<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>malas Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/malas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/malas/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 13 Sep 2025 09:08:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>malas Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/malas/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 May 2025 23:43:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[malas]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8259</guid>

					<description><![CDATA[<p>Melalui tulisan &#8220;Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan&#8221;, Penulis telah mengungkapkan beberapa alasan mengapa dirinya makin ke sini makin jarang menulis. Saat itu, Penulis masih bertanya-tanya apa alasan di balik hal tersebut. Karena merasa tidak ada perkembangan sejak tulisan itu diterbitkan, Penulis pun memutuskan untuk melakukan kontemplasi demi menemukan akar permasalahannya. Blog ini berharga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/">Ketika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Melalui tulisan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/">&#8220;Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan&#8221;</a>, Penulis telah mengungkapkan beberapa alasan mengapa dirinya makin ke sini makin jarang menulis. Saat itu, Penulis masih bertanya-tanya apa alasan di balik hal tersebut.</p>



<p>Karena merasa tidak ada perkembangan sejak tulisan itu diterbitkan, Penulis pun memutuskan untuk <a href="https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/">melakukan kontemplasi</a> demi menemukan akar permasalahannya. Blog ini berharga bagi Penulis, sehingga membiarkannya terbengkalai meninggalkan perasaan bersalah.</p>



<p>Setelah direnungkan, Penulis merasa menemukan beberapa jawaban yang paling masuk akal, sehingga bisa menentukan langkah-langkah apa yang harus diambil agar rutinitas menulis blog bisa kembali menjadi hobi yang menyenangkan.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Menonton WandaVision Episode 9 (Bagian 3)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3/">Setelah Menonton WandaVision Episode 9 (Bagian 3)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Alasan Mengapa Menulis Blog Malah Menjadi Beban</h2>



<div class="wp-block-cover"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8260" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Harusnya Menjadi Aktivitas yang Menyenangkan (<a href="https://www.pexels.com/photo/woman-working-retouching-photo-on-laptop-at-convenient-workplace-7014337/">George Milton</a>)</p>
</div></div>



<p>Dalam tulisan sebelumnya, Penulis setidaknya menuliskan ada tiga alasan mengapa produksi artikel blog menjadi seret selama lima bulan terakhir: <strong>sedang ada banyak masalah</strong>, <strong>rasa malas</strong>, hingga <strong>merasa jenuh</strong>. Mari kita berangkat dari sana. </p>



<p>Namanya hidup, tentu saja kita akan selalu menjumpai permasalahan. Terkadang bisa diselesaikan dengan cepat, terkadang membutuhkan waktu lebih panjang. Yang paling penting adalah bagaimana respons kita terhadap masalah tersebut.</p>



<p>Dalam kasus ini, Penulis sering merasa kalau rasa malas di dalam diri ini menggunakan permasalahan tersebut sebagai justifikasi untuk tidak menulis blog. Padahal aslinya memang malas saja, tapi mencari berbagai pembenaran agar tidak merasa bersalah.</p>



<p>Oke, rasa malas memang bisa dilawan, tapi bagaimana dengan perasaan jenuh menulis? Sebagai seorang editor, membaca dan menulis telah menjadi rutinitas harian. Ribuan kata harus dicek dan diolah setiap harinya, sehingga wajar jika menimbulkan rasa jenuh.</p>



<p>Namun, apa yang Penulis bahas di blog ini dan apa yang dibahas di tempat kerja memiliki <em>niche </em>yang berbeda. Memang ada beberapa kategori yang bersinggungan, tapi <em>angle</em> yang digunakan jelas berbeda. </p>



<p>Justru, menulis di blog ini menjadi tempat agar gaya menulis Penulis tetap terasah dan tidak terpaku pada gaya penulisan industri. Apalagi, menulis adalah salah satu cara untuk menuangkan apa yang ada di pikirannya untuk mengurangi gejala <em>overthinking</em>.</p>



<p>Setelah menganalisis tiga alasan tersebut, apakah masih ada alasan lain yang membuat menulis blog menjadi memberatkan? Ada beberapa yang berhasil Penulis temukan setelah melakukan kontemplasi.</p>



<p>Alasan pertama, <strong>Penulis jadi terbebani dengan banyaknya ide artikel yang belum ditulis</strong>. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-menggunakan-notion-untuk-mencatat-progres-artikel-whathefan/">Di Notion Penulis</a>, ada puluhan ide artikel yang sampai saat ini belum dieksekusi hingga akhirnya Penulis sudah mulai lupa apa yang ingin dibahas dari ide tersebut.</p>



<p>Idealnya, sesuai <em>tagline </em>blog ini, sebuah ide harus segera dikerjakan begitu terpikirkan. Kenyataannya, karena sering menunda, ide tersebut malah menjadi usang. <em>Mood </em>untuk menulis ide tersebut pun menjadi hilang dan akhirnya malah jadi terbengkalai.</p>



<p>Alasan kedua, <strong>Penulis merasa terbebani dengan artikel-artikel yang membutuhkan riset lebih</strong>. Belakangan ini, Penulis merasa berkewajiban membuat artikel yang mendalam. Padahal, blog ini harusnya menjadi wadah bagi Penulis untuk menuangkan isi kepalanya.</p>



<p>Bisa jadi, Penulis terlalu berfokus bagaimana tulisan di blog ini bisa sampai ke Pembaca. Penulis sampai lupa kalau seharusnya blog ini menjadi alatnya untuk menuangkan apa yang sedang ada di pikirannya.</p>



<p>Alasan ketiga, <strong>pembuatan konten media sosial yang terkadang menimbulkan rasa malas untuk menulis</strong>. Meskipun pembuatannya hanya membutuhkan beberapa menit, entah mengapa membuat konten media sosial untuk artikel di blog ini memicu rasa mager.</p>



<p>Padahal, konten media sosial yang Penulis buat hanyalah sebuah Story dengan beberapa kalimat <em>caption</em>. Penulis tidak membuat video ataupun <em>long carousel</em>. Mungkin memang pada dasarnya malas saja. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Langkah Apa yang Diambil Setelah Memahami Akar Permasalahannya</h2>



<div class="wp-block-cover"><img decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8261" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Mencoba Lebih Spontan (<a href="https://www.pexels.com/@olly/">Andrea Piacquadio</a>)</p>
</div></div>



<p>Setelah menemukan beberapa akar permasalahan dari seretnya produksi blog ini, saatnya fokus ke solusi. Ada beberapa langkah yang akan Penulis ambil, dengan harapan menulis artikel bisa kembali menjadi hobi yang <em>refreshing </em>dan menyenangkan.</p>



<p>Pertama, <strong>menghilangkan penjadwalan artikel</strong>. Penulis ingin kembali seperti dulu, di mana setiap harinya murni spontan (<em>uhuy!</em>) mengenai artikel apa yang ingin ditulis. Bank ide di Notion tetap ada, untuk jaga-jaga jika hari itu <em>blank </em>tidak tahu ingin menulis apa.</p>



<p>Pencatatan progres yang dilakukan Notion mungkin tetap ada, tapi sifatnya lebih ke dokumentasi saja. Bagi Penulis, melihat berapa banyak artikel yang telah ditulis atau berapa panjang <em>streak </em>yang berhasil dilakukan berhasil menimbulkan dopamin.</p>



<p>Mungkin ada beberapa artikel yang harus tetap dijadwal, seperti artikel-artikel <em>review</em> buku dan <em>board game </em>yang telah menjadi rubrik mingguan. Bedanya, Penulis tidak akan menulis urut sesuai dengan buku mana yang telah selesai dibaca duluan.</p>



<p>Kedua, <strong>segera menulis ide tulisan yang terlintas di pikiran</strong>. Penulis harus membuang konsep &#8220;First In First Out&#8221; di mana ide yang lebih lama harus ditulis terlebih dahulu. Penulis harus mendahulukan apa yang ingin ditulis, bukan apa yang harus ditulis.</p>



<p>Ketiga, <strong>menghindari artikel-artikel berat yang butuh riset lebih panjang</strong>. Ada banyak artikel di daftar ide yang butuh riset lebih mendalam, dan jujur saja itu menimbulkan rasa malas. Blog ini harus kembali ke akarnya, tempat menuangkan isi kepala.</p>



<p>Memang secara kualitas mungkin akan berkurang, tapi salah satu resolusi Penulis di tahun 2025 adalah mendahulukan diri sendiri dulu. Buat apa menulis jika hanya membebani diri sendiri? Lagipula, ini adalah blog milik Penulis.</p>



<p>Keempat, <strong>melakukan reset</strong>. Saat ini, sudah banyak artikel yang Penulis jadwalkan untuk ditulis. Semuanya akan Penulis reset dari awal, kembali ke bank ide. Penulis ingin bertanya &#8220;mau nulis apa hari ini?&#8221; setiap membuka laptopnya.</p>



<p>Kelima, <strong>memperbaiki pola hidup yang sedang berantakan</strong>. Alasan lain yang belum disebutkan di atas adalah pola hidup Penulis yang sedang berantakan. Akibatnya, waktu untuk menulis blog juga menjadi tidak teratur.</p>



<p>Idealnya, Penulis berharap bisa menulis blog di pagi hari sebelum jam kerja. Menulis blog memakan waktu antara 1-2 jam, jadi bisa dimulai pukul 7 pagi setelah melakukan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutinitas pagi</a>. Untuk itu, Penulis harus memperbaiki jam tidurnya dan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya/">menghilangkan insomnianya.</a></p>



<p>Menulis di malam hari hanya menjadi opsi apabila dalam kondisi darurat, karena biasanya tubuh dan pikiran ini sudah merasa lelah. Lagipula, malam hari harusnya digunakan untuk bersantai dan menyiapkan diri untuk beraktivitas keesokan harinya.</p>



<p>Keenam, <strong>membuat konten media sosial terlebih dahulu sebelum menulis artikelnya</strong>. Penulis adalah tipe orang yang mengerjakan <em>task </em>tersulit terlebih dahulu. Karena membuat konten media sosial terasa yang paling berat, maka Penulis akan mendahulukannya.</p>



<p>Enam langkah itulah yang akan Penulis terapkan mulai hari ini, dimulai dari artikel ini. Semoga setelah menulis artikel ini, Penulis bisa kembali rutin menulis blog dengan perasaan senang, bukan terbebani. </p>



<p>Jika setelah artikel ini terbit Penulis masih jarang menulis lagi, entah apa lagi yang harus dilakukan&#8230;</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 20 Mei 2025, terinspirasi setelah merasa perlu ada perubahan agar aktivitas menulis blog tidak terasa menjadi beban</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/bored-woman-looking-at-a-laptop-4240504/">Ivan Samkov</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/">Ketika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Makin ke Sini Makin Jarang Nulis Blog?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-nulis-blog/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-nulis-blog/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 Apr 2023 15:11:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[malas]]></category>
		<category><![CDATA[mood]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5652</guid>

					<description><![CDATA[<p>Akhir-akhir ini, Penulis menyadari kalau secara kuantitas, jumlah artikel yang bisa diproduksi untuk blog ini semakin berkurang. Apakah karena Penulis sekarang lebih mengutamakan kualitas? Tidak juga. Hal ini Penulis sadari ketika membuat daftar berapa jumlah artikel yang diproduksi setiap bulannya. Sebagai contoh, di tahun 2022 kemarin Penulis hanya bisa membuat 91 tulisan, di mana ada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-nulis-blog/">Mengapa Makin ke Sini Makin Jarang Nulis Blog?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Akhir-akhir ini, Penulis menyadari kalau secara kuantitas, jumlah artikel yang bisa diproduksi untuk blog ini semakin berkurang. Apakah karena Penulis sekarang lebih mengutamakan kualitas? Tidak juga.</p>



<p>Hal ini Penulis sadari ketika membuat daftar berapa jumlah artikel yang diproduksi setiap bulannya. Sebagai contoh, di tahun 2022 kemarin Penulis hanya bisa membuat <strong>91 tulisan</strong>, di mana ada bulan Penulis hanya menulis dua artikel saja.</p>



<p>Sebagai perbandingan, di tahun 2021 Penulis bisa menghasilkan 131 tulisan. Jika ditarik makin ke belakang, maka jumlahnya akan makin banyak: 2020 &#8211; 141 tulisan, 2019 &#8211; 191 tulisan, 2018 &#8211; 299 tulisan.</p>





<p>Di awal tahun, <a href="https://whathefan.com/renungan/1-365/">Penulis bertekad untuk memperbaiki hal ini dan kembali menulis rutin</a>. Hasilnya, semangat tersebut hanya bertahan 5 hari saja, sehingga Penulis hanya bisa menghasilkan 11 tulisan di bulan Januari tahun ini.</p>



<p>Di bulan Februari, hasilnya lebih parah karena Penulis hanya menghasilkan 2 tulisan, di mana &#8220;tren&#8221; ini berlanjut ke bulan Maret dengan hanya 7 tulisan. Artinya, dalam waktu 3 bulan, Penulis hanya bisa menghasilkan 20 tulisan.</p>



<p>Jika dibuat rata-rata, maka Penulis menulis sekitar 4,5 hari sekali. Tentu ini menjadi salah satu hal yang mengganggu pikirannya, mengapa cukup sulit untuk bisa konsisten dalam membuat tulisan, sesuatu yang dulu bisa dilakukan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Makin Jarang Menulis Blog?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6443" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Malas Menjadi Musuh Utama (<a href="https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-melankolis-menonton-video-di-laptop-di-rumah-3808012/">Andrea Piacquadio</a>)</figcaption></figure>



<p>Apakah karena kesibukan pekerjaan? Tidak juga, dulu di awal-awal blog ini ada, Penulis juga sudah bekerja dan seolah selalu punya waktu untuk menulis blog. Hal ini pun mendorong Penulis untuk melakukan interopeksi diri.</p>



<p>Penulis pun muncul dengan dua kesimpulan, yaitu <strong>malas</strong> dan <strong>jenuh</strong>. Rasanya kedua hal tersebut yang menjadi faktor utama mengapa Penulis menjadi semakin jarang menulis di blog ini. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Alasan Nomor 1: Malas</h3>



<p><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-pemalas/"><strong>Malas</strong> adalah musuh besar Penulis</a>, dan tak jarang menjadi penghambat Penulis untuk bisa produktif seharian. Jika melihat <em>pattern </em>tanggal tayang artikel di tahun 2023, sebenarnya Penulis beberapa kali berusaha &#8220;bangkit&#8221; dan menulis secara konsisten.</p>



<p>Namun, memang <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/menjaga-konsistensi/">menjaga konsistensi tersebut sangat sulit</a>. Ada saja godaan dan alasan untuk mulai menulis, entah dari <em>game</em>, media sosial, YouTube, dan alasan &#8220;sudah capek&#8221;. Padahal, aktivitas menulis blog bisa dilakukan sambil berbaring dan tidak butuh waktu banyak.</p>



<p>Selain itu, Penulis terkadang juga ingin menulis sesuatu yang membutuhkan riset yang cukup banyak. Jujur saja, membayangkan harus melakukan riset kerap menjadi alasan mengapa Penulis merasa malas untuk mulai menulis.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Alasan Nomor 2: Jenuh</h3>



<p>Alasan kedua adalah <strong>jenuh</strong>. Sebagai orang yang berkutat di bidang media, menulis dan mengetik adalah rutinitas harian yang wajib dilakukan, bahkan di saat <em>weekend </em>ketika seharusnya digunakan untuk bersantai dan beristirahat.</p>



<p>Menulis blog, yang dulu menjadi hobi, seakan telah berubah menjadi sebuah kewajiban yang pada akhirnya menimbulkan perasaan malas. Penulis menyadari hal ini, apalagi Penulis berambisi untuk bisa menulis setidaknya satu artikel setiap hari.</p>



<p>Selain itu, Penulis juga merupakan orang yang <em>moody</em>. Penulis mudah saja mengikuti <em>mood </em>yang kerap menjadi pembenaran untuk tidak menulis blog. Padahal, Penulis sudah sengaja membeli tablet agar aktivitas menulis blog bisa lebih fleksibel dan bisa di mana saja.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Lantas, Bagaimana Caranya agar Bisa Menjadi Lebih Sering Menulis Blog?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6444" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Harus Semangat untuk Rajin Nulis Lagi (<a href="https://www.pexels.com/id-id/@buro-millennial-636760/">Buro Millennial</a>)</figcaption></figure>



<p>Menyadari permasalahan ini, Penulis tentu berusaha mencari solusinya agar aktivitas menulis blog bisa kembali menjadi kegiatan yang menyenangkan. Beberapa cara sudah berusaha Penulis lakukan, bagaimana hasilnya harus dilihat beberapa waktu ke depan.</p>



<p>Pertama, tentu Penulis harus <strong>mencari topik-topik yang menyenangkan untuk ditulis</strong>. Ketika menulis sesuatu yang membuat bersemangat, tentu kita tidak akan menunda-nundanya. </p>



<p>Untuk itu, Penulis akan mencoba mencari topik-topik ringan untuk ditulis ketika <em>weekday</em>. Kalau yang agak berat dan butuh riset panjang, biar ditulis ketika <em>weekend </em>karena waktunya cukup panjang.</p>



<p>Jika diperhatikan, akhir-akhir ini Penulis memang lebih sering menulis artikel-artikel yang tergolong ke kategori &#8220;Ruang Pinggir&#8221;, kategori yang memang Penulis gunakan untuk mewadahi hal-hal yang bersifat remeh, karena memang lebih mudah membuatnya.</p>



<p>Selanjutnya adalah berusaha untuk <strong>menjaga konsistensi dalam hidup produktif</strong>. Penulis sudah banyak membaca buku dan menonton video tentang produktivitas, tetapi efeknya jarang bisa bertahan lama. </p>



<p>Namun, setidaknya Penulis akan terus berusaha bangkit setiap kali gagal menjaga konsistensinya. Kadang butuh satu minggu, kadang butuh berbulan-bulan. Penulis akan berusaha agar waktu yang dibutuhkan untuk bangkit tidak terlalu lama.</p>



<p>Hobi menulis Penulis telah menjadi sebuah pekerjaan, sehingga logikanya <strong>Penulis memang membutuhkan hobi baru</strong>. Karena membaca juga berdekatan dengan aktivitas ini, makanya Penulis beralih ke <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-saya-bagian-1/">hobi <em>board game</em></a><em> </em>dan mainan agar bisa mengatasi perasaan jenuh.</p>



<p>Tentu saja yang paling utama adalah <strong>niat </strong>untuk konsisten menulis blog. Jika sesekali tidak menulis karena ada kesibukan lain tentu tidak masalah, yang jadi masalah adalah ketika tidak menulis blog karena alasan malas, tidak <em>mood</em>, dan lain sebagainya.</p>



