<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sukses Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/sukses/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/sukses/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 Aug 2023 13:04:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>sukses Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/sukses/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca The 5 AM Club</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/review-setelah-membaca-the-5-am-club/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/review-setelah-membaca-the-5-am-club/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Jul 2023 14:03:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[bangun pagi]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Robin Sharma]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6702</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menyadari dirinya kesulitan untuk bisa bangun pagi secara konsisten, Penulis pun mencari motivasi untuk bisa melakukannya. Salah satunya adalah dengan membaca buku berjudul The 5 AM Club karya Robin Sharma. Salah satu alasan lain Penulis memutuskan untuk membeli buku ini adalah karena Maudy Ayunda merekomendasikannya di kanal YouTube-nya. Bahkan, Penulis tidak mengintip isinya ketika di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/review-setelah-membaca-the-5-am-club/">[REVIEW] Setelah Membaca The 5 AM Club</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Menyadari dirinya kesulitan untuk bisa bangun pagi secara konsisten, Penulis pun mencari motivasi untuk bisa melakukannya. Salah satunya adalah dengan membaca buku berjudul <em><strong>The 5 AM Club </strong></em>karya <strong>Robin Sharma</strong>.</p>



<p>Salah satu alasan lain Penulis memutuskan untuk membeli buku ini adalah karena <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/">Maudy Ayunda</a> merekomendasikannya di kanal YouTube-nya. Bahkan, Penulis tidak mengintip isinya ketika di <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/benarkah-era-toko-buku-akan-segera-berakhir/">toko buku</a> karena merasa percaya saja dengan rekomendasinya.</p>



<p>Alhasil, Penulis pun terkejut ketika membuka buku ini untuk pertama kalinya karena ternyata buku <em>self-improvement </em>ini dibalut dalam bentuk novel. Sempat tergeletak lama karena terasa membosankan, akhirnya Penulis berhasil menamatkan buku ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" style="border-color:#9e0b0f;"><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-768x566.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-1024x755.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-346x255.jpg 346w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019.jpg 1221w " alt="Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" style="color:#9e0b0f;">Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  style="color:#9e0b0f;"  href="https://whathefan.com/animekomik/mencari-inspirasi-karakter-melalui-anime/">Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>The 5 AM Club</em></li>



<li>Penulis: Robin Sharma</li>



<li>Penerbit: Penerbit Bhuana Ilmu Populer (BIP)</li>



<li>Cetakan: Ke-2</li>



<li>Tanggal Terbit: Agustus 2019</li>



<li>Tebal: 450 halaman</li>



<li>ISBN: 9786232161368</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Secara garis besar, hanya ada empat karakter yang ada di buku ini, yaitu <strong>Sang Pemikat</strong>, <strong>Miliuner</strong>, <strong>Pengusaha</strong>, dan <strong>Seniman</strong>. Sepanjang novel, hanya sang Miliuner yang memiliki nama, yakni Mr. Riley.</p>



<p>Di awal buku, diceritakan kalau Sang Pemikat sedang mengadakan sebuah &#8220;seminar motivasi&#8221;, di mana Pengusaha dan Seniman menjadi salah satu pesertanya. Miliuner juga hadir, walaupun ia menyamar menjadi seorang gelandangan nyentrik.</p>



<p>Ketika sedang mengisi seminar tersebut, tiba-tiba Sang Pemikat jatuh sakit dan acara pun berhanti. Lantas, terjadi pembicaraan tiga arah antara Pengusaha, Seniman, dan Miliuner. Singkat cerita, Pengusaha dan Seniman pun diundang oleh Miliuner ke Mauritania.</p>



<p>Selama di pulau tersebut, Miliuner dan Sang Pemikat (yang ternyata merupakan guru dari Miliuner) pun membagikan ilmu-ilmu terkait bagaimana bangun pagi pukul 5 pagi sangat berpengaruh dalam hidup yang sukses. Beberapa di antaranya adalah:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Prinsip 20/20/20, di mana satu jam pertama setelah bangun jam 5 pagi adalah 20 menit aktivitas fisik seperti olahraga, 20 menit refleksi diri dan ibadah, dan 20 menit belajar</li>



<li>Prinsip 90/90/1, di mana selama 90 hari ke depan, fokuskan 90 menit untuk mengerjakan 1 hal yang paling penting</li>



<li>Prinsip 60/10, di mana setiap bekerja/belajar selama 60 menit, ambil istirahat selama 10 menit</li>
</ul>



<p>Di sela-sela penjabaran tersebut, terselip cerita dari para karakternya, termasuk kisah cinta antara Pengusaha dan Seniman, perjalanan keliling dunia mereka, bagaimana masalah perusahaan si Pengusaha akhirnya dibantu oleh Miliuner, dan lain sebagainya. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The 5 AM Club</h2>



<p>Penulis memiliki ekspektasi yang cukup tinggi terhadap buku ini, mengingat Maudy Ayunda merekomendasikannya. Kenyataannya, bisa dibilang buku ini cukup mengecewakan di berbagai aspeknya.</p>



<p>Pertama dari segi penceritaan, bisa dibilang jalan ceritanya cukup buruk dan sama sekali tidak realistis. Coba bayangkan, seberapa besar kemungkinan kita diajak oleh seorang Miliuner &#8220;berlibur&#8221; ke pulau eksotis sembari mendapatkan ilmunya? <em>Near zero</em>.</p>



<p>Selain itu, permasalahan kantor yang dialami oleh Pengusaha juga terasa cuma &#8220;tempelan&#8221;. <em>Ending </em>dari permasalahan tersebut juga klise, di mana si Miliuner membantu penyelesaian tersebut dengan sangat mudahnya.</p>



<p>Pengembangan karakter Pengusaha dan Seniman pun terasa tidak <em>smooth</em> dan berubah secara drastis hanya dengan mendengar beberapa nasihat dari orang yang baru dikenal. Kisah cinta mereka juga sama sekali tidak berkesan.</p>



<p>Untuk segi <em>self-improvement</em>-nya, bisa dibilang buku ini terlalu bertele-tele. Poin-poin yang ingin disampaikan sebenarnya tidak terlalu banyak, sehingga ada banyak bagian yang seolah hanya untuk mempertebal buku saja.</p>



<p>Bagian 20/20/20 bisa dibilang menjadi bagian yang paling &#8220;berguna&#8221;, meskipun tentu untuk penerapannya bisa berbeda-beda. Penulis sendiri biasanya memiliki <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutinitas pagi</a> yang dibagi menjadi 30 menit ibadah, 45 menit olahraga, dan 30 menit baca buku.</p>



<p>Oleh karena itu, rasanya Penulis susah untuk merekomendasikan buku ini. Apalagi, buku ini cukup tebal dengan isi yang tidak seberapa. Jika ingin bangun pagi, yang paling penting adalah NIAT.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 16 Juli 2023, terinspirasi setelah membaca buku <em>The 5 AM Club </em>karya Robin Sharma</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/review-setelah-membaca-the-5-am-club/">[REVIEW] Setelah Membaca The 5 AM Club</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/review-setelah-membaca-the-5-am-club/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Sukses Harus Keluar dari Zona Nyaman?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-sukses-harus-keluar-dari-zona-nyaman/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-sukses-harus-keluar-dari-zona-nyaman/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2022 14:39:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<category><![CDATA[zona nyaman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6095</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pagi ke pagi, ku terjebak di dalam ambisiSeperti orang-orang berdasi yang gila materiRasa bosan, membukakan jalan mencari peranKeluarlah dari zona nyaman &#8211; Zona Nyaman by Fourtwnty &#8211; Sekitar empat bulan lalu, sewaktu sedang iseng mengecek akun LinkedIn Penulis, tiba-tiba di beranda muncul sebuah posting yang dibuat oleh kawan karib Penulis. Ia menyinggung masalah &#8220;keluar dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-sukses-harus-keluar-dari-zona-nyaman/">Apakah Sukses Harus Keluar dari Zona Nyaman?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p><em>Pagi ke pagi, ku terjebak di dalam ambisi<br>Seperti orang-orang berdasi yang gila materi</em><br><em>Rasa bosan, membukakan jalan mencari peran<br>Keluarlah dari zona nyaman</em></p><p><span style="color:#9e0b0f" class="has-inline-color">&#8211; Zona Nyaman by Fourtwnty &#8211;</span></p></blockquote>



