<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Fiksi Archives - whathefan</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/category/buku/fiksi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/category/buku/fiksi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 14 Mar 2026 14:09:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/02/logo-kotak-whathefan-2026-v3-80x80.jpg</url>
	<title>Fiksi Archives - whathefan</title>
	<link>https://whathefan.com/category/buku/fiksi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2026 12:57:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Keigo Higashino]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8591</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa tulisan ke depan, Penulis akan cukup sering mengulas novel-novel dari Keigo Higashino, karena memang sedang suka (lagi) membaca novel-novel detektif. Sebelumnya, Penulis sudah pernah mengulas The Devotion of Suspect X dan A Midsummer’s Equation, di mana pendapat Penulis bisa dibilang cukup berbeda di antara keduanya. Penulis sangat suka The Devotion of Suspect X, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/">[REVIEW] Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa tulisan ke depan, Penulis akan cukup sering mengulas novel-novel dari <strong>Keigo Higashino</strong>, karena memang sedang suka (lagi) membaca novel-novel detektif. </p>



<p>Sebelumnya, Penulis sudah pernah mengulas <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/"><em>The Devotion of Suspect X</em></a> dan <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/"><em>A Midsummer’s Equation</em></a>, di mana pendapat Penulis bisa dibilang cukup berbeda di antara keduanya. </p>



<p>Penulis sangat suka The Devotion of Suspect X, tapi kurang puas dengan A Midsummer’s Equation, bahkan sempat berpikir untuk tidak lanjut membaca buku-buku Keigo.</p>



<p>Namun, Penulis memutuskan untuk berubah pikiran dan akhirnya membeli novel ketiga yang berjudul <em><strong>Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</strong></em>. Tokoh utama di novel ini bukan Profesor Yukawa, tapi Detektif Kaga!</p>



<p class="has-text-align-center"><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/negara-tanpa-oposisi-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/negara-tanpa-oposisi-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/negara-tanpa-oposisi-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/negara-tanpa-oposisi-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/negara-tanpa-oposisi-banner.jpg 1280w " alt="Negara Tanpa Oposisi" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/politik-negara/negara-tanpa-oposisi/">Negara Tanpa Oposisi</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Malice</em> <em>&#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</em></li>



<li>Penulis: Keigo Higashino</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-14</li>



<li>Tanggal Terbit: Mei 2025</li>



<li>Tebal: 224 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020639321</li>



<li>Harga: Rp99.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</h2>



<p>Pada kasus kali ini, seorang penulis novel bernama <strong>Hidaka Kunihiko</strong> ditemukan tewas di rumahnya yang terkunci, tepatnya di ruang kerjanya yang juga terkunci. Padahal, ia akan pindah dari Jepang ke Kanada keesokan harinya. </p>



<p>Mayatnya ditemukan oleh istri dan sahabatnya yang bernama <strong>Nonoguchi Osamu</strong>, tapi keduanya memiliki alibi yang kuat. <strong>Detektif Kaga Kyoichiro</strong> sendiri menaruh curiga kepada Osamu dan penyelidikan pun dimulai.</p>



<p>Nah, jika Profesor Yukawa lebih mirip Hercule Poirot, maka Detektif Kaga ini lebih mirip dengan Sherlock Holmes. Bagaikan anjing pelacak, ia akan menelusuri setiap sudut untuk menemukan fakta yang akan terlewatkan mayoritas orang.</p>



<p>Selain itu, Detektif Kaga juga sangat peduli terhadap detail kecil sekalipun. Bayangkan saja, kondisi jari orang bisa menjadi petunjuk penting untuk menemukan siapa pelaku pembunuhan.</p>



<p>Satu hal yang menarik begitu membaca novel ini adalah <strong><em>angle</em>-nya yang dibuat seperti sebuah catatan tertulis</strong>. Namun, penulisnya berbeda-beda, terkadang Osamu sebagai sahabat korban, kadang catatan Detektif Kaga.</p>



<p>Novel ini mengingatkan Penulis akan novel Agatha Christie yang berjudul <em>The Murder of Roger Ackroyd</em>. Di novel tersebut, tokoh &#8220;aku&#8221; yang menulis novel tersebut ternyata terungkap menjadi pembunuhnya. Nah, formula tersebut sedikit mirip di sini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</h2>



<p>Berbeda dengan <em>The Devotion of Suspect X </em>yang pembunuhnya jelas-jelas ketahuan sejak awal atau <em>A Midsummer’s Equation</em> yang benar-benar gelap di awal cerita, novel ini mengambil jalan tengah (walau memang condong mengikuti formula <em>The Devotion of Suspect X </em>).</p>



<p>Kecurigaan memang langsung menuju ke Osamu, tapi untuk membuktikan ia pelakunya tidak langsung dijelaskan. Ia bahkan memiliki alibi yang menunjukkan bahwa dirinya bukan pelaku pembunuhan, setidaknya di 1/3 awal buku.</p>



<p>Nah, hal paling seru di novel ini adalah bagaimana kita bisa <strong>melihat ada banyak <em>reverse psychology </em>di sini</strong>, di mana awalnya kita dibuat berpikir A, lalu ternyata kenyataannya adalah B, tapi ternyata itu adalah trik untuk menutupi kenyataan C, dan seterusnya.</p>



<p>Ketika membaca penjelasan bagian ini, Penulis harus mengakui bahwa hal tersebut ditulis dengan cerdas oleh Keigo. Penulis yang awalnya sudah terbawa arus pun dibuat terkejut ketika kenyataannya terbongkar.</p>



<p>Karena hal tersebut adalah hal paling seru di novel ini, maka Penulis tidak akan menceritakan detailnya. Intinya, jangan mudah percaya dengan apa yang dibaca, teruslah curiga dan amati setiap detail terkecil!</p>



<p>Mungkin salah satu hal yang paling melelahkan dari novel ini adalah bagian interogasi di 1/3 akhir novel, di mana <strong>ada banyak sekali catatan interogasi terhadap banyak narasumber</strong>. Bagi sebagian orang, mungkin bagian ini bisa terasa <em>overwhelming</em>.</p>



<p>Walau begitu, Penulis bisa memahami bahwa hal tersebut memang harus dilakukan oleh Detektif Kaga untuk menemukan motif pelaku, yang ternyata memang berakar dari masa lalunya. Motif masa lalu itulah yang ingin ditutupi oleh sang pelaku.</p>



<p>Yang jelas, ada satu pesan penting yang ingin disampaikan Keigo: <em><strong>stop bullying</strong></em>. Lho, apa hubungan kematian seorang novelis dengan kasus perundungan? Jawabannya akan ketemu jika Pembaca membaca novel ini.</p>



<p>Kesimpulannya, <em>Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</em> mengulang formula D<em>evotion of Mr. X </em>yang pelakunya ketahuan secara cepat. Kedua novel tersebut bukan tentang siapa pelakunya, bukan tentang bagaimana cara melakukan pembunuhannya, tapi tentang <strong>mengapa melakukannya</strong>.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>SKOR: <strong>8/10</strong></p>
</blockquote>



<p>Penulis akhirnya memutuskan untuk terus membaca novel-novel Keigo, karena cerita misterinya yang cukup ringan cocok untuk Penulis. Novel selanjutnya yang Penulis pilih adalah <em><strong>Salvation of a Saint &#8211; Dosa Malaikat</strong>.</em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 14 Maret 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Malice</em> karya Keigo Higashino</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/">[REVIEW] Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2026 14:26:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8493</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya sudah sejak lama novel Teka-Teki Rumah Aneh karya Uketsu mencuri perhatian Penulis. Namun, entah mengapa Penulis belum merasa terdorong untuk membelinya, meskipun sebenarnya suka dengan novel &#8220;teka-teki&#8221;. Nah, membaca novel-novel detektif Keigo Higashino yang akhirnya membuat Penulis memutuskan untuk membeli dan membaca novel ini. Toh, novel ini tidak terlalu tebal, sehingga bisa cepat ditandaskan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/">[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sebenarnya sudah sejak lama novel <em><strong>Teka-Teki Rumah Aneh</strong></em> karya <strong>Uketsu</strong> mencuri perhatian Penulis. Namun, entah mengapa Penulis belum merasa terdorong untuk membelinya, meskipun sebenarnya suka dengan novel &#8220;teka-teki&#8221;.</p>



<p>Nah, membaca <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/">novel-novel detektif Keigo Higashino</a> yang akhirnya membuat Penulis memutuskan untuk membeli dan membaca novel ini. Toh, novel ini tidak terlalu tebal, sehingga bisa cepat ditandaskan.</p>



<p>Benar saja, tak butuh lama Penulis menghabiskan novel ini karena misterinya yang membuat penasaran. Dengan durasi sekitar 3-4 jam, Penulis bisa langsung menyelesaikan novel ini. Lantas, apakah novel ini sebagus kata orang?</p>



<p><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG_4669-300x126.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG_4669-300x126.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG_4669-768x324.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG_4669-1024x432.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG_4669-356x150.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG_4669.jpg 2048w " alt="SWI Barang Bekas" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/swi-barang-bekas/">SWI Barang Bekas</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Teka-Teki Rumah Aneh</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Teka-Teki Rumah Aneh</em></li>



<li>Penulis: Uketsu</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-14</li>



<li>Tanggal Terbit: Mei 2025</li>



<li>Tebal: 224 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020669960</li>



<li>Harga: Rp79.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Teka-Teki Rumah Aneh?</h2>



<p>Novel ini berkisah dari sudut pandang orang pertama<strong> seorang penulis</strong> (namanya tidak pernah disebutkan) spesialis <em>occult </em>alias hal-hal gaib. Nah, suatu ketika, ia dimintai tolong kenalannya untuk memeriksa suatu denah rumah yang menurutnya aneh.</p>



<p>Dari sini, kita bisa melihat kalau konsep &#8220;rumah aneh&#8221; langsung disajikan di awal cerita, bahkan di halaman pertama. Denah rumah yang awalnya tampak normal-normal saja langsung diperlihatkan begitu mulai membaca.</p>



<p>Sang penulis tersebut tentu merasa kebingungan dengan denah rumah tersebut, sehingga ia minta bantuan kenalannya yang bernama <strong>Kurihara-san</strong>, seorang arsitek, yang akhirnya menunjukkan apa keanehan pada denah rumah tersebut.</p>



<p>Nantinya, kita akan sering melihat percakapan antara keduanya di novel ini. Bukan dalam bentuk paragraf, melainkan menggunakan format nama karakter, titik dua (:), baru kalimatnya. Semua percakapan menggunakan format tersebut, sehingga  membuat <em>pace </em>novel ini terasa cepat.</p>



<p>Di novel ini, denah rumah kerap diperlihatkan berkali-kali, terkadang hanya sebagian saja. Dengan demikian, kita tidak perlu capek-capek membolak-balikkan halaman, walau kekurangannya membuat novel ini cepat habis.</p>



<p>Berangkat dari keanehan tersebut, tokoh penulis pun membuat artikel tentang rumah tersebut dengan harapan akan ada orang yang memiliki informasi lebih. Tak lama kemudian, ia pun menerima email dari seseorang yang akan membawa mereka ke sebuah misteri yang kelam.</p>



<p>Penulis tidak akan bercerita terlalu dalam mengenai isi buku ini, mengingat apa yang membuat novel misteri menarik adalah misterinya. Namun, Penulis bisa mengatakan kalau <strong>denah rumah yang aneh di sini tidak hanya satu</strong>.</p>



<p>Selain itu, nanti akan terungkap kalau ada alasan khusus kenapa rumah-rumah tersebut memiliki denah yang aneh. Bisa dibilang, konklusi cerita yang dibagi menjadi empat bab ini tidak tertebak, kalau bukan jadi terlalu jauh.</p>



<p>Di bab selanjutnya, akan ada lebih banyak <em>spoiler</em> yang akan mengurangi keseruan jika Pembaca berniat membaca buku ini. Jadi,<strong> <em>spoiler alert</em>!</strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh</h2>



<p>Penulis pada dasarnya memang menyukai novel detektif dan misteri. Jauh sebelum kenalan dengan <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/">novel-novel Keigo</a>, Penulis sudah membaca semua novel <a href="https://whathefan.com/buku/berteriak-karena-buku/">Agatha Christie</a> dan Sherlock Holmes. </p>



<p>Oleh karena itu, standar Penulis jadi agak tinggi. Penulis menganggap <em>Teka-Teki Rumah Aneh </em>adalah cerita misteri yang menarik, tapi tidak sampai membuat Penulis menganggap sebagai salah satu yang terbaik yang pernah Penulis baca.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Yang Plus dari Teka-Teki Rumah Aneh</h3>



<p>Seperti yang sudah Penulis singgung, kita langsung disuguhi denah rumah yang awalnya terlihat normal, tapi ternyata memiliki keanehan. Apalagi, &#8220;rumah anehnya&#8221; bukan hanya itu, sehingga kita jadi menyadari kalau<strong> ini adalah sebuah pola tertentu</strong>, bukan sekadar kesalahan arsitektur saja.</p>



<p>Itulah hal yang berhasil membuat penasaran bagi tokoh penulis dan Kurihara-san. Berawal dari pertanyaan, mereka justru jadi melakukan penyelidikan untuk mengulik apa maksud dari denah rumah aneh tersebut.</p>



<p>Buat Penulis, salah satu kekuatan utama novel ini adalah <strong>bagaimana kita mampu dibuat merasa penasaran seperti tokoh di dalamnya</strong>. Terlalu banyak pertanyaan yang muncul ketika melihat fakta yang ada, sehingga kita terus ingin tahu seperti apa jawabannya.</p>



<p>Itu juga menjadi salah satu alasan lain mengapa <em>pace </em>cerita ini cepat dan tidak terlalu bertele-tele. Tidak ada polisi yang melakukan wawancara seperti di novel-novel Keigo. Apalagi, kita tidak perlu susah-susah membayangkan denahnya karena gambarnya selalu tersedia.</p>



<p>Selain itu, entah bagaimana novel ini juga bisa terasa lumayan &#8220;horor&#8221; hingga Penulis merasa merinding ketika membacanya. Padahal, sama sekali tidak ada adegan hantu atau gangguan makhluk halus.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Yang Kurang dari Teka-Teki Rumah Aneh</h3>



<p>Sayangnya, Penulis kurang menyukai konklusi dari cerita ini yang <strong>memiliki hubungan dengan okultisme</strong>. Keluarga pembunuh yang terjebak &#8220;ritual&#8221; memakan korban tersebut terasa agak bodoh karena mau termakan kata &#8220;orang pintar&#8221;.</p>



<p>Apalagi, semua itu berawal dari hubungan inses yang dialami oleh keluarga tersebut, yang menjadi awal dari semua tragedi yang terjadi selanjutnya. Jumlah korban berjatuhan hanya karena kepercayaan yang sesat.</p>



<p>Mungkin ada pembaca novel ini yang menyukai konklusi seperti itu. Namun, Penulis sendiri tidak menyukai unsur-unsur seperti itu, karena <strong>misteri bisa terjadi karena ketidaktahuan orang</strong>, bukan karena disusun secara cerdik.</p>



<p>Oh iya, di bagian akhir setelah cerita terkesan berakhir, ternyata Uketsu justru memilih <strong>memberikan <em>open ending </em>kepada Pembaca </strong>terhadap salah satu karakter kunci di cerita ini. Padahal, Penulis berharap kalau misterinya harus tuntas tanpa menimbulkan pertanyaan baru.</p>



<p>Walau begitu, novel ini tetap menjadi bacaan misteri yang menegangkan dan akan membuat kita kesulitan untuk berhenti membaca karena penasaran. Setelah membaca Teka-Teki Rumah Aneh, rasanya kita akan jadi memperhatikan setiap detail denah rumah yang kita lihat!</p>



<p>SKOR: <strong>7/10</strong></p>



<p>Saat menulis artikel ini, Penulis sempat ke Gramedia dan melihat ada &#8220;sekuel&#8221; novel ini dengan judul <em><strong>Teka-Teki Gambar Aneh</strong></em>. Menarik untuk ditunggu apakah novel ini juga mampu membuat Penulis merasa merinding dan tak bisa berhenti membaca.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 24 Februari 2026, terinspirasi setelah membaca buku <em>Teka-Teki Rumah Aneh </em>karya Uketsu</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/">[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2025 15:38:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Hwang Bo-reum]]></category>
		<category><![CDATA[korea]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[slice-of-life]]></category>
		<category><![CDATA[toko buku]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8431</guid>

					<description><![CDATA[<p>Entah mengapa belakangan ini, Penulis merasa kalau novel dengan latar belakang &#8220;toko buku&#8221; (atau kadang hanya &#8220;buku&#8221; saja) sedang banyak dijual. Banyak sekali di rak buku judul-judul yang mengandung frase ini, sehingga tentu menimbulkan rasa penasaran. Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membeli salah satu, di mana pilihan jatuh kepada Welcome to the Hyunam-Dong [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/">[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Entah mengapa belakangan ini, Penulis merasa kalau novel dengan latar belakang &#8220;toko buku&#8221; (atau kadang hanya &#8220;buku&#8221; saja) sedang banyak dijual. Banyak sekali di rak buku judul-judul yang mengandung frase ini, sehingga tentu menimbulkan rasa penasaran.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membeli salah satu, di mana pilihan jatuh kepada <em><strong>Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</strong></em> karya <strong>Hwang Bo-reum</strong>. Yups, lagi-lagi penulis Asia, bedanya kali ini dari Korea Selatan.</p>



<p>Ketika dan setelah membaca novel ini, Penulis berpikir, &#8220;oh, ternyata jadinya begini jika genre <em>slice of life </em>menjadi sebuah cerita.&#8221; Jadi, jangan harap akan menemukan konflik yang menegangkan atau plot twist yang mengejutkan di sini!</p>



<p class="has-text-align-center"><strong>[SPOILER ALERT!!!]</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-18-300x225.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-18-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-18-768x576.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-18-1024x768.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-18-340x255.jpg 340w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-18.jpg 1280w " alt="Berteriak karena Buku" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/berteriak-karena-buku/">Berteriak karena Buku</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</em> <em>(Selamat Datang di Toko Buku Hyunam-dong)</em></li>



<li>Penulis: Hwang Bo-reum</li>



<li>Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia</li>



<li>Cetakan: Ke-5</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2025</li>



<li>Tebal: 408 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020530444</li>



<li>Harga: Rp119.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</h2>



<p><em>&#8220;Kisah orang-orang yang berjuang untuk menjalin hubungan baru dan menyembuhkan diri melalui buku dan toko buku terungkap secara mendalam.”</em></p>



<p><em>Toko buku di lingkungan biasa, yang berdiri di antara rumah-rumah di mana tidak banyak orang datang dan pergi. Inilah toko buku di Hyunam-dong! Selama beberapa bulan pertama, pemilik toko buku, Young-joo, yang wajahnya tidak menunjukkan antusiasme, seperti seseorang yang selalu larut dalam kesedihan, duduk diam dan membaca buku seolah-olah dia adalah seorang pelanggan.</em> <em>Dia menghabiskan setiap hari di toko buku dengan perasaan seperti mendapatkan kembali hal-hal yang hilang satu per satu. Perasaan lelah dan hampa dalam batin perlahan menghilang. Sejak saat itu, toko buku di Hyunam-dong menjadi tempat yang benar-benar baru. Ruang tempat orang berkumpul, berbagai emosi berkumpul, dan cerita tiap individu.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</h2>



<p>Sesuai dengan sinopsis di bagian belakang bukunya, <em>Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</em> berpusat pada toko buku kecil yang berada di daerah Hyunam-Dong. Pemiliknya adalah <strong>Yeong-ju</strong>, seorang perempuan yang berusia 30 tahunan.</p>



<p>Ia tak sendirian di toko buku tersebut. Ada <strong>Min-joon</strong>, yang bekerja sebagai barista di sana. Lalu, ada <strong>Jimmy </strong>(ini karakter cewek!) yang menjadi <em>supplier </em>biji kopi untuk toko buku tersebut, yang juga menjadi teman dekat Yeong-ju.</p>



<p>Tentu ada banyak pengunjung setia toko buku kecil yang nyaman tersebut, seperti anak SMA yang benama <strong>Min-Cheol </strong>beserta <strong>ibunya</strong> (yang namanya baru terkuak jelang akhir buku),<strong> Jung-seo </strong>yang hobi merajut, <strong>Seong-cheol</strong>, dan lain sebagainya. </p>



<p>Meskipun berkesan &#8220;santai&#8221;, tentu masing-masing karakter memiliki masalahnya sendiri. Yeong-ju misalnya, mengalami <em>burnout </em>karena pekerjaan lamanya dan kegagalam rumah tangganya. Toko buku yang ia dirikan seolah menjadi sarana pelariannya.</p>



<p>Tema pernikahan yang tidak bahagia juga dialami oleh Jimmy, sedangkan sang barista berada di krisis eksistensial karena merasa dirinya gagal. Toko buku kecil tersebut seolah menjadi semacam &#8220;oasis&#8221; bagi mereka dan pengunjung.</p>



<p>Untuk menghidupkan suasana toko buku, Yeong-ju membuat semacam berbagai acara di sana, termasuk bedah buku dan diskusi antara sesama pembaca buku. Ia bahkan mengundang penulis seperti <strong>Seung-woo </strong>yang sepertinya memiliki ketertarikan dengannya.</p>



<p>Itu semua dibalut dengan aktivitas ringan yang terjadi di sekeliling kita, bagaimana obrolan-obrolan ringan keluar ketika bertemu kenalan di suatu tempat, bagaimana kita curhat ke teman yang kita percaya, bagaimana proses penerimaan diri, dan lain sebagainya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</h2>



<p>Seperti yang sudah Penulis singgung di awal tulisan, genre novel ini adalah <em>slice-of-life</em>. Mungkin baru kali ini Penulis membaca buku dengan genre seperti ini. Apakah Penulis menyukainya? Jawabannya iya dan tidak secara bersamaan.</p>



<p>Sebagai novel santai yang tidak terus-menerus menimbulkan rasa penasaran, <em>Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</em> adalah teman yang menarik terutama ketika kepala kita sedang penuh dengan berbagai permasalahan. </p>



<p>Apalagi,<strong> gaya bahasanya juga terasa lembut dan <em>cozy</em></strong>, sehingga terkadang membuat Penulis merasa kalau novel ini seperti <em>lullaby </em>pengantar tidur. Ini bisa menjadi kelebihan sekaligus kekurangan, karena di satu sisi akan <strong>menimbulkan kesan membosankan</strong>.</p>



<p>Itulah yang Penulis rasakan selama membaca buku ini. Awal-awal membaca, Penulis merasa bersemangat untuk membaca tiap babnya secara perlahan dan menikmati aktivitas-aktivitas sederhana yang disajikan. </p>



<p>Namun, setelah lewat setengah buku, rasa bosan itu muncul sehingga proses menamatkan novel ini pun menjadi lebih lama. Apalagi, ceritanya lumayan <em>dragging</em>. Penulis bahkan sudah tidak seberapa ingat ada kisah apa saja yang sudah Penulis baca di novel ini.</p>



<p>Cerita antarbabnya tidak <em>nyambung</em>, terutama di bagian awal-awal, seolah ceritanya berdiri sendiri-sendiri. Namun, makin ke belakang, buku ini semakin terasa linier dan utuh sebagai novel, bukan kumpulan cerita pendek.</p>



<p>Oleh karena itu, bisa dibilang <strong>novel ini tidak memiliki konflik utama</strong>. Konfliknya ya ada di masing-masing karakter, di mana sepanjang novel mereka mulai mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu menjadi lebih baik dalam menghadapi masalahnya.</p>



<p>Bisa dibilang, konflik yang ada di novel ini lebih banyak ke <strong>pergulatan batin</strong> dibandingkan dengan konflik eksternal. Tidak ada cerita Yeong-ju pusing karena penjualan toko seret, yang ada bagaimana ia berusaha untuk berdamai dengan keadaan dan terutama dirinya sendiri.</p>



<p>Buat yang sedang mengalami masalah internal, bisa jadi ada bagian-bagian di buku ini yang akan memberikan jawabannya. Mungkin bukan jawaban gamblang, tapi bisa menjadi inspirasi apa yang harus dilakukan pada situasi tertentu.</p>



<p>Bagian yang paling menarik bagi Penulis tentu saja mengetahui <strong>bagaimana Yeong-ju mengelola toko bukunya</strong>. Setiap aktivitas yang dia lakukan, baik sekadar merapikan rak buku ataupun membuat komunitas, berhasil Penulis bayangkan dengan baik</p>



<p>Mungkin novel ini bisa memberikan rasanya nyaman untuk pembacanya yang merasa <em>related </em>dengan konflik di dalamnya. Sayangnya, Penulis tidak merasakan rasa nyaman itu, setidaknya setelah membaca cukup banyak halamannya.</p>



<p>Walau begitu, novel ini tetap Penulis rekomendasikan untuk Pembaca yang sedang mencari bacaan ringan. Walau latarnya di Korea Selatan, buku ini cukup terasa dekat, walau tidak sampai membuat kita merasa memiliki koneksi khusus dengan karakter-karakter di dalamnya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 6/10</mark></strong></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 2 Desember 2025, terinspirasi setelah membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop karya Hwang Bo-reum</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/">[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer&#8217;s Equation</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Sep 2025 16:59:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Detektif Galileo]]></category>
		<category><![CDATA[Keigo Higashino]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8372</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis memiliki kebiasaan jika sudah menyukai sebuah karya seorang penulis, maka Penulis akan berusaha untuk membaca karya lainnya. Itulah yang terjadi pada Agatha Christie, Dee Lestari, Andrea Hirata, Leila S. Chudori, Seno Gumira Ajidarma, dan masih banyak lainnya. Nah, itu juga yang ada di pikiran Penulis setelah membaca Keajaiban Toko Kelontong Namiya dan The Devotion [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/">[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer&#8217;s Equation</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis memiliki kebiasaan jika sudah menyukai sebuah karya seorang penulis, maka Penulis akan berusaha untuk membaca karya lainnya. Itulah yang terjadi pada Agatha Christie, Dee Lestari, Andrea Hirata, Leila S. Chudori, Seno Gumira Ajidarma, dan masih banyak lainnya.</p>



<p>Nah, itu juga yang ada di pikiran Penulis setelah membaca <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-keajaiban-toko-kelontong-namiya/">Keajaiban Toko Kelontong Namiya</a> </em>dan <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/">The Devotion of Mr. X</a> </em>karya <strong>Keigo Higashino</strong>, wajar jika Penulis membeli novelnya yang lain. Pilihan Penulis jatuh ke buku <em><strong>A Midsummer&#8217;s Equation </strong></em>atau <em><strong>Rumus Kebenaran Musim Panas</strong></em>.</p>



<p>Salah satu alasan Penulis membeli novel ini adalah karena masih termasuk ke dalam Seri Detektif Galileo. Selain itu, adanya tema kelestarian alam juga menjadi alasan lainnya. Sayangnya, Penulis tidak mendapatkan kepuasan seperti dua novel Keigo sebelumnya.</p>



<p class="has-text-align-center"><strong>[SPOILER ALERT!!!]</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-menonton-black-panther-wakanda-forever-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-menonton-black-panther-wakanda-forever-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-menonton-black-panther-wakanda-forever-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-menonton-black-panther-wakanda-forever-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-menonton-black-panther-wakanda-forever-1536x864.jpg 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-menonton-black-panther-wakanda-forever.jpg 1688w " alt="Setelah Menonton Black Panther: Wakanda Forever" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-black-panther-wakanda-forever/">Setelah Menonton Black Panther: Wakanda Forever</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku A Midsummer&#8217;s Equation</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>A Midsummer&#8217;s Equation (Rumus Kebenaran Musim Panas</em></li>



<li>Penulis: Keigo Higashino</li>



<li>Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-2</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2023</li>



<li>Tebal: 440 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020674858</li>



<li>Harga: Rp119.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku A Midsummer&#8217;s Equation</h2>



<p><em>Dalam kunjungannya ke Harigaura untuk menghadiri diskusi rencana proyek penggalian sumber daya bawah laut, Profesor Yukawa Manabu menyaksikan panasnya perdebatan di antara warga lokal. Sementara sebagian pihak mendukung rencana itu demi menghidupkan kembali perekonomian, pihak lain mati-matian menentang karena ingin menjaga kelestarian alam. </em></p>



<p><em>Namun, bukan hanya proyek tersebut yang meresahkan kota itu. Keesokan paginya, salah satu tamu penginapan yang ditempati Yukawa ditemukan tewas di pantai berbatu-batu. Saat diketahui sang korban merupakan mantan polisi Tokyo dan tewas keracunan karbon monoksida, timbul kecurigaan bahwa ia dibunuh. </em></p>



<p><em>Apa yang dilakukan mantan polisi itu di Harigaura? Apakah ada yang ingin membungkamnya? Kenapa? Sekali lagi, Yukawa mendapati dirinya berada di tengah misteri yang harus dipecahkan.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku A Midsummer&#8217;s Equation</h2>



<p>Kita kembali mengikuti perjalanan Profesor Yukawa Manabu, yang kali ini pergi ke Harigaura karena di sana sedang ada konflik yang dipicu oleh proyek penggalian sumber daya bawah laut. Mirip dengan situasi di negara kita sendiri, walau di cerita ini tidak ada kekerasan dari aparat (<em>oops</em>).</p>



<p>Namun, kita memulai kisah novel ini dari sudut pandang Esaki Kyohei, seorang anak kelas 5 SD yang sedang menuju Harigaura untuk menginap di penginapan milik om dan tantenya. Secara kebetulan, ia satu kereta dengan Yukawa.</p>



<p>Secara kebetulan lagi, Yukawa ternyata juga menginap di penginapan milik keluarga Kyohei. Penginapan tersebut terkesan mau bangkrut, karena pariwisata di Harigaura juga mengalami penurunan. </p>



<p>Hanya ada satu orang lain yang menginap di sana selain Yukawa, yakni Tsukahara Masatsugu, seorang mantan polisi. Naas, ia ditemukan tewas di pantai berbatu-batu. Namun, hasil otopsi mengatakan ia juga keracunan karbon monoksida, sehingga ada kemungkinan ia dibunuh.</p>



<p>Pihak kepolisian pun berusaha memecahkan kasus tersebut, sedangkan Yukawa justru menjalin hubungan yang unik dengan Kyohei sembari tetap mengumpulkan fakta-fakta yang ada. Belum lagi masalah penambangan yang jadi alasan Yukawa pergi ke Harigaura.</p>



<p>Lantas, siapa ternyata yang menjadi pelaku pembunuhan tersebut? Tentu tidak akan Penulis ungkap di sini karena di sanalah letak keseruan novel detektif.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca A Midsummer&#8217;s Equation<br></h2>



<p>Pada ulasan novel <em>The Devotion of Suspect X</em>, Penulis sudah mengeluhkan betapa bertele-telenya jalan cerita karena proses penyelidikan kepolisian yang kelewat lengkap dan panjang sekali. Rasanya seperti semua orang yang muncu di benak polisi harus dimintai keterangan.</p>



<p>Nah, <strong>&#8220;formula&#8221; tersebut diulang lagi di novel ini dengan lebih panjang lagi</strong>. Hal tersebut sempat membuat Penulis berhenti membaca novel ini cukup lama, padahal dua novel sebelumnya bisa Penulis tandaskan dengan cepat.</p>



<p>Penulis bahkan tak ingat siapa saja nama karakter yang ada di novel ini karena ada banyak banget, pakai nama Jepang pula.Dari pihak kepolisian saja (yang melibatkan banyak sekali instansi), mungkin ada sekitar 10 nama, belum nama-nama warga Harigaura. </p>



<p>Menariknya, banyaknya karakter yang ada di novel ini <em>somehow </em>pada akhirnya memiliki benang merahnya masing-masing. Jadi, karakter A ternyata memiliki hubungan dengan karakter B, karena itulah karakter A melakukan hal tersebut. Kurang lebih begitu.</p>



<p>Nah, salah satu momen yang menyenangkan untuk dibaca adalah <strong><em>bromance </em>antara Yukawa dan Kyohei</strong>. Yukawa merupakan seorang dosen berotak cerdas, dan ia sering mengajak Kyohei melakukan eksperimen-eksperimen kecil yang menarik.</p>



<p>Satu nama yang menonjol di sini adalah<strong> Kawahata Narumi</strong>, yang merupakan anak dari pemilik penginapan yang ditinggali oleh Yukawa. Jadi, Narumi masih terhitung saudara sepupu dari Kyohei. Perannya di novel ini cukup menonjol, jadi Penulis menyarankan untuk selalu memperhatikannya.</p>



<p>Tema eksploitasi alam yang dihadirkan sebagai premis cerita pun jadi terasa tidak memiliki dampak apa-apa. Awalnya, Penulis mengira kalau kasus pembunuhan yang terjadi memiliki keterkaitan dengan konflik tersebut. Ternyata, motifnya benar-benar jauh dari sana.</p>



<p>Selain itu, <em>plot twist </em>yang dihadirkan di akhir cerita pun bukan yang benar-benar membuat tercengang. Memang masih mengejutkan, tapi efeknya tidak sedahsyat <em>The Devotion of Suspect X</em>. Kayak cuma &#8220;oh gitu&#8221; setelah mengetahui pelakunya, walau motifnya sendiri cukup mengejutkan.</p>



<p><em>Ending</em> yang seolah &#8220;melindungi&#8221; pelaku karena alasan tertentu juga sedikit mengganjal bagi Penulis. Mungkin Yukawa melakukannya karena merasa memiliki ikatan khusus dengannya, berbeda dengan Hercule Poirot yang pernah secara tidak langsung menyuruh pembunuhnya membunuh dirinya sendiri.</p>



<p>Walau terbilang lambat (bahkan sangat lambat) di paruh pertama novel, tentu saja semakin ke belakang ceritanya semakin membuat penasaran sebagaimana novel misteri pada umumnya. Karena itulah Penulis pada akhirnya bisa menamatkan novel ini. </p>



<p>Apakah novel ini akan membuat Penulis kapok untuk membeli novel Keigo Higashino yang lain? Entahlah, yang jelas untuk sekarang Penulis memilih untuk membaca novel-novel yang telah dibeli, seperti <em>Teka-Teki Rumah Aneh </em>dari Uketsu misalnya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 6/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 12 September 2025, terinspirasi setelah membaca buku <em>A Midsummer&#8217;s Equation </em>karya Keigo Higashino</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/">[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer&#8217;s Equation</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Sang Alkemis</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-sang-alkemis/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-sang-alkemis/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Apr 2025 16:32:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Paolo Coelho]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8213</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada suatu saat, ada seorang teman yang bertanya apakah Penulis pernah membaca novel The Alchemist (atau Sang Alkemis dalam bahasa Indonesia) karya Paolo Coelho. Meskipun sering melihat buku tersebut di toko buku, Penulis tidak pernah kepikiran untuk membelinya. Nah, di awal bulan Februari kemarin ketika Penulis ke Jakarta, Penulis jalan-jalan ke Pondok Indah Mall (PIM) [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-sang-alkemis/">[REVIEW] Setelah Membaca Sang Alkemis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada suatu saat, ada seorang teman yang bertanya apakah Penulis pernah membaca novel <em><strong>The Alchemist</strong> </em>(atau <em><strong>Sang Alkemis </strong></em>dalam bahasa Indonesia) karya<strong> Paolo Coelho</strong>. Meskipun sering melihat buku tersebut di toko buku, Penulis tidak pernah kepikiran untuk membelinya.</p>



<p>Nah, di awal bulan Februari kemarin ketika Penulis ke Jakarta, Penulis jalan-jalan ke Pondok Indah Mall (PIM) selepas kerja, karena tempat tersebut memang sering Penulis kunjungi untuk sekadar &#8220;cuci mata&#8221;. Tentu, salah satu destinasinya adalah Gramedia PIM.</p>



<p>Entah ada dorongan apa, Penulis akhirnya memutuskan untuk membeli novel <em>Sang Alkemis </em>saat itu bersama dengan komik <em>Spy X Family vol. 13</em>. Siapa sangka, novel tipis ini langsung menjadi salah satu favorit Penulis dan tandas dalam waktu singkat! </p>



<p>Sebelum lanjut, <strong><em>spoiler alert</em>!</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/plot-twist-ala-masamune-kun-no-revenge-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/plot-twist-ala-masamune-kun-no-revenge-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/plot-twist-ala-masamune-kun-no-revenge-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/plot-twist-ala-masamune-kun-no-revenge-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/plot-twist-ala-masamune-kun-no-revenge-banner.jpg 1280w " alt="Digantung Ala Anime (Bagian 2)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/digantung-ala-anime-bagian-2/">Digantung Ala Anime (Bagian 2)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Sang Alkemis</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Sang Alkemis (The Alchemist)</em></li>



<li>Penulis: Paolo Coelho</li>



<li>Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-48</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2025</li>



<li>Tebal: 224 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020656069</li>



<li>Harga: Rp69.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Sang Alkemis</h2>



<p><em>Setiap beberapa puluh tahun, muncul sebuah buku yang mengubah hidup para pembacanya selamanya. Novel Paulo Coelho yang memikat ini telah memberikan inspirasi bagi jutaan orang di seluruh dunia. Kisah yang sangat sederhana, namun menyimpan kebijaksanaan penuh makna, tentang anak gembala bernama Santiago yang berkelana dari rumahnya di Spanyol ke padang pasir Mesir untuk mencari harta karun terpendam di Piramida-Piramida. Di perjalanan dia bertemu seorang perempuan Gipsi, seorang lelaki yang mengaku dirinya Raja, dan seorang alkemis––semuanya menunjukkan jalan kepada Santiago untuk menuju harta karunnya. </em></p>



<p><em>Tak ada yang tahu isi harta karun itu, atau apakah Santiago akan berhasil mengatasi rintangan-rintangan sepanjang jalan. Namun perjalanan yang semula bertujuan untuk menemukan harta duniawi berubah menjadi penemuan harta di dalam diri. </em></p>



<p><em>Kaya, menggugah, dan sangat manusiawi, kisah Santiago menunjukkan kekuatan mimpi-mimpi dan pentingnya mendengarkan suara hati kita.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Sang Alkemis</h2>



<p>Sesuai dengan sinopsisnya, novel ini berfokus ke petualangan yang dialami oleh seorang gembala bernama Santiago, yang berasal dari Spanyol. Berdasarkan petunjuk dari seorang perempuan Gipsi, ia dituntun untuk mencari harta karun di Piramida Mesir.</p>



<p>Awalnya, ia tak menggubris omongan perempuan Gipsi tersebut. Namun, kemudian ia bertemu dengan seseorang yang mengaku sebagai &#8220;raja Salem&#8221;. Santiago pun akhirnya merasa yakin untuk mencoba berburu harta karun tersebut.</p>



<p>Santiago memutuskan untuk <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-sukses-harus-keluar-dari-zona-nyaman/">keluar dari zona nyamannya</a>, lantas menjual semua dombanya agar mendapatkan uang untuk modal berburu harta karun. Ia pun menyeberangi lautan yang memisahkan benua Eropa dan Afrika.</p>



<p>Naas, ia justru langsung ditipu dan harus kehilangan semua uangnya. Untuk bisa menyambung hidup, ia pun bekerja dengan penjual kristal dengan niat mengumpulkan uang agar bisa kembali ke Spanyol dan kembali menjadi seorang gembala.</p>



<p>Setelah beberapa bulan, uangnya mulai terkumpul. Apalagi, ia adalah anak muda yang memiliki banyak ide cemerlang. Pada satu titik, ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mencari harta karunnya dan mengurungkan niat untuk kembali ke Spanyol.</p>



<p>Lantas, ia pun menjadi rombongan yang melintasi gurun pasir, di mana ia bertemu dengan seorang Inggris yang sedang mencari &#8220;Sang Alkemis&#8221; karena ingin memiliki ilmu mengubah apa pun menjadi emas. </p>



<p>Mereka singgah di sebuah oasis, berlindung dari perang antarsuku yang sedang terjadi.  Di oasis tersebut, hidup sekelompok orang yang hidup dengan damai. Menariknya, di sini Santiago bertemu dengan wanita yang menarik perhatiannya, Fatima.</p>



<p>Tanpa disangka, justru Santiago yang bertemu dengan Sang Alkemis, yang memandunya untuk menemukan harta karun tersebut. Ketika akhirnya berhasil mencapai Piramida, ia sadar bahwa apa yang ia cari selama ini berada di tempat ketika ia memulai semuanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Sang Alkemis</h2>



<p>Penulis membaca novel ini tanpa ekspektasi apa pun, toh novel ini juga tipis sehingga <em>fine-fine </em>saja untuk dibaca di kala senggang. Namun, pada akhirnya Penulis justru tertarik masuk ke dalam ceritanya seolah Penulis ikut bertualang bersama Santiago.</p>



<p>Secara cerita, premis yang ditawarkan oleh <em>Sang Alkemis </em>sederhana saja dengan gaya bahasa yang terkadang puitis, tapi masih mudah dicerna. Namun, <strong>kisahnya penuh dengan makna dan banyak sekali kalimat yang <em>quotable</em></strong>. Ada beberapa yang Penulis sukai, seperti:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Kalau kau menaruh perhatian pada saat sekarang, kau bisa memperbaikinya. Dan kalau kau memperbaiki saat sekarang ini, apa yang akan datang juga akan lebih baik.</li>



<li>Orang-orang takut mengejar impian-impian mereka yang paling berharga, sebab mereka merasa tidak layak mendapatkannya, atau tidak tidak akan pernah bisa mewujudkannya.</li>



<li>Bahwa pada saat-saat paling gelap di malam hari adalah saat-saat menjelang fajar.</li>



<li>Hanya ada satu hal yang membuat orang tak bisa meraih impiannya: takut gagal.</li>



<li>Itulah yang dilakukan oleh para alkemis. Mereka menunjukkan bahwa kalau kita berusaha menjadi lebih baik, segala sesuatu di sekitar kita akan ikut menjadi lebih baik.  </li>
</ul>



<p>Inti cerita dari novel ini adalah <strong>perjalanan sama penting dengan tujuan</strong>. Hal ini digambarkan dengan baik dengan <em>loop </em>yang harus dialami oleh Santiago, di mana apa yang ia kejar selama ini ternyata berada tepat di bawah kakinya.</p>



<p>Bahkan, menurut Penulis sebenarnya ini adalah buku pengembangan diri berkedok novel. Beberapa contoh di <em>quote </em>di atas bahkan seolah datang yang tepat di saat Penulis membutuhkannya, sehingga begitu <em>memorable </em>di kepala.</p>



<p>Memang, rasanya novel ini kurang <em>related </em>di keseharian kita karena Santiago sering sekali bertemu dengan keberuntungan, walau ada beberapa momen dia juga tertimpa sial. Setidaknya, <em>mindset </em>positif yang ia miliki untuk bertahan hidup bisa coba kita terapkan dalam hidup ini.</p>



<p>Terlepas dari itu, satu hal menarik lainnya adalah bagaimana <strong>Santiago bertemu dengan banyak umat muslim sepanjang perjalanannya</strong>. Sangat jarang Penulis menemukan ini di novel terjemahan, tapi masuk akal karena Santiago melakukan perjalanan ke Piramida di Mesir.</p>



<p>Tak hanya itu, ia juga menemukan tambatan hatinya di kampung muslim. Namun, ini sedikit menimbulkan pertanyaan karena di awal cerita, ia memiliki perasaan kepada anak pemilik toko roti. Ini menimulkan kesan kalau si anak pemilik toko roti sama sekali tak memiliki peran signifikan dalam cerita.</p>



<p>Buku ini memang memiliki unsur supernatural, yang biasanya tidak Penulis sukai kecuali di novel<em> <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-keajaiban-toko-kelontong-namiya/">Keajaiban Toko Kelontong Namiya</a></em> dan seri <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/">Funiculi Funicula</a></em>. Namun, karena unsur tersebut hanya hadir sebagai bumbu pelengkap (seperti bahasa universal), Penulis tak terlalu mempermasalahkannya.</p>



<p>Secara keseluruhan, <em>Sang Alkemis </em>merupakan salah satu novel terbaik yang pernah Penulis baca. Gara-gara novel ini, Penulis jadi penasaran dengan novel Paolo Coelho yang lain. Apakah Pembaca ada rekomendasi?</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 9 April 2025, terinspirasi setelah membaca buku <em>Sang Alkemis</em> karya Paolo Coelho</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-sang-alkemis/">[REVIEW] Setelah Membaca Sang Alkemis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-sang-alkemis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Anak-Anak Semar</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-anak-anak-semar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-anak-anak-semar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Oct 2024 03:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Semar]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7993</guid>

					<description><![CDATA[<p>Cerita pewayangan selalu menarik bagi Penulis. Walau bukan tipe orang yang hafal semua lore dalam pewayangan, setidaknya kalau diajak ngobrol tentang topik ini bisa nyambung. Oleh karena itu, Penulis punya beberapa judul novel yang bertemakan pewayangan. Beberapa contoh novel pewayangan yang pernah Penulis ulas di blog ini adalah Kitab Omong Kosong dari Seno Gumira Ajidarma [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-anak-anak-semar/">[REVIEW] Setelah Membaca Anak-Anak Semar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="https://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/">Cerita pewayangan</a> selalu menarik bagi Penulis. Walau bukan tipe orang yang hafal semua <em>lore </em>dalam pewayangan, setidaknya kalau diajak ngobrol tentang topik ini bisa nyambung. Oleh karena itu, Penulis punya beberapa judul novel yang bertemakan pewayangan.</p>



<p>Beberapa contoh novel pewayangan yang pernah Penulis ulas di blog ini adalah <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/">Kitab Omong Kosong</a> </em>dari Seno Gumira Ajidarma dan <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-anak-bajang-menggiring-angin/">Anak Bajang Menggiring Angin</a> </em>dari Sindhunata. Dua-duanya menarik, sehingga jika salah satu merilis novel wayang baru, Penulis akan membelinya.</p>



<p>Nah, oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli novel berjudul <em><strong>Anak-Anak Semar </strong></em>yang ditulis oleh Sindhunata. Apalagi, mayoritas cerita wayang yang Penulis baca selama ini jarang mengulas tentang salah satu anggota Punakawan tersebut.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-banner.jpg 1280w " alt="Teralihkan Isu Bombastis" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/politik-negara/teralihkan-isu-bombastis/">Teralihkan Isu Bombastis</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Ngomongin Uang</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Anak-Anak Semar</em></li>



<li>Penulis: Sindhunata</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Pertama</li>



<li>Tanggal Terbit: Juni 2022</li>



<li>Tebal: 204 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020662084</li>



<li>Harga: Rp128.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Ngomongin Uang</h2>



<p class="has-text-align-center"><em>Maka kau adalah samar, ya, Semar. Janganlah kau samar terhadap kegelapan, jangan pula kau samar terhadap terang. Hanya dengan hatimu yang samar, kau dapat melihat terang dalam kegelapan, kebaikan dalam kejahatan. Hanya dengan hatimu yang samar pula, kau dapat melihat kegelapan dan terang, kejahatan dalam kebaikan.</em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="has-text-align-center"><em>Anak-anak Semar karya Sindhunata berkisah tentang Semar sebagai pembawa harapan dan pengingat akan nilai-nilai serta akar budaya di tengah zaman yang bergerak begitu cepat. Dalam buku dengan ilustrasi lukisan karya Nasirun ini, wajah Semar kerap berubah-ubah. Kadang ia disebut Sang Pamomong, sosok yang selalu melindungi rakyat kecil dan tertindas. Lain waktu, ia juga seperti pohon rindang yang dengan samar bayangannya bisa memberikan keteduhan bagi siapa pun yang ada di dekatnya.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Anak-Anak Semar</h2>



<p>Tidak seperti judulnya, <em>Anak-Anak Semar </em>tidak bercerita tentang Bagong, Petruk, dan Gareng. Jujur, Penulis tidak benar-benar paham apa maksud dari judul tersebut karena novel ini justru bercerita tentang perjalanan dan perenungan Semar.</p>



<p>Yang Penulis tangkap, &#8220;anak-anak&#8221; di sini sebenarnya ditujukan kepada masyarakat yang ada di dalam novel ini sekaligus kita sebagai pembaca novel ini. Kita ini anak-anak yang masih membutuhkan keberadaan Semar, yang diceritakan sempat menghilang tanpa sebab.</p>



<p>Novel ini terdiri dari enam bab utama, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Semar Mencari Raga</li>



<li>Semar Hilang</li>



<li>Semar Mati</li>



<li>Semar Mbangun Khayangan</li>



<li>Semar Boyong</li>



<li>Semar Minggat</li>
</ol>



<p>Dari keenam judul tersebut, kita sudah mendapatkan gambaran kasar mengenai perjalanan yang akan dihadapi oleh Semar di novel ini: bagaimana ia &#8220;melepaskan&#8221; rohnya dari jasadnya, lalu bagaimana hilangnya Semar menimbulkan kegemparan, hingga anggapan bahwa Semar telah mati.</p>



<p>Setelah itu, setelah melalui perenungan dalam di alam khayangan (karena sejatinya Semar adalah dewa), ia berkeinginan untuk membuat &#8220;khayangannya&#8221; sendiri di dunia, lalu kembali ke bumi. Lantas, mengapa di akhir justru ia &#8220;minggat&#8221;? Temukan jawabannya di novel ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Anak-Anak Semar</h2>



<p>Sejujurnya, jika dibandingkan dengan novel <em>Anak Bajang Menggiring Angin</em>, <em>Anak-Anak Semar </em>lebih berat untuk dicerna. Alasannya, novel ini lebih banyak berisikan <strong>kalimat-kalimat monolog untuk menggambarkan situasi yang terjadi</strong>, baik ketika ada Semar maupun tidak.</p>



<p>Dialog yang ada lebih sering digunakan untuk mendukung situasi yang sedang terjadi. Misal, kegemparan ketika Semar menghilang, banyak dialog dari masyarakat yang menunjukkan keresahan. Selain itu, dialog juga terjadi ketika dalang sedang menceritakan kisah wayang.</p>



<p>Oleh karena itu, meskipun novelnya tipis, Penulis <strong>cukup lama menamatkannya</strong>. Ada banyak sekali bagian yang membuat Penulis harus berpikir keras untuk bisa memahaminya. Terkadang, sudah pelan-pelan membacanya pun Penulis masih kesulitan.</p>



<p>Tipisnya novel ini (hanya sekitar 200 halaman) juga menjadi kekurangan buku ini, karena <strong>harganya cukup mahal</strong>! Penulis tidak memahami apa alasan novel ini dilabeli harga Rp128 ribu, ketika buku lain yang memiliki ketebalan mirip biasanya dilabeli sekitar 70-80 ribu.</p>



<p>Namun, masih banyak hal positif dari novel ini.<strong> Keindahan pemilihan kata oleh Sindhunata jelas tak perlu diragukan lagi</strong>. Meskipun memang tak mudah dipahami, setidaknya kita akan dibuai dengan keindahan bahasa yang beliau tuliskan.</p>



<p>Sama seperti novel <em>Anak Bajang Menggiring Angin</em>, ada <strong>banyak filsafat jawa yang disisipkan </strong>dalam novel setipis ini. Salah satu yang paling sering dibahas adalah bagaimana pentingnya untuk merenungi diri sendiri, seperti yang sering Semar lakukan pada novel ini.</p>



<p>Selain itu, ada <strong>banyak ilustrasi menarik yang dibuat oleh Nasirun</strong>. Ilustrasi tersebut menggambarkan Semar dalam berbagai wujud. Cukup banyak ilustrasi yang terdapat di novel ini, setidaknya satu di setiap babnya.</p>



<p>Dengan berbagai penilaian tersebut, Penulis kurang merekomendasikan novel ini untuk orang yang masih awam dengan dunia perwayangan karena pasti akan terasa berat. Namun, jika memang sudah mengetahui banyak tentang dunia wayang, buku ini akan menjadi bacaan yang menarik.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 6/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 19 Juli 2024, terinspirasi setelah membaca buku <em>Anak-Anak Semar </em>karya Sindhunata</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-anak-anak-semar/">[REVIEW] Setelah Membaca Anak-Anak Semar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-anak-anak-semar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Teruslah Bodoh Jangan Pintar</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teruslah-bodoh-jangan-pintar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teruslah-bodoh-jangan-pintar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Aug 2024 16:06:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Tere Liye]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7716</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sudah cukup lama sejak Penulis terakhir kali membaca novel karya Tere Liye. Setelah meninggalkan seri Bumi karena sudah tidak sanggup mengikuti semestanya yang seolah meluas tanpa batas, buku terakhir yang Penulis baca adalah Bedebah di Ujung Tanduk. Setelah di novel Janji Penulis sudah sedikit memuji Tere Liye, Penulis kembali ngomel-ngomel setelah membaca Bedebah di Ujung [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teruslah-bodoh-jangan-pintar/">[REVIEW] Setelah Membaca Teruslah Bodoh Jangan Pintar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sudah cukup lama sejak Penulis terakhir kali membaca novel karya <strong>Tere Liye</strong>. Setelah meninggalkan seri Bumi karena sudah tidak sanggup mengikuti semestanya yang seolah meluas tanpa batas, buku terakhir yang Penulis baca adalah <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-bedebah-di-ujung-tanduk/">Bedebah di Ujung Tanduk</a></em>.</p>



<p>Setelah di novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-janji/">Janji</a> </em>Penulis sudah sedikit memuji Tere Liye, Penulis kembali ngomel-ngomel setelah membaca <em>Bedebah di Ujung Tanduk</em> karena beberapa hal. Alhasil, Penulis (sekali lagi) memutuskan untuk berhenti membaca novel karya Tere Liye. </p>



<p>Namun, keputusan tersebut goyah ketika Penulis membaca twit dari Ernest Prakasa pada bulan Februari lalu. Ia mengatakan kalau novel berjudul <em><strong>Teruslah Bodoh Jangan Pintar </strong></em>ini &#8220;terlalu berani&#8221; sehingga menimbulkan rasa penasaran bagi Penulis. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/secangkir-toleransi-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/secangkir-toleransi-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/secangkir-toleransi-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/secangkir-toleransi-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/secangkir-toleransi-banner.jpg 1280w " alt="Secangkir Toleransi" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/secangkir-toleransi/">Secangkir Toleransi</a></div></div></div><p></p>


<p>Novel bertema politik ini rilis berdekatan dengan <a href="https://whathefan.com/politik-negara/mengamati-pilpres-2024-bagian-1-antara-perubahan-dan-keberlanjutan/">pemilihan presiden</a>, sehingga banyak yang mengaitkan novel ini dengan kejadian di dunia nyata. Apakah itu benar? Hanya Tere Liye yang bisa menjawabnya. </p>



<p>Yang jelas, setelah membaca buku ini, mata kita seolah dibuka untuk minimal mengetahui realita yang selama ini tidak tersorot.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Teruslah Bodoh Jangan Pintar</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Teruslah Bodoh Jangan Pintar</em></li>



<li>Penulis: Tere Liye</li>



<li>Penerbit: PT Sabak Grip Nusantara</li>



<li>Cetakan: Kedua</li>



<li>Tanggal Terbit: Februari 2024</li>



<li>Tebal: 371 halaman</li>



<li>ISBN: 9786238882205</li>



<li>Harga: Rp99.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Teruslah Bodoh Jangan Pintar</h2>



<p><em>Saat hukum dan kekuasaan dipegang oleh serigala-serigala buas berbulu domba.<br>Saat seluruh negeri dikangkangi orang-orang jualan sok sederhana tapi sejatinya serakah.<br>Apakah kalian akan tutup mata, tutup mulut, tidak peduli dengan apa yang terjadi?<br>Atau kalian akan mengepalkan tangan ke udara, LAWAN!</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Teruslah Bodoh Jangan Pintar</h2>



<p>Kebanyakan sinopsis buku-buku Tere Liye tidak terlalu menjelaskan apa isi bukunya, seolah ingin menyimpan suatu rahasia yang baru terungkap setelah kita membaca bukunya. Buku ini salah satunya, yang bisa dilihat pada satu paragraf di atas.</p>



<p>Setelah dibuka, ternyata novel ini bercerita tentang persidangan tertutup yang dilakukan oleh para aktivis melawan korporat milik Tuan Liem (PT Semesta Minerals &amp; Minings) yang dituduh melakukan berbagai hal ilegal dan pencemaran lingkungan. Ini merupakan <em>scene </em>yang tak asing, bukan?</p>



<p>Alur ceritanya sendiri maju-mundur, di mana ketika saksi memberikan kesaksian, maka kita akan dibawa <em>flashback </em>ke masa lalu. Format ini selalu berulang di setiap saksi agar memberi kita gambaran mengenai kasus atau masalah yang sedang disidangkan.</p>



<p>Ada banyak sekali saksi yang dihadirkan oleh kedua belah pihak, di mana biasanya pihak tergugat seolah bisa membaca strategi pihak penuntut. Akibatnya, pihak penutut lebih sering kalah daripada menang, karena tim pembela tergugat dipimpin oleh pengacara paling top.</p>



<p>Pada akhirnya, sesuai dugaan, pihak tergugat berhasil memenangkan pengadilan dan berhak untuk melanjutkan proyek yang sedang dikerjakan. Sengaja Penulis menulis bagian akhirnya karena di realita, hal tersebut terlalu sering terjadi, sehingga rasanya tak layak menjadi <em>spoiler</em>. Namun, itu bukan akhir dari cerita di novel ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Teruslah Bodoh Jangan Pintar</h2>



<p>Tidak ada kisah manusia biasa dengan kemampuan super. Tidak ada adegan aksi yang menegangkan. Novel ini terasa begitu dekat dengan kehidupan kita. Menurut Penulis, Tere Liye berhasil menjahit beberapa kejadian nyata seolah menjadi sebuah fiksi pada novel ini, bukan sebaliknya. </p>



<p>Dengan mudah kita akan mengaitkan nama toko di buku ini dengan tokoh di dunia nyata. Penulis yakin, ada nama yang langsung terbesit di pikiran Pembaca begitu mengetahui karakter seperti Bacok dan Hotma Cornelius. Penulis tidak akan menyebutkan nama mereka di sini.</p>



<p>Dalam realita, uang dan kekuasaan selalu menjadi poin penting untuk bisa menjadi pemenang. Hal ini terlihat dari kemenangan PT Semesta yang dilakukan dengan menyogok para juri, selain mengumpulkan berbagai dokumen untuk membantah semua tuduhan yang diarahkan ke mereka.</p>



<p>Bagi yang kerap mengikuti berita-berita seputar konflik agraria, hilirisasi, atau kerusakan lingkungan, mungkin hal yang disajikan bukan hal baru. Namun, novel ini bisa membuka mata bagi mereka yang selama ini belum terlalu mengikutinya.</p>



<p>Konflik-konflik yang dihadirkan sebenarnya cukup berat, tapi Tere Liye mampu menghadirkannya dengan bahasa mudah sehingga kita yang awam dan tidak <em>related </em>mampu memahami situasinya. Di setiap kasus, kita akan dibuat geram dengan kejadian yang ada.</p>



<p>Penulis sempat mengkritik Tere Liye di novel <em>Bedebah di Ujung Tanduk </em>karena risetnya terlalu dangkal. Namun, di novel ini bisa dibilang ia melakukan riset yang cukup detail. Penulis akan percaya jika ia telah mewawancarai korban-korban konflik agraria dan lingkungan yang dalam 10 tahun terakhir kerap terjadi.</p>



<p>Bagi Penulis sendiri, konflik agraria dan kerusakan memang menjadi topik yang Penulis perhatikan. Walau tak ada kontribusi yang bisa Penulis lakukan untuk membantu para korban, setidaknya Penulis merasa perlu untuk tahu dan menyebarkan <em>awareness </em>kepada masyarakat yang lebih luas.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis merasa kalau novel ini mampu membuka mata kita mengenai konflik-konflik yang sedang dihadapi oleh saudara-saudara kita yang ada jauh di sana. Masalah yang mereka hadapi sama sekali tidak ringan, mereka tertindas di tempat tinggal mereka sendiri.</p>



<p>Sayangnya, novel ini bak anime <em>shounen </em>yang hitam-putih karakternya terlalu jelas. Pihak yang baik selalu benar dan pihak yang jahat selalu salah. Hal ini mengurangi elemen realistis yang disajikan pada novel ini. </p>



<p>Selain itu, Penulis juga kurang menikmati bagian <em>ending </em>yang terasa terburu-buru dan kurang realistis. Penulis tidak akan membocorkannya di sini, tapi Penulis merasa bagian akhirnya yang agak menggantung kurang memuaskan.</p>



<p>Namun, secara umum, setidaknya novel ini tidak membuat Penulis ngomel-ngomel. Sejak dulu, Penulis memang lebih suka cerita-cerita Tere Liye yang terasa dekat. Novel <em>Teruslah Bodoh Jangan Pintar </em>justru terasa terlalu dekat, hingga terasa menyeramkan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 7/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 19 Agustus 2024, terinspirasi setelah membaca buku <em>Teruslah Bodoh Jangan Pintar</em> karya Tere Liye</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teruslah-bodoh-jangan-pintar/">[REVIEW] Setelah Membaca Teruslah Bodoh Jangan Pintar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teruslah-bodoh-jangan-pintar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca The Devotion of Suspect X</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Jun 2024 15:23:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Detektif Galileo]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Keigo Higashino]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7376</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah menamatkan novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya yang begitu berkesan, Penulis pun ingin kembali membeli novel karya Keigo Higashino. Sayangnya, dari riset yang Penulis lakukan, ternyata kebanyakan novel Keigo adalah novel detektif, bukan slice of life. Hal tersebut sebenarnya bukan masalah, mengingat Penulis merupakan penggemar novel-novel detektif dan telah membaca semua seri Sherlock Holmes dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/">[REVIEW] Setelah Membaca The Devotion of Suspect X</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah menamatkan novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-keajaiban-toko-kelontong-namiya/">Keajaiban Toko Kelontong Namiya</a></em> yang begitu berkesan, Penulis pun ingin kembali membeli novel karya Keigo Higashino. Sayangnya, dari riset yang Penulis lakukan, ternyata kebanyakan novel Keigo adalah novel detektif, bukan <em>slice of life</em>.</p>



<p>Hal tersebut sebenarnya bukan masalah, mengingat Penulis merupakan <a href="https://whathefan.com/buku/berteriak-karena-buku/">penggemar novel-novel detektif</a> dan telah membaca semua seri Sherlock Holmes dan Agatha Christie. Yang jadi pertanyaan adalah judul mana yang sebaiknya Penulis baca dulu.</p>



<p>Setelah melihat rating di Goodreads, Penulis memutuskan untuk memilih novel berjudul The <em><strong>Devotion of Suspect X </strong></em>atau <em><strong>Kesetiaan Mr. X </strong></em>yang mendapatkan rating 4.2/5. Alhasil, novel ini berhasil membuat Penulis membeli novel Keigo lainnya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/saya-diracuni-twice-dan-berhasil-teracuni-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/saya-diracuni-twice-dan-berhasil-teracuni-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/saya-diracuni-twice-dan-berhasil-teracuni-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/saya-diracuni-twice-dan-berhasil-teracuni-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/saya-diracuni-twice-dan-berhasil-teracuni-banner.jpg 1280w " alt="Awal Perkenalan dengan Twice, Park Jihyo, dan Time to Twice" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/musik/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice/">Awal Perkenalan dengan Twice, Park Jihyo, dan Time to Twice</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku The Devotion of Suspect X</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>The Devotion of Suspect X: Kesetiaan Mr. X</em></li>



<li>Penulis: Keigo Higashino</li>



<li>Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama </li>



<li>Cetakan: Kedua Belas</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2024</li>



<li>Tebal: 320 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020330525</li>



<li>Harga: Rp99.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis The Devotion of Suspect X</h2>



<p><em>Ketika si mantan suami muncul lagi untuk memeras Yasuko Hanaoka dan putrinya, keadaan menjadi tak terkendali, hingga si mantan suami terbujur kaku di lantai apartemen. Yasuko berniat menghubungi polisi, tetapi mengurungkan niatnya ketika Ishigami, tetangganya, menawarkan bantuan untuk menyembunyikan mayat itu.</em></p>



<p><em>Saat mayat tersebut ditemukan, penyidikan Detektif Kusanagi mengarah kepada Yasuko. Namun sekuat apa pun insting detektifnya, alibi wanita itu sulit sekali dipatahkan. Kusanagi berkonsultasi dengan sahabatnya, Dr. Manabu Yukawa sang Profesor Galileo, yang ternyata teman kuliah Ishigami.</em></p>



<p><em>Diselingi nostalgia masa-masa kuliah, Yukawa sang pakar fisika beradu kecerdasan dengan Ishigami, sang genius matematika. Ishigami berjuang melindungi Yasuko dengan berusaha mengakali dan memperdaya Yukawa, yang baru kali ini menemukan lawan paling cerdas dan bertekad baja.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku The Devotion of Suspect X</h2>



<p>Seringnya, novel detektif akan membawa kita ke sebuah misteri di mana sosok pelaku masih belum diketahui. Sepanjang cerita, kita akan mengikuti penyelidikan yang dilakukan oleh detektif hingga akhirnya bisa menyimpulkan siapa pelaku pada kasus tersebut.</p>



<p>Nah, formula yang berbeda Penulis temukan pada novel ini. Dari sinopsisnya saja, kita sudah tahu siapa yang menjadi pelaku dalam kasus pembunuhan dan bagaimana ia mendapatkan bantuan dari tetangganya agar tidak perlu sampai ditangkap oleh polisi.</p>



<p>Dari sana, alur yang dimiliki oleh novel ini sama seperti novel detektif kebanyakan, di mana pihak kepolisian yang buntuk akhirnya akan meminta bantuan orang di luar kepolisian. Di sini, sosok detektifnya adalah Dr. Manabu Yukawa yang merupakan seorang asisten dosen fisika.</p>



<p>Sama seperti Hercule Poirot ataupun Sherlock Holmes, Yukawa juga memiliki metodenya sendiri untuk bisa memecahkan sebuah kasus. Apalagi, kali ini teman kuliahnya yang bernama Ishigami terlibat, sehingga ia memiliki cara pendekatannya sendiri.</p>



<p>Duel antara Yukawa yang merupakan jenius fisika dan Ishigawa yang merupakan jenius matematika menjadi bagian yang cukup menarik. Pertarungan mereka seperti pertanyaan: mana yang lebih sulit, menulis jawaban sendiri atau mengoreksi jawaban orang lain? </p>



<p>Kejeniusan Ishigawa berhasil membuat Yasuko Hanaoka dan putrinya, yang menjadi pelaku pembunuhan mantan suaminya, memiliki alibi sempurna. Semua skenario seolah sudah ia perhitungkan, dan selama Yasuko dan anaknya yang bernama Misato bisa melakukan apa yang perintah, harusnya semua aman.</p>



<p>Satu hal yang tidak diperhitungkan oleh Ishigawa adalah keterlibatan Yukawa di kasus ini. Jika saja Yukawa tidak terlibat, kemungkinan besar semua rencana yang telah ia susun akan berhasil hingga akhir dan pihak kepolisian akan mengalami kebuntuan.</p>



<p><em>Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya <s>tidak akan ikut olimpiade </s>jatuh juga.</em></p>



<p>Penulis tidak akan terlalu banyak membocorkan cerita dari novel ini, karena nilai plusnya justru di bagian <em>plot twist</em>-nya. Yang jelas, Penulis yang sudah sering membaca novel detektif pun terkecoh hingga bagian akhir.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The Devotion of Suspect X</h2>



<p>Belajar dari kesalahan tak bisa menghafal nama-nama Jepang di novel-novel Jepang, Penulis memutuskan untuk memberi otaknya waktu sejenak untuk menghafalkan ini siapa dan perannya apa. Hal tersebut cukup membantu Penulis membedakan karakter-karakter yang ada di novel ini.</p>



<p>Sebenarnya Penulis tidak ingin terlalu memberikan bocoran mengenai alur cerita novel ini. Hanya saja, ada beberapa poin yang ingin Penulis ulas yang mengharuskan Penulis sedikit memberikan bocoran. Oleh karena itu, Penulis akan memberikan <em><strong>spoiler alert </strong></em>di sini.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Awalnya Kurang Mengesankan, Akhirnya Bikin Terkejut</h3>



<p>Saat membaca bagian awal novel ini, Penulis merasa kalau alurnya cukup tertebak karena kedalaman ceritanya memang cukup dangkal jika dibandingkan dengan karya Agatha Christie. Apalagi, di pembatas buku tertulis Asianlit, sehingga Penulis merasa wajar jika cerita misterinya dibuat agak ringan.</p>



<p>Sejak awal, Penulis sudah menebak kalau Ishigami pada akhirnya akan menyerahkan diri ke polisi apabila situasinya sudah semakin gawat. Dari awal hingga menjelang akhir, inilah aksi paling bucin dari Ishigami kepada Yukawa. </p>



<p>Untuk apa sampai berbuat segitunya demi orang yang tidak terlalu dekat? Bukankah membantu menutupi pembunuhan saja sudah tidak normal? Di bagian akhir nanti akan dijelaskan mengapa Ishigami sampai sebucin dan senekat itu. </p>



<p>Lantas jika tertebak, di mana letak <em>plot twist</em>-nya? Jawabannya ada di dua bab terakhir, di mana <em>plot twist-</em>nya adalah tentang sampai sejauh mana Ishigami rela berbuat demi melindungi Yukawa. Penulis benar-benar terkejut ketika membacanya.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Membandingkan Yukawa dengan Poirot dan Holmes</h3>



<p>Berbicara tentang sosok Yukawa yang menjadi <em>main detective </em>di novel ini, kesan pertama yang Penulis dapatkan adalah kemampuan deduksi dan analisisnya masih di bawah Poirot dan Holmes. Cara-cara yang ia lakukan dalam menyelesaikan kasus ini bisa dibilang biasa saja, tidak ada yang istimewa.</p>



<p>Yukawa memang bisa menghubungkan satu fakta dengan fakta lainnya seperti yang dilakukan Poirot dengan sel-sel kelabu di otaknya, tetapi entah mengapa terasa cukup lamban. Kalau kemampuan deduksi, Holmes jelas masih di atasnya. </p>



<p>Yukawa seolah digambarnya sebagai seorang akademisi yang kebetulan kelewat jenius saja, sehingga bisa melihat apa yang dilewatkan oleh pihak kepolisian. Namun, kemampuan detektifknya bisa dibilang tidak terlalu menonjol.</p>



<p>Duelnya dengan Ishigawa sendiri bukan duel ala Holmes vs. Moriaty di mana mereka berusaha saling mengalahkan. Duel mereka &#8220;hanya&#8221; bagaimana Yukawa berusaha membongkar trik yang dilakukan oleh Ishigawa untuk menutupi kejahatan yang dilakukan oleh Yasuko.</p>



<p>Memang terlalu dini untuk menilai Yukawa karena Penulis baru membaca satu serinya. Penulis jadi tidak sabar untuk membaca seri Detektif Galileo selanjutnya, mungkin penilaian Penulis terhadapnya akan berubah. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Sedikit Kekurangan</h3>



<p>Jika disuruh menuliskan kekurangan dari novel ini, mungkin bagian penyelidikan yang dilakukan oleh Detektif Kusanagi dan lainnya cukup berputar-putar di tempat tanpa ada progres yang berarti, sehingga di beberapa bagian alurnya akan terasa lambat.</p>



<p>Sejak awal, Yasuko menjadi target utama kepolisian karena hubugannya sebagai mantan istri Togashi. Namun, alibi Yasuko dan Misato nyaris sempurna dan pihak kepolisian tidak bisa membuktikan alibi mereka palsu. Inilah yang membuat penyelidikan menjadi berputar-putar.</p>



<p>Apalagi, Yasuko dan Misato berhasil menjalankan semua perintah Ishigawa dengan sempurna, sehingga kepolisian pun jadi yakin atas kesaksian mereka. Sedikit saja kesalahan yang mereka lakukan, rencana Ishigawa bisa buyar.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Kesimpulannya, <em>The Devotion of Suspect X </em>merupakan sebuah novel detektif dengan pendekatan yang berbeda. Alih-alih menebak-nebak siapa pelakunya, kita justru diberikan suguhan duel antara dua jenius: yang ingin menutupi kejahatan dan yang ingin membongkarnya.</p>



<p>Dengan pendekatan yang <em>fresh </em>ini, Penulis jadi merasa membaca sebuah novel yang unik dan cukup berkesan. Konklusi kisahnya pun memuaskan, meskipun terasa getir. Mungkin Keigo memang doyang membuat kisah yang membuat hati pilu.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<p>Saat hampir menamatkan novel ini pada hari Kamis (6/6/24) kemarin, Penulis memutuskan untuk membeli novel Keigo lainnya yang berjudul <em>A Midsummer&#8217;s Equation</em>. Semoga saja keseruan ceritanya minimal setara dengan yang baru Penulis tamatkan ini.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 8 Juni 2024, teinspirasi setelah membaca buku <em>The Devotion of Suspect X </em>karya Keigo Higashino</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/">[REVIEW] Setelah Membaca The Devotion of Suspect X</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-twenty-four-eyes-dua-belas-pasang-mata/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-twenty-four-eyes-dua-belas-pasang-mata/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 May 2024 15:06:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7238</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada tulisan ulasan novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya, Penulis sudah menyebutkan kalau dirinya membeli buku tersebut karena tertarik membaca novel-novel karya penulis Jepang setelah membaca seri Funiculi Funicula. Sebenarnya sebelum membaca buku tersebut, Penulis sudah membaca novel Jepang lain berjudul Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata karya Sakae Tsuboi. Hanya saja, novel tersebut kurang berkesan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-twenty-four-eyes-dua-belas-pasang-mata/">[REVIEW] Setelah Membaca Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada tulisan ulasan novel <a href="https://whathefan.com/olahraga/biasakan-nonton-mu-sampai-habis-lol/"><em>Keajaiban Toko Kelontong Namiya</em>, </a> Penulis sudah menyebutkan kalau dirinya membeli buku tersebut karena tertarik membaca novel-novel karya penulis Jepang setelah membaca seri <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold-spoiler-version/">Funiculi Funicula</a></em>.</p>



<p>Sebenarnya sebelum membaca buku tersebut, Penulis sudah membaca novel Jepang lain berjudul <strong><em>Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</em> </strong>karya <strong>Sakae Tsuboi</strong>. Hanya saja, novel tersebut kurang berkesan, sehingga Penulis jadi malas membuat ulasannya.</p>



<p> Namun, karena sesuai jadwal harusnya novel ini dibuat ulasannya dan kemalasan menuliskannya membuat tulisan yang lain jadi ikut tertunda, Penulis pun meniatkan diri untuk menyelesaikan artikel ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-banner.jpg 1280w " alt="Dilema (Media) Sosial Kita" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">Dilema (Media) Sosial Kita</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</li>



<li>Penulis: Sakae Tsuboi</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Keduabelas</li>



<li>Tanggal Terbit: Maret 2023</li>



<li>Tebal: 248 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020651729</li>



<li>Harga: Rp70.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</h2>



<p><em>Sebagai guru baru, Bu Guru Oishi ditugaskan mengajar di sebuah desa nelayan yang miskin. Di sana dia belajar memahami kehidupan sederhana dan kasih sayang yang ditunjukkan murid-muridnya. Sementara waktu berlalu, tahun-tahun yang bagai impian itu disapu oleh kenyataan hidup yang sangat memilukan. Perang memorak-porandakan semuanya, dan anak-anak ini beserta guru mereka mesti belajar menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</h2>



<p>Berhubung novelnya tipis (hanya sekitar 200 halaman), sebenarnya cerita yang disajikan sederhana saja. Apa yang tertuang di bagian sinopsis sudah menjelaskan garis besar cerita novel ini, sehingga rasanya Penulis tidak perlu menceritakan lagi apa isi buku ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</h2>



<p>Ketika melihat novel ini di toko buku, Penulis tertarik dengan latar pendidikan yang diangkat di antara dua era Perang Dunia ini. Dengan jumlah murid yang sedikit di tempat terpencil, Penulis juga jadi berharap kalau isinya akan mirip dengan <em>Laskar Pelangi</em>.</p>



<p>Sayangnya, harapan tersebut pupus begitu saja ketika Penulis sudah mulai membaca novel yang tergolong klasik ini. Penulis sama sekali kesulitan untuk bisa menikmati gaya bahasanya dan alur ceritanya. </p>



<p>Bahkan, Penulis tidak bisa banyak ingat apa saja kisah yang ada di dalamnya. Ceritanya berkutat di antara bagaimana bu guru yang bergaya modern harus beradaptasi dengan lingkungan desa judgemental<em> </em>dan berbagai konflik yang dihadapi oleh para muridnya.</p>



<p>Selain itu, berbeda dengan <em>Laskar Pelangi</em>, Penulis sangat kesulitan untuk membedakan murid-muridnya. Apalagi, novel ini juga tidak memiliki satu figur tokoh utama yang bisa membantu kita menavigasi arah cerita.</p>



<p>Sudah namanya sulit-sulit, masing-masing pun rasanya tidak terlalu memiliki ciri khas yang menonjol untuk diingat. Alhasil, sepanjang cerita, Penulis kesulitan untuk membayang tiap adegan yang terpampang karena merasa kesulitan untuk mengasosiasikan ini siapa itu siapa.  </p>



<p>Saat mengecek di Goodreads, sebenarnya ada banyak pembaca novel ini yang jatuh cinta dan menganggap ceritanya yang <em>bittersweet</em> menyentuh hati. Sayangnya, Penulis bukan salah satunya karena sungguh tidak bisa menikmatinya.</p>



<p>Bahkan ketika habis membacanya, sama sekali tidak muncul perasaan haru. Yang ada justru rasa syukur karena akhirnya bisa menyelesaikan novel ini yang walaupun pendek, rasanya sangat berat untuk menamatkannya.</p>



<p>Tidak hanya itu, Penulis juga bersyukur karena akhirnya bisa mengurangi &#8220;tanggungannya&#8221; dengan menuliskan ulasan singkat tentang novel ini. Setidaknya satu beban tulisan telah selesai.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Rating: 3/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 12 Mei 2024, terinspirasi setelah membaca buku <em>Dua Belas Pasang Mata </em>karya Sakae Tsuboi</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-twenty-four-eyes-dua-belas-pasang-mata/">[REVIEW] Setelah Membaca Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-twenty-four-eyes-dua-belas-pasang-mata/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Keajaiban Toko Kelontong Namiya</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-keajaiban-toko-kelontong-namiya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-keajaiban-toko-kelontong-namiya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Apr 2024 14:24:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fantasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Keigo Higashino]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[slice of life]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7176</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak terpukau dengan seri Funiculi Funicula, Penulis jadi makin tertarik untuk membaca novel-novel buatan penulis Jepang. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli salah satu novel karya Keigo Higashino, yang namanya sering Penulis temukan di toko buku. Untuk pilihan pertama Penulis jatuhkan kepada novel berjudul Keajaiban Toko Kelontong Namiya. Entah mengapa waktu itu Penulis merasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-keajaiban-toko-kelontong-namiya/">[REVIEW] Setelah Membaca Keajaiban Toko Kelontong Namiya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sejak terpukau dengan <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/">seri <em>Funiculi Funicula</em></a>, Penulis jadi makin tertarik untuk membaca novel-novel buatan penulis Jepang. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli salah satu novel karya Keigo Higashino, yang namanya sering Penulis temukan di toko buku.</p>



<p>Untuk pilihan pertama Penulis jatuhkan kepada novel berjudul<em><strong> Keajaiban Toko Kelontong Namiya</strong></em>. Entah mengapa waktu itu Penulis merasa terdorong untuk memilih judul ini sebagai &#8220;perkenalan&#8221; dengan karya-karya Keigo. Mungkin karena sinopsisnya yang membuat penasaran.</p>



<p>Untungnya, ternyata pilihan Penulis benar-benar tepat sasaran. Tanpa perlu diragukan, novel ini menjadi salah satu favoritnya. Ada banyak alasan mengapa Penulis menganggap kalau <em>Keajaiban Toko Kelontong Namiya </em>adalah salah satu novel terbaik yang pernah dibaca.</p>



<p class="has-text-align-center"><strong>[SPOILER ALERT!!!]</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan.jpg 1280w " alt="Chapter 42 Urusan yang Belum Selesai" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-42-urusan-yang-belum-selesai/">Chapter 42 Urusan yang Belum Selesai</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: Keajaiban Toko Kelontong Namiya</li>



<li>Penulis: Keigo Higashino</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Keenambelas</li>



<li>Tanggal Terbit: Maret 2023</li>



<li>Tebal: 400 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020648293</li>



<li>Harga: Rp130.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Keajaiban Toko Kelontong Namiya</h2>



<p><em>Ketika tiga pemuda berandal bersembunyi di toko kelontong tak berpenghuni setelah melakukan pencurian, sepucuk surat misterius mendadak diselipkan ke dalam toko melalui lubang surat.</em></p>



<p><em>Surat yang berisi permintaan saran. Sungguh aneh.</em></p>



<p><em>Namun, surat aneh itu ternyata membawa mereka dalam petualangan melintasi waktu, menggantikan peran kakek pemilik toko kelontong yang menghabiskan tahun-tahun terakhirnya memberikan nasihat tulus kepada orang-orang yang meminta bantuan.</em></p>



<p><em>Hanya untuk satu malam.</em></p>



<p><em>Dan saat fajar menjelang, hidup ketiga sahabat itu tidak akan pernah sama lagi..</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Keajaiban Toko Kelontong Namiya</h2>



<p>Sesuai dengan sinopsis yang tertera pada bagian belakang buku, novel ini awalnya mengambil sudut pandang dari tiga pemuda yang baru saja melakukan pencurian. Mereka adalah Atsuya, Shota, dan Kohei. Mereka bersembunyi di sebuah toko kelontong yang sudah tak berpenghuni.</p>



<p>Lantas, tiba-tiba datang sepucuk surat yang masuk ke dalam toko tersebut tanpa ada orang di sekitar. Lebih menegangkannya lagi, toko tersebut ditulis oleh seseorang yang berasal dari masa lalu! Karena penasaran, mereka pun mencoba menulis balasannya.</p>



<p>Atsuya yang tegas dan blak-blakan memiliki gaya menulis surat yang galak seolah sedang memarahi, sedangkan kedua temannya yang lain lebih lembut dan berempati. Ajaibnya, setiap mereka selesai mengirimkan surat balasan, maka balasan selanjutnya akan segera datang.</p>



<p>Kurang lebih seperti itulah ringkasan plot cerita dari bagian pertama yang berjudul <strong>&#8220;Jawaban Ada di Kotak Susu.&#8221;</strong> Novel ini masih memiliki empat bagian lagi, yang masing-masing memiliki kisahnya sendiri, walau pada akhirnya akan ada benang merah di bagian akhir.</p>



<p>Tentu saja masing-masing bagian selalu memiliki kaitan dengan toko kelontong Namiya, entah itu sebagai orang yang meminta saran atau sang pemilik toko itu sendiri ketika masih hidup. Keempat bagian yang lain memiliki judul:</p>



<p><strong>2. Alunan Harmonika di Malam Hari</strong></p>



<p>Berpusat pada seorang pemuda yang dilema mengenai kariernya sebagai musisi. Lantas, ia pun berkonsultasi dengan toko kelontong Namiya yang dekat dengan rumahnya. Menariknya, semua surat yang ia kirimkan dibalas oleh ketiga pemuda yang telah disebutkan sebelumnya.</p>



<p><strong>3. Semalam di Civic</strong></p>



<p>Setelah mendapat gambaran bagaimana ketiga pemuda tersebut mengalami &#8220;perjalanan waktu&#8221; sejak masuk toko kelontong tersebut, kita akan dibawa ke sudut pandang pemilik toko tersebut, yakni Yuji Namiya, dan anaknya, Takayuki.</p>



<p>Pada bagian ini, kita jadi bisa memahami mengapa Yuji di penghujung hidupnya membuka layanan konsultasi gratis. Meskipun banyak yang iseng, Yuji selalu berusaha membalas semuanya dengan serius dan bijak.</p>



<p><strong>4. Mengheningkan Cipta Bersama The Beatles</strong></p>



<p>Pada bagian empat, kita akan dibawa ke cerita baru yang berpusat pada mantan penggemar <em>band </em>The Beatles. Namun, di satu titik ia menjadi membenci <em>band </em>tersebut dan memutuskan untuk menjual semua koleksinya.</p>



<p>Hal tersebut terjadi menjelang kaburnya ia bersama orang tuanya, yang sedang terlilit masalah dan hutang. Bahkan, ia pada akhirnya memutuskan untuk kabur dan meninggalkan orang tuanya karena suatu alasan.</p>



<p><strong>5. Doa dari Langit</strong></p>



<p>Penutup dari novel ini berpusat pada seorang wanita muda yang berkarier sebagai seorang <em>hostess</em>. Karena dilema, ia pun meminta nasehat dari Toko Kelontong Namiya (di mana yang membalasnya adalah ketiga pemuda yang telah disebutkan di atas).</p>



<p>Meskipun terkadang merasa tidak cocok dengan gaya bahasa balasan surat tersebut, ia memutuskan untuk menuruti semua nasehatnya dan akhirnya berhasil menjadi seorang wanita yang sukses.</p>



<p>Yang menarik dari bab ini adalah kita menjadi mendapatkan penjelasan mengenai keajaiban yang terjadi di Toko Kelontong Namiya. Selain itu, seluruh cerita dari bab pertama hingga terakhir pun jadi jelas benang merahnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Keajaiban Toko Kelontong Namiya</h2>



<p>Dari ratusan novel yang pernah dibaca oleh Penulis, rasanya baru kali ini ada yang berhasil membuat Penulis merasa merinding tak karuan. Tidak hanya karena nuansa supranaturalnya, tapi juga karena plot ceritanya yang<em> </em>kadang terasa getir.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Banyak Kesamaan dengan Funiculi Funicula</h3>



<p>Meskipun ditulis oleh orang yang berbeda, entah mengapa <em>Keajaiban Toko Kelontong Namiya </em>memiliki kesan yang mirip dengan <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold-spoiler-version/">seri <em>Funiculi Funicula</em></a>. Selain ada unsur supranatural, cerita-cerita yang dihadirkan pun cukup <em>heartwarming </em>walau tidak sampai bikin mewek.</p>



<p>Selain itu, ada juga unsur <em>time travel </em>di novel ini, walau yang pergi ke masa lalu hanya surat-surat, bukannya orangnya seperti yang terjadi di <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-kisah-kisah-yang-baru-terungkap/">kafe Funiculi Funicula</a>. Itu pun sudah cukup karena surat tersebut menjadi salah satu kekuatan utama dari novel ini.</p>



<p>Penokohannya pun juga sama-sama PR karena Penulis kesulitan mengingat nama dalam bahasa Jepang. Apalagi, novel ini juga memiliki banyak karakter. Bayangkan, setiap cerita selalu menghadirkan karakter baru.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Benang Merah dari Kisah-Kisah yang Seolah Tak Berhubungan</h3>



<p>Formula yang dimiliki oleh novel ini mengandung salah satu unsur yang Penulis sukai, yakni bagaimana beberapa kisah yang seolah tidak memiliki keterkaitan ternyata memiliki benang merah yang tak terduga. Padahal, cerita yang dimiliki seolah bisa berdiri sendiri-sendiri. </p>



<p>Begitu menyelesaikan novel ini, rasanya cerita yang terjalin berhasil menjadi <em>full circle</em>, di mana cerita berakhir di mana ia bermula. Novel ini juga memiliki alur waktu yang tidak linier, mirip dengan film-film buatan Christopher Nolan. </p>



<p>Walaupun begitu, alurnya bisa dibilang mengalir dengan mulus tanpa ada <em>plot hole</em>. Cerita dengan latar waktu yang rumit bisa dibuat mudah dipahami. Apalagi, tidak ada adegan yang terasa percuma. Semua memiliki alasan mengapa harus diceritakan.</p>



<p>Mungkin bagi yang mendalami konsep <em>time travel</em> akan mempertanyakan beberapa paradoks yang terjadi karena semua kejadian yang ada berada dalam satu lingkaran yang sama. Ini terutama akan sangat terasa di bab terakhir. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Karakter Favorit: Yuji Namiya</h3>



<p>Tanpa memberikan <em>spoiler</em>, karakter favorit Penulis di sini tentu saja adalah Yuji Namiya sang pemilik toko kelontong yang memberikan layanan konsultasi gratis. Di penghujung hidupnya, ia mengabdikan dirinya untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. Luar biasa.</p>



<p>Meskipun adegannya lebih banyak <em>flashback </em>karena ia diceritakan telah meninggal di masa kini, kita bisa merasakan kehadirannya sepanjang cerita, terutama setelah membaca bab ketiga. </p>



<p>Salah satu hal yang paling membuat Penulis merasa terharu adalah bagaimana ia bahkan menyempatkan diri untuk membalas sebuah kertas kosong tanpa isi. Balasannya pun tidak main-main, benar-benar membuat merinding!</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Penulis tidak ingin membocorkan banyak cerita atau plot dari novel ini, karena berharap Pembaca akan menemukan keseruannya sendiri ketika membaca novel ini. Tak berlebihan rasanya jika Penulis menyebut ini adalah salah satu novel terbaik yang pernah dibaca.</p>



<p>Yang jelas, rasanya tidak ada pertanyaan yang menggantung setelah menamatkannya, semua tuntas terjawab, termasuk mengapa bisa surat yang dikirimkan puluhan tahun lalu bisa baru sampai hari ini. Sangat direkomendasikan untuk semua kalangan!</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 11/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 31 Maret 2024, terinspirasi setelah membaca buku Keajaiban Toko Kelontong Namiya</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-keajaiban-toko-kelontong-namiya/">[REVIEW] Setelah Membaca Keajaiban Toko Kelontong Namiya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-keajaiban-toko-kelontong-namiya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
