<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>media sosial Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/media-sosial/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/media-sosial/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 Oct 2024 15:48:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>media sosial Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/media-sosial/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Selama Bangun, Mata Kita Terus Terpapar Layar</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/selama-bangun-mata-kita-terus-terpapar-layar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/selama-bangun-mata-kita-terus-terpapar-layar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Oct 2024 15:43:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[gadget]]></category>
		<category><![CDATA[gawai]]></category>
		<category><![CDATA[layar]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[monitor]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7948</guid>

					<description><![CDATA[<p>Coba ingat-ingat aktivitas kita dalam sehari-hari mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi di malam hari. Seberapa banyak aktivitas yang melibatkan layar di perangkat elektronik, baik dari ponsel, laptop, hingga televisi? Penulis sendiri baru-baru ini menyadari bahwa dirinya hampir terpapar layar selama dirinya beraktivitas, mengingat pekerjaan dan hobi menulis Penulis sama-sama menuntut dirinya untuk selalu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/selama-bangun-mata-kita-terus-terpapar-layar/">Selama Bangun, Mata Kita Terus Terpapar Layar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Coba ingat-ingat aktivitas kita dalam sehari-hari mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi di malam hari. Seberapa banyak aktivitas yang melibatkan layar di perangkat elektronik, baik dari ponsel, laptop, hingga televisi? </p>



<p>Penulis sendiri baru-baru ini menyadari bahwa dirinya hampir terpapar layar selama dirinya beraktivitas, mengingat pekerjaan dan hobi menulis Penulis sama-sama menuntut dirinya untuk selalu berada di hadapan layar.</p>



<p>Pada tulisan kali ini, Penulis ini melakukan interopeksi diri mengenai betapa panjangnya durasi dalam satu hari yang dihabiskan untuk menatap layar elektronik yang sejatinya memancarkan <em>blue light</em>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-768x566.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-1024x755.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-346x255.jpg 346w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019.jpg 1221w " alt="Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/mencari-inspirasi-karakter-melalui-anime/">Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Penulis Menghabiskan Sebagian Besar Waktunya di Depan Layar</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-7955" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-1-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Hari-Hari Lihat Layar (<a href="https://www.st.lukes.org/an-addition-to-your-daily-social-media-scroll/">St. Luke&#8217;s</a>)</p>
</div></div>



<p>Penulis akan berbagai dari pengalamannya sendiri (di hari kerja) untuk menjelaskan bagaimana kita sangat sering terpapar layar sejak dari bangun tidur. Penulis tidak akan menggunakan contoh &#8220;rutinitas yang ideal,&#8221; melainkan menggunakan contoh keseharian yang sering dilakukan.</p>



<p>Pagi hari di saat waktu Shubuh, Penulis akan terbangun karena alarm ponsel dan tablet. Setelah menunaikan ibadah sholat, Penulis akan <strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/">kembali rebahan dan mengecek ponsel</a></strong>. Terkadang Penulis <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/">membaca buku</a> dulu, tapi lebih sering mengecek ponsel.</p>



<p>Seringnya, Penulis akan tertidur lagi sekitar 1-2 jam setelah bangun pagi. Penulis baru akan terbangun lagi menjelang <em>morning concall </em>dan <em>brainstorm </em>yang dilakukan setiap pagi jam 9. Kalau lagi malas, <strong>Penulis akan rapat di atas kasur, bisa menggunakan tablet maupun laptop</strong>.</p>



<p>Biasanya rapat pagi ini berlangsung sekitar 1 jam. Setelah itu, Penulis akan <strong>sarapan yang sering dilakukan sambil menonton YouTube</strong>. Selesai sarapan (Penulis sarapan cukup siang), Penulis akan kembali bekerja dan berhenti menjelang Dhuhur untuk mandi, rawat diri, dan sholat Dhuhur.</p>



<p>Antara waktu Dhuhur dan Maghrib adalah<strong> waktu utama Penulis untuk bekerja di depan PC</strong>. Karena <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/">memasang larangan untuk mengecek media sosial</a> atau bermain <em>game</em> di jam kerja, Penulis biasanya beristirahat sambil membaca buku, tidur sejenak, atau sekadar bermain dengan kucing.</p>



<p>Masuk jam istirahat di malam hari, biasanya Penulis habiskan dengan <strong>cek media sosial ataupun menonton YouTube </strong>di televisi ruang keluarga bersama ibu. Makan malam pun seringnya dilakukan sambil menonton televisi.</p>



<p>Jam 9 ke atas, biasanya Penulis kembali masuk ke kamar dan <strong>mulai menulis artikel blog di depan laptop</strong>. Setelah selesai, Penulis bisa <strong>kembali cek media sosial atau bermain <em>game</em> di tablet</strong>. Tak jarang juga Penulis <strong>menonton YouTube di televisi kamar </strong>sebelum akhirnya tidur.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Cara Mengurangi Durasi Melihat Layar</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-7954" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-2-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Buku Menjadi &#8220;Pelarian&#8221; yang Baik (<a href="https://www.pexels.com/photo/woman-reading-a-book-beside-the-window-1031588/">Rahul Shah</a>)</p>
</div></div>



<p>Dari cerita di atas, bisa dilihat kalau hampir seluruh kegiatan Penulis di hari kerja dilakukan dengan melihat layar, entah itu ponsel, tablet, laptop, maupun PC. Mau serius, mau santai, semua berkaitan dengan layar.</p>



<p>Bisa dibilang, hanya ada lima aktivitas yang tidak melibatkan layar sama sekali, yakni ketika <strong>sholat</strong>, <strong>membaca buku</strong>, <strong>bermain kucing</strong>, <strong>mandi</strong>, dan <strong>tidur</strong>. Ini menunjukkan bahwa betapa tergantungnya Penulis terhadap perangkat-perangkat elektronik untuk menjalani kesehariannya.</p>



<p>Penulis merasa kalau ini bukan gaya hidup yang sehat. Meskipun pekerjaannya menuntut untuk sering melihat layar, Penulis harusnya bisa mengimbanginya dengan aktivitas-aktivitas lain yang tidak membutuhkan layar.</p>



<p><strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Membaca buku</a> </strong>jelas menjadi opsi yang paling menyenangkan bagi Penulis. Buku bisa menjadi jeda sejenak dari layar sekaligus sebagai penambah wawasan bagi dirinya. Namun, &#8220;daya&#8221; baca Penulis sudah tidak seperti dulu. Mentok-mentok satu jam sudah lelah, kecuali sedang membaca novel yang seru.</p>



<p>Selain itu,<strong> olahraga <em>outdoor</em> seperti lari pagi juga bisa menjadi aktivitas yang sehat</strong>. Dulu Penulis cukup rutin melakukannya, bahkan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya/">bisa menyebuhkan insomnia yang dideritanya</a>. Namun, belakangan ini entah mengapa rasanya sangat berat untuk melakukannya.</p>



<p><strong>Mencari hobi <em>offline</em> yang tidak membutuhkan layar </strong>juga bisa menjadi alternatif. Contoh yang paling gampang tentu saja bermain <em>board game</em> seperti yang sering Penulis lakukan di akhir pekan bersama <em>circle</em>-nya. Tidak hanya bermain, Penulis juga bisa mengobrol dengan teman-temannya.</p>



<p>Hobi <em>offline </em>lain yang bisa menyita waktu kita adalah<strong> </strong><a href="https://whathefan.com/renungan/filosofi-merakit-gundam/">merakit <em>model kit</em> seperti Gundam</a>, LEGO, dan sejenisnya. Masih ada banyak hobi <em>offline</em> lainnya yang bisa dilakukan, seperti berkebun, futsal, memancing, memasak, menggambar, main musik, dan lainnya. </p>



<p>Penulis juga ingin <strong>mengurangi kebiasaan makan sambil nonton YouTube</strong>. Walau kesannya <em>multitasking</em>, aktivitas makan sebenarnya bisa menjadi jeda yang baik. Apalagi, sudah seharusnya kita fokus dengan makanan yang ada di hadapan kita dan bersyukur masih bisa menikmatinya.</p>



<p><strong>Kegiatan lain yang perlu dikurangi adalah bermain media sosial</strong>. Aktivitas yang satu ini telah terbukti sebagai penyedot waktu terbesar. Walau sudah membatasi diri sekitar 1-2 jam per hari, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/smartphone-adalah-distraksi-terberat-untuk-produktivitas/">Penulis merasa itu masih terlalu banyak dan bisa dikurangi lagi agar lebih produktif</a>. </p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Mungkin karena kebetulan saja pekerjaan Penulis menuntut dirinya untuk melihat layar seharian. Apalagi, Penulis masih <em>work from home </em>sampai sekarang. Jadi, tulisan ini bisa jadi tidak <em>related </em>kepada orang-orang yang pekerjaannya tidak selalu mengharuskan mereka untuk melihat layar.</p>



<p>Namun, bagi para Pembaca yang juga menjalani rutinitas seperti Penulis, semoga saja tulisan ini bisa membantu menyadarkan betapa seringnya mata kita terpapar layar elektronik dan mulai mencari alternatif aktivitas lain yang lebih sehat.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 1 Oktober 2024, terinspirasi setelah menyadari bahwa dirinya hampir selalu menatap layar monitor dalam banyak bentuk</p>



<p>Sumber Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/blackskined-man-using-smart-phones-and-ipads-9783835/">Ron Lach</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/selama-bangun-mata-kita-terus-terpapar-layar/">Selama Bangun, Mata Kita Terus Terpapar Layar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/selama-bangun-mata-kita-terus-terpapar-layar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Mesin Pencari akan Tergantikan oleh Media Sosial?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/apakah-mesin-pencari-akan-tergantikan-oleh-media-sosial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/apakah-mesin-pencari-akan-tergantikan-oleh-media-sosial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Sep 2024 16:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[mesin pencari]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[tiktok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7831</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ada hal menarik ketika Penulis berinteraksi dengan para Gen Z di sekitar Penulis. Kebetulan, sewaktu mengisi webinar yang diadakan minggu kemarin, pertanyaan yang menjadi judul artikel ini juga sempat ditanyakan ke Penulis. Penulis sebagai generasi Milenial terbiasa menggunakan Google dalam mencari informasi apapun, bahkan hingga muncul istilah Mbah Google dan term googling. Alasannya jelas, Google [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apakah-mesin-pencari-akan-tergantikan-oleh-media-sosial/">Apakah Mesin Pencari akan Tergantikan oleh Media Sosial?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ada hal menarik ketika Penulis berinteraksi dengan para Gen Z di sekitar Penulis. Kebetulan, sewaktu mengisi webinar yang diadakan minggu kemarin, pertanyaan yang menjadi judul artikel ini juga sempat ditanyakan ke Penulis.</p>



<p>Penulis sebagai generasi Milenial terbiasa menggunakan Google dalam mencari informasi apapun, bahkan hingga muncul istilah Mbah Google dan <em>term googling</em>. Alasannya jelas, Google menyediakan hampir semua informasi yang kita butuhkan.</p>



<p>Namun, bagi Gen Z, ternyata pamor Google sebagai mesin pencari mulai pudar dan dikalahkan oleh <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/">media sosial seperti TikTok</a>. Fenomena ini pun menimbulkan satu pertanyaan: <strong>apakah mesin pencari akan tergantikan oleh media sosial?</strong> </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner.jpg 1280w " alt="Maskulinitas pada Musik Dewa" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/musik/maskulinitas-pada-musik-dewa/">Maskulinitas pada Musik Dewa</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Beda Mencari di Mesin Pencari dan Media Sosial</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045561-1024x683.png" alt="" class="wp-image-7836" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045561-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045561-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045561-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045561.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">TikTok Sebagai Mesin Pencari (<a href="https://www.flick.social/learn/blog/post/how-to-search-on-tiktok">Flick</a>)</figcaption></figure>



<p>Disrupsi adalah hal yang biasa di dunia ini. Hampir tidak ada benda yang benar-bentar tak tergantikan. Selalu ada terobosan dan inovasi baru yang lebih efektif dan efisien, sehingga orang pun jadi beralih dan meninggalkan yang lama dan kuno.</p>



<p>Jauh sebelum Google muncul, mungkin orang mengandalkan buku, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/benarkah-era-toko-buku-akan-segera-berakhir/">toko buku</a>, atau perpustakaan untuk mencari informasi. Nah, kini Google (dan mesin pencari lainnya seperti Bing) pun menghadapi ancaman yang sama.</p>



