Penulis merasa berdebar ataupun dibuat penasaran dengan kelanjutan halamannya.</p>
<p>Tidak ada pertarungan yang berdarah-darah, hanya ada konflik antar tokohnya. Antara Sintong dan dirinya sendiri, antara Sintong dan Jess, antara Sintong dan saudaranya, antara Sintong dan teman masa lalunya, dan lain sebagainya.</p>
<p>Lantas, mengapa novel ini diberi judul <em>Selamat Tinggal</em>? Karena mengandung <em>major spoiler</em>, Penulis tidak akan menjelaskannya di sini. Silakan baca novel yang satu ini, direkomendasikan untuk semua kalangan.</p>
<p><strong>Tapi ingat, beli yang asli, jangan yang bajakan, kasian penulisnya!</strong></p>
<p>Nilai: <strong>4.2/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 11 Januari 2020, terinspirasi setelah menamatkan novel <strong><em>Selamat Tinggal </em></strong>karya <strong>Tere Liye</strong></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selamat-tinggal/">Setelah Membaca Selamat Tinggal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selamat-tinggal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kebahagiaan Seorang Penulis</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/kebahagiaan-seorang-penulis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Feb 2020 04:11:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[hobi]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[passion]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[whathefan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3487</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika ditanya tentang hobi, biasanya Penulis akan menjawab Calistung alias Baca, Tulis, Hitung. Kalau baca, Penulis sudah lama menjadi kutu buku, kalau menghitung juga suka selama cuma aritmatika dasar. Nah, untuk aktivitas menulis, sebenarnya baru Penulis lakukan secara intens sejak awal tahun 2018 ketika blog ini lahir. Inspirasinya datang dari teman-teman Penulis di Kampung Inggris [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kebahagiaan-seorang-penulis/">Kebahagiaan Seorang Penulis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jika ditanya tentang hobi, biasanya Penulis akan menjawab Calistung alias Baca, Tulis, Hitung. Kalau baca, Penulis sudah lama menjadi kutu buku, kalau menghitung juga suka selama cuma aritmatika dasar.</p>
<p>Nah, untuk aktivitas menulis, sebenarnya baru Penulis lakukan secara intens sejak awal tahun 2018 ketika <a href="https://whathefan.com/pengalaman/satu-tahun-whathefan/">blog ini lahir</a>. Inspirasinya datang dari teman-teman Penulis di Kampung Inggris yang juga suka menulis.</p>
<p>Semenjak itu, menulis menjadi salah satu <em>passion </em>Penulis. Bahkan pada akhirnya <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/">Penulis bisa bekerja sebagai </a><em><a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/">Content Writer</a> </em>di salah satu website teknologi terbesar di Indonesia.</p>
<h3><em>Passion</em> Menulis Cerita Sejak Kecil</h3>
<p>Jika dirunut ke belakang, Penulis sudah menyukai kegiatan menulis sejak SD. Penulis ingat betul membuat beberapa judul cerita yang sayangnya sudah raib entah ke mana. Sempat juga membuat beberapa komik.</p>
<p>Bahkan konsep novel <a href="https://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-1/">Leon dan Kenji</a> sudah Penulis susun sejak kelas 9 dan hingga kini belum tamat-tamat. Alasannya, ada banyak sekali perubahan materi. Maklum, anak SMP suka membuat imajinasi yang kurang realistis.</p>
<p>Kalau boleh <em>sharing sedikit, </em>awalnya novel tersebut akan terdiri dari tujuh buku. Waktu itu, nama karakter Leon masih bernama Black karena terinspirasi dari anime <em>Blackjack</em>.</p>
<p>Ceritanya masih seputar anak yang membenci kehidupannya dan masuk ke dalam kelas akselerasi dan bertemu dengan Kenji (kalau Kenji dari dulu namanya seperti itu, diambil dari nama tengah Mike Shinoda) yang pada akhirnya mengubah kehidupannya.</p>
