<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>manusia Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/manusia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/manusia/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 29 Nov 2024 14:39:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.1</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>manusia Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/manusia/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bagaimana Manusia Diperbudak oleh Ciptaannya Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Nov 2024 14:38:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[robot]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8108</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saat ini, Penulis sedang membaca buku Filsafat Moral karya Fahruddin Faiz, setelah sebelumnya menyelesaikan buku Filsafat Kebahagiaan (ulasan menyusul). Nah, ketika membaca bagian Hans Jonas, Penulis menemukan sesuatu yang menarik. Dalam salah satu subbabnya, Faiz menjabarkan &#8220;Situasi Apokaliptik Teknologi&#8221; yang pernah disinggung oleh Jonas. Intinya, teknologi-teknologi yang diciptakan oleh manusia berpotensi mengakibatkan kiamat bagi peradaban [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/">Bagaimana Manusia Diperbudak oleh Ciptaannya Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Saat ini, Penulis sedang membaca buku <em>Filsafat Moral </em>karya <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/">Fahruddin Faiz</a>, setelah sebelumnya menyelesaikan buku <em>Filsafat Kebahagiaan</em> (ulasan menyusul). Nah, ketika membaca bagian Hans Jonas, Penulis menemukan sesuatu yang menarik.</p>



<p>Dalam salah satu subbabnya, Faiz menjabarkan <strong>&#8220;Situasi Apokaliptik Teknologi&#8221; </strong>yang pernah disinggung oleh Jonas. Intinya, teknologi-teknologi yang diciptakan oleh manusia berpotensi mengakibatkan kiamat bagi peradaban manusia.</p>



<p>Menurut Jonas, <strong>semakin manusia mengembangkan teknologi, mereka semakin tidak mampu menguasai teknologi yang mereka ciptakan</strong> (hal. 79). Tanda-tandanya makin ke sini makin terlihat, di mana manusia semakin diperbudak oleh teknologi buatannya sendiri.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/al-khawarizmi-300x157.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/al-khawarizmi-300x157.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/al-khawarizmi-356x186.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/al-khawarizmi.jpg 724w " alt="Ilmuwan Islam dan Pengurangan Perannya" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/tokohsejarah/ilmuwan-islam-dan-pengurangan-perannya/">Ilmuwan Islam dan Pengurangan Perannya</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Manusia Diperbudak oleh Ciptaannya Sendiri</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8111" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-1-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Diperbudak oleh Ciptaan Sendiri (<a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-people-engaged-on-their-phones-8088489/">cottonbro studio</a>)</p>
</div></div>



<p>Ketika menuliskan <em>opening </em>di atas, teknologi apa yang pertama kali terlintas di pikiran? Mungkin mayoritas jawabannya adalah <em><strong>smartphone</strong></em>, <strong>internet</strong>, hingga <strong>media sosial</strong>. Jawaban itu benar, tapi yang memperbudak kita jauh lebih banyak dari itu.</p>



<p>Ketiga hal yang Penulis sebut di atas jelas telah menjadi keseharian kita. Pernah terbayang satu hari tanpa ketiganya? Rasanya kita sudah <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">begitu tergantung kepadanya</a> sehingga rasanya tak mungkin hidup tanpa ketiganya.</p>



<p>Sekarang bayangkan seandainya dunia tiba-tiba mengalami <strong>Internet Apocalypse</strong>, di mana tiba-tiba tidak ada lagi internet di dunia. Selain <em>smarpthone</em> kita menjadi<em> nottoosmartphone</em>, media sosial pun tak bakal bisa akses.</p>



<p>Lebih gawatnya lagi, kalau yang bekerja <em>remote </em>seperti Penulis, jelas kehilangan pekerjaan akan terjadi. Semua harus kembali manual seperti puluhan tahun yang lalu, dunia di mana belum ada internet.</p>



<p>Namun, sebenarnya ciptaan kita yang memperbudak tak hanya sebatas itu. Internet hanyalah sebagian kecil saja. Contoh lain yang tak kalah menyusahkan seandainya tiba-tiba lenyap adalah <strong>listrik</strong>. Seandainya internet tak hilang pun, akan percuma jika tidak ada listrik.</p>



<p>Bayangkan, tak ada tempat untuk menyimpan makan seperti kulkas, tak ada lampu untuk penerangan di malam hari, tak ada mesin cuci untuk membersihkan pakaian, tak ada komputer untuk bekerja, dan masih banyak lagi hal yang tak akan bisa kita lakukan.</p>



<p>Contoh lain, bayangkan dunia tanpa <strong>bensin</strong>. Kendaraan semewah Ferrari atau Lamborghini pun akan menjadi mesin yang tidak bisa melakukan apa-apa. Manusia diberi pilihan mau mengendarai kuda atau sepeda untuk bisa mencapai tujuan dengan cepat.</p>



<p>Jangan lupa, <strong>uang</strong> yang merupakan alat ciptaan manusia untuk mempermudah transaksi pun juga telah memperbudak kita sejak lama. Tentu Pembaca sudah bosan mendengar berita tentang bagaimana serakahnya manusia demi mendapatkan uang.</p>



<p>Manusia rela melakukan banyak hal tercela untuk bisa mendapatkan uang, yang ia gunakan untuk memenuhi hawa nafsunya yang tak berbatas. Kalau perlu menyengsarakan manusia satu negara, mereka akan melakukannya tanpa peduli sama sekali.</p>



<p>Contoh-contoh di atas rasanya sudah cukup memberikan gambaran bagaimana kita manusia sudah diperbudak dan dibuat ketergantungan dengan ciptaan kita sendiri. Apalagi, kita baru akan memasuki era AI yang tampaknya akan dengan mudah membuat kita ketergantungan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Lantas, Apa yang Harus Kita Lakukan?</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8112" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-2-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Apa Kita Siap Hidup Tanpa Internet? (<a href="https://www.youtube.com/watch?v=Inpbk2Ge6sQ">YouTube</a>)</p>
</div></div>



<p>Kita sekarang mengetahui bahwa manusia diperbudak oleh ciptaannya sendiri? Lantas, apa yang harus kita lakukan sebagai manusia agar tidak diperbudak oleh ciptaannya sendiri? Apakah kita harus kembali hidup ala zaman batu ketika kita belum menemukan apa-apa?</p>



<p>Kalau Penulis, rasanya sekarang <strong>kita berada di situasi yang hampir tidak memungkinkan untuk lepas seutuhnya segala hal yang telah kita ciptakan</strong>. Tak mungkin juga kita mengambil langkah ekstrem dan meninggalkan semua teknologi yang ada.</p>



<p>Menurut Penulis, apa yang dimaksud dari peringatan Hans adalah bagaimana kita sebagai manusia harus selalu ingat kalau <strong>teknologi yang kita buat adalah alat yang harus kita kendalikan</strong>, bukan kita yang justru oleh dikendalikan.</p>



<p>Sesederhana contoh media sosial, jangan mau kita terus diperbudak dengan terus melakukan <em>scrolling </em>tanpa batas dan membuat diri kita menjadi komoditas platform untuk dijual ke pengiklan. Kita harus bisa mengontrol durasi penggunaan media sosial kita.</p>



<p>Penggunaan listrik pun ada baiknya kita kontrol dengan bijaksana. Jangan di siang hari kita menyalakan semua lampu padahal ruangan cukup terang. Jangan mentang-mentang kita bisa bayar, lantas membuang-buang energi seperti itu.</p>



<p>Para ilmuwan atau siapapun itu yang telah menciptakan berbagai hal memang membuatnya untuk mempermudah kehidupan kita sebagai manusia. Kita harus berterima kasih kepada mereka karena hidup kita menjadi lebih mudah karena ciptaan-ciptaan mereka.</p>



<p>Selain itu, jangan sampai <strong>kita sebagai manusia justru akan dimusnahkan oleh ciptaan kita sendiri</strong>. Kepandaian manusia justru digunakan untuk <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-perang-nuklir-benar-benar-terjadi/">membuat senjata pemusnah massal</a>. Namun, itulah realita yang sedang terjadi saat ini.</p>



<p>Kutipan yang diucapkan oleh Jonas juga bisa diartikan bahwa ada masanya manusia akan membuat senjata yang ternyata tidak bisa dikendalikan oleh manusia. Contoh mudahnya, lihat saja <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-what-if-bagian-2/">Ultron yang dihadapi oleh para Avengers</a>.</p>



<p>Semoga saja hal tersebut tidak pernah terjadi, baik di masa kini maupun di masa depan. Semoga manusia cukup bijak untuk memanfaatkan ciptaan-ciptaannya. Jangan sampai kehidupan di bumi ini rusak hanya karena kita tidak mampu mengendalikan apa yang kita ciptakan.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Lawang, 29 November 2024, terinspirasi ketika membaca buku <em>Filsafat Moral</em> karya Fahruddin Faiz</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/">Bagaimana Manusia Diperbudak oleh Ciptaannya Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sungguh, Berharap ke Manusia Itu Benar-Benar Mengecewakan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Apr 2023 14:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[berharap]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kecewa]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6435</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.&#8221; -Ali bin Abi Thalib- Sebagai makhluk yang lemah dan penuh kekurangan, berharap kepada sesama manusia menjadi sesuatu yang sangat lumrah. Dalam keseharian kita, tak pernah luput dari aktivitas tersebut. Hanya saja, terkadang kita tidak sadar ketika sedang menaruh harapan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/">Sungguh, Berharap ke Manusia Itu Benar-Benar Mengecewakan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.&#8221;</p>



<p>-Ali bin Abi Thalib-</p>
</blockquote>



<p>Sebagai makhluk yang lemah dan penuh kekurangan, <strong>berharap kepada sesama manusia</strong> menjadi sesuatu yang sangat lumrah. Dalam keseharian kita, tak pernah luput dari aktivitas tersebut.</p>



<p>Hanya saja, terkadang kita tidak sadar ketika sedang menaruh harapan kita kepada orang lain. Setidaknya, Penulis merasa seperti itu hingga pada akhirnya tersadar dalam satu titik dan membuat dirinya melakukan refleksi diri tentang apa itu berharap kepada manusia.</p>





<p>Mari kita renungkan. Ketika kita <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menolong-orang-secara-berlebihan/">menolong seseorang</a>, apakah kita berharap ia membalas kebaikan kita atau apa yang kita lakukan tanpa pamrih? Apakah kita sebenarnya berharap setidaknya yang ditolong memberikan respons yang baik?</p>



<p>Ketika kita berhasil mengerjakan pekerjaan di tempat kerja dengan baik, apakah kita berharap mendapatkan pujian dan bonus dari atasan? Apakah kita sebenarnya berharap kalau derajat kita di mata kolega kantor menjadi lebih tinggi?</p>



<p>Ketika kita merasa membutuhkan pertolongan dari orang lain, apakah kita benar-benar menggantungkan diri kepada orang tersebut? Apakah kita sebenarnya lupa kalau yang bisa menolong kita hanyalah Tuhan, yang bisa menolong lewat perantara apapun?</p>



<p>Ketika kita berbuat baik di lingkungan, apakah kita berharap akan disanjung oleh para warga yang melihatnya? Apakah kita sebenarnya melakukannya hanya demi terlihat baik di mata orang lain dan melupakan esensi dari perbuatan baik yang dilakukan.</p>



<p>Ketika kita menyayangi seseorang, apakah kita berharap ia akan menyayangi kita juga? Apakah kita ingin diperlakukan oleh dia sebagaimana kita memperlakukan mereka? Apakah kita sebenarnya hanya <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gejolak-nafsu-kawula-muda/">menuruti hawa nafsu</a> semata yang berkedok cinta?</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Itu adalah beberapa contoh bentuk &#8220;berharap kepada manusia&#8221; yang setidaknya Penulis sadari pernah (dan mungkin masih) dilakukan. Memang kesannya semua hal tersebut manusiawi dan wajar saja jika terjadi. Namanya juga manusia.</p>



<p>Namun, Penulis menyadari bahwa berharap kepada manusia dalam bentuk apapun kerap kali menimbulkan perasaan kecewa, jika harapan tersebut tidak terwujud. Bahkan, tak jarang jika hal tersebut justru berbalik menjadi hal yang buruk ke kita.</p>



<p>Contohnya, kita berharap kepada kawan kita untuk menolong kita. Ternyata, kita justru dimanfaatkan demi kepentingannya sendiri. Orang yang kita percayai sebegitu tingginya, ternyata menusuk kita dari belakang. Ia menghancurkan harapan kita begitu saja.</p>



<p>Kita berharap ke sesama manusia begitu tinggi, sehingga seolah melupakan adanya peran Tuhan dalam kehidupan kita. Memang, pada prakteknya rasanya hampir mustahil kita tidak berharap kepada manusia. </p>



<p>Rasanya sulit untuk tidak berharap mendapatkan bonus jika target di tempat kerja berhasil dicapai sebelum tenggat dan kita selalu bekerja melebihi <em>workload </em>yang diberikan. Rasanya sulit untuk berbuat baik tanpa mendapatkan apresiasi yang cukup.</p>



<p>Hampir mustahil rasanya kita tidak berharap dicintai oleh orang yang kita cintai. Perasaan kompleks yang dimiliki oleh manusia ini sangat &#8220;haus&#8221; akan balasan, sehingga rasanya sulit untuk bisa mencapai level &#8220;menyayangi dengan ikhlas&#8221; dan tidak mengharapkan balasan.</p>



<p>Yang ingin Penulis ingatkan untuk dirinya sendiri di tulisan ini adalah, setidaknya, mampu mengurangi kadar berharap ke manusia. Penulis ingat kalau sebagai sesama manusia, kita ini sama-sama makhluk yang lemah dan penuh dengan kekurangan.</p>



<p>Mengapa tidak berharap ke entitas yang Maha Kuat dan Maha Kuasa, yakni <strong>Tuhan</strong>? Secara logika, tentu kita seharusnya berharap kepada sesuatu yang lebih kuat dari kita, bukan kepada yang satu level atau bahkan lebih rendah levelnya dari kita.</p>



<p>Ketika kita menolong orang atau berbuat baik, lebih baik kita niatkan untuk mendapatkan rida dari Tuhan. Ketika kita melakukan pekerjaan dengan baik, niatkan untuk mendapatkan rida dari Tuhan. Ketika mencintai seseorang, niatkan untuk mendapatkan rida Tuhan.</p>



<p>Penulis bukan tipe orang yang super religius yang keimanan dan ketakwaannya sudah selangit sehingga sudah tidak pernah berharap ke manusia. Justru, Penulis menulis artikel ini karena merasa dirinya masih sangat sering berharap kepada sesama manusia.</p>



<p>Semoga saja setelah menulis artikel ini, Penulis (dan Pembaca sekalian) bisa mulai mengurangi harapannya kepada sesama manusia. Sebagai makhluk sosial, tentu kita tetap saling membutuhkan dan melakukan interaksi seperti pada umumnya.</p>



<p>Namun, sebisa mungkin kita tidak menggantungkan harapan apapun kepada sesama manusia. Selain karena lebih banyak membuat kecewanya, ada Tuhan yang lebih layak kita gantungkan harapan kepada-Nya.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 11 April 2023, terinspirasi setelah menyadari (lagi) kalau berharap ke sesama manusia itu mengecewakan</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-female-mobster-pointing-the-gun-on-man-7299584/">cottonbro studio</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/">Sungguh, Berharap ke Manusia Itu Benar-Benar Mengecewakan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kalau Sudah Bukan Prioritas, ya Harus Ikhlas</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/kalau-sudah-bukan-prioritas-ya-harus-ikhlas/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/kalau-sudah-bukan-prioritas-ya-harus-ikhlas/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Aug 2022 02:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[ekspektasi]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[prioritas]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5899</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika ditanya tentang siapa yang paling diprioritaskan, siapa yang muncul pertama kali muncul di benak Pembaca? Mungkin jawabannya akan bervariasi, mulai orang tua, keluarga, saudara, pacar, sahabat, atasan, bahkan diri sendiri. Setiap orang berhak untuk menentukan siapa yang ingin diprioritaskan dalam hidupnya. Pasti ada yang mendasari mengapa kita memilih orang tersebut untuk diprioritaskan. Mau sesibuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-sudah-bukan-prioritas-ya-harus-ikhlas/">Kalau Sudah Bukan Prioritas, ya Harus Ikhlas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika ditanya tentang siapa yang paling diprioritaskan, siapa yang muncul pertama kali muncul di benak Pembaca? Mungkin jawabannya akan bervariasi, mulai orang tua, keluarga, saudara, pacar, sahabat, atasan, bahkan diri sendiri.</p>



<p>Setiap orang berhak untuk menentukan siapa yang ingin diprioritaskan dalam hidupnya. Pasti ada yang mendasari mengapa kita memilih orang tersebut untuk diprioritaskan. Mau sesibuk apapun kita, pasti akan menyempatkan waktu untuk mereka.</p>



<p>Masalahnya, bagaimana jika kita <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/sibuk-atau-tidak-diprioritaskan/">tidak menjadi prioritas</a> bagi orang yang kita prioritaskan? Nah, Penulis menemukan kalau hal ini cukup menyesakkan bagi sebagian orang, termasuk Penulis sendiri. Untuk itu, Penulis ingin sedikit membahasnya di tulisan kali ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Kita Tidak Punya Hak untuk Diprioritaskan Orang Lain</h2>



<p>Terkadang, kita merasa berhak untuk diprioritaskan jika kita memprioritaskan orang tersebut. Jika kita menyempatkan waktu ketika mereka butuh kita, kita merasa kalau mereka juga harus menyempatkan waktu ketika kita butuh.</p>



<p>Penulis sempat (atau sampai sekarang?) memiliki pola pikir seperti ini, sehingga hubungan seolah terasa sebagai sesuatu yang bersifat transaksional. <em>I give you this, so I will ask you for that</em>.</p>



<p>Namun, ketika direnungkan lagi, sejatinya <strong>kita tidak memiliki hak untuk diprioritaskan orang lain</strong>. Kita memiliki hak untuk memilih siapa yang akan kita prioritaskan, begitu juga dengan orang lain.</p>



<p>Patut dicatat, hanya karena kita memprioritaskan mereka, hal tersebut tidak serta merta membuat mereka memiliki semacam kewajiban untuk memprioritaskan kita. Itu bukan berarti mereka tidak tahu balas budi, melainkan benar-benar hanya pilihan mereka.</p>



<p>Berharap atau bahkan menuntut <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/">prioritas dari orang lain</a> hanya akan menimbulkan sakit hati, yang sejujurnya pernah (atau sering?) Penulis rasakan. Untuk itu, Penulis merasa harus melawannya dengan satu kata: <strong>Ikhlas</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kalau Sudah Tidak Jadi Prioritas, ya Harus Ikhlas</h2>



<p>Penulis yang sudah berusia 28 tahun mulai merasakan bagaimana orang-orang yang dulu dekat dengan dirinya mulai memiliki kesibukan dan dunianya masing-masing. Orang yang dulu <em>chat </em>setiap hari, sekarang muncul kalau butuh saja.</p>



<p>Seperti yang sudah Penulis singgung di atas, sempat ada perasaan sakit hati karena Penulis merasa selalu memprioritaskan mereka. Ketika merasa dirinya sudah tidak jadi prioritas mereka, perasaan kecewa pun menyeruak dari dalam tubuh.</p>



<p>Biasanya, ketika mengalami gejolak perasaan seperti ini, Penulis akan memutuskan untuk berhenti sejenak dan merenung. Hasilnya, Penulis pun menyadari kalau <strong>siapa prioritas orang lain bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan</strong>.</p>



<p>Ini membantu Penulis untuk bisa merasa ikhlas jika merasa dirinya sudah tidak jadi prioritas bagi orang lain, termasuk orang-orang yang Penulis anggap dekat dan berharga dalam hidupnya. Tidak apa-apa, Penulis berusaha menghargai pilihan tersebut.</p>



<p>Lantas, apakah kita juga perlu berhenti memprioritaskan orang tersebut? Itu Penulis kembalikan ke masing-masing individu. Kalau mau tetap memprioritaskan, boleh saja asal tidak berharap apa-apa. Kalau mau berhenti juga tidak masalah sama sekali.</p>



<p>Bagaimana kalau sejak awal sebenarnya kita tidak pernah diprioritaskan, dan perasaan merasa diprioritaskan itu hanya dari diri sendiri? Bagaimana jika mereka hanya seolah-olah memprioritaskan kita dan sebenarnya karena mereka lagi butuh saja?</p>



<p>Itulah pentingnya tahu diri dan tidak berekspektasi apa-apa ke orang lain. Penulis sekarang pun menyadari, berharap diprioritaskan orang lain hanya membuat capek saja. Cukup lakukan yang terbaik dalam hidup, tanpa perlu berharap ke manusia.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Ingin diprioritaskan oleh orang lain, terutama orang yang kita anggap spesial, adalah hal yang sangat manusiawi dan lumrah. Siapa yang tidak suka jika menjadi prioritas dan selalu ada setiap kita membutuhkan mereka?</p>



<p>Namun, perlu diingat kalau daftar <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/alasan-dan-prioritas/">prioritas</a> orang lain tidak bisa kita kendalikan. Mengharapkan hal tersebut pada akhirnya hanya akan menimbulkan perasaan sakit hati dan kecewa yang akan memicu perasaan-perasaan negatif lainnya.</p>



<p>Untuk itu, kita harus bisa belajar ikhlas jika memang sudah tidak menjadi prioritas orang lain. Memang terkesan menyedihkan, tetapi harus kita biasakan dalam hidup. Yang penting, tetap berusaha menjadi orang baik, meskipun ke orang yang sudah tidak memprioritaskan kita.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 24 Agustus 2022, terinspirasi setelah seorang teman mengirim sebuah <em>quote </em>di grup yang menjadi topik utama dari tulisan ini</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/es/@noahsilliman?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Noah Silliman</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/alone?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-sudah-bukan-prioritas-ya-harus-ikhlas/">Kalau Sudah Bukan Prioritas, ya Harus Ikhlas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/kalau-sudah-bukan-prioritas-ya-harus-ikhlas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Menjadi Manusia Menjadi Hamba</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Jul 2022 23:59:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[Fahruddin Faiz]]></category>
		<category><![CDATA[hamba]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[non-fiksi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5609</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu kanal YouTube favorit dari ayah Penulis adalah Ngaji Filsafat yang diisi oleh Fahruddin Faiz. Penuturannya yang santai dan dikemas untuk mudah dicerna (mengingat topik pembahasannya yang berat) menjadi beberapa alasannya. Untuk itu, beberapa kali Penulis disarankan oleh ayah untuk ikut mendengarkannya. Namun karena beberapa alasan, Penulis tidak terlalu sering menonton video-videonya. Paling hanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/">Setelah Membaca Menjadi Manusia Menjadi Hamba</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Salah satu kanal YouTube favorit dari ayah Penulis adalah <strong>Ngaji Filsafat </strong>yang diisi oleh <strong>Fahruddin Faiz</strong>. Penuturannya yang santai dan dikemas untuk mudah dicerna (mengingat topik pembahasannya yang berat) menjadi beberapa alasannya.</p>



<p>Untuk itu, beberapa kali Penulis disarankan oleh ayah untuk ikut mendengarkannya. Namun karena beberapa alasan, Penulis tidak terlalu sering menonton video-videonya. Paling hanya sesekali ketika kebetulan ayah Penulis sedang menontonnya.</p>



<p>Untuk itu, sewaktu tahu Fahruddin Faiz menulis sebuah buku berjudul <em><strong>Menjadi Manusia Menjadi Hamba</strong></em>, Penulis langsung tertarik membacanya karena pada dasarnya Penulis lebih suka membaca daripada menonton.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: Menjadi Manusia Menjadi Hamba</li><li>Penulis: Fahruddi Faiz</li><li>Penerbit: Noura Books</li><li>Cetakan: Cetakan Kedua</li><li>Tanggal Terbit: Maret 2021</li><li>Tebal: 309 halaman</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Buku ini mengambil beberapa topik yang pernah dibahas di kanal YouTube Ngaji Filsafat, sehingga ketika membacanya Penulis bisa membayangkan suara Fahruddin Faiz yang tenang dan bertempo lambat di kepala.</p>



<p>Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bab, yakni <strong>Manusia</strong>, <strong>Waktu</strong>, dan <strong>Penghambaan</strong>. Di setiap babnya selalu membahas <a href="https://whathefan.com/animekomik/filsafat-ala-attack-on-titan/">mengenai berbagai filsafat</a>, baik dari Yunani Kuno, Barat, hingga China.</p>



<p>Tidak hanya berhenti sampai di sana, Fahruddin Faiz juga mengombinasikannya dari sisi Islam, baik dari Alquran maupun Hadis. Dengan begitu, nilai-nilai filsafat yang ingin disampaikan masih sejalan dengan nilai-nilai Islam.</p>



<p>Pada bab Manusia, kita dijelaskan mengenai <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-hebat-dari-tuhan/">fitrah kita sebagai manusia</a> yang seharusnya menghamba ke Tuhan, bukannya menghamba ke selain Tuhan seperti harta, jabatan, hingga manusia lainnya.</p>



<p>Bab ini terdiri dari lima subbab, yakni Fitrah, Humor, Pernikahan, Doa, Main-Main dalam Hidup, dan Nama Baik. Kita bisa memilih mau membaca yang mana duluan, tidak perlu membacanya secara berurutan.</p>



<p>Bab Waktu menjabarkan tentang filosofi waktu dalam kehidupan kita, tentang bagaimana kita harus bisa menggunakan dan memaknai waktu sebaik mungkin. Bab terakhir lebih menjelaskan mengenai ibadah kita sebagai makhluk Tuhan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca <em>Menjadi Manusia Menjadi Hamba</em></h2>



<p>Sama seperti video di YouTube-nya, di buku ini Fahruddin Faiz berusaha memberikan wejangan dengan cara yang bersahabat dan tidak menggurui. Tidak lupa selalu ada selipan humor agar topik yang serius ini tidak terlalu terasa serius.</p>



<p>Pembahasan d bab pertama (Manusia) sangat relevan dengan kondisi sekarang. Di era modern seperti sekarang, kita sering melihat fenomena bagaimana kita sering mengagungkan selain Tuhan.</p>



<p>Contohnya adalah kita yang hidup terlalu matrealistis, terlalu memuja seseorang/kelompok, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang diinginkan, dan lain sebagainya. Bab ini hadir untuk mengingatkan fitrah kita tersebut.</p>



<p>Buku ini akan membawa kita banyak merenung mengenai kodrat kita sebagai manusia yang tinggal di bumi ini. Kandungan filsafat yang ada di dalamnya sama sekali tidak terasa berat karena berhasil dijelaskan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.</p>



<p>Akan ada banyak <em>quote-quote </em>yang <em>mak jleb </em>dan terasa begitu sesuai dengan yang kita. Apalagi seperti yang sudah Penulis singgung di atas, kita bisa memilih bagian mana yang ingin kita baca tanpa perlu urut dari halaman pertama. </p>



<p>Untuk itu, buku ini akan Penulis rekomendasikan untuk Pembaca yang ingin mencari semacam &#8220;pencerahan&#8221; dalam hidupnya dan yang ingin belajar tentang filsafat dengan penuturan yang mudah untuk dipahami. </p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang. 10 Juli 2022, terinspirasi setelah membaca buku <em>Menjadi Manusia Menjadi Hampa </em>karya Fahruddin Faiz</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/">Setelah Membaca Menjadi Manusia Menjadi Hamba</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ternak Manusia Ala The Promised Neverland</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/ternak-manusia-ala-the-promised-neverland/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/ternak-manusia-ala-the-promised-neverland/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2020 04:13:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[plot twist]]></category>
		<category><![CDATA[ternak]]></category>
		<category><![CDATA[The Promised Neverland]]></category>
		<category><![CDATA[thriller]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4027</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam menonton anime, Penulis menghindari anime-anime berat yang tidak memiliki unsur komedi. Alasannya, tujuan Penulis menonton anime adalah sebagai hiburan semata. Hanya saja, suatu hari Ayu memberikan rekomendasi ke Penulis untuk menonton sebuah anime berjudul The Promised Neverland. Kebetulan, anime ini tersedia di Netflix. Awalnya, Penulis merasa berat karena genrenya. Ketika akhirnya Penulis coba untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/ternak-manusia-ala-the-promised-neverland/">Ternak Manusia Ala The Promised Neverland</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam menonton anime, Penulis menghindari anime-anime berat yang tidak memiliki unsur komedi. Alasannya, tujuan Penulis menonton anime adalah sebagai hiburan semata.</p>
<p>Hanya saja, suatu hari Ayu memberikan rekomendasi ke Penulis untuk menonton sebuah anime berjudul <strong><em>The Promised Neverland</em></strong><em>. </em>Kebetulan, anime ini tersedia di Netflix.</p>
<p>Awalnya, Penulis merasa berat karena genrenya. Ketika akhirnya Penulis coba untuk menonton episode satu, Penulis keterusan sampai memutuskan untuk membaca cerita manganya sampai tamat!</p>
<h3>Peternakan Manusia</h3>
<p><div id="attachment_4094" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4094" class="size-large wp-image-4094" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/08/ternak-manusia-ala-the-promised-neverland-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/08/ternak-manusia-ala-the-promised-neverland-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/08/ternak-manusia-ala-the-promised-neverland-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/08/ternak-manusia-ala-the-promised-neverland-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/08/ternak-manusia-ala-the-promised-neverland-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4094" class="wp-caption-text">Utopia Palsu (<a href="https://www.kincir.com/movie/anime/promised-neverland-anime-hype-sesuai-ekspektasi">Kincir</a>)</p></div></p>
<p>Pada episode pertama, kita akan diperlihatkan sebuah panti asuhan. Di dalamnya, terdapat banyak anak kecil dalam rentang usia 5 sampai 12 tahun yang diasuh oleh seorang &#8220;Mama&#8221;.</p>
<p>Mereka semua terlihat sangat berbahagia. Rasa kekeluargaan yang dimiliki oleh masing-masing anak sangat terasa. Mereka juga sangat menyayangi Mama yang begitu baik hati.</p>
<p>Seperti halnya panti asuhan pada umumnya, akan ada waktu anak-anak tersebut akan diadopsi oleh orang tua angkat. Kali ini Conny yang akan diadopsi.</p>
<p><div id="attachment_4093" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4093" class="size-large wp-image-4093" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/08/ternak-manusia-ala-the-promised-neverland-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/08/ternak-manusia-ala-the-promised-neverland-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/08/ternak-manusia-ala-the-promised-neverland-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/08/ternak-manusia-ala-the-promised-neverland-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/08/ternak-manusia-ala-the-promised-neverland-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4093" class="wp-caption-text">Norman, Emma, Ray (<a href="https://screenrant.com/promised-neverland-season-2-updates-release-date-story/">Screen Rant</a>)</p></div></p>
<p>Ketika Conny telah pergi, ternyata boneka kesayangannya tertinggal di panti. <strong>Emma</strong> dan <strong>Norman</strong>, dua anak panti yang termasuk paling menonjol, memutuskan untuk mengantarkan boneka tersebut ke gerbang.</p>
<p>Ternyata, mereka justru menemukan fakta yang mengerikan. Conny tidak diadopsi, melainkan dibunuh untuk menjadi makanan iblis. Semua anak yang ada di panti tersebut hanyalah ternak yang dipelihara untuk dibunuh.</p>
<p>Dengan kecerdasan yang dimiliki, Emma dan Norman menyusun strategi untuk kabur dari panti asuhan tersebut. Mereka dibantu oleh <strong>Ray</strong>, salah satu anak panti lainnya yang juga memiliki kepintaran di atas rata-rata.</p>
<p>Rasanya cukup sampai di sini saja Penulis menjelaskan alur ceritanya karena takut memberikan <em>spoiler</em>. Apalagi, anime ini memiliki <em>plot twist </em>yang cukup banyak.</p>
<p>Setiap akhir episode, ada saja adegan yang membuat kita ingin menonton episode selanjutnya secepat mungkin.</p>
<h3>Penuh dengan Plot Twist, Tapi&#8230;</h3>
<p><div id="attachment_4095" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4095" class="size-large wp-image-4095" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/08/ternak-manusia-ala-the-promised-neverland-4-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/08/ternak-manusia-ala-the-promised-neverland-4-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/08/ternak-manusia-ala-the-promised-neverland-4-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/08/ternak-manusia-ala-the-promised-neverland-4-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/08/ternak-manusia-ala-the-promised-neverland-4.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4095" class="wp-caption-text">Penuh Plot Twist (<a href="https://wallpapersafari.com/w/LhK9ju">WallpaperSafari</a>)</p></div></p>
<p>Anime ini merupakan anime bergenre <em>mystery </em>dan <em>thriller </em>pertama yang Penulis tonton. Kalau bukan karena direkomendasikan oleh Ayu, Penulis tidak akan pernah menonton anime ini.</p>
<p>Salah satu kekuatan dari anime ini adalah episode pertamanya yang sangat menarik. Kita akan diperlihatkan sebuah utopia palsu yang mengerikan dan membuat Emma dan Norman mencari cara untuk kabur dari sana.</p>
<p>Penulis yang merasa penasaran dengan lanjutan ceritanya memutuskan untuk membaca komiknya. Kebetulan, serial ini hanya memiliki sekitar 180 <em>chapter </em>sehingga tidak dibutuhkan waktu lama untuk menamatkannya.</p>
<p>Jika boleh membocorkan sedikit, Penulis kurang menyukai kelanjutan dari <em>The Promised Neverland. </em>Unsur <em>plot twist </em>yang kental di animenya berkurang banyak, digantikan petualangan yang menegangkan.</p>
<p>Selain itu, Penulis juga merasa <em>ending</em>-nya terlalu bahagia. Kekelaman yang Penulis rasakan ketika menonton animenya tidak terlalu terasa lagi di komik.</p>
<p>Setidaknya, anime ini membawa keseruan dan ketegangan yang lumayan. Animasinya juga di atas rata-rata sehingga kita betah untuk menontonnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 27 September 2020, terinspirasi setelah menonton dan membaca <em>The Promised Neverland</em></p>
<p>Foto: <a href="https://wall.alphacoders.com/by_sub_category.php?id=301917&amp;name=The+Promised+Neverland+Wallpapers"><span class="pM4Snf">Wallpaper Abyss &#8211; Alpha Coders</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/ternak-manusia-ala-the-promised-neverland/">Ternak Manusia Ala The Promised Neverland</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/ternak-manusia-ala-the-promised-neverland/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Definisi Sukses Nomor 2: Hidup Tenang</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2020 13:25:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<category><![CDATA[tenang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4052</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, ada kejadian yang menghebohkan di mana Syekh Ali Jaber mengalami penusukan ketika sedang menghadiri sebuah acara di Lampung. Untungnya, beliau tidak mengalami cedera yang serius dan bisa beraktivitas seperti biasa. Lantas, beliau diundang ke kanal YouTube milik Deddy Corbuzier untuk membicarakan tentang kejadian tersebut. Banyak sekali pelajaran yang bisa Penulis ambil dari podcast tersebut. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang/">Definisi Sukses Nomor 2: Hidup Tenang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, ada kejadian yang menghebohkan di mana <strong>Syekh Ali Jaber </strong>mengalami penusukan ketika sedang menghadiri sebuah acara di Lampung. Untungnya, beliau tidak mengalami cedera yang serius dan bisa beraktivitas seperti biasa.</p>
<p>Lantas, beliau diundang ke kanal YouTube milik Deddy Corbuzier untuk membicarakan tentang kejadian tersebut. Banyak sekali pelajaran yang bisa Penulis ambil dari podcast tersebut.</p>
<p>Salah satunya adalah tentang <strong>hidup tenang</strong>, yang Penulis anggap sebagai definisi sukses nomor 2.</p>
<h3>Tenang Menghadapi Masalah</h3>
<p>Di dalam kehidupannya, manusia pasti akan menjumpai yang namanya masalah. Tidak ada satupun manusia di dunia yang tak pernah bertemu dengan masalah.</p>
<p>Jika begitu, lantas bagaimana kita bisa hidup dengan tenang? Kuncinya adalah <strong>bagaimana cara kita menyikapi masalah tersebut</strong>.</p>
<p><div id="attachment_4054" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4054" class="size-large wp-image-4054" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4054" class="wp-caption-text">Tenang Menghadapi Masalah (<a href="https://unsplash.com/@officestock">Sebastian Herrmann</a>)</p></div></p>
<p>Misalkan kita mengalami musibah diberhentikan dari tempat kerja karena pandemi. Jelas kejadian tersebut akan membuat kita merasa <em>down </em>seolah bingung harus bagaimana melanjutkan hidup.</p>
<p>Merasa seperti itu sangat manusiawi. Depresi, frustasi, khawatir, hingga perasaan takut bisa terjadi pada siapapun. Hanya saja, jangan terlalu berlarut-larut hingga membuat kita terpuruk.</p>
<p>Bayangkan jika kita bisa tenang ketika menghadapi masalah tersebut. Mungkin kita akan segera mencari cara bagaimana bisa mendapatkan pekerjaan lain atau mungkin ingin <em>upgrade </em>skill yang dimiliki.</p>
<p>Bahkan Syekh Ali Jaber menyarankan kita untuk mengucapkan <em>alhamdulillah </em>ketika ditimpa musibah. Mengucap syukur di saat senang itu mudahnya bukan main, tapi mengucapkan ketika susah?</p>
<h3>Tenang Menghadapi Orang Lain</h3>
<p>Sebagai makhluk yang kerap berinteraksi dengan sesamanya, pasti ada saja percikan konflik yang dapat terjadi antar manusia. Apalagi di zaman sekarang, banyak orang asing yang kerap berkomentar tidak penting tentang orang lain yang sebenarnya tidak ia kenal.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-4055" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /></p>
<p>Merasa marah, kecewa, terkhianati, tersakiti oleh orang lain adalah hal yang lumrah. Semuanya pasti pernah mengalaminya, termasuk sebaliknya ketika kita yang berbuat salah ke orang lain.</p>
<p>Kalau mau hidup tenang, seharusnya kita bisa <strong>mengendalikan diri untuk tidak bereaksi berlebihan</strong> jika ada orang lain yang berbuat kurang baik.  Bahkan kalau bisa, berdoa agar orang yang berbuat salah diampuni oleh Tuhan.</p>
<p>Tidak hanya perlakuan yang buruk, perlakuan yang baik dari orang lain pun sebaiknya tidak membuat kita terlalu terlena. Disyukuri dan jadikan untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi untuk sesamanya.</p>
<p>Orang-orang yang ada di sekeliling kita juga banyak berpengaruh atas ketenangan dalam hidup. Sebisa mungkin, buatlah diri ini dikelilingi oleh orang-orang yang membawa energi positif untuk kehidupan kita.</p>
<h3>Bagaimana Cara Hidup Tenang?</h3>
<p>Sama seperti kebanyakan tulisan yang berbau motivasi di blog ini, Penulis menulis artikel ini sebenarnya lebih karena ingin mengingatkan dirinya sendiri. Penulis merasa jarang bisa menjalani hidup tenang tanpa beban pikiran yang berat.</p>
<p>Penulis bukan orang yang terlalu religius, namun Penulis meyakini dengan <strong>mendekatkan diri ke Tuhan</strong> kita bisa merasa hidup tenang ketika menghadapi poin-poin yang sudah dipaparkan di atas.</p>
<p>Melakukan <strong>evaluasi diri</strong> juga bisa menjadi salah satu cara agar kita menyadari mana saja dari bagian diri ini yang butuh dibenahi. Misal kita merasa dirinya <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/saya-ini-pemalas/">seorang pemalas</a>, kita harus bisa memperbaiki sifat tersebut secara bertahap.</p>
<p>Jika ada kenangan atau peristiwa di masa lalu yang banyak menganggu kita di masa sekarang, cobalah perlahan berdamai dengannya. Kalau kata Noah, <em>masa lalu takkan melemahkanmu</em>.</p>
<p>Selain itu, sibukkan diri dengan <strong>melakukan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat</strong>. <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">Terlalu banyak bermain media sosial</a> berpotensi membuat hidup kita tidak tenang karena akan banyak melihat kehidupan orang lain.</p>
<p>Ada banyak sekali hal yang bisa disyukuri dari hidup ini. Jika kita bisa <strong>memperbanyak syukur dan mengurangi keluh</strong>, <em>insyaAllah </em>hidup kita bisa meraih definisi kesuksesan nomor 2 versi Penulis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NB: Definisi sukses nomor satu bagi Penulis adalah <strong><a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/definisi-sukses-nomer-1-bermanfaat-bagi-orang-lain/">Bermanfaat Bagi Orang Lain</a></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 20 September 2020, terinspirasi setelah menonton podcast Deddy Corbuzier ketika mengundang Syekh Ali Jaber</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@fuuj?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Fuu J</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/happy?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://www.youtube.com/watch?v=6OTBeW-SIh8">YouTube</a>, <a href="https://cantik.tempo.co/read/1128658/ingin-hidup-tenang-dan-bahagia-ikuti-7-tips-berikut/full&amp;view=ok">Tempo</a>, <a href="https://id.wikihow.com/Hidup-dengan-Pikiran-yang-Tenang">WikiHow</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang/">Definisi Sukses Nomor 2: Hidup Tenang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Manusia Dalam Tiga Babak</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/manusia-dalam-tiga-babak/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/manusia-dalam-tiga-babak/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2020 03:39:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[babak]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[lahir]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[mati]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3909</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis sekarang sedang membaca buku berjudul Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia karya Dr. P. A. Van der Weij. Belinya sudah lama, tapi beberapa bulan terletak begitu saja di rak. Meskipun tidak bisa memahami semua isinya, buku tersebut mendorong Penulis untuk lebih merenungi tentang kehidupan kita sebagai manusia. Salah satunya adalah tiga babak yang dialami oleh semua manusia: Lahir, Hidup, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/manusia-dalam-tiga-babak/">Manusia Dalam Tiga Babak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis sekarang sedang membaca buku berjudul <em>Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia </em>karya Dr. P. A. Van der Weij. Belinya sudah lama, tapi beberapa bulan terletak begitu saja di rak.</p>
<p>Meskipun tidak bisa memahami semua isinya, buku tersebut mendorong Penulis untuk lebih merenungi tentang kehidupan kita sebagai manusia.</p>
<p>Salah satunya adalah tiga babak yang dialami oleh semua manusia: <strong>Lahir, Hidup, Mati</strong>.</p>
<h3>Babak 1: Lahir</h3>
<p><div id="attachment_3910" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3910" class="size-large wp-image-3910" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3910" class="wp-caption-text">Lahir (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.todaysparent.com/pregnancy/giving-birth/why-vaginal-seeding-wont-help-caesarean-born-babies/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCLC-pKHX3-kCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Visit Today's Parent"><span class="pM4Snf">Today&#8217;s Parent</span></a>)</p></div></p>
<p>Kita tak pernah ingat ketika dilahirkan ke dunia. Tahu-tahu, kita sudah berada di suatu lingkungan keluarga atau lainnya. Itupun dibatasi oleh kemampuan daya ingat kita.</p>
<p>Kita dilahirkan ke dunia adalah suratan takdir yang tak bisa kita tolak. Kita berasal dari sesuatu yang hina (air mani), lantas ditiupkan roh ke dalam jasad kita.</p>
<p>Kita tak bisa memilih ingin dilahirkan dari rahim siapa. Ada yang terlahir dengan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">banjiran <em>privilege</em></a>, ada yang terlahir kurang sempurna, macam-macam.</p>
<p>Seandainya diberi pilihan antara dilahirkan atau tidak pernah dilahirkan sama sekali, mana yang akan kita pilih?</p>
<h3>Babak 2: Hidup</h3>
<p><div id="attachment_3911" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3911" class="size-large wp-image-3911" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3911" class="wp-caption-text">Hidup (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://thesayingquotes.com/quotes-about-life/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCIiky53X3-kCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Visit The Saying Quotes"><span class="pM4Snf">The Saying Quotes</span></a>)</p></div></p>
<p>Di antara tiga babak kehidupan manusia, hanya hidup yang bisa kita kendalikan. Itupun mendapat banyak pengaruh dari internal maupun eksternal.</p>
<p>Kehidupan yang dijalani oleh masing-masing manusia pasti berbeda. Ada yang hanya berusia beberapa menit, ada yang harus menjalani hidup panjang hingga ratusan tahun.</p>
<p>Terlepas dari itu, secara umum kehidupan manusia selalu berada di tahapan bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan akhirnya menjadi tua.</p>
<p>Ketika masih bayi, segala kebutuhan kita dipenuhi oleh orangtua atau orang yang merawat kita. Ketergantungan kita terhadap orang lain masih sangat besar.</p>
<p>Memasuki usia anak-anak, kita mulai belajar banyak hal dan mengenal orang lain di luar lingkungan kita tinggal. Masa remaja adalah masa peralihan sebelum menjajaki usia dewasa.</p>
<p>Setelah menjadi dewasa, kita mulai mengendalikan kehidupan kita sendiri, mengemudikan bahtera diri di gelombang laut kehidupan yang penuh gejolak, sembari menanti masa tua datang.</p>
<p>Masing-masing manusia akan menjalani kehidupan yang berbeda-beda dengan warnanya sendiri. Semua dijalani hingga ajal akhirnya menjemput.</p>
<h3>Babak 3: Mati</h3>
<p><div id="attachment_3912" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3912" class="size-large wp-image-3912" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3912" class="wp-caption-text">Mati (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.ethos3.com/2013/11/dont-leave-your-ideas-in-the-graveyard/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCOCsj8TX3-kCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Visit Ethos3"><span class="pM4Snf">Ethos3</span></a>)</p></div></p>
<p>Kematian kerap dianggap sebagai sesuatu yang mengerikan dan menyedihkan. Perpisahan dengan orang tercinta tentu akan menggoreskan luka yang dalam.</p>
<p>Bagi sebagian orang, kematian hanyalah awal dari sebuah kehidupan lain yang telah menanti di akhirat. Yang lain berpendapat setelah mati ya mati, tidak ada kehidupan lain.</p>
<p>Berbeda dengan kelahiran yang hampir pasti berasal dari rahim seorang wanita, kematian bisa bervariasi bentuknya. Ada yang tenang, ada yang tragis, dan lain sebagainya.</p>
<p>Mati adalah bagian terakhir dari tiga babak manusia. Mati adalah pengingat, kalau hidup yang kita jalani pasti akan memiliki garis akhir yang telah menanti di ujung sana.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Sebenarnya istilah tiga babak ini sudah Penulis ketahui sejak lama melalui video klip grup band 30 Second to Mars yang berjudul <em>Hurricane. </em>Di sana, tertulis kalau manusia memiliki tiga babak yang sudah Penulis bahas di atas.</p>
<p>Biasanya, Penulis merenungi hal semacam ini menjelang tidur. Oleh karena itu, jangan heran kalau Penulis sering menderita insomnia yang cukup parah.</p>
<p>Jika ditarik kesimpulan, kita hanya bisa mengendalikan babak kedua, yakni hidup. Itupun ada banyak faktor internal maupun eksternal yang akan memengaruhi.</p>
<p>Artinya, selama kita masih hidup, sebisa mungkin kita memanfaatkannya untuk hal-hal yang baik. Jangan sampai waktu kita habis untuk hal yang kurang ada maknanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 1 Juni 2020, terinspirasi setelah membaca buku filsafat dan menonton video di YouTube</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@youngprodigy3">Mike Szczepanski</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/manusia-dalam-tiga-babak/">Manusia Dalam Tiga Babak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/manusia-dalam-tiga-babak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bumi (Tanpa) Manusia</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bumi-tanpa-manusia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2020 12:05:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[kerusakan]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi industri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3748</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apakah ada hal positif yang muncul akibat meruaknya virus Corona ke segala penjuru dunia? Tanpa mengurangi empati kepada korban dan keluarganya, Penulis merasa ada. Dengan adanya virus ini, kebanyakan orang harus mengurangi kegiatannya dan berdiam diri di rumah. Banyak tempat kerja menerapkan kebijakan Work from Home sehingga jalanan lebih lenggang. Akibatnya, tingkat polusi berkurang secara signifikan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bumi-tanpa-manusia/">Bumi (Tanpa) Manusia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah ada hal positif yang muncul akibat meruaknya <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya/">virus Corona</a> ke segala penjuru dunia? Tanpa mengurangi empati kepada korban dan keluarganya, Penulis merasa ada.</p>
<p>Dengan adanya virus ini, kebanyakan orang harus mengurangi kegiatannya dan berdiam diri di rumah. Banyak tempat kerja menerapkan kebijakan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/agar-wfh-tetap-produktif/"><em>Work from Home</em></a> sehingga jalanan lebih lenggang.</p>
<p>Akibatnya, tingkat polusi berkurang secara signifikan, hewan-hewan yang dulu tidak bebas bergerak jadi berani untuk muncul, dan masih banyak lainnya.</p>
<p>Penulis menjadi terpikir sesuatu, <strong>apakah Bumi memang lebih baik tanpa kehadiran manusia?</strong></p>
<h3>Zaman Dinosaurus dan Era Peperangan</h3>
<p>Jika mau percaya kepada para arkeolog, pernah ada suatu masa ketika reptil raksasa menguasai dunia. Alam bekerja secara baik hingga muncul bencana yang memusnahkan mereka.</p>
<p>Lantas, Bumi perlahan diambil oleh mamalia. Menurut penganut teori evolusi Charles Darwin, ada makhluk-makhluk yang akan menjadi cikal bakal manusia modern seperti sekarang.</p>
<p><div id="attachment_3751" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3751" class="wp-image-3751 size-large" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3751" class="wp-caption-text">Manusia dan Perang (<a class="o5rIVb irc_hol irc_lth" tabindex="0" href="https://en.wikipedia.org/wiki/Napoleonic_Wars" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwj8huy59vHoAhXd4XMBHX1pCQcQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Wikipedia</span></a>)</p></div></p>
<p>Kalau menurut keyakinan Penulis, Nabi Adam dan Hawa diturunkan dari surga karena melanggar perintah Tuhan. Mereka lah nenek moyang manusia, berawal dari dua orang hingga menjadi milyaran seperti sekarang.</p>
<p>Penulis banyak membaca buku sejarah, termasuk sejarah peradaban. Semenjak kemunculan manusia dan perlahan membangun peradaban, <strong>ada saja bentuk kerusakan yang ditimbulkan</strong>.</p>
<p>Tak terhitung berapa jumlah perang yang sudah dilakukan umat manusia. Ada yang demi memperluas kekuasaan, fasisme, menyebarkan ajaran agama, perebutan sumber daya, dan lain sebagainya.</p>
<p>Siapa yang dirugikan? Selain rakyat sipil yang tidak bersalah, alam pun turut menjadi korban. Kerusakan yang dihasilkan oleh perang jelas tidak sedikit.</p>
<h3>Revolusi Industri</h3>
<p>Selain perang, kerusakan alam secara masif juga dipicu oleh <strong>Revolusi Industri</strong> yang terjadi di sekitar abad 18 yang bermula di Britania Raya dan menyebar ke seluruh dunia.</p>
<p><div id="attachment_3752" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3752" class="size-large wp-image-3752" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3752" class="wp-caption-text">Revolusi Industri (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.history.com/news/second-industrial-revolution-advances" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCOiPo8328egCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Visit History.com"><span class="pM4Snf">History.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Pertumbuhan penduduk meningkat pesat, roda ekonomi berputar lebih cepat, terjadinya perubahan besar-besaran di berbagai bidang, mulai dari pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, hingga teknologi.</p>
<p>Salah satu faktor yang mendorong hal tersebut adalah penemuan mesin uap oleh James Watt. Mesin tersebut membuat pekerjaan manusia bisa selesai lebih efisien dan cepat.</p>
<p>Efek sampingnya? Polusi yang gila-gilaan. Mesin uap membutuhkan batu bara sebagai bahan bakar, salah satu jenis bahan bakar fosil. Otomatis, dibutuhkan proses penambangan yang jelas merusak alam.</p>
<p>Kehidupan manusia memang menjadi lebih baik. Akan tetapi, ada tumbal yang harganya tidak murah.</p>
<h3>Bumi (Tanpa) Manusia</h3>
<p>Hanya dari dua contoh di atas (perang dan revolusi industri), kita bisa melihat betapa besar kerusakan alam yang dihasilkan oleh manusia untuk Bumi kita tercinta.</p>
<p><em>Apakah berarti Bumi akan lebih baik tanpa manusia?</em> Bisa jadi iya, bisa jadi tidak.</p>
<p><div id="attachment_3753" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3753" class="size-large wp-image-3753" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3753" class="wp-caption-text">Beruang Kutub Mencari Makan (<a class="o5rIVb irc_hol irc_lth" tabindex="0" href="https://www.nytimes.com/2019/06/19/world/europe/polar-bear-norilsk-russia.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiq0t7U9vHoAhUX63MBHczcAKYQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">The New York Times</span></a>)</p></div></p>
<p>Di dalam keyakinan Penulis, telah ditakdirkan bahwa manusia diturunkan ke Bumi untuk menjadi pemimpin di Bumi. Tidak ada makhluk lain yang secerdas dan sehebat manusia.</p>
<p>Hanya saja dalam prosesnya, banyak perbuatan kita yang menyimpang dan membuat alam kita rusak. Hutan semakin habis, laut semakin kotor, binatang banyak yang punah dan terancam punah, dan masih banyak contoh lainnya.</p>
<p>Untungnya di era modern seperti sekarang, kesadaran untuk peduli terhadap lingkungan semakin meningkat. Orang-orang seperti <strong>Greta Thunberg</strong> bisa menginspirasi banyak orang dengan aksinya.</p>
<p>Jadi, Bumi memang bisa lebih baik tanpa ada manusia. Namun faktanya, manusia telah ditakdirkan untuk menjadi pemimpin di Bumi dan sudah seharusnya kita menjalankan amanat tersebut dengan baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 18 April 2020, terinspirasi dengan banyaknya makhluk hidup lain yang bisa bergerak bebas selama pandemik Corona ini</p>
<p>Foto: <a href="https://www.thehour.com/news/article/As-humans-stay-indoors-wild-animals-take-back-15201739.php?src=nwkhpcp">TheHour</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bumi-tanpa-manusia/">Bumi (Tanpa) Manusia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menolong Orang Secara Berlebihan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menolong-orang-secara-berlebihan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Sep 2019 23:43:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berlebihan]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[tolong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2667</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe orang yang gemar menolong orang lain. Sebisa mungkin, penulis selalu berusaha ada untuk orang-orang yang membutuhkan penulis. Penulis merasa lebih pandai menyelesaikan masalah orang lain dibandingkan menyelesaikan permasalahan sendiri. Nampaknya, banyak orang yang mengalami problematika seperti ini. Hanya saja, terdapat sebuah masalah yang penulis hadapi ketika menolong orang lain, terutama untuk orang-orang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menolong-orang-secara-berlebihan/">Menolong Orang Secara Berlebihan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe orang yang gemar menolong orang lain. Sebisa mungkin, penulis selalu berusaha ada untuk orang-orang yang membutuhkan penulis.</p>
<p>Penulis merasa lebih pandai menyelesaikan masalah orang lain dibandingkan menyelesaikan permasalahan sendiri. Nampaknya, banyak orang yang mengalami problematika seperti ini.</p>
<p>Hanya saja, terdapat sebuah masalah yang penulis hadapi ketika menolong orang lain, terutama untuk orang-orang yang penulis sayangi.</p>
<h3>Menolong Secara Berlebihan</h3>
<p>Terkadang, keinginan penulis untuk menolong orang lain itu terlihat berlebihan, melebihi yang dibutuhkan orang tersebut. Akibatnya, orang tersebut justru merasa risih dengan bantuan yang telah diberikan.</p>
<p>Beberapa hari terakhir ini, penulis merenungi hal ini dalam-dalam. Ternyata, berlebihan dalam membantu pun bisa berdampak kurang baik. Memang benar, <strong>tidak ada yang baik dengan yang namanya berlebihan</strong>.</p>
<p>Termasuk jika kita ingin memotivasi atau menyemangati orang lain. Jika terlalu berlebihan, bisa-bisa orang tersebut justru akan merasa <em>down </em>alih-alih menjadi semangat.</p>
<p>Mendorong orang lain terlalu keras bisa membuatnya terjungkal, bukan membuatnya maju beberapa langkah ke depan. Karena membuatnya terjatuh, wajar jika mereka justru balik marah ke kita.</p>
<p>Selain itu, keinginan baik kita tidak selalu bisa dimengerti oleh orang lain. Salah satu alasannya adalah sifat kita yang berlebihan tadi, sehingga mereka salah menangkap maksud baik kita.</p>
<p>Biasanya, kita akan memberi pertolongan secara berlebihan ini untuk orang yang kita sangat sayangi. Kita tentu tidak ingin orang tersebut merasa kesusahan ataupun bersedih hati, sehingga kita seolah ingin berbuat apapun untuk menolongnya.</p>
<p>Padahal, mungkin mereka butuh ruang untuk sendiri dan sedang tidak membutuhkan pertolongan kita. Parahnya, jika sedang melihat mereka seperti ini, kita justru semakin gencar memberikan bantuan yang justru membuatnya semakin jengkel.</p>
<p>Hasrat untuk menolong secara berlebihan yang penulis miliki ini bisa jadi karena <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">rasa takut merasa sendiri</a> yang penulis derita. Harapannya dengan menolong orang lain, kita akan bisa menjalin hubungan baik dengan orang lain.</p>
<p>Tapi penulis telah menyadari, bahwa justru menolong secara berlebihan ini bisa merusak hubungan dengan orang lain. Rasanya tidak ada orang yang ingin didorong terlalu keras, kecuali karena keinginan diri sendiri.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis akan tetap berusaha mendedikasikan hidupnya untuk bisa membantu orang lain. Sebagai makhluk sosial, penulis memahami kita harus selalu saling tolong menolong.</p>
<p>Akan tetapi, penulis juga harus berusaha tidak memberikan bantuan melebihi yang diinginkan dan dibutuhkan oleh orang tersebut yang berdampak buruk bagi satu sama lain.</p>
<p>Bagi pembaca sekalian, mari tolong menolong secara wajar tanpa harus membuat orang lain merasa didorong terlalu keras. Kita ingin memberikan yang terbaik untuk orang yang kita sayang, maka bantulah sesuai yang mereka butuhkan dan inginkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 11 September 2019, terinspirasi setelah merasa telah mendorong orang lain terlalu keras</p>
<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@lanophotography">lalesh aldarwish</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menolong-orang-secara-berlebihan/">Menolong Orang Secara Berlebihan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Manusia Bermuka Dua</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/manusia-bermuka-dua/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Aug 2019 16:43:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bohong]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[khianat]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[muka dua]]></category>
		<category><![CDATA[munafik]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2646</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apa itu manusia bermuka dua? Yang paling gampang adalah perilaku seseorang yang berbeda ketika di hadapan dan di belakang kita. Jika di depan terlihat sangat manis, di belakang ternyata busuk luar biasa. Ada yang menyamakan sifat bermuka dua ini sama dengan munafik. Bisa saja benar, tergantung bagaimana kita mengartikan munafik. Apakah penulis pernah bertemu dengan manusia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/manusia-bermuka-dua/">Manusia Bermuka Dua</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Apa itu <strong>manusia bermuka dua</strong>? Yang paling gampang adalah perilaku seseorang yang berbeda ketika di hadapan dan di belakang kita. Jika di depan terlihat sangat manis, di belakang ternyata busuk luar biasa.</p>
<p>Ada yang menyamakan sifat bermuka dua ini sama dengan munafik. Bisa saja benar, tergantung bagaimana kita mengartikan munafik.</p>
<p>Apakah penulis pernah bertemu dengan manusia bermuka dua ini? Rasanya pernah, tapi penulis berharap salah. Apakah penulis termasuk orang yang bermuka dua? Semoga tidak, karena penulis tahu bagaimana pahitnya berhadapan dengan makhluk yang satu itu.</p>
<p><em><strong>Peringatan, tulisan di bawah ini mengandung unsur curhat yang cukup kental</strong> </em>😊</p>
<h3>Kenapa Ada Orang Bermuka Dua?</h3>
<p>Dari beberapa literatur yang penulis baca, ada banyak alasan mengapa orang harus bermuka dua. Ada yang bertujuan untuk menjilat atasan, ada yang untuk menjaga <em>image</em>, ada yang untuk melindungi kepentingannya, ada pula yang karena ingin mengadu domba orang lain.</p>
<p>Beberapa alasan tersebut membuat kita bisa mengambil kesimpulan bahwa orang-orang yang bermuka dua adalah orang egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Mereka rela melakukan apapun agar keinginannya terpenuhi.</p>
<p>Bisa jadi mereka mengorbankan orang lain, menebar kebohongan dan fitnah yang menyakitkan, dan hal-hal buruk lainnya yang jelas merugikan orang lain. Apakah mereka peduli dengan orang lain? Rasanya tidak.</p>
<p>Yang lebih menyakitkan adalah ketika orang selama ini kita percaya ternyata tidak sesuai dengan harapan kita. Orang yang paling kita sayangi pun terkadang bisa menusuk dari belakang. Percayalah, pedih rasanya.</p>
<h3>Ciri-Ciri Orang Bermuka Dua</h3>
<p><div id="attachment_2649" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2649" class="size-large wp-image-2649" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/manusia-bermuka-dua-1-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/manusia-bermuka-dua-1-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/manusia-bermuka-dua-1-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/manusia-bermuka-dua-1-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/manusia-bermuka-dua-1-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2649" class="wp-caption-text">Bermuka Dua (<a href="http://www.tarot-buch.com/info/bertemu-dengan-orang-yang-bermuka-dua-begini-cara-menghadapinya/">Tarot Buch</a>)</p></div></p>
<p>Untuk pembaca yang ingin menghindari orang-orang semacam ini, penulis telah mengumpulkan beberapa ciri-ciri yang melekat pada kaum berwajah ganda.</p>
<p>Ketika ada di hadapan kita, mereka terlihat sangat ramah dan <em>friendly</em>. Nyatanya, segala keramahan tersebut mereka gunakan untuk menutupi kebencian yang dimiliki.</p>
<p>Mereka juga tidak bisa dipercaya alias tidak amanah. Ketika mendapatkan cerita dari orang lain dan diminta untuk merahasiakannya, merekatetap saja <em>ember </em>ke orang lain dengan berbagai tujuan terselubung.</p>
<p>Selain sering terlihat egois, mereka juga sering mencari perhatian dengan berbagai cara. Bisa lewat kata-katanya, <a href="https://whathefan.com/karakter/cari-perhatian-di-media-sosial/">statusnya di media sosial</a>, hingga tingkah lakunya yang seolah membuatnya ingin menonjolkan diri.</p>
<p>Mereka juga suka bergosip, di mana biasanya mereka lakukan untuk menyebarkan kejelekan orang lain. Kalau sedang ingin mengadu domba orang, bisa jadi mereka juga menyisipkan bumbu kebohongan yang disengaja.</p>
<p>Tak jarang mereka ingin menjatuhkan kita dengan berbagai cara, termasuk dengan hasutan beracun. Selain itu, mereka juga tak segan untuk menyebarkan keburukan kita ke orang lain.</p>
<p>Ada juga yang bilang mereka cenderung sombong karena merasa lebih hebat dari orang lain. Karena ingin diakui kehebatannya oleh orang lain, mereka tidak senang jika ada orang yang lebih hebat dari dirinya.</p>
<p>Apakah orang bermuka dua harus memiliki semua sifat yang sudah disebutkan di atas? Menurut penulis, tidak. Walaupun hanya punya beberapa ciri di atas, mereka sudah tergolong ke dalam manusia bermuka dua.</p>
<h3>Pandangan Manusia Bermuka Dua Dalam Islam</h3>
<p>Saking penasarannya dengan permasalahan muka dua ini, penulis juga membaca sumber-sumber yang terkait dengan agama penulis. Penulis ingin tahu, bagaimana Islam memandang permasalahan muka dua ini.</p>
<p>Ternyata, di dalam surat <strong>Al-Baqarah ayat 14-16</strong>, disebutkan bahwa sifat bermuka dua termasuk ke dalam ciri-ciri orang munafik. Ada pula hadis yang terjemahannya kurang lebih seperti di bawah ini:</p>
<p><em>“Manusia yang paling buruk adalah orang yang bermuka dua, yang mendatangi kaum dengan muka tertentu dan mendatangi lainnya dengan muka yang lain.” (H.R. Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu)</em></p>
<p>Artinya dalam Islam, kita dilarang untuk memiliki sifat bermuka dua yang menjurus ke sifat munafik. Penulis yakin, di ajaran agama lain pun akan senada.</p>
<h3>Bagaimana Cara Mengatasi Orang Bermuka Dua?</h3>
<p><div id="attachment_2650" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2650" class="size-large wp-image-2650" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/manusia-bermuka-dua-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/manusia-bermuka-dua-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/manusia-bermuka-dua-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/manusia-bermuka-dua-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/manusia-bermuka-dua-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2650" class="wp-caption-text">Jauhi Aja (<a href="https://unsplash.com/@alexisrbrown">Alexis Brown</a>)</p></div></p>
<p>Berkutat pada masalah tidak akan menyelesaikan apapun. Kita harus mencari solusi untuk mengatasinya. Lantas, bagaimana cara mengatasi orang bermuka dua?</p>
<p>Yang pertama, kita harus meyakinkan diri bahwa mereka bukanlah teman ataupun apapun yang baik untuk kita. Sebisa mungkin, jauhi mereka agar kita tidak terkena imbasnya. Selain itu, yakinkan orang-orang yang ada di sekitarmu untuk berhati-hati kepada mereka.</p>
<p>Jangan pernah (lagi) ceritakan rahasiamu kepada mereka. Risikonya tinggi, rahasiamu bisa terbongkar ke publik tanpa izin. Jika mereka berusaha memancing kita untuk bercerita, waspadalah untuk tidak terjebak di perangkapnya.</p>
<p>Yang tak kalah penting adalah menjaga emosi. Orang-orang bermuka dua harus dihadapi dengan tenang dan kepala dingin. Jangan balas dendam dengan berbuat sama dengan yang telah mereka perbuat.</p>
<p>Paling penting ya menjauhinya sih. Jika kita tidak ingin mendapatkan masalah di kemudian hari karena ulah mereka, jaga jarak sejauh mungkin.</p>
<p>Tidak ada orang yang suka dengan manusia bermuka dua, sehingga jika kebusukan mereka telah terbongkar niscaya tidak ada yang ingin berhubungan dengannya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Ketika menulis artikel ini, penulis merasa was-was. Bagaimana tidak, penulis khawatir ciri-ciri yang telah dituliskan ternyata melekat di diri penulis, baik tanpa sengaja maupun sengaja.</p>
<p>Semoga saja penulis bisa menjadi orang yang lebih amanah, yang bisa dipercaya. Penulis tidak ingin menjadi orang yang berpura-pura manis di hadapan seseorang, tapi bermulut kotor di belakang.</p>
<p>Semoga penulis dan para pembaca sekalian dijauhkan dari manusia-manusia bermuka dua. Amin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 Agustus 2019, terinspirasi dari manusia bermuka dua yang menuduh orang lain bermuka dua (<em>apa sih</em>)</p>
<p>Foto: <a href="http://www.elenifourli.gr/tag/charakthristika/">Eleni Fourli</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/manusia-bermuka-dua/">Manusia Bermuka Dua</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
