<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>review Archives - whathefan</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/review/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/review/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Oct 2026 15:35:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/02/logo-kotak-whathefan-2026-v3-80x80.jpg</url>
	<title>review Archives - whathefan</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/review/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Menonton Linkin Park: Unshatter</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-linkin-park-unshatter/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-linkin-park-unshatter/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2026 15:35:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[dokumenter]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8905</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai penggemar Linkin Park, tentu kalau ada film dokumenter tentangnya, Penulis akan menontonnya. Pertama kali Penulis tahu tentang film Linkin Park: Unshatter adalah ketika video trailernya muncul di YouTube Penulis, dengan soundtrack yang menggetarkan jiwa. Penulis pada akhirnya tahu kalau soundtrack dari trailer tersebut berjudul &#8220;Inception/Intro&#8221;, yang kerap digunakan sebagai pembukaan konser Linkin Park, termasuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-linkin-park-unshatter/">[REVIEW] Setelah Menonton Linkin Park: Unshatter</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sebagai <a href="https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-lagu-linkin-park-versi-saya/">penggemar Linkin Park</a>, tentu kalau ada film dokumenter tentangnya, Penulis akan menontonnya. Pertama kali Penulis tahu tentang film <em><strong>Linkin Park: Unshatter</strong> </em>adalah ketika video trailernya muncul di YouTube Penulis, dengan <em>soundtrack </em>yang menggetarkan jiwa. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis pada akhirnya tahu kalau <em>soundtrack </em>dari trailer tersebut berjudul &#8220;Inception/Intro&#8221;, yang kerap digunakan sebagai pembukaan konser Linkin Park, termasuk di Sao Paulo, Brasil. Lagu tersebut mengombinasikan &#8220;Castle of Glass&#8221;, &#8220;In the End&#8221;, hingga &#8220;Numb&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, walau begitu, Penulis tidak terlalu berharap kalau film ini akan masuk ke Indonesia, apalagi jika menilik pengalaman film <em>Coyote vs. ACME </em>yang juga tidak masuk pasar Indonesia. Untunglah film ini ditayangkan di Indonesia, dengan harga tiket yang lumayan mahal.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan.jpg 1280w " alt="Chapter 56 Sepucuk Surat dari Ayah" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-56-sepucuk-surat-dari-ayah/">Chapter 56 Sepucuk Surat dari Ayah</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Film Linkin Park: Unshatter</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Linkin Park: Unshatter</em></li>



<li>Sutradara: Joe Hahn</li>



<li>Cast: Mike Shinoda, Joe Hahn, Dave Farrell, Brad Delson, Emily Armstrong, Colin Brittain</li>



<li>Durasi: 110 Menit</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Cerita Linkin Park: Unshatter<br></h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/linkin-park-unshatter-1-1024x683.png" alt="" class="wp-image-8908" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/linkin-park-unshatter-1-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/linkin-park-unshatter-1-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/linkin-park-unshatter-1-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/linkin-park-unshatter-1.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Joe Hahn (<a href="https://youtu.be/K9Lpxc7bVTM">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Linkin Park: Unshatter </em>bercerita tentang perjalanan Linkin Park sejak ditinggal oleh vokalis utamanya, <a href="https://whathefan.com/musik/saya-dan-linkin-park-tentang-kematian-chester-dan-perjumpaan-pertama/">Chester Bennington</a>, pada tahun 2017. Ada masa vakum yang lama sejak mereka akhirnya kembali dengan dua personel baru, yakni <strong>Emily Armstrong</strong> dan <strong>Colin Brittain</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masing-masing personel berusaha menghadapi <em>grief </em>yang sedang dihadapi dengan caranya sendiri. <strong>Mike Shinoda </strong>misalnya, yang memutuskan untuk bersolo karier dan sempat merilis beberapa <em>single </em>dan album.