Setelah Menonton Gundala

Sebagai penggemar superhero, penulis langsung menonton film Gundala ketika hari perdananya tayang, bersama teman-teman kantor seusai menyelesaikan kewajiban pekerjaannya.

Salah satu hal yang membuat film ini membuat penulis merasa antusias adalah karena formatnya yang akan mirip dengan Marvel Cinamatic Universe. Bedanya, Gundala berada di Jagad Sinema Bumilangit.

Sebelum lanjut, SPOILER ALERT!

Jalan Cerita Gundala

Sancaka merupakan seorang anak yang harus hidup seorang diri di jalanan setelah kematian ayahnya dan kepergian ibunya entah ke mana. Di tengah kerasnya kehidupan, ia bertemu Awang (nanti menjadi Godam) yang melatihnya bela diri.

Suatu hari, Awang ingin berpindah ke sebuah daerah yang disebut Tenggara. Sayang, Sancaka tidak bisa mengejar kereta dan akhirnya kembali sebatang kara. Setelah beranjak dewasa, ia menjadi petugas keamanan di salah satu penerbit koran.

Sancaka dan Awang (Viva)

Di sisi lain, terdapat seorang mafia bernama Pengkor. Bisa dibilang, hampir semua orang yang duduk di kursi parlemen adalah berkat bantuannya. Pengkor sering dipanggil dengan nama Bapak.

Pengkor, yang juga merupakan anak yatim piatu, memiliki rencana jahat untuk meracuni persediaan beras nasional yang telah disuntik serum berbahaya. Serum tersebut mampu merusak moral janin yang ada di dalam kandungan ibu hamil.

Pengkor (Good News For Indonesia)

Kembali ke Sancaka. Ia bertemu dengan tetangganya yang bernama Wulan (nanti harusnya menjadi Merpati). Sancaka membantu Wulan untuk berhadapan dengan beberapa preman pasar. Ajaibnya, ia berhasil mengalahkan 30 preman sendirian.

Wulan pun meminta bantuan agar Sancaka membantunya melindungi pasar, yang ditolaknya karena merasa dirinya kebetulan bisa menghabisi para preman sendirian. Akibat penolakannya ini, pasar pun ludes terbakar.

Kejadian ini menyadarkan Sancaka untuk mulai bertarung membela kebenaran. Dibantu oleh Wulan dan beberapa orang lainnya, ia pun mulai belajar mengendalikan kekuatan petirnya dan membuat kostum. Sancaka telah menjadi simbol harapan.

Kekuatan Sancaka (Cianjur Today)

Ketika mencari informasi terkait pembakaran, Sancaka mengetahui bahwa pelaku pembakaran adalah seorang pemain biola terkenal, Adi Sulaiman.

Setelah pertarungan singkat, Adi tewas tertabrak bus. Sebelumnya, Adi mengatakan bahwa dirinya merupakan salah satu anak dari Pengkor.

Kematian Adi membuat Pengkor memutuskan untuk melepaskan anak-anaknya yang tersebar di segala penjuru negeri. Anak-anak ini telah dilatih oleh Pengkor untuk menjadi pembunuh profesional.

Di sisi lain, antiserum untuk menetralisir serum di beras telah selesai dan siap didistribusikan. Akan tetapi, salah satu anggota parlemen bernama Ridwan Bahri menemukan fakta bahwa justru antiserum itulah yang berbahaya.

Sancaka Melawan Anak-Anak Bapak (The Verge)

Sancaka berhasil diberitahu oleh Ridwan untuk menghentikan distribusi serum, namun dicegat oleh anak-anak Pengkor. Setelah pertarungan yang berat sebelah, Sancaka berhasil mengalahkan mereka semua.

Ketika Pengkor hendak menyerang Sancaka dari belakang, Ridwan muncul dan menembak mati Pengkor. Anak-anak Pengkor sendiri menuruti perkataan Pengkor untuk pergi dari sana. Setelah Pengkor tewas, Sancaka berusaha mengejar mobil yang membawa antiserum.

Rencananya, ia akan menggunakan salah satu sampel antiserum dan menggunakannya untuk memecahkan botol antiserum lain yang tersebar di seluruh kota.

Sempat kesulitan, muncul wanita misterius (Sri Asih, diperankan oleh Pevita Pearce) yang membantu Sancaka untuk menghentikan mobil tersebut. Sancaka pun berhasil memecahkan semua botol serum.

Sri Asih (Liputan 6)

Di tengah huru-hara ini, rekan Pengkor bernama Ghani Zulham alias Ghazul sedang membongkar sebuah makam kuno yang terkubur di sebuah museum kota.

Menggunakan darah Sancaka, ia berhasil membangkitkan Ki Wilawuk, seorang iblis kuat yang berasal dari zaman kuno. Ia memerintahkan Ghazul untuk mengumpulkan tentara karena perang besar akan datang!

Kesan Setelah Menonton Gundala

Penulis menyaksikan film ini bersama teman-teman kantor sepulang kerja. Komentar yang diberikan pun berbeda-beda, mulai yang menghujat hingga yang memberikan apresiasi tinggi.

Di mata penulis sendiri, film ini sudah lumayan sebagai pembukaan dari Jagad Sinema Bumilangit. Akan tetapi, memberinya rating 10 dari 10 juga terlalu berlebihan. Bahkan, ada yang beranggapan Gundala adalah film terjelek yang pernah dibuat oleh Joko Anwar.

Gundala (Cultura Indonesia)

Kehadiran Marvel Cinematic Universe penulis anggap memiliki andil besar dalam perilisan film ini dan film-film yang akan datang selanjutnya. Kehadirannya memberikan dampak terhadap perfilman Indonesia.

Alur cerita Gundala sendiri kurang lebih sama seperti film superhero pada umumnya, di mana tokoh utama mendapatkan motivasi menjadi pembela kebenaran setelah mengalami sebuah peristiwa.

Kata teman penulis, adegan action dari film ini kurang terasa greget jika dibandingkan dengan film action Indonesia lain seperti The Raid. Karena tidak pernah menonton film-film yang disebutkan, penulis tidak bisa melakukan pembandingan.

Mungkin salah satu hal yang membuat penonton merasa gregetan adalah ketika Sancaka berhadapan dengan semua anak-anak Pengkor.

Alih-alih menyerangnya secara bersamaan, mereka bergiliran menyerang Sancaka. Yang sedang tidak bertarung terlihat seperti karakter game yang hendak dipilih sebelum bermain.

Akan tetapi, jika penulis berusaha mengingat-ingat, film sekelas The Dark Knight atau film-film Marvel saja masih seperti itu, sehingga penulis memaklumi hal ini.

CGI-nya Oke? (Beritagar)

Omong-omong soal anak-anak Bapak, teman-teman penulis sedikit kebingungan dengan semboyan yatim harus bersatu. Apakah motivasi mereka menjadi seorang pembunuh kelas kakap karena mereka merasa menderita sebagai anak yatim?

CGI-nya sendiri cukup oke, meskipun adegan ketika Sancaka dibuang dari atap bangunan sedikit menggelikan. Penulis berharap untuk film-film selanjutnya, penerapan CGI-nya bisa lebih rapi lagi.

Pesan moralnya juga tidak ada yang baru, sama dengan film superhero yang sudah pernah kita tonton. Film ini juga memberikan sindiran halus tentang bobroknya anggota sistem pemerintahan kita sekarang.

Bagian yang paling mengejutkan, setidaknya bagi penulis, adalah ketika Sujiwo Tejo ikut mengambil peran di film ini sebagai Ki Wilawuk! Penulis tentu menantikan bagaimana sang dalang edan akan beradu akting dengan para aktor muda.

Kehadiran Pevita Pearce di tengah-tengah dan post-credit film juga memberikan efek kejut yang lumayan. Mau tidak mau, kita akan dibuat penasaran dengan film Sri Asih yang dijadwalkan rilis pada tahun 2020 mendatang.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, penulis akan berusaha untuk mengikuti semua film-film yang ada di semesta Bumilangit ini. Sudah ada pihak yang berusaha untuk menghidupkan kembali superhero Indonesia, dan penulis belajar untuk menghargai hal tersebut.

 

NB: Sebenarnya masih banyak yang ingin penulis tuliskan tentang film ini, hanya saja tertunda berminggu-minggu membuat penulis lupa apa yang ingin ditulis.

 

 

 

Kebayoran Lama, 21 September 2019, terinspirasi setelah menonton film Gundala

Foto: The Jakarta Post