Connect with us

Film & Serial

Setelah Menonton Doctor Strange in the Multiverse of Madness

Published

on

Salah satu film yang paling Penulis nantikan di tahun 2022 ini adalah Doctor Strange in the Multiverse of Madness. Bahkan, video teaser-nya yang muncul di film Spider-Man: No Way Home saja sampai buat tulisan tersendiri.

Ada beberapa alasan mengapa Penulis begitu menantikan film ini. Pertama, karena Doctor Strange adalah salah satu karakter Marvel Cinematic Universe (MCU) favorit Penulis. Filmnya yang pertama jug menjadi salah satu favorit Penulis.

Kedua, karena tema multiverse yang diusungnya. Seperti yang kita ketahui, ini adalah tema utama yang diusung pada Phase 4, seperti yang sudah kita lihat di serial Loki dan tentu saja Spider-Man: No Way Home. Apalagi, ada kata “madness” di judulnya yang makin membuat penasaran.

Ketiga, adanya karakter Wanda Maximoff alias Scarlet Witch yang melanjutkan kisahnya di serial WandaVision. Di akhir serial tersebut, terlihat jika Wanda sedang mempelajari kitab Darkhold yang membuatnya menjadi kandidat kuat sebagai villain utama di film ini.

Terakhir adalah banyaknya rumor mengenai cameo yang akan muncul di film ini. Di trailer, kita bisa melihat kemunculan organisasi Illuminati yang berisi Professor X, Captain Carter, dan Baron Mordo. Ada beberapa karakter lain yang nanti akan Penulis sebutkan.

Penulis seperti biasa nonton di hari premier-nya pada tanggal 4 Mei 2022 (atau 46 hari yang lalu) untuk menghindari spoiler yang bertebaran di media sosial. Sayangnya, tampaknya ekspektasi Penulis terlalu tinggi. SPOILER ALERT!!!

Jalan Cerita Doctor Strange in the Multiverse of Madness

Biasanya, Penulis akan menceritakan panjang lebar mengenai jalan ceritanya dengan cukup detail. Hanya saja, rasanya mulai sekarang Penulis akan membuat rangkumannya saja tanpa perlu menjabarkan kronologinya secara lengkap.

Konflik utama dari film ini adalah keinginan Wanda Maximoff/Scarlet Witch (Elizabeth Olsen) yang ingin mendapatkan kekuatan milik America Chavez (Xochitl Gomez) agar bisa berpinda universe dengan mudah.

Lantas, America “terdampat” ke Earth 616 dan bertemu dengan Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) dan Wong (Benedict Wong). Mereka pun berusaha melindungi America dari Wanda, hingga membuat Strange terlempar ke Earth-838.

Di sana, mereka berdua ditangkap oleh Illuminati karena Strange dianggap berbahaya dan mengancam universe mereka. Organisasi ini beranggotakan:

  • Professor X (Patrick Stewart)
  • Captain Carter (Hayley Atwell)
  • Reed Richards/Mr. Fantastic (John Krasinski)
  • Captain Marvel (Lashana Lynch)
  • Black Bolt (Anson Mount)
  • Baron Mordo (Chiwetel Ejiofor)

Selain itu, mereka juga bertemu dengan varian Dr. Christine Palmer (Rachel McAdams). Saat Strange diinterogasi, Wanda menggunakan teknik Dream-walk untuk merasuki Wanda versi Earth-838 dan mulai memburu America.

Dengan (sangat) mudah Wanda berhasil membunuh 5 dari 6 anggota Illuminati, menghancurkan kitab Vishanti, dan menculik America kembali ke Earth-616. Di sisi lain, Strange bersama varian Dr. Palmer terdampat ke sebuah universe yang hancur.

Di sana, mereka bertemu dengan varian Doctor Strange yang jahat dan melakukan pertarungan yang cukup singkat dan dimenangkan oleh Strange yang baik. Strange akhirnya menggunakan Darkhold untuk menggunakan teknik Dream-walk dengan memanfaatkan jasad varian Strange yang ada di Earth-616.

Pertarungan terakhir pun terjadi antara Strange-Wong-America melawan Wanda. Akhirnya Wanda disadarkan bahwa dirinya menjadi monster yang ditakuti oleh kedua anaknya di Earth-838, sehingga memutuskan untuk menghancurkan Darkhold di gunung Wundagore tersebut.

Film berakhir dengan America yang memutuskan untuk stay di Earth-616 dan menjadi salah satu murid di Kamar-Taj. Selain itu, ternyata Darkhold yang digunakan oleh Strange telah memberikan efek samping berupa kemunculan mata ketiga di dahinya.

Pada adegan post-credit yang pertama, kita bisa melihat ada sosok perempuan bernama Clea (Charlize Theron) yang mengatakan perbuatan Strange telah menyebabkan Incursion. Untuk adegan post-credit kedua sama sekali tidak penting dan membuat kesal.

Setelah Menonton Doctor Strange in the Multiverse of Madness

Seperti yang sudah Penulis singgung di atas, ekspektasi Penulis terhadap film ini terlalu tinggi hingga menimbulkan kekecewaan. Bisa dibilang, kata madness yang terdapat pada judul tidak cocok disematkan kepada film ini.

Secara umum, Penulis merasa cerita dari film ini agak terasa dangkal, di mana konfliknya hanya berpusat pada Wanda yang ingin mencari anaknya dan Strange yang harus menghentikannya sekaligus melindungi America.

Selain itu, Penulis juga sama sekali tidak suka dengan pertarungan Strange vs Strange yang menggunakan elemen musik. Walaupun anti-mainstream, rasanya aneh. Apalagi Strange jahat mati dengan cukup mudah walaupun sudah menguasai Darkhold.

