<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>biografi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/biografi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/biografi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 29 Jun 2024 17:37:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>biografi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/biografi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-hoegeng-polisi-dan-menteri-teladan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-hoegeng-polisi-dan-menteri-teladan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Jun 2024 04:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Hoegeng]]></category>
		<category><![CDATA[polisi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7560</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mungkin sudah banyak yang mengetahui kalau polisi yang tak bisa disuap di Indonesia, menurut Gus Dur, hanya ada tiga: patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng. Karena muncul dari mulut mantan presiden Republik Indonesia, tentu nama Hoegeng berhasil menarik perhatian banyak orang, termasuk Penulis. Oleh karena itu, Penulis pun akhirnya ingin mengetahui lebih dalam tentang sosok [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-hoegeng-polisi-dan-menteri-teladan/">[REVIEW] Setelah Membaca Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Mungkin sudah banyak yang mengetahui kalau polisi yang tak bisa disuap di Indonesia, menurut Gus Dur, hanya ada tiga: patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng. Karena muncul dari mulut mantan presiden Republik Indonesia, tentu nama Hoegeng berhasil menarik perhatian banyak orang, termasuk Penulis.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis pun akhirnya ingin mengetahui lebih dalam tentang sosok Hoegeng dan membeli buku <em>Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan </em>yang ditulis oleh Suhartono. Buku ini disusun berdasarkan dari kisah yang diceritakan mantan sekretaris Hoegeng, yaitu Soedharto.</p>



<p>Mengingat bukunya yang cukup tipis, Penulis tidak terlalu berharap kalau isinya akan menceritakan kisah hidup Hoegeng secara rinci dan lengkap. Namun, mengingat buku ini diterbitkan oleh Kompas yang terkenal akan kualitasnya, Penulis pun memutuskan untuk membacanya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-768x566.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-1024x755.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-346x255.jpg 346w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019.jpg 1221w " alt="Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/mencari-inspirasi-karakter-melalui-anime/">Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</em></li>



<li>Penulis: Suhartono</li>



<li>Penerbit: Penerbit Buku Kompas</li>



<li>Cetakan: Ketujuh (Edisi Revisi)</li>



<li>Tanggal Terbit: September 2022</li>



<li>Tebal: 182 halaman</li>



<li>ISBN: 9789797097691</li>



<li>Harga: Rp75.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</h2>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Di Indonesia hanya ada tiga polisi yang tak bisa disuap: patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng” — KH Abdurrahman Wahid </em></p>
</blockquote>



<p><em>Generasi muda kini mungkin tak lagi tahu, Hoegeng yang dimaksud Presiden Abdurrahman Wahid dalam kata katanya di atas adalah almarhum Jenderal (Pol.) Hoegeng Iman Santoso, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) di zaman transisi Orde Lama menuju Orde Baru. Sebagai polisi, Hoegeng dikenal jujur, sederhana, dan tak kenal kompromi. Karenanya, seperti polisi tidur, ia tak bisa disuap. </em></p>



<p><em>Namun, bagaimana kiprah Hoegeng ketika ia dipercaya Presiden Soekarno menjadi Menteri/Sekretaris Presidium Kabinet dan Menteri Iuran Negara, serta Kepala Jawatan Imigrasi Indonesia pada periode tahun 1961-1966? </em></p>



<p><em>Buku ini tak hanya menuturkan keteladanan Hoegeng sebagai polisi dan birokrat. Juga ada kisah hubungan Hoegeng dan Soedharto Martopoespito yang berakhir tragis. Cengkeraman kekuasaan Orde Baru memutuskan hubungan akrab di antara keduanya. Setelah Hoegeng bergabung dengan kelompok Petisi 50, sebagai PNS di kantor Menko Polkam, Dharto tak pernah berani lagi berhubungan secara pribadi dengan mantan atasannya itu. </em></p>



<p><em>Ditulis oleh Suhartono, wartawan harian Kompas berdasarkan kisah Soedharto Martopoespito, mantan sekretaris Hoegeng.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</h2>



<p>Berbeda dengan kebanyakan buku biografi pada umumnya yang menjelaskan kisah biografi secara kronologis, buku ini tidak menceritakan kisah hidup Hoegeng seperti itu. Bisa dibilang, format yang digunakan mirip dengan Seri Tokoh Tempo.</p>



<p>Edisi revisi ini menambahkan tiga bab yang diletakkan di depan lima bab sebelumnya. Ketiga bab tersebut berfungsi sebagai pelengkap, karena lima bab asli buku ini benar-benar murni dari hasil wawancara dengan mantan sekretaris Hoegeng.</p>



<p>Tiga bab tambahan tersebut berjudul 1) Antara Hoegeng dan Bung Karno 2) Legenda versus Realitas 3) Diusulkan Pahlawan Nasional. Sedangkan lima bab aslinya sendiri berjudul 4) Mengenal Hoegeng 5) Kesederhanaan Tanpa Pamrih 6) Kenangan Tugas Masa Lalu 7) Pegangan Hidup 8) Hari-Hari Bersama Keluarga 9) Silahturami yang Terputus.</p>



<p>Bisa dilihat dari judul bab-bab tersebut jika format buku ini bukan kronologis seperti kebanyakan buku biografi. Sebagian besar buku ini menyorot sepak terjang Hoegeng ketika memiliki sekretaris Soedarto. Di luar itu, tidak banyak hal yang dibahas.</p>



<p>Tentu ada bagian-bagian yang menjelaskan bagaimana Hoegeng sebagai polisi, menteri, bahkan anggota Petisi 50 bersama Ali Sadikin dan lainnya. Namun, sekali lagi, buku ini lebih banyak menyorot hubungan personal antara Hoegeng dan Soedharto.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</h2>



<p>Setelah membaca buku ini, jujur saja Penulis merasa kecewa karena isinya yang kurang mendalam dan justru terlalu fokus dengan hubungan Hoegeng dan mantan sekretarisnya. Memang hal tersebut disebutkan dalam sinopsis, tapi Penulis tidak menyangka itu justru mendominasi isi buku ini.</p>



<p>Kalau boleh jujur, buku ini lebih cocok berjudul <em>Hoegeng di Mata Mantan Anak Buahnya. </em>Judul tersebut terasa lebih menggambarkan isi buku ini, seperti buku <em>Bung Hatta di Mata Tiga Putrinya</em>. Pembaca jadi mendapatkan gambaran kalau isi bukunya ya memang menurut perspektif orang lain.</p>



<p>Kalau buku ini, dari judulnya tentu pembaca akan berekspektasi kalau isinya akan banyak mengulas kiprah Hoegeng sebagai polisi dan menteri. Memang dibahas, tapi sangat <em>basic </em>seperti informasi yang bisa ditemukan di Wikipedia. </p>



<p>Fakta-fakta menarik yang menunjukkan kesederhanaan Hoegeng pun rasanya sudah banyak dibahas entah di situs web maupun media sosial. Tidak ada yang spesial dengan isi buku ini, kecuali jika pembacanya mungkin belum pernah mendengar nama Hoegeng sama sekali.</p>



<p>Di sisi lain, mungkin hal tersebut membuat buku ini mudah dipahami karena isinya ya memang sederhana. Kalau untuk sekadar sebagai penambah <em>insight </em>tentang sosok Hoegeng yang luar biasa, buku ini bisa melakukannya.</p>



<p>Setidaknya, setelah membaca buku <em>Hoegeng </em>ini, kita bisa mendapatkan gambaran bagaimana sosok polisi jujur yang satu ini seharusnya bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Hoegeng sudah seharusnya menjadi standar bagi para pejabat publik di Indonesia. </p>



<p>Untuk kisah hidup Hoegeng, Penulis jelas akan memberikan skor 10/10 untuk beliau. Akan tetapi, untuk kualitas bukunya sendiri, Penulis akan memberikan skor yang cukup rendah untuk ukuran buku terbitan Kompas.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 4/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 29 Juni 2024, terinspirasi setelah membaca buku <em>Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan </em>karya Suhartono</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-hoegeng-polisi-dan-menteri-teladan/">[REVIEW] Setelah Membaca Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-hoegeng-polisi-dan-menteri-teladan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Ali Sadikin</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ali-sadikin/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ali-sadikin/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Jun 2024 15:39:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Sadikin]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7493</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika disuruh menyebutkan satu saja gubernur Jawa Timur yang melegenda, Penulis tidak akan bisa menyebutkan satu nama pun. Namun, kalau pertanyaannya diganti gubernur Jakarta, Penulis akan langsung menjawab Ali Sadikin. Penulis tidak benar-benar ingat dari mana nama Ali Sadikin muncul di kehidupan Penulis. Yang Penulis tahu, beliau adalah sosok gubernur yang sangat terkenal dan banyak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ali-sadikin/">[REVIEW] Setelah Membaca Ali Sadikin</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Jika disuruh menyebutkan satu saja gubernur Jawa Timur yang melegenda, Penulis tidak akan bisa menyebutkan satu nama pun. Namun, kalau pertanyaannya diganti gubernur Jakarta, Penulis akan langsung menjawab <strong>Ali Sadikin</strong>.</p>



<p>Penulis tidak benar-benar ingat dari mana nama Ali Sadikin muncul di kehidupan Penulis. Yang Penulis tahu, beliau adalah sosok gubernur yang sangat terkenal dan banyak prestasinya. Seperti apa kebijakan yang ia buat hingga bisa menjadi sosok populis tidak Penulis ketahui.</p>



<p>Nah, kebetulan Tim TEMPO merilis buku biografi singkatnya, yang menyadi edisti terbaru <a href="https://whathefan.com/buku/pelengkap-keping-sejarah-pada-seri-buku-tempo-soeharto/">Seri Buku Tempo</a> setelah sekian lama. Mengingat Penulis mengoleksi serinya, tentu saja Penulis membaca buku ini, sekalian belajar apa saja terobosan yang pernah dilakukan oleh Ali Sadikin.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner.jpg 1280w " alt="Maskulinitas pada Musik Dewa" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/musik/maskulinitas-pada-musik-dewa/">Maskulinitas pada Musik Dewa</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Ali Sadikin</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Ali Sadikin: Gubernur Jakarta yang Melampaui Zaman</em></li>