<p>Sekitar empat bulan lalu, sewaktu sedang iseng mengecek akun LinkedIn Penulis, tiba-tiba di beranda muncul sebuah posting yang dibuat oleh kawan karib Penulis. Ia menyinggung masalah &#8220;<strong>keluar dari zona nyaman</strong>&#8221; yang bisa dilihat selengkapnya di bawah ini:</p>



<div class="wp-block-image is-style-default"><figure class="aligncenter size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="540" height="244" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/2022-10-27_202841.jpg" alt="" class="wp-image-6097" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/2022-10-27_202841.jpg 540w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/2022-10-27_202841-300x136.jpg 300w" sizes="(max-width: 540px) 100vw, 540px" /></figure></div>



<p>Penulis pun tergelitik untuk memberikan komentar yang cukup panjang di posting tersebut dan ingin membahasnya lebih dalam melalui tulisan di blog. Hanya saja karena beberapa alasan (baca: malas), niat tersebut baru terlaksana sekarang.</p>



<p>Pada tulisan kali ini, Penulis ingin membahas mengenai opini populer mengenai apakah untuk bisa menjadi sukses harus keluar dari zona nyaman yang telah dimiliki. Agar lebih <em>related</em>, Penulis juga akan berbagi sedikit pengalamannya yang pernah keluar dari zona nyaman.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Memahami Apa Itu Zona Nyaman</h2>



<p>Pertanyaan utama dari kawan Penulis adalah &#8220;<em>kalau sudah nyaman sama pekerjaan kita, ngapain keluar?</em>&#8220;. Untuk itu, Penulis akan mencoba membedah mengenai apakah yang dimaksud dari zona nyaman itu sendiri.</p>



<p>Zona nyaman belakangan ini memang menjadi <em>term </em>yang cukup populer, apalagi setelah dijadikan lagu oleh Fourtwnty. Dilansir dari <em>positivepshychology.com</em>, pencetus istilah zona nyaman adalah Judith Bardwick pada tahun 1991, yang mengatakan:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Zona nyaman adalah keadaan perilaku di mana seseorang beroperasi dalam kondisi kecemasan-netral, menggunakan serangkaian perilaku terbatas untuk memberikan tingkat kinerja yang stabil, biasanya tanpa rasa risiko.&#8221;</p></blockquote>



<p>Jika mengambil definisi tersebut, dapat disimpulkan kalau zona nyaman adalah <strong>kondisi di mana kita merasa aman dan tanpa risiko, tetapi hampir tidak ada ruang untuk berkembang secara signifikan</strong>. </p>



<p>Penulis menemukan sebuah diagram mengenai<em> </em>zona nyaman yang bisa dilihat di bawah ini:</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large is-resized"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Apakah-Sukses-Harus-Keluar-dari-Zona-Nyaman-1-1024x980.webp" alt="" class="wp-image-6098" width="493" height="471" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Apakah-Sukses-Harus-Keluar-dari-Zona-Nyaman-1-1024x980.webp 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Apakah-Sukses-Harus-Keluar-dari-Zona-Nyaman-1-300x287.webp 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Apakah-Sukses-Harus-Keluar-dari-Zona-Nyaman-1-768x735.webp 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Apakah-Sukses-Harus-Keluar-dari-Zona-Nyaman-1.webp 1200w" sizes="(max-width: 493px) 100vw, 493px" /><figcaption>Diagram Zona Nyaman (<a href="https://positivepsychology.com/comfort-zone/?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=comfort-zone#comfort-zone">Positive Psychology</a>)</figcaption></figure></div>



<p>Dalam diagram ini, Penulis menganggap bahwa zona nyaman yang dimaksud di sini adalah ketika kita merasa tidak bisa mengembangkan diri, tetapi hidup kita relatif terjamin, entah karena gaji bulanan yang lancar atau karena masih mendapatkan &#8220;jatah&#8221; orang tua. </p>



<p>Di dalam dunia kerja, zona nyaman kerap dikaitkan dengan pekerjaan yang cenderung <strong>stagnan</strong>, <strong>monoton</strong>, dan<strong> tidak bisa mengembangkan diri</strong> baik secara <em>skill</em>, relasi, dan lainnya. Hanya saja, pekerjaan tersebut mampu memberikan rasa aman dan menghidupi kita.</p>



<p>Artinya, ketika kita merasa nyaman dengan pekerjaan kita dan masih menemukan banyak ruang untuk bekembang, menurut Penulis itu<strong> bukan zona nyaman yang dimaksud</strong>. </p>



<p>Selain itu, zona nyaman juga memiliki makna yang lebih luas lagi. Mencoba hal baru yang berbeda, belajar <em>skill </em>baru, mulai rutin berolahraga, melakukan diet baru, itu pun hal-hal yang mengeluarkan kita dari zona nyaman berupa kemalasan.</p>



<p>Penulis merasa nyaman setiap malam nonton YouTube berjam-jam atau <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-main-game/">bermain <em>game</em></a>. Hanya saja, di satu titik Penulis merasa aktivitas tersebut tidak membantu Penulis berkembang dan terlalu membuang-buang waktu. </p>



<p>Akhirnya, Penulis mencoba menggantinya dengan kembali rutin <a href="https://whathefan.com/pengalaman/mengapa-blog/">menulis blog</a>, belajar tentang SEO, atau sekadar membaca buku. Memang lebih capek, apalagi setelah seharian bekerja. Namun, Penulis jadi merasa bisa memanfaatkan waktunya menjadi lebih baik.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pengalaman Keluar dari Zona Nyaman</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-whathefan wp-block-embed-whathefan"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="CnTLwdjB9Y"><a href="https://whathefan.com/pengalaman/keluar-dari-zona-nyaman/">Keluar dari Zona Nyaman</a></blockquote><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Keluar dari Zona Nyaman&#8221; &#8212; Whathefan!" src="https://whathefan.com/pengalaman/keluar-dari-zona-nyaman/embed/#?secret=CnTLwdjB9Y" data-secret="CnTLwdjB9Y" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<p>Sejujrunya Penulis merasa kesulitan dalam mendefinisikan zona nyaman ini. Untuk itu, Penulis ingin <em>sharing </em>sedikit tentang pengalamannya yang menurut Penulis merupakan contoh dari keluar dari zona nyaman. Sekali lagi, ini hanya opini pribadi Penulis dan Penulis terbuka untuk definisi lainnya.</p>



<p>Ketika <a href="https://whathefan.com/pengalaman/salah-jurusan-sampai-lulus/">baru lulus dari bangku kuliah</a>, Penulis sempat melakukan banyak hal, mulai dari bekerja di kantor ayah hingga mengambil kursus di Kampung Inggris. Hanya saja, Penulis merasa benar-benar berada di zona nyaman sehingga kesulitan untuk mengembangkan dirinya.</p>



<p>Untuk itu, Penulis pun membulatkan tekat untuk keluar dari zona nyaman dengan pindah ke Jakarta. Awalnya memang karena menjadi <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-awal-dari-segalanya/"><em>volunteer </em>di Asian Games</a>, tetapi selepas acara Penulis memutuskan untuk menetap dan mencari pekerjaan di sana.</p>



