<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ulasan Archives - whathefan</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/ulasan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/ulasan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 16 Jun 2026 02:56:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/02/logo-kotak-whathefan-2026-v3-80x80.jpg</url>
	<title>ulasan Archives - whathefan</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/ulasan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Start with Why</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-start-with-why/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-start-with-why/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2026 02:56:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[Simon Sinek]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8728</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang bingung ingin membeli buku apa, Penulis biasanya mempertimbangkan genre apa yang sedang habis di rumah. Nah, salah satu yang kerap habis adalah buku-buku self-improvement, karena memang biasanya relatif mudah dicerna dan inspiratif. Mengingat buku self-improvement ada begitu banyak macamnya, tentu memilih salah satunya juga menjadi PR tersendiri. Kalau tidak memilih yang sedang Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-start-with-why/">[REVIEW] Setelah Membaca Start with Why</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Ketika sedang bingung ingin membeli buku apa, Penulis biasanya mempertimbangkan genre apa yang sedang habis di rumah. Nah, salah satu yang kerap habis adalah <a href="https://whathefan.com/?s=self-improvement">buku-buku <em>self-improvement</em></a>, karena memang biasanya relatif mudah dicerna dan inspiratif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengingat buku <em>self-improvement </em>ada begitu banyak macamnya, tentu memilih salah satunya juga menjadi PR tersendiri. Kalau tidak memilih yang sedang Penulis rasa butuhkan, maka Penulis akan memilih yang populer dan banyak dibaca orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, ketika mengetahui buku <em><strong>Start with Why </strong></em>dari <strong>Simon Sinek </strong>merilis <strong>&#8220;Edisi 15 Tahun&#8221;</strong>, tentu Penulis jadi penasaran mengapa buku ini bertahan sekian lama di peredaran. Apakah isi bukunya memang sedahsyat itu?</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/setelah-membaca-larung-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/setelah-membaca-larung-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/setelah-membaca-larung-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/setelah-membaca-larung-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/setelah-membaca-larung-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Membaca Larung" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-larung/">Setelah Membaca Larung</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Start with Why</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Start with Why (Dengan Materi yang Diperbarui)</em></li>



<li>Penulis: Simon Sinek</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-23</li>



<li>Tanggal Terbit: Oktober 2025</li>



<li>Tebal: 366 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020628837</li>



<li>Harga: Rp100.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Start with Why</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dari judulnya, sebenarnya kita bisa menerka kalau isi buku ini akan mengajak kita untuk mencari <strong>MENGAPA</strong> dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan memiliki MENGAPA yang jelas, kita akan lebih terdorong untuk melakukan sesuatu. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi lima bagian utama sebagai berikut:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Bagian 1: Dunia yang Tidak Dimulai dengan Pertanyaan Mengapa</li>



<li>Bagian 2: Sudut Pandang Alternatif</li>



<li>Bagian 3: Pemimpin Butuh Pengikut</li>



<li>Bagian 4: Cara Menggalang Orang-Orang yang Percaya</li>



<li>Bagian 5: Tantangan Terbesar adalah Sukses</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti kebanyakan buku-buku <em>self-improvement </em>pada umumnya, buku ini juga <strong>diselipi oleh kisah inspiratif dari tokoh-tokoh hebat</strong>. Beberapa yang paling sering diulang adalah Steve Jobs dan Apple, Wright Bersaudara (penemu pesawat terbang), Southwest Airlines, hingga Martin Luther King Jr. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Nama-nama tokoh yang disebutkan di dalam buku ini diceritakan<strong> selalu memiliki MENGAPA yang jelas</strong>, baik dalam membuat produk hingga mengajak dan menginspirasi orang. Yang melekat pada mereka adalah MENGAPA mereka melakukannya, bukan APA yang dilakukannya. Ini dibahas panjang lebar di Bagian 3 dan 4.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu bagian yang bagi Penulis menarik ada di Bagian 2, Bab<strong> &#8220;Lingkaran Emas&#8221;</strong>. Di dalam bab tersebut, ada tiga lingkaran yang terdiri dari <strong>APA</strong> (lingkaran terluar), <strong>BAGAIMANA</strong> (lingkaran tengah), baru <strong>MENGAPA</strong> (lingkaran terdalam).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kebanyakan orang akan berhenti di APA YANG DILAKUKAN, atau paling mentok di BAGAIMANA MELAKUKANNYA. Namun, orang-orang hebat akan selalu memiliki MENGAPA MELAKUKANNYA. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagian lain yang bagi Penulis menarik adalah bagian <strong>Manipulasi vs Inspirasi</strong>. Sederhananya, APA dan BAGAIMANA itu masih bagian dari memanipulasi orang lain, sedangkan MENGAPA sudah masuk ke bagian yang menginspirasi orang lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Start with Why</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai pengagum <a href="https://whathefan.com/buku/revolusi-diri-karena-steve-jobs/">Steve Jobs dan Apple</a>, selalu menyenangkan rasanya ketika mereka digunakan sebagai contoh di buku <em>self-improvement</em>. Namun, tidak di buku ini, karena <strong>penggunaan mereka sebagai contoh benar-benar terlalu banyak!</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Hampir di setiap bab, mereka akan dijadikan contoh dalam setiap topik yang sedang dijelaskan. Dengan tebal buku yang mencapai 366 halaman, bisa dibilang contoh <em>public figure </em>atau perusahaan yang digunakan di buku ini kurang dari 10!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini tentu menjadi ironi, karena Sinek seolah menegaskan bahwa <strong>tak banyak kesuksesan karena benar-benar mengandalkan MENGAPA seperti katanya</strong>. Jika contohnya banyak, mengapa tidak dibuat contoh-contoh yang bervariasi?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, Penulis merasa kalau buku ini adalah contoh dari apa yang pernah Coach Justin pernah katakan tentang buku-buku Amerika: <strong>inti bukunya satu, dijelasinnya ribuan kali</strong>. Itulah yang Penulis rasakan ketika membaca buku ini, terutama mulai dari bagian pertengahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat awal-awal membaca, Penulis masih bisa menikmati karena diberi <em>insight </em>mengapa MENGAPA itu sangat penting dalam berbagai aktivitas, entah itu di kerjaan maupun keseharian. Penulis akui penting untuk menemukan MENGAPA sebelum melakukan sesuatu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, makin ke belakang, Penulis merasa kalau <strong>isi bukunya hanya berputar-putar di hal yang sama</strong>. Hal ini diperparah dengan contoh yang digunakan juga hanya berputar-putar pada tokoh dan perusahaan yang itu-itu aja, seperti yang sudah Penulis singgung di atas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, sepanjang buku ini Sinek juga seolah <strong>ingin menekankan kalau ingin berhasil, harus punya MENGAPA</strong>. Kalau tidak, pasti akan gagal dengan menyebutkan beberapa contoh, seperti Walmart yang kehilangan MENGAPA-nya sejak meninggalnya sang <em>founder</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis jadi menangkap kalau teori yang ia paparkan menjadi bersifat mutlak, padahal belum tentu juga. Sinek juga terasa terlalu <strong>menyederhanakan penggunaan MENGAPA dalam perusahaan-perusahaan yang sukses</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Contoh, Sinek mengatakan kalau orang-orang memilih Apple karena MENGAPA yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Padahal, tidak sesederhana itu. Bisa saja orang membeli produk Apple karena APA yang mereka jual, untuk <em>flexing</em>, dan lain sebagainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan kata lain, ada banyak sekali <strong>peluang kita tidak menggunakan MENGAPA ketika membeli sebuah produk atau memilih sebuah layanan</strong>. Mungkin kita punya MENGAPA kita memilih mereka, tapi kita kemungkinan tidak terlalu peduli dengan MENGAPA mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika buku ini hanya berfokus pada inti yang ingin disampaikan, mungkin sebenarnya tidak akan butuh lebih dari 100 halaman, bukan lebih dari 300 halaman. Penulis bahkan sudah tidak ingat mayoritas bagian di akhir buku, karena memang sudah terasa membosankan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejujurnya, Penulis tidak terlalu berani merekomendasikan buku ini kepada Pembaca, mengingat jumlah halamannya yang cukup tebal. Nantinya, waktu yang dihabiskan untuk membaca buku ini tidak terasa <em>worth it </em>dengan apa yang didapatkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: <strong>5/10</strong></mark></p>



<p class="wp-block-paragraph">Seandainya saja isinya lebih <em>to the point</em>, dengan contoh yang lebih bervariasi, dan isi halaman yang lebih sedikit (yang otomatis membuat harganya lebih terjangkau), mungkin Penulis akan memberikan skor yang lebih tinggi lagi.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 16 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca buku <em>Start with Why </em>karya Simon Sinek</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-start-with-why/">[REVIEW] Setelah Membaca Start with Why</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-start-with-why/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-gambar-aneh/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-gambar-aneh/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2026 15:07:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Uketsu]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8703</guid>

					<description><![CDATA[<p>Meskipun tidak terlalu terkesan setelah membaca Teka-Teki Rumah Aneh, Penulis memutuskan untuk tetap membeli novel terbaru Uketsu. Kali ini, judulnya adalah Teka-Teki Gambar Aneh. Saat membaca ulasan sekilas yang beredar di media sosia, banyak yang menyebutkan kalau cerita di novel ini lebih gila dibandingkan novel yang pertama. Ekspektasi Penulis pun jadi meninggi, meskipun tetap menyiapkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-gambar-aneh/">[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Meskipun tidak terlalu terkesan setelah membaca <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/">Teka-Teki Rumah Aneh</a></em>, Penulis memutuskan untuk tetap membeli novel terbaru <strong>Uketsu</strong>. Kali ini, judulnya adalah <em><strong>Teka-Teki Gambar Aneh</strong>.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat membaca ulasan sekilas yang beredar di media sosia, banyak yang menyebutkan kalau cerita di novel ini lebih gila dibandingkan novel yang pertama. Ekspektasi Penulis pun jadi meninggi, meskipun tetap menyiapkan ruang untuk merasa kecewa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untungnya, setelah menamatkan novel ini dalam durasi yang relatif singkat, Penulis bisa mengatakan kalau <em>Teka-Teki Gambar Aneh </em>memang lebih gila dari <em>Teka-Teki Rumah Aneh</em>! Penulis akan jelaskan alasannya pada tulisan kali ini.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">SPOILER ALERT!!!</mark></strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/03/puasa-nonton-mu-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/03/puasa-nonton-mu-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/03/puasa-nonton-mu-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/03/puasa-nonton-mu-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/03/puasa-nonton-mu-banner.jpg 1200w " alt="Saya Memutuskan Puasa Nonton MU di Bulan Puasa" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/saya-memutuskan-puasa-nonton-mu-di-bulan-puasa/">Saya Memutuskan Puasa Nonton MU di Bulan Puasa</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Teka-Teki Gambar Aneh</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Teka-Teki Gambar Aneh</em></li>



<li>Penulis: Uketsu</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-2</li>