Masih ada banyak ungkapan kekecewaan Penulis terhadap film ini, yang akan Penulis bagi menjadi beberapa bagian di bawah ini:

Klise Khas Marvel

Ada adegan klise setelah kitab Darkhold sempat dihancurkan oleh salah satu anggota Kamar-Taj. Wanda mengancam akan membunuh anggota yang lain jika Wong tidak memberitahu rahasia Darkhold, yang ternyata kitabnya hanya salinan dan aslinya ada di Gunung Wundagore.

Klise semacam ini sempat terjadi di film Avengers: Infinity Wars, ketika Loki memberi Tesseract ketika Thanos menyiksa Thor dan ketika Gamora memberitahu lokasi Soul Stone ketika Thanos menyiksa Nebula.

Kalau mau berhitung secara matematis, pengorbanan mereka tentu sebanding dengan kejadian buruk yang bisa terjadi akibat bocornya informasi tersebut. Bisa jadi, kita akan melihat lebih banyak klise-klise seperti ini di film Marvel selanjutnya.

Oh iya, bagaimana America akhirnya bisa menggunakannya secara sadar juga berkat bantuan motivasi no jutsu dari Doctor Strange juga klise.

Cameo yang Tak Terwujud

Sebagai orang yang bekerja di bidang media dan sering membahas bocoran film, ada banyak sekali rumor cameo yang tidak muncul. Contohnya adalah Iron Man versi Tom Cruise dan Deadpool.

Marvel terlihat ingin mengompori para penggemarnya dengan menampilkan Professor X dan Captain Carter di trailer dan klip-klip singkat, sehingga mereka berpikir akan ada cameo yang lebih besar dari mereka.

Memang benar, impian penggemar untuk melihat John Krasinski menjadi Reed Richards alias Mr. Fantastic akhirnya terkabulkan. Ada juga cameo minor dari karakter lain, tetapi rasanya penggemar berharap lebih dari itu.

Illuminati yang Ampas

Omong-omong soal Reed Richards, bisa dibilang organisasi Illuminati yang OP di komiknya terlihat sangat ampas di film ini. Wanda, walaupun memang sangat kuat, terlihat terlalu mudah menghabis seluruh anggota Illuminati dalam waktu singkat.

Yang paling konyol tentu saja ketika “manusia paling pintar” Reed Richards berkata ke Wanda kalau Blackbolt mampu melenyapkan Wanda hanya dengan suaranya. Kalau ia pintar, harusnya bilang saja kalau Blackbolt bisa memberitahu di mana lokasi America.

Penulis juga kurang suka adegan ketika Captain Carter mati, yang shoot-nya terlihat sangat mirip dengan kematian Green Goblin di film Spider-Man versi Tobey Maguire. Demi mengejar PG-13, adegan aneh tersebut pun “terpaksa” disajikan.

Sam Raimi Sudah Terlalu Old School?

Adegan kematian Captain Carter hanya salah satu adegan yang tidak Penulis sukai dari film ini. Sepanjang film, ada banyak teknik shoot dari sang sutradara, Sam Raimi, yang tidak Penulis sukai dan terkesan old school.

Contohnya adalah ketika Mordo sedang menjelaskan kepada Strange dan America mengenai teknik Dream-walk yang digunakan oleh Wanda Maximoff. Efek fading yang digunakan mirip dengan adegan di film Spider-Man garapannya dulu.

Memang adegan jumpscare-nya cukup mencekam dan membuat kaget. Namun, secara keseluruhan banyak teknik pengambilan gambar di film ini yang kurang sesuai dengan selera Penulis, hingga merasa Sam Raimi tak cocok untuk jadi sutradara lagi di MCU.

Deretan Plot Holes

Yang namanya film pasti ada saja plot holes yang ditemukan. Makin besar skala filmnya seperti Avengers: Endgame, semakin besar pula peluang adanya plot hole. Film ini pun memiliki banyak plot hole yang muncul di benak Penulis.

Pertama, mengapa Vision sama sekali tak disebutkan di film ini? Sejak kapan Wanda melupakan Vision seolah dia tak pernah hidup? Mengapa ia tak mencari universe di mana ada Vision yang kehilangan sosok Wanda?

Lantas, mengapa Wanda secara spesifik mengincar Billy dan Tommy di Earth-838? Siapa ayah mereka di universe tersebut? Mengapa tidak menjadi universe lain di mana kedua anak tersebut menjadi yatim piatu? Apa hanya karena memang tidak ada?

Jika mau diteruskan, daftar pertanyaan seperti ini akan terus bertambah tambah batas. Penulis sudah pernah berpendapat, kalau tema multiverse bisa menjadi bumerang bagi Marvel sendiri, dan bisa jadi plot holes semacam ini akan terus ditanyakan.

Penutup

Penulis memang merasa kecewa dengan ini, tapi itu lebih karena ekspektasinya yang terlalu tinggi. Bisa dilihat di awal tulisan, Penulis merasa begitu antusias dengan film ini karena banyak alasan. Semakin tinggi harapannya, semakin sakit jatuhnya.

Filmnya memang masih bisa dinikmati. Efek visualnya oke, akting pemainnya oke (walau ada beberapa adegan Elizabeth Olsen yang menurut Penulis aneh), ceritanya masih runut walau terkesan agak terburu-buru.

Apa yang Penulis suka dari film ini adalah bagaimana Wanda langsung menjadi villain utama di film ini, bukan plot twist di mana ia tiba-tiba mengkhianati Strange dalam sebuah misi menyelamatkan kerusakan universe.