<li>Penulis: Tim TEMPO</li>



<li>Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia</li>



<li>Cetakan: Pertama</li>



<li>Tanggal Terbit: November 2023 </li>



<li>Tebal: 130 halaman</li>



<li>ISBN: 9786231341167</li>



<li>Harga: Rp75.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Ali Sadikin</h2>



<p><em>Sejarah Jakarta tak bisa dilepaskan dari sosok Ali Sadikin. Ditunjuk langsung sebagai Gubernur DKI Jakarta (menjabat 1966-1977) oleh Presiden Sukarno, Bang Ali-begitu dia biasa disapa-dinilai mampu mengatasi berbagai problem yang melanda ibu kota. Selama 11 tahun menjabat gubernur, Bang Ali tidak hanya meletakkan fondasi perkembangan Jakarta, tetapi juga menunjukkan bagaimana seharusnya kota yang bermartabat sekaligus hijau dibangun.</em></p>



<p><em>Bagi Bang Ali, Jakarta harus menjadi ibu kota yang mencerminkan kebanggaan nasional, sesuai cita-cita Bung Karno. Untuk itu, dia berupaya mewujudkan Jakarta yang manusiawi, berbudaya, nyaman, dan tertib. Dia membangun berbagai fasilitas publik dan memperbaiki kampung kumuh, berupaya mengatasi banjir dengan menyiapkan kawasan hijau yang mengelilingi ibu kota, membangun tempat berkumpul bagi para seniman, dan ikut mendirikan Lembaga Bantuan Hukum Jakarta.</em></p>



<p><em>Namun, kepemimpinan Bang Ali bukan tanpa kontroversi. Dia, misalnya, melegalkan perjudian dan memungut pajaknya untuk mengubah wajah kota yang suram menjadi metropolis. Bang Ali tidak peduli meski dicaci maki dan dijuluki-gubernur maksiat-. Setelah tidak menjabat gubernur, dia bergabung dengan kelompok Petisi 50 dan tak ragu menunjukkan sikap politik yang berseberangan dengan Presiden Soeharto.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ali Sadikin?</h2>



<p>Seperti biasa, Seri Buku Tempo tidak menjabarkan kisah sosok yang diangkat secara kronologis. Hanya beberapa kejadian penting saja yang diulas, atau dalam konteks Ali Sadikin, lebih banyak menyorot kebijakan yang pernah ia buat.</p>



<p>Ada dua bab utama dalam buku ini, yakni &#8220;<strong>Nahkoda Koppig Ibu Kota</strong>&#8221; yang menjabarkan sepak terjang Ali selama menjadi gubernur, dan &#8220;<strong>Oposan Setelah Jabatan</strong>&#8221; yang menceritakan kisah Ali yang <a href="https://whathefan.com/politik-negara/negara-tanpa-oposisi/">menjadi oposisi</a> dari Presiden Soeharto.</p>



<p>Hampir semua daftar kebijakan yang dibuat oleh Ali sebenarnya sudah disebutkan di bagian sinopsis di atas. Isi bukunya mengelaborasi kebijakan-kebijakan tersebut secara lebih detail, baik yang positif maupun yang kontroversial.</p>



<p>Salah satu raihan positif yang pernah Ali selama menjabat sebagai seorang gubernur adalah melakukan revitalisasi kota Jakarta menjadi lebih modern, mirip dengan yang dilakukan oleh <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/napoleon-iii-gak-bisa-jadi-presiden-lagi-ya-tinggal-ubah-aturannya/">Napoleon III ke Paris</a>.</p>



<p>Kebijakan yang paling kontroversial tentu saja bagaimana ia melegalkan perjudian untuk menambah anggaran daerah. Uang pemasukan dari sektor tersebut ia gunakan untuk <a href="https://whathefan.com/politik-negara/banjir-jakarta-salah-siapa/">membangun Jakarta</a> menjadi kota modern.</p>



<p>Untuk bagian kedua, sebenarnya lebih menjelaskan posisi Ali yang memutuskan untuk berseberangan dengan Soeharto. Waktu itu, bahkan ada yang menyebut kalau Ali dan Soeharto seolah menjadi matahari kembar.</p>



<p>Ali juga bergabung dengan kelompok Petisi 50 yang berisi beberapa tokoh, termasuk Hoegeng yang buku biografinya juga baru saja Penulis tamatkan (artikel<em> review-</em>nya akan menyusul minggu depan). </p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Ali Sadikin</h2>



<p>Penulis selalu suka dengan buku-buku Seri Buku Tempo yang menyorot banyak tokoh nasional secara singkat, tapi penuh dengan fakta menarik yang disusun secara cermat dan berkualitas. Bahasanya pun menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.</p>



<p>Buku <em>Ali Sadikin </em>ini pun juga masih mempertahankan hal tersebut. Namun, Penulis merasa kalau edisi yang kali ini agak repetitif hingga terkesan dipanjang-panjangkan agar memenuhi syarat untuk diterbitkan menjadi sebuah buku. </p>



<p>Info yang disampaikan cuma itu-itu saja, seolah baca sinopsisnya saja sudah cukup. Entah mengapa Penulis merasa elaborasi di setiap bagiannya terasa kurang mendalam. Ini sangat berbeda dengan beberapa Seri Buku Tempo lain yang pernah Penulis baca.</p>



<p>Apakah itu karena kisah hidup Ali Sadikin memang kurang memiliki banyak cerita menarik? Rasanya tidak. Keputusan Tempo untuk mengangkat kisah Ali Sadikin sudah cukup menjadi bukti bagaimana ia memang seorang tokoh nasional yang layak dipelajari kisah hidupnya.</p>



<p>Setidaknya, Penulis jadi mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengapa Ali Sadikin dianggap sebagai seorang mantan gubernur Jakarta yang legendaris. Kiprahnya selama menjabat telah menjadi standar untuk gubernur-gubernur selanjutnya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 7/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 22 Juni 2024, terinspirasi setelah membaca buku <em>Ali Sadikin </em>dari Tim Tempo</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ali-sadikin/">[REVIEW] Setelah Membaca Ali Sadikin</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ali-sadikin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Privilege Ala Kartini</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/privilege-ala-kartini/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/privilege-ala-kartini/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Apr 2021 13:25:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[emansipasi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kartini]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4919</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tanggal 21 April selalu identik dengan satu hal: hari Kartini. Tokoh emansipasi wanita tersebut lahir di Jepara pada tanggal tersebut di tahun 1879. Perannya sudah tidak perlu diragukan lagi, ia menjadi inspirasi bagi banyak wanita di Indonesia. Sudah banyak yang bercerita tentang kehidupan beliau. Penulis tertarik untuk mengulik sisi lain dari seorang Raden Adjeng Kartini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/privilege-ala-kartini/">Privilege Ala Kartini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Tanggal 21 April selalu identik dengan satu hal: <strong>hari Kartini</strong>. Tokoh emansipasi wanita tersebut lahir di Jepara pada tanggal tersebut di tahun 1879. Perannya sudah tidak perlu diragukan lagi, ia menjadi inspirasi bagi banyak wanita di Indonesia.</p>



<p>Sudah banyak yang bercerita tentang kehidupan beliau. Penulis tertarik untuk mengulik sisi lain dari seorang Raden Adjeng Kartini. Menurut Penulis, Kartini bisa menjadi sedemikian ikonik berkat <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/apa-yang-salah-dengan-privilege/"><em>privilege </em>yang ia miliki</a> sejak lahir. Kok bisa?</p>





<h2 class="wp-block-heading"><em>Privilege </em>Sejak Lahir</h2>



<p><em>Privilege </em>telah dimiliki oleh Kartini sejak lahir karena ia terlahir dari kalangan <em>priyayi </em>alias bangsawan Jawa. Ia merupakan putri dari <strong>Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat</strong>, yang setelah putrinya lahir diangkat mejnadi bupati Jepara.</p>



<p>Jejak darah biru bisa ditelusuri hingga <strong>Hamengkubuwana VI</strong>. Keluarga ibunya sendiri bukan keluarga bangsawan, sehingga ayahnya harus menikah lagi dengan wanita bangsawan sebagai salah satu syarat untuk bisa menjadi seorang bupati.</p>



<p>Sebagai anak seorang bangsawan, Kartini memiliki kesempatan untuk bersekolah di <strong>Europeesche Lagere School (ELS)</strong> walau hanya boleh sampai berusia 12 tahun. Setidaknya, ia lebih beruntung dibandingkan kebanyakan wanita pribumi saat itu.</p>



<p>Berhenti dari sekolah tidak membuat Kartini berhenti belajar. Secara otodidak ia belajar sendiri di rumah dan kerap menulis surat untuk teman-temannya yang berasal dari Belanda. Ia juga bisa mendapatkan buku-buku, koran, dan majalah Eropa (<em>another big privilege</em>).</p>



<p>Nah, dari sanalah Kartini mendapatkan pandangan betapa <strong>majunya cara berpikir wanita Eropa</strong> jika dibandingkan dengan wanita pribumi yang  kerapdipandang rendah. Muncullah keinginan Kartini untuk memajukan harkat wanita pribumi.</p>



<p>Wawasannya yang luas membuatnya mulai menulis dan dimuat dalam berbagai macam surat kabar seperti <em><strong>De Hollandsche Lelie</strong></em>. Kartini sering menulis seputar permasalahan emansipasi wanita, walau terkadang ia membahasi isu sosial lainnya.</p>



<p>Bahkan setelah menikah, ia tetap melakukan perjuangannya. Sang suami yang seorang bupati Rembang memberikan kebebasan dan mendukung Kartini yang ingin mendirikan sekolah wanita di dekat kantor bupati.</p>



<p>Sayangnya, Kartini tidak berumur panjang. Hanya beberapa hari setelah melahirkan anaknya yang pertama, ia harus menghembuskan napas terakhir ketika berusia relatif muda, 25 tahun.</p>



<p>Meskipun begitu, peninggalannya meninggalkan jejak yang luar biasa. Ide-ide yang tertuang di suratnya begitu revolusioner dan dianggap melampaui zamannya. </p>



<p>Surat-surat Kartini diterbitkan di Belanda, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul <em><strong>Habis Gelap Terbitlah Terang</strong></em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Memanfaatkan <em>Privilege </em>dengan Benar</h2>



<p>Memang benar jika Kartini bisa berpikiran seperti ini karena memilki <em>privilege</em>. Hanya saja, Kartini bisa <strong>menggunakan <em>privilege </em>yang dimiliki dengan benar dan tepat</strong>. Ia <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">tidak memanfaatkan <em>privilege </em>untuk dirinya semata</a>, melainkan untuk kesejahteraan semua wanita pribumi di Indonesia.</p>