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada satu titik,<strong> Joe Hahn</strong> yang merupakan DJ dari Linkin Park mengajak Shinoda untuk sekadar bertemu dan mengobrol tentang keinginan untuk membuat musik. <strong>Dave Farrel </strong>selaku <em>bassist </em>pun juga bergabung untuk mencoba membuat karya baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya saja, pada perjalanannya tidak semua <em>member </em>memiliki ide serupa. Gitaris <strong>Brad Delson </strong>awalnya menolak, walau pada akhirnya memutuskan bergabung dengan catatan dirinya hanya fokus di balik layar dan tidak akan ikut tur <em>band</em>. <strong>Rob Bourdon </strong>sebagai <em>drummer </em>bahkan tidak mau terlibat sama sekali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam prosesnya, mereka pun berkenalan dengan Emily dan Colin, yang nantinya akan mengisi posisi vokalis dan <em>drummer</em>. Ternyata, sempat ada kepikiran kalau mereka tidak akan menggunakan nama Linkin Park, walau mereka menyadari bahwa musik yang mereka buat terdengar sangat Linkin Park.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya,<strong> <a href="https://whathefan.com/musik/menatap-era-baru-linkin-park-bersama-emily-armstrong/">Linkin Park pun kembali pada tahun 2024</a></strong><a href="https://whathefan.com/musik/menatap-era-baru-linkin-park-bersama-emily-armstrong/"> dengan vokalis baru</a>, yang pada saat itu sempat menimbulkan pro-kontra. Mereka berhasil <em>against all odds </em>dan membuktikan bahwa legasi yang ditinggal Chester akan diteruskan kepada Emily. Bukan sebagai pengganti, melainkan penerus.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Menonton Linkin Park: Unshatter</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/linkin-park-unshatter-2-1024x683.png" alt="" class="wp-image-8909" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/linkin-park-unshatter-2-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/linkin-park-unshatter-2-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/linkin-park-unshatter-2-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/linkin-park-unshatter-2.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Mike Shinoda (<a href="https://www.youtube.com/watch?v=3tsnJNiIEJA">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Jujur saja, ini adalah <strong>kali pertama Penulis menangis ketika menonton sebuah film di bioskop</strong>. Kejadiannya terjadi ketika cuplikan konser di Sao Paulo dan Linkin Park sedang menyanyikan lagu &#8220;The Catalyst&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang ada beberapa lagu Linkin Park yang bisa membuat Penulis menangis, tapi &#8220;The Catalyst&#8221; bukan salah satunya. Entah mengapa ketika mendengarkan bagian <em><strong>lift me up, let me go</strong></em>, Penulis tak kuasa membendung keluarnya air mata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika direnungkan, mungkin penyebabnya bisa merupakan kombinasi dari terpukau dengan keindahan musik serta keterlibatan penonton yang ikut bernyanyi, teringat almarhum Chester, atau juga merasa sedang disemangati oleh Linkin Park di masa-masa sulit seperti sekarang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Penulis, Linkin Park bukan sekadar <em>band </em>favoritnya, tapi juga bagian dari hidupnya. Penulis telah mendengarkan mereka selama lebih dari 20 tahun dan kerap menemani Penulis dalam masa-masa sulit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terlepas dari kejadian yang agak memalukan tersebut, Penulis benar-benar menikmati film tersebut. Berdurasi lebih dari satu setengah jam, Penulis tidak pernah merasa bosan sama sekali. Apalagi, cerita yang disampaikan juga benar-benar terasa emosional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita bisa melihat bagaimana dunia <strong>para anggota Linkin Park terasa <em>shatter</em> alias kacau balau setelah kematian Bennington yang mendadak</strong>. Shinoda bahkan mengatakan bahwa ia merasa seolah hidupnya tak memiliki tujuan lagi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Masing-masing anggota juga secara jujur berusaha mengungkapkan kesulitannya. Entah mengapa walau kasusnya mungkin akan berbeda dengan kita, ada banyak bagian yang membuat kita bisa merasa <em>related </em>dengan apa yang pernah mereka hadapi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Contohnya adalah ketika Delson mengatakan bahwa menjalani tur <em>band </em>sudah tidak cocok untuknya. Ia mengungkapkan bahwa selama ini dirinya merasa seperti berusaha <strong>&#8220;memasukkan pasak kotak ke dalam lubang bulat&#8221;</strong>, alias memaksakan sesuatu yang tidak mungkin akan cocok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, mungkin karena <em>passion </em>mereka di bidang musik, karena kerinduan dalam menelurkan sebuah karya, mereka akhirnya <strong>memutuskan untuk kembali alias <em>unshatter</em></strong>. Butuh 7 tahun hingga akhirnya mereka benar-benar tampil di hadapan para penggemar, dengan lagu dan personel baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sepanjang film, kita akan sering melihat cuplikan dari konser Sao Paulo karena alurnya tidak sepenuhnya linear. <strong>Audio dari bioskop juga membuat pengalaman menontonnya menjadi lebih maksimal dan benar-benar memuaskan</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu hal lain yang menarik dari film ini adalah setiap dari <strong><em>sub-part</em>-nya diberi judul sesuai dengan lirik dari lagu-lagu Linkin Park</strong>. Contohnya adalah &#8220;The Hardest Part of Ending is Starting Again&#8221;, yang diambil dari lagu <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-a-thousand-suns/">&#8220;Waiting for the End&#8221;</a>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu saja sebagai penggemar berat Linkin Park, Penulis akan memberikan film ini skor yang sangat tinggi kepada film ini. Khusus untuk film ini, Penulis tidak merasa ada kekurangan yang perlu dituliskan di artikel ini. Penulis benar-benar menyukai film ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">SKOR: 11/10</mark></strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 8 Oktober 2026, terinspirasi setelah menonton film <em>Linkin Park: Unshatter</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-linkin-park-unshatter/">[REVIEW] Setelah Menonton Linkin Park: Unshatter</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-linkin-park-unshatter/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Menonton Avengers: Endgame Encore</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-avengers-endgame-encore/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-avengers-endgame-encore/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2026 16:37:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[Avengers]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[Marvel]]></category>
		<category><![CDATA[MCU]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[superhero]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8885</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jelang rilisnya film Avengers: Doomsday pada bulan Desember mendatang, pihak Marvel rupanya merilis ulang film Avengers: Endgame (2019) dengan beberapa adegan tambahan yang langsung nyambung ke film Doomsday. Film ini diberi judul Avengers: Endgame Encore. Penulis telah menontonnya pekan kemarin di Surabaya, karena film ini agak telat masuk ke Malang. Karena khawatir kena spoiler duluan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-avengers-endgame-encore/">[REVIEW] Setelah Menonton Avengers: Endgame Encore</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Jelang rilisnya film <em>Avengers: Doomsday </em>pada bulan Desember mendatang, pihak Marvel rupanya merilis ulang film <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-avengers-endgame-bagian-1-adegan-favorit/"><em>Avengers: Endgame </em>(2019)</a> dengan beberapa adegan tambahan yang langsung <em>nyambung </em>ke film <em>Doomsday</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Film ini diberi judul <em><strong>Avengers: Endgame Encore</strong></em>. Penulis telah menontonnya pekan kemarin di Surabaya, karena film ini agak telat masuk ke Malang. Karena khawatir kena <em>spoiler </em>duluan, Penulis pun sampai rela mengambil cuti agar bisa menonton film ini di hari <em>premiere</em>-nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Awalnya, Penulis mengira kalau film ini akan menyertakan beberapa <em>deleted scenes </em>yang tidak dimasukkan ke dalam versi 2019. Ternyata, sepanjang kurang lebih 3 jam, sama sekali tidak ada adegan baru yang disisipkan ke dalam film ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adegan tambahan hanya terdapat pada akhir film, dengan total ada empat adegan yang semuanya memiliki keterkaitan dengan film <em>Avengers: Doomsday</em>. Di artikel ini, Penulis hanya akan membahas keempat adegan baru tersebut.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Tier-List-Lagu-Lagu-IVE-Bagian-1-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Tier-List-Lagu-Lagu-IVE-Bagian-1-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Tier-List-Lagu-Lagu-IVE-Bagian-1-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Tier-List-Lagu-Lagu-IVE-Bagian-1-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Tier-List-Lagu-Lagu-IVE-Bagian-1-banner.jpg 1200w " alt="Tier List Lagu-Lagu IVE Versi Saya (Bagian 1: Single dan EP Jepang)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-lagu-ive-bagian-1-single-dan-ep-jepang/">Tier List Lagu-Lagu IVE Versi Saya (Bagian 1: Single dan EP Jepang)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Film Avengers: Endgame Encore</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Avengers: Endgame Encore</em></li>



<li>Sutradara: Anthony dan Joe Russo</li>



<li>Cast: Robert Downey Jr., Chris Evans, Chris Hemsworth, Mark Rufallo, Scarlett Johansson, Josh Brolin</li>



<li>Durasi: 185 Menit</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Cerita Avengers: Endgame Encore?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8892" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Langsung Berlanjut Setelah Adegan Ini (<a href="https://www.reddit.com/r/marvelstudios/comments/e2ko3j/official_still_of_peggy_steve_from_avengers/">Reddit</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Adegan baru pertama di film ini langsung melanjutkan apa yang menjadi <em>ending </em>bagi <em>Endgame</em>, adegan ketika Steve Rogers (Chris Evans) sedang berdansa dengan Peggy Carter (Hayley Atwell).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiba-tiba, terdengar sebuah ketukan pintu dari arah depan rumah. Rogers pun bersembunyi, sedangkan Carter membuka pintu untuk mengetahui siapa yang datang dan bertanya apakah ada yang bisa dibantu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sang tamu menjawab tidak dan justru menawarkan balik kalau dirinya bisa membantu Carter sekaligus Rogers. Tamu tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah <a href="https://whathefan.com/filmserial/akhirnya-marvel-kembali-ke-jalan-yang-benar-melalui-loki-season-2/">Loki (Tom Hiddleston), yang mengenakan seragam TVA-nya</a>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Adegan kedua, menurut Penulis seharusnya menjadi <em>post-credit </em>untuk film <em>Spider-Man: Brand New Day</em>. Kita akan melihat Bruce Banner (Mark Rufallo), yang sempat kembali berubah menjadi Hulk yang tak terkendali, sedang mengurung diri di sebuah instalasi militer.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia terlihat sedang membuat video <em>footage </em>mengenai upayanya dalam membuat semacam alat penahan radiasi gamma terbaru dan akan melakukan demonstrasi terkait alat tersebut. Namun, tiba-tiba ada semacam <em>glitch </em>yang terjadi dan terdengar suara Doctor Doom (Robert Downey Jr.).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Doom hanya mengatakan kalau ia datang untuk <em>collect </em>Banner, sebelum kita mendengar suara erangan Doom. Setelah itu, kita bisa melihat semacam <em>rune </em>yang menjadi ciri khas Doom di lantai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adegan ketiga mungkin menjadi yang paling penting dari semuanya. Kita semua akan dibawa kembali ke &#8220;kantor&#8221; Time Variance Authority (TVA). Sempat terlihat juga foto Loki bersama tulisan &#8220;Best Employee of All Time&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita bisa melihat Mobius (Owen Wilson) sedang melakukan rutinitas pekerjaannya, sebelum OB (Ke Huy Quan) dan Casey (Eugene Cordero) menemukan adanya Incursion. Bahkan, dua semesta yang akan bertabrakan tersebut terlihat berusaha saling menghancurkan demi menyelamatkan semestanya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah itu, jumlah Incursion terus bertambah dengan jumlah yang mengerikan, dengan terakhir disebutkan telah mencapai 3.000 kasus (sama seperti <em>I love you 3.000 </em>di film <em>Endgame</em>). OB pun mengatakan <em>multiverse is collapsing</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adegan baru yang terakhir adalah adegan ketika terdengar suara dentingan ketika Tony Stark membuat <em>suit </em>Ironman pertamanya di gua. Bedanya, kali ini suara tersebut disertai oleh pembuatan topeng Doom!</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Menonton Avengers: Endgame Encore</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jujur, setelah menonton adegan tambahan di film ini, otak Penulis langsung sibuk membuat teori dan mencocokkan beberapa teori yang telah Penulis ketahui sampai sejauh ini. Oleh karena itu, mari kita bedah satu per satu adegan baru di film ini. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Adegan Steve Rogers dan Loki</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8890" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Loki di Rumah Steve Rogers (<a href="https://screenrant.com/avengers-doomsday-major-loki-change-tva-mcu-story/">ScreenRant</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, ketika Loki datang menghampiri Rogers dan Carter. Adegan ini seolah mengonfirmasi kalau di trailer <em>Doomsday</em>, Loki memang benar sedang mendatangi rumah Captain America.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, adegan ini juga seperti mengonfirmasi kalau Rogers yang bertemu dengan Thor di trailer merupakan Rogers yang kita kenal selama ini. Bisa dibilang, ia melakukan perjalanan lintas waktu yang kemungkinan besar dibantu oleh Loki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Rogers yang kita lihat di trailer <em>brewokan</em>, berbeda dengan di adegan film yang masih dalam kondisi tercukur bersih. Artinya, ada jeda waktu yang cukup panjang dari apa yang terlihat di akhir film<em> Endgame Encore </em>dan trailer.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau menurut teori Penulis, tampaknya Rogers sedang diburu oleh Doctor Doom yang menganggapnya sebagai penyebab Incursion, yang membuat Doom kehilangan sosok penting dalam hidupnya. Loki pun datang untuk membantu mantan musuhnya tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini juga menimbulkan kontradiksi baru. Seperti yang kita tahu, akhir film <em>Endgame </em>juga memperlihatkan adegan Rogers yang menua dan menyerahkan perisainya ke Sam Wilson. Nah, kalau Rogers yang kita kenal ternyata dibawa oleh Loki, lantas siapa pria tua tersebut?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga saja pada akhirnya nanti kita bisa mendapatkan penjelasan yang memuaskan di <em>Doomsday</em> mengenai hal ini. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Adegan Bruce Banner dan Doctor Doom</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8891" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Bruce Banner Jadi Hulk Lagi (<a href="https://www.yahoo.com/entertainment/movies/articles/happens-hulk-spider-man-brand-000000393.html">Yahoo!</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu hal yang paling membuat Penulis bingung di MCU adalah terkait masalah inkonsistensi Hulk. Seperti yang kita tahu, Banner telah berhasil menggabungkan otaknya dengan kekuatan fisik Hulk, yang sering disebut sebagai Professor Hulk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, hal ini lantas berubah di serial <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-she-hulk-attorney-at-law/">She-Hulk: Attorney at Law</a> </em>dan film <em>Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings</em>, di mana ia kembali ke wujud manusianya dengan mengenakan semacam alat di lengannya. Bukannya Banner harusnya sudah menguasai Hulk sepenuhnya?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di film <em>Brand New Day</em>, kita masih bisa memaklumi bagaimana Banner kembali menjadi Hulk yang liar akibat campur tangan dari Jean Grey. Hanya saja, Marvel tidak pernah menjelaskan secara jelas mengapa Banner memutuskan untuk kembali ke wujud manusianya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oh iya, ada satu hal lagi seputar Hulk yang menggelitik Penulis: Ke mana She-Hulk dan Skaar, anak Hulk yang telah diperkenalkan sebelumnya? </p>



<h3 class="wp-block-heading">Adegan TVA dan Topeng Doom</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8889" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">&#8220;Multiverse is collapsing,&#8221; OB (<a href="https://www.radiotimes.com/tv/sci-fi/ke-huy-quan-ouroboros-ob-loki/">Radio Times</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Lewat adegan yang diperlihatkan di kantor TVA, kita bisa mendapatkan gambaran mengenai konflik besar yang akan terjadi di film <em>Doomsday</em>. Semesta sedang saling bertabrakan dan menyebabkan Incursion dalam jumlah yang mengerikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut teori Penulis, Doom adalah orang di balik semua peristiwa Incursion ini. Di trailer, Reed Richards sempat bertanya kepadanya apakah ia yang melakukan ini semua, sehingga Penulis mengira kalau apa yang dirujuk oleh Richards adalah peristiwa Incursion ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Penulis menebak kalau nantinya Doom akan muncul dulu sebagai sosok yang disebut akan menyelamatkan <em>multiverse</em>. Barulah pada akhirnya akan terbukti kalau ternyata ia justru menjadi dalang dari semuanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis juga menganggap kalau motivasi Doom melakukan ini semua adalah karena ia kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya. Sue Storm di trailer juga sempat mengatakan bahwa dulunya, Doom bukan orang yang jahat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kehilangan sesuatu tersebut mendorongnya untuk menjadi Doom dan menyebabkan kekacauan <em>multiverse </em>dengan skala yang luar biasa. Ia pun menciptakan alter ego Doctor Doom, membuat topeng khasnya, dan berupaya mengobrak-abrik seluruh <em>multiverse</em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kesimpulan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak awal, Penulis termasuk orang yang skeptis terhadap film <em>Avengers: Doomsday</em>. Pasalnya, <em>build up </em>film ini terkesan kurang dan terburu-buru. Hingga kini, baru dua kali Doom benar-benar muncul, yakni di film <em>Fantastic Four: The First Step </em>dan film ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai perbandingan, Thanos yang menjadi <em>villain </em>utama film <em>Avengers: Infinity Wars</em> (2018) telah diperkenalkan sejak film Avengers pertama, yang rilis 2012. Ia juga sempat muncul beberapa kali, termasuk di film <em>Guardians of the Galaxy Vol. 1</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perasaan tersebut mulai membaik setelah menonton adegan-adegan baru di film <em>Endgame Encore </em>ini. Setidaknya, film ini arahnya mau ke mana sudah mulai terbayang. Walau begitu, perasaan takut kalau filmnya akan menjadi berantakan tetap ada.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga saja Penulis salah dan <em>Avengers: Doomsday </em>tetap menjadi film yang menarik untuk ditonton.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 30 September 2026, terinspirasi setelah menonton <em>Avengers: Endgame Encore</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-avengers-endgame-encore/">[REVIEW] Setelah Menonton Avengers: Endgame Encore</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-avengers-endgame-encore/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Menonton Spider-Man: Brand New Day</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-spider-man-brand-new-day/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-spider-man-brand-new-day/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2026 15:27:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Marvel]]></category>
		<category><![CDATA[MCU]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Spider-Man]]></category>
		<category><![CDATA[superhero]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8837</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tepat ada satu bulan yang lalu, Penulis menonton film keempat Spider-Man versi Marvel Cinematic Universe (MCU), Spider-Man: Brand New Day. Berbeda dengan tiga film sebelumnya yang disutradarai oleh Jon Watts, film ini disutradarai oleh Destin Daniel Cretton. Jujur, Spider-Man merupakan salah satu superhero favorit Penulis, sehingga film ini menjadi salah satu yang Penulis nantikan di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-spider-man-brand-new-day/">[REVIEW] Setelah Menonton Spider-Man: Brand New Day</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Tepat ada satu bulan yang lalu, Penulis menonton film keempat Spider-Man versi Marvel Cinematic Universe (MCU), <em><strong>Spider-Man: Brand New Day</strong>. </em>Berbeda dengan tiga film sebelumnya yang disutradarai oleh Jon Watts, film ini disutradarai oleh Destin Daniel Cretton.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jujur, Spider-Man merupakan salah satu <em>superhero </em>favorit Penulis, sehingga film ini menjadi salah satu yang Penulis nantikan di tahun ini. Apalagi, dari trailernya, masih belum benar-benar diketahui siapa yang akan menjadi <em>villain</em> utama di film ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun sudah satu bulan berlalu, catatan Penulis tentang film ini masih tersimpan dengan rapi, sehingga Penulis memutuskan untuk tetap menuliskan pendapatnya terkait film ini. Apakah film ini memenuhi ekspektasi Penulis, atau justru mengecewakan?</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-banner.jpg 1280w " alt="Kenapa Saya Berhenti Main TikTok" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">Kenapa Saya Berhenti Main TikTok</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Film Spider-Man: Brand New Day</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Spider-Man: Brand New Day</em></li>



<li>Sutradara: Destin Daniel Cretton</li>



<li>Cast: Tom Holland, Zendaya, Jacob Batalon, Sadie Sink, Jon Bernthal, Mark Rufallo</li>



<li>Durasi: 145 Menit</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Cerita Spider-Man: Brand New Day?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8842" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Banyak Easter Egg dari Komik (<a href="https://www.gamesradar.com/news/live/spider-man-brand-new-day-trailer-launch-all-the-clips-posted-throughout-the-day-from-spider-man-4/">GamesRadar</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa tahun telah berlalu sejak peristiwa yang terjadi di film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-spider-man-no-way-home/">Spider-Man: No Way Home</a> </em>(2021), ketika <strong>Peter Parker</strong> (Tom Holland) meminta seluruh orang melupakan tentang dirinya. Ia pun menjalani hidup yang benar-benar baru, termasuk sebagai Spider-Man.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, ia tak benar-benar <em>move-on</em> dari kehidupan lamanya. Pasalnya, ia kerap memantau mantan pacar dan sahabatnya, <strong>MJ</strong> (Zendaya) dan <strong>Ned</strong> (Jacob Batalon), melalui akun media sosial mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada satu titik, Peter menemukan sebuah fenomena aneh di mana ada seseorang yang mampu pindah dan menguasai tubuh orang lain, bahkan bisa berpindah-pindah dengan cepat (meskipun nanti diketahui perpindahan tersebut membutuhkan jarak).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sosok yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut ternyata adalah <strong>Jean Gray</strong> (Sadie Sink), karakter yang dikenal sebagai salah satu X-Men terkuat. Ia mengincar Department of Damage Control (DODC) demi menyelamatkan kakaknya, Sara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah kekacauan tersebut, Peter juga berusaha untuk mengatasi mutasi yang sedang terjadi pada tubuhnya. Sama seperti Peter Parker versi Tobey Maguire, ia juga mulai bisa mengeluarkan jaring dari tubuhnya secara organik tanpa menggunakan alat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Singkat cerita, konflik antara Jean dan DODC semakin memuncak, di mana ia membuat <strong>Bruce Banner </strong>(Mark Rufallo) kembali berubah menjadi Hulk yang tidak terkontrol. Dibantu oleh<strong> Frank Castle alias The Punisher </strong>(John Bernthal), ia berhasil mengalahkan Hulk sekaligus Jean.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di sinilah <em>plot twist </em>terjadi. Peter akhirnya menyadari bahwa tujuan DODC adalah melakukan <em>abusing </em>kepada Jean (juga Sara yang ternyata telah meninggal) untuk mempelajari kekuatan mereka. Ia pun balik berusaha menyelamatkan Jean.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, Jean yang mengetahui fakta tentang kematian kakaknya akhirnya emosinya meledak dan mampu membuat sebagian penduduk New York City membeku. Peter pun dengan menggunakan ingatannya tentang Bibi May<em> </em>berhasil menenangkan Jean.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya saja, The Punisher yang sedang mengincar Jean sempat menembakkan peluru <em>sniper</em> dan Peter memasang badan untuk melindunginya. Walau sempat kritis, Peter berhasil selamat berkat bantuan Jean.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Menonton Spider-Man: Brand New Day</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Penulis, ini bukanlah film tentang Spider-Man, melainkan tentang Peter Parker. Kita seolah diminta ikut merasakan apa yang sedang Peter rasakan, menanggung beban yang sedang ia pinggul, dan emosi yang berusaha yang ia kendalikan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, jangan berharap kalau di film ini akan ada banyak adegan <em>action </em>seperti di film <em>No Way Home</em>. Yang bisa dianggap benar-benar keren mungkin pertarungan antara Spider-Man melawan Hulk di markas DODC, itu juga cuma sebentar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada beberapa poin yang ingin Penulis sampaikan secara spesifik terkait film ini.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Film Spider-Man yang Menekankan Sisi Emosinya</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8843" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Beban Emosional Peter Parker (<a href="https://images.dawn.com/news/1195042/the-trailer-for-spider-man-brand-new-day-shows-peter-parker-down-on-his-luck">Dawn Images</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu adegan paling emosional sekaligus &#8220;keterlaluan&#8221; di film ini adalah ketika Jean Gray merasuki MJ dan membuatnya berpura-pura ingat siapa Peter. Penulis awalnya sedikit mengangkat alis karena MJ yang sadar setelah berciuman benar-benar klise dan seperti dongeng. Untunglah ternyata itu hanya Jean yang berpura-pura!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, keputusan untuk membuat MJ tidak langsung jatuh cinta kembali ke Peter setelah membaca surat yang ia buat beberapa tahun lalu Penulis anggap tepat karena lebih masuk akal. MJ tidak punya memori apa pun tentang Peter, sehingga tidak ada alasan untuknya jatuh cinta ke Peter.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis justru berharap kalau pada akhirnya Peter benar-benar <em>move on </em>dari MJ di film-film selanjutnya. Ia harus bisa membuka lembaran baru karena orang yang ia cintai telah menyatakan, &#8220;<em>I don&#8217;t love you</em>&#8221; secara terang-terangan</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, yang membuat ambigu adalah bagian akhir film, ketika ia bersalaman dengan Ned. Setelah melakukannya, Ned tiba-tiba menyebut nama Peter, tapi tidak jelas apakah itu karena ia ingat siapa Peter atau sadar bahwa Peter yang ada di hadapannya adalah Spider-Man (karena MJ sempat kelepasan ngomong).</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kehidupan Pribadi Peter Parker yang Tidak Dieksplorasi</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8844" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">UANGNYA DARI MANA??? (<a href="https://www.reddit.com/r/okbuddycinephile/comments/1vdkh14/in_spiderman_brand_new_day_peter_is_able_to/">Reddit</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Anehnya, film ini sama sekali tidak mengeksplorasi kehidupan Peter Parker di luar menjadi Spider-Man. Apakah ia bekerja? Di mana ia bisa mendapatkan uang untuk mendapatkan semua peralatan canggihnya? Apakah ia tidak punya teman baru ketika kuliah?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang kita tahu, Peter membuat AI sendiri yang diberi nama EV. Jujur, hal ini terasa janggal karena di akhir film <em>No Way Home</em>, kita melihat Peter menjahit sendiri kostum Spider-Man-nya yang terlihat keren tanpa ada sentuhan teknologi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis awalnya berharap di film ini akan melihat Spider-Man versi tradisional tanpa alat-alat canggih seperti di film-film sebelumnya. Sayangnya, tampaknya teknologi tersebut menjadi semacam <em>shortcut </em>untuk tidak meninggalkan <em>plot holes </em>di dalam film.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Sadie Sink sebagai Jean Gray dan The Punisher yang Melempem</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8845" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-4.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sadie Sink sebagai Jean Gray (<a href="https://screenrant.com/spider-man-brand-new-day-tramell-tillman-bill-metzger-mcu-future/">ScreenRant</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sesuai dengan prediksi banyak orang, Sadie Sink benar-benar terbukti menjadi Jean Gray. Hal ini membuatnya resmi menjadi jembatan ke era X-Men versi MCU, di mana film perdananya telah diumumkan akan tayang pada tahun 2028 mendatang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di layar lebar, ia adalah orang ketiga yang memerankan karakter ini setelah Famke Jansse dan Sophie Turner. Menurut Penulis, ia cukup baik dalam memerankan karakter <em>telepath </em>yang masih berusaha mengendalikan kekuatannya. Penulis penasaran, apakah ia sedang menuju sekolah Profesor Xavier di bagian akhir film?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun di sisi lain, kehadiran Jean Gray juga lumayan menggeser fokus filmnya. Film ini seolah tidak berfokus pada kehidupan Peter pasca-<em>No Way Home</em>, tapi menjadi jembatan untuk film X-Men yang akan tayang di masa depan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bicara soal karakter, The Punisher yang biasanya dikenal sangat <em>badass </em>terlihat melempem, seolah karakternya tertahan oleh rating film yang PG-13. Ia justru terlihat seperti om-om <em>tsundere </em>yang berusaha sok keren di hadapan keponakannya!</p>



<h3 class="wp-block-heading">Alur Cerita yang Klise dan Mudah Ditebak</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-5-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8846" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-5-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-5-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-5-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-5.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Semua Beres dengan Kekuatan Tekad! (<a href="https://screenrant.com/spiderman-brand-new-day-trailer-peter-parker-change-organic-webbing/">ScreenRant</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu hal yang membuat film ini terasa buruk adalah alur ceritanya yang mudah ditebak. Sejak awal, rasanya semua penonton bisa menduga kalau Jean Gray tidak benar-benