<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pendidikan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/pendidikan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/pendidikan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jul 2024 11:33:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>pendidikan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/pendidikan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jerome dan Maudy Bicara tentang Pendidikan</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Dec 2021 12:58:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jerome Polin]]></category>
		<category><![CDATA[Maudy Ayunda]]></category>
		<category><![CDATA[menyontek]]></category>
		<category><![CDATA[Nihonggo Mantappu]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Youtube]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5477</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ada satu hal yang menarik ketika Penulis menonton video kolaborasi antara Jerome Polin dan Maudy Ayunda. Dalam sesi QnA, ada dua pertanyaan dari netizen mengenai apa yang kira-kira harus dikoreksi dari pendidikan di Indonesia dan kalian pernah nyontek nggak. Siapa sangka, jawaban mereka menjadi begitu panjang dan pembicaraan mereka menjadi diskusi yang begitu menarik untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/">Jerome dan Maudy Bicara tentang Pendidikan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ada satu hal yang menarik ketika Penulis menonton video kolaborasi antara <a href="https://whathefan.com/buku/kisah-jerome-polin-pada-buku-latihan-soal-mantappu-jiwa/">Jerome Polin</a> dan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dilema-berkelas-ala-maudy-ayunda/">Maudy Ayunda</a>. Dalam sesi QnA, ada dua pertanyaan dari netizen mengenai <strong>apa yang kira-kira harus dikoreksi dari pendidikan di Indonesia</strong> dan <strong>kalian pernah nyontek nggak</strong>.</p>



<p>Siapa sangka, jawaban mereka menjadi begitu panjang dan pembicaraan mereka menjadi diskusi yang begitu menarik untuk disimak. Melihat dua orang pintar dan berprestasi (<a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">terlepas bantuan <em>privilege </em>yang mereka miliki</a>) berdiskusi sangat menginspirasi dan memotivasi.</p>



<p>Begitu menariknya video tersebut membuat Penulis menuliskan artikel tentang jawaban dari dua pertanyaan tersebut. Untuk Pembaca yang belum menonton video lengkapnya, bisa nonton di bawah ini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="PACAR HARUS PINTER!? FIRST IMPRESSION? - Q&amp;A SPESIAL JEROME &amp; MAUDY AYUNDA" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/4vIZVHzOCYE?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>





<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Kira-Kira Harus Dikoreksi dari Pendidikan di Indonesia?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5480" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Ada beberapa poin yang menjadi <em>concern </em>mereka, seperti <strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/membangun-kebiasaan-baik-itu-memang-sangat-sulit/">membentuk kebiasaan baik</a></strong>. Jerome memberikan contoh kalau siswa di Jepang begitu disiplin tentang masalah sampah. Kita mengetahui teori &#8220;buang sampah pada tempatnya&#8221;, tapi pada praktiknya masih kurang.</p>



<p>Maudy menambahkan kalau hal-hal baik seperti itu akan lebih berhasil jika ada <em>collective action</em>, di mana jika yang benar hanya kita sendiri sedangkan orang lain tidak, maka akan susah untuk dilakukan. Namun, tidak ada salahnya untuk berani memulai dari diri kita sendiri.</p>



<p>Setelah itu, Maudy menyayangkan bahwa kita kurang memiliki <strong>budaya cinta belajar</strong>. Kebanyakan siswa di negara maju, mereka memiliki &#8220;rasa lapar&#8221; untuk mendapatkan pengetahuan. </p>



<p>Mencari tahu informasi dan bertanya seolah sudah menjadi budaya mereka yang tentunya akan bagus jika dimiliki juga oleh kita. Menumbuhkan rasa suka belajar jelas tidak mudah karena harus dibentuk sejak dini dan didukung oleh lingkungan yang mendukung.</p>



<p><strong>Dari tidak tahu menjadi tahu itu menimbulkan kepuasan</strong>, kata Jerome yang diamini oleh Maudy. Penulis menyetujui pendapat ini karena telah merasakan kepuasaan itu sendiri dan menimbulkan &#8220;ketagihan&#8221; secara positif.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kalian Pernah Nyontek Nggak?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5481" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Pertanyaan ini tentu menarik, mengingat Jerome dan Maudy dikenal sebagai orang yang pintar. Apakah orang pintar pernah menyontek? Ternyata jawaban mereka sama,<strong> kalau menyontek tidak pernah, tapi memberi contekan atau jawaban pernah</strong>.</p>



<p>Hal ini jelas berbeda dengan di Jepang. Jerome bercerita kalau di sana tidak ada siswa yang akan sekadar memanggil temannya ketika ujian berlangsung. Memang tidak bisa digeneralisir semua murid Jepang, hanya saja rasanya yang seperti itu menjadi mayoritas di sana.</p>



<p>Kalau di sini, <strong>menolak memberikan jawaban hampir pasti akan menjadi korban <em>bully</em></strong><em> </em>atau dipanggil pelit, pahit, dan sebagainya. Padahal, meminta jawaban ketika ujian saja sudah salah, tapi yang berpegang teguh dengan prinsipnya justru dimusuhin.</p>



<p>Sebenarnya integritas yang dimiliki murid Jepang juga <strong>didukung dengan guru dan orang tua yang disiplin</strong>. Kalau ada yang ketahuan menyontek, murid tersebut akan mendapatkan hukuman.</p>



<p>Nah, poin menarik disampaikan oleh Maudy. Ia menyebutkan kalau<strong> ilmu dan nilai itu adalah kepemilikan kita</strong>. Ujian adalah salah satu cara untuk mendapatkan evaluasi yang tepat mengenai pemahaman kita mengenai ilmu tersebut. </p>



<p>Jika kita dapat nilai bagus dengan menyontek, <em>what&#8217;s the point</em>? Di sekolah mungkin kita belum merasakan dampaknya. Akan tetapi, di kehidupan nyata nanti ilmu yang kita miliki barulah terasa manfaatnya.</p>



<p>(Mungkin akan ada yang menyanggah selama punya &#8220;bantuan orang dalam&#8221; atau &#8220;<em>privilege </em>dari orang tua&#8221; tidak akan ada masalah. Akan tetapi, mau sampai kapan kita akan terus mendapatkan bantuan dari orang lain dan tidak bisa mengandalkan diri kita sendiri?)</p>



<p><strong>Lebih mementingkan nilai dibandingkan esensi ilmunya</strong> memang menjadi masalah utama di negara kita. Banyaknya persyaratan yang membutuhkan nilai ditambah tuntutan untuk mendapatkan nilai bagus dari lingkungan menjadi pemicu utama.</p>



<p>Menurut Maudy, salah satu solusi dari permasalahan ini adalah <strong>mengubah kurikulum</strong>, terutama dalam penilaian. Jangan hanya memberikan ujian dalam bentuk opsional yang mudah dicontek, tapi berikan juga ujian berupa presentasi atau esai yang tidak bisa dicontek.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Setelah menonton video tersebut, Penulis teringat satu hal yang sering dirisaukan tentang sistem pendidikan kita: <strong>Budaya menyontek yang masih dianggap wajar</strong>. </p>



<p>Memang, Penulis tidak bisa dibilang benar-benar bersih dari budaya ini, tapi menyadari kalau ini adalah budaya yang sangat buruk dan sangat berbahaya bagi masa depan bangsa ini. Selain itu, sistem yang ada sekarang pun sangat &#8220;mendukung&#8221; budaya tersebut untuk tumbuh subur.</p>



<p>Di tulisan berikutnya, Penulis akan membahas mengenai fenomena sosial ini sekaligus opini pribadinya. <em>Stay tuned</em>!</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 12 Desember 2021, terinspirasi setelah menonton video Nihonggo Mantappu di atas</p>



<p>Foto: <a href="https://www.instagram.com/p/CW43RJupMtf/">Instagram</a></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/">Jerome dan Maudy Bicara tentang Pendidikan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sistem Pendidikan Ala Assassination Classroom</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 May 2021 14:42:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[Assassination Classroom]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[manga]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pinggir]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4989</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pertama kali Penulis mendengar tentang manga Assassination Classroom adalah ketika ada semacam acara &#8220;lomba presentasi&#8221; di Karang Taruna. Salah satu anggota menceritakan tentangnya. Ketika mendengar penjelasannya, Penulis langsung merasa tertarik dengan premisnya. Ada seorang guru berbentuk gurita kuning yang miliki kekuatan super dan kecepatan hingga 20 Mach. Dengan kemampuannya, ia justru memilih untuk menjadi seorang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom/">Sistem Pendidikan Ala Assassination Classroom</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pertama kali Penulis mendengar tentang manga <em><strong>Assassination Classroom</strong> </em>adalah ketika ada semacam acara &#8220;lomba presentasi&#8221; di Karang Taruna. Salah satu anggota menceritakan tentangnya.</p>



