Film & Serial
Setelah Menonton Sri Asih
Karena sudah pernah menonton Gundala, Penulis jadi merasa “berkewajiban” untuk menonton film superhero terbaru dari Jagad Sinema Bumilangit, Sri Asih. Film ini dibintangi oleh Pevita Pearce yang sudah sempat muncul sekilas di film Gundala.
Sebelumnya, Penulis sedikit familiar dengan karakter Sri Asih karena membaca manganya di aplikasi Webtoon. Sayangnya, Webtoon tersebut sedang hiatus (hampir dua tahun) untuk mempersiapkan season terbarunya.
Penulis menonton film ini sekitar dua minggu yang lalu sendirian karena tidak ada teman Penulis yang tertarik untuk menonton film superhero lokal. Hal ini wajar saja, karena bagi mereka film buatan Marvel atau DC jelas lebih menarik.
Lantas, apakah film Sri Asih mampu lebih baik dari Gundala dan mampu mengubah stigma masyarakat yang cenderung negatif ke film superhero buatan lokal? Tampaknya, menurut Penulis, masih belum. SPOILER ALERT!!!
Jalan Cerita Sri Asih
Cerita Sri Asih dibuka dengan adegan orang tua Alana (Pevita Pearce) yang meninggal ketika berusaha menyelamatkan diri dari letusan gunung berapi. Sejak itu, ia tinggal di panti asuhan hingga akhirnya ia diadopsi oleh seorang wanita kaya bernama Sarita Hamzah (Jenny Zhang).
Dalam menjalani hidupnya, Alana selalu merasa dikuasi oleh amarah dan kerap melihat sosok makhluk api, yang kelak akan diketahui bernama Dewi Api (Dian Sastrowardoyo). Namun, dengan bantuan ibu angkatnya ia selalu melatih dirinya untuk bisa mengendalikannya.
Alana memiliki kemampuan bela diri yang baik dan menjadi seorang pegulat profesional. Hal tersebut menarik perhatian Mateo Adinegara (Randy Pangalila), sosok sombong dan semaunya sendiri, sekaligus anak dari konglomerat Prayogo Adinegara (Surya Saputra). Ia pun menantang Alana untuk berduel satu lawan satu.
Awalnya Alana berencana untuk menuruti keinginan anak buah Prayogo untuk mengalah dalam pertandingan tersebut. Namun, ia lepas kendali dan membuat Prayogo Adinegara. Akibatnya, klub gulat milik ibunya dihancurkan dan ibunya sendiri harus dirawat di rumah sakit.
Peristiwa ini membuat Alana bertemu dengan Kala (Dimas Anggara) dan Eyang Mariani (Christine Hakim), sosok yang mengetahui kalau Alana sebenarnya adalah titisan Dewi Asih (Maudy Koesnaedi). Berawal dari sana, ia pun mengetahui kalau dirinya memiliki tugas berat yang harus ia selesaikan.
Awalnya, kita akan “digiring” kalau musuh utama di film ini adalah Prayogo Adinegara, yang terlihat ingin membangkitkan Dewi Api. Namun, villain sebenarnya dari film ini adalah Jatmiko (Reza Rahadian), anggota kepolisian yang relatif bersih, tetapi penuh dengan kemarahan sehingga ia jadi target yang empuk dari Roh Setan.
Setelah twist tersebut terungkap, Sri Asih bersama Kala dan kawan masa kecilnya Tangguh (Jefri Nichol) pun harus menyelamatkan orang-orang yang telah ditangkap oleh Jatmiko agar rencananya untuk membangkitkan Dewi Api gagal.
Di bagian post credit scene, kita diperlihatkan sebuah cuplikan yang menampilkan Awang yang akan menjadi superhero Godam, di mana di Bumilangit akan diperankan oleh Chicco Jerrico.
Kurang lebih seperti itu jalan cerita dari film Sri Asih. Karena sudah agak lama, Penulis tidak bisa ingat terlalu detail cerita film ini. Mungkin, itu juga karena jalan ceritanya yang menurut Penulis kurang kuat.
Setelah Menonton Sri Asih
Dari opening, Penulis sudah memiliki perasaan yang tidak enak karena merasa ganjal dengan adegan orang tua Alana yang menuruni gunung. Namun, yang paling Penulis tidak puas adalah bagaimana film ini berakhir. Penulis akan jelaskan lebih detail di bawah.
Plot Cerita Tumpang Tindih, Kisah Origin Terasa Kurang
Kesulitan Penulis dalam menulis ulang jalan cerita Sri Asih menjadi bukti kalau plot cerita yang dimiliki cukup kompleks dan tumpang tindih, meskipun eksekusinya sebenarnya sudah cukup rapi.
Penulis bahkan belum menjelaskan mengenai ambisi Prayogo yang ingin menghabisi penduduk miskin dan menganggap mereka sebagai hama. Hal tersebut membuat kisah origin dari Alana sebagai Sri Asih terasa kurang.