<p>Nah, yang menjadi masalah adalah cerita lanjutannya. Kala itu Penulis membayangkan Leon dan teman-teman kelasnya harus melawan sebuah organisasi kejahatan dunia. Benar-benar <em>lebay</em>, bukan?</p>
<p>Bahkan Penulis sudah membuat adegan akhirnya yang mirip dengan adegan film <em>I&#8217;m Legend</em> yang dibintangi oleh Will Smith. Sekali lagi mohon dimaklumi, Penulis belum menyadari apa artinya orisinalitas waktu itu.</p>
<p>Penulis sempat berhenti cukup lama, sebelum mulai lagi menulis novel pada akhir tahun 2017 di sela-sela persiapan tes IELTS di Kampung Inggris.</p>
<p>Tentu saja imajinasi dan kemampuan menulis yang dimiliki telah berkembang setelah sekian tahun berlalu, sehingga bisa menyusun cerita yang lebih rasional.</p>
<p>Setelah mengalami beberapa revisi, akhirnya Penulis memutuskan untuk membuat novel tersebut terbagi menjadi dua buku saja, tidak terlalu ambisius hingga menjadi tujuh buku seperti Harry Potter.</p>
<p>Konflik utamanya juga bukan seperti Detective Conan yang melawan organisasi misterius. Kali ini, konfliknya memiliki keterkaitan dengan Orde Baru. Maka dari itu, Penulis sedang membaca banyak referensi seputar zaman itu.</p>
<p>Di sela-sela menyusun novel ini, Penulis juga membuat novel lainnya yang berjudul <em><a href="https://whathefan.com/category/distopia-bagi-kia/">Distopia Bagi Kia</a>. </em>Inspirasinya datang dari Ayu. Kalau sering membaca artikel di Whathefan, pasti tahu siapa Ayu.</p>
<h3>Artikel-Artikel di Whathefan</h3>
<p>Selain membuat cerita, Penulis juga mulai mendorong dirinya untuk menulis apapun, mulai dari opini, renungan, artikel <em>feature</em>, dan lain sebagainya. Sebagai <a href="https://whathefan.com/karakter/suka-duka-seorang-pemikir/">orang yang pemikir</a>, sayang jika pikiran tersebut dibiarkan menguap tanpa jejak.</p>
<p>Ketika membuat Whathefan, Penulis bertekad untuk menulis lima artikel dalam satu minggu. Jumlah tersebut bertambah menjadi enam demi tampilan <em>feed </em>Instagram yang lebih rapi dan tertata.</p>
<p>Tahun 2018, tahun pertama Whathefan, Penulis berhasil menulis blog tanpa bolong. Maklum, waktu itu Penulis masih memiliki banyak waktu luang untuk menulis.</p>
<p>Pada tahun 2019, untuk pertama kalinya Penulis bekerja formal selama satu tahun penuh. Banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan <del>dan rasa malas yang sering menghampiri</del> membuat tahun kemarin banyak sekali hari-hari yang bolong.</p>
<p>Dari 52 minggu yang tersedia, 19 minggu harus bolong. Itu sama dengan 114 artikel (19&#215;6). Penulis sempat menganggapnya sebagai hutang. Karena jumlahnya yang sudah mencapai ratusan, Penulis memutuskan untuk mengikhlaskannya.</p>
<p>Nah, di tahun 2020 ini, Penulis berusaha untuk meminimalisir bolong-bolong yang seperti itu. Alhamdulillah, sampai hari ini masih belum ada yang bolong meskipun akhir pekan selalu digunakan untuk mengerjakan artikel yang seharusnya dikerjakan ketika <em>weekday</em>.</p>
<p>Ah, mungkin ada yang penasaran kenapa Penulis menggunakan kata &#8220;Penulis&#8221;, bukannya aku atau saya. Jawabannya sederhana, agar berbeda dan mengurangi kesan personal.</p>
<h3>Kebahagiaan Seorang Penulis</h3>
<p>Karena <em>passion</em>, menulis akan membuat Penulis merasa bahagia. Akan tetapi, ada hal lain yang membuat seorang penulis merasa lebih bahagia: <strong>ketika tulisannya dibaca oleh orang lain</strong>.</p>
<p>Sebagai contoh, Penulis mengunggah novel-novelnya di Wattpad. Hingga kini, Penulis memiliki <strong>satu </strong>pembaca setia (dulu ada dua, yang satu mungkin merasa bosan) yang membuat Penulis bersemangat untuk segera menyelesaikan novelnya.</p>
<p>Begitu pula dengan artikel-artikel yang ada di Whathefan. Terlepas dari keakuratan <em>counter </em>yang Penulis pasang, senang melihat angka-angka yang berada di belakang kata <em>views</em>.</p>
<p>Hingga saat ini, artikel dengan jumlah <em>views </em>tertinggi adalah <em><a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-net-tv-tahap-pertama/">Pengalaman Melamar Kerja di NET TV (Tahap Pertama)</a></em> dengan jumlah lebih dari 10 ribu. Mungkin banyak netizen yang berkeinginan kerja di sana.</p>
<p>Sebenarnya ada artikel lain yang <em>views-</em>nya mencapai angka 30 ribu, tapi itu terjadi karena adanya serangan D-DOS yang sempat membuat blog Penulis <em>down.</em></p>
<p>Kok 10 ribu, dibaca sekali saja sudah membuat Penulis senang. Ditelepon ibu dan cerita sudah baca artikel Penulis juga bikin senang. Tidak dibaca namun memberi komentar di media sosial juga sudah membuat Penulis merasa senang. Sesederhana itu.</p>
<h3>Mau Sampai Kapan Nulis Blog?</h3>
<p>Jika ada pertanyaan <em>mau sampai kapan nulis blog</em>, mungkin Penulis menjawab sampai akhir hayat. Sebisa mungkin Penulis akan mempertahankan blog ini dan tetap konsisten dalam menulis, entah yang berbobot ataupun yang ringan-ringan saja.</p>
<p>Whathefan ini sudah menjadi bagian hidup Penulis yang cukup penting. Penulis merasa seperti memiliki koneksi spesial dengannya, seperti hubungan partner (salah satu kebiasaan Penulis adalah mempersonifikasi benda mati).</p>
<p>Harapan Penulis, selain sebagai penyalur hobi dan <em>passion</em>, Whathefan bisa memberikan manfaat yang seluas-luasnya bagi yang membaca. Salah satu amal yang tak akan terputus adalah ilmu yang bermanfaat, bukan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 16 Februari 2020, terinspirasi karena ingin menulis sesuatu yang ringan-ringan saja</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@nordwood?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">NordWood Themes</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/typing?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kebahagiaan-seorang-penulis/">Kebahagiaan Seorang Penulis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Benang Merah Pada Bulan Terbelah di Langit Amerika</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/benang-merah-pada-bulan-terbelah-di-langit-amerika/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/benang-merah-pada-bulan-terbelah-di-langit-amerika/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Nov 2018 09:00:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[11 September]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika Serikat]]></category>
		<category><![CDATA[Bulan]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<category><![CDATA[WTC]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1560</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu alasan mengapa penulis baru membaca novel ini adalah karena sewaktu ada even International Indonesia Book Fair (IIBF) di JCC Senayan, buku ini dijual dengan harga obral Rp 30.000 saja. Sebenarnya sudah lama penulis ingin membaca novel karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra ini. Entah mengapa buku ini belum masuk daftar prioritas penulis sejak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/benang-merah-pada-bulan-terbelah-di-langit-amerika/">Benang Merah Pada Bulan Terbelah di Langit Amerika</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu alasan mengapa penulis baru membaca novel ini adalah karena sewaktu ada even International Indonesia Book Fair (IIBF) di JCC Senayan, buku ini dijual dengan harga obral Rp 30.000 saja.</p>
<p>Sebenarnya sudah lama penulis ingin membaca novel karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra ini. Entah mengapa buku ini belum masuk daftar prioritas penulis sejak dulu.</p>
<p>Sebelum meneruskan membaca, <strong>SPOILER ALERT!</strong></p>
<p><strong>Apa Isi Buku Ini?</strong></p>
<p>Bercerita tentang perjalanan suami istri <strong>Rangga dan Hanum</strong> ke Amerika Serikat. Hanum diutus oleh kantornya di Austria, Heute ist Wunderber, untuk membuat tulisan mengenai peristiwa <strong>11 September</strong>, sedangkan Rangga butuh ke sana untuk menyelesaikan studi S3nya.</p>
<p>Liputan yang dilakukan oleh Hanum bukan sembarang liputan, karena ia diminta untuk menulis tentang <em>Would World be Better Without Islam? </em>Tentu sebagai seorang muslim, Hanum ingin membuat tulisan yang menolak ide tersebut namun berdasarkan data yang diperoleh dari narasumber.</p>
<p>Siapa narasumbernya? Tentu saja keluarga korban peristiwa menabraknya pesawat ke gedung <strong>World Trade Center (WTC)</strong>. Hanum harus bisa mencari narasumber dari dua sisi, yakni sisi yang menyalahkan Islam dan sisi yang tidak menyalahkan Islam.</p>
<p>Setelah perjalanan yang panjang, ia menemukan narasumbernya, yakni Julia Collins atau <strong>Azima Hussein</strong> dan <strong>Michael Jones</strong>. Pasangan mereka sama-sama tewas pada peristiwa yang terjadi pada hari Selasa tersebut,</p>
<p>Di sisi lain, Rangga sedang berjuang untuk mempresentasikan hasil risetnya tentang sedekah dan bertemu dengan <strong>Philipus Brown</strong>. Pasangan ini sempat terpisah setelah ada keributan dalam peringatan 11 September di sekitar area bekas gedung WTC.</p>
<p>Yang menarik dari novel ini, selain temanya yang mengangkat tragedi 11 September, adalah adanya benang merah antar bagian yang tidak terduga. Bagian-bagian yang terlihat tidak memiliki kesinambungan ternyata bisa bertemu pada suatu titik.</p>
<p>Sewaktu membaca bagian prolognya, penulis menganggap prolog tersebut hanyalah penggambaran peristiwa 11 September untuk memberi gambaran kepada pembaca bagaimana peristiwa tersebut dapat terjadi.</p>
<p>Nyatanya, bagian prolog tersebut merupakan inti dari cerita secara keseluhan, di mana Brown ternyata merupakan rekan dari suami/istri Azima dan Jones. Ia menjadi satu-satunya yang selamat ketika mereka bertiga berusaha untuk menyelamatkan diri dari runtuhnya gedung WTC.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Sempat merasa sedikit bosan di bagian awal karena belum menemukan <em>greget</em>-nya, penulis menandaskan dalam satu malam separuh buku ini.</p>
<p>Novel ini dituliskan dengan bahasa yang ringan sehingga mudah dipahami oleh pembaca awam. Sudut pandangnya yang berpindah-pindah antara Hanum dan Rangga mungkin akan sedikit membingungkan bagi yang tidak terbiasa membaca novel dengan pola seperti ini.</p>
<p>Seperti yang sudah disebutkan pada sub-bab sebelumnya, adanya benang merah dari awal hingga akhir adalah kekuatan dari novel ini. Kita akan terperangah seolah-oleh sedang membaca novel detektif.</p>
<p>Sebelum membeli buku ini, ada baiknya membaca buku <strong>99 Cahaya di Langit Eropa</strong> karena ada beberapa tokoh dan latar belakang yang dijelaskan pada buku tersebut,</p>
<p>Nilainya: <strong>4.1/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 27 Oktober 2018, terinspirasi setelah menamatkan buku Bulan Terbelah di Langit Amerika karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/benang-merah-pada-bulan-terbelah-di-langit-amerika/">Benang Merah Pada Bulan Terbelah di Langit Amerika</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/benang-merah-pada-bulan-terbelah-di-langit-amerika/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengasah Rasa dengan Sastra</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/mengasah-rasa-dengan-sastra/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/mengasah-rasa-dengan-sastra/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Jan 2018 12:18:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[karya]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=202</guid>

					<description><![CDATA[<p>Novel fiksi merupakan salah satu genre buku yang banyak diminati untuk dibaca. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya novel yang menjadi best seller, seperti buku-buku karya Tere Liye dan Dee. Indikator lainnya adalah banyaknya cetak ulang buku tersebut. Sebagai contoh, novel Berjuta Rasanya karya Tere Liye yang pertama kali cetak pada bulan Mei 2012, telah mengalami 28 kali cetak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/mengasah-rasa-dengan-sastra/">Mengasah Rasa dengan Sastra</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Novel fiksi merupakan salah satu <em>genre</em> buku yang banyak diminati untuk dibaca. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya novel yang menjadi <em>best seller, </em>seperti buku-buku karya Tere Liye dan Dee. Indikator lainnya adalah banyaknya cetak ulang buku tersebut. Sebagai contoh, novel <em>Berjuta Rasanya</em> karya Tere Liye yang pertama kali cetak pada bulan Mei 2012, telah mengalami 28 kali cetak ulang hingga Februari 2017. Artinya, novel ini dicetak sebanyak lima hingga enam kali tiap tahunnya.</p>