<p>Ketika mendengar penjelasannya, Penulis langsung merasa tertarik dengan premisnya. Ada seorang guru berbentuk gurita kuning yang miliki kekuatan super dan kecepatan hingga 20 Mach. Dengan kemampuannya, ia justru memilih untuk menjadi seorang guru di kelas bermasalah.</p>



<p>Anehnya, Penulis justru tertarik untuk membaca manganya daripada menonton animenya. Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membeli semua serinya, dari volume 1 sampai 21.</p>



<p>Beberapa hari yang lalu, Penulis tiba-tiba tergerak untuk membaca ulang semua volumenya. Oleh karena itu, Penulis ingin menulis artikel tentang <em>Assassination Classroom</em>.</p>



<p>Karena ini merupakan manga lama (rilis perdana pada tahun 2012), rasanya Penulis tidak perlu menulis panjang lebar tentang alur ceritanya. Penulis ingin berfokus pada sesuatu yang unik tentang manga ini, yakni tentang sistem pendidikannya.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Sistem Sekolah SMP Kunugigaoka</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-1-1024x683.png" alt="" class="wp-image-5010" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-1-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-1-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-1-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-1.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>SMP Kunugigaoka (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://ansatsukyoshitsu.fandom.com/wiki/Kunugigaoka_Magic_Academy">Assassination Classroom Wiki &#8211; Fandom</a>)</figcaption></figure>



<p>Hal unik yang ingin Penulis bahas di tulisan ini adalah tentang sistem pendidikan yang diterapkan di <strong>SMP Kunugigaoka</strong>. Setiap tingkat memiliki lima kelas, di mana kelas E menjadi tempat murid bermasalah dan kurang berprestasi.</p>



<p>Hal ini dilakukan oleh sang kepala sekolah,<strong> Gakuho Asano</strong>, untuk menciptakan ekosistem pendidikan dengan daya saing yang tinggi. Para murid didoktrin agar jangan sampai mereka masuk ke kelas E yang dianggap singkatan dari <em>End </em>tersebut.</p>



<p>Waktu Penulis SMP, yang ada justru kebalikannya. Kelas A menjadi kelas unggulan yang berisikan murid-murid yang berhasil mendapatkan peringkat teratas ketika ujian masuk. Sebaliknya, kelas paling bawah (kelas G) menjadi kelas yang peringkatnya paling bawah.</p>



<p>Sistem seperti ini Penulis jalani selama 2 tahun, karena ketika kelas 9 semua kelas diacak agar sama rata. Tidak ada lagi kelas unggulan, tidak ada lagi kelas yang dibuat berdasarkan urutan nilai murid.</p>



<p>Bagi Penulis, kelas dengan sistem diskriminasi yang diterapkan oleh Asano di sekolahnya jelas tidak ideal. Impiannya untuk membuat 95% muridnya menjadi lebih superior dibandingkan yang 5% murid di kelas E jelas merusak mental.</p>



<p>Selain itu, bukan tidak mungkin para murid akan saling senggol karena yang ada di pikiran mereka hanyalah menyelamatkan diri sendiri agar tidak sampai masuk ke kelas E.</p>



<p>Jika saja Koro sensei tidak masuk ke kelas tersebut, bisa saja murid-murid kelas E akan merasa tidak berguna sepanjang hidupnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengembangkan Bakat dan Minat Murid</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-2-1024x683.png" alt="" class="wp-image-5009" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-2-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-2-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-2-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-2.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Setiap Murid Berbeda (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://ansatsukyoshitsu.fandom.com/wiki/Class_3-E">Assassination Classroom Wiki &#8211; Fandom</a>)</figcaption></figure>



<p>Nah, salah satu nilai jual dari manga ini adalah hubungan unik antara guru dan muridnya. Di dunia ini, tidak ada satupun murid yang diperintahkan untuk menghabisi gurunya. Bahkan tidak ada sekolah yang diajar oleh makhluk berbentuk gurita berwarna kuning.</p>



<p>Anehnya, hubungan unik ini justru berhasil <strong>mengeluarkan potensi setiap murid</strong> yang ada di sana. Karena memiliki misi menyelamatkan dunia, perasaan tidak berguna perlahan-lahan hilang dari diri mereka.</p>



<p>Kelas ini awalnya memiliki 26 murid, sebelum akhirnya bertambah 2 murid tambahan yang bertujuan untuk membunuh Koro sensei. Mereka semua ternyata memiliki bakat masing-masing dan Koro sensei membantu mereka mengasah bakat tersebut.</p>



<p>Pendekatan yang dilakukan oleh Koro sensei inilah yang kurang dari pendidikan kita. <strong>Semua murid diperlakukan sama tanpa mempedulikan apa bakat dan minat mereka</strong>. </p>



<p>Jika dianalogikan sebagai hewan, semua murid diperintah untuk terbang, tidak peduli kita ikan, kucing, dan hewan lain yang memang tidak memiliki kemampuan untuk terbang. Semua menggunakan standar penilaian yang sama.</p>



<p>Ideologi yang dianut oleh Koro sensei jelas berbeda dengan yang dianut oleh kepala sekolah. Hal inilah yang membuat mereka kerap berseberangan dalam menentukan sikap bagaimana membina murid.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Guru yang Serba Bisa</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5008" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Guru Idaman (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://wallpaperaccess.com/koro-sensei">WallpaperAccess</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebagai seorang guru, Koro sensei memiliki pengetahuan yang begitu luas. Ia menguasai semua mata pelajaran sehingga dapat <strong>menyampaikan ilmunya dengan baik</strong> ke murid-muridnya.</p>



<p>Tidak hanya itu, ia juga bisa menentukan<strong> metode mana yang paling cocok untuk tiap murid</strong> sehingga mereka bisa mencerna pelajaran secara efektif. Latar belakangnya sebagai pembunuh nomor satu membuatnya menguasai banyak hal.</p>



<p>Jika menengok ke sistem pendidikan kita, rata-rata guru di SMP dan SMA hanya menguasai satu mata pelajaran. Kalaupun bisa lebih dari satu, biasanya masih berkaitan dengan mata pelajaran utama yang ia kuasai.</p>



<p>Hal ini sebenarnya tidak masalah. Guru-guru kita pun ketika kuliah memang hanya mengambil satu konsentrasi untuk bisa menjadi <em>expert </em>di mata pelajaran tersebut.</p>



<p>Hanya saja, metode yang digunakan terkadang kurang efektif. Memang banyak guru kreatif yang menemukan banyak cara agar mata pelajarannya menarik, tapi kebanyakan menggunakan cara konservatif yang kuno dan membosankan.</p>



<p>Di sisi lain, murid pun rata-rata kurang proaktif sehingga belajar di kelas terasa kurang interaktif dan tidak menyenangkan. Belajar di kelas menjadi rutinitas yang membosankan. Ilmu yang didapatkan pun menjadi tidak efektif. </p>



<p>Tidak hanya itu, guru seolah lepas tangan untuk masalah masa depan murid mereka. Pekerjaan yang berkaitan dengan pengembangan murid setelah lulus seolah dibebankan ke guru BK, itu pun jarang dimaksimalkan oleh murid.</p>



<p>Memang hal ini tidak bisa digeneralisir seperti itu, tapi pada umumnya yang terjadi di lapangan seperti itu.</p>



<p>Seandainya kita memiliki guru sehebat Koro sensei, mungkin kita semua bisa mengenali potensi yang ada di dalam diri. Bukan hanya sebagai pengajar, tapi juga sebagai pembimbing murid-muridnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Meskipun secara ide cerita manga ini sangat khayal dan tidak realistis, nyatanya ada nilai-nilai yang bisa dijadikan sebagai bahan renungan kita, terutama untuk dunia pendidikan. Tiga poin yang Penulis sampaikan di atas adalah contohnya.</p>