<p>Blog ini, <a href="http://whathefan.com">whathefan.com</a>, telah <a href="https://whathefan.com/pengalaman/whathefan-adalah-investasi-saya/">memberikan banyak hal kepada Penulis</a>, termasuk kesempatan untuk memiliki karir yang dimilikinya sekarang. Oleh karena itu, Penulis akan terus berusaha menjaga blog ini, dengan terus berusaha menulis di dalamnya secara konsisten.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 10 April 2023, terinspirasi setelah menyadari beberapa waktu terakhir semakin jarang menulis blog</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/photo/a-tired-man-rubbing-his-eyes-while-sitting-in-front-of-his-laptop-5198264/">Tima Miroshnichenko</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-nulis-blog/">Mengapa Makin ke Sini Makin Jarang Nulis Blog?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-nulis-blog/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjaga Konsistensi</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/menjaga-konsistensi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/menjaga-konsistensi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2021 14:05:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[konsistensi]]></category>
		<category><![CDATA[malas]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[positif]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[rutinitas]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4259</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sir Alex Ferguson melalui buku autobiografinya pernah menyatakan bahwa mempertahankan gelar lebih susah dibandingkan meraihnya. Jika diaplikasikan melalui kehidupan sehari-hari, kutipan tersebut dapat diterjemahkan sebagai: Memulai kebiasaan baik baru jauh lebih mudah daripada mempertahankannya Menjaga konsistensi dalam melakukan sesuatu, terutama hal baik, merupakan hal yang susah. Apakah memang benar demikian? Berdasarkan pengalaman pribadi, hal tersebut benar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/menjaga-konsistensi/">Menjaga Konsistensi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/merindukan-sentuhan-sir-alex/"><strong>Sir Alex Ferguson</strong></a> melalui buku autobiografinya pernah menyatakan bahwa <strong>mempertahankan gelar lebih susah dibandingkan meraihnya</strong>.</p>
<p>Jika diaplikasikan melalui kehidupan sehari-hari, kutipan tersebut dapat diterjemahkan sebagai:</p>
<blockquote><p>Memulai kebiasaan baik baru jauh lebih mudah daripada mempertahankannya</p></blockquote>
<p>Menjaga konsistensi dalam melakukan sesuatu, terutama hal baik, merupakan hal yang susah. Apakah memang benar demikian? Berdasarkan pengalaman pribadi, hal tersebut benar adanya.</p>
<h3>Susah Memulai Lagi</h3>
<p><div id="attachment_4261" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4261" class="size-large wp-image-4261" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4261" class="wp-caption-text">Susah Memulai Lagi Jika Berakhir (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@bradencollum">Braden Collum</a>)</p></div></p>
<blockquote><p><em>The hardest part of ending is starting again</em></p></blockquote>
<p>Kalimat di atas merupakan lirik dari lagu <em><a href="https://whathefan.com/musikfilm/linkin-park-dan-a-thousand-suns/">Waiting for the End</a> </em>dari band favorit Penulis, Linkin Park. Dalam bahasa Indonesia artinya <strong>bagian tersulit dari akhir adalah memulainya kembali</strong>.</p>
<p>Itulah yang Penulis alami saat ini. Pada tulisan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/"><em>Rutinitas Pagi Harian</em></a>, Penulis menjelaskan bagaimana dirinya memiliki rutinitas yang dilakukan setiap pagi.</p>
<p>Rutinitas tersebut berlangsung kurang lebih dua bulan. Menjelang pergantian tahun, semangat Penulis justru turun. Ketika tulisan ini dibuat, Penulis sudah satu minggu berhenti lari pagi.</p>
<p>Kenapa? <strong>Karena sudah terlalu lama berhenti. </strong></p>
<p>Padahal di tulisan sebelumnya Penulis sudah menuliskan salah satu pantangan membuat rutinitas pagi adalah berhenti lebih dari dua hari. Ironis memang, Penulis melanggar pantangannya sendiri.</p>
<p>Sekarang, rasanya begitu berat untuk mengambil jaket dan menggunakan sepatu, lantas melakukan pemanasan dan lari keliling perumahan. Padahal Shubuh bangun, tapi rasanya begitu malas keluar rumah.</p>
<p>Dengan kata lain,<strong> kurangnya niat</strong> juga menjadi musuh terbesar dalam menjaga konsistensi.</p>
<h3>Buruknya <em>Time Management</em></h3>
<p><div id="attachment_4262" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4262" class="size-large wp-image-4262" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4262" class="wp-caption-text">Gunakan Waktu dengan Bijak (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@nate_dumlao">Nathan Dumlao</a>)</p></div></p>
<p>Contoh lain dari susahnya menjaga konsistensi adalah blog ini. Pada awal tahun 2020, Penulis berhasil rutin menulis setiap hari. Akhir tahun? Sedikit sekali tulisan yang Penulis produksi.</p>
<p>Apakah Penulis sibuk hingga tidak punya waktu untuk menulis blog? Apakah Penulis mengalami <em>creative block</em> karena padatnya pekerjaan?</p>
<p>Jika Penulis renungkan kembali, itu semua hanya alasan sebagai pembenaran. Alasan sebenarnya adalah Penulis <strong>terlalu malas</strong> dan <strong><em>time management </em>yang buruk</strong>.</p>
<p>Penulis rutin menulis agenda harian (salah satu rutinitas yang berhasil Penulis pertahankan dari zaman kuliah, walaupun sempat berhenti beberapa bulan di tahun 2020 kemarin).</p>
<p>Dari sana Penulis tahu dalam satu hari apa saja yang Penulis lakukan. Setelah dievaluasi, memang Penulis <strong>terlalu banyak membuang-buang waktunya</strong>.</p>
<p>Dibuang seperti apa? <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone/">Terlalu banyak main media sosial</a> (medsos), terlalu banyak main game, terlalu banyak tidur menjadi contoh yang paling mudah.</p>
<p>Ambil contoh Penulis menghabiskan waktu di medsos sebanyak 2 jam satu hari. Menulis artikel blog paling lama satu jam, tapi biasanya 30 menit sudah selesai.</p>
<p>Jika Penulis mengambil waktu di medsos 1 jam, mau sesibuk apapun Penulis bisa mengalokasikannya untuk menulis artikel blog. Apalagi, ada aplikasi <em>WordPress </em>di ponsel sehingga aktivitas <em>ngeblog</em> tidak melulu harus di layar laptop.</p>
<h3>Apa yang Harus Dilakukan?</h3>
<p><div id="attachment_4263" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4263" class="size-large wp-image-4263" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/menjaga-konsistensi-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4263" class="wp-caption-text">Memanfaatkan To-Do-List (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@cathrynlavery">Cathryn Lavery</a>)</p></div></p>
<p>Lantas, apa yang harus dilakukan untuk menjaga konsistensi? Jawabannya klasik dan klise, <strong>semuanya berawal dari niat!</strong></p>
<p>Setiap orang mungkin akan memiliki metode yang berbeda, tapi ini cara Penulis. Sebagai awal, Penulis harus memaksa dirinya untuk membuat <strong><em>to-do-list </em>harian</strong>.</p>
<p>Penulis adalah tipe orang yang suka menetapkan target-target untuk dicapai karena dengan demikian Penulis jadi memiliki titik fokus dalam menjalani harinya.</p>
<p><strong>Jika Penulis tidak tahu apa yang akan dilakukan hari ini, Penulis akan terdorong untuk menyia-nyiakan waktu yang ada.</strong></p>
<p>Di <em>to-do-list </em>harian tersebut, bisa dibilang isinya hampir sama setiap hari. Jika ada yang beda mungkin hanya satu dua, tapi selebihnya sama.</p>
<p>Walaupun begitu, hal tersebut <strong>melatih konsistensi Penulis</strong>. Dari sisi psikologi, akan muncul perasaan senang apabila berhasil menyelesaikan target-target yang telah dibuat.</p>
<p>Penulis juga memanfaatkan aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.isoron.uhabits&amp;hl=en&amp;gl=US#:~:text=Loop%20helps%20you%20create%20and,and%20it%20respects%20your%20privacy."><strong><em>Loop Habit Tracker</em></strong></a><em> </em>yang bisa diunduh gratis di Play Store. Kalau lihat daftar kebiasaan yang kita buat tercentang semua, rasanya puas sekali!</p>
<p>Kadang Penulis juga berusaha memunculkan kembali semangat menjalani rutinitas dengan <strong>mencari motivasi</strong>, entah dari buku ataupun video YouTube.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Memulai kebiasaan baik yang baru merupakan hal yang sulit. <strong>Mempertahankannya jauh lebih sulit lagi. </strong></p>
<p>Pembaca mungkin punya kesulitan menjaga konsistensi di bidang lain, mungkin ibadahnya, diet makannya, belajarnya, dan lain sebagainya.</p>
<p>Penulis tidak memiliki kapabilitas untuk memberikan jawaban untuk permasalahan tersebut. Hanya saja, Penulis berharap tulisan ini dapat menginspirasi Pembaca untuk menemukan solusinya sendiri.</p>
<p>Yang perlu diingat adalah musuh terbesar dari konsistensi adalah <strong>berhenti untuk jangka waktu tertentu</strong>, <strong>kurangnya niat</strong>, <strong>rasa malas</strong>, dan <strong><em>time management </em>yang buruk</strong>.</p>
<p>Kalau kita berhasil mengalahkan empat hal ini, kemungkinan besar kita bisa menjaga konsistensi kita dalam hal apapun.</p>
<p>Yuk, teguhkan niat untuk menjaga konsistensi. Serap sebanyak mungkin motivasi dari mana pun agar kita semangat untuk menjaga konsistensi tersebut!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 12 Januari 2021, terinspirasi dari dirinya sendiri yang kesulitan menjaga konsistensi diri</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@siora18">Siora Photography</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/menjaga-konsistensi/">Menjaga Konsistensi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/menjaga-konsistensi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Buku Antimalas dan Suka Menunda</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-buku-antimalas-dan-suka-menunda/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-buku-antimalas-dan-suka-menunda/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2020 08:55:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[malas]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[suka menunda]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4207</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai manusia biasa, Penulis memiliki banyak sifat buruk yang harus dibenahi. Beberapa di antaranya adalah sifat malas dan suka menunda-nunda pekerjaan. Menyadari hal tersebut, Penulis pun memutuskan untuk membeli buku berjudul Buku Antimalas dan Suka Menunda karya Choi Myung Gi yang satu ini Meskipun tahu kalau isinya tidak akan terlalu dalam dan kemungkinan akan terlupakan begitu saja, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-buku-antimalas-dan-suka-menunda/">Setelah Membaca Buku Antimalas dan Suka Menunda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sebagai manusia biasa, Penulis memiliki banyak sifat buruk yang harus dibenahi. Beberapa di antaranya adalah <strong><a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/saya-ini-pemalas/">sifat malas</a> dan suka menunda-nunda pekerjaan</strong>.</p>



<p>Menyadari hal tersebut, Penulis pun memutuskan untuk membeli buku berjudul <strong><em>Buku Antimalas dan Suka Menunda </em></strong>karya <strong>Choi Myung Gi</strong> yang satu ini</p>



<p>Meskipun tahu kalau isinya tidak akan terlalu dalam dan kemungkinan akan terlupakan begitu saja, Penulis tetap memutuskan untuk membelinya.</p>



<p>Seperti iman, energi positif pun butuh dicas dengan hal-hal yang positif.</p>



<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Sesuai dengan judulnya, buku ini memotivasi kita untuk menyingkirkan perasaan malas dan kebiasaan suka menunda. Ada tiga bab utama pada buku ini.</p>
<p>Bab pertama adalah <strong><em>Ini Masalah Perasaan </em></strong>yang menjelaskan bahwa kemalasan bisa berasal dari perasaan yang sedang kita alami.</p>
<p>Beberapa di antaranya adalah perasaan cemas, hilang hasrat, amarah, sensitif, kesepian, merasa tidak puas, kurang motivasi, dan lain sebagainya.</p>
<p>Setiap penyebab akan dijelaskan mengapa perasaan tersebut bisa membuat kita merasa malas dan menunda sesuatu.</p>
<p>Buku motivasi tentu menghadirkan sebuah solusi dari permasalahan dan itu yang akan kita temukan pada buku ini. Di akhir bagian, ada semacam intisari cara berpisah dari kemalasan tersebut.</p>
<p>Bab kedua adalah <strong><em>Menyingkirkan Hambatan yang Meredupkan Tekad</em></strong>. Bab ini menjelaskan penyebab-penyebab kemalasan yang bukan disebabkan oleh perasaan.</p>
<p>Contohnya adalah pekerjaan yang membosankan, adanya manusia-manusia pengganggu, kebiasaan menyalahkan orang lain, dan lain sebagainya. Pola tiap bagiannya sama dengan bab sebelumnya.</p>
<p>Bab terakhir dari buku ini adalah <strong><em>Dari Pemalas Menjadi Pekerja Keras</em></strong>. Bab ini memberikan beberapa tips untuk mengusir rasa malas, seperti mengurangi penggunaan media sosial, memperbarui suasana, hingga biasakan diri untuk tidak terlambat.</p>
<p>Di setiap akhir bab, akan ada renungan yang menarik untuk dibaca. Buku ini juga memiliki bonus berupa <em>diary revolusi </em>yang bisa discan menggunakan ponsel pintar kita.</p>



<h3>Setelah Membaca <em>Buku Antimalas dan Suka Menunda</em></h3>
<p>Sebagai buku <em>self-improvement </em>yang ditujukan untuk generasi muda, buku ini dibawakan dengan bahasa ringan dan tidak berbelit-belit.</p>
<p>Buku ini berusaha menunjukkan akar kemalasan yang kita miliki. Kemalasan tidak tiba-tiba muncul begitu saja, pasti ada penyebabnya baik internal maupun eksternal.</p>
<p>Seperti yang sudah Penulis duga ketika membeli buku ini, pembahasan yang ada di dalamnya bisa dianggap enteng-enteng saja. Bahkan Penulis sempat berhenti beberapa saat karena merasa bosan dengan buku ini.</p>
<p>Apakah Penulis menjadi tidak malas setelah membaca buku ini? Tentu tidak, rasa malas dan kebiasaan buruk suka menunda masih Penulis miliki hingga sekarang.</p>
<p>Walaupun begitu, setidaknya Penulis jadi mengetahui beberapa penyebab kemalasan. Jika rasa malas muncul, Penulis akan berusaha mengatasinya dengan beberapa tips yang ada di buku ini.</p>
<p>Membaca buku ini, yang terpenting adalah praktiknya. Semua buku <em>self-improvement </em>akan menjadi percuma jika tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nilai: <strong>4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 29 Desember 2020, terinspirasi setelah membaca <em><strong>Buku Antimalas dan Suka Menunda</strong> </em>karya Choi Myung Gi</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-buku-antimalas-dan-suka-menunda/">Setelah Membaca Buku Antimalas dan Suka Menunda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-buku-antimalas-dan-suka-menunda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8220;Gapyear Dulu Kayaknya Enak&#8221;</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/gapyear-dulu-kayaknya-enak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Feb 2020 11:36:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[etos]]></category>
		<category><![CDATA[etos kerja]]></category>
		<category><![CDATA[gapyear]]></category>
		<category><![CDATA[malas]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[santai]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3477</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis merasa bersyukur karena selepas SMA bisa langsung kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri. Ada beberapa teman Penulis yang harus mengalami masa gapyear terlebih dahulu karena belum diterima di jurusan dan kampus yang diinginkan. Bagi sebagian orang, gapyear adalah sesuatu yang sebisa mungkin dihindari. Kalau sudah lulus sekolah, ya langsung kuliah atau kerja sekalian. Hanya saja, Penulis melihat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gapyear-dulu-kayaknya-enak/">&#8220;Gapyear Dulu Kayaknya Enak&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis merasa bersyukur karena selepas SMA bisa langsung kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri. Ada beberapa teman Penulis yang harus mengalami masa <em>gapyear </em>terlebih dahulu karena belum diterima di jurusan dan kampus yang diinginkan.</p>
<p>Bagi sebagian orang, <em>gapyear </em>adalah sesuatu yang sebisa mungkin dihindari. Kalau sudah lulus sekolah, ya langsung kuliah atau kerja sekalian.</p>
<p>Hanya saja, Penulis melihat adanya fenomena di mana banyak murid yang ingin <em>gapyear </em>bukan karena keadaan, melainkan ingin merasakan bagaimana santainya kehidupan setelah 12 tahun masa sekolah yang berat.</p>
<h3>Mengisi <em>Gapyear </em>dengan Hal Produktif</h3>
<p>Ada beberapa alasan yang mengharuskan seorang murid harus rela &#8220;nganggur&#8221; setelah lulus sekolah. Selain karena belum diterima di tempat yang diinginkan, faktor ekonomi juga bisa jadi penentu.</p>
<p>Jika seperti itu, <em>gapyear </em>memang menjadi tidak terhindarkan. Biasanya, mereka akan menyiapkan diri agar tahun depan bisa kembali mengikuti berbagai tes masuk universitas dengan persiapan yang lebih matang.</p>
<p><em>Gapyear </em>juga dialami mereka yang mengincar masuk ke akademi polisi, militer, dan sejenisnya. Ketatnya persaingan membuat mereka harus tersisih, sehingga mereka kembali menggenjot fisik dan mental untuk tes di tahun berikutnya.</p>
<p>Banyak juga yang memilih untuk langsung bekerja demi mengumpulkan uang, sehingga tahun depan mereka bisa berkuliah dengan uang yang mereka kumpulkan tersebut.</p>
<p>Ada banyak hal produktif lain yang bisa dilakukan, seperti mengikuti berbagai jenis pelatihan atau seminar, banyak belajar hal baru, mendalami hobi atau <em>passion</em>, menjelajahi tempat-tempat baru, dan lain sebagainya.</p>
<p>Sebuah penelitian menyebutkan kalau <em>gapyear </em>bisa memberikan dampak positif, mulai dari mendewasakan diri hingga memiliki banyak waktu untuk melakukan refleksi dan eksplorasi diri.</p>
<p>Seandainya <em>gapyear </em>diisi dengan hal-hal produktif seperti itu, tentu tidak ada masalah sama sekali. Yang menjadi masalah adalah ketika waktu luang tersebut digunakan untuk hal-hal yang kontraproduktif.</p>
<h3>Menyia-nyiakan Waktu di Masa <em>Gapyear</em></h3>
<p>Persaingan kerja di era sekarang cukup keras. Meningkatnya jumlah pengangguran menjadi salah satu bukti bahwa siapa yang tidak memiliki skill akan tersingkir dengan pahit.</p>
<p>Memutuskan untuk <em>gapyear </em>hanya karena ingin santai adalah salah satu hal yang cukup membuat tekanan darah Penulis naik. Satu tahun jelas bukan waktu yang sebentar.</p>
<p>Menganggur mungkin memang terasa sangat nikmat. Tidak ada kewajiban untuk bangun pagi, <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">bisa santai rebahan</a> dan bermain game sepuasnya, tidak lagi dibebani dengan tugas-tugas yang menjemukan, dan lain sebagainya.</p>
<p>Percaya, itu hanya kelihatannya saja. Penulis sudah melakukan wawancara kepada orang-orang yang pernah atau sedang mengalami masa-masa <em>gapyear</em>. Mayoritas mengatakan bahwa menjalani <em>gapyear </em>sama sekali tidak enak.</p>
<p>Kenapa seperti itu? Banyak alasannya, mulai dari merasa bosan karena tidak ada sesuatu yang dikerjakan, mendengarkan cibiran dari orang lain, merasa malu jika bertemu dengan teman yang sudah kuliah, dan lain sebagainya.</p>
<p>Dengan memutuskan untuk <em>gapyear </em>tanpa benar-benar melakukan sesuatu yang berarti merupakan sebuah (maaf) kebodohan. Kita akan dilibas oleh orang-orang yang memiliki etos belajar dan kerja yang lebih tinggi.</p>
<p>Seandainya orangtua kita <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">berlimpah dengan <em>privilege</em></a>, mungkin kita bisa sedikit santai karena mau semalas apapun pasti dibantu. Masalahnya, tidak banyak orang yang mendapatkan hal tersebut.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis kembali menekankan kalau tidak ada yang salah dengan <em>gapyear</em>, selama diisi oleh sesuatu yang bermanfaat dan produktif. Jika hanya diisi dengan bermalas-malasan dan hal konsumtif seperti main game, ya salah.</p>
<p>Seharusnya, manusia lambat laun akan berada di posisi &#8220;<a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mau-kayak-gini-sampai-kapan/">aku sampai kapan ya gini terus</a>&#8221; ketika sedang menganggur. Maka bahaya jika mereka-mereka yang berkeinginan untuk <em>gapyear </em>karena malas tidak merasakan hal tersebut.</p>
<p>Percayalah kalau <em>gapyear </em>itu lebih banyak tidak enaknya jika diisi dengan hal yang sia-sia. Ketika teman-teman sudah merasakan bangku kuliah dan menjalani lembaran hidup baru, kita malah masih berkutat di lubang yang sama.</p>
<p>Dunia ini makin ke sini makin keras. Kalau kita lembek sama diri sendiri, niscaya dunia akan menggilas kita habis-habisan. Tidak ada tempat untuk orang-orang yang terlalu santai (baca: malas) di dunia ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 15 Februari 2020, terinspirasi dari orang-orang yang berkeinginan untuk <em>gapyear </em>hanya karena ingin santai terlebih dahulu.</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@drewcoffman">Drew Coffman</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://www.zenius.net/blog/19372/gap-year">Zenius</a>,</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gapyear-dulu-kayaknya-enak/">&#8220;Gapyear Dulu Kayaknya Enak&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rebahan Terus, Kapan Suksesnya?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Feb 2020 04:29:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[istirahat]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[malas]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[rebahan]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3438</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernah mendengar atau membaca kata rebahan? Rebahan menjadi salah satu kata yang paling populer saat ini dan kerap diidentikkan dengan angkatan milenial. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kegiatan bersantai di atas kasur untuk jangka waktu yang cukup lama, sering kali diiringi dengan kegiatan bermain HP. Para &#8220;pengikutnya&#8221; disebut sebagai kaum rebahan yang terdiri dari orang-orang yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">Rebahan Terus, Kapan Suksesnya?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah mendengar atau membaca kata <em><strong>rebahan</strong>? </em>Rebahan menjadi salah satu kata yang paling populer saat ini dan kerap diidentikkan dengan angkatan milenial.</p>
<p>Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kegiatan bersantai di atas kasur untuk jangka waktu yang cukup lama, sering kali diiringi dengan kegiatan bermain HP.</p>
<p>Para &#8220;pengikutnya&#8221; disebut sebagai <strong><em>kaum rebahan</em></strong> yang terdiri dari orang-orang yang malas beraktivitas demi mencicipi nikmatnya bersantai di atas kasur.</p>
<p>Sebenarnya tidak ada yang salah dengan rebahan, apalagi dilakukan ketika <em>weekend </em>setelah menjalani hari-hari sekolah atau kerja yang sangat padat.</p>
<p>Akan tetapi, terlalu banyak rebahan juga akan memberikan efek negatif yang akan merugikan diri sendiri.</p>
<h3>Stereotipe Masyarakat Terhadap Rebahan</h3>
<p>Di tengah tuntuntan hidup yang makin membuat kepala pening, rebahan (atau dalam Bahasa Jawa disebut <em>leyeh-leyeh</em>) sebenarnya penting digunakan untuk mengistirahatkan tubuh kita dari rutinitas sehari-hari.</p>
<p><div id="attachment_3440" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3440" class="size-large wp-image-3440" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3440" class="wp-caption-text">Rebahan dan Kasur (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@elizabethlies">elizabeth lies</a>)</p></div></p>
<p>Tidak harus dilakukan ketika <em>weekend</em>, rebahan juga dilakukan pulang kantor ataupun beberapa menit sebelum berangkat kerja. Hal yang sama juga berlaku untuk usia anak sekolah.</p>
<p>Hanya saja, muncul stereotipe dari masyarakat kita yang menganggap kaum rebahan adalah sekumpulan orang pemalas yang menyia-nyiakan waktunya demi hal yang kontraproduktif.</p>
<p>Hal ini diperparah dengan berbagai label yang melekat pada generasi milenial yang dianggap serba instan, cenderung apatis terhadap sekitarnya, tidak punya tujuan hidup, egosentris, dan lain sebagainya.</p>
<p>Sebenarnya, stereotipe ini juga kurang pas jika digunakan untuk mengecap semua generasi milenial. Ada banyak hal yang membuat generasi milenial membutuhkan rebahan, sehingga rebahan tidak selalu identik dengan kemalasan.</p>
<p>Generasi milenial hidup di era kemajuan teknologi yang begitu pesat sehingga apapun bisa dilakukan dengan cepat, bahkan dilakukan sambil rebahan. Kerja pun bisa dilakukan di atas kasur tanpa perlu berangkat ke kantor setiap pagi.</p>
<p>Hal ini berbeda dengan zaman dulu, zamannya generasi <em>boomer. </em>Belum ada smartphone dan teknologi lainnya, sehingga rebahan bisa menjadi aktivitas yang sangat membosankan.</p>
<h3>Akan Tetapi&#8230;</h3>
<p>Rebahan dibutuhkan mereka yang sudah menjalani hari-hari padat dengan jumlah istirahat yang relatif sedikit. Tubuh ini memiliki energi yang terbatas, sehingga perlu diisi ulang.</p>
<p><div id="attachment_3441" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3441" class="size-large wp-image-3441" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3441" class="wp-caption-text">Padatnya Rutinitas (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@helloquence">Helloquence</a>)</p></div></p>
<p>Hanya saja untuk orang-orang dengan jumlah aktivitas yang tidak terlalu padat, rebahan tidak terlalu dibutuhkan. Mereka murni rebahan karena memang pemalas (terkadang, Penulis juga menjadi salah satu bagian dari mereka).</p>
<p>Contoh, seorang karyawan di kantor kerjaannya ghibah dan tidur, pulang kantor rebahan main game sampai ngantuk, besoknya kesiangan sehingga di kantor tidur lagi. Kerjanya enggak seberapa, rebahannya banyak banget.</p>
<p>Terlalu banyak rebahan akan membawa beberapa dampak negatif, seperti rentan terkena penyakit, menurunkan daya konsentrasi, hingga membuat diri kita jauh dari kesuksesan.</p>
<p>Kasarnya, gimana mau dapat gaji besar kalau kerjaannya cuma rebahan mulu? Gimana mau ketemu jodoh kalau kerjaannya cuma rebahan mulu? Gimana mau sukses kalau kerjaannya cuma rebahan mulu?</p>
<p>Sebagai <a href="https://whathefan.com/karakter/suka-duka-seorang-pemikir/">orang yang pemikir</a>, Penulis kerap berpikir <em><a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mau-kayak-gini-sampai-kapan/">mau kayak gini sampai kapan?</a> </em>ketika dirinya lebih sering bermalas-malasan daripada melakukan sesuatu yang produktif.</p>
<p>Jika sudah demikian, Penulis akan merasa bersalah karena telah membuang-buang waktunya. Penulis pun mulai beraktivitas yang lebih produktif, biasanya dimulai dengan membersihkan kamar.</p>
<p>Hidup ini singkat, sayang jika digunakan untuk melakukan sesuatu yang kurang berarti.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Rebahan di atas kasur sambil <em>scrolling </em>media sosial, main game HP, atau nonton YouTube berjam-jam memang terlihat sangat nikmat. Saking nikmatnya, rebahan bisa berubah menjadi sesuatu yang bersifat candu.</p>
<p>Rebahan memang menggiurkan, tapi kalau dilakukan secara berlebihan hingga melupakan aktivitas yang lain juga kurang baik. Penulis sering seperti itu, membuang waktunya dengan rebahan sambil melakukan aktivitas konsumtif yang minim manfaat.</p>
<p>Oleh karena itu, tulisan kali ini sebenarnya bertujuan untuk mengingatkan diri sendiri agar tidak menyia-nyiakan waktu yang dimilikinya.</p>
<p>Orang bisa sukses (terlepas dari <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">segala <em>privilege</em> yang dimiliki</a>) karena bangun dari tempat tidur dan mulai melakukan sesuatu untuk menggapai mimpinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 Februari 2020, terinspirasi dari diri sendiri yang merasa dirinya terlalu banyak rebahan</p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwiHkprKi8HnAhUIXSsKHdKnAFAQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.independent.co.uk%2Flife-style%2Fhealth-and-families%2Fdepression-loneliness-mobile-phone-use-10pm-instagram-twitter-mood-disorder-a8353851.html&amp;psig=AOvVaw3SGsm2FuGtwrrjUayIKnUS&amp;ust=1581221588365101">The Independent</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://news.detik.com/kolom/d-4826065/menepis-stereotip-generasi-milenial-sebagai-kaum-rebahan">Detik</a>, <a href="https://kumparan.com/karjaid/dampak-negatif-menjadi-kaum-rebahan-1scXFdAkBFv">Kumparan</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">Rebahan Terus, Kapan Suksesnya?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saya Ini Pemalas</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-pemalas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 22 Sep 2019 03:08:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[malas]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2706</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis mengakui bahwa dirinya merupakan seorang pemalas yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam tanpa melakukan sesuatu yang bermanfaat, mulai cek media sosial hingga main game secara berlebihan. Kalau sudah tidur, bisa dipastikan akan susah untuk beranjak dari kasur ketika bangun. Jadwal tugas yang harus dikerjakan pun biasanya akan menumpuk karena ditunda-tunda, dan akhirnya justru semakin memupuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-pemalas/">Saya Ini Pemalas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis mengakui bahwa dirinya merupakan seorang pemalas yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam tanpa melakukan sesuatu yang bermanfaat, mulai cek media sosial hingga main game secara berlebihan.</p>
<p>Kalau sudah tidur, bisa dipastikan akan susah untuk beranjak dari kasur ketika bangun. Jadwal tugas yang harus dikerjakan pun biasanya akan menumpuk karena ditunda-tunda, dan akhirnya justru semakin memupuk rasa malas tersebut.</p>
<p>Kamar yang rapi pun hanya bertahan beberapa hari. Kebiasaan buruk tidak mengembalikan barang karena terlalu malas menjadi salah satu pemicunya.</p>
<p>Ketika berangkat kantor, penulis biasanya datang terlambat sekitar 15 menit. Padahal, jarak kos ke kantor hanya sekitar 1 kilometer dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki dalam waktu 20 menit.</p>
<p>Alasan sering terlambat? Karena bangun siang. Biasanya, setelah sholat Shubuh penulis akan kembali tidur hingga jam setengah sembilan, baru bersiap-siap ke kantor.</p>
<h3><em>Akan tetapi, penulis sadar bahwa tidak bisa selamanya seperti ini.</em></h3>
<p>Jika penulis terus menghabiskan waktu untuk melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat, bagaimana penulis bisa berkembang menjadi diri yang lebih baik?</p>
<p>Jika penulis terus menerus tidak bisa menghargai waktu dengan baik, bagaimana bisa penulis bisa memiliki masa depan yang lebih cerah dan terjamin?</p>
<p>Jika penulis selalu menunda pekerjaan yang harus diselesaikan, maka penulis tidak akan pernah mengejakan pekerjaan tersebut sama sekali, lantas menyesalinya di masa depan.</p>
<p>Jika penulis tetap malas seperti biasanya, penulis tidak akan bisa menjadi kakak teladan yang baik untuk <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kok-mainnya-sama-anak-kecil/">adik-adik Karang Taruna</a> di Malang.</p>
<p>Jika penulis hidupnya begini-begini saja, penulis bisa mengecewakan orangtua yang menyimpan banyak harapan di dalam hatinya.</p>
<h3><em>Lantas, apa yang harus penulis Lakukan?</em></h3>
<p>Mengusir rasa malas itu susahnya luar biasa. Walaupun begitu, jangan lantas sifat malas dijadikan pembenaran ketika kita enggan melakukan sesuatu. Jangan berkata <em>aku emang dasarnya pemalas kok </em>karena segala sesuatu bisa diubah, selama ada niat.</p>
<p>Penulis sudah berusaha mengenyahkan rasa malas berkali-kali sepanjang hidup. Ketika berhasil, suatu saat ia akan datang kembali untuk menggoda kita.</p>
<p>Penulis menyusun tulisan ini dengan tujuan untuk mengusir rasa malas tersebut. Dengan membuat dibaca oleh para pembaca sekalian, akan tumbuh beban moral untuk tidak malas lagi.</p>
<p>Hal yang paling awal untuk mengusir rasa malas adalah segera melakukan sesuatu. Contoh, ketika merasa sudah membuang waktu karena main media sosial terlalu lama, letakkan gawai <strong>sekarang juga</strong> dan cari aktivitas lain yang membuat kita merasa produktif.</p>
<p>Mengusir rasa malas hanya akan berhasil jika dilakukan saat ini juga. Jika masih menunda-nundanya, artinya rasa malas tersebut masih hinggap di diri kita.</p>
<p>Kalau penulis, biasanya akan membuat jadwal dan target-target tertentu yang harus diselesaikan. Dengan demikian, penulis memiliki motivasi untuk bergerak.</p>
<p>Penulis bersyukur memiliki hobi membaca, karena melalui buku-buku tersebut biasanya penulis menemukan sesuatu yang bisa memotivasi diri sendiri. Ada banyak jalur untuk mendapatkan motivasi, bukan hanya dari buku semata.</p>
<p>Kita juga harus pandai-pandai mencari motivasi dari dalam sendiri, karena motivasi dari luar biasanya tidak terlalu efektif. <strong>Kita lah yang mampu mengubah sifat malas kita, bukan orang lain.</strong></p>
<p>Bukan berarti kita tidak boleh melakukan aktivitas-aktivitas santai seperti <em>leyeh-leyeh </em>dan bermain game. Hal-hal tersebut justru harus dilakukan sebagai media hiburan kita, namun dalam takaran yang sewajarnya dan tidak berlebihan.</p>
<p>Sekali lagi, penulis merupakan orang yang dasarnya malas luar biasa. Akan tetapi, penulis menyadari dirinya tidak bisa terus seperti ini, sehingga harus ada <strong>perubahan dari dalam diri penulis sendiri</strong> dan <strong>dimulai dari sekarang</strong>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 22 September 2019, terinspirasi diri sendiri</p>
<p>Photo by <strong><a href="https://www.pexels.com/@d-ng-nhan-324384?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Dương Nhân </a></strong>from <strong><a href="https://www.pexels.com/photo/orange-tabby-cat-on-bed-2817422/?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Pexels</a></strong></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-pemalas/">Saya Ini Pemalas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
