<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>masalah Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/masalah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/masalah/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Mar 2023 15:47:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>masalah Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/masalah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Suntuk, Coba Keluar dan Berjalan Sejenak</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ketika-suntuk-coba-keluar-dan-berjalan-sejenak/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ketika-suntuk-coba-keluar-dan-berjalan-sejenak/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Feb 2023 01:01:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[berjalan]]></category>
		<category><![CDATA[introvert]]></category>
		<category><![CDATA[keluar]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[stres]]></category>
		<category><![CDATA[suntuk]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6353</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam menjalani keseharian, pasti ada saja masalah atau sesuatu yang menimbulkan perasaan suntuk, bahkan stres. Semakin dipikir, semakin rasanya tidak menemukan jalan keluar untuk permasalahan tersebut. Kita tentu berusaha mencari cara agar bisa berhenti merasa suntuk. Setiap inidividu tentu memiliki caranya masing-masing, seperti curhat ke teman, scrolling media sosial untuk mencari sesuatu yang lucu, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ketika-suntuk-coba-keluar-dan-berjalan-sejenak/">Ketika Suntuk, Coba Keluar dan Berjalan Sejenak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam menjalani keseharian, pasti ada saja masalah atau sesuatu yang menimbulkan perasaan suntuk, bahkan stres. Semakin dipikir, semakin rasanya tidak menemukan jalan keluar untuk permasalahan tersebut.</p>



<p>Kita tentu berusaha mencari cara agar bisa berhenti merasa suntuk. Setiap inidividu tentu memiliki caranya masing-masing, seperti curhat ke teman, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/"><em>scrolling </em>media sosial</a> untuk mencari sesuatu yang lucu, dan lain-lain.</p>



<p>Penulis juga punya caranya sendiri dan ada beberapa. Namun, satu yang dirasa paling sering memberikan dampak positif adalah <strong>keluar dari rumah dan berjalan sejenak</strong>. Mengapa cara ini Penulis anggap ampuh untuk mengatasi rasa sumpek?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Keluar Rumah Itu Berat untuk Orang Introvert (dan Pemalas)</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6356" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Kamar adalah Tempat Ternyaman untuk Kaum Introvert (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.nbcnews.com%2Fbetter%2Flifestyle%2Fback-basics-how-instituting-nightly-reading-ritual-has-become-my-ncna1071391&amp;psig=AOvVaw0lPs3gsEMcRNS8gvg3OCOY&amp;ust=1676336031650000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CAMQjB1qFwoTCMCl3L-kkf0CFQAAAAAdAAAAABAJ">NBC News</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebagai orang yang <em>introvert</em>, rumah (terutama kamar) merupakan tempat ternyaman yang mampu memberikan perasaan aman. Oleh karena itu, jangan heran jika kamar para <em>introvert </em>terkesan nyaman untuk ditempati.</p>



<p>Penulis pun seperti itu. Entah sudah berapa uang yang dikeluarkan demi membuat <a href="https://whathefan.com/pengalaman/tur-kamar-saya-sisi-selatan-dan-barat/">kamarnya nyaman</a>. Bahkan, teman-teman Penulis sudah banyak yang memberikan &#8220;testimoni&#8221; terkait betapa nyaman kamar Penulis.</p>



<p>Apalagi, kamar Penulis juga berfungsi sebagai tempat kerja, mengingat sampai sekarang Penulis masih <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/agar-wfh-tetap-produktif/"><em>Work from Home</em> (WFH).</a> Jadi ada semakin banyak alasan untuk tetap berada di dalam kamar selama mungkin. </p>



<p>Namun, mau se-<em>introvert </em>apapun orangnya, pasti akan menemui titik jenuh jika terus-menerus berada di dalam kamar atau rumah. Seorang <em>introvert </em>pun butuh interaksi dengan dunia luar selama dosisnya tidak berlebihan.</p>



<p>Apalagi jika sedang suntuk, kamar yang awalnya terasa nyaman pun bisa terasa sumpek. Kondisi kamar yang biasanya dijaga kerapiannya tiba-tiba menjadi berantakan dan banyak barang berserakan tidak pada tempatnya. </p>



<p>Bisa dibayangkan, orang yang sedang sumpek tentu akan makin sumpek jika melihat sesuatu yang berantakan. Ada banyak yang berpendapat, kondisi kamar yang berantakan mencerminkan kondisi pikiran yang berantakan pula. Penulis setuju dengan itu.</p>



<p>Penulis pribadi merasa <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-pemalas/">dirinya cukup pemalas</a>, terutama ketika sedang banyak pikiran. Hobi yang biasanya begitu menyenangkan saja berubah menjadi sesuatu yang menyebalkan. Hobi bersih-bersih kamar pun juga ikut ditinggalkan.</p>



<p>Jika sudah sampai berada di titik ini, biasanya Penulis akan memutuskan untuk jalan-jalan keluar sejenak untuk menyegarkan pikiran. Bagi seorang <em>introvert </em>(dan pemalas), itu adalah hal yang cukup berat untuk dilakukan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Berjalan Sejenak untuk Menghilangkan Suntuk</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6357" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Penulis Seringnya Jalan Setelah Jam Kerja (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.theguardian.com%2Fcities%2F2016%2Fdec%2F15%2Fnight-walks-great-tonic-urban-stress-your-stories-nocturnal-city&amp;psig=AOvVaw1UO8uKwq1d9HVkLxOFjwNz&amp;ust=1676336176761000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CAMQjB1qFwoTCJjNjIWlkf0CFQAAAAAdAAAAABAd">The Guardian</a>)</figcaption></figure>



<p>Tak perlu jauh-jauh hingga perlu mengendarai motor, cukup berjalan-jalan di sekitar saja. Penulis sendiri biasanya melakukan jalan-jalan selepas jam kerja, sekalian membeli makan malam (yang biasanya dilakukan dengan naik motor).</p>



<p>Ketika berjalan kaki, benang kusut yang ada di dalam pikiran biasanya pelan-pelan terurai. Entah apakah ada bukti secara ilmiahnya, tapi mungkin dengan berjalan akan membantu melancarkan peredaran darah yang ujungnya membuat otak menjadi lebih jernih.</p>



<p>Berjalan kaki juga bisa memunculkan dopamin (Penulis belum riset yang membuktikan hal ini) yang membantu menimbulkan perasaan bahagia, sehingga perasaan suntuk seharian yang dirasakan juga perlahan sirna.</p>



<p>Selain itu, Penulis jarang membawa ponselnya ketika berjalan keluar. Itu Penulis lakukan agar dirinya lebih fokus pada momen saat ini tanpa terdistraksi dunia maya, walau tentu saja seringkali pikiran tetap melayang ke mana-mana.</p>



<p>Namun, dengan tidak adanya distraksi, Penulis jadi bisa memerhatikan banyak hal. Ketika membeli makan, Penulis jadi bisa memperhatikan abangnya dan bertanya-tanya banyak hal. Tidak hanya abangnya, Penulis juga memperhatikan orang lain di sekitarnya.</p>



<p>Berapa pemasukan si abang dalam sehari? Apakah cukup untuk memenuhi kebutuhannya? Apakah mereka merasa bahagia? Apakah mereka merasa lelah dalam menjalani rutinitas kesehariannya? Apa yang membuat mereka tetap semangat hidup? Dan lain-lain.</p>



<p>Setelah mengamati orang lain, akhirnya muncul perasaan syukur dari dalam diri. Penulis merasa bersyukur masih diberi kerja yang relatif enak, tidak harus banting tulang dari pagi hingga malam yang membutuhkan tenaga super.</p>



<p>Mungkin banyak yang tidak setuju dengan metode &#8220;membandingkan&#8221; ini, tapi Penulis merasakan manfaatnya. Bersyukur setelah melihat keadaan orang lain rasanya tidak salah, kecuali kita jadi merasa sombong dan merendahkan pekerjaan orang lain. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Merasa suntuk atau stres itu sangat manusiawi dan wajar. Justru rasanya aneh, jika ada manusia yang tidak pernah merasakannya. Yang penting adalah bagaimana kita mengatasi hal tersebut agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.</p>



<p>Biasanya setelah berjalan-jalan sejenak, Penulis yang pikirannya menjadi lebih jernih bisa mulai beraktivitas secara normal. Penulis jadi termotivasi untuk <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/merapikan-kamar-merapikan-diri/">merapikan kamar</a>, menyelesaikan tanggungan pekerjaan, dan lain sebagainya.</p>



<p>Dengan begitu, Penulis pun bisa perlahan-lahan kembali produktif kembali. Contohnya adalah dengan menulis artikel ini, setelah hampir satu bulan merasa tidak <em>mood </em>untuk menulis artikel blog. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-2/">Rutinitas pagi</a> yang lama ditinggalkan pun sedang dimulai kembali.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 13 Februari 2023, terinspirasi dari pikiran yang kerap menjadi lebih tenang setelah berjalan keluar</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-berbaju-coklat-berdiri-di-lapangan-rumput-coklat-dekat-badan-air-4275893/">Mateusz Sałaciak</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ketika-suntuk-coba-keluar-dan-berjalan-sejenak/">Ketika Suntuk, Coba Keluar dan Berjalan Sejenak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ketika-suntuk-coba-keluar-dan-berjalan-sejenak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kalau Lagi Stres, Jadinya Tidak Produktif</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kalau-lagi-stres-jadinya-tidak-produktif/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kalau-lagi-stres-jadinya-tidak-produktif/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2022 14:47:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[rutinitas]]></category>
		<category><![CDATA[stres]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6120</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah menyadari bahwa waktunya di dunia hanya sebentar, Penulis dalam beberapa waktu terakhir berusaha untuk bisa memaksimalkan waktunya. Rasanya ingin bisa memanfaatkan waktu sebaik dan seproduktif mungkin. Hanya saja, terkadang ada saatnya sangat susah untuk menjadi porduktif. Selain karena kurangnya niat, bagi Penulis pribadi menjadi produktif akan menjadi sulit ketika pikiran kita sedang penuh atau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kalau-lagi-stres-jadinya-tidak-produktif/">Kalau Lagi Stres, Jadinya Tidak Produktif</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah menyadari bahwa waktunya di dunia hanya sebentar, Penulis dalam beberapa waktu terakhir berusaha untuk bisa memaksimalkan waktunya. Rasanya ingin bisa memanfaatkan waktu sebaik dan seproduktif mungkin.</p>



<p>Hanya saja, terkadang ada saatnya sangat susah untuk <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/healing-dengan-menjadi-produktif/">menjadi porduktif</a>. Selain karena kurangnya niat, bagi Penulis pribadi <strong>menjadi produktif akan menjadi sulit ketika pikiran kita sedang penuh atau stres</strong>.</p>



<p>Bahkan, Penulis sering mengalami hal ini dan akan berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Untuk itu, kali ini Penulis ingin berbagi pengalamannya tentang bagaimana dirinya bisa kembali produktif setelah melewati masa-masa stres tersebut.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Keseharian Jika Sedang Stres dan Tidak Produktif?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Kalau-Lagi-Stres-Jadinya-Tidak-Produktif-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6122" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Kalau-Lagi-Stres-Jadinya-Tidak-Produktif-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Kalau-Lagi-Stres-Jadinya-Tidak-Produktif-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Kalau-Lagi-Stres-Jadinya-Tidak-Produktif-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Kalau-Lagi-Stres-Jadinya-Tidak-Produktif-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Bisa Rebahan Seharian (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/lazy-asian-woman-using-smartphone-in-bed-4473626/">Ketut Subiyanto</a>)</figcaption></figure>



<p>Bagi orang-orang yang mengenal Penulis, pasti tahu kalau Penulis adalah tipe orang yang teratur dan sistematis. Semua hal yang dilakukan harus berurutan dan rapi. Oleh karena itu, Penulis adalah tipe orang yang suka dengan rutinitas.</p>



<p>Untuk menunjang hal tersebut, Penulis rutin membuat <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-1-to-do-list-harian/"><em>to-do list </em>harian</a> agar tahu ada apa saja yang harus dikerjakan. Pada malam harinya, Penulis akan mencatat semacam jurnal harian di aplikasi Google Calendar untuk mengevaluasi hari tersebut. </p>



<p>Nah, ketika sedang stres atau banyak pikiran, <strong>semua kebiasaan tersebut bisa ditinggalkan begitu saja</strong>. Rasanya begitu malas untuk melakukan banyak hal, apalagi yang membutuhkan ketelatenan seperti itu.</p>



<p>Penulis pernah hingga berbulan-bulan berhenti mencatat jurnal harian yang sudah menjadi kebiasaannya sejak zaman kuliah. Google Calendar yang dulu selalu terisi penuh, kini banyak sekali yang bolong-bolong karena tidak diisi.</p>



<p>Akibatnya, Penulis jadi <strong>terkesan menyepelekan waktu</strong>. Banyak pekerjaan yang tertunda atau bahkan tidak selesai sama sekali. Jika Pembaca menyadari ada waktu Penulis berhenti menulis blog selama berbulan-bulan, kemungkinan Penulis sedang berada di fase tersebut.</p>



<p>Lebih parahnya lagi, Penulis akan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">membuang-buang waktunya dengan rebahan</a> dan menonton YouTube atau bermain media sosial untuk jangka waktu yang kelewat banyak. Terhibur tidak, malah merasa bersalah karena sudah menyia-nyiakan waktu yang ada.</p>



<p>Apalagi, Penulis bukan tipe orang yang &#8220;cepat bangkit dari keterpurukan&#8221; sehingga bisa langsung menyetop dirinya untuk tidak produktif dan mulai kembali menata kehidupannya. Oleh karena itu, ketidakproduktifan ini bisa berlangsung lama dan berputar-putar.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Lalu, Apa yang Harus Dilakukan agar Kembali Produktif?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/2022-11-01_214250-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6123" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/2022-11-01_214250-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/2022-11-01_214250-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/2022-11-01_214250-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/2022-11-01_214250.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Contoh Video-Video di YouTube yang Penulis Tonton untuk Memotivasi Dirinya</figcaption></figure>



<p>Yang namanya masalah, tentu harus dicari akarnya untuk mengetahui solusinya. Untuk itu, cara yang paling utama adalah <strong>bagaimana kita bisa mengatasi stres tersebut</strong>. Karena definisi stres, tentu Penulis tidak bisa menjabarkan secara rinci hal tersebut.</p>



<p>Semua orang memiliki caranya masing-masing dalam mengatasi stres. Ada yang dengan cara makan, nonton film, tidur, liburan, ibadah, main bersama anak, dan lain sebagainya. Lakukan apa yang biasanya membuat kita bisa melepas stres tersebut.</p>



<p>Dalam mengatasi stres, durasi yang dibutuhkan juga berbeda-beda. Ada yang cukup satu hari, ada yang butuh berminggu-minggu. Penulis kebetulan termasuk kategori yang terakhir, dan sadar kalau dirinya harus bisa mengelola stresnya dengan lebih baik lagi.</p>



<p>Jika stres sudah bisa mulai dilepas, <strong>cobalah untuk mulai kembali produktif kembali</strong>. Pakai bantuan dari eksternal juga sangat boleh. Kalau Penulis, biasanya akan memicu dirinya sendiri dengan cara nonton berbagai video YouTube yang memiliki tema produktivitas.</p>



<p>Contohnya adalah video <em>desk tour</em>, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutinitas pagi</a> orang lain, ataupun sekadar orang yang memberikan tips produktif. Memang tidak semuanya langsung Penulis terapkan dalam kehidupannya, tetapi itu sudah cukup untuk memotivasi Penulis.</p>



<p>Jika kita sudah mulai tergerak untuk kembali produktif, <strong>mulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu</strong>. Jangan langsung mulai melakukan hal-hal produktif dengan jumlah yang besar, seperti lari pagi sepuluh kilometer atau belajar hal baru selama satu jam.</p>



<p>Mulai saja setiap aktivitas produktif dari yang terkecil. Kalau mau lari pagi, satu putaran cukup. Kalau mau baca buku, coba niati satu halaman dulu. Kalau mau meditasi, coba lima menit dulu. Kalau mau bersih-bersih, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/merapikan-kamar-merapikan-diri/">rapikan saja dulu meja kerja atau kamar tidur</a>.</p>



<p>Nah, kalau sudah memulai, nanti seiring berjalannya waktu jumlah atau durasi dari aktivitas-aktivitas tersebut akan bertambah dengan sendirinya. Yang penting mulai aja dulu, karena tubuh biasanya akan menambah porsinya secara otomatis ketika kita sudah memulainya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Apa yang Penulis tuangkan di tulisan ini adalah apa yang Penulis alami sendiri. Untuk itu, belum tentu cara di atas juga bisa dilakukan oleh orang lain. Tentu ada orang yang benci dengan rutinitas, tapi bisa menyelesaikan pekerjaan dengan lebih baik.</p>



<p>Penulis sendiri menyadari bahwa dirinya butuh keteraturan. Dalam masa-masa berhenti mencatat jurnal harian, Penulis benar-benar tidak peduli jika mau melakukan hal-hal yang tidak produktif dalam jangka waktu lama.</p>



<p>Beda dengan ketika Penulis rutin mencatat jurnal harian, di mana Penulis merasa terpacu untuk memanfaatkan waktunya agar merasa puas ketika mencatatkannya di malam hari. Jika seharian merasa produktif, seolah ada dopamin yang dikirimkan ke otak.</p>



<p>Untuk itu, solusi jangka panjang dari permasalahan &#8220;kalau lagi stres jadi tidak produktif&#8221; adalah <strong>belajar mengelola emosi dan stres lebih baik lagi</strong>. Penulis pun hingga saat ini masih belajar karena merasa dirinya sangat kurang.</p>



<p>Ketika kita mampu mengendalikan emosi dan stres kita, yang notabene mengendalikan diri sendiri, hidup produktif akan bisa dilakukan dengan lebih rutin dan baik. Kalaupun ada masalah, itu tidak akan terlalu memengaruhi produktivitas kita.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 1 November 2022, terinspirasi dari pengalamannya sendiri yang bisa benar-benar tidak produktif ketika sedang stres</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-sitting-on-chair-while-leaning-on-laptop-3791136/">Andrea Piacquadio</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kalau-lagi-stres-jadinya-tidak-produktif/">Kalau Lagi Stres, Jadinya Tidak Produktif</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kalau-lagi-stres-jadinya-tidak-produktif/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyelesaikan Masalah dengan Tidak Berbuat Apa-Apa</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 May 2021 01:27:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[benar]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4995</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ada satu kutipan dari Sam Wilson dalam serial The Falcon and the Winter Soldier yang sangat Penulis sukai. Kalimat tersebut adalah: &#8220;Maybe this is something that you or Steve will never understand. But can you accept that I did what I thought was right?&#8221; Sam Wilson Kalimat atau pertanyaan tersebut diutarakan oleh Sam ketika Bucky [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa/">Menyelesaikan Masalah dengan Tidak Berbuat Apa-Apa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ada satu kutipan dari Sam Wilson dalam serial <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-the-falcon-and-the-winter-soldier-bagian-1/">The Falcon and the Winter Soldier</a></em> yang sangat Penulis sukai. Kalimat tersebut adalah:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Maybe this is something that you or Steve will never understand. But can you accept that I did what I thought was right?&#8221;</p><cite>Sam Wilson</cite></blockquote>



<p>Kalimat atau pertanyaan tersebut diutarakan oleh Sam ketika Bucky kembali mempertanyakan keputusan Sam menyerahkan perisai warisan Steve Rogers kepada pemerintah. Sam merasa ia hanya melakukan apa yang ia pikir benar.</p>



<p>Kita semua mungkin pernah merasa seperti itu. Kita berbuat sesuatu, baik untuk diri sendiri ataupun orang lain, karena merasa bahwa itulah yang terbaik. Sayangnya, terkadang hal tersebut berubah menjadi sebuah <strong>kesalahan</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Belum Tentu Baik Juga untuk Orang Lain</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4998" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sam dan Bucky (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://screenrant.com/falcon-winter-soldier-sam-bucky-ship-sebastian-stan-response/">Screen Rant</a>)</figcaption></figure>



<p>Apa yang kita pikir benar, ternyata<strong> belum tentu benar bagi orang lain</strong>. Bahkan, bisa saja hal tersebut justru menyusahkan atau mengganggu orang lain. Perbedaan persepsi dalam memandang suatu hal sering menjadi pemicu utamanya.</p>



<p>Jika orang dekat kita memiliki sebuah permasalahan, biasanya kita akan melakukan sesuatu untuk membantunya dengan cara kita. Sayangnya, ternyata cara yang kita anggap benar tersebut tidak cocok untuk orang tersebut.</p>



<p>Misal, ada teman kita yang sedang patah hati karena memergoki kekasihnya seleweng. Kita berusaha untuk menghiburnya dengan berbagai cara dan ia justru marah. Ternyata, yang ia butuhkan sekarang adalah waktu untuk sendiri dan merenung, bukan hiburan.</p>



<p>Contoh lain ketika kita punya seorang adik yang sedang kewalahan dengan tugasnya. Kita merasa ingin membantunya mengerjakan tugas tersebut. Ia justru marah karena ia ingin berhasil dengan kerja kerasnya sendiri, bukan dengan bantuan orang lain.</p>



<p>Kita hanya melakukan apa yang kita pikir benar dan ternyata salah bagi orang lain. Oleh karena itu, terkadang <strong>tidak berbuat apa-apa </strong>justru menjadi solusi dari sebuah permasalahan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tidak Berbuat Apa-Apa</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4997" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Tidak Berbuat Apa-Apa (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.goodvibeblog.com/before-you-do-nothing/">Good Vibe Blog</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis mengetahui teori <strong>&#8220;tidak berbuat apa-apa&#8221;</strong> ini ketika membaca buku berjudul <strong><em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-four-seconds/">Four Seconds</a></em> </strong>karya Peter Bregman. Intinya, terkadang dalam penyelesaian masalah, berbuat sesuatu justru akan memperparah keadaan. Tidak berbuat apa-apa justru menjadi kunci penyelesaiannya.</p>



<p>Penulis ambil dua contoh di atas, kawan yang sedang patah hati dan adik yang kewalahan dengan tugasnya. </p>



<p>Jika kita tidak berbuat apa-apa, mungkin si kawan pada akhirnya berhasil <em>move on </em>setelah menemukan teman kencan dengan bantuan aplikasi Tinder. Jika kita tidak berbuat apa-apa, mungkin si adik berhasil mempelajari sesuatu yang baru dari tugas-tugasnya.</p>



<p>Di dalam buku <em>Four Seconds</em>, ada kalimat seperti berikut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Terkadang, tidak mencoba memperbaiki sesuatu merupakan hal yang justru dibutuhkan untuk memperbaikinya.&#8221;</p><cite>Buku <em>four seconds </em>halaman 36</cite></blockquote>



<p>Hanya saja, teori ini tidak bisa diterapkan dalam semua kondisi. Jika ada pekerjaan kantor yang menumpuk dan kita memutuskan untuk tidak berbuat apa-apa, ya kita bakal dipecat sama atasan. Jika ada tugas sekolah menumpuk kita tidak berbuat apa-apa, ya kita bakal mendapat nilai buruk.</p>



<p>Intinya, teori tidak berbuat apa-apa ini hanya bisa dilakukan dalam situasi dan kondisi tertentu. Bagaimana cara mengetahui kapan kita harus tidak berbuat apa-apa? Harus berdasarkan pengalaman dan data pada masa lalu. Tidak ada teori pasti yang bisa digunakan.</p>



<p>Selain itu, jangan sampai teori ini membuat kita menjadi orang yang cuek dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Itu juga salah. Tetaplah berusaha untuk menjadi orang baik dan tak segan mengulurkan tangan ketika orang lain butuh pertolongan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Jika Sam tidak berbuat apa-apa dan menyimpan perisai Captain America di rumahnya, mungkin tidak akan ada Captain America baru yang menjadi pemicu konflik di serialnya.</p>



<p>Walau ada kemungkinan pemerintah akan meminta Sam menyerahkan perisai tersebut, setidaknya bukan ia yang memberikan secara sukarela. Ia tidak akan bertanggung jawab atas terpilihnya John Walker sebagai Captain America baru dan tidak perlu berdebat dengan Bucky.</p>



<p>Sam hanya melakukan apa yang ia pikir benar. Menyerahkan perisai tersebut ia lakukan atas dasar karena ia merasa belum pantas menjadi pengganti Captain America. </p>



<p>Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Hanya saja, terkadang apa yang kita pikir benar belum tentu benar bagi orang lain. Permasalahan yang hendak kita selesaikan justru menjadi semakin rumit.</p>



<p>Jika sudah demikian, mungkin memang saatnya kita tidak perlu berbuat apa-apa untuk menyelesaikan suatu permasalahan.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 24 Mei 2021, terinspirasi setelah teringat kalimat favorit yang diucapkan oleh Sam Wilson pada serial <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-the-falcon-and-the-winter-soldier-bagian-2/">The Falcon and the Winter Soldier</a></em></p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://cahobnemodo.ga/">cahobnemodo.ga</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa/">Menyelesaikan Masalah dengan Tidak Berbuat Apa-Apa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menepi Sejenak</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/menepi-sejenak/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/menepi-sejenak/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2021 09:28:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[berpisah]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[interopeksi]]></category>
		<category><![CDATA[konflik]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[menepi]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4501</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aku menyukai hubungan kita. Terasa dekat dan saling mengisi. Saling berbagi cerita dan melempar canda. Namun, kisah perjalanan kita berdua tidak semulus dongeng yang selalu berakhir dengan happily ever after. Kadang kita berselisih paham, kadang kita hanya mengedepankan ego masing-masing, kadang kita (tanpa sengaja) saling menyakiti. Kadang karena hal yang sepele, kadang karena hal yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/menepi-sejenak/">Menepi Sejenak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Aku menyukai hubungan kita. <strong>Terasa dekat dan saling mengisi</strong>. Saling berbagi cerita dan melempar canda.</p>
<p>Namun, kisah perjalanan kita berdua tidak semulus dongeng yang selalu berakhir dengan <em>happily ever after</em>.</p>
<p>Kadang kita berselisih paham, kadang kita hanya mengedepankan ego masing-masing, <strong>kadang kita (tanpa sengaja) saling menyakiti</strong>.</p>
<p>Kadang karena hal yang sepele, kadang karena hal yang serius, lebih sering hanya karena kesalahpahaman.</p>
<p>Percikan pertengkaran mewarnai hidup kita dan kadang <strong>membuat kita berpikir untuk pergi</strong>. Berpisah.</p>
<p>Tapi di dalam lubuk hati yang terdalam, kita sama-sama merasa bukan itu yang benar-benar kita inginkan.</p>
<p>Kita hanya bertikai untuk satu waktu. Kenapa itu harus membuat kita <strong>melupakan semua kenangan yang pernah kita ukir bersama?</strong></p>
<p><strong>Kita hanya butuh jeda</strong>, butuh waktu untuk sendiri. Memilih untuk menepi sejenak dan menenangkan diri.</p>
<p>Nikmati waktu kesendirian, merenungkan bagaimana kita bisa memulai pertengkaran.</p>
<p>Tak perlu mencari siapa yang salah, coba kita lihat ke dalam diri sendiri. <strong>Melakukan interopeksi diri</strong>.</p>
<p>Saat kita berpisah untuk sementara, coba rasakan betapa bedanya kehidupan yang kita lalui.</p>
<p>Jika dirasa cukup, kita akan kembali menjalani hari bersama seperti sedia kala.</p>
<p>Karena pada dasarnya, <strong>kita tidak ingin kehilangan satu sama lain</strong>.</p>
<h1 style="text-align: center;">***</h1>
<p>Dalam sebuah hubungan, apapun bentuknya, pasti ada momen di mana kita bertikai dan membuat hubungan merenggang.</p>
<p>Bagi Penulis, hal ini sangat wajar. <strong>Semakin dekat dan erat hubungan kita dengan seseorang, semakin besar potensi munculnya konflik.</strong></p>
<p>Yang penting adalah bagaimana kita berusaha menyelesaikan konflik tersebut. Terkadang, kita butuh untuk<a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/berhenti-sejenak/"><strong> menepi sejenak</strong></a> agar bisa berpikir lebih jernih.</p>
<p>Ketika menepi, dalam artian menjaga jarak dengan orang tersebut untuk jangka waktu tertentu, sebaiknya kita melakukan interopeksi diri</p>
<p>Tanyakan pada diri <strong>kenapa pertikaian tersebut bisa terjadi</strong>. Jangan fokus pada siapa yang salah, tapi pada<strong> bagaimana hal tersebut jangan sampai terulang</strong>.</p>
<p>Jika perasaan sudah kembali tenang, coba bicarakan hal tersebut baik-baik dengannya. Curahkan isi hati agar tidak ada yang mengganjal dan menjadi benalu diri.</p>
<h1 style="text-align: center;">***</h1>
<p><a href="https://whathefan.com/renungan/pada-akhirnya-kita-semua-akan-dipisahkan-oleh-waktu/"><strong>Perpisahan memang menjadi hal yang tak terelakkan</strong></a> dalam sebuah hubungan. <em>Inevitable</em> kalau kata Thanos.</p>
<p>Ada yang karena perbedaan visi, ada yang karena sakit hati, ada yang karena kematian, banyak penyebab hubungan harus berakhir.</p>
<p>Walaupun begitu, Penulis tidak ingin hubungan dengan orang-orang terdekatnya putus karena hal yang kurang baik.</p>
<p>Jika memang harus berpisah, terlepas apapun alasannya, setidaknya kita bisa <strong>berpisah secara baik-baik</strong>.</p>
<p>Memang menyedihkan, kadang menyakitkan, tapi itu lebih baik daripada harus berpisah secara buruk dengan perasaan saling membenci.</p>
<h1 style="text-align: center;">***</h1>
<p>Jika memungkinkan, Penulis ingin terus menjalin hubungan baik dengan semua orang yang dikenalnya dalam hidup.</p>
<p>Entah keluarga, teman mulai kecil, teman kuliah, <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/">teman kantor di Jakarta</a>, <a href="https://whathefan.com/category/karang-taruna/">anak-anak Karang Taruna</a>, semuanya.</p>
<p>Sayangnya, Penulis hidup di dunia nyata yang tidak semulus jalan cerita drama Korea. Pasti ada banyak lika-liku yang akan membuat Penulis memutuskan untuk menepi sejenak.</p>
<p>Ketika menepi, <strong>pikiran Penulis akan terasa begitu riuh dengan pemikirannya sendiri</strong>. Penulis bukan tipe orang yang bisa masa bodo dengan kejadian yang sedang dialami.</p>
<p>Memang jika waktunya telah tiba, Penulis akan berpisah satu per satu dengan mereka semua. Kesedihan, merasa kehilangan, semua perasaan itu akan Penulis rasakan.</p>
<p>Hanya saja, sampai waktunya tiba, Penulis ingin <strong>menikmati momen-momen bersama mereka</strong> selama mungkin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 8 Maret 2021, terinspirasi dari pertikaian kecil yang baru terjadi dengan seseorang</p>
<p>Foto: <a href="https://redwoodfamilytherapy.com/services/sad-boy-alone-in-a-bare-room/">Redwood Family Therapy</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/menepi-sejenak/">Menepi Sejenak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/menepi-sejenak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Definisi Sukses Nomor 2: Hidup Tenang</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2020 13:25:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<category><![CDATA[tenang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4052</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, ada kejadian yang menghebohkan di mana Syekh Ali Jaber mengalami penusukan ketika sedang menghadiri sebuah acara di Lampung. Untungnya, beliau tidak mengalami cedera yang serius dan bisa beraktivitas seperti biasa. Lantas, beliau diundang ke kanal YouTube milik Deddy Corbuzier untuk membicarakan tentang kejadian tersebut. Banyak sekali pelajaran yang bisa Penulis ambil dari podcast tersebut. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang/">Definisi Sukses Nomor 2: Hidup Tenang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, ada kejadian yang menghebohkan di mana <strong>Syekh Ali Jaber </strong>mengalami penusukan ketika sedang menghadiri sebuah acara di Lampung. Untungnya, beliau tidak mengalami cedera yang serius dan bisa beraktivitas seperti biasa.</p>
<p>Lantas, beliau diundang ke kanal YouTube milik Deddy Corbuzier untuk membicarakan tentang kejadian tersebut. Banyak sekali pelajaran yang bisa Penulis ambil dari podcast tersebut.</p>
<p>Salah satunya adalah tentang <strong>hidup tenang</strong>, yang Penulis anggap sebagai definisi sukses nomor 2.</p>
<h3>Tenang Menghadapi Masalah</h3>
<p>Di dalam kehidupannya, manusia pasti akan menjumpai yang namanya masalah. Tidak ada satupun manusia di dunia yang tak pernah bertemu dengan masalah.</p>
<p>Jika begitu, lantas bagaimana kita bisa hidup dengan tenang? Kuncinya adalah <strong>bagaimana cara kita menyikapi masalah tersebut</strong>.</p>
<p><div id="attachment_4054" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4054" class="size-large wp-image-4054" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4054" class="wp-caption-text">Tenang Menghadapi Masalah (<a href="https://unsplash.com/@officestock">Sebastian Herrmann</a>)</p></div></p>
<p>Misalkan kita mengalami musibah diberhentikan dari tempat kerja karena pandemi. Jelas kejadian tersebut akan membuat kita merasa <em>down </em>seolah bingung harus bagaimana melanjutkan hidup.</p>
<p>Merasa seperti itu sangat manusiawi. Depresi, frustasi, khawatir, hingga perasaan takut bisa terjadi pada siapapun. Hanya saja, jangan terlalu berlarut-larut hingga membuat kita terpuruk.</p>
<p>Bayangkan jika kita bisa tenang ketika menghadapi masalah tersebut. Mungkin kita akan segera mencari cara bagaimana bisa mendapatkan pekerjaan lain atau mungkin ingin <em>upgrade </em>skill yang dimiliki.</p>
<p>Bahkan Syekh Ali Jaber menyarankan kita untuk mengucapkan <em>alhamdulillah </em>ketika ditimpa musibah. Mengucap syukur di saat senang itu mudahnya bukan main, tapi mengucapkan ketika susah?</p>
<h3>Tenang Menghadapi Orang Lain</h3>
<p>Sebagai makhluk yang kerap berinteraksi dengan sesamanya, pasti ada saja percikan konflik yang dapat terjadi antar manusia. Apalagi di zaman sekarang, banyak orang asing yang kerap berkomentar tidak penting tentang orang lain yang sebenarnya tidak ia kenal.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-4055" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /></p>
<p>Merasa marah, kecewa, terkhianati, tersakiti oleh orang lain adalah hal yang lumrah. Semuanya pasti pernah mengalaminya, termasuk sebaliknya ketika kita yang berbuat salah ke orang lain.</p>
<p>Kalau mau hidup tenang, seharusnya kita bisa <strong>mengendalikan diri untuk tidak bereaksi berlebihan</strong> jika ada orang lain yang berbuat kurang baik.  Bahkan kalau bisa, berdoa agar orang yang berbuat salah diampuni oleh Tuhan.</p>
<p>Tidak hanya perlakuan yang buruk, perlakuan yang baik dari orang lain pun sebaiknya tidak membuat kita terlalu terlena. Disyukuri dan jadikan untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi untuk sesamanya.</p>
<p>Orang-orang yang ada di sekeliling kita juga banyak berpengaruh atas ketenangan dalam hidup. Sebisa mungkin, buatlah diri ini dikelilingi oleh orang-orang yang membawa energi positif untuk kehidupan kita.</p>
<h3>Bagaimana Cara Hidup Tenang?</h3>
<p>Sama seperti kebanyakan tulisan yang berbau motivasi di blog ini, Penulis menulis artikel ini sebenarnya lebih karena ingin mengingatkan dirinya sendiri. Penulis merasa jarang bisa menjalani hidup tenang tanpa beban pikiran yang berat.</p>
<p>Penulis bukan orang yang terlalu religius, namun Penulis meyakini dengan <strong>mendekatkan diri ke Tuhan</strong> kita bisa merasa hidup tenang ketika menghadapi poin-poin yang sudah dipaparkan di atas.</p>
<p>Melakukan <strong>evaluasi diri</strong> juga bisa menjadi salah satu cara agar kita menyadari mana saja dari bagian diri ini yang butuh dibenahi. Misal kita merasa dirinya <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/saya-ini-pemalas/">seorang pemalas</a>, kita harus bisa memperbaiki sifat tersebut secara bertahap.</p>
<p>Jika ada kenangan atau peristiwa di masa lalu yang banyak menganggu kita di masa sekarang, cobalah perlahan berdamai dengannya. Kalau kata Noah, <em>masa lalu takkan melemahkanmu</em>.</p>
<p>Selain itu, sibukkan diri dengan <strong>melakukan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat</strong>. <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">Terlalu banyak bermain media sosial</a> berpotensi membuat hidup kita tidak tenang karena akan banyak melihat kehidupan orang lain.</p>
<p>Ada banyak sekali hal yang bisa disyukuri dari hidup ini. Jika kita bisa <strong>memperbanyak syukur dan mengurangi keluh</strong>, <em>insyaAllah </em>hidup kita bisa meraih definisi kesuksesan nomor 2 versi Penulis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NB: Definisi sukses nomor satu bagi Penulis adalah <strong><a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/definisi-sukses-nomer-1-bermanfaat-bagi-orang-lain/">Bermanfaat Bagi Orang Lain</a></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 20 September 2020, terinspirasi setelah menonton podcast Deddy Corbuzier ketika mengundang Syekh Ali Jaber</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@fuuj?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Fuu J</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/happy?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://www.youtube.com/watch?v=6OTBeW-SIh8">YouTube</a>, <a href="https://cantik.tempo.co/read/1128658/ingin-hidup-tenang-dan-bahagia-ikuti-7-tips-berikut/full&amp;view=ok">Tempo</a>, <a href="https://id.wikihow.com/Hidup-dengan-Pikiran-yang-Tenang">WikiHow</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang/">Definisi Sukses Nomor 2: Hidup Tenang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berhenti Sejenak</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-sejenak/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-sejenak/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Jul 2020 03:09:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berhenti]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[overthinking]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3993</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis kerap menyinggung tentang kebiasaan buruknya yang kerap overthinking secara berlebihan. Bayangkan, sudah over, masih diimbuhi kata berlebihan pula. Masalah sepele bisa menyabang ke mana-mana seolah Penulis tidak bisa mengendalikan pikirannya sendiri. Masalah A bisa menjadi A1, A2, A2.1, dan seterusnya. Salah satu trik untuk melawan ini adalah dengan merapalkan mantra ya udah sih yang pernah Penulis singgung di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-sejenak/">Berhenti Sejenak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis kerap menyinggung tentang kebiasaan buruknya yang kerap <em>overthinking</em> secara berlebihan. Bayangkan, sudah <em>over</em>, masih diimbuhi kata berlebihan pula.</p>
<p>Masalah sepele bisa menyabang ke mana-mana seolah Penulis tidak bisa mengendalikan pikirannya sendiri. Masalah A bisa menjadi A1, A2, A2.1, dan seterusnya.</p>
<p>Salah satu trik untuk melawan ini adalah dengan merapalkan mantra <em><a href="https://whathefan.com/karakter/ya-udah-sih/">ya udah sih</a> </em>yang pernah Penulis singgung di tulisan sebelumnya. Selain itu, masih ada satu cara lagi yang bisa dilakukan.</p>
<h3>Berhenti Sejenak</h3>
<p>Langkah mudah yang bisa kita lakukan ketika pikiran mulai tak karuan adalah <strong>berhenti sejenak</strong>. Bukan hanya berhenti melakukan aktivitas, melainkan menghentikan apa yang sedang kita pikirkan.</p>
<p>Apakah sulit? Tentu saja. Akan tetapi, kita memiliki kekuatan untuk melakukannya. Kalau Penulis, seringnya mengucapkan perintah untuk berhenti secara lirih seperti sedang melakukan <em>self-suggestion</em>.</p>
<p>Selain itu, Penulis juga berusaha menenangkan diri dengan menjauhkan segala perangkat elektronik, mencari posisi duduk yang paling nyaman, sembari berusaha mengatur keluar masuknya napas.</p>
<p>Ketika pikiran-pikiran liar tadi sudah mulai bisa dihentikan, kita akan merasa (sedikit) lebih tenang. Tidak perlu melakukan apa-apa ataupun memikirkan sesuatu, cukup berhenti sejenak dari riuhnya pikiran dan kehidupan.</p>
<h3>Menemukan Masalah</h3>
<p>Setelah mampu mengasingkan diri dari pikiran-pikiran yang berlebihan, kita akan mampu lebih memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi.</p>
<p>Dalam kondisi yang lebih tenang, biasanya kita akan <strong>menemukan apa masalah sebenarnya</strong>. Bisa jadi, masalahnya tidak sebesar apa yang kita bayangkan sebelumnya.</p>
<p>Mungkin tidak semua bisa menerapkan trik ini. Ada yang masalahnya benar-benar berat seperti terlilit hutang hingga milyaran rupiah atau baru mendapatkan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-itu-pelaku-bukan-korban/">pelecehan seksual</a>. Trik ini cocok untuk kita yang kerap <em>overthinking</em>.</p>
<p>Kalau boleh jujur, Penulis merasa terkadang dirinya membesar-besarkan masalah. Setelah Penulis berhenti sejenak, Penulis sadar kalau masalah yang sedang dihadapi sebenarnya tidak terlalu berat.</p>
<h3>Berdebat dengan Diri Sendiri</h3>
<p>Kalau sudah menemukan masalah, bukan tidak mungkin ada &#8220;sisi lain diri kita&#8221; yang menentang pemikiran kita dengan memberikan argumentasi berlawanan.</p>
<p>Misal kita sudah sadar kalau permasalahan yang sedang kita hadapi sepele, diri kita yang satu lagi ini akan berusaha berkelit kalau masalahnya tidak sepele.</p>
<p>Jika ada yang pernah seperti ini juga, kita harus berani <strong>berdebat dengan diri sendiri </strong>sampai dia kehabisan argumentasi. Istilahnya, jangan kasih kendor.</p>
<p>Penulis kerap berdebat dengan dirinya sendiri, sangat sering malah. Tidak selalu menang, tapi setidaknya Penulis tidak mau menyerah begitu saja melawan pikirannya sendiri.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Setelah berhenti sejenak dan menemukan permasalahan pokoknya, Penulis akan merapalkan mantra <em>ya udah sih </em>untuk mengakhiri perenungannya.</p>
<p>Dengan cara-cara seperti itu, secara perlahan Penulis akan meninggalkan sifat <em>overthinking-</em>nya. Apakah artinya Penulis sekarang sudah tidak seperti itu?</p>
<p>Tentu tidak, bahkan tadi pagi Penulis kembali <em>overthinking </em>sampai kembali insomnia. Justru kawan Penulis yang sering mengingatkan Penulis untuk berhenti sejenak. Padahal, ia tahu konsep tersebut juga dari Penulis, hahaha.</p>
<p>Setidaknya, Penulis akan terus menerus teringat untuk berhenti sejenak ketika pikirannya sedang suntuk, gelisah, emosi, dan lain sebagainya yang memicu <em>overthinking </em>secara berlebihan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 12 Juli 2020, terinspirasi dari dirinya sendiri yang kerap terlupa menerapkan ini ke dirinya sendiri</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@mylestan">Myles Tan</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-sejenak/">Berhenti Sejenak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-sejenak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8220;Gitu Doang? Besaran Masalah Gue!&#8221;</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/gitu-doang-besaran-masalah-gue/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2020 04:26:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[beban]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[judgemental]]></category>
		<category><![CDATA[keluh]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[mengeluh]]></category>
		<category><![CDATA[menghakimi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3742</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika sedang ada masalah, apa yang biasa kita lakukan? Selain berusaha mencari solusi terbaiknya, kita juga kerap mencari teman curhat yang mau mendengarkan keluh kesah kita. Entah mengapa dengan bercerita, perasaan kita terasa lebih plong, seolah beban yang menggantung di pundak rasanya lumayan berkurang. Hanya saja, tidak mudah menemukan teman bercerita yang pas. Penulis sendiri merasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gitu-doang-besaran-masalah-gue/">&#8220;Gitu Doang? Besaran Masalah Gue!&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jika sedang ada masalah, apa yang biasa kita lakukan? Selain berusaha mencari solusi terbaiknya, kita juga kerap mencari teman curhat yang mau mendengarkan keluh kesah kita.</p>
<p>Entah mengapa dengan bercerita, perasaan kita terasa lebih <em>plong</em>, seolah beban yang menggantung di pundak rasanya lumayan berkurang.</p>
<p>Hanya saja, tidak mudah menemukan teman bercerita yang pas. Penulis sendiri merasa dirinya adalah <a href="https://whathefan.com/karakter/teman-cerita-yang-buruk/">teman bercerita yang buruk</a> karena beberapa hal.</p>
<p>Tapi Penulis meyakini satu hal. Teman bercerita yang baik adalah yang mau mendengarkan kita tanpa nge-<em>judge, </em>yang tidak pernah membandingkan masalah kita dengan masalahnya sendiri.</p>
<h3>Menghakimi Masalah Orang Lain</h3>
<p>Kita hidup di era di mana orang dengan mudahnya <a href="https://whathefan.com/karakter/kenapa-sih-harus-judgemental/">menghakimi orang lain</a> hanya berdasarkan satu pos di media sosial tanpa benar-benar tahu latar di belakangnya.</p>
<p>Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu kehidupan orang lain. Mereka punya sifat yang berbeda-beda, lingkungan yang beda, ketahanan mental yang beda, dan lain sebagainya.</p>
<p><div id="attachment_3743" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3743" class="size-large wp-image-3743" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gitu-doang-besaran-masalah-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gitu-doang-besaran-masalah-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gitu-doang-besaran-masalah-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gitu-doang-besaran-masalah-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gitu-doang-besaran-masalah-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3743" class="wp-caption-text">Mendengar Masalah Orang Lain (<a class="o5rIVb irc_hol irc_lth" tabindex="0" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwi_26-jj_HoAhVNXSsKHTevAHoQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fnews.yahoo.com%2Fnews%2Fchris-matthews-kamala-harris-062616087.html&amp;psig=AOvVaw1ZYQtoJWdMoBQd5gSre3hj&amp;ust=1587269894826191" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi_26-jj_HoAhVNXSsKHTevAHoQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Yahoo News</span></a>)</p></div></p>
<p>Begitupun ketika ada orang lain yang menceritakan masalahnya ke kita. Jangan sampai kita terlihat <strong>menyepelekan atau menggampangkan masalahnya</strong>, sesederhana apapun masalahnya.</p>
<p>Batas kemampuan orang untuk menghadapi masalah berbeda-beda. Ada yang sangat tangguh, ada yang lemah. Banyak faktor yang memengaruhi hal tersebut.</p>
<p>Selain itu, jangan diperparah dengan <strong>membandingkan masalah orang lain dengan masalah sendiri</strong> yang kita anggap jauh lebih berat. Contoh:</p>
<p><strong>A</strong>: <em>Gue stres berat nih sama kerjaan kantor, numpuk banget. Mana cicilan kredit belum bayar lagi.</em></p>
<p><strong>B</strong>: <em>Halah lebay lu, gitu doang ngeluh. Gue kemarin pulang kantor jam 2 pagi gara-gara disemprot sama si bos. Mana pacar gue lagi ngambek lagi.</em></p>
<p>Jika dihadapkan pada situasi seperti itu, jelas mental A yang sedang terpuruk akan semakin <em>down</em>. Ia pun akan malas untuk bercerita lagi dan memilih untuk memendam bebannya.</p>
<p>Bandingkan dengan contoh yang ada di bawah ini:</p>
<p><strong>A</strong>: <em>Gue stres berat nih sama kerjaan kantor, numpuk banget. Mana cicilan kredit belum bayar lagi.</em></p>
<p><strong>B</strong>: <em>Iya, kantor memang emang lagi berat nih. Kalau ada yang bisa gue bantu kabarin aja ya, asal gak pas gue repot pasti gue bantu kok!</em></p>
<p>Beda, bukan? Pada contoh kedua, terasa empati dari si pendengar tanpa perlu membandingkan masalahnya.</p>
<p>Bahkan, si pendengar menawarkan bantuan walau mungkin hanya sekadar basa-basi. Setidaknya, yang bersangkutan akan merasa dihargai.</p>
<p>Ilmu ini Penulis dapatkan melalui buku-buku seputar <em>mental health </em>yang akhir-akhir ini sering dibaca. Di Twitter juga sering muncul <em>tweet </em>yang senada.</p>
<p>Jangan sampai kita jadi orang yang terlalu over kompetitif hingga permasalahan hidup pun ingin lebih unggul.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Setiap orang pasti akan menghadapi masalahnya masing-masing dan terkadang harus mengeluhkan permasalahannya tersebut. Beda <em>privilege</em>, beda level permasalahannya.</p>
<p>Contoh, Jennie Blackpink mengeluh konsernya batal, sedangkan ojek online mengeluh karena pendapatannya berkurang drastis. Keduanya disebabkan oleh hal yang sama, virus Corona.</p>
<p>Oleh karena itu, jangan mudah menghakimi permasalahan orang lain dan menganggap masalah kita jauh lebih berat karena kita tidak pernah benar-benar mengetahui kondisi yang dialami oleh orang lain.</p>
<p>Kalau kita diminta menjadi pendengar, kita dengarkan ceritanya. Kalau diminta memberi saran, beri sesuai dengan kapasitas kita. Sesederhana itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>NB</strong>: Mengapa contoh menggunakan <em>gue lo</em>? Karena artikel berikutnya Penulis ingin membahas hal ini. <em>Stay tuned!</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 18 April 2020, terinspirasi karena merasa dirinya terkadang masih seperti itu</p>
<p>Foto: <a href="https://menwit.com/things-girls-hate-about-guys">Men Wit</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gitu-doang-besaran-masalah-gue/">&#8220;Gitu Doang? Besaran Masalah Gue!&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lebih Mudah untuk Lari</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/lebih-mudah-untuk-lari/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Jan 2020 11:02:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[cobaan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[lari]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[tanggung jawab]]></category>
		<category><![CDATA[ujian]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3214</guid>

					<description><![CDATA[<p>It&#8217;s easier to run Replacing this pain with something numb It&#8217;s so much easier to go Than face all this pain here all alone *** Penggalan lirik di atas berasal dari lagu berjudul Easier to Run. Yang menyanyikan tentu saja band favorit penulis sepanjang masa, Linkin Park. Tepatnya, dari album Meteora yang rilis pada tahun 2003. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/lebih-mudah-untuk-lari/">Lebih Mudah untuk Lari</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>It&#8217;s easier to run</em><br />
<em>Replacing this pain with something numb</em><br />
<em>It&#8217;s so much easier to go</em><br />
<em>Than face all this pain here all alone</em></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Penggalan lirik di atas berasal dari lagu berjudul <strong><em>Easier to Run. </em></strong>Yang menyanyikan tentu saja band favorit penulis sepanjang masa, <strong>Linkin Park</strong>. Tepatnya, dari album <strong><em>Meteora </em></strong>yang rilis pada tahun 2003.</p>
<p>Sesuai dengan judul tulisan yang digunakan, penulis merasa lagu ini menggambarkan apa yang ingin kali ini ditulis. Lebih mudah untuk lari dari masalah dibandingkan menghadapinya.</p>
<h3>Masalah Akan Selalu Datang</h3>
<p><div id="attachment_3216" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3216" class="size-large wp-image-3216" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/selalu-lebih-mudah-untuk-lari-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/selalu-lebih-mudah-untuk-lari-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/selalu-lebih-mudah-untuk-lari-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/selalu-lebih-mudah-untuk-lari-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/selalu-lebih-mudah-untuk-lari-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3216" class="wp-caption-text">Masalah Selalu Datang (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@officestock">Sebastian Herrmann</a>)</p></div></p>
<p>Pada novel <a href="https://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-1/">Leon dan Kenji buku pertama</a>, karakter Leon pernah mengatakan bahwa masalah adalah teman setianya yang selalu mengikuti dirinya ke manapun ia pergi.</p>
<p>Sejatinya, itulah yang terjadi pada kita. Apakah ada manusia yang tidak pernah menghadapi masalah? Rasanya hampir mustahil. Ujian ataupun cobaan pasti pernah dihadapi oleh manusia.</p>
<p>Tingkat kesulitan yang dihadapi orang pun bermacam-macam. Kalau di dalam game, ada level <em>easy</em>, <em>medium</em>, hingga <em>hard</em>. Penulis meyakini bahwa tingkat kesulitan ini oleh Tuhan disesuaikan dengan kemampuan hamba-Nya.</p>
<p>Kalau ingin menyederhanakannya kembali, kita bisa melihat perjalanan hidup kita hingga hari ini. Dulu waktu kecil, masalah yang kita hadapi paling dimarahi orangtua, tidak boleh main, dan lain sebagainya.</p>
<p>Ketika menginjak ke usia sekolah, permasalahan yang muncul mulai beragam. Selain menumpuknya tugas, kita mulai dilanda masalah asmara yang sepele namun membuat galau sebulan.</p>
<p>Setelah itu, kita mulai terjun ke dalam masyarakat secara langsung. Kita akan menghadapi orang yang beraneka rupa sehingga ada saja masalah yang muncul.</p>
<p>Saat mulai masuk ke dalam dunia kerja, tumpukan pekerjaan kantor dan omelan bos membuat kita pusing. Gaya hidup yang meningkat membuat kita dihantui oleh tagihan yang belum terbayarkan.</p>
<p>Belum lagi omongan-omongan orang yang kurang mengenakan, tuntutan kesempurnaan dari masyarakat, dan berbagai masalah kompleks lainnya.</p>
<p>Evolusi masalah dari kita kecil hingga dewasa di atas menunjukkan bahwa masalah akan selalu datang untuk menguji kita. Ketika ia datang, ada dua pilihan yang muncul: menghadapinya atau melarikan diri.</p>
<h3>Lari dari Masalah</h3>
<p><div id="attachment_3217" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3217" class="size-large wp-image-3217" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/selalu-lebih-mudah-untuk-lari-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/selalu-lebih-mudah-untuk-lari-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/selalu-lebih-mudah-untuk-lari-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/selalu-lebih-mudah-untuk-lari-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/selalu-lebih-mudah-untuk-lari-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3217" class="wp-caption-text">Dara dan Bima (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://please-enter-here.blogspot.com/2019/07/dua-garis-biru-pentingnya-edukasi-seks.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi5zIK0u9HmAhXNbX0KHRhIAUAQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Sebuah Kata, Sebuah Cerita</span></a>)</p></div></p>
<p>Seperti apa lari dari masalah itu? Contohnya ada banyak sekali, tapi di sini penulis akan berusaha untuk memberikan yang paling sederhana.</p>
<p>Ketika ada sebuah pekerjaan atau tugas yang menumpuk, kita mungkin akan merasa frustasi karena merasa lelah. Cara lari dari masalah ini adalah dengan tidur dan tidak memedulikan pekerjaan itu lagi.</p>
<p>Hasilnya? Pekerjaan akan semakin menumpuk dan kita bisa dipecat oleh atasan karena dianggap lalai dari tanggung jawabnya. Bisa dilihat, lari dari masalah tidak akan menyelesaikan pekerjaan.</p>
<p>Contoh lain, tentang sekolah. Sewaktu menghadapi ujian, kita mendapatkan nilai yang jelek sehingga harus ikut remidial. Merasa putus asa, kita justru memutuskan untuk tidak belajar karena merasa percuma. Akibatnya, nilai kita pun tetap jelek.</p>
<p>Berbohong juga merupakan salah satu cara untuk lari dari masalah. Ketika kebohongan tersebut menumpuk, tinggal menunggu waktu kebohongan akan terbongkar.</p>
<p>Kalau mau yang lebih ekstrem, kita bisa menggunakan contoh Dara dan Bima dari film <em>Dua Garis Biru</em>. Kalau mau lari, bisa saja Dara memutuskan untuk aborsi atau Bima kabur dari rumah dan menghilang begitu saja.</p>
<p>Akan tetapi, perbuatan tersebut akan menghantui mereka untuk jangka waktu yang lama bahkan selamanya. Meskipun berat, mereka memutuskan untuk bertanggung jawab atas apa yang telah mereka perbuat.</p>
<p>Penulis yakin, semua masalah yang menghampiri kita datang untuk diselesaikan. Lari dari masalah dengan bersikap masa bodo ataupun menyerah memang lebih mudah, tapi tidak akan menyelesaikan permasalahan.</p>
<p>Ayah penulis pernah bercerita, ketika didatangi oleh <em>debt collector</em>, ia justru mengajaknya ngobrol santai. Alhasil, masalah pun selesai dan <em>debt collector </em>tadi malah menjadi teman. Ini hanya contoh kecil kalau masalah bisa dihadapi dengan berbagai cara.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Cakupan masalah memang sangat luas. Mungkin memang ada kalanya kita diharuskan untuk lari dari masalah ketika itu menjadi satu-satunya solusi.</p>
<p>Seandainya Penulis hidup di zaman Orba dan sedang dikejar karena terlalu vokal, mungkin Penulis akan memutuskan untuk lari dengan bungkam dan berhenti melawan pemerintah.</p>
<p>Rasanya Penulis tidak bisa seberani Budiman Sujatmiko dan kawan-kawan yang menerima berbagai siksaan dari rezim. Mungkin untuk sesaat Penulis merasa aman, namun rasa bersalah akan terus menghantui hingga akhir hayat.</p>
<p>Dari yang penulis amati selama ini (baik dari diri sendiri ataupun lingkungan sekitar), lari dari masalah memang menjadi pilihan yang lebih mudah daripada menghadapinya. Namun, konsekuensi yang akan kita terima ke depannya bisa jadi jauh lebih berat.</p>
<p>Penulis hingga kini tetap berpegang teguh pada prinsip bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umatnya. Oleh karena itu jika ada masalah yang muncul, penulis akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghadapinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 11 Januari 2020, terinspirasi dari lagu Linkin Park yang berjudul <em>Easier to Run</em></p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@we_are_rising">lucas Favre</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/lebih-mudah-untuk-lari/">Lebih Mudah untuk Lari</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hidup Ini Memang Aneh Kok</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hidup-ini-memang-aneh-kok/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hidup-ini-memang-aneh-kok/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Mar 2019 01:26:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[aneh]]></category>
		<category><![CDATA[falsafah Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[ojo dumeh]]></category>
		<category><![CDATA[ojo gumunan]]></category>
		<category><![CDATA[ojo kagetan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2181</guid>

					<description><![CDATA[<p>Orang Jawa memiliki falsafah hidup Ojo Kagetan, Ojo Gumunan, Ojo Dumeh. Dalam bahasa Indonesia, ke tiga kata tersebut bermakna  jangan mudah kaget, jangan mudah heran, jangan mentang-mentang. Ketiga hal tersebut penulis resapi sebagai suatu sikap untuk menghadapi &#8220;keanehan-keanehan&#8221; yang terjadi pada hidup kita. Aneh bagaimana? Keanehan tersebut bisa terjadi dalam bentuk masalah hidup yang sedang datang menerjang. Nah, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hidup-ini-memang-aneh-kok/">Hidup Ini Memang Aneh Kok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Orang Jawa memiliki falsafah hidup <em><strong>Ojo Kagetan, Ojo Gumunan, Ojo Dumeh</strong>. </em>Dalam bahasa Indonesia, ke tiga kata tersebut bermakna <em> jangan mudah kaget, jangan mudah heran, jangan mentang-mentang.</em></p>
<p>Ketiga hal tersebut penulis resapi sebagai suatu sikap untuk menghadapi &#8220;keanehan-keanehan&#8221; yang terjadi pada hidup kita. Aneh bagaimana?</p>
<p>Keanehan tersebut bisa terjadi dalam bentuk masalah hidup yang sedang datang menerjang. Nah, penulis akan mengambil falsafah tersebut untuk diterapkan dalam menyikapi suatu permasalahan.</p>
<h3><em>Ojo Kagetan</em></h3>
<p>Pertama, <strong><em>ojo kagetan</em></strong>. Masalah adalah hal yang sangat biasa terjadi pada kita. Jika sedang menghadapi masalah seunik apapun, tidak perlu kaget karena bisa jadi di masa depan kita akan mengalami masalah yang lebih aneh lagi.</p>
<p>Bisa jadi masalah yang sedang kita hadapi sebenarnya tidak seberapa. Mungkin kita saja yang memberikan efek drama sehingga kita harus merasa harus kaget dengan permasalahan yang terjadi.</p>
<p>Bukannya ingin menyepelekan masalah. Penulis yakin setiap orang memiliki skala permasalahannya masing-masing. Akan tetapi, penulis juga meyakini bahwa manusia tidak akan diuji melampaui batas kemampuannya.</p>
<p>Jadi, tidak perlu kaget ketika sedang menghadapi situasi yang cukup pelik. Kaget di awal adalah hal biasa, yang penting adalah tindakan kita selanjutnya dalam mencari solusi tanpa perlu diiringi kepanikan.</p>
<h3><em>Ojo Gumunan</em></h3>
<p>Lalu yang kedua, <strong><em>ojo gumunan</em></strong><em>. </em>Mungkin ketika merasa heran dengan sikap seseorang yang benar-benar menyebalkan dan membuat kita naik pitam. Mungkin kita akan berpikir &#8220;kok bisa ada manusia seperti dia?&#8221;.</p>
<p>Keheranan yang muncul tersebut bisa diredam dengan percaya bahwa manusia diciptakan dengan keunikannya masing-masing. Mungkin saja orang tersebut memang cukup antik hingga susah untuk dipahami oleh orang lain.</p>
<p>Mungkin juga bentuk keheranan tersebut adalah &#8220;kok bisa sih aku dapat musibah seperti ini?&#8221;. Artinya, kita dianggap mampu untuk menghadapi jenis musibah seperti itu.</p>
<p>Hidup kita akan selalu diwarnai dengan beragam peristiwa yang begitu berwarna-warni, kita juga akan bertemu orang-orang yang beraneka rupa. Tak perlu heran ketika sudah waktunya untuk bertemu dengan mereka.</p>
<h3><em>Ojo Dumeh</em></h3>
<p>Yang terakhir, <em><strong>ojo dumeh</strong></em>. Jangan mentang-mentang kita merasa tidak seburuk orang lain, lantas kita menganggap derajat kita lebih tinggi dari mereka.</p>
<p>Jangan mentang-mentang kita bisa mengatasi masalah, lantas kita menyepelekan keluhan orang lain yang sedang cerita permasalahan yang sedang dihadapinya.</p>
<p>Kurang lebih penulis menerjemahkan kata <em>ojo dumeh </em>seperti itu. Jangan pernah <a href="http://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/">merasa lebih baik</a> dari orang lain, jangan pernah merasa lebih hebat dari orang lain.</p>
<p>Jika kita mampu menghadapi masalah kita, jangan jadikan itu sebagai bahan untuk menyombongkan diri. Bagikanlah pengalaman untuk membantu orang lain mengatasi permasalahannya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Hidup ini memang aneh kok. Ada saja permasalahan yang tiba-tiba muncul tanpa memberikan aba-aba. Kita dipaksa untuk siap dalam menghadapi permasalahan tersebut.</p>
<p>Menurut penulis, salah satu kunci untuk bisa menghadapi permasalahan tersebut ya dengan menerapkan <em><strong>ojo kagetan</strong>, <strong>ojo gumunan</strong>, dan <strong>ojo dumeh</strong></em>.</p>
<p>Penulis sendiri masih belajar untuk menerapkannya di kehidupan penulis. Beberapa kali penulis merasa bisa lebih tenang dan bijak dalam menyikapi permasalahan ketika teringat bahwa hidup yang sedang kita jalani ini memang penuh keanehan.</p>
<p>Tidak mudah, tapi bisa dilakukan jika diiringi dengan keyakinan yang teguh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 13 Maret 2019, sudah terinspirasi sejak lama ketika chat dengan Angela, namun baru sempat ditulis sekarang</p>
<p>Sumber Foto:</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hidup-ini-memang-aneh-kok/">Hidup Ini Memang Aneh Kok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hidup-ini-memang-aneh-kok/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Udah, Gitu Aja?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/udah-gitu-aja/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/udah-gitu-aja/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Jan 2019 16:48:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[fokus]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[panik]]></category>
		<category><![CDATA[solusi]]></category>
		<category><![CDATA[tenang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2099</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis termasuk tipe orang yang tertutup. Hanya kepada orang-orang tertentu saja penulis kerap berbagi cerita walaupun juga tak terlalu sering. Semenjak menulis blog ini, penulis juga belajar untuk lebih terbuka melalui tulisan-tulisannya. Pertanyaan Balik yang Mencerahkan Salah satu di antara sedikitnya orang-orang tersebut adalah, tentu saja, orang tua penulis. Apalagi semenjak penulis bekerja di ibu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/udah-gitu-aja/">Udah, Gitu Aja?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis termasuk tipe orang yang tertutup. Hanya kepada orang-orang tertentu saja penulis kerap berbagi cerita walaupun juga tak terlalu sering. Semenjak menulis blog ini, penulis juga belajar untuk lebih terbuka melalui tulisan-tulisannya.</p>
<h3>Pertanyaan Balik yang Mencerahkan</h3>
<p>Salah satu di antara sedikitnya orang-orang tersebut adalah, tentu saja, orang tua penulis. Apalagi semenjak penulis bekerja di ibu kota, tentu saja penulis sering bercerita bagaimana kehidupan dan kerja penulis di sini.</p>
<p><div id="attachment_2101" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2101" class="size-large wp-image-2101" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1516055619834-586f8c75d1de-1024x683.jpg" alt="" width="800" height="534" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1516055619834-586f8c75d1de-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1516055619834-586f8c75d1de-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1516055619834-586f8c75d1de-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1516055619834-586f8c75d1de.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2101" class="wp-caption-text">Telepon Orang Tua (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@hazardos">Hassan OUAJBIR</a>)</p></div></p>
<p>Yang namanya merantau ke kota orang tentu ada saja permasalahan yang muncul. Ketika masalah tersebut muncul, terbit keinginan untuk berbicara kepada orang tua agar hati terasa lebih tenang.</p>
<p>Pernah ketika pulang kantor, penulis menelepon ayah untuk mendiskusikan masalah yang sedang dihadapi. Masalah tersebut penulis anggap cukup berat dan susah dicari jalan keluarnya.</p>
<p>Setelah berbicara panjang lebar, ayah penulis hanya bertanya balik:</p>
<blockquote><p>Udah, gitu aja?</p></blockquote>
<p>Begitu mendengar pertanyaan tersebut, secara otomatis penulis langsung berpikir &#8220;iya juga ya, cuma gitu aja masalahnya&#8221;. Penulis pun hanya tertawa hambar karena merasa tercerahkan.</p>
<h3>Fokus Pada Solusi</h3>
<p>Memang, tidak semua masalah yang kita hadapi termasuk kategori &#8220;udah, gitu aja&#8221;. Akan tetapi, dari pertanyaan ayah tersebut penulis mengambil kesimpulan, bahwa masalah apapaun yang kita hadapi, jangan pernah dibesar-besarkan dan berfokus pada penyelesaian.</p>
<p><div id="attachment_2100" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2100" class="size-large wp-image-2100" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1453728013993-6d66e9c9123a-1024x683.jpg" alt="" width="800" height="534" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1453728013993-6d66e9c9123a-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1453728013993-6d66e9c9123a-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1453728013993-6d66e9c9123a-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1453728013993-6d66e9c9123a.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2100" class="wp-caption-text">Fokus Pada Solusi (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@pawelskor">Paul Skorupskas</a>)</p></div></p>
<p>Penulis adalah orang yang mudah panik, sehingga sangat jarang bisa menyikapi suatu permasalahan dengan tenang. Menyadari kekurangan tersebut, tentu harus ada solusinya. Salah satunya, ya jangan mudah panik ketika menghadapi masalah.</p>
<p>Beberapa tahun terakhir ini, penulis berusaha menerapkan prinsip hidup <strong>fokus kepada solusi</strong>. Jadi, ketika kita sudah tahu masalah apa yang sedang dihadapi, jangan <em>mbulet </em>dengan masalahnya. Bukannya mencari solusi, kita malah sibuk mendebat permasalahannya.</p>
<p><em>Wah kok bisa muncul masalah gini sih, wah seharusnya enggak boleh ada masalah kayak gini, wah ini gara-gara dia sampai timbul masalah berat</em>.</p>
<p>Begitu menghadapi masalah, seharusnya kita langsung fokus pada apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki keadaan. Memang, yang namanya manusia biasa pasti merasa <em>down</em>-nya ketika berjumpa dengan masalah. Itu wajar, selama tak berlebihan.</p>
<p>Ketika sudah menemukan solusi, kita curahkan perhatian dan tenaga untuk melaksanakan solusi tersebut. Bagaimana jika ternyata solusi tersebut tidak berhasil? Ya coba cari solusi lain yang belum dicoba. Terus begitu hingga kita benar-benar menemukan caranya.</p>
<p><em>Tapi kan ada masalah yang begitu berat hingga tidak bisa ditemukan solusinya? </em></p>
<p>Penulis <em>sih </em>meyakini janji Tuhan, bahwa Ia tidak akan memberikan ujian yang melebihi kemampuan makhluk-Nya. Berbekal keyakinan tersebut, penulis percaya akan selalu ada jalan keluar dari setiap permasalahan yang ada.</p>
<h3>Memanfaatkan &#8220;Udah Gitu Aja&#8221;</h3>
<p>Sekali lagi, tidak semua permasalahan bisa dijawab dengan &#8220;udah, gitu aja?&#8221;. Ada beberapa permasalahan yang tidak bisa disepelekan, walaupun tetap harus segera dicarikan solusi terbaiknya dengan ketenangan.</p>
<p>Pertanyaan &#8220;udah gitu aja&#8221; bisa digunakan sebagai rem ketika kita mulai membesar-besarkan masalah yang sebenarnya tidak terlalu besar. Ketika pikiran mulai merumitkan diri, coba urai permasalahannya hingga kita bisa melontarkan pertanyaan tersebut kepada diri sendiri.</p>
<p>Ambil analogi bermain rubik. Ketika melihat posisi tiap kotaknya yang berantakan, mungkin kita akan mengeluh dan merasa tidak tahu harus berbuat apa agar warnanya menjadi teratur dan seragam di tiap sisinya.</p>
<p>Namun, begitu melihat tutorialnya di internet, mungkin kita akan berujar &#8220;oh, udah gitu aja?&#8221;. Ketika kita bisa bertanya seperti itu, tandanya kita sudah lebih tenang dan bisa berfokus kepada penyelesaian masalah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 Januari 2019, terinspirasi setelah bercerita tentang suatu permasalahan kepada ayah penulis.</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@olav_ahrens">Olav Ahrens Røtne</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/udah-gitu-aja/">Udah, Gitu Aja?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/udah-gitu-aja/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
