Benang Merah Pada Bulan Terbelah di Langit Amerika

Salah satu alasan mengapa penulis baru membaca novel ini adalah karena sewaktu ada even International Indonesia Book Fair (IIBF) di JCC Senayan, buku ini dijual dengan harga obral Rp 30.000 saja.

Sebenarnya sudah lama penulis ingin membaca novel karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra ini. Entah mengapa buku ini belum masuk daftar prioritas penulis sejak dulu.

Sebelum meneruskan membaca, SPOILER ALERT!

Apa Isi Buku Ini?

Bercerita tentang perjalanan suami istri Rangga dan Hanum ke Amerika Serikat. Hanum diutus oleh kantornya di Austria, Heute ist Wunderber, untuk membuat tulisan mengenai peristiwa 11 September, sedangkan Rangga butuh ke sana untuk menyelesaikan studi S3nya.

Liputan yang dilakukan oleh Hanum bukan sembarang liputan, karena ia diminta untuk menulis tentang Would World be Better Without Islam? Tentu sebagai seorang muslim, Hanum ingin membuat tulisan yang menolak ide tersebut namun berdasarkan data yang diperoleh dari narasumber.

Siapa narasumbernya? Tentu saja keluarga korban peristiwa menabraknya pesawat ke gedung World Trade Center (WTC). Hanum harus bisa mencari narasumber dari dua sisi, yakni sisi yang menyalahkan Islam dan sisi yang tidak menyalahkan Islam.

Setelah perjalanan yang panjang, ia menemukan narasumbernya, yakni Julia Collins atau Azima Hussein dan Michael Jones. Pasangan mereka sama-sama tewas pada peristiwa yang terjadi pada hari Selasa tersebut,

Di sisi lain, Rangga sedang berjuang untuk mempresentasikan hasil risetnya tentang sedekah dan bertemu dengan Philipus Brown. Pasangan ini sempat terpisah setelah ada keributan dalam peringatan 11 September di sekitar area bekas gedung WTC.

Yang menarik dari novel ini, selain temanya yang mengangkat tragedi 11 September, adalah adanya benang merah antar bagian yang tidak terduga. Bagian-bagian yang terlihat tidak memiliki kesinambungan ternyata bisa bertemu pada suatu titik.

Sewaktu membaca bagian prolognya, penulis menganggap prolog tersebut hanyalah penggambaran peristiwa 11 September untuk memberi gambaran kepada pembaca bagaimana peristiwa tersebut dapat terjadi.

Nyatanya, bagian prolog tersebut merupakan inti dari cerita secara keseluhan, di mana Brown ternyata merupakan rekan dari suami/istri Azima dan Jones. Ia menjadi satu-satunya yang selamat ketika mereka bertiga berusaha untuk menyelamatkan diri dari runtuhnya gedung WTC.

Kesimpulan

Sempat merasa sedikit bosan di bagian awal karena belum menemukan greget-nya, penulis menandaskan dalam satu malam separuh buku ini.

Novel ini dituliskan dengan bahasa yang ringan sehingga mudah dipahami oleh pembaca awam. Sudut pandangnya yang berpindah-pindah antara Hanum dan Rangga mungkin akan sedikit membingungkan bagi yang tidak terbiasa membaca novel dengan pola seperti ini.

Seperti yang sudah disebutkan pada sub-bab sebelumnya, adanya benang merah dari awal hingga akhir adalah kekuatan dari novel ini. Kita akan terperangah seolah-oleh sedang membaca novel detektif.

Sebelum membeli buku ini, ada baiknya membaca buku 99 Cahaya di Langit Eropa karena ada beberapa tokoh dan latar belakang yang dijelaskan pada buku tersebut,

Nilainya: 4.1/5.0

 

 

Jelambar, 27 Oktober 2018, terinspirasi setelah menamatkan buku Bulan Terbelah di Langit Amerika karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.