<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tiktok Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/tiktok/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/tiktok/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 21 May 2025 16:07:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.1</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>tiktok Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/tiktok/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Belajar Sejarah, kok (Cuma) dari TikTok?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/belajar-sejarah-kok-cuma-dari-tiktok/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/belajar-sejarah-kok-cuma-dari-tiktok/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 May 2025 16:07:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[tiktok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8266</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa bulan lalu, seorang teman Penulis bertanya seputar sejarah. Bukan karena Penulis ahli sejarah, tapi karena dia tahu Penulis suka baca buku sejarah. Dia ingin mengonfirmasi beberapa fakta sejarah yang ia temukan di kolom komentar sebuah pos di TikTok. Penulis tak perlu menjabarkan daftar sejarah yang ia ingin konfirmasi, yang jelas banyak fakta yang terpapar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/belajar-sejarah-kok-cuma-dari-tiktok/">Belajar Sejarah, kok (Cuma) dari TikTok?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa bulan lalu, seorang teman Penulis bertanya seputar sejarah. Bukan karena Penulis ahli sejarah, tapi karena dia tahu Penulis suka baca buku sejarah. Dia ingin mengonfirmasi beberapa fakta sejarah yang ia temukan di kolom komentar <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/">sebuah pos di TikTok</a>.</p>



<p>Penulis tak perlu menjabarkan daftar sejarah yang ia ingin konfirmasi, yang jelas banyak fakta yang terpapar di sana cukup mengejutkan dan bikin <em>shock</em>. Penulis pun berusaha mengonfirmasi beberapa fakta yang kebetulan Penulis ketahui.</p>



<p>Nah, belum lama ini, ternyata ada beberapa akun sejarah seperti historia.id yang juga membuat &#8220;klarifikasi&#8221; atas fakta-fakta sejarah yang beredar di kolom komentar di TikTok. Mereka memaparkan sumber-sumber yang lebih kredibel untuk merespons hal tersebut.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner.jpg 1280w " alt="Saya Berlibur ke Jakarta Selama 5 Hari (Bagian 1)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/saya-berlibur-ke-jakarta-selama-5-hari-bagian-1/">Saya Berlibur ke Jakarta Selama 5 Hari (Bagian 1)</a></div></div></div><p></p>


<p>Fenomena ini pun berhasil menggelitik <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">Penulis sebagai penggemar sejarah</a> (bukan ahli sejarah!). Alasannya, banyak yang langsung menelan bulat-bulat fakta sejarah tersebut. Rasanya tak banyak yang berusaha mencari konfirmasi seperti yang dilakukan teman Penulis.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Tidak Boleh Belajar Sejarah (Hanya) dari TikTok?</h2>



<div class="wp-block-cover"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8268" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Belajar-Sejarah-kok-Cuma-dari-TikTok-1-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Belajar-Sejarah-kok-Cuma-dari-TikTok-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Belajar-Sejarah-kok-Cuma-dari-TikTok-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Belajar-Sejarah-kok-Cuma-dari-TikTok-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Belajar-Sejarah-kok-Cuma-dari-TikTok-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Belajar Sejarah Bermodal TikTok (<a href="https://www.pexels.com/@cottonbro/">cottonbro studio</a>)</p>
</div></div>



<p>Penulis biasa membaca sejarah seutuh mungkin, atau setidaknya menonton video esai di YouTube. Baik di buku maupun YouTube, penjabaran sejarah kerap disajikan secara kronologis, bukan informasi sepotong-potong yang sumbernya tidak jelas atau hanya sekadar desas-desus. </p>



<p>Maka dari itu, ketika mengetahui di TikTok ada banyak potongan sejarah yang sumbernya tak jelas, Penulis pun merasa ini bukan sesuatu yang bisa didiamkan begitu saja. Gawat kalau kita sampai terbiasa <strong>mempercayai sesuatu yang tak jelas dari mana asalnya</strong>.</p>



<p>Penulis paham <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-larangan-berjualan-di-tiktok-shop/">kehadiran media sosial seperti TikTok</a> memang memudahkan kita untuk mengakses berbagai informasi, termasuk sejarah. Namun, arus informasinya terlalu bebas, sehingga <strong>siapa pun bisa membagikan informasi dan dianggap benar</strong>.</p>



<p>Analoginya begini. Ketika mendengarkan informasi seputar kesehatan, tentu kita harus mengecek siapa yang mengatakan hal tersebut. Misal yang menyampaikan seorang dokter, maka kecil kemungkinan kalau informasi yang disampaikan itu salah atau menyesatkan.</p>



<p>Nah, hal yang sama seharusnya juga berlaku dengan topik sejarah. Kalau orang yang menyampaikan informasi adalah ahli sejarah atau minimal <em>content creator </em>yang terkenal memang selalu melakukan riset mendalam, kita bisa mempercayainya.</p>



<p>Akan tetapi, kalau yang menyampaikan hanya<em> random user </em>yang hanya mengetikkan beberapa baris kalimat di kolom komentar, tentu kita perlu mengecek kebenarannya. Fakta yang ia anggap benar, bisa jadi ternyata tidak pernah terbukti dan hanya menjadi sebuah mitos.</p>



<p>Bayangkan jika kita mempercayai fakta sejarah yang keliru itu, lantas menyebarkannya kepada orang lain. Bukankah itu sama dengan<strong> kita menyebarkan hoaks?</strong> Yang lebih bahaya,<strong> sesuatu yang salah, jika diyakini mayoritas, pada akhirnya akan dianggap benar</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Tidak Boleh Belajar Sejarah dari TikTok?</h2>



<div class="wp-block-cover"><img decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8269" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Belajar-Sejarah-kok-Cuma-dari-TikTok-2-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Belajar-Sejarah-kok-Cuma-dari-TikTok-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Belajar-Sejarah-kok-Cuma-dari-TikTok-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Belajar-Sejarah-kok-Cuma-dari-TikTok-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Belajar-Sejarah-kok-Cuma-dari-TikTok-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Mari Biasakan Recheck Fakta yang Kita Dapatkan (<a href="https://www.pexels.com/@spiritsofmilly/">Melissa Thomas</a>)</p>
</div></div>



<p>Bukannya tidak boleh kita belajar sejarah dari <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">TikTok</a>, toh Penulis yakin banyak <em>content creator </em>yang cukup kredibel dan melakukan riset mendalam sebelum membuat konten. Namun, kita harus lebih kritis dan selektif dalam memilih mana yang bisa dipercaya.</p>



<p>Justru, Penulis berharap konten-konten sejarah di TikTok bisa menimbulkan rasa penasaran bagi penontonnya, lalu mereka jadi mencari informasi lebih lengkapnya di buku maupun video esai. Penulis sangat ingin topik sejarah jadi topik umum di tongkrongan.</p>



<p>Yang Penulis khawatirkan di sini adalah <strong>bagaimana masyarakat belajar sejarah hanya dari beberapa kalimat di kolom komentar</strong>, seperti yang ditunjukkan oleh teman Penulis. Apalagi, ternyata banyak fakta tersebut terbukti keliru atau tidak tepat.</p>



<p>Kita tahu kalau literasi masyarakat kita cukup rendah. Baru baca judul berita saja tanpa membaca isinya sudah langsung tersulut emosi dan menyimpulkan sendiri. Hal yang sama juga bisa terjadi dengan fenomena yang sedang Penulis bahas ini.</p>



<p>Penulis bersyukur karena masih ada pihak-pihak yang berusaha mengoreksi hal ini dengan memaparkan fakta sejarah yang sesungguhnya. Walau tak yakin sanggahan tersebut akan sampai ke semua orang, setidaknya ada usaha untuk memberikan fakta yang benar.</p>



<p>Namun, namanya orang Indonesia, sudah disampaikan fakta dengan sumber yang bisa dipertanggungjawabkan pun <strong>masih <em>ngeyel</em></strong>. Mereka hanya bermodalkan keyakinan bahwa apa yang mereka yakini benar, pendapat selain mereka itu salah.</p>



<p>Padahal yang namanya adu argumen, ya yang siapa sumbernya lebih kuat yang menang. Namun, di sini rasanya siapa yang <em>ngotot </em>itu yang menang. Kalau kata orang Jawa, <em>sing waras ngalah.</em> Ironi memang, karena untuk mempertahankan kebenaran pun kita bisa kalah.</p>



<p>Walau begitu, Penulis tetap berharap ke depannya <strong>kita bisa makin kritis dan tak malas melakukan <em>recheck</em> ketika mendapatkan suatu informasi</strong>, entah itu topik sejarah maupun yang lainnya. </p>



<p>Di era informasi seperti saat ini, kita harus lebih pandai dalam membedakan mana yang benar dan mana yang kurang benar. Masalah fakta sejarah di TikTok ini bisa dibilang hanya sebagian kecil dari permasalahan yang lebih besar.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 21 Mei 2025, terinspirasi setelah banyaknya konten sanggahan atas fakta sejarah yang tersebar di kolom komentar TikTok</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/@suzyhazelwood/">Suzy Hazelwood</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/belajar-sejarah-kok-cuma-dari-tiktok/">Belajar Sejarah, kok (Cuma) dari TikTok?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/belajar-sejarah-kok-cuma-dari-tiktok/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Mesin Pencari akan Tergantikan oleh Media Sosial?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/apakah-mesin-pencari-akan-tergantikan-oleh-media-sosial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/apakah-mesin-pencari-akan-tergantikan-oleh-media-sosial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Sep 2024 16:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[mesin pencari]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[tiktok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7831</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ada hal menarik ketika Penulis berinteraksi dengan para Gen Z di sekitar Penulis. Kebetulan, sewaktu mengisi webinar yang diadakan minggu kemarin, pertanyaan yang menjadi judul artikel ini juga sempat ditanyakan ke Penulis. Penulis sebagai generasi Milenial terbiasa menggunakan Google dalam mencari informasi apapun, bahkan hingga muncul istilah Mbah Google dan term googling. Alasannya jelas, Google [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apakah-mesin-pencari-akan-tergantikan-oleh-media-sosial/">Apakah Mesin Pencari akan Tergantikan oleh Media Sosial?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ada hal menarik ketika Penulis berinteraksi dengan para Gen Z di sekitar Penulis. Kebetulan, sewaktu mengisi webinar yang diadakan minggu kemarin, pertanyaan yang menjadi judul artikel ini juga sempat ditanyakan ke Penulis.</p>



<p>Penulis sebagai generasi Milenial terbiasa menggunakan Google dalam mencari informasi apapun, bahkan hingga muncul istilah Mbah Google dan <em>term googling</em>. Alasannya jelas, Google menyediakan hampir semua informasi yang kita butuhkan.</p>



<p>Namun, bagi Gen Z, ternyata pamor Google sebagai mesin pencari mulai pudar dan dikalahkan oleh <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/">media sosial seperti TikTok</a>. Fenomena ini pun menimbulkan satu pertanyaan: <strong>apakah mesin pencari akan tergantikan oleh media sosial?</strong> </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner.jpg 1200w " alt="Musim Baru, Pemain Baru, MU-nya Masih Sama" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/musim-baru-pemain-baru-mu-nya-masih-sama/">Musim Baru, Pemain Baru, MU-nya Masih Sama</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Beda Mencari di Mesin Pencari dan Media Sosial</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045561-1024x683.png" alt="" class="wp-image-7836" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045561-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045561-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045561-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045561.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">TikTok Sebagai Mesin Pencari (<a href="https://www.flick.social/learn/blog/post/how-to-search-on-tiktok">Flick</a>)</figcaption></figure>



<p>Disrupsi adalah hal yang biasa di dunia ini. Hampir tidak ada benda yang benar-bentar tak tergantikan. Selalu ada terobosan dan inovasi baru yang lebih efektif dan efisien, sehingga orang pun jadi beralih dan meninggalkan yang lama dan kuno.</p>



<p>Jauh sebelum Google muncul, mungkin orang mengandalkan buku, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/benarkah-era-toko-buku-akan-segera-berakhir/">toko buku</a>, atau perpustakaan untuk mencari informasi. Nah, kini Google (dan mesin pencari lainnya seperti Bing) pun menghadapi ancaman yang sama.</p>



<p>Misal Penulis dan <em>circle</em>-nya ingin mencari rekomendasi kafe di Malang. Kalau Penulis akan mencari artikelnya di Google. Namun, teman Penulis yang Gen Z lebih memilih TikTok karena ditampilkan dalam bentuk audiovisual yang lebih menarik.</p>



<p>Tentu artikel dan konten video memiliki plus minusnya masing-masing. Google misalnya, bisa menjelaskan secara detail rekomendasi kafe yang diberikan lengkap beserta <em>map-</em>nya. Apalagi, ada banyak artikel yang akan disajikan oleh Google, sehingga kita akan mendapat banyak variasi.</p>



<p>Media sosial pun bisa memberikan informasi secara langsung yang dilengkapi dengan ulasan dari kreator kontennya. Dalam waktu sekian detik, kita sudah mendapatkan gambaran seperti apa rekomendasi tempat yang diberikan kepada kita.</p>



<p>Penulis sendiri sejujurnya tidak nyaman menggunakan media sosial sebagai pengganti Google, terutama TikTok. Alasannya, kadang informasi yang diberikan <em>ngaco</em> sehingga menimbulkan <em>trust issue</em>.</p>



<p>Contoh, Penulis pernah dikirimi sebuah video TikTok yang memberi info kalau di Surabaya sedang ada pameran buku. Di video tersebut, promo dan buku yang ada terlihat banyak dan menarik. Namun, setelah ke sana, ternyata <em>zonk </em>dan mengecewakan.  </p>



<h2 class="wp-block-heading">Lantas, Apakah Mesin Pencari Memang akan Tergantikan oleh Media Sosial?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045563-1024x683.png" alt="" class="wp-image-7837" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045563-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045563-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045563-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045563.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Mesin Pencari Tetap Punya Kelebihannya Sendiri (<a href="https://www.webalive.com.au/an-introduction-to-search-engines/">WebAlive</a>)</figcaption></figure>



<p>Tren memang bergeser di mana media sosial pun kerap digunakan sebagai sumber informasi. Namun, selama mesin pencari dan media sosial menyediakan hasil dengan format dan akurasi yang berbeda, rasanya media sosial terutama Google tidak akan tergeser semudah itu.</p>



<p>Sebagai orang yang bekerja di bidang Search Engine Optimization (SEO), Penulis melihat masih ada banyak hal yang hanya bisa dilakukan di mesin pencari (atau lebih tepatnya artikel <em>website</em>) yang belum bisa dilakukan oleh media sosial.</p>



<p>Contohnya, artikel bisa <strong>memberikan info yang lebih lengkap dan detail</strong>. Artikel juga <strong>memberikan kendali kepada pembacanya</strong> untuk memilih poin-poin mana saja yang ingin dibaca, berbeda dengan konten video yang kendalinya ada di konten kreatornya.</p>



<p>Lalu, sumber di artikel <strong>lebih bisa dipercaya</strong> dibandingkan media sosial. Seperti yang kita tahu, di media sosial kerap menjadi ladang hoaks yang tak terkontrol. Memang artikel tak sepenuhnya bebas dari hoaks, tapi jelas kredibilitasnya lebih terjamin dari media sosial.</p>



<p>Selain itu, <strong>jumlah pencarian (atau <em>search volume</em>) di Google juga masih cukup tinggi</strong>. Hal ini bisa dilihat dari Google Trends. Contoh ketika <em>Genshin Impact</em> merilis <em>update</em> terbaru, maka banyak hal-hal seputar <em>update </em>tersebut akan muncul di Trending.</p>



<p>Hal tersebut membuktikan kalau masih banyak orang yang mengandalkan mesin pencari untuk mendapatkan informasi. Memang di media sosial banyak <em>guide </em>atau <em>build </em>karakter tertentu, tapi rasanya artikel yang mampu memberikan panduan paling detail.</p>



<p><a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dear-gen-z-saingan-kerja-kalian-nanti-bukan-manusia-tapi-ai/">Keberadaan AI juga menjadi penting</a> karena <strong>mampu merangkumkan informasi yang dibutuhkan dalam waktu cepat</strong>. Misal kita ingin tahu berapa tinggi Erling Haaland, maka Google akan langsung memberi jawabannya sehingga kita tak perlu membuka artikel tertentu.</p>



<p>Selain itu, AI Google akan tetap menyarankan artikel-artikel tertentu jika pengguna membutuhkan info yang lebih lengkap. Jadi, meskipun ada AI yang telah merangkumkan jawaban, artikel di <em>website</em> tetap akan diberdayakan oleh Google.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Karena beberapa poin tersebut, Penulis menyimpulkan kalau media sosial belum akan menggantikan peran mesin pencari, setidaknya dalam waktu dekat. Sebagai alternatif mungkin iya, karena media sosial pun memiliki kelebihannya sendiri, tapi bukan sebagai pengganti.</p>



<p>Tentu opini di atas murni pendapat Penulis pribadi, yang artinya bisa benar, bisa salah, bisa juga di tengah-tengahnya. Mari kita lihat saja bagaimana perkembangan mesin pencari di media sosial.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 11 September 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau media sosial mulai menggantikan peran mesin pencari</p>



<p>Sumber Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/men-typing-in-the-google-search-engine-from-realme-6-pro-google-is-the-number-one-search-web-16629436/">Sanket Mishra</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apakah-mesin-pencari-akan-tergantikan-oleh-media-sosial/">Apakah Mesin Pencari akan Tergantikan oleh Media Sosial?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/apakah-mesin-pencari-akan-tergantikan-oleh-media-sosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Mencari Pasangan Menggunakan Standar TikTok</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Jun 2024 15:18:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[tiktok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7324</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis sudah lama tidak membuka TikTok karena berbagai alasan. Namun, ada satu hal yang mendorong Penulis untuk melakukan riset ke TikTok karena ada satu komentar yang kerap muncul di berbagai media sosial lainnya: &#8220;cewek pakai standar TikTok.&#8221; Karena sudah lama tidak membukanya, tentu Penulis sedikit kebingungan apa maksudnya, walau ada asumsi-asumsi. Penulis pun memutuskan untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/">Ketika Mencari Pasangan Menggunakan Standar TikTok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">Penulis sudah lama tidak membuka TikTok karena berbagai alasan</a>. Namun, ada satu hal yang mendorong Penulis untuk melakukan riset ke TikTok karena ada satu komentar yang kerap muncul di berbagai media sosial lainnya:<strong> &#8220;cewek pakai standar TikTok.&#8221;</strong></p>



<p>Karena sudah lama tidak membukanya, tentu Penulis sedikit kebingungan apa maksudnya, walau ada asumsi-asumsi. Penulis pun memutuskan untuk kembali membuka TikTok untuk melakukan riset dan melakukan wawancara dengan pengguna TikTok.</p>



<p>Ternyata, jika disimpulkan, di TikTok sering ada konten yang membahas mengenai standar-standar yang harus dipenuhi oleh pasangan. Semua konten yang Penulis temukan memiliki <em>point of view </em>(POV) dari sisi wanita yang menetapkan standar tertentu untuk lelakinya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/dialog-masyarakat-pada-obrolan-sukab-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/dialog-masyarakat-pada-obrolan-sukab-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/dialog-masyarakat-pada-obrolan-sukab-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/dialog-masyarakat-pada-obrolan-sukab-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/dialog-masyarakat-pada-obrolan-sukab-banner.jpg 1280w " alt="Dialog Masyarakat Pada Obrolan Sukab" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/dialog-masyarakat-pada-obrolan-sukab/">Dialog Masyarakat Pada Obrolan Sukab</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana TikTok Berubah Menjadi Standar Pasangan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7343" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Jadi Patokan dalam Menentukan Standar Pasangan (<a href="https://www.searchenginejournal.com/why-is-tiktok-so-popular/424603/">Search Engine Journal</a>)</figcaption></figure>



<p>Berdasarkan hasil riset dan wawancara, Penulis menemukan fakta bahwa banyak standar yang dipasang oleh orang-orang TikTok kadang tidak masuk akal, bahkan terkesan mengada-ada. Bahayanya, standar-standar tersebut ditelan mentah-mentah oleh banyak pengguna.</p>



<p>Penulis menemukan satu contoh standar yang menurut Penulis sangat tidak masuk akal, yakni tentang <em>typing</em> atau mengetik di <em>chat</em>. Bayangkan, ada standar yang menyebutkan <strong>ciri-ciri <em>typing</em> ganteng</strong>. Masalah <em>typing</em> saja bisa dibilang ganteng atau tidak, bahkan bisa jadi <em>red flag</em> kalau tidak cocok!</p>



<p>Jika boleh berandai-andai, mungkin standar lain yang dianggap tidak masuk akal itu seperti berharap punya pasangan dengan sifat sesempurna mungkin, bisa memberikan uang bulanan dengan nominal fantastis, atau bahkan memiliki <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/idolaku-adalah-milikku-bukan-milikmu/">fisik seperit <em>idol </em>K-Po</a>p. Mungkin lho, ya.</p>



<p>Standar ini bisa digunakan baik ketika sedang mencari atau bahkan telah memiliki pasangan. Jika belum punya, mungkin standar ini membuat mereka kesulitan menemukan pasangan. Jika sudah punya, kemungkinan besar pasangan mereka akan dituntut menjadi seperti apa yang muncul di TikTok.</p>



<p>Memiliki standar tertentu untuk pasangan sebenarnya adalah hal yang normal-normal saja. Penulis pun tentu memiliki standarnya sendiri. Namun, hal tersebut menjadi kurang pas apabila kita menggunakan standar orang lain yang belum tentu cocok dengan kita.</p>



<p>Ketika memasang standar yang begitu tinggi dalam mencari pasangan, terkadang kita lupa untuk menengok ke diri sendiri:<strong> apakah aku sudah pantas mendapatkan pasangan yang seperti yang aku standarkan tersebut? </strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Terlalu Demanding sampai Lupa Sadar Diri</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7344" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Terlalu Banyak Menuntut Ini Itu (<a href="https://create.vista.com/unlimited/stock-photos/230188504/stock-photo-selective-focus-angry-girlfriend-screaming-boyfriend-while-man-putting-hands/">Vista Create</a>)</figcaption></figure>



<p>Terkadang kita ini terlalu <em>demanding </em>dalam menentukan standar pasangan, sampai lupa kalau diri <strong>kita sendiri juga butuh terus meningkatkan <em>value </em>diri</strong> agar layak mendapatkan pasangan yang baik. Kita terlalu fokus meminta, sampai lupa kalau ada yang harus diberikan.</p>



<p>Berharap dapat pasangan milyader, tapi dirinya sendiri cuma hobi rebahan, ya enggak layak. Berharap dapat pasangan pekerja keras, tapi dirinya pemalas, ya enggak layak. Berharap dapat pasangan baik hati, tapi dirinya sendiri sifatnya kayak setan, ya enggak layak.</p>



<p>Mungkin akan ada yang berpendapat kalau selama orangnya memiliki paras rupawan, mau pemalas pun pasti bisa mendapatkan pasangan kaya. Namun, perlu diingat kalau orang kaya pasti memiliki standar yang tinggi juga. </p>



<p>Buat apa punya paras yang menarik, kalau <em>value </em>yang lain minus. Pasti ada banyak orang-orang cantik/tampan lain yang <em>value</em>-nya memenuhi standar. Persaingan untuk mendapatkan pasangan di dunia ini keras, jika kita tidak berusaha untuk terus meningkatkan <em>value </em>diri.</p>



<p>Jangan lupa kalau media sosial, termasuk TikTok, adalah platform yang penuh dengan &#8220;kosmetik.&#8221; Jangan langsung percaya apapun yang dilihat di sana, termasuk para kreator konten yang membuat konten tentang standar pasangan.</p>



<p>Jika kita menelan mentah semua apa kata orang TikTok tentang standar pasangan, alhasil standar kita pun akan menjadi tidak realistis. Ingin pasangan seperti ini itu, sampai lupa kalau setiap manusia itu memiliki plus dan minusnya masing-masing, Kok, enak mau plusnya doang?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Laki-Laki Jarang Mendapatkan Unconditional Love</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-tiktok-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7342" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-tiktok-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-tiktok-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-tiktok-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-tiktok.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Karena semua konten yang Penulis temukan membahas tentang bagaimana wanita menggunakan standar TikTok untuk menentukan kriteria pasangan, Penulis jadi ingat <em>quote </em>terkenal dari Chris Rock:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Only women, children, and dogs are loved unconditionally. A man is only loved under the condition that he provide something.&#8221;</p>



<p>“Hanya wanita, anak-anak, dan anjing yang dicintai tanpa syarat. Seorang pria hanya dicintai dengan syarat dia memberikan sesuatu.”</p>
</blockquote>



<p>Berdasarkan pengalaman pribadi dan <em>sharing </em>yang dilakukan orang-orang di media sosial, seringnya memang seperti itu. Seorang pria bisa mencintai seorang wanita tanpa alasan, tapi sulit terjadi sebaliknya. Mungkin ada beberapa anomali, tapi seringnya memang seperti itu.</p>



<p>Contohnya seperti ini. Pria bisa mencintai seorang wanita yang miskin dan menganggur, tapi hal sebaliknya jarang sekali terjadi. Wanita miskin dan <em>nganggur </em>pun mungkin berharap dapat suami mapan untuk mengangkat derajat dirinya dan keluarganya.</p>



<p>Penulis paham kalau sebenarnya tidak bisa digeneralisir seperti itu. <a href="https://whathefan.com/animekomik/mokondo-ala-rent-a-girlfriend/">Pria <em>mokondo</em></a><em> </em>yang tanpa malu meminta uang ke pihak wanita pun banyak. Namun, di sini fokus Penulis adalah bagaimana &#8220;cewek pakai standar TikTok&#8221; memiliki begitu banyak persyaratan untuk pasangannya.</p>



<p>Dari dulu, pria memang seolah selalu dituntut untuk memberikan <em>effort </em>lebih untuk wanita. Hal tersebut tampaknya memang sudah menjadi standar sehingga diwajarkan. Penulis sendiri tidak merasa keberatan karena memang itu salah satu &#8220;risiko&#8221; menjadi seorang pria.</p>



<p>Namun, jika tuntutannya berlebihan, tentu hal tersebut akan memberatkan pihak prianya. Kalau sudah cinta, pria akan seolah rela melakukan apapun untuk wanitanya. Namun, kalau yang dituntut terlalu banyak, lama-lama sang pria pun akan merasa tak mampu untuk memenuhi semuanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Daripada terus memasang standar yang tidak masuk akal dan mudah memberi <em>red flag </em>untuk hal sepele, ada baiknya kita melakukan interopeksi diri. Daripada cuma menuntut, ada baiknya kita meningkatkan <em>value </em>diri agar sesuai dengan standar yang kita ciptakan sendiri.</p>



<p>Kalau jadi sekadar referensi bagaimana menentukan standar pasangan, TikTok oke, kok. Hanya saja, kalau sampai jadi patokan yang bersifat mutlak, kok, rasanya kurang bijak, ya. Kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan sang pembuat standar, jadi lebih baik kita buat standar kita sendiri saja.</p>



<p>Kalaupun ada orang yang berlandaskan TikTok dalam menentukan kriteria pasangan, ya sudah biarkan saja. Penulis yakin ada lebih banyak orang yang tidak menggunakan TikTok semata untuk menentukan standarnya. </p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 5 Juni 2024, terinspirasi setelah menemukan banyak sekali komentar mengenai &#8220;cewek pakai standar TikTok&#8221;</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.wired.com/story/how-to-download-your-tiktok-videos/">WIRED</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/">Ketika Mencari Pasangan Menggunakan Standar TikTok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Polemik Larangan Berjualan di TikTok Shop</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-larangan-berjualan-di-tiktok-shop/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-larangan-berjualan-di-tiktok-shop/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Oct 2023 01:08:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pedagang]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[tiktok]]></category>
		<category><![CDATA[TikTok Shop]]></category>
		<category><![CDATA[UMKM]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6871</guid>

					<description><![CDATA[<p>Minggu kemarin, publik dibuat heboh dengan keputusan pemerintah yang melarang adanya kegiatan jual-beli di aplikasi TikTok. Aturan tersebut dituangkan dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2023, yang melarang media sosial menjadi social commerce. Menurut Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, seharusnya media sosial sebaiknya hanya berfungsi sebagai media sosial saja, jangan dicampur dengan fungsi lain seperti [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-larangan-berjualan-di-tiktok-shop/">Polemik Larangan Berjualan di TikTok Shop</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Minggu kemarin, publik dibuat heboh dengan keputusan pemerintah yang melarang adanya kegiatan jual-beli di <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">aplikasi TikTok</a>. Aturan tersebut dituangkan dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2023, yang melarang media sosial menjadi <em>social commerce</em>.</p>



<p>Menurut Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, seharusnya media sosial sebaiknya hanya berfungsi sebagai media sosial saja, jangan dicampur dengan fungsi lain seperti berjualan. Fungsi media sosial dalam berjualan hanya sebagai sarana promosi semata.</p>



<p>Dengan munculnya peraturan tersebut, tentu timbul pro kontra di masyrakat dan pelaku usaha. Walau kebanyakan bernada sumbang dan tidak setuju dengan keputusan tersebut, tidak sedikit yang mendukung upaya pemerintah tersebut. </p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">BACA JUGA: <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-berinvestasi-dengan-uang-panas/">Ketika Berinvestasi dengan Uang Panas</a></mark></p>
</blockquote>



<h2 class="wp-block-heading">Ditutup karena Tanah Abang Sepi?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6876" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Tanah Abang Sepi karena TikTok Shop? (<a href="https://voi.id/berita/312425/penyebab-pasar-tanah-abang-sepi">VOI</a>)</figcaption></figure>



<p>Salah satu dasar mengapa keputusan melarang TikTok Shop melakukan transaksi jual-beli adalah<strong> sepinya pasar <em>offline</em></strong>, terutama Tanah Abang. Dilansir dari berbagai sumber, banyak pedagang yang mengeluh kalau dagangannya tidak laku semenjak adanya TikTok Shop.</p>



<p>Hal ini kemungkinan dipicu karena adanya <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya/">pandemi COVID-19</a> yang membuat segala aktivitas <em>offline </em>menjadi terbatas, termasuk aktivitas jual-beli. Lantas, muncul platform yang ternyata digandrungi oleh masyarakat berupa TikTok Shop.</p>



<p>Alhasil, meskipun pandemi telah berakhir,<strong> masyarakat sudah terlanjur nyaman dengan TikTok Shop </strong>karena berbagai alasan, termasuk alasan kepraktisan karena tidak perlu keluar rumah dan harganya yang jauh lebih murah. </p>



<p>Masalahnya, harga yang ditawarkan oleh TikTok Shop memang <strong>sering terlampau murah </strong>hingga rasanya tidak masuk akal. Sebuah hijab di Tanah Abang dengan harga Rp75 ribu harus bersaing dengan hijab impor di TikTok Shop dengan harga Rp5 ribu saja.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ada Kaitannya dengan Project S?</h2>



<p>TikTok juga mendapatkan tudingan kalau mereka berusaha<strong> memonopoli perdagangan</strong> di Indonesia dan <strong>merusak harga pasar dengan <em>predatory pricing</em></strong>, praktik ilegal untuk merendahkan harga barang untuk menghilangkan persaingan. </p>



<p>Yang paling santer terdengar adalah <strong>Project S</strong>, di mana TikTok dituduh mengumpulkan data produk yang laris di Indonesia, lantas memproduksinya di China lantas menjualnya di Indonesia dengan harga yang jauh lebih murah. </p>



<p>Pihak TikTok sudah membantah hal tersebut dengan menyebutkan bahwa Project S tidak pernah ditargetkan di Indonesia. Selain itu, mereka juga tidak merasa melakukan monopoli karena tidak memiliki sistem pembayaran dan logistik sendiri. </p>



<p>TikTok juga mengungkapkan kalau mereka tidak bisa menentukan harga pasar yang bisa menyulut <em>predatory pricing</em>. Semua harga yang ada di aplikasi TikTok Shop yang menentukan adalah pihak penjual.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah TikTok Shop Sudah Memiliki Izin?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6877" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Bahlil Lahadalia (<a href="https://money.kompas.com/read/2023/09/28/200408226/menteri-bahlil-bakal-tindak-tegas-tiktok-jika-tidak-ikuti-aturan?page=all">Kompas</a>)</figcaption></figure>



<p>Alasan lain mengapa akhirnya TikTok Shop dilarang adalah karena masalah izin. Menurut Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)<strong> Bahlil Lahadalia</strong>, TikTok hanya terdaftar sebagai media sosial di Indonesia dan <strong>tidak memiliki izin untuk menjalankan toko <em>online</em></strong>. </p>



<p>Wakil Kementerian Perdagangan<strong> Jerry Sambuaga </strong>juga menegaskan kalau TikTok belum memiliki izin <em>e-commerce</em>. Izin yang sudah dimiliki oleh TikTok adalah izin mendirikan usaha agar bisa beroperasi di Indonesia.</p>



<p>TikTok sendiri telah memberikan pernyataannya dan menyebutkan bahwa mereka telah <strong>mengantongi Surat Izin Usaha Perwakilan Perusahaan Perdagangan Asing Bidang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (SIUP3A Bidang PMSE)</strong> dari Kementerian Perdagangan.</p>



<p>Pihak pemerintah sendiri melalui Bahlil secara tegas mengatakan jika TikTok tidak mau ikut aturan, maka mereka harus hengkang dari Indonesia dan izinnya terancam dicabut. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Siapa Saja yang Terdampak?</h2>



<p>Pihak TikTok melalui juru bicaranya mengatakan kalau setidaknya akan ada 1<strong>3 juta pihak yang akan terkena dampak</strong> dari pelarangan TikTok Shop ini, yang dibagi menjad<strong>i 6 juta penjual loka</strong>l dan <strong>7 juta <em>affiliate creator</em></strong>.</p>



<p>Dengan dalih melindungi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), keputusan melarang TikTok Shop untuk berjualan justru dikeluhkan oleh sebagian pelaku. Contohnya adalah pelaku UMKM di Jawa Tengah, yang menuding kalau keputusan ini hanya akal-akalan pemerintah untuk mendapatkan pajak dari TikTok Shop.</p>



<p>Padahal, TikTok Shop bisa digunakan sebagai platform untuk menyalurkan produk mereka secara <em>online.</em> Apalagi, pemerintah belum memberikan alternatif atau solusi setelah mengeluarkan larangan berjualan di TikTok Shop yang sedang ramai.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mirip dengan Kasus Ojek dan Taksi Online?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6878" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Demo Taksi Offline (<a href="https://www.liputan6.com/bisnis/read/2464867/demo-taksi-ganggu-distribusi-logistik-ibu-kota">Liputan6</a>)</figcaption></figure>



<p>Fenomena ini tentu mengingatkan kita atas &#8220;duel&#8221; antara ojek/taksi <em>online </em>melawan ojek/taksi <em>offline</em>. Transportasi <em>online </em>yang sedang <em>booming </em>dan menjadi pilihan masyarakat membuat transportasi perlahan ditinggalkan, sehingga para <em>driver </em>pun tidak mendapatkan penghasilan.</p>



<p>Setelah ada demo besar-besaran, akhirnya pemerintah mengeluarkan beberapa regulasi untuk mengatur transportasi <em>online</em>, seperti menentukan tarif dasar agar harga transportasi <em>offline </em>bisa bersaing.</p>



<p>Kasus TikTok Shop ini pun memiliki pola yang sama, di mana ada suatu <strong>sistem yang mampu mendisrupsi sistem yang lama</strong>. <em>Offline </em>digantikan <em>online</em>, yang mampu memberikan kenyamanan ekstra dan harga yang jauh lebih terjangkau.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana dengan Negara Lain?</h2>



<p>Sebenarnya bukan hal baru jika ada yang melarang TikTok Shop beroperasi di negaranya. Dilansir dari akun Instagram @ngomonginuang, <strong>India </strong>dan <strong>Pakistan </strong>bahkan melarang TikTok secara keseluruhan. Selain itu,<strong> Uni Eropa</strong> juga memberlakukan pelarangan penggabungan data media sosial dan <em>e-commerce</em>. </p>



<p>Ada beberapa negara yang mengizinkan TikTok Shop beroperasi di dalam aplikasi TikTok, seperti <strong>Amerika Serikat</strong> yang baru diresmikan pada tanggal 12 September 2023 kemarin. <strong>Inggris </strong>pun juga memberikan izin yang sama.</p>



<p>Sebagai perbandingan, aplkasi Instagram pun memiliki fitur Shop di dalam aplikasinya. Bedanya, fitur tersebut hanya mengarahkan pengguna ke laman penjualannya seperti <em>website </em>atau <em>marketplace</em>, sehingga di dalam aplikasi tidak ada transaksi apapun. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Ini Keputusan yang Tepat?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6879" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-4.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sudah Tepatkan Kebijakan Ini? (<a href="https://www.vox.com/the-goods/22412098/social-commerce-explainer">Vox</a>)</figcaption></figure>



<p>Meski Peraturan Kementerian Perdagangan telah resmi berjalan, pada praktekknya masih banyak masyarakat Indonesia yang masih berjualan di TikTok Shop. Platform tersebut masih bisa berfungsi seperti biasa.</p>



<p>Kalau menurut pendapat Penulis sendiri, ada banyak sudut pandang untuk menilai fenomena ini. Jika berasumsi bahwa pemerintah benar dan TikTok memang belum punya izin sebagai <em>e-commerce</em>, maka keputusan untuk melarang pun jadi tepat.</p>



<p>Namun, tentu pemerintah juga harus<strong> mampu menghadirkan solusi untuk pihak-pihak yang terdampak</strong>. Total 13 juta orang jelas bukan jumlah yang sedikit, dan mereka tentu harus menanggung kerugian karena tidak bisa menjual produk mereka di TikTok Shop lagi.</p>



<p>Pemerintah juga harus lebih tegas dalam <strong>membatasi produk impor</strong> yang masuk ke dalam Indonesia. Rendahnya harga barang di TikTok Shop tentu perlu dicurigai, jangan-jangan masuknya secara ilegal sehingga tidak membayar bea cukai.</p>



<p>Masyarakat pada umumnya jelas memilih produk yang lebih murah, tak peduli itu barang impor maupun buatan dalam negeri. Ini juga menjadi tantangan untuk UMKM agar bisa menghadirkan barang berkualitas dengan harga yang bersaing.</p>



<p>Jika melihat tujuannya untuk melindungi UMKM, rasanya penutupan TikTok Shop kurang tepat (dengan asumsi mereka telah memiliki izin) karena platform tersebut justru bisa <strong>dimanfaatkan untuk memasarkan produk mereka</strong>. </p>



<p>Logikanya, dengan berjualan <em>online </em>di TikTok Shop, maka para pelaku usaha tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menyewa lapak untuk menampilkan produk-produk mereka. Mereka bisa berjualan dari rumah dan memasarkan produknya langsung ke calon-calon pembeli.</p>



<p>Para pelaku UMKM pun harus menyadari kalau<strong> <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/netflix-dan-fenomena-disrupsi-yang-tengah-dihadapinya/">disrupsi itu bisa terjadi di segala bidang</a></strong>, termasuk berdagang. Sama seperti taksi konvensional yang perlahan digantikan taksi <em>online</em>, toko konvensional pun sangat mungkin tergusur oleh toko <em>online</em>.</p>



<p>Dengan adanya perubahan yang begitu masif di era digital ini, kita yang harus mampu beradaptasi dengan keadaan. Jika tren belanja masyarakat telah bergeser, maka para pelaku usaha pun harus menyesuaikan diri dengan tren tersebut agar bisa bertahan.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 2 Oktober 2023, terinspirasi setelah mendengar kabar mengenai ditutupnya TikTok Shop oleh pemerintah karena beberapa alasan</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://searchengineland.com/tiktok-shop-visual-search-428235">Search Engine Land</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://bisnis.tempo.co/read/1778390/tiktok-shop-masih-bisa-dipakai-jualan-atau-tidak-ini-batas-waktunya?tracking_page_direct">Tiktok Shop Masih Bisa Dipakai Jualan atau Tidak? Ini Batas Waktunya &#8211; Bisnis Tempo.co</a></li>



<li><a href="https://www.instagram.com/ngomonginuang/?hl=en&amp;img_index=1">Ngomongin Uang (@ngomonginuang) • Instagram photos and videos</a></li>



<li><a href="https://banyumas.tribunnews.com/2023/10/01/pelaku-umkm-keluhkan-larangan-berjualan-di-tiktok-shop-tuding-akal-akalan-pemerintah-pungut-pajak">Pelaku UMKM Keluhkan Larangan Berjualan di Tiktok Shop, Tuding Akal-akalan Pemerintah Pungut Pajak &#8211; Tribunbanyumas.com (tribunnews.com)</a></li>



<li><a href="https://www.suaramerdeka.com/nasional/0410346476/pasar-tanah-abang-makin-sepi-konsumen-curhat-soal-parkir-liar-di-sana-ada-oknum-yang-narikin">Pasar Tanah Abang Makin Sepi, Konsumen Curhat Soal Parkir Liar di Sana: Ada Oknum yang Narikin… &#8211; Suara Merdeka</a></li>



<li><a href="https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20230930081239-92-1005455/kritik-bahlil-dan-luhut-ke-tiktok-shop-usai-larangan-jualan-transaksi">Kritik Bahlil dan Luhut ke TikTok Shop usai Larangan Jualan-Transaksi (cnnindonesia.com)</a></li>



<li><a href="https://bisnis.tempo.co/read/1776242/akui-punya-izin-e-commerce-ini-bantahan-tiktok-sebelum-dilarang-jokowi-berjualan">Akui Punya Izin E-Commerce, Ini Bantahan TikTok Sebelum Dilarang Jokowi Berjualan &#8211; Bisnis Tempo.co</a></li>



<li><a href="https://money.kompas.com/read/2023/09/25/184317926/kemendag-bantah-tiktok-punya-izin-e-commerce">Kemendag Bantah TikTok Punya Izin E-commerce (kompas.com)</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-larangan-berjualan-di-tiktok-shop/">Polemik Larangan Berjualan di TikTok Shop</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-larangan-berjualan-di-tiktok-shop/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lato Lato, Mandi Lumpur, dan Pengaruh TikTok yang Luar Biasa</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/lato-lato-mandi-lumpur-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/lato-lato-mandi-lumpur-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Mar 2023 15:45:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[latah]]></category>
		<category><![CDATA[lato lato]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh]]></category>
		<category><![CDATA[tiktok]]></category>
		<category><![CDATA[viral]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6325</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok Beberapa bulan terakhir, pasti banyak yang mendengarkan suara &#8220;tok tok&#8221; di sekitar rumah. Ternyata, sumber suara tersebut berasal dari permainan tradisional bernama lato lato, yang jika dideskripsikan terdiri dari dua bola dan tali. Cara bermainnya pun sederhana, di mana pemain harus bisa membuat dua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/lato-lato-mandi-lumpur-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa/">Lato Lato, Mandi Lumpur, dan Pengaruh TikTok yang Luar Biasa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok</p></blockquote>



<p>Beberapa bulan terakhir, pasti banyak yang mendengarkan suara &#8220;tok tok&#8221; di sekitar rumah. Ternyata, sumber suara tersebut berasal dari permainan tradisional bernama <strong>lato lato</strong>, yang jika dideskripsikan terdiri dari dua bola dan tali.</p>



<p>Cara bermainnya pun sederhana, di mana pemain harus bisa membuat dua bola tersebut saling beradu dan menghasilkan suara &#8220;tok tok&#8221;. Semakin mahir memainkannya, semakin cepat punya kedua bola tersebut saling beradu.</p>



<p>Setelah ditelusuri, ternyata viralnya permainan lato lato ini berasal dari TikTok, walau Penulis sendiri kurang tahu past siapa atau peristiwa apa yang menjadi inisiatornya. Yang jelas, secara cepat bak ekspansi gerai Mixue, banyak orang terutama anak kecil yang ikut memainkannya. </p>





<h2 class="wp-block-heading">Pro dan Kontra Lato Lato</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6381" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Lato Lato (<a href="https://katasumbar.com/viral-di-sumbar-benarkah-kata-lato-lato-berarti-aku-yahudi-cek-faktanya-disini/">Kata Sumbar</a>)</figcaption></figure>



<p>Dari yang Penulis perhatikan, ada dua kubu dalam menyikapi viralnya lato lato yang dimainkan oleh anak-anak. Seperti kebanyakan kasus, ada pihak yang pro dan ada pula pihak yang kontra.</p>



<p>Pihak yang pro mengatakan mereka senang melihat anak-anak kecil yang bermain lato lato karena itu membuat mereka menjauh sesaat dari gawai. Melihat mereka bermain permainan tradisional juga menimbulkan perasaan nostalgia kepada generasi yang lebih tua.</p>



<p>Seperti yang kita tahu, penggunaan gawai di kalangan anak-anak cukup memprihatinkan dengan durasi yang cukup lama. Adanya permainan tradisional yang mau mereka mainkan bisa menjadi jeda yang cukup solutif.</p>



<p>Di pihak yang kontra, mereka merasa terganggu karena suara yang dihasilkan oleh lato lato cukup berisik. Suara &#8220;tok tok&#8221; seolah terdengar dari pagi, siang, sore, bahkan malam. Tentu ini sangat menganggu orang-orang yang sedang istirahat ataupun butuh ketenangan.</p>



<p>Bahkan, ada yang <em>su&#8217;udzon </em>dengan mengatakan kalau anak-anak itu main di luar karena orang tua mereka sendiri merasa terganggu. Entah ini benar atau salah, yang jelas suara keras yang dihasilkan oleh lato lato memang cukup mengganggu.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pengaruh Besar TikTok yang Cukup Mengkhawatirkan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="575" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-2-1024x575.jpg" alt="" class="wp-image-6382" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-2-1024x575.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-2-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-2-768x431.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-2.jpg 1200w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sering Disebut Ngemis Online (<a href="https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-6513481/viral-tren-mandi-lumpur-di-tiktok-dokter-kulit-sebut-efeknya-bisa-begini">Detik Health</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis pribadi tidak merasa terlalu terganggu dengan suara lato-lato yang bahkan masih terdengar setelah beberapa bulan lalu mulai viral. Penulis justru resah sumber dari viralnya permainan tradisional ini: <strong>TikTok</strong>.</p>



<p>Kebetulan, Penulis sudah agak lama <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">berhenti menggunakan TikTok</a> karena beberapa alasan, sehingga sering <em>out-of-date</em> alias ketinggalan apa yang sedang viral. Kalau sudah heboh seperti lato lato, baru akhirnya Penulis <em>ngeh </em>dan mencari tahu lebih dalam.</p>



<p>Kasus lato lato yang baru saja terjadi seolah menggambarkan betapa dahsyatnya pengaruh TikTok dalam memviralkan sesuatu. Mungkin hanya diawali oleh satu orang, ribuan atau bahkan mungkin jutaan orang akan mengikutinya, kadang hanya karena ikut-ikutan.</p>



<p>Lato lato mungkin hampir tidak memiliki efek yang negatif, selain menghasilkan polusi suara. Namun, bagaimana dengan hal viral lain seperti berlomba-lomba mengemis dengan cara yang menyiksa diri?</p>



<p>Seperti yang kita tahu, selain lato lato, yang sedang ramai berkat TikTok adalah adanya oknum-oknum yang rela melakukan hal konyol/berbahaya demi mendapatkan beberapa rupiah dari penonton. Contohnya adalah aksi mandi lumpur yang sempat ramai.</p>



<p>Tidak hanya itu, bahkan beberapa oknum juga memanfaatkan orang tua yang sudah lansia untuk meningkatkan pendapatan mereka dari TikTok. Bagi Penulis, perbuatan-perbuatan seperti ini sudah kelewat bebas dan sudah seharusnya dihentikan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tapi, Itu Kan Mereka Berusaha untuk Mendapatkan Pendapatan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6383" width="740" height="493" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption>Apakah Perbuatan Ini Dapat Dibenarkan? (<a href="https://www.detik.com/bali/nusra/d-6524270/7-lansia-live-tiktok-mandi-lumpur-warga-lain-antre">Detik</a>)</figcaption></figure>



<p>Mungkin ada yang kontra dengan pendapat ini karena seolah mematikan rezeki orang. Toh, apa yang mereka lakukan tidak merugikan orang lain, dan yang memberi pun merasa terhibur. Mereka tidak keberatan berbagi rezeki atas &#8220;usaha&#8221; yang mereka lakukan.</p>



<p>Itu ada benarnya, tetapi bukannya mendapatkan pendapatan dengan cara yang kurang baik juga sebaiknya tidak dilakukan. Sama seperti Pesulap Merah yang membongkar praktik dukun, itu akan mematikan penghasilan si dukun yang memang didapat dengan cara buruk.</p>



<p>Kalau sekadar melakukan hal konyol yang bisa mengundang tawa penonton, Penulis tidak akan mempermasalahkannya. Namun, contoh-contoh berbahaya seperti mandi lumpur menurut Penulis sudah seharusnya tidak diteruskan.</p>



<p>Mengingat pengaruh TikTok yang luar biasa, bukan tidak mungkin orang-orang yang awalnya cuma menonton jadi ikut-ikutan karena melihat peluang besar untuk mendapatkan uang dengan cepat.</p>



<p>TikTok sudah seharusnya menjadi wadah untuk menyalurkan kreativitas dan bakat kita agar bisa dilihat oleh publik. Sayangnya, tampaknya hal tersebut tidak terlalu mendapatkan perhatian dari pasar, yang justru lebih senang dengan hal-hal kurang berfaedah.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Pada dasarnya, TikTok hanyalah sebuah alat yang bisa digunakan dengan berbagai tujuan. Untuk hiburan, jualan, cari inspirasi, &#8220;jual diri&#8221;, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-viral/">jadi viral</a>, hampir semuanya bisa dilakukan di TikTok yang penggunanya sudah miliaran di seluruh dunia.</p>



<p>Dengan besarnya pengaruh yang dimiliki, tidak salah jika negara barat seperti Amerika Serikat seperti &#8220;ketakutan&#8221; dan kerap menggunakan alasan keamanan privasi untuk berusaha memblokir aplikasi ini, walau sampai sekarang belum terealisasi.</p>



<p>Untuk sekarang, mungkin pengaruhnya baru sekadar bermain lato lato atau mandi lumpur. Namun, siapa bisa menjamin kalau di masa yang akan datang, yang menjadi viral adalah sesuatu yang sebenarnya berbahaya namun tidak pernah kita sadari?</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 4 Maret 2023, terinspirasi dari viralnya lato lato gara-gara TikTok</p>



<p>Foto: <a href="https://hot.detik.com/tv-news/d-6478649/lato-lato-viral-mainan-ini-senjata-mematikan-di-anime-jojos-bizarre-adventure">DetikHot</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/lato-lato-mandi-lumpur-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa/">Lato Lato, Mandi Lumpur, dan Pengaruh TikTok yang Luar Biasa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/lato-lato-mandi-lumpur-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kenapa Saya Berhenti Main TikTok</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2021 22:50:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[aplikasi]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[tiktok]]></category>
		<category><![CDATA[viral]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4901</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika ditanya apa aplikasi paling populer saat ini di Indonesia, mungkin jawabannya adalah TikTok. Aplikasi yang pernah dijuluki sebagai &#8220;aplikasi goblok&#8221; ini rasanya hampir terpasang di semua gawai generasi milenial. Penulis pun sempat mengunduhnya dan memakainya selama beberapa bulan. Ternyata, TikTok bukan sekadar aplikasi buat joget-joget. Ada banyak ilmu dan inspirasi yang bisa kita dapatkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">Kenapa Saya Berhenti Main TikTok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Jika ditanya apa aplikasi paling populer saat ini di Indonesia, mungkin jawabannya adalah <strong>TikTok</strong>. Aplikasi yang pernah dijuluki sebagai &#8220;aplikasi goblok&#8221; ini rasanya hampir terpasang di semua gawai <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/mempengaruhi-generasi-milenial/">generasi milenial</a>.</p>



<p>Penulis pun sempat mengunduhnya dan memakainya selama beberapa bulan. Ternyata, TikTok bukan sekadar aplikasi buat joget-joget. Ada banyak ilmu dan inspirasi yang bisa kita dapatkan dari sini.</p>



<p>Hanya saja, pada akhirnya Penulis memutuskan untuk berhenti main TikTok dan menghapusnya dari ponsel. Apa alasannya?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Algoritma Candu</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4903" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Dibuat Sebagai Candu (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://prototypr.io/news/how-the-tiktok-algorithm-works/">Prototypr</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis pernah membuat artikel berjudul <em><a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">Dilema (Media) Sosial Kita</a> </em>yang terinspirasi dari film dokumenter berjudul <em>The Social Dilemma</em>. Pada film tersebut, kita akan melihat pengakuan orang-orang yang pernah terlibat dengan pembuatan media sosial.</p>



<p>Salah satu hal yang mengerikan adalah bagaimana semua <em>platform </em>tersebut berlomba-lomba untuk membuat kita betah menggunakannya selama berjam-jam. Istilahnya adalah <strong>algoritma candu</strong>.</p>



<p>Berbeda dengan <em>timeline </em>Instagram dan Twitter yang hanya menampilkan akun yang kita <em>follow</em>, TikTok akan terus menunjukkan video-video yang sesuai dengan preferensi kita tanpa perlu mem-<em>follow </em>akun yang membuat video tersebut. </p>



<p>Apalagi, fitur <em>unlimited scroll</em>-nya benar-benar membuat kita tidak merasa sudah menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar. Dengan algoritma candu yang dimiliki, TikTok menjadi aplikasi yang cocok untuk menghabiskan waktu.</p>



<p>Penulis juga salah satunya. Meskipun sudah menggunakan aplikasi yang membatasi waktu penggunaan, tetap saja terkadang Penulis melanggar dan memainkan aplikasi TikTok melebih jatah waktu harian. </p>



<p>Dulu Penulis membela diri dengan berkata kepada diri sendiri kalau ada banyak manfaat dari TikTok. Bahkan, Penulis mencatat beberapa ilmu yang tanpa sengaja Penulis temukan di buku catatannya.</p>



<p>Akan tetapi, sekarang Penulis sadar kalau itu semua hanya alibi semata untuk bisa bermain TikTok lebih lama. Semakin lama kita menggunakan TikTok, semakin mereka mendapatkan keuntungan dari &#8220;menjual&#8221; preferensi kita ke klien mereka.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Banyak Manfaatnya <em>sih, </em>tapi&#8230;</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4904" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Banyak Baik atau Buruknya? (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.thejakartapost.com/life/2020/02/20/banned-and-adored-tiktok-in-a-nutshell.html">The Jakarta Post</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis mengakui ada banyak ilmu yang bisa didapatkan di TikTok. Banyak <em>content creator </em>yang lihai membuat konten edukasi dengan format yang menyenangkan atau konten motivasi yang sangat menginspirasi.</p>



<p>Pertanyaannya, <strong>apakah kita membutuhkan semua informasi tersebut?</strong></p>



<p>Dari pengalaman Penulis sendiri yang mencatat berbagai ilmu di TikTok, mayoritas apa yang sudah dicatat tidak pernah dibutuhkan sampai sekarang. Semua inspirasi dan motivasi yang lewat pun sekarang sudah terlupa begitu saja.</p>



<p>Jika kita membutuhkan bantuan dalam mengerjakan sesuatu, bukankah ada Google? Misal ada orang yang <em>sharing </em>tentang <em>Digital Marketing</em>, bukankah banyak situs yang menjelaskan tentang hal tersebut bahkan secara lebih terperinci?</p>



<p>Misal ada orang yang <em>sharing </em>tentang penggunaan bahasa Inggris yang benar, bukankah Google juga sudah menyediakan banyak jawaban dari berbagai sumber? Seberapa banyak informasi yang kita lihat selintas di TikTok bertahan di pikiran kita?</p>



<p>TikTok memang memiliki banyak manfaat, terutama kalau kita suka menonton video-video yang memiliki <em>value</em> sehingga kita terus diberikan rekomendasi video serupa.</p>



<p>Pertanyaannya, <strong>lebih banyak mana video yang seperti itu dibandingkan video yang kurang bermanfaat?</strong></p>



<p>Entah itu video yang pamer kemolekan tubuhnya, pertunjukkan kecantikan/ketampanan paras wajah, pamer kekayaan ala sultan, drama tidak penting, dan lain sebagainya. Ada saja &#8220;racun&#8221; yang muncul di linimasa dan bisa memengaruhi pola pikir kita.</p>



<p>Belum lagi kemungkinan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-orang-suka-membuat-hoax/">tersebarnya berita hoax</a> yang bisa menimbulkan ketakutan. Penulis ingat ketika ada informasi kalau Jawa akan terkena tsunami. Padahal, berita aslinya hanya menyebutkan potensinya, bukan akan benar-benar terjadi dalam waktu dekat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">TikTok dan Cepatnya Hal Menjadi Viral</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4905" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Kenapa Harus Viral? (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://teknodila.com/sosmed/408/filter-ig-chika-yang-viral-dengan-goyangan-asik-di-tiktok.html">TEKNO DILA</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis paling sering mengkhawatirkan besarnya pengaruh aplikasi ini ke penggunanya, terutama generasi milenial. Coba dihitung sudah berapa kali <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-viral/"><strong>apa yang viral di TikTok</strong></a> menjadi begitu populer bahkan sampai diundang ke berbagai stasiun televisi.</p>



<p>Masalahnya, seringkali hal yang viral adalah hal yang tidak jelas dan kurang berfaedah. Kita juga seolah ikut arus begitu saja tanpa berpikir kenapa hal remeh seperti itu bisa menjadi sedemikian populer.</p>



<p>Hal ini benar-benar menjadi perhatian bagi Penulis. Kenapa jarang sekali ada orang yang kritis terhadap sesuatu yang viral? Kenapa seolah yang viral itu otomatis dianggap wajar dan seolah yang ketinggalan dianggap ketinggalan zaman?</p>



<p>Dulu, Penulis sempat merasa <em><strong>FOMO (Fear Out Missing Out)</strong> </em>jika tidak menggunakan TikTok. Takut tidak paham jika diajak bicara sama seseorang tentang apa yang <em>trending </em>saat ini.</p>



<p>Sekarang, Penulis tidak memusingkan hal tersebut sama sekali. Mau tidak paham sekalipun Penulis bisa bodo amat. Biarlah yang viral menjadi viral tanpa perlu Penulis ikut memviralkannya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Awalnya, Penulis mencoba untuk tidak membuka aplikasi TikTok selama beberapa hari. Ternyata, Penulis bisa berhenti total selama 2 bulan dan tidak merasa kehilangan apa-apa. Akhirnya, Penulis memutuskan untuk menghapus aplikasi tersebut.</p>



<p>Penulis tidak mengajak orang-orang untuk berhenti menggunakan aplikasi TikTok. Mungkin Pembaca bisa lebih bijak dalam menggunakan TikTok dibandingkan Penulis. Apalagi, TikTok bisa menjadi media hiburan yang berkualitas dengan kehadiran <em>content creator </em>yang kreatif.</p>



<p>Hanya saja, Penulis merasa TikTok lebih banyak buruknya dibandingkan manfaatnya bagi dirinya sendiri. Aplikasi ini terasa sebagai aplikasi kontra-produktif yang membuat Penulis membuang-buang waktunya.</p>



<p>Tidak hanya TikTok, Penulis hampir mengurangi semua aktivitasnya di media sosial. Penulis menghapus Twitter di ponselnya dan menggunakan Instagram hanya untuk membaca komik dari <em>author </em>favoritnya.</p>



<p>Harapannya, Penulis menjadi lebih produktif dan bisa memanfaatkan waktunya untuk melakukan hal yang lebih bermanfaat seperti menulis artikel blog ataupun baca buku. </p>



<p></p>



<p></p>



<p>Lawang, 19 April 2021, terinspirasi setelah menghapus aplikasi TikTok</p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.thejakartapost.com/news/2020/08/28/tiktok-booms-in-southeast-asia-as-it-picks-path-through-political-minefields.html">The Jakarta Post</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">Kenapa Saya Berhenti Main TikTok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apresiasi Salah Tempat</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/apresiasi-salah-tempat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/apresiasi-salah-tempat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Jul 2018 13:35:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[anak muda]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[industri]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[penghargaan]]></category>
		<category><![CDATA[tiktok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=942</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selain di lingkungan penulis, mungkin aplikasi tiktok dan para penggunanya tengah hangat menjadi bahan pembicaraan. Ya, walaupun kebanyakan bernada negatif sih. Sebagai seorang pemerhati perkembangan remaja di Indonesia, penulis merasa butuh untuk mengetahui apa yang sebenarnya tengah terjadi dan apakah memang seburuk seperti yang dikatakan oleh orang-orang. Apa Itu Tiktok? Dimulai dari aplikasinya sendiri, penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apresiasi-salah-tempat/">Apresiasi Salah Tempat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Selain di lingkungan penulis, mungkin aplikasi tiktok dan para penggunanya tengah hangat menjadi bahan pembicaraan. Ya, walaupun kebanyakan bernada negatif sih.</p>
<p>Sebagai seorang pemerhati perkembangan remaja di Indonesia, penulis merasa butuh untuk mengetahui apa yang sebenarnya tengah terjadi dan apakah memang seburuk seperti yang dikatakan oleh orang-orang.</p>
<p><strong>Apa Itu Tiktok?</strong></p>
<p>Dimulai dari aplikasinya sendiri, penulis secara kasar beranggapan bahwa aplikasi ini merupakan aplikasi <em>lypsinc </em>yang oleh penggunanya dimodifikasi sedemikian rupa, termasuk memberikan efek transisi yang berputar-putar, agar lebih terlihat menarik. Mirip dengan Musical.ly mungkin.</p>
<p>Agar adil, penulis berusaha mencari informasi dari sudut pandang yang berbeda. Untunglah, bang David dari channel Youtube <em>Gadgetin </em>dengan baik hati mau memberikan <em>review </em>tentang aplikasi yang bisa dicari di Play Store dengan kata kunci &#8220;aplikasi goblok&#8221;, sehingga penulis tidak perlu mengunduh aplikasi ini di gawai penulis.</p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/_kpANyCcHdw" width="560" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p>Dari bang David, penulis baru memahami bahwa sebenearnya aplikasi ini secara fungsi sama dengan Instagram maupun Youtube, yakni sebagai media hiburan. Kita bisa melihat berbagai macam video yang diposting oleh pengguna Tiktok lainnya.</p>
<p>Yang jadi masalah ternyata bukan aplikasinya, melainkan penggunanya. Banyak konten-konten yang tidak pantas untuk disebar di dunia maya membuat aplikasi ini tampak murahan.</p>
<p><strong>Terkenal Berkat Aplikasi</strong></p>
<p>Di antara banyak pengguna tersebut, muncullah orang-orang yang tiba-tiba terkenal dan memiliki basis penggemar yang lumayan fanatik. Penulis tidak akan menyebutkan namanya, toh pasti pembaca sudah mengetahui siapa-siapa yang dimaksud.</p>
<p>Yang lebih bikin geleng kepala lagi, para <em>tiktoker </em>ini bisa mengadakan <em>meet and greet </em>berbayar dan diikuti oleh banyak orang. Bahkan dari beberapa yang penulis baca, artis tiktok ini sampai meninggalkan fansnya karena dianggap ricuh.</p>
<p>Tentu banyak orang-orang yang merasa bahwa ini tidak benar. Ia tidak punya karya yang orisinil, ia berkarya tanpa mengeluarkan modal. Penggemarnya membela, berkata bahwa apa yang pujaan mereka lakukan merupakan bentuk kreativitas. Harusnya sebagai sesama anak bangsa kita bisa mengapresiasi hal tersebut.</p>
<p>Nah, di situlah penulis merasa sedih.</p>
<p><strong>Apresiasi Salah Tempat</strong></p>
<p>Sebenarnya lucu ketika ada pendapat seperti itu. Memang benar bahwa kita harus menghargai kerja keras orang lain. Toh pengguna tiktok dan aplikasi sejenis juga pasti melakukan berbagai latihan agar bisa menghasilkan karya seperti itu.</p>
<p>Masalahnya, kenapa apresiasi tersebut tidak pernah kita berikan kepada orang-orang yang karyanya lebih butuh mendapatkan perhatian karena mereka mencurahkan segara daya dan ciptanya dalam menghasilkan karya?</p>
<p>Coba, seberapa besar apresiasi yang pernah kita berikan untuk komikus? Seberapa tahu kita siapa saja komikus di Indonesia? Padahal harga komik mereka lebih murah dari harga tiket <em>meet and greet </em>yang hanya mendapatkan salaman dan <em>selfie </em>bersama (mungkin).</p>
<p><div id="attachment_943" style="width: 543px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-943" class="size-full wp-image-943" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/bm-bm-fix1.jpg" alt="" width="533" height="800" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/bm-bm-fix1.jpg 533w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/bm-bm-fix1-200x300.jpg 200w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/bm-bm-fix1-170x255.jpg 170w" sizes="auto, (max-width: 533px) 100vw, 533px" /><p id="caption-attachment-943" class="wp-caption-text">Komikus Indonesia (https://deasyelsara.wordpress.com/category/portfolio/page/2/)</p></div></p>
<p>Coba, seberapa besar apresiasi yang pernah kita berikan untuk musikus? <em>Playlist </em>penuh dengan lagu-lagu Barat yang kekinian, merasa lagu lokal kampungan dan tidak keren. Penulis belum pernah menemukan ada pengguna Tiktok menggunakan lagu Indonesia, walaupun ada orang India yang luar biasa kreatif dalam menciptakan video tiktok dengan menggunakan lagu India (catatan: orang India tersebut sama sekali tidak berusaha sok tampan!).</p>
<p>Coba, seberapa besar apresiasi yang pernah kita berikan untuk perfilman Indonesia? Jika ada film luar negeri yang jauh lebih mentereng, pasti kita lebih memilih film tersebut. Film lokal jarang sekali mendapat tempat sebesar film Barat.</p>
<p>Kita sama sekali tidak pernah memberi apresiasi kepada mereka, sekarang sok mau mengatakan bahwa kita harus mengapresiasi pengguna Titktok? Mikir!!!</p>
<p>Tulisan ini tidak untuk menyerang pihak-pihak tertentu, tulisan ini digunakan untuk dijadikan bahan renungan kita. Penulis sendiri pun menyadari bahwa terkadang pun penulis masih kurang dalam memberikan apresiasi kepada insan-insan kreatif di Indonesia.</p>
<p>Semoga dengan tulisan ini, kita dapat berbenah dalam memberikan penghargaan kepada industri kreatif di Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 3 Juni 2018, terinspirasi setelah diberi tahu ada artis Tiktok yang bernama permen</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://gadgetren.com/2018/03/16/apa-itu-tik-tok-video-media-sosial/">https://gadgetren.com/2018/03/16/apa-itu-tik-tok-video-media-sosial/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apresiasi-salah-tempat/">Apresiasi Salah Tempat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/apresiasi-salah-tempat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
