<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>perjalanan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/perjalanan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/perjalanan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 04 Jan 2024 08:25:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>perjalanan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/perjalanan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Artikel Ini Ditulis di Atas Kereta Api Sembrani</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/artikel-ini-ditulis-di-atas-kereta-api-sembrani/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/artikel-ini-ditulis-di-atas-kereta-api-sembrani/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Jan 2024 08:24:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kereta api]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6997</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang menulis artikel ini, Penulis sedang dalam perjalanan menuju Jakarta menggunakan Kereta Api Sembrani. Ini adalah kali pertama Penulis menaiki kereta eksekutif, bukan Ekonomi seperti biasanya. Hitung-hitung buat tambah pengalaman. Penulis berangkat dari Stasiun Pasar Turi, Surabaya, dan akan berhenti di Stasiun Jatinegara, Jakarta. Berbeda dengan kelas Ekonomi yang membutuhkan waktu tempuh belasan jam, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/artikel-ini-ditulis-di-atas-kereta-api-sembrani/">Artikel Ini Ditulis di Atas Kereta Api Sembrani</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang menulis artikel ini, Penulis sedang dalam perjalanan menuju Jakarta menggunakan Kereta Api Sembrani. Ini adalah kali pertama Penulis menaiki kereta eksekutif, bukan Ekonomi seperti biasanya. Hitung-hitung buat tambah pengalaman.</p>



<p>Penulis berangkat dari Stasiun Pasar Turi, Surabaya, dan akan berhenti di Stasiun Jatinegara, Jakarta. Berbeda dengan kelas Ekonomi yang membutuhkan waktu tempuh belasan jam, perjalanan kali ini hanya membutuhkan waktu sekitar 8 jam saja.</p>



<p><a href="https://whathefan.com/pengalaman/saya-berlibur-ke-jakarta-selama-5-hari-bagian-1/">Perjalanan ke Jakarta</a> kali ini dalam rangka mengikuti acara <em>staycation </em>dari kantor yang akan berlangsung besok (5/1) sampai Minggu (7/1). Berhubung semua anggota tim bisa mengikuti acara ini, tentu sayang jika Penulis sampai<em> </em>tidak ikut.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa-banner.jpg 1280w " alt="Belajar Menulis Fiksi Pada Di Balik Tirai Aroma Karsa" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa/">Belajar Menulis Fiksi Pada Di Balik Tirai Aroma Karsa</a></div></div></div><p></p>


<p>Nah, daripada bengong atau main HP, Penulis memutuskan untuk menulis sebuah artikel. Jujur saja, waktu membuka WordPress ini, Penulis belum terpikirkan akan menulis apa. Biar saja mengalir begitu saja, sehingga Penulis minta maaf jika pembahasannya<em> ngalor-ngidul</em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Naik Kereta Api?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/01/artikel-di-atas-kereta-api-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7001" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/01/artikel-di-atas-kereta-api-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/01/artikel-di-atas-kereta-api-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/01/artikel-di-atas-kereta-api-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/01/artikel-di-atas-kereta-api-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Dalam <a href="https://whathefan.com/pengalaman/saya-berlibur-ke-jakarta-selama-5-hari-bagian-2/">perjalanan ke Jakarta pada awal tahun 2023 silam</a>, Penulis memutuskan untuk naik pesawat terbaik, baik perjalanan pergi maupun pulangnya. Alasannya sederhana, karena Penulis hanya sebentar di Jakarta, jadi biar lebih efisien waktunya.</p>



<p>Nah, kalau yang edisi kali ini, bisa dibilang Penulis lebih longgar waktunya karena akan menginap di kos adik (yang dulu merupakan kos Penulis juga sewaktu masih berdomisili di Jakarta). Jadi, waktu menumpangnya bisa dibilang tidak terbatas.</p>



<p>Harga tiket pesawat juga masih sangat mahal karena tembus satu juta rupiah lebih. Hal ini dimaklumi, mengingat sekarang masih momen pergantian tahun. Mau naik bus, <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mudik-pertama-dan-mengapa-saya-tidak-akan-naik-bus-lagi/">Penulis malah ada sedikit trauma karena kisah yang dulu pernah Penulis bagikan</a>.</p>



<p>Selain itu, pada dasarnya Penulis memang cenderung memilih kereta jika memiliki waktu yang cukup longgar. Entah mengapa Penulis sangat menikmati perjalanan di atas kereta api meskipun memakan waktu berjam-jam.</p>



<p>Jika dibandingkan dengan bus, &#8220;suguhan&#8221; pemandangan yang diberikan kereta api memang terkesan monoton karena didominasi oleh area persawahan dan sesekali perkampungan. Hanya beberapa kali ada <em>view </em>yang menarik, seperti pantai dan PLTU Batang.</p>



<p>Hal agak minus lainnya dari naik kereta api adalah tidak adanya makan gratis seperti ketika kita naik bus. Jika lapar, kita harus membeli makanan yang dijual oleh pihak kereta. Sejujurnya, makanan kereta api cukup mahal dan kurang enak!</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Bisa Dilakukan Ketika Naik Kereta Api?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/01/artikel-di-atas-kereta-api-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7002" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/01/artikel-di-atas-kereta-api-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/01/artikel-di-atas-kereta-api-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/01/artikel-di-atas-kereta-api-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/01/artikel-di-atas-kereta-api-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Berhubung perjalanan menggunakan kereta api cukup memakan waktu, tentu kita harus pandai mencari aktivitas agar tidak merasa bosan. Penulis ingin berbagi sedikit tentang aktivitas apa saja yang biasanya dilakukan ketika naik kereta.</p>



<p>Pertama,<strong> menikmati pemandangan sembari melamun</strong>. Entah mengapa rasanya melamun di pinggir jendela kereta api itu <em>feel</em>-nya beda. Rasanya lebih khidmat begitu. Bagi Penulis, aktivitas ini bisa memberikan efek tenang yang lumayan.</p>



<p>Sesekali Penulis juga mengeluarkan ponselnya untuk mengabadikan momen menarik yang ditemukan di perjalanan. Hanya saja, karena laju kereta cukup kencang, maka terkadang akan terasa sulit untuk bisa menangkap momen tersebut, apalagi jika kamera ponselnya kentang.</p>



<p>Kedua, <strong>baca buku</strong>. Sudah menjadi kebiasaan Penulis untuk membawa buku ke mana-mana jika sedang menggunakan transportasi umum, termasuk kereta api. Apalagi, di atas kereta api guncangannya relatif kecil sehingga tidak akan membuat pusing kepala.</p>



<p>Pada perjalanan kali ini, Penulis membawa dua buku, yaitu <em>Meditations</em> dari Marcus Aurelius dan <em>Namaku Alam </em>dari <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-laut-bercerita/">Leila S. Chudori</a>. Penulis memutuskan untuk membaca <em>Meditations </em>dulu, tetapi hanya sanggup beberapa halaman karena sedang sulit fokus untuk membaca.</p>



<p>Ketiga,<strong> menulis artikel atau mencatan isi pikiran</strong>. Ini adalah aktivitas yang sedang Penulis lakukan sekarang. Menulis dengan suasana yang benar-benar baru dari rutinitas memicu otak untuk bisa mengeluarkan ide-ide segar untuk dituangkan. </p>



<p>Tidak hanya itu, Penulis juga pernah memanfaatkan waktu perjalanannya di atas kereta api untuk mencatat apapun yang sedang ada di pikirannya. Jika sedang <em>overthinking</em> atau banyak hal yang sedang dipikirkan, Penulis menuliskannya semua untuk meredakannya. </p>



<p>Keempat, dan yang paling tidak direkomendasikan, adalah <strong>main HP</strong>. Aktivitas ini sebenarnya bisa dilakukan di mana saja, sehingga rasanya tidak perlu dilakukan untuk momen-momen yang jarang seperti ketika kita naik transportasi umum.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Yup, ternyata artikel ini jadi semacam artikel <em>behind the story </em>mengapa Penulis suka naik kereta api dan rekomendasi aktivitas yang bisa dilakukan. Itu semua benar-benar tidak direncanakan, mengalir begitu saja ketika jari Penulis menari-nari di atas <em>keyboard </em>tabletnya.</p>



<p>Hal ini juga menjadi bukti bahwa terkadang yang penting mulai aja dulu, tidak perlu menunggu semuanya matang dan sempurna. Terkadang inspirasi dan ide akan datang begitu kita sudah mengambil langkah pertama.</p>



<p>Yang jelas, Penulis merasa senang karena bisa berbagai tentang kereta api, salah satu transportasi umum yang digemari. Semoga saja tulisan ini bisa mendorong Pembaca yang belum pernah naik kereta api untuk mau mencoba menaikinya.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Di Atas Kereta Api Sembrani, 4 Januari 2024, terinspirasi karena ingin menulis sesuatu dalam perjalanannya menuju Jakarta</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/artikel-ini-ditulis-di-atas-kereta-api-sembrani/">Artikel Ini Ditulis di Atas Kereta Api Sembrani</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/artikel-ini-ditulis-di-atas-kereta-api-sembrani/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saya di Tahun 2019 (Bagian 2)</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/saya-di-tahun-2019-bagian-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Jan 2020 04:29:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[2019]]></category>
		<category><![CDATA[2020]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[resolusi]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3236</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tulisan ini melanjutnya tulisan sebelumnya tentang apa saja yang Penulis lakukan pada tahun 2019 kemarin. Di bagian penutup, Penulis akan menuliskan kesimpulan dan apa saja yang harus dibenahi pada tahun 2020 ini. Agustus- September Pada awal bulan Agustus, Penulis memutuskan untuk menggunakan cuti untuk pulang ke Malang karena bertepatan dengan Idul Adha dan acara Agustusan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/saya-di-tahun-2019-bagian-2/">Saya di Tahun 2019 (Bagian 2)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini melanjutnya tulisan sebelumnya tentang apa saja yang Penulis lakukan pada tahun 2019 kemarin. Di bagian penutup, Penulis akan menuliskan kesimpulan dan apa saja yang harus dibenahi pada tahun 2020 ini.</p>
<h3>Agustus- September</h3>
<p>Pada awal bulan Agustus, Penulis memutuskan untuk menggunakan cuti untuk pulang ke Malang karena bertepatan dengan Idul Adha dan acara Agustusan. Di tempat tinggal Penulis, <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/">Karang Taruna selalu meriah dalam membuat acara</a>.</p>
<p>Berbeda dengan pulang pada bulan Februari kemarin, kali ini Penulis berhasil membuat kejutan dan mengagetkan para anggota Karang Taruna. Hasilnya, penulis pun <em>digambyor </em>air seember ketika baru datang.</p>
<p>Penulis berkesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana para penerus organisasi pemuda ini membuat acara. Hasilnya ternyata melebihi ekspetasi. Mungkin karena belajar dari pengalaman tahun 2018 kemarin.</p>
<p>Ketika akan pulang, penulis kembali <em>digambyor</em> air, Alhasil, datang basah, pulang juga basah. Bahkan, mereka semua ikut mengantar kepergian Penulis ke bandara. Hal ini tentu membuat Penulis merasa bahagia.</p>
<p>Setelah kembali mengisi energi, rutinitas pun kembali menghampiri Penulis. Bedanya, kali ini Penulis kembali fokus menulis karena kantor telah mendapatkan karyawan media sosial yang baru.</p>
<p>Akhir Agustus, Penulis dan teman-teman kantor <a href="https://whathefan.com/musikfilm/setelah-menonton-gundala/">menonton film superhero lokal, Gundala</a>. Komentar yang muncul beragam. Bagi Penulis pribadi yang bukan merupakan penggemar film, Gundala sudah oke sebagai pembuka film-film superhero selanjutnya.</p>
<p>Di awal bulan September, Karang Taruna berulang tahun yang ketiga. Seperti biasa, akan ada acara bakar-bakar untuk merayakannya. Karena tidak bisa hadir, Penulis pun memutuskan untuk membuat sebuah video tentang mereka.</p>
<p>Oh iya, biasanya ketika acara Agustusan telah selesai, akan ada <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/pembubaran-panitia-agustusan/">acara pembubaran panitia</a>. Biasanya ke pantai, mengingat itu yang paling gampang dan murah.</p>
<p>Agar tidak sedih karena tidak bisa ikut, Penulis memutuskan untuk kabur ke rumah teman di Tangerang. Kalau sendirian di kos, pasti Penulis akan galau seharian.</p>
<p>Apalagi, ada beberapa teman kantor yang <em>resign </em>sehingga semakin banyak kesedihan yang datang menghampiri. Tak apalah, sesekali akhir bulan ditutup dengan nuansa sendu.</p>
<h3>Oktober-Desember</h3>
<p>Awal bulan Oktober diawali dengan <a href="https://whathefan.com/musikfilm/setelah-menonton-joker/">menonton film Joker</a>. Kala itu, Penulis memutuskan untuk menonton sendirian karena sudah tidak sabar. Hasilnya, film tersebut berhasil membuat Penulis sedikit depresi.</p>
<p>Apalagi, Penulis masih dirundung kesedihan karena berbagai hal yang terjadi di bulan sebelumnya, sehingga berbagai pikiran negatif datang menghampiri Penulis. Untunglah, masa-masa tersebut telah lewat.</p>
<p>Di bulan ini Penulis juga bertemu dengan novel-novel karya Leila S. Chudori seperti <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-nadira/"><em>Nadira</em></a>, <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang/"><em>Pulang</em></a>, dan <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-laut-bercerita/"><em>Laut Bercerita</em></a>. Penulis jatuh cinta kepada semua novelnya.</p>
<p>Salah seorang teman kantor yang sudah <em>resign </em>membuka usaha bakso di Bogor, dekat dengan rumahnya. Sebagai bentuk dukungan, Penulis dan teman-teman kantor lainnya memutuskan untuk datang berkunjung ke sana pada awal bulan November.</p>
<p>Setelah itu, rutinitas kantor pun terulang kembali di bulan-bulan berikutnya. Pada awal Desember, eyang Penulis jatuh sakit hingga masuk ke rumah sakit. Karena kebetulan sedang libur, Penulis pun datang menjenguknya.</p>
<p>Penulis berencana untuk kembali pulang setelah Natal, sehingga bulan Desember disibukkan dengan menyicil artikel hingga blog sempat terbengkalai.</p>
<p>Menjelang kepulangan, ada kabar duka dari sahabat yang sudah Penulis anggap sebagai saudara sendiri. Ayahnya meninggal dunia karena sakit yang cukup mendadak.</p>
<p>Kepulangan ini pun menjadi terasa pas. Apalagi, rumah Penulis yang sedang direnovasi sudah akan selesai sehingga barang-barangnya harus mulai dikembalikan dari rumah kontrak.</p>
<p>Sebelum kembali ke Jakarta, Penulis sempat menyelenggarakan acara bakar-bakar dalam rangka syukuran rumah. Momen-momen seperti ini selalu bisa mengisi ulang semangat Penulis ketika merantau.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Tahun 2020 dibuka dengan tanggung jawab baru penulis di tempat kerja. Tantangan baru telah menanti. Bagi penulis, ini adalah kesempatan untuk mempelajari hal baru dan mengembangkan diri.</p>
<p>Untuk pribadi Penulis sendiri, ada banyak catatan-catatan yang harus dibenahi pada tahun 2020 ini berdasarkan refleksi yang telah dilakukan.</p>
<p>Dua hal utama yang menjadi poin utama adalah disiplin dalam rekapitulasi data (ini merupakan sebuah istilah untuk kegiatan mencatat agenda dan keuangan harian) dan menulis blog tanpa bolong. Dua hal ini sering Penulis lalaikan di tahun 2019 kemarin.</p>
<p>Selain itu, Penulis juga harus bisa mengatasi <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">perasaan takut sendirian</a> dan mulai <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mencintai-diri-sendiri/">mencintai diri sendiri</a> dengan lebih layak. Penulis harus bisa hidup lebih bahagia dan menikmati hari ini sebagaimana mestinya.</p>
<p>Penulis juga harus bisa menjaga kesehatan lebih baik lagi. Jangan sampai Penulis sering jatuh sakit seperti tahun kemarin. Apalagi, Penulis sudah tidak merangkap jabatan lagi.</p>
<p>Tahun kemarin, Penulis berhasil menamatkan puluhan buku. Raihan tersebut ingin Penulis ulang di tahun ini. Penulis juga berhasil menamatkan novel <a href="https://whathefan.com/category/distopia-bagi-kia/">Distopia Bagi Kia</a>. Semoga tahun ini novel <a href="https://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-2/">Leon dan Kenji Buku 2</a> bisa segera menyusul.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 11 Januari 2020, terinsprasi dari momen pergantian tahun</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/saya-di-tahun-2019-bagian-2/">Saya di Tahun 2019 (Bagian 2)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saya di Tahun 2019 (Bagian 1)</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/saya-di-tahun-2019-bagian-1/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Jan 2020 04:06:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[2019]]></category>
		<category><![CDATA[2020]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[resolusi]]></category>
		<category><![CDATA[tahun]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3231</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tahun 2019 kemarin terasa istimewa karena untuk pertama kalinya selama satu tahun Penulis tidak berada di rumah untuk jangka waktu yang panjang. Biasanya di awal tahun, Penulis akan membuat resolusi tahunan yang harus dicapai. Tapi jika dipikir-pikir lagi, sepertinya lebih baik jika Penulis menengok ke tahun kemarin untuk melihat apa saja yang telah dilakukan. Oleh [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/saya-di-tahun-2019-bagian-1/">Saya di Tahun 2019 (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun 2019 kemarin terasa istimewa karena untuk pertama kalinya selama satu tahun Penulis tidak berada di rumah untuk jangka waktu yang panjang.</p>
<p>Biasanya di awal tahun, Penulis akan membuat resolusi tahunan yang harus dicapai. Tapi jika dipikir-pikir lagi, sepertinya lebih baik jika Penulis menengok ke tahun kemarin untuk melihat apa saja yang telah dilakukan.</p>
<p>Oleh karena itu, tulisan ini akan menjadi refleksi Penulis sepanjang tahun 2019 kemarin yang baru saja ditinggalkan.</p>
<h3>Januari-Februari 2019</h3>
<p>Awal tahun 2019 kemarin dibuka dengan kunjungan keluarga Penulis ke Jakarta. Momen kumpul seperti itu sudah termasuk langka, mengingat Penulis harus bekerja di Jakarta dan adik masih menyelesaikan studinya di Bogor.</p>
<p>Lantas, ada beberapa teman kantor yang memutuskan untuk <em>resign. </em>Seperti biasa, kami menyelenggarakan acara perpisahan kecil-kecilan untuk melepas mereka.</p>
<p>Penulis juga berkesempatan untuk merasakan sensasi menonton IMAX 3D ketika <em>screening </em>film <a href="https://whathefan.com/musikfilm/setelah-menonton-how-to-train-your-dragon-the-hidden-world/"><em>How to Train Your Dragon: The Hidden World</em></a>. Film animasi ini menjadi salah satu favorit penulis sepanjang masa.</p>
<p>Setelah itu, bulan Januari dan Februari berjalan dengan rutinitas yang seperti biasa. Di kantor, ada seorang konsultan yang membantu kami untuk meningkatkan kualitas situs. Seorang wanita yang sangat <em>badass</em>, Penulis benar-benar <em>respect </em>kepadanya.</p>
<p>Pada akhir bulan Februari, Penulis menghabiskan jatah cuti untuk pulang ke rumah. Tidak lama, hanya sekitar lima hari saja. Walaupun begitu, itu sudah cukup untuk mengisi kembali semangat menjalani rutinitas harian dan bertemu dengan bulan baru.</p>
<p>Ketika pulang, penulis berencana untuk membuat kejutan untuk anak-anak Karang Taruna. Sayang, karena <em>story </em>adik rencana tersebut bocor duluan.</p>
<h3>Maret-April</h3>
<p>Awal bulan Maret diawali dengan acara <em>outing </em>kantor ke Bandung, tepatnya ke Trizara Resorts. Bandung selalu punya tempat di hati penulis walau hanya baru <a href="https://whathefan.com/pengalaman/satu-minggu-di-bandung-bagian-1/">beberapa kali mampir ke sana</a>. Mungkin, karena suasana Bandung mirip dengan Malang.</p>
<p>Pulang dari Bandung, penulis nekat untuk <a href="https://whathefan.com/buku/bacaan-untuk-anakku-kelak/">datang ke acara </a><em><a href="https://whathefan.com/buku/bacaan-untuk-anakku-kelak/">Big Bad Wolf</a> </em>di Tangerang bersama adik. Hasrat untuk belanja buku memang paling susah untuk dihindari.</p>
<p>Mungkin karena terlalu banyak aktivitas, untuk pertama kalinya selama di Jakarta Penulis memeriksakan diri untuk pergi ke dokter karena sakit. Sewaktu diperiksa, ternyata ada gejala tipes.</p>
<p>Yang membuat Penulis terkejut adalah tagihannya yang mencapai angka Rp950 ribu! Untunglah pihak kantor bisa memberikan ganti hingga 50%, sehingga tidak terlalu menguras kantong.</p>
<p>Bulan April berjalan seperti biasa hingga pada tanggal 24 April 2019, Penulis <a href="https://whathefan.com/musikfilm/setelah-menonton-avengers-endgame-bagian-1-adegan-favorit/">menonton film <em>Avengers: Endgame</em></a> bersama teman kantor jam lima pagi di hari kerja! Hal ini wajar, mengingat penulis telah lama menanti film ini.</p>
<p>Pada akhir bulan April, penulis juga merayakan ulang tahun yang ke-25 bersama teman-teman kantor lain yang juga berulang tahun di bulan April. Bahkan, tanggalnya saling berdekatan.</p>
<p>Sayangnya, kegembiraan tersebut harus diiringi sebuah kabar buruk ketika salah satu teman terdekat Penulis di kantor sedang sakit yang cukup parah, dan berdampak besar bagi kehidupan penulis dan kantor.</p>
<h3>Mei-Juli</h3>
<p>Teman kantor penulis yang sakit merupakan manajer bagian media sosial. Penulis sering berdiskusi masalah pekerjaan dengannya sehingga mengetahui bagaimana <em>flow </em>kerjanya.</p>
<p>Oleh karena itu, penulis yang mulai bulan November 2018 mengelola Instagram diserahi tanggung jawab untuk mengelola kanal media sosial lainnya seperti Facebook dan Twitter. Rangkap pekerjaan ini berlangsung hingga bulan Agustus.</p>
<p>Pada bulan Mei, penulis menjalani ibadah puasa pertamanya di kota orang. Ternyata, sahur dan buka puasa sendirian itu tidak enak. Penulis sering sekali melewatkan waktu sahur sehingga berat badan pun lumayan turun.</p>
<p>Momen puasa ini juga penulis manfaatkan untuk bertemu dengan teman-teman lama seperti para alumnus Pare yang sudah lama tak berjumpa. Lumayan, untuk nostalgia dan mendapatkan berbagai inspirasi.</p>
<p>Tahun ini juga merupakan tahun pertama bagi Penulis untuk merasakan yang namanya mudik. Karena kehabisan tiket kereta api dan tiket pesawat cukup mahal, <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mudik-pertama-dan-mengapa-saya-tidak-akan-naik-bus-lagi/">Penulis pun menggunakan bus</a>. Keputusan tersebut Penulis sesali dan tidak akan mengulanginya lagi.</p>
<p>Penulis juga bertemu dengan teman-teman kuliah yang sudah lama tak berjumpa. Menjaga silahturami itu penting, terutama jika sudah dipisahkan oleh jarak. Setelah itu, rutinitas pun kembali terulang hingga bulan-bulan selanjutnya.</p>
<p><em><strong>Bersambung ke Bagian 2&#8230;</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 11 Januari 2020, terinspirasi dari momen pergantian tahun</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/saya-di-tahun-2019-bagian-1/">Saya di Tahun 2019 (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Mudik Pertama (dan Mengapa Saya Tidak Akan Naik Bus Lagi)</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mudik-pertama-dan-mengapa-saya-tidak-akan-naik-bus-lagi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Jul 2019 04:04:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[bus]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>
		<category><![CDATA[pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[sopir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2492</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tahun ini merupakan kali pertama bagi penulis untuk melakukan mudik dari Jakarta ke Malang. Karena belum pengalaman, penulis kehabisan tiket kereta api pada bulan April, sedangkan tiket pesawat sedang mahal-mahalnya. Oleh karena itu, penulis memutuskan untuk pulang kampung menggunakan bus. Awalnya ingin membeli tiket melalui aplikasi RedBus, namun diurungkan karena lebih memilih di Traveloka. Setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mudik-pertama-dan-mengapa-saya-tidak-akan-naik-bus-lagi/">Pengalaman Mudik Pertama (dan Mengapa Saya Tidak Akan Naik Bus Lagi)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun ini merupakan kali pertama bagi penulis untuk melakukan mudik dari Jakarta ke Malang. Karena belum pengalaman, penulis kehabisan tiket kereta api pada bulan April, sedangkan tiket pesawat sedang mahal-mahalnya.</p>
<p>Oleh karena itu, penulis memutuskan untuk pulang kampung menggunakan bus. Awalnya ingin membeli tiket melalui aplikasi RedBus, namun diurungkan karena lebih memilih di Traveloka.</p>
<p>Setelah mencari-cari tiket yang sesuai, penulis membeli tiket bus <strong>Pahala Kencana </strong>kelas eksekutif seharga Rp550 ribu rupiah untuk sekali perjalanan. Jika dihitung pulang pergi, total uang yang dikeluarkan adalah Rp1.1 juta.</p>
<h3>Ketika Mudik ke Malang</h3>
<p>Ketika waktu untuk mudik telah tiba, tepatnya pada tanggal 30 Mei 2019, penulis akhirnya berangkat dari kos menuju <strong>terminal Kalideres </strong>menggunakan TransJakarta. Penulis memang membeli tiket untuk berangkat dari sana karena lokasinya relatif dekat.</p>
<p>Di bayangan penulis, terminal Kalideres ini sebagus <strong>terminal Bungurasih</strong> yang ada di Surabaya. Minimal, sebagus <strong>terminal Arjosari</strong> di Malang. Sayang, ekspetasi penulis terlalu tinggi.</p>
<p>Terminal tersebut ternyata cukup kecil dan disesaki oleh calon penumpang dari berbagai daerah dengan beragam tujuan. Penulis baru merasakan pengalaman di terminal yang seramai ini.</p>
<p>Setelah bertanya ke sana ke mari, akhirnya penulis menemukan loket Pahala Kencana dengan petugasnya sama sekali tidak ramah. Penulis diberitahu bahwa busnya akan datang sore hari.</p>
<p>Memang penulis datang terlalu cepat. Di tiket, busnya tertulis akan berangkat pada pukul 13:50, di mana penulis sudah tiba pukul 11:30. Artinya, penulis harus menunggu kurang lebih 2 jam di tengah kerumunan orang.</p>
<p>Karena penuh sesak, tidak ada tempat yang bisa penulis gunakan untuk duduk, sehingga kurang lebih 4 jam penulis berdiri dan terkadang jongkok ketika merasa pegal. Busnya sendiri baru datang sekitar pukul 15:30.</p>
<p>Sepanjang perjalanan, penulis mengisi waktu dengan membaca buku dan bermain game. Sesekali, penulis bahkan menulis ide untuk novel penulis yang berjudul <a href="https://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-2/">Leon dan Kenji</a>.</p>
<p>Yang menyebalkan, bus sempat mogok selama 2 jam ketika berada di Subang. Untungnya, setelah mogok itu perjalanan relatif lancar. Penulis menyentuh Malang sekitar pukul 13:00 siang keesokan harinya.</p>
<p>Perjalanan mudik pertama ini benar-benar menguji kesabaran penulis. Akan tetapi, perjalanan balik ke Jakarta sungguh lebih menguras kesabaran dan tenaga.</p>
<h3>Ketika Balik ke Jakarta</h3>
<p>Sekitar tiga hari setelah lebaran, penulis harus segera balik ke Jakarta karena Senin sudah kembali bekerja. Sebenarnya masih rindu dengan suasana rumah, tapi ya sudahlah.</p>
<p>Di tiket, tertera keterangan bahwa bus akan berangkat dari <em>poll</em> yang berada di dekat rumah. Keberangkatan sekitar jam dua siang. Meskipun dekat, orang satu rumah pada ikut mengantar.</p>
<p>Penulis datang setengah jam lebih cepat walaupun punya pengalaman buruk ketika berangkat kemarin. Benar saja, pengalaman buruk tersebut terulang kembali dengan durasi yang lebih panjang.</p>
<p>Bayangkan, dari jadwal jam 2, busnya baru datang sekitar jam 7 malam! Alasan kondekturnya adalah macet yang luar biasa. Okelah, tapi terlambat 6 jam itu menurut penulis sudah termasuk keterlaluan.</p>
<p>Apalagi, di <em>poll </em>tersebut tidak ada ruang tunggunya, sehingga penulis dan keluarga harus menunggu di pinggir jalan. Penulis sih tidak masalah, tapi melihat orang tua dan kakek penulis menunggu seperti itu membuat penulis tidak enak hati.</p>
<p>Beberapa kali penulis meminta mereka untuk pulang terlebih dahulu, tapi selalu ditolak dan berkata tidak apa-apa. Kelak, ketika penulis telah menjadi orang tua, penulis akan memahami sikap mereka ini.</p>
<p>Adakah yang lebih buruk? Ada, bus yang satu ini juga sempat mogok di tengah jalan! Hanya saja, mogoknya terjadi ketika dini hari, sehingga penulis tidak terlalu memusingkan hal tersebut.</p>
<p>Dari jadwal tiba di Jakarta jam 8 pagi, penulis baru sampai di terminal Kalideres sekitar pukul 16:00. Setelah melanjutkan perjalanan dengan menggunakan TransJakarta, penulis bisa beristirahat setelah perjalanan yang melelahkan.</p>
<h3>Semua Ada Hikmahnya</h3>
<p>Penulis selalu meyakini idiom <em>every cloud has a silver lining</em>. Semua peristiwa selalu memiliki hikmahnya tersendiri, termasuk perjalanan mudik pertama dengan menggunakan bus ini.</p>
<p>Setidaknya, penulis bisa merasakan bagaimana susahnya pemudik yang menggunakan bus. Selama ini, penulis lebih sering berpergian dengan menggunakan kereta api atau pesawat terbang, sehingga pengalaman ini benar-benar berharga.</p>
<p>Mungkin penulis telah bersikap egois karena gusar dengan pelayanan Pahala Kencana. Akan tetapi, ketika melihat pak sopir dan kondekturnya yang sudah berjuang keras, penulis jadi merasa iba dengan mereka.</p>
<p>Di saat yang lain sedang pulang kampung, mereka harus mengantar orang lain pulang kampung. Belum lagi menerima komplain dari penumpang yang terlambat dijemput.</p>
<p>Belum lagi ketika bus harus mogok sehingga mereka harus menguras otak dan otot untuk kembali memperbaikinya. Ini bukan salah mereka, mungkin salah manajemennya.</p>
<p>Pelajaran lain yang penulis dapatkan adalah jangan menumpang bus lagi untuk perjalanan jarak jauh. Penulis merasa pengalaman yang satu ini sudah cukup memberi banyak pelajaran, dan penulis tidak ingin mengulang mata pelajaran tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 13 Juli 2019, terinspirasi dari perjalanan mudik pertama kemarin dengan menggunakan bus.</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.traveloka.com/tiket-bus-travel/pahala-kencana" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjAmurJgbHjAhXFpY8KHWphCvUQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Traveloka.com</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mudik-pertama-dan-mengapa-saya-tidak-akan-naik-bus-lagi/">Pengalaman Mudik Pertama (dan Mengapa Saya Tidak Akan Naik Bus Lagi)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Satu Minggu di Bandung (Bagian 1)</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/satu-minggu-di-bandung-bagian-1/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/satu-minggu-di-bandung-bagian-1/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Oct 2018 08:00:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[liburan]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[toko buku]]></category>
		<category><![CDATA[traveling]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1472</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selepas tugas sebagai volunteer di Asian Games, penulis memutuskan untuk berlibur. Penulis hanya punya satu tujuan: Bandung. Alasannya, penulis baru sekali ke kota tersebut. Itupun terjadi pada tahun 2015 ketika magang. Padahal, banyak tempat di Bandung yang menarik untuk dijelajahi. 5 September 2018: Jejak Langkah Pertama Untunglah penulis memiliki teman yang sedang melanjutkan studi di Bandung, sehingga penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/satu-minggu-di-bandung-bagian-1/">Satu Minggu di Bandung (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Selepas tugas sebagai <em>volunteer </em>di Asian Games, penulis memutuskan untuk berlibur. Penulis hanya punya satu tujuan: Bandung. Alasannya, penulis baru sekali ke kota tersebut. Itupun terjadi pada tahun 2015 ketika magang. Padahal, banyak tempat di Bandung yang menarik untuk dijelajahi.</p>
<p><strong>5 September 2018: Jejak Langkah Pertama</strong></p>
<p>Untunglah penulis memiliki teman yang sedang melanjutkan studi di Bandung, sehingga penulis bisa menumpang di kosnya. Namanya Bayu, kami kenal di Pare dan sempat satu kamar kos. Maka, pada tanggal 5 September 2018, penulis berangkat dari Stasiun Gambir menuju Bandung.</p>
<p>Penulis tiba di Bandung pukul enam petang. Bayu meminta bertemu di masjid Salman ITB. Sempat tersasar karena masuk ke area yang salah, akhirnya penulis menemukan masjid yang dimaksud dan bertemu dengan Bayu.</p>
<p><div id="attachment_1473" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1473" class="size-large wp-image-1473" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-31-1024x498.jpg" alt="" width="1024" height="498" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-31-1024x498.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-31-300x146.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-31-768x373.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-31-356x173.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-31.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1473" class="wp-caption-text">Penulis dan Bayu</p></div></p>
<p>Setelah menaruh barang di kos (malam itu juga merupakan malam pertama Bayu tinggal di kos barunya), kami berdua mencari makan malam. Pilihan kamu jatuh pada Steak Ranjang yang terletak dekat dengan kos. Entah apa alasan pemilik usaha memilih istilah ranjang.</p>
<p>Keesokan harinya, penulis memulai petualangannya di Bandung. Destinasi pertama, apalagi kalau bukan toko buku. Yang lebih membuat penulis semangat, ada Togamas di Bandung. Dua toko pula.</p>
<p><strong>6 September 2018: Berburu Buku di Bandung</strong></p>
<p>Menggunakan ojek online, penulis menuju Togamas Supratman dan membeli tiga buku:</p>
<ul>
<li>Jazz, Perfume, &amp; Insiden (Seno Gumira Ajidarma)</li>
<li>The Castle in the Pyrenee (Jostein Gaarder)</li>
<li>Seni Hidup Minimalis (Francine Jay)</li>
</ul>
<p>Setelah itu, penulis menuju toko buku lainnya, Bandung Book Center (BBC) yang terletak di daerah Palasari. Toko bukunya cukup besar dan terdapat beberapa buku yang tidak terdapat di toko buku yang pernah penulis kunjungi. Tidak ada buku yang penulis beli pada toko ini.</p>
<p>Di seberang toko buku ini, terdapat pusat buku bekas yang mirip dengan kawasan Wilis, Malang. Penulis pun menelusuri tempat tersebut sembari berharap menemukan komik Donal Bebek bekas edisi jadul. Sayang, tidak ada yang menjualnya.</p>
<p>Ketika masuk lebih dalam, penulis menemukan BBC lagi. Ternyata di kawasan tersebut terdapat dua toko yang sama, hanya saja toko kedua ini nampaknya lebih berfokus pada buku-buku bekas. Walaupun tempatnya menarik dan <em>photoable</em>, tidak ada buku yang penulis beli.</p>
<p><div id="attachment_1474" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1474" class="size-large wp-image-1474" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-27-1024x498.jpg" alt="" width="1024" height="498" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-27-1024x498.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-27-300x146.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-27-768x373.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-27-356x173.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-27.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1474" class="wp-caption-text">Bandung Book Center</p></div></p>
<p>Penulis melanjutkan perjalanan ke Togamas Parahyangan dengan berjalan kaki setelah makan siang di salah satu warung yang terletak di pinggir jalan. Di sinilah terjadi kekhilafan yang luar biasa karena Togamas tersebut sedang mengobral buku-bukunya. Parahnya, banyak buku bagus yang membuat penulis membeli delapan buku sekaligus:</p>
<ul>
<li>The Fault in Our Stars (20.000)</li>
<li>Menjadi Guru Inspiratif (15.000)</li>
<li>&#8216;Izrail Bilang, Ini Hari Terakhirku (15.000)</li>
<li>God, Please Help Me (20.000)</li>
<li>Anies (25.000)</li>
<li>Meraih Derajat Ahli Ibadah (15.000)</li>
<li>Menyikap Hakikat Pernikahan (15.000)</li>
<li>Jejak Mata Pyongyang (15.000)</li>
</ul>
<p>Daftar ini masih bertambah karena sewaktu memasuki bangunan utama, penulis kembali membeli lagi dua buku:</p>
<ul>
<li>Wahid Hasyim (Tempo)</li>
<li>Hit Refresh (Satya Nadella)</li>
</ul>
<p>Artinya, pada hari itu penulis telah membeli 13 buku. Penulis cukup kesulitan membawa buku-buku tersebut dalam perjalanan kembali ke kos Bayu.</p>
<p><div id="attachment_1475" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1475" class="size-large wp-image-1475" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-24-1024x498.jpg" alt="" width="1024" height="498" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-24-1024x498.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-24-300x146.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-24-768x373.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-24-356x173.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-24.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1475" class="wp-caption-text">Togamas Parahyangan</p></div></p>
<p>Malamnya, setelah makan di Sambal Lalap yang terletak di seberang Steak Ranjang, kami bersiap menuju Jatinangor. Seperti yang penulis bilang, Bayu yang merupakan lulusan Universitas Padjajaran baru pindah dari Jatinangor ke Bandung, sehingga barang-barangnya masih banyak yang di kos lamanya.</p>
<p>Penulis menawakan bantuan untuk membantunya pindahan, hitung-hitung sebagai tanda terima kasih karena telah memberikan tempat bermalam selama beberapa hari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 12 Oktober 2018, terinspirasi setelah liburan ke Bandung</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/satu-minggu-di-bandung-bagian-1/">Satu Minggu di Bandung (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/satu-minggu-di-bandung-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