Hanya saja, memang agak aneh bagaimana Wanda yang sudah membuat masalah di serial WandaVision malah terlihat tidak belajar dari kesalahannya tersebut. Justru, ia membuat masalah yang lebih besar walaupun efek Darkhold juga berperan penting.

Doctor Strange kemungkinan akan memiliki film ketiganya jika melihat adegan post-credit-nya. Semoga film ketiganya tidak akan semengecewakan ini.

Peringkat: 6 dari 10.

Lawang, 14 Juni 2022, terinspirasi setelah menonton Doctor Strange in the Multiverse of Madness

Foto:

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Film & Serial

Setelah Menonton Everything Everywhere All At Once

Published

on

By

Penulis sudah mengungkapkan kekecewaannya terhadap film Doctor Strange in the Multiverse of Madness. Salah satu alasannya adalah kurang madness-nya tema multiverse yang dibawakan. Varian Doctor Strange dan universe yang dikunjungi terhitung sedikit.

Bahkan, Penulis menganggap film Chip ‘N Dale: Rescue Rangers lebih madness. Meskipun tidak mengunjungi universe lain, kita bisa melihat betapa madness film ini dari berbagai easter egg yang bertebaran dari production house lain, termasuk munculnya Ugly Sonic.

Nah, salah satu film yang sering disebut menawarkan kegilaan multiverse di tahun ini adalah Everything Everywhere All At Once yang disutradarai oleh Daniel Kwan dan Daniel Scheinert dan dibintangi oleh Michelle Yeoh.

Oleh karena itu, Penulis langsung memutuskan untuk menontonnya setelah tahu film ini mendapatkan jatah layar di Indonesia, meskipun baru saja selesai vaksin booster. Untungnya keputusan Penulis tersebut sama sekali tidak salah, karena film ini benar-benar madness!

Jalan Cerita Everything Everywhere All At Once

Penulis terlambat sekitar 10 menit ketika menonton film ini karena harus pergi ke beberapa tempat terlebih dahulu. Untungnya, Penulis hanya ketinggalan build up dan perkenalan dari anggota keluarga dari tokoh utamanya.

Everything Everwhere All At Once dibagi menjadi tiga bagian yang diambil dari judulnya, yakni Part 1: Everything, Part 2: Everywhere, Part 3: All At Once. Ini adalah salah satu sisi dari film ini yang Penulis sukai.

Part 1: Everything

Bagian pertama menjelaskan awal mula bagaimana kegilaan multiverse di film ini dimulai. Fokus utamanya adalah Evelyn Quan Wang (Michelle Yeoh), pemilik usaha binatu yang sedang terlilit masalah pajak.

Saat berusaha mengurusnya di kantor pajak, suaminya Waymond Wang (Ke Huy Quan) tiba-tiba dirasuki oleh Alpha Waymond dari semesta lain yang berusaha memperingatkan Evelyn tentang bahaya yang diakibatkan oleh Jobu Topaki.

Jobu Topaki sendiri aslinya adalah Alpha Joy atau Joy Wang (Stephanie Tsu) yang merupakan anak Evelyn dan Waymond. Di alphaverse, Alpha Evelyn memaksa Alpha Joy untuk melampaui batas sehingga ia jadi bisa mengakses semua universe dan mampu memanipulasi materi.

Dengan kekuatannya yang overpowered, ia membuat The Everything Bagel dari segala mimpi dan harapannya yang berpotensi menghancurkan multiverse. Untuk itulah Alpha Waymond meminta pertolongan kepada Evelyn di universe ini untuk menghentikan Jobu Topaki.

Selain itu, Alpha Waymond juga memberitahu mengenai verse-jumping yang bisa digunakan untuk mengakses kemampuan varian kita di universe lain. Untuk bisa melakukannya, kita harus melakukan berbagai hal yang random.

Berawal dari sana lah petualangan multiverse Evelyn dimulai dan ia melihat banyak kehidupannya di universe lain. Di film ini, setiap keputusan atau kegagalan yang dialami Evelyn akan menciptakan cabang universe baru.

Kenapa Evelyn yang ini bisa berhasil? Karena ia adalah Evelyn yang selalu mengalami kegagalan dalam hidupnya dan itu jadi potensi terbesarnya. Kegagalannya adalah kesuksesan variannya di semesta lain.

Benar saja, ia adalah varian Evelyn yang dicari-cari oleh Jobu Topaki. Pada akhir bagian, pikiran Evelyn kelebihan beban dan Alpha Waymond dihabisi oleh Jobu Topaki di alphaverse.

Part 2: Everywhere

Evelyn yang pikirannya terpecah-pecah membawa kita menyelami lebih dalam mengenai kehidupan lainnya di universe lain. Ada yang dia jadi artis terkenal, manusia berjari hotdog, koki, dan lain sebagainya.

Lantas, ia menyadari bahwa tujuan Jobu Topaki membuat The Everything Bagel bukanlah untuk menghancurkan multiverse, melainkan dirinya sendiri karena merasa di seluruh universe pun tidak ada hal yang benar-benar berarti.

Jobu Topaki mencari Evelyn karena membutuhkan seseorang yang memahami dirinya. Evelyn hampir saja ikut Jobu Topaki masuk ke dalam The Everything Bagel, tetapi membatalkannya setelah mendengar suara suaminya yang berusaha mati-matian membela dirinya.

Evelyn pun kembali ke semestanya dan mengalahkan semua anak buah Jobu Topaki sembari memberikan mereka kebahagiaan. Pada akhirnya, Evelyn juga berhasil menyelamatkan Jobu Topaki dan membuatnya membatalkan dirinya masuk ke The Everything Bagel.

Part 3: All At Once

Bagian terakhir merupakan konklusi dari film ini, di mana semua menjadi happy ending di mana masalah pajak mereka mulai memperlihatkan titik terang dan pacar Joy sudah dianggap sebagai keluarga.

Evelyn sempat terlihat memfokuskan pikirannya ke varian dirinya yang lain, sebelum kembali ke universe-nya sendiri. Apakah ini menjadi semacam petunjuk tentang sekuel dari film ini?

Setelah Menonton Everything Everywhere All At Once

Penulis seolah kehabisan kata-kata setelah menonton film ini. Absurd, tapi bagus. Ada komedinya, tapi ada juga bagian yang menyentuh. Setelah menonton film gila ini, butuh beberapa menit untuk mencerna apa yang baru saja Penulis tonton.

Film ini jelas terasa segar karena memang benar-benar film baru, bukan sekuel, prekuel, reboot, remake, dan lain sebagainya. Sayang, seringnya film seperti ini justru kurang mendapatkan spotlight, kalah dengan franchise film raksasa yang kadang menjemukan.

Dengan budget yang relatif kecil, film ini berhasil membawa pengalaman yang unik kepada penontonnya. Kegilaan multiverse-nya benar-benar terasa dengan berbagai efek kamera yang sangat keren dan sinematografi yang begitu indah.

Penulis sangat menyukai efek bagaimana kita bisa melihat puluhan varian Michelle Yeoh hanya dalam beberapa detik. Hanya saja perlu dicatat, banyak adegan yang berpotensi membahayakan penderita epilepsi.

Kalo dari segi cerita, sebenarnya ceritanya sederhana saja. Bisa dibilang, ini adalah drama keluarga (tentang orang tua yang strict dan anaknya yang ingin bebas) yang dibalut dengan rumitnya multiverse secara rapi.

Selain itu, film ini juga menyinggung mengenai nihilistik, di mana Joy yang sudah mengunjungi semua universe menganggap nothing really matters. Untuk itu, ia pun membuat bagel yang secara kasar adalah jalannya untuk bunuh diri.

Akting para pemainnya pun patut diacungi jempol. Selain Yeoh yang sangat layak masuk nominasi Oscar, akting dari Tsu dan Quan (yang sedikit mirip Jackie Chan) juga patut diapresiasi karena mampu membawa kita terbawa suasana.

Dari banyaknya universe yang ditampilkan, tentu yang paling absurd adalah ketika Evelyn dan Joy menjadi batu dan bercakap-cakap di semacam canyon. Entah apa yang dipikirkan oleh pembuat film ini, yang uniknya Penulis cukup menyukainya kesunyian yang ada di dalamnya.

Yang jelas, Everything Everywhere All At Once akan menjadi salah satu film favorit Penulis seumur hidup. Film orisinal yang unik dan dieksekusi dengan begitu rapi, bahkan Penulis susah untuk menemukan plot hole di film ini.

Hanya saja, film seperti ini memang baiknya hanya menjadi film solo tanpa perlu sekuel. Everything Everywhere All At Once sudah cukup untuk menjadi sebuah masterpiece. Penulis sangat menikmati film ini dan ingin menontonnya lagi.

Peringkat: 9 dari 10.

Lawang, 3 Juli 2022, terinspirasi setelah menonton Everything Everywhere All At Once

Foto: The Cinema In The Arches

Continue Reading

Film & Serial

Setelah Menonton Moon Knight

Published

on

By

Hingga kini, Marvel telah menelurkan 5 serial di layanan Disney+: WandaVision, The Falcon and the Winter Soldier, Loki, What If…?, dan Hawkeye. Semua serial tersebut telah Penulis tonton dan sudah ada ulasannya masing-masing.

Hanya saja, kelima serial tersebut hanya menampilkan karakter-karakter yang telah muncul sebelumnya, sehingga seolah terlihat sebagai ajang untuk memamerkan side character yang selama ini kerap terabaikan.

Nah, serial pertama yang menampilkan karakter baru (belum pernah muncul di Marvel Cinematic Universe/MCU) adalah Moon Knight. Kalau tidak pernah membaca komiknya, superhero yang satu ini pasti terdengar asing.

Berhubung episode finale-nya telah rilis kemarin, Penulis pun segera menuliskan pendapatnya tentang serial yang satu ini agar hutang artikel tidak menumpuk. SPOILER ALERT!!!

Episode 1 – Masalah Ikan Mas

Oscar Isaac sebagai Marc Spector/Steven Grant dan Gus the goldfish (Marvel)

Jalan Cerita Moon Knight Episode 1

Cerita berawal kepada Steven Grant (Oscar Isaac) yang bekerja di British Museum, London, sebagai penjual suvenir yang ramah. Ia memiliki pengetahuan yang luas mengenai Mesir Kuno.

Steven terlihat sebagai pribadi yang bermasalah dengan tidurnya, sehingga ia selalu mengikat kakinya, menyebar pasir di sekitar kasurnya, hingga menempelkan selotip di pintu.

Suatu saat, tiba-tiba ia terbangun di Pegunungan Alpen dan mendapatkan sebuah scarab. Ia juga bertemu dengan Arthur Harrow (Ethan Hawke) yang memiliki sejumlah pengikut, dan Steven harus berjibaku untuk kabur.

Steven lantas kembali ke rumahnya dan menyadari kalau telah dua hari berlalu semenjak ia merasa tidur. Ia menemukan sebuah ponsel dan mendapati kalau ada seseorang bernama Layla (May Calamawy) yang tengah mencarinya. Ketika mencoba meneleponnya, wanita tersebut memanggilnya “Marc”.

Ketika di tempat kerja, ia bertemu dengan Harrow yang ternyata merupakan pengikut dewi Mesir bernama Ammit. Malamnya, Harrow memanggil sesosok makhluk untuk menyerang Grant dan merebut scarab yang dimilikinya.

Di saat terdesak, sosok dirinya yang satu lagi, Marc Spector, meminta Steven untuk bertukar kepribadian. Steven setuju dan untuk pertama kalinya kita melihat sosok Moon Knight di semesta Marvel.

Setelah Menonton Moon Knight Episode 1

Sebagai episode pembuka, Penulis sangat menyukai episode pertama. Tanpa perlu berpanjang lebar, kita langsung memahami mengenai kepribadian ganda yang dimiliki oleh Steven Grant.

Blackout yang dialami Steven bisa menggambarkan mengenai adanya sosok lain yang mengendalikan tubuh tersebut. Episode ini juga mampu membuat penontonnya merasa simpatik dan “jatuh cinta” kepada sosok Steven.

Peringkat: 8 dari 10.

Episode 2 – Panggil Kostumnya

Mr. Knight (Polygon)

Jalan Cerita Moon Knight Episode 2

Berkat ulah Moon Knight yang bertarung melawan monster Harrow, Steven disalahkan atas kerusakan yang terjadi di museum dan dipecat. Ia mencoba menelusuri dirinya yang satu lagi menggunakan kunci yang ia temukan di rumahnya.

Di semacam tempat penyimpanan, Steven akhirnya mampu berbicara dengan Marc yang menjelaskan kalau dirinya adalah avatar dari dewa bulan Mesir, Khonsu. Steven pun melihat sosok Khonsu dan berlari ketakutan, sebelum akhirnya hampir ditabrak oleh Layla yang ternyata merupakan istri Marc.

Setelah membawa Layla ke rumahnya, anak buah Harrow berhasil membawa Steven ke tempat Harrow. Ternyata, Harrow mengincar scarab yang ia bawa karena ingin menemukan makam Ammit dan membangkitkannya.

Harrow juga menjelaskan kalau Ammit akan membuatnya memusnahkan manusia sebelum mereka melakukan kejahatannya di masa depan. Steven tidak setuju dengan cara tersebut dan kabur dengan bantuan Layla yang berhasil menyusul.

Di episode ini, Steven berhasil memunculkan kostum versinya sendiri dan berusaha melawan makhluk yang dimunculkan Harrow. Tidak mampu mengalahkannya, akhirnya Steven bertukar kepribadian lagi dengan Marc. Sayangnya, Harrow berhasil mendapatkan scarab dan langsung menuju Mesir.

Setelah Menonton Moon Knight Episode 2

Episode dua lebih menjelaskan mengenai konflik yang terjadi antara Steven/Marc dan Harrow. Mereka berdua menjadi “pengikut” dari dewa-dewi Mesir yang berbeda. Meskipun mereka sama-sama ingin memusnahkan kejahatan di dunia, mereka memiliki cara yang berbeda.

Jika Khonshu membunuh orang setelah mereka melakukan kejahatan, Ammit justru ingin membunuh orang sebelum mereka melakukan kejahatannya melalui semacam neraca. Dengan kata lain, Ammit ingin melakukan genosida untuk menghindari hal buruk terjadi di masa depan.

Peringkat: 7 dari 10.

Episode 3 – Tipe yang Ramah

Mr. Knight dan Khonshu (ComicBook)

Jalan Cerita Moon Knight Episode 3

Dari London, kita langsung beralih ke Mesir karena Harrow berhasil menemukan makam Ammit di gurun Mesir. Marc berusaha melacak keberadaan Harrow, tetapi sempat mengalami blackout bersamaan dengan Steven yang mengindikasikan adanya kepribadian ketiga.

Buntu, Khonshu pun melakukan sesuatu yang membuat para dewa Mesir lain untuk berkumpul dan memberitahukan rencana Harrow. Sayangnya, Harrow berhasil meyakinkan mereka kalau yang disampaikan oleh Khonshu tidak benar.

Salah satu avatar dari dewa Mesir memberitahu Marc untuk menemukan sarkofagus yang memberitahu lokasi makam Ammit. Marc pun bertemu dengan Layla dan membawanya untuk bertemu dengan Anton Mogart yang memiliki sarkofagus yang ditemukan.

Sayangnya, Harrow datang dan mengacau, sehingga Marc dan Layla harus melarikan diri ke gurun sembari membawa peta bintang yang menjadi petunjuk makam Ammit. Steven menggunakan keahliannya untuk merakit peta bintang, tetapi ternyata peta tersebut dibuat 2000 tahun lalu.

Khonshu pun memutuskan untuk mengubah langit kembali seperti 2000 tahun lalu, yang membuat para dewa Mesir lain memenjarakan Khonshu ke dalam sebuah ushhabti. Dengan kata lain, Steven dan Marc kehilangan kekuatan Moon Knight.

Setelah Menonton Moon Knight Episode 3

Satu hal yang Penulis suka dari serial Moon Knight hingga episode 3 adalah pace-nya yang tidak terlalu bertele-tele. Misi pengejaran yang dilakukan oleh Marc dan Layla terasa padat, tapi berhasil tidak membuatnya terlihat terburu-buru.

Satu adegan yang dianggap epic dari episode ini adalah ketika Khonshu memutar langit malam dengan efek yang memanjakan mata. Penonton berhasil dibuat penasaran, apa yang akan terjadi dengan Marc dan Steven setelah kekuatan mereka hilang.

Peringkat: 7 dari 10.

Episode 4 – Makam

Marc dan Steven (We Got This Covered)

Jalan Cerita Moon Knight Episode 4

Steven dan Layla berhasil menemukan lokasi makam Ammit berkat “pengorbanan” yang dilakukan oleh Khonshu. Dalam sebuah makam labirin yang berbentuk Mata Horus, mereka menemukan fakta beberapa orang Harrow dibunuh oleh semacam mayat hidup.

Sempat terpencar, Layla berhasil mengalahkan mayat hidup tersebut dan bertemu dengan Harrow, di mana ia memberi informasi bahwa yang membunuh ayah Layla adalah Marc.

Di tempat yang terpisah, Steven berhasil menemukan fakta bahwa avatar terakhir dari Ammit adalah Alexander the Great. Ushabti dari Ammit pun tersimpan di dalam tubuh mumi Alexander. Layla menemukan lokasi Marc dan marah karena menyembunyikan fakta yang ia ketahui dari Harrow.

Lantas, tiba-tiba Harrow datang dan Marc pun melakukan konfrontasi. Tanpa banyak babibu, Harrow menembah Marc tepat di dadanya. Marc terbangun di sebuah tempat yang terlihat sebagai rumah sakit jiwa. Ia lantas bertemu dengan Steven di tubuh yang berbeda, sebelum bertemu dengan seorang dewi dengan bentuk kuda nil, Tawaret.

Setelah Menonton Moon Knight Episode 4

Episode 4 berhasil menyajikan petulangan perburuan harta karun ala Indiana Jones. Tanpa kekuatan super dari Khonshu, Marc dan Steven hanyalah manusia biasa yang rentan. Petualangan menegangkan di makam tempat Ammit disembunyikan berhasil membuat penonton terbawa suasana.

Penonton, termasuk Penulis, dibuat bingung ketika adegan rumah sakit jiwa dimulai. Kita seolah dibuat bimbang, manakah yang nyata dan manakah yang fana. Misteri ini berhasil membuat penonton merasa tidak sabar dengan episode selanjutnya.

Peringkat: 7 dari 10.

Episode 5 – Rumah Sakit Jiwa

Kematian Steven (Jawwaby.club)

Jalan Cerita Moon Knight Episode 5

Taweret menjelaskan kalau Marc dan Steven sudah mati. Rumah sakit jiwa yang terlihat oleh mereka adalah sebuah “perahu” yang berlayar melalui Duat, alam baka Mesir. Taweret menimbang hati mereka apakah mereka bisa memasuki Field of Reeds, tapi ternyata hati mereka belum seimbang karena masih banyak hal yang disembunyikan Marc dari Steven.

Oleh karena itu, mereka pun menyusuri kenangan Marc satu per satu. Ternyata, ketika kecil Marc disalahkan oleh ibunya atas kematian adik Marc yang bernama Randall. Lantas, kehidupan Marc yang cukup tragis pun berlanjut hingga ia menjadi avatar Khonshu setelah hampir tewas.

Marc dan Steven pun berusaha meyakinkan Taweret untuk menghidupkan mereka kembali agar bisa menghentikan Harrow. Untuk itu, Marc pun akhirnya mengakui kalau dirinya membuat kepribadian Steven akibat perlakukan kejam yang ia terima dari ibunya.

Namun, tiba-tiba mereka diserang oleh musuh. Steven jatuh ke dalam gurun dan berubah menjadi pasir. Timbangan Marc tiba-tiba menjadi seimbang dan ia mendapati dirinya telah berada di Field of Reeds.

Setelah Menonton Moon Knight Episode 5

Bisa dibilang, episode kelima dari Moon Knight memiliki vibe yang sama dengan episode delapan WandaVision, di mana kita diajak untuk menyusuri masa lalu tragis dari sang karakter utama.

Kebingungan yang terjadi di akhir episode 4 juga terjawab di sini, di mana Marc dan Steven sedang berada di alam setelah kehidupan. Kita juga mengetahui kalau di dunia Marvel, ada banyak macam tempat seperti ini.

Peringkat: 7 dari 10.

Episode 6 – Dewa dan Monster

Ammit (Tor)

Jalan Cerita Moon Knight Episode 6

Setelah kematian Steven, Harrow berhasil membebaskan Ammit dan membunuh avatar dewa-dewa Mesir lainnya. Di sisi lain, Marc menolak untuk tinggal di Field of Reeds dan memilih untuk kembali ke Duat untuk menyelamatkan Steven.

Dengan bantuan Taweret, Marc berhasil mengembalikan Steven dan mereka pun kembali hidup setelah melewati Gerbang Osiris. Khonshu yang dibebaskan oleh Layla pun segera kembali membuat perjanjian dengan Marc/Steven. Di sisi lain, Layla juga setuju menjadi avatar sementara dari Taweret dan memperoleh kekuatan super.

Akhirnya pertarungan final pun terjadi, di mana Marc/Steven dan Layla melawan Harrow dan anak buahnya, sedangkan Khonshu melakukan pertarungan ala monster Kaiju melawan Ammit. Di saat darurat, Marc/Steven tiba-tiba mengalami blackout dan tiba-tiba Harrow sudah ia kalahkan.

Untuk menghentikan Ammit, Marc dan Layla menyegel tubuh Ammit di tubuh Harrow. Khonshu meminta Marc untuk membunuh Harrow, tetapi ditolak. Khonshu pun menepati janjinya dengan melepaskan Marc dan Steven.

Di adegan mid-credit, ternyata urusan Marc/Steven dengan Khonshu belum usai. Ternyata, ada kepribadian ketiga yang bersemayam di tubuh mereka, Jack Lockley. Bersama Khonshu, ia “menculik” Harrow dan membunuhnya di dalam limosin.

Setelah Menonton Moon Knight Episode 6

Sebagai penutup, Penulis kurang menyukai episode terakhir ini. Kemunculan Ammit terasa “cuma gitu aja?” karena dengan mudah disegel oleh Marc dan Layla. Selain itu, kematian avatar-avatar dewa Mesir juga terjadi dengan begitu mudahnya. Layla yang tiba-tiba jadi superhero Mesir juga terasa sebagai fans service.

Penyelamat dari episode ini adalah adegan mid-credit yang akhirnya menampilkan sosok Jack Lockley. Plot twist yang cukup menyenangkan meskipun sudah banyak ditebak ini membuat banyak penonton penasaran tentang masa depan Moon Knight di masa depan.

Peringkat: 6 dari 10.

Penutup

Jake Lockley (MARCA)

Secara keseluruhan, serial Moon Knight cukup menyenangkan untuk ditonton karena tone yang cenderung gelap, berbeda dengan kebanyakan serial Marvel yang terkesan ceria dan ringan.

Akting yang ditampilkan oleh Oscar Isaac benar-benar juara. Hampir semua penonton sepakat kalau akting yang ia tampilkan membuat serial ini menjadi lebih menarik. Pemeran lain seperti May Calamawy sebagai Layla dan Ethan Hawke sebagai Harrow juga mampu mengimbangi Isaac.

Salah satu nilai plus dari serial ini adalah kita tidak perlu menonton semua film dan serial Marvel sebelumnya. Bisa dibilang, serial ini seperti berdiri sendiri, bahkan hampir tidak ada referensi ke film/serial Marvel lainnya, sesuatu yang lumrah terjadi di MCU.

Penulis cukup menyukai pace cepat antara episode satu sampai tiga, dan mulai bingung di episode empat dan lima. Meskipun ada penjelasan di episode enam, masih ada terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab dan cukup mengganjal.

Misalnya, bagaimana Marc/Steven bisa kembali hidup? Apakah hanya karena bantuan dewa-dewa Mesir atau karena di tubuhnya masih terikat oleh Khonshu? Bagaimana Harrow bisa membunuh avatar dewa-dewa Mesir lain dengan mudah, padahal Layla langsung mendapatkan kekuatan super dari Tawaret?

Penulis benar-benar menyayangkan kemunculan Ammit yang terkesan remeh dan kurang penting. Screentime-nya yang cukup sebentar seolah tidak selaras dengan gembar-gembor tentangnya yang sudah muncul sejak episode satu.

Kesimpulannya, Penulis cukup menikmati serial ini meskipun kurang puas dengan ending-nya. Di antara serial Marvel lainnya yang sudah tayang di Disney+, Penulis akan menempatkannya di posisi tiga, setelah WandaVision dan Loki.


Lawang, 5 Mei 2022, terinspirasi setelah menamatkan serial Moon Knight di Disney+

Foto Banner: CNET

Continue Reading

Film & Serial

Setelah Menonton The Batman

Published

on

By

Meskipun lebih sering menonton film-film Marvel, sebenarnya Batman dari DC Comics adalah superhero favorit Penulis sejak kecil. Bahkan, film The Dark Knight yang dibintangi oleh Christian Bale dan Heath Ledger adalah film favorit Penulis sepanjang masa.

Oleh karena itu, Penulis langsung merasa tertarik ketika film The Batman rilis di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2022 kemarin. Sempat tertunda beberapa hari, akhirnya Penulis menonton film ini pada tanggal 19 Maret 2022.

Dengan durasi yang cukup panjang (2 jam 56 menit), Penulis menyaksikan petualangan Batman yang berbeda dari film-film sebelumnya, sehingga Penulis merasa tak sabar untuk menantikan sekuelnya!

SPOILER ALERT!!!

(NB: Artikel ini baru selesai ditulis setelah 31 hari setelah Penulis menonton filmnya atau 49 hari setelah penayangan perdana film di Indonesia karena beberapa alasan)

Jalan Cerita The Batman

Di film ini, kita tidak diperlihatkan bagaimana Bruce Wayne (Robert Pattinson) harus menjadi yatim piatu di usia muda. Alih-alih, kita langsung melihat sosok Batman yang telah beroperasi di kota Gotham selama 2 tahun dan kerap bermain hakim sendiri.

James Gordon dan Batman (IndieWire)

Ia kerap berseberangan dengan pihak kepolisian dan hanya menjalin persahabatan dengan Lt. James Gordon (Jeffrey Wright), yang membawanya untuk kasus pembunuhan Walikota Gotham.

Sosok sang pembunuh adalah seorang pria yang menyebut dirinya sebagai Riddler (Paul Dano). Sesuai namanya, ia memberikan pesan teka-teki untuk dipecahkan Batman.

Pembunuhan berantai berlanjut, di mana korban selanjutnya adalah Komisaris Kepolisian Gotham dan lagi-lagi ada pesan misterius untuk dipecahkan oleh Batman.

The Penguin (Sky News)

Setelah menelusuri petunjuk yang ada, Batman dan Gordon menyelidiki klub malam bernama Icebergo Lounge yang dimiliki oleh The Penguin (Collin Farrel), salah satu tangan kanan Carmine Falcone (John Turturro).

Batman pun bertemu dengan Selina Kyle/Catwoman (Zoë Kravitz) dan bekerja sama untuk memecahkan kasus yang sedang dihadapi karena rekan Selina menghilang. Kebetulan, orang yang dicari Batman adalah rekannya tersebut.

Lantas, ketika hari pemakaman walikota, tiba-tiba Riddler mengirim Jaksa Gotham menggunakan mobil. Lehernya dipasangi sebuah bom waktu dan Batman ditantang untuk menjawab teka-teki dari Riddler lagi.

Catwoman dan Batman (Glamour)

Batman dan Gordon semakin intens mencari jejak The Riddler, mulai dari menginterogasi The Penguin, pergi ke reruntuhan panti asuhan keluarga Wayne, hingga adanya kiriman bom yang hampir merenggut nyawa pelayan setianya, Alfred (Andy Serkis).

The Riddler mulai memainkan perang psikologisnya, dengan menunjukkan fakta bahwa ayah Bruce Wayne tidak sebaik yang disangka. Hal ini semakin diperkuat dengan pernyataan dari Falcone. Untungnya, Alfred berhasil meyakinkan kalau Thomas Wayne adalah orang yang baik.

Setelah itu, Batman dan Selena kembali menyerbu Iceberg untuk menangkap Falcone. Ketika digiring keluar, Riddler menembak Falcone. Singkat cerita The Riddler tertangkap dan identitasnya aslinya pun terbongkar.

The Riddler (Polygon)

Ternyata, The Riddler terinspirasi dari Batman dalam melancarkan aksinya. Ia membunuh orang-orang korup Gotham. Selain itu, terbongkar pula rencana Riddler yang ingin menenggelamkan kota Gotham.

Rencana The Riddler berhasil, kota Gotham tenggelam dan walikota yang baru terpilih hampir saja mati tertembak. Kejadian ini membuat Batman sadar dan berusaha untuk menjadi simbol harapan di Kota Gotham.

Di akhir film, kita bisa melihat adegan di mana The Riddler sedang berbincang dengan sesosok orang yang diperankan oleh Barry Keoghan, yang tampaknya akan berperan sebagai Joker!

Setelah Menonton The Batman

Jujur, Penulis kesulitan untuk menulis sinopsis di atas karena memang ceritanya cukup berat dan kompleks. Penulis kesulitan merangkai kalimat yang mudah dipahami, tetapi tetap menceritakan secara singkat film ini.

Batman Sebagai Detektif (Complex)

Jika dibandingkan dengan film-film Batman sebelumnya, bisa dibilang The Batman terasa berbeda karena menonjolkan sisi detektifnya, bahkan terasa seperti film noir. Alurnya dibuat lambat, tapi tidak sampai membuat Penonton merasa mengantuk.

Sebagai penggemar kisah detektif, Penulis begitu menikmati segala clue yang disebar oleh The Riddler. Batman yang mampu menerka beberapa teka-teki yang dialamatkan kepadanya ternyata tetap kesusahan membongkar misteri-misteri tersebut hingga akhir.

Kota Gotham (Screen Rant)

The Batman bisa dibilang sebagai salah satu film Batman yang paling suram. Selama hampir 3 jam, hampir sama sekali tidak ditemukan sesuatu yang dapat memicu tawa. Filmnya terasa kelam seperti film Joker yang diperankan Joaquin Phoenix.

Hal lain yang tak kalah suram adalah penggambaran Kota Gotham. Selain nuansa kotanya yang gelap dan selalu hujan, tingkat kebusukan para oknum di dalamnya juga sangat parah, seolah kota ini memang benar-benar sarang orang brengsek.

Robert Pattinson (Hindustan Times)

Robert Pattinson yang sempat diragukan ternyata mampu membawa karakter ini dengan baik. Ia mampu menggambarkan sosok Bruce Wayne yang selama 2 tahun menjadi vigilante dan pada akhirnya mampu berubah menjadi sosok yang membawa harapan untuk warga Gotham.

Paul Dano yang menjadi The Riddler juga mampu tampil dengan mengesankan. Sayangnya, Penulis merasa peran Selena Kyle alias Catwoman di film ini terasa sedikit tanggung, berbeda dengan Catwoman versi Michelle Pfeiffe yang cukup mendominasi di film Batman Return.

Joker Versi Barry Keoghan (The Daily Beast)

Film ini tidak memiliki plot twist yang mengejutkan, hanya saja kita sebagai penonton seolah dibuat naik-turun dengan berbagai kenyataan yang terkuak. Contohnya adalah mengenai ayah dari Bruce, Thomas Wayne.

Jika ada yang kurang srek bagi Penulis, mungkin adegan terakhirnya ketika misi utama The Riddler yang ingin menenggelamkan Kota Gotham. Entah mengapa ini seolah menjadi kurang relevan dengan misinya yang ingin menghabisi para pejabat korup.

Kalau ditanya adegan favorit, mungkin Penulis akan memilih adegan ketika Batman sedang mengejar Penguin. Selain pengambilan gambarnya yang epic, suara latarnya pun terdengar sangat intens dan mengagumkan.

Kesimpulannya, Penulis menikmati film ini dan menantikan sekuelnya, yang kemungkinan akan menampilkan Joker versi Barry Keoghan lebih banyak lagi. Pendekatan yang diambil Matt Reeves selaku sutradara benar-benar berbeda dan menarik!

Peringkat: 8 dari 10.

Lawang, 19 April 2022, terinspirasi setelah menonton film The Batman

Foto Banner: Polygon

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan