Connect with us

Pengalaman

Saya di Tahun 2019 (Bagian 1)

Published

on

Tahun 2019 kemarin terasa istimewa karena untuk pertama kalinya selama satu tahun Penulis tidak berada di rumah untuk jangka waktu yang panjang.

Biasanya di awal tahun, Penulis akan membuat resolusi tahunan yang harus dicapai. Tapi jika dipikir-pikir lagi, sepertinya lebih baik jika Penulis menengok ke tahun kemarin untuk melihat apa saja yang telah dilakukan.

Oleh karena itu, tulisan ini akan menjadi refleksi Penulis sepanjang tahun 2019 kemarin yang baru saja ditinggalkan.

Januari-Februari 2019

Awal tahun 2019 kemarin dibuka dengan kunjungan keluarga Penulis ke Jakarta. Momen kumpul seperti itu sudah termasuk langka, mengingat Penulis harus bekerja di Jakarta dan adik masih menyelesaikan studinya di Bogor.

Lantas, ada beberapa teman kantor yang memutuskan untuk resign. Seperti biasa, kami menyelenggarakan acara perpisahan kecil-kecilan untuk melepas mereka.

Penulis juga berkesempatan untuk merasakan sensasi menonton IMAX 3D ketika screening film How to Train Your Dragon: The Hidden World. Film animasi ini menjadi salah satu favorit penulis sepanjang masa.

Setelah itu, bulan Januari dan Februari berjalan dengan rutinitas yang seperti biasa. Di kantor, ada seorang konsultan yang membantu kami untuk meningkatkan kualitas situs. Seorang wanita yang sangat badass, Penulis benar-benar respect kepadanya.

Pada akhir bulan Februari, Penulis menghabiskan jatah cuti untuk pulang ke rumah. Tidak lama, hanya sekitar lima hari saja. Walaupun begitu, itu sudah cukup untuk mengisi kembali semangat menjalani rutinitas harian dan bertemu dengan bulan baru.

Ketika pulang, penulis berencana untuk membuat kejutan untuk anak-anak Karang Taruna. Sayang, karena story adik rencana tersebut bocor duluan.

Maret-April

Awal bulan Maret diawali dengan acara outing kantor ke Bandung, tepatnya ke Trizara Resorts. Bandung selalu punya tempat di hati penulis walau hanya baru beberapa kali mampir ke sana. Mungkin, karena suasana Bandung mirip dengan Malang.

Pulang dari Bandung, penulis nekat untuk datang ke acara Big Bad Wolf di Tangerang bersama adik. Hasrat untuk belanja buku memang paling susah untuk dihindari.

Mungkin karena terlalu banyak aktivitas, untuk pertama kalinya selama di Jakarta Penulis memeriksakan diri untuk pergi ke dokter karena sakit. Sewaktu diperiksa, ternyata ada gejala tipes.

Yang membuat Penulis terkejut adalah tagihannya yang mencapai angka Rp950 ribu! Untunglah pihak kantor bisa memberikan ganti hingga 50%, sehingga tidak terlalu menguras kantong.

Bulan April berjalan seperti biasa hingga pada tanggal 24 April 2019, Penulis menonton film Avengers: Endgame bersama teman kantor jam lima pagi di hari kerja! Hal ini wajar, mengingat penulis telah lama menanti film ini.

Pada akhir bulan April, penulis juga merayakan ulang tahun yang ke-25 bersama teman-teman kantor lain yang juga berulang tahun di bulan April. Bahkan, tanggalnya saling berdekatan.

Sayangnya, kegembiraan tersebut harus diiringi sebuah kabar buruk ketika salah satu teman terdekat Penulis di kantor sedang sakit yang cukup parah, dan berdampak besar bagi kehidupan penulis dan kantor.

Mei-Juli

Teman kantor penulis yang sakit merupakan manajer bagian media sosial. Penulis sering berdiskusi masalah pekerjaan dengannya sehingga mengetahui bagaimana flow kerjanya.

Oleh karena itu, penulis yang mulai bulan November 2018 mengelola Instagram diserahi tanggung jawab untuk mengelola kanal media sosial lainnya seperti Facebook dan Twitter. Rangkap pekerjaan ini berlangsung hingga bulan Agustus.

