<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sosial Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/sosial/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/sosial/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Aug 2022 05:02:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>sosial Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/sosial/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Gejolak Nafsu Kawula Muda</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/gejolak-nafsu-kawula-muda/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/gejolak-nafsu-kawula-muda/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Aug 2022 02:55:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kedok]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5833</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mungkin tulisan ini akan menjadi salah satu tulisan yang paling keras dan kontroversial dari semua artikel yang ada di blog ini. Mungkin Penulis akan dicap sebagai hipokrit atau sok suci karena bisa jadi sebenarnya Penulis melakukan apa yang akan dikritiknya. Namun, Penulis merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyoroti hal ini. Apalagi, Penulis merasa ada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gejolak-nafsu-kawula-muda/">Gejolak Nafsu Kawula Muda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Mungkin tulisan ini akan menjadi salah satu tulisan yang paling keras dan kontroversial dari semua artikel yang ada di blog ini. Mungkin Penulis akan dicap sebagai hipokrit atau sok suci karena bisa jadi sebenarnya Penulis melakukan apa yang akan dikritiknya.</p>



<p>Namun, Penulis merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyoroti hal ini. Apalagi, Penulis merasa ada upaya-upaya untuk menormalisasinya, sesuatu yang menurut pendapat pribadi Penulis seharusnya tidak boleh dilakukan.</p>



<p>Pada tulisan kali ini, Penulis ingin membahas mengenai <strong>gejolak nafsu kawula muda</strong> yang berbahaya jika tidak direm. Tentang bagaimana kita harus belajar mengendalikan diri agar tidak timbul rasa penyesalan di kemudian hari.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Disclaimer</h2>



<p>Dasar dari penulisan artikel ini adalah keresahan Penulis melihat pergaulan yang semakin bebas, terutama di kalangan generasi muda. Semakin banyak normalisasi dari perbuatan-perbuatan yang, menurut Penulis, tidak seharusnya dilakukan.</p>



<p>Dengan begitu, tulisan ini akan sangat personal dan subyektif dari sudut pandang pribadi Penulis. Tidak ada niatan untuk menyerang, <em>judgemental</em>, atau merendahkan pihak manapun yang melakukan hal-hal yang akan Penulis bahas di tulisan ini.</p>



<p>Kenapa Penulis cukup <em>concern </em>terhadap masalah ini? Alasan utamanya adalah karena Penulis memiliki dua adik kandung, ditambah beberapa <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kok-mainnya-sama-anak-kecil/">adik-adik Karang Taruna</a> yang telah beranjak dewasa. Semoga saja, tulisan ini bisa menjadi pengingat bagi mereka untuk menjaga diri.</p>



<p>Jika sampai di baris ini Pembaca sudah merasa tidak nyaman dengan isi artikel ini, Penulis menyarankan untuk tidak meneruskan membaca artikel ini. Kalau tetap lanjut membaca, Penulis minta maaf jika nantinya ada kata-kata yang terlalu kasar dan menyinggung perasaan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Dua Inspirasi Tulisan Ini</h2>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img fetchpriority="high" decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5836" width="740" height="493" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption>Inspirasi Tulisan Ini (<a href="https://cianjur.pikiran-rakyat.com/entertainment/pr-054703686/trending-ahmad-dhani-layak-sombong-tak-ada-satupun-musisi-dunia-yang-seperti-dirinya">Pikiran Rakyat</a>)</figcaption></figure>



<p>Tulisan ini terinspirasi dari dua hal. Pertama, video <strong>Vindes ketika mengundang Ahmad Dhani</strong>. Kedua, tentang sebuah video sekumpulan perempuan yang sempet viral karena membahas mengenai <strong><em>friend with benefit </em>(FWB)</strong> dengan dalih <em>sex education</em>.</p>



<p>Penulis akan jelaskan alasan yang pertama. Di video tersebut, Desta bertanya kepada Ahmad Dhani bagaimana seandainya anak perempuannya, yang masih kecil, mengajak teman laki-laki ke rumahnya. Ahmad Dhani mengatakan kalau itu urusan ibunya, bukan urusannya.</p>



<p>Lantas, Desta kembali bertanya apakah ia tidak khawatir kalau laki-laki tersebut akan macam-macam dengan anak perempuannya, karena ia tahu bagaimana isi otaknya yang condong ke perbuatan-perbuatan yang mengumbar nafsu (karena dia sendiri dulu juga begitu, sepertinya).</p>



<p>Di sini, Penulis pun jadi memikirkan hal yang sama. Seandainya nanti punya anak, terutama perempuan, apa yang akan Penulis lakukan jika berhadapan dengan hal tersebut? Ini akan Penulis bahas lebih detail pada poin selanjutnya.</p>



<p>Lalu untuk video kedua, Penulis sedikit merasa heran karena mereka dengan mudahnya mengumbar &#8220;aib&#8221; mereka ke publik dengan bangga. Mereka menganggap FWB adalah perbuatan yang normal-normal saja.</p>



<p>Penulis merasa hal-hal semacam ini tidak boleh dinormalisasi. Penulis yang beragama Islam dan berusaha menjunjung norma ketimuran, menganggap seharusnya hal tersebut tidak dilakukan oleh mereka yang belum sah untuk melakukannya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Semua Manusia Punya Kebutuhan Biologis</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5837" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Kita Semua Punya Kebutuhan Biologis (<a href="https://www.nbcnews.com/better/health/how-often-do-happiest-couples-have-sex-it-s-less-ncna828491">NBC News</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis memahami bahwa semua manusia normal di dunia ini <strong>memiliki kebutuhan biologis yang harus dipenuhi</strong>, sama seperti kebutuhan-kebutuhan lainnya. Cara yang paling benar tentu saja dengan menikah dan melakukan hubungan intim dengan pasangan.</p>



<p>Cara yang menurut Penulis kurang tepat? Tentu <strong>melakukannya dengan orang yang belum sah menjadi suami/istri</strong>. Kok dengan FWB atau pekerja seks, dengan pacar saja salah. Melakukan masturbasi jika tidak punya partner sebenarnya juga salah.</p>



<p>Selain itu, ada juga fenomena di mana muda-mudi melakukan <em>staycation </em>berdua walaupun belum menikah. Alasannya ingin <em>quality time </em>dan <em>deep talk</em>, tapi ujung-ujungnya juga kemungkinan besar ke arah sana.</p>



<p>Berdasarkan pengakuan beberapa orang, ciuman dan berhubungan seks memang enak dan adiktif. Sekali kita pernah melakukannya, rasanya ingin lagi dan lagi. Kebutuhan biologis yang awalnya rendah, seolah-olah langsung meroket dan ingin terus dipenuhi.</p>



<p>Tak jarang mereka melakukan hal-hal tersebut dengan dalih cinta. Alasan khilaf pun sering jadi kambing hitam. Walaupun tidak ada niat, tiba-tiba ada saja naluri untuk melakukan perbuatan-perbuatan tersebut.</p>



<p>Memang menjadi tugas yang berat untuk bisa menahan kebutuhan biologis ini, apalagi ketika ada partner dan adanya situasi yang mendukung. Bisa jadi, Penulis belum pernah melakukannya juga hanya karena tidak pernah berada di situasi yang mendukung.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kok Malah Bangga?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5838" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Lha Kok Bangga? (<a href="https://www.freepik.com/free-photos-vectors/proud-woman">Freepik</a>)</figcaption></figure>



<p>Sewaktu masih duduk di bangku SMA, Penulis pernah membaca sebuah artikel di koran yang menyebutkan kalau berapa persen mahasiswi sudah tidak perawan lagi. Anehnya, <strong>mereka justru merasa bangga</strong> dengan hal tersebut.</p>



<p>Ketika itu, Penulis tidak percaya dengan isi artikel tersebut. Sekarang, Penulis benar-benar percaya. Video viral perempuan-perempuan yang membahas masalah FWB seolah menjadi bukti nyatanya.</p>



<p>Tak jarang mereka justru mengompor-ngompori orang-orang yang belum pernah melakukannya untuk melakukannya. Biasanya, dengan cara mengiming-imingi orang tersebut dengan mengatakan betapa nikmatnya melakukan hal tersebut.</p>



<p>Menurut Penulis, seharusnya perbuatan-perbuatan tersebut dianggap sebagai aib. Jika memang sudah pernah melakukannya, ya sudah tutup untuk diri kita sendiri, tidak perlu diumbar ke orang lain. Tuhan sudah berbaik hati menutupi aib kita, malah kita buka sendiri.</p>



<p>Menurut analisis dangkal Penulis, kebanggaan ini dikarenakan <strong>adanya upaya menormalisasi</strong> perbuatan tersebut. Dengan begitu, makin banyak orang yang melakukannya dan tidak merasa salah karena, toh, banyak orang lain yang juga melakukannya.</p>



<p>Ini menjadi alasan utama mengapa Penulis mencemaskan adanya normalisasi dari perbuatan-perbuatan di atas. Sesuatu yang salah, jika dilakukan oleh banyak orang, maka akan dianggap sebagai hal yang normal atau bahkan dianggap kebenaran.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bayangkan Jika Orang Tua Mereka Tahu&#8230;</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/mourning_couple2_copy_1080x720-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5841" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/mourning_couple2_copy_1080x720-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/mourning_couple2_copy_1080x720-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/mourning_couple2_copy_1080x720-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/mourning_couple2_copy_1080x720.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Betapa Hancurnya Perasaan Mereka (<a href="https://www.parenthub.com.au/news/parenting-news/silence-around-stillbirth-major-issue-bereaved-parents/attachment/husband-comforting-sad-crying-wife-man-consoling-sobbing-young-lady/">ParentHub</a>)</figcaption></figure>



<p>Desta memiliki dua anak perempuan. Dari wawancaranya dengan Ahmad Dhani, kita bisa mengetahui kalau dirinya sebagai seorang ayah khawatir jika anak-anaknya tersebut jatuh ke pelukan laki-laki yang tidak benar dan akhirnya melakukan hal-hal yang tidak baik.</p>



<p>Perspektif dari orang tua ini sebenarnya bisa kita gunakan <strong>untuk mengerem diri</strong> ketika hendak melakukan perbuatan-perbuatan tersebut. Kalau orang tua kita tahu kita berciuman atau melakukan seks dengan pacar/teman, apa mereka tidak marah dan kecewa?</p>



<p>Seandainya kita punya anak dan mereka berbuat hal tersebut, apa kita sebagai orang tua tidak sedih dan kecewa? Jika jawabannya iya, maka sudah seharusnya kita tidak melakukan hal tersebut.</p>



<p>Perbuatan yang dilarang memang kerap enak. Itu adalah ujian kita sebagai manusia, apakah kita bisa mengendalikan diri atau justru takhluk di hadapan hawa nafsu. Enaknya sesaat, tapi seringnya akan berujung dengan penyesalan hingga nanti.</p>



