<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>karakter Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/karakter/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/karakter/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 Nov 2022 10:28:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>karakter Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/karakter/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menghargai Kebaikan Orang Lain Itu Enggak Susah, kok</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Feb 2022 03:07:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[baik]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[terima kasih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5570</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. Cukup ucapkan terima kasih kepada mereka yang sudah berbaik hati mau menolong kita. Bisa secara langsung, bisa melalui pesan singkat dari ponsel. Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. Cukup berusaha menerima kebaikan yang ingin ia berikan kepada kita tanpa merasa sungkan berlebihan. Jika tidak merasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/">Menghargai Kebaikan Orang Lain Itu Enggak Susah, kok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. <strong>Cukup ucapkan terima kasih</strong> kepada mereka yang sudah berbaik hati mau menolong kita. Bisa secara langsung, bisa melalui pesan singkat dari ponsel.</p>



<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. <strong>Cukup berusaha menerima kebaikan</strong> yang ingin ia berikan kepada kita tanpa merasa sungkan berlebihan. Jika tidak merasa butuh atau cocok dengan bantuan tersebut, coba katakan terus terang tanpa perlu menyakiti.</p>



<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. <strong>Cukup tidak mencela kebaikan </strong>yang mereka lakukan kepada kita. Mereka sudah mau meluangkan waktu dan tenaganya untuk berbuat baik kepada kita, jangan menuntut lebih dari itu.</p>



<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. <strong>Cukup dengan bersikap</strong> baik kepadanya dan berusaha untuk tidak menyakiti perasaannya. Jika ia membutuhkan bantuan kita, cobalah bantu semampu kita.</p>



<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. Jika mampu, <strong>coba kita balas kebaikan </strong>tersebut sesuai dengan kemampuan kita. Coba cari cara, bagaimana cara membalasnya yang tidak terlalu memberatkan kita, tapi bermanfaat untuk orang tersebut.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>





<p>Kita semua tentu ingin dikelilingi oleh orang-orang baik yang tak segan untuk menolong di saat kita membutuhkannya. Bahkan, terkadang ada saja orang yang memiliki inisiatif untuk menolong kita tanpa diminta.</p>



<p>Sebagai pihak yang menerima kebaikan orang lain, sudah seharusnya kita menghargai kebaikan tersebut. Entah dengan mengucapkan terima kasih atau berusaha membalas kebaikannya di masa depan.</p>



<p>Meskipun idealnya seperti itu, ada saja orang-orang yang tidak (atau belum) bisa menghargai kebaikan orang lain. Mereka merasa<strong> kebaikan yang diberikan oleh orang lain adalah hal yang biasa</strong> sehingga tidak perlu diapresiasi.</p>



<p>Tentu itu hal yang kurang elok dan tidak sepantasnya dilakukan. Di dunia yang kesannya orang jahat makin banyak, kita harus percaya kalau masih banyak orang-orang baik yang tersisa. Mereka seolah menjadi pelita yang menghangatkan.</p>



<p>Oleh karena itu, yuk kita belajar untuk bisa lebih <strong>menghargai kebaikan orang lain</strong> yang mereka lakukan untuk kita. Ada banyak cara untuk mengapresiasi bentuk kebaikan tersebut, tergantung kemampuan kita masing-masing mampu melakukan yang mana.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 20 Februari 2022, terinspirasi setelah menyadari ada orang-orang yang terlihat susah untuk menghargai kebaikan orang lain</p>



<p>Foto:&nbsp;<strong><a href="https://www.pexels.com/@gabby-k?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Monstera</a></strong>&nbsp;from&nbsp;<strong><a href="https://www.pexels.com/photo/crop-black-man-with-gift-box-5876621/?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Pexels</a></strong></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/">Menghargai Kebaikan Orang Lain Itu Enggak Susah, kok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Saya Toxic?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2021 11:37:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[toxic]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5093</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu terakhir ini, Penulis sering melakukan kompletasi. Tujuannya, untuk melihat ke dalam diri sendiri apa yang perlu dibenahi demi menjadi manusia yang lebih baik lagi. Salah satu yang menjadi concern Penulis adalah mengenai toxic yang cukup populer di kalangan generasi muda. Penulis bertanya ke dirinya sendiri, apakah saya ini termasuk orang yang toxic? Untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/">Apakah Saya Toxic?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa waktu terakhir ini, Penulis sering <a href="https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/">melakukan kompletasi</a>. Tujuannya, untuk melihat ke dalam diri sendiri apa yang perlu dibenahi demi menjadi manusia yang lebih baik lagi.</p>



<p>Salah satu yang menjadi <em>concern </em>Penulis adalah mengenai <em>toxic </em>yang cukup populer di kalangan generasi muda. Penulis bertanya ke dirinya sendiri, apakah saya ini termasuk orang yang <em>toxic</em>?</p>



<p>Untuk membantu menjawab pertanyaan ini, Penulis pun menonton beberapa video di YouTube yang membahas mengenai sifat <em>toxic</em>.</p>



<p>Hasil perenungan dan pengamatan tersebut akan coba Penulis rangkum melalui tulisan ini sebagai bahan interopeksi bersama dengan bahasa yang sesederhana mungkin.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa Itu Sifat <em>Toxic</em>?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5097" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Racun (Photo by <strong><a href="https://www.pexels.com/@davideibiza?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Davide Baraldi</a></strong> from <strong><a href="https://www.pexels.com/photo/glass-bottles-on-shelf-1771809/?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Pexels</a></strong>)</figcaption></figure>



<p>Dari berbagai sumber, kata <em>toxic </em>yang kita kenal sekarang sesuai dengan terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia: racun. Racun itu sifatnya berbahaya dan merugikan kita.</p>



<p>Jika konteksnya adalah karakter, <em>toxic </em>artinya kita<strong> memiliki sifat atau karakter yang berbahaya dan merugikan orang lain</strong>, baik disadari maupun tidak.</p>



<p>Sikap <em>toxic </em>bisa dilakukan oleh siapa saja, baik kita, keluarga, teman, pasangan, hingga netizen. Semua bisa menjadi sosok yang <em>toxic</em> bagi sekitarnya maupun diri sendiri.</p>



<p>Memiliki sikap <em>toxic </em>jelas hal yang buruk dan harus kita hilangkan jika memilikinya. Selain merugikan orang lain, sikap <em>toxic </em>juga akan memberikan banyak dampak negatif ke pelakunya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Ciri-Ciri Sifat <em>Toxic</em>?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5099" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Orang Toxic (Photo by <a href="https://unsplash.com/@enginakyurt?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">engin akyurt</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/angry?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a>)</figcaption></figure>



<p>Kalau berbicara ciri-ciri, jelas ada banyak sekali yang bisa disebutkan. Kalau bagi Penulis sendiri, sikap apapun yang menyusahkan orang lain secara berlebihan bisa dibilang <em>toxic</em>.</p>



<p>Biasanya, yang menonjol dari orang <em>toxic </em>adalah sifatnya yang <strong>lebih mementingkan diri sendiri</strong> alias egois. Persetan dengan orang lain, yang penting dirinya untung.</p>



<p>Karena tingginya ego yang dimiliki, mereka pun tak segan untuk <strong>menjatuhkan orang lain demi kepentingannya</strong> sendiri. Bagi mereka, tidak ada yang namanya simpati atau empati.</p>



<p>Selain itu, tingginya ego membuat mereka <strong>segan untuk meminta maaf</strong> dan <strong>tidak mau</strong> <strong>mengakui kesalahan yang diperbuat</strong>. Bagi mereka, kesalahan selalu berada di tangan orang lain.</p>



<p>Demi melancarkan kepentingannya tersebut, si <em>toxic </em>kerap melakukan <strong>manipulasi dan mengendalikan orang lain secara berlebihan</strong>. Sialnya, terkadang kita yang menjadi &#8220;korban&#8221; tidak sadar sedang dimanipulasi.</p>



<p>Terkadang orang <em>toxic </em>juga memiliki sifat narsis yang membuat mereka kerap <strong>merasa diri paling paling hebat/benar</strong> dan <strong>merendahkan orang lain</strong>. Hal tersebut juga dilakukan demi menjatuhkan orang-orang yang mengganggu kepentingannya.</p>



<p>Tentu masih banyak ciri-ciri orang <em>toxic </em>lain yang belum disebutkan. Hanya saja, bagi Penulis ciri-ciri di atas sudah cukup menggambarkan bagaimana orang <em>toxic</em>.</p>



<p>Seumur hidup Penulis, untungnya Penulis baru bertemu satu orang yang rasanya benar-benar <em>toxic </em>waktu di tempat kerja. Ia pun menjadi <em>public enemy </em>karenanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Saya Memiliki Sifat <em>Toxic</em>?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5098" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Tanya Kepada Diri Sendiri (Photo by <a href="https://unsplash.com/@dollargill?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Dollar Gill</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/think?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a>)</figcaption></figure>