<li>Tanggal Terbit: Februari 2026 </li>



<li>Tebal: 312 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020687209</li>



<li>Harga: Rp99.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Teka-Teki Gambar Aneh?</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sesuai dengan judulnya, kali ini kita akan disuguhi banyak gambar aneh yang jika dilihat sekilas tidak memiliki makna yang berarti. Memang, denah rumah bisa disebut sebagai &#8220;gambar&#8221; juga, tapi ini <em>literally </em>gambar berbagai macam hal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melansir dari sinopsis resminya, ada <strong>gambar yang dibuat seorang wanita hamil di internet</strong>, <strong>gambar yang dibuat seorang anak kecil sebagai hadiah Hari Ibu</strong>, dan<strong> gambar yang dibuat seorang korban pembunuhan di saat-saat terakhirnya</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cerita dibagi menjadi ke dalam empat bab, yang pada awalnya tidak terlihat seperti terhubung satu sama lain. Alurnya sendiri maju mundur, karena satu bab ke bab lainnya tidak linear dalam satu lini masa. Berikut adalah judul dari keempat bab di novel ini:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Gambar Wanita Berdiri Diterpa Angin</li>



<li>Gambar Kabut yang Menutupi Unit Mansion</li>



<li>Gambar Terakhir Guru Seni Rupa</li>



<li>Gambar Pohon Pelindung Burung Gelatik</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, setidaknya akan ada empat gambar berbeda yang akan menjadi pusat dari masing-masing cerita, karena masih ada gambar-gambar lainnya juga. Yang menggambar pun juga berbeda-beda, tapi tidak akan Penulis jelaskan di sini karena berpotensi <em>spoiler</em>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis telah sering mengatakan kalau format seperti ini adalah salah satu favoritnya, apalagi kalau keterhubungannya benar-benar tak terpikirkan. Nah, novel ini pun begitu, di mana tiap-tiap cerita memiliki karakter yang berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di cerita pertama misalnya, ceritanya berpusat pada karakter <strong>Sasaki</strong> dan <strong>Kurihara</strong> (orang yang sama di novel pertama), yang sama-sama merupakan anggota dari kelompok <em>occult</em>. Mereka berdua mendiskusikan sebuah blog yang terasa janggal bernama <strong>&#8220;Catatan Hati Nanashino Ren&#8221;</strong>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Di blog tersebutlah mereka menemukan sekumpulan gambar aneh yang berusaha mereka pecahkan, apalagi jika membaca tulisan-tulisan pemilik blog. Total ada lima gambar yang terlihat tidak memiliki hubungan sama sekali di cerita pertama ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Fun Fact: Blog tersebut benar-benar ada! Pembaca bisa mengaksesnya di <a href="https://nanashinoren.blog.jp/"><strong>https://nanashinoren.blog.jp/</strong></a></mark></em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu di cerita kedua, <em>angle</em>-nya bergeser ke seorang anak bernama <strong>Yuta</strong> yang baru akan menginjak usia enam tahun. Di cerita ketiga, bergeser lagi ke kematian seorang guru seni rupa bernama <strong>Miura</strong>. Bisa dibayangkan, bukan, bagaimana cerita-cerita di buku ini seolah berdiri sendiri?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang bisa Penulis katakan adalah, gambar-gambar aneh di novel ini bukanlah sekadar gambar biasa. Gambar-gambar di sini adalah sebuah petunjuk, baik untuk mengetahui watak seseorang, pesan kematian, hingga petunjuk tentang adanya kasus pembunuhan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis cukup terperangah setelah menamatkan novel ini.<strong> <em>Plot twist </em>yang dimiliki benar-benar mengejutkan </strong>dan sama sekali tak terpikirkan. Bahkan, Penulis bisa bilang kalau setiap bab memiliki <em>twist-</em>nya sendiri. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Keterhubungan antara empat bab di novel ini sebenarnya <strong>berpusat pada satu karakter</strong>, yang tidak akan Penulis ungkap di sini. Namun, kita tidak akan menyadarinya hingga akhir bab kedua, atau bahkan ketika akhir bab tiga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Begitu semuanya terungkap, kita baru menyadari betapa besarnya skema kriminal yang terjadi sepanjang novel ini. Tulisan dan gambar-gambar aneh di blog yang ditemukan Sasaki dan Kurihara ternyata hanya <em>tip of the iceberg</em>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, motif tiap pembunuhan yang terjadi di novel ini pun bukan karena dendam, harta, atau hal-hal yang kerap kita jumpai pada cerita-cerita detektif pada umumnya. Ketika motifnya terkuak di bab empat, kita akan sulit memercayainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, keberadaan pihak polisi baru muncul menjelang akhir cerita. Artinya, kejahatan yang dilakukan oleh pelaku berhasil ia sembunyikan dengan baik selama bertahun-tahun, walau pada akhirnya ada seseorang yang berhasil membongkar semuanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Pace </em>cerita di sini pun cukup cepat</strong>, apalagi jika mengingat ada empat cerita yang berbeda. Itulah yang membuat Penulis hanya membutuhkan waktu singkat untuk menamatkannya, karena selalu ada hal yang menimbulkan rasa penasaran. Mungkin juga karena terjemahan buku ini mudah untuk dicerna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis bersyukur bahwa <strong>konklusi dari novel ini tidak memiliki keterkaitan dengan dunia okultisme</strong>, seperti yang Penulis temukan di <em>Teka-Teki Rumah Aneh</em>. Penulis merasa cukup puas dengan penjelasan akhirnya yang lebih ke sisi psikologis yang <em>mindblowing</em>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika disuruh membicarakan kekurangannya, jujur Penulis kesulitan menemukannya. Penulis tidak menemukan <em>plot hole </em>atau hal ganjil yang membuat Penulis tidak puas dengan novel ini. Penulisannya rapi dan tertata, sehingga semua hal telah mendapatkan penjelasan yang cukup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin, justru <strong>motif pelaku di novel ini menjadi tanda tanya besar bagi Penulis</strong>. Benarkah ada orang yang tega melakukan pembunuhan-pembunuhan dengan motif seperti itu? Apakah itu karena sang pelaku seorang psikopat yang sadis sekaligus <em>overprotective</em>?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kesimpulannya, Penulis menikmati novel ini dan merekomendasikannya kepada Pembaca yang menyukai kisah detektif yang di permukaan terlihat sederhana, tapi memiliki kerumitan di dalamnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: <strong>9/10</strong></mark></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 6 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Teka-Teki Gambar Aneh </em>karya Uketsu</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-gambar-aneh/">[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-gambar-aneh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Makanya, Mikir!</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2026 15:34:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8497</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya, Penulis bukan merupakan penggemar Abigail Limuria dan Cania Citta, meskipun tentu harus diakui kalau keduanya adalah generasi muda yang hebat dan inspiratif. Walau begitu, ketika tahu mereka berdua merilis buku berjudul Makanya, Mikir!, tentu Penulis jadi penasaran. Apalagi, acara launching buku ini berhasil mempertemukan Anies Baswedan dan Ahok dalam satu forum! Ekspektasi Penulis ketika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/">[REVIEW] Setelah Membaca Makanya, Mikir!</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya, Penulis bukan merupakan penggemar <strong>Abigail Limuria</strong> dan <strong>Cania Citta</strong>, meskipun tentu harus diakui kalau keduanya adalah generasi muda yang hebat dan inspiratif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, ketika tahu mereka berdua merilis buku berjudul <em><strong>Makanya, Mikir!</strong></em>, tentu Penulis jadi penasaran. Apalagi, acara <em>launching</em> buku ini berhasil mempertemukan Anies Baswedan dan Ahok dalam satu forum!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ekspektasi Penulis ketika membeli buku ini adalah Penulis jadi mengetahui bagaimana kerangka berpikir yang benar. Jangan-jangan, ada yang salah dari cara Penulis berpikir selama ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah ekspektasi ini tercapai? Sayangnya tidak.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Menonton NKCTHI (Bagian 1)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1/">Setelah Menonton NKCTHI (Bagian 1)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Makanya, Mikir!</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Makanya, Mikir!</em></li>



<li>Penulis: Abigail Limuria dan Cania Citta</li>



<li>Penerbit: </li>



<li>Cetakan: Ke-7</li>



<li>Tanggal Terbit: September 2025</li>



<li>Tebal: 290 halaman</li>



<li>ISBN: 9786238944026</li>



<li>Harga: Rp138.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Makanya, Mikir!</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan sinopsis yang terletak di bagian belakang, buku ini berusaha untuk memberikan berbagai kerangka berpikir (<em>mental models</em>) beserta studi kasusnya. Ini selaras dengan judulnya, yang mengajak kita untuk berpikir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya bukan berarti kedua penulis buku ini menuduh kita tidak pernah berpikir. Bisa saja selama ini kita berpikir, tapi tidak berpikir dengan benar. Nah, buku ini berusaha memberi <em>insight </em>mengenai bagaimana berpikir yang benar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada total delapan bab di buku ini, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Peta Realitas dan Cara Menentukan Tujuan Hidup</li>



<li>Kerangka Berpikir Dua Ranah: Pentingnya Membedakan Realitas dan Preferensi</li>



<li>Pola Pikir Ilmiah: Yang Pede dan Ngotot Belum Tentu yang Pintar</li>



<li>Bagaimana Menentukan Cost dan Benefit: Kenalan dengan Objective-Oriented Principle</li>



<li>Sesat Pikir dan Bias dalam Pengambilan Keputusan</li>



<li>Menentukan Prioritas: Sumber Daya Terbatas, Mana yang Harus Diutamakan?</li>



<li>Kecerdasan Sosial: Buat Apa Pintar Kalau Nyebelin</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Di bab-bab tersebut, ada banyak sekali teori berpikir yang akan kita pelajari, walau memang bisa dibilang hanya di permukaan saja. Semuanya dipaparkan dengan bahasa sederhana yang tidak membuat kita kebingungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa hal yang dijabarkan di buku ini adalah bagaimana menentukan tujuan hidup, perbedaan ranah realitas dan preferensi (yang kerap menjadi sumber utama polarisasi), konsep Cost-Benefit Analysis (CBA) yang membantu kita membuat keputusan dan prioritas, bias berpikir, dan lain sebagainya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Makanya, Mikir!</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dua nama yang menulis buku ini adalah orang-orang yang Penulis anggap cerdas, sehingga ada ekspektasi tinggi ketika membaca buku ini. Jika membaca buku <em>self-improvement </em>dari Barat, biasanya Penulis tidak mengenal siapa penulisnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, Penulis membutuhkan waktu yang relatif cukup singkat untuk menyelesaikan buku ini. Apakah itu tanda kalau buku ini begitu menarik? Sayangnya bukan, karena <strong>memang isinya yang bagi Penulis relatif sedikit</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan harga yang relatif cukup mahal (hampir Rp140 ribu), sayang isi buku ini bisa dibilang <strong>terasa hanya permukaan saja</strong>. Sebenarnya wajar, karena buku ini <em>full color </em>dan memiliki banyak sekali gambar, yang terkadang memakan hampir dua halaman penuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang, dalam <em>podcast </em>bersama Raditya Dika, Abigail Limuria mengatakan bahwa buku ini memang berusaha tidak mengintimidasi pembacanya dengan buku yang <em>full </em>dengan tulisan. (FYI, Radit yang pernah punya percetakan juga terlihat kaget dengan harganya yang cukup mahal).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika memang target pasarnya adalah pembaca baru atau yang baru ingin membangun kebiasaan pembaca, maka keputusan tersebut tepat. Hanya saja, bagi Penulis yang memang dari dulu hobinya membaca, Penulis merasa sedikit rugi telah mengeluarkan uang sebanyak itu untuk isi yang &#8220;hanya&#8221; segini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis adalah tipe <em>reviewer </em>buku yang menilai buku berdasarkan dampak yang diberikan oleh buku tersebut dan membandingkan dengan &#8220;investasi&#8221; yang Penulis keluarkan untuk membeli buku tersebut. Jujur saja, ini adalah <strong>&#8220;investasi&#8221; yang kurang <em>worth i</em></strong><em>t</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu ada banyak <em>insight-insight </em>menarik yang Penulis temukan di buku ini, terutama bagian CBT yang pernah Penulis praktekkan. Hanya saya, ya kembali lagi, rasanya kurang sepadan dengan uang yang sudah dikeluarkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gaya penulisannya yang <strong>seperti mendengarkan teman <em>yapping </em></strong>juga menjadi salah satu kelebihan buku ini, terutama untuk pembaca pemula. Setiap poin yang ingin dibahas berusaha dijabarkan dengan bahasa yang sesederhana mungkin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang sudah disebutkan di atas, buku ini juga selalu memberikan studi kasus agar kita lebih paham lagi. Hanya saja, terkadang Penulis merasa <strong>studi kasus yang diberikan terlalu banyak dan berulang-ulang</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Buku ini mungkin cocok bagi banyak orang, apalagi di Indonesia yang tingkat literasinya cukup rendah. Namun, bagi orang yang memang sudah lama hobi membaca seperti Penulis, buku ini akan terasa kurang &#8220;daging&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Skor: <strong>6/10</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 26 Februari 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Makanya, Mikir!</em> karya Abigail Limuria dan Cania Citta</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/">[REVIEW] Setelah Membaca Makanya, Mikir!</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2026 14:26:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[Uketsu]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8493</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya sudah sejak lama novel Teka-Teki Rumah Aneh karya Uketsu mencuri perhatian Penulis. Namun, entah mengapa Penulis belum merasa terdorong untuk membelinya, meskipun sebenarnya suka dengan novel &#8220;teka-teki&#8221;. Nah, membaca novel-novel detektif Keigo Higashino yang akhirnya membuat Penulis memutuskan untuk membeli dan membaca novel ini. Toh, novel ini tidak terlalu tebal, sehingga bisa cepat ditandaskan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/">[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya sudah sejak lama novel <em><strong>Teka-Teki Rumah Aneh</strong></em> karya <strong>Uketsu</strong> mencuri perhatian Penulis. Namun, entah mengapa Penulis belum merasa terdorong untuk membelinya, meskipun sebenarnya suka dengan novel &#8220;teka-teki&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, membaca <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/">novel-novel detektif Keigo Higashino</a> yang akhirnya membuat Penulis memutuskan untuk membeli dan membaca novel ini. Toh, novel ini tidak terlalu tebal, sehingga bisa cepat ditandaskan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Benar saja, tak butuh lama Penulis menghabiskan novel ini karena misterinya yang membuat penasaran. Dengan durasi sekitar 3-4 jam, Penulis bisa langsung menyelesaikan novel ini. Lantas, apakah novel ini sebagus kata orang?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-14_22-39-03-300x146.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-14_22-39-03-300x146.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-14_22-39-03-768x373.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-14_22-39-03-1024x498.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-14_22-39-03-356x173.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-14_22-39-03.jpg 1280w " alt="Penyiksaan Rezim Pada Saman" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/penyiksaan-rezim-pada-saman/">Penyiksaan Rezim Pada Saman</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Teka-Teki Rumah Aneh</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Teka-Teki Rumah Aneh</em></li>



<li>Penulis: Uketsu</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-14</li>



<li>Tanggal Terbit: Mei 2025</li>



<li>Tebal: 224 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020669960</li>



<li>Harga: Rp79.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Teka-Teki Rumah Aneh?</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Novel ini berkisah dari sudut pandang orang pertama<strong> seorang penulis</strong> (namanya tidak pernah disebutkan) spesialis <em>occult </em>alias hal-hal gaib. Nah, suatu ketika, ia dimintai tolong kenalannya untuk memeriksa suatu denah rumah yang menurutnya aneh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sini, kita bisa melihat kalau konsep &#8220;rumah aneh&#8221; langsung disajikan di awal cerita, bahkan di halaman pertama. Denah rumah yang awalnya tampak normal-normal saja langsung diperlihatkan begitu mulai membaca.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sang penulis tersebut tentu merasa kebingungan dengan denah rumah tersebut, sehingga ia minta bantuan kenalannya yang bernama <strong>Kurihara-san</strong>, seorang arsitek, yang akhirnya menunjukkan apa keanehan pada denah rumah tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nantinya, kita akan sering melihat percakapan antara keduanya di novel ini. Bukan dalam bentuk paragraf, melainkan menggunakan format nama karakter, titik dua (:), baru kalimatnya. Semua percakapan menggunakan format tersebut, sehingga  membuat <em>pace </em>novel ini terasa cepat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di novel ini, denah rumah kerap diperlihatkan berkali-kali, terkadang hanya sebagian saja. Dengan demikian, kita tidak perlu capek-capek membolak-balikkan halaman, walau kekurangannya membuat novel ini cepat habis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berangkat dari keanehan tersebut, tokoh penulis pun membuat artikel tentang rumah tersebut dengan harapan akan ada orang yang memiliki informasi lebih. Tak lama kemudian, ia pun menerima email dari seseorang yang akan membawa mereka ke sebuah misteri yang kelam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis tidak akan bercerita terlalu dalam mengenai isi buku ini, mengingat apa yang membuat novel misteri menarik adalah misterinya. Namun, Penulis bisa mengatakan kalau <strong>denah rumah yang aneh di sini tidak hanya satu</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, nanti akan terungkap kalau ada alasan khusus kenapa rumah-rumah tersebut memiliki denah yang aneh. Bisa dibilang, konklusi cerita yang dibagi menjadi empat bab ini tidak tertebak, kalau bukan jadi terlalu jauh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di bab selanjutnya, akan ada lebih banyak <em>spoiler</em> yang akan mengurangi keseruan jika Pembaca berniat membaca buku ini. Jadi,<strong> <em>spoiler alert</em>!</strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis pada dasarnya memang menyukai novel detektif dan misteri. Jauh sebelum kenalan dengan <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/">novel-novel Keigo</a>, Penulis sudah membaca semua novel <a href="https://whathefan.com/buku/berteriak-karena-buku/">Agatha Christie</a> dan Sherlock Holmes. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, standar Penulis jadi agak tinggi. Penulis menganggap <em>Teka-Teki Rumah Aneh </em>adalah cerita misteri yang menarik, tapi tidak sampai membuat Penulis menganggap sebagai salah satu yang terbaik yang pernah Penulis baca.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Yang Plus dari Teka-Teki Rumah Aneh</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang sudah Penulis singgung, kita langsung disuguhi denah rumah yang awalnya terlihat normal, tapi ternyata memiliki keanehan. Apalagi, &#8220;rumah anehnya&#8221; bukan hanya itu, sehingga kita jadi menyadari kalau<strong> ini adalah sebuah pola tertentu</strong>, bukan sekadar kesalahan arsitektur saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itulah hal yang berhasil membuat penasaran bagi tokoh penulis dan Kurihara-san. Berawal dari pertanyaan, mereka justru jadi melakukan penyelidikan untuk mengulik apa maksud dari denah rumah aneh tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Buat Penulis, salah satu kekuatan utama novel ini adalah <strong>bagaimana kita mampu dibuat merasa penasaran seperti tokoh di dalamnya</strong>. Terlalu banyak pertanyaan yang muncul ketika melihat fakta yang ada, sehingga kita terus ingin tahu seperti apa jawabannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itu juga menjadi salah satu alasan lain mengapa <em>pace </em>cerita ini cepat dan tidak terlalu bertele-tele. Tidak ada polisi yang melakukan wawancara seperti di novel-novel Keigo. Apalagi, kita tidak perlu susah-susah membayangkan denahnya karena gambarnya selalu tersedia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, entah bagaimana novel ini juga bisa terasa lumayan &#8220;horor&#8221; hingga Penulis merasa merinding ketika membacanya. Padahal, sama sekali tidak ada adegan hantu atau gangguan makhluk halus.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Yang Kurang dari Teka-Teki Rumah Aneh</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, Penulis kurang menyukai konklusi dari cerita ini yang <strong>memiliki hubungan dengan okultisme</strong>. Keluarga pembunuh yang terjebak &#8220;ritual&#8221; memakan korban tersebut terasa agak bodoh karena mau termakan kata &#8220;orang pintar&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apalagi, semua itu berawal dari hubungan inses yang dialami oleh keluarga tersebut, yang menjadi awal dari semua tragedi yang terjadi selanjutnya. Jumlah korban berjatuhan hanya karena kepercayaan yang sesat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin ada pembaca novel ini yang menyukai konklusi seperti itu. Namun, Penulis sendiri tidak menyukai unsur-unsur seperti itu, karena <strong>misteri bisa terjadi karena ketidaktahuan orang</strong>, bukan karena disusun secara cerdik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oh iya, di bagian akhir setelah cerita terkesan berakhir, ternyata Uketsu justru memilih <strong>memberikan <em>open ending </em>kepada Pembaca </strong>terhadap salah satu karakter kunci di cerita ini. Padahal, Penulis berharap kalau misterinya harus tuntas tanpa menimbulkan pertanyaan baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, novel ini tetap menjadi bacaan misteri yang menegangkan dan akan membuat kita kesulitan untuk berhenti membaca karena penasaran. Setelah membaca Teka-Teki Rumah Aneh, rasanya kita akan jadi memperhatikan setiap detail denah rumah yang kita lihat!</p>



<p class="wp-block-paragraph">SKOR: <strong>7/10</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat menulis artikel ini, Penulis sempat ke Gramedia dan melihat ada &#8220;sekuel&#8221; novel ini dengan judul <em><strong>Teka-Teki Gambar Aneh</strong></em>. Menarik untuk ditunggu apakah novel ini juga mampu membuat Penulis merasa merinding dan tak bisa berhenti membaca.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 24 Februari 2026, terinspirasi setelah membaca buku <em>Teka-Teki Rumah Aneh </em>karya Uketsu</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/">[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Effortless</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Dec 2025 14:59:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Greg McKeown]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8434</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belakangan ini, Penulis bisa dibilang jarang membaca buku bergenre self-improvement. Bukan karena merasa self-nya sudah improve, tapi karena lebih sering mengeksplorasi genre lain saja yang selama ini jarang disentuh, seperti filsafat dan politik. Selain itu, mungkin Penulis juga merasa kalau buku self-improvement seolah gitu-gitu aja. Tidak banyak hal baru yang berhasil menarik perhatian Penulis, seolah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/">[REVIEW] Setelah Membaca Effortless</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Belakangan ini, Penulis bisa dibilang jarang membaca buku bergenre <em>self-improvement</em>. Bukan karena merasa <em>self</em>-nya sudah <em>improve</em>, tapi karena lebih sering mengeksplorasi genre lain saja yang selama ini jarang disentuh, seperti filsafat dan politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, mungkin Penulis juga merasa kalau buku <em>self-improvement </em>seolah gitu-gitu aja. Tidak banyak hal baru yang berhasil menarik perhatian Penulis, seolah dengan membaca judulnya saja, Penulis sudah bisa membayangkan isinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, beda cerita ketika Penulis menemukan buku berjudul <em>Effortless </em>dari Greg McKeown ini. Ketika membaca sinopsis yang cukup panjang di bagian belakang buku, Penulis merasa ini adalah buku yang dibutuhkan saat ini. Untunglah, hal tersebut benar adanya. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-banner.jpg 1280w " alt="Umur Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/renungan/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/">Umur Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Effortless</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Effortless: Karena Tak Semua Harus Sesulit Itu</em></li>



<li>Penulis: Greg McKeown</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-6</li>



<li>Tanggal Terbit: Juli 2025</li>



<li>Tebal: 320 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020658780</li>



<li>Harga: Rp98.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Effortless</h2>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Apakah Anda pernah merasa seperti:</em></p>



<ul class="wp-block-list">
<li><em>Berada tepat di tepi jurang lelah fisik dan mental?</em></li>



<li><em>Ingin berkontribusi lebih besar, tetapi kehabisan energi?</em></li>



<li><em>Sudah berlari lebih kencang tetapi tidak maju lebih dekat ke sasaran?</em></li>



<li><em>Segalanya terasa jauh lebih sulit daripada biasanya?</em></li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kita telah dikondisikan untuk percaya bahwa jalan menuju sukses adalah jalan dengan kerja yang terus-menerus. Bahwa kalau ingin pencapaian tinggi, kita harus memaksa diri, terus memutar otak, dan berusaha sampai lewat batas. Jadi, kalau kita belum terkapar kelelahan, artinya usaha kita belum memadai.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Namun belakangan ini, kerja keras lebih menguras tenaga daripada sebelumnya. Dan makin berkurang energi kita, makin sulit kita meraih kemajuan. Terjebak di sebuah lingkaran setan “Zoom, eat, sleep, repeat,” kita sering bekerja dua kali lebih keras tetapi meraih hasil paling banyak setengah dari biasanya.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Untuk berada paling depan kita tidak harus mengerjakan sesuatu yang sulit. Apa pun tantangan atau rintangan yang kita hadapi, ada sebuah jalan yang lebih baik: alih-alih memaksa diri lebih keras, kita dapat menemukan jalan yang lebih mudah.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Effortless menawarkan saran yang dapat diterapkan untuk mengerjakan kegiatan-kegiatan esensial dengan cara-cara paling mudah, agar anda bisa meraih hasil-hasil yang diinginkan, tanpa mengalami lelah fisik dan mental.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Effortless</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sinopsis yang cukup detail di atas (bahkan aslinya lebih panjang dari itu), kita sudah mendapatkan gambaran apa yang akan dibahas oleh buku ini. Singkatnya, buku ini mengajarkan beberapa cara untuk melakukan sesuatu dengan lebih efektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya buku ini seperti sekuel untuk buku McKeown yang lain, <em>Essential</em>, yang sayangnya belum Penulis baca. Apalagi, di buku ini beberapa kali menyinggung buku tersebut. Walau begitu, kita tidak perlu membaca buku tersebut untuk bisa memahami buku ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bagian, di mana masing-masing akan di-<em>breakdown </em>menjadi lima subbab. Berikut adalah daftarnya:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian I: Keadaan Tanpa Kesulitan (<em>Bagaimana kita dapat membuat  berfokus lebih mudah</em>?)</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Dibalik: Bagaimana kalau Ini Dapat Dibuat Mudah?</li>



<li>Dinikmati: Bagaimana kalau Ini Dapat Dibuat Menyenangkan?</li>



<li>Dibebaskan: Dahsyatnmya Kesediaan Membebaskan</li>



<li>Diistirahatkan: Seni dalam Tidak Berbuat Apa pun</li>



<li>Diperhatikan: Bagaimana Melihat dengan Jelas</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang dimaksud Keadaan Tanpa Kesulitan adalah mengenai kondisi diri kita sendiri sebelum melakukan sesuatu. Ini adalah awal yang baik agar kita bisa lebih fokus dalam mengerjakan berbagai hal. </p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian II: Aksi Tanpa Kesulitan (<em>Bagaimana kita dapat membuat pekerjaan esensial lebih mudah?</em>)</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Didefinisikan: Seperti Apa yang Disebut &#8220;Selesai&#8221;?</li>



<li>Dimulai: Aksi Nyata Pertama</li>



<li>Disederhanakan: Dimulai dari Nol</li>



<li>Kemajuan: Berani Tampil Buruk Rupa</li>



<li>Irama: Lambat Itu Mulus, Mulus Itu Cepat</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah keadaan kita berada di kondisi yang lebih baik, maka selanjutnya adalah memahami Aksi Tanpa Kesulitan. Bagian II bisa dibilang adalah inti dari buku ini, di mana kita diberi beberapa langkah praktis agar sesuatu bisa selesai secara efektif. </p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian 3: Hasil Tanpa Kesulitan (<em>Bagaimnana kita mendapat hasil tertinggi dengan usaha paling sedikit?</em>)</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Dipelajari: Memanfaatkan Hal Terbaik yang Sudah Diketahui Orang Lain</li>



<li>Ditingkatkan: Memanfaatkan Kekuatan Sepuluh Orang</li>



<li>Diotomatiskan: Mengerjakan Satu Kali Saja dan Selanjutnya Otomatis</li>



<li>Dipercaya: Tim dengan Mesin Berefek Tuas Tinggi</li>



<li>Dicegah: Memecahkan Masalah sebelum Muncul</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah memperbaiki diri sendiri dan mengoptimalkan tindakan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, selanjutnya adalah Hasil Tanpa Kesulitan. Bab ini menjelaskan cara untuk meningkatkan hasil yang diinginkan dengan upaya seminim mungkin.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Effortless</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Buku bergenre self-improvement akan Penulis anggap bagus apabila ada banyak hal praktis yang bisa dilakukan saat ini juga. Itulah mengapa Penulis memberi nilai yang cukup tinggi ke buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/">Atomic Habits</a></em>. Nah, <em>Effortless </em>ini juga mendapatkan apresiasi yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di bagian pertama, kita akan diajak untuk mengelola kembali isi pikiran dan menyingkirkan hal-hal yang tidak esensial, mengelola emosi, dan lain sebagainya. Bisa dibilang, bagian ini lebih terasa sebagai buku <em>self-love</em>. Semua berawal dari diri kita sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal paling praktis bisa ditemukan di bagian kedua, di mana ada banyak sekali hal-hal kecil yang bisa dilakukan untuk bisa membuat suatu aktivitas atau pekerjan terasa lebih mudah. Mungkin tidak banyak hal baru, tapi tetap saja tips yang diberikan sangat mudah dipraktekkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selanjutnya di bab terakhir akan membahas mengenai beberapa tips untuk meningkatkan hasil setelah melakukan apa yang sudah dijelaskan di dua bab sebelumnya. Beberapa di antaranya adalah membuat sistem, otomatisasi, hingga delegasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika dirangkum, buku ini memang konsisten dengan judulnya, di mana setiap aktivitas yang kita lakukan (terutama yang esensial) bisa dikerjakan dengan <em>effortless</em>. Bukan cuma kerja keras, tapi juga kerja cerdas. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, gaya bahasa yang digunakan juga ringan dan tidak menggurui, sehingga kita yang membacanya pun jadi merasa <em>effortless </em>untuk memahami isi buku. Kita tidak perlu memeras otak untuk bisa memahami langkah-langkah yang ditawarkan oleh buku ini. Apalagi, ada banyak <em>study case </em>yang membuat kita lebih memahami isi buku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang paling Penulis suka dari buku ini adalah adanya ringkasan di setiap akhir subbab, di mana makin ke belakang ringkasan ini makin lengkap. Ini sangat membantu kita untuk tetap mengingat apa saja yang sudah kita pelajari dari buku ini. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sentuhan kecil yang juga menarik dari buku ini adalah beberapa <em>quote </em>paling penting akan di-<em>highlight</em> dengan dibesarkan dan ditebalkan. Selain itu, ada juga beberapa ilustrasi yang membantu kita lebih memahami apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Buku ini Penulis rekomendasikan bagi siapapun yang kerap merasa <em>burnout </em>dengan pekerjaannya, sering merasa lelah secara mental, merasa pola hidupnya berantakan, dan berbagai permasalahan internal lainnya. Tentu, mempraktekkan isi bukunya menjadi hal paling penting.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph"><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 3 Desember 2025, terinspirasi setelah membaca <em>Effortless </em>karya Greg McKeown</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/">[REVIEW] Setelah Membaca Effortless</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2025 15:38:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Hwang Bo-reum]]></category>
		<category><![CDATA[korea]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[slice-of-life]]></category>
		<category><![CDATA[toko buku]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8431</guid>

					<description><![CDATA[<p>Entah mengapa belakangan ini, Penulis merasa kalau novel dengan latar belakang &#8220;toko buku&#8221; (atau kadang hanya &#8220;buku&#8221; saja) sedang banyak dijual. Banyak sekali di rak buku judul-judul yang mengandung frase ini, sehingga tentu menimbulkan rasa penasaran. Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membeli salah satu, di mana pilihan jatuh kepada Welcome to the Hyunam-Dong [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/">[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Entah mengapa belakangan ini, Penulis merasa kalau novel dengan latar belakang &#8220;toko buku&#8221; (atau kadang hanya &#8220;buku&#8221; saja) sedang banyak dijual. Banyak sekali di rak buku judul-judul yang mengandung frase ini, sehingga tentu menimbulkan rasa penasaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membeli salah satu, di mana pilihan jatuh kepada <em><strong>Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</strong></em> karya <strong>Hwang Bo-reum</strong>. Yups, lagi-lagi penulis Asia, bedanya kali ini dari Korea Selatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika dan setelah membaca novel ini, Penulis berpikir, &#8220;oh, ternyata jadinya begini jika genre <em>slice of life </em>menjadi sebuah cerita.&#8221; Jadi, jangan harap akan menemukan konflik yang menegangkan atau plot twist yang mengejutkan di sini!</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>[SPOILER ALERT!!!]</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-300x200.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1.jpg 2048w " alt="Chapter 18  Kompetisi untuk Harga Diri" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-18-kompetisi-untuk-harga-diri/">Chapter 18  Kompetisi untuk Harga Diri</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</em> <em>(Selamat Datang di Toko Buku Hyunam-dong)</em></li>