<p>Alhamdulillah, Penulis akhirnya mendapatkan pekerjaan pertama di Jakarta dan tinggal di sana selama kurang lebih dua tahun. Jika Penulis bertahan di zona nyamannya dan tidak berani ke Jakarta, mungkin Penulis tidak akan berada di posisinya sekarang (tentu semua ini kehendak Tuhan).</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-whathefan wp-block-embed-whathefan"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="4v8zs1KTQ0"><a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/">Pengalaman Melamar Kerja di Mainspring Technology</a></blockquote><iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Pengalaman Melamar Kerja di Mainspring Technology&#8221; &#8212; Whathefan!" src="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/embed/#?secret=4v8zs1KTQ0" data-secret="4v8zs1KTQ0" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<p>Ketika di sana, Penulis bekerja sebagai <em>content writer</em>. Pekerjaan itu benar-benar zona nyaman karena Penulis memang hobi menulis. Untuk itu, Penulis memutuskan untuk kembali keluar dari zona nyaman dengan belajar <em>social media </em>di kantor. Kebetulan, Penulis punya mentor di sana.</p>



<p>Di tempat kerja yang sekarang, Penulis memiliki jabatan sebagai editor. Apakah Penulis kembali keluar dari zona nyamannya? Jawabannya iya. Penulis tidak hanya melakukan <em>editing </em>artikel di sini, Penulis juga mendalami <em>skill </em>SEO (<em>Search Engine Optimization</em>) dan <em>data analyst </em>kecil-kecilan.</p>



<p>Penulis memang terkesan sangat budak korporat karena seolah selalu memberikan lebih dari yang diminta. Hanya saja, selama itu <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih/">menambah <em>value </em>untuk diri Penulis</a>, mengapa tidak? Penulis yang &#8220;murtad&#8221; dari jurusan kuliahnya merasa harus banyak belajar untuk bisa <em>survive </em>di dunia ini.</p>



<p>Dengan kata lain, Penulis berusaha <strong>memperluas zona nyamannya </strong>sendiri dengan belajar berbagai hal baru. Ketika mengenal dunia media sosial dan SEO, jujur saja rasanya sedikit menakutkan karena terlihat kompleks. Namun, perlahan-lahan Penulis berusaha memahaminya agar dirinya bisa lebih berkembang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Lantas, apa jawaban dari &#8220;apakah sukses harus keluar dari zona nyaman?&#8221; Menurut Penulis, <strong>tidak</strong>. Mungkin keluar dari zona nyaman berhasil untuk Penulis, tetapi belum tentu akan berhasil juga untuk orang lain. Bisa saja ada yang bisa sukses dengan tetap bertahan di zona nyamannya sendiri.</p>



<p>Kalau kita merasa nyaman dengan pekerjaan yang sekarang (apalagi gajinya tinggi), mempertahankannya bukan hal yang salah. Mungkin saja kita tidak sadar bahwa setiap hari ada saja hal baru yang didapatkan. Ini semua tidak hanya terkait tentang <em>skill</em>, tapi juga pengalaman hidup.</p>



<p>Tentu ada kondisi-kondisi yang membuat kita merasa tidak bisa keluar dari zona nyaman. Misal, sudah punya tanggunan keluarga, ada hutang, <em>sandwich generation</em>, dan lain sebagainya. </p>



<p>Untuk itu, Penulis tidak setuju jika keluar dari zona nyaman menjadi satu-satunya cara agar orang bisa sukses. Sama seperti jalan ke Roma, ada ribuan cara untuk bisa menjadi sukses. Keluar dari zona nyaman hanya salah satunya.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 27 Oktober 2022, terinspirasi setelah membahas posting LinkedIn seorang kawan yang membahas tentang zona nyaman</p>



<p>Foto: <a href="https://psychology-spot.com/comfort-zone/">Psychology Spot</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://positivepsychology.com/comfort-zone/?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=comfort-zone#comfort-zone">How to Leave your Comfort Zone and Enter your ‘Growth Zone’ (positivepsychology.com)</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-sukses-harus-keluar-dari-zona-nyaman/">Apakah Sukses Harus Keluar dari Zona Nyaman?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-sukses-harus-keluar-dari-zona-nyaman/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sukses Tanpa Privilege Ala Maito Gai</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2021 12:50:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[Maito Gai]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Naruto]]></category>
		<category><![CDATA[ninja]]></category>
		<category><![CDATA[pinggir]]></category>
		<category><![CDATA[privilege]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4267</guid>