<p>Pada awalnya, saya bisa dibilang jarang membaca novel lokal, kecuali tetralogi <em>Laskar Pelangi-</em>nya Andrea Hirata dan trilogi <em>Negeri 5 Menara-</em>nya A. Fuadi. Saya lebih tertarik dengan novel detektif seperti <em>Sherlock Holmes</em> dan <em>Agatha Christie</em>. Semenjak hampir semua buku <em>Agatha Christie</em> saya koleksi (sekarang saya memiliki 78 dari 80 bukunya), saya mencoba untuk membaca novel Indonesia. Salah satu pilihan saya adalah dua penulis yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya.</p>
<p>Ternyata, novel-novel tersebut memang layak menjadi <em>best seller </em>karena bahasanya yang mudah dipahami dan selalu ada nilai-nilai yang bisa kita ambil. Saya mengkategorikan novel-novel ini sebagai kategori novel ringan, karena untuk membacanya saya tidak perlu memutar otak untuk memahami tiap katanya. Setelah banyak menjelajah penulis-penulis novel ringan ini, saya ingin mencari tantangan baru. Sastra nampak sesuai untuk dijadikan lahan baru untuk dijelajahi. Saya beri kategori sendiri untuk membedakannya dengan novel-novel ringan Indonesia: Novel/Sastra.</p>
<p>Kalau tidak salah, buku pertama yang saya beli dengan kategori ini adalah <em>Cerpen Pilihan Kompas Tahun 2015 </em>dengan judul <em>Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta</em> karya penulis senior Ahmad Tohari. Semenjak itu, saya mengoleksi antalogi cerpen Kompas. Selain itu, saya juga menikmati karya-karya penulis berikut:</p>
<ul>
<li>Seno Gumira Ajidarma (Dunia Sukab, Sepotong Senja untuk Pacarku, Drupadi, Dilarang Bernyanyi di Kamar Mandi, Negeri Senja)</li>
<li>Sapardi Djoko Damono (Hujan Bulan Juni, Pingkan Melipat Jarak, Suti)</li>
<li>Kuntowijoyo (Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, Mantra Penjinak Ular, Waspirin &amp; Satinah)</li>
<li>W.S. Rendra (Kenang-Kenangan Seorang Wanita Pemalu, Pacarku Seorang Seniman)</li>
<li>Eka Kurniawan (Lelaki Harimau, Dilarang Corat-Coret di Kamar Mandi)</li>
<li>Dan novel serta cerpen karya penulis lain seperti Budi Darma, Emha Ainun Najib, Bondan Prakoso dan Agus Noor</li>
</ul>
<p>Pengkategorian Novel/Sastra ini sebenarnya seenaknya saya sendiri saja. Ada beberapa faktor yang membuat saya memisahkan novel sastra dengan novel Indonesia lainnya. Yang paling menonjol adalah gaya bahasa. Bahasa yang digunakan Novel/Sastra jauh lebih berat jika dibandingkan novel ringan. Beberapa kata, kalimat, bahkan keseluruhan cerita tidak saya pahami sepenuhnya.</p>
<p>Jika tidak dapat memahaminya, lalu untuk apa saya membacanya?</p>
<p>Mungkin jawaban saya adalah karena saya menikmatinya, menikmati suatu harmoni bahasa yang saling mengalun indah untuk membentuk suatu makna yang tersirat. Rangkaian ini entah bagaimana caranya, menghaluskan perasaan saya dan menajamkan pikiran saya. Pemilihan diksi-diksi yang berat membuat saya mempunyai referensi yang baik dalam menulis.</p>
<p>Dengan membaca sastra, cakrawala saya yang sempit menjadi terbuka lebar. Dengan menghayati sastra, saya bisa belajar memahami orang lain. Dengan mempelajari sastra, kemampuan menulis saya yang masih mentah ini dapat meningkat sedikit demi sedikit.</p>
<p>Sastra, sudah membuat saya mengasah rasa yang saya miliki, apapun bentuknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 15 Januari 2018, setelah mencari <em>username </em>dan <em>password </em>yang hilang<em> </em>agar dapat mengakses halaman admin web Biz Square Apartment</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/mengasah-rasa-dengan-sastra/">Mengasah Rasa dengan Sastra</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/mengasah-rasa-dengan-sastra/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