<p>Mau laki-laki ataupun perempuan, sudah seharusnya <strong>bisa menjaga dirinya dengan baik</strong>. Jangan mudah mengumbar bibir ataupun selangkangan ke orang lain yang belum tentu mau bertanggung jawab atas perbuatannya.</p>



<p>Jika kita sudah terlanjur melakukannya di masa lalu, tidak apa-apa. Semua manusia pernah berbuat salah dan khilaf. Yang lebih penting adalah berusaha untuk memperbaiki diri ke depannya dan tidak mengulangi kesalahan tersebut.</p>



<p>Jika ada rasa penyesalan hingga membuat diri ingin menangis, tidak apa-apa. Merasa bersalah artinya kita memiliki kesadaran bahwa kita pernah melakukan kesalahan. Hal itu jauh lebih baik daripada bangga dengan kesalahan yang telah diperbuat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis bukannya bersih dan paling suci. Penulis juga kadang melampiaskan gejolak hawa nafsunya dengan cara yang salah, meskipun sampai detik ini Penulis belum pernah berciuman ataupun melakukan seks dengan lawan jenis.</p>



<p>Hanya saja, Penulis merasa was-was dengan kondisi pergaulan saat ini. Penulis, yang <em>insyaAllah </em>nanti akan punya anak, khawatir tidak bisa menjaganya dengan baik dan berujung ke perbuatan-perbuatan di atas.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis merasa harus menulis artikel ini sebagai pengingat, terutama untuk dirinya sendiri. Semoga kita bisa mengendalikan hawa nafsu kita dengan cara yang benar dan anak-anak kita nanti selalu dilindungi dari godaan setan yang terkutuk.</p>



<p>Penulis sadar, setiap insan memiliki kesadarannya masing-masing untuk melakukan hal yang mereka inginkan. Kalau dasarnya sama-sama mau dan suka, apa Penulis bisa menghentikan mereka? Tentu tidak. Hanya saja, Penulis merasa berkewajiban untuk saling mengingatkan.</p>



<p>Mungkin Penulis terkesan kolot dan konservatif, tapi Penulis meyakini kalau ini adalah hal yang benar. Kita tidak bisa memasakan keyakinan kita ke orang lain, sehingga Penulis akan berusaha untuk menghargai jika ada yang berseberangan dengan Penulis.</p>



<p>Penulis sama sekali <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/">tidak bermaksud menghakimi</a> kawula muda yang sudah pernah berciuman atau berhubungan intim. Penulis paham, gejolak nafsu memang sering susah ditahan. Hanya saja, kita harus sadar kalau hal-hal tersebut tidak sepatutnya dilakukan sebelum menikah.</p>



<p>Yang sudah terjadi, terjadilah. Mari kita sama-sama belajar mengendalikan hawa nafsu dengan lebih baik lagi, karena pada akhirnya kita sendiri yang akan menuai akibat dari perbuatan-perbuatan tersebut.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 2 Agustus 2022, terinspirasi setelah melihat semakin mengerikannya bagaimana para kawula muda melampiaskan gejolak nafsu mereka</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/photo/man-and-woman-kissing-near-pendant-lamp-1321287/">Tan Danh</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gejolak-nafsu-kawula-muda/">Gejolak Nafsu Kawula Muda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/gejolak-nafsu-kawula-muda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Logika Sesat Bintang Satu</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/logika-sesat-bintang-satu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/logika-sesat-bintang-satu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Jul 2022 14:00:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bintang satu]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[netizen]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[rating]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5796</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belakangan ini, ada satu fenomena di sekitar kita yang menarik sekaligus memprihatinkan bagi Penulis: Adanya &#8220;serangan&#8221; bintang satu di internet tanpa dilandasi penilaian yang objektif. Contoh terbaru adalah yang menimpa salah satu tempat bermain di sebuah mal. Salah satu YouTuber gaming terkenal Indonesia membuat sebuah konten di mana ia telah menghabiskan uang sekitar 1,3 juta [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/logika-sesat-bintang-satu/">Logika Sesat Bintang Satu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Belakangan ini, ada satu fenomena di sekitar kita yang menarik sekaligus memprihatinkan bagi Penulis: Adanya &#8220;serangan&#8221; bintang satu di internet tanpa dilandasi penilaian yang objektif.</p>



<p>Contoh terbaru adalah yang menimpa salah satu tempat bermain di sebuah mal. Salah satu YouTuber <em>gaming </em>terkenal Indonesia membuat sebuah konten di mana ia telah menghabiskan uang sekitar 1,3 juta untuk permainan capit yang bisa mendapatkan berbagai hadiah.</p>



<p>Di video tersebut, sang YouTuber memang terlihat kesal karena tidak pernah berhasil meskipun sudah mengeluarkan uang banyak. Alhasil, tempat bermain tersebut langsung diserbu penggemar sang YouTuber dan menghujaninya dengan bintang satu di Google.</p>





<p>Ketika Penulis mencoba untuk membaca <em>review-</em>nya di Google, terlihat jika mereka ikut melampiaskan emosi mereka walaupun mereka tidak mengalami kerugian apapun. Ada yang menulis tempat tersebut <em>scam</em>, ada yang cuma ikut-ikutan, dan lain sebagainya.</p>



<p>Melihat respons negatif yang sedemikian besar, sang YouTuber pun langsung memutuskan melakukan <em>takedown </em>video tersebut. Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur, banjir bintang satu sudah membuat rating dari tempat tersebut benar-benar anjlok.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bukan Pertama Kalinya</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5799" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sungai Aare (<a href="https://www.bern.com/en/aare-river">Bern</a>)</figcaption></figure>



<p>Ini bukan pertama kalinya kejadian seperti ini terjadi. Ketika almarhum Eril (anak dari Ridwan Kamil) meninggal di Sungai Aare, banyak netizen yang juga memberikan bintang satu kepada sungai tersebut.</p>



<p><em>Iya, sebuah sungai diberi bintang satu oleh netizen kita</em>.</p>



<p>Padahal, sungai tersebut tidak salah apa-apa. Kematian Eril merupakan takdir yang pasti akan terjadi. Memberi bintang satu hanya akan memalukan nama Indonesia di mata internasional karena aksi yang norak tersebut.</p>



<p>Pernah juga kejadian ada sebuah aplikasi di Polandia yang harus menerima <em>review </em>buruk hanya karena namanya sama dengan aplikasi/layanan di Indonesia. Ini seolah menjadi bukti kalau literasi kita masih sangat rendah.</p>



<p>Di dunia <em>esports </em>(tempat Penulis sering berkecimpung sekarang), mungkin tidak ada &#8220;fitur&#8221; untuk memberi bintang satu. Sebagai gantinya, jurus <em>report </em>akun lawan pun dilakukan jika tim kesayangannya kalah.</p>



<p>Contoh-contoh kasus di atas patut kita evaluasi bersama, bagaimana kita belum bisa dewasa dalam menggunakan internet secara global.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kedewasaan dalam Menggunakan Internet</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-2-1024x683.png" alt="" class="wp-image-5800" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-2-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-2-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-2-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-2.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Internet Penuh dengan Orang Toxic (<a href="https://bdtechtalks.com/toxic-centralized-internet/">Tech Talks</a>)</figcaption></figure>



<p>Memang, kita boleh mengekspresikan diri di internet. Apa yang dilakukan oleh para netizen dengan memberikan bintang satu adalah wujud kekecewaan mereka. Kebetulan, bintang satu seolah bisa memberikan <em>impact </em>yang lebih besar daripada sekadar <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/">marah-marah membuat status di media sosial</a>.</p>



<p>Namun, apa yang dilakukan tersebut jelas merugikan pihak lain. Tempat bermain yang baru saja dihujani bintang satu sebelumnya sering mendapatkan <em>review </em>yang positif dari pengunjung yang benar-benar pernah ke sana.</p>



<p>Opini <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/">toxic</a></em> yang mereka berikan jelas sangat bersifat subyektif hanya demi &#8220;melindungi&#8221; atau &#8220;membela&#8221; idola mereka. Apalagi, mereka sendiri belum pernah ke lokasi tersebut sehingga rasanya memang benar-benar aneh.</p>



<p>Fitur memberi rating kepada suatu tempat di Google sebenarnya berfungsi untuk membantu pengguna lain yang belum pernah ke sana. Jika mereka ingin pergi ke tempat tersebut, beberapa ingin tahu bagaimana ulasan tentang tempat tersebut, apakah banyak yang puas atau justru banyak yang kecewa.</p>



<p>Dengan adanya serangan bintang satu tersebut, tentu rating dari tempat tersebut menjadi turun sehingga membuat orang lain merasa ragu-ragu ingin pergi ke sana. Logika sesat ini pada akhirnya akan merugikan tempat yang bersangkutan.</p>



<p>Untuk itu, kita perlu belajar untuk lebih dewasa lagi dalam menggunakan internet. Salah satu caranya adalah dengan memahami apa fungsi sebuah fitur dan menggunakannya secara tepat. Selain itu, kita harus menghindari melakukan hal-hal yang bisa merugikan pihak lain.</p>



<p>Entah sampai kapan logika sesat dengan memberikan bintang satu secara subyektif bahkan iseng ini bisa berakhir. Semoga saja pada akhirnya, kita semua bisa lebih dewasa dalam menggunakan dan memanfaatkan internet.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 7 Juli 2022, terinspirasi setelah adik bercerita tentang adanya sebuah tempat bermain yang diserbu dengan bintang satu setelah seorang YouTuber bermain di sana</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/s/photos/arcade">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/logika-sesat-bintang-satu/">Logika Sesat Bintang Satu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/logika-sesat-bintang-satu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kecemasan Sosial ala Komi Can&#8217;t Communicate</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Jun 2022 03:43:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[anxiety]]></category>
		<category><![CDATA[comedy-romance]]></category>
		<category><![CDATA[kecemasan]]></category>
		<category><![CDATA[Komi]]></category>
		<category><![CDATA[pinggir]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[romance]]></category>
		<category><![CDATA[school]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[slice of life]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5637</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sudah agak lama tidak menonton anime, Penulis memutuskan mencoba untuk menontonnya lagi untuk mengisi waktu luang. Genre yang Penulis pilih tetap seperti biasa, comedy-romance yang ceritanya santai dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu rekan kantor Penulis pernah memberikan saran sebuah anime yang berjudul Komi-san wa, Comyushou desu atau Komi Can&#8217;t Communicate. Dari premisnya, Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate/">Kecemasan Sosial ala Komi Can&#8217;t Communicate</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sudah agak lama <a href="https://whathefan.com/pengalaman/udah-tua-kok-masih-nonton-anime/">tidak menonton anime</a>, Penulis memutuskan mencoba untuk menontonnya lagi untuk mengisi waktu luang. Genre yang Penulis pilih tetap seperti biasa, <em><a href="https://whathefan.com/animekomik/kenapa-suka-anime-bergenre-comedy-romance-school/">comedy-romance </a></em>yang ceritanya santai dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.</p>