<p>Ada banyak celah di dunia pendidikan kita yang butuh ditingkatkan lagi agar murid tidak hanya mendapatkan ilmu, tapi juga mampu mengembangkan dirinya menjadi versi terbaiknya. Mungkin, kita bisa belajar hal tersebut melalui manga ini.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 26 Maret 2021, terinspirasi setelah membaca ulang manga <em>Assassination Classroom</em></p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.netflix.com/bd/title/80045948">Netflix</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom/">Sistem Pendidikan Ala Assassination Classroom</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SWI Mengajar 2.0</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar-2-0/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar-2-0/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2020 12:00:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[gen x swi]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[proker]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[SWI Mengajar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4148</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa tulisan, Penulis menyebutkan salah satu passion-nya adalah mengajar. Karena itulah Penulis pernah berburu beasiswa S2 ke luar negeri agar bisa menjadi seorang dosen. Selain itu ketika masih menjadi ketua Karang Taruna, Penulis memiliki program kerja (proker) bernama SWI Mengajar yang namanya memang terinspirasi dari Indonesia Mengajar. Di bawah kepengurusan yang baru, proker ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar-2-0/">SWI Mengajar 2.0</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa tulisan, Penulis menyebutkan salah satu <em>passion-</em>nya adalah mengajar. Karena itulah Penulis pernah <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mengejar-beasiswa-dan-gagal-empat-kali/">berburu beasiswa</a> S2 ke luar negeri agar bisa menjadi seorang dosen.</p>



<p>Selain itu ketika masih menjadi ketua Karang Taruna, Penulis memiliki program kerja (proker) bernama <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/swi-mengajar/"><strong>SWI Mengajar</strong></a> yang namanya memang terinspirasi dari Indonesia Mengajar.</p>



<p>Di bawah kepengurusan yang baru, proker ini sempat terhenti karena beberapa alasan. Nah, mumpung sedang berada di Malang untuk jangka waktu yang belum ditentukan, Penulis mengusulkan <strong>SWI Mengajar 2.0</strong>. Apa itu?</p>



<h3>Konsep SWI Mengajar 2.0</h3>
<div id="attachment_4155" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4155" class="size-large wp-image-4155" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-1.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4155" class="wp-caption-text">SWI Mengajar 1.0</p></div>



<p>Pada SWI Mengajar edisi lama, anggota akan berkumpul di satu tempat untuk <strong>mengerjakan tugasnya masing-masing</strong>. Nanti akan ada anggota yang saling membantu.</p>



<p>Untuk yang tidak memiliki tugas, biasanya Penulis akan <strong>mengajar</strong> <strong>Bahasa Inggris</strong>. Walaupun tidak punya sertifikasi, setidaknya Penulis pernah belajar di Kampung Inggris.</p>



<p>Nah, di SWI Mengajar 2.0 ini konsepnya sedikit berbeda. Anggota tidak lagi membawa tugas sekolahnya, melainkan <strong>mempelajari sesuatu yang tidak diajarkan di sekolah</strong>.</p>



<p>Di sini, anggota divisi internal Karang Taruna akan mengusulkan ide-ide materi. Nanti usulan-usulan ini akan diberikan kepada Penulis (dan satu rekannya) sebagai &#8220;tutor&#8221; agar dipilih untuk menjadi topik minggu ini.</p>



<p>Pelaksanaannya sendiri setiap hari Rabu, dua minggu sekali. Kenapa tidak setiap minggu? Takutnya anggota akan menjadi cepat bosan dan ujung-ujungnya pesertanya menjadi sedikit.</p>



<h3>Materi-Materi yang Sudah Diajarkan</h3>



<p>Sampai saat ini, sudah ada 3 pertemuan SWI Mengajar 2.0, yakni <strong>Public Speaking</strong>, <strong>Microsoft Word dan Penggunaan Font</strong>, serta<strong> Microsoft Excel</strong>.</p>



<p>Jumlah anggota yang ikut pun lumayan banyak, termasuk anggota <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/karang-taruna-junior/">Karang Taruna Junior</a> yang sedang dipersiapkan menjadi anggota penerus kakak-kakaknya.</p>



<p>Selain itu, ada hari spesial di mana Penulis membuat semacam kuis edukasi. Untuk edisi pertama, Penulis mengangkat tema geografi.</p>
<h3>Game Edukasi</h3>
<div id="attachment_4157" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4157" class="size-large wp-image-4157" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-2-1024x538.png" alt="" width="800" height="420" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-2-1024x538.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-2-300x158.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-2-768x403.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-2-390x205.png 390w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-2.png 1200w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4157" class="wp-caption-text">Jimmy Kimmel Live! (via <a href="https://www.boredpanda.com/americans-answer-can-you-name-country-jimmy-kimmel/">Bored Panda</a>)</p></div>



<p>Pemilihan topik ini terinspirasi dari acara talkshownya Jimmy Kimmel, di mana warga Amerika Serikat dipilih secara acak untuk ditunjukkan sebuah peta buta dunia. Mereka harus bisa menunjuk suatu negara secara bebas.</p>



<p>Hasilnya? Banyak di antara mereka yang <strong>gagal menunjukkan satu negara pun!</strong> Tidak ingin ini terjadi kepada adik-adiknya, Penulis pun ingin memberikan edukasi umum terhadap topik ini.</p>



<p>Game dimainkan secara tim dan dibagi menjadi <strong>dua babak</strong>. Tim yang mengumpulkan poin tertinggi akan keluar menjadi pemenang.</p>



<p>Babak pertama adalah <strong>pertanyaan-pertanyaan seputar Geografi</strong> yang dibagi menjadi 3 level, yakni <em>easy</em>, <em>medium</em>, dan <em>hard</em>. Semakin susah, semakin besar nilai yang akan didapatkan.</p>
<div id="attachment_4156" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4156" class="size-large wp-image-4156" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-3-1024x577.jpg" alt="" width="800" height="451" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-3-1024x577.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-3-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-3-768x433.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-3.jpg 1429w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4156" class="wp-caption-text">Tampilan Game Babak Kedua</p></div>



<p>Babak kedua, di layar proyektor akan muncul <strong>25 kotak yang dibagi menjadi 5 kolom</strong>. Setiap kolom mewakili benua yang ada di dunia. Masing-masing kolom juga menunjukkan angka 10, 20, 30, 40, 50.</p>



<p>Di balik kotak tersebut terdapat negara dalam bentuk peta buta beserta pilihan jawabannya. Angka yang ada di kotak menunjukkan tingkat kesulitan. Semakin tinggi, semakin susah.</p>



<p>Tim dengan poin tertinggi di babak pertama berhak memilih duluan secara bebas. Jika bisa menebak dengan benar, tim akan mendapatkan angka yang tertera di kotak. Jika salah, poin tim akan dikurangi 10.</p>
<div id="attachment_4158" style="width: 910px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4158" class="size-full wp-image-4158" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-4.png" alt="" width="900" height="700" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-4.png 900w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-4-300x233.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-4-768x597.png 768w" sizes="(max-width: 900px) 100vw, 900px" /><p id="caption-attachment-4158" class="wp-caption-text">Contoh Bentuk Negara yang Harus Ditebak</p></div>



<p>Karena tim berjumlah 3, maka pertanyaan terakhir (ke-25) menjadi rebutan. Siapapun boleh mempertaruhkan poin yang sudah dikumpulkan. Tim yang mempertaruhkan nilai paling tinggilah yang akan mendapatkan kesempatan untuk menjawab.</p>



<p>Jika benar, poin yang dipertaruhkan akan ditambahkan, sedangkan jika salah poin akan dikurangi. Karena sistem ini, tim yang awalnya berada di peringkat terakhir berhasil memenangkan kuis ini karena keberaniannya mempertaruhkan semua poinnya.</p>
<p>Setelah game, ada semacam selebrasi kecil-kecilan dan masing-masing tim mendapatkan hadiah yang nilainya tidak seberapa. </p>



<h3>Penutup</h3>



<p>Salah satu amal jariyah dalam Islam adalah <strong>ilmu yang bermanfaat</strong>. Karena itulah Penulis sangat senang jika bisa berbagi ilmunya kepada siapapun.</p>



<p>SWI Mengajar 2.0 ini adalah wadah untuk Penulis berbagi ilmunya. Pengemasannya harus menarik agar tidak membosankan. Topik yang dihadirkan pun harus bervariasi.</p>
<p>Selama Penulis di Malang, semoga proker ini bisa terus terlaksana secara rutin dan bisa bermanfaat untuk adik-adik Karang Tarunanya.</p>



<p>&nbsp;</p>



<p>&nbsp;</p>



<p>Lawang, 26 November 2020, terinspirasi dari proker SWI Mengajar 2.0 yang tengah dijalankan</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar-2-0/">SWI Mengajar 2.0</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar-2-0/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-memulihkan-sekolah-memulihkan-manusia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2020 11:28:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Haidar Bagir]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3609</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang yang suka memperhatikan dunia pendidikan, Penulis suka membeli buku-buku yang memiliki keterkaitan dengan topik tersebut. Terakhir, Penulis membeli buku berjudul Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia yang ditulis oleh Haidar Bagir. Penulis membelinya bersamaan dengan novel Guru Aini dan mendapatkan potongan harga. Apa Isi Buku Ini? Buku ini terdiri dari tiga bagian utama, yakni Falsafah Pendidikan, Konsep dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-memulihkan-sekolah-memulihkan-manusia/">Setelah Membaca Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orang yang suka memperhatikan dunia pendidikan, Penulis suka membeli buku-buku yang memiliki keterkaitan dengan topik tersebut.</p>
<p>Terakhir, Penulis membeli buku berjudul <strong><em>Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia </em></strong>yang ditulis oleh <strong>Haidar Bagir</strong>. Penulis membelinya bersamaan dengan novel <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-guru-aini/"><em>Guru Aini</em></a> dan mendapatkan potongan harga.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Buku ini terdiri dari tiga bagian utama, yakni <em><strong>Falsafah Pendidikan</strong>, <strong>Konsep dan Metode Pendidikan</strong>, </em>dan <em><strong>Falsafah Pendidikan Islam</strong>. </em>Masing-masing bagian terdiri dari beberapa esai yang satu lingkup.</p>
<p>Bagian pertama membahas seputar konsep dasar pendidikan. Pada beberapa kesempatan, penulis buku ini menyisipkan kritik terhadap sistem pendidikan yang kita anut.</p>
<p>Yang paling utama adalah tujuan dari pendidikan itu sendiri. Apa tujuan dari para murid harus belajar di sekolah? Mencetak generasi penerus yang berakhlak dan penuh imajinasi atau sekadar mencetak calon karyawan top?</p>
<p>Pendidikan seharusnya mampu melihat potensi masing-masing muridnya, apapun bentuknya. Tidak semua murid memiliki bakat di bidang akademis, ada yang memiliki bakat di bidang seni, olahraga, dan lain sebagainya.</p>
<p>Ironisnya, pendidikan kita sekarang cenderung menyamaratakan muridnya. Contoh, murid dianggap pintar jika mendapatkan nilai 100 pada mata pelajaran matematika. Nilai di atas kertas seolah menjadi satu-satunya tolak ukur siswa.</p>
<p>Selain itu, Haidar juga membahas bagaimana posisi manusia menghadapi saingan terbesarnya di masa depan: <em>Artificial Intelligence </em>(AI). Ada juga bab yang membahas pentingnya menyeimbangkan IQ, EQ, dan SQ pada murid.</p>
<p>Pada bagian kedua, Haidar lebih membahas mengenai sistem pendidikan yang ada di Indonesia termasuk kurikulumnya. Apakah kurikulum yang kita gunakan sekarang sudah tepat ataukah terasa berlebihan?</p>
<p>Ada satu bab khusus yang membandingkan pendidikan Indonesia dengan negara lain yang lebih maju seperti Finlandia dan China. Kita diajak untuk mencari metode pembelajaran yang terbaik, termasuk mempertanyakan kehadiran <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-1/">Ujian Nasional</a>.</p>
<p>Bagian terakhir membahas mengenai dasar-dasar pendidikan Islam di sekolah, termasuk pendidikan akhlak. Di bandingkan dua bagian sebelumnya, bagian ini mendapatkan porsi yang lebih sedikit.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia</h3>
<p>Buku ini berukuran kecil dan harganya cukup murah (30 ribuan), namun isinya sangat berbobot. Penulis tidak bisa memahami buku ini secara keseluruhan karena bahasanya cukup berat dan banyak istilah yang tidak dipahami.</p>
<p>Walaupun begitu, buku ini akan menambahkan banyak wawasan kita seputar dunia pendidikan. Meskipun tidak bisa menangkap semuanya, poin-poin utamanya mampu disampaikan dengan baik.</p>
<p>Seperti yang sudah Penulis singgung di atas, buku ini memiliki banyak sekali kritik terhadap sistem pendidikan kita. Mulai dari kurikulum yang terlalu padat hingga penilaian yang hanya berdasarkan rata-rata nilai, adalah sekelumit permasalahan pendidikan kita.</p>
<p>Apalagi, ada halaman-halaman yang berisikan kalimat kunci dari masing-masing esai untuk memudahkan kita mencari inti dari tulisan. Buku ini Penulis rekomendasikan untuk semua kalangan yang memiliki perhatian terhadap dunia pendidikan.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 Maret 2020, terinspirasi setelah membaca buku <em>Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia </em>karya Haidar Bagir.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-memulihkan-sekolah-memulihkan-manusia/">Setelah Membaca Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8220;Gapyear Dulu Kayaknya Enak&#8221;</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/gapyear-dulu-kayaknya-enak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Feb 2020 11:36:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[etos]]></category>
		<category><![CDATA[etos kerja]]></category>
		<category><![CDATA[gapyear]]></category>
		<category><![CDATA[malas]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[santai]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3477</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis merasa bersyukur karena selepas SMA bisa langsung kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri. Ada beberapa teman Penulis yang harus mengalami masa gapyear terlebih dahulu karena belum diterima di jurusan dan kampus yang diinginkan. Bagi sebagian orang, gapyear adalah sesuatu yang sebisa mungkin dihindari. Kalau sudah lulus sekolah, ya langsung kuliah atau kerja sekalian. Hanya saja, Penulis melihat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gapyear-dulu-kayaknya-enak/">&#8220;Gapyear Dulu Kayaknya Enak&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis merasa bersyukur karena selepas SMA bisa langsung kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri. Ada beberapa teman Penulis yang harus mengalami masa <em>gapyear </em>terlebih dahulu karena belum diterima di jurusan dan kampus yang diinginkan.</p>
<p>Bagi sebagian orang, <em>gapyear </em>adalah sesuatu yang sebisa mungkin dihindari. Kalau sudah lulus sekolah, ya langsung kuliah atau kerja sekalian.</p>
<p>Hanya saja, Penulis melihat adanya fenomena di mana banyak murid yang ingin <em>gapyear </em>bukan karena keadaan, melainkan ingin merasakan bagaimana santainya kehidupan setelah 12 tahun masa sekolah yang berat.</p>
<h3>Mengisi <em>Gapyear </em>dengan Hal Produktif</h3>
<p>Ada beberapa alasan yang mengharuskan seorang murid harus rela &#8220;nganggur&#8221; setelah lulus sekolah. Selain karena belum diterima di tempat yang diinginkan, faktor ekonomi juga bisa jadi penentu.</p>
<p>Jika seperti itu, <em>gapyear </em>memang menjadi tidak terhindarkan. Biasanya, mereka akan menyiapkan diri agar tahun depan bisa kembali mengikuti berbagai tes masuk universitas dengan persiapan yang lebih matang.</p>
<p><em>Gapyear </em>juga dialami mereka yang mengincar masuk ke akademi polisi, militer, dan sejenisnya. Ketatnya persaingan membuat mereka harus tersisih, sehingga mereka kembali menggenjot fisik dan mental untuk tes di tahun berikutnya.</p>
<p>Banyak juga yang memilih untuk langsung bekerja demi mengumpulkan uang, sehingga tahun depan mereka bisa berkuliah dengan uang yang mereka kumpulkan tersebut.</p>
<p>Ada banyak hal produktif lain yang bisa dilakukan, seperti mengikuti berbagai jenis pelatihan atau seminar, banyak belajar hal baru, mendalami hobi atau <em>passion</em>, menjelajahi tempat-tempat baru, dan lain sebagainya.</p>
<p>Sebuah penelitian menyebutkan kalau <em>gapyear </em>bisa memberikan dampak positif, mulai dari mendewasakan diri hingga memiliki banyak waktu untuk melakukan refleksi dan eksplorasi diri.</p>
<p>Seandainya <em>gapyear </em>diisi dengan hal-hal produktif seperti itu, tentu tidak ada masalah sama sekali. Yang menjadi masalah adalah ketika waktu luang tersebut digunakan untuk hal-hal yang kontraproduktif.</p>
<h3>Menyia-nyiakan Waktu di Masa <em>Gapyear</em></h3>
<p>Persaingan kerja di era sekarang cukup keras. Meningkatnya jumlah pengangguran menjadi salah satu bukti bahwa siapa yang tidak memiliki skill akan tersingkir dengan pahit.</p>
<p>Memutuskan untuk <em>gapyear </em>hanya karena ingin santai adalah salah satu hal yang cukup membuat tekanan darah Penulis naik. Satu tahun jelas bukan waktu yang sebentar.</p>
<p>Menganggur mungkin memang terasa sangat nikmat. Tidak ada kewajiban untuk bangun pagi, <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">bisa santai rebahan</a> dan bermain game sepuasnya, tidak lagi dibebani dengan tugas-tugas yang menjemukan, dan lain sebagainya.</p>
<p>Percaya, itu hanya kelihatannya saja. Penulis sudah melakukan wawancara kepada orang-orang yang pernah atau sedang mengalami masa-masa <em>gapyear</em>. Mayoritas mengatakan bahwa menjalani <em>gapyear </em>sama sekali tidak enak.</p>
<p>Kenapa seperti itu? Banyak alasannya, mulai dari merasa bosan karena tidak ada sesuatu yang dikerjakan, mendengarkan cibiran dari orang lain, merasa malu jika bertemu dengan teman yang sudah kuliah, dan lain sebagainya.</p>
<p>Dengan memutuskan untuk <em>gapyear </em>tanpa benar-benar melakukan sesuatu yang berarti merupakan sebuah (maaf) kebodohan. Kita akan dilibas oleh orang-orang yang memiliki etos belajar dan kerja yang lebih tinggi.</p>
<p>Seandainya orangtua kita <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">berlimpah dengan <em>privilege</em></a>, mungkin kita bisa sedikit santai karena mau semalas apapun pasti dibantu. Masalahnya, tidak banyak orang yang mendapatkan hal tersebut.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis kembali menekankan kalau tidak ada yang salah dengan <em>gapyear</em>, selama diisi oleh sesuatu yang bermanfaat dan produktif. Jika hanya diisi dengan bermalas-malasan dan hal konsumtif seperti main game, ya salah.</p>
<p>Seharusnya, manusia lambat laun akan berada di posisi &#8220;<a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mau-kayak-gini-sampai-kapan/">aku sampai kapan ya gini terus</a>&#8221; ketika sedang menganggur. Maka bahaya jika mereka-mereka yang berkeinginan untuk <em>gapyear </em>karena malas tidak merasakan hal tersebut.</p>
<p>Percayalah kalau <em>gapyear </em>itu lebih banyak tidak enaknya jika diisi dengan hal yang sia-sia. Ketika teman-teman sudah merasakan bangku kuliah dan menjalani lembaran hidup baru, kita malah masih berkutat di lubang yang sama.</p>
<p>Dunia ini makin ke sini makin keras. Kalau kita lembek sama diri sendiri, niscaya dunia akan menggilas kita habis-habisan. Tidak ada tempat untuk orang-orang yang terlalu santai (baca: malas) di dunia ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 15 Februari 2020, terinspirasi dari orang-orang yang berkeinginan untuk <em>gapyear </em>hanya karena ingin santai terlebih dahulu.</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@drewcoffman">Drew Coffman</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://www.zenius.net/blog/19372/gap-year">Zenius</a>,</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gapyear-dulu-kayaknya-enak/">&#8220;Gapyear Dulu Kayaknya Enak&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Indonesia Tanpa Ujian Nasional (Bagian 2)</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Jan 2020 16:35:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Finlandia]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[Ujian Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3222</guid>

					<description><![CDATA[<p>Melanjutkan tulisan sebelumnya, kali ini Penulis ingin sedikit berimajinasi bagaimana seandainya Indonesia menerapkan sistem pendidikan yang sama dengan negara-negara maju. Oleh karena itu, mohon maaf apabila ada yang tak sependapat dengan bayangan Penulis yang ada di bawah ini. Seandainya Mata Pelajaran Berkurang Imajinasi ini akan dimulai dengan berkurangnya mata pelajaran dan jam belajar di sekolah. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-2/">Indonesia Tanpa Ujian Nasional (Bagian 2)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Melanjutkan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-1/">tulisan sebelumnya</a>, kali ini Penulis ingin sedikit berimajinasi bagaimana seandainya Indonesia menerapkan sistem pendidikan yang sama dengan negara-negara maju.</p>
<p>Oleh karena itu, mohon maaf apabila ada yang tak sependapat dengan bayangan Penulis yang ada di bawah ini.</p>
<h3>Seandainya Mata Pelajaran Berkurang</h3>
<p><div id="attachment_3266" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3266" class="size-large wp-image-3266" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3266" class="wp-caption-text">Jam Belajar Dikurangi? (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwjBz_6Fvf7mAhWLfH0KHTf7DXQQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.expatica.com%2Fuk%2Feducation%2Fchildren-education%2Fschool-holidays-in-the-uk-214859%2F&amp;psig=AOvVaw3HfkerVRCkhPolBE7Xi5xq&amp;ust=1578932764725974" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjBz_6Fvf7mAhWLfH0KHTf7DXQQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Expatica</span></a>)</p></div></p>
<p>Imajinasi ini akan dimulai dengan berkurangnya mata pelajaran dan jam belajar di sekolah. Kira-kira, apa yang dilakukan oleh siswa Indonesia?</p>
<p>Yang jelas, para siswa bisa fokus untuk memilih pelajaran yang sekiranya akan dibutuhkan ketika sudah lulus nanti, entah untuk melanjutkan studi di universitas ataupun bekerja.</p>
<p>Dengan banyaknya waktu luang, mungkin ada yang memanfaatkannya untuk mengikuti kegiatan ekskul secara lebih maksimal. Mereka merasa memiliki bakat di bidang di luar akademik, sehingga mereka ingin mengasahnya mumpung jam belajarnya lebih sedikit.</p>
<p>Mungkin ada yang memanfaatkannya untuk rebahan di rumah saja. Kalau yang satu ini tentu akan merugikan diri sendiri karena menghambur-hamburkan waktu yang dimiliki.</p>
<p>Pasti tak sedikit yang memanfaatkannya untuk (<em>ehem</em>) memadu kasih dengan pacar tercinta. Selama ini waktu untuk <em>ngedate </em>sangat terbatas, sehingga berkurangnya mata pelajaran bisa menambah waktu untuk melakukan hal tersebut.</p>
<p>Pertanyaannya, mana yang akan lebih dominan? Yang memanfaatkan waktunya untuk hal produktif atau yang hanya bermalasan sambil sesekali main game? Jawabannya Penulis serahkan kepada pembaca.</p>
<h3>Seandainya Mengutamakan Pendidikan Karakter</h3>
<p><div id="attachment_3267" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3267" class="size-large wp-image-3267" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-4-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-4-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-4-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-4-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3267" class="wp-caption-text">Pendidikan Karakter (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.todayonline.com/voices/reinforce-cleaning-habit-consistently-so-it-becomes-norm-students" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwic8bPLvf7mAhVE6nMBHdqzBWEQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">todayonline.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Salah satu kelemahan dari sistem pendidikan kita adalah membuat para murid berfokus pada nilai, bukan ilmu yang akan didapatnya. Tidak hanya itu, pendidikan karakter pun dirasa sangat kurang.</p>
<p>Penulis akan melakukan perbandingan dengan Jepang. Meskipun negara maju, Jepang tidak mengutamakan ilmu pengetahuan. Mereka lebih mengutamakan pendidikan etika dan moral.</p>
<p>Contoh kecilnya adalah bagaimana para siswa diajarkan untuk membersihkan ruang kelasnya sendiri. Zaman penulis sekolah dulu, masih ada yang namanya daftar piket. Entah bagaimana dengan sekarang.</p>
<p>Selain itu, mereka juga sangat dilatih untuk disiplin dan mencintai negara dan budayanya sendiri. Selain itu, para murid juga didorong untuk <a href="https://whathefan.com/animekomik/klub-sekolah-ala-anime/">mengikuti berbagai klub</a> untuk mengembangkan bakat mereka.</p>
<p><div id="attachment_3268" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3268" class="size-large wp-image-3268" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-5-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-5-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-5-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-5-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3268" class="wp-caption-text">Festival Sekolah (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://darrellinjapan.wordpress.com/2008/11/01/274/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwj2ptCYvf7mAhUWdCsKHaO9DTgQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Darrell in Japan &#8211; WordPress.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Ada satu poin yang menarik perhatian Penulis <a href="https://whathefan.com/pengalaman/udah-tua-kok-masih-nonton-anime/">ketika menonton anime</a>. Hampir di semua anime yang bertemakan sekolah, selalu ada yang namanya festival sekolah.</p>
<p>Pada ajang ini, tiap kelas bisa membuat apapun mulai dari kafe hingga rumah hantu. Kalau kebijakan ini diterapkan di sekolah-sekolah Indonesia, kira-kira para siswa akan membuat apa ya?</p>
<p>Berbagai kombinasi tersebut membuat orang-orang Jepang terkenal disiplin, pekerja keras, hormat kepada orang yang lebih tua, walaupun menjadi sedikit kaku.</p>
<p>Pendidikan moral itu terkesan sepele, tapi penting. Penulis sering mengelus dada ketika melihat ada murid yang berani berbuat kurang ajar kepada gurunya. Parahnya, pihak orangtua pun membela anaknya yang jelas-jelas salah.</p>
<p>Bukan berarti di Jepang tidak ada murid bandel. Penulis yakin di Jepang pun masih banyak anak-anak nakal yang suka berbuat onar. Walaupun begitu, rasanya jumlahnya masih kalah dari murid-murid yang bermoral.</p>
<p>Dampaknya negatifnya pun ada, di mana tingkat stres yang sampai memicu bunuh diri di Jepang cukup tinggi. Tapi, kalau terlalu <em>santuy </em>rasanya juga kurang baik.</p>
<h3>Penghapusan Ujian Nasional, Tepat Kah?</h3>
<p><div id="attachment_3270" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3270" class="size-large wp-image-3270" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-6-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-6-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-6-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-6-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-6.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3270" class="wp-caption-text">UN Dihapus (<a class="o5rIVb a-no-hover-decoration irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://dnk.id/artikel/aprilia-kumala/surat-perpisahan-untuk-ujian-nasional-dan-sejarahnya" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjxrartvv7mAhV0xzgGHSnvBscQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">DNK.id</span></a>)</p></div></p>
<p>Salah satu hal yang tak perlu lagi berandai-andai lagi adalah penghapusan Ujian Nasional (UN). Kebijakan ini telah ditetapkan dan akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat.</p>
<p>Negara yang tidak menggunakan UN adalah Finlandia. Mereka menyerahkan sepenuhnya kepada pihak guru dan sekolah untuk melakukan evaluasi kepada muridnya. Di Indonesia, kita masih melihat bagaimana hasilnya nanti.</p>
<p>Ketika Penulis masih sekolah, banyak pendapat yang mengatakan rasanya tidak adil jika tiga tahun sekolah hanya ditentukan dalam tiga hari. Akan tetapi, itu membuat para muridnya termotivasi untuk belajar.</p>
<p>Banyak yang mengkhawatirkan penghapusan (atau pergantian) UN akan membuat siswa menjadi terlalu santai. Ibaratnya, mereka jadi kehilangan target yang selama ini membuat mereka belajar mati-matian hingga harus kursus sepulang sekolah.</p>
<p>Pernyataan ini telah dibantah oleh bapak menteri karena menurutnya UN tidak akan dihapus, melain hanya akan diganti dengan <strong>Asesmen Kompetensi</strong> <strong>Minimum</strong>. Artinya, para siswa akan tetap harus melakukan serangkaian ujian agar bisa lulus sekolah.</p>
<p>Kalau pendapat pribadi, Penulis termasuk yang mendukung hal ini. Apalagi, UN tidak benar-benar dihilangkan, melainkan hanya diganti konsep dan cara penilaiannya. Kelulusan sudah seharusnya bukan menjadi hal yang menakutkan untuk siswa.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Memang rasanya kurang adil jika membandingkan sistem pendidikan kita dengan negara-negara maju. Mereka sudah mampu memeratakan pendidikan di negaranya, sehingga siswa bisa mendapatkan kesempatan yang sama.</p>
<p>Di Indonesia, pemerataan pendidikan masih sangat sulit untuk direalisasikan meskipun upaya-upayanya terus dilakukan. Belum lagi kondisi ekonomi keluarga yang juga turut berperan penting bagi kondisi siswa.</p>
<p>Dengan kata lain, peran semua pihak untuk memajukan sistem pendidikan kita mutlak dibutuhkan. Pemerintah harus mampu menyediakan fasilitas dan kurikulum berkualitas untuk para muridnya secara merata.</p>
<p>Masyarakat pun harus mampu meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. Peran para aktivis pendidikan ataupun orang-orang yang memiliki <em>privilege </em>juga dibutuhkan agar pendidikan bisa dirasakan oleh semua kalangan.</p>
<p>Walaupun begitu, Penulis menyambut positif gebrakan untuk <del>menghapus</del> mengganti Ujian Nasional dari sang menteri. Semoga saja keputusan ini mampu menghasilkan manusia-manusia yang lebih berkualitas dan mampu ikut membangun bangsa ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 12 Januari 2020, terinspirasi setelah munculnya berita terkait penghapusan Ujian Nasional</p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwjh1NH1uf7mAhVryzgGHaw-CAIQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fgogonihon.com%2Fen%2Fblog%2Flearn-about-the-japanese-education-system%2F&amp;psig=AOvVaw2TcPnmYfK3mHwLZpQOjTJX&amp;ust=1578931884135821">Gogonihon</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-2/">Indonesia Tanpa Ujian Nasional (Bagian 2)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Indonesia Tanpa Ujian Nasional (Bagian 1)</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-1/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Dec 2019 12:13:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Finlandia]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Selandia Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Ujian Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3196</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menteri pendidikan kita yang baru, Nadiem Makarim, membuat gebrakan yang cukup membuat gempar masyarakat. Bagaimana tidak, ia memutuskan untuk menghapus Ujian Nasional yang selama ini menjadi momok bagi siswa. Sebagai gantinya, ia menerapkan Asesmen Kompetensi Minimum yang berfokus pada kemampuan nalar murid dalam bidang literasi dan numerik. Siswa yang duduk di kelas 4, 8, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-1/">Indonesia Tanpa Ujian Nasional (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Menteri pendidikan kita yang baru, <strong>Nadiem Makarim</strong>, membuat gebrakan yang cukup membuat gempar masyarakat. Bagaimana tidak, ia memutuskan untuk menghapus <strong>Ujian Nasional</strong> yang selama ini menjadi momok bagi siswa.</p>
<p>Sebagai gantinya, ia menerapkan <strong>Asesmen Kompetensi Minimum</strong> yang berfokus pada kemampuan nalar murid dalam bidang literasi dan numerik. Siswa yang duduk di kelas 4, 8, dan 11 yang akan menghadapi ujian jenis ini.</p>
<p>Apakah ini merupakan langkah yang tepat? Bagaimana sistem pendidikan kita jika dibandingkan dengan negara lain? Apakah Indonesia memang tidak membutuhkan Ujian Nasional?</p>
<h3>Pendidikan di Negara Lain</h3>
<p><div id="attachment_3197" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3197" class="size-large wp-image-3197" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3197" class="wp-caption-text">Pendidikan di Finlandia (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.weforum.org/agenda/2019/02/how-does-finland-s-top-ranking-education-system-work" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi5wZfJl87mAhULSX0KHSJwAg8QjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">World Economic Forum</span></a>)</p></div></p>
<p>Semenjak berkutat dengan <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/swi-mengajar/">Karang Taruna</a>, pendidikan menjadi salah satu isu yang penulis perhatikan. Alasannya jelas, banyak anggota yang masih duduk di bangku sekolah sehingga penulis mengetahui gambaran kasar pendidikan sekarang.</p>
<p>Tidak hanya itu, penulis membaca beberapa buku yang membahas sedikit tentang pendidikan di negara lain. Buku yang sudah penulis baca adalah <strong><em>Strawberry Generation</em></strong> karya Rhenald Khasali dan <em><strong>Teach Like Finland</strong></em> karya Timothy Dale Walker.</p>
<p>Dari buku <em>Strawberry Generation, </em>penulis bisa mengintip bagaimana pendidikan di Selandia Baru<em>. </em>Penulis juga mengetahui sedikit bagaimana Finlandia bisa menjadi negara dengan edukasi nomor satu di dunia.</p>
<p>Setelah membaca kedua buku tersebut, penulis bisa menarik kesimpulan bahwa sistem pendidikan di negara maju sangat berbeda dengan negara berkembang seperti kita.</p>
<p>Menariknya, mata pelajaran yang diajarkan di kedua negara tersebut jauh lebih sedikit dari negara kita. Hanya ada beberapa pelajaran wajib yang harus diambil oleh siswa. Sisanya disesuaikan dengan kebutuhan.</p>
<p>Dengan sedikitnya pelajaran yang diambil, otomatis jam belajar di sekolah pun tidak sepanjang di Indonesia. Artinya, mereka punya banyak waktu untuk mengembangkan diri mereka di luar jalur akademik.</p>
<p>Murid juga dibiasakan untuk berkolaborasi, bukannya saling berkompetisi. Kompetisi tetap ada, tapi pihak sekolah berupaya untuk mendorong agar para muridnya bisa bekerja sama dengan baik.</p>
<p>Selain itu, mereka tidak hanya mengedepankan nilai di atas kertas semata. Kepribadian dan karakter siswa telah dipupuk sejak di bangku dasar. Kalau tidak salah, hal ini juga berlaku di Jepang dan beberapa negara lainnya.</p>
<p>(<em>Catatan Tambahan: Penulis gemar menonton anime yang berlatar belakang sekolah juga agar bisa mengintip bagaimana pendidikan di Jepang)</em></p>
<h3>Sementara Itu di Indonesia&#8230;</h3>
<p><div id="attachment_3198" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3198" class="size-large wp-image-3198" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3198" class="wp-caption-text">Pendidikan di Indonesia (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.lowyinstitute.org/the-interpreter/debate/education-indonesia" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiHgpXdl87mAhWHWX0KHeJzBWMQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Lowy Institute</span></a>)</p></div></p>
<p>Satu masalah utama yang penulis lihat dari sistem pendidikan kita adalah banyaknya mata pelajaran yang harus kita pahami. Entah itu nanti akan berguna atau tidak setelah lulus, tidak masalah.</p>
<p>Zaman penulis masih sekolah dulu, Ujian Nasional mengharuskan kita mengerjakan enam mata pelajaran yang berbeda. Kalau sekarang, murid SMA hanya mengerjakan empat mata pelajaran.</p>
<p>Jam belajar di sekolah pun terlihat sangat padat. Mulai pagi hingga menjelang sore, pulang sekolah masih kursus (apakah cuma di Indonesia yang ada kursus pelajaran?), pulang kursus masih harus mengerjakan tugas dan belajar untuk ulangan.</p>
<p>Kalau seperti itu, murid pun tidak akan punya waktu untuk melakukan aktivitas lain. Mau ikut kegiatan ekskul juga susah cari waktunya, <em>quality time </em>dengan keluarga dan teman juga sulit.</p>
<p>Penulis bisa menulis seperti ini karena melihat sendiri bagaimana adik bungsu penulis harus pulang malam-malam. Memang dia juga menjabat sebagai ketua OSIS sehingga pulangnya pun lebih sering telat.</p>
<p>Selain itu, pemerataan hak pendidikan juga belum terlalu merata. Hal ini bisa dimaklumi mengingat negara kita sangat besar dan terdiri dari negara kepulauan.</p>
<p>Finlandia dan Selandia Baru relatif lebih kecil dari Indonesia, sehingga secara logika lebih mudah bagi pemerintahan sana untuk memeratakan pendidikannya.</p>
<p>Pemerataan identik dengan kompetensi guru dan tersedianya fasilitas di sekolah. Pemerintah berusaha mengatasinya dengan menerapkan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-tentang-sistem-zonasi-sekolah/">sistem zonasi</a> yang cukup kontroversial. Akan tetapi, PR-nya masih jauh dari kata usai.</p>
<p>Masih banyak masalah lain, seperti rendahnya tingkat literasi, kesadaran yang rendah di masyarakat mengenai pentingnya pendidikan, dan lain sebagainya.</p>
<h3>Bagaimana Jika Sistem Pendidikan Indonesia Seperti Negara Lain?</h3>
<p>Penulis sering berandai-andai, bagaimana seandainya Indonesia menerapkan sistem pendidikan seperti negara-negara maju. Apakah hasilnya akan lebih bagus atau malah lebih buruk?</p>
<p>Lantas, apakah dengan mengganti Ujian Nasional menjadi Asesmen Kompetensi Minimum merupakan pilihan yang tepat untuk mengejar ketertinggalan kita dengan negara lain?</p>
<p>Karena tulisan yang satu ini sudah cukup panjang, penulis akan membahasnya di bagian kedua.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 24 Desember 2019, terinspirasi setelah Menteri Pendidikan memutuskan untuk mengganti Ujian Nasional</p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwjx0YaGoc7mAhXDX30KHfJFCIIQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fmediaindonesia.com%2Fread%2Fdetail%2F277406-dpr-ke-nadiem-kebijakan-belum-matang-jangan-buru-buru-diumumkan.html&amp;psig=AOvVaw3XWIAFaod5BS6uvbT-y_on&amp;ust=1577273339024590"><span class="irc_ho" dir="ltr">Media Indonesia</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-1/">Indonesia Tanpa Ujian Nasional (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>It&#8217;s Time to Learn Geography NOW!</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/its-time-to-learn-geography-now/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/its-time-to-learn-geography-now/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Nov 2018 09:00:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Barby]]></category>
		<category><![CDATA[channel]]></category>
		<category><![CDATA[geografi]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[Paul Barbato]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Youtube]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1538</guid>

					<description><![CDATA[<p>Geografi adalah salah satu pelajaran yang penulis favoritkan (jangan dicampur dengan geologi). Sejak kecil, penulis sudah gemar membaca atlas dan mengamati negara-negara yang tersebar di berbagai benua. Oleh karena itu, sewaktu tanpa sengaja oleh Youtube diberi saran untuk menonton channel Geography Now episode Indonesia, penulis langsung menontonnya. Penulis penasaran bagaimana Indonesia di mata orang asing. Apa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/its-time-to-learn-geography-now/">It&#8217;s Time to Learn Geography NOW!</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Geografi adalah salah satu pelajaran yang penulis favoritkan (jangan dicampur dengan geologi). Sejak kecil, penulis sudah gemar membaca atlas dan mengamati negara-negara yang tersebar di berbagai benua.</p>
<p>Oleh karena itu, sewaktu tanpa sengaja oleh Youtube diberi saran untuk menonton <em>channel</em> <strong>Geography Now</strong> episode Indonesia, penulis langsung menontonnya. Penulis penasaran bagaimana Indonesia di mata orang asing.</p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/FsXc3FcWi3g?ecver=1" width="1519" height="514" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe><br />
<strong>Apa Itu Geography Now?</strong></p>
<p><strong>Geography Now</strong> dipandu seseorang yang bernama Paul Barbato atau akrab disapa <strong>Barby</strong>. Ia membuat <em>channel</em> ini karena ingin menjelaskan semua negara sesuai abjad dan telah dimulai sejak tahun 2014.</p>
<p>Terdapat empat sesi pada setiap episodenya, yakni:</p>
<ul>
<li><strong>Political Geographic</strong>, menjelaskan tentang batas-batas teritorial negara</li>
<li><strong>Physical Geographic</strong>, menjelaskan tentang keadaan alamnya</li>
<li><strong>Demographics</strong>, menjelaskan tentang orang-orang yang hidup di dalamnya, dan</li>
<li><strong>Friendzone</strong>, menjelaskan tentang <s>wanita yang hanya menganggap kita teman</s> hubungan diplomatik antar negara</li>
</ul>
<p>Pada episode awal-awal, terdapat satu sesi yakni <strong>dissecting the flag</strong> yang menjelaskan makna bendera tiap negara. Akan tetapi, pada selanjutnya bagian ini dibuatkan video sendiri, yang digabungkan dengan sesi <em>fanmail</em>.</p>
<p>Subscriber <strong>Geography Now </strong>sendiri telah lebih dari satu juta orang, termasuk tinggi untuk kategori pendidikan.</p>
<p><strong>Mengapa Penulis Suka?</strong></p>
<p>Semenjak melihat episode Indonesia, penulis mencoba negara-negara lain yang menarik, seperti Jepang dan Korea Selatan. Setelah itu penulis memutuskan untuk menontonnya urut dari yang terbaru hingga terlama.</p>
<p>Karena seringkali menyinggung episode sebelumnya, penulis mengubah strategi. Penulis memutuskan untuk menonton mulai episode pertama, yakni Afganistan yang kualitasnya waktu itu masih buruk.</p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/ipVw772hCrM?ecver=1" width="1519" height="514" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe><br />
<strong>Barby</strong> menerangkan pelajaran geografi yang seringkali terdengar membosankan menjadi sangat menarik dengan kemampuan berbicara dengan cepatnya. Belum lagi banyaknya unsur komedi yang disisipkan pada tiap episodenya.</p>
<p>Negara yang dibahas oleh <strong>Barby </strong>hanya negara-negara yang diakui oleh PBB, sehingga ketika kita tidak akan menemukan negara seperti Palestina. Akan tetapi, ia berjanji akan membahasnya setelah semua negara A-Z selesai dibahas, ketika episode Zimbabwe selesai tayang.</p>
<p>Penulis telah melihat semua negara yang diulas oleh <strong>Barby</strong>. Sejauh ini, favorit penulis adalah episode Islandia yang sangat lucu karena banyak istilah-istilah yang <em>pronunciation</em>-nya membuat lidah terbelit.</p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/ocE9DNZxPUk?ecver=1" width="1519" height="514" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p>Hingga kini <em>channel</em> <strong>Geography Now</strong> telah mencapai negara Moldova yang terletak di Eropa. Episode selanjutnya, Monaco, akan tayang pada tanggal 31 Oktober 2018.</p>
<p><strong>Stay tuned, stay cool.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 24 Oktober 2018, terinspirasi setelah menonton banyak episode <strong>Geography Now</strong></p>
<p>Foto: <a href="http://youtube.com">youtube.com</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/its-time-to-learn-geography-now/">It&#8217;s Time to Learn Geography NOW!</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/its-time-to-learn-geography-now/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SWI Mengajar</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Jan 2018 18:42:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Day]]></category>
		<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[gen]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Karang]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[swi]]></category>
		<category><![CDATA[taruna]]></category>
		<category><![CDATA[x]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=260</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika dibandingkan dengan Indonesia Mengajar, jelas sangat berbeda, baik lingkup maupun tujuan. Akan tetapi, dengan harapan bisa tertular semangat para pengajar muda yang berada dalam lembaga tersebut, SWI Mengajar kami gagas ketika pembentukan Karang Taruna. Alasan lainnya, kami yakin pendidikan adalah faktor penting dalam pembentukan karakter generasi penerus bangsa. SWI sendiri sebenarnya adalah nama lingkungan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar/">SWI Mengajar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jika dibandingkan dengan Indonesia Mengajar, jelas sangat berbeda, baik lingkup maupun tujuan. Akan tetapi, dengan harapan bisa tertular semangat para pengajar muda yang berada dalam lembaga tersebut, SWI Mengajar kami gagas ketika pembentukan Karang Taruna. Alasan lainnya, kami yakin pendidikan adalah faktor penting dalam pembentukan karakter generasi penerus bangsa.</p>
<p>SWI sendiri sebenarnya adalah nama lingkungan dimana kami tinggal, yang merupakan akronim dari Sumber Wuni Indah. Maka banyak program kerja di Karang Taruna yang diawali dengan SWI untuk menegaskan bahwa program-program ini dilaksanakan di Sumber Wuni Indah. Jika mau lebih lengkap, harusnya ditulis PSWI (Perumahan Sumber Wuni Indah). Namun mungkin karena menghindari anggapan bahwa lingkungan kami ingin dianggap elit, maka kata Perumahan jarang dicantumkan.</p>
<p>Inti dari SWI Mengajar di sini adalah bagaimana anggota Karang Taruna saling membagi ilmunya kepada satu sama lain. Pada awal mulanya, anggota yang sudah duduk di bangku kuliah mengemban tanggung jawab tertinggi untuk mengajar adik-adiknya yang masih sekolah. Hanya saja, setelah banyak yang lulus dan kerja di luar kota, mau tidak mau anggota yang sudah SMA menjadi tumpuan untuk melanjutkan program ini.</p>
<p>Untuk saat ini, proses belajar masih antara anggota Karang Taruna. Ke depannya, kami berharap bahwa program ini juga dapat diikuti oleh adik-adik yang masih di tingkat sekolah dasar. Ini penting, karena adik-adik tersebut suatu saat juga akan menjadi anggota Karang Taruna, sehingga sejak dini kami perlu mengakrabkan diri dengan mereka agar mereka merasa nyaman ketika berkumpul dengan kami.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Selama satu tahun setengah berjalan, tentu banyak kendala yang terjadi dalam melaksanakan SWI Mengajar. Yang paling kentara adalah keaktifan anggota. Sempat beberapa kali program ini vakum di tengah jalan dengan kendala tersebut. Alasan yang paling sering dikemukakan adalah &#8220;lebih senang belajar sendiri&#8221;. Kami akui, ketika proses belajar sedang berlangsung, terselip gurauan-gurauan yang bisa memecah konsentrasi. Oleh karena itu, SWI Mengajar lebih sesuai jika digunakan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, bukan belajar untuk ulangan.</p>
<p>Permasalahan lainnya adalah bagaimana jika anggota yang datang tidak mempunyai PR ataupun pertanyaan yang ingin diajukan. Solusinya, untuk saat ini adalah diadakannya SWI English Day, program kerja lainnya yang dulu pernah mati suri. Dulu, program dengan tujuan melancarkan anggota berbicara dalam bahasa Inggris ini dilaksanakan setiap hari Kamis. Kami harus berbicara bahasa Inggris terhadap sesama anggota, baik ketika bertemu langsung maupun di grup WA. Program ini terhenti karena dirasa memberatkan anggota.</p>
<p>SWI English Day yang diterapkan di SWI Mengajar dibuat lebih sederhana. Kami hanya melatih <em>daily conversation </em>sederhana, sesuatu yang menurut beberapa anggota tidak diajarkan secara rutin di sekolah. Padahal, banyak guru bahasa Inggris saya yang berpendapat bahwa <em>conversation </em>lebih penting daripada <em>grammar</em>. Setelah dua kali uji coba, dapat disimpulkan bahwa anggota hanya kurang percaya diri saja ketika berbicara bahasa Inggris. Untuk masalah <em>vocabulary </em>dan tata letak kalimat, bisa menyusul.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Karena termasuk anggota tua di Karang Taruna, saya sering menempatkan diri sebagai pengajar. Akan tetapi, justru saya yang mendapatkan banyak pelajaran dari program ini.</p>
<p style="text-align: left;">Pertama, program ini menyadarkan salah satu <em>passion </em>saya, yakni membagi ilmu yang saya miliki. Saya menemukan kepuasan apabila penjelasan saya dapat dipahami oleh yang meminta penjelasan.</p>
<p style="text-align: left;">Kedua, saya menjadi terpacu untuk menjadi dosen. Selain mendapatkan amalan yang tak putus, saya bisa mengajak mahasiswa saya untuk berperan aktif di lingkungannya melalui Karang Taruna.</p>
<p>Yang terakhir, saya menyadari kemampuan komunikasi saya dalam menyampaikan informasi masih payah, terutama jika sesuatu yang akan disampaikan tidak dipersiapkan terlebih dahulu alias spontan. Dengan adanya SWI Mengajar, secara perlahan saya bisa melatih dan mengembangkan kemampuan ini agar apa yang saya sampaikan dapat diterima oleh yang mendengar.</p>
<p>Bukankah itu inti dari komunikasi?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 27 Januari 2018, setelah bermain FIFA 18 bersama Ekky dan Abil</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar/">SWI Mengajar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