<p>Di era ketika Kartini hidup, ada berapa banyak wanita yang lahir dari keluarga bangsawan? Penulis tidak tahu berapa jumlah pastinya, tapi Penulis yakin jika jumlahnya cukup banyak. Apalagi, para bangsawan kerap memiliki istri lebih dari satu (Kartini sendiri merupakan istri ketiga).</p>



<p>Dari banyaknya wanita yang memiliki <em>privilege </em>tersebut, mengapa hanya Kartini yang terlihat berusaha memperjuangkan untuk mengangkat harkat martabat wanita pribumi? Mungkin ada, tapi tidak sebesar Kartini atau memang tidak terdokumentasi dalam sejarah.</p>



<p>Kartini sendiri bukan satu-satunya wanita hebat di masa perjuangan kemerdekaan. Ada nama seperti Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika, Martha Christina Tiahahu, dan lain-lain. Ada beberapa pihak yang protes, kenapa hanya Kartini saja yang diistimewakan.</p>



<p>Hanya saja, Kartini memang populer atas pemikiran-pemikirannya tentang emansipasi wanita yang kerap diabaikan pada masa itu. <strong>Tidak banyak wanita dapat memanfaatkan <em>privilege </em>yang dimiliki seperti yang dilakukan oleh Kartini.</strong></p>



<p></p>



<p></p>



<p>Lawang, 21 April 2021, terinspirasi karena hari ini hari Kartini</p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://jatim.tribunnews.com/2020/04/21/kumpulan-44-quotes-hari-kartini-dalam-bahasa-inggris-dan-indonesia-untuk-peringati-emansipasi-wanita?page=3">Tribun Jatim &#8211; Tribunnews.com</a></p>



<p>Sumber Artikel: <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Kartini">Kartini &#8211; Wikipedia bahasa Indonesia</a>, <a href="https://voi.id/memori/5008/tidak-banyak-orang-yang-mampu-memanfaatkan-hak-istimewanya-sehebat-kartini">Tidak Banyak Orang yang Mampu Memanfaatkan Hak Istimewanya Sehebat Kartini (voi.id)</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/privilege-ala-kartini/">Privilege Ala Kartini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/privilege-ala-kartini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Discovery: Napoleon</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-discovery-napoleon/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-discovery-napoleon/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 May 2020 23:24:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Big Bad Wolf]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Napoleon Bonaparte]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[Prancis]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3850</guid>