Pada bulan Mei, penulis menjalani ibadah puasa pertamanya di kota orang. Ternyata, sahur dan buka puasa sendirian itu tidak enak. Penulis sering sekali melewatkan waktu sahur sehingga berat badan pun lumayan turun.

Momen puasa ini juga penulis manfaatkan untuk bertemu dengan teman-teman lama seperti para alumnus Pare yang sudah lama tak berjumpa. Lumayan, untuk nostalgia dan mendapatkan berbagai inspirasi.

Tahun ini juga merupakan tahun pertama bagi Penulis untuk merasakan yang namanya mudik. Karena kehabisan tiket kereta api dan tiket pesawat cukup mahal, Penulis pun menggunakan bus. Keputusan tersebut Penulis sesali dan tidak akan mengulanginya lagi.

Penulis juga bertemu dengan teman-teman kuliah yang sudah lama tak berjumpa. Menjaga silahturami itu penting, terutama jika sudah dipisahkan oleh jarak. Setelah itu, rutinitas pun kembali terulang hingga bulan-bulan selanjutnya.

Bersambung ke Bagian 2…

 

 

Kebayoran Lama, 11 Januari 2020, terinspirasi dari momen pergantian tahun

Pengalaman

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Merantau ke Jakarta

Published

on

Mungkin jika dibandingkan dengan orang lain, pengalaman merantau Penulis tidak terlalu banyak. Setelah 4 bulan merantau di Kampung Inggris, Kediri, Penulis sempat merantau ke Jakarta selama kurang lebih 2 tahun.

Jakarta memang telah lama menjadi destinasi Penulis yang sejak kecil bercita-cita untuk bekerja di kota besar. Oleh karena itu, Penulis “nekad” untuk merantau ke sana ketika sedang mencari pekerjaan dan alhamdulillah datang.

Walaupun hanya sebentar, tentu ada pengalaman pribadi Penulis yang bisa dibagikan untuk para Pembaca yang mungkin baru akan merantau ke Jakarta. Pada tulisan kali ini, Penulis ingin sedikit berbagai mengenai apa yang perlu dipersiapkan sebelum merantau ke Jakarta.

Mempersiapkan Barang yang akan Dibawa ke Jakarta

Pilih Barang Bawaan dengan Bijak (Foto oleh OVAN)

Berdasarkan pengalaman Penulis, pastikan hanya membawa barang yang penting-penting saja ketika merantau. Hal ini untuk memudahkan mobilitas kita di Jakarta, terutama jika kita akan berpindah tempat tinggal.

Kalau Penulis sendiri, dulu membawa satu tas ransel untuk laptop dan barang-barang penting lainnya, serta satu koper untuk pakaian-pakaian. Barang yang sekiranya bisa dibeli di Jakarta, sebaiknya ditinggal di rumah.

Barang yang menurut Penulis wajib dibawa adalah pakaian, alat mandi, alat sholat, obat-obatan, ponsel beserta aksesorisnya, dan laptop jika ada. Tentu saja dompet beserta kartu-kartunya juga wajib dibawa.

Sewaktu di Jakarta, Penulis membeli cukup banyak barang seperti rak, hanger, toples, setrika, magic jar, dan lain-lain. Alhasil, sewaktu meninggalkan Jakarta, Penulis harus dijemput menggunakan mobil karena barangnya menjadi sangat banyak.

Menentukan di Mana Kita akan Tinggal di Jakarta

Mau Pilih Tinggal di Mana? (Foto oleh Tom Fisk)

Awal dari Penulis merantau ke Jakarta adalah karena menjadi volunteer Asian Games 2018. Karena ditempatkan di Bekasi, Penulis pun ngekos di sana selama satu bulan. Setelah itu, Penulis tinggal sementara di rumah tante di daerah Grogol, sebelum akhirnya kos sendiri.

Nah, penentuan tempat tinggal ini menjadi salah satu hal yang perlu disiapkan sebelum merantau. Pilih tempat yang dekat dengan tujuan kita merantau untuk menghemat biaya akomodasi selama merantau.

Selain itu, kita juga harus memastikan kalau tempat tersebut dekat dengan berbagai tempat seperti tempat makan, laundry, apotek, sarana transportasi umum, tempat ibadah, dan lain sebagainya.