<p>Salah satu rekan kantor Penulis pernah memberikan saran sebuah anime yang berjudul <em><strong>Komi-san wa, Comyushou desu</strong></em> atau <em><strong>Komi Can&#8217;t Communicate</strong></em>. Dari premisnya, Penulis mengetahui kalau ceritanya berpusat pada seseorang yang mengalami kecemasan sosial.</p>



<p>Karena topiknya beririsan dengan <em>mental health</em>, Penulis pun memutuskan untuk menonton serial anime yang satu ini. Setelah menonton, pendapat Penulis bisa dibilang cukup campur aduk.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Kecemasan Sosial yang &#8230; Berlebihan?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-1-1024x683.jpg" alt="komi can't communicate" class="wp-image-5728" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Komi dan Tadano (<a href="https://www.sportskeeda.com/anime/10-likable-characters-komi-can-t-communicate-anime">Sportskeeda</a>)</figcaption></figure>



<p>Anime ini dibuka melalui sudut pandang <em>main character </em>yang terasa seperti <em>side character</em>, <strong>Hitohito Tadano</strong>. Ia adalah siswa SMA Itan yang terlihat rata-rata dan tidak menonjol sama sekali, bahkan sering terkesan kalau dia mudah sekali untuk diabaikan.</p>



<p>Sebaliknya, teman sebangkunya <strong>Shouko Komi</strong> adalah gadis remaja yang begitu populer dan terlihat sempurna. Ia cantik, anggun, dan pintar. Semua teman sekolah begitu kagum padanya, hingga ada yang menganggapnya sebagai dewi.</p>



<p>Namun di balik kesempurnaannya, Komi sebenarnya memiliki masalah kecemasan sosial yang parah hingga tidak mampu berkomunikasi dengan orang lain. Sekadar menyapa &#8220;hai&#8221; saja tidak sanggup. Nah, hanya Tadano-lah yang menyadari hal ini.</p>



<p>Setelah itu, Tadano pun jadi memahami Komi sebenarnya ingin bisa memiliki 100 teman. Ia pun bertekad untuk membantu Komi meraih impiannya tersebut dan dimulailah &#8220;petualangan&#8221; mereka!</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-3-1024x683.jpg" alt="komi can't communicate" class="wp-image-5730" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Extreme Social Anxiety (<a href="https://www.chapteria.com/2022/04/komi-san-kodok.html">Chapteria</a>)</figcaption></figure>



<p>Plot cerita di atas sebenarnya menarik dan unik karena Penulis belum pernah menemukan anime yang mengangkat masalah <em>anxiety </em>yang ekstrem seperti ini. Bahkan, Penulis belum pernah bertemu seseorang di dunia nyata yang memiliki kecemasan sosial separah itu.</p>



<p>Di animenya, selalu ada narator yang menyebutkan bahwa orang yang mengalami kecemasan sosial seperti Komi sebenarnya bukan tidak ingin bersosialisasi dengan orang lain, melainkan karena memang tidak bisa.</p>



<p>Tidak hanya tidak mampu untuk bercakap, Komi pun kerap gugup dan gemetar ketika berhadapan dengan orang lain. Berkat bantuan Tadano, tabiat ini bisa dikurangi meskipun ia tetap membutuhkan media buku dan alat tulis untuk bisa berkomunikasi dengan temannya.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis pun kadang merasa kalau kecemasan sosial yang dialami Komi sedikit berlebihan. Apalagi, tidak ada (atau setidaknya belum ada) latar yang kuat mengapa Komi bisa seperti itu. Apakah karena trauma di masa lalu?</p>



<p>Apalagi, Komi adalah gadis yang cantik. Jika hidup di dunia nyata, mungkin ia akan mudah <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">viral di TikTok</a> atau diangkat menjadi <em>brand ambassador</em> tim <em>esports</em>. Itu mungkin akan membantunya untuk bisa berkomunikasi lebih baik dengan orang lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Beberapa Teman yang Sudah Didapatkan Komi</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-2-1024x683.jpg" alt="komi can't communicate" class="wp-image-5729" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Najimi Osana (<a href="https://www.cbr.com/komi-cant-communicate-najimi-true-friend-count/">CBR</a>)</figcaption></figure>



<p>Berkat bantuan Tadano, Komi pun perlahan bisa menjalin pertemanan dengan orang lain. Teman masa kecil Tadano yang supel, <strong>Najimi Osana</strong>, menjadi teman lain pertama Komi setelah Tadano. Sayangnya, Penulis merasa risih karena gendernya yang tidak jelas.</p>



<p>Selain itu, ada juga <strong>Ren Yamai</strong> yang memiliki obsesi berlebihan dan tidak sehat kepada Komi (satu lagi yang membuat Penulis merasa kurang nyaman). Karakter <em>yandere </em>yang dimilikinya terasa menyeramkan dan ia pun tak segan menyakiti orang yang dekat dengan Komi.</p>



<p>Nama-nama lain yang sering muncul dan telah menjadi teman Komi adalah <strong>Omoharu Nakanaka</strong> yang punya sindrom <em>chuunibyo</em>, <strong>Himiko Agari</strong> yang masokis, <strong>Makeru Yadano</strong> yang menganggap Komi sebagai rivalnya, dan masih banyak lagi karakter-karakter unik yang menjadi teman Komi.</p>



<p>Apakah anime ini akan tamat ketika Komi berhasil mendapatkan targetnya mendapatkan 100 teman? Bisa jadi. Pada akhirnya, mungkin Komi bisa mengatasi masalah berkomunikasinya dan akhirnya bisa melakukan percakapan kecil dengan teman-temannya tanpa bantuan alat tulis.</p>



<p>Selain itu, bumbu romansa antara Komi dan Tadano pun perlahan mulai terlihat. Tadano memiliki semacam <em>inferior complex </em>yang membuatnya tidak percaya diri dan merasa tidak pantas untuk memiliki hubungan romantis dengan perempuan secantik Komi. Sebaliknya, Komi sendiri belum yakin dengan perasaannya sendiri ke Tadano.</p>



<p>Apakah mereka akan berakhir menjadi sepasang kekasih? Jika melihat kebiasaan anime-anime yang pernah Penulis tonton dengan genre seperti ini, biasanya akan memiliki akhir yang menggantung dan diserahkan kepada penonton. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p><em>Komi Can&#8217;t Communicate </em>adalah anime yang memiliki premis menarik karena mampu mengemas masalah kecemasan sosial (yang mungkin banyak dialami oleh orang <em>introvert</em>) dengan tidak membosankan dan ringan. Bumbu komedi dan <em>romance </em>yang dimiliki tidak berlebihan dan terasa pas untuk dinikmati dengan santai.</p>



<p>Hanya saja, Penulis merasa risih dengan beberapa karakter yang ada di dalamnya. Anime ini berpotensi untuk memiliki lebih banyak lagi karakter karena Komi memiliki target 100 teman, sehingga Penulis harap tidak ada lagi karakter yang bisa membuat risih.</p>



<p>Untuk penggemar genre <em>slice of life</em>, anime ini jelas layak untuk dicoba. <em>Season </em>keduanya sedang mengudara tahun ini, jadi mungkin waktu yang tepat untuk segera maraton dari <em>season </em>pertamanya.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 1 Juni 2022, terinspirasi setelah menonton anime <em>Komi Can&#8217;t Communicate</em></p>



<p>Foto Banner: <a href="https://gowapos.pikiran-rakyat.com/entertainment/pr-033870249/anime-komi-cant-communicate-umumkan-tanggal-tayang-perdana-untuk-season-keduanya-ada-karakter-baru">Gowapos</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate/">Kecemasan Sosial ala Komi Can&#8217;t Communicate</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Safa, Fanatisme Idola, dan Hubungan Parasosial</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/safa-fanatisme-idola-dan-hubungan-parasosial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/safa-fanatisme-idola-dan-hubungan-parasosial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 May 2022 13:45:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[fanatisme]]></category>
		<category><![CDATA[idola]]></category>
		<category><![CDATA[K-Pop]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[parasosial]]></category>
		<category><![CDATA[penggemar]]></category>
		<category><![CDATA[Safa]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5714</guid>

					<description><![CDATA[<p>Baru-baru ini, ada kejadian yang sedang ramai diperbincangkan di Twitter. Mungkin Pembaca juga sudah tahu mengenai kasus Safa yang &#8220;disidang&#8221; secara daring di Space Twitter akibat ulahnya yang melakukan hate speech kepada member boyband asal Korea, NCT. Kasus ini sempat membuatnya menjadi trending topic di internet. Bahkan, beberapa public figure sudah membuat semacam video reaction [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/safa-fanatisme-idola-dan-hubungan-parasosial/">Safa, Fanatisme Idola, dan Hubungan Parasosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Baru-baru ini, ada kejadian yang sedang ramai diperbincangkan di Twitter. Mungkin Pembaca juga sudah tahu mengenai kasus Safa yang &#8220;disidang&#8221; secara daring di Space Twitter akibat ulahnya yang melakukan <em>hate speech </em>kepada <em>member boyband </em>asal Korea, NCT.</p>



<p>Kasus ini sempat membuatnya menjadi <em>trending topic </em>di internet. Bahkan, beberapa <em>public figure </em>sudah membuat semacam video <em>reaction </em>yang menyoroti betapa &#8220;uniknya&#8221; kasus ini di mata mereka dan menunjukkan betapa <em>gregetan-</em>nya<em> </em>mereka.</p>



<p>Pada tulisan kali ini, Penulis ingin mencoba menjabarkan akar permasalahan ini sekaligus mencoba untuk mencari hikmah apa yang bisa kita dapatkan dari perisitiwa yang bagi sebagian orang dianggap konyol dan norak ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Rangkuman Kasus Safa di Twitter</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5719" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Safa Space (via <a href="https://www.youtube.com/watch?v=t6axA96UujU">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p>Safa merupakan <em><strong>solostan</strong></em>, istilah untuk menyebutkan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/fenomena-bucin/">penggemar yang hanya mengidolakan salah satu <em>member </em>dari sebuah kelompok</a>. Nah, ia pun melancarkan <em>hate speech </em>ke <em>member </em>NCT lain yang tidak ia idolakan, bahkan menggunakan istilah-istilah yang sangat buruk.</p>



<p>Nah, para penggemar <em>member </em>yang dihina dan <em>fans </em>NCT secara umum merasa gerah dengan perbuatan Safa ini. Jika <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/cari-perhatian-di-media-sosial/">mengamati media sosial</a>, Safa sebenarnya sempat ditegur secara personal, tetapi tidak ada perubahan dan ia tetap mengeluarkan <em>hate speech</em>.</p>



<p>Alhasil, akhirnya dibentuklah Space tersebut dengan Safa sebagai &#8220;tertuduh&#8221; utama. Entah berapa orang yang ikut menyidang Safa pada momen tersebut. Sampai di titik ini, kita masih bisa melihat kewajaran mengapa Safa sampai terseret kasus ini.</p>



<p>Safa dituntut untuk membuat surat pernyataan minta maaf di atas materai dan ditandatangani orang tua, serta membuat semacam video klarifikasi. Hal ini ditolak Safa karena dianggap melanggar privasinya. Penolakan inilah yang menjadi <em>trigger</em> kemarahan orang-orang yang berada di dalam Space tersebut. </p>



<p>Bahkan, ada satu orang yang menggunakan semacam <em>power abuse </em>untuk mengintimidasi Safa dengan menyebutkan berbagai anggota keluarga dan kenalannya yang memiliki pengaruh, mulai kader Golkar sampai anggota tentara dan kepolisian.</p>



<p>Tidak hanya itu, ia juga memberikan ancaman kalau dirinya bisa membuat ayah Safa, yang juga merupakan polisi, untuk dimutasi atau diturunkan pangkatnya. Ia juga menyebutkan bahwa dirinya akan membawa kasus ini ke ranah hukum dengan dasar UU ITE.</p>



<p><strong>Iya, Safa diancam akan dibawa ke kepolisian &#8220;hanya&#8221; karena menghina <em>idol </em>Korea yang bahkan tidak tahu kalau mereka eksis di dunia ini.</strong></p>



<p>Ancaman memidanakan Safa tidak hanya dilakukan oleh mbak-mbak berusia 29 tahun dan aktivis HAM ini, melainkan dilakukan oleh anggota Space yang lain juga. Bahkan, ada yang mengaku sebagai &#8220;emaknya&#8221; atau perwakilan dari anggota NCT.</p>



<p>Menghadapi serangan dari berbagai arah, Safa terlihat mampu mengendalikan diri dan tidak kalah begitu saja. Ia mengakui perbuatan salahnya, tetapi ia menganggap memperkarakan ini hanya akan ditertawakan oleh pihak yang berwajib.</p>



<p>Penulis kurang tahu pasti bagaimana <em>ending </em>dari Space tersebut. Penulis sempat membaca kalau Space tersebut ditutup ketika Safa bertanya apa kesimpulan dari diskusi tersebut karena ia harus mengerjakan tugasnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Fanatisme Idola</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5721" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Begitu Fanatik kepada Idola (via <a href="https://www.thestar.com.my/tech/tech-news/2021/08/10/indonesia-country-with-most-k-pop-fans-and-most-tweets-about-it">The Star</a>)</figcaption></figure>



<p>Kebanyakan netizen pun berpendapat bahwa apa yang dilakukan orang-orang di dalam Space tersebut sangat berlebihan. Sebegitu hebatnya mereka membela <em>idol </em>mereka hingga rasanya bagi kita mereka begitu aneh dan norak.</p>



<p>Melihat kasus tersebut, tentu banyak orang (termasuk Penulis) yang menganggapnya sebagai sebuah fanatisme. Apalagi, ini menyangkut tentang penggemar K-Pop yang sudah kadung dicap publik sebagai kalangan penggemar yang paling &#8220;keras&#8221; dan tidak bisa disenggol.</p>



<p>Sebenarnya, fanatisme terhadap seorang idola tidak hanya terlihat dari penggemar K-Pop. Fanatisme seseorang juga bisa terjadi kepada sosok politik, klub bola, karakter anime, aktor film, dan masih banyak lagi lainnya.</p>



<p>Bahkan, terkadang fanatisme terhadap hal-hal tersebut telah memberikan dampak yang lebih parah daripada menyidang Safa di Twitter. Contoh, suami-istri yang cerai karena beda pilihan calon presiden atau kematian akibat perkelahian antarklub sepak bola.</p>



<p>Penulis merasa penasaran dengan adanya fenomena fantisme yang berlebihan ini, sehingga memutuskan untuk bertanya kepada seorang kawan (sebut saja Naufal) yang Penulis anggap cukup &#8220;ahli&#8221; dalam memberikan pendapat dalam kasus-kasus seperti ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Hyperreality dan Hubungan Parasosial</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5720" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Istilah Halus untuk Menggambarkan Halu? (via <a href="https://www.verywellmind.com/parasocial-relationships-covid-5218827">Verywell Mind</a>)</figcaption></figure>



<p>Menurutnya, kita sekarang tengah berada di tengah kondisi <em><strong>hyperreality</strong></em>, sebuah konsep yang diajukan oleh <strong>Jean Baudrillard</strong>, di mana <strong>manusia semakin kesulitan untuk membedakan mana realita mana yang bukan</strong>.</p>



<p>Di era <em>postmodern </em>seperti sekarang, kondisi ini semakin menjadi-jadi berkat &#8220;dukungan&#8221; dari media, teknologi, media sosial, dan lain-lain. Idola yang dulu rasanya jauh, kini terasa dekat seolah mereka benar-benar menjadi bagian dari kehidupan kita secara nyata.</p>



<p>Penggemar yang awalnya hanya mengagumi idola dan karyanya pun berevolusi: Mereka jadi ingin memiliki hubungan yang dekat dengan idola. Ini memunculkan sebuah fenomena lain yang disebut sebagai<strong> <em>parasocial relantionship</em></strong><em> </em>atau hubungan parasosial. </p>



<p>Tambah kawan Penulis, hubungan parasosial ini membuat para penggemar ingin di-<em>notice </em>oleh idolanya. Karena tahu akan sulit, mereka pun menggunakan berbagai cara, bahkan kadang dengan cara yang ekstrem seperti yang dilakukan oleh <em>sasaeng</em>.</p>



<p>Apa yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di Space Safa sebenarnya &#8220;lumrah&#8221; dilakukan di era <em>hyperreality </em>seperti sekarang. Mungkin, karena dilakukan di media sosial-lah yang membuatnya jadi banyak disorot oleh publik.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Dari kasus Safa setidaknya kita bisa belajar dua hal: <strong>Jangan melakukan <em>hate speech</em></strong><em> </em>dan <strong>jangan menjadi penggemar yang fanatik</strong>. Apa yang dilakukan oleh Safa memang tidak bisa dibenarkan, tapi apa yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di Space tersebut juga salah.</p>



<p>Di era di mana batas antara mana yang nyata dan tidak semakin tipis seperti sekarang, kita harus bisa menempatkan diri dengan baik. Jangan sampai kita kerap susah membedakan mana yang sungguh-sungguh terjadi mana yang tidak.</p>



<p>Peristiwa yang sebenarnya tak terlalu penting ini ternyata mampu memberi kita pelajaran yang begitu berarti, sekaligus menjadi sebuah peningkatan bahwa apapun yang berlebihan tak pernah berakhir dengan baik.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 29 Mei 2022, terinspirasi setelah membaca &#8220;drama&#8221; mengenai Safa di Twitter satu minggu yang lalu</p>



<p>Foto Banner: <a href="https://kpop.fandom.com/wiki/NCT">Kpop Wiki &#8211; Fandom</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Hyperreality#cite_note-12">Hyperreality &#8211; Wikipedia</a></li><li><a href="https://twitter.com/badutkenyal/status/1526984679504879616">Twitter: &#8220;Kumpulan space safa, karna perlu dikenang dalam sejarah: A thread🙏🏼&#8221; / Twitter</a></li><li><a href="https://www.instagram.com/p/Cdx3On0Bhkp/">Satu Persen &#8211; Indonesian Life School (@satupersenofficial) • Instagram photos and videos</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/safa-fanatisme-idola-dan-hubungan-parasosial/">Safa, Fanatisme Idola, dan Hubungan Parasosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/safa-fanatisme-idola-dan-hubungan-parasosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kehidupan Fana Palsu para Crazy Rich</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Apr 2022 05:48:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[crazy rich]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[kaya]]></category>
		<category><![CDATA[kekayaan]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5632</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu terakhir ini, berita mengenai penangkapan para crazy rich di Indonesia sangat memenuhi media. Tuduhannya kurang lebih sama, dipidana atas kasus penipuan. Entah sudah berapa orang yang ditangkap. Dari yang Penulis baca, mereka ini adalah affiliator dari aplikasi atau platform trading dengan konsep binary option. Intinya, user diharuskan menebak apakah nilai suatu saham akan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich/">Kehidupan Fana Palsu para Crazy Rich</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa waktu terakhir ini, berita mengenai penangkapan para <em>crazy rich </em>di Indonesia sangat memenuhi media. Tuduhannya kurang lebih sama, dipidana atas kasus penipuan. Entah sudah berapa orang yang ditangkap.</p>



<p>Dari yang Penulis baca, mereka ini adalah <em>affiliator </em>dari aplikasi atau platform <em>trading</em> dengan konsep <em>binary option</em>. Intinya, <em>user</em> diharuskan menebak apakah nilai suatu saham<em> </em>akan naik atau turun. Kalau naik ya <em>cuan</em>, kalau turun ya <em>sayonara goodbye.</em></p>



<p>Fenomena yang tengah terjadi ini seolah menjadi pengingat bagi kita semua, kalau kekayaan secara instan itu adalah hal yang hampir mustahil terjadi, terutama kita yang biasa-biasa ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Iming-Iming Kaya dengan Instan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/03/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5648" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/03/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/03/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/03/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/03/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Contoh Crazy Rich yang Ditangkap (<a href="https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4882304/sosok-indra-kenz-crazy-rich-medan-yang-dituduh-menipu-bermodus-trading">Liputan 6</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebagai seorang <em>affiliator</em>, para <em>crazy rich </em>ini tampaknya diwajibkan untuk mengajak sebanyak mungkin orang untuk menggunakan platform yang berafiliasi dengan mereka. Mungkin mirip dengan sistem rekrutmen MLM.</p>



<p>Bagaimana cara mereka menarik perhatian para calon &#8220;korban&#8221;? Tentu saja dengan memamerkan kekayaan yang katanya berasal dari keuntungan menggunakan platform tertentu. Kekayaan instan dalam waktu cepat, siapa yang tidak tergiur?</p>



<p>Apalagi, sosok-sosok yang menjadi <em>crazy rich </em>ini digambarkan sosok muda tanpa latar belakang keluarga kaya. Kekayaan mereka seolah mengalahkan harta yang dimiliki oleh <em>crazy rich </em>asli yang namanya sudah terkenal di negara kita.</p>



<p>Oleh karena itu, jumlah kerugian yang diderita oleh para korban juga tidak main-main, bisa mencapai miliaran rupiah. Bahkan, tak sedikit yang rela menjual harta benda mereka agar punya modal untuk &#8220;bermain&#8221; di platform ini.</p>



<p>Begitu mudahnya kita tergoda untuk menjadi kaya secara cepat membuat para penipu ini memiliki &#8220;pasar&#8221; untuk membuat diri mereka semakin kaya. Bayangkan, memperkaya diri dengan memiskinkan orang lain. Betapa tercelanya cara tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tidak Ada yang Namanya Kaya Instan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/03/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5649" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/03/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/03/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/03/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/03/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Yuk Kerja Keras! (<a href="https://unsplash.com/@israelandrxde">Israel Andrade</a>)</figcaption></figure>