					<description><![CDATA[<p>Biasanya ketika berkunjung ke acara Big Bad Wolf (BBW), Penulis akan berburu buku anak-anak yang bahasa Inggrisnya mudah dipahami. Kalaupun beli buku berat, biasanya hanya dijadikan sebagai koleksi semata. Hal yang berbeda terjadi pada BBW tahun ini karena Penulis memberanikan diri untuk membaca buku-buku berbahasa Inggris yang cukup tebal, bukan sekadar ensiklopedia anak. Salah satu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-discovery-napoleon/">Setelah Membaca Discovery: Napoleon</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Biasanya ketika berkunjung ke acara <a href="https://whathefan.com/pengalaman/saya-dan-big-bad-wolf-bagian-1/"><em>Big Bad Wolf</em> (BBW)</a>, Penulis akan berburu buku anak-anak yang bahasa Inggrisnya mudah dipahami. Kalaupun beli buku berat, biasanya hanya dijadikan sebagai koleksi semata.</p>
<p>Hal yang berbeda terjadi pada BBW tahun ini karena Penulis memberanikan diri untuk membaca buku-buku berbahasa Inggris yang cukup tebal, bukan sekadar ensiklopedia anak.</p>
<p>Salah satu yang Penulis beli adalah <strong><em>Discovery: Napoleon </em></strong>yang memiliki subjudul <em>My ambition was great. </em>Entah mengapa Penulis merasa subjudul ini sedikit <em>creepy </em>dan aneh.</p>
<p>Lantas, bisakah Penulis memahami isi buku ini?</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Pada tulisan <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/kekalahan-terburuk-napoleon-bonaparte/"><em>Kekalahan Terburuk Napoleon Bonaparte</em></a>, Penulis sudah memberitahu kalau dirinya merupakan penggemar kaisar Prancis tersebut. Penulis juga membaca buku <a href="https://whathefan.com/buku/biografi-singkat-napoleon-pada-misteri-napoleon/"><em>Misteri Napoleon</em></a> yang cukup menarik.</p>
<p>Penulis memutuskan untuk membeli buku ini karena sudah mengetahui sebagian besar kisah hidupnya, sehingga setidaknya punya semacam dasar ilmu untuk memahami buku ini.</p>
<p>Apalagi, buku ini dilengkapi dengan berbagai ilustrasi yang sangat menarik dan berhasil membuat Penulis merasa sedang berada di era-era <em>Napoleonic Wars</em>.</p>
<p>Buku ini dibagi menjadi lima bab, yakni:</p>
<ol>
<li><strong><em>Son of the Revolution</em></strong>, bercerita tentang masa kecil Napoleon di pulau kecil bernama Corsica hingga ia bergabung dengan militer Prancis. Bab ini berakhir dengan kekalahan Napoleon di Mesir melawan pasukan Inggris.</li>
<li><strong><em>The Conquest of Power</em></strong>, menceritakan bagaimana pengaruh Napoleon dalam sistem pemerintahan Prancis yang baru saja menyingkirkan sistem monarki. Pada akhirnya, Napoleon malah menjadi kaisar baru Prancis.</li>
<li><strong><em>The Founder of Contemporary France</em></strong>, ada banyak inovasi yang dilakukan oleh Napoleon semenjak menjabat sebagai kaisar.</li>
<li><strong><em>The God of War</em></strong>, tidak hanya membuat berbagai terobosan baru, Napoleon juga ingin memperluas wilayan kekuasaannya dengan melakukan invasi ke berbagai wilayah.</li>
<li><strong><em>The Fall</em></strong>, menceritakan tentang kejatuhan Napoleon yang diawali dengan pemberontakan di Spanyol, kekalahan memalukan dari Rusia, hingga akhirnya harus dibuang ke Pulau St. Helena.</li>
</ol>
<p>Di bagian akhir, ada beberapa salinan dokumen yang berkaitan dengan kehidupan Napoleon. Hanya saja, Penulis memutuskan untuk tidak membacanya karena kurang menarik.</p>
<p>Selain itu, ada juga kronologi kehidupan Napoleon dari awal hingga akhir serta beberapa informasi menarik lainnya seputar Napoleon.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku Discovery: Napoleon</h3>
<p>Sebagai penggemar Napoleon, buku ini benar-benar bisa memuaskan Penulis melalui visual-visual yang ada di dalamnya. Apalagi, buku ini <em>full color </em>sehingga sangat memanjakan mata.</p>
<p>Meskipun tergolong buku sejarah-biografi, bahasanya tidak berat-berat amat. Mengetahui sedikit latar belakangnya mungkin membuat Penulis bisa memahami sebagian besar isi bukunya.</p>
<p>Kejadian tiap kejadiannya dituliskan sesuai dengan urutan kronologi yang rapi. Banyak kutipan-kutipan dari Napoleon (atau mungkin juga dari orang-orang yang ada di sekitarnya) yang akan Pembaca temukan.</p>
<p>Hanya saja, buku ini terlihat sedikit ringkih dan mudah tertekuk. Mungkin karena jenis kertas yang digunakan. Penulis harus ekstra hati-hati ketika menamatkannya.</p>
<p>Di bagian kover belakang, tertera harga aslinya adalah $12.95 atau setara dengan Rp190 ribuan jika menggunakan kurs sekarang. Penulis mendapatkannya seharga tujuh puluh ribu rupiah dan merasa sangat sangat <em>worth it</em>.</p>
<p>Kalau pembaca adalah seorang penggemar Napoleon atau setidaknya penggemar sejarah, buku ini sangat Penulis rekomendasikan untuk menemani waktu-waktu sengang.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.2/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 15 Mei 2020, terinspirasi setelah membaca buku <em>Discovery: Napoleon </em>karya Thiery Lentz</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-discovery-napoleon/">Setelah Membaca Discovery: Napoleon</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-discovery-napoleon/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Merindukan Sentuhan Sir Alex</title>
		<link>https://whathefan.com/olahraga/merindukan-sentuhan-sir-alex/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Nov 2019 05:08:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[Manchester United]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sepakbola]]></category>
		<category><![CDATA[Sir Alex Ferguson]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3035</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa tahun terakhir ini, menjadi seorang penggemar Manchester United (MU) terasa sangat berat. Semenjak kepergian Sir Alex, rasanya tidak ada pelatih yang mampu menggantikan sentuhan midasnya. Akibatnya, banyak fans (termasuk penulis) berusaha mengobati luka tersebut dengan mengingat kembali prestasi-prestasi yang pernah diraih di masa lalu, terutama ketika Sir Alex masih menukangi Setan Merah. Kenapa Suka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/olahraga/merindukan-sentuhan-sir-alex/">Merindukan Sentuhan Sir Alex</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa tahun terakhir ini, menjadi seorang penggemar <strong>Manchester United</strong> (MU) terasa sangat berat. Semenjak kepergian <strong>Sir Alex</strong>, rasanya tidak ada pelatih yang mampu menggantikan sentuhan midasnya.</p>
<p>Akibatnya, banyak fans (termasuk penulis) berusaha mengobati luka tersebut dengan mengingat kembali prestasi-prestasi yang pernah diraih di masa lalu, terutama ketika Sir Alex masih menukangi Setan Merah.</p>
<h3>Kenapa Suka dengan Manchester United?</h3>
<p>Penulis menyukai sepakbola sejak <strong>Piala Dunia 2002</strong>. Kalau tidak salah, pertandingan pertama yang penulis tonton adalah Brazil melawan Kosta Rika yang berakhir dengan skor 5-2.</p>
<p>Gara-gara itu, penulis mulai mencari klub sepakbola yang akan disukai. Untungnya, adalah tabloid <em>Bola</em> dan <em>Soccer</em> sebagai referensi. Apalagi, terkadang ayah membawakan majalah <em>Bolavaganza</em> bekas.</p>
<p>Penulis pun melihat masing-masing liga dan memilih klub yang sedang bertengger di posisi pertama. Ketika melihat klasemen Liga Inggris, <strong>Manchester United</strong> sedang menjadi pemuncak klasemen. Karena itulah penulis menjadikan klub tersebut sebagai klub favorit.</p>
<p>Cara yang sama penulis gunakan untuk menjadi pendukung <strong>Real Madrid</strong> (Spanyol) dan <strong>Inter Milan</strong> (Italia), walau yang disebut pertama sudah tidak terlalu didukung karena kejadian <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/iker-casillas-kapten-yang-terbuang/">pengusiran Iker Casillas</a> secara kurang ajar.</p>
<p>Mengamati sepak terjang MU selama belasan tahun tentu membuat penulis jadi ikut memperhatikan sang pelatih, <strong>Sir Alex Ferguson</strong>.</p>
<h3>Awal Kelam Sir Alex</h3>
<p><div id="attachment_3037" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3037" class="size-large wp-image-3037" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3037" class="wp-caption-text">Awal Bergabung (<a href="https://bleacherreport.com/articles/2673531-30-years-on-sir-alexs-fergusons-first-manchester-united-season">Bleach Reporter</a>)</p></div></p>
<p><b>Sir Alexander Chapman &#8220;Alex&#8221; Ferguson </b>menukangi Manchester United sejak tahun 1986. Debut pertandingannya tidak mulus karena harus mengalami kekalahan 0-2 dari klub Oxford United.</p>
<p>Salah satu tudingan kekalahan tersebut adalah kondisi klub yang sedang tidak sehat. Banyak pemain andalannya mengalami masalah kebugaran karena kegemarannya menenggak minuman keras.</p>
<p>Sir Alex pun langsung menerapkan disiplin ketat yang akan ia pertahankan di tahun-tahun berikutnya. Walaupun begitu, ia tak mampu mengangkat klubnya dan hanya berhasil <em>finish </em>di posisi 11 pada tahun tersebut.</p>
<p>Sempat menjadi <em>runner-up </em>di bawah Liverpool pada musim berikutnya, MU kembali harus berada di peringkat 11 pada musim 1988-1989.</p>
<p>Bahkan di musim 1989-1990, klub ini terancam degradasi hingga muncul tuntutan untuk memecat sang pelatih. Untungnya pada musim tersebut, MU berhasil mendapatkan trofi Piala FA, trofi pertama yang berhasil didapatkan oleh Sir Alex.</p>
<p>Sir Alex pun menyadari bahwa ia harus membeli pemain yang tepat. Beberapa legenda pun direkrut seperti <strong>Mark Hughes</strong>, <strong>Paul Ince</strong>, hingga <strong>Peter Schmeichel</strong>. Perlahan tapi pasti, Sir Alex sedang membawa MU menuju era keemasannya.</p>
<h3>Era Premier League dan <em>Class of &#8217;92</em></h3>
<p><div id="attachment_3038" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3038" class="size-large wp-image-3038" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3038" class="wp-caption-text">Class of &#8217;92 (<a href="https://www.irishtimes.com/sport/soccer/english-soccer/man-united-s-class-of-92-coach-eric-harrison-dies-aged-81-1.3793627">Irish Times</a>)</p></div></p>
<p>Mulai musim 1992-1993, format liga Inggris berubah menjadi Premier League. Manchester United dan Sir Alex berhasil menjadi pemenang di edisi perdana setelah musim-musim buruk yang sudah mereka lalui.</p>
<p>Musim inilah Manchester United mulai menunjukkan dominasinya di Liga Inggris. Trofi perdana di bawah asuhan Sir Alex adalah trofi Liga Inggris kedelapan yang berhasil didapatkan. Ketika Sir Alex pensiun, jumlahnya sudah berubah menjadi 20!</p>
<p>Salah satu penyebab kebangkitan MU adalah munculnya <em><strong>Class of &#8217;92</strong> </em>yang diisi oleh pemain akademi berbakat seperti <strong>Paul Scholes</strong>, <strong>Gary Neville</strong>, <strong>Nicky Butt</strong>, dan <strong>David Beckham</strong> setelah sebelumnya <strong>Ryan Giggs</strong> melakukan debut terlebih dahulu.</p>
<p>Mereka inilah yang menjadi tulang punggung klub bersama dengan pemain-pemain senior seperti <strong>Eric Cantona</strong>, <strong>Roy Keane</strong>, hingga <strong>Bryan Robson</strong>. Pada saat yang sama, mereka juga mulai melepas pemain-pemain senior lainnya seperti Mark Hughes dan Paul Ince.</p>
<p>Kedalaman klub di tahun 90-an juga cukup menjanjikan, di mana Sir Alex merekrut beberapa pemain seperti <strong>Ole Gunnar Solskjaer</strong>, <strong>Teddy Sheringham</strong>, <strong>Jaap Stam</strong>, hingga <strong>Dwight Yorke</strong>.</p>
<p>Puncak keberhasilan MU adalah ketika berhasil meraih <em>treble winners </em>pada musim 1998-1999, setelah kemenangan dramatis melawan Bayern Munich di mana mereka mencetak dua gol saat <em>injury time.</em></p>
<p><em>Treble winners</em> inilah yang membuat Alex Ferguson mendapatkan gelar <em>Sir </em>sekaligus menjadi penanda MU akan menjadi salah satu kekuatan sepakbola terbesar yang pernah ada.</p>
<h3>Dominasi Premier League dan Pensiunnya Sir Alex</h3>
<p><div id="attachment_3039" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3039" class="size-large wp-image-3039" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3039" class="wp-caption-text">Salah Satu Skuad Terbaik (<a href="https://id.pinterest.com/pin/469992911082147551/?autologin=true">Pinterest</a>)</p></div></p>
<p>Karena baru mengenal sepakbola sejak tahun 2002, baru pada periode 2000-an lah penulis benar-benar mengetahui pemain-pemain Manchester United.</p>
<p>Setelah mendapatkan <em>treble</em>, MU mendatangkan sejumlah pemain seperti <strong>Ruud van Nisterlooy</strong> dan <strong>Fabien Barthez</strong>. Sempat mengalami musim buruk karena kepergian Jaap Stam, Sir Alex mendapatkan <strong>Rio Ferdinand</strong> dari Leeds United.</p>
<p>Sir Alex juga sempat dikabarkan akan pensiun karena klub mengalami penurunan prestasi. Untungnya, niat tersebut dibatalkan dan Sir Alex masih menjadi pelatih MU hingga musim 2012/2013.</p>
<p>Banyak kontroversi yang terjadi pada tahun 2000-an. Yang paling heboh tentu tendangan sepatu Sir Alex yang mengenai pelipis Beckham. Insiden ini yang ditenggarai sebagai penyebab kepergian sang legenda ke Real Madrid.</p>
<p>Untuk menggantikan peran Beckham, Sir Alex merekrut pemain muda yang bermain untuk Sporting Lisbon, <strong>Christiano Ronaldo</strong>. Sir Alex juga mendatangkan pemain muda berbakat dari Everton, <strong>Wayne Rooney</strong>.</p>
<p>Bisa dibilang, tahun 2003 hingga 2006 merupakan musim yang sulit bagi MU karena gagal mendapatkan gelar Premier League. Salah satu alasannya adalah tahun-tahun tersebut merupakan tahun-tahun transisi dari generasi emas ke generasi baru.</p>
<p>Sir Alex berusaha mencari pemain-pemain pengganti yang tepat. Oleh karena itu, ia mendatangkan <strong>Edwin van der Saar</strong>, <strong>Patrick Evra</strong>, <strong>Park Ji Sung</strong>, <strong>Nemanja Vidic</strong>, hingga <strong>Michael Carrick</strong>.</p>
<p>Setelah itu, MU berhasil memenangkan beberapa trofi Premier League lagi dan trofi Liga Champion yang kedua. Pada musim 2012/2013, Sir Alex mengumumkan keputusan pensiunnya.</p>
<h3>Manchester United Pasca Sir Alex</h3>
<p><div id="attachment_3040" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3040" class="size-large wp-image-3040" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-4-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-4-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-4-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-4-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3040" class="wp-caption-text">David Moyes (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwiBkJzZ7d7lAhXDNo8KHe69BJMQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.premierleague.com%2Fmanagers%2F2067%2FDavid-Moyes%2Foverview&amp;psig=AOvVaw1McXbm9uAAyhhcXaquoa37&amp;ust=1573448264742681" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiBkJzZ7d7lAhXDNo8KHe69BJMQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Premier League</span></a>)</p></div></p>
<p>Pengganti pertama Sir Alex adalah <strong>David Moyes </strong>yang mendapat julukan <em>The Choosen One </em>karena Sir Alex sendiri yang memberikan rekomendasi.</p>
<p>Sayang, ia gagal menunjukkan penampilan yang impresif sehingga diganti pada tengah musim dan digantikan oleh <strong>Ryan Giggs<em> </em></strong>untuk sementara waktu.</p>
<p>Selanjutnya MU merekrut <strong>Louis van Gaal</strong> dan Ryan Giggs menjadi asisten pelatih. Sekali lagi, van Gaal gagal menunjukkan MU seperti zaman Sir Alex sehingga posisinya digantikan oleh <strong>Jose Mourinho</strong>.</p>
<p>Nama besar Mourinho tidak cukup membawa MU meraih masa kejayaannya kembali sehingga ia pada akhirnya juga diberhentikan di tengah musim dan digantikan oleh Ole Gunnar Solkjaer hingga sekarang.</p>
<p>Setelah Sir Alex pensiun, MU hanya berhasil meraih 2 Piala <em>Community Shield </em>(David Moyes dan Jose Mourinho), 1 Piala FA (Louis van Gaal), 1 Piala <em>Europe League</em> (Jose Mourinho), dan 1 <em>League</em> <em>Cup</em> (Jose Mourinho). Belum ada trofi Premier League lagi hingga sekarang.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Jika ditanya pemain favorit, mungkin penulis akan menyebutkan nama David Beckham, Ruud van Nisterlooy, Park Ji Sung, hingga Edwin van der Saar.</p>
<p>Pemain-pemain tersebut menjadi bukti kejeniusan Sir Alex dalam menemukan pemain yang tepat untuk klubnya, sesuatu yang rasanya sukar dilakukan sekarang.</p>
<p>MU juga kerap menjadi bahan <em>bully </em>akibat performanya yang jeblok sehingga dianggap sebagai klub dagelan. Menjadi fans MU merupakan sesuatu yang berat di masa-masa sulit ini.</p>
<p>Salah satu penyebab utama dari kejatuhan ini adalah belum adanya pengganti Sir Alex yang tepat. Tidak ada lagi <em>Fergie Time </em>ataupun teriakan yang begitu keras hingga seperti <em>hair dryer</em>.</p>
<p>Entah sampai kapan MU akan seperti ini. Penulis, sebagai penggemar MU, berharap akan datang pelatih yang setidaknya mampu mendekati sentuhan ajaib Sir Alex dalam membawa timnya menuju kejayaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 10 November 2019, terinpsirasi dari performa MU yang makin lama makin mengecewakan.</p>
<p>Foto: <a href="https://bleacherreport.com/articles/1560996-man-utd-vs-chelsea-sir-alex-ferguson-the-loser-in-tale-of-three-managers">Bleacher Report</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/olahraga/merindukan-sentuhan-sir-alex/">Merindukan Sentuhan Sir Alex</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenang Eyang Habibie</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/mengenang-eyang-habibie/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Sep 2019 00:23:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Habibie]]></category>
		<category><![CDATA[pesawat]]></category>
		<category><![CDATA[presiden]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2673</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis merupakan penggemar berat eyang Habibie, mungkin semenjak duduk di bangku kuliah. Tidak kurang dari lima buku tentang beliau pernah penulis baca. Penulis pernah membaca buku yang pernah beliau tulis, buku biografi baik kehidupan pribadi maupun politiknya, buku yang berisikan nasihat-nasihat beliau, dan lain sebagainya. Belum film-filmnya yang pernah penulis tonton. Oleh karena itu, penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/mengenang-eyang-habibie/">Mengenang Eyang Habibie</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis merupakan penggemar berat eyang Habibie, mungkin semenjak duduk di bangku kuliah. Tidak kurang dari lima buku tentang beliau pernah penulis baca.</p>
<p>Penulis pernah membaca buku yang pernah beliau tulis, buku biografi baik kehidupan pribadi maupun politiknya, buku yang berisikan nasihat-nasihat beliau, dan lain sebagainya. Belum film-filmnya yang pernah penulis tonton.</p>
<p>Oleh karena itu, penulis merasa berduka ketika mendengar kabar kematiannya kemarin setelah sholat Maghrib. Beliau adalah orang yang banyak menginspirasi penulis dalam menjalani kehidupan.</p>
<h3 style="text-align: left;">Habibie di Kala Muda</h3>
<p><div id="attachment_2675" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2675" class="size-large wp-image-2675" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2675" class="wp-caption-text">Habibie Muda (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwiJ-u6ZgMrkAhXEILcAHWu2CvMQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Findonesiainside.id%2Fnews%2Fnasional%2F2019%2F09%2F12%2Fdi-usia-14-tahun-habibie-sudah-kehilangan-sosok-ayah%2F&amp;psig=AOvVaw3_UmK9ayI1Bpb4FeVGP5o9&amp;ust=1568333622452256">Indonesia Inside</a>)</p></div></p>
<p>Eyang Habibie adalah panutan yang tak bisa disangkal oleh siapapun. Sejak muda, ia sudah rajin belajar dan tak malu untuk memiliki mimpi setinggi langit.</p>
<p>Menghabiskan masa kecil di <strong>Parepare</strong>, Sulawesi Selatan, beliau pindah ke Bandung dan besekolah di ITB. Waktu itu, kampus tersebut masih menjadi bagian dari Universitas Indonesia.</p>
<p>Setelah itu, beliau pindah ke Jerman untuk melanjutkan kuliah. Presiden Sukarno waktu itu memang sedang gencar-gencarnya mengirimkan pemuda Indonesia ke luar negeri untuk belajar.</p>
<p>Habibie mengambil jurusan yang tidak biasa, <strong>teknik penerbangan</strong>. Sebagai negara yang baru saja merdeka, tidak banyak orang Indonesia yang mengambil jurusan ini.</p>
<p>Habibie adalah orang yang visioner. Ia mengambil jurusan tersebut karena percaya Indonesia harus bisa memproduksi pesawat sendiri untuk menghubungkan antar pulau di Indonesia.</p>
<p>Di sela-sela kuliahnya di Jerman inilah Habibie bertemu dengan <strong>ibu Ainun</strong>, sewaktu mengambil waktu liburan untuk pulang ke Bandung. Beliau pun melamar dan membawanya ke Jerman.</p>
<p>Setelah lulus, Habibie sempat bekerja di Jerman untuk beberapa waktu sebelum mendapatkan <strong>panggilan pulang dari presiden Soeharto</strong>. Ia diminta untuk turut membantu mengembangkan Indonesia.</p>
<h3>Tahun-Tahun Politik Habibie</h3>
<p><div id="attachment_2678" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2678" class="size-large wp-image-2678" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-2-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-2-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-2-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-2-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-2-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2678" class="wp-caption-text">Habibie dan Soeharto (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwiGz6q3gMrkAhUgmI8KHXQCASAQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.era.id%2Fread%2FwnUnpO-peringatan-20-tahun-reformasi-habibie-dan-transisi-orde-baru&amp;psig=AOvVaw0ISGg3YO6cB21mrcSW7o8x&amp;ust=1568333691481207">Era.id</a>)</p></div></p>
<p>Mulai tahun 1978 hingga 1998, ia menjabat sebagai <strong>Menteri Negara Riset dan Pembangunan</strong> untuk empat periode, waktu yang cukup lama untuk jabatan menteri.</p>
<p>Selain itu, ia juga menjabat sebagai ketua <strong>Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)</strong> yang dibentuk pada awal 1990-an, sebuah organisasi yang dianggap sebagai <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/">kendaraan politik Soeharto setelah memburuknya hubungan dengan militer</a>.</p>
<p>Pada tahun 1998, ia berhenti menjadi seorang menteri karena dipilih menjadi wakil presiden Soeharto yang ke-6. Masa jabatan ini hanya berlangsung singkat karena terjadinya gejolak di mana-mana akibat krisis moneter.</p>
<p>Soeharto, setelah 32 tahun menjabat, pada akhirnya harus mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden. Habibie, selaku wakilnya, naik menjadi presiden meskipun sempat diminta Soeharto untuk ikut mundur bersamanya.</p>
<p>Hal ini menyebabkan hubungan mereka berdua memburuk. Bahkan, Soeharto sampai menolak untuk bertemu dengan Habibie selama bertahun-tahun. Habibie dianggap sebagai pengkhianat. Padahal, selama ini Habibie menjadi salah satu anak emas Soeharto.</p>
<p>Masa jabatan Habibie juga tidak terlalu lama. Pada tahun 1999, DPR menolak laporan pertanggungjawabannya dan beliau pun menolak untuk dicalonkan kembali menjadi calon presiden untuk periode 1999-2004.</p>
<p>Selama menjadi presiden, banyak hal yang terjadi dengan republik ini. Maklum, baru bebas dari pemerintahan yang otoriter selama puluhan tahun.</p>
<p>Habibie dianggap sebagai penyebab <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kecil-timor-leste/">lepasnya Timor Leste dari tanah air</a> karena menyelenggarakan referendum. Padahal, banyak faktor yang memicu hal tersebut, bukan karena Habibie semata.</p>
<p>Beliau berhasil menurunkan nilai tukar rupiah dalam waktu singkat, juga membuka kran kebebasan pers selebar-lebarnya dan membebaskan para tahanan politik.</p>
<p>Tidak cukup di situ, beliau juga menelurkan UU Anti Monopoli, UU Otonomi daerah, revisi UU Partai Politik yang dulu hanya dibatasi tiga partai, dan masih banyak lainnya. Intinya, banyak kebijakan penting yang ia keluarkan di masa jabatannya yang singkat.</p>
<p>Kalau kata Dahlan Iskan, Habibie adalah <em>the right man in the wrong time</em>.</p>
<h3>Habibie dan Pesawat</h3>
<p><div id="attachment_2677" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2677" class="size-large wp-image-2677" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-3-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-3-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-3-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-3-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2677" class="wp-caption-text">N-250 (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwj59Lrz_8nkAhUx7nMBHabODt4QjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.pinterest.com%2Fpin%2F336503403380446461%2F&amp;psig=AOvVaw3t4kQX03QkItKhFTujUQ9e&amp;ust=1568333543153704">Pinterest</a>)</p></div></p>
<p>Semasa menjabat sebagai menteri, Habibie mengembangkan proyek <del>mobil</del> pesawat nasional yang diberi nama <strong>N-250 Gatot Kaca</strong>. Pesawat ini termasuk canggih pada masa itu karena telah menerapkan sistem <em>fly by wire</em>.</p>
<p>Pesawat ini pertama kali mengudara dengan sukses pada tahun 1995, disaksikan oleh jutaan pasang mata. Indonesia, negara yang masih dianggap primitif oleh sebagian negara lain, ternyata mampu membuat pesawatnya sendiri.</p>
<p>Sayang, krisis moneter yang dimulai tahun 1996 hingga 1998 menghempaskan impian tersebut. Negara memprioritaskan diri untuk membenahi dirinya terlebih dahulu.</p>
<p>Indonesia meminta bantuan kepada <em>International Moneter Fund </em>(IMF). Mereka bersedia membantu dengan salah satu syaratnya adalah menghentikan proyek pesawat Habibie. <i>Takut Indonesia berdikari, IMF?</i></p>
<p>Impian tersebut pun harus tertunda. Ketika Habibie menjadi presiden pun ia lebih memprioritaskan diri untuk menyelesaikan permasalahan negara yang urgensinya lebih tinggi.</p>
<p>Akan tetapi, bukan Habibie namanya jika putus asa semudah itu. Ia bersama anaknya membuat perusahaan PT. Regio Aviasi Industri dan sedang mengembangkan pesawat <strong>R-80</strong>. Sayang, beliau wafat sebelum pesawat tersebut digunakan secara massal.</p>
<h3><strong>Penutup</strong></h3>
<p>Meskipun telah meninggalkan kita semua, eyang Habibie akan tetap menjadi inspirasi dan panutan bagi kita semua. Karya-karyanya akan tetap abadi dan dikenang oleh para generasi penerus.</p>
<p>Semoga eyang bisa beristirahat dengan tenang, diampuni segala dosanya, diterima di sisi-Nya, dan jika Tuhan mengizinkan, bertemu kembali dengan ibu Ainun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 12 Agustus 2019, terinspirasi setelah wafatnya eyang Habibie</p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwiMnMrR_8nkAhWbinAKHTuJDKMQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Findonesiainside.id%2Fnews%2F2019%2F09%2F11%2Fprabowo-jokowi-ucapkan-duka-mendalam-atas-kepergian-habibie%2F&amp;psig=AOvVaw2CAv7xSVuwfGPhKIpx2J3K&amp;ust=1568333470345056">Indonesia Inside</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/mengenang-eyang-habibie/">Mengenang Eyang Habibie</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chester, 2 Tahun yang Lalu</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/chester-2-tahun-yang-lalu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Jul 2019 00:12:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Chester Bennington]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[Mike Shinoda]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2571</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis tergoda menulis artikel ini karena pos Instagram terbaru dari Mike Shinoda, salah satu center dari band favorit penulis, Linkin Park. Sebenarnya, ia sendiri pun tidak ingin memperingati kematian kawannya tersebut. Chester Bennington merupakan vokalis Linkin Park yang ditemukan tewas gantung diri di kamarnya pada tanggal 20 Juli 2017, hanya beberapa bulan setelah bandnya merilis album terbaru, One More [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/chester-2-tahun-yang-lalu/">Chester, 2 Tahun yang Lalu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis tergoda menulis artikel ini karena <a href="https://www.instagram.com/p/B0JVH4NA5C2/">pos Instagram terbaru dari Mike Shinoda</a>, salah satu <em>center </em>dari band favorit penulis, Linkin Park. Sebenarnya, ia sendiri pun tidak ingin memperingati kematian kawannya tersebut.</p>
<p><strong>Chester Bennington </strong>merupakan vokalis Linkin Park yang ditemukan tewas gantung diri di kamarnya pada tanggal 20 Juli 2017, hanya beberapa bulan setelah bandnya merilis album terbaru, <strong><em>One More Light</em></strong>.</p>
<h3>Kematian Chester</h3>
<p><div id="attachment_2574" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2574" class="size-large wp-image-2574" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/chester-2-tahun-yang-lalu-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/chester-2-tahun-yang-lalu-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/chester-2-tahun-yang-lalu-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/chester-2-tahun-yang-lalu-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/chester-2-tahun-yang-lalu-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2574" class="wp-caption-text">Chester dan Mike (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.nme.com/news/music/linkin-park-considering-new-music-for-the-first-time-since-chester-benningtons-death-2478836" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi1q_zYoczjAhXF4nMBHVmXAPAQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">NME.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Kabar ini penulis dengar pertama kali dari ayah, sewaktu penulis berada di Yogyakarta karena sebuah acara. Waktu itu sekitar pukul 6 pagi, beliau menelepon penulis setelah melihat beritanya di televisi.</p>
<p>Sebagai fans, tentu penulis sangat terkejut mendengar berita mendadak tersebut. Butuh waktu kurang lebih satu jam untuk menenangkan diri, meskipun tak sampai mengeluarkan air mata.</p>
<p>Ketika dilakukan otopsi, ditemukan satu botol minuman keras yang hanya tersisa setengah di kamarnya. Penulis pun meyakini bahwa kematiannya dipengaruhi oleh alkohol.</p>
<p>Hari kematiannya memang bersamaan dengan ulang tahun salah satu sahabat terdekatnya, <strong>Chris Cornell</strong>, yang juga meninggal gantung diri beberapa bulan sebelumnya. Mungkin karena terbawa suasana sedih dan merasa kehilangan, ia nekat mengakhiri nyawanya.</p>
<p>Chester memang dekat dengan minuman keras bahkan obat-obatan. Beberapa kali ia mengakui ketergantungannya. Hal ini juga yang membuat penulis lebih mengidolakan Mika Shinoda dibandingkan dengannya.</p>
<p>Akan tetapi, kematiannya juga merupakan hal yang menyedihkan bagi penulis yang telah mendengarkan lagunya sejak SMP. Apalagi, suara vokal yang dimilikinya memiliki ciri khas yang rasanya tak akan tergantikan.</p>
<p>Chester pernah menyatakan bahwa dirinya telah mampu mengendalikan kecanduannya terhadap alkohol pada salah satu wawancara yang terjadi pada tahun 2011. Oleh karena itu, banyak pihak yang terkejut ketika mendengar kabar kematiannya.</p>
<h3>Chester yang Ceria</h3>
<p><div id="attachment_2573" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2573" class="size-large wp-image-2573" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/chester-2-tahun-yang-lalu-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/chester-2-tahun-yang-lalu-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/chester-2-tahun-yang-lalu-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/chester-2-tahun-yang-lalu-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/chester-2-tahun-yang-lalu-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2573" class="wp-caption-text">Chester yang Humoris (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://tonedeaf.thebrag.com/chester-bennington-carpool-karaoke-linkin-park/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwia94L8oczjAhUzXHwKHQhPAk0QjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Tone Deaf &#8211; The Brag</span></a>)</p></div></p>
<p>Penulis suka menonton <em>behind the scene </em>dari pembuatan lagu Linkin Park. Nah, di belakang layar seperti inilah Chester menunjukkan sisi lain dari penampilannya yang garang.</p>
<p>Ia selalu terlihat ceria dan humoris. Ia tak ragu membuat lelucon yang mengundang tawa rekan-rekannya, bahkan terkadang berbuat konyol. Sama sekali tidak cocok dengan penampilannya.</p>
<p>Selain ceria, Chester juga termasuk ramah terhadap fans. Penulis melihatnya sendiri ia menghampiri penonton setelah acara iTunes Festival tahun 2011.</p>
<p>Penulis memang tahu terkadang orang yang humoris terkadang memiliki hati yang miris. Terkadang, orang yang <em>terlalu </em>ceria menyimpan duka yang mendalam di dalam lubuk hatinya yang terdalam.</p>
<p>Chester kurang lebih memiliki masa lalu yang menyedihkan. Orang tuanya cerai ketika ia masih anak-anak. Ia dirundung dan mengalami pelecehan seksual di sekolah karena tubuh kurusnya.</p>
<p>Ini juga yang menjadi salah satu alasan mengapa ia menjadi pecandu narkoba dan alkohol. Mungkin juga karena pengaruh lingkungan pergaulan yang buruk.</p>
<p>Ia juga sempat menganggur lama, bekerja di Burger King, ditolak sana-sini, hingga akhirnya menjadi vokalis Linkin Park yang waktu itu masih bernama Xero.</p>
<p>Untuk kehidupan pribadinya, ia menikah dua kali dan total memiliki enam orang anak. Istrinya yang sekarang, <strong>Talinda Bennington</strong>, harus mengasuh anak-anaknya tanpa didampingi oleh suaminya.</p>
<h3><strong>Penutup</strong></h3>
<p>Meskipun Chester telah tiada, karyanya tetap abadi. Penulis masih setia mendengarkan lagu-lagu Linkin Park hingga sekarang. Suaranya yang mampu mencapai nada tinggi dan teriakannya selalu menjadi favorit penulis.</p>
<p>Suaranya tak akan tergantikan. Ketika ada sebuah konser untuk memperingati kematiannya, banyak penyanyi yang menyanyikan lagunya, mulai Taka dari <a href="https://whathefan.com/musikfilm/shout-it-out-now-one-ok-rock/">One Ok Rock</a> hingga M. Shadows dari Avenged Sevenfold.</p>
<p>Masa depan Linkin Park sendiri masih belum jelas hingga sekarang, apakah mereka akan bubar atau mencari vokalis pengganti. Mike Shinoda akhir-akhir ini disibukkan dengan tur album solonya.</p>
<p>Yang jelas, sampai kapanpun Chester akan memiliki tempat khusus di hati penulis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 24 Juli 2019, terinspirasi setelah melihat pos Instagram terbaru dari Mike Shinoda</p>
<p>Foto: <span class="irc_ho" dir="ltr"><a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://new.nadapromotama.com/daftar-pengganti-chester-bennington/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiQ7qSol8zjAhUMQo8KHaWnDjMQjB16BAgBEAQ">Nada Promotama</a></span></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/chester-2-tahun-yang-lalu/">Chester, 2 Tahun yang Lalu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Biografi Singkat Napoleon Pada Misteri Napoleon</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/biografi-singkat-napoleon-pada-misteri-napoleon/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 May 2019 08:33:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[kaisar]]></category>
		<category><![CDATA[Napoleon]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[Prancis]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2352</guid>

					<description><![CDATA[<p>Meskipun terkenal sebagai seorang diktaktor yang kejam, entah mengapa penulis sangat suka membaca buku tentang Napoleon Bonaparte. Bahkan, tokoh utama di novel penulis bernama Napoleon. Mungkin, karena waktu kecil sudah sering membaca komik biografinya. Di komik tersebut, kekejaman Napoleon tidak terlalu digambarkan secara mendetail. Di komik tersebut, Napoleon digambarkan sebagai seorang pemimpin yang baik (walau gemar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/biografi-singkat-napoleon-pada-misteri-napoleon/">Biografi Singkat Napoleon Pada Misteri Napoleon</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Meskipun terkenal sebagai seorang diktaktor yang kejam, entah mengapa penulis sangat suka membaca buku tentang <strong>Napoleon Bonaparte</strong>. Bahkan, <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-leon-kenji-dan-gisel/">tokoh utama di novel penulis bernama Napoleon</a>.</p>
<p>Mungkin, karena waktu kecil sudah sering membaca komik biografinya. Di komik tersebut, kekejaman Napoleon tidak terlalu digambarkan secara mendetail.</p>
<p>Di komik tersebut, Napoleon digambarkan sebagai seorang pemimpin yang baik (walau gemar berperang), mengutamakan tentara dan rakyatnya, bahkan sempat menolak ketika ditunjuk sebagai kaisar. Penulis merasa ada fakta yang salah.</p>
<p>Oleh karena itu, waktu berjalan-jalan di Gramedia Pondok Indah Mall, penulis tanpa berpikir panjang langsung mengambil buku berjudul <strong><em>Misteri Napoleon</em> </strong>karangan <strong>Jean Rocher </strong>ini.</p>
<h3><strong>Apa Isi Buku Ini?</strong></h3>
<p>Seperti yang tertera pada judul, buku ini menjelaskan perjalanan sosok Napoleon Bonaparte secara ringkas, mulai dari ia lahir di pulai kecil bernama <strong>Corsica</strong> sampai pembuangannya terkahir di pulau <strong>Saint Helena</strong>.</p>
<p>Buku ini terbagi menjadi lima bab, yakni:</p>
<ul>
<li><strong>Bagian Satu, Pekerja Keras dan Ambisius (1769-1793)</strong></li>
</ul>
<p>Pada bagian ini, kita akan membaca awal mula bagaimana seorang Napoleon bisa menjadi penguasa Eropa. Terlahir di pulau kecil Corsica, ia sering dirundung kawan satu akademi militer karena logat bicaranya yang aneh.</p>
<p>Napoleon bukanlah murid yang cemerlang. Ia bukan orang yang menduduki peringkat pertama di akademi. Walaupun begitu, ia memang seorang ahli taktik yang jenius.</p>
<p>Banyak peperangan yang ia menangkan di awal karir militernya, walaupun ekspedisi Mesirnya menjadi kekalahan pertamanya.</p>
<ul>
<li><strong>Bagian Dua, Naik ke Tampuk Kekuasaan (1799-1804)</strong></li>
</ul>
<p>Berkat banyaknya kemenangan yang ia raih, popularitas Napoleon melonjak drastis di mata rakyat Prancis. Ia dianggap sebagai orang yang tepat untuk memimpin bangsa sejak revolusi Prancis yang bergulir mulai tahun 1989.</p>
<p>Setelah beberapa sistem dianggap gagal dalam mengelola negara, akhirnya Napoleon mendaulat dirinya sendiri sebagai kaisar Prancis, bukan raja maupun presiden.</p>
<p>Di rentang waktu inilah, ambisi Napoleon untuk menguasai seluruh Eropa dimulai.</p>
<ul>
<li><strong>Bagian Tiga, Master Perang (1805-1809)</strong></li>
</ul>
<p>Pada periode ini, Napoleon banyak sekali meraih kemenangan di berbagai wilayah. Hal ini membuat banyak negara seperti Rusia terpaksa menandatangani perjanjian damai agar wilayahnya tidak diinvasi.</p>
<p>Bisa dibilang, Napoleon berhasil menguasai hampir seluruh daratan Eropa kecuali wilayah Balkan, Rusia, dan Skandinavia. Akan tetapi, kejayaan tersebut tidak berlangsung terlalu lama.</p>
<ul>
<li><strong>Bagian Empat, Spiral Kegagalan dan Kejatuhan yang Spektakuler (1808-1815)</strong></li>
</ul>
<p>Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga. Itulah yang terjadi pada Napoleon. Setelah rentetan kemenangan, ia harus mengalami beberapa kekalahan yang pahit.</p>
<p>Pertama adalah kekalahan dari pemberontak Spanyol, di mana Napoleon menempatkan kakaknya, <strong>Joseph</strong>, sebagai raja di wilayah tersebut.</p>
<p>Napoleon memang melakukan nepotisme demi melanggengkan kekuasannya. Buktinya, ia menempatkan adiknya, <strong>Louis</strong>, sebagai raja di Belanda.</p>
<p>Tapi, kekalahan terburuk adalah perang melawan Rusia yang menjadi<a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/kekalahan-terburuk-napoleon-bonaparte/"> kekalahan terburuk Napoleon</a> sepanjang karirnya. Setelah itu, ia dibuang ke <strong>pulau Elba</strong>, dekat Italia.</p>
<p>Pembuangan Napoleon tidak lama. Ia kembali satu tahun kemudian dan memimpin Prancis pada peperangan terakhirnya di Waterloo.</p>
<ul>
<li><strong>Bagian Lima, Legenda Abadi (1815-1821)</strong></li>
</ul>
<p>Peperangan di Waterloo menghasilkan kekalahan terakhir, dan kali ini Napoleon dibuang lebih jauh, ke pulau <strong>Saint Helena </strong>yang terletak di Samudera Atlantik. Ia tinggal di sana hingga menghembuskan napas terakhirnya.</p>
<h3>Kesimpulan</h3>
<p>Buku ini ditulis dengan gaya bahasa akademis yang tidak terlalu berat. Penulis bisa memahami buku ini karena telah membaca komik biografinya di masa kecil.</p>
<p>Yang tidak penulis pahami adalah pemilihan judul. Jujur, penulis tidak menemukan misteri apa yang diungkap oleh Rocher selaku penulis buku ini. Bagi penulis, informasi yang dipaparkan sudah menjadi rahasia umum</p>
<p>Ditulis secara kronologis, buku ini mungkin akan membuat bingung karena banyak sekali nama tokoh yang muncul. Selain itu, banyak sekali tanda <strong>[&#8230;] </strong>yang penulis sendiri tidak tahu apa maknanya.</p>
<p>Kalau pembaca sekalian suka sejarah dan ingin mengetahui tentang sosok Napoleon Bonaparte, penulis merekomendasikan buku ini karena cocok dijadikan sebagai awalan untuk mempelajari sang kaisar Prancis tersebut.</p>
<p>Nilainya: <strong>3.8/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayorang Lama, 12 Mei 2019, terinspirasi setelah menamatkan buku <em><strong>Misteri Napoleon </strong></em>karya<strong> Jean Rocher</strong></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/biografi-singkat-napoleon-pada-misteri-napoleon/">Biografi Singkat Napoleon Pada Misteri Napoleon</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Peran Ibu Pada It&#8217;s Okay, You&#8217;re Just Different</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/peran-ibu-pada-its-okay-youre-just-different/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/peran-ibu-pada-its-okay-youre-just-different/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 Dec 2018 03:33:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kasih sayang]]></category>
		<category><![CDATA[peran]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1810</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis mengetahui buku ini pertama kali sewaktu datang ke sebuah acara seminar karena undangan seorang teman. Sebelum acara mulai, dia menunjukkan sebuah buku yang akan digunakan sebagai hadiah di tengah-tengah acara. Sembari menunggu acara dimulai, penulis membaca bagian awal yang bercerita tengan Thomas Alva Edison dan ibunya Nancy. Karena sudah mengetahui sedikit biografinya, maka penulis sangat menikmati [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/peran-ibu-pada-its-okay-youre-just-different/">Peran Ibu Pada It&#8217;s Okay, You&#8217;re Just Different</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis mengetahui buku ini pertama kali sewaktu datang ke sebuah acara seminar karena undangan seorang teman. Sebelum acara mulai, dia menunjukkan sebuah buku yang akan digunakan sebagai hadiah di tengah-tengah acara.</p>
<p>Sembari menunggu acara dimulai, penulis membaca bagian awal yang bercerita tengan <strong><a href="http://whathefan.com/tokohsejarah/kekepoan-yang-hakiki-ala-thomas-alva-edison/">Thomas Alva Edison</a> </strong>dan ibunya Nancy. Karena sudah mengetahui sedikit biografinya, maka penulis sangat menikmati isi dari buku tersebut.</p>
<p>Setelah tamat satu bab, penulis mengembalikan buku tersebut ke teman penulis dan memutuskan untuk membelinya sendiri. Untunglah waktu berkunjung ke Paperclip Gandaria, penulis menemukan buku yang berjudul <strong>It&#8217;s Okay, You&#8217;re Just Different </strong>ini.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Penulis suka dengan tipe buku &#8220;kumpulan biografi&#8221; seperti ini. Dengan satu buku, penulis bisa mengenal banyak tokoh dan apa yang telah diperbuatnya sehingga ia dicatat dalam sejarah.</p>
<p>Pemilihan judulnya sendiri, penulis rasa karena sang penulis buku ini ingin mengambil satu kalimat yang sering diucapkan oleh para ibu yang ada di buku ini. Bisa dilihat, tokoh-tokoh yang ada di dalam buku ini cukup &#8220;berbeda&#8221; dari anak kebanyakan.</p>
<blockquote><p>Justru, karena perbedaan itulah mereka bisa menjadi tokoh yang hebat.</p></blockquote>
<p>Di dalam buku ini, terdapat <strong>25 tokoh</strong> yang dibagi menjadi lima bab sesuai dengan temanya masing-masing. Sebanyak 20 tokoh sudah penulis ketahui sebelumnya, dan 5 tokoh belum pernah penulis dengar sebelumnya.</p>
<p>Untuk pembaca yang penasaran dengan siapa saja tokoh yang diceritakan pada buku ini, penulis akan memberikan daftarnya di bawah ini (yang ditebali adalah tokoh yang baru penulis ketahui ketika membaca buku ini):</p>
<ul>
<li>Thomas Alva Edison, <strong>Johann Heinrich Pestalozzi</strong>, Hans Christian Andersen, Picasso, Hellen Keller</li>
<li>Albert Einstein, Albert Schweitzer, Nelson Mandela, Martin Luther King, Bill Gates</li>
<li>Jawaharlal Nehru, Zhou Enlai, <strong>Arnold Joseph Toynbee</strong>, Victor Hugo, Douglas MacArthur</li>
<li>Mahatma Gandhi, Marie Curie, <strong>Lu Xun</strong>, Bunda Teresa, Florence Nightigale</li>
<li>Ludwig van Beethoven, <strong>Kim Gu</strong>, <strong>Stendhal</strong>, Alfred Bernhard Nobel, Friedrich Nietzsche</li>
</ul>
<p><div id="attachment_1813" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1813" class="size-large wp-image-1813" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1531983412531-1f49a365ffed-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1531983412531-1f49a365ffed-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1531983412531-1f49a365ffed-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1531983412531-1f49a365ffed-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1531983412531-1f49a365ffed-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1531983412531-1f49a365ffed.jpg 1950w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1813" class="wp-caption-text">Photo by Xavier Mouton Photographie</p></div></p>
<p>Buku ini sebenarnya ingin menonjolkan peran seorang ibu kepada tokoh-tokoh tersebut. Hanya saja, menurut penulis justru lebih dominan menceritakan tentang tokoh-tokoh yang disebutkan.</p>
<p>Pola buku ini biasanya menceritakan tentang kehebatan tokoh, lantas menunjukkan bahwa kehebatan mereka dapat terjadi karena peran ibu mereka yang sabar, penuh kasih sayang, selalu memberi semangat, dan lain sebagainya.</p>
<p>Atau bisa juga sebaliknya, menceritakan tentang masa kecil sang tokoh di bawah pengasuhan ibu. Berkat didikan hebat dari ibu, sang anak bisa menjadi seorang tokoh yang bisa memberikan pengaruh untuk lingkungannya.</p>
<p>Di akhir setiap bagian, selalu ada kata mutiara yang indah tentang ibu ataupun keluarga.</p>
<h3>Kesimpulan</h3>
<p>Meskipun terkesan monoton, buku ini tetap layak untuk dijadikan bahan bacaan di kala senggang. Apalagi, tiap tokoh tidak diceritakan terlalu panjang, sehingga cocok untuk dijadikan sebagai teman seperjalanan.</p>
<p>Ada bagian cerita yang berbeda versi dari yang sudah penulis baca sebelumnya. Contohnya, tentang kematian Beethoven. Di sini, <strong>Kim Doo Eung </strong>selaku penulis buku ini menuliskan kematian Beethoven disebabkan karena bunuh diri. Padahal, sepengetahuan penulis, Beethoven meninggal karena komplikasi penyakit.</p>
<p>Terlepas dari perbedaan sejarah yang dituliskan, buku ini tetap memberikan ilmu baru kepada pembacanya. Buku ini akan membuat kita sadar bahwa peran ibu di dalam kehidupan kita sangatlah banyak.</p>
<p>Para ibu yang ada di dalam buku ini telah memberikan bukti nyata bahwa seorang ibu memiliki andil penting dalam kehidupan kita. Semua ibu yang ada di buku ini mencurahkan perhatiannya kepada perkembangan sang anak.</p>
<p>Dengan membaca buku ini, kita akan dibawa untuk mengenang kembali, apa saja jasa yang telah dilakukan oleh ibu kita selama kita hidup.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nilainya: <strong>3.9/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 9 Desember 2018, terinspirasi setelah menamatkan buku <strong>It&#8217;s Okay, You&#8217;re Just Different</strong> karya Kim Doo Eung</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/peran-ibu-pada-its-okay-youre-just-different/">Peran Ibu Pada It&#8217;s Okay, You&#8217;re Just Different</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/peran-ibu-pada-its-okay-youre-just-different/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Revolusi Diri karena Steve Jobs</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/revolusi-diri-karena-steve-jobs/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/revolusi-diri-karena-steve-jobs/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Feb 2018 12:13:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Apple]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[koleksi]]></category>
		<category><![CDATA[out of the box]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi]]></category>
		<category><![CDATA[Steve Jobs]]></category>
		<category><![CDATA[target]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Walter Isaacson]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=439</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selain tanggal lahir pembalap legendaris Formula 1 Alain Prost, 24 Februari juga merupakan tanggal lahir mendiang Steve Jobs, salah satu pendiri Apple. Oleh karena itu, pada tulisan kali ini penulis ingin menulis sedikit tentang orang yang sering menyebutkan kata revolusioner pada presentasinya tersebut. Steve Jobs by Walter Isaacson Buku pertama tentang Steve Jobs yang penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/revolusi-diri-karena-steve-jobs/">Revolusi Diri karena Steve Jobs</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Selain tanggal lahir pembalap legendaris Formula 1 Alain Prost, 24 Februari juga merupakan tanggal lahir mendiang Steve Jobs, salah satu pendiri Apple. Oleh karena itu, pada tulisan kali ini penulis ingin menulis sedikit tentang orang yang sering menyebutkan kata revolusioner pada presentasinya tersebut.</p>
<p><strong>Steve Jobs by Walter Isaacson</strong></p>
<p>Buku pertama tentang Steve Jobs yang penulis beli adalah biografi resminya yang ditulis oleh Walter Isaacson. Sebelum itu, penulis tidak mengetahui apa-apa tentang Jobs, kecuali ia adalah pendiri Apple yang terkenal karena produk-produk premiumnya. Alasan penulis ingin membeli buku tersebut adalah diharapkan bisa menambah motivasi penulis yang sedang studi di jurusan Informatika.</p>
<p>Memang benar, banyak sekali motivasi-motivasi yang penulis dapatkan dari buku tersebut. Meskipun sangat tebal, penulis telah menghabiskannya dua kali karena Isaacson selaku penulis bisa menceritakan kehidupan Jobs dengan apik.</p>
<p>Buku ini adalah buku favorit nomer satu penulis, dan bisa dibilang buku ini turut &#8220;merevolusi&#8221; pola pikir penulis yang sebelumnya hanya terbawa arus begitu saja.</p>
<p><strong>Membiasakan Diri Melampaui Batas</strong></p>
<p>Ketika membaca biografi tersebut, penulis menangkap bahwa Jobs adalah seorang yang visioner. Ia melihat beberapa langkah ke depan dan selalu menargetkan sesuatu yang bagi orang lain melampaui batas. Sifat ini, ditambah dengan perfeksionisnya, membuat banyak orang yang stres ketika bekerja dengan Steve Jobs. Lagipula, Jobs dikenal kejam terhadap bawahannya yang tidak bisa memenuhi ekspetasinya.</p>
<p><div id="attachment_442" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-442" class="size-large wp-image-442" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/Steve-Jobs-at-Next-Computer-in-1993-AP-1024x698.jpg" alt="" width="1024" height="698" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/Steve-Jobs-at-Next-Computer-in-1993-AP-1024x698.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/Steve-Jobs-at-Next-Computer-in-1993-AP-300x205.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/Steve-Jobs-at-Next-Computer-in-1993-AP-768x524.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/Steve-Jobs-at-Next-Computer-in-1993-AP-356x243.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/Steve-Jobs-at-Next-Computer-in-1993-AP.jpg 1500w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-442" class="wp-caption-text">Berpikir Melampaui Batas</p></div></p>
<p>Karakter ini penulis hayati ketika merefleksi diri untuk mengubah sifat penulis yang jarang menargetkan diri. Penulis sadar, bahwa hidup tanpa target sama dengan menyetir tanpa tujuan. Kita tidak akan pernah tahu kemana kita akan membawa kendaraan &#8220;hidup&#8221; kita dan hanya berputar-putar tanpa arah yang jelas.</p>
<p><strong>Berpikir Di Luar Kotak (atau Tanpa Kotak Sama Sekali)</strong></p>
<p>Sifat menginspirasi lain yang dimiliki oleh Jobs adalah pola pikirnya yang sering kali tidak terpikirkan oleh orang lain. Ia bukan penemu yang original (contoh: GUI pada Macintosh dicuri dari XEROX PARC), namun ialah yang membuat penemuan tersebut menjadi terkenal dan digunakan oleh khalayak umum.</p>
<p><div id="attachment_443" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-443" class="size-large wp-image-443" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/steve-jobs-macintosh-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/steve-jobs-macintosh-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/steve-jobs-macintosh-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/steve-jobs-macintosh-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/steve-jobs-macintosh-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/steve-jobs-macintosh.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-443" class="wp-caption-text">Jobs dan Macintosh</p></div></p>
<p>Pemutar musik bukanlah barang baru ketika iPod diluncurkan. Namun iPodlah yang memulai perpindahan dari musik analog menjadi musik digital. iPhone bukanlah handphone dengan teknologi <em>touchscreen</em> pertama, namun iPhonelah yang memulai revolusi industri ponsel genggam (hingga membuat Nokia yang mengusai pasar ketika itu terjun bebas).</p>
<p>Mengapa Jobs bisa melakukan hal tersebut? Bagi penulis, jawabannya adalah karena ia berpikir di luar kotak ketika pesaing masih berpikir di dalam kotak. Bahkan, terkadang ia tidak menganggap ada kotak sama sekali (Jobs terkenal suka melanggar aturan, dan ini tidak baik untuk ditiru). Berani berbeda bukanlah sesuatu yang mudah, terlebih di masa kini.</p>
<p><strong>Buku Steve Jobs Lainnya</strong></p>
<p>Tulisan ini akan sangat panjang jika penulis menuliskan semua inspirasi yang didapatkan dari buku tersebut. Pada tulisan kali ini, penulis menyukupkannya hanya dengan dua poin di atas. Penulis ingin membahas buku-buku tentang Steve Jobs lainnya.</p>
<p>Setelah buku tersebut, penulis semakin penasaran dengan Steve Jobs dan Apple. Beberapa buku yang penulis beli setelah itu adalah:</p>
<ul>
<li>Inside Steve&#8217;s Brain dan Jony Ive (kepala designer Apple, salah satu anak emas Jobs) karya Leander Kahney</li>
<li>Apple vs Google karya Fred Vogelstein</li>
<li>Life by Design karya George Beahm</li>
<li>Inside Apple karya Adam Lashinsky</li>
</ul>
<p>Selain itu, ketika ada even <strong>Big Bad Wolf </strong>yang mengobral buku impor, penulis memborong banyak sekali buku terkait Steve Jobs, termasuk versi asli biografi karya Isaacson. Buku-buku impor tentang Steve Jobs yang penulis miliki antara lain:</p>
<ul>
<li>Kompilasi Majalah Time</li>
<li>The Apple Revolution karya Luke Dormehl</li>
<li>Steve Jobs: The Man Who Thought Different karya Karen Blumenthal</li>
<li>iWoz karya Steve Wozniak (pendiri Apple selain Jobs) bersama Gina Smith</li>
<li>Becoming Steve Jobs karya Brent Schlender dan Rick Tetzeli</li>
</ul>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Jobs adalah manusia biasa yang tak lepas dari kekurangan. Masa muda Jobs adalah salah satu sisinya yang sama sekali tidak ingin penulis tiru. Namun penulis harus memberikan kredit spesial kepada Steve Jobs dan Walter Isaacson sebagai penulis biografinya, karena telah merevolusi pola pikir penulis seperti yang sering dilakukan Jobs dan Apple kepada industri digital.</p>
<p>Andai penulis tidak pernah membaca buku tersebut, penulis tidak tahu apakah pola pikir mengikuti arus yang dimiliki akan dapat berganti dengan pola pikir selalu menaruh target di depan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 24 Februari 2018, setelah (lumayan) sembuh dari flu yang melanda sejak pagi.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/revolusi-diri-karena-steve-jobs/">Revolusi Diri karena Steve Jobs</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/revolusi-diri-karena-steve-jobs/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