<p>Misal Penulis dan <em>circle</em>-nya ingin mencari rekomendasi kafe di Malang. Kalau Penulis akan mencari artikelnya di Google. Namun, teman Penulis yang Gen Z lebih memilih TikTok karena ditampilkan dalam bentuk audiovisual yang lebih menarik.</p>



<p>Tentu artikel dan konten video memiliki plus minusnya masing-masing. Google misalnya, bisa menjelaskan secara detail rekomendasi kafe yang diberikan lengkap beserta <em>map-</em>nya. Apalagi, ada banyak artikel yang akan disajikan oleh Google, sehingga kita akan mendapat banyak variasi.</p>



<p>Media sosial pun bisa memberikan informasi secara langsung yang dilengkapi dengan ulasan dari kreator kontennya. Dalam waktu sekian detik, kita sudah mendapatkan gambaran seperti apa rekomendasi tempat yang diberikan kepada kita.</p>



<p>Penulis sendiri sejujurnya tidak nyaman menggunakan media sosial sebagai pengganti Google, terutama TikTok. Alasannya, kadang informasi yang diberikan <em>ngaco</em> sehingga menimbulkan <em>trust issue</em>.</p>



<p>Contoh, Penulis pernah dikirimi sebuah video TikTok yang memberi info kalau di Surabaya sedang ada pameran buku. Di video tersebut, promo dan buku yang ada terlihat banyak dan menarik. Namun, setelah ke sana, ternyata <em>zonk </em>dan mengecewakan.  </p>



<h2 class="wp-block-heading">Lantas, Apakah Mesin Pencari Memang akan Tergantikan oleh Media Sosial?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045563-1024x683.png" alt="" class="wp-image-7837" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045563-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045563-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045563-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045563.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Mesin Pencari Tetap Punya Kelebihannya Sendiri (<a href="https://www.webalive.com.au/an-introduction-to-search-engines/">WebAlive</a>)</figcaption></figure>



<p>Tren memang bergeser di mana media sosial pun kerap digunakan sebagai sumber informasi. Namun, selama mesin pencari dan media sosial menyediakan hasil dengan format dan akurasi yang berbeda, rasanya media sosial terutama Google tidak akan tergeser semudah itu.</p>



<p>Sebagai orang yang bekerja di bidang Search Engine Optimization (SEO), Penulis melihat masih ada banyak hal yang hanya bisa dilakukan di mesin pencari (atau lebih tepatnya artikel <em>website</em>) yang belum bisa dilakukan oleh media sosial.</p>



<p>Contohnya, artikel bisa <strong>memberikan info yang lebih lengkap dan detail</strong>. Artikel juga <strong>memberikan kendali kepada pembacanya</strong> untuk memilih poin-poin mana saja yang ingin dibaca, berbeda dengan konten video yang kendalinya ada di konten kreatornya.</p>



<p>Lalu, sumber di artikel <strong>lebih bisa dipercaya</strong> dibandingkan media sosial. Seperti yang kita tahu, di media sosial kerap menjadi ladang hoaks yang tak terkontrol. Memang artikel tak sepenuhnya bebas dari hoaks, tapi jelas kredibilitasnya lebih terjamin dari media sosial.</p>



<p>Selain itu, <strong>jumlah pencarian (atau <em>search volume</em>) di Google juga masih cukup tinggi</strong>. Hal ini bisa dilihat dari Google Trends. Contoh ketika <em>Genshin Impact</em> merilis <em>update</em> terbaru, maka banyak hal-hal seputar <em>update </em>tersebut akan muncul di Trending.</p>



<p>Hal tersebut membuktikan kalau masih banyak orang yang mengandalkan mesin pencari untuk mendapatkan informasi. Memang di media sosial banyak <em>guide </em>atau <em>build </em>karakter tertentu, tapi rasanya artikel yang mampu memberikan panduan paling detail.</p>



<p><a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dear-gen-z-saingan-kerja-kalian-nanti-bukan-manusia-tapi-ai/">Keberadaan AI juga menjadi penting</a> karena <strong>mampu merangkumkan informasi yang dibutuhkan dalam waktu cepat</strong>. Misal kita ingin tahu berapa tinggi Erling Haaland, maka Google akan langsung memberi jawabannya sehingga kita tak perlu membuka artikel tertentu.</p>



<p>Selain itu, AI Google akan tetap menyarankan artikel-artikel tertentu jika pengguna membutuhkan info yang lebih lengkap. Jadi, meskipun ada AI yang telah merangkumkan jawaban, artikel di <em>website</em> tetap akan diberdayakan oleh Google.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Karena beberapa poin tersebut, Penulis menyimpulkan kalau media sosial belum akan menggantikan peran mesin pencari, setidaknya dalam waktu dekat. Sebagai alternatif mungkin iya, karena media sosial pun memiliki kelebihannya sendiri, tapi bukan sebagai pengganti.</p>



<p>Tentu opini di atas murni pendapat Penulis pribadi, yang artinya bisa benar, bisa salah, bisa juga di tengah-tengahnya. Mari kita lihat saja bagaimana perkembangan mesin pencari di media sosial.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 11 September 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau media sosial mulai menggantikan peran mesin pencari</p>



<p>Sumber Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/men-typing-in-the-google-search-engine-from-realme-6-pro-google-is-the-number-one-search-web-16629436/">Sanket Mishra</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apakah-mesin-pencari-akan-tergantikan-oleh-media-sosial/">Apakah Mesin Pencari akan Tergantikan oleh Media Sosial?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/apakah-mesin-pencari-akan-tergantikan-oleh-media-sosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hati-Hati Jejak Digitalmu, Siapa Tahu Nanti Jadi Pejabat Publik</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/hati-hati-jejak-digitalmu-kawan-siapa-tahu-nanti-jadi-pejabat-publik/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/hati-hati-jejak-digitalmu-kawan-siapa-tahu-nanti-jadi-pejabat-publik/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Sep 2024 16:43:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[jejak digital]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7809</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa minggu terakhir, &#8220;jejak digital&#8221; menjadi isu yang hangat untuk dibahas, terutama di ranah politik. Pasalnya, ada banyak pejabat publik yang &#8220;kebakaran jenggot&#8221; karena jejak digitalnya di masa lalu dibongkar oleh netizen. Contoh pihak yang jejak digitalnya terbongkar adalah Ridwan Kamil dan Pramono Anung, dua calon gubernur Jakarta. Singkat cerita, banyak twit candaan bernada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/hati-hati-jejak-digitalmu-kawan-siapa-tahu-nanti-jadi-pejabat-publik/">Hati-Hati Jejak Digitalmu, Siapa Tahu Nanti Jadi Pejabat Publik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa minggu terakhir, &#8220;jejak digital&#8221; menjadi isu yang hangat untuk dibahas, terutama di ranah politik. Pasalnya, ada banyak pejabat publik yang &#8220;kebakaran jenggot&#8221; karena jejak digitalnya di masa lalu dibongkar oleh netizen.</p>



<p>Contoh pihak yang jejak digitalnya terbongkar adalah Ridwan Kamil dan Pramono Anung, dua calon gubernur Jakarta. Singkat cerita, banyak twit candaan bernada seksis. Ridwan Kamil bahkan pernah mengolok-olok orang Jakarta.</p>



<p>Yang paling parah tentu saja kasus yang menimpa wakil presiden terpilih Gibran Rakabuming. Akun Kaskus bernama @fufufafa diduga menjadi miliknya dengan sederet bukti yang berhasil dikumpulkan oleh netizen. Parahnya, akun tersebut kerap menghina presiden terpilih, <a href="https://whathefan.com/politik-negara/menyorot-kebijakan-prabowo-gibran-dari-makan-siang-gratis-hingga-300-fakultas-kedokteran/">Prabowo Subianto</a>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/pexels-photo-697243-300x200.jpeg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/pexels-photo-697243-300x200.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/pexels-photo-697243-768x512.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/pexels-photo-697243-1024x683.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/pexels-photo-697243-356x237.jpeg 356w " alt="Menggadaikan Persahabatan Demi Cinta" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/rasa/menggadaikan-persahabatan-demi-cinta/">Menggadaikan Persahabatan Demi Cinta</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Apa Itu Jejak Digital?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045279-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-7812" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045279-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045279-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045279-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045279.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Lagi Rame <a href="https://www.youtube.com/watch?v=RbOoIKJjkSI">(YouTube)</a></figcaption></figure>



<p>Jejak digital adalah <strong>apapun yang kita &#8220;tinggalkan&#8221; di media sosial dan bisa diakses oleh banyak orang</strong>, baik pos, twit, foto, video, dan lain sebagainya. Ini adalah definisi menurut Penulis, silakan koreksi apabila definisi tersebut kurang tepat.</p>



<p>Di zaman dulu, kasus skandal di masa lalu atau aib yang telah lama berusaha untuk ditutupi menjadi momok yang mengerikan. Namun, itu pun yang membongkar orang lain berdasarkan hasil investigasi, pengakuan orang, atau bahkan sekadar fitnah.</p>



<p>Nah, kalau di era media sosial seperti sekarang, kita sebagai manusia justru terobsesi untuk membagikan banyak hal kepada publik, bahkan secara berlebihan. Entah itu opini, foto liburan, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/">ungkapan kekesalan</a>, umpatan, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-pengakuan-sosial-menjadi-kebutuhan-pokok/">pamer kekayaan</a>, dan masih banyak lagi lainnya.</p>



<p>Kalau kita bukan siapa-siapa, mungkin unggahan-unggahan tersebut tidak akan berarti banyak. Namun, beda cerita kalau ternyata kita ditakdirkan untuk menjadi <em>public figure</em> yang gerak-geriknya sering disorot oleh masyarakat umum.</p>



<p>Hal ini sudah terlihat pada kasus yang menimpa pada pejabat-pejabat publik yang telah disebutkan di atas. Entah siapa yang mem-<em>blow up</em> pertama, tapi yang jelas hal tersebut bisa dimanfaatkan oleh lawan politiknya dengan tujuan menjatuhkan.</p>



<p>Di sisi lain, jejak digital juga bisa digunakan untuk menaikkan citra diri. Contohnya adalah Anies Baswedan, di mana pada periode yang sama dengan Ridwan Kamil ketika ia bercanda dengan nada seksis, ia justru sibuk dengan gerakan Indonesia Mengajar.</p>



<p>Jika dulu ada istilah &#8220;Mulutmu, Harimaumu,&#8221; maka sekarang ada <strong>&#8220;Jempolmu, Harimaumu.&#8221;</strong> Zaman memang selalu memiliki caranya sendiri untuk berevolusi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Berhati-hati Dalam Meninggalkan Jejak Digital</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045281-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7813" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045281-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045281-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045281-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045281.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Jempolmu, Harimaumu (<a href="https://blogs.biomedcentral.com/bmcseriesblog/2018/03/20/much-much-increasing-use-social-media-damaging-effect-young-girls/">Bio Med Central</a>)</figcaption></figure>



<p>Kasus-kasus membongkar jejak digital para public figure di atas seharusnya bisa menjadi pelajaran untuk kita<strong> agar lebih bijaksana dalam meninggalkan jejak digital di <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">media sosial</a></strong>. Jangan sampai hal tersebut justru menjadi bumerang yang merugikan kita.</p>



<p>Kita semua pernah mengalami berbagai fase pendewasaan diri. Ada masa di mana kita menjadi <em>alay </em>dan haus perhatian, sehingga merasa perlu membagikan berbagai macam hal kepada publik, yang sebenarnya juga tidak peduli-peduli amat dengan kehidupan kita.</p>



<p>Penulis pun yakin kalau jejak digitalnya di media sosial banyak yang memalukan. Mungkin tidak sampai membuat Penulis gagal maju sebagai caleg (seandainya menyalonkan diri), tapi cukup untuk membuat Penulis merasa malu. </p>



<p>Ada satu peristiwa kecil yang teringat ketika membahas hal ini. Ada teman Penulis yang hobi <em>screenshot </em>Story, terutama kalau dianggap Story tersebut bisa menjadi bahan ledekan. Beberapa minggu yang lalu, Story-Story lama tersebut dibongkar di depan yang bersangkutan dan kami semua tertawa terbahak-bahak.</p>



<p>Tujuan membongkar jejak digital di atas dilakukan sebagai bahan-bahan <em>ceng-cengan</em> saja di kalangan <em>circle</em>. Nah, kalau yang membongkar publik yang tidak suka dengan sosok tertentu, jadinya berbahaya, bukan? Elektabilitas orang yang dibongkar bisa langsung terjun bebas.</p>



<p>Oleh karena itu, kalau Pembaca sekalian ada yang berniat untuk menjadi pejabat publik, coba dicek akun media sosialnya apakah ada jejak digital yang berbahaya. Jangan sampai ada jejak digital berbahaya yang tertinggal.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 9 September 2024, terinspirasi setelah dalam beberapa waktu terakhir banyak pejabat publik yang terungkap jejak digital di masa lalunya</p>



<p>Sumber Featured Image: <a href="https://www.linkedin.com/pulse/digital-footprint-what-mehedi-hasan/">LinkedIn</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/hati-hati-jejak-digitalmu-kawan-siapa-tahu-nanti-jadi-pejabat-publik/">Hati-Hati Jejak Digitalmu, Siapa Tahu Nanti Jadi Pejabat Publik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/hati-hati-jejak-digitalmu-kawan-siapa-tahu-nanti-jadi-pejabat-publik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Jun 2024 16:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[baca]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[detox]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7513</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak kecil, Penulis sudah gemar membaca walau jenisnya baru sebatas komik dan ensiklopedia anak. Semakin dewasa, variasi bacaan Penulis pun bertambah, seperti novel, sejarah, pengembangan diri, biografi, hingga filsafat. Namun, ada masa ketika Penulis benar-benar tidak membaca sama sekali. Hobi yang dulu sangat menyenangkan menjadi menjemukan dan terasa berat. Buku-buku yang sudah beli ditumpuk begitu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sejak kecil, Penulis sudah gemar membaca walau jenisnya baru sebatas komik dan ensiklopedia anak. Semakin dewasa, variasi bacaan Penulis pun bertambah, seperti novel, sejarah, pengembangan diri, biografi, hingga filsafat.</p>



<p>Namun, ada masa ketika Penulis benar-benar tidak membaca sama sekali. Hobi yang dulu sangat menyenangkan menjadi menjemukan dan terasa berat. Buku-buku yang sudah beli ditumpuk begitu saja, bahkan beberapa masih dibungkus plastik. </p>



<p>Ketika direnungkan, mungkin salah satu penyebabnya adalah <strong>Penulis terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial</strong>. Konten pendek yang muncul tanpa batas tersebut seolah &#8220;menjebak&#8221; Penulis untuk tidak mengonsumsi konten panjang.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-45-300x179.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-45-300x179.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-45-768x459.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-45-1024x612.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-45-356x213.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-45.jpg 1279w " alt="Menemukan Kenangan Lama yang Telah Hilang" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/menemukan-kenangan-lama-yang-telah-hilang/">Menemukan Kenangan Lama yang Telah Hilang</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Konten Pendek Membuat Kita Malas Mengonsumsi Konten Panjang</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7516" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Konten Pendek Media Sosial Membuat Kita Lupa Waktu (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-man-in-white-dress-shirt-holding-phone-near-window-859265">Andrea Piacquadio</a>)</figcaption></figure>



<p>Dalam tulisan <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/">Alasan Kenapa “Mindless Scrolling” adalah Pelarian yang Buruk</a></em>, Penulis sudah pernah berpendapat kalau salah satu bahaya dari konten-konten pendek di media sosial adalah <strong>membuat kita tidak tahu kapan harus berhenti</strong>.</p>



<p>Berbeda dengan menonton video panjang di YouTube di mana kita bisa menentukan konten mana yang ingin kita tonton, konten pendek di TikTok, Reels, maupun Shorts selalu menghadirkan konten baru yang tidak kita rencanakan untuk kita tonton. Semua berdasarkan algoritma. </p>



<p>Adanya unsur &#8220;kejutan&#8221; membuat kita mendapatkan dopamin dari sana, sehingga di dalam otak seolah ada <em>mindset </em>untuk terus mencari konten yang akan memberikan kita kebahagiaan. Masalahnya, ini bisa berlangsung selama berjam-jam tanpa disadari.</p>



<p>Penulis sendiri merasa kalau dirinya bisa terjebak berjam-jam jika sudah melakukan <em>scrolling-scrolling </em>di media sosial. Yang rencananya cuma 5 menit bisa bertambah hingga 2 jam. Tentu ini sangat berpengaruh kepada produktivitas sehari-hari.</p>



<p>Permasalahan lain adalah karena otak terbiasa dengan konten pendek yang menyajikan info secara cepat dan singkat, <strong>kita jadi tidak terbiasa (baca: malas) untuk mengonsumsi konten yang lebih panjang dan lengkap</strong>. </p>



<p>Konten panjang yang Penulis maksud di sini bisa berbentuk buku, jurnal, film, dokumenter, serial, dan lain sebagainya. Konten panjang membutuhkan &#8220;dedikasi&#8221; kita untuk menghabiskan beberapa jam (bahkan hari) yang kita miliki untuk menyelesaikannya.</p>



<p>Di sisi lain, konten pendek akan langsung habis secara instan dalam hitungan detik atau menit. Dalam sekejap, kita bisa mendapatkan sesuatu entah itu ilmu ataupun hiburan. Dalam beberapa jam, entah berapa info yang masuk ke dalam otak kita, walau kebanyakan akan langsung terlupakan.</p>



<p>Konten panjang <strong>memiliki batas yang jelas kapan dia akan selesai</strong>. Konten pendek memang cuma berdurasi beberapa detik/menit, tapi konten-konten selanjutnya akan terus bermunculan tanpa habis. Inilah yang berbahaya dari mengonsumsi konten pendek di media sosial.</p>



<p>Mungkin akan ada yang berargumen kalau konten pendek seperti itu akan sangat berguna untuk menghemat waktu, Itu ada benarnya, tapi terkadang kita membutuhkan informasi yang lebih lengkap, bukan yang sepotong-sepotong.</p>



<p>Menurut Penulis, netizen kita sering ribut di internet juga salah satunya adalah kebiasaan ini. Kita jadi merasa paling tahu hanya bermodalkan konten-konten pendek. Padahal, kebijaksanaan tertinggi menurut Socrates adalah mengetahui kalau kita ini tidak tahu apa-apa. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Buku Bisa Menjadi Penyelamat Penulis</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7517" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Membaca Sebagai Sarana untuk Mengurangi Candu Media Sosial (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-reading-a-book-5634667/">Monstera Production</a>)</figcaption></figure>



<p>Biasanya, ketika mulai menyadari bahwa dirinya sudah terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial, Penulis akan melakukan <em>detox</em> untuk sementara waktu. Tidak sampai tidak mengecek media sosialnya, tapi cukup mengurangi durasinya per hari.</p>



<p>Untuk itu, Penulis menggunakan berbagai <strong>aplikasi yang bisa melimitasi penggunaan media sosial</strong>. Ini tentu harus diiringi oleh niat yang kuat, karena godaan untuk mengubah limitasinya sangat besar dan mudah dilakukan. </p>



<p>Penulis benar-benar berusaha untuk mematuhi batasan penggunaan media sosial di gawainya, walau terkadang masih indisipliner. Harusnya, kalau memang sudah <em>limit</em>, ya sudah, jangan diubah batas durasinya, jangan dibuka aplikasi pembatasnya untuk menghapus <em>limit </em>yang sudah dibuat.</p>



<p>Ketika tidak bisa mengecek media sosial (yang sudah menjadi kebiasaan), tentu kita butuh aktivitas lain untuk mengalihkan fokus kita. Jelas setiap orang memiliki preferensi aktivitasnya masing-masing, tapi kalau <strong>Penulis pribadi memilih media buku</strong>, &#8220;kawan lama&#8221; yang sudah menjadi hobi Penulis sejak lama.</p>



<p>Untuk bisa membangkitkan minat bacanya kembali, Penulis memutuskan untuk <strong>membaca buku yang benar-benar menarik minatnya</strong>, bisa buku lama maupun buku baru. Contoh buku yang berhasil membuat Penulis bersemangat membaca adalah <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-keajaiban-toko-kelontong-namiya/">Keajaiban Toko Kelontong Namiya.</a></em></p>



<p>Tidak hanya karya fiksi, Penulis juga memilih buku non-fiksi dengan topik yang menarik minatnya. Contoh, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">Penulis suka sejarah</a>, maka Penulis membeli buku sejarah. Buku sejarah yang sedang dibaca saat ini adalah <em>Sejarah Prancis </em>dan <em>Memahami Jepang.</em></p>



<p>Bahkan, Penulis juga mulai membeli komik lagi seperti ketika masih muda dulu. Contoh, Penulis telah membeli semua komik <em>Dragon Ball Super </em>dari volume 1 sampai 19. Jika sukanya baca komik, ya tidak apa. Aktivitas membaca tidak selalu dikonotasikan belajar, karena membaca juga bisa menjadi sarana hiburan.</p>



<p>Penulis bukan tipe pembaca yang harus menghabiskan satu buku dulu baru berpindah ke buku lain. Saat ini saja, ada belasan buku dengan berbagai genre/topik yang sedang Penulis baca secara bersamaan. Penulis tinggal memilih mau membaca yang mana hari ini, tergantung <em>mood</em>-nya.</p>



<p>Inilah mengapa buku bisa menjadi penyelamat Penulis dari kecanduan konten pendek di media sosial: <strong>Penulis bisa bebas memilih buku apa yang akan dibaca</strong>. Hal ini tidak kita dapatkan dari TikTok, Reels, dan Shorts yang menghadirkan konten sesuai dengan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">algoritma mereka</a>.</p>



<p>Membaca juga menjadi pilihan Penulis karena dirinya memang tidak terlalu suka aktivitas menonton film atau serial. Apalagi, Penulis punya kebiasaan buruk ketika sudah menonton serial yang menarik: tidak bisa berhenti menonton semua episodenya sampau tamat. </p>



<p>Ini terjadi ketika Penulis mulai menonton serial <em>How I Met Your Mother</em>. Bahkan, <em>final season</em>-nya Penulis tamatkan dalam semalam. Karena alasan inilah Penulis menghindari menonton serial, karena percuma jika kecanduan kita di media sosial malah berpindah ke serial. </p>



<p>Kalaupun menonton konten di YouTube, jangan membuka Shorts. Penulis menonton YouTube di TV agar akses ke Shorts menjadi lebih sulit. Alhasil, Penulis pun hanya bisa memilih konten-konten yang berdurasi panjang, entah yang berbobot ataupun yang ringan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis merasa terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial tidak baik untuk dirinya, terutama karena mengganggu produktivitasnya. Untuk itu, ada beberapa hal yang Penulis lakukan, mulai dari membatasi durasi media sosial hingga menghabiskan waktunya lebih banyak untuk membaca.</p>



<p>Membaca buku fisik, setidaknya bagi Penulis, merupakan aktivitas yang bisa membantu Penulis menjauhi media sosial. Penulis bisa memilih buku mana yang akan Penulis baca, tidak seperti konten pendek di media sosial yang tidak bisa kita atur.</p>



<p>Penulis menyadari kalau membaca buku bukan aktivitas favorit banyak orang. Oleh karena itu, mungkin di tulisan berikutnya Penulis akan mencoba berbagai tips agar minat baca itu bisa tumbuh, terutama untuk Pembaca yang juga merasa butuh &#8220;lari&#8221; dari kecanduan konten-konten pendek di media sosial.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 24 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau dirinya mulai bersemangat untuk banyak membaca lagi</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-reading-book-5331072/">Monstera Production</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rame-Rame Ganti Foto Profil Luffy Gear 5</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/rame-rame-ganti-foto-profil-luffy-gear-5/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/rame-rame-ganti-foto-profil-luffy-gear-5/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Aug 2023 14:54:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[FOMO]]></category>
		<category><![CDATA[foto profil]]></category>
		<category><![CDATA[Gear 5]]></category>
		<category><![CDATA[karbit]]></category>
		<category><![CDATA[Luffy]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[One Piece]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6743</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menjelang rilisnya episode terbaru One Piece yang akan menampilkan penampilan perdana Luffy dalam bentuk Gear 5, banyak sekali penggemar anime tentang bajak laut ini mengganti foto profilnya dengan gambar Luffy Gear 5. Bahkan, yang bukan penggemar One Piece pun ada yang juga ikut-ikutan karena FOMO, sehingga banyak nakama One Piece merasa kalau mereka sekadar penggemar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/rame-rame-ganti-foto-profil-luffy-gear-5/">Rame-Rame Ganti Foto Profil Luffy Gear 5</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Menjelang rilisnya episode terbaru<em> One Piece </em>yang akan menampilkan penampilan perdana Luffy dalam bentuk Gear 5, banyak sekali penggemar anime tentang bajak laut ini mengganti foto profilnya dengan gambar Luffy Gear 5.</p>



<p>Bahkan, yang bukan penggemar <em>One Piece </em>pun ada yang juga ikut-ikutan karena FOMO, sehingga banyak <em>nakama One Piece </em>merasa kalau mereka sekadar penggemar karbitan yang hanya tidak ingin ketinggalan <em>hype</em>.</p>



<p>Penulis sendiri <a href="https://whathefan.com/animekomik/alasan-saya-tidak-suka-one-piece/">tidak pernah merasa dirinya sebagai penggemar <em>One Piece</em></a>, meskipun mengetahui sebagian besar ceritanya karena &#8220;tuntutan pekerjaan&#8221;. Namun, ada hal menarik yang ingin Penulis bahas terkait fenomena ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/foundation-300x172.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/foundation-300x172.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/foundation-768x441.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/foundation-356x204.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/foundation.jpg 996w " alt="Membangun Fondasi Organisasi" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/membangun-fondasi-organisasi/">Membangun Fondasi Organisasi</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Apa Itu Luffy Gear 5?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Rame-Rame-Ganti-Foto-Profil-Luffy-Gear-5-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6748" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Rame-Rame-Ganti-Foto-Profil-Luffy-Gear-5-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Rame-Rame-Ganti-Foto-Profil-Luffy-Gear-5-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Rame-Rame-Ganti-Foto-Profil-Luffy-Gear-5-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Rame-Rame-Ganti-Foto-Profil-Luffy-Gear-5-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Luffy Gear 5 vs Kaido (<a href="https://www.reddit.com/r/OnePiecePowerScaling/comments/126nfzp/current_gear_5_luffy_vs_kaido_both_are_completely/?rdt=36187">Reddit</a>)</figcaption></figure>



<p>Untuk yang benar-benar awam dengan <em>One Piece</em>, <strong>Monkey D. Luffy</strong> merupakan <a href="https://whathefan.com/animekomik/kenapa-protagonis-anime-shounen-pantang-menyerah/">protagonis utama</a> dari serial tersebut yang memiliki cita-cita untuk menjadi raja bajak laut. Untuk itu, ia pun membentuk kru bajak lautnya sendiri yang bernama Topi Jerami/Mugiwara.</p>



<p>Di dunia <em>One Piece </em>ini, ada banyak buah ajaib bernama Buah Iblis/Devil Fruit yang bisa memberikan pemiliknya kekuatan super. Sebagai gantinya (atau ironinya), mereka tidak akan bisa berenang jika seandainya terjatuh ke lautan. </p>



<p>Luffy di awal serialnya memakan salah satu Buah Iblis yang dikenal dengan nama <strong>Gomu Gomu no Mi </strong>yang membuatnya memiliki tubuh karet. Tingkat kekuatannya pun berbeda-beda, dari Gear 1 sampai yang terkuat Gear 4.</p>



<p>Nah, di &#8220;Wano Country Arc&#8221; yang sedang berlangsung saat ini, Luffy dengan kemampuan terkuatnya tak berdaya ketika menghadapi Kaido, salah satu dari <em>Yonkou</em> atau Empat Kaisar. Tiba-tiba, kemampuan Luffy pun menjadi <em>awakening </em>dan (nantinya) akan mengalahkan Kaido.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Rame-Rame-Ganti-Foto-Profil-Luffy-Gear-5-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6749" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Rame-Rame-Ganti-Foto-Profil-Luffy-Gear-5-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Rame-Rame-Ganti-Foto-Profil-Luffy-Gear-5-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Rame-Rame-Ganti-Foto-Profil-Luffy-Gear-5-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Rame-Rame-Ganti-Foto-Profil-Luffy-Gear-5-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Penampakan Luffy Gear 5 yang Serba Putih (<a href="https://id.pinterest.com/pin/638244578456002261/">Pinterest</a>) </figcaption></figure>



<p>Gear 5 membuat Luffy berubah menjadi serba putih, termasuk rambut dan pakaiannya. Bahkan, ia memiliki semacam &#8220;selendang&#8221; yang melingkar di belakang pundaknya. Kemampuannya pun meningkat, di mana ia bisa memanipulasi sekitarnya menjadi karet.</p>



<p>Dari peristiwa ini, akhirnya diketahui kalau buah iblis Luffy bukanlah Gomu Gomu no Mi, melainkan <strong>Hito Hito no Mi, Model: Nika</strong> yang termasuk ke dalam <em>mythical zoan</em>. Buah iblis ini membuat pemakannya bisa menguasai kekuatan Sun God Nika.</p>



<p>Di manga, tentu kita hanya bisa melihat adegan pertarungan final antara Luffy vs Kaido dalam bentuk dua dimensi dan hitam putih. Maka dari itu, versi animasinya yang akan tayang begitu dinantikan oleh penggemar agar bisa melihat gilanya pertarungan tersebut.</p>



<p>Ekspektasi para penggemar akan episode yang akan datang begitu tinggi. Apalagi, Toei Animation selaku studio di balik anime <em>One Piece </em>juga telah memberikan beberapa <em>hint </em>bahwa mereka benar-benar serius dalam mengerjakan episode-episode yang menampilkan Gear 5.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ganti Foto Profil Jadi Luffy, Beneran Nge-fans atau Cuma FOMO?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Rame-Rame-Ganti-Foto-Profil-Luffy-Gear-5-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6750" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Rame-Rame-Ganti-Foto-Profil-Luffy-Gear-5-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Rame-Rame-Ganti-Foto-Profil-Luffy-Gear-5-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Rame-Rame-Ganti-Foto-Profil-Luffy-Gear-5-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Rame-Rame-Ganti-Foto-Profil-Luffy-Gear-5-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ramai-Ramai Ganti PP Luffy Gear 5 (<a href="https://kaptentekno.com/fans-one-piece-beramai-ramai-ganti-foto-profil-luffy-gear-5">KaptenTekno</a>)</figcaption></figure>



<p>Nah, untuk semakin memeriahkan <em>hype </em>dari Luffy Gear 5, para penggemar alias <em>nakama</em> <em>One Piece </em>pun <strong>mengubah tampilan foto profil mereka</strong>. Di media sosial, foto yang digunakan pun sama, yakni Luffy Gear 5 yang sedang tersenyum lebar dengan <em>background </em>hitam.</p>



<p>Tidak cuma <em>fans</em>, banyak akun-akun yang juga ikut memeriahkan tren ini, termasuk tempat Penulis bekerja. Oleh karena itu, tak heran jika banyak orang yang FOMO dan tiba-tiba menjadi penggemar <em>One Piece </em>agar bisa ikut merasakan sensasinya.</p>



<p>Tentu saja fenomena ini ditanggapi dengan beragam respons. Berdasarkan penelusuran Penulis, ada beberapa penggemar sejati <em>One Piece </em>merasa tidak terima dengan kemunculan para <em>fans </em>karbitan ini. Sebagian yang lain tidak mempermasalahkan hal tersebut.</p>



<p>Penulis sendiri menyikapi hal ini sama dengan ketika <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/hype-konser-coldplay-di-indonesia-beneran-nge-fans-atau-sekadar-fomo/">ramai-ramai menjelang konser Coldplay di Indonesia</a>. Kalau tiba-tiba jadi mendengarkan lagu-lagu Coldplay ya tidak apa-apa, toh tidak merugikan siapa-siapa.</p>



<p>Memang fenomena FOMO ini sedikit mengkhawatirkan, karena seolah menunjukkan betapa latahnya kita ketika ada sesuatu yang viral. Jika terus seperti ini, bukan tidak mungkin suatu saat tanpa kita sadari kita mengikuti sesuatu yang buruk hanya karena sedang tren.</p>



<p>Namun, untuk kasus Luffy Gear 5 ini, rasanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua orang, baik pengemar <em>One Piece </em>dari 20 tahun lalu atau 20 detik lalu, <strong>silakan saja jika ingin ikut meramaikan <em>hype </em>ini</strong>. Toh, ini momen sekali seumur hidup.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 3 Agustus 2023, terinspirasi setelah melihat banyaknya pengguna media sosial yang mengganti foto profilnya menjadi Luffy Gear 5</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/rame-rame-ganti-foto-profil-luffy-gear-5/">Rame-Rame Ganti Foto Profil Luffy Gear 5</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/rame-rame-ganti-foto-profil-luffy-gear-5/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Threads: The Right Thing at the Right Time</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/threads-the-right-thing-at-the-right-time/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/threads-the-right-thing-at-the-right-time/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Jul 2023 16:43:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Elon Musk]]></category>
		<category><![CDATA[Mark Zuckerberg]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Meta]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Threads]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6670</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hari Kamis (6/23) kemarin menjadi hari rilisnya Threads, sebuah media sosial baru dari Meta (induk perusahaan dari Facebook, Instagram, WhatsApp) yang text-oriented. Dalam sekejap aplikasi ini langsung mendapatkan atensi dan berhasil mendapatkan puluhan juga user. Banyak yang menyebut kalau aplikasi ini pada dasarnya sama dengan Twitter, yang kini dimiliki oleh Elon Musk. Tak heran jika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/threads-the-right-thing-at-the-right-time/">Threads: The Right Thing at the Right Time</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Hari Kamis (6/23) kemarin menjadi hari rilisnya <strong>Threads</strong>, sebuah media sosial baru dari Meta (induk perusahaan dari Facebook, Instagram, WhatsApp) yang <em>text-oriented</em>. Dalam sekejap aplikasi ini langsung mendapatkan atensi dan berhasil mendapatkan puluhan juga <em>user</em>.</p>



<p>Banyak yang menyebut kalau aplikasi ini pada dasarnya sama dengan Twitter, yang kini dimiliki oleh Elon Musk. Tak heran jika Musk sampai menuliskan surat untuk Mark Zuckerberg (bos Meta) dan mengancam akan menuntut Threads.</p>



<p>Jika dilihat secara sekilas, memang Threads sangat mirip dengan Twitter, bahkan banyak yang menganggap aplikasi ini mirip dengan Twitter di masa-masa awal. Apalagi, Threads memiliki tampilan yang minimalis dan belum akan ada iklan untuk sementara waktu.</p>





<p>Terlepas dari segala permasalahan yang ada, Penulis ingin membahas mengenai bagaimana Threads muncul sebagai hal yang tepat di waktu yang tepat, tentang bagaimana sebuah aplikasi muncul di saat aplikasi sejenis sedang mengalami berbagai problematika.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Threads Hadir di Kala Twitter Bermasalah</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="763" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/gettyimages-1258928014-1024x763.jpg" alt="" class="wp-image-6673" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/gettyimages-1258928014-1024x763.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/gettyimages-1258928014-300x224.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/gettyimages-1258928014-768x572.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/gettyimages-1258928014.jpg 1240w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Mark Zuckerberg (Kiri) dan Elon Musk (<a href="https://www.cbsnews.com/news/threads-zuckerberg-millions-of-signups-within-hours/">CBS News</a>)</figcaption></figure>



<p>Seperti yang kita ketahui bersama, Twitter jadi banyak masalah (dan drama) semenjak <strong>Elon Musk</strong> mengakuisisi perusahaan pada bulan Oktober 2022. Contoh yang paling mudah adalah banyaknya karyawan yang ia pecat dengan berbagai alasan.</p>



<p>Kebijakan yang ia buat untuk Twitter pun kerap menjadi polemik, seperti centang biru berbayar hingga adanya pembatasan pos yang bisa dilihat oleh <em>user </em>yang tidak membayar paket <em>subscription </em>tertentu.</p>



<p>Di tengah kekacauan yang membuat sebagian pengguna Twitter merasa jengah, <strong>Meta tiba-tiba muncul dengan Threads</strong>. Mereka menyediakan sebuah aplikasi alternatif untuk mereka yang merasa makin malas menggunakan Twitter.</p>



<p>Penulis sendiri akhir-akhir ini semakin malas membuka <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/twitter-dan-tuntutan-kesempurnaannya/">Twitter karena isinya berantem mulu</a>. Meskipun tidak mengikuti akun-akun yang berpotensi menimbulkan kericuhan, ada teman-teman di Twitter yang melakukan <em>repost </em>atau muncul sebagai iklan.</p>



<p>Nah, kemunculan Threads menjadi alternatif yang tepat karena sebagai aplikasi baru, mayoritas isi <em>timeline </em>Penulis merupakan tulisan dari teman-temannya yang juga baru mencoba. Namun, bukan tidak mungkin ke depannya Threads akan ikut rusuh.</p>



<p>Selain itu, mungkin orang juga bisa menjadikan Threads sebagai <strong>jeda dari konten yang bersifat visual</strong> seperti <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">TikTok</a>, Reels, hingga Shorts. Walau konsep <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/">infinity short videos</a> </em>menyenangkan bagi sebagian orang, lama-lama pasti juga akan merasa jenuh.</p>



<p>Berdasarkan pengalaman menggunakan aplikasi ini selama dua hari, Penulis memang merasa kalau Threads digunakan oleh orang-orang untuk berceloteh apapun yang ada di pikiran mereka, mirip dengan konsep Twitter dulu yang seolah telah hilang saat ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Threads akan Menjadi Twitter Killer?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="640" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/TELEMMGLPICT000341617460_16886354877960_trans_NvBQzQNjv4BqNJjoeBT78QIaYdkJdEY4CnGTJFJS74MYhNY6w3GNbO8-1024x640.jpeg" alt="" class="wp-image-6674" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/TELEMMGLPICT000341617460_16886354877960_trans_NvBQzQNjv4BqNJjoeBT78QIaYdkJdEY4CnGTJFJS74MYhNY6w3GNbO8-1024x640.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/TELEMMGLPICT000341617460_16886354877960_trans_NvBQzQNjv4BqNJjoeBT78QIaYdkJdEY4CnGTJFJS74MYhNY6w3GNbO8-300x188.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/TELEMMGLPICT000341617460_16886354877960_trans_NvBQzQNjv4BqNJjoeBT78QIaYdkJdEY4CnGTJFJS74MYhNY6w3GNbO8-768x480.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/TELEMMGLPICT000341617460_16886354877960_trans_NvBQzQNjv4BqNJjoeBT78QIaYdkJdEY4CnGTJFJS74MYhNY6w3GNbO8.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Tampilan Aplikasi Threads (<a href="https://www.telegraph.co.uk/business/2023/07/06/threads-instagram-app-twitter-sign-up-download-celebrities/">The Telegraph</a>)</figcaption></figure>



<p>Begitu Threads muncul, Musk langsung <strong>mengancam akan menuntut Meta</strong>. Alasannya, aplikasi tersebut dianggap sebagai tiruan dari Twitter, terlebih banyak mantan karyawan Twitter direkrut oleh Meta, sehingga &#8220;kebocoran informasi internal&#8221; sangat mungkin terjadi.</p>



<p>Melalui <em>tweet</em>-nya (tentu saja di Twitter, bukan di Threads), Musk mengatakan bahwa sebuah kompetisi untuk Twitter sah-saja saja. Namun, ia tidak bisa menolerir kecurangan. Nah, apa yang Meta lakukan dengan Threads ia anggap sebagai kecurangan.</p>



<p>Apakah Musk takut dengan kemunculan Threads? Bisa saja, mengingat konsep dari kedua platform memang benar-benar sama. Hingga saat ini, Penulis belum bisa menemukan perbedaan antara keduanya.</p>



<p>Threads memiliki keunggulan karena ia terintegrasi dengan Instagram. Begitu mendaftar, kita bisa <em>login </em>dengan akun Instagram kita untuk mendapatkan profil dan daftar teman atau akun yang ikuti di Instagram, bahkan jika mereka belum <em>join </em>ke Threads.</p>



<p>Dengan meledaknya jumlah pengguna hanya dalam waktu dua hari, wajar jika Musk ketar-ketir kalau pengguna Twitter akan berpindah haluan ke Threads. Namun, jika dipikir-pikir lagi, sebenarnya <strong>kemunculan Threads bisa jadi karena ulahnya sendiri</strong>.</p>



<p>Sebagaimana yang telah diulas di atas, Musk banyak memecat karyawan Twitter, sehingga mereka bergabung dengan kompetitor. Selain itu, ia juga kerap membuat kebijakan yang membuat <em>user </em>tidak nyaman dengan Twitter, sehingga wajar mereka pindah ke Threads.</p>



<p>Jika Musk tidak berbenah dengan Twitter-nya (terlepas ia telah mengatakan telah menunjuk CEO pengganti dirinya), bukan tidak mungkin kalau Threads benar-benar akan menjadi <em>Twitter-killer</em> di masa depan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Monopoli Meta di Dunia Media Sosial?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/GettyImages-1501994091-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-6675" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/GettyImages-1501994091-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/GettyImages-1501994091-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/GettyImages-1501994091-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/GettyImages-1501994091.jpg 1440w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Berusaha Memonopoli Dunia Media Sosial? (<a href="https://www.foxbusiness.com/technology/zuckerberg-says-threads-instagrams-new-twitter-like-app-launched-5-million-users-elon-musk-responds">Fox Business</a>)</figcaption></figure>



<p>Dari sisi Meta, kita pun harus waspada karena mereka terlihat sedang ingin <strong>memonopoli <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">dunia media sosial</a></strong>. Ketika dunia ramai oleh TikTok, mereka membuat fitur Reels untuk Instagram. Kini, mereka seolah ingin mengambil alih pasar yang dimiliki oleh Twitter.</p>



<p>Sama seperti Microsoft yang sedang dikejar oleh Free Trade Commission (FTC) karena berusaha mengakuisisi Activision Blizzard, bisa jadi Meta juga akan diincar karena dianggap melanggar undang-undang antimonopoli.</p>



<p>Apalagi, sebelumnya sudah banyak media sosial lain yang tumbang karena tidak mampu bersaing dengan mereka. Sebut saja Google+, Path, Vine, hingga MySpace. Jika Twitter sampai bernasib seperti aplikasi-aplikasi tersebut, tentu itu akan mempertegas monopoli Meta.</p>



<p>Threads pun mendapatkan tantangan untuk membuktikan kalau mereka berbeda dari Twitter. Jika ternyata ini hanya fenomena sesaat dari orang-orang yang rindu akan Twitter lama, maka Threads pun berpotensi untuk kehilangan pengguna yang merasa bosan.</p>



<p>Saat ini, masih banyak fitur yang belum dimiliki oleh Threads, seperti <em>hashtag</em>, mengirim pesan ke pengguna lain, <em>trending topic</em>, dan sebagainya. Masalahnya, semua fitur tersebut sudah ada di Twitter, sehingga jika ada pun akan membuat Threads semakin mirip Twitter.</p>



<p>Kalau kasus Twitter vs Threads benar-benar dibawa ke persidangan dan terbukti kalau Threads hanya <em>copycat </em>dan sebuah upaya untuk memonopoli dunia media sosial, maka bisa jadi Threads tidak akan berumur panjang. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Sejauh ini, Penulis menikmati penggunaan Threads yang terasa segar berkat banyaknya teman-teman Penulis yang menggunakannya untuk berbagi berbagai macam hal dan tampilannya yang minimalis. </p>



<p>Mungkin yang pusing adalah mereka yang kerjanya di bidang media sosial, karena pekerjaan mereka otomatis akan bertambah (yang kemungkinan tidak diiringi dengan bertambahnya gaji). Semangat untuk mereka semua!</p>



<p>Memang ada perasaan pesimis kalau Threads akan menjadi fenomena sesaat saja, terutama jika kalah sidang melawan Twitter. Belajar dari tutupnya Helo yang dimiliki Bytedance, bukan tidak mungkin hal yang sama bisa terjadi terhadap Threads.</p>



<p>Namun, Meta sebagai perusahaan induk pasti telah menyiapkan berbagai strategi untuk membuat Threads bisa <em>survive</em>. Yang jelas, mereka sangat cerdik karena bisa memberikan hal yang tepat di waktu yang tepat, ketika Twitter dilanda banyak permasalahan.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 7 Juli 2023, terinspirasi dari kemunculan aplikasi Threads</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.telegraph.co.uk/business/2023/07/06/threads-instagram-app-twitter-sign-up-download-celebrities/">The Telegraph</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.cbsnews.com/news/threads-zuckerberg-millions-of-signups-within-hours/">Zuckerberg claims tens of millions of Threads signups within hours of launch</a> &#8211; <a href="https://www.cbsnews.com/news/threads-zuckerberg-millions-of-signups-within-hours/">CBS News</a></li>



<li><a href="https://www.telegraph.co.uk/business/2023/07/06/threads-instagram-app-twitter-sign-up-download-celebrities/">What is Threads – and can it beat Twitter? &#8211; The Telegraph</a></li>



<li><a href="https://www.foxbusiness.com/technology/zuckerberg-says-threads-instagrams-new-twitter-like-app-launched-5-million-users-elon-musk-responds">Zuckerberg says Threads, Instagram&#8217;s new Twitter-like app, has 30 million users; Elon Musk responds</a> &#8211; <a href="https://www.foxbusiness.com/technology/zuckerberg-says-threads-instagrams-new-twitter-like-app-launched-5-million-users-elon-musk-responds">Fox Business</a></li>



<li><a href="https://variety.com/2023/digital/news/elon-musk-twitter-legal-threat-meta-instagram-threads-1235663115/">Elon Musk’s Twitter Threatens to Sue Meta Over Threads, Alleging Meta Hired ‘Dozens’ of Twitter Employees to Launch Copycat App; Meta Disputes Claim</a> &#8211; <a href="https://variety.com/2023/digital/news/elon-musk-twitter-legal-threat-meta-instagram-threads-1235663115/">Variety</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/threads-the-right-thing-at-the-right-time/">Threads: The Right Thing at the Right Time</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/threads-the-right-thing-at-the-right-time/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rebahan + Main HP = Kombo Maut</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 May 2023 14:27:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[main HP]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[medsos]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[rebahan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6530</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika berusaha menerapkan kehidupan yang produktif, Penulis menemukan ada satu &#8220;musuh&#8221; yang cukup tangguh dan sulit dilawan: Rebahan + Main HP. Aktivitas ini seolah memiliki black hole yang membuat kita sulit untuk bangkit dari kasur. Tentu ada kalanya kita ingin bersantai setelah menjalani rutinitas harian yang padat. Kasur menjadi destinasi favorit kita karena gratis dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/">Rebahan + Main HP = Kombo Maut</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika berusaha menerapkan kehidupan yang produktif, Penulis menemukan ada satu &#8220;musuh&#8221; yang cukup tangguh dan sulit dilawan: <strong>Rebahan + Main HP</strong>. Aktivitas ini seolah memiliki <em>black hole </em>yang membuat kita sulit untuk bangkit dari kasur.</p>



<p>Tentu ada kalanya kita ingin bersantai setelah menjalani rutinitas harian yang padat. Kasur menjadi destinasi favorit kita karena gratis dan mudah dijangkau. Ditambah dengan adanya ponsel, makin nyamanlah kita dibuatnya.</p>



<p>Namun, Penulis kerap merasa begitu kita melakukan aktivitas ini, waktu yang terbuang terasa begitu banyak. Apalagi, dengan media sosial (medsos) yang hampir semuanya memiliki <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/">fitur video pendek tak terbatas</a>, kita jadi semakin sulit untuk berhenti melakukannya. </p>





<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Rebahan + Main HP Itu Kombo Maut?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6532" width="755" height="503" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 755px) 100vw, 755px" /><figcaption class="wp-element-caption">Aplikasi-Aplikasi Candu (<a href="https://www.pexels.com/id-id/@magnus-mueller-1398178/">Magnus Mueller</a>)</figcaption></figure>



<p>Media sosial dipenuhi dengan konten menarik yang memang dibuat agar kita sebagai pengguna mau menggunakannya selama mungkin. Dengan adanya <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">algoritma candu</a>, konten yang muncul pun sesuai dengan apa yang sering kita lihat.</p>



<p>Maka dari itu, tak heran jika media sosial kerap menjadi pelarian ketika kita sedang gabut. Menunggu orang, cek medsos. Di toilet, cek medsos. Kumpul dengan teman, cek medsos. Seolah otak kita tidak boleh berhenti menerima asupan konten-konten tersebut.</p>



<p>Nah, rebahan di atas kasur adalah termasuk salah satu aktivitas yang membosankan. Otak yang kecanduan konten pun akan secara otomatis membuat kita meraih ponsel dan mulai membuka aplikasi medsos.</p>



<p>Apalagi, dengan adanya konten-konten video pendek <em>random </em>yang muncul tanpa henti, kita tanpa sadar akan terus <em>scroll-scroll </em>karena berharap akan menemukan konten yang menyenangkan, lagi dan lagi, untuk terus memberikan perasaan senang kepada diri. </p>



<p>Terkadang muncul kesadaran diri untuk berhenti cek medsos dengan berkata 5 menit lagi. Setelah 5 menit, menemukan konten yang sangat menarik, sehingga memutuskan untuk lanjut sebentar lagi. Namun, seringnya aktivitas ini tidak pernah berlangsung sebentar.</p>



<p>Apa akibatnya? Selain waktu yang terbuang untuk melihat konten yang sebenarnya tidak terlalu bermanfaat untuk kita, bisa jadi akan muncul perasaan bersalah karena telah membuang-buang waktu. Sekali lagi, hari ini menjadi hari yang tidak produktif. </p>



<p>Apakah hanya cek medsos yang bisa dilakukan sambil rebahan? Tentu tidak. Membaca web novel, komik daring, hingga bermain <em>game</em> juga bisa sama adiktifnya dengan cek medsos. Ada begitu godaan yang membuat kita betah rebahan seharian selama ada ponsel di tangan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Cara Agar Bisa Mengurangi Rebahan + Main HP</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6533" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Waktu untuk Rebahan + Main HP Bisa Digunakan untuk Aktivitas Lain (<a href="https://www.pexels.com/id-id/@thirdman/">Thirdman</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis kerap merasa dirinya terjebak dalam kombo maut rebahan + main HP ini. Apalagi kalau sudah melihat Instagram Reels atau YouTube Shorts, rasanya sangat susah untuk berhenti, terutama ketika memang tidak ada hal <em>urgent </em>yang harus diselesaikan.</p>



<p>Kalau sedang hari libur atau tidak ada pekerjaan, hal tersebut masih oke untuk dilakukan. Masalahnya, tak jarang di hari kerja pun Penulis melakukan kombo ini. Produktivitas harian yang dikejar pun menjadi tidak terlaksana.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis pun berusaha mencari cara agar bisa melepaskan diri dari jeratan ini. Tentu saja boleh rebahan sambil main HP, apalagi setelah lelah bekerja. Namun, jelas tidak boleh dilakukan secara berlebihan.</p>



<p>Di hari kerja, Penulis sedang mendisiplinkan diri langsung membereskan tempat tidur begitu bangun di pagi hari. Dengan adanya kasur yang rapi, kecil kemungkinan Penulis akan rebahan di sana selama jam kerja, kecuali jika benar-benar mengantuk.</p>



<p>Lalu, Penulis juga membatasi penggunaan media sosial dan aplikasi adiktif lainnya. Untungnya, ponsel sekarang memiliki fitur yang akan langsung memblokir jika kita sudah melewati batas penggunaan.</p>



<p>Tidak cukup di situ, Penulis juga akan memblokir media sosial dan <em>game</em> selama jam kerja menggunakan aplikasi AppBlock, salah satu <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/aplikasi-produktivitas-yang-saya-gunakan/">aplikasi produktivitas andalan Penulis</a>. Ini hanyalah aplikasi yang membantu, karena pada dasarnya semua kembali pada niat kita.</p>



<p>Melalui buku <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/"><em>Atomic Habit </em>karya James Clear</a>, salah satu tahap untuk menghilangkan kebiasaan buruk adalah dengan mempersulitnya. Cara-cara yang Penulis lakukan di atas bertujuan untuk mempersulit kombo rebahan + main HP dilakukan, terutama di hari kerja.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Jadikan Rebahan + Main HP Sebagai Reward</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6534" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Jadikan Reward, Bukan Sarana Refreshing (<a href="https://www.pexels.com/id-id/@rdne/">RDNE Stock project</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis bukan anti-rebahan atau anti-main HP. Penulis hanya menyadari dirinya kerap membuang waktu karena aktivitas tersebut, sehingga banyak pekerjaan yang harusnya diselesaikan jadi terabaikan atau minimal terlambat.</p>



<p>Apalagi, Penulis sampai sekarang masih <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/agar-wfh-tetap-produktif/">Work from Home</a></em>, sehingga harus bisa mengatur dirinya sendiri dengan baik. Karena tidak ada yang mengawasi langsung seperti jika bekerja di kantor, Penulis harus bisa menjadi pengawas untuk dirinya sendiri.</p>



<p>Ada pembelaan kalau HP menjadi sarana <em>refreshing </em>agar tidak merasa penat ketika bekerja. Itu ada benarnya, tapi Penulis merasa tidak cocok karena kerap terbuai HP. Maka dari itu, selama jam kerja, Penulis sering menjauhkan HP dari jangkauannya.</p>



<p>Lantas, apa yang biasanya Penulis lakukan untuk <em>refreshing </em>di jam kerja? Biasanya Penulis akan memilih aktivitas seperti membaca buku/komik atau sekadar bermain dengan kucing. Penulis berusaha mencari aktivitas yang jauh dari benda elektronik.</p>



<p>Harus diakui kalau rebahan sambil main HP, apapun aktivitasnya, memang menyenangkan. Aktivitas santai yang menghibur tanpa perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Namun, jika menjadi berlebihan tentu akibatnya tidak baik untuk diri kita, apalagi dilakukan di jam kerja.</p>



<p>Karena menyenangkan, jadikanlah kombo maut ini sebagai &#8220;hadiah&#8221; apabila kita berhasil menyelesaikan hari dengan baik dan produktif. Setelah semua pekerjaan atau <em>to-do-list </em>terselesaikan, diri kita berhak untuk menikmati enaknya rebahan sambil main HP.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 22 Mei 2023, terinspirasi dari pengalaman pribadinya yang kerap sulit meninggalkan kombo rebahan + main HP</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/id-id/@olly/">Andrea Piacquadio</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/">Rebahan + Main HP = Kombo Maut</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menikmati Kebosanan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menikmati-kebosanan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menikmati-kebosanan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2022 14:36:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bosan]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[mindfulness]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6085</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang merasa bosan karena tidak ada aktivitas, apa yang akan Pembaca lakukan? Mungkin jawabannya akan berkisar antara mengecek gawai, berselancar di media sosial, bermain gim, dan aktivitas di depan ponsel lainnya. Di antara semua probabilitas tersebut, kemungkinan besar pelarian kita adalah media sosial, entah Instagram, Twitter, TikTok, dan lainnya. Apalagi, sekarang ada banyak konten [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menikmati-kebosanan/">Menikmati Kebosanan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang merasa bosan karena tidak ada aktivitas, apa yang akan Pembaca lakukan? Mungkin jawabannya akan berkisar antara mengecek gawai, berselancar di media sosial, bermain gim, dan aktivitas di depan ponsel lainnya.</p>



<p>Di antara semua probabilitas tersebut, kemungkinan besar pelarian kita adalah media sosial, entah Instagram, Twitter, TikTok, dan lainnya. Apalagi, sekarang ada banyak konten <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/">infinity scroll</a> </em>yang kerap membuat kita lupa waktu.</p>



<p>Penulis bisa mengatakan hal tersebut karena dirinya sendiri pun juga seperti itu. Ketika memperhatikan orang-orang di sekitar Penulis, mereka juga seperti itu. Ketika sedang berada di transportasi umum, kebanyakan terpaku di depan layar ponselnya.</p>





<p>Pada tulisan kali ini, Penulis ingin mengajak para Pembaca sekalian untuk mencoba <strong>menikmati ketika rasa bosan datang </strong>melanda. Tidak perlu melakukan apa-apa, rasakan saja kebosanan tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kenapa Setiap Merasa Bosan Langsung Otomatis Cek Ponsel?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6087" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Bosan Dikit Cek HP (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-in-black-shirt-leaning-on-brown-wooden-table-3811810/">Andrea Piacquadio</a>)</figcaption></figure>



<p>Dalam keseharian, pasti ada saja kesibukan yang kita lakukan.<a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih/"> Yang kerja ya kerja</a>, yang sekolah ya belajar, dan lain sebagainya. Ketika sedang fokus melakukan aktivitas tersebut, pikiran kita tercurahkan di sana.</p>



<p>Namun, ketika pekerjaan atau tugas sekolah telah selesai, apa yang akan kita lakukan? Kemungkinan besar akan istirahat sambil cek media sosial, main gim, atau nonton YouTube. <em>Refreshing</em> untuk melepaskan penat.</p>



<p>Hal ini tentu sangat wajar dan mungkin memang dibutuhkan oleh diri selama dosisnya normal. Kalau <em>refreshing </em>dengan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/"><em>scroll </em>TikTok sampai tiga jam</a>, ya menurut Penulis sudah agak kebablasan.</p>



<p>Penulis sendiri adalah tipe yang sering &#8220;terbuai&#8221; dengan media sosial. Niatnya hanya lima menit, malah keterusan sampai satu jam. Ini sering Penulis lakukan ketika merasa bosan dan belum ada aktivitas lain yang harus diselesaikan (atau ada, tapi ditunda).</p>



<p>Menyadari kekurangan ini, Penulis pun berusaha untuk <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/istirahat-dari-media-sosial/">membatasi penggunaan media sosial</a> dan ponselnya. Fitur pembatas waktu yang ada Penulis manfaatkan betul, bahkan sesekali menggunakan aplikasi yang akan memblokir total pemakaian.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Hidup Itu Butuh Jeda</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6088" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Merasa Bosan Itu Memang Tidak Enak (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-in-gray-turtleneck-sweater-sitting-on-brown-leather-couch-4114918/">cottonbro</a>)</figcaption></figure>



<p>Pertanyaannya, kenapa tubuh ini seolah otomatis mengecek ponsel ketika merasa <em>suwung</em>? Berdasarkan pengalaman pribadi, hal tersebut terjadi karena <strong>kita telah membiasakan &#8220;menggantungkan diri&#8221; ke ponsel ketika merasa bosan</strong>.</p>



<p>Ketergantungan pada ponsel ketika merasa bosan ini menurut Penulis agak bahaya. Kita seolah &#8220;diperbudak&#8221; dan tidak ada hal lain yang bisa dilakukan. Dari yang awalnya karena merasa bosan, kemungkinan kita akan lanjut berkutat di depan layar hingga berjam-jam.</p>



<p>Tubuh dan pikiran kita seolah <strong>tidak dibiarkan memiliki jeda untuk menikmati kebosanan </strong>yang sedang terjadi. Seolah ada tuntutan dari dalam diri kalau harus ada sesuatu yang dilihat, jangan sampai merasa bingung harus ngapain.</p>



<p>Padahal, merasakan dan menyadari kebosanan itu ada manfaatnya. Ketika dalam melakukan rutinitas seolah kita mampu bergerak secara otomatis, jeda sebentar ketika merasa bosan akan membantu kita <strong>menyadari hadirnya diri kita sendiri</strong>.</p>



<p>Abaikan saja saran dari otak atau tangan yang bergerak otomatis mengambil ponsel. Cukup duduk dan biarkan kebosanan tersebut datang. Nikmati kebosanan tersebut, karena mungkin ada saatnya kita begitu disibukkan oleh banyak hal hingga tak sempat merasa bosan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa yang akan Datang Ketika Menikmati Kebosanan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6089" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Mungkin Bisa Sekalian Sambil Meditasi (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/calm-woman-in-lotus-pose-meditating-after-awakening-at-home-3791634/">Andrea Piacquadio</a>)</figcaption></figure>



<p>Ketika berusaha menikmati kebosanan dan tidak membiarkan pikirannya diambil alih oleh ponsel, pikiran Penulis awaknya pasti akan <em>random </em>dan memikirkan apapun yang terlintas. Rasanya memang tidak nyaman, sehingga godaan untuk mengecek ponsel menjadi besar.</p>



<p>Namun, selang beberapa menit, kita sudah mulai bisa memusatkan pikiran kita. Dengan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-sejenak/">berhenti sejenak</a>, terkadang kita<strong> menemukan inspirasi</strong>, <strong>menyadari tentang <em>mindfulness</em></strong><em> </em>atau hadir untuk saat ini, dan lainnya.</p>



<p>Tak jarang kita jadi <strong>menyadari sesuatu yang kemungkinan besar selama ini terabaikan</strong> karena terlalu bergantung pada ponsel untuk mengusir kebosanan. Penulis kadang <strong>merenung </strong>tentang hidupnya, tentang kesalahannya, bahkan memikirkan apa yang perlu diperbaiki.</p>



<p>Ketika sedang ada di tempat umum, misal sedang menunggu pesawat lepas landas, Penulis kerap duduk dan mengamati sekitar. Ada saja hal unik dan menarik yang tidak akan Penulis sadari jika menggunakan waktu menunggu tersebut untuk bermain ponsel. </p>



<p>Cobalah sesekali ketika merasa bosan, jangan mengecek ponsel.<strong> Diam saja, nikmati kebosanan </strong>tersebut merasuki tubuh. Coba atur napas yang biasanya selalu bersikulasi secara otomatis tanpa perlu diatur. Coba sadari kalau kita hadir saat ini, di sini, tanpa perlu melakukan hal lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Tulisan ini tentunya bukan mengajak para Pembaca untuk sering-sering merasa bosan dan melamun. Inti dari tulisan ini adalah ajakan untuk <strong>menghilangkan ketergantungan terhadap ponsel saat merasa bosan</strong>.</p>



<p>Alih-alih mendistraksi pikiran dengan sesuatu yang belum tentu bermanfaat, ada baiknya kita menggunakannya untuk <em>me time</em>. Coba rasakan kehadiran kita saat ini, bahwa kita sebagai manusia tengah berada di suatu ruang tanpa ada sesuatu yang harus dikerjakan.</p>



<p>Menikmati kebosanan itu sesekali menyenangkan kok, bahkan mungkin memang dibutuhkan. Berikan pikiran dan tubuh kita jeda sejenak tanpa ada distraksi dari mana pun. Sekali lagi, nikmati saja rasa bosan itu.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 25 Oktober 2022, terinspirasi setelah menyadari bahwa menikmati kebosanan tidak ada salahnya</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@rutzsepp">Sepp Rutz</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menikmati-kebosanan/">Menikmati Kebosanan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menikmati-kebosanan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Metaverse adalah Distopia</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/metaverse-adalah-distopia/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/metaverse-adalah-distopia/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Nov 2021 15:09:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[distopia]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Meta]]></category>
		<category><![CDATA[metaverse]]></category>
		<category><![CDATA[Microsoft]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[sosial budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5394</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada tanggal 28 Oktober kemarin, Facebook secara resmi mengganti namanya menjadi Meta. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh CEO Facebook Mark Zuckerberg melalui acara Facebook Connect. Dari berbagai sumber, keputusan ini diambil karena nama Facebook seolah hanya merepresentasikan satu merek mereka. Padahal, Facebook memiliki banyak merek lain seperti WhatsApp dan Instagram. Tidak hanya itu, Zuckerberg juga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/metaverse-adalah-distopia/">Metaverse adalah Distopia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada tanggal 28 Oktober kemarin, Facebook secara resmi mengganti namanya menjadi Meta. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh CEO Facebook Mark Zuckerberg melalui acara Facebook Connect.</p>



<p>Dari berbagai sumber, keputusan ini diambil karena nama Facebook seolah hanya merepresentasikan satu merek mereka. Padahal, Facebook memiliki banyak merek lain seperti WhatsApp dan Instagram.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-1-1024x683.jpeg" alt="" class="wp-image-5396" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-1-1024x683.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-1-300x200.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-1-768x512.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-1.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Mark Zuckerberg dan Meta (<a href="https://www.theverge.com/2021/10/28/22745234/facebook-new-name-meta-metaverse-zuckerberg-rebrand">The Verge</a>)</figcaption></figure>



<p>Tidak hanya itu, Zuckerberg juga menjelaskan konsep <em><strong>metaverse</strong> </em>yang akan menurutnya akan menjadi lembaran baru untuk dunia internet. Bahkan, ia juga mengatakan kalau Facebook akan menjadi perusahaan <em>metaverse.</em></p>



<p>Menyusul Facebook, raksasa teknologi Microsoft juga mengumumkan akan membuat <em>metaverse </em>versinya sendiri. Mereka akan menerapkannya di aplikasi Microsoft Teams dan di masa depan akan diterapkan di konsol Xbox.</p>



<p>Sayangnya, Penulis melihat <em>metaverse </em>ini sebagai sesuatu yang patut untuk dikhawatirkan.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa Itu <em>Metaverse</em>?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5398" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Satya Nadella (<a href="https://www.windowscentral.com/microsoft-ceo-satya-nadella-discusses-metaverse-and-2021-work-norms">Windwos Central</a>)</figcaption></figure>



<p>Secara mudah, <em>metaverse </em>adalah sebuah dunia virtual di mana penggunanya bisa berinteraksi di dalamnya sama seperti di dunia nyata. Atau seperti kata CEO Microsoft Satya Nadella:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;The metaverse enables us to embed computing into the real world and to embed the real world into computing, bringing real presence to any digital space.&#8221;</p><p>&#8220;Metaverse memungkinkan kita untuk menanamkan komputasi ke dunia nyata dan untuk menanamkan dunia nyata ke dalam komputasi, membawa kehadiran nyata ke ruang digital mana pun.&#8221;</p></blockquote>



<p>Dengan mewabahnya pandemi Covid-19, banyak perusahaan yang akhirnya memutuskan agar karyawannya bekerja secara <em>remote </em>dari rumah. Bahkan, hal ini telah menjadi sesuatu yang normal dan dianggap lumrah.</p>



<p>Kita bisa melakukan rapat di kamar hanya dengan bermodalkan laptop dan berinteraksi dengan teman-teman kantor lainnya. <em>Metaverse </em>akan membawa kita melampaui hal tersebut.</p>



<p><em>Metaverse </em>akan membuat kita merasa berada di dalam sebuah ruang digital dengan alat bantu seperti <em>headset </em>VR. Kita juga bisa membuat avatar 3D sebagai representasi kita di dunia virtual tersebut.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5397" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sword Art Online (<a href="https://duniaku.idntimes.com/geek/culture/chiize/teknologi-fulldive-sao">Duniaku</a>)</figcaption></figure>



<p>Contoh mudah untuk membayangkan <em>metaverse </em>adalah melalui film <em><strong>The Matrix</strong></em> dan <em><strong>Ready Player One </strong></em>atau anime <em><strong>Sword Art Online</strong></em>. </p>



<p>Penulis tidak pernah menonton <em>Sword Art Online,</em> tapi tahu kalau ceritanya adalah sekelompok remaja yang bermain gim dengan menggunakan alat yang membuat kita merasa benar-benar berada di dalam gim tersebut.</p>



<p>Bahkan, sebenarnya ada beberapa gim VR yang membuat kita berada di dalam dunia digital sungguhan seperti <em>Beat Saber</em> dan <em>Half-Life Alyx.</em> Tidak hanya dari sisi <em>software</em>, <em>hardware </em>pendukung pun semakin berkualitas.</p>



<p>Kedengarannya <em>metaverse </em>adalah sesuatu yang menyenangkan, bukan? Masa depan teknologi yang terlihat begitu cerah. Sayangnya Penulis tidak bisa berpikir seperti itu.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><em>Metaverse </em>dan Distopia yang Dibuatnya</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5399" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Novel Snow Crash (<a href="https://reclaimthenet.org/snow-crash-tv-series-hbo/">Reclaim the Net</a>)</figcaption></figure>



<p>Istilah <em>metaverse </em>dianggap pertama kali muncul dari novel berjudul <em><strong>Snow Crash</strong> </em>karangan Neal Stephenson yang rilis pada tahun 1992. Sayangnya, novel tersebut bertema distopia dan itu bukan pertanda baik.</p>



<p>Menurut KBBI, distopia adalah:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Tempat khayalan yang segala sesuatunya sangat buruk dan tidak menyenangkan serta semua orang tidak bahagia atau ketakutan, lawan dari utopia&#8221;</p></blockquote>



<p>Di dalam novel tersebut, Stephenson menyebutkan bahwa, &#8220;… metaverse itu sendiri adalah tempat yang membuat ketagihan, penuh kekerasan, dan memungkinkan dorongan terburuk kita.”</p>



<p>Seperti yang kita ketahui bersama, tanpa <em>metaverse </em>pun kita sudah begitu ketagihan menghabiskan waktu di dunia maya, entah karena <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/"><em>scrolling </em>media sosial</a>, nonton YouTube, hingga bermain gim.</p>



<p>Bayangkan jika kita bisa merasakan apa yang kita dapatkan di media sosial, seolah-olah kita sedang berada di sana secara langsung, apa malah tidak membuat kita semakin betah dan ketagihan?</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-5-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-5-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-5-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-5-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Media Sosial Itu Sangat Adiktif (<a href="https://www.healthline.com/health/social-media-addiction">Healthline</a>)</figcaption></figure>



<p>Banyak yang menjadikan media sosial sebagai &#8220;pelarian&#8221; dari dunia nyata. Mau pusing atau ada masalah seperti apapun, media sosial seolah selalu berhasil mengalihkan pikiran kita ke tempat lain.</p>



<p>Dengan adanya <em>metaverse</em>, kita benar-benar bisa kabur ke dunia virtual dan merasakannya secara nyata. Mungkin jika sesekali masih bisa dimaklumi, tapi bagaimana jika kita menjadi ketergantungan terhadapnya?</p>



<p>Selain itu, konsep hidup di dunia maya telah terbukti melahirkan orang-orang <em>toxic </em>yang merasa berani karena identitas mereka yang asli tertutupi oleh akun maya mereka. Jika mereka bisa muncul dengan avatar yang anonim, bukan tidak mungkin ke-<em>toxic</em>-an mereka akan semakin menjadi-jadi.</p>



<p>Bagaimana jika karena seringnya kita mengunjungi dunia virtual ini, kita akan mengalami kesulitan untuk membedakan mana dunia nyata dan dunia virtual? Bagaimana jika kita menolak hidup di dunia nyata dan memilih hidup di dunia &#8220;impian&#8221; yang tidak nyata?</p>



<p>Mungkin semua yang diutarakan di atas terdengar berlebihan dan terlalu paranoid, tapi Penulis merasa hal-hal tersebut bisa benar-benar terjadi, terutama jika kita tidak bijaksana dalam memanfaatkan teknologi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-6-1024x683.png" alt="" class="wp-image-5401" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-6-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-6-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-6-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-6.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Gambaran Avatar Kita di Metaverse (<a href="https://techcrunch.com/2021/11/02/microsoft-teams-gets-3d-animated-avatars-because-metaverse/">TechCrunch</a>)</figcaption></figure>



<p>Facebook dan Microsoft jelas memiliki sumber daya yang lebih cukup untuk membangun <em>metaverse </em>mereka sendiri. Mau diiklankan dengan bahasa seindah apapun, Penulis tetap sedikit merasa was-was dengannya.</p>



<p>Menurut Penulis pribadi, daripada harus membuat dunia virtual terasa nyata, <strong>kenapa kita tidak berusaha untuk memperbaiki dunia nyata yang sudah ada? </strong></p>



<p>Apakah dunia ini sudah begitu rusak sehingga kita perlu membuat dunia virtual terasa begitu indah? Apakah memang Bumi tempat kita tinggal ini sudah tidak bisa diperbaiki lagi?</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-7-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5402" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-7-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-7-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-7-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-7.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Serusak Itukah Realita Kita? (<a href="https://id.pinterest.com/pin/531776668475809237/">Pinterest</a>)</figcaption></figure>



<p>Tidak hanya itu, potensi <em>metaverse </em>yang bisa membuat penggunanya ketagihan juga membuat Penulis khawatir. <em>Metaverse </em>sangat bisa untuk menjadi tempat pelarian kita dari masalah yang dihadapi di dunia nyata.</p>



<p>Menjadikan dunia maya dan <em>metaverse </em>sebagai pelarian benar-benar ide yang sangat berbahaya. Kita tidak bisa terus kabur dan lari dari masalah. Masalah pasti akan selalu hadir, bahkan di dunia virtual sekalipun.</p>



<p>Penulis tidak tahu bagaimana masa depan <em>metaverse </em>ini selama beberapa tahun ke depan. Beberapa orang sudah menyebutkan kegelisahannya yang mirip dengan yang Penulis rasakan.</p>



<p>Kehadiran <em>metaverse </em>jelas tidak bisa kita hindari. Yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan diri kita agar jangan sampai kita yang dikendalikan oleh teknologi-teknologi distopia tersebut.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 3 November 2021, terinspirasi setelah membaca beberapa artikel seputar <em>metaverse</em></p>



<p>Foto: <a href="https://www.vice.com/en/article/v7eqbb/the-metaverse-has-always-been-a-dystopia">Vice</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://www.news18.com/news/buzz/mark-zuckerbergs-metaverse-inspired-by-dystopian-novel-snow-crash-twitter-thinks-so-4378457.html">Mark Zuckerberg&#8217;s &#8216;Metaverse&#8217; Inspired by Dystopian Novel &#8216;Snow Crash&#8217;? Twitter Thinks So (news18.com)</a></li><li><a href="https://www.vice.com/en/article/v7eqbb/the-metaverse-has-always-been-a-dystopia">The Metaverse Has Always Been a Dystopian Idea (vice.com)</a></li><li><a href="https://nianticlabs.com/blog/real-world-metaverse/">The Metaverse is a Dystopian Nightmare. Let’s Build a Better Reality. – Niantic (nianticlabs.com)</a></li><li><a href="https://medium.com/highstreet-market/all-the-different-ways-the-metaverse-is-being-built-today-c791245b4da4">All the Unique Ways the Metaverse is Being Built Today | by Travis Wu | Highstreet | Medium</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/metaverse-adalah-distopia/">Metaverse adalah Distopia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/metaverse-adalah-distopia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Alasan Kenapa &#8220;Mindless Scrolling&#8221; adalah Pelarian yang Buruk</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Oct 2021 15:53:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pelarian]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5294</guid>

					<description><![CDATA[<p>Semenjak ada TikTok, banyak platform yang berlomba-lomba membuat konsep layanan yang serupa, di mana muncul video dengan durasi yang relatif singkat dan memiliki algoritma candu agar user terus melakukan scrolling. Contoh mudahnya adalah Instagram dengan Reels-nya dan YouTube dengan Shorts-nya. Bahkan, terkadang konten yang berada di dua layanan tersebut adalah konten yang telah di-publish di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/">Alasan Kenapa &#8220;Mindless Scrolling&#8221; adalah Pelarian yang Buruk</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Semenjak ada TikTok, banyak platform yang berlomba-lomba membuat konsep layanan yang serupa, di mana muncul video dengan durasi yang relatif singkat dan memiliki <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">algoritma candu agar <em>user </em>terus melakukan <em>scrolling</em>.</a></p>



<p>Contoh mudahnya adalah Instagram dengan <strong>Reels</strong>-nya dan YouTube dengan <strong>Shorts</strong>-nya. Bahkan, terkadang konten yang berada di dua layanan tersebut adalah konten yang telah di-<em>publish </em>di TikTok.</p>



<p>Karena konsepnya yang <em>unlimited scroll</em>, kita pun kerap tak sadar hingga lupa waktu kalau sudah melakukan <em>scrolling</em> dan kerap dijadikan pelarian ketika kita sedang ada masalah atau sedang stres. Hanya saja, aktivitas ini bisa dibilang sebagai pelarian yang buruk.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Data Pribadi Kita &#8220;Dijual&#8221;</h2>



<p>Seperti yang sudah pernah Penulis bahas di tulisan <em><a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">Dilema (Media) Sosial Kita</a></em>, kita sudah dijadikan komoditas oleh para perusahaan media sosial tersebut. Data pribadi kita digunakan untuk &#8220;dijual&#8221; kepada pengiklan yang ingin mendapatkan target pasar terbaik.</p>



<p>Dari mana media sosial bisa mendapatkan data tersebut? Dari aktivitas kita sehari-hari ketika menggunakan media sosial. Media sosial dapat mengetahui postingan apa yang kita beri <em>like </em>ataupun postingan yang membuat kita betah untuk melihatnya dalam waktu yang lama.</p>



<p>Artinya, semakin lama kita menggunakan media sosial, semakin banyak pula data yang bisa mereka kumpulkan untuk menyimpulkan apa <em>behaviour </em>kita. Ketika <em>behaviour </em>kita sudah diketahui, mereka bisa memutuskan konten iklan apa yang cocok untuk kita.</p>



<p>Fitur-fitur <em>short video </em>yang bisa di-<em>scroll </em>tanpa batas tersebut, besar kemungkinan digunakan untuk mengumpulkan data <em>behaviour</em> tersebut dengan lebih masif lagi. Algoritma candu yang dimiliki pun akan terus menyesuaikan diri untuk menampilkan video-video yang kita sukai agar kita semakin lama menggunakannya.</p>



<p>Apalagi, kegiatan <em>scrolling </em>tersebut dapat menghabiskan waktu tanpa kita sadari karena seolah tidak ada habisnya (dan memang tidak ada habisnya). Sebagai aktivitas yang mudah dilakukan, kita akan begitu terbuai dan terlena dengan fitur ini.</p>



<p>Permasalahannya, kita (termasuk Penulis) kerap menjadikan aktivitas ini sebagai &#8220;pelarian&#8221; ketika sedang lelah, ada masalah, <em>stress</em>, dan lain sebagainya. Menurut Penulis, berdasarkan pengalamannya sendiri, ini adalah pelarian yang sangat buruk jika tidak dibatasi. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Pikiran yang Entah Lari ke Mana</h2>



<p>Penulis menemukan istilah <em>mindless scrolling </em>yang menggambarkan aktivitas kita yang memang melakukan <em>scrolling </em>di layar <em>smartphone</em>, tetapi pikiran kita kerap &#8220;kosong&#8221; dan tidak <em>mindfulness</em>.</p>



<p>Berdasarkan video yang diunggah oleh GCFLearnFree.org di YouTube, aktivitas ini dianggap sama dengan sebuah percobaan pada seekor tikus. Di dalam kandang, si tikus diberi sebuah tombol yang sesekali mengeluarkan makanan.</p>



<p>Karena mengetahui bahwa jika tombol yang ia tekan akan menghasilkan makanan, walaupun tidak tentu berapa kali harus ditekan, si tikus pun akan terus menekan tombol terus hingga perutnya merasa kenyang.</p>



<p>Kita pun seperti itu. Ketika sedang melakukan <em>scrolling </em>di media sosial, kita akan terus melakukan <em>scrolling </em>sampai merasa menemukan apa yang kita inginkan. Terkadang kita menemukan konten yang kita sukai, baik konten lucu, menghibur, edukatif, dan lain sebagainya.</p>



<p>Setelah menemukannya, kita akan kembali melanjutkan aktivitas tersebut sampai menemukannya lagi. Begitu seterusnya. Karena berharap menemukan sesuatu yang kita sukai lagi, di sanalah <em>mindless scrolling </em>dimulai.</p>



<p>Bedanya dengan ketika kita nonton video biasa seperti di YouTube, kita tahu apa yang kita tonton. Fitur s<em>hort video </em>ini menghadirkan elemen &#8220;kejutan&#8221; karena kita tidak tahu video apalagi yang akan kita tonton selanjutnya.</p>



<p>Ini yang menjadi alasan lainnya mengapa fitur ini membuat kita betah menggunakannya. Kita dibuat penasaran dan bertanya-tanya, video apa yang akan muncul selanjutnya?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Alasan Mengapa <em>Mindless Scrolling </em>Jadi Pelarian yang Buruk</h2>



<p>Media sosial yang menyediakan fitur <em>infinity short video </em>bisa dianggap berbahaya jika penggunanya tidak tahu kapan harus berhenti melakukan <em>scrolling</em>. Mungkin kita akan berhenti ketika merasa bosan, tapi ketika merasa bosan kita akan mulai melakukan <em>scrolling </em>lagi. Lingkaran setan.</p>



<p>Akibatnya, kita pun menghabiskan waktu begitu banyak di depan layar tanpa disadari. Yang awalnya cuma niat cek setengah jam, membengkak menjadi tiga jam. Sifat adiktif yang dimiliki fitur ini memang benar-benar mengerikan.</p>



<p>Karena kecanduan yang diakibatkan oleh <em>scrolling </em>media sosial ini, kita pun akan merasa bingung jika kita tidak memegang <em>smartphone. </em>Rasanya seolah kita takut ketinggalan suatu informasi walaupun seringnya kita melupakan apa yang sudah kita lihat ketika <em>scrolling.</em></p>



<p>Nah, tidak bisa mengingat apa yang kita lihat ketika <em>scrolling </em>adalah salah satu ciri <em>mindless scrolling</em>. Ketika ditanya apa video pendek yang paling berkesan atau bermanfaat satu minggu yang lalu, kita pasti akan kesulitan untuk mengingatnya.</p>



<p><em>Mindless scrolling </em>bisa membuat hidup jadi berantakan. Bayangkan ketika bangun pagi kita langsung <em>scrolling</em>. Kalau kelamaan, kita bisa telat pergi ke kantor atau sekolah. Ketika mau tidur, <em>scrolling </em>lagi sampai dini hari dan akibatnya telat bangun pagi.</p>



<p>Karena sudah membuang waktu, banyak pekerjaan yang seharusnya diselesaikan jadi tertunda. Ketika menunda pekerjaan, kita merasa tidak produktif dan merasa bersalah. Karena merasa bersalah, <em>mood </em>jadi memburuk dan memutuskan kabur dengan cek media sosial lagi.</p>



<p>Inilah alasan mengapa <em>mindless scrolling</em> menjadi pelarian yang sangat buruk. Aktivitas ini membuang waktu kita yang berharga dan bisa menimbulkan perasaan bersalah yang menyiksa mental, tanpa benar-benar merasa terhibur atau mendapatkan manfaat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis benar-benar merasa kalau <em>mindless scrolling </em>adalah aktivitas yang berbahaya jika tidak dibatasi. Oleh karena itu, Penulis memasang <em>timer </em>dalam satu hari berapa lama boleh menggunakan media sosial.</p>



<p>Penulis sudah <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">menghapus aplikasi TikTok</a> karena merasa lebih banyak buruknya daripada positifnya bagi diri Penulis. Namun, masih ada Instagram Reels dan YouTube Shorts. Oleh karena itu, Penulis beri batasan masing-masing aplikasi sebanyak 15 menit per hari.</p>



<p>Kadang, Penulis memberikan tambahan waktu sebanyak 10 menit. Tak jarang juga Penulis &#8220;nakal&#8221; dan memutuskan untuk tidak memberi batasan waktu untuk hari ini. Akan tetapi, Penulis benar-benar berusaha untuk membatasi penggunaannya dalam keseharian.</p>



<p>Bagaimana dengan <em>mindless scrolling </em>sebagai bentuk pelarian? Penulis sangat menyarankan untuk mencari pelarian lain yang lebih baik. Olahraga, meditasi, menulis jurnal, mendekatkan diri ke Tuhan, bersosialisasi, ada banyak cara pelarian yang sebenarnya jauh lebih baik dan bermanfaat.</p>



<p>Kalau Penulis, biasanya Penulis akan beralih ke menulis blog, membaca, mendesain <em>board game</em>, membersihkan kamar, main <em>game </em>(jangan berlebihan juga!), dan lain sebagainya. Penulis bahkan memilih untuk diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri ketika merasa bosan karena tidak bisa mengecek <em>smartphone</em>-nya.</p>



<p>Penulis merasa sangat yakin, pelarian dengan <em>mindless scrolling </em>lebih banyak negatifnya. Lebih baik, alokasi waktunya kita alihkan ke sesuatu yang lebih bermanfaat, yang bisa membuat diri ini menjadi lebih baik lagi.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 21 Oktober 2021, terinspirasi setelah menyadari kalau <em>mindless scrolling </em>adalah pelarian yang sangat buruk</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@solenfeyissa">Solen Feyissa</a> on Unsplash</p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://www.youtube.com/watch?v=uBkeKv_6U4c">Why We Can&#8217;t Stop Scrolling &#8211; YouTube</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/">Alasan Kenapa &#8220;Mindless Scrolling&#8221; adalah Pelarian yang Buruk</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
