<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>review Archives - whathefan</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/review/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/review/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Apr 2026 13:54:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/02/logo-kotak-whathefan-2026-v3-80x80.jpg</url>
	<title>review Archives - whathefan</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/review/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Apr 2026 13:54:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Mel Robbins]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8598</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada bulan November tahun lalu, Penulis mendengar istilah &#8220;The Let Them Theory&#8221; untuk pertama kali dari seorang teman. Saat itu, kami memang sedang mendiskusikan tentang melepaskan kemelekatan. Nah, lantas pada waktu ke Gramedia pada bulan Februari tahun ini, Penulis menemukan buku berjudul The Let Them Theory karya Mel Robbins. Waktu itu, Penulis belum tahu kalau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/">[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada bulan November tahun lalu, Penulis mendengar istilah &#8220;The Let Them Theory&#8221; untuk pertama kali dari seorang teman. Saat itu, kami memang sedang mendiskusikan tentang melepaskan kemelekatan.</p>



<p>Nah, lantas pada waktu ke Gramedia pada bulan Februari tahun ini, Penulis menemukan buku berjudul <em>The Let Them Theory </em>karya Mel Robbins. Waktu itu, Penulis belum tahu kalau istilah tersebut ternyata merupakan judul buku.</p>



<p>Karena penasaran dengan isinya (dan merasa butuh belajar melepaskan juga), Penulis akhirnya memutuskan untuk membelinya. Alhasil, buku ini berhasil Penulis tamatkan dalam waktu yang relatif singkat.</p>



<p><em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Disclaimer: Saat menulis artikel ini, Penulis menyadari ada isu plagiarisme yang ditujukan ke buku ini. Walau begitu, tulisan ini hanya akan fokus membahas isi buku ini.</mark></em></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner.jpg 1280w " alt="Untuk Apa Main Game?" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-main-game/">Untuk Apa Main Game?</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku The Let Them Theory</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>The Let Them Theory</em></li>



<li>Penulis: Mel Robbins dan Sawyer Robbins</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-3</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2026</li>



<li>Tebal: 328 halaman</li>



<li>ISBN: 625221049</li>



<li>Harga: Rp119.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku The Let Them Theory</h2>



<p>Inti dari buku <em>The Let Them Theory</em> sebenarnya sangat stoik, yakni tentang bagaimana kita fokus tentang diri kita sendiri dan menaruh &#8220;kekuasaan&#8221; kepada diri sendiri.</p>



<p>Selama ini, jangan-jangan kita menaruh &#8220;kekuasaan&#8221; tersebut ke orang lain, sehingga kehidupan kita pun jadi terpengaruh oleh orang lain. Buku ini pun menjadi pengingat kalau kita harus kembali merebut kendali atas kehidupan kita sendiri.</p>



<p>Meskipun judulnya <strong>&#8220;Let Them&#8221;</strong> atau<strong> &#8220;Biarkan Mereka&#8221;</strong>, sebenarnya ada satu lagi bagian yang akan dibahas hampir di setiap babnya, yakni <strong>&#8220;Let Me&#8221;</strong> atau <strong>&#8220;Biarkan Aku&#8221;</strong>.</p>



<p>Jadi, selain &#8220;Biarkan Mereka&#8221; yang sifatnya eksternal, kita juga akan belajar tentang &#8220;Biarkan Aku&#8221; yang berfokus pada apa yang bisa kita lakukan. Kalau dua hal tersebut bisa kita terapkan dalam keseharian, buku ini menjanjikan kehidupan yang lebih tenang.</p>



<p>Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yakni <strong>Teori Biarkan Saja</strong>, <strong>Kau dan Teori Biarkan Saja</strong>, dan <strong>Hubunganmu dan Teori Biarkan Saja</strong>. Setiap bagian akan memiliki beberapa bab dan sub-bab.</p>



<p>Teori Biarkan Saja akan memaparkan dasar-dasar teori yang akan dibahas secara berulang sepanjang buku ini. Nah, di bagian selanjutnya, kita akan melihat bagaimana menerapkan teori tersebut ke diri kita sendiri.</p>



<p>Ada empat bab utama di bagian ini, yakni <strong>Mengelola Stres</strong>,<strong> Takut akan Pendapat Orang Lain</strong>, <strong>Menghadapi Reaksi Emosianal Orang Lain</strong>, dan <strong>Mengatasi Perbandingan Kronis</strong>.</p>



<p>Bagian terakhir adalah tentang bagaimana menerapkan teori ini dalam konteks berhadapan dengan orang lain, entah itu keluarga, teman, pasangan, maupun orang asing yang menyebalkan.</p>



<p>Bagian ini juga ada empat bab, yakni <strong>Memahami Pertemanan Orang Dewasa</strong>, <strong>Memotivasi Orang Lain untuk Berubah</strong>, <strong>Membantu Orang Lain yang Sedang Mengalami Kesulitan</strong>, dan<strong> Memilih Cinta yang Layak Kau Dapatkan</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The Let Them Theory</h2>



<p><em>The Let Them Theory </em>adalah bacaan yang ringan, sehingga cocok untuk dibaca pembaca pemula yang kerap <em>overthinking </em>seperti Penulis. Isinya sendiri sebenarnya menurut Penulis hanya &#8220;varian&#8221; dari konsep <a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Dikotomi Kendali dari stoikisme.</a></p>



<p>Hanya saja, Penulis terkadang merasa bisa mendapatkan <strong>buku yang tepat di waktu yang tepat</strong>. Nah, buku ini termasuk salah satunya. Penulis membaca buku ini di saat yang tepat, sehingga isinya pun bisa <em>related</em> dengan dirinya.</p>



<p>Selama membaca, Penulis jadi sering berpikir, &#8220;Iya, ya?&#8221; ke dirinya sendiri. Mungkin Penulis sebenarnya sudah tahu akan hal tersebut dan buku ini hadir sebagai pengingat.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Perkara Menolong Orang Lain</h3>



<p>Salah satu bab paling menohok bagi Penulis adalah <strong>&#8220;Membantu Orang Lain yang Sedang Mengalami Kesulitan&#8221;</strong>. Karena trauma masa kecil, Penulis cenderung <em>extra effort</em> untuk orang lain, terutama yang meminta bantuan ke Penulis.</p>



<p>Jadi, misal dimintai tolong sesuatu, Penulis akan memberikan lebih dari yang diminta. Tak jarang hal ini justru menimbulkan rasa risih dari orang yang meminta tolong.</p>



<p>Kasus yang sama juga terjadi jika ada orang yang cerita masalahnya. Penulis sering <em>overthinking </em>bagaimana jika orang tersebut tidak bisa menyelesaikan masalahnya tersebut, sehingga Penulis berinisiatif untuk melakukan sesuatu (yang juga bisa menimbulkan perasaan risih).</p>



<p>Setelah membaca buku ini, Penulis jadi sadar kalau orang ada masalah, ya sudah, <strong>biarkan saja mereka melewati masalahnya</strong>. Jika memang butuh bantuan, mereka akan bilang. Tidak perlu melakukannya secara berlebihan, sewajarnya saja.</p>



<p>Tak hanya dalam hal menolong, menasehati pun juga menjadi hal yang dibahas di buku ini. Tentu kalau kita merasa perlu menasehati tidak masalah, tapi jangan berharap kalau orang tersebut akan langsung berubah begitu mendengar nasehat kita.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Fokus ke Diri Sendiri</h3>



<p>Hal lain yang Penulis berusaha terapkan setelah membaca buku ini adalah bagaimana <strong>Penulis berusaha meletakkan fokus hidupnya ke diri sendiri</strong>, bukan ke orang lain. Penulis merasa dirinya selama ini terlalu berorientasi ke orang lain</p>



<p>Misal, jika Penulis ingin menolong orang lain, ya karena Penulis ingin, bukan karena berharap orang tersebut akan ini itu di masa depan. Jika ingin melakukan sesuatu, ya karena kita ingin, bukan karena orang lain.</p>



<p><a href="https://whathefan.com/pengalaman/whathefan-punya-logo-baru-di-tahun-2026-ini/">Perubahan logo whatheFAN</a> pun terinspirasi setelah membaca buku ini. Penulis ingin blog ini tetap jadi wadah tulisan apa yang ingin Penulis tulis, bukan apa yang Penulis pikir akan dibaca oleh orang lain.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Perkara Perbandingan Kronis</h3>



<p>Bab lain yang sangat masuk ke Penulis adalah bagian <strong>&#8220;Mengatasi Perbandingan Kronis&#8221;</strong>. Penulis yang pada dasarnya punya <em>low esteem</em> kerap membandingkan hidupnya dengan orang lain yang dianggap lebih hebat.</p>



<p>Penulis sering merasa kalau &#8220;kemenangan&#8221; orang lain berarti &#8220;kekalahan&#8221; kita. Padahal, itu kesimpulan yang salah karena &#8220;kemenangan&#8221; orang lain ya &#8220;kemenangan&#8221; mereka, tidak berpengaruh apa-apa ke kita, tidak menjadikan kita &#8220;kalah&#8221;.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kekurangan Buku Ini</h3>



<p>Hanya saja, tentu buku ini jauh dari sempurna. Sama seperti kebanyakan buku <em>self-help </em>yang merasa punya satu teori hebat, <strong>buku ini juga cenderung repetitif</strong>. Setelah membaca beberapa bab, maka kita akan merasa isinya &#8220;ini lagi ini lagi&#8221;.</p>



<p>Selain itu,<strong> isu plagiarisme buku ini memang cukup kencang terdengar</strong>. Memang bisa jadi benar kalau Mel Robbins terinspirasi dari buku tersebut, lalu mengklaim itu jadi miliknya. Namun, hal tersebut rasanya akan sulit untuk dibuktikan.</p>



<p>Sebenarnya buku ini juga mencantumkan daftar pustaka yang cukup panjang, serta ada juga wawancara dengan pakar. Jadi, semisal memang benar Robbins terinspirasi dari orang lain, ia tetap melakukan riset untuk memperdalam teori tersebut.</p>



<p>Walau mengandung kata &#8220;teori&#8221; di judulnya, sebenarnya tidak ada teori rumit di dalamnya. Buku ini ya buku motivasi pada umumnya, bahkan kalau boleh kritik, buku ini malah <strong>memperumit &#8220;teori&#8221; sederhana yang ingin dijelaskan</strong>.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Bagi Penulis, <em>The Let Them Theory </em>adalah buku yang menyenangkan untuk dibaca. Walau rasanya tak semua orang akan cocok dengan buku ini, Penulis merasa mendapatkan &#8220;pencerahan&#8221; ketika membaca isinya.</p>



<p>Buku ini menjadi pengingat kalau kita tidak boleh meletakkan kendali hidup kita orang lain. Kita yang harus bertanggung jawab atas diri kita sendiri, atas kebahagiaan kita sendiri, atas <em>mood </em>kita sendiri, dan lain sebagainya.</p>



<p>Sebaliknya, buku ini juga mengingatkan kalau kita tidak punya kendali atas hidup orang lain, jadi jangan berusaha untuk mengendalikannya. Sekali lagi, hanya diri kitalah yang benar-benar berada di bawah kendali kita.</p>



<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor:<strong> 8/10</strong></mark></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 10 April 2026, terinspirasi setelah membaca <em>The Let Them Theory</em> karya Mel Robbins</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/">[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2026 12:57:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Keigo Higashino]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8591</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa tulisan ke depan, Penulis akan cukup sering mengulas novel-novel dari Keigo Higashino, karena memang sedang suka (lagi) membaca novel-novel detektif. Sebelumnya, Penulis sudah pernah mengulas The Devotion of Suspect X dan A Midsummer’s Equation, di mana pendapat Penulis bisa dibilang cukup berbeda di antara keduanya. Penulis sangat suka The Devotion of Suspect X, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/">[REVIEW] Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa tulisan ke depan, Penulis akan cukup sering mengulas novel-novel dari <strong>Keigo Higashino</strong>, karena memang sedang suka (lagi) membaca novel-novel detektif. </p>



<p>Sebelumnya, Penulis sudah pernah mengulas <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/"><em>The Devotion of Suspect X</em></a> dan <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/"><em>A Midsummer’s Equation</em></a>, di mana pendapat Penulis bisa dibilang cukup berbeda di antara keduanya. </p>



<p>Penulis sangat suka The Devotion of Suspect X, tapi kurang puas dengan A Midsummer’s Equation, bahkan sempat berpikir untuk tidak lanjut membaca buku-buku Keigo.</p>



<p>Namun, Penulis memutuskan untuk berubah pikiran dan akhirnya membeli novel ketiga yang berjudul <em><strong>Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</strong></em>. Tokoh utama di novel ini bukan Profesor Yukawa, tapi Detektif Kaga!</p>