					<description><![CDATA[<p>Anime shounen (anime yang ditujukan untuk penonton remaja laki-laki) kerap mengangkat tema from zero to hero. Contoh yang paling gampang adalah Naruto. Karakter utamanya, Naruto Uzumaki, digambarkan ketika kecil hidup sebatang kara dan tidak bisa apa-apa. Ia juga berkali-kali gagal dalam ujian kelulusan akademi. Walaupun begitu, Naruto tidak menyerah. Singkat cerita, ia terus berlatih untuk mendapatkan kekuatan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai/">Sukses Tanpa Privilege Ala Maito Gai</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Anime <em>shounen </em>(anime yang ditujukan untuk penonton remaja laki-laki) kerap mengangkat tema <em><strong>from zero to hero</strong>. </em>Contoh yang paling gampang adalah <strong>Naruto</strong>.</p>
<p>Karakter utamanya, <strong>Naruto Uzumaki</strong>, digambarkan ketika kecil hidup sebatang kara dan tidak bisa apa-apa. Ia juga berkali-kali gagal dalam ujian kelulusan akademi.</p>
<p>Walaupun begitu, Naruto tidak menyerah. Singkat cerita, ia terus berlatih untuk mendapatkan kekuatan demi bisa meraih impian terbesarnya: <strong>menjadi seorang Hokage</strong>.</p>
<p>Apakah ia berhasil? Iya, Naruto berhasil menjadi seorang Hokage berkat kerja kerasnya.</p>
<p><strong><em>Atau, apakah benar demikian?</em></strong></p>
<h3>Daftar <em>Privilege</em> Naruto Uzumaki</h3>
<p><div id="attachment_4269" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4269" class="size-large wp-image-4269" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4269" class="wp-caption-text">Punya Banyak Privilege (<a href="https://medium.com/cinemania/how-naruto-uzumaki-raised-a-generation-of-believers-6431ad7929e7">Medium</a>)</p></div></p>
<p>Jika ditelisik lebih dalam, sebenarnya Naruto tidak 100% <em>from zero to hero</em>. Ia <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">punya banyak sekali <em>privilege</em></a> untuk membuatnya bisa sehebat sekarang.</p>
<p>Tidak percaya? Coba saja lihat daftar keistimewaan yang dimiliki Naruto:</p>
<ul>
<li>Anak dari <strong>Namikaze Minato</strong>, Hokage Keempat</li>
<li>Keturunan klan <strong>Uzumaki</strong> dari ibunya, klan yang terkenal karena memiliki cakra yang melimpah</li>
<li>Memiliki <em><strong>Kyuubi</strong> </em>di dalam tubuhnya, meskipun butuh waktu untuk bisa menguasai kekuatannya</li>
<li>Diajar oleh guru dan murid ayahnya, <strong>Jiraiya</strong> dan <strong>Hatake Kakashi</strong>, yang merupakan ninja top markotop</li>
<li>Mendapatkan kekuatan dari <strong>Rikudou Sennin</strong></li>
</ul>
<p>Jika benar-benar mencari karakter di anime Naruto yang benar-benar <em>from zero to hero</em>, Penulis lebih memilih <strong>Maito Gai</strong> yang sangat menginspirasi.</p>
<h3>Sukses Tanpa <em>Privilege</em></h3>
<p><div id="attachment_4270" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4270" class="size-large wp-image-4270" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4270" class="wp-caption-text">Kuat Tanpa Usaha Keras Tanpa Privilege (<a href="https://naruto.fandom.com/pt-br/wiki/Might_Guy">Naruto Fandom</a>)</p></div></p>
<p>Awalnya Maito Gai (atau Might Guy) merupakan salah satu karakter yang kerap diremehkan karena tingkah norak dan konyolnya. Apalagi, model rambutnya mirip anggota band<em> The Changcuters.</em></p>
<p>Bisa dibilang, sejak lahir <strong>Gai tidak punya bakat menjadi seorang ninja</strong>. Bagaimana tidak, ia sama sekali tidak bisa menguasai <em>ninjutsu</em> maupun <em>genjutsu</em>.</p>
<p>Sama seperti Naruto, sewaktu kecil ia sering diremehkan dan beberapa kali ditolak masuk ke dalam akademi. Di-<em>bully</em>? Sering sekali.</p>
<p>Walaupun begitu, Gai tidak pernah menyerah. Ia ingin membuktikan bahwa seseorang bisa menjadi ninja meskipun tidak bisa menguasai <em>ninjutsu </em>dan <em>genjutsu</em>.</p>
<p>Berkat dorongan ayahnya yang juga kerap dicap sebagai ninja gagal, ia terus berusaha dan berlatih mati-matian demi menguasai <strong><em>taijutsu</em></strong>.</p>
<p>Waktu itu, ayah Kakashi yang bernama Hatake Sakumo berkata jangan pernah meremehkan Gai. Dengan ketekunan yang dimiliki, ia bisa saja menjadi ninja terhebat mengalahkan Kakashi.</p>
<p>[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=GU_RiAHR9aY[/embedyt]</p>
<p>Hhal tersebut terbukti dalam pertarungannya melawan <strong>Madara Uchiha</strong>. Bahkan, Madara yang kerap dijuluki dewa shinobi mengakui kehebatan Gai dengan melabelinya sebagai ninja pengguna <em>taijutsu</em> terkuat.</p>
<p>Penulis selalu merinding ketika menonton ulang pertarungan Gai melawan Madara tersebut. Walaupun lawannya setengah dewa, Gai berhasil membuat Madara kewalahan dan hampir saja memenangkan pertarungan.</p>
<p>Menurut Penulis, Gai Maito adalah contoh sempurna bagaimana <strong>kerja keras seseorang bisa membuat kita sukses meskipun minim <em>privilege</em>.</strong></p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Memang, <a href="https://whathefan.com/animekomik/dinasti-politik-ala-naruto/">Naruto pun juga memiliki jalan yang panjang dan latihan yang keras</a>. Namun jika dibandingkan dengan Gai, Penulis jelas memilih perjuangan Gai yang benar-benar <em>from zero to hero</em>.</p>
<p>Karakter lain yang juga seperti Gai adalah muridnya sendiri, <strong><em>Rock Lee</em></strong>. Lee juga tidak bisa menguasai ninjutsu maupun genjutsu, hanya bisa berlatih mati-matian untuk menguasai <em>taijutsu</em>.</p>
<p>Dalam kehidupan nyata, <strong>sukses tanpa <em>privilege </em>memang susah</strong>, lebih susah dari orang yang sejak lahir telah memiliki <em>privilege</em>.</p>
<p>Hanya saja, jangan sampai hal tersebut menjadi alasan agar kita tidak berusaha mati-matian. Apapun hasilnya nanti, yang penting kita sudah berusaha keras untuk mencapainya.</p>
<p>Kita tidak bisa mengendalikan orang lain yang memiliki <em>privilege, </em>tapi kita bisa mengendalikan diri untuk bekerja keras seperti Maito Gai untuk meraih kesuksesan.</p>
<p>Lalu mana yang akan kita pilih, <strong><em>menyerah dengan keadaan atau berusaha sekeras mungkin?</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NB: Mungkin karena kuatnya Gai inilah ia diceritakan sedang keluar desa ketika Pain menyerang desa Konoha</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 14 Desember 2020, terinspirasi setelah menonton banyak video pertarungan Gai melawan Madara di YouTube</p>
<p>Foto: <a href="https://twitter.com/twtnarutomy/status/947497900652687361">Twitter</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai/">Sukses Tanpa Privilege Ala Maito Gai</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Definisi Sukses Nomor 2: Hidup Tenang</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2020 13:25:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<category><![CDATA[tenang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4052</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, ada kejadian yang menghebohkan di mana Syekh Ali Jaber mengalami penusukan ketika sedang menghadiri sebuah acara di Lampung. Untungnya, beliau tidak mengalami cedera yang serius dan bisa beraktivitas seperti biasa. Lantas, beliau diundang ke kanal YouTube milik Deddy Corbuzier untuk membicarakan tentang kejadian tersebut. Banyak sekali pelajaran yang bisa Penulis ambil dari podcast tersebut. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang/">Definisi Sukses Nomor 2: Hidup Tenang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, ada kejadian yang menghebohkan di mana <strong>Syekh Ali Jaber </strong>mengalami penusukan ketika sedang menghadiri sebuah acara di Lampung. Untungnya, beliau tidak mengalami cedera yang serius dan bisa beraktivitas seperti biasa.</p>
<p>Lantas, beliau diundang ke kanal YouTube milik Deddy Corbuzier untuk membicarakan tentang kejadian tersebut. Banyak sekali pelajaran yang bisa Penulis ambil dari podcast tersebut.</p>
<p>Salah satunya adalah tentang <strong>hidup tenang</strong>, yang Penulis anggap sebagai definisi sukses nomor 2.</p>
<h3>Tenang Menghadapi Masalah</h3>
<p>Di dalam kehidupannya, manusia pasti akan menjumpai yang namanya masalah. Tidak ada satupun manusia di dunia yang tak pernah bertemu dengan masalah.</p>
<p>Jika begitu, lantas bagaimana kita bisa hidup dengan tenang? Kuncinya adalah <strong>bagaimana cara kita menyikapi masalah tersebut</strong>.</p>
<p><div id="attachment_4054" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4054" class="size-large wp-image-4054" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4054" class="wp-caption-text">Tenang Menghadapi Masalah (<a href="https://unsplash.com/@officestock">Sebastian Herrmann</a>)</p></div></p>
<p>Misalkan kita mengalami musibah diberhentikan dari tempat kerja karena pandemi. Jelas kejadian tersebut akan membuat kita merasa <em>down </em>seolah bingung harus bagaimana melanjutkan hidup.</p>
<p>Merasa seperti itu sangat manusiawi. Depresi, frustasi, khawatir, hingga perasaan takut bisa terjadi pada siapapun. Hanya saja, jangan terlalu berlarut-larut hingga membuat kita terpuruk.</p>
<p>Bayangkan jika kita bisa tenang ketika menghadapi masalah tersebut. Mungkin kita akan segera mencari cara bagaimana bisa mendapatkan pekerjaan lain atau mungkin ingin <em>upgrade </em>skill yang dimiliki.</p>
<p>Bahkan Syekh Ali Jaber menyarankan kita untuk mengucapkan <em>alhamdulillah </em>ketika ditimpa musibah. Mengucap syukur di saat senang itu mudahnya bukan main, tapi mengucapkan ketika susah?</p>
<h3>Tenang Menghadapi Orang Lain</h3>
<p>Sebagai makhluk yang kerap berinteraksi dengan sesamanya, pasti ada saja percikan konflik yang dapat terjadi antar manusia. Apalagi di zaman sekarang, banyak orang asing yang kerap berkomentar tidak penting tentang orang lain yang sebenarnya tidak ia kenal.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-4055" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /></p>
<p>Merasa marah, kecewa, terkhianati, tersakiti oleh orang lain adalah hal yang lumrah. Semuanya pasti pernah mengalaminya, termasuk sebaliknya ketika kita yang berbuat salah ke orang lain.</p>
<p>Kalau mau hidup tenang, seharusnya kita bisa <strong>mengendalikan diri untuk tidak bereaksi berlebihan</strong> jika ada orang lain yang berbuat kurang baik.  Bahkan kalau bisa, berdoa agar orang yang berbuat salah diampuni oleh Tuhan.</p>
<p>Tidak hanya perlakuan yang buruk, perlakuan yang baik dari orang lain pun sebaiknya tidak membuat kita terlalu terlena. Disyukuri dan jadikan untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi untuk sesamanya.</p>
<p>Orang-orang yang ada di sekeliling kita juga banyak berpengaruh atas ketenangan dalam hidup. Sebisa mungkin, buatlah diri ini dikelilingi oleh orang-orang yang membawa energi positif untuk kehidupan kita.</p>
<h3>Bagaimana Cara Hidup Tenang?</h3>
<p>Sama seperti kebanyakan tulisan yang berbau motivasi di blog ini, Penulis menulis artikel ini sebenarnya lebih karena ingin mengingatkan dirinya sendiri. Penulis merasa jarang bisa menjalani hidup tenang tanpa beban pikiran yang berat.</p>
<p>Penulis bukan orang yang terlalu religius, namun Penulis meyakini dengan <strong>mendekatkan diri ke Tuhan</strong> kita bisa merasa hidup tenang ketika menghadapi poin-poin yang sudah dipaparkan di atas.</p>
<p>Melakukan <strong>evaluasi diri</strong> juga bisa menjadi salah satu cara agar kita menyadari mana saja dari bagian diri ini yang butuh dibenahi. Misal kita merasa dirinya <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/saya-ini-pemalas/">seorang pemalas</a>, kita harus bisa memperbaiki sifat tersebut secara bertahap.</p>
<p>Jika ada kenangan atau peristiwa di masa lalu yang banyak menganggu kita di masa sekarang, cobalah perlahan berdamai dengannya. Kalau kata Noah, <em>masa lalu takkan melemahkanmu</em>.</p>
<p>Selain itu, sibukkan diri dengan <strong>melakukan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat</strong>. <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">Terlalu banyak bermain media sosial</a> berpotensi membuat hidup kita tidak tenang karena akan banyak melihat kehidupan orang lain.</p>
<p>Ada banyak sekali hal yang bisa disyukuri dari hidup ini. Jika kita bisa <strong>memperbanyak syukur dan mengurangi keluh</strong>, <em>insyaAllah </em>hidup kita bisa meraih definisi kesuksesan nomor 2 versi Penulis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NB: Definisi sukses nomor satu bagi Penulis adalah <strong><a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/definisi-sukses-nomer-1-bermanfaat-bagi-orang-lain/">Bermanfaat Bagi Orang Lain</a></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 20 September 2020, terinspirasi setelah menonton podcast Deddy Corbuzier ketika mengundang Syekh Ali Jaber</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@fuuj?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Fuu J</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/happy?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://www.youtube.com/watch?v=6OTBeW-SIh8">YouTube</a>, <a href="https://cantik.tempo.co/read/1128658/ingin-hidup-tenang-dan-bahagia-ikuti-7-tips-berikut/full&amp;view=ok">Tempo</a>, <a href="https://id.wikihow.com/Hidup-dengan-Pikiran-yang-Tenang">WikiHow</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang/">Definisi Sukses Nomor 2: Hidup Tenang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rebahan Terus, Kapan Suksesnya?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Feb 2020 04:29:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[istirahat]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[malas]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[rebahan]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3438</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernah mendengar atau membaca kata rebahan? Rebahan menjadi salah satu kata yang paling populer saat ini dan kerap diidentikkan dengan angkatan milenial. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kegiatan bersantai di atas kasur untuk jangka waktu yang cukup lama, sering kali diiringi dengan kegiatan bermain HP. Para &#8220;pengikutnya&#8221; disebut sebagai kaum rebahan yang terdiri dari orang-orang yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">Rebahan Terus, Kapan Suksesnya?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah mendengar atau membaca kata <em><strong>rebahan</strong>? </em>Rebahan menjadi salah satu kata yang paling populer saat ini dan kerap diidentikkan dengan angkatan milenial.</p>
<p>Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kegiatan bersantai di atas kasur untuk jangka waktu yang cukup lama, sering kali diiringi dengan kegiatan bermain HP.</p>
<p>Para &#8220;pengikutnya&#8221; disebut sebagai <strong><em>kaum rebahan</em></strong> yang terdiri dari orang-orang yang malas beraktivitas demi mencicipi nikmatnya bersantai di atas kasur.</p>
<p>Sebenarnya tidak ada yang salah dengan rebahan, apalagi dilakukan ketika <em>weekend </em>setelah menjalani hari-hari sekolah atau kerja yang sangat padat.</p>
<p>Akan tetapi, terlalu banyak rebahan juga akan memberikan efek negatif yang akan merugikan diri sendiri.</p>
<h3>Stereotipe Masyarakat Terhadap Rebahan</h3>
<p>Di tengah tuntuntan hidup yang makin membuat kepala pening, rebahan (atau dalam Bahasa Jawa disebut <em>leyeh-leyeh</em>) sebenarnya penting digunakan untuk mengistirahatkan tubuh kita dari rutinitas sehari-hari.</p>
<p><div id="attachment_3440" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3440" class="size-large wp-image-3440" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3440" class="wp-caption-text">Rebahan dan Kasur (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@elizabethlies">elizabeth lies</a>)</p></div></p>
<p>Tidak harus dilakukan ketika <em>weekend</em>, rebahan juga dilakukan pulang kantor ataupun beberapa menit sebelum berangkat kerja. Hal yang sama juga berlaku untuk usia anak sekolah.</p>
<p>Hanya saja, muncul stereotipe dari masyarakat kita yang menganggap kaum rebahan adalah sekumpulan orang pemalas yang menyia-nyiakan waktunya demi hal yang kontraproduktif.</p>
<p>Hal ini diperparah dengan berbagai label yang melekat pada generasi milenial yang dianggap serba instan, cenderung apatis terhadap sekitarnya, tidak punya tujuan hidup, egosentris, dan lain sebagainya.</p>
<p>Sebenarnya, stereotipe ini juga kurang pas jika digunakan untuk mengecap semua generasi milenial. Ada banyak hal yang membuat generasi milenial membutuhkan rebahan, sehingga rebahan tidak selalu identik dengan kemalasan.</p>
<p>Generasi milenial hidup di era kemajuan teknologi yang begitu pesat sehingga apapun bisa dilakukan dengan cepat, bahkan dilakukan sambil rebahan. Kerja pun bisa dilakukan di atas kasur tanpa perlu berangkat ke kantor setiap pagi.</p>
<p>Hal ini berbeda dengan zaman dulu, zamannya generasi <em>boomer. </em>Belum ada smartphone dan teknologi lainnya, sehingga rebahan bisa menjadi aktivitas yang sangat membosankan.</p>
<h3>Akan Tetapi&#8230;</h3>
<p>Rebahan dibutuhkan mereka yang sudah menjalani hari-hari padat dengan jumlah istirahat yang relatif sedikit. Tubuh ini memiliki energi yang terbatas, sehingga perlu diisi ulang.</p>
<p><div id="attachment_3441" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3441" class="size-large wp-image-3441" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3441" class="wp-caption-text">Padatnya Rutinitas (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@helloquence">Helloquence</a>)</p></div></p>
<p>Hanya saja untuk orang-orang dengan jumlah aktivitas yang tidak terlalu padat, rebahan tidak terlalu dibutuhkan. Mereka murni rebahan karena memang pemalas (terkadang, Penulis juga menjadi salah satu bagian dari mereka).</p>
<p>Contoh, seorang karyawan di kantor kerjaannya ghibah dan tidur, pulang kantor rebahan main game sampai ngantuk, besoknya kesiangan sehingga di kantor tidur lagi. Kerjanya enggak seberapa, rebahannya banyak banget.</p>
<p>Terlalu banyak rebahan akan membawa beberapa dampak negatif, seperti rentan terkena penyakit, menurunkan daya konsentrasi, hingga membuat diri kita jauh dari kesuksesan.</p>
<p>Kasarnya, gimana mau dapat gaji besar kalau kerjaannya cuma rebahan mulu? Gimana mau ketemu jodoh kalau kerjaannya cuma rebahan mulu? Gimana mau sukses kalau kerjaannya cuma rebahan mulu?</p>
<p>Sebagai <a href="https://whathefan.com/karakter/suka-duka-seorang-pemikir/">orang yang pemikir</a>, Penulis kerap berpikir <em><a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mau-kayak-gini-sampai-kapan/">mau kayak gini sampai kapan?</a> </em>ketika dirinya lebih sering bermalas-malasan daripada melakukan sesuatu yang produktif.</p>
<p>Jika sudah demikian, Penulis akan merasa bersalah karena telah membuang-buang waktunya. Penulis pun mulai beraktivitas yang lebih produktif, biasanya dimulai dengan membersihkan kamar.</p>
<p>Hidup ini singkat, sayang jika digunakan untuk melakukan sesuatu yang kurang berarti.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Rebahan di atas kasur sambil <em>scrolling </em>media sosial, main game HP, atau nonton YouTube berjam-jam memang terlihat sangat nikmat. Saking nikmatnya, rebahan bisa berubah menjadi sesuatu yang bersifat candu.</p>
<p>Rebahan memang menggiurkan, tapi kalau dilakukan secara berlebihan hingga melupakan aktivitas yang lain juga kurang baik. Penulis sering seperti itu, membuang waktunya dengan rebahan sambil melakukan aktivitas konsumtif yang minim manfaat.</p>
<p>Oleh karena itu, tulisan kali ini sebenarnya bertujuan untuk mengingatkan diri sendiri agar tidak menyia-nyiakan waktu yang dimilikinya.</p>
<p>Orang bisa sukses (terlepas dari <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">segala <em>privilege</em> yang dimiliki</a>) karena bangun dari tempat tidur dan mulai melakukan sesuatu untuk menggapai mimpinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 Februari 2020, terinspirasi dari diri sendiri yang merasa dirinya terlalu banyak rebahan</p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwiHkprKi8HnAhUIXSsKHdKnAFAQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.independent.co.uk%2Flife-style%2Fhealth-and-families%2Fdepression-loneliness-mobile-phone-use-10pm-instagram-twitter-mood-disorder-a8353851.html&amp;psig=AOvVaw3SGsm2FuGtwrrjUayIKnUS&amp;ust=1581221588365101">The Independent</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://news.detik.com/kolom/d-4826065/menepis-stereotip-generasi-milenial-sebagai-kaum-rebahan">Detik</a>, <a href="https://kumparan.com/karjaid/dampak-negatif-menjadi-kaum-rebahan-1scXFdAkBFv">Kumparan</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">Rebahan Terus, Kapan Suksesnya?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa yang Salah dengan Privilege?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/apa-yang-salah-dengan-privilege/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Nov 2019 03:37:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[istimewa]]></category>
		<category><![CDATA[kesuksesan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[privilege]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3069</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika melihat kesuksesan orang lain, akan muncul komentar beragam. Ada yang menjadi terinspirasi, ada yang mengagumi perjuangannya, tak sedikit yang mencibirnya. Akan tetapi ketika ternyata kesuksesan tersebut dikarenakan karena yang bersangkutan memiliki privilege atau keistimewaan, kebanyakan komentar bernada sama: oalah pantes aja sukses, la dia gini gini gini. Salahkah memiliki privilege? Manusia dan Privilege yang Dimiliki Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apa-yang-salah-dengan-privilege/">Apa yang Salah dengan Privilege?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika melihat kesuksesan orang lain, akan muncul komentar beragam. Ada yang menjadi terinspirasi, ada yang mengagumi perjuangannya, tak sedikit yang mencibirnya.</p>
<p>Akan tetapi ketika ternyata kesuksesan tersebut dikarenakan karena yang bersangkutan memiliki <em>privilege </em>atau keistimewaan, kebanyakan komentar bernada sama: <em>oalah pantes aja sukses, la dia gini gini gini</em>.</p>
<p>Salahkah memiliki <em>privilege</em>?</p>
<h3>Manusia dan <em>Privilege</em> yang Dimiliki</h3>
<p><div id="attachment_3072" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3072" class="size-large wp-image-3072" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apa-yang-salah-dengan-privilage-1-1024x607.jpeg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apa-yang-salah-dengan-privilage-1-1024x607.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apa-yang-salah-dengan-privilage-1-300x178.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apa-yang-salah-dengan-privilage-1-768x455.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apa-yang-salah-dengan-privilage-1.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3072" class="wp-caption-text">Maudy Ayunda (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://indonesiainside.id/lifestyle1/2019/03/06/maudy-ayunda-inspirator-kaum-milenial" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiQlNDU4-3lAhUW3o8KHb-eCxEQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Indonesia Inside</span></a>)</p></div></p>
<p>Penulis menyadari bahwa tidak semua orang memiliki <em>privilege </em>seperti yang didapatkan oleh orang lain. Namun, hal tersebut tidak bisa menjadi dasar kita <em>julid </em>ke orang yang memiliki <em>privilege</em>.</p>
<p>Tidak usah mengambil contoh rektor termuda di kampus di mana ayahnya menjadi pemegang saham terbesar, penulis akan mengambil contoh Maudy Ayunda.</p>
<p>Ketika ia mengalami <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/dilema-berkelas-ala-maudy-ayunda/">dilema kelas tinggi</a>, ada saja yang berpendapat ia bisa seperti itu karena berbagai <em>privilege </em>yang dimiliki. Ia lahir dari keluarga kaya, punya orangtua yang mendukungnya, hingga punya jenjang karir di dunia hiburan yang terbilang mulus.</p>
<p>Maudy memang memiliki banyak <em>privilege</em>. Lantas, salahnya di mana? Karena ia memamerkan kesuksesannya sehingga menimbulkan kecemburuan bagi yang tidak memiliki <em>privilege</em>? Penulis rasa tidak.</p>
<h3>Apa yang Salah dengan <em>Privilege</em>?</h3>
<p>Kesuksesan para pemegang <em>privilege </em>ini menurut penulis menjadi bukti bahwa mereka bisa memanfaatkan keistimewaan yang mereka dapatkan.</p>
<p>Banyak yang memiliki <em>privilege</em>, namun justru terjerumus ke jalan yang salah dan terlena dengan kefanaan yang dimiliki. Ada banyak contohnya, penulis tidak perlu menyebutkannya secara detail.</p>
<p>Tidak ada yang salah dengan <em>privilege</em>. Mencemburuinya pun tidak akan berpengaruh terhadap kehidupan kita, apalagi kalau kita sampai mencaci-maki orang-orang yang memiliki <em>privilege</em>.</p>
<p>Yang penulis khawatirkan, orang-orang sering menggunakan <em>privilege </em>orang lain sebagai pembenaran dirinya. Mereka merasa tidak akan bisa sesukses mereka yang memiliki <em>privilege </em>dan menyalahkan keadaan.</p>
<p>Padahal ada banyak contoh kesuksesan yang bisa diraih tanpa <em>privilege </em>sekalipun. Lantas, mengapa hanya mengambil contoh dari mereka yang punya <em>privilege</em>?</p>
<p>Dari yang penulis amati, kalau ada kesuksesan yang diraih oleh orang tanpa banyak <em>privilege</em>, komentar tidak akan terlalu ramai. Tapi jika ada yang sukses karena bantuan <em>privilege</em>, <strong><em>everybody loses their mind!</em></strong></p>
<p>Lagipula, kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana kehidupan orang lain yang hanya kita kenal melalui media. Lantas, mengapa kita jadi <em>sotil</em> dan memberikan justifikasi seenak <em>udel</em>?</p>
<p>Pasti ada pertolongan dari sana sini, tapi semuanya tergantung kepada diri kita sendiri. Banyak faktor eksternal yang akan mempengaruhi kehidupan kita, tapi semuanya akan kembali ke diri kita sendiri.</p>
<p>Kalau memang memiliki <em>privilege</em>, ya disyukuri. Buktikan kalau kita tidak sekadar menumpang <em>privilege </em>tersebut, tapi memang bisa memanfaatkan <em>privilege </em>tersebut sebaik mungkin.</p>
<p>Yang salah itu jika kita sudah memanfaatkan <em>privilege</em>, lantas mengklaim kesuksesan karena kerja keras kita semata. Kalau seperti itu tentu saja membuat orang yang melihatnya jengkel.</p>
<p>Apalagi, kalau mereka berusaha menjadi motivator dan menutupi <em>privilege </em>yang selama ini mereka dapatkan. Bertambahlah kejengkelan tersebut. Sutradara &#8220;yang tembus Hollywood&#8221; menjadi buktinya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis merasa dirinya sebagai orang yang diberi banyak <em>privilege</em>. Penulis lahir dengan fisik yang sempurna, dibesarkan oleh keluarga yang luar biasa, memiliki lingkungan pergaulan yang baik, sampai bisa mengambil ilmu di sekolah negeri hingga jenjang universitas.</p>
<p>Penulis juga lahir dalam kondisi ekonomi yang cukup, meskipun ketika SMP hanya mendapatkan uang saku bulanan Rp60 ribu dan naik menjadi Rp165 ribu ketika SMA. Itu sudah termasuk uang bensin dan pulsa.</p>
<p>Penulis berkempatan untuk belajar di Kampung Inggris, berkesempatan untuk menjadi <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-awal-dari-segalanya/"><em>volunteer </em>Asian Games</a>, memiliki keluarga yang bersedia menampung di Jakarta hingga mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan.</p>
<p>Hal tersebut membuat penulis merasa bertanggung jawab atas segala <em>privilege </em>yang telah diberikan tersebut. Penulis merasa berkewajiban untuk bisa memanfaatkannya sebaik mungkin, baik untuk diri sendiri ataupun orang lain.</p>
<p><em>Pantas aja nulis gini, mong dirinya sendiri dapat privilege!</em></p>
<p>Mungkin ada pembaca yang berpendapat seperti itu, tidak apa-apa. Toh, ketika lahir kita tidak bisa memilih akan dilahirkan sebagai anak orang kaya, memiliki orangtua yang lengkap, lahir dengan agama apa, dan lain sebagainya.</p>
<p>Daripada mencari-cari <em>privilege </em>kesuksesan orang sehingga kita bisa beralasan tidak bisa seperti mereka, kenapa tidak kita ambil saja yang bisa kita pelajari? Kalau misalnya tidak ada, ya sudah abaikan saja.</p>
<p>Seandainya bisa, kita akan memilih untuk memiliki <em>privilege </em>bukan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 15 November 2019, terinspirasi dari banyaknya orang yang mencibir <em>privilege </em>yang dimiliki oleh orang lain</p>
<p>Foto:</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apa-yang-salah-dengan-privilege/">Apa yang Salah dengan Privilege?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Definisi Sukses Nomer 1: Bermanfaat Bagi Orang Lain</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomer-1-bermanfaat-bagi-orang-lain/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomer-1-bermanfaat-bagi-orang-lain/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Aug 2018 07:26:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bermanfaat]]></category>
		<category><![CDATA[dosen]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengajar]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1158</guid>

					<description><![CDATA[<p>Definisi sukses berbeda-beda bagi setiap orang. Teman dekat penulis pernah mengatakan bahwa definisi suksesnya adalah ketika ia berhasil meraih financial freedom. John C. Maxwell, salah satu penulis favorit penulis, mengatakan sukses adalah perjalanan itu sendiri. Lantas bagaimana definisi sukses bagi penulis? Sebenarnya banyak definisi yang penulis yakini benar, namun kali ini penulis hanya akan berbagi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomer-1-bermanfaat-bagi-orang-lain/">Definisi Sukses Nomer 1: Bermanfaat Bagi Orang Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Definisi sukses berbeda-beda bagi setiap orang. Teman dekat penulis pernah mengatakan bahwa definisi suksesnya adalah ketika ia berhasil meraih <em>financial freedom</em>. John C. Maxwell, salah satu penulis favorit penulis, mengatakan sukses adalah perjalanan itu sendiri.</p>
<p>Lantas bagaimana definisi sukses bagi penulis? Sebenarnya banyak definisi yang penulis yakini benar, namun kali ini penulis hanya akan berbagi tentang definisi sukses nomer 1 versi penulis: bermanfaat bagi orang lain.</p>
<p>Dalam renungan batin yang kerap kali dilakukan, penulis menyadari bahwa di masa lalu, penulis merupakan orang dengan ego yang tinggi. Penulis seolah hanya memikirkan kebutuhannya sendiri tanpa memikirkan orang lain.</p>
<p>Setelah menyadari kesalahan ini, perlahan penulis mengubah sikap ini. Salah satu cara ampuh untuk mengurangi ego adalah dengan berusaha untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.</p>
<p><strong>Contoh Kecil di Karang Taruna</strong></p>
<p>Bagaimana cara agar dapat bermanfaat bagi orang lain? Sebagai contoh, penulis mengabdi di lingkungan penulis dengan membentuk dan mendirikan fondasi Karang Taruna, yang diharapkan dapat menjadi sebuah wadah bagi para remaja mengeluarkan aspirasinya.</p>
<p>Penulis mencurahkan konsentrasi dengan porsi yang lumayan besar pada organisasi ini, hingga ada yang menganggap bahwa salah satu alasan penulis belum bekerja adalah karena ingin fokus membangun Karang Taruna.</p>
<p>Anggota Karang Taruna di tempat penulis rata-rata masih duduk di bangku sekolah, sehingga membuat penulis sering berinteraksi dengan generasi milenial. Membina dan mengkader mereka merupakan tantangan tersendiri bagi penulis, agar organisasi yang telah dirintis dapat bertahan lama.</p>
<p><div id="attachment_1161" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1161" class="size-large wp-image-1161" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_3736-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_3736-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_3736-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_3736-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_3736-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_3736.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1161" class="wp-caption-text">Kegiatan di Karang Taruna</p></div></p>
<p>Beberapa program kerja seperti <a href="http://whathefan.com/2018/01/27/swi-mengajar/">SWI Mengajar</a>, di mana penulis seringkali berposisi sebagai pengajar, semakin menegaskan bahwa aktif di organisasi ini membuat penulis dapat bermanfaat bagi orang lain. Belum lagi ketika penulis dapat secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan warga.</p>
<p>Mungkin inilah salah satu alasan penulis mengalokasikan waktu yang cukup banyak untuk Karang Taruna, hingga habis masa jabatannya pada bulan Juni kemarin.</p>
<p><strong>Bermanfaat di Masa Depan</strong></p>
<p>Impian terbesar yang sedang dikejar oleh penulis adalah melanjutkan studi ke luar negeri. Impian tersebut berelasi dengan cita-cita penulis: menjadi seorang dosen.</p>
<p>Mengapa dosen? Karena seorang dosen merupakan pengajar yang memberikan (insyaAllah) ilmu yang bermanfaat bagi para mahasiswanya. Bukankah salah satu amal jariyah (amal yang tak terputus meskipun kita sudah meninggal) adalah ilmu yang bermanfaat?</p>
<p><div id="attachment_1160" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1160" class="size-large wp-image-1160" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/rawpixel-660721-unsplash-1024x629.jpg" alt="" width="1024" height="629" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/rawpixel-660721-unsplash-1024x629.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/rawpixel-660721-unsplash-300x184.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/rawpixel-660721-unsplash-768x471.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/rawpixel-660721-unsplash-356x219.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/rawpixel-660721-unsplash.jpg 1124w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1160" class="wp-caption-text">Menjadi Pengajar (Photo by rawpixel on Unsplash)</p></div></p>
<p>Menjadi seorang dosen penulis yakini sebagai salah satu jalan yang membuat kita dapat menjadi bermanfaat bagi orang lain. Tidak hanya dengan ilmu, pun dengan interaksi-interaksi yang kita lakukan kepada murid ataupun rekan kerja.</p>
<p>Lantas mengapa bukan seorang guru? Karena penulis tidak mengambil gelar sarjana di bidang pendidikan. Akan tetapi jika ada tawaran untuk menjadi seorang guru, mungkin akan penulis ambil.</p>
<p><strong>Tidak Hanya Satu Jalan</strong></p>
<p>Meskipun sangat berambisi menjadi seorang dosen, penulis tidak menutup kemungkinan untuk bekerja di bidang lain. Penulis yakin, masih banyak cara agar dapat bermanfaat bagi orang lain.</p>
<p>Sebagai contoh lain, kita dengan sukarela menjadi relawan untuk membantu korbam bemcana di Lombok. Berani mengalokasikan waktu dan tenaga di sana bagi penulis merupakan sebuah kesuksesan.</p>
<p>Jika hal tersebut dianggap terlalu muluk, bekerja di bidang masing-masing pun termasuk bermanfaat bagi orang lain, selama niatnya lurus. Contoh, bekerja di toko online sebagai programmer, niatkan bekerja untuk membantu orang lain dalam menjajakan produknya.</p>
<p>Setiap gerak kita, sejatinya berpotensi untuk menjadi manfaat bagi orang lain. Gunakanlah potensi tersebut dengan meluruskan niat yang kita miliki.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Grand Metropolitan Mal, Bekasi, 21 Agustus 2018, terinspirasi setelah merasa bersalah karena tidak bisa menjadi translator yang baik</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/0nkFvdcM-X4?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Josh Appel</a> on <a href="https://unsplash.com/?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomer-1-bermanfaat-bagi-orang-lain/">Definisi Sukses Nomer 1: Bermanfaat Bagi Orang Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomer-1-bermanfaat-bagi-orang-lain/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jangan Berhenti karena Tidak Bisa</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-berhenti-karena-tidak-bisa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-berhenti-karena-tidak-bisa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2018 13:43:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[mencoba]]></category>
		<category><![CDATA[menyerah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[positif]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<category><![CDATA[tidak bisa]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1075</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernahkah kita berkata tidak bisa sebelum mencobanya? Seandainya pernah, tidak masalah, karena itu manusiawi. Yang penting, setelah membaca tulisan ini kita tidak akan berkata tidak bisa sebelum mencobanya. Dalam beberapa pengalaman penulis, seringkali penulis memutuskan untuk berhenti karena merasa tidak bisa. Contohnya, sewaktu lulus kuliah, penulis tidak melamar beasiswa karena merasa &#8220;tidak akan bisa tembus, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-berhenti-karena-tidak-bisa/">Jangan Berhenti karena Tidak Bisa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah kita berkata tidak bisa sebelum mencobanya? Seandainya pernah, tidak masalah, karena itu manusiawi. Yang penting, setelah membaca tulisan ini kita tidak akan berkata tidak bisa sebelum mencobanya.</p>
<p>Dalam beberapa pengalaman penulis, seringkali penulis memutuskan untuk berhenti karena merasa tidak bisa. Contohnya, sewaktu lulus kuliah, penulis tidak melamar beasiswa karena merasa &#8220;tidak akan bisa tembus, saingannya banyak&#8221;.</p>
<p>Untunglah, pola pikir tersebut sudah berubah, sehingga penulis mencoba untuk mengajukan beasiswa ke berbagai negara. Hasilnya? Ya, memang belum ada yang tembus, tapi semangat untuk mendapatkan beasiswa belumlah luntur.</p>
<p>Contoh kecil lainnya, ketika penulis kerja bakti memasang umbul-umbul, terdapat remaja yang berkali-kali mengatakan tidak bisa melakukan apa yang diperintahkan. Pertama, menyimpul benang umbul-umbul agar cukup panjang diikat. Kedua, naik ke atas tangga untuk mengikat umbul-umbul di tempat yang tinggi.</p>
<p>Salah seorang teman penulis sampai kesal dibuatnya hingga berkata &#8220;terus isomu opo? (terus bisamu apa?)&#8221;. Dia pun hanya tersenyum kecut diberi pertanyaan seperti itu.</p>
<p>Kata <strong>tidak bisa</strong> tidak boleh diucapkan sebelum ada <strong>usaha</strong> yang menyertai. Yang penting coba dulu, bisa atau tidak urusan belakang. Jangan pernah kalah sebelum berperang, menyerah sebelum mencoba.</p>
<p>Pada salah satu episode Yakitate! Japan, anime yang menceritakan seputar dunia perotian, diceritakan terdapat satu orang yang berkeyakinan seperti ini:</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Jika kali ini gagal, maka selanjutnya pasti berhasil, jika 1000 kali gagal, maka yang ke 1001 pasti berhasil.&#8221;</em></p>
<p>Kekuatan keyakinan yang luar biasa bukan? Pola pikir seperti itulah yang dimiliki oleh rata-rata orang sukses. Mereka mencoba berbagai cara untuk mengubah <strong>tidak bisa </strong>menjadi <strong>bisa</strong>.</p>
<p>Terkadang memang ada hal yang tidak bisa kita lakukan, contoh kecilnya penulis tidak bisa bersiul hingga sekarang karena faktor genetik. Tidak apa, yang menjadi masalah bukan tidak bisanya, tapi tidak adanya kemauan untuk mencoba.</p>
<p>Oleh karena itu, kita harus berusaha semaksimal mungkin, jangan sampai kata tidak bisa ke luar sebelum ada usaha untuk mencobanya terlebih dahulu. Semangat!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 2 Agustus 2018, terinpirasi ketika memasang umbul-umbul dalam rangka menyambut dirgahayu Republik Indonesia yang ke 73</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://unsplash.com/photos/ug5t9ibJBbc">https://unsplash.com/photos/ug5t9ibJBbc</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-berhenti-karena-tidak-bisa/">Jangan Berhenti karena Tidak Bisa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-berhenti-karena-tidak-bisa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