<p>Dengan adanya kasus ini, tentu kita berharap bisa memetik pelajaran berharga: <strong>Tidak ada yang namanya kaya instan</strong>. Kalau kita bukan anak konglomerat, kita harus menyadari kalau jalan untuk menjadi kaya akan berat dan tidak mudah.</p>



<p>Bahkan, beberapa kasus langka seperti yang dialami Ghozali Everyday pun diawali dengan konsistensinya mengunggah foto <em>selfie</em>-nya selama kurang lebih lima tahun. Pemenang lotre atau kaya dari judi jelas tidak Penulis anggap.</p>



<p>Kalau kita berasal dari masyarakat yang biasa-biasa saja tanpa <em>privilege </em>lebih, jangan mudah tergiur dengan iming-iming kaya instan yang belum tentu benar. Lebih baik, kita investasikan waktu, uang, dan tenaga kita untuk mengembangkan <em>skill</em>, <em>knowledge</em>, serta relasi.</p>



<p>Jika ingin, ada banyak sarana investasi lain yang lebih jelas. Emas, tanah, saham, hingga reksadana. Jika punya dana berlebih, tak ada salahnya mencoba instrumen-instrumen tersebut dengan syarat kita harus mendalaminya terlebih dulu.</p>



<p>Terkadang, ada banyak orang yang ingin belajar investasi hanya karena ikut-ikutan atau karena FOMO (<em>Fear Out Missing Out</em>). Akibatnya, keputusan investasi yang kita ambil jadi kurang tepat dan terkesan terburu-buru.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Hidup dengan <em>financial freedom</em> memang seolah menjadi mimpi banyak orang. Namun, kadang kita lupa untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit.</p>



<p>Mungkin ada yang berpendapat kalau kita tidak bisa kaya <a href="https://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/">hanya dengan bermodalkan kerja keras</a>. Banyak faktor di sekeliling kita yang akan menghambat kemajuan kita. Itu Penulis akui ada benarnya.</p>



<p>Hanya saja, jika memang tidak memiliki <em>previlege </em>apa-apa lantas memilih bermalas-malasan dan berusaha kaya dengan cara yang tidak benar, menurut Penulis juga tidak tepat. Tidak ada yang salah dengan bekerja keras, <em>Gusti mboten sare</em>.</p>



<p>Memang hasilnya mungkin tidak akan sama dengan mereka-mereka yang kaya dengan cara tidak halal. Namun, percayalah harta yang didapatkan dengan cara baik akan lebih berkah dan membuat kita tenang.</p>



<p>Semoga saja kita semua bisa mengambil hikmah dari tertangkapnya para <em>crazy rich </em>ini. Semoga kita sadar, hampir tidak ada jalan pintas untuk bisa menjadi kaya dalam waktu singkat tanpa berusaha.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 9 April 2022, terinspirasi setelah banyaknya para <em>crazy rich </em>yang ditangkap oleh pihak kepolisian</p>



<p>Foto: <a href="https://www.bbc.com/reel/video/p07vts5j/the-surprising-psychology-behind-being-rich">BBC</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich/">Kehidupan Fana Palsu para Crazy Rich</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mason Greenwood, Bukti Pentingnya &#8220;Educate Your Son&#8221;</title>
		<link>https://whathefan.com/olahraga/mason-greenwood-bukti-pentingnya-educate-your-son/</link>
					<comments>https://whathefan.com/olahraga/mason-greenwood-bukti-pentingnya-educate-your-son/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Feb 2022 12:01:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[Educate Your Son]]></category>
		<category><![CDATA[Harriet Robson]]></category>
		<category><![CDATA[Manchester United]]></category>
		<category><![CDATA[Mason Greenwood]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pelecehan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5593</guid>

					<description><![CDATA[<p>Akhir-akhir ini, Penulis merasa agak malas mengikuti berita sepak bola. Selain karena mainnya Manchester United yang begitu-begitu saja, ada perasaan jenuh dan merasa butuh agak menjauh sedikit. Rasa malas tersebut semakin bertambah ketika kasus Mason Greenwood mencuat ke publik. Tidak main-main, tuduhan yang diberikan kepadanya adalah pemerkosaan dan penganiayaan kepada pacarnya sendiri, Harriet Robson. Pada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/olahraga/mason-greenwood-bukti-pentingnya-educate-your-son/">Mason Greenwood, Bukti Pentingnya &#8220;Educate Your Son&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Akhir-akhir ini, Penulis merasa agak malas mengikuti berita sepak bola. Selain karena mainnya Manchester United yang begitu-begitu saja, ada perasaan jenuh dan merasa butuh agak menjauh sedikit.</p>



<p>Rasa malas tersebut semakin bertambah ketika kasus <strong>Mason Greenwood</strong> mencuat ke publik. Tidak main-main, tuduhan yang diberikan kepadanya adalah pemerkosaan dan penganiayaan kepada pacarnya sendiri, <strong>Harriet Robson</strong>.</p>



<p>Pada tulisan kali ini, Penulis akan merangkum kasus yang menimpa Greenwood dan Robson, serta mengaitkannya dengan kampanye<strong> &#8220;<em>Educate Your Son</em>&#8220;</strong> yang akhir-akhir ini cukup sering didengungkan.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Kasus Greenwood dan Robson</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/02/mason-greenwood-bukti-pentingnya-educate-your-son-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5595" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/02/mason-greenwood-bukti-pentingnya-educate-your-son-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/02/mason-greenwood-bukti-pentingnya-educate-your-son-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/02/mason-greenwood-bukti-pentingnya-educate-your-son-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/02/mason-greenwood-bukti-pentingnya-educate-your-son-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption> Harriet Robson (<a href="https://sportmob.com/en/article/904859-Facts-about-Harriet-Robson-Mason-Greenwood-s-Girlfriend">SportMob</a>)</figcaption></figure>



<p>Bukti kasus ini cukup kuat. Selain foto dan video yang menunjukkan luka-luka yang dialami Robson, ada bukti rekaman suara Greenwood yang memaksa Robson untuk berhubungan badan dengannya. Padahal, Robson sudah menolaknya.</p>



<p>Greenwood pun sempat ditahan selama tiga hari oleh pihak kepolisian, sebelum akhirnya dibebaskan dengan jaminan. Namun, kasusnya belum berhenti sampai di sana saja karena proses penyelidikan masih terus berlanjut.</p>



<p>Semua pihak mengecam hal yang dilakukan oleh Greenwood. Klub membekukannya dari segala aktivitas hingga proses hukumnya tuntas. Semua <em>merchandise </em>yang terkait dengannya pun dihentikan penjualannya. Fan yang sudah memiliki <em>jersey</em>-nya dapat menukarkannya secara gratis ke <em>store</em>.</p>



<p>Ia juga ditinggalkan oleh para sponsornya. Nike membekukan Greenwood, gim <em>FIFA 22 </em>menghilangkannya dari gim. Teman-teman satu klubnya diketahui telah melakukan <em>unfollow </em>akun Instagram-nya. Gareth Southgate selaku pelatih timnas Inggris menutup pintu untuknya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/02/mason-greenwood-bukti-pentingnya-educate-your-son-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5596" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/02/mason-greenwood-bukti-pentingnya-educate-your-son-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/02/mason-greenwood-bukti-pentingnya-educate-your-son-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/02/mason-greenwood-bukti-pentingnya-educate-your-son-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/02/mason-greenwood-bukti-pentingnya-educate-your-son-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Mason Greenwood (<a href="https://www.skysports.com/football/news/12016/12322063/mason-greenwood-withdraws-from-england-euro-2020-squad-with-injury-manchester-united-confirm">Sky Sports</a>)</figcaption></figure>



<p>Hal ini tentu sangat disayangkan, mengingat Greenwood digadang-gadang sebagai bintang masa depan bagi Manchester United dan timnas Inggris. Karirnya bisa dibilang tamat jika melihat respon publik dan berbagai pihak. </p>



<p>Rasanya, tidak akan ada klub yang mau menampung dirinya. Dengan kata lain, ia telah terkena <em>cancel cultured </em>akibat perbuatan bejatnya. Mungkin masih ada peluang untuk membersihkan namanya dan melanjutkan karirnya, tetapi sangat kecil mengingat betapa tingginya <em>awareness </em>masyarakat terhadap pelecehan terhadap perempuan.</p>



<p>Kasus yang dialami oleh Greenwood dan Robson seolah menjadi bukti nyata, kalau kampanye <strong>&#8220;<em>Educate Your Son</em>&#8221; </strong>memang harus disebarluaskan agar kasus serupa tidak menimpa orang-orang dekat kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><em>Educate Your Son</em></h2>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/02/mason-greenwood-bukti-pentingnya-educate-your-son-3.jpg" alt="" class="wp-image-5597" width="740" height="494" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/02/mason-greenwood-bukti-pentingnya-educate-your-son-3.jpg 680w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/02/mason-greenwood-bukti-pentingnya-educate-your-son-3-300x200.jpg 300w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption>Educate Your Son (<a href="https://m.kaskus.co.id/thread/61afd15b8b507657992b68a4/protect-your-daughter-atau-educate-your-son/">Kaskus</a>)</figcaption></figure>



<p>Kampanye ini, setahu Penulis, bermula untuk menggantikan kata-kata <strong>&#8220;<em>Protect Your Daughter</em>&#8220;</strong>. Alasannya, sudah seharusnya jangan menimpakan beban kepada korban, tetapi pelakulah yang harus diberi pengertian untuk tidak melakukan pelecehan kepada perempuan.</p>



<p>Seperti yang telah kita ketahui bersama, kasus pelecehan perempuan yang dilakukan oleh laki-laki masih marak terjadi. Mau pakai pakaian terbuka maupun tertutup, perempuan tetap rentan terkena pelecehan seksual.</p>



<p>Daripada menekankan orang tua untuk melindungi anak perempuannya dari pelecehan, seharusnya orang tua harus bisa mengedukasi anak laki-lakinya untuk tidak melakukan pelecehan kepada perempuan.</p>



<p>Ada yang lebih ideal lagi menurut netizen, yakni <strong>&#8220;<em>Educate Your Childr</em></strong><em><strong>en</strong></em>&#8220;. Hal ini masuk akal karena walaupun lebih sedikit, kenyataannya ada juga laki-laki yang menjadi korban pelecehan seksual oleh perempuan.</p>



<p>Oleh karena itu, sudah sewajarnya bagi para orang tua untuk bisa mendidik anaknya dan memahami kalau pelecehan, apapun bentuknya, itu dilarang. Selain itu, orang tua juga harus melatih anaknya agar bisa menjaga dirinya sendiri dan tidak tergantung orang lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Kasus yang menimpa Greenwood seolah menjadi bukti kalau laki-laki memang harus diedukasi. Pemaksaan dan kekerasan yang ia lakukan kepada pacarnya sendiri seharusnya tidak terjadi jika dirinya memahami kalau hal tersebut adalah salah.</p>