<li>Penulis: Hwang Bo-reum</li>



<li>Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia</li>



<li>Cetakan: Ke-5</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2025</li>



<li>Tebal: 408 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020530444</li>



<li>Harga: Rp119.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</h2>



<p class="wp-block-paragraph"><em>&#8220;Kisah orang-orang yang berjuang untuk menjalin hubungan baru dan menyembuhkan diri melalui buku dan toko buku terungkap secara mendalam.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Toko buku di lingkungan biasa, yang berdiri di antara rumah-rumah di mana tidak banyak orang datang dan pergi. Inilah toko buku di Hyunam-dong! Selama beberapa bulan pertama, pemilik toko buku, Young-joo, yang wajahnya tidak menunjukkan antusiasme, seperti seseorang yang selalu larut dalam kesedihan, duduk diam dan membaca buku seolah-olah dia adalah seorang pelanggan.</em> <em>Dia menghabiskan setiap hari di toko buku dengan perasaan seperti mendapatkan kembali hal-hal yang hilang satu per satu. Perasaan lelah dan hampa dalam batin perlahan menghilang. Sejak saat itu, toko buku di Hyunam-dong menjadi tempat yang benar-benar baru. Ruang tempat orang berkumpul, berbagai emosi berkumpul, dan cerita tiap individu.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sesuai dengan sinopsis di bagian belakang bukunya, <em>Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</em> berpusat pada toko buku kecil yang berada di daerah Hyunam-Dong. Pemiliknya adalah <strong>Yeong-ju</strong>, seorang perempuan yang berusia 30 tahunan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia tak sendirian di toko buku tersebut. Ada <strong>Min-joon</strong>, yang bekerja sebagai barista di sana. Lalu, ada <strong>Jimmy </strong>(ini karakter cewek!) yang menjadi <em>supplier </em>biji kopi untuk toko buku tersebut, yang juga menjadi teman dekat Yeong-ju.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu ada banyak pengunjung setia toko buku kecil yang nyaman tersebut, seperti anak SMA yang benama <strong>Min-Cheol </strong>beserta <strong>ibunya</strong> (yang namanya baru terkuak jelang akhir buku),<strong> Jung-seo </strong>yang hobi merajut, <strong>Seong-cheol</strong>, dan lain sebagainya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun berkesan &#8220;santai&#8221;, tentu masing-masing karakter memiliki masalahnya sendiri. Yeong-ju misalnya, mengalami <em>burnout </em>karena pekerjaan lamanya dan kegagalam rumah tangganya. Toko buku yang ia dirikan seolah menjadi sarana pelariannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tema pernikahan yang tidak bahagia juga dialami oleh Jimmy, sedangkan sang barista berada di krisis eksistensial karena merasa dirinya gagal. Toko buku kecil tersebut seolah menjadi semacam &#8220;oasis&#8221; bagi mereka dan pengunjung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk menghidupkan suasana toko buku, Yeong-ju membuat semacam berbagai acara di sana, termasuk bedah buku dan diskusi antara sesama pembaca buku. Ia bahkan mengundang penulis seperti <strong>Seung-woo </strong>yang sepertinya memiliki ketertarikan dengannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itu semua dibalut dengan aktivitas ringan yang terjadi di sekeliling kita, bagaimana obrolan-obrolan ringan keluar ketika bertemu kenalan di suatu tempat, bagaimana kita curhat ke teman yang kita percaya, bagaimana proses penerimaan diri, dan lain sebagainya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang sudah Penulis singgung di awal tulisan, genre novel ini adalah <em>slice-of-life</em>. Mungkin baru kali ini Penulis membaca buku dengan genre seperti ini. Apakah Penulis menyukainya? Jawabannya iya dan tidak secara bersamaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai novel santai yang tidak terus-menerus menimbulkan rasa penasaran, <em>Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</em> adalah teman yang menarik terutama ketika kepala kita sedang penuh dengan berbagai permasalahan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Apalagi,<strong> gaya bahasanya juga terasa lembut dan <em>cozy</em></strong>, sehingga terkadang membuat Penulis merasa kalau novel ini seperti <em>lullaby </em>pengantar tidur. Ini bisa menjadi kelebihan sekaligus kekurangan, karena di satu sisi akan <strong>menimbulkan kesan membosankan</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itulah yang Penulis rasakan selama membaca buku ini. Awal-awal membaca, Penulis merasa bersemangat untuk membaca tiap babnya secara perlahan dan menikmati aktivitas-aktivitas sederhana yang disajikan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, setelah lewat setengah buku, rasa bosan itu muncul sehingga proses menamatkan novel ini pun menjadi lebih lama. Apalagi, ceritanya lumayan <em>dragging</em>. Penulis bahkan sudah tidak seberapa ingat ada kisah apa saja yang sudah Penulis baca di novel ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cerita antarbabnya tidak <em>nyambung</em>, terutama di bagian awal-awal, seolah ceritanya berdiri sendiri-sendiri. Namun, makin ke belakang, buku ini semakin terasa linier dan utuh sebagai novel, bukan kumpulan cerita pendek.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, bisa dibilang <strong>novel ini tidak memiliki konflik utama</strong>. Konfliknya ya ada di masing-masing karakter, di mana sepanjang novel mereka mulai mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu menjadi lebih baik dalam menghadapi masalahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bisa dibilang, konflik yang ada di novel ini lebih banyak ke <strong>pergulatan batin</strong> dibandingkan dengan konflik eksternal. Tidak ada cerita Yeong-ju pusing karena penjualan toko seret, yang ada bagaimana ia berusaha untuk berdamai dengan keadaan dan terutama dirinya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Buat yang sedang mengalami masalah internal, bisa jadi ada bagian-bagian di buku ini yang akan memberikan jawabannya. Mungkin bukan jawaban gamblang, tapi bisa menjadi inspirasi apa yang harus dilakukan pada situasi tertentu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagian yang paling menarik bagi Penulis tentu saja mengetahui <strong>bagaimana Yeong-ju mengelola toko bukunya</strong>. Setiap aktivitas yang dia lakukan, baik sekadar merapikan rak buku ataupun membuat komunitas, berhasil Penulis bayangkan dengan baik</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin novel ini bisa memberikan rasanya nyaman untuk pembacanya yang merasa <em>related </em>dengan konflik di dalamnya. Sayangnya, Penulis tidak merasakan rasa nyaman itu, setidaknya setelah membaca cukup banyak halamannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, novel ini tetap Penulis rekomendasikan untuk Pembaca yang sedang mencari bacaan ringan. Walau latarnya di Korea Selatan, buku ini cukup terasa dekat, walau tidak sampai membuat kita merasa memiliki koneksi khusus dengan karakter-karakter di dalamnya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph"><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 6/10</mark></strong></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 2 Desember 2025, terinspirasi setelah membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop karya Hwang Bo-reum</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/">[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tulisan Ini Merangkum Ulasan Film dan Serial MCU yang Terlewat</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/tulisan-ini-merangkum-ulasan-film-dan-serial-mcu-yang-terlewat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/tulisan-ini-merangkum-ulasan-film-dan-serial-mcu-yang-terlewat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Apr 2024 15:18:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Loki]]></category>
		<category><![CDATA[Marvel]]></category>
		<category><![CDATA[MCU]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[The Marvels]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[What If...?]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7234</guid>

					<description><![CDATA[<p>Biasanya, setiap ada film atau serial Marvel Cinematic Universe (MCU) yang selesai ditonton, Penulis akan membuat artikel ulasannya. Walaupun kadang telat satu bulan, artikel tersebut akan tetap ditulis. Namun, beberapa bulan terakhir, Penulis melewatkan cukup banyak film dan serial MCU karena kesibukan (dan kemalasan) untuk diulas. Padahal, setelah serial Secret Invasion yang mengecewakan, MCU merilis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/tulisan-ini-merangkum-ulasan-film-dan-serial-mcu-yang-terlewat/">Tulisan Ini Merangkum Ulasan Film dan Serial MCU yang Terlewat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Biasanya, setiap ada film atau serial Marvel Cinematic Universe (MCU) yang selesai ditonton, Penulis akan membuat artikel ulasannya. Walaupun kadang telat satu bulan, artikel tersebut akan tetap ditulis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, beberapa bulan terakhir, Penulis melewatkan cukup banyak film dan serial MCU karena kesibukan (dan kemalasan) untuk diulas. Padahal, setelah <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-secret-invasion/">serial <em>Secret Invasion</em> yang mengecewakan</a>, MCU merilis tiga serial dan satu film layar lebar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun sudah telat berbulan-bulan, ada rasa bersalah karena telah melewatkan mereka semua. Oleh karena itu, agar tidak lagi terbebani dengan hutang artikel, Penulis memutuskan untuk merangkum semuanya dalam satu artikel.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/pengalaman-menjadi-tour-guide-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/pengalaman-menjadi-tour-guide-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/pengalaman-menjadi-tour-guide-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/pengalaman-menjadi-tour-guide-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/pengalaman-menjadi-tour-guide-banner.jpg 1280w " alt="Pengalaman Menjadi Tour Guide di Malang" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-tour-guide-di-malang/">Pengalaman Menjadi Tour Guide di Malang</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Rangkuman Ulasan Film dan Serial MCU</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah serial <em>Secret Invasion</em>, Marvel merilis tiga serial lagi, yakni<strong> <em>Loki Season 2</em></strong>, <em><strong>What If&#8230;? Season 2</strong></em>, dan <em><strong>Echo</strong></em>. Selain itu, Marvel juga merilis film layar lebar terakhir di tahun 2023, yakni <em><strong>The Marvels</strong></em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, bagaimana pendapat Penulis tentang film dan serial-serial tersebut? Apakah <a href="https://whathefan.com/filmserial/the-fall-of-marvel-cinematic-universe/">semakin memundurkan kualitas MCU</a>, atau <a href="https://whathefan.com/filmserial/the-future-of-marvel-cinematic-universe/">justru berhasil menyelamatkannya</a>? Berikut adalah ulasan Penulis selengkapnya! </p>



<h3 class="wp-block-heading">Review Loki Season 2</h3>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Marvel Studios’ Loki Season 2 | Official Trailer | Disney+" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/dug56u8NN7g?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Singkat kata, <em>Loki Season 2 </em>adalah <strong>serial terbaik yang pernah diproduksi oleh MCU</strong>. Bahkan, lebih bagus dari <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-1/"><em>WandaVision</em></a> yang sebelumnya Penulis anggap sebagai serial terbaik. Serial ini, dari episode pertama hingga terakhir, berhasil konsisten menyajikan tontonan yang berkualitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://whathefan.com/filmserial/akhirnya-marvel-kembali-ke-jalan-yang-benar-melalui-loki-season-2/">Setelah menonton episode 4</a>, Penulis sudah menuliskan bahwa serial ini benar-benar terasa menjadi oase di tengah film dan serial Marvel lainnya yang begitu buruk. Hampir mayoritas menganggap kalau serial ini berhasil menyelamatkan muka Marvel yang terus-menerus dikritik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang paling Penulis suka dari serial ini adalah pengembangan karakter yang dialami oleh Loki. Dari yang awalnya antagonis narsistik menjadi penyelamat <em>universe </em>dengan mengorbankan egonya. Siapa yang menyangka kalau God of Mischief rela melakukan sejauh itu? </p>



<p class="wp-block-paragraph">Karakter-karakter pendukungnya pun tak kalah menarik. Apresiasi perlu disematkan ke <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/ke-huy-quan-dan-kisah-luar-biasa-yang-dimilikinya/">Ke Huy Quan</a> yang memerankan karakter OB. Sekali lagi, ia menjadi karakter yang dengan mudah dicintai oleh penontonnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kesimpulannya, serial ini jelas akan menjadi parameter ke depannya kalau sebuah serial Marvel minimal ya memiliki kualitas cerita seperti ini. Standar yang jelas tinggi, sehingga para penonton pun harus bisa mengelola ekspektasinya dengan bijak.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph"><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">SKOR: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<h3 class="wp-block-heading">Review The Marvels</h3>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Marvel Studios&#039; The Marvels | Official Trailer" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/wS_qbDztgVY?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><em>The Marvels </em>adalah film yang <strong>benar-benar biasa saja</strong>. Plot cerita, biasa, lurus tanpa <em>plot twist</em>. <em>Villain </em>utama biasa saja, tipe yang akan mudah dilupakan. Malah, sepanjang nonton film ini, Penulis merasa kalau film ini benar-benar tipe M-She-U yang sering diungkapkan oleh netizen.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu hal yang paling membuat Penulis kesal adalah bagaimana Captain Marvel, yang notabene menjadi salah satu <em>superhero </em>terkuat di MCU, terlihat kewalahan melawan <em>villain </em>yang kemampuannya B aja. Sangat terlihat kalau ia cukup di-<em>nerf</em> demi kepentingan cerita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dramanya dengan Monica Rambeau juga terasa canggung dan tidak natural. Seperti klise pada umumnya, konflik antara Monica dan Captain Marvel hanya karena miskomunikasi yang selesai ketika mereka akhirnya berbicara dari hati ke hati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, mungkin kehadiran Kamala Khan bisa dibilang membuat film ini setidaknya terasa segar dan berwarna. Karakternya yang<em> lovable </em>di serial <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-ms-marvel/">Ms. Marvel</a></em> berhasil dipertahankan di film ini dan seolah menjadi &#8220;anak bontot&#8221; dari tiga bersaudara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang ada sedikit kejutan di bagian akhir, tapi jujur sama sekali tidak mengejutkan karena rumornya sudah santer terdengar sebelum filmnya rilis. Kamala mendatangi Kate Bishop dari serial <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-hawkeye/">Hawkeye</a> </em>untuk bergabung dengan &#8220;Avengers&#8221; baru, sedangkan Monica terlempar ke <em>universe </em>lain di mana ia bertemu dengan Beast dari X-Men.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph"><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">SKOR: 6/10</mark></p>
</blockquote>



<h3 class="wp-block-heading">Review What If&#8230;? Season 2</h3>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Marvel Studios’ What If…? Season 2 | Official Trailer | Disney+" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/TiEVqZ2Bc_c?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Mengingat musim pertamanya berhasil menyajikan cerita-cerita yang menarik, Penulis pun berekspektasi kalau musim kedua dari serial <em>What If&#8230;?</em> akan sama bagusnya. Sayangnya, ekspektasi tersebut dipatahkan begitu saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan musim pertamanya, serial ini dirilis setiap hari, bukan setiap minggu. Tentu harusnya hal tersebut membuat penggemar senang, bukan? Iya, jika jalan ceritanya sebagus musim pertamanya. Musim kedua ini<strong> bisa dibilang lumayan mengecewakan</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, episode-episodenya tidak terlalu saling terkait seperti musim pertama. Ada beberapa episode yang sama sekali tidak memiliki pengaruh ke <em>finale episode</em>-nya. Kedua, serial ini terlalu berfokus ke Captain Carter, seolah semakin menegaskan MCU itu M-She-U.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika, karakter Supreme Strange yang sudah menjalani <em>character development </em>di musim pertama menjadi <em>villain </em>lagi, bahkan <em>villain </em>utama. Tujuannya pun sama, menghidupkan kembali Christie dengan membuat ulang semestanya yang telah hancur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu poin positif dari serial ini adalah adanya karakter Kahhori, yang merupakan karakter orisinal untuk serial <em>What If&#8230;?</em>. Ia pun bekerja sama dengan Captain Carter untuk mengalahkan Supreme Strange dan menyelamatkan <em>multiverse</em>.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph"><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">SKOR: 6/10</mark></p>
</blockquote>



<h3 class="wp-block-heading">Review Echo</h3>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Marvel Studios&#039; Echo | Official Trailer | Disney+ and Hulu" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/AFUKnherhuw?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Di awal tahun 2024, Marvel merilis sebuah serial baru berjudul <em>Echo</em>, yang merupakan seri pertama yang masuk ke dalam seri Marvel Spotlight. Serial ini berfokus ke karakter Maya Lopez, yang telah muncul di serial <em>Hawkeye</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin Marvel sudah punya <em>feeling </em>kalau serial ini tidak akan terlalu berhasil, sehingga mereka memutuskan untuk merilis semua episodenya dalam satu hari. Keputusan tersebut mungkin benar, karena serial ini cukup membuat Penulis garuk-garuk kepala.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama beberapa episode awal, Penulis benar-benar dibuat bingung<strong> mau dibawa ke arah mana serial ini</strong>. Apakah ini merupakan perjalanan awal Maya menjadi <em>superhero</em>, pembalasan dendam masa lalu, atau malah cuma jadi pemanasan serial <em>Daredevil Born Again</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rupanya, serial ini pada akhirnya berfokus bagaimana Maya menyelesaikan konflik dengan Kingpin, yang selama ini sudah dianggap sebagai pamannya sendiri. Namun, penyelesaian konfliknya di episode terakhir pun terasa aneh dan berakhir begitu saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karakter Kingpin di sini jelas berhasil mencuri perhatian berkat akting dari Vincent D&#8217;Onofrio. Sayangnya, karakter Maya terasa kurang berhasil digali potensinya untuk menjadi karakter besar di MCU. Apalagi, tidak jelas bagaimana nasibnya di masa depan MCU.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph"><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">SKOR: 5/10</mark></p>
</blockquote>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dari empat film/serial yang Penulis ulas di atas, hanya<em> Loki Season 2 </em>yang Penulis anggap berhasil. Ini tentu menunjukkan kalau MCU masih harus berbenah jika tidak ingin ditinggalkan oleh penggemarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejauh ini, sudah ada banyak upaya untuk menyelamatkan muka MCU, termasuk menunda beberapa proyek untuk memastikan kualitasnya. Di tahun 2024 ini, hanya ada film <em>Deadpool &amp; Wolverine </em>yang akan dirilis oleh Marvel, dan jujur Penulis sangat mengantisipasinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat artikel ini ditulis, Penulis sedang mengikuti serial animasi <em>X-Men &#8217;97</em>, sebuah lanjutan dari serial klasik Marvel yang dirilis di tahun 90-an. Sejauh ini, serial ini cukup memuaskan dan memiliki jalan cerita yang menarik dan membuat penasaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bisa jadi, film <em>Deadpool &amp; Wolverine</em> dan serial <em>X-Men &#8217;97 </em>tersebut dijadikan patokan oleh Marvel apakah semesta X-Men masih menarik minat penonton. Jika iya, maka kemungkinan besar Mutant Saga akan hadir setelah Multiverse Saga berakhir.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 24 April 2024, terinspirasi setelah menyadari ada banyak serial dan film MCU yang belum dibuatkan ulasannya</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/tulisan-ini-merangkum-ulasan-film-dan-serial-mcu-yang-terlewat/">Tulisan Ini Merangkum Ulasan Film dan Serial MCU yang Terlewat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/tulisan-ini-merangkum-ulasan-film-dan-serial-mcu-yang-terlewat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Apr 2023 13:26:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Funiculi Funicula]]></category>
		<category><![CDATA[kopi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Toshikazu Kawaguchi]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6438</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pepatah memang menyebutkan don&#8217;t judge a book by its cover alias jangan menilai buku hanya dari sampulnya. Namun, sejujurnya Penulis beberapa kali membeli buku karena terpikat dengan sampulnya. Contoh terbarunya adalah novel Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold karya Toshikazu Kawaguchi yang akan Penulis bahas pada tulisan kali ini. Begitu melihatnya, langsung ada perasaan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/">Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Pepatah memang menyebutkan <em>don&#8217;t judge a book by its cover</em> alias jangan menilai buku hanya dari sampulnya. Namun, sejujurnya Penulis beberapa kali membeli buku karena terpikat dengan sampulnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Contoh terbarunya adalah novel <em><strong>Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</strong></em> karya <strong>Toshikazu Kawaguchi</strong> yang akan Penulis bahas pada tulisan kali ini. Begitu melihatnya, langsung ada perasaan kalau Penulis harus membelinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang membuat Penulis menyukai sampul ini adalah gaya anime realis yang dimilikinya, salah satu <em>artstyle </em>yang Penulis sukai. Bahkan tak hanya satu, Penulis langsung membeli buku keduanya juga yang akan Penulis bahas di tulisan selanjutnya.</p>





<p class="wp-block-paragraph">Tentu Penulis menyempatkan diri untuk membaca sinopsis singkat yang ada di bagian belakang buku. Ternyata, ada unsur supernatural dalam buku ini karena menceritakan sebuah kafe yang mampu membawa pengunjungnya pergi ke masa lalu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Biasanya, Penulis menghindari genre-genre fantasi seperti ini. Namun, entah mengapa Penulis tetap terpikat dengannya. Intuisi Penulis benar, ini adalah salah satu novel dengan cerita paling bagus sekaligus paling menyayat hati!</p>



<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</em></li>



<li>Penulis: Toshikazu Kawaguchi</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Keenam Belas</li>



<li>Tanggal Terbit: Februari 2023</li>



<li>Tebal: 223 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020651927</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang sudah Penulis singgung sedikit di atas, novel ini berkisah tentang sebuah kafe tua nan kecil bernama Funiculi Funicula yang terletak di sebuah gang kecil di Tokyo. Kita bisa melihat ilustrasi kafe ini pada bagian sampul buku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang istimewa dari kafe ini bukan dari kopi ataupun sajiannya, melainkan karena mampu membawa pengunjungnya pergi ke masa lalu, bahkan masa depan. Hanya saja, ada banyak syarat yang harus mampu dipenuhi oleh pelanggan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa di antaranya adalah kita hanya bisa bertemu dengan seseorang di masa lalu/depan jika orang tersebut pernah mengunjungi kafe tersebut. Lalu, kita harus duduk di kursi tertentu dan tidak boleh berpindah tempat sekalipun, atau kita akan langsung diseret ke masa kini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masalahnya, kursi spesial tersebut kerap diduduki oleh roh hantu perempuan yang membaca novel. Katanya, itu terjadi karena pernah ada seseorang yang pergi ke masa lalu dan melebihi batas waktu yang telah ditentukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seberapa lama waktu yang bisa kita gunakan untuk menjelajahi waktu? Ternyata tergantung dari kopi yang akan mengirimkan kita ke masa lalu tersebut. Kita harus &#8220;pulang&#8221; sebelum kopinya menjadi dingin, seperti yang tertera di judul buku ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, kita juga harus memahami bahwa apapun yang kita lakukan di masa lalu tidak akan mengubah kenyataan yang akan terjadi hari ini. Konsepnya mirip dengan konsep <em>time travel </em>di film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-avengers-endgame-bagian-1-adegan-favorit/">Avengers: Endgame</a></em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ribet? Jelas, apalagi yang akan kita lakukan di masa lalu tidak akan mengubah apapun.. Setelah mengetahui ada begitu banyak peraturan yang ada, banyak yang mengurungkan niatnya untuk pergi ke masa lalu. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, tetap saja ada segelintir orang yang tetap yakin ingin melakukannya. Ada seorang perempuan yang ingin berbaikan dengan kekasihnya, ada seorang perawat yang ingin membaca surat yang dibuat oleh suaminya yang sakit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada seorang kakak yang menemui adiknya untuk terakhir kalinya, dan ada seorang ibu yang ingin bertemu dengan anak yang mungkin tidak akan pernah dijumpainya seumur hidup. Penulis tidak akan membocorkan detail kisah perjalanan mereka di sini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Awalnya Penulis mengira kalau buku ini merupakan sebuah kumpulan cerpen di mana kisah dari masing-masing babnya tidak memiliki keterkaitan. Ternyata, walau terkesan tidak memiliki kesinambungan, ada benang merah yang menyambungkannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itu adalah salah satu poin plus dari novel ini, sehingga menghadirkan sedikit <em>plot twist </em>yang walaupun tidak terlalu mengejutkan, tetap memberikan <em>damage</em>. Apalagi, kisah-kisah yang terkandung di dalamnya terasa nyata dan bisa saja terjadi pada kehidupan kita.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Konsep Time Travel yang Disederhanakan</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika membaca cerita pertama tentang seorang perempuan yang ingin berbaikan dengan kekasihnya, Penulis masih merasa biasa saja. &#8220;Oh, begini konsep <em>time travel</em>-nya,&#8221; begitu pikir Penulis. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, begitu masuk ke cerita kedua, emosi Penulis langsung dibuat naik turun tak karuan. Seumur hidup, rasanya baru kali ini Penulis berhasil dibuat terharu oleh sebuah novel. Masalahnya, cerita ketiga dan keempat <em>damage</em>-nya lebih besar lagi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun memiliki konsep <em>time travel</em>, sama sekali tidak ada penjelasan ilmiah mengapa hal tersebut bisa terjadi. Tidak dijelaskan juga bagaimana kopi buatan kafe tersebut bisa mengirimkan orang pergi ke masa lalu.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kisah-Kisah yang Sederhana, tapi Bermakna</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Penulis, menyederhanakan konsep <em>time travel</em> adalah upaya sang penulis buku ini untuk menyederhanakan cerita. Tanpa perlu tahu pun, kita masih bisa menikmati ceritanya. Memang tidak masuk akal, tapi bukan rasionalitas yang menjadi kekuatan utama buku ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Buku ini justru ingin memberi tahu kita tentang hal-hal sepele yang mungkin selama ini kita abaikan, dan baru merasa menyadari hal tersebut ternyata penting setelah kita kehilangannya. Tiga cerita di awal berpusat pada konsep tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, bagaimana dengan yang terakhir? Cerita terakhir bisa dibilang mengandung bawang yang paling banyak. Karena takut terlalu membocorkan kisahnya, Penulis hanya bisa bilang kalau cerita keempat menjadi satu-satunya yang pergi ke masa depan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Apakah Ada Kekurangannya? </h3>



<p class="wp-block-paragraph">Jika disuruh mencari kekurangan dari buku ini, mungkin Penulis akan menyebutkan kalau nama-nama karakter yang ada di dalamnya membutuhkan waktu agar Penulis bisa menghafalnya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, ada beberapa karakter yang awalnya Penulis kira laki-laki, ternyata perempuan. Namun, itu hanya kekurangan minor yang terjadi karena ketidakmampuan Penulis dalam menghafal karakternya dengan cepat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika disuruh memilih, Penulis paling menyukai karakter Kazu Tokita yang misterius dan senantiasa tidak menunjukkan emosinya. Sedikit <em>spoiler</em>, ia adalah pramusaji di kafe tersebut yang bertugas membuat kopi bagi pelanggan yang ingin pergi ke masa lalu.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejujurnya masih ada banyak hal yang ingin Penulis sampaikan terkait novel ini. Namun, Penulis khawatir jika akan memberikan <em>spoiler </em>terlalu banyak. Mungkin saja, Penulis akan memberikan versi <em>full spoiler </em>pada tulisan selanjutnya jika ingin menulisnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk saat ini, rasanya sudah cukup ulasan yang Penulis berikan untuk novel ini. Sudah lama Penulis tidak menemukan kepuasan setelah menamatkan novel seperti ini. Jelas, <em>Funiculi Funicula </em>akan menjadi salah satu novel terbaik versi Penulis.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 12 April 2023, terinspirasi setelah membaca buku <em>Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold </em>karya Toshikazu Kawaguchi</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/">Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Menonton Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-jalan-yang-jauh-jangan-lupa-pulang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-jalan-yang-jauh-jangan-lupa-pulang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Apr 2023 14:31:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[#banggafilmindonesia]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang]]></category>
		<category><![CDATA[NKCTHi]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6423</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam artikel ulasan mengenai film Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini, Penulis sudah mengungkapkan bagaimana dirinya menyukai film tersebut. Oleh karena itu, tak heran jika Penulis ingin menonton sekuelnya, Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang. Penulis menonton film ini bersamaan dengan ketika menonton film Suzume no Tojimari. Ini adalah kali kedua Penulis menonton dua film [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-jalan-yang-jauh-jangan-lupa-pulang/">Setelah Menonton Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dalam artikel ulasan mengenai film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1/">Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini</a></em>, Penulis sudah mengungkapkan bagaimana dirinya menyukai film tersebut. Oleh karena itu, tak heran jika Penulis ingin menonton sekuelnya, <em><strong>Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang</strong></em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis menonton film ini bersamaan dengan ketika menonton film <em><a href="https://whathefan.com/animekomik/setelah-menonton-suzume-no-tojimari/">Suzume no Tojimari</a></em>. Ini adalah kali kedua Penulis menonton dua film di hari yang sama, setelah dulu sekali pernah menonton film <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-sekala-niskala-dan-hongkong-kasarung/"><em>Sekala Niskala </em>dan <em>Hongkong Kasarung</em></a><em>.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, apakah <em>Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang </em>berhasil meninggalkan kesan yang positif seperti pendahulunya? Atau justru film ini terasa B aja? Simak ulasan selengkapnya di bawah ini, <em>SPOILER ALERT!</em></p>





<h2 class="wp-block-heading">Jalan Cerita Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="OFFICIAL TRAILER JALAN YANG JAUH JANGAN LUPA PULANG | TAYANG DI BIOSKOP 2 FEBRUARI 2023" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/RX_F6AoQphc?start=7&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Melanjutkan kisah dari <em>Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini</em>, <strong>Aurora </strong>(Sheila Dara) sedang menyelesaikan studinya di Inggris. Namun, fokusnya terpecah karena ia harus membantu pameran pacarnya, <strong>Jem </strong>(Ganindra Bimo). </p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena merasa gagal, Jem dan Aurora bertengkar hebat yang membuat hubungan mereka putus, dan Aurora pun keluar dan pindah ke hunian teman-temannya, <strong>Honey</strong> (Lutesha) dan <strong>Kit </strong>(Jerome Kurnia).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semenjak kejadian itu, dua bulan Aurora hilang dan tidak bisa dihubungi oleh pihak keluarganya yang di Indonesia. Untuk itu, <strong>Angkasa </strong>(Rio Dewanto) dan <strong>Awan </strong>(Rachel Amanda) pun pergi ke Inggris untuk mencari saudara mereka tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah mereka bertiga bertemu, akhirnya diketahui kalau kehidupan Aurora sedang berantakan pascaputus dari Jem. Kuliahnya molor, sehingga ia harus bekerja ekstra agar bisa bertahan hidup di Inggris karena ia menolak menggunakan uang kiriman ayahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Angkasa, yang mengetahui akar permasalahan adiknya adalah Jem, memutuskan untuk mencari Jem dengan bantuan Kit. Tanpa banyak babibu, ia pun langsung menghajar Jem yang mengakibatkan ia dilaporkan ke kepolisian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aurora tentu tidak ingin kakaknya masuk penjara karena itu juga akan membuat hidupnya makin runyam. Alhasil, ia pun berusaha bernegosiasi dengan Jem, di mana ia mau mencabut tuntutan tersebut dengan syarat Aurora harus balik dengannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, terjadilah pembicaraan antara mereka bertiga, yang intinya Aurora sebenarnya ingin berusaha membereskan urusannya sendiri. Selain itu, ia merasa kalau rumahnya yang sebenarnya adalah di sini, bukan di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, Angkasa dan Awan dapat memahami perasaan Aurora dan kembali ke Indonesia. Aurora sendiri melanjutkan kehidupannya di Inggris, sembari berusaha untuk segera menata ulang kehidupannya yang sempat berantakan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Menonton Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="OFFICIAL FINAL TRAILER JALAN YANG JAUH JANGAN LUPA PULANG | TAYANG DI BIOSKOP 2 FEBRUARI 2023" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/e4bgx2LM1ik?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Jika dibandingkan dengan film sebelumnya yang terasa dekat, <em>Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang </em>memang terasa &#8220;jauh&#8221; bagi Penulis. Mayoritas konflik yang ada di dalamnya benar-benar kurang <em>related </em>dengan kehidupan Penulis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis jelas tidak akan pernah menghilang selama dua bulan dari keluarganya, apapun alasannya. Rasanya begitu egois membuat orang tua kita khawatir setiap hari, hanya karena &#8220;ingin hidup tenang&#8221; dan tidak menginginkan perhatian dan kepedulian mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Penulis, apapun alasannya, Aurora benar-benar menjadi sosok yang egois di film ini. Apalagi, konflik awal dari hilangnya Aurora berawal dari pacarnya, sosok yang tentunya ia kenal lebih sebentar daripada keluarganya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia merasa keberadaannya selama ini sering terabaikan. Kepindahannya ke Inggris membuatnya mendapatkan perhatian berlebih yang selama ini tidak pernah ia dapatkan, dan ternyata ia memang tidak menyukai hal tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis juga sedikit merasa kesal karena pada akhirnya Aurora kembali dengan Jem, sosok yang terlihat <em>toxic </em>dan manipulatif. Meskipun memberikan kesan akan &#8220;berubah menjadi lebih baik&#8221; di akhir film, Penulis tetap tidak suka jika ada laki-laki sekasar itu ke perempuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin ada Pembaca yang tidak setuju dengan pendapat Penulis, tapi memang sesulit itu bagi Penulis bisa bersimpati dengan Aurora. Padahal, karakternya adalah salah satu favorit Penulis di <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2/">Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini</a>.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Terlepas dari konflik utama yang berpusat pada Aurora, sebenarnya Penulis masih bisa menikmati film ini. Sinematografinya keren, bahkan terasa membumi karena hanya menyorot sisi-sisi kota London yang biasa tanpa pernah memperlihatkan sisi glamor kota tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alurnya dibuat maju mundur seperti film sebelumnya, hanya saja tidak ada pemeran pengganti untuk menggambarkan versi lebih muda para karakternya karena mundurnya juga hanya beberapa bulan/tahun. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Adegan <em>flashback </em>yang dimiliki juga kebanyakan hanya menjelaskan bagaimana pertemuan Aurora dengan Jem, Honey, hingga Kit. Jika tidak fokus, kita bisa kebingungan mana adegan yang menggambarkan saat ini, apalagi Honey kerap berganti rambut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk akting para pemerannya sendiri juga sudah cukup oke. Kredit khusus Penulis berikan kepada pemeran Honey dan Kit, karena mereka bisa menggambarkan sebagai sosok yang hadir sebagai &#8220;keluarga&#8221; bagi Aurora di Inggris.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Overall</em>, Penulis masih bisa menikmati <em>Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang </em>meskipun tidak sampai meninggalkan kesan seperti <em>Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini.</em> Film ini dikabarkan akan memiliki film ketiganya, dan Penulis akan menantikannya.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator has-css-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 9 April 2023, terinspirasi setelah menonton <em>Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Foto: <a href="https://www.liputan6.com/showbiz/read/5193740/film-jalan-yang-jauh-jangan-lupa-pulang-beri-penawaran-khusus-jelang-penayangan-2-februari-mendatang">Liputan6</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-jalan-yang-jauh-jangan-lupa-pulang/">Setelah Menonton Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-jalan-yang-jauh-jangan-lupa-pulang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Menonton Suzume no Tojimari</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/setelah-menonton-suzume-no-tojimari/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/setelah-menonton-suzume-no-tojimari/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Apr 2023 14:21:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[film anime]]></category>
		<category><![CDATA[Makoto Shinkai]]></category>
		<category><![CDATA[Suzume no Tojimari]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6419</guid>

					<description><![CDATA[<p>Meskipun menonton serial anime, Penulis sangat jarang menonton film anime. Entah mengapa walau secara total durasi serial lebih panjang, Penulis sering merasa bosan ketika menonton anime dalam format film. Maka dari itu, Penulis belum pernah menonton film-film dari Studio Ghibli. Kalau film dari Makoto Shinkai pernah sekali, yang berjudul Kimi no Nawa (Your Name). Namun, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/setelah-menonton-suzume-no-tojimari/">Setelah Menonton Suzume no Tojimari</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Meskipun <a href="https://whathefan.com/pengalaman/udah-tua-kok-masih-nonton-anime/">menonton serial anime</a>, Penulis sangat jarang menonton film anime. Entah mengapa walau secara total durasi serial lebih panjang, Penulis sering merasa bosan ketika menonton anime dalam format film.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka dari itu, Penulis belum pernah menonton film-film dari Studio Ghibli. Kalau film dari Makoto Shinkai pernah sekali, yang berjudul <em>Kimi no Nawa </em>(<em>Your Name</em>). Namun, film yang sering dianggap <em>masterpiece </em>tersebut bagi Penulis biasa saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, Penulis awalnya tidak tertarik untuk menonton film terbaru Makoto Shinkai yang berjudul <em><strong>Suzume no Tojimari</strong></em>. Hanya saja, di awal bulan puasa Penulis sedang ingin menonton film di bioskop, sehingga akhirnya memutuskan untuk menonton film ini.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><em>Spoiler Alert!</em></p>





<h2 class="wp-block-heading">Jalan Cerita Suzume no Tojimari</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Suzume Trailer #1 (2023)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/5pTcio2hTSw?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Suzume no Tojimari </em>berpusat pada gadis SMA bernama <strong>Suzume</strong> Iwato yang tinggal di Kyushu bersama bibinya. Dalam kehidupannya yang biasa, tiba-tiba ia bertemu dengan seorang laki-laki tampan yang sedang mencari &#8220;pintu di reruntuhan&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena merasa penasaran, ia pun berusaha mencari laki-laki tersebut hingga akhirnya ia menemukan pintu yang dicari. Ia pun membukanya dan menemukan ada &#8220;alam&#8221; lain di seberang pintu tersebut, tetapi tidak bisa ia masuki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, ia tersandung patung kucing yang tiba-tiba berubah menjadi kucing sungguhan. Ternyata, perbuatannya tersebut memicu &#8220;Cacing&#8221; berukuran raksasa yang menyebabkan gempa bumi di wilayah tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untungnya, laki-laki tersebut berhasil menutup dan menyegel pintu tersebut, sehingga gempa bumi berhasil berhenti. Ternyata namanya adalah<strong> Sōta Munakata</strong>, di mana ia memang bertugas untuk menutup semua pintu serupa di seluruh Jepang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena terluka, Suzume pun membawa Sōta ke rumahnya agar ia bisa merawat lukanya. Tiba-tiba, seekor kucing yang ditemui Suzume di dekat pintu tersebut datang. Bernama &#8220;<strong>Daijin</strong>&#8220;, ia mengubah Sōta menjadi kursi anak-anak milik Suzume.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini mendorong Suzume membantu Daijin berkeliling Jepang untuk menutup pintu-pintu lain yang hendak dibuka oleh Daijin. Sōta pun menjelaskan kalau Daijin adalah <em>keystone </em>yang seharusnya menjaga agar &#8220;Cacing&#8221; tersebut tidak keluar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka pun bertualang ke Ehime, Shikoku, Kobe, hingga Tokyo. Ternyata, Daijin berniat untuk menjadikan Sōta sebagai <em>keystone </em>menggantikan dirinya agar dirinya bisa menghabiskan waktu bersama Suzume.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, terungkap bahwa alam yang berada di balik pintu-pintu tersebut merupakan alam baka yang tidak bisa dimasuki oleh orang yang masih hidup. Namun, Suzume tidak menyerah dan tetap ingin menyelamatkan Sōta. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia pun mencari kakek Sōta dan mendapatkan fakta kalau ada satu pintu yang bisa membawa Suzume ke sana. Awalnya, Suzume berniat untuk menjadi <em>keystone </em>menggantikan Sōta. Namun, Daijin pada akhirnya memilih untuk kembali menjadi <em>keystone. </em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, Suzume pun mampu menyelamatkan Sōta dan mengembalikannya menjadi manusia. Sōta pun kembali melanjutkan perjalanannya sembari berjanji suatu saat akan kembali bertemu dengan Suzume.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Menonton Suzume no Tojimari</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Suzume no Tojimari - Official Trailer 2 | English Sub" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/6R6q2fAp2n4?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Pada dasarnya, Penulis kurang menyukai cerita anime yang berbau fantasi atau supernatural. Penulis lebih menyukai cerita-cerita yang terasa dekat dan <a href="https://whathefan.com/animekomik/kenapa-suka-anime-bergenre-comedy-romance-school/">bergenre <em>slice of life</em></a>. Oleh karena itu, Penulis merasa dirinya kurang bisa menikmati film ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika dibandingkan dengan <em>Kimi no Nawa</em>, <strong>film ini lebih terasa runtu</strong>t. Adegan demi adegannya berurutan dengan masalah yang makin lama makin membesar. Ini berbeda dengan <em>Kimi no Nawa </em>yang agak maju-mundur alurnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Flashback </em>yang ada hanya merujuk ke masa kecil Suzume, di mana ia pernah tersesat dengan masuk ke alam di balik pintu tersebut. Di akhir film, terungkap bahwa ternyata dirinya yang sekarang adalah sosok yang membantu Suzume kecil kembali ke dunianya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang Penulis suka dari segi ceritanya adalah <strong>alurnya yang terasa rapat dan padat</strong>. Penulis hampir tidak menemukan adegan yang terasa diulur-ulur. Maka dari itu, aksi petualangan yang disajikan pun terasa seru untuk diikuti dan tidak membosankan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, Penulis juga bersimpati kepada karakter Daijin. Bagi Penulis, sosoknya yang polos pada akhirnya harus menerima kenyataan kalau dirinya harus menjadi <em>keystone</em>,  apalagi setelah menyadari kalau Suzume lebih ingin bersama Sōta daripada dengan dirinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karakter-karakter sampingan di film ini pun lumayan menarik, mulai dari bibinya Suzume yang sempat meluapkan perasaan negatif yang ia pendam selama ini hingga kawan karib Sōta yang membantu mengantar Suzume menggunakan mobil bekasnya.  </p>



<p class="wp-block-paragraph">Di luar segi cerita, seperti biasa <strong>animasi dan musik dari film buatan Makoto Shinkai selalu luar biasa dan indah</strong>. Sepanjang menonton film ini, mata Penulis seolah dimanjakan dengan animasi-animasi yang begitu detail dan terasa nyata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Teman Penulis yang ikut menonton film ini memberikan nilai 9 untuk film ini. Penulis sendiri merasa kalau film ini lebih baik dari <em>Kimi no Nawa</em>. Apalagi, drama percintaan yang disajikan tidak terlalu banyak karena lebih menonjolkan petualangannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau Pembaca adalah penikmat film-film Makoto Shinkai sebelumnya, kemungkinan besar Pembaca juga akan menyukai karya terbarunya ini. Mungkin karena bukan penggemarnya, Penulis jadi melewatkan esensi yang hendak disampaikan oleh Makoto Shinkai.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 8 April 2023, terinspirasi setelah menonton <em>Suzume no Tojimari</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Foto: <a href="https://www.kaorinusantara.or.id/newsline/180017/suzume-no-tojimari-siap-diadaptasi-menjadi-novel">KAORI Nusantara</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/setelah-menonton-suzume-no-tojimari/">Setelah Menonton Suzume no Tojimari</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/setelah-menonton-suzume-no-tojimari/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