Tidak seperti Sancaka (Abimana Aryasatya) yang sempat menolak takdirnya untuk menjadi Gundala, Alana terlihat nrimo saja ketika mengetahui kalau dirinya adalah Sri Asih. Padahal, sebenarnya tidak ada motivasi kuat bagi Alana untuk menjadi seorang superhero.
Apalagi, Alana juga terlihat tidak mengalami kesulitan dalam menguasai kemampuan barunya setelah ia secara “resmi” mendapatkan kekuatan dari Dewi Asih. Kekuatan yang dimiliki juga seolah random begitu saja, bahkan tiba-tiba bisa menggunakan Kagebunshin no Jutsu.
Selendang merah, yang jika di Webtoon menjadi salah satu senjata andalannya, juga kurang menonjol di film ini. Padahal, itu menjadi salah satu kekuatan utamanya dan menjadi pembeda Sri Asih dengan superhero lainnya.
Ending yang Cukup Kacau dan Penuh Tanda Tanya
Film ini berusaha menghadirkan plot twist dengan membuat Jatmiko, karakter yang sempat menolong Alana, menjadi villain utama berkat kemarahan yang ia miliki. Namun, Penulis sebenarnya sudah lama menduganya bahkan sebelum film ini tayang.
Aktingnya sebagai villain sebenarnya tidak ada masalah, mengingat Reza Rahadian adalah salah satu aktor terbaik Indonesia. Hanya saja, bagaimana film ini menghadirkan final act terasa sangat kacau dan menimbulkan banyak tanda tanya.
Bagaimana tidak, Jatmiko yang sudah susah payah mengumpulkan 1000 orang untuk dijadikan tumbal malah seolah tidak menjaga tawanannya sama sekali. Kalau ia cerdas, tentu ia akan fokus melindungi penjaranya tersebut agar tidak bisa dibobol.
Apalagi, setelah pertarungan dengan kloning Alana, Jatmiko malah menghilang begitu saja. Bagi Penulis, adegan klimaks yang dimiliki oleh film ini adalah faktor utama mengapa Penulis menganggap film ini buruk.
Selain itu, adegan Alana yang melemparkan bom dengan terbang ke angkasa mirip dengan adegan Iron Man di film The Avengers yang mengirimkan rudal nuklir ke angkasa. Kebetulan atau memang disengaja?
Yang Positif dari Sri Asih
Hal positif dari film ini dibandingkan Gundala adalah efek CGI-nya yang sudah jauh lebih baik. Meskipun belum sempurna, setidaknya ada progres nyata yang menjadi indikator positif untuk dunia perfilman superhero Indonesia.
Adegan action yang dimiliki juga cukup oke. Pertarungan terakhir antara Alana dan Jatmiko sebenarnya bagus, cuma tertutup karena ada banyak hal yang mengganjal dan membuat Penulis mengerutkan alis.
Selain itu, dialog yang dimiliki oleh karakternya juga tidak sekaku film Gundala. Interaksi antara Kala dan Tangguh mungkin menjadi salah satu yang paling luwes dan menarik. Hanya saja, tetap ada dialog yang terasa kaku dan tidak natural.
Penulis juga senang dengan kemunculan Ario Bayu sebagai Ghani Zulham, di mana ia adalah otak di balik kebangkitan Ki Wilawuk (Sujiwo Tejo) di film Gundala. Tampaknya, karakter ini akan lebih sering muncul di film-film Bumilangit selanjutnya.
***
Secara pribadi, Penulis menganggap Gundala masih lebih baik dari Sri Asih. Memang ada beberapa poin dari film ini yang lebih baik dari Gundala, tetapi secara overall Penulis menganggap Gundala masih lebih baik.
Semoga saja film dan serial selanjutnya dari Bumilangit, Virgo and the Sparklings dan Tira bisa lebih baik dari Sri Asih agar semangat Penulis menonton film superhero lokal bisa bertahan.
Lawang, 11 Desember 2022, terinspirasi setelah menonton Sri Asih
Foto: Suara Merdeka
Film & Serial
[REVIEW] Setelah Menonton Spider-Man: Brand New Day
Tepat ada satu bulan yang lalu, Penulis menonton film keempat Spider-Man versi Marvel Cinematic Universe (MCU), Spider-Man: Brand New Day. Berbeda dengan tiga film sebelumnya yang disutradarai oleh Jon Watts, film ini disutradarai oleh Destin Daniel Cretton.
Jujur, Spider-Man merupakan salah satu superhero favorit Penulis, sehingga film ini menjadi salah satu yang Penulis nantikan di tahun ini. Apalagi, dari trailernya, masih belum benar-benar diketahui siapa yang akan menjadi villain utama di film ini.
Meskipun sudah satu bulan berlalu, catatan Penulis tentang film ini masih tersimpan dengan rapi, sehingga Penulis memutuskan untuk tetap menuliskan pendapatnya terkait film ini. Apakah film ini memenuhi ekspektasi Penulis, atau justru mengecewakan?

