Ternak Manusia Ala The Promised Neverland

Dalam menonton anime, Penulis menghindari anime-anime berat yang tidak memiliki unsur komedi. Alasannya, tujuan Penulis menonton anime adalah sebagai hiburan semata.

Hanya saja, suatu hari Ayu memberikan rekomendasi ke Penulis untuk menonton sebuah anime berjudul The Promised Neverland. Kebetulan, anime ini tersedia di Netflix.

Awalnya, Penulis merasa berat karena genrenya. Ketika akhirnya Penulis coba untuk menonton episode satu, Penulis keterusan sampai memutuskan untuk membaca cerita manganya sampai tamat!

Peternakan Manusia

Utopia Palsu (Kincir)

Pada episode pertama, kita akan diperlihatkan sebuah panti asuhan. Di dalamnya, terdapat banyak anak kecil dalam rentang usia 5 sampai 12 tahun yang diasuh oleh seorang “Mama”.

Mereka semua terlihat sangat berbahagia. Rasa kekeluargaan yang dimiliki oleh masing-masing anak sangat terasa. Mereka juga sangat menyayangi Mama yang begitu baik hati.

Seperti halnya panti asuhan pada umumnya, akan ada waktu anak-anak tersebut akan diadopsi oleh orang tua angkat. Kali ini Conny yang akan diadopsi.

Norman, Emma, Ray (Screen Rant)

Ketika Conny telah pergi, ternyata boneka kesayangannya tertinggal di panti. Emma dan Norman, dua anak panti yang termasuk paling menonjol, memutuskan untuk mengantarkan boneka tersebut ke gerbang.

Ternyata, mereka justru menemukan fakta yang mengerikan. Conny tidak diadopsi, melainkan dibunuh untuk menjadi makanan iblis. Semua anak yang ada di panti tersebut hanyalah ternak yang dipelihara untuk dibunuh.

Dengan kecerdasan yang dimiliki, Emma dan Norman menyusun strategi untuk kabur dari panti asuhan tersebut. Mereka dibantu oleh Ray, salah satu anak panti lainnya yang juga memiliki kepintaran di atas rata-rata.

Rasanya cukup sampai di sini saja Penulis menjelaskan alur ceritanya karena takut memberikan spoiler. Apalagi, anime ini memiliki plot twist yang cukup banyak.

Setiap akhir episode, ada saja adegan yang membuat kita ingin menonton episode selanjutnya secepat mungkin.

Penuh dengan Plot Twist, Tapi…

Penuh Plot Twist (WallpaperSafari)

Anime ini merupakan anime bergenre mystery dan thriller pertama yang Penulis tonton. Kalau bukan karena direkomendasikan oleh Ayu, Penulis tidak akan pernah menonton anime ini.

Salah satu kekuatan dari anime ini adalah episode pertamanya yang sangat menarik. Kita akan diperlihatkan sebuah utopia palsu yang mengerikan dan membuat Emma dan Norman mencari cara untuk kabur dari sana.

Penulis yang merasa penasaran dengan lanjutan ceritanya memutuskan untuk membaca komiknya. Kebetulan, serial ini hanya memiliki sekitar 180 chapter sehingga tidak dibutuhkan waktu lama untuk menamatkannya.

Jika boleh membocorkan sedikit, Penulis kurang menyukai kelanjutan dari The Promised Neverland. Unsur plot twist yang kental di animenya berkurang banyak, digantikan petualangan yang menegangkan.

Selain itu, Penulis juga merasa ending-nya terlalu bahagia. Kekelaman yang Penulis rasakan ketika menonton animenya tidak terlalu terasa lagi di komik.

Setidaknya, anime ini membawa keseruan dan ketegangan yang lumayan. Animasinya juga di atas rata-rata sehingga kita betah untuk menontonnya.

 

 

Lawang, 27 September 2020, terinspirasi setelah menonton dan membaca The Promised Neverland

Foto: Wallpaper Abyss – Alpha Coders

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.