<p class="has-text-align-center"><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner.jpg 1200w " alt="Musim Baru, Pemain Baru, MU-nya Masih Sama" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/musim-baru-pemain-baru-mu-nya-masih-sama/">Musim Baru, Pemain Baru, MU-nya Masih Sama</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Malice</em> <em>&#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</em></li>



<li>Penulis: Keigo Higashino</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-14</li>



<li>Tanggal Terbit: Mei 2025</li>



<li>Tebal: 224 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020639321</li>



<li>Harga: Rp99.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</h2>



<p>Pada kasus kali ini, seorang penulis novel bernama <strong>Hidaka Kunihiko</strong> ditemukan tewas di rumahnya yang terkunci, tepatnya di ruang kerjanya yang juga terkunci. Padahal, ia akan pindah dari Jepang ke Kanada keesokan harinya. </p>



<p>Mayatnya ditemukan oleh istri dan sahabatnya yang bernama <strong>Nonoguchi Osamu</strong>, tapi keduanya memiliki alibi yang kuat. <strong>Detektif Kaga Kyoichiro</strong> sendiri menaruh curiga kepada Osamu dan penyelidikan pun dimulai.</p>



<p>Nah, jika Profesor Yukawa lebih mirip Hercule Poirot, maka Detektif Kaga ini lebih mirip dengan Sherlock Holmes. Bagaikan anjing pelacak, ia akan menelusuri setiap sudut untuk menemukan fakta yang akan terlewatkan mayoritas orang.</p>



<p>Selain itu, Detektif Kaga juga sangat peduli terhadap detail kecil sekalipun. Bayangkan saja, kondisi jari orang bisa menjadi petunjuk penting untuk menemukan siapa pelaku pembunuhan.</p>



<p>Satu hal yang menarik begitu membaca novel ini adalah <strong><em>angle</em>-nya yang dibuat seperti sebuah catatan tertulis</strong>. Namun, penulisnya berbeda-beda, terkadang Osamu sebagai sahabat korban, kadang catatan Detektif Kaga.</p>



<p>Novel ini mengingatkan Penulis akan novel Agatha Christie yang berjudul <em>The Murder of Roger Ackroyd</em>. Di novel tersebut, tokoh &#8220;aku&#8221; yang menulis novel tersebut ternyata terungkap menjadi pembunuhnya. Nah, formula tersebut sedikit mirip di sini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</h2>



<p>Berbeda dengan <em>The Devotion of Suspect X </em>yang pembunuhnya jelas-jelas ketahuan sejak awal atau <em>A Midsummer’s Equation</em> yang benar-benar gelap di awal cerita, novel ini mengambil jalan tengah (walau memang condong mengikuti formula <em>The Devotion of Suspect X </em>).</p>



<p>Kecurigaan memang langsung menuju ke Osamu, tapi untuk membuktikan ia pelakunya tidak langsung dijelaskan. Ia bahkan memiliki alibi yang menunjukkan bahwa dirinya bukan pelaku pembunuhan, setidaknya di 1/3 awal buku.</p>



<p>Nah, hal paling seru di novel ini adalah bagaimana kita bisa <strong>melihat ada banyak <em>reverse psychology </em>di sini</strong>, di mana awalnya kita dibuat berpikir A, lalu ternyata kenyataannya adalah B, tapi ternyata itu adalah trik untuk menutupi kenyataan C, dan seterusnya.</p>



<p>Ketika membaca penjelasan bagian ini, Penulis harus mengakui bahwa hal tersebut ditulis dengan cerdas oleh Keigo. Penulis yang awalnya sudah terbawa arus pun dibuat terkejut ketika kenyataannya terbongkar.</p>



<p>Karena hal tersebut adalah hal paling seru di novel ini, maka Penulis tidak akan menceritakan detailnya. Intinya, jangan mudah percaya dengan apa yang dibaca, teruslah curiga dan amati setiap detail terkecil!</p>



<p>Mungkin salah satu hal yang paling melelahkan dari novel ini adalah bagian interogasi di 1/3 akhir novel, di mana <strong>ada banyak sekali catatan interogasi terhadap banyak narasumber</strong>. Bagi sebagian orang, mungkin bagian ini bisa terasa <em>overwhelming</em>.</p>



<p>Walau begitu, Penulis bisa memahami bahwa hal tersebut memang harus dilakukan oleh Detektif Kaga untuk menemukan motif pelaku, yang ternyata memang berakar dari masa lalunya. Motif masa lalu itulah yang ingin ditutupi oleh sang pelaku.</p>



<p>Yang jelas, ada satu pesan penting yang ingin disampaikan Keigo: <em><strong>stop bullying</strong></em>. Lho, apa hubungan kematian seorang novelis dengan kasus perundungan? Jawabannya akan ketemu jika Pembaca membaca novel ini.</p>



<p>Kesimpulannya, <em>Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</em> mengulang formula D<em>evotion of Mr. X </em>yang pelakunya ketahuan secara cepat. Kedua novel tersebut bukan tentang siapa pelakunya, bukan tentang bagaimana cara melakukan pembunuhannya, tapi tentang <strong>mengapa melakukannya</strong>.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>SKOR: <strong>8/10</strong></p>
</blockquote>



<p>Penulis akhirnya memutuskan untuk terus membaca novel-novel Keigo, karena cerita misterinya yang cukup ringan cocok untuk Penulis. Novel selanjutnya yang Penulis pilih adalah <em><strong>Salvation of a Saint &#8211; Dosa Malaikat</strong>.</em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 14 Maret 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Malice</em> karya Keigo Higashino</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/">[REVIEW] Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-talking-to-my-daughter-about-the-economy/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-talking-to-my-daughter-about-the-economy/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Sep 2025 11:24:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Yanis Varoufakis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8379</guid>

					<description><![CDATA[<p>Waktu kelas 10 SMA, Ekonomi adalah salah satu mata pelajaran yang kurang Penulis sukai karena menganggapnya mbulet. Namun, ketika dewasa, Penulis menyadari bahwa memahami ilmu ekonomi (setidaknya dasarnya) ternyata sangat penting. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membaca atau menonton topik-topik ekonomi dan keuangan. Beberapa buku yang sudah Penulis baca adalah Ngomongin Uang, Why the [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-talking-to-my-daughter-about-the-economy/">[REVIEW] Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Waktu kelas 10 SMA, Ekonomi adalah salah satu mata pelajaran yang kurang Penulis sukai karena menganggapnya <em>mbulet</em>. Namun, ketika dewasa, Penulis menyadari bahwa memahami ilmu ekonomi (setidaknya dasarnya) ternyata sangat penting.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membaca atau menonton topik-topik ekonomi dan keuangan. Beberapa buku yang sudah Penulis baca adalah <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ngomongin-uang/"><em>Ngomongin Uang</em></a>, <a href="https://whathefan.com/buku/pendidikan-keuangan-pada-why-the-rich-are-getting-richer/"><em>Why the Rich are Getting Richer</em></a>, dan <em><a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-psychology-of-money/">The Pschology of Money</a></em>.</p>



<p>Nah, bisa dibilang judul-judul di atas lebih membicarakan tentang keuangan, bukan tentang ekonomi secara fundamental. Itulah alasan utama Penulis membeli buku <em><strong>Talking to My Daughter about the Economy </strong></em>karya <strong>Yanis Varoufakis</strong>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/akhirnya-buka-puasa-gelar-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/akhirnya-buka-puasa-gelar-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/akhirnya-buka-puasa-gelar-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/akhirnya-buka-puasa-gelar-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/akhirnya-buka-puasa-gelar-banner.jpg 1280w " alt="Akhirnya Buka Puasa (Gelar)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/akhirnya-buka-puasa-gelar/">Akhirnya Buka Puasa (Gelar)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Talking to My Daughter about the Economy</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Talking to My Daughter about the Economy</em></li>



<li>Penulis: Yanis Varoufakis</li>



<li>Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)</li>



<li>Cetakan: Ke-2</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2025</li>



<li>Tebal: 144 halaman</li>



<li>ISBN: 9786024818111</li>



<li>Harga: Rp80.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Talking to My Daughter about the Economy</h2>



<p><em>Kenapa ada begitu banyak ketimpangan? Dalam buku ringkas ini, Yanis Varoufakis menjawab pertanyaan anak perempuannya yang begitu sederhana tapi juga begitu menggusarkan itu. Dengan menggunakan analogi dari cerita-cerita klasik maupun populer—dari Oidipus, Frankenstein, hingga The Matrix, ia menjelaskan apa itu ekonomi dan kenapa ekonomi punya daya yang dahsyat dalam membentuk hidup kita. Ia juga mengajak kita untuk merebut kembali ekonomi dari tangan para ekonom yang menurutnya hampir selalu keliru. Sebab, ia yakin, semakin ilmiah model ekonomi kita, semakin lemah relasinya dengan ekonomi nyata.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Talking to My Daughter about the Economy</h2>



<p>Meskipun judulnya &#8220;<em>about the economy</em>&#8220;, sebenarnya buku ini berfokus pada memaparkan sejarah singkat kapitalisme. Jadi, kita tidak akan menemukan bentuk ideologi ekonomi lainnya, seperti sosialisme misalnya.</p>



<p>Buku ini sendiri memiliki 8 bab utama yang saling terkait, di mana setiap akhir bab biasanya akan memberi <em>tease </em>terkait apa yang akan dibahas di bab selanjutnya (mirip dengan formula di buku <em>The Psychology of Money</em>). Delapan bab yang ada dibuku ini adalah:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Mengapa Begitu Banyak Ketimpangan</li>



<li>Lahirnya Masyarakat Pasar</li>



<li>Perkawinan antara Uang dan Laba</li>



<li>Ilmu Hitam Perbankan</li>



<li>Dua Pasar dengan Kompleks Oidipus</li>



<li>Hantu Mesin</li>



<li>Fantasi Berbahaya Uang Apolitis</li>



<li>Virus Bodoh?</li>
</ol>



<p>Kita akan diberi sejarah singkat bagaimana ekonomi dunia saat ini bisa seperti sekarang yang kita kenal, di mana kapitalisme bisa begitu dominan. Semua dijabarkan secara runtun, bahkan ditarik hingga masa Revolusi Pertanian sekitar 10 ribu tahun lalu.</p>



<p>Siapa yang menyangka kalau Revolusi Pertanian menciptakan sesuatu yang disebut sebagai &#8220;Pasar&#8221; alias konsumen karena menimbulkan surplus pangan. Ini berbeda ketika manusia masih berburu, di mana kita tidak menyimpan stok makanan karena daging cepat membusuk.                                  </p>



<p>Perubahan sistem ekonomi di sejarah peradaban manusia juga terjadi akibat adanya invasi yang dilakukan oleh bangsa Eropa. Mengapa bangsa Eropa yang menjajah Australia atau wilayah lain, bukan sebaliknya? Hal tersebut juga dibahas di buku ini secara singkat.</p>



<p>Nah, invasi yang dilakukan bangsa Eropa juga terjadi karena mereka ingin menjual produk yang mereka hasilkan, apalagi setelah terjadi Revolusi Industri yang membuat produksi barang meningkat berkali-kali lipat. </p>



<p>Dalam Revolusi Industri, pengusaha tentu butuh modal. Nah, maka muncullah pemodal yang bisa meminjamkan uang, yang pada akhirnya menjadi cikal bakal sistem perbankan. Setelah produksi, tentu pengusaha membutuhkan pembeli agar bisa balik modal dan bayar hutang ke bank.</p>



<p>Semakin cepat proses produksi gara-gara Revolusi Industri, maka barang yang dihasilkan semakin banyak. Namun, pasar atau konsumen di negara sendiri tentu terbatas. Itulah kenapa bangsa Eropa   berdagang dengan bangsa lain, terkadang dengan memaksa. </p>



<p>Nah, pembahasan sejarah kapitalisme di buku ini pun sampai ke era modern, bagaimana seiring berjalannya waktu sistem perekonomian yang kita miliki semakin rumit. Buku ini bahkan sempat menyinggung Bitcoin juga.</p>



<p>Dengan tebal tidak sampai 150 halaman, buku ini mampu memberikan sudut pandang yang menarik tentang ekonomi dan membuat kita sadar bahwa sistem yang kita gunakan saat ini ternyata berakar dari kemajuan kita sendiri, terkadang secara mengerikan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy</h2>



<p>Memiliki tema ekonomi yang kerap terasa intimidatif dan mengerikan, buku ini justru memiliki gaya bahasa yang menarik. Pasalnya, penulis buku ini memosisikan diri sedang bercerita atau mengobrol dengan anak perempuannya, sehingga terasa dekat dan ringan.</p>



<p>Ekonomi terkenal karena memiliki banyak sekali istilah yang membingungkan orang awam. Nah, di buku ini, sangat jarang ditemukan istilah-istilah yang membuat kita berpikir keras. Benar-benar penjelasannya dibuat sesederhana mungkin.</p>



<p>Tak hanya itu, hal menarik lainnya tentang gaya penyampaian buku ini adalah bagaimana setiap bab selalu dikaitkan dengan hal-hal berbau <em>pop culture </em>atau mitologi sebagai analogi, sehingga kita sebagai pembaca bisa lebih membayangkan apa yang sedang dibahas.</p>



<p>Selain itu, dengan pendekatan sejarah, tentu buku ini berhasil menarik minat Penulis yang kebetulan juga penggemar sejarah. Apalagi, banyak analogi di buku ini yang menggunakan peristiwa asli, seperti ketika menceritakan tentang pasar rokok di <em>camp </em>tawanan.</p>



<p>Ada juga kritik yang bisa ditemukan di buku ini, seperti bagaimana kemajuan teknologi justru bisa berujung <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/">diperbudaknya manusia oleh ciptaannya sendiri</a>. Dalam konteks ekonomi, kita bisa melihat sendiri bagaimana banyak manusia yang kini diperbudak oleh uang.</p>



<p>Dengan demikian, buku ini bisa dikatakan berhasil &#8220;membumikan&#8221; penjelasan ekonomi sehingga mudah dipahami. Menurut Penulis, buku ini cocok untuk pembaca muda yang ingin memahami mengapa sistem ekonomi berjalan seperti yang kita ketahui.</p>



<p>Namun, kelebihan tersebut juga bisa menjadi faktor kekurangan dari buku ini, alias isi buku ini tidak terlalu dalam. Buat orang yang sudah memahami dunia ekonomi, buku ini mungkin akan terasa seperti &#8220;remah-remah&#8221; saja.</p>



<p>Buku ini memang lebih cocok untuk dijadikan sekadar pengantar ke dunia ekonomi, bukan sebagai referensi ekonomi. Hanya sedikit pembahasan yang menawarkan solusi konkrit untuk sebuah permasalahan, padahal ia pernah menjadi Menteri Keuangan Yunani walau sebentar.</p>



<p></p>



<p>Terlepas dari itu semua, buku ini berhasil menjelaskan ekonomi, setidaknya sejarah kapitalisme, dengan mudah dan menyenangkan. Bahkan, menurut Penulis menjadi bacaan wajib anak-anak SMA agar memahami bagaimana dunia yang mereka huni bekerja.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 8/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 13 September 2025, terinpsirasi setelah membaca buku <em>Talking to My Daughter about the Economy </em>karya Yanis Varoufakis</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-talking-to-my-daughter-about-the-economy/">[REVIEW] Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-talking-to-my-daughter-about-the-economy/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Sang Alkemis</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-sang-alkemis/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-sang-alkemis/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Apr 2025 16:32:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Paolo Coelho]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8213</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada suatu saat, ada seorang teman yang bertanya apakah Penulis pernah membaca novel The Alchemist (atau Sang Alkemis dalam bahasa Indonesia) karya Paolo Coelho. Meskipun sering melihat buku tersebut di toko buku, Penulis tidak pernah kepikiran untuk membelinya. Nah, di awal bulan Februari kemarin ketika Penulis ke Jakarta, Penulis jalan-jalan ke Pondok Indah Mall (PIM) [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-sang-alkemis/">[REVIEW] Setelah Membaca Sang Alkemis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada suatu saat, ada seorang teman yang bertanya apakah Penulis pernah membaca novel <em><strong>The Alchemist</strong> </em>(atau <em><strong>Sang Alkemis </strong></em>dalam bahasa Indonesia) karya<strong> Paolo Coelho</strong>. Meskipun sering melihat buku tersebut di toko buku, Penulis tidak pernah kepikiran untuk membelinya.</p>



<p>Nah, di awal bulan Februari kemarin ketika Penulis ke Jakarta, Penulis jalan-jalan ke Pondok Indah Mall (PIM) selepas kerja, karena tempat tersebut memang sering Penulis kunjungi untuk sekadar &#8220;cuci mata&#8221;. Tentu, salah satu destinasinya adalah Gramedia PIM.</p>



<p>Entah ada dorongan apa, Penulis akhirnya memutuskan untuk membeli novel <em>Sang Alkemis </em>saat itu bersama dengan komik <em>Spy X Family vol. 13</em>. Siapa sangka, novel tipis ini langsung menjadi salah satu favorit Penulis dan tandas dalam waktu singkat! </p>



<p>Sebelum lanjut, <strong><em>spoiler alert</em>!</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner.jpg 1200w " alt="Kado Manis untuk Kroos, Kado Pahit untuk Reus" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/kado-manis-untuk-kroos-kado-pahit-untuk-reus/">Kado Manis untuk Kroos, Kado Pahit untuk Reus</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Sang Alkemis</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Sang Alkemis (The Alchemist)</em></li>



<li>Penulis: Paolo Coelho</li>



<li>Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-48</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2025</li>



<li>Tebal: 224 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020656069</li>



<li>Harga: Rp69.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Sang Alkemis</h2>



<p><em>Setiap beberapa puluh tahun, muncul sebuah buku yang mengubah hidup para pembacanya selamanya. Novel Paulo Coelho yang memikat ini telah memberikan inspirasi bagi jutaan orang di seluruh dunia. Kisah yang sangat sederhana, namun menyimpan kebijaksanaan penuh makna, tentang anak gembala bernama Santiago yang berkelana dari rumahnya di Spanyol ke padang pasir Mesir untuk mencari harta karun terpendam di Piramida-Piramida. Di perjalanan dia bertemu seorang perempuan Gipsi, seorang lelaki yang mengaku dirinya Raja, dan seorang alkemis––semuanya menunjukkan jalan kepada Santiago untuk menuju harta karunnya. </em></p>



<p><em>Tak ada yang tahu isi harta karun itu, atau apakah Santiago akan berhasil mengatasi rintangan-rintangan sepanjang jalan. Namun perjalanan yang semula bertujuan untuk menemukan harta duniawi berubah menjadi penemuan harta di dalam diri. </em></p>



<p><em>Kaya, menggugah, dan sangat manusiawi, kisah Santiago menunjukkan kekuatan mimpi-mimpi dan pentingnya mendengarkan suara hati kita.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Sang Alkemis</h2>



<p>Sesuai dengan sinopsisnya, novel ini berfokus ke petualangan yang dialami oleh seorang gembala bernama Santiago, yang berasal dari Spanyol. Berdasarkan petunjuk dari seorang perempuan Gipsi, ia dituntun untuk mencari harta karun di Piramida Mesir.</p>



<p>Awalnya, ia tak menggubris omongan perempuan Gipsi tersebut. Namun, kemudian ia bertemu dengan seseorang yang mengaku sebagai &#8220;raja Salem&#8221;. Santiago pun akhirnya merasa yakin untuk mencoba berburu harta karun tersebut.</p>



<p>Santiago memutuskan untuk <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-sukses-harus-keluar-dari-zona-nyaman/">keluar dari zona nyamannya</a>, lantas menjual semua dombanya agar mendapatkan uang untuk modal berburu harta karun. Ia pun menyeberangi lautan yang memisahkan benua Eropa dan Afrika.</p>



<p>Naas, ia justru langsung ditipu dan harus kehilangan semua uangnya. Untuk bisa menyambung hidup, ia pun bekerja dengan penjual kristal dengan niat mengumpulkan uang agar bisa kembali ke Spanyol dan kembali menjadi seorang gembala.</p>



<p>Setelah beberapa bulan, uangnya mulai terkumpul. Apalagi, ia adalah anak muda yang memiliki banyak ide cemerlang. Pada satu titik, ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mencari harta karunnya dan mengurungkan niat untuk kembali ke Spanyol.</p>



<p>Lantas, ia pun menjadi rombongan yang melintasi gurun pasir, di mana ia bertemu dengan seorang Inggris yang sedang mencari &#8220;Sang Alkemis&#8221; karena ingin memiliki ilmu mengubah apa pun menjadi emas. </p>



<p>Mereka singgah di sebuah oasis, berlindung dari perang antarsuku yang sedang terjadi.  Di oasis tersebut, hidup sekelompok orang yang hidup dengan damai. Menariknya, di sini Santiago bertemu dengan wanita yang menarik perhatiannya, Fatima.</p>



<p>Tanpa disangka, justru Santiago yang bertemu dengan Sang Alkemis, yang memandunya untuk menemukan harta karun tersebut. Ketika akhirnya berhasil mencapai Piramida, ia sadar bahwa apa yang ia cari selama ini berada di tempat ketika ia memulai semuanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Sang Alkemis</h2>



<p>Penulis membaca novel ini tanpa ekspektasi apa pun, toh novel ini juga tipis sehingga <em>fine-fine </em>saja untuk dibaca di kala senggang. Namun, pada akhirnya Penulis justru tertarik masuk ke dalam ceritanya seolah Penulis ikut bertualang bersama Santiago.</p>



<p>Secara cerita, premis yang ditawarkan oleh <em>Sang Alkemis </em>sederhana saja dengan gaya bahasa yang terkadang puitis, tapi masih mudah dicerna. Namun, <strong>kisahnya penuh dengan makna dan banyak sekali kalimat yang <em>quotable</em></strong>. Ada beberapa yang Penulis sukai, seperti:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Kalau kau menaruh perhatian pada saat sekarang, kau bisa memperbaikinya. Dan kalau kau memperbaiki saat sekarang ini, apa yang akan datang juga akan lebih baik.</li>



<li>Orang-orang takut mengejar impian-impian mereka yang paling berharga, sebab mereka merasa tidak layak mendapatkannya, atau tidak tidak akan pernah bisa mewujudkannya.</li>



<li>Bahwa pada saat-saat paling gelap di malam hari adalah saat-saat menjelang fajar.</li>



<li>Hanya ada satu hal yang membuat orang tak bisa meraih impiannya: takut gagal.</li>



<li>Itulah yang dilakukan oleh para alkemis. Mereka menunjukkan bahwa kalau kita berusaha menjadi lebih baik, segala sesuatu di sekitar kita akan ikut menjadi lebih baik.  </li>
</ul>



<p>Inti cerita dari novel ini adalah <strong>perjalanan sama penting dengan tujuan</strong>. Hal ini digambarkan dengan baik dengan <em>loop </em>yang harus dialami oleh Santiago, di mana apa yang ia kejar selama ini ternyata berada tepat di bawah kakinya.</p>



<p>Bahkan, menurut Penulis sebenarnya ini adalah buku pengembangan diri berkedok novel. Beberapa contoh di <em>quote </em>di atas bahkan seolah datang yang tepat di saat Penulis membutuhkannya, sehingga begitu <em>memorable </em>di kepala.</p>



<p>Memang, rasanya novel ini kurang <em>related </em>di keseharian kita karena Santiago sering sekali bertemu dengan keberuntungan, walau ada beberapa momen dia juga tertimpa sial. Setidaknya, <em>mindset </em>positif yang ia miliki untuk bertahan hidup bisa coba kita terapkan dalam hidup ini.</p>



<p>Terlepas dari itu, satu hal menarik lainnya adalah bagaimana <strong>Santiago bertemu dengan banyak umat muslim sepanjang perjalanannya</strong>. Sangat jarang Penulis menemukan ini di novel terjemahan, tapi masuk akal karena Santiago melakukan perjalanan ke Piramida di Mesir.</p>



<p>Tak hanya itu, ia juga menemukan tambatan hatinya di kampung muslim. Namun, ini sedikit menimbulkan pertanyaan karena di awal cerita, ia memiliki perasaan kepada anak pemilik toko roti. Ini menimulkan kesan kalau si anak pemilik toko roti sama sekali tak memiliki peran signifikan dalam cerita.</p>



<p>Buku ini memang memiliki unsur supernatural, yang biasanya tidak Penulis sukai kecuali di novel<em> <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-keajaiban-toko-kelontong-namiya/">Keajaiban Toko Kelontong Namiya</a></em> dan seri <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/">Funiculi Funicula</a></em>. Namun, karena unsur tersebut hanya hadir sebagai bumbu pelengkap (seperti bahasa universal), Penulis tak terlalu mempermasalahkannya.</p>



<p>Secara keseluruhan, <em>Sang Alkemis </em>merupakan salah satu novel terbaik yang pernah Penulis baca. Gara-gara novel ini, Penulis jadi penasaran dengan novel Paolo Coelho yang lain. Apakah Pembaca ada rekomendasi?</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 9 April 2025, terinspirasi setelah membaca buku <em>Sang Alkemis</em> karya Paolo Coelho</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-sang-alkemis/">[REVIEW] Setelah Membaca Sang Alkemis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-sang-alkemis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Menonton Deadpool &#038; Wolverine</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-deadpool-wolverine/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-deadpool-wolverine/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Aug 2024 15:49:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[Deadpool]]></category>
		<category><![CDATA[Marvel]]></category>
		<category><![CDATA[MCU]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Wolverine]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7696</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada tahun 2024 ini, Marvel Studios hanya merilis satu film, yakni Deadpool &#38; Wolverine. Film ini juga menjadi film Deadpool (dan X-Men) pertama di Marvel Cinematic Universe (MCU) setelah Disney mengakuisisi 20th Century Fox. Seperti biasa, Penulis menonton film ini ketika premiere-nya pada hari Rabu, 24 Juli 2024. Namun, karena setelah menonton Penulis pergi ke [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-deadpool-wolverine/">[REVIEW] Setelah Menonton Deadpool &amp; Wolverine</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada tahun 2024 ini, Marvel Studios hanya merilis satu film, yakni <em>Deadpool &amp; Wolverine</em>. Film ini juga menjadi film Deadpool (dan X-Men) pertama di Marvel Cinematic Universe (MCU) setelah Disney mengakuisisi 20th Century Fox.</p>



<p>Seperti biasa, Penulis menonton film ini ketika <em>premiere</em>-nya pada hari Rabu, 24 Juli 2024. Namun, karena setelah menonton Penulis pergi ke Jakarta selama beberapa hari (juga sempat tidak <em>mood </em>menulis), baru hari inilah Penulis membuat ulasannya.</p>



<p>Sejujurnya, mengingat kedua film Deadpool sebelumnya bisa dibilang tidak mengecewakan, Penulis menaruh ekspetasi yang cukup tinggi terhadap film ini. Apalagi, film ini juga menjadi <em>comeback</em>-nya Hugh Jackman sebagai Wolverine, yang terakhir kali memerankan karakter tersebut di film <em>Logan </em>(2017).</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner.jpg 1280w " alt="Saya Berlibur ke Jakarta Selama 5 Hari (Bagian 1)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/saya-berlibur-ke-jakarta-selama-5-hari-bagian-1/">Saya Berlibur ke Jakarta Selama 5 Hari (Bagian 1)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Jalan Cerita Deadpool &amp; Wolverine</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Deadpool &amp; Wolverine | Official Trailer | In Theaters July 26" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/73_1biulkYk?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Beberapa tahun setelah peristiwa di film <em>Deadpool 2</em>, <strong>Wade Wilson </strong>alias <strong>Deadpool </strong>(Ryan Reynolds) menjalani hidupnya seperti biasa. Namun, kehidupannya saat ini lebih terasa sepi karena ternyata ia telah berpisah dengan kekasihnya, Vanessa (Morena Baccarin).</p>



<p>Tiba-tiba, ia diculik oleh <strong>Time Variance Authority (TVA) </strong>yang telah diperkenalkan di <a href="https://whathefan.com/filmserial/akhirnya-marvel-kembali-ke-jalan-yang-benar-melalui-loki-season-2/">serial <em>Loki</em></a>. Ia lantas berhadapan dengan <strong>Mr. Paradox </strong>(Matthew Macfadyen) yang memberikan kabar bahwa <em>universe </em>yang ditinggali oleh Deadpool akan hancur.</p>



<p>Mengapa bisa hancur? Karena Anchor Being di <em>universe </em>tersebut, <strong>Logan </strong>alias <strong>Wolverine </strong>(Hugh Jackman) telah mati. Ini adalah teori baru yang belum pernah dijelaskan di film ataupun serial Marvel lainnya.</p>



<p>Lantas, Deadpool pun mencuri <em>timepad </em>milik Mr. Paradox dan berusaha mencari Wolverine baru untuk menjadi Anchor Being di <em>universe</em>-nya. Ia pun bertemu dengan berbagai varian Wolverine (termasuk versi Henry Cavill), tapi yang ia berhasil dapatkan justru versi terburuk yang gagal menyelamatkan <em>universe</em>-nya sendiri.</p>



<p>Deadpool dan Wolverine pun di-<em>prune </em>dan memasuki Void, yang juga telah diperkenalkan di serial <em>Loki. </em>Di sana, ia bertemu dengan <strong>Cassandra Nova</strong> (Emma Corrin), saudara kembar Profesor Xavier yang menjadi semacam penguasa di sana.</p>



<p>Cassandra ternyata sangat kuat karena mampu melakukan telekinetik dan membaca pikiran dengan <em>literally </em>memasukkan tangannya ke orang yang ia target. Saat Allioth datang menyerang markas Cassandra, Deadpool dan Wolverine berhasil kabur dari sana.</p>



<p>Sempat bertemu dengan varian Deadpool dan bertengkar seharian, Deadpool dan Wolverine tiba-tiba dibawa ke sebuah tempat yang terlihat seperti sebuah markas. Ada beberapa orang yang ada di sana, yang berhasil membuat para penonton berteriak.</p>



<p>Ada <strong>Elektra </strong>(Jennifer Garner), <strong>Blade </strong>(Wesley Snipes), <strong>Gambit </strong>(Channing Tatum), dan <strong>X-23 </strong>alias <strong>Laura </strong>(Dafne Keen). Setelah ngobrol, mereka memutuskan untuk menyerang markas Cassandra agar bisa keluar dari Void.</p>



<p>Singkat cerita, pertarungan terjadi dan Cassandra berhasil didesak hingga hampir tewas. Wolverine memutuskan untuk menyelamatkannya dan sebagai gantinya Cassandra memberikan <em>tools </em>yang kerap digunakan Doctor Strange dan Wong untuk membuka &#8220;Portal ke Mana Saja.&#8221;</p>



<p>Melalui portal tersebut, Deadpool dan Wolverine berhasil kembali ke <em>universe</em>-nya untuk menghentikan rencana Mr. Paradox. Namun, Cassandra menyusul dan ingin menggunakan alat Mr. Paradox untuk kepentingannya sendiri.</p>



<p>Untuk menghalangi Deadpool dan Wolverine, Cassandra menyewa banyak sekali varian Deadpool, yang untungnya langsung berhenti ketika melihat <strong>Peter </strong>(Tyler Mane). Pada akhirnya, mereka berdua berhasil menghentikan Cassandra sekaligus membuat <em>universe </em>tersebut tidak jadi berakhir. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Menonton Deadpool &amp; Wolverine</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Deadpool &amp; Wolverine | Final Trailer | In Theaters July 26" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/Idh8n5XuYIA?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Film ini mengulangi kesalahan terbesar yang dilakukan oleh film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-doctor-strange-in-the-multiverse-of-madness/">Doctor Strange in the Multiverse of Madness</a></em>: <strong>plot cerita lemah </strong>dan <strong>terlalu mengandalkan <em>cameo</em></strong>. Bahkan, bisa dibilang film ini lebih buruk dari sekuel <em>Doctor Strange </em>tersebut.</p>



<p>Ada banyak sekali catatan buruk dan kritik yang Penulis ketik di <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-menggunakan-notion-untuk-mencatat-progres-artikel-whathefan/">aplikasi Notion</a> setelah selesai menonton film ini. Yang bisa membuat film ini masih layak ditonton adalah humornya yang pecah dan bertaburnya <em>cameo</em> yang tak terduga. Penulis akan membahasnya lebih detail di bawah ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Digendong oleh Para Cameo</h2>



<p>Sama seperti film <em>Doctor Strange in the Multiverse of Madness</em>, kemunculan <em>cameo </em>di film <em>Deadpool &amp; Wolverine </em>memang sangat banyak dan menyenangkan, apalagi bagi penggemar Marvel sejak awal tahun 2000-an.</p>



<p>Selain Henry Cavill yang menjadi varian Wolverine, kembalinya <strong>Chris Evans </strong>menjadi Human Torch juga sangat menyenangkan. Walau kemunculannya cukup sebentar karena <em>budget</em>-nya tinggi, kehadiran karakter ini mampu menyuguhkan humor yang menyenangkan.</p>



<p>Kemunculan Elektra, Blade, Gambit, hingga Laura juga cukup bikin heboh. Kemunculan Gambit versi Channing Tatum seolah mengabulkan keinginan lama penggemar. Seperti yang kita tahu, sebenarnya Tatum sudah akan membintangi film solo Gambit sebelum proyek tersebut dibatalkan.</p>



<p>Mewujudkan keinginan penggemar seperti ini juga dilaukan di film <em>Doctor Strange in the Multiverse of Madness</em>, di mana John Krasinski menjadi Mr. Fantastic. Bedanya, Mr. Fantastic harus mati konyol di tangan Wanda, sedangkan Gambit berhasil bertahan hidup.</p>



<p>Beberapa <em>cameo </em>lain yang muncul di film ini adalah<strong> Happy Hogan </strong>(Jon Favreau) yang mewawancarai Deadpool yang ingin bergabung dengan Avengers, <strong>Lady Deadpool </strong>yang diperankan oleh istri Ryan Reynolds, Blake Lively, dan beberapa anggota karakter lain dari film-film X-Men seperti <strong>Juggernaut </strong>dan <strong>Pyro</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Humor dan Breaking the 4th Wall Seperti Biasa</h2>



<p>Bicara soal humor, seperti biasa film Deadpool memiliki ciri khasnya sendiri: <strong>humor yang kasar </strong>dan <em><strong>breaking the 4th wall</strong></em>. Kedua elemen itu terasa sangat kental di film ini sehingga menjadi kekuatan utama film ini, karena sekali lagi, plot ceritanya terlalu lemah!</p>



<p>Deadpool dengan segala aksi dan ucapan konyolnya selalu berhasil membuat penonton tertawa terbahak-bahak. Salah satu yang membuatnya sangat lucu adalah bagaimana ia kerap menyindir hal-hal yang berhubungan dengan dunia nyata. </p>



<p>Contohnya adalah ketika ia membahas mahalnya <em>budget </em>untuk memasukkan Chris Evans ke dalam film dan bagaimana impian penggemar untuk melihat Cavillrine berhasil terwujud. Tentu hubungan Disney dan 20th Century Fox juga menjadi topik yang sangat sering ia bahas.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Timeline yang Makin Amburadul</h2>



<p>Kita semua tahu kalau <em>timeline </em>film-film X-Men di bawah naungan 20th Century Fox cukup membingungkan. Selain trilogi utama yang tayang di awal tahun 2000-an, ada juga <em>remake </em>sebagai prekuel trilogi tersebut. Belum lagi film-film <em>spin-off</em>.</p>



<p>Nah, awalnya Penulis berharap kalau film ini akan menjelaskan keruwetan tersebut. Ternyata, justru<strong> film ini semakin membuatnya berantakan!</strong> Ada banyak sekali tanda tanya yang muncul setelah Penulis menonton film ini.</p>



<p>Pertama, Logan yang mati di film <em>Logan </em>ternyata satu <em>universe </em>dengan Deadpool. Ini aneh karena film tersebut berlatar tahun 2029 dan diceritakan saat itu sudah tidak ada lagi mutan yang tersisa. Kalau Deadpool (dan beberapa teman mutannya) hidup di dunia yang sama, <strong>maka seharusnya ia juga telah tiada</strong>.</p>



<p>Seharusnya, lebih masuk akal jika Deadpool dan X-Men diceritakan berasal dari <em>universe </em>yang berbeda. Selain menodai film <em>Logan </em>yang fenomenal, keputusan tersebut juga membuat film ini terasa asal nulis.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Banyak Hal Aneh Terjadi di Void</h2>



<p>Konsep Void dan Allioth menjadi beberapa hal yang <em>memorable </em>dari serial <em>Loki</em>. Namun, film ini membuat keduanya seolah tidak memiliki harga diri sama sekali. Lihat saja mudahnya Deadpool dan Wolverine keluar dari sana menggunakan alat seperti milik Doctor Strange.</p>



<p>Jika portal tersebut bisa dengan mudah membuat kita berpindah <em>universe</em>,<strong> mengapa di film <em>Doctor Strange in the Multiverse of Madness</em> Strange tidak menggunakannya? </strong>Ia malah mempelajari Darkhold dan melakukan Dreamwalk. Fakta ini benar-benar membuat Penulis gusar.</p>



<p>Lalu <strong>Allioth juga terlihat cukup di-<em>nerf</em></strong>. Di serial <em>Loki, </em>Allioth bisa memakan segalanya dengan mudah, termasuk ketika salah satu varian Loki membuat semacam ilusi istana. Lantas, mengapa ketika Allioth menyerang markas Cassandra, ada banyak yang selamat?</p>



<p>Jika merujuk pada kekuatan Allioth, harusnya semua isi markas beserta markasnya itu sendiri bisa dilahap dengan mudah olehnya. Namun, entah mengapa seolah Cassandra memiliki kemampuan untuk mengendalikan Allioth agar dirinya tidak ikut termakan. Selain itu, <strong>Cassandra juga tidak pernah di-mention di serial <em>Loki</em></strong>, walau memiliki kekuatan sebesar itu.</p>



<p>Bicara soal Cassandra, karakter yang sebenarnya potensial ini sayangnya <strong>terkesan kurang <em>memorable</em></strong>. Kemunculan dua antagonis (bersama Mr. Paradox) di film ini membuat perannya kurang terlihat dan memiliki motivasi <em>villain </em>yang sangat generik.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Hal-Hal Menyebalkan Lainnya</h2>



<p>Masih banyak hal menyebalkan dari film ini yang ingin Penulis bahas. Pertama, <strong>banyak klise</strong>. Contohnya adalah ketika Wolverine yang awalnya ogah membantu Deadpool akhirnya rela mengorbankan dirinya. Hal semacam ini sudah sering kita temukan di film-film serupa.</p>



<p>Contoh lainnya adalah pengorbanan yang tidak jadi. Wolverine dan Deadpool yang terlihat mengorbankan diri mereka tidak jadi mati setelah sebelumnya dikesankan akan mati. Mungkin karena kemampuan regenerasi mereka, tapi sekali lagi hal semacam ini sudah sangat klise. Apalagi, secara ajaib <em>universe</em>-nya sembuh-sembuh sendiri dan tidak jadi hancur tanpa penjelasan.</p>



<p>Hal lain yang menurut Penulis cukup menyebalkan adalah <strong>putusnya Deadpool dengan Vanessa</strong>. Kalau boleh jujur, Vanessa kan <em>literally </em>dihidupkan kembali oleh Deadpool, kok bisa-bisanya minta putus dengan alasan <em>bullshit </em>seperti itu. Kisah mereka juga tak terlalu berpengaruh di film ini.</p>



<p><strong>Varian Deadpool yang malah jadi anak buah Cassandra juga anti-klimaks</strong>. Mengapa para varian ini mau bekerja untuk Cassandra? Mengapa mereka dengan mudahnya mengabaikan tugas tersebut hanya karena bertemu Peter? Semua terasa tidak masuk akal.</p>



<p>Oh, jangan lupa kalau <strong><em>credit scene </em>film ini juga tidak berguna</strong> dan tidak memberikan <em>tease </em>mengenai masa depan MCU. Sampai film ini selesai, tidak ada kejelasan mengenai bergabungnya <em>universe </em>Deadpool dengan MCU.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Meskipun<em> </em>mampu memberikan tawa dan perasaan nostalgia lewat <em>cameo-cameo</em>-nya, <em>Deadpool &amp; Wolverine</em> pada akhirnya terasa seperti film yang <em>lazy writing</em>, terutama di 1/3 akhir filmnya. Penjelasan panjang Mr. Paradox mengenai mesinnya sangat membosankan.</p>



<p>Hal ini tentu sangat disayangkan, mengingat karakter Deadpool dan Wolverine memiliki basis penggemar yang cukup besar. Kalau sebagai film dengan tujuan menghibur, masih okelah, apalagi <em>sequence </em>aksinya juga cukup seru untuk ditonton.</p>



<p>Namun, sebagai sebuah film, alur ceritanya benar-benar terasa dangkal. <em>Doctor Strange in the Multiverse </em>masih jauh lebih mending karena selain Scarlet Witch yang berubah menjadi <em>villain </em>utama, motifnya mengacak-acak<em> multiverse </em>cukup kuat. Dari awal, ada kejelasan mengenai apa yang harus dilakukan oleh tokoh utamanya.</p>



<p>Penulis harus keluar dengan mulut mengomel terus karena ada banyak sekali <em>plothole </em>dan hal yang tak masuk akal di film ini, terutama konsistensi teori yang diciptakan oleh Marvel sendiri. Seperti yang pernah Penulis katakan dulu sekali, Marvel terlihat kewalahan dalam mengendalikan semestanya yang semakin membesar.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">RATING: 5/10</mark></strong></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 6 Agustus 2024, terinspirasi setelah menonton film <em>Deadpool &amp; Wolverine</em></p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://fahum.umsu.ac.id/blog/deadpool-wolverine-daftar-aktor-aktris-dan-cameo/">FAHUM UMSU</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-deadpool-wolverine/">[REVIEW] Setelah Menonton Deadpool &amp; Wolverine</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-deadpool-wolverine/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Koleksi Board Game #20: Modern Art</title>
		<link>https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-20-modern-art/</link>
					<comments>https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-20-modern-art/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jul 2024 16:57:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Permainan]]></category>
		<category><![CDATA[board game]]></category>
		<category><![CDATA[lelang]]></category>
		<category><![CDATA[Modern Art]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7568</guid>

					<description><![CDATA[<p>Meskipun bukan tipe orang yang bisa memahami arti dari sebuah seni, Penulis bisa berkata kalau dirinya cukup bisa menikmati sebuah seni. Salah satu destinasi wisata yang Penulis sukai adalah museum yang menampilkan lukisan-lukisan terkenal. Oleh karena itu, ketika ada board game yang memiliki tema lukisan museum, Penulis jadi tertarik. Board game tersebut adalah Modern Art, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-20-modern-art/">Koleksi Board Game #20: Modern Art</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Meskipun bukan tipe orang yang bisa memahami arti dari sebuah seni, Penulis bisa berkata kalau dirinya cukup bisa menikmati sebuah seni. Salah satu destinasi wisata yang Penulis sukai adalah museum yang menampilkan lukisan-lukisan terkenal.</p>



<p>Oleh karena itu, ketika ada <em>board game </em>yang memiliki tema lukisan museum, Penulis jadi tertarik. <em>Board game </em>tersebut adalah <strong>Modern Art</strong>, yang sesuai namanya, memiliki banyak karya seni asli yang ditampilkan dalam bentuk kartu. </p>



<p>Modern Art dimainkan dengan model lelang, alasan lain kenapa Penulis memutuskan untuk membeli <em>board game</em>. Mengapa demikian? Karena kebetulan dulu Penulis suka nonton acara <em>Storage Wars</em> di saluran History. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-banner.jpg 1280w " alt="Karakter-Karakter Werewolf Ala Penulis (Bagian 2)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/permainan/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-bagian-2/">Karakter-Karakter Werewolf Ala Penulis (Bagian 2)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Board Game Modern Art</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: Modern Art</li>



<li>Desainer: Reiner Knizia</li>



<li>Publisher: CMON Global Limited</li>



<li>Tahun Rilis: 1992</li>



<li>Jumlah Pemain: 3-5 pemain</li>



<li>Waktu Bermain: 45 menit</li>



<li>Rating BGG: 7,5</li>



<li>Tingkat Kesulitan: 2.29/5</li>



<li>Harga: Rp500.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Cara Bermain Modern Art</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Modern Art - How To Play" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/CrwHrstvA0k?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Di awal permainan, pemain akan berperan sebagai kepala museum dari berbagai tempat: Sao Paulo Museum, Madrid Modern, London Art, Paris Art, dan New York Art Gallery. Semua tempat sama, tidak memiliki keistimewaan apapun.</p>



<p>Setelah itu, masing-masing pemain akan mendapatkan kartu seni tergantung jumlah pemain. Ada lima seniman di Modern Art, yakni <strong>Manuel Carvalho</strong>, <strong>Sigrid Thaler</strong>, <strong>Daniel Melim</strong>, <strong>Ramon Martins</strong>, dan<strong> Rafael Siveira</strong>.</p>



<p>Kartu di Modern Art menampilkan sebuah lukisan lengkap dengan judul dan nama senimannya. Di pojok kanan ada jenis lelangnya (total ada lima jenis), yang akan Penulis jelaskan lebih detail di bawah.</p>



<p>Setelah mendapatkan kartu, masing-masing pemain akan mendapatkan modal $100. Uang ini yang akan kita gunakan untuk melakukan lelang setiap putarannya. Ada beberapa pecahan uang di <em>board game </em>ini, mulai dari $1 hingga yang paling besar $100.</p>



<p>Komponen terakhir adalah sebuah papan yang berfungsi sebagai <em>tracker </em>harga lukisan. Seniman dengan jumlah lukisan terbanyak di arena akan mendapatkan token tertinggi (paling tinggi 30, lalu 20 dan 10). </p>



<p>Jika jumlahnya sama, maka seniman yang paling kiri yang akan mendapatkan token tertinggi. Di setiap ronde, hanya akan ada tiga seniman yang mendapatkan token ini, yang artinya dua seniman lainnya tidak akan memiliki nilai jual sama sekali.</p>



<p>Token inilah yang menentukan harga dari lukisan berdasarkan senimannya. Seiring berjalannya ronde, maka harga lukisan bisa semakin tinggi. Namun, perlu diingat kalau penjualan lukisan ke bank terjadi di setiap akhir ronde, bukan di akhir permainan.</p>



<p>Sistem lelangnya sendiri akan dilakukan secara berurutan di mana pemain akan memilih satu kartu dari tangannya untuk dilelang. Pemain yang melakukan ini disebut sebagai pelelang. Masing-masing kartu memiliki jenis lelang yang terbagi menjadi lima jenis, yakni:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Open Auction </strong>(Berlogo Mata): Semua pemain bisa melakukan <em>bid </em>secara bebas</li>



<li><strong>One Offer Auction </strong>(Berlogo Bintang dan Angka 1): Secara berurutan pemain bisa melakukan <em>bid </em>satu kali saja, dimulai dari sebelah kiri pelelang</li>



<li><strong>Hidden Auction</strong> (Berlogo Gembok): Semua pemain menentukan harga secara tersembunyi di tangan dan akan mengungkapnya secara bersamaan, pemain dengan nilai lelang tertinggi akan menang</li>



<li><strong>Fixed Price Auction </strong>(Berlogo <em>Tag </em>Harga): Pihak pelelang akan menentukan harga lukisan, jika tidak ada yang menawar maka akan jadi miliknya sendiri</li>



<li><strong>Double Auction</strong> (Berlogo Palu dan x2): Pihak pelelang bisa langsung melelang dua lukisan sekaligus dari seniman yang sama, lalu jenis lelangnya mengikuti kartu lukisan yang kedua</li>
</ul>



<p>Permainan akan terdiri dari empat ronde, dan masing-masing ronde akan berakhir jika ada salah satu seniman yang lukisannya sudah muncul lima kali. Pemain dengan jumlah uang terbanyak akan keluar sebagai pemenangnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Bermain Modern Art</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/modern-art-board-game-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7569" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/modern-art-board-game-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/modern-art-board-game-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/modern-art-board-game-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/modern-art-board-game.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Modern Art (<a href="https://www.moregamesplease.com/best-board-game-art/2018/1/1/best-board-game-art-of-2017">More Game Please</a>)</figcaption></figure>



<p>Secara visual, bisa dibilang Modern Art adalah salah satu yang terbaik di antara koleksi Penulis. Sebagai penikmat seni amatir, karya-karya yang ada di sini, meskipun kebanyakan seni kontemporer, memiliki keindahannya sendiri.</p>



<p>Sebagai nilai tambah, para seniman yang lukisannya dijadikan kartu di <em>board game </em>ini mendapatkan semacam katalog dan profil di<em> rulebook</em>-nya. Tentu ini bisa menjadi sarana promosi mereka agar lebih dikenal oleh dunia.</p>



<p>Untuk komponennya sendiri, Modern Art memiliki komponen yang cukup solid. Kartu-kartu seninya berukuran besar dan cukup tebal. Koin lelang dan uang <em>in-game </em>pun cukup solid. Namun, yang paling istimewa (dan lucu) adalah palu lelangnya yang terbuat dari kayu,   </p>



<p>Secara <em>gameplay</em>, Modern Art sebenarnya cukup menarik dengan sistem lelang dan fluktuasi harga lukisannya. Hanya saja, <em>replaybility </em>dari <em>board game</em> ini cukup rendah karena terkesan monoton dan begitu-begitu saja.</p>



<p>Contoh, ketika pemain mengeluarkan kartu One Offer Auction, maka kemungkinan besar pemain akan langsung menyebutkan angka yang mendekati harga jualnya sekarang (misal harganya 20, dia langsung pasang harga 19). </p>



<p>Alhasil, pemain selanjutnya pun tidak akan memasang harga di atas itu karena otomatis tidak akan menghasilkan keuntungan. Kalau mau memasang harga di atas harga pasaran, ya kemungkinan besar pemain akan mengalami kerugian karena harga jualnya di bawah harga belinya.</p>



<p>Selain itu, posisi seniman di papan <em>tracker </em>selalu sama. Dengan demikian, lukisan karya Manuel Carvalho yang berada di sisi paling kiri akan selalu lebih berharga dibandingkan Rafael Silveira yang berada di sisi paling kanan. Alhasil, kebanyakan pemain akan lebih mengincar lukisan Manuel Carvalho karena kemungkinan lukisannya lebih mahal lebih besar.</p>



<p>Penulis bahkan sampai mencoba variasinya sendiri, di mana ada seorang juru lelang yang tidak ikut bermain. Nantinya, para pemilik museum akan diberi modal yang lebih besar. Uang bisa didapatkan di akhir permainan, bukan di setiap akhir ronde.</p>



<p>Namun, bisa dibilang kalau Modern Art memiliki konsep yang benar-benar berbeda jika dibandingkan koleksi lainnya. Dengan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangannya tersebut, maka Penulis akan memberikan skor Modern Art sebesar: </p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 7/10</mark></p>
</blockquote>



<p>Salah satu cara Penulis bisa mengenal lebih banyak <em>board game </em>adalah dengan mengunjungi kafe <em>board game</em>. Pada satu waktu, Penulis bermain di salah satu kafe <em>board game </em>di Malang dan mencoba beberapa. Salah satunya yang akhirnya Penulis beli adalah <strong>Century: A Spice Road</strong>.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 30 Juni 2024, terinspirasi karena ingin melanjutkan seri <em>board game </em>ini</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-20-modern-art/">Koleksi Board Game #20: Modern Art</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-20-modern-art/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-hoegeng-polisi-dan-menteri-teladan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-hoegeng-polisi-dan-menteri-teladan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Jun 2024 04:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Hoegeng]]></category>
		<category><![CDATA[polisi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7560</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mungkin sudah banyak yang mengetahui kalau polisi yang tak bisa disuap di Indonesia, menurut Gus Dur, hanya ada tiga: patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng. Karena muncul dari mulut mantan presiden Republik Indonesia, tentu nama Hoegeng berhasil menarik perhatian banyak orang, termasuk Penulis. Oleh karena itu, Penulis pun akhirnya ingin mengetahui lebih dalam tentang sosok [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-hoegeng-polisi-dan-menteri-teladan/">[REVIEW] Setelah Membaca Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Mungkin sudah banyak yang mengetahui kalau polisi yang tak bisa disuap di Indonesia, menurut Gus Dur, hanya ada tiga: patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng. Karena muncul dari mulut mantan presiden Republik Indonesia, tentu nama Hoegeng berhasil menarik perhatian banyak orang, termasuk Penulis.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis pun akhirnya ingin mengetahui lebih dalam tentang sosok Hoegeng dan membeli buku <em>Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan </em>yang ditulis oleh Suhartono. Buku ini disusun berdasarkan dari kisah yang diceritakan mantan sekretaris Hoegeng, yaitu Soedharto.</p>



<p>Mengingat bukunya yang cukup tipis, Penulis tidak terlalu berharap kalau isinya akan menceritakan kisah hidup Hoegeng secara rinci dan lengkap. Namun, mengingat buku ini diterbitkan oleh Kompas yang terkenal akan kualitasnya, Penulis pun memutuskan untuk membacanya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/terima-kasih-phil-jones-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/terima-kasih-phil-jones-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/terima-kasih-phil-jones-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/terima-kasih-phil-jones-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/terima-kasih-phil-jones.jpg 1280w " alt="Terima Kasih (?) Phil Jones" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/terima-kasih-phil-jones/">Terima Kasih (?) Phil Jones</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</em></li>



<li>Penulis: Suhartono</li>



<li>Penerbit: Penerbit Buku Kompas</li>



<li>Cetakan: Ketujuh (Edisi Revisi)</li>



<li>Tanggal Terbit: September 2022</li>



<li>Tebal: 182 halaman</li>



<li>ISBN: 9789797097691</li>



<li>Harga: Rp75.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</h2>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Di Indonesia hanya ada tiga polisi yang tak bisa disuap: patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng” — KH Abdurrahman Wahid </em></p>
</blockquote>



<p><em>Generasi muda kini mungkin tak lagi tahu, Hoegeng yang dimaksud Presiden Abdurrahman Wahid dalam kata katanya di atas adalah almarhum Jenderal (Pol.) Hoegeng Iman Santoso, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) di zaman transisi Orde Lama menuju Orde Baru. Sebagai polisi, Hoegeng dikenal jujur, sederhana, dan tak kenal kompromi. Karenanya, seperti polisi tidur, ia tak bisa disuap. </em></p>



<p><em>Namun, bagaimana kiprah Hoegeng ketika ia dipercaya Presiden Soekarno menjadi Menteri/Sekretaris Presidium Kabinet dan Menteri Iuran Negara, serta Kepala Jawatan Imigrasi Indonesia pada periode tahun 1961-1966? </em></p>



<p><em>Buku ini tak hanya menuturkan keteladanan Hoegeng sebagai polisi dan birokrat. Juga ada kisah hubungan Hoegeng dan Soedharto Martopoespito yang berakhir tragis. Cengkeraman kekuasaan Orde Baru memutuskan hubungan akrab di antara keduanya. Setelah Hoegeng bergabung dengan kelompok Petisi 50, sebagai PNS di kantor Menko Polkam, Dharto tak pernah berani lagi berhubungan secara pribadi dengan mantan atasannya itu. </em></p>



<p><em>Ditulis oleh Suhartono, wartawan harian Kompas berdasarkan kisah Soedharto Martopoespito, mantan sekretaris Hoegeng.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</h2>



<p>Berbeda dengan kebanyakan buku biografi pada umumnya yang menjelaskan kisah biografi secara kronologis, buku ini tidak menceritakan kisah hidup Hoegeng seperti itu. Bisa dibilang, format yang digunakan mirip dengan Seri Tokoh Tempo.</p>



<p>Edisi revisi ini menambahkan tiga bab yang diletakkan di depan lima bab sebelumnya. Ketiga bab tersebut berfungsi sebagai pelengkap, karena lima bab asli buku ini benar-benar murni dari hasil wawancara dengan mantan sekretaris Hoegeng.</p>



<p>Tiga bab tambahan tersebut berjudul 1) Antara Hoegeng dan Bung Karno 2) Legenda versus Realitas 3) Diusulkan Pahlawan Nasional. Sedangkan lima bab aslinya sendiri berjudul 4) Mengenal Hoegeng 5) Kesederhanaan Tanpa Pamrih 6) Kenangan Tugas Masa Lalu 7) Pegangan Hidup 8) Hari-Hari Bersama Keluarga 9) Silahturami yang Terputus.</p>



<p>Bisa dilihat dari judul bab-bab tersebut jika format buku ini bukan kronologis seperti kebanyakan buku biografi. Sebagian besar buku ini menyorot sepak terjang Hoegeng ketika memiliki sekretaris Soedarto. Di luar itu, tidak banyak hal yang dibahas.</p>



<p>Tentu ada bagian-bagian yang menjelaskan bagaimana Hoegeng sebagai polisi, menteri, bahkan anggota Petisi 50 bersama Ali Sadikin dan lainnya. Namun, sekali lagi, buku ini lebih banyak menyorot hubungan personal antara Hoegeng dan Soedharto.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</h2>



<p>Setelah membaca buku ini, jujur saja Penulis merasa kecewa karena isinya yang kurang mendalam dan justru terlalu fokus dengan hubungan Hoegeng dan mantan sekretarisnya. Memang hal tersebut disebutkan dalam sinopsis, tapi Penulis tidak menyangka itu justru mendominasi isi buku ini.</p>



<p>Kalau boleh jujur, buku ini lebih cocok berjudul <em>Hoegeng di Mata Mantan Anak Buahnya. </em>Judul tersebut terasa lebih menggambarkan isi buku ini, seperti buku <em>Bung Hatta di Mata Tiga Putrinya</em>. Pembaca jadi mendapatkan gambaran kalau isi bukunya ya memang menurut perspektif orang lain.</p>



<p>Kalau buku ini, dari judulnya tentu pembaca akan berekspektasi kalau isinya akan banyak mengulas kiprah Hoegeng sebagai polisi dan menteri. Memang dibahas, tapi sangat <em>basic </em>seperti informasi yang bisa ditemukan di Wikipedia. </p>



<p>Fakta-fakta menarik yang menunjukkan kesederhanaan Hoegeng pun rasanya sudah banyak dibahas entah di situs web maupun media sosial. Tidak ada yang spesial dengan isi buku ini, kecuali jika pembacanya mungkin belum pernah mendengar nama Hoegeng sama sekali.</p>



<p>Di sisi lain, mungkin hal tersebut membuat buku ini mudah dipahami karena isinya ya memang sederhana. Kalau untuk sekadar sebagai penambah <em>insight </em>tentang sosok Hoegeng yang luar biasa, buku ini bisa melakukannya.</p>



<p>Setidaknya, setelah membaca buku <em>Hoegeng </em>ini, kita bisa mendapatkan gambaran bagaimana sosok polisi jujur yang satu ini seharusnya bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Hoegeng sudah seharusnya menjadi standar bagi para pejabat publik di Indonesia. </p>



<p>Untuk kisah hidup Hoegeng, Penulis jelas akan memberikan skor 10/10 untuk beliau. Akan tetapi, untuk kualitas bukunya sendiri, Penulis akan memberikan skor yang cukup rendah untuk ukuran buku terbitan Kompas.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 4/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 29 Juni 2024, terinspirasi setelah membaca buku <em>Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan </em>karya Suhartono</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-hoegeng-polisi-dan-menteri-teladan/">[REVIEW] Setelah Membaca Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-hoegeng-polisi-dan-menteri-teladan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca The Devotion of Suspect X</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Jun 2024 15:23:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Detektif Galileo]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Keigo Higashino]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7376</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah menamatkan novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya yang begitu berkesan, Penulis pun ingin kembali membeli novel karya Keigo Higashino. Sayangnya, dari riset yang Penulis lakukan, ternyata kebanyakan novel Keigo adalah novel detektif, bukan slice of life. Hal tersebut sebenarnya bukan masalah, mengingat Penulis merupakan penggemar novel-novel detektif dan telah membaca semua seri Sherlock Holmes dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/">[REVIEW] Setelah Membaca The Devotion of Suspect X</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah menamatkan novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-keajaiban-toko-kelontong-namiya/">Keajaiban Toko Kelontong Namiya</a></em> yang begitu berkesan, Penulis pun ingin kembali membeli novel karya Keigo Higashino. Sayangnya, dari riset yang Penulis lakukan, ternyata kebanyakan novel Keigo adalah novel detektif, bukan <em>slice of life</em>.</p>



<p>Hal tersebut sebenarnya bukan masalah, mengingat Penulis merupakan <a href="https://whathefan.com/buku/berteriak-karena-buku/">penggemar novel-novel detektif</a> dan telah membaca semua seri Sherlock Holmes dan Agatha Christie. Yang jadi pertanyaan adalah judul mana yang sebaiknya Penulis baca dulu.</p>



<p>Setelah melihat rating di Goodreads, Penulis memutuskan untuk memilih novel berjudul The <em><strong>Devotion of Suspect X </strong></em>atau <em><strong>Kesetiaan Mr. X </strong></em>yang mendapatkan rating 4.2/5. Alhasil, novel ini berhasil membuat Penulis membeli novel Keigo lainnya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sajak/sajak-perhatian/">Sajak Perhatian</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku The Devotion of Suspect X</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>The Devotion of Suspect X: Kesetiaan Mr. X</em></li>



<li>Penulis: Keigo Higashino</li>



<li>Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama </li>



<li>Cetakan: Kedua Belas</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2024</li>



<li>Tebal: 320 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020330525</li>



<li>Harga: Rp99.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis The Devotion of Suspect X</h2>



<p><em>Ketika si mantan suami muncul lagi untuk memeras Yasuko Hanaoka dan putrinya, keadaan menjadi tak terkendali, hingga si mantan suami terbujur kaku di lantai apartemen. Yasuko berniat menghubungi polisi, tetapi mengurungkan niatnya ketika Ishigami, tetangganya, menawarkan bantuan untuk menyembunyikan mayat itu.</em></p>



<p><em>Saat mayat tersebut ditemukan, penyidikan Detektif Kusanagi mengarah kepada Yasuko. Namun sekuat apa pun insting detektifnya, alibi wanita itu sulit sekali dipatahkan. Kusanagi berkonsultasi dengan sahabatnya, Dr. Manabu Yukawa sang Profesor Galileo, yang ternyata teman kuliah Ishigami.</em></p>



<p><em>Diselingi nostalgia masa-masa kuliah, Yukawa sang pakar fisika beradu kecerdasan dengan Ishigami, sang genius matematika. Ishigami berjuang melindungi Yasuko dengan berusaha mengakali dan memperdaya Yukawa, yang baru kali ini menemukan lawan paling cerdas dan bertekad baja.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku The Devotion of Suspect X</h2>



<p>Seringnya, novel detektif akan membawa kita ke sebuah misteri di mana sosok pelaku masih belum diketahui. Sepanjang cerita, kita akan mengikuti penyelidikan yang dilakukan oleh detektif hingga akhirnya bisa menyimpulkan siapa pelaku pada kasus tersebut.</p>



<p>Nah, formula yang berbeda Penulis temukan pada novel ini. Dari sinopsisnya saja, kita sudah tahu siapa yang menjadi pelaku dalam kasus pembunuhan dan bagaimana ia mendapatkan bantuan dari tetangganya agar tidak perlu sampai ditangkap oleh polisi.</p>



<p>Dari sana, alur yang dimiliki oleh novel ini sama seperti novel detektif kebanyakan, di mana pihak kepolisian yang buntuk akhirnya akan meminta bantuan orang di luar kepolisian. Di sini, sosok detektifnya adalah Dr. Manabu Yukawa yang merupakan seorang asisten dosen fisika.</p>



<p>Sama seperti Hercule Poirot ataupun Sherlock Holmes, Yukawa juga memiliki metodenya sendiri untuk bisa memecahkan sebuah kasus. Apalagi, kali ini teman kuliahnya yang bernama Ishigami terlibat, sehingga ia memiliki cara pendekatannya sendiri.</p>



<p>Duel antara Yukawa yang merupakan jenius fisika dan Ishigawa yang merupakan jenius matematika menjadi bagian yang cukup menarik. Pertarungan mereka seperti pertanyaan: mana yang lebih sulit, menulis jawaban sendiri atau mengoreksi jawaban orang lain? </p>



<p>Kejeniusan Ishigawa berhasil membuat Yasuko Hanaoka dan putrinya, yang menjadi pelaku pembunuhan mantan suaminya, memiliki alibi sempurna. Semua skenario seolah sudah ia perhitungkan, dan selama Yasuko dan anaknya yang bernama Misato bisa melakukan apa yang perintah, harusnya semua aman.</p>



<p>Satu hal yang tidak diperhitungkan oleh Ishigawa adalah keterlibatan Yukawa di kasus ini. Jika saja Yukawa tidak terlibat, kemungkinan besar semua rencana yang telah ia susun akan berhasil hingga akhir dan pihak kepolisian akan mengalami kebuntuan.</p>



<p><em>Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya <s>tidak akan ikut olimpiade </s>jatuh juga.</em></p>



<p>Penulis tidak akan terlalu banyak membocorkan cerita dari novel ini, karena nilai plusnya justru di bagian <em>plot twist</em>-nya. Yang jelas, Penulis yang sudah sering membaca novel detektif pun terkecoh hingga bagian akhir.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The Devotion of Suspect X</h2>



<p>Belajar dari kesalahan tak bisa menghafal nama-nama Jepang di novel-novel Jepang, Penulis memutuskan untuk memberi otaknya waktu sejenak untuk menghafalkan ini siapa dan perannya apa. Hal tersebut cukup membantu Penulis membedakan karakter-karakter yang ada di novel ini.</p>



<p>Sebenarnya Penulis tidak ingin terlalu memberikan bocoran mengenai alur cerita novel ini. Hanya saja, ada beberapa poin yang ingin Penulis ulas yang mengharuskan Penulis sedikit memberikan bocoran. Oleh karena itu, Penulis akan memberikan <em><strong>spoiler alert </strong></em>di sini.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Awalnya Kurang Mengesankan, Akhirnya Bikin Terkejut</h3>



<p>Saat membaca bagian awal novel ini, Penulis merasa kalau alurnya cukup tertebak karena kedalaman ceritanya memang cukup dangkal jika dibandingkan dengan karya Agatha Christie. Apalagi, di pembatas buku tertulis Asianlit, sehingga Penulis merasa wajar jika cerita misterinya dibuat agak ringan.</p>



<p>Sejak awal, Penulis sudah menebak kalau Ishigami pada akhirnya akan menyerahkan diri ke polisi apabila situasinya sudah semakin gawat. Dari awal hingga menjelang akhir, inilah aksi paling bucin dari Ishigami kepada Yukawa. </p>



<p>Untuk apa sampai berbuat segitunya demi orang yang tidak terlalu dekat? Bukankah membantu menutupi pembunuhan saja sudah tidak normal? Di bagian akhir nanti akan dijelaskan mengapa Ishigami sampai sebucin dan senekat itu. </p>



<p>Lantas jika tertebak, di mana letak <em>plot twist</em>-nya? Jawabannya ada di dua bab terakhir, di mana <em>plot twist-</em>nya adalah tentang sampai sejauh mana Ishigami rela berbuat demi melindungi Yukawa. Penulis benar-benar terkejut ketika membacanya.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Membandingkan Yukawa dengan Poirot dan Holmes</h3>



<p>Berbicara tentang sosok Yukawa yang menjadi <em>main detective </em>di novel ini, kesan pertama yang Penulis dapatkan adalah kemampuan deduksi dan analisisnya masih di bawah Poirot dan Holmes. Cara-cara yang ia lakukan dalam menyelesaikan kasus ini bisa dibilang biasa saja, tidak ada yang istimewa.</p>



<p>Yukawa memang bisa menghubungkan satu fakta dengan fakta lainnya seperti yang dilakukan Poirot dengan sel-sel kelabu di otaknya, tetapi entah mengapa terasa cukup lamban. Kalau kemampuan deduksi, Holmes jelas masih di atasnya. </p>



<p>Yukawa seolah digambarnya sebagai seorang akademisi yang kebetulan kelewat jenius saja, sehingga bisa melihat apa yang dilewatkan oleh pihak kepolisian. Namun, kemampuan detektifknya bisa dibilang tidak terlalu menonjol.</p>



<p>Duelnya dengan Ishigawa sendiri bukan duel ala Holmes vs. Moriaty di mana mereka berusaha saling mengalahkan. Duel mereka &#8220;hanya&#8221; bagaimana Yukawa berusaha membongkar trik yang dilakukan oleh Ishigawa untuk menutupi kejahatan yang dilakukan oleh Yasuko.</p>



<p>Memang terlalu dini untuk menilai Yukawa karena Penulis baru membaca satu serinya. Penulis jadi tidak sabar untuk membaca seri Detektif Galileo selanjutnya, mungkin penilaian Penulis terhadapnya akan berubah. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Sedikit Kekurangan</h3>



<p>Jika disuruh menuliskan kekurangan dari novel ini, mungkin bagian penyelidikan yang dilakukan oleh Detektif Kusanagi dan lainnya cukup berputar-putar di tempat tanpa ada progres yang berarti, sehingga di beberapa bagian alurnya akan terasa lambat.</p>



<p>Sejak awal, Yasuko menjadi target utama kepolisian karena hubugannya sebagai mantan istri Togashi. Namun, alibi Yasuko dan Misato nyaris sempurna dan pihak kepolisian tidak bisa membuktikan alibi mereka palsu. Inilah yang membuat penyelidikan menjadi berputar-putar.</p>



<p>Apalagi, Yasuko dan Misato berhasil menjalankan semua perintah Ishigawa dengan sempurna, sehingga kepolisian pun jadi yakin atas kesaksian mereka. Sedikit saja kesalahan yang mereka lakukan, rencana Ishigawa bisa buyar.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Kesimpulannya, <em>The Devotion of Suspect X </em>merupakan sebuah novel detektif dengan pendekatan yang berbeda. Alih-alih menebak-nebak siapa pelakunya, kita justru diberikan suguhan duel antara dua jenius: yang ingin menutupi kejahatan dan yang ingin membongkarnya.</p>



<p>Dengan pendekatan yang <em>fresh </em>ini, Penulis jadi merasa membaca sebuah novel yang unik dan cukup berkesan. Konklusi kisahnya pun memuaskan, meskipun terasa getir. Mungkin Keigo memang doyang membuat kisah yang membuat hati pilu.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<p>Saat hampir menamatkan novel ini pada hari Kamis (6/6/24) kemarin, Penulis memutuskan untuk membeli novel Keigo lainnya yang berjudul <em>A Midsummer&#8217;s Equation</em>. Semoga saja keseruan ceritanya minimal setara dengan yang baru Penulis tamatkan ini.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 8 Juni 2024, teinspirasi setelah membaca buku <em>The Devotion of Suspect X </em>karya Keigo Higashino</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/">[REVIEW] Setelah Membaca The Devotion of Suspect X</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Menonton X-Men ‘97</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-x-men-97/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-x-men-97/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 May 2024 16:41:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[animasi]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Marvel]]></category>
		<category><![CDATA[MCU]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[serial]]></category>
		<category><![CDATA[X-Men '97]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7272</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rasanya sudah semakin jarang Marvel Cinematic Universe (MCU) merilis serial yang berkualitas. Dalam rentang waktu satu tahun terakhir, praktis hanya serial Loki Season 2 yang bisa dinikmati dan mampu menyajikan cerita yang menarik. Untungnya, serial animasi terbaru yang dirilis MCU akhirnya mampu mematahkan hal buruk tersebut, yakni X-Men &#8217;97. Penulis bukan penggemar die hard X-Men, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-x-men-97/">[REVIEW] Setelah Menonton X-Men ‘97</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Rasanya sudah semakin jarang <a href="https://whathefan.com/filmserial/the-future-of-marvel-cinematic-universe/">Marvel Cinematic Universe (MCU)</a> merilis serial yang berkualitas. Dalam rentang waktu satu tahun terakhir, praktis hanya <a href="https://whathefan.com/filmserial/tulisan-ini-merangkum-ulasan-film-dan-serial-mcu-yang-terlewat/">serial <em>Loki Season 2</em></a><em> </em>yang bisa dinikmati dan mampu menyajikan cerita yang menarik.</p>



<p>Untungnya, serial animasi terbaru yang dirilis MCU akhirnya mampu mematahkan hal buruk tersebut, yakni <em><strong>X-Men &#8217;97</strong></em>. Penulis bukan penggemar <em>die hard </em>X-Men, tapi cukup familiar dengan karakter-karakternya karena pernah membacanya di majalah waktu kecil.</p>



<p>Serial asli <em>X-Men </em>yang rilis di tahun 90-an pun Penulis merasa tidak pernah menontonnya, walaupun <em>theme song-</em>nya terasa sangat familiar. Mungkin Penulis pernah menontonnya, tapi tidak bisa mengingatnya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/petrichor-300x193.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/petrichor-300x193.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/petrichor-768x494.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/petrichor-356x229.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/petrichor.jpg 770w " alt="Meresapi Patrikor" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/renungan/meresapi-patrikor/">Meresapi Patrikor</a></div></div></div><p></p>


<p>Yang jelas, Penulis memutuskan untuk menonton serial <em>X-Men &#8217;97 </em>karena merasa penasaran. Penulis sampai harus menonton rekap serial animasi aslinya agar bisa <em>catch up </em>dan memahami konflik apa yang akan dihadapi oleh para X-Men.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Jalan Cerita X-Men &#8217;97</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Marvel Animation&#039;s X-Men &#039;97 | Final Trailer | Disney+" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/mp1Pax-QHlA?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Meskipun menggunakan gaya animasi yang berbeda dengan versi aslinya, <em>X-Men &#8217;97 </em>merupakan sekuel langsung dengan gaya animasi yang telah menyesuaikan dengan era modern. Artinya, ceritanya pun <em>nyambung </em>dengan serial aslinya.</p>



<p>Di awal cerita, kita mengetahui bahwa Profesor Xavier telah dibawa ke luar angkasa oleh Lilandra demi menyelamatkan nyawanya. Lantas, X-Men pun secara mengejutkan jadi dipimpin oleh <strong>Magneto</strong>.</p>



<p>Beberapa kejadian pun terjadi selama Magneto menjadi pemimpin, termasuk Storm yang kehilangan kekuatannya. Selain itu, diketahui bahwa Jean Gray yang selama ini bersama X-Men ternyata hanya klon yang dibuat oleh Mister Sinister.</p>



<p>Klimaks konflik dari musim kali ini adalah penyerangan besar-besaran yang menghancurkan Genosha. Kejadian ini membuat karakter X-Men favorit Penulis, <strong>Gambit</strong>, harus tewas. Selain itu, Magneto juga berhasil diculik dan menghilang dalam waktu yang cukup lama.</p>



<p>Siapa dalang di balik penyerangan Genosha? Ternyata dia adalah <strong>Bastion</strong>, humanoid yang merupakan gabungan dari Nimrod dan Master Mold. Ia sangat membenci mutan, mengingat ia berasal dari entitas yang bertujuan untuk memusnahkan semua mutan.</p>



<p>Bastion tidak sendirian, ia dibantu oleh Mister Sinister dalam menjalankan misinya untuk memusnahkan mutan. Masalah makin pelik bagi X-Men, karena Magneto yang diculik berhasil kabur dan mematikan semua listrik di dunia dan menyatakan perang kepada manusia.</p>



<p>Di saat genting tersebut, Profesor Xavier pulang ke Bumi untuk menyelesaikan konflik yang ada. X-Men dibagi menjadi dua tim, satu berusaha menghentikan Magneto dan satu lagi menyerang Bastion yang melepaskan Prime Sentinels ke seluruh dunia.</p>



<p>Singkat cerita, pada akhirnya X-Men berhasil melakukan kedua misi tersebut. Namun, Asteroid M yang menjadi markas Magneto terjun ke Bumi dan berpotensi menyebabkan kiamat. Berbagai upaya dilakukan, tapi akhirnya Magneto-lah yang menghentikan insiden tersebut.</p>



<p>Setelah kejadian tersebut, banyak tokoh X-Men yang hilang dan tidak ditemukan. Pada akhirnya, terkuak kalau para X-Men terlempar ke lini masa yang berbeda, yang akan menjadi premis utama di musim selanjutnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Menonton X-Men &#8217;97</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Marvel Animation&#039;s X-Men &#039;97 | Official Trailer | Disney+" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/pv3Ss8o9gGQ?start=2&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Setelah selesai menonton semua 10 episodenya, Penulis merasa cukup puas dengan serial ini. Gaya animasinya, walaupun tidak unik seperti <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-what-if-bagian-1/">What If&#8230;?</a></em>, cukup memanjakan mata. Dialog-dialog yang dimiliki, terutama yang keluar dari mulut Magneto, juga berkesan.</p>



<p>Meskipun Penulis tidak terlalu mengikuti X-Men, Penulis cukup mudah mengenali karakter-karakter yang ada di serial ini karena Penulis merupakan pemain <em>Marvel Snap</em>. Desain karakter yang ada di <em>game </em>TCG tersebut sama dengan yang ada di serial ini.</p>



<p>Selain karakter yang sudah familiar seperti Wolverine, Cyclops, Storm, Gambit, Beast, dan lainnya, Penulis langsung mengetahui karakter-karakter lainnya yang selama ini kurang ditonjolkan di film-film <em>live-action</em> seperti Jubilee, Morph, Sentinel, hingga Mister Sinister.</p>



<p>Penulis cukup menyayangkan kematian Gambit. Sudah di film <em>live-action </em>jarang muncul, sekalinya muncul di serial animasi malah harus mati. Namun, kematiannya yang heroik menjadi salah satu momen terbaik di serial ini.</p>



<p>Selain itu, ada banyak <em>cameo </em>menarik yang dimunculkan, mulai dari Captain America, Spider-Man, Silver Samurai, Omega Red, hingga Iron Man. Dengan kemunculan mereka, Penulis jadi berharap kalau di musim-musim selanjutkan akan ada tema X-Men vs Avengers.</p>



<p>Untuk konflik ceritanya sendiri bisa dibilang cukup berat, sehingga serial ini rasanya kurang cocok untuk anak-anak. Tema politik<strong> &#8220;manusia vs mutan&#8221;</strong> masih menjadi isu utama, di mana ada pihak yang ingin memusnahkan mutan dari Bumi karena berbagai alasan.</p>



<p>Salah satu poin utama yang membuat serial ini <em>outstanding </em>adalah bagaimana posisi Magneto yang tidak menjadi antagonis. Di serial ini, Magneto justru berusaha memahami apa keinginan Profesor Xavier, sebelum akhirnya merasa kalau usahanya berakhir sia-sia.</p>



<p>Bastion sebagai antagonis utama di serial ini juga terlihat sebagai musuh yang sulit untuk ditakhlukkan. Motivasinya untuk memusnahkan mutan mungkin kurang <em>deep</em>, tapi cukup kuat dan masuk akal. Pemilihannya sebagai <em>villain </em>utama sangat tepat.</p>



<p>Kesimpulannya, serial <em>X-Men &#8217;97 </em>berhasil menjadi oase di tengah gempuran serial Marvel lain yang kurang berkualitas. Walaupun tidak menonton serial aslinya, kita masih akan bisa menikmati jalan ceritanya tanpa perlu pusing.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Rating: 8/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 28 Mei 2024, terinspirasi setelah menonton serial <em>X-Men &#8217;97</em></p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://variety.com/2022/tv/news/x-men-97-release-date-season-2-comic-con-1235319958/">Variety</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-x-men-97/">[REVIEW] Setelah Menonton X-Men ‘97</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-x-men-97/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Koleksi Board Game #15: Hellapagos</title>
		<link>https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-15-hellapagos/</link>
					<comments>https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-15-hellapagos/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 May 2024 15:52:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Permainan]]></category>
		<category><![CDATA[board game]]></category>
		<category><![CDATA[Hellapagos]]></category>
		<category><![CDATA[koleksi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[survival]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7241</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sampai koleksi ke-14, Kakartu Se-kata, semua board game yang Penulis miliki bersifat kompetitif, di mana masing-masing pemain harus bisa mengalahkan pemain lainnya untuk bisa menang. Belum pernah ada board game yang sifatnya kooperatif. Penulis sendiri sebenarnya termasuk jarang memainkan board game kooperatif. Seumur hidupnya, Penulis baru memainkan Pandemic yang dimiliki oleh Pandu. Itu pun sampai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-15-hellapagos/">Koleksi Board Game #15: Hellapagos</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sampai koleksi ke-14, <strong>Kakartu Se-kata</strong>, semua board game yang Penulis miliki bersifat kompetitif, di mana masing-masing pemain harus bisa mengalahkan pemain lainnya untuk bisa menang. Belum pernah ada <em>board game </em>yang sifatnya kooperatif.</p>



<p>Penulis sendiri sebenarnya termasuk jarang memainkan <em>board game </em>kooperatif. Seumur hidupnya, Penulis baru memainkan Pandemic yang dimiliki oleh Pandu. Itu pun sampai sekarang Penulis tidak benar-benar paham bagaimana caranya.</p>



<p>Nah, karena muncul keinginan untuk membeli <em>board game </em>kooperatif, Penulis pun mencari beberapa alternatif selain Pandemic. Pilihan tersebut akhirnya jatuh ke <strong>Hellapagos</strong>, sebuah <em>board game </em>yang bertema <em>survival </em>di pulau tak berpenghuni.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/setelah-menonton-wandavision-episode-6-bagian-2-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/setelah-menonton-wandavision-episode-6-bagian-2-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/setelah-menonton-wandavision-episode-6-bagian-2-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/setelah-menonton-wandavision-episode-6-bagian-2-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/setelah-menonton-wandavision-episode-6-bagian-2.jpg 1280w " alt="Setelah Menonton WandaVision Episode 6 (Bagian 2)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-wandavision-episode-6-bagian-2/">Setelah Menonton WandaVision Episode 6 (Bagian 2)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Board Game</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: Hellapagos</li>



<li>Desainer: Laurence Gamelin, Philippe Gamelin</li>



<li>Publisher: Gigamic</li>



<li>Tahun Rilis: 2017</li>



<li>Jumlah Pemain: 3-12 pemain</li>



<li>Waktu Bermain: 20 menit</li>



<li>Rating BGG: 6,6</li>



<li>Tingkat Kesulitan: 1,33/5</li>



<li>Harga: Rp325.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Cara Bermain Hellapagos</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Tutorial Main Board Game - Hellapagos" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/ehBI24grzhQ?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Sebagai <em>game </em>kooperatif, tujuan utama dari Hellapagos adalah membawa sebanyak mungkin pemain yang terdampar untuk bisa selamat dari pulau terpencil. Untuk itu, kita harus bisa membuat rakit sejumlah pemain yang ada beserta bekal perjalanan.</p>



<p>Selain karena konsep kooperatifnya, satu hal yang membuat Penulis tertarik dengan Hellapagos adalah komponennya yang menarik. Selain sejumlah kartu dan papan permainannya, ada semacam karung dan bola-bola kayu dengan bahan yang cukup bagus.</p>



<p>Untuk kartunya sendiri ada beberapa jenis, seperti <strong>kartu peti</strong> yang dipegang oleh pemain dan berisi berbagai efek dan <strong>kartu cuaca</strong> yang menentukan kadar air yang bisa dikumpulkan (sekaligus satu kartu sebagai penanda permainan akan berakhir).</p>



<p>Selain itu, ada juga kartu yang menjadi penanda berapa rakit yang berhasil dibangun dan kartu yang menandakan seorang pemain sakit/mati. Bola kayu yang disebutkan tadi memiliki dua fungsi, yakni untuk mengumpulkan ikan untuk makan atau kayu untuk rakit.</p>



<p>Di awal permainan, kita akan dibekali dengan sejumlah makanan dan air yang akan berkurang sejumlah pemain di akhir ronde. Di setiap putaran baru, kita akan membuka kartu cuaca baru dan masing-masing pemain akan memilih untuk melakukan satu dari empat aksi yang tersedia.</p>



<p>Aksi yang pertama adalah mengumpulkan air, di mana jumlahnya ditentukan dari angka yang ditunjukkan pada kartu cuaca. Aksi yang kedua adalah mengambil ikan dengan cara mengambil bola kayu dari karung yang tersedia. Ikan yang didapatkan tergantung gambar ikan yang muncul di bola tersebut.</p>



<p>Aksi ketiga dan yang cukup vital adalah mengumpulkan kayu untuk membuat rakit. Jika kita berhasil mengumpulkan lima kayu, maka kita berhasil membuat satu rakit. Namun, hati-hati, karena ada ular beracun (dilambangkan dengan warna hitam) yang akan membuat pemain <em>idle </em>selama satu putaran.</p>



<p>Aksi terakhir yang bisa dilakukan adalah mengambil kartu peti dari <em>deck</em>, yang diletakkan di semacam kapal karam. Bisa dibilang, ini adalah aksi yang dianggap paling egois dan membuat pemain yang terlalu sering mengambilnya menjadi incaran untuk ditumbalkan.</p>



<p>Nah, setelah semua pemain telah melakukan salah satu aksi, maka selanjutnya adalah mengecek apakah stok air dan makanannya aman. Jika aman, maka akan lanjut ke ronde berikutnya. Jika tidak, maka akan ada <em>vote </em>untuk menumbalkan satu orang.</p>



<p>Permainan berakhir dalam tiga kondisi. Pertama, semua pemain telah berhasil memiliki rakit beserta minimal satu makanan dan air. Kedua, jika kartu badai telah muncul dari kartu cuaca. Jika jumlah rakit lebih sedikit, maka pemain harus melakukan <em>vote</em> untuk menentukan siapa yang akan selamat.</p>



<p>Kondisi terakhir adalah jika semua pemain mati, entah dengan cara apa. Sepanjang pengalamannya bermain Hellapagos, Penulis lebih sering menemukan permainan berakhir pada kondisi kedua, tapi dengan jumlah rakit yang sedikit.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Bermain Hellapagos</h2>



<p>Jika disuruh memilih satu <em>board game</em> yang harus dijual, maka Hellapagos ini akan menjadi yang paling &#8220;terdepan.&#8221; Sepertinya <em>board game </em>kooperatif memang tidak cocok untuk Penulis dan <em>circle</em>-nya. </p>



<p>Selain menjadi salah satu <em>board game</em> yang paling jarang dimainkan, Hellapagos sampai saat ini juga menjadi <em>board game </em>yang belum bisa dikalahkan. Mau coba pakai strategi apapun, ada saja hal yang menjegal kami untuk selamat.</p>



<p>Sebagai <em>party game</em>, Hellapagos juga kurang seru jika hanya dimainkan sekitar 4-5 orang. Akan tetapi, kalau jumlah pemainnya terlalu banyak, permainan juga akan menjadi terlalu panjang dan cenderung membosankan bagi pemain yang sedang menunggu giliran.</p>



<p>Unsur pengkhianatan yang diharapkan datang ketika terdesak pun akan jarang terjadi jika pemain adalah tipe yang lurus-lurus saja. Apalagi, jika ada pemain yang menunjukkan gelagat aneh, mudah saja untuk menyingkirkannya dari permainan ketika melakukan <em>vote</em>.</p>



<p>Penulis sempat membuat variasi dengan menyisipkan &#8220;Joker&#8221; di mana ada pemain yang tugasnya menyabotase agar tidak ada yang bisa selamat dari pulau tersebut. Varian ini membuat permainan menjadi lebih seru, tapi rasanya masih belum cukup.</p>



<p>Belajar dari Hellapagos, tampaknya <em>board game </em>dengan mode permainan kooperatif memang kurang cocok untuk Penulis yang orangnya cukup kompetitif. Oleh karena itu, Penulis hingga saat ini belum pernah lagi membeli <em>board game </em>kooperatif.</p>



<p>NB: Sebenarnya ada satu <em>board game </em>kooperatif yang sudah Penulis coba dan cukup menyenangkan, yakni Zombicide. Sayangnya, harga <em>board game</em> tersebut mencapai Rp1,6 juta untuk versi <em>base game</em>-nya saja, sehingga rasanya Penulis tidak akan pernah membelinya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">RATING: 5/10</mark></p>
</blockquote>



<p>Saat membeli Hellapagos, Penulis membelinya bersamaan dengan satu <em>board game </em>lagi yang sama-sama <em>party game. </em>Bedanya, ini adalah salah satu <em>party game </em>yang Penulis sukai karena cukup kompetitif. <em>Board game </em>tersebut adalah <strong>Bahamas</strong>.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 14 Mei 2024, terinspirasi karena ingin melanjutkan seri <em>board game </em>ini</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-15-hellapagos/">Koleksi Board Game #15: Hellapagos</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-15-hellapagos/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