Detail Film Spider-Man: Brand New Day
- Judul: Spider-Man: Brand New Day
- Sutradara: Destin Daniel Cretton
- Cast: Tom Holland, Zendaya, Jacob Batalon, Sadie Sink, Jon Bernthal, Mark Rufallo
- Durasi: 145 Menit
Apa Cerita Spider-Man: Brand New Day?

Beberapa tahun telah berlalu sejak peristiwa yang terjadi di film Spider-Man: No Way Home (2021), ketika Peter Parker (Tom Holland) meminta seluruh orang melupakan tentang dirinya. Ia pun menjalani hidup yang benar-benar baru, termasuk sebagai Spider-Man.
Walau begitu, ia tak benar-benar move-on dari kehidupan lamanya. Pasalnya, ia kerap memantau mantan pacar dan sahabatnya, MJ (Zendaya) dan Ned (Jacob Batalon), melalui akun media sosial mereka.
Pada satu titik, Peter menemukan sebuah fenomena aneh di mana ada seseorang yang mampu pindah dan menguasai tubuh orang lain, bahkan bisa berpindah-pindah dengan cepat (meskipun nanti diketahui perpindahan tersebut membutuhkan jarak).
Sosok yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut ternyata adalah Jean Gray (Sadie Sink), karakter yang dikenal sebagai salah satu X-Men terkuat. Ia mengincar Department of Damage Control (DODC) demi menyelamatkan kakaknya, Sara.
Di tengah kekacauan tersebut, Peter juga berusaha untuk mengatasi mutasi yang sedang terjadi pada tubuhnya. Sama seperti Peter Parker versi Tobey Maguire, ia juga mulai bisa mengeluarkan jaring dari tubuhnya secara organik tanpa menggunakan alat.
Singkat cerita, konflik antara Jean dan DODC semakin memuncak, di mana ia membuat Bruce Banner (Mark Rufallo) kembali berubah menjadi Hulk yang tidak terkontrol. Dibantu oleh Frank Castle alias The Punisher (John Bernthal), ia berhasil mengalahkan Hulk sekaligus Jean.
Namun, di sinilah plot twist terjadi. Peter akhirnya menyadari bahwa tujuan DODC adalah melakukan abusing kepada Jean (juga Sara yang ternyata telah meninggal) untuk mempelajari kekuatan mereka. Ia pun balik berusaha menyelamatkan Jean.
Di sisi lain, Jean yang mengetahui fakta tentang kematian kakaknya akhirnya emosinya meledak dan mampu membuat sebagian penduduk New York City membeku. Peter pun dengan menggunakan ingatannya tentang Bibi May berhasil menenangkan Jean.
Hanya saja, The Punisher yang sedang mengincar Jean sempat menembakkan peluru sniper dan Peter memasang badan untuk melindunginya. Walau sempat kritis, Peter berhasil selamat berkat bantuan Jean.
Setelah Menonton Spider-Man: Brand New Day
Menurut Penulis, ini bukanlah film tentang Spider-Man, melainkan tentang Peter Parker. Kita seolah diminta ikut merasakan apa yang sedang Peter rasakan, menanggung beban yang sedang ia pinggul, dan emosi yang berusaha yang ia kendalikan.
Oleh karena itu, jangan berharap kalau di film ini akan ada banyak adegan action seperti di film No Way Home. Yang bisa dianggap benar-benar keren mungkin pertarungan antara Spider-Man melawan Hulk di markas DODC, itu juga cuma sebentar.
Ada beberapa poin yang ingin Penulis sampaikan secara spesifik terkait film ini.
Film Spider-Man yang Menekankan Sisi Emosinya

Salah satu adegan paling emosional sekaligus “keterlaluan” di film ini adalah ketika Jean Gray merasuki MJ dan membuatnya berpura-pura ingat siapa Peter. Penulis awalnya sedikit mengangkat alis karena MJ yang sadar setelah berciuman benar-benar klise dan seperti dongeng. Untunglah ternyata itu hanya Jean yang berpura-pura!
Selain itu, keputusan untuk membuat MJ tidak langsung jatuh cinta kembali ke Peter setelah membaca surat yang ia buat beberapa tahun lalu Penulis anggap tepat karena lebih masuk akal. MJ tidak punya memori apa pun tentang Peter, sehingga tidak ada alasan untuknya jatuh cinta ke Peter.
Penulis justru berharap kalau pada akhirnya Peter benar-benar move on dari MJ di film-film selanjutnya. Ia harus bisa membuka lembaran baru karena orang yang ia cintai telah menyatakan, “I don’t love you” secara terang-terangan
Nah, yang membuat ambigu adalah bagian akhir film, ketika ia bersalaman dengan Ned. Setelah melakukannya, Ned tiba-tiba menyebut nama Peter, tapi tidak jelas apakah itu karena ia ingat siapa Peter atau sadar bahwa Peter yang ada di hadapannya adalah Spider-Man (karena MJ sempat kelepasan ngomong).
Kehidupan Pribadi Peter Parker yang Tidak Dieksplorasi

Anehnya, film ini sama sekali tidak mengeksplorasi kehidupan Peter Parker di luar menjadi Spider-Man. Apakah ia bekerja? Di mana ia bisa mendapatkan uang untuk mendapatkan semua peralatan canggihnya? Apakah ia tidak punya teman baru ketika kuliah?
Seperti yang kita tahu, Peter membuat AI sendiri yang diberi nama EV. Jujur, hal ini terasa janggal karena di akhir film No Way Home, kita melihat Peter menjahit sendiri kostum Spider-Man-nya yang terlihat keren tanpa ada sentuhan teknologi.
Penulis awalnya berharap di film ini akan melihat Spider-Man versi tradisional tanpa alat-alat canggih seperti di film-film sebelumnya. Sayangnya, tampaknya teknologi tersebut menjadi semacam shortcut untuk tidak meninggalkan plot holes di dalam film.
Sadie Sink sebagai Jean Gray dan The Punisher yang Melempem

Sesuai dengan prediksi banyak orang, Sadie Sink benar-benar terbukti menjadi Jean Gray. Hal ini membuatnya resmi menjadi jembatan ke era X-Men versi MCU, di mana film perdananya telah diumumkan akan tayang pada tahun 2028 mendatang.
Di layar lebar, ia adalah orang ketiga yang memerankan karakter ini setelah Famke Jansse dan Sophie Turner. Menurut Penulis, ia cukup baik dalam memerankan karakter telepath yang masih berusaha mengendalikan kekuatannya. Penulis penasaran, apakah ia sedang menuju sekolah Profesor Xavier di bagian akhir film?
Namun di sisi lain, kehadiran Jean Gray juga lumayan menggeser fokus filmnya. Film ini seolah tidak berfokus pada kehidupan Peter pasca-No Way Home, tapi menjadi jembatan untuk film X-Men yang akan tayang di masa depan.
Bicara soal karakter, The Punisher yang biasanya dikenal sangat badass terlihat melempem, seolah karakternya tertahan oleh rating film yang PG-13. Ia justru terlihat seperti om-om tsundere yang berusaha sok keren di hadapan keponakannya!
Alur Cerita yang Klise dan Mudah Ditebak

Salah satu hal yang membuat film ini terasa buruk adalah alur ceritanya yang mudah ditebak. Sejak awal, rasanya semua penonton bisa menduga kalau Jean Gray tidak benar-benar jahat dan DODC adalah villain yang sesungguhnya.
Pola cerita seperti ini bisa dibilang sangat klise dan overuse, bahkan rasanya konyol karena Peter lagi-lagi dikelabui oleh pihak penjahat. Sebelumnya di film Spider-Man: Far from Home (2019), ia juga ditipu mentah-mentah oleh Mysterio.
Tak hanya itu, Peter yang tiba-tiba mampu menguasai kemampuan mutasi barunya dengan kekuatan “tekad” juga terasa klise. Padahal, sepanjang film kita bisa melihat bagaimana ia benar-benar struggling dengan kemampuan barunya tersebut.
Penulis juga agak tertawa ketika mengetahui apa makna di balik V-Max. Bagi Penulis, plot V-Max ini terasa agak memaksa. Apakah memang tidak ada ruangan lain untuk menyekap Jean? Mengapa V-Max justru jadi yang terucap terakhir dari Sara?
Cameo Yelena yang Terasa Nanggung

Yelena Belova, yang diperankan oleh Florence Pugh, menjadi cameo yang paling mengejutkan di film ini. Namun, kehadirannya juga terasa “asal tempel” karena perannya di film ini rasanya bisa digantikan siapa saja, selama punya jaringan informasi yang luas.
Sama sekali tidak disinggung terkait pesawat Fantastic Four yang terlihat di adegan post-credit Thunderbolts* yang hendak menuju bumi. Hal ini menimbulkan pertanyaan, kejadian di film ini terjadi sebelum atau sesudah film Thunderbolts*?
Setidaknya, ada satu hal menarik yang terungkap dengan adanya interaksi antara Peter dan Yelena, yakni tentang “small potato” versus “big potato“. Marvel tampaknya ingin memfokuskan Spider-Man menghadapi street-villain level, sedangkan Avengers versi Yelena akan menangani ancaman yang lebih besar.
Sebenarnya ini hal yang cukup menggelikan, karena anggota Avengers mana selain Sentry yang lebih kuat dari Spider-Man?
Spider-Man Tidak Muncul di Avengers: Doomsday?
Film ini juga sama sekali tidak menyinggung tentang Doctor Doom yang akan menjadi musuh utama di film Avengers: Doomsday. Padahal, ini adalah film terakhir sebelum film kelima Avengers tersebut.
Adegan post-credit di film ini memang menunjukkan sinyal kalau ada Spider-Man di luar bumi yang terdeteksi oleh alat pelacak Spider-Man. Itu jelas pertanda bahwa ada Spider-Man dari mulitverse lain, tapi belum ada konfirmasi kalau itu akan berkaitan dengan film Doomsday.
Jujur, Penulis menjadi merasa waswas dan khawatir akan film Avengers: Doomsday, karena build up-nya benar-benar terasa kurang hingga saat ini.
Kesimpulan
Penulis tidak bilang benar-benar menikmati film ini, tapi juga tidak sampai menganggapnya jelek. Penulis memahami kalau film ini memang lebih menonjolkan sisi emosional daripada action-nya, tapi bukan berarti Penulis jadi menyukainya.
Walau begitu, Penulis tetap menganggap kalau film ini layak untuk ditonton, apalagi nuansa gelapnya lumayan dapat dan komedinya benar-benar tipis, tidak seperti trilogi sebelumnya yang cukup kental.
Film ini juga seolah memiliki pesan bahwa musuh terbesar kita justru diri kita sendiri, dan kita harus bisa mengalahkan sisi buruk diri kita tersebut. Peter Parker, yang merupakan seorang pahlawan, ternyata juga punya masalah yang related dengan kita!
SKOR: 7/10
Lawang, 29 Agustus 2026, terinspirasi setelah menonton Spider-Man: Brand New Day
Film & Serial
[REVIEW] Setelah Menonton The Odyssey
Penulis telah menemukan film terbaik yang telah ditonton pada tahun 2026 ini. Bukan Projecy Hail Mary, melainkan The Odyssey karya Christopher Nolan, salah satu sutradara favorit Penulis. Film ini memang sejak awal telah Penulis antisipasi rilisnya.
Bahkan, Penulis sengaja mengajak adiknya untuk menonton di Surabaya, karena di Malang tidak ada bioskop yang memiliki layar IMAX. Penulis ingin merasakan sensasi menonton yang maksimal untuk film yang sejak awal telah menuai kontroversi.
Mengapa Penulis merasa ini adalah film terbaik yang telah Penulis tonton di tahun ini? Apakah cast yang bermasalah tidak memengaruhi penilaian Penulis? Semua akan coba Penulis jelaskan melalui artikel ini!
NB: Tahun 2026, Penulis baru menonton Project Hail Mary, Supergirl, The Odyssey, Spider-Man Brand New Day

Detail Film The Odyssey
- Judul: The Odyssey
- Sutradara: Christoper Nolan
- Cast: Matt Damon, Tom Holland, Anne Hathaway, Robert Pattinson, Lupita Nyong’o, Zendaya, and Charlize Theron
- Durasi: 172 Menit
Apa Cerita The Odyssey?

The Odyssey diadaptasi dari sebuah puisi epik klasik karya Homer berjudul sama, yang telah berusia sekitar 3000 tahun. Ceritanya sendiri berpusat pada Odysseus (Matt Damon), yang terjebak selama 10 tahun sehingga tidak bisa pulang ke negaranya, Ithaca, setelah kemenangan di Perang Troya.
Odysseus adalah orang di balik strategi kuda troya, di mana ia dan beberapa pasukannya sembunyi ke dalam patung kuda yang dihadiahkan kepada bangsa Troya. Ide tersebut, yang sebenarnya melanggar “Hukum Zeus”, mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 10 tahun.
Odysseus, bersama Agamemnon dan Menelaus, memang berhasil memenangkan perang. Namun, ternyata harga yang dibayar tidak murah. Odysseus yang mengambil jalur terpisah dari Agamemnon dan Menelaus harus menghadapi berbagai macam ujian.
Odysseus dan pasukannya harus bertemu dengan Cyclops bernama Polyphemus, raksasa kanibal Laestrygonians, Siren, hingga Scylla. Mereka juga bertemu dengan nymph bernama Circe (Samantha Morton) yang sempat mengubah pasukan Odysseus menjadi seekor babi.
Namun, perjalanan Odysseus paling lama ditahan oleh Calypso (Charlize Theron), yang mencapai tujuh tahun. Ia tinggal di sana setelah semua pasukannya tewas, setelah melanggar aturan untuk tidak memakan ternak milih dewa Apollo.
Di sisi lain, Ithaca telah 20 tahun ditinggal rajanya. Penelope (Anne Hathaway), istri dari Odysseus, telah dilamar oleh ratusan laki-laki yang setiap hari datang ke istana dan berhasil menjaga kesetiaannya. Sementara itu, Telemachus (Tom Holland) yang beranjak dewasa mulai mencari kejelasan di mana ayahnya.
Pada akhirnya, perjalanan pulang Odysseus selama 10 tahun ini lebih dari sekadar “tersesat”, melainkan menjadi semacam perjalanan penebusan dosa untuknya. Ketika ia pada akhirnya kembali, ia pun membuktikan mengapa ia menjadi seorang raja.
Setelah Menonton The Odyssey
Setelah film ini usai, banyak penonton yang bertepuk tangan. Menurut Penulis, hal tersebut memang layak karena skala film ini benar-benar luar biasa. Apalagi jika menonton di IMAX, pengalaman menontonnya menjadi lebih maksimal.
Ada beberapa poin yang ingin Penulis bahas mengenai film ini.
Interpretasi Nolan terhadap The Odyssey

Sejak awal, tampaknya Nolan memang ingin mengadaptasi cerita Homer dengan interpretasinya sendiri. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang ia ubah dari cerita aslinya, termasuk pemilihan Lupita Nyong’o sebagai Helen of Troy.
Contoh hal yang diubah adalah karakter Odysseus sendiri. Di film, ia terlihat lebih bijaksana dan manusiawi, walau tetap terasa sekali egonya. Ia lebih tidak “brengsek” jika dibandingkan dengan versi aslinya, walau tetap terasa kalau ia diam-diam menjadi antagonis di film ini.
Beberapa perubahan lain yang Penulis ketahui adalah beberapa lokasi atau monster yang dihilangkan dari versi aslinya, jumlah pasukan dan kapal yang ikut dengan Odysseus, hingga hilangnya adegan “Nobody” ketika bersama Polyphemus.
Namun, yang paling Penulis perhatikan adalah interpretasi Nolan terhadap sosok dewa-dewa di film ini. Ada beberapa nama yang disebutkan dalam film ini, mulai Zeus, Poseidon, Apollo, hingga Athena. Hanya saja, tidak ada yang pernah terlihat wujudnya.
Alih-alih menampilkan sosok dewa, kehadiran mereka diwujudkan dalam bentuk “pertanda alam”, seperti Zeus diwakili oleh suara petir dan Poseidon diwakili oleh amukan laut. Bahkan, wujud Athena yang kita lihat sepanjang film memiliki alasan mengapa berwujud seperti itu, yang akan Penulis bahas di poin selanjutnya.
Perjalanan “Tobat” Odysseus

Penulis sudah menyinggung mengenai bagaimana Odysseus memenangkan perang dengan curang. Rupanya, hal tersebut menimbulkan semacam trauma atau PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder).
Sosok Athena di kepala Odysseus, yang diperankan oleh Zendaya, ternyata adalah sosok perempuan innocence yang ia lihat kepalanya dipenggal oleh pasukannya sewaktu menghabisi kota tersebut. Artinya, sosok tersebut seolah menjadi perwakilan trauma Odysseus.
Selain itu, perjalanan pulangnya yang sampai 10 tahun itu pun terasa seperti “hukuman” atas semua perbuatannya, baik ketika perang Troya maupun sepulangnya dari sana. Dari menjarah, membutakan Polyphemus, memakan ternak Apollo, dan lain sebagainya.
Ketika ditahan oleh Calypso, ia kehilangan memorinya. Namun, ternyata keinginannya untuk bertemu kembali dengan Penelope begitu kuat. Ketika ingatannya kembali, ia pun berlayar dan menaiki rakit apa adanya dengan menyerahkan diri ke “Tuhan”.
Akting Top Para Aktor Top

Kita tahu kalau Nolan punya beberapa nama top yang seolah menjadi langganan untuk muncul di film-filmnya. Oleh karena itu, bukan hal yang mengherankan kalau banyak sekali pemeran di film ini yang aktingnya terasa luar biasa.
Matt Damon sebagai karakter utama di film ini tak perlu diragukan lagi, walau sebagian besar kita melihat ekspresi penyesalan dari dirinya di sepanjang film. Anne Hathaway juga menunjukkan kelasnya sebagai pemenang Oscar, bahkan Penulis sampai lupa kalau ini film saking realistisnya aktingnya.
Robert Pattinson yang berperan sebagai Antinous juga bisa memperlihatkan sebagai sosok antagonis yang licik dan pengecut. Ekspresi ketakutannya ketika menyadari Odysseus telah pulang, lalu berteriak berbagai semacam senjata sembari bersembunyi di balik pilar, benar-benar mantap.
Nama lain yang patut diapresiasi adalah John Leguizamo sebagai Eumaeus. Berperan sebagai orang buta, ia bisa memainkan karakter yang loyal dan bijaksana dengan baik. Benny Safdie yang menjadi Agamemnon juga berhasil aura farming tanpa banyak dialog, dengan kostumnya yang mirip Batman.
Hal Lain yang Patut Diapresiasi

Alur ceritanya tetap non-liner khas Nolan, maju mundur maju mundur, sehingga bisa membuat penonton bingung terutama yang tidak mengerti cerita The Odyssey sebelumnya. Namun, Penulis justru menyukai format film seperti ini.
Apalagi, sepanjang film Nolan menebar banyak foreshadow yang akan terjawab di akhir film. Banyak adegan yang diulang-ulang, seolah menunjukkan bahwa adegan ini penting dan nanti pada akhirnya akan ada penjelasan.
Sebagai informasi, film ini direkam sepenuhnya dengan kamera IMAX. Oleh karena itu, secara visual film ini benar-benar memuaskan dan memanjakan mata. Penulis hampir tidak bisa melepaskan fokusnya ketika menonton film ini. Durasi 3 jam sama sekali tidak terasa.
Di film ini, Nolan kembali menggandeng Ludwig Göransson yang sebelumnya juga menggarap soundtrack untuk film Oppenheimer. Sepanjang filmnya, banyak sekali musik yang membuat bulu kuduk Penulis merinding.
Jika berbicara tentang scene favorit, maka Penulis akan memilih adegan ketika Odysseus kembali ke Ithaca dan berhasil memasang busurnya. Diiringi dengan musik gubahan Göransson, adegan ini benar-benar terasa sempurna!
Beberapa Hal yang Kurang

Tidak ada film yang sempurna, begitu pula The Odyssey ini. Penulis tidak terlalu memusingkan pemilihan beberapa cast-nya, walau memang terasa kurang perfect. Bagi Penulis, Tom Holland terlihat terlalu tua untuk menjadi Telemachus. Aktingnya juga sedikit kebanting dengan pemeran lainnya.
Akting pemeran lain yang terasa biasa adalah Zendaya. Entah mengapa Penulis tidak bisa menangkap perannya sebagai Athena, mungkin karena karakternya juga minim ekspresi. Karakter yang diperankan oleh Travis Scott juga terasa ganjal ada di film tersebut.
Selain itu, adegan pertarungan terakhir di istana juga terlihat sedikit kaku dan kurang natural. Bukan karena Odysseus yang terlihat overpowered karena bisa mengalahkan orang sebanyak itu, melainkan koreografinya saja yang membuat Penulis kurang sreg.
Di beberapa adegan, speaker di IMAX terasa terlalu kencang di telinga Penulis yang cukup sensitif. Penulis tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya kemarin menonton film ini di 4DX, apalagi di adegan ketika kapal Odysseus terombang-ambing oleh ganasnya badai!
Kesimpulan
Bagi Penulis, The Odyssey adalah film kedua terbaik dari semua film Nolan yang pernah Penulis tonton, di bawah The Dark Knight dan di atas Oppenheimer. Penulis merasa cukup percaya diri kalau film ini akan masuk ke dalam nominasi Oscar.
Bahkan, hingga artikel ini ditulis, masih ada keinginan untuk menonton ulang film ini di bioskop. Apalagi, Penulis sempat ketinggalan beberapa menit filmnya karena adik Penulis sedang ada tes kerja di siang harinya!
SKOR: 9/10
Lawang, 3 Agustus 2026, terinspirasi setelah menonton The Odyssey karya Christopher Nolan
Film & Serial
[REVIEW] Setelah Menonton Supergirl
Bulan Juni hingga Juli akan menjadi waktu-waktu di mana Penulis akan sering ke bioskop. Pasalnya, ada tiga film yang masuk ke dalam daftar tonton Penulis tahun ini, mulai dari Supergirl (24 Juni), The Odyssey (15 Juli), dan Spider-Man: Brand New Day (29 Juli).
Nah, meskipun agak telat menulis artikel ulasannya, Penulis sebenarnya telah menonton film Supergirl ketika premiere. Karakternya sendiri sudah sempat muncul sebentar di film Superman yang tayang pada tahun kemarin.
Lantas, apakah Supergirl berhasil menampilkan film minimal sebagus Superman, atau justru ini menjadi film flop pertama DC Studios di bawah arahan James Gunn? Menurut Penulis, singkatnya, this movie was not bad, but not good enough.
SPOILER ALERT!!!
Detail Film Supergirl
- Judul: Supergirl
- Sutradara: Craig Gillespie
- Cast: Milly Alcock, Eve Ridley, Jason Momoa, Matthias Schoenaerts, David Corenswet
- Tanggal Rilis: 24 Juni 2026 (Indonesia)
- Durasi: 108 Menit
Apa Cerita Supergirl?

Sesuai dengan judulnya, Supergirl berfokus pada kehidupan Kara Zor-El alias Supergirl (Milly Alcock) yang berbeda dengan sepupunya, Kal-El alias Superman (David Corenswet). Jika Superman bisa melihat kebaikan di setiap orang, ia melihat manusia “apa adanya”.
Jika Superman hidupnya terkesan lurus, maka Supergirl terasa chaos dan berantakan. Bahkan, ia dengan sengaja pergi ke planet yang mataharinya merah agar dirinya bisa mabuk! Sebagai informasi, makhluk Kryptonian seperti mereka tidak bisa mabuk di planet dengan matahari kuning seperti Bumi.
Nantinya, di pertengahan film akan dijelaskan mengenai perbedaan ini. Berbeda dengan Superman yang dikirim ke Bumi sejak kecil, Supergirl sempat tinggal di Argo City, sebuah kota “sempalan” dari planet Krypton yang meledak.
Namun, masa hidup kota tersebut tidak bisa bertahan lama karena ternyata mengandung kelemahan mereka semua, yakni Kriptonite. Alhasil, Kara dan anjingnya yang bernama Krypto pun dikirim ke Bumi untuk dititipkan ke Superman.
Latar belakangnya yang seperti itulah yang membuat Supergirl terus mencari di mana “rumahnya” yang sebenarnya. Ia merasa Bumi tempat Superman tinggal bukan rumah sejatinya, sehingga ia pun kerap berkelana ke berbagai planet.
Nah, kebetulan ia sedang berada di sebuah planet saat perayaan ulang tahunnya yang ke-23. Di planet tersebut, kebetulan ada seorang penjahat bernama Krem of the Yellow Hills (Matthias Schoenaerts) yang membantai keluarga Ruthye Marye Knoll (Eve Ridley) karena alasan yang cukup konyol.
Ruthye pun punya misi balas dendam dan pergi ke bar untuk mencari orang yang bisa membantunya. Kebetulan (lagi), Supergirl sedang berada di bar tersebut. Walau sempat membantu Ruthye, Supergirl menolak untuk membantunya melakukan balas dendam.
Nah, pesawat milik Krem sempat diledakkan oleh keluarga Ruthye. Kebetulan (lagi), mereka menemukan pesawat milik Supergirl. Lebih parahnya lagi, Krem sempat menyuntikkan racun ke Krypto yang akan menewaskannya dalam waktu tiga hari.
Supergirl pun yang awalnya menolak permintaan Ruthye akhirnya mau tidak mau mencari Krem dan dimulailah petualangan mereka berdua. Oh iya, di film ini ada Jason Momoa sebagai Lobo, tapi jujur perannya tidak terlalu signifikan. Hal ini akan Penulis bahas di poin selanjutnya.
Setelah Menonton Supergirl
Semakin dipikirkan, Penulis semakin merasa kalau film ini benar-benar terasa kurang, apalagi jika dibandingkan dengan Superman. Selain terasa fun-nya, film ini begitu generik, penuh klise, villain yang kurang memorable, dan secara overall tidak istimewa.
Sisi Positif Film Supergirl

Mari kita bicarakan dulu dari sisi positifnya. Vibe film ini bagi Penulis mirip Borderlands (salah satu seri game favorit Penulis) yang fun, walau netizen mengatakan film ini perpaduan Guardians of the Galaxy dan Mad Max. Oleh karena itu, Penulis bisa menikmati latar-latar tempatnya.
Penampilan para cast-nya tidak buruk, tapi juga tidak terlalu spesial. Penampilan Alcock yang “kuat di luar, tapi rapuh di dalam” patut diapresiasi. Schoenaerts sebagai villain yang agak sinting juga cukup menarik, walau memang (sekali lagi) kurang memorable.
Bagian akhir film ini juga Penulis suka. Setelah menghentikan keinginan Ruthye untuk membunuh Krem, Supergirl mengotori tangannya sendiri untuk membunuhnya. Ini salah satu hal yang tidak klise di film ini sekaligus membedakan antara Superman dan Supergirl.
Sisi Negatif Film Supergirl

Nah, sekarang masuk ke kekurangannya. Mungkin ada Pembaca yang notice bagaimana Penulis menuliskan banyak kata “kebetulan” di bagian sinopsis sebelumnya. Itu yang Penulis rasakan karena memang terlalu banyak kebetulan di film ini.
Film ini mungkin bukan tipe film yang banjir plot hole, tapi memang dari sisi cerita seperti kurang eksplorasi dan banyak logika yang tidak masuk. Inti dari film ini memang sebenarnya tentang penerimaan diri, tapi konfliknya sesederhana mencari antidote untuk Krypto yang keracunan. Tidak lebih dari itu.
Banyak adegan yang kadang membuat Penulis mengangkat alis. Ketika awal film misalnya, ketika keluarga Ruthye dibantai. Penyebabnya sederhana sekali, karena kakak Ruthye tiba-tiba mengagetkannya (ia pakai headset sehingga tak sadar rumahnya kedatangan tamu yang berbahaya), lalu tiba-tiba dibunuh oleh Krem karena itu!
Karena anaknya dibunuh, tentu orang tua Ruthye murka dan jadi menyerang Krem dan pasukannya. Tentu saja mereka kalah dengan mudah. Anehnya, Ruthye dibiarkan hidup, padahal kakaknya pun dibunuh karena alasan yang sepele!
Selain itu, di film juga diceritakan kalau Krem dan pasukannya (disebut Brigands) mencari para perempuan untuk melanjutkan keturunan mereka yang terancam punah. Lantas, kenapa Ruthye tidak diculik? Memang dia baru remaja, tapi kalau melihat perempuan-perempuan yang mereka culik, rasanya beda usianya tidak terpaut jauh.
Ketika Supergirl datang ke markas Krem, ternyata planet tersebut mengorbit di dua matahari, yakni matahari hijau dan kuning. Artinya, Krem tahu kalau matahari hijau adalah kelemahan Kryptonian. Lantas, mengapa ia tidak mencari planet yang HANYA mengorbit matahari hijau saja? Pasti ada tata surya seperti itu di semesta DC, Penulis sangat yakin.
Satu hal yang paling mengganggu Penulis bukanlah Ruthye yang terasa sebagai beban sepanjang film, melainkan keberadaan Lobo! Lagi-lagi, “kebetulan” orang yang ia incar merupakan pasukan dari Krem, sehingga bisa berada di satu tempat yang sama dengan Supergirl dan Ruthye.
Namun, keberadaan Lobo di film ini seolah asal tempel. Seandainya tidak ada Lobo pun rasanya tidak banyak hal yang berubah. Kemunculannya menyelamatkan Supergirl di akhir film juga terasa memaksa, apalagi tiba-tiba ia bawa motornya ke tengah-tengah pasukan Brigands!
Skor: 6/10
Akhir dari film ini juga memberikan petunjuk tentang film selanjutnya, yakni Superman: Man of Tomorrow yang dijadwalkan rilis tahun depan. Superman mengatakan bahwa ia membutuhkan bantuan Supergirl untuk menghadapi “musuh yang satu ini”. Semoga saja film ini bisa lebih baik!
Lawang, 6 Juli 2026, terinspirasi setelah menonton Supergirl
-
Permainan12 bulan agoKoleksi Board Game #30: Deception: Murder in Hong Kong
-
Fiksi12 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer’s Equation
-
Politik & Negara12 bulan agoKepada Tuan dan Puan yang Terhormat…
-
Pengembangan Diri12 bulan agoMemahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan
-
Olahraga12 bulan agoSudah Tak Tahu Lagi Apa yang Harus Diubah dari Tim Ini
-
Pengembangan Diri12 bulan agoJangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu
-
Nonfiksi12 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy
-
Produktivitas9 bulan agoProductivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang


You must be logged in to post a comment Login