<p>Melihat ciri-ciri yang sudah disebutkan di atas, apakah Penulis termasuk orang yang <em>toxic</em>? Tentu Penulis tidak bisa menilai dirinya sendiri, tapi Penulis akan coba mengurainya satu per satu.</p>



<p>Terkadang, Penulis merasa dirinya ini <strong>memiliki ego yang tinggi</strong>. Rasanya, semua keinginannya harus dituruti oleh orang lain. Mungkin, kesannya jadi seperti memaksakan kehendaknya.</p>



<p>Hanya saja, rasanya Penulis tidak pernah sampai menjatuhkan orang lain demi keinginannya. Penulis merasa dirinya masih punya simpati dan empati kepada orang lain, apalagi kepada orang-orang yang berharga di kehidupannya.</p>



<p>Penulis juga kadang merasa memiliki sifat <strong>gila kontrol ala Steve Jobs</strong> karena sifat perfeksionis yang dimiliki. Oleh karena itu, Penulis berusaha untuk mengurangi kekurangan ini secara perlahan.</p>



<p>Untuk urusan minta maaf dan mengakui kesalahan, mungkin Penulis justru terlalu sering melakukannya. Apalagi, Penulis ada tipe orang yang lebih suka <em>self-blaming</em>.</p>



<p>Merasa diri paling hebat? Justru Penulis adalah <a href="https://whathefan.com/karakter/bukan-sombong-tapi-minder/"><strong>tipe orang yang suka minder</strong></a> dan<strong> kurang percaya diri</strong>. Rasanya, orang lain selalu terlihat lebih hebat dari diri sendiri. Ini salah, makanya Penulis berusaha untuk bisa lebih percaya diri lagi.</p>



<p>Mungkin sifat lain yang perlu Penulis benahi adalah <em>overthinking</em>-nya dan emosinya yang kadang mudah tersulut. Bisa saja kedua hal tersebut membuat orang lain menganggap Penulis <em>toxic</em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Rasanya tidak ada orang yang ingin berurusan dengan orang <em>toxic</em>. Sebisa mungkin, kita ingin menjalin hubungan dengan orang-orang yang bisa saling mendukung satu sama lain.</p>



<p>Penulis akan terus berusaha agar tidak menjadi orang <em>toxic</em>. Kalaupun ada yang menganggap Penulis seperti itu, anggap saja sebagai peringatan agar kita kembali berbenah diri.</p>



<p>Untuk tulisan selanjutnya, Penulis akan mencoba membahas tentang hubungan yang <em>toxic</em>. <em>Stay tuned</em>!</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 25 Juli 2021, terinspirasi setelah seseorang menganggap saya <em>toxic</em></p>



<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/@darklabsindia?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Darklabs India</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/toxic?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://hellosehat.com/mental/hubungan-harmonis/ciri-ciri-toxic-people/">Toxic People, Ciri Orang Negatif yang Harus Anda Jauhi (hellosehat.com)</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/">Apakah Saya Toxic?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lelah dengan Diri Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/lelah-dengan-diri-sendiri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/lelah-dengan-diri-sendiri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2021 13:50:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[capek]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[lelah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5047</guid>

					<description><![CDATA[<p>Lelah ada dua jenis: lelah fisik dan lelah mental. Kalau lelah fisik kita tinggal beristirahat untuk memulihkan stamina, gimana kalau lelah mental? Cara yang dibutuhkan jelas lebih kompleks. Lelah mental pun ada banyak macamnya, entah karena lingkungan yang menekan, baru mengalami kejadian yang traumatis, hubungan yang toxic, dan lain sebagainya. Salah satu lelah yang paling [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/lelah-dengan-diri-sendiri/">Lelah dengan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Lelah ada dua jenis: lelah fisik dan lelah mental. Kalau lelah fisik kita tinggal beristirahat untuk memulihkan stamina, gimana kalau lelah mental? Cara yang dibutuhkan jelas lebih kompleks.</p>



<p>Lelah mental pun ada banyak macamnya, entah karena lingkungan yang menekan, baru mengalami kejadian yang traumatis, hubungan yang <em>toxic</em>, dan lain sebagainya.</p>



<p>Salah satu lelah yang paling berbahaya menurut Penulis adalah <strong>lelah dengan diri sendiri</strong>.</p>





<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Apa itu lelah dengan diri sendiri? Tentu ada banyak versi, tergantung dari individu masing-masing. Namun bagi Penulis, lelah dengan diri sendiri <strong>memiliki keterkaitan yang erat dengan depresi dan frustasi</strong>.</p>



<p>Ciri-cirinya ada beberapa, seperti menjadi sensitif dan mudah emosi, suasana hati berubah-ubah, merasa malas dan kehilangan gairah untuk melakukan sesuatu, tidak ingin bertemu orang, pikiran terasa penat, dan lain-lain.</p>



<p>Penyebabnya juga banyak. Misal, kadang kita menyadari kalau diri ini punya berbagai kekurangan. Hanya saja, rasanya sangat susah untuk menghilangkan atau mengurangi sifat buruk tersebut yang akibatnya membuat kita merasa lelah.</p>



<p>Penulis misalnya, merasa lelah dengan sifat <em>overthinking </em>yang dimilikinya. Mau berusaha diam berpikir seperti apapun, otak ini rasanya tidak mau berhenti berpikir. Akibatnya, Penulis pun <em>overthinking </em>terhadap <em>overthinking</em>-nya.</p>



<p>Sering merasa gagal juga bisa menimbulkan perasaan tersebut. Rasanya, diri ini begitu tidak berguna sehingga hal sepele saja tidak bisa dilakukan. Pikiran negatif pun datang dan menguasai diri.</p>



<p>Kadang kita juga merasa tidak memahami diri sendiri. Penulis jadi teringat dengan perkataan Frigga kepada anaknya, Loki, di film <em>Thor: The Dark World</em>.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p><em>&#8220;Always so perceptive about everyone but yourself.&#8221;</em></p><cite>Frigga , Queen of Asgard</cite></blockquote>



<p>Terjemahannya adalah: Selalu bisa memahami orang lain, tapi tidak kepada diri sendiri. Rasanya kita bisa dengan mudah memahami orang lain, tapi justru tidak memahami dirinya sendiri.</p>



<p>Pikiran-pikiran negatif juga membuat kita merasa lelah dengan diri sendiri. Merasa tidak berguna, <em>insecure </em>dengan masa depan, ada sesuatu yang mengganjal, selalu menyalahkan diri sendiri, ada banyak yang menyebabkan kita merasa lelah dengan diri sendiri.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Lelah terhadap diri sendiri adalah sebuah<strong> kondisi mental yang butuh diobati</strong>. Banyak yang menyarankan untuk mendekatkan diri ke Tuhan, menjadi produktif, liburan, melakukan hal yang menyenangkan, berdamai dengan keadaan, dan lain-lain.</p>



<p>Kadang kita hanya butuh waktu untuk sendirian dan menenangkan pikiran. Rasanya ingin <a href="https://whathefan.com/rasa/menepi-sejenak/">menepi sejenak</a> agar otak bisa menjadi jernih kembali dan hati merasa tenang. Semoga setelah itu, kita bisa menjadi lebih positif dalam menatap hidup.</p>



<p>Jika kita merasa tidak bisa mengatasinya sendirian, mungkin sudah saatnya untuk meminta bantuan kepada orang lain. </p>



<p>Coba temukan orang-orang yang bisa memberi rasa nyaman, yang tidak akan menghakimi kita apapun cerita kita, yang bisa memberikan ketenangan, yang bisa menguatkan kita. Tidak ada salahnya untuk mencoba ke psikiater.</p>



<p>Jangan sepelekan perasaan lelah terhadap diri sendiri. Kondisi ini bisa berpengaruh kepada kesehatan mental dan fisik kita. Untuk itu, segeralah temukan cara mengatasinya yang paling sesuai denganmu. </p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 22 Juni 2021, terinspirasi dari pengalaman sendiri</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@anniespratt">Annie Spratt</a></p>



<p>Sumber Artikel:<br>&#8211; <a href="https://www.sehatq.com/forum/lelah-dengan-sifat-pada-diri-sendiri-q10914">Lelah dengan sifat pada diri sendiri. Mohon bantuan dok. | Tanya Dokter (sehatq.com)</a><br>&#8211; <a href="https://www.idntimes.com/life/career/astrimeita185atgmailcom/5-tanda-kalau-dirimu-mulai-lelah-c1c2/1">5 Tanda Kalau Dirimu Mulai Lelah dan Butuh Waktu untuk Diri Sendiri (idntimes.com)</a><br>&#8211; <a href="https://www.popmama.com/life/health/jemima/tanda-lelah-hati-yang-berdampak-pada-kesehatan-mental/5">5 Tanda Lelah Hati yang Berdampak pada Kesehatan Mental | Popmama.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/lelah-dengan-diri-sendiri/">Lelah dengan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/lelah-dengan-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8220;Jangan Cerita Siapa-Siapa, ya&#8221;</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/jangan-cerita-siapa-siapa-ya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/jangan-cerita-siapa-siapa-ya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2021 13:38:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[amanah]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[percaya]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5025</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bercerita adalah sifat dasar manusia. Rasanya jarang sekali ada manusia yang tidak pernah bercerita seumur hidupnya. Bahkan, orang pendiam pun juga bercerita. Cerita ada banyak macamnya. Ada yang cerita lucu, cerita horor, cerita pengalaman, cerita fiksi, cerita percintaan, cerita kegalauan, dan lain sebagainya. Jika ada pencerita, maka ada pendengar. Jika tidak ada pendengar, namanya bukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/jangan-cerita-siapa-siapa-ya/">&#8220;Jangan Cerita Siapa-Siapa, ya&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Bercerita adalah sifat dasar manusia. Rasanya jarang sekali ada manusia yang tidak pernah bercerita seumur hidupnya. Bahkan, orang pendiam pun juga bercerita.</p>



<p>Cerita ada banyak macamnya. Ada yang cerita lucu, cerita horor, cerita pengalaman, cerita fiksi, cerita percintaan, cerita kegalauan, dan lain sebagainya.</p>



<p>Jika ada pencerita, maka ada pendengar. Jika tidak ada pendengar, namanya bukan bercerita, tapi bermonolog. Pendengar pun ada banyak macamnya, tapi rasanya tidak perlu dijabarkan di sini.</p>



<p>Nah, terkadang ada cerita yang tidak ingin kita sebarkan ke orang lain. Akan tetapi, ada dorongan dari dalam diri untuk menceritakannya ke orang lain. Akhirnya, kita memilih orang-orang tertentu untuk mendengarkan cerita tersebut.</p>



<p>Agar orang yang tersebut tidak menyebarkan cerita tersebut ke orang lain, biasanya kita akan berkata, <strong>&#8220;jangan cerita ke siapa-siapa, ya, cukup kamu aja yang tahu.&#8221;</strong></p>



<p>Kalimat tersebut terkesan mudah sekali untuk dilakukan. Si pendengar hanya perlu tutup mulut dan menyimpannya sendirian. </p>



<p>Sayang, pada kenyataannya, kalimat tersebut adalah salah satu amanah yang berat untuk dilakukan.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Terkadang, ada saja orang yang meneruskan cerita kita ke orang lain meskipun sudah diminta untuk tidak melakukannya. Alasannya pun bermacam-macam. Ada yang memang bermulut ember, ada yang kelepasan, ada yang panik, dan lain sebagainya.</p>



<p>Ketika kita mengetahui kalau orang yang kita percayai tidak amanah, otomatis akan timbul <a href="https://whathefan.com/sajak/tersedak-kecewa/">rasa kekecewaan dalam diri</a> dan rasanya tidak ingin memercayai orang itu lagi. Kita merasa telah dikhianati.</p>



<p>Sayangnya, <a href="https://whathefan.com/karakter/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">kita tidak mengontrol orang lain</a>. Mau kita memohon sampai berbusa sekalipun, belum tentu orang tersebut akan benar-benar diam dan tidak bercerita ke orang lain.</p>



<p>Oleh karena itu, kita harus benar-benar selektif baik dalam hal <strong>memilih apa yang ingin diceritakan</strong> dan<strong> kepada siapa cerita itu ingin kita sampaikan</strong>.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Memilih cerita yang ingin disampaikan artinya kita telah menyadari apa konsekuensi apabila cerita tersebut disebarkan. Jika kita benar-benar tidak ingin cerita tersebut diketahui orang lain, mungkin sebaiknya memang dipendam sendiri saja karena <a href="https://whathefan.com/rasa/ternyata-tidak-semua-yang-dirasa-harus-diungkapkan/">tidak semua hal perlu diungkapkan</a>.</p>



<p>Sebelum memutuskan untuk berbagi cerita, coba pikirkan apa dampak apabila cerita tersebut tersebar luas. Jika efeknya begitu besar, ada baiknya untuk tetap menyimpannya sendiri. Kalau perlu, alihkan dengan menuliskannya di buku jurnal.</p>



<p>Memilih siapa cerita itu ingin disampaikan artinya kita telah menentukan siapa saja yang bisa kita percaya untuk menyimpan cerita tersebut. Orang tersebut bisa orangtua, saudara, sahabat, pacar, atau orang lain yang bisa memberikan kita rasa nyaman untuk bercerita.</p>



<p>Biasanya, orang yang kita percaya memiliki <em>track record </em>yang baik di masa lalu. Mereka tidak pernah membocorkan cerita kita ke orang lain tanpa sepengetahuan kita. Dengan kata lain, mereka adalah orang yang amanah.</p>



<p>Tapi, hati-hati. Rasa percaya kita ke orang tersebut itulah yang bisa menjadi benih kekecewaan jika ternyata orang tersebut tidak seperti yang kita kira. Oleh karena itu, kita harus lebih bijak dalam memilih orang-orang yang akan menjadi pendengar kita.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Bagi Penulis, jika ada orang yang bercerita ke dirinya lantas meminta untuk tidak menceritakannya ke orang lain, Penulis akan berusaha setengah mati untuk melaksanakan amanah tersebut. </p>



<p>Memang dalam realitanya, Penulis tidak selalu bisa menutup mulut. Namun, setidaknya Penulis benar-benar berusaha untuk memenuhi permintaan tersebut. </p>



<p>Penulis ingin jadi orang yang bisa dipercaya sekaligus bisa memberikan rasa nyaman untuk orang-orang yang ingin bercerita.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 3 Juni 2021, terinspirasi dari pengalaman pribadi</p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://the5amhustle.wordpress.com/2018/04/11/iwtyts-how-to-persuade-with-ease/">The 5am Hustle &#8211; WordPress.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/jangan-cerita-siapa-siapa-ya/">&#8220;Jangan Cerita Siapa-Siapa, ya&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/jangan-cerita-siapa-siapa-ya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8220;Gapapa Bad Mood, tapi Jangan Nyakitin Orang Lain, ya&#8221;</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 May 2021 11:34:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bad mood]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[mood]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5002</guid>

					<description><![CDATA[<p>Walau sudah menghapus banyak aplikasi media sosial di ponsel, Penulis masih memiliki aplikasi Pinterest. Itupun dibatasi sehari maksimal 15 menit. Salah satu alasan Penulis tetap menggunakan Pinterest adalah karena aplikasi ini tidak terlalu memberikan efek candu seperti yang diberikan TikTok. Main Pinterest selama 15 menit saja sudah timbul rasa bosan. Selain itu, Penulis juga kerap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/">&#8220;Gapapa Bad Mood, tapi Jangan Nyakitin Orang Lain, ya&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Walau sudah <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/istirahat-dari-media-sosial/">menghapus banyak aplikasi media sosial</a> di ponsel, Penulis masih memiliki aplikasi Pinterest. Itupun dibatasi sehari maksimal 15 menit.</p>



<p>Salah satu alasan Penulis tetap menggunakan Pinterest adalah karena aplikasi ini tidak terlalu memberikan efek candu seperti yang diberikan TikTok. Main Pinterest selama 15 menit saja sudah timbul rasa bosan.</p>



<p>Selain itu, Penulis juga kerap menemukan ide dari aplikasi ini. Salah satunya adalah kalimat yang Penulis jadikan judul pada tulisan ini.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Penulis merasa dirinya cukup <em>moody</em>. Bahkan, <em>mood </em>bisa tiba-tiba berubah tanpa ada penyebabnya. Tiba-tiba rasanya jadi murung dan merasa negatif begitu saja.</p>



<p>Masalahnya, <em>bad mood </em>ini bisa menimbulkan efek yang buruk tidak hanya bagi Penulis, tapi juga orang-orang yang ada di sekitarnya. Hal ini karena Penulis menjadi orang yang lebih sensitif dari biasanya.</p>



<p>Karena <em>bad mood, </em>mulut Penulis rasanya bisa begitu mudah menyakiti perasaan orang lain dengan ucapan-ucapannya yang menusuk. Tidak hanya secara verbal, di <em>chat </em>pun Penulis akan menunjukkan hal yang sama.</p>



<p>Secara tidak langsung dan mungkin tidak sadar, Penulis telah <strong>menyakiti perasaan orang lain</strong> karena <em>bad mood </em>yang sedang dialami.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Ketika sedang tenang seperti saat menulis artikel ini, Penulis menyadari sepenuhnya kalau hal tersebut salah. Mau seburuk apapun hari atau kejadian yang menimpa kita, seharusnya orang lain tidak boleh kena getahnya, terlebih orang-orang yang peduli dan perhatian dengan kita.</p>



<p>Hanya saja kalau sedang <em>bad mood</em>, Penulis kadang suka gelap mata dan tidak berpikir panjang ketika melakukan sesuatu. Rasanya Penulis ingin melampiaskan buruknya <em>mood </em>ini ke orang lain tanpa memedulikan perasaan orang lain.</p>



<p>Menyadari kekurangan ini, Penulis tentu ingin memperbaikinya. Tentu tidak mudah, tapi harus Penulis lakukan agar orang lain tidak perlu tersakiti akibat perbuatan Penulis.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Dari yang pernah Penulis baca, salah satu cara mengatasi <em>bad mood </em>adalah dengan <strong>mengubah suasana hati</strong>. Cara yang paling sering Penulis lakukan adalah berjalan-jalan. Ketika di Jakarta, Penulis sering melakukan hal ini sekalian mengeksplorasi ibukota.</p>



<p>Bagaimana kalau kita <em>mager </em>keluar? Sebenarnya menjadi masalah lain, tapi tidak apa-apa. Jika memang malas keluar, coba cari perubahan suasana dengan <strong>menonton sesuatu yang menyebarkan energi positif</strong>.</p>



<p>Penulis sama sekali tidak merekomendasikan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">media sosial seperti TikTok</a>. Jika kita melarikan diri ke aplikasi adiktif seperti itu, yang ada kita malah merasa &#8220;bersalah&#8221; karena telah membuang-buang waktu.</p>



<p>Selain itu, cobalah untuk <strong>duduk sejenak dan menjernihkan pikiran</strong>. Coba jujur kepada diri sendiri, apa yang membuat <em>mood </em>kita berantakan. Jika memungkinkan, coba selesaikan akar permasalahan agar <em>mood </em>kita membaik.</p>



<p>Jika kesusahan menghadapinya sendiri, mengapa tidak kita coba untuk meminta bantuan kepada orang lain? Inilah salah satu masalah yang Penulis garis bawahi di tulisan ini.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Karena sedang <em>bad mood</em>, kita bisa saja justru menyakiti orang lain yang ingin kita mintai bantuan. Bisa karena solusi atau tanggapan yang diberikan tidak sesuai dengan ekspetasi kita, bisa kitanya saja yang memang kelewat sensitif.</p>



<p>Banyak yang mengatakan <strong>perasaan yang terlalu lama disimpan sendiri bisa menjadi racun untuk mental </strong>kita. Diri kita memiliki batasan, jangan sampai kita membuat diri kita menyimpan semuanya sendiri hingga wadah tersebut tidak lagi mampu menampungnya.</p>



<p>Akan tetapi, kita takut untuk menyakiti orang lain karena <em>mood </em>kita. Kok jadi dilema begini? Lalu mana yang harus dilakukan?</p>



<p>Menurut Penulis, coba saja kita minta bantuan orang lain sembari menahan diri untuk tidak bersikap kelewat batas. Mau seburuk apapun perasaan kita, coba untuk terus mengingat <strong>jangan sampai menyakiti perasaan orang lain</strong>.</p>



<p>Dengan adanya <em>mindset </em>seperti itu, kita pun (harusnya) bisa lebih mengontrol <em>mood </em>kita ketika bercerita ke orang lain. Mau tanggapan orang tersebut tidak sesuai dengan ekspetasi sekalipun, kita tidak akan mudah terpancing untuk melampiaskan <em>bad mood </em>kita ke orang tersebut.</p>



<p>Selain itu, berkumpul dengan keluarga atau teman-teman (selama bukan mereka yang menjadi sumber penyebab <em>bad mood</em>) juga bisa membantu kita mengubah suasana hati. Oleh karena itu, jangan segan untuk meminta bantuan kepada orang lain.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p><em>Bad mood </em>memang salah satu sifat yang manusiawi. Rasanya semua orang pernah mengalami hal ini, baik dikarenakan masalah yang pelik maupun sepele.</p>



<p>Hanya saja, kalau <em>bad mood </em>tersebut memengaruhi kehidupan kita dan memberikan efek yang negatif kepada orang lain juga kurang baik. </p>



<p>Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk mencoba memperbaiki sikap kita menghadapi <em>bad mood </em>dengan beberapa cara yang sudah disebutkan di atas.</p>



<p>Enggak apa-apa <em>bad mood</em>, tapi jangan sampai menyakiti perasaan orang lain, ya!</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 26 Mei 2021, terinspirasi setelah menemukan sebuah <em>post </em>di Pinterest seperti yang tertera di judul</p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://deepstash.com/idea/57892/handling-a-bad-mood">Deepstash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/">&#8220;Gapapa Bad Mood, tapi Jangan Nyakitin Orang Lain, ya&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 May 2021 10:37:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berharap]]></category>
		<category><![CDATA[ekspetasi]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pamrih]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4966</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika kecil hingga remaja, Penulis kerap mendapatkan stigma sebagai orang yang cuek. Menyadari hal tersebut kurang baik, Penulis pun berusaha untuk memperbaiki karakter tersebut secara bertahap. Penulis pun berusaha untuk lebih peduli dengan lingkungan sekitarnya. Salah satu yang paling kelihatan bentuknya mungkin ketika Penulis menjadi salah satu inisiator terbentuknya Karang Taruna di tempat Penulis tinggal. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/">Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika kecil hingga remaja, Penulis kerap mendapatkan stigma sebagai orang yang cuek. Menyadari hal tersebut kurang baik, Penulis pun berusaha untuk memperbaiki karakter tersebut secara bertahap.</p>



<p>Penulis pun berusaha untuk <strong>lebih peduli</strong> dengan lingkungan sekitarnya. Salah satu yang paling kelihatan bentuknya mungkin ketika Penulis menjadi salah satu inisiator <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">terbentuknya Karang Taruna</a> di tempat Penulis tinggal.</p>



<p>Tidak hanya itu, Penulis juga berusaha untuk memberikan perhatian kepada orang-orang dekatnya sebagai bentuk kepedulian. Penulis berusaha untuk selalu ada ketika mereka butuh sesuatu.</p>



<p>Akan tetapi, akhir-akhir ini Penulis kerap merasa risau tentang hal ini. Di balik segala bentuk kepedulian dan perhatian yang Penulis perhatikan, <strong>tersimpan pamrih yang masih menyimpan harapan untuk mendapatkan balasan.</strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Kata Kuncinya Satu: Ikhlas</h2>



<p>Penulis tidak bisa membagikannya di sini karena termasuk privasi, tapi ada satu kejadian yang menyadarkan Penulis akan permasalahan ini. </p>



<p>Setelah direnungkan, Penulis sadar kalau kuncinya hanya ada di satu kata: <strong>Ikhlas</strong>.</p>



<p>Berharap diperlakukan sama artinya Penulis belum bisa ikhlas ketika menunjukkan kepedulian dan perhatiannya ke orang lain. Karena telah berharap, akan timbul rasa kecewa karena yang apa yang terjadi <a href="https://whathefan.com/karakter/dikecewakan-ekspektasi/">tidak sesuai dengan ekspetasi</a>.</p>



<p>Ini salah. Meskipun terdengar manusiawi, Penulis menganggap hal ini salah. Seharusnya, Penulis bisa berbuat baik tanpa berharap apapun dari orang lain. Kalau mau berbuat baik, ya sudah berbuat baik saja tanpa berekspetasi apa-apa.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</h2>



<p>Karena merisaukan masalah keikhlasan, Penulis sampai membeli buku berjudul <em><strong>Tuhan, Kenapa Aku Belum Ikhlas?</strong> </em>karya A.K. Ada satu bagian yang seolah bisa menjawab kerisauan Penulis, yakni <em>Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</em>.</p>



<p>Apa maksudnya? Artinya, kita sebagai manusia memang harus peduli dengan orang lain, terutama yang ada di sekitar mereka. Kita harus menumbuhkan empati yang tinggi sebagai makhluk sosial. Sebisa mungkin kita harus membantu orang lain yang butuh pertolongan kita.</p>



<p>Hanya saja, ada banyak hal yang harus tidak kita pedulikan ketika sedang peduli dengan orang lain. Kita tidak perlu peduli seperti apa respon orang lain. Kita tidak perlu peduli seperti apa balasan dari orang lain. Kita tidak perlu peduli jika orang lain tidak menghargai perbuatan baik yang kita lakukan.</p>



<p>Jangan sampai niat berbuat baik kita mencari tercoreng karena berharap hal-hal seperti itu. Memang terdengar utopis dan susah untuk diterapkan, tapi Penulis yakin hal tersebut bisa dilakukan dengan keyakinan yang kuat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Meluruskan Niat</h2>



<p>Salah satu caranya adalah meluruskan niat. Apa tujuan kita peduli dengan orang lain? Apakah kita berharap pujian dan orang tersebut akan balik peduli dengan kita?</p>



<p>Jika niat kita masih seperti itu, mungkin secara bertahap bisa kita ubah dengan hanya mengharap ridha Tuhan. Penulis yakin hal ini amat berat untuk direalisasikan, tapi setidaknya kita harus berusaha melakukannya.</p>



<p>Dengan hanya berharap ridha Tuhan yang Maha Pengasih, perasaan kita pun akan menjadi lebih ringan karena sudah tidak berharap apa-apa lagi dari manusia. Kita bisa berfokus berbuat baik tanpa takut kecewa atas perbuatan orang lain.</p>



<p>Penulis pun sampai saat ini masih jauh dari tahapan tersebut. Dibutuhkan upaya yang benar-benar tulus dari hati. Akan tetapi, Penulis yakin jika dirinya berhasil meluruskan niat, menjadi orang yang peduli sekaligus tidak peduli akan menjadi hal yang bisa dilakukan.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 15 Mei 2021, terinspirasi setelah dirinya merenungi banyak hal seputar keikhlasan</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@jontyson">Jon Tyson</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/">Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Karakter-Karakter Werewolf Ala Penulis (Bagian 2)</title>
		<link>https://whathefan.com/permainan/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-bagian-2/</link>
					<comments>https://whathefan.com/permainan/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-bagian-2/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2021 10:26:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Permainan]]></category>
		<category><![CDATA[board game]]></category>
		<category><![CDATA[game]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[peran]]></category>
		<category><![CDATA[permainan]]></category>
		<category><![CDATA[werewolf]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4434</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berbeda dengan Werewolf atau Serial Killer yang memiliki kekuatan untuk mengeliminasi pemain lain, Villager secara default tidak memiliki kemampuan yang sama. Mereka hanya bisa berusaha menebak siapa yang masuk ke dalam tim Jahat dan mengakhiri nyawa mereka dengan menggantungnya. Agar tidak berat sebelah, dibutuhkan peran-peran vital seperti karakter yang bisa menerawang, melindungi, ataupun menyerang balik. Nah, Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/permainan/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-bagian-2/">Karakter-Karakter Werewolf Ala Penulis (Bagian 2)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berbeda dengan <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/werewolf-ala-sumber-wuni-indah/">Werewolf atau Serial Killer</a> yang memiliki kekuatan untuk mengeliminasi pemain lain, Villager secara <em>default </em>tidak memiliki kemampuan yang sama.</p>
<p>Mereka hanya bisa berusaha menebak siapa yang masuk ke dalam tim Jahat dan mengakhiri nyawa mereka dengan menggantungnya.</p>
<p>Agar tidak berat sebelah, dibutuhkan peran-peran vital seperti karakter yang bisa menerawang, melindungi, ataupun menyerang balik.</p>
<p>Nah, Penulis menambahkan beberapa karakter yang akan membuat tim Villager sama kuatnya dengan tim Werewolf ataupun tim Jahat lainnya!</p>
<p>Buat yang belum baca bagian pertamanya, <em>monggo </em>klik link berikut ini:</p>
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="bzauoR6req"><p><a href="https://whathefan.com/karang-taruna/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-bagian-1/">Karakter-Karakter Werewolf Ala Penulis (Bagian 1)</a></p></blockquote>
<p><iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Karakter-Karakter Werewolf Ala Penulis (Bagian 1)&#8221; &#8212; Whathefan!" src="https://whathefan.com/karang-taruna/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-bagian-1/embed/#?secret=bzauoR6req" data-secret="bzauoR6req" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe></p>
<h3>Pasukan Penerawang</h3>
<p><div id="attachment_4439" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4439" class="size-large wp-image-4439" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4439" class="wp-caption-text">Pasukan Penerawang</p></div></p>
<p><strong>Seer</strong> merupakan peran yang vital dalam permainan Werewolf karena mampu menerawang peran seseorang sehingga tim Villager memiliki gambaran siapa yang jahat.</p>
<p>Ada beberapa tambahan karakter yang memiliki kemampuan untuk menerawang agar karakter Seer bisa tidak digunakan dalam permainan.</p>
<ul>
<li><strong>Beholder</strong>: Mengetahui siapa Seer yang sesungguhnya</li>
<li><strong>Murid Seer</strong>: Jika Seer mati, ia akan menggantikan perannya sebagai Seer</li>
<li><strong>Mystic Seer</strong>: Bisa menerawang peran satu pemain ketika siang hari sebanyak dua kali kesempatan</li>
<li><strong>Oracle</strong>: Sama seperti Seer, tapi bisa mengetahui peran yang diterawang secara spesifik</li>
<li><strong>Homeless</strong>: Selalu berpindah tempat di malam hari karena tak punya rumah, jika memilih rumah tim jJahat atau korban mereka, Homeless ikut mati</li>
<li><strong>Shaman</strong>: Bisa bertanya satu kali kepada roh gentayangan (memilih satu pemain yang sudah mati) tentang siapa pemain yang memiliki peran jahatT</li>
<li><strong>Tukang Sensus</strong>: Bisa bertanya kepada Moderator sebanyak dua kali untuk mengetahui peran apa saja yang tersisa</li>
</ul>
<h3>Pasukan Pelindung</h3>
<p><div id="attachment_4441" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4441" class="size-large wp-image-4441" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-5-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-5-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-5-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-5-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4441" class="wp-caption-text">Pasukan Pelindung</p></div></p>
<p>Untuk melindungi Villager dari sergapan orang-orang jahat, kita kerap mengandalkan kemampuan <strong>Guardian Angel</strong> yang bisa melindungi kita.</p>
<p>Selain itu, kemampuan <strong>Blacksmith</strong> yang membuat peran jahat tidak bisa mengaktifkan kekuatannya juga sangat berguna di saat-saat krusial.</p>
<p>Walaupun terkesan sepele, <strong>Drunker</strong> juga bisa melindungi Villager karena kemampuannya yang bisa membuat Werewolf puasa selama satu malam.</p>
<p>Untuk kategori ini, Penulis hanya menambahkan dua karakter</p>
<ul>
<li><strong>Bodyguard</strong>: Setiap malam memilih satu orang, jika yang dipilih menjadi target tim Jahat Bodyguard akan mengorbankan diri</li>
<li><strong>Tukang Hipnotis</strong>: Punya satu kesempatan untuk membuat semua pemain tidak bisa mengaktifkan kekuatannya di malam hari</li>
</ul>
<h3>Pasukan Penyerang</h3>
<p><div id="attachment_4440" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4440" class="size-large wp-image-4440" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-4-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-4-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-4-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-4-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4440" class="wp-caption-text">Pasukan Penyerang</p></div></p>
<p>Untuk bisa melawan Werewolf ataupun tim Jahat lainnya, kita tidak bisa hanya mengandalkan <em>vote. </em>Harus ada peran yang bisa menyerang balik.</p>
<p>Dengan alasan itulah ada karakter Gunner yang bisa menembakkan dua peluru dan Hunter yang bisa mengajak satu orang untuk ikut mati bersamanya.</p>
<p>Kalau bermain dengan Cultish, ada Cultish Hunter yang siap berburu setiap malam. Agar lebih kuat, Penulis menambahkan karakter-karakter berikut:</p>
<ul>
<li><strong>Murid Gunner</strong>: Jika Gunner mati, Murid Gunner akan mewarisi senjata dengan satu peluru</li>
<li><strong>Snipper</strong>: Berbeda dengan Gunner, Snipper memiliki dua peluru yang bisa ditembakkan ketika malam hari</li>
<li><strong>Archer</strong>: Memiliki dua panah yang bisa ditembakkan secara bersamaan ketika siang hari</li>
<li><strong>Tukang Senjata</strong>: Jika Tukang Senjata mati, ia akan mewariskan senjata berisi satu peluru kepada salah satu pemain</li>
<li><strong>Suicide Squad</strong>: Bisa bunuh diri dengan membawa satu pemain untuk ikut mati</li>
<li><strong>Attack Titan</strong>: Jika dimakan/dibunuh/di-<em>vote</em>, Attack Titan tetap hidup untuk satu kali kesempatan dan bisa membunuh satu pemain</li>
<li><strong>Witch</strong>: Memiliki dua ramuan, <em>revive </em>(untuk menghindupkan pemain yang baru mati) dan <em>poison </em>(untuk membunuh satu pemain)</li>
<li><strong>Vigilante</strong>: Bisa membunuh setiap malam, tapi jika sampai membunuh tim Villager/Netral ia akan bunuh diri</li>
</ul>
<h3>Keluarga Kerajaan</h3>
<p><div id="attachment_4442" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4442" class="size-large wp-image-4442" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-6-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-6-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-6-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-6-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-6.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4442" class="wp-caption-text">Keluarga Kerajaan</p></div></p>
<p>Permainan Werewolf jugamemiliki peran <strong>Mayor</strong> dan <strong>Prince</strong> yang kemampuannya tidak terlalu berguna (hanya menambah atau kebal <em>vote </em>atau kebal).</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk melakukan <em>upgrade </em>dan menambah beberapa peran yang dikategorikan sebagai keluarga kerajaan.</p>
<ul>
<li><strong>King</strong>: Penguasa desa yang kebal vote, suaranya dihitung dua kali dan memiliki beberapa pasukan khusus</li>
<li><strong>Queen</strong>: Istri dari King yang kebal vote dan bisa membatalkan hasil vote, jika menjadi target tim Jahat King akan mengorbankan dirinya</li>
<li><strong>Prince</strong>: Anak dari King dan Queen yang kebal vote, jika King mati ia akan mewarisi Guard dan Executioner</li>
<li><strong>Executioner</strong>: Atas perintah khusus dari King, bisa mengeksekusi salah satu pemain</li>
<li><strong>Guard</strong>: Jika tim Jahat berusaha untuk membunuh King, Guard akan mengorbankan dirinya secara sukarela</li>
</ul>
<h3>Kenapa Membuat Banyak Karakter Werewolf Baru?</h3>
<p>Ketika bermain Werewolf, baik bersama <a href="https://whathefan.com/category/karang-taruna/">Karang Taruna</a>, teman kantor, maupun teman kuliah, Penulis hampir selalu menjadi Moderator.</p>
<p>Entah mengapa Penulis justru tidak suka ikut bermain di dalamnya. Penulis lebih suka <a href="https://whathefan.com/karakter/terlalu-suka-mengendalikan/">mengendalikan permainan</a> dan memilihkan peran-peran untuk pemain.</p>
<p>Bertambahnya karakter Werewolf secara masif dapat membuat pemain akan merasa bingung di awal, walaupun di kartu ada penjelasan mengenai peran tersebut.</p>
<p>Hanya saja, Penulis memutuskan untuk melakukan penambahan ini karena beberapa alasan seperti agar permainan ini susah ditebak dan tidak membosankan.</p>
<p>Selain itu, Penulis suka berimajinasi ketika membuat karakter-karakter tersebut. Maklum, mulai SD sudah <a href="https://whathefan.com/ruang-sastra/">hobi bikin cerita</a>.</p>
<p>Yang jelas, Penulis berharap dengan adanya karakter-karakter baru ini bisa membuat kita semakin menikmati permainan Werewolf.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 21 Februari 2021, terinspirasi setelah membuat banyak karakter Werewolf baru</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/permainan/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-bagian-2/">Karakter-Karakter Werewolf Ala Penulis (Bagian 2)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/permainan/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Karakter-Karakter Werewolf Ala Penulis (Bagian 1)</title>
		<link>https://whathefan.com/permainan/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-bagian-1/</link>
					<comments>https://whathefan.com/permainan/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-bagian-1/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2021 10:20:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Permainan]]></category>
		<category><![CDATA[board game]]></category>
		<category><![CDATA[game]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[peran]]></category>
		<category><![CDATA[permainan]]></category>
		<category><![CDATA[werewolf]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4432</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mumpung sedang di Malang, Penulis sering menghabiskan waktu malam Sabtu dan Minggunya bersama anak-anak Karang Taruna. Aktivitas yang dilakukan juga bisa bermacam-macam, mulai bermain game, ngobrol santai, main FIFA, makan bersama, dan lain sebagainya. Penulis yang senang bermain board game kerap mengajak mereka untuk bermain Monopoly, UNO, ataupun Exploding Kittens buatan sendiri karena yang asli seharga Rp600 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/permainan/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-bagian-1/">Karakter-Karakter Werewolf Ala Penulis (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mumpung sedang di Malang, Penulis sering menghabiskan waktu malam Sabtu dan Minggunya bersama anak-anak <a href="https://whathefan.com/category/karang-taruna/">Karang Taruna</a>.</p>
<p>Aktivitas yang dilakukan juga bisa bermacam-macam, mulai bermain game, ngobrol santai, main FIFA, makan bersama, dan lain sebagainya.</p>
<p>Penulis yang senang <a href="https://whathefan.com/pengalaman/mas-pandu-dan-koleksi-board-gamenya/">bermain </a><em><a href="https://whathefan.com/pengalaman/mas-pandu-dan-koleksi-board-gamenya/">board game</a> </em>kerap mengajak mereka untuk bermain Monopoly, UNO, ataupun <em>Exploding Kittens </em>buatan sendiri karena yang asli seharga Rp600 ribu.</p>
<p>Penulis juga pernah membuat <em>board game </em>buatan sendiri yang diberi nama <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/stars-and-rabbits-sebuah-permainan/"><em>Stars and Rabbits</em></a> yang merupakan gabungan dari permainan ular tangga, Monopoly, dan Werewolf<em>.</em></p>
<p>Nah, omong-omong soal Werewolf, game ini merupakan salah satu game yang paling sering dimainkan. Game yang membuat kita saling menuduh ini sangat seru dan tak lekang oleh zaman.</p>
<p>Karena karakter aslinya gitu-gitu aja sehingga membosankan, Penulis menambahkan banyak karakter baru agar permainan makin seru dan membingungkan.</p>
<p>Kali ini, Penulis ingin berbagai tentang <strong>karakter-karakter Werewolf ala Penulis</strong> sebagai inspirasi bermain.</p>
<blockquote><p><em><strong>Disclaimer</strong>: </em>Kebanyakan karakter-karakter yang ada di bawah ini Penulis dapatkan dari berbagai sumber dengan beberapa perubahan yang dibutuhkan, walau ada karakter yang murni karangan Penulis sendiri.</p></blockquote>
<h3>Tim Werewolf</h3>
<p><div id="attachment_4437" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4437" class="size-large wp-image-4437" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4437" class="wp-caption-text">Tim Werewolf</p></div></p>
<p>Sesuai dengan namanya, tokoh antagonis utama dalam permainan ini adalah <strong>Werewolf</strong>. Agar lebih menantang, ada beberapa peran jahat baru sebagai pendukung tim Werewolf.</p>
<ul>
<li><strong>Mama Werewolf</strong>: Mama dari Wolfcub, apabila Wolfcub tewas Mama Werewolf bisa makan dua orang sekaligus di malam berikutnya</li>
<li><strong>Wolfcub</strong>: Anak dari Mama Werewolf, jika tewas akan memicu kekuatan Mama Werewolf untuk makan dua orang sekaligus</li>
<li><strong>Alpha Werewolf</strong>: Punya satu kali kesempatan untuk mengubah mangsanya menjadi tim Werewolf</li>
<li><strong>Omega Werewolf</strong>: Jika dibunuh/divote, Omega Werewolf tetap hidup untuk satu kali kesempatan</li>
<li><strong>Snow Werewolf</strong>: Setiap malam bisa membekukan satu pemain (harus beda tiap malam) agar mereka tidak bisa mengaktifkan kemampuannya</li>
<li><strong>Lycan</strong>: Merupakan bagian dari tim Werewolf, namun jika diterang sebagai Seer akan terlihat sebagai Villager biasa</li>
<li><strong>Evil Villager</strong>:  Villager biasa yang tidak memiliki kemampuan apa-apa, tapi berpihak pada tim Werewolf</li>
<li><strong>Sorcerer</strong>: Seer untuk tim Werewolf</li>
<li><strong>Fallen Angel</strong>: Guardian Angel untuk tim Werewolf, mampu mengacaukan penerawangan Seer karena orang yang ia pilih akan terlihat kebalikannya</li>
<li><strong>Black Wizard</strong>: Mengubah satu pemain menjadi Werewolf</li>
<li><strong>Nightmare</strong>: Punya satu kesempatan untuk membuat semua tim Villager tidak bisa menggunakan kekuatannya di malam hari</li>
</ul>
<h3>Tim Jahat</h3>
<p><div id="attachment_4438" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4438" class="size-large wp-image-4438" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4438" class="wp-caption-text">Tim Jahat</p></div></p>
<p>Di luar tim Werewolf, kita mengenal ada <strong>Serial Killer</strong> yang bekerja sendiri dan <strong>Cultish</strong> yang menyebarkan ajaran sesatnya. Penulis menambah beberapa karakter jahat.</p>
<ul>
<li><strong>Two-Face</strong>: Pembunuh berantai seperti Serial Killer, tapi kalau diterawang Seer akan terlihat sebagai villager biasa</li>
<li><strong>Arsonist</strong>: Membakar satu rumah setiap malam, siapapun yang sedang berada di rumah tersebut akan ikut terbakar</li>
</ul>
<h3>Tim Villager</h3>
<p><div id="attachment_4443" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4443" class="size-large wp-image-4443" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-7-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-7-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-7-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-7-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-7.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4443" class="wp-caption-text">Tim Villager</p></div></p>
<p>Peran yang paling dihindari ketika bermain Werewolf adalah <strong>Villager</strong> biasa. <strong>Mason</strong> yang hanya tahu siapa saja sesamanya juga dihindari.</p>
<p>Beberapa karakter lain yang umum digunakan adalah <strong>Cupid</strong> yang menjodohkan dua pemain dan <strong>Cursed</strong> yang kalau digigit Werewolf akan berubah menjadi Werewolf.</p>
<p>Penulis menambah cukup banyak peran-peran Villager yang bisa sangat berguna ketika melawan tim Jahat.</p>
<ul>
<li><strong>Titan</strong>: Jika dimakan/dibunuh/divote, Titan akan tetap hidup untuk satu kali kesempatan</li>
<li><strong>Wolfman</strong>: Villager biasa yang jika diterawang Seer akan terlihat sebagai Werewolf</li>
<li><strong>Stabber</strong>: Jika menjadi target tim Jahat, Stabber bisa memilih satu pemain sebagai korban penggantinya</li>
<li><strong>Switcher</strong>: Jika menjadi target vote, Switcher bisa memilih satu pemain sebagai penggantinya</li>
<li><strong>Pacifist</strong>: Punya satu kesempatan untuk meniadakan voting</li>
<li><strong>Troublemaker</strong>: Punya satu kesempatan untuk membuat voting dilakukan dua kali</li>
<li><strong>Tukang Gali Kubur</strong>: Setiap malam harus mengubur mayat sehingga tidak bisa dijadikan target tim Jahat. kecuali jika hari sebelumnya tidak ada yang mati</li>
</ul>
<h3>Tim Netral</h3>
<p><div id="attachment_4444" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4444" class="size-large wp-image-4444" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-8-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-8-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-8-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-8-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-8.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4444" class="wp-caption-text">Tim Netral</p></div></p>
<p>Permainan Werewolf tidak hanya sekadar hitam melawan putih. Ada beberapa karakter yang sifatnya abu-abu, bisa berubah jahat, bisa berubah baik, atau tidak dua-duanya.</p>
<p>Yang paling menyebalkan adalah <strong>Tanner</strong>, di mana ia akan menang jika ia divote. <strong>Doppleganger</strong> bisa berubah tergantung pemain yang ia pilih.</p>
<p>Yang berbahaya adalah <strong>Traitor</strong> yang berubah jadi Werewolf apabila tidak ada Werewolf atau <strong>Wild Child</strong> yang bisa berubah menjadi Werewolf apabila pemain yang ia pilih mati.</p>
<p>Sebagai tambahan, ada beberapa karakter lain yang di awal permainan termasuk ke dalam tim Netral.</p>
<ul>
<li><strong>Stealer</strong>: Di awal permainan mencuri satu peran pemain dan membuatnya menjadi Villager biasa</li>
<li><strong>Bastard</strong>: Setiap malam bisa berganti pihak, mau di pihak Villager ataupun pihak Werewolf</li>
<li><strong>Headhunter</strong>: Memilih satu orang, jika orang tersebut divote (bukan dibunuh) Headhunter memenangkan permainan</li>
<li><strong>Nobody</strong>: Tidak punya peran apa-apa selama dua malam, lantas bisa memilih peran sesuka hati di malam ketika selama mendapatkan persetujuan dari Moderator</li>
</ul>
<p>Selain karakter-karakter di atas, sebenarnya tim Villager masih memiliki banyak karakter baru yang sangat bermanfaat untuk membantu meraih kemenangan! Apa saja?</p>
<p><strong><em>Bersambung ke Bagian 2&#8230;</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 21 Februari 2021, terinspirasi setelah membuat banyak karakter Werewolf baru</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/permainan/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-bagian-1/">Karakter-Karakter Werewolf Ala Penulis (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/permainan/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berhenti Berpikir</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-berpikir/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-berpikir/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2021 10:59:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[mencoba]]></category>
		<category><![CDATA[mulai]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[overthinking]]></category>
		<category><![CDATA[pemikir]]></category>
		<category><![CDATA[peragu]]></category>
		<category><![CDATA[ragu]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4389</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam banyak kesempatan, Penulis kerap bercerita kalau dirinya termasuk orang yang pemikir. Segala sesuatu, termasuk yang tidak penting, dipikir sampai jadi overthinking. Penulis menyadari bahwa sifat pemikir itu bermata dua: di satu sisi membuat kita berhati-hati dalam membuat keputusan, di satu sisi membuat kita menjadi seorang peragu. Sifat pemikir yang dimiliki Penulis cenderung membawa dirinya ke [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-berpikir/">Berhenti Berpikir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam banyak kesempatan, Penulis kerap bercerita kalau dirinya termasuk <a href="https://whathefan.com/karakter/suka-duka-seorang-pemikir/">orang yang pemikir</a>. Segala sesuatu, termasuk yang tidak penting, dipikir sampai jadi <em>overthinking</em>.</p>
<p>Penulis menyadari bahwa sifat pemikir itu bermata dua: di satu sisi membuat kita berhati-hati dalam membuat keputusan, di satu sisi membuat kita menjadi seorang peragu.</p>
<p>Sifat pemikir yang dimiliki Penulis cenderung membawa dirinya ke poin yang kedua. Oleh karena itu, terkadang Penulis memiliki keinginan untuk <strong>berhenti berpikir</strong>.</p>
<h3><em>Akhirnya Tidak Melakukan Apa-Apa&#8230;</em></h3>
<p><div id="attachment_4391" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4391" class="wp-image-4391 size-large" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/berhenti-berpikir-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/berhenti-berpikir-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/berhenti-berpikir-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/berhenti-berpikir-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/berhenti-berpikir-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4391" class="wp-caption-text">Jadi Peragu (<a href="https://unsplash.com/@krakenimages">krakenimages</a>)</p></div></p>
<h3><span style="font-size: 16px;">Karena sifat pemikir yang dimiliki, Penulis cenderung </span><strong style="font-size: 16px;">lama ketika akan membuat sebuah keputusan</strong><span style="font-size: 16px;">. </span><span style="font-size: 16px;">Harus ada variabel sebanyak mungkin agar bisa merasa yakin.</span></h3>
<p>Tidak hanya itu, Penulis juga kerap membayang <strong><em>worst cases </em>apa saja yang bisa terjadi</strong>. Harapannya, jika sampai kejadian Penulis sudah siap untuk melakukan antisipasi.</p>
<p>Hanya saja, terkadang <strong>apa yang akan dilakukan tidak jadi dilakukan</strong> karena terlalu banyak berpikir. Bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu, dan seterusnya.</p>
<p>Kita mendadak ragu karena membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi dan kita tidak bisa mengatasinya dengan baik.</p>
<p>Segala keraguan tersebut sering menggema di dalam pikiran yang akhirnya menimbulkan<strong> rasa takut sebelum mencoba</strong>. Dengan kata lain, menyerah sebelum berperang.</p>
<p>Padahal, kebanyakan <a href="https://whathefan.com/karakter/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi/"><strong>kekhawatiran yang kita pikiran tidak pernah terjadi</strong></a>. Semua hanya ada di dalam imajinasi kita tanpa ada realisasinya.</p>
<h3><em>Gimana Nanti Kalau&#8230;</em></h3>
<p><div id="attachment_4392" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4392" class="size-large wp-image-4392" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/berhenti-berpikir-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/berhenti-berpikir-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/berhenti-berpikir-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/berhenti-berpikir-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/berhenti-berpikir-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4392" class="wp-caption-text">Bising di Dalam Pikiran (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@usmanyousaf">Usman Yousaf</a>)</p></div></p>
<p>Sifat terlalu banyak berpikir ini bisa menghambat perkembangan kita sebagai manusia. Ketika hendak memulai hal baru, pikiran-pikiran negatif begitu mendominasi diri.</p>
<p>Contohnya adalah ketika Penulis mencoba untuk menjadi seorang <strong><em>freelancer</em></strong>. Sebelum memutuskan untuk terjun ke dunia tersebut, ada banyak pertanyaan yang muncul di dalam diri.</p>
<p><em>Gimana nanti kalau aku enggak bisa menyelesaikan proyek yang diberikan oleh klien?</em></p>
<p><em>Gimana nanti kalau aku udah ngejarin proyek tapi klien malah kabur dan enggak bayar kewajibannya?</em></p>
<p><em>Gimana nanti kalau udah buat aku ternyata enggak ada klien yang tertarik?</em></p>
<p><em>Gimana nanti kalau udah buat terus aku malah enggak bisa mengatur waktu dan baik sehingga proyek akan lewat </em>deadline<em>?</em></p>
<p><em>Gimana nanti kalau, gimana nanti kalau, gimana nanti kalau, gimana nanti kalau, gimana nanti kalau&#8230;</em></p>
<blockquote><p>OH PLEASE STOP!!! STOP THINKING!!! JUST DO IT!!! JUST TRY IT!!!</p></blockquote>
<p>Inilah yang kerap terjadi pada diri Penulis, terus membayangkan sesuatu yang buruk hingga akhirnya tidak jadi melangkah maju ataupun mencoba sesuatu yang baru.</p>
<p>Terkadang, kita perlu berhenti berpikir. <strong>Lakukan saja sebisanya</strong> dengan usaha semaksimal mungkin. Itu saja sudah cukup.</p>
<p><strong>Yang penting mulai saja dulu dan berhenti berpikir yang tidak penting!!! Hasil dipikir belakangan saja!!!</strong></p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Tidak semua hal bisa dilakukan tanpa berpikir terlebih dahulu. Banyak hal dalam kehidupan yang membutuhkan pertimbangan matang-matang. Pernikahan, memulai bisnis, <em>resign</em>, dan lainnya.</p>
<p>Ketika memiliki niatan untuk berbuat buruk, mencuri misanya, sebaiknya justru dipikir-pikir terlebih dulu apa saja konsekuensinya agar tidak jadi melakukannya.</p>
<p>Hanya saja, jangan sampai karakter terlalu pemikir ini menghambat langkah kita untuk maju. Coba saja dulu,  mulai saja dulu. Kalau memang ternyata tidak bisa, ya sudah berhenti.</p>
<p>Jangan mau dikuasai oleh kekhawatiran yang belum tentu akan terjadi. Jangan mau kalah dengan ketakutan akan terjadinya kemungkinan-kemungkinan terburuk.</p>
<p>Dalam hidup, terkadang kita perlu berhenti berpikir dan lakukan saja apa yang ingin dilakukan. Berhenti jadi seorang peragu dan tukang khawatir, yang penting mulai saja dulu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 9 Februari 2021, terinspirasi dari dirinya sendiri yang memiliki sifat pemikir berlebihan</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@chalis007">胡 卓亨</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-berpikir/">Berhenti Berpikir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-berpikir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Terlalu Suka Mengendalikan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-suka-mengendalikan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-suka-mengendalikan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2020 15:22:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berlebihan]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kendali]]></category>
		<category><![CDATA[kontrol]]></category>
		<category><![CDATA[mengenalikan]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4198</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu sifat Steve Jobs yang paling terkenal adalah gila kontrolnya yang kerap membuat stres kolega dan bawahannya. Mulai konsep sampai hal sepele yang kerap diabaikan orang ia perhatikan. Ia berusaha mengendalikan segala hal. Penulis merasa dirinya juga seperti itu. Apalagi, ayah Penulis mengatakan bahwa orang Wage (Penulis lahir pada hari Rabu Wage) adalah tipe [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-suka-mengendalikan/">Terlalu Suka Mengendalikan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Salah satu sifat Steve Jobs yang paling terkenal adalah <strong>gila kontrolnya</strong> yang kerap membuat stres kolega dan bawahannya. Mulai konsep sampai hal sepele yang kerap diabaikan orang ia perhatikan. Ia berusaha mengendalikan segala hal.</p>



<p>Penulis merasa dirinya juga seperti itu. Apalagi, ayah Penulis mengatakan bahwa orang <strong>Wage</strong> (Penulis lahir pada hari Rabu Wage) adalah tipe orang pengendali.</p>



<p>Menurut Pembaca, apakah sifat ini termasuk baik? Atau sebaliknya merupakan sifat buruk yang bisa merugikan orang lain?</p>



<h3>Mengendalikan Permainan</h3>



<p>Ketika bermain game bersama teman-teman, Penulis lebih suka menjadi orang yang mengendalikan permainan daripada ikut dalam permainan itu sendiri.</p>



<p>Contoh mudahnya adalah <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/werewolf-ala-sumber-wuni-indah/">permainan <strong>Werewolf</strong></a>. Hampir di mana pun bermain game ini, Penulis sangat sering menjadi moderatornya. Meskipun harus repot mencatat dan bergerak ke sana kemari, Penulis menikmati tugas ini karena dirinya bisa mengendalikan permainan.</p>



<p>Penulis bisa memilih peran apa saja yang bisa dipilih oleh pemain, bisa menambahkan peran baru yang bahkan tidak ada di versi resminya, dan lain sebagainya.</p>
<div id="attachment_4204" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4204" class="size-large wp-image-4204" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/terlalu-suka-mengendalikan-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/terlalu-suka-mengendalikan-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/terlalu-suka-mengendalikan-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/terlalu-suka-mengendalikan-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/terlalu-suka-mengendalikan-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4204" class="wp-caption-text">Menjadi Bank (<a href="https://www.thesprucecrafts.com/monopoly-how-much-rent-do-i-collect-411910">The Spruce Crafts</a>)</p></div>



<p>Begitu pun ketika bermain <strong>Monopoly</strong>. Penulis lebih senang berperan menjadi bank daripada harus ikut berebut lahan dengan pemain lain. Penulis bisa menambahkan aturan sesuka hati, termasuk memberikan bonus kepada pemain.</p>



<p>Ketika sedang berada di kepantiaan, Penulis lebih senang berada di <strong>Sie Acara</strong> yang pekerjaannya mengatur acara. Intinya, Penulis menyukai hal-hal yang bersifat mengendalikan.</p>



<p>Permasalahannya, terkadang sifat ini melampaui batas hingga membuat susah orang lain.</p>
<h3>Agar Sesuai Ekspetasi</h3>
<p>Sifat ingin mengendalikan ini, parahnya, bisa sampai masuk ke wilayah privasi orang lain. Ada rasa ingin mengendalikan orang-orang yang ada di sekitar kita agar <strong>bertindak seperti keinginan kita</strong>.</p>
<p>Contohnya adalah ketika ada kawan dekat yang <a href="https://whathefan.com/karakter/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">tiba-tiba berubah</a>. Karena merasa di luar kendali, kita pun menjadi panik dan berusaha untuk mencari tahu dengan paksa kenapa dia berubah.</p>
<p>Selain itu, kita bisa saja <strong>terlalu ikut campur</strong> terhadap permasalahan orang lain. Misal ada si A pacaran dengan si B. Karena kita tidak setuju, kita berusaha untuk memisahkan mereka.</p>
<p>Tanpa disadari, kita ingin mengendalikan orang agar sesuai dengan <strong>ekspetasi kita</strong>. Kita tidak ingin orang lain bersikap di luar ekspetasi tersebut. Di sini lah sikap ingin mengendalikan jadi melampaui batas.</p>
<p>Sikap terlalu ingin mengendalikan seperti ini ujung-ujungnya hanya akan berbuah kekecewaan. Kenapa? Karena kita akan menyadari bahwa <strong>tidak semua hal bisa kita kendalikan</strong>.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Hidup ini <strong>bukan sebuah video game</strong> yang karakter dan dunianya bisa kita kendalikan seenak kita sendiri. Bahkan di dalam game, ada batasan-batasan tentang apa yang bisa kita kendalikan.</p>
<p>Bahkan dalam permainan <em>open world </em>seperti GTA V, pergerakan kita sebatas yang diberikan oleh pihak pengembang game. Kita tidak benar-bener mengontrol seluruh permainan.</p>
<p>Begitu pun dalam hidup. Ada banyak sekali hal yang tidak bisa kita kendalikan di dunia ini. Apa yang benar-benar bisa kita kendalikan sepenuhnya adalah <strong>diri sendiri</strong>.</p>
<p>Menyadari fakta ini membuat kita, terutama Penulis, bisa mengurangi sikap ingin mengendalikan yang terlalu berlebihan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 26 Desember 2020, terinspirasi setelah melakukan perenungan diri </p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@diegosmarines">Diego Marín</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-suka-mengendalikan/">Terlalu Suka Mengendalikan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-suka-mengendalikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
