<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tuhan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/tuhan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/tuhan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 Apr 2023 13:58:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Tuhan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/tuhan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sungguh, Berharap ke Manusia Itu Benar-Benar Mengecewakan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Apr 2023 14:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[berharap]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kecewa]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6435</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.&#8221; -Ali bin Abi Thalib- Sebagai makhluk yang lemah dan penuh kekurangan, berharap kepada sesama manusia menjadi sesuatu yang sangat lumrah. Dalam keseharian kita, tak pernah luput dari aktivitas tersebut. Hanya saja, terkadang kita tidak sadar ketika sedang menaruh harapan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/">Sungguh, Berharap ke Manusia Itu Benar-Benar Mengecewakan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.&#8221;</p>



<p>-Ali bin Abi Thalib-</p>
</blockquote>



<p>Sebagai makhluk yang lemah dan penuh kekurangan, <strong>berharap kepada sesama manusia</strong> menjadi sesuatu yang sangat lumrah. Dalam keseharian kita, tak pernah luput dari aktivitas tersebut.</p>



<p>Hanya saja, terkadang kita tidak sadar ketika sedang menaruh harapan kita kepada orang lain. Setidaknya, Penulis merasa seperti itu hingga pada akhirnya tersadar dalam satu titik dan membuat dirinya melakukan refleksi diri tentang apa itu berharap kepada manusia.</p>





<p>Mari kita renungkan. Ketika kita <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menolong-orang-secara-berlebihan/">menolong seseorang</a>, apakah kita berharap ia membalas kebaikan kita atau apa yang kita lakukan tanpa pamrih? Apakah kita sebenarnya berharap setidaknya yang ditolong memberikan respons yang baik?</p>



<p>Ketika kita berhasil mengerjakan pekerjaan di tempat kerja dengan baik, apakah kita berharap mendapatkan pujian dan bonus dari atasan? Apakah kita sebenarnya berharap kalau derajat kita di mata kolega kantor menjadi lebih tinggi?</p>



<p>Ketika kita merasa membutuhkan pertolongan dari orang lain, apakah kita benar-benar menggantungkan diri kepada orang tersebut? Apakah kita sebenarnya lupa kalau yang bisa menolong kita hanyalah Tuhan, yang bisa menolong lewat perantara apapun?</p>



<p>Ketika kita berbuat baik di lingkungan, apakah kita berharap akan disanjung oleh para warga yang melihatnya? Apakah kita sebenarnya melakukannya hanya demi terlihat baik di mata orang lain dan melupakan esensi dari perbuatan baik yang dilakukan.</p>



<p>Ketika kita menyayangi seseorang, apakah kita berharap ia akan menyayangi kita juga? Apakah kita ingin diperlakukan oleh dia sebagaimana kita memperlakukan mereka? Apakah kita sebenarnya hanya <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gejolak-nafsu-kawula-muda/">menuruti hawa nafsu</a> semata yang berkedok cinta?</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Itu adalah beberapa contoh bentuk &#8220;berharap kepada manusia&#8221; yang setidaknya Penulis sadari pernah (dan mungkin masih) dilakukan. Memang kesannya semua hal tersebut manusiawi dan wajar saja jika terjadi. Namanya juga manusia.</p>



<p>Namun, Penulis menyadari bahwa berharap kepada manusia dalam bentuk apapun kerap kali menimbulkan perasaan kecewa, jika harapan tersebut tidak terwujud. Bahkan, tak jarang jika hal tersebut justru berbalik menjadi hal yang buruk ke kita.</p>



<p>Contohnya, kita berharap kepada kawan kita untuk menolong kita. Ternyata, kita justru dimanfaatkan demi kepentingannya sendiri. Orang yang kita percayai sebegitu tingginya, ternyata menusuk kita dari belakang. Ia menghancurkan harapan kita begitu saja.</p>



<p>Kita berharap ke sesama manusia begitu tinggi, sehingga seolah melupakan adanya peran Tuhan dalam kehidupan kita. Memang, pada prakteknya rasanya hampir mustahil kita tidak berharap kepada manusia. </p>



<p>Rasanya sulit untuk tidak berharap mendapatkan bonus jika target di tempat kerja berhasil dicapai sebelum tenggat dan kita selalu bekerja melebihi <em>workload </em>yang diberikan. Rasanya sulit untuk berbuat baik tanpa mendapatkan apresiasi yang cukup.</p>



<p>Hampir mustahil rasanya kita tidak berharap dicintai oleh orang yang kita cintai. Perasaan kompleks yang dimiliki oleh manusia ini sangat &#8220;haus&#8221; akan balasan, sehingga rasanya sulit untuk bisa mencapai level &#8220;menyayangi dengan ikhlas&#8221; dan tidak mengharapkan balasan.</p>



<p>Yang ingin Penulis ingatkan untuk dirinya sendiri di tulisan ini adalah, setidaknya, mampu mengurangi kadar berharap ke manusia. Penulis ingat kalau sebagai sesama manusia, kita ini sama-sama makhluk yang lemah dan penuh dengan kekurangan.</p>



<p>Mengapa tidak berharap ke entitas yang Maha Kuat dan Maha Kuasa, yakni <strong>Tuhan</strong>? Secara logika, tentu kita seharusnya berharap kepada sesuatu yang lebih kuat dari kita, bukan kepada yang satu level atau bahkan lebih rendah levelnya dari kita.</p>



<p>Ketika kita menolong orang atau berbuat baik, lebih baik kita niatkan untuk mendapatkan rida dari Tuhan. Ketika kita melakukan pekerjaan dengan baik, niatkan untuk mendapatkan rida dari Tuhan. Ketika mencintai seseorang, niatkan untuk mendapatkan rida Tuhan.</p>



<p>Penulis bukan tipe orang yang super religius yang keimanan dan ketakwaannya sudah selangit sehingga sudah tidak pernah berharap ke manusia. Justru, Penulis menulis artikel ini karena merasa dirinya masih sangat sering berharap kepada sesama manusia.</p>



<p>Semoga saja setelah menulis artikel ini, Penulis (dan Pembaca sekalian) bisa mulai mengurangi harapannya kepada sesama manusia. Sebagai makhluk sosial, tentu kita tetap saling membutuhkan dan melakukan interaksi seperti pada umumnya.</p>



<p>Namun, sebisa mungkin kita tidak menggantungkan harapan apapun kepada sesama manusia. Selain karena lebih banyak membuat kecewanya, ada Tuhan yang lebih layak kita gantungkan harapan kepada-Nya.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 11 April 2023, terinspirasi setelah menyadari (lagi) kalau berharap ke sesama manusia itu mengecewakan</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-female-mobster-pointing-the-gun-on-man-7299584/">cottonbro studio</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/">Sungguh, Berharap ke Manusia Itu Benar-Benar Mengecewakan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pernah Terpikir untuk Bunuh Diri?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Jul 2021 01:21:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[bunuh diri]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[mati]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[ujian]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5122</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam hidup, manusia akan selalu menjumpai yang namanya masalah. Kok manusia, kucing aja pun punya masalah seperti di mana mencari makan atau buang pup. Masalah pun bermacam-macam. Ada yang ringan, ada yang berat. Ada yang karena pekerjaan, percintaan, hubungan sosial, global warming, konspirasi elit politik, dan lain sebagainya. Terkadang, kita pernah tertimpa masalah hingga membuat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri/">Pernah Terpikir untuk Bunuh Diri?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam hidup, manusia akan selalu menjumpai yang namanya masalah. Kok manusia, kucing aja pun punya masalah seperti di mana mencari makan atau buang pup.</p>



<p>Masalah pun bermacam-macam. Ada yang ringan, ada yang berat. Ada yang karena pekerjaan, percintaan, hubungan sosial, <em>global warming</em>, konspirasi elit politik, dan lain sebagainya.</p>



<p>Terkadang, kita pernah tertimpa masalah hingga membuat kita goyah untuk bertahan hidup. Akhirnya, terbesit pikiran untuk mengakhirinya. Bunuh diri.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Berawal dari Chester</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5124" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Chester Bennington (<a href="http://globalradio.co.id/news/detail/2444/semarang-masuk-dalam-video-tribute-to-chester-bennington">Global Radio</a>)</figcaption></figure>



<p>Pertama kali Penulis memiliki <em>concern </em>terhadap isu bunuh diri adalah setelah kematian vokalis Linkin Park, <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/chester-2-tahun-yang-lalu/"><strong>Chester Bennington</strong></a>, yang memilih untuk menggantung dirinya.</p>



<p>Hingga kini, tidak bisa dipastikan apa yang menjadi penyebab Chester melakukan hal tersebut dan membuat para fansnya menangisi kematiannya. </p>



<p>Apalagi, banyak lagu yang ia nyanyikan mampu menyelamatkan banyak nyawa. Ketika membaca kolom komentar di YouTube, banyak yang mengaku mendapatkan semangat hidup dari lagu-lagu Linkin Park.</p>



<p>Penulis pun berpikir, apa masalah yang menimpanya hingga membuatnya berpikir kematian adalah satu-satunya jalan keluar? Apakah hidup sebegitu mengerikannya sehingga ia merasa putus asa?</p>



<p>Sebagai <a href="https://whathefan.com/karakter/suka-duka-seorang-pemikir/">orang yang pemikir</a>, Penulis pun merenungkan hal ini. Merenungkan mengapa ada manusia yang berpikir kematian lebih baik dari pada kehidupan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kenapa Terpikir untuk Bunuh Diri?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5126" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Depresi Memicu Bunuh Diri (<a href="https://unsplash.com/@elevantarts">christopher lemercier</a>)</figcaption></figure>



<p>Yang namanya manusia, mungkin pernah berada di keadaan yang membuatnya terjepit sehingga merasa kematian setidaknya akan membuatnya lepas dari masalah. Ada beberapa alasan mengapa orang memiliki pikiran untuk bunuh diri.</p>



<p>Di zaman sekarang, istilah <em>insecure </em>begitu populer. <a href="https://whathefan.com/karakter/dikit-dikit-insecure/">Dikit-dikit <em>inscure</em></a>, dikit-dikit <em>insecure</em>. Ada hal apapun yang lewat di linimasa media sosial bisa menimbulkan rasa <em>insecure</em>.</p>



<p>Perasaan <em>insecure </em>ini bisa mendorong kita untuk <strong>takut hidup</strong>. Kok, rasanya hidup ini enggak punya masa depan. Perasaan takut hidup ini bisa membuat kita merasa terjepit, sehingga mungkin merasa mati akan lebih baik.</p>



<p>Di kalangan remaja, biasanya mereka akan dengan mudah dimabuk asmara. Rasanya seolah cinta mati kepada pasangan dan seolah tidak bisa hidup tanpanya.</p>



<p>Ketika dilanda masalah, mereka menjadi begitu <strong>patah hati</strong> dan merasa tidak bisa hidup tanpanya. Tak jarang, ada yang menggunakan ancaman bunuh diri ketika sedang bertengkar, seolah nyawa adalah benda yang diobral.</p>



<p><strong>Masalah ekonomi</strong> seperti dikejar hutang dan tidak tahu cara membayarnya juga bisa menjadi salah satu pemicu bunuh diri. Penulis ingat ada salah satu artis yang terbesit untuk bunuh diri karena tidak mampu membayar hutang dalam jumlah milyaran rupiah.</p>



<p><strong>Perasaan depresi</strong>, <strong>tertekan oleh standar masyarakat</strong>, <strong>merasa jadi beban keluarga hingga merasa tidak pantas berada di dunia</strong>, <strong>tidak punya tujuan hidup</strong>, hingga <strong>kesepian </strong>menjadi beberapa alasan lainnya.</p>



<p>Ada banyak sekali alasan orang terpikir untuk bunuh diri. Intinya, mereka merasa tidak mampu untuk menghadapi ujian-ujian yang diberikan oleh Tuhan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ujian dari Tuhan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5125" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Yakin Kuat Menahan Panasnya Api Neraka? (<a href="https://www.pexels.com/@freeimages9">icon0.com</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebagai orang yang percaya dengan agama, Penulis meyakini bahwa mengakhiri hidup sendiri adalah perbuatan dosa dan melawan takdir. Dalam keyakinan yang Penulis anut, orang yang bunuh diri akan berakhir di neraka dan kekal di sana.</p>



<p>Sepahit-pahitnya kenyataan hidup di dunia, Penulis meyakini bahwa api neraka akan jauh lebih menyiksa kita. Sakit yang kita rasakan di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan sakitnya di neraka.</p>



<p>Penulis juga meyakini bahwa <strong>Tuhan tidak akan memberikan ujian yang melebihi kemampuan umat-Nya</strong>. Jika ada orang yang dihadapkan pada situasi sulit, artinya ia memiliki kemampuan untuk melewatinya.</p>



<p>Kalau kita merasa tidak mampu melewati sebuah ujian dari Tuhan, artinya kita meremehkan Tuhan. Kita mengganggap Tuhan melakukan kesalahan dengan memberikan ujian yang terlalu berat untuk dirinya.</p>



<p>Memang, manusia itu penuh keterbatasan. Ada banyak manusia yang benar-benar berada di situasi sulit yang mungkin bagi kebanyakan orang mustahil untuk dilalui.</p>



<p>Akan tetapi, kembali lagi ke keyakinan Penulis bahwa Tuhan tidak mungkin memberikan ujian yang melebihi kemampuan umat-Nya. Dengan keyakinan seperti itu, Penulis bisa &#8220;<em>ngerem</em>&#8221; dirinya ketika berada di situasi sulit.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Saya Pernah Terbesit Pikiran untuk Bunuh Diri?</h2>



<p>Jika ditanya seperti judul pada artikel ini, jawabannya adalah <strong>pernah</strong>. Namun, bukan karena ada masalah, melainkan karena penasaran siapa saja yang akan sedih dan menangisi kematian Penulis.</p>



<p>Penulis tidak tahu kenapa pernah berpikir seperti itu. Rasanya <em>random </em>saja, tiba-tiba terpikirkan tanpa direncanakan. Jika mulai berpikir yang buruk seperti itu, Penulis berusaha untuk istighfar.</p>



<p>Kadang, bayangan bunuh diri malah jadi ide untuk cerita <a href="https://whathefan.com/category/cerpen/">cerpen</a> atau <a href="https://whathefan.com/category/leonkenji/">novelnya</a>. Seandainya ditemukan orang gantung diri begini, nanti reaksi orang-orang akan begitu. Dalam waktu dekat, Penulis akan membuat cerpen yang berasal dari imajinasi liarnya ini.</p>



<p>Untungnya, pikiran-pikiran tersebut tetap bertahan di pikiran saja. Kok gantung diri atau mengiris nadi, kepalanya <em>kebentuk </em>atau kelingking menabrak kaki meja saja sakitnya bukan main kok.</p>



<p>Untungnya, Penulis bukan tipe orang yang betah sakit. Kok <em>self-harm</em>, luka ditetesin Betadine saja perihnya tidak tahan. Kok menyakiti diri sendiri, <em>mong </em>pakai Insto saja susah untuk tetap <em>melek</em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Bunuh diri tidak akan menjadi penyelesaian suatu masalah, sampai kapan pun. Mau sepahit apapun kenyataan hidup, kematian karena bunuh diri akan jauh lebih menyiksa untuk selamanya.</p>



<p>Jangan meremehkan diri sendiri. Kita semua pasti mampu melewati semua ujian yang diberikan oleh Tuhan. Pasti ada hikmah di balik masalah yang kita hadapi. Percayalah itu.</p>



<p>Jika Pembaca ada yang pernah terbesit pikiran untuk bunuh diri, silakan hubungi Penulis ataupun orang lain yang dipercaya bisa memberikan rasa nyaman.</p>



<p>Pembaca juga bisa menghubungi Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes di nomor <strong>021-500-454</strong> ataupun lembaga-lembaga lain yang dapat membantu mencegah kita untuk bunuh diri.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 27 Juli 2021, terinspirasi dari mudahnya kita berpikir untuk bunuh diri ketika sedang tertimpa masalah</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@evablue">Eva Blue</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri/">Pernah Terpikir untuk Bunuh Diri?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Merasa Lebih Hebat dari Tuhan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-hebat-dari-tuhan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Dec 2019 04:24:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[akal]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[canda]]></category>
		<category><![CDATA[hebat]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[merasa]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3170</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seperti yang sudah pernah tertulis pada tulisan-tulisan sebelumnya, penulis gemar merenungi tentang alam semesta yang luasnya tak terkira ini. Salah satu alasannya adalah karena meyakinkan penulis bahwa keberadaan Tuhan benar-benar ada. Segala keteraturan yang ada tidak mungkin hanya karena kebetulan semata. Karena memercayai keberadaan Tuhan, tentu penulis tidak akan pernah berani merasa lebih hebat dari-Nya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-hebat-dari-tuhan/">Merasa Lebih Hebat dari Tuhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti yang sudah pernah tertulis pada <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">tulisan-tulisan sebelumnya,</a> penulis gemar merenungi tentang alam semesta yang luasnya tak terkira ini.</p>
<p>Salah satu alasannya adalah karena meyakinkan penulis bahwa keberadaan Tuhan benar-benar ada. Segala keteraturan yang ada tidak mungkin hanya karena kebetulan semata.</p>
<p>Karena memercayai keberadaan Tuhan, tentu penulis tidak akan pernah berani merasa lebih hebat dari-Nya. Tapi, benarkah seperti itu?</p>
<h3>Menjalankan Perintah, Menjauhi Larangan</h3>
<p>Jika memang benar penulis tidak pernah merasa lebih hebat dari Tuhan, seharusnya penulis bisa menjalan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan baik sesuai yang tertuang di kitab suci ataupun sumber-sumber lain.</p>
<p>Kenyataannya, penulis masih sering melalaikan perintah-Nya dan melakukan apa yang telah dilarang-Nya. Padahal setiap perbuatan tersebut pasti ada ganjarannya, entah di dunia ataupun di akhirat nanti.</p>
<p>Kenapa bisa seperti itu? Ketika melakukan interopeksi, mungkin karena penulis kurang mendekatkan diri kepada Tuhan. Sebagai muslim, penulis termasuk jarang mendengarkan pengajian, baik secara langsung ataupun melalui YouTube.</p>
<p>Ibadah yang wajib pun terkadang masih ada yang tidak dilaksanakan. Dosa dan maksiat yang jelas-jelas dilarang pun masih sering dilakukan. Jika penulis benar-benar menjadi hamba-Nya yang taat, seharusnya hal tersebut tidak terjadi.</p>
<h3>Belajar Kepada yang Lebih Berilmu</h3>
<p>Jika mau sedikit lunak, sebenarnya apa yang penulis lakukan tersebut sangat manusiawi. Toh, manusia tidak bisa luput dari dosa. Yang bisa kita lakukan adalah belajar kepada yang lebih berilmu agar kita bisa semakin taat kepada-Nya.</p>
<p>Untuk urusan agama, yang lebih berilmu tentu saja ulama atau ustaz. Banyak sekali hal yang bisa kita pelajari dari ceramah-ceramah mereka. Apalagi, dengan adanya YouTube dan media sosial membuat kita bisa mengaksesnya lebih mudah.</p>
<p>Ketika menyampaikan suatu hukum dan lain sebagainya, mereka tentu merujuk kepada Alquran, Hadis, hingga pendapat-pendapat imam yang telah disepakati.</p>
<p>Karena Islam ada berbagai mazhab, perbedaan pandangan itu adalah hal yang lumrah. Kita bisa memilih mana yang paling membuat kita merasa yakin.</p>
<p>Nah, yang jadi masalah adalah ketika ada orang yang membantah perkataan ulama hanya dengan menggunakan logika ataupun dalil kemanusiaan. Bagi penulis, ini salah besar.</p>
<p>Mungkin ada ustaz-ustaz yang kurang cocok dengan kita. Akan tetapi, jangan sampai kita membuat hukum sendiri karena keterbatasan ilmu kita. Jika kurang merasa sreg, coba cari perbandingan dengan ustaz lain.</p>
<p>Kalau penulis amati akhir-akhir ini, banyak orang yang langsung menghujat ustaz karena ceramahnya dianggap kontroversi. Mereka terlihat benci kepada ustaz yang apa-apa diharamkan.</p>
<p>Padahal, beliau mengutip dari sumber yang jelas. Kita pun kemungkinan jarang mendengarkan ceramah-ceramahnya yang lain. Lantas, mengapa kita bisa menjadi sangat <em>judgemental</em>?</p>
<p>Jika sudah demikian, bukankah kita seperti menentang ayat Tuhan? Kita ini siapa kok berani-beraninya meragukan ayat Tuhan.</p>
<h3>Agama Sebagai Bahan Bercanda</h3>
<p>Satu hal lain yang sering membuat penulis mengelus dada adalah ketika agama dijadikan sebagai bahan bercanda. Fenomena ini sering penulis temukan di Twitter.</p>
<p>Penulis sama sekali tidak pernah tertawa ketika mendengar atau membaca sebuah candaan yang berkaitan dengan agama. Dalilnya di Alquran jelas.</p>
<blockquote><p><em>“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa </em>yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya BERSENDA GURAU dan BERMAIN-MAIN saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu BEROLOK-OLOK?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman… [At Taubah : 65-66]</p></blockquote>
<p>Tidak hanya agama yang penulis yakini, penulis juga sama sekali tidak senang ketika ada agama lain dijadikan bahan olok-olokan meskipun yang punya agama pun tertawa karenanya.</p>
<p>Penulis sendiri tidak habis pikir, mengapa fenomena ini seolah dianggap biasa saja. Apakah penulis yang terlalu kaku? Atau kita benar-benar telah merasa lebih hebat dari Tuhan?</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Teman penulis pernah memberi teguran bahwa iman lebih diutamakan dibandingkan akal. Kita tidak bisa melihat atau mendengar Tuhan secara langsung, sehingga dibutuhkan keimanan untuk memercayai keberadaan-Nya.</p>
<p>Penulis bukannya mau sok suci atau merasa yang paling benar. Justru, penulis menulis ini sebagai pengingat diri agar tidak merasa lebih hebat dari Tuhan yang diyakini ada sejak kecil.</p>
<p>Semoga saja tulisan ini bisa bermanfaat untuk kita semua, terutama untuk diri penulis sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 Desember 2019, terinspirasi oleh banyak hal yang membuat penulis banyak merenung</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@mindaugasbravo">Mindaugas Vitkus</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-hebat-dari-tuhan/">Merasa Lebih Hebat dari Tuhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tuhan Tidak Punya Media Sosial</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/tuhan-tidak-punya-media-sosial/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Sep 2019 14:48:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[berdoa]]></category>
		<category><![CDATA[bergantung]]></category>
		<category><![CDATA[berharap]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[harapan]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2753</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Ya Tuhan, semoga aku tabah dalam menghadapi ujian ini TT&#8221; kata A pada story WhatsApp-nya. &#8220;Kenapa bisa ada orang seperti itu Tuhan, kenapa tidak dimusnahkan saja!&#8221; kata B pada linimasa Twitter-nya. &#8220;Tolong berikan hamba rezeki yang cukup agar bisa beli skin care Tuhan&#8230;&#8221; kata C pada feed Instagram-nya. &#8220;Tolong ubah status jombloku ya Tuhan, hamba sudah tidak tahan dengan segala hinaan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/tuhan-tidak-punya-media-sosial/">Tuhan Tidak Punya Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Ya Tuhan, semoga aku tabah dalam menghadapi ujian ini TT&#8221; </em>kata A pada <em>story </em>WhatsApp-nya.</p>
<p><em>&#8220;Kenapa bisa ada orang seperti itu Tuhan, kenapa tidak dimusnahkan saja!&#8221; </em>kata B pada linimasa Twitter-nya.</p>
<p>&#8220;<em>Tolong berikan hamba rezeki yang cukup agar bisa beli skin care Tuhan&#8230;&#8221; </em>kata C pada <em>feed </em>Instagram-nya.</p>
<p>&#8220;<em>Tolong ubah status jombloku ya Tuhan, hamba sudah tidak tahan dengan segala hinaan tersebut!&#8221; </em>kata D pada kolom komentar di Webtoon.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Pernah mengeluh atau berdoa kepada Tuhan melalui media sosial? Penulis merasa tidak pernah melakukan hal ini karena menyadari sesuatu: <strong>Tuhan tidak punya media sosial!</strong></p>
<p>Keluh kesah ataupun harapan kita yang ditujukan kepada Tuhan sebenarnya bisa disampaikan secara langsung tanpa harus melalui perantara digital.</p>
<p>Tuhan itu ada di mana-mana. Tuhan itu Maha Pendengar. Apapun yang sedang kita rasakan atau pikirkan, Tuhan bisa mengetahuinya dengan mudah. Tidak ada yang bisa menyembunyikan apapun dari Tuhan.</p>
<h3>Maksud Terselubung?</h3>
<p>Jika doanya seperti &#8220;<em>teman-teman, minta doanya agar bencana di daerah kami segera mereda&#8221;, </em>penulis masih bisa memaklumi karena mungkin akan ada banyak orang yang membaca pesan tersebut dan langsung mengirimkan doa.</p>
<p>Ada juga akun yang memang mengkhususkan diri untuk mengunggah doa-doa yang sebaiknya dibaca pada saat-saat tertentu. Kalau seperti itu, penulis sangat menyetujuinya.</p>
<p>Yang penulis permasalahkan di sini adalah doa-doa yang ditujukan untuk kepentingan pribadi. Penulis berasumsi bahwa doa online tersebut memiliki maksud terselubung. Contohnya, <strong>memberi tahu orang lain tentang keadaan dirinya</strong>. Bahasa lainnya, <em>ngode</em>.</p>
<p>Buktinya ketika berusaha memosisikan diri sebagai orang yang membuat status seperti itu, penulis malah jadi menyimpan harapan agar doa dan keluhan itu ditanggapi oleh orang lain. Penulis tidak bisa menemukan alasan lain.</p>
<p>Jika bukan itu tujuannya, lantas mengapa dipublikasikan ke media sosial yang secara otomatis akan dilihat oleh ratusan bahkan ribuan orang lain? Sekadar <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/">mengekspresikan diri</a> mungkin? Rasanya tidak.</p>
<h3>Berharap Kepada Manusia</h3>
<p>Seandainya asumsi di atas benar, itu menunjukkan bahwa kita masih banyak berharap kepada manusia. Padahal, seharusnya kita hanya boleh menggantungkan harapan kepada Tuhan semata.</p>
<p>Manusia memang makhluk sosial yang membutuhkan manusia lainnya. Kita tidak akan pernah bisa hidup sendiri di dunia yang makin hari makin keras ini.</p>
<p>Akan tetapi, bukan berarti kita bisa menggantungkan diri kepada manusia secara total dan melupakan peran Tuhan di sini. Perlu diingat, segala hal yang terjadi di muka bumi ini adalah berkat izin-Nya.</p>
<p>Penulis menulis artikel ini bukan karena merasa telah bisa menggantungkan diri kepada Tuhan sepenuhnya. Justru, penulis merasa bahwa dirinya <strong><em>masih sering menggantungkan harapan kepada manusia</em></strong>.</p>
<p>Contoh kecilnya adalah perasaan kesepian yang sering penulis derita. Seharusnya, penulis tidak perlu merasa kesepian karena Tuhan selalu bersama kita. Akan tetapi, praktik selalu lebih sulit daripada teorinya.</p>
<p>Bahkan, penulis <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">memiliki ketergantungan kepada manusia agar tidak merasa sepi</a>. Jadi, tulisan ini penulis susun sebenarnya lebih bertujuan untuk mengingatkan diri sendiri.</p>
<p>Mungkin penulis memang tidak membuat status berdoa di media sosial, namun penulis nyatanya juga masih berharap kepada manusia dengan cara-cara yang lain.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Mungkin, dulu penulis pun masih pernah melakukannya ketika masih labil (memang sekarang enggak?). Mungkin, seiring dengan bertambahnya usia, kita pun makin menyadari hal ini.</p>
<p>Jika sedang kesal atau bersusah hati, utarakanlah kepada Tuhan secara langsung. Tidak perlu menuliskannya di media sosial karena Tuhan tidak butuh perantara untuk bisa mendengar kita.</p>
<p>Menuliskan isi hati di media sosial justru menunjukkan bahwa kita masih sering menggantungkan diri kepada orang lain, bukan kepada Tuhan.</p>
<p>Sekali lagi, penulis sendiri masih melakukan hal yang sama. Semoga dengan tulisan ini, kita semua bisa saling memperbaiki diri dan belajar untuk hanya berharap kepada Tuhan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 September 2019, terinspirasi dari banyaknya doa yang bertebaran di media sosial</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@khouser01">Keegan Houser</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/tuhan-tidak-punya-media-sosial/">Tuhan Tidak Punya Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memaknai Keimanan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/memaknai-keimanan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/memaknai-keimanan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Dec 2018 15:30:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kepercayaan]]></category>
		<category><![CDATA[larangan]]></category>
		<category><![CDATA[perintah]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1781</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam KBBI kita tercinta, iman memiliki makna kepercayaan yang berkaitan dengan agama. Penulis akan berusaha menjabarkannya melalui tulisan singkat ini, dengan harapan bisa bermanfaat bagi kita semua, terutama diri penulis sendiri. Akhir-akhir ini, penulis sering berpikir tentang makna keimanan lebih dalam lagi. Menjelang tidur, penulis sering merenungkan hal ini hingga mencapai sebuah kesimpulan: Iman berarti mempercayai dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/memaknai-keimanan/">Memaknai Keimanan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam KBBI kita tercinta, <strong>iman </strong>memiliki makna <strong>kepercayaan yang berkaitan dengan agama</strong>. Penulis akan berusaha menjabarkannya melalui tulisan singkat ini, dengan harapan bisa bermanfaat bagi kita semua, terutama diri penulis sendiri.</p>
<p>Akhir-akhir ini, penulis sering berpikir tentang makna keimanan lebih dalam lagi. Menjelang tidur, penulis sering merenungkan hal ini hingga mencapai sebuah kesimpulan:</p>
<blockquote><p><strong>Iman berarti mempercayai dan meyakini tanpa tapi</strong></p></blockquote>
<p>Bagaimana maksudnya? Penulis akan memberikan contoh sesuai dengan kepercayaan yang penulis anut. Sebagai umat muslim, tentu pedoman hidup yang harus penulis pegang adalah Al Quran bukan?</p>
<p>Karena penulis meyakini Al Quran sebagai pedoman hidup, artinya penulis harus meyakini isinya tanpa meragukan isinya bukan? Apa yang berada di dalamnya bersifat mutlak dan tidak mungkin salah.</p>
<p>Jujur saja, penulis sempat berpikir beberapa ayat Al Quran sedikit membuat penulis merasa tidak nyaman. Contohnya adalah hukum menggauli budak. Penulis tentu merasa bahwa harusnya hal tersebut tidak diperbolehkan.</p>
<p>Akan tetapi, penulis menyadari bahwa pengetahuan penulis amat terbatas, sehingga tidak mungkin penulis menentang ayat suci Al Quran. Dengan pemahaman ini, penulis bisa menerima hal tersebut karena menganggap Tuhan pasti memiliki alasan di baliknya.</p>
<p>Yang banyak penulis lihat di lingkungan sekitar penulis, ada beberapa yang memilah-milah ayat mana yang dipatuhi mana yang bisa dikompromikan (mungkin penulis juga masuk di dalamnya).</p>
<p><strong>Tidak boleh memilih pemimpin kafir!</strong> Tapi kan dia orangnya baik dan tegas, daripada yang muslim tapi korupsi!</p>
<p><strong>Tidak boleh meminum bir!</strong> Tapi kan saya lagi di luar negeri, ini untuk menghormati tamu yang sudah menyuguhkan ke saya!</p>
<p><strong>Wanita sebaiknya di dalam rumah!</strong> Tapi kan sekarang sudah eranya kesederajatan antara wanita dan pria!</p>
<p><strong>Jangan lupa sedekah!</strong> Tapi kan kebutuhan rumah masih banyak!</p>
<p><strong>Jangan meninggalkan sholat!</strong> Tapi kan yang penting bisa menjadi manusia yang baik, sholat hanya ritual semata!</p>
<p>Inilah terkadang yang tidak disadari oleh kita sebagai manusia. Dengan mengeluarkan argumen untuk melawan perintah Al Quran, secara sadar maupun tidak sadar kita merasa lebih hebat dari Tuhan yang telah menciptakan semesta ini.</p>
<p><strong>Siapakah kita sehingga bisa menentang perintah Tuhan kita?</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Penulis merasa berat untuk menuliskan tulisan ini, karena penulis akui masih banyak melalaikan perintah di dalam Al Quran dan melanggar apa yang dilarang. Akan tetapi, besar harapan penulis bisa menjadi hamba-Nya yang lebih baik setelah menulis tulisan semacam ini.</p>
<p>Penulis hanya ingin mengajak kepada pembaca sekalian, untuk bisa berusaha bersama-sama menjadi pribadi yang lebih baik, yang mengimani kepercayaannya tanpa menggunakan tapi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 3 Desember 2018, terinspirasi dari perenungan yang panjang</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://aboutislam.net/reading-islam/finding-peace/remembering-allah/prayers-a-special-connection-with-god/" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi9rbuF_YPfAhWGeisKHeVQCFcQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">AboutIslam.net</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/memaknai-keimanan/">Memaknai Keimanan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/memaknai-keimanan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menuhankan Pemimpin</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/menuhankan-pemimpin/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/menuhankan-pemimpin/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Oct 2018 23:00:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[lupa]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1526</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pilihan saya yang paling bisa memimpin negeri ini! Pilihan saya yang bisa menyelematkan perekonomian negara! Pemimpin saya yang paling berprestasi! Pilihan saya yang paling memperhatikan keadaan rakyatnya! Terkadang kita lupa bahwa Tuhan selalu ikut campur pada semua kejadian yang terjadi di muka bumi ini. Bahkan daun yang jatuh dari rantingnya pun tak akan terjadi tanpa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/menuhankan-pemimpin/">Menuhankan Pemimpin</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pilihan saya yang paling bisa memimpin negeri ini! Pilihan saya yang bisa menyelematkan perekonomian negara! Pemimpin saya yang paling berprestasi! Pilihan saya yang paling memperhatikan keadaan rakyatnya!</p>
<p>Terkadang kita lupa bahwa Tuhan selalu ikut campur pada semua kejadian yang terjadi di muka bumi ini. Bahkan daun yang jatuh dari rantingnya pun tak akan terjadi tanpa ijinnya, melalui hukum alam yang Ia terapkan.</p>
<p>Terkadang kita lupa bahwa <a href="http://whathefan.com/sosialpolitik/memilih-pemimpin-dengan-kedewasaan-berpolitik/">para pemimpin</a> hanya merupakan perantara Tuhan yang diberi amanah. Kita lupa bahwa kehebatan mereka tak akan terjadi jika Tuhan tidak menghendakinya.</p>
<p>Terkadang kita lupa bahwa caci maki merupakan perbuatan yang tercela. Fitnah, <a href="http://whathefan.com/sosialpolitik/di-mana-ada-peristiwa-di-situ-ada-hoax/">menyebar kabar bohong</a>, merekayasa kebenaran, sesungguhnya akan mendapat balasan yang pedih nanti di akhirat.</p>
<p>Terkadang kita lupa bahwa kita manusia tak lepas dari yang namanya salah. Lantas mengapa memaksakan sudut pandang kita kepada orang lain yang berbeda pendapat?</p>
<p>Terkadang kita lupa bahwa pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang harus bisa hidup berdampingan. Mengapa sekarang kita harus <a href="http://whathefan.com/sosialpolitik/polarisasi-masyarakat/">terpisah oleh golongan-golongan</a>?</p>
<p>Terkadang kita lupa bahwa orang yang kita puja sama dengan kita, manusia biasa. Lalu mengapa kita memperlakukannya seolah mereka adalah nabi yang tak pernah salah?</p>
<p>Terkadang kita lupa bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna di antara makhluk lainnya, namun kesempurnaan sejati hanya milik-Nya. Lantas mengapa kita seolah <strong>menuhankan pemimpin pilihan</strong> kita?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 22 Oktober 2018, terinspirasi setelah membaca judul buku Cak Nun Terbaru yang berjudul Pemimpin yang &#8220;Tuhan&#8221;</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/6U5AEmQIajg?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Jehyun Sung</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/leader?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/menuhankan-pemimpin/">Menuhankan Pemimpin</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/menuhankan-pemimpin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Tuhan Diciptakan?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-tuhan-diciptakan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-tuhan-diciptakan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Aug 2018 15:27:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[filosofis]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[kepercayaan]]></category>
		<category><![CDATA[penciptaan]]></category>
		<category><![CDATA[pertanyaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1215</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tenang, tulisan ini tidak mengandung unsur penistaan agama. Tulisan ini terinspirasi dari pertanyaan calon istri penulis salah satu anggota Karang Taruna bernama Ayu. Ia memang seringkali menanyakan pertanyaan-pertanyaan filosofis kepada penulis di usianya yang baru menginjak 14 tahun. Pertanyaan tersebut diutarakan pada tanggal 28 Juli 2018, bersambung ke pertanyaan berikutnya tentang bagaimana penciptaan alam semesta. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-tuhan-diciptakan/">Bagaimana Tuhan Diciptakan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tenang, tulisan ini tidak mengandung unsur penistaan agama. Tulisan ini terinspirasi dari pertanyaan <del>calon istri penulis</del> salah satu anggota Karang Taruna bernama Ayu. Ia memang seringkali menanyakan pertanyaan-pertanyaan filosofis kepada penulis di usianya yang baru menginjak 14 tahun.</p>
<p>Pertanyaan tersebut diutarakan pada tanggal 28 Juli 2018, bersambung ke pertanyaan berikutnya tentang bagaimana penciptaan alam semesta. Penulis langsung berusaha mencari jawaban dari berbagai referensi, termasuk Youtube dan bertanya kepada teman yang kebetulan sedang berada di rumah untuk bermain game FIFA 18.</p>
<p>Jawabannya kurang lebih seperti ini: Akal kita tidak akan mampu untuk menemukan jawabannya, pengetahuannya di luar kemampuan manusia. Justru, ketidakmampuan kita memikirkan hal tersebut adalah salah satu bukti kebesaran Tuhan kepada manusia karena kita yang merupakan makhluk paling sempurna pun memiliki batas-batas yang tidak bisa dilampaui.</p>
<p>Selanjutnya, ia menanyakan bagaimana jika Tuhan ternyata lebih dari satu? Namun bukan penulis yang menjawab pertanyaan ini, melainkan Ayu sendiri yang menggunakan analogi bus yang tidak akan bisa dikendalikan jika supirnya ada dua atau lebih. Yang luar biasa, pemikiran tersebut sudah terbit di pikirannya sejak ia duduk di bangku sekolah dasar.</p>
<p>Kembali ke pertanyaan utama, bagaimana Tuhan diciptakan. Orang yang hanya mengandalkan logika akan susah untuk mempercayai keberadaan Tuhan karena keterbatasan akal yang mereka miliki. Kita tidak bisa hanya mengandalkan logika untuk meyakini adanya Tuhan.</p>
<p>Kepercayaan terhadap adanya Tuhan harus dilandasi oleh iman. Iman terbentuk dari keyakinan akan agama yang dianutnya adalah benar tanpa ada usaha untuk menawar ayat. Tentu, butuh usaha keras agar dapat menerapkan apa yang diperintah kitab suci untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Karena pertanyaan-pertanyaan berat tersebut, penulis tidak berani meminjamkan novel filsafat <strong>Dunia Sophie </strong>kepada Ayu. Takutnya, ia belum cukup dewasa untuk menerima berbagai informasi yang tertuang pada buku legendaris tersebut.</p>
<p>Yang jelas, pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan juga membantu penulis dalam merenungi banyak hal, termasuk keterbatasan dan ketidakmampuan kita memikirkan bagaimana Tuhan diciptakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 30 Agustus 2018, terinspirasi setelah pertanyaan filosofis dari Ayu</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/-4T9KZfc4tA?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Tim Marshall</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/people-alone?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-tuhan-diciptakan/">Bagaimana Tuhan Diciptakan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-tuhan-diciptakan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Peremehan Tuhan Paling Fatal</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Mar 2018 15:00:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[peremehan]]></category>
		<category><![CDATA[Sujiwo Tejo]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=569</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya ini bukan murni pemikiran penulis, melainkan milik dalang edan Sujiwo Tejo. Ia mengemukakan hal ini dalam acara Indonesia Lawyers Club beberapa waktu yang lalu. Penulis merasa sepakat dengan pemikiran beliau. Jadi, apa bentuk peremehan Tuhan paling fatal? Menurut beliau, ketika kita takut besok tidak bisa makan adalah jawabannya. Ketika muncul keraguan terhadap kehadiran Tuhan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/">Peremehan Tuhan Paling Fatal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya ini bukan murni pemikiran penulis, melainkan milik dalang edan Sujiwo Tejo. Ia mengemukakan hal ini dalam acara Indonesia Lawyers Club beberapa waktu yang lalu. Penulis merasa sepakat dengan pemikiran beliau.</p>
<p>Jadi, apa bentuk peremehan Tuhan paling fatal? Menurut beliau, ketika kita takut besok tidak bisa makan adalah jawabannya. Ketika muncul keraguan terhadap kehadiran Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang untuk membantu hambanya yang sedang kesusahan, itu sama artinya dengan meremehkan Tuhan.</p>
<p>Dengan catatan, diiringi oleh usaha dan doa. Tidak mungkin kita memiliki keyakinan tersebut, lantas hanya bermalas-malasan menunggu bantuan-Nya datang sendiri. Tidak! Jangan memahami kalimat tersebut mentah-mentah.</p>
<p>Keyakinan bahwa Tuhan akan menolong kita harus diiringi usaha dan doa yang seimbang. Logikanya, Tuhan itu Maha Baik, apa mungkin membiarkan umat-Nya yang telah berpeluh keringat dan selalu menyebut nama-Nya di setiap doa dibiarkan begitu saja? Tidak mungkin.</p>
<p>Apabila yang kita minta tidak dikabulkan, jangan langsung berburuk sangka kepada-Nya. Bisa saja, Tuhan menunggu waktu yang tepat untuk mengabulkan keinginan kita, atau bahkan mungkin memberi yang sebenarnya lebih kita butuhkan.</p>
<p>Ingat, Tuhan memberikan apa yang terbaik untuk kita, bukan apa yang kita inginkan. Manusia dengan kemampuannya yang terbatas sangat mungkin salah dalam mengira apa yang dibutuhkan olehnya. Tuhan lah yang mengetahui kebutuhan kita.</p>
<p>Oleh karena itu, janganlah pernah meremehkan Tuhan dengan takut kebutuhan kita tidak akan terpenuhi setelah kita berusaha dan berdoa kepada-Nya. Kita ini hanya manusia yang hina, jangan berani meremehkan Tuhan yang telah menciptakan kita di dunia ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 27 Maret 2018, setelah mengajar di SWI Mengajar</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://www.islamicsom.org/?p=1545">http://www.islamicsom.org/?p=1545</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/">Peremehan Tuhan Paling Fatal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Analogi untuk Perlunya Membela Tuhan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/analogi-untuk-perlunya-membela-tuhan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/analogi-untuk-perlunya-membela-tuhan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jan 2018 03:40:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[analogi]]></category>
		<category><![CDATA[kehormatan]]></category>
		<category><![CDATA[membela]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=85</guid>

					<description><![CDATA[<p>Entah mengapa, pertanyaan ini sangat mengusik saya. Mungkin karena keinginan saya yang ingin lebih memahami makna Tuhan, sehingga saya mencari tambahan-tambahan referensi dari berbagai sumber. Dari tulisan sebelumnya, sebenarnya sudah terlihat saya condong kemana, tapi akan saya tegaskan di tulisan ini dengan analogi. Bayangkan ada seorang wanita, penggemar berat boyband Korea, yang histeris ketika melihat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/analogi-untuk-perlunya-membela-tuhan/">Analogi untuk Perlunya Membela Tuhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>Entah mengapa, pertanyaan ini sangat mengusik saya. Mungkin karena keinginan saya yang ingin lebih memahami makna Tuhan, sehingga saya mencari tambahan-tambahan referensi dari berbagai sumber. Dari tulisan sebelumnya, sebenarnya sudah terlihat saya condong kemana, tapi akan saya tegaskan di tulisan ini dengan analogi.</div>
<div></div>
<div>Bayangkan ada seorang wanita, penggemar berat boyband Korea, yang histeris ketika melihat perut idolanya. Menurut Anda, apa yang akan terjadi jika saya menghina idolanya? Tentu dia akan marah besar, membelanya dengan menyangkal semua hinaan saya dan kemungkinan justru balik menghina saya.</div>
<div></div>
<div>Kenapa wanita itu marah? Mau dihina atau tidak, boyband itu akan tetap terkenal, akan tetap berkarya. Mau dicibir seperti apapun, mereka akan tetap sukses di dunia, akan tetap bernyanyi dan berdansa. Hinaan saya tidak akan berarti apa-apa padanya, toh juga tidak mungkin dia mendengar caci maki dari bibir saya.</div>
<div></div>
<div>Yang ia bela adalah kehormatan boyband tersebut. Ia merasa bahwa idolanya tersebut sempurna, atau setidaknya mendekati sempurna, sehingga ia merasa memiliki tugas untuk membungkam siapapun yang berusaha menginjak-injak kehormatan tersebut.</div>
<div></div>
<div>Itu cuma boyband, sesama manusia biasa yang dianugerahi kemampuan lebih. Lah kita sedang bicara Tuhan lo ini, pencipta alam semesta.</div>
<div></div>
<div>Kamu bisa marah kalau idolamu dihina, kenapa kamu enggak marah ketika Tuhanmu dihina, agamamu dihina, Rasulmu dihina, kitab sucimu dihina?</div>
<div></div>
<div>Apakah membela itu selalu berarti yang dibela itu lebih lemah?</div>
<div></div>
<div>Bukan berarti karena Tuhan itu Maha Kuasa, tidak perlu dibela. Yang dibela itu membela agama-Nya, membela kitab suci-Nya, kita membela kehormatan-Nya, kehormatan kita sebagai umat beragama. Itu yang disebut sebagai membela Tuhan.</div>
<div></div>
<div>Sama seperti ini, Tuhan itu enggak perlu ibadah kita, Tuhan tidak butuh. Itu tidak berarti kita tidak perlu beribadah. Kita tetap harus melakukannya sebagai tanda ketaatan kita, sebagai bentuk kepasrahan kepada-Nya sebagai makhluk-Nya, sebagai wujud syukur kepada karunia-Nya.</div>
<div></div>
<div>Contoh lain, kitab suci itu sudah pasti suci, enggak akan berubah keagungannya meskipun dilecehkan. Iya, keagungannya tidak akan hilang, tapi bagaimana tanggung jawab kita melihat hal tersebut, sedang kita mengimani kitab tersebut? Kita menjaga kehormatannya, sehingga tidak akan ada orang yang berani macam-macam dengan apa yang kita yakini.</div>
<div></div>
<div>Rasanya tidap perlu saya sampaikan kesimpulan tulisan ini, kalian pasti sudah mengerti apa kesimpulannya.</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Pare, 8 Desember 2017, setelah melihat berbagai video ceramah di Youtube</div>
<div>Sumber Foto: <a href="https://themuslimvibe.com/faith-islam/in-practice/practical-tips-on-how-to-gain-concentration-in-prayer">https://themuslimvibe.com/faith-islam/in-practice/practical-tips-on-how-to-gain-concentration-in-prayer</a></div>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/analogi-untuk-perlunya-membela-tuhan/">Analogi untuk Perlunya Membela Tuhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/analogi-untuk-perlunya-membela-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perlukah Tuhan Dibela?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/perlukah-tuhan-dibela/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/perlukah-tuhan-dibela/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jan 2018 03:40:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[dibela]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=83</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ini menjadi pertanyaan besar saya setelah melihat dan mendengar Sujiwo Tejo dalam acara Indonesia Lawyers Club edisi 5 Desember 2017. Beliau mengatakan bahwa Tuhan tidak perlu dibela, karena ia Maha Kuasa, yang membuat saya teringat dengan buku karangan Gus Dur yang berjudul Tuhan Tidak Perlu Dibela (saya belum pernah membaca buku ini). Komentar ini, yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/perlukah-tuhan-dibela/">Perlukah Tuhan Dibela?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>Ini menjadi pertanyaan besar saya setelah melihat dan mendengar Sujiwo Tejo dalam acara Indonesia Lawyers Club edisi 5 Desember 2017. Beliau mengatakan bahwa Tuhan tidak perlu dibela, karena ia Maha Kuasa, yang membuat saya teringat dengan buku karangan Gus Dur yang berjudul Tuhan Tidak Perlu Dibela (saya belum pernah membaca buku ini).</div>
<div></div>
<div>Komentar ini, yang terucap ketika reuni 212 menjadi topik bahasan pada acara tersebut, memantik rasa keingintahuan saya tentang perlu tidaknya Tuhan dibela. Jika di nalar dengan logika manusia yang terbatas, mungkin kita bisa membenarkan dengan alasan &#8220;Tuhan itu Maha Besar, untuk apa manusia sebagai makhluk-Nya membelanya? Kita ini terlalu kecil untuk membela keagungan-Nya!&#8221;. Selain itu, apakah kita tidak meremehkan Tuhan dengan membela-Nya? Memang Tuhan tidak mampu membela diri-Nya, sedang Tuhan itu Maha Mampu?</div>
<div></div>
<div>Namun, dari salah satu kawan saya mendapatkan sudut pandang yang lain. Memang, Tuhan tidak perlu dibela, tapi apakah itu berarti kita tidak boleh membela-Nya? Apakah dengan sebab x selalu berarti y? Apakah dengan membela Tuhan selalu berarti kita meremehkan Tuhan? Apakah Tuhan akan diam saja jika melihat ada umat-Nya yang membela dengan hanya berharap ridho-Nya?</div>
<div></div>
<div>Saya mencoba untuk mencari analogi yang tepat untuk menggambarkan kedua sisi ini, namun belum satupun muncul sebagai inspirasi. Berbeda dengan kasus hijab, yang bisa saya analogikan dengan anak sekolah.</div>
<div></div>
<div>&#8220;Kamu ke sekolah aja pakai seragam ada aturannya, kalau ada yang melanggar sedikit saja pasti dipanggil BP, sehingga kamu patuhi aturan tersebut. Lah ini ada aturan dari Tuhan, kok berani-beraninya kamu melanggar aturan &#8220;seragam&#8221; yang sudah tertuang di dalam kitab suci, padahal hukumannya jauh lebih berat dibandingkan di panggil BP!&#8221;</div>
<div></div>
<div>Memang sedikit melenceng dari topik semula, tapi itu saya jadikan ilustrasi sebagai susahnya mencari analogi yang tepat. Lalu sisi mana yang saya lebih titik beratkan? Jujur, saya pun masih mencari jawaban, dan saya selalu berusaha memosisikan diri sebagai pencari jawaban agar tidak pernah lelah untuk belajar. Mungkin masih banyak literatur yang harus dibaca, kajian ceramah yang harus disimak, sebelum hati mantap memilih mana yang tepat. Atau, sesungguhnya tidak diperlukan jawaban yang tepat?</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Pare, 8 Desember 2017, setelah melihat ILC, terutama mendengar komentar Sujiwo Tejo, ditambah diskusi dengan dua kawan saya</div>
<div>Sumber Foto: <a href="https://voiceofthepersecuted.wordpress.com/2017/08/28/its-a-war-on-christians-muslim-persecution-of-christians-april-2017/">https://voiceofthepersecuted.wordpress.com/2017/08/28/its-a-war-on-christians-muslim-persecution-of-christians-april-2017/</a></div>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/perlukah-tuhan-dibela/">Perlukah Tuhan Dibela?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/perlukah-tuhan-dibela/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