<p>Di usianya yang masih muda (bahkan lebih muda dari adik bungsu Penulis), sangat disayangkan ia sudah melakukan kekejaman seperti itu. Orang tuanya pun menjadi sorotan, mengapa tidak mampu mengedukasi anaknya untuk tidak melakukan pelecehan.</p>



<p>Semoga kasus ini membuka mata kita semua kalau pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menangani permasalahan ini, salah satunya adalah mengedukasi anak-anak kita nanti.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 5 Februari 2022, terinspirasi setelah mencuatnya kasus Mason Greenwood</p>



<p>Foto: <a href="https://www.marca.com/en/football/manchester-united/2022/02/04/61fd15f8ca4741f7328b45ac.html">Marca</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/olahraga/mason-greenwood-bukti-pentingnya-educate-your-son/">Mason Greenwood, Bukti Pentingnya &#8220;Educate Your Son&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/olahraga/mason-greenwood-bukti-pentingnya-educate-your-son/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>NFT oh NFT&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/nft-oh-nft/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/nft-oh-nft/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Jan 2022 04:02:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[blockchain]]></category>
		<category><![CDATA[cryptocurrency]]></category>
		<category><![CDATA[Ghazali Everyday]]></category>
		<category><![CDATA[latah]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[NFT]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5573</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seminggu terakhir, media ramai-ramai mengangkat mengenai fenomena miliarder dadakan yang dialami oleh seorang pemuda bernama Ghozali berkat foto selfie-nya yang menjadi sebuah NFT. Sontak, masyarakat kita pun berbondong-bondong mengikuti jejaknya dengan membuat NFT-nya sendiri. Parahnya, mereka menggunakan foto-foto yang tidak patut, seperti foto tidak senonoh, foto public figure, hingga foto KTP mereka. Hal ini seolah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/nft-oh-nft/">NFT oh NFT&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Seminggu terakhir, media ramai-ramai mengangkat mengenai fenomena miliarder dadakan yang dialami oleh seorang pemuda bernama Ghozali berkat foto <em>selfie</em>-nya yang menjadi sebuah NFT.</p>



<p>Sontak, masyarakat kita pun berbondong-bondong mengikuti jejaknya dengan membuat NFT-nya sendiri. Parahnya, mereka menggunakan foto-foto yang tidak patut, seperti foto tidak senonoh, foto <em>public figure</em>, hingga foto KTP mereka.</p>



<p>Hal ini seolah menegaskan penyakit lama yang sudah lama diidap oleh masyarakat kita: <strong>Latah</strong>.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa Itu NFT?</h2>



<p>Kebetulan, di tempat kerja Penulis sudah pernah membuat artikel yang cukup mendalam mengenai apa itu NFT. Para pembaca bisa membacanya melalui tautan di bawah ini:</p>



<figure class="wp-block-embed"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="l08j3BddtS"><a href="https://www.upstation.asia/semua-yang-perlu-kamu-ketahui-tentang-nft/">Semua yang Perlu Kamu Ketahui tentang NFT</a></blockquote><iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Semua yang Perlu Kamu Ketahui tentang NFT&#8221; &#8212; UP Station" src="https://www.upstation.asia/semua-yang-perlu-kamu-ketahui-tentang-nft/embed/#?secret=l08j3BddtS" data-secret="l08j3BddtS" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<p>Singkatnya, NFT merupakan kependekan dari <em><strong>non-fungiable token</strong> </em>atau aset yang tak dapat dipertukarkan. Artinya, setiap NFT memiliki keunikan dan hanya bisa dimiliki oleh satu orang. Meskipun dapat disalin sebanyak mungkin, yang asli tetap hanya ada satu.</p>



<p>NFT disimpan di <em>blockchain</em>, sama seperti <em>cryptocurrency</em>. Semua informasi yang terkait dengan NFT tersimpan di <em>blockchain </em>tersebut, termasuk kepemilikan NFT. Hingga saat ini, NFT selalu berupa <em>file </em>digital, di mana mayoritas berupa gambar.</p>



<p>Ghozali bisa mendapatkan banyak uang karena foto <em>selfie</em>-nya yang diambil selama lima tahun dihargai mahal oleh orang-orang. <em>Unique value</em> NFT-nya terletak pada ketekunannya dalam mengambil foto <em>selfie</em>.</p>



<p>Dalam membeli sebuah NFT, orang-orang menggunakan <em>cryptocurrency</em>. Misalnya di platform OpenSea, kebanyakan akan melakukan transaksi menggunakan <em>cryptocurrency </em>bernama Ethereum, di mana satu Ethereum bisa bernilai puluhan juta.</p>



<p>Permasalahan kita sebagai orang Indonesia adalah, banyak yang asal latah mengikuti Ghazali tanpa merasa perlu belajar apa itu NFT dan apa itu <em>cryptocurrency</em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penyakit Latah Masyarakat Indonesia</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/nft-oh-nft-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5574" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/nft-oh-nft-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/nft-oh-nft-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/nft-oh-nft-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/nft-oh-nft-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Berebut Atensi dengan Trending (<a href="https://socialpubli.com/blog/how-to-be-trending-topic-on-twitter/">Social Publi Blog</a>)</figcaption></figure>



<p>Permasalahan latah ini sebenarnya telah lama menjangkiti kita. Apa yang sedang <em>trending</em>, diikuti begitu saja tanpa mencari tahu mengapa hal tersebut menjadi <em>trending </em>ataukah hal tersebut layak menjadi sesuatu yang <em>trending</em>. <strong>Semua seolah berebut atensi publik</strong>.</p>



<p>Dalam hal ini, kita tentu saja tergiur dengan fenomena yang dialami oleh Ghozali. Siapa yang tidak mau mendapatkan uang banyak dalam sekejap, apalagi dengan cara yang tidak melanggar hukum?</p>



<p>Hanya saja, langsung terjun tanpa mengetahui dengan jelas apa itu NFT, <em>blockchain</em>, dan <em>cryptocurrency </em>jelas salah. Buktinya sudah terlihat, di mana banyak orang yang asal menaruh sebuah foto dengan harapan ada orang &#8220;kelebihan uang&#8221; yang tertarik dengan foto tersebut.</p>



<p>Padahal, <em>file </em>yang sudah disimpan dalam teknologi <em>blockchain</em> tidak akan bisa dihapus, termasuk oleh pemiliknya sekalipun. Jika kita mengunggah foto di Instagram, lantas menuai kontroversi, kita bisa menghapusnya. Di <em>blockchain</em>, kita tidak bisa melakukannya.</p>



<p>Artinya, segala foto tidak senonoh maupun foto KTP yang sudah diunggah ke <em>blockchain </em>akan bertahan di sana selamanya, mungkin sampai kiamat. Bisa dibayangkan, bagaimana foto-foto tersebut bisa disalahgunakan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Sebenarnya tidak ada salahnya mengikuti jejak Ghazali, asal dengan cara yang baik dan benar. Ia bisa kaya &#8220;hanya&#8221; bermodal foto <em>selfie </em>karena dia autentik dan rasanya orang lain tidak akan bisa mengikuti jejaknya.</p>



<p>Kalai kita memiliki sebuah karya seni digital yang dirasa cukup bernilai, tidak ada salahnya untuk mencoba menjualnya di berbagai platform NFT. Siapa tahu, ada orang yang menganggap karya seni tersebut layak untuk dikoleksi.</p>



<p>Entah bagaimana cara mengobati penyakit latah yang sudah lama menjangkiti kita ini. Mungkin kita bisa mulai dari diri kita sendiri dulu untuk bisa belajar kritis dari setiap fenomena yang ada. Jangan hanya sekadar ikut-ikutan saja.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 23 Januari 2022, terinspirasi setelah adanya fenomena Ghazali Everyday</p>



<p>Foto: <a href="https://opensea.io/collection/ghozali-everyday">OpenSea</a></p>



<p> </p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/nft-oh-nft/">NFT oh NFT&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/nft-oh-nft/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berbincang Sedikit tentang Close Friend</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-sedikit-tentang-close-friend/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-sedikit-tentang-close-friend/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 31 Jul 2021 03:33:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[cepu]]></category>
		<category><![CDATA[Close Friend]]></category>
		<category><![CDATA[Instagram]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[privasi]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5142</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis sudah agak lama tidak membuka Twitter. Entah mengapa rasanya ingin sedikit menjauh dari media sosial yang terkenal karena &#8220;drama&#8221;-nya itu. Sesekali Penulis mengecek ala kadarnya, mungkin hanya sekitar 5-10 saja. Twitter juga masih Penulis manfaatkan untuk share artikel blog yang terbaru. Nah, kok ya pas kemarin cek Twitter muncul berita trending tentang seorang public [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-sedikit-tentang-close-friend/">Berbincang Sedikit tentang Close Friend</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis sudah agak lama tidak membuka Twitter. Entah mengapa rasanya ingin sedikit menjauh dari media sosial yang terkenal karena &#8220;drama&#8221;-nya itu.</p>



<p>Sesekali Penulis mengecek ala kadarnya, mungkin hanya sekitar 5-10 saja. Twitter juga masih Penulis manfaatkan untuk <em>share </em>artikel blog yang terbaru.</p>



<p>Nah, kok ya pas kemarin cek Twitter muncul berita <em>trending</em> tentang seorang <em>public figure </em>yang ketahuan bertindak kurang pantas untuk kedua kalinya.</p>



<p>Penulis sebenarnya merasa <em>bodo amat </em>karena merasa kejadian tersebut bukan urusannya, walaupun timbul perasaan khawatir kalau perbuatan tersebut ditiru oleh anak-anak muda.</p>



<p>Hanya saja, ada satu hal lain yang menarik perhatian Penulis, yakni fitur <em><strong>Close Friend</strong></em> yang dimiliki oleh Instagram.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Fitur <em>Close Friend </em>dari Instagram</h2>



<p>Kalau tidak salah, fitur <em><strong>Close</strong> <strong>Friend </strong></em>dihadirkan oleh Instagram pada tahun 2018. Tujuannya adalah untuk melabeli orang-orang tertentu sebagai &#8220;teman dekat&#8221; kita di Instagram.</p>



<p>Ketika membuat <em>story</em>, kita bisa memilih untuk memublikasikannya kepada khalayak umum atau orang-orang yang berada di daftar <em>Close Friend </em>ini.</p>



<p>Semenjak menggunakan Instagram hingga sekarang, Penulis tidak pernah menggunakan fitur <em>Close Friend</em>. Bukan karena tidak punya teman dekat, melainkan karena merasa tidak perlu saja.</p>



<p>Mungkin fitur ini dibutuhkan oleh orang-orang yang <em>followers</em>-nya banyak. Kadang, ada beberapa momen yang hanya ingin dibagikan kepada orang-orang tertentu karena berbagai alasan.</p>



<p>Walaupun begitu, Penulis merasa tersanjung apabila ada temannya yang memasukkan Penulis sebagai <em>Close Friend-</em>nya. Artinya, teman tersebut percaya atau ingin berbagi momennya dengan Penulis.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><em>Close Friend </em>yang Tidak Benar-Benar <em>Close</em></h2>



<p>Satu hal yang membuat heboh kasus si <em>public figure </em>adalah karena <em>Story</em>-nya dibocorkan oleh salah satu (atau mungkin lebih) teman yang ia masukkan ke dalam <em>Close Friend</em>-nya.</p>



<p>Akibatnya, hal yang ia ingin bagi ke <em>circle </em>tertentu harus bocor ke masyarakat umum dan ia harus kembali menerima hujatan dari masyarakat. Ada sih yang memberi dukungan. Maklum, <em>good-looking privilege</em>.</p>



<p>Karena kejadian ini, banyak yang memelintir <em>Close Friend </em>menjadi <em><strong>Cepu Friend</strong></em>, termasuk <a href="https://whathefan.com/buku/kisah-jerome-polin-pada-buku-latihan-soal-mantappu-jiwa/">Jerome Polin</a> melalui akun Twitter pribadinya. </p>



<p>Buat yang belum tahu, <em>cepu </em>adalah istilah untuk menyebut orang yang tidak bisa menjaga rahasia atau informasi yang dipercayakan kepadanya. <em>Cepu Friend </em>berarti teman yang tidak bisa menjaga rahasia.</p>



<p>Kejadian ini pun membuat kita berpikir, apakah fitur <em>Close Friend </em>benar-benar <em>close </em>dan bisa dipercaya? Mungkin kita saja yang harus memilihnya secara lebih cermat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Memang Tidak Semuanya Harus Dibagi, Termasuk ke <em>Close Friend</em></h2>



<p>Di era keterbukaan seperti sekarang, membagikan momen-momen yang sedang dilalui memang sudah menjadi hal yang wajar. Hanya saja, tetap ada batasan-batasan yang sebaiknya tidak dilanggar.</p>



<p>Apalagi, kita bukan tinggal di negara bebas. Jika dianggap melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat, pasti ada <a href="https://whathefan.com/karakter/kenapa-sih-harus-judgemental/">penghakiman</a> yang seringnya dalam bentuk <em>nyinyiran</em>.</p>



<p>Bisa berbagi momen bukan berarti semuanya harus dibagi. <a href="https://whathefan.com/rasa/ternyata-tidak-semua-yang-dirasa-harus-diungkapkan/">Tetap ada beberapa hal yang sebaiknya disimpan untuk diri sendiri</a>, apalagi sesuatu yang bisa menghebohkan, meresahkan, atau membuat risih orang lain.</p>



<p>Memang, makin banyak <em>public figure </em>yang mengumbar area privasi mereka demi popularitas. Biarkan saja, tidak usah pedulikan, masih banyak hal yang perlu kita lakukan selain berperan dalam melambungkan nama mereka.</p>



<p>Berbeda dengan cerita di novel <em>The Circle</em>, privasi bukanlah pelanggaran di dunia nyata. Kita semua tetap membutuhkan privasi dari pihak manapun, termasuk dari <em>Close Friend </em>sekalipun.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 31 Juli 2021, terinspirasi dari <em>trending</em>-nya seorang <em>public figure </em>karena skandalnya</p>



<p>Foto: <em><a href="https://www.theverge.com/2020/2/5/21124269/instagram-close-friends-how-to-add-threads-app-stories">The Verge</a></em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-sedikit-tentang-close-friend/">Berbincang Sedikit tentang Close Friend</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-sedikit-tentang-close-friend/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Keganasan Netizen Barbar</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/keganasan-netizen-barbar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/keganasan-netizen-barbar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2021 14:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[catur]]></category>
		<category><![CDATA[Dayana]]></category>
		<category><![CDATA[Dewa Kipas]]></category>
		<category><![CDATA[Fiki Naki]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>
		<category><![CDATA[netizen]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4790</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu, Microsoft mengeluarkan hasil survei terkait tingkat kesopanan netizen di dunia maya. Siapa yang menyangka (atau sudah tertebak?) kalau netizen paling tidak sopan di kawasan Asia Tenggara berasal dari Indonesia. Bagaimana respon netizen Indonesia? Mereka dengan santun tidak menyetujui hasil survei tersebut dengan cara yang baik. Mereka tidak membanjiri kolom komentar Microsoft [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/keganasan-netizen-barbar/">Keganasan Netizen Barbar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa waktu yang lalu, <strong>Microsoft </strong>mengeluarkan hasil survei terkait tingkat kesopanan netizen di dunia maya. Siapa yang menyangka (atau sudah tertebak?) kalau<strong> netizen paling tidak sopan di kawasan Asia Tenggara berasal dari Indonesia</strong>.</p>



<p>Bagaimana respon netizen Indonesia? Mereka dengan santun tidak menyetujui hasil survei tersebut dengan cara yang baik. Mereka tidak membanjiri kolom komentar Microsoft dengan kata-kata kasar.</p>



<p><strong>Tapi bohong.</strong></p>



<p>Tentu saja netizen kita, yang selama ini kerap dianggap barbar, langsung bereaksi keras dengan hasil survei tersebut. Tidak tahan dengan <em>bully-bully </em>tersebut, Microsoft pun menutup kolom komentar mereka.</p>



<p>Padahal, penilaian tersebut tidak dibuat secara asal-asalan. Ada beberapa variabel yang digunakan, seperti <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-orang-suka-membuat-hoax/">penyebaran hoaks</a> dan penipuan,, ujaran kebencian, hingga masalah diskriminasi. Apa yang netizen lakukan tersebut, secara sadar maupun tidak sadar, justru membuktikan bahwa netizen Indonesia memang &#8220;tidak sopan&#8221;. </p>



<p>Ada banyak bukti lain keganasan netizen Indonesia di dunia maya dalam beberapa minggu terakhir ini.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Membela Dewa Kipas</h1>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4800" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>GothamChess vs Dewa Kipas (<a href="https://www.youtube.com/watch?v=Yc1teknlAEQ">YouTube)</a></figcaption></figure>



<p>Akhir-akhir ini, dunia percaturan online sedang heboh karena akun <strong>GothamChess </strong>secara mengejutkan dikalahkan oleh pecatur Indonesia berusia 60 tahun dengan nama akun <strong>Dewa Kipas</strong> melalui <em>platform </em>Chess.com.</p>



<p>Pendukung Gotham menuding kalo Dewa Kipas melakukan <em>cheating </em>karena akurasi gerakannya terlalu tinggi. Kabarnya, mereka melakukan <em>report </em>ramai-ramai hingga akun Dewa Kipas di-<em>banned</em>.</p>



<p>Bagaimana reaksi netizen Indonesia? Mereka melakukan analisa terhadap pola permainan Dewa Kipas di Chess.com untuk mencari apakah ada sesuatu yang abnormal dari game-game yang pernah ia mainkan. </p>



<p>Mereka tidak membela Dewa Kipas hanya karena terbawa suasana dan nasionalisme yang membabi buta. Setelah memiliki data, mereka baru berkomentar kalau tuduhan GothamChess tersebut tidak berdasar dan dilakukan atas dasar sakit hati karena dikalahkan pemain amatir.</p>



<p><strong>Tapi bohong lagi.</strong></p>



<p>Bermodalkan postingan Facebook anak Dewa Kipas, banyak <strong>netizen yang langsung menyerang GothamChess secara kasar </strong>hingga meresahkan yang bersangkutan. Pem-<em>bully-</em>an dalam bentuk verbal terus dilancarkan hingga membuatnya membatasi <em>platform-platform </em>yang ia gunakan.</p>



<p>Kericuhan ini membuat Grand Master Indonesia, <strong>Irene Kharisma</strong>, ikut angkat bicara. Menurutnya, kasus ini mencoreng nama baik percaturan Indonesia di mata dunia. Apalagi, memang banyak keanehan yang ditemukan dalam akun profil milik Dewa Kipas, seperti <em>rating</em> yang tiba-tiba melonjak dan tingkat akurasi yang mendekati sempurna. </p>



<p>Chess.com sendiri telah menegaskan kalau pemblokiran yang dilakukan bukan karena banyaknya laporan yang dikirim oleh penggemar GothamChess, melainkan karena <strong>tim Fair Play memang menemukan anomali pada akun Dewa Kipas</strong>. Mereka memiliki reputasi yang tinggi, sehingga rasanya tidak mungkin mereka mempertaruhkan reputasi tersebut hanya demi satu orang.</p>



<p>Mana yang benar? Entahlah, tidak ada yang benar-benar tahu. Hanya saja, Penulis begitu menyayangkan respon netizen kita yang begitu barbar tanpa mengetahui duduk perkaranya secara lengkap. </p>



<h1 class="wp-block-heading">Dayana Oh Dayana</h1>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4801" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Dayana (<a href="https://voi.id/en/lifestyle/33867/netizens-are-counting-down-dayana-s-followers-decreasing">VOI</a>)</figcaption></figure>



<p>Salah satu <em>youtuber </em>yang sedang naik daun adalah <strong>Fiki Naki</strong>. Alasannya apa lagi kalau bukan kemampuan berbahasa asingnya yang begitu luar biasa. Ia menguasai banyak bahasa seperti bahasa Rusia. Karena kemampuannya tersebut, ia kerap &#8220;menggoda&#8221; bule-bule melalui aplikasi Ome.tv.</p>



<p>Nah, salah satu yang menarik perhatian netizen adalah seorang gadis asal Kazakhstan bernama <strong>Dayana</strong>.  Memiliki paras yang cantik, ia kerap dijodoh-jodohkan dengan Fiki Naki. Bahkan, ia menjadi orang pertama yang masuk ke kanal YouTube Fiki lebih dari satu episode. </p>



<p>Hal ini membuat popularitas Dayana, setidaknya di Indonesia, melesat dengan cepat. Ia yang awalnya bukan siapa-siapa tiba-tiba mendapatkan jutaan <em>follower </em>yang kebanyakan berasal dari negara kita, termasuk Penulis sendiri. Bedanya, Penulis sengaja <em>follow </em>karena merasa kalau kisah mereka berdua akan berakhir kurang baik.</p>



<p>Benar saja. Beberapa minggu kemarin, dunia maya langsung heboh karena Dayana menyatakan <strong>&#8220;tidak butuh <em>follower </em>dari Indonesia.&#8221;</strong> Sontak saja hal ini memicu kemarahan publik dan membuat netizen melakukan <em>unfollow </em>massal. Jumlah <em>follower </em>Dayana yang telah menyentuh angka 2 juta menurun drastis dalam waktu singkat.</p>



<p>Fiki Naki sudah berusaha maksimal untuk menenangkan amukan netizen Indonesia. Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur. <strong>Dayana yang awalnya menjadi pujaan banyak orang berbalik menjadi <em>public enemy</em></strong>. Ia dianggap &#8220;kacang lupa kulit&#8221; dan memanfaatkan Fiki untuk pansos. Apalagi, ia mulai merilis lagu yang pada akhirnya mendapatkan banyak sekali <em>dislike</em>.</p>



<p>Terlepas apa makna dari pernyataan Dayana, kejadian ini menjadi bukti lain betapa ganasnya netizen kita. Bisa saja Dayana tidak bermaksud untuk menyepelekan <em>follower </em>Indonesia. Perlu diingat, bahasa Inggris bukan bahasa ibunya, sehingga kemungkinan salah mengutarakan maksud sesungguhnya sangat besar.</p>



<p>Tapi netizen kita mana mengenal kata maklum. Mau berbuat apapun, Dayana sudah dicap sebagai orang buruk, sama seperti ketika mereka melabeli GothamChess tanpa bukti yang kuat.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Penutup</h1>



<p>Dua contoh kasus yang baru terjadi akhir-akhir ini patut mendapatkan perhatian dari kita semua. Kenapa <a href="https://whathefan.com/karakter/berkata-kotor-di-media-sosial/">netizen Indonesia terlihat begitu barbar di dunia maya</a>? Kenapa seolah-olah semua orang bersumbu pendek sehingga mudah terpicu oleh percikan kecil?</p>



<p>Tentu ada banyak faktor yang memengaruhi hal ini. Rendahnya literasi, tidak adanya kesadaran untuk santun di media sosial, mudah terpengaruhi, berita yang memprovokasi, <a href="https://whathefan.com/karakter/kenapa-sih-harus-judgemental/">lingkungan yang <em>judgemental</em></a>, dan lain sebagainya. Seharusnya, kemudahan jaringan internet dapat membuat kita menjadi lebih baik, bukan merugikan orang lain.</p>



<p>Mau apapun alasannya, tidak elok untuk bertindak rusuh seperti itu, apalagi jika sampai mengganggu kehidupan orang lain. Jika orang tersebut tidak kuat mental hingga <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/pembunuh-bernama-netizen/">memutuskan bunuh diri seperti artis-artis Korea</a>, orang-orang yang mem-<em>bully </em>akan segera cuci tangan seolah mereka tak pernah melancarkan serangan.</p>



<p>Mari kita sama-sama belajar untuk lebih bijak di dunia maya. Jangan mudah terprovokasi sesuatu yang belum tentu benar. Hidup ini terlalu singkat jika hanya digunakan untuk saling membenci dan mencaci-maki. Semoga ketika nanti Microsoft atau pihak lain melakukan survei sejenis, peringkat kita sudah membaik.</p>



<p></p>



<p></p>



<p>Lawang, 18 Maret 2021, terinspirasi setelah melihat berbagai bentuk keganasan netizen di dunia maya</p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://memegenerator.net/Angry-Typing-Guy">Meme Generator</a></p>



<p>Sumber Artikel:<br><a href="https://www.kompas.com/tren/read/2021/02/27/093100165/menilik-penyebab-microsoft-sebut-warganet-indonesia-tidak-sopan-se-asia?page=all">Menilik Penyebab Microsoft Sebut Warganet Indonesia Tidak Sopan Se-Asia Tenggara </a><br><a href="https://bisnis.tempo.co/read/1436977/survei-microsoft-sebut-warganet-ri-paling-tak-sopan-begini-respons-menkominfo"></a><a href="https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210226140821-192-611309/sebut-netizen-ri-paling-tidak-sopan-akun-microsoft-diserang">Sebut Netizen RI Paling Tidak Sopan, Akun Microsoft Diserang </a><br><a href="https://seleb.tempo.co/read/1443536/curhat-gothamchess-pada-deddy-corbuzier-usai-dibully-netizen-indonesia/full&amp;view=ok">Curhat GothamChess pada Deddy Corbuzier Usai Dibully Netizen Indonesia</a><br><a href="https://ggwp.id/media/hiburan/viral/kasus-dewa-kipas-kembali-viral">Kasus Dewa Kipas Berlanjut, Grandmaster Catur Indonesia Angkat Bicara</a><br><a href="https://inet.detik.com/games-news/d-5495455/chesscom-tegaskan-dewa-kipas-berbuat-curang">Chess.com Tegaskan Dewa Kipas Berbuat Curang</a><br><a href="https://www.insertlive.com/hot-gossip/20210225153853-7-194781/3-aksi-dayana-yang-panen-cibiran-netizen/">3 Aksi Dayana yang Panen Cibiran Netizen</a><br><br></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/keganasan-netizen-barbar/">Keganasan Netizen Barbar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/keganasan-netizen-barbar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memudarnya Etika Jurnalistik Dalam Tragedi</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2021 03:57:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[daring]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[kode etik]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>
		<category><![CDATA[pesawat]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tragedi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4250</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebelumnya Penulis ingin mengucapkan duka yang sedalam-dalamnya terhadap korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan kode penerbangan SJ-182. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan kesabaran atas musibah yang tengah melanda mereka. Setiap ada berita pesawat jatuh, suasana duka pasti langsung menyelimuti negeri ini. Tak terbayangkan betapa ngerinya suasana kabin pesawat sesaat sebelum jatuh. Membayangkan berada di posisi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi/">Memudarnya Etika Jurnalistik Dalam Tragedi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya Penulis ingin mengucapkan duka yang sedalam-dalamnya terhadap korban jatuhnya pesawat <strong>Sriwijaya Air</strong> dengan kode penerbangan <strong>SJ-182</strong>. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan kesabaran atas musibah yang tengah melanda mereka.</p>
<p>Setiap ada berita pesawat jatuh, suasana duka pasti langsung menyelimuti negeri ini. Tak terbayangkan betapa ngerinya suasana kabin pesawat sesaat sebelum jatuh.</p>
<p>Membayangkan berada di posisi keluarga korban, terasa begitu pedih rasanya kehilangan orang-orang tersayang secara tragis. Al Fatihah untuk para korban.</p>
<p>Sayangnya, ada saja hal-hal yang membuat kita mengelus dada. Salah satunya adalah judul-judul berita <em>click-bait </em>yang tidak berempati dan melanggar privasi.</p>
<h3>Memudarnya Etika Jurnalistik</h3>
<p><div id="attachment_4252" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4252" class="size-large wp-image-4252" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4252" class="wp-caption-text">Memudarnya Etik Jurnalistik (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@climatereality">The Climate Reality Project</a>)</p></div></p>
<p>Penulis tidak hafal dengan yang namanya <strong>kode etik jurnalistik</strong>. Penulis hanya pernah membaca rangkuman singkatnya.</p>
<p>Walaupun begitu, tanpa mengetahui pasal per pasal yang ada di dalam kode etik jurnalistik, Penulis bisa berpendapat kalau media-media sekarang kerap melakukan hal yang tidak etis dalam memberitakan suatu kejadian, termasuk tragedi sekali pun.</p>
<p>Penulis ambil contoh dari peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air ini. Sangat wajar dan memang dibutuhkan informasi terkait pesawat tersebut, terutama di mana lokasi pesawat jatuh dan bagaimana kondisi korban.</p>
<p>Yang membuat banyak geram, ada saja media yang membuat judul seperti:</p>
<p><em>&#8220;Ini firasat keluarga korban sebelum jatuhnya pesawat&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Ini gaji pilot pesawat yang menerbangkan pesawat&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Ini ramalan yang menyatakan tahun 2021 akan ada pesawat jatuh&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Ini tanggapan keluarga korban atas jatuhnya pesawat&#8221;</em></p>
<p>Belum lagi ada yang berusaha mencari <em>instastory </em>dari korban, seolah-olah itu adalah pesan terakhir dari mereka. Ada juga yang mengaitkan dengan peristiwa lain yang sebenarnya tidak ada kaitannya.</p>
<p>Cerita tentang bagaimana para pencari berita mewawancarai keluarga korban yang tengah bercucuran air mata, jelas bukan merupakan hal yang etis.</p>
<h3>Masyarakat yang Doyan Berita <em>Click-Bait</em></h3>
<p><div id="attachment_4253" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4253" class="size-large wp-image-4253" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4253" class="wp-caption-text">Masyarakat Doyan Click-Bait (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@danicanibano">Daniel Cañibano</a>)</p></div></p>
<p>Sebagai orang yang bekerja di media, Penulis paham kenapa media daring sekarang begitu sering membuat berita <em>click-bait </em>walaupun dihujat dari kanan dan kiri.</p>
<p><strong>Demi klik, demi jumlah <em>views</em>, demi meningkatnya <em>traffic</em>, dan ujung-ujungnya demi uang.</strong></p>
<p>Kenapa berita dengan judul <em>click-bait </em>bisa mendapatkan <em>traffic </em>yang tinggi? Karena ada pasarnya, karena ada pembacanya, <strong>karena masyarakat menyukai berita-berita semacam itu</strong>.</p>
<p>Artinya, sebenarnya kita punya kuasa untuk menghentikan judul-judul berita seperti contoh di atas <strong>dengan tidak membaca beritanya</strong>.</p>
<p>Jika tidak ada yang membaca berita seperti itu, lama kelamaan media juga akan menghentikan produksi artikel yang kurang berfaedah seperti itu.</p>
<p>Selama masyarakat masih gemar menyumbang <em>traffic </em>untuk berita-berita seperti itu, media pun tidak akan pernah menghentikannya.</p>
<p><strong><em>Lha mong </em></strong><strong>cuannya mengalir terus, ngapain berhenti.</strong></p>
<p>Belum lagi kebiasaan buruk masyarakat kita yang gemar menyebarkan foto ataupun video terkait tragedi yang terjadi. <em>Ngapain </em>sih mereka melakukan itu? Demi mendapatkan perhatian dan<a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-viral/"> jadi viral?</a></p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis bukannya mau sok suci, toh Penulis juga berkecimpung di dunia tersebut meskipun beda lingkup wilayah. Hanya saja, hati nurani Penulis mengatakan kalau hal tersebut sangat tidak etis.</p>
<p>Kita butuh banyak informasi terkait kecelakaan pesawat yang terjadi, tapi kita tidak butuh tahu bagaimana perasaan korban yang ditinggalkan atau firasat yang dirasakan mereka.</p>
<p><b>Tanpa diberitakan pun, kita sudah tahu bagaimana perasaan keluarga korban. Mau firasat mau ramalan, kita tidak butuh bumbu-bumbu yang tidak penting.</b></p>
<p>Semoga saja iklim pemberitaan di Indonesia ke depannya bisa menjadi lebih baik. Tidak hanya mengutamakan cuan, tapi juga mengedepankan etika-etika yang berlaku di masyarakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 10 Desember 2020, terinspirasi karena geramnya Penulis dengan beberapa judul berita terkait jatuhnya pesawat Sriwijaya Air</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@markuswinkler">Markus Winkler</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi/">Memudarnya Etika Jurnalistik Dalam Tragedi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
