Setelah Menonton Joker

Karena tidak mendapatkan kepastian dari teman-teman kantor, penulis memutuskan untuk menonton film Joker sendirian di hari perdananya. Mumpung ada satu bangku kosong di pojokan B1.

Alasan mengapa penulis begitu bersemangat untuk menonton film ini adalah karena penulis menyukai Joker sejak film The Dark Knight, ketika mendiang Heath Ledger mampu memerankan nemesis dari Batman tersebut secara luar biasa.

Penulis penasaran, apakah Joaquin Phoenix mampu memerankan karakter ini Ledger. Harapan penulis, setidaknya lebih baik dari Jared Leto. SPOILER ALERT!

Jalan Cerita Joker

Sebenarnya, jalan cerita film ini begitu sederhana. Kita akan melihat bagaimana seorang Arthur Fleck berangsur-angsur berubah menjadi sosok Joker karena pengaruh lingkungannya. Hampir tidak ada cerita lain selain itu.

Badut (MTR Network)

Arthur bekerja sebagai seorang badut yang kerap mendapatkan perundungan. Ia juga sering dianggap aneh oleh teman-teman kerjanya, hingga ada konspirasi untuk menyingkirkannya.

Alasan dari keanehan Arthur adalah memiliki kelainan di otaknya yang membuatnya tiba-tiba bisa tertawa keras tanpa terpengaruh suasana hatinya. Hal ini sering menimbulkan kesalahpahaman untuk orang-orang di sekitarnya.

Arthur tinggal bersama ibunya dalam keadaan miskin. Ia terlihat sebagai tipikal anak yang sangat sayang terhadap ibunya dan mampu merawatnya sepenuh hati.

Semua berubah ketika ia membaca surat yang ditulis ibunya untuk Thomas Wayne, salah satu orang terkaya di Gotham sekaligus ayahnya Bruce Wayne yang kelak menjadi Batman. Di surat tersebut, ia menemukan fakta bahwa dirinya merupakan anak dari Thomas.

Ketika Arthur berusaha untuk bertemu dengan Thomas, ia mendapatkan fakta mengejutkan lainnya. Ia bukan anak kandung dari ibunya. Ia hanyalah anak adopsi. Ibunya, ternyata mengalami gangguan delusional.

Mengetahui kenyataan ini, ia pun membunuh orang yang selama ini ia panggil ibu. Ini pembunuhan kelima yang ia lakukan, setelah menghabisi tiga orang yang merundungnya di kereta bawah tanah dan love interest-nya.

Happy Face (What’s After the Credits?)

Di tengah kekacauan ini, ia malah mendapatkan panggilan untuk tampil di acara favoritnya, The Murray Franklin Show. Hal ini bisa terjadi karena beberapa waktu lalu, videonya yang sedang melakukan stand-up comedy diputar di acara tersebut.

Arthur pun datang ke acara tersebut dan minta diperkenalkan sebagai Joker. Di sana ia membuat pengakuan bahwa dirinya lah pelaku pembunuhan tiga orang di kereta bawah tanah.

Setelah itu, ia pun mengucapkan kalimat pidato yang menyayat hati tentang society. Ia juga menganggap Murray jahat karena telah mengundang dirinya hanya untuk memperolok-olok dirinya. Pada akhirnya, Murray mati dengan peluru bersarang di kepalanya.

Arthur ditangkap polisi tapi segera diselamatkan oleh sekelompok orang yang menganggap dirinya sebagai simbol perlawanan terhadap elit dan kekuasaan Gotham.

Film berakhir dengan wawancara Arthur dengan seorang psikolog tempatnya berkonsultasi dulu. Bedanya, sekarang dilakukan di rumah sakit jiwa, tempatnya ia berada sekarang.

Ketika keluar dari keluar ruangan, kita bisa melihat jejak kaki Arthur berwarna merah. Kemungkinan besar, itu adalah darah dari sang psikolog.

Kesan Setelah Menonton Joker

Joaquin Phoenix Sebagai Joker (India Today)

Karena jalan ceritanya yang seperti itu, menurut penulis wajar jika ada kritikus yang menganggap film ini nothing. Pendapat tersebut banyak dihujat oleh netizen, apalagi setelah skor di Rotten Tomatoes cukup rendah.

Bahkan, ada yang menuduh pihak Disney sebagai pemilik lisensi Marvel telah membayar sejumlah uang agar film Joker mendapatkan ulasan yang buruk.

Penulis sendiri tidak berpendapat bahwa film ini nothing. Jelas film ini something, walaupun bukan tipikal favorit penulis. Phillip Todd selaku sutradara jelas berusaha menyajikan sesuatu yang baru untuk film superhero. Mungkin, kelasnya kelas film Oscar.

Bisa dibilang, trailer dari film ini sendiri sudah memuat banyak sekali keseluruhan film sehingga penulis merasa tidak banyak hal baru yang bisa penulis temukan ketika menonton filmnya.

Ada doubletwist di pertengahan film, tentang siapa ibu Arthur sebenarnya. Selain itu, bisa dibilang tidak ada kejutan pada film ini. Bahkan, ketika Arthur sedang latihan bunuh diri ketika menjadi bintang tamu Murray, penulis yakin pada akhirnya ia akan membunuh Murray.

Penulis juga menikmati alur ceritanya yang runut, seolah tidak adegan yang percuma. Semua memiliki alasan mengapa harus ada. Mungkin, ini yang membuat film ini terasa sedikit berjalan lambat.

Ada beberapa adegan gore ringan di setengah bagian akhir film yang sama sekali tidak penulis sukai. Ada juga beberapa plot-hole yang penulis temukan karena tidak ada film yang sempurna.

Yang ingin penulis tekankan di sini adalah efek dari menonton film Joker. Film ini benar-benar kelam dan bisa memicu depresi. Bagi yang kesehatan mentalnya sedang tidak bagus, benar-benar tidak disarankan untuk menonton film ini.

Ketika membaca beberapa tweet di Twitter, ada yang mengatakan dampaknya begitu besar terhadap mereka hingga menimbulkan anxiety dan kepanikan. Penulis tidak berlebihan jika berkata bahwa film ini benar-benar mengguncang jiwa.

Lantas, siapa di antara Joaquin Phoenix dan Heath Ledger yang menurut penulis mampu memerankan Joker lebih baik? Sebenarnya, perbandingan ini tidak apple to apple.

Phoenix memerankan karakter Joker sebelum menjadi Joker, sedang Ledger memerankan karakter Joker yang sudah menjadi Joker. Tapi kalau disuruh memilih, penulis tetap memilih Ledger sebagai pemeran Joker terbaik.

 

 

Kebayoran Lama, 6 Oktober 2019, terinspirasi setelah menonton film Joker.

Foto: AiPT!