Sewaktu kos di daerah Kebayoran Lama, Penulis sangat bersyukur karena mendapatkan tempat yang dekat dengan segala macam, bahkan termasuk mal. Jika butuh apa-apa, Penulis tinggal berjalan kaki dan tidak perlu mengeluarkan uang untuk transportasi.

Memahami Alur Transportasi di Jakarta

Awalnya Memang Terlihat Mengerikan (Wikipedia)

Sebagai anak rantau, transportasi umum jelas menjadi senjata utama ketika akan berpergian mengelilingi Jakarta. Apalagi, Jakarta juga memiliki banyak pilihan transportasi umum yang relatif terjangkau dan bisa menjangkau hampir semua lokasi strategis.

Masalahnya, alur transportasi Jakarta bisa terlihat “mengerikan” bagi pendatang, baik itu TransJakarta (TJ) maupun Kereta Rel Listrik (KRL). Untuk memahami peta rutenya, kita perlu memahami nama-nama daerah di Jakarta yang ada di peta rutenya.

Sederhananya, satu rute pasti memiliki warna yang sama. Jika tempat tujuan kita tidak dilewati oleh warna tersebut, artinya kita perlu transit dan berpindah rute. Tempat transit biasanya memiliki lambang khusus atau dilewati oleh beberapa warna.

Jangan segan bertanya ke petugas untuk memastikan halte/lajur yang kita ambil benar, mereka pasti dengan senang hati akan membantu kita. Selain itu, pastikan untuk memiliki e-money karena semua transportasi Jakarta menggunakan kartu ini.

Kalau mau cara yang praktis, memang bisa naik ojek atau taksi online. Namun, biaya yang dikeluarkan akan membengkak dan kita pun jadi harus merasakan bagaimana macet dan panasnya Jakarta.

Mengetahui Bagaimana Mengelola Keuangan di Jakarta

Harus Pandai Berhemat (Foto oleh Ahsanjaya)

Biaya hidup di Jakarta jelas lebih tinggi dibandingkan di daerah. Oleh karena itu, kita harus benar-benar bijak dalam mengelola keuangan kita. Gaji pertama Penulis di Jakarta hanyalah 4 juta, dan itu cukup untuk sebulan, bahkan masih bisa disisihkan.

Salah satu “sumber” utama yang menguras uang adalah makanan. Jangan terlalu sering membeli makanan yang mahal, termasuk ngopi di kafe elit. Penulis merasa tertolong dengan adanya warteg di mana-mana, karena dengan 7 ribu saja sudah bisa kenyang.

Jika punya waktu (dan tidak malas), lebih baik mencuci baju sendiri dibandingkan laundry yang biayanya sekitar 8 ribu per kg. Penulis sendiri selama di Jakarta benar-benar tergantung laundry karena pada dasarnya malas mencuci.

Seperti yang sudah Penulis singgung di atas, murah dan lengkapnya transportasi umum di Jakarta juga sangat memudahkan Penulis untuk menghemat uang. Sebisa mungkin, hindari naik ojek/taksi karena biayanya lebih mahal.

Untuk barang-barang komplementer, sebisa mungkin jangan beli jika tidak kepepet. Jakarta memiliki banyak mal, sehingga godaan untuk belanja jelas sangat tinggi. Untuk itu, kita harus pandai menahan godaan belanja tersebut.

Merencanakan Eksplorasi Jakarta Sejauh Mungkin

Destinasi Wajib Dikunjungi (JawaPos)

Ketika sudah berhemat dan masih ada sisa uang, Penulis sarankan digunakan untuk eksplorasi Jakarta! Ada banyak tempat menarik yang wajib dikunjungi di Jakarta, seperti kawasan Kota Tua, berbagai museum, mal untuk cuci mata, dan lain sebagainya.

Penulis bahkan pernah dengan sengaja naik TJ untuk literally keliling Jakarta. Selama perjalanan, Penulis mengamati apa saja yang terlintas. Melakukan eksplorasi seperti ini juga membantu kita bisa nyambung ketika ngobrol dengan teman-teman Jakarta.

Bahkan setelah 2 tahun di sana, masih ada banyak tempat menarik yang belum sempat Penulis kunjungi. Salah satu cita-citanya yang belum tercapai adalah mengunjungi Sea World untuk melihat ikan-ikan.

Mencari Kawan Baru, Tetap Terkoneksi dengan Kawan Lama

Cari Teman Baru Sebanyak Mungkin (Foto oleh Kampus Production)

Agar kerasan di Jakarta, tentu kita membutuhkan kawan-kawan baru. Penulis sangat merasa bersyukur karena selama di Jakarta, Penulis menemukan banyak teman yang satu frekuensi di kantor dan masih tetap terhubung hingga sekarang.

Selama masih positif, kita juga perlu untuk ikut segala kegiatan bersama kawan-kawan baru tersebut. Ini juga bisa menjadi kesempatan untuk bisa eksplor Jakarta lebih luas dan jauh lagi. Kita juga jadi bisa belajar culture Jakarta lebih baik lagi.

Selain itu, kita juga harus tetap terkoneksi dengan kawan-kawan lama dan keluarga melalui berbagai aplikasi yang ada di ponsel. Jujur, ini menjadi hal yang sangat membantu Penulis ketika merasa kangen rumah dan kesepian.

EKSTRA: Menjaga Prinsip Selama Hidup di Jakarta

Penulis Cuma Ikut Lihat, Tidak Ikut Minum (Foto oleh Kampus Production)

Sebagai orang yang baru merantau, jelas ada banyak culture shock ketika Penulis di Jakarta. Botol anggur merah (amer) dan vodka di meja kerja seolah menjadi hal yang biasa. Jam makan siang digunakan untuk wik-wik di kos pacar juga dianggap lumrah.

Tanpa bermaksud judgemental, hal-hal semacam itu bertentangan dengan prinsip hidup Penulis. Untuk itu, menjaga prinsip hidup selama di Jakarta juga menjadi hal yang sangat penting agar kita bisa bertahan hidup di Jakarta.

Jika tidak bisa menjaga prinsipnya, mungkin Penulis akan dengan mudahnya “terjerumus”. Mong, tempat pijat++ tinggal menyeberang dari tempat kos Penulis. Mong, tempat jualan berbagai minuman keras Penulis lewati setiap pulang kantor.

Penulis juga merasa bersyukur karena tidak dijerumuskan oleh teman-temannya, malah dirinya merasa “dilindungi” karena mereka mampu menghargai prinsip hidup Penulis. Kami saling menghargai keputusan satu sama lain.

***

Kurang lebih seperti itulah yang butuh dipersiapkan sebelum merantau ke Jakarta. Penulis sendiri masih menyimpan harap kalau suatu saat bisa kembali merantau ke ibu kota, walaupun tidak dalam waktu dekat.

Semoga tulisan ini bisa membantu para Pembaca sekalian yang memang berencana atau sudah merantau ke Jakarta. Jika ada yang ingin didiskusikan lebih lanjut, feel free untuk menghubungi Penulis.


Lawang, 22 Agustus 2023, terinspirasi untukmu

Foto Featured Image: Dids

Continue Reading

Pengalaman

Saya Berlibur ke Jakarta Selama 5 Hari (Bagian 1)

Published

on

Semenjak meninggalkan Jakarta pada bulan Oktober 2021, Penulis belum pernah ke Jakarta lagi karena memang tidak ada urgensi yang mewajibkan kembali. Apalagi, pekerjaan Penulis yang sekarang masih Work from Home (WFH).

Banyak teman Penulis di Jakarta yang kerap menanyakan “Kapan ke Jakarta, Fan?”, sehingga muncul keinginan untuk ke Jakarta demi bisa bertemu dengan mereka. Namun, besarnya biaya yang harus dikeluarkan membuat Penulis belum bisa merealisasikannya.

Nah, pada bulan Februari 2023 kemarin, ketika sedang ngobrol di chat dengan salah satu teman bernama Dika, Penulis mendapatkan tawaran untuk tidur di rumahnya karena istrinya sedang ada acara di Bali selama 5 hari.

Karena ada kesempatan tersebut, Penulis pun langsung mengambilnya dan memutuskan untuk liburan ke Jakarta. Tidak hanya bertemu dengan teman-teman lama, akhirnya Penulis juga bertemu dengan teman-teman kantor barunya untuk pertama kalinya.

Hari Pertama, Rabu, 15 Februari 2023

Dengan alasan efisiensi, Penulis memutuskan untuk berangkat (dan pulang ) menggunakan pesawat terbang. Untuk alasan yang sama, Penulis juga menggunakan GoCar dari bandara Soekarno-Hatta ke rumah Dika dibandingkan naik kendaraan umum.

Rumah Dika yang berlantai dua ada di daerah Bintaro, di sebuah kluster mini yang konsepnya baru bagi Penulis. Ketika sampai di rumahnya, Penulis mendapatkan house tour dan waktu untuk istirahat sejenak.

Sorenya, Penulis pergi ke rumah tante yang ada di daerah Grogol, Jakarta Barat. Tidak lama, hanya sekitar dua jam karena malamnya Penulis udah punya janji untuk nonton Ant-Man and the Wasp: Quantumania bersama teman-teman kantornya di Central Park.

Banyak Cerita di Central Park

Central Park (Pullman Jakarta Central Park)

Nah, pertemuan ini adalah pertemuan perdana Penulis dengan teman-teman kantornya setelah dua tahun. Rasanya sedikit aneh karena selama ini Penulis hanya bersua secara digital, tapi tentu menyenangkan akhirnya bisa bertemu dengan mereka secara langsung.

Seusai nonton, Penulis terpaksa harus skip dari makan malam bersama teman-teman kantor karena teman Penulis bernama Kevin telah menanti di Starbucks Central Park. Setelah membicarakan beberapa hal, Penulis membeli makan di Indomaret sebelum memesan GoJek.

Nah, ada yang menarik dari abang GoJek-nya. Jadi, sebenarnya ia akan menyusul istrinya yang bekerja di Sushi Tei, tapi karena ada order-an masuk, akhirnya tetap ia ambil. Sepanjang perjalanan, ia bercerita tentang pelanggan-pelanggan nakal yang pernah ditemui istrinya.

Beberapa yang Penulis ingat adalah adanya serombongan pelanggan yang tidak membayar dengan modus keluar satu per satu. Selain itu, ada pelanggan yang dengan sengaja menaruh sesuatu di makanannya agar tidak membayar. Penulis hanya bisa geleng-geleng kepala.

Hari Kedua, Kamis, 16 Februari 2023

Awalnya, Penulis hanya ingin mengambil cuti satu hari di Rabu. Namun, setelah dipikir-pikir, rasanya sayang jika menggunakan harinya di Jakarta hanya untuk bekerja. Untuk itu, Penulis pun memilih menambah cutinya keesokan harinya.

Cuti tersebut Penulis manfaatkan sebaik-baiknya untuk berjalan-jalan, yang sayangnya hanya ke mall-mall yang dulu sering Penulis kunjungi: Pondok Indah Mall (PIM), Gandaria City (Gancit), dan Grand Indonesia (GI).

Pondok Indah Mall

Pondok Indah Mall (Davy Sukamta Partners)

Penulis nebeng Dika ketika ia akan berangkat ke kantornya. Karena yang searah adalah PIM, maka Penulis menuju ke sana terlebih dahulu. Apalagi, sekarang ada PIM baru yang dulu belum ada sewaktu Penulis masih berdomisili di Jakarta.

Ketika menjelajahi PIM baru, Penulis berhenti cukup lama di Kidz Station karena ada banyak mainan menarik. Salah satunya adalah model kit dari Batmobile film The Dark Knight. Namun, Penulis mengurungkan niatnya dan hanya membelikan mainan Pokemon utuk adik Penulis.

Penulis juga mampir ke Toys Station dan membeli die-cast Lamborghini. Penulis hampir membeli board game di sini, tapi masih bisa menahan diri. Penulis juga berputar-putar sebentar di Gramedia dan Periplus, di mana Penulis hampir membeli puzzle Sherlock Holmes.

Tujuan utama Penulis ke PIM adalah mengunjungi Multitoys, toko mainan favorit Penulis waktu di Jakarta. Sayangnya, ternyata tokonya sudah pindah. Merasa sedikit kecewa, Penulis pun melanjutkan perjalanan ke Gancit.

Gandaria City

Gandaria City (Properties – Pakuwon)

Apa yang Penulis lakukan di Gancit adalah murni ingin bernostalgia, karena dulu Penulis hampir setiap hari ke sana berhubung kantornya memang nempel dengan mall-nya. Penulis juga makan di tempat ramen favoritnya, RamenYa!.

Penulis menyempatkan diri mampir ke Group Play, toko board game di Gancit di mana dulu Penuls sering menemani temannya ke sini. Penulis dilayani dengan baik oleh dua mbak-mbak yang menjaga tempatnya, bahkan hampir membeli board game Unstable Unicorn.

Namun, tiba-tiba seseorang yang tampaknya bos dari Group Play datang dan mengajak rapat pegawainya. Dari yang Penulis dengar, tampaknya mereka akan pindah dari Gancir. Rapat itu cukup lama dan Penulis merasa “dikacangi”, sehingga akhirnya memutuskan untuk pergi.

Grand Indonesia dan Chillax Sudirman

Chillax Sudirman (Jakarta – Bisnis.com)

Dari Gancit, Penulis naik GoJek menuju ke Stasiun MRT Blok M karena destinasi selanjutnya adalah GI. Alasan utama mengapa Penulis pergi ke sana adalah karena sudah janjian dengan Sofri, teman kuliahnya dulu yang kini menjadi seorang tentara dan ditempatkan di Jakarta.

Penulis akhirnya membeli board game Unstable Unicorn di GI (kebetulan ada) dengan harga Rp430 ribu. Setelah itu, Penulis menunggu Sofri di Koi, lantas ditraktir makan di food court. Sayangnya pertemuan tersebut hanya sebentar, karena Penulis sudah memiliki janji lainnya.

Setelah dari GI, Penulis menuju Chillax Sudirman untuk bertemu dengan teman-teman lamanya, yang terdiri dari Naufal, Ka Dini, Ka Tania, Agung, dan Eky. Dika pun bergabung karena kantornya juga berada di daerah yang sama. Kami pun mengobrol santai cukup lama.

***

Dua hari pertama Penulis di Jakarta terasa sangat padat karena Penulis memang ingin memaksimalkan waktunya dengan sebaik mungkin. Ada banyak tempat yang ingin dikunjungi, ada banyak teman yang ingin ditemui.

Di tiga hari yang tersisa di Jakarta, Penulis memutuskan untuk agak selow karena merasa harus menjaga fisiknya dengan baik. Namun, bukan berarti tidak ada kejadian menarik. Penulis akan membahasnya di tulisan berikutnya.


Lawang, 1 Juli 2023, terinspirasi karena ingin menyelesaikan artikel mengenai liburannya ke Jakarta yang telah tertunda berbulan-bulan

Foto Featured Image: USINDO

Continue Reading

Pengalaman

Tabungan = Kebutuhan – Ego

Published

on

Penulis suka menonton konten-konten orang yang mengulas suatu isi buku, walaupun “efek sampingnya” adalah Penulis jadi ingin membeli buku tersebut. Beberapa YouTuber yang kerap membuat konten tersebut adalah Fellexandro Ruby dan Maudy Ayunda.

Nah, ketika Maudy Ayunda membuat konten yang mengulas isi buku The Psychology of Money dari Morgan Housel, ada satu rumus yang menarik perhatian Penulis: tabungan = kebutuhan – ego.

Penulis merasa dirinya belakangan ini kerap kesulitan untuk mengendalikan arus pengeluaran keuangannya, terutama setelah meninggalkan Jakarta dan kembali ke Malang. Menemukan rumus tersebut seolah mengingatkan Penulis untuk kembali “ke jalan yang benar”.

Tinggal di Rumah Jadi Lebih Boros?

Di Rumah Kok Jadi Lebih Boros? (Living Success)

Dulu Penulis kerap berkelakar kalau dirinya memiliki cita-cita “kerja di Malang, tapi gaji Jakarta”. Penulis tak menyangka kalau hal tersebut benar-benar terjadi karena sampai saat ini Penulis masih bekerja secara WFH, bahkan telah memasuki tahun keduanya.

Teman-teman Penulis pun sering berkata, “Enak dong, tabungannya jadi lebih banyak karena di rumah.” Memang secara logika, hal tersebut ada benarnya. Namun, terkadang dalam hidup hal ini tidak sesuai dengan logika yang ada di kepala kita.

Penulis justru merasa kalau selama di Malang, dirinya menjadi lebih boros dibandingkan waktu masih merantau di Jakarta. Faktor utamanya, menurut analisis Penulis, adalah karena adanya “rasa aman” yang membuat Penulis terlena.

Ketika merantau, Penulis harus pintar-pintar mengatur keuangannya. Jangan sampai gaji habis sebelum tanggal gajian, karena nanti mau makan apa kalau tidak ada uang. Adanya rasa was-was ini pun membuat Penulis berhasil hidup hemat, bahkan masih memiliki tabungan.

Nah, saat di rumah, perasaan was-was tersebut menjadi hilang. Minimal, uang makan dan laundry bisa berkurang. Akibatnya, uang yang biasanya digunakan untuk kebutuhan hidup beralih fungsi menjadi keinginan yang didasarkan oleh ego.

Seperti kalimat yang diucapkan oleh Maudy Ayunda di atas, tabungan Penulis menjadi lebih sedikit karena ego yang dimiliki menjadi semakin tinggi.

Memangnya Egonya Seperti Apa?

Salah Satu Ego Terbesar

Tentu dengan tinggal di rumah, pengeluaran yang Penulis keluarkan tidak untuk dirinya sendiri. Seperti ketika membeli makan, Penulis tidak mungkin hanya beli untuk dirinya sendiri. Ini tentu tidak Penulis permasalahkan dan menganggapnya sebagai kebutuhan.

Sebagaimana pepatah boys always be boys, Penulis pun merasa dirinya seperti itu. Ketika sudah memiliki gaji sendiri, tentu Penulis ingin membeli barang-barang yang dulunya tidak mampu dibeli karena belum punya uang, termasuk mainan.

Oleh karena itu sewaktu di Jakarta, Penulis membeli action figure Dragon Ball dan model kit Gundam. Tidak banyak, Penulis hanya memiliki action figure Goku dan Vegeta, serta dua model kit Gundam dengan tingkat HG yang relatif masih sangat terjangkau.

Nah, sewaktu tinggal di Malang, jumlah mainan tersebut bertambah secara signifikan. Sampai artikel ini ditulis (termasuk yang dibeli di Jakarta), Penulis telah memiliki sekitar 15 action figure dengan berbagai ukuran, 3 Funko Pop, dan 3 model kit. Bagi Penulis, ini cukup banyak.

Apalagi sewaktu di Malang, Penulis mulai punya hobi baru berupa koleksi board game. Diawali dengan membeli Monopoly, hingga kini Penulis sudah memiliki 22 board game hanya dalam waktu dua tahun. Jujur saja, hobi ini cukup menguras dompet.

Bagi Penulis, inilah ego tertinggi dari dirinya yang menyebabkan jumlah uang yang ditabung setiap bulannya jadi berkurang. Meskipun memberikan perasaan bahagia dengan memilikinya, tak jarang penyesalan muncul karena merasa telah buang-buang uang.

Terkadang, Penulis berandai-andai seandainya saja uang yang digunakan untuk membeli semua barang tersebut dialihkan untuk berinvestasi saja, mungkin lebih berfaedah. Namun, nasi sudah menjadi bubur, yang lebih penting adalah bagaimana ke depannya.

Mengurangi Ego, Menambah Tabungan

Memang, setiap bulannya Penulis selalu menyisihkan sebagian untuk ditabung atau diinvestasikan. Hanya saja, Penulis merasa masih bisa mengalokasikan gaji bulanannya lebih banyak lagi dari yang sudah-sudah.

Dengan menyadari konsep tabungan = kebutuhan – ego, tentu apa yang harus Penulis lakukan ke depannya adalah mengurangi egonya. Rasanya selama dua tahun terakhir ini, Penulis terlalu memanjakan egonya dengan berbagai dalih seperti self reward.

Apalagi, kamar Penulis juga telah penuh dengan berbagai barang tersebut, sehingga hampir tidak tersisa ruang kosong. Perlu diingat, semenjak zaman kuliah Penulis gemar membeli buku, sehingga di kamarnya pun ada ratusan buku yang membutuhkan ruang penyimpanan.

Tentu sesekali membeli barang yang diinginkan (alias menuruti ego) tidak ada salahnya, yang salah adalah ketika dilakukan secara berlebihan, seperti yang telah Penulis lakukan. Semoga saja Penulis bisa mengontrol egonya lebih baik lagi, demi tabungan yang lebih gemuk.f


Lawang, 20 Juni 2023, terinspirasi setelah mendengar kalimat tersebut dari Maudy Ayunda

Foto Featured Image: Igal Ness via Unsplash

Continue Reading

Fanandi's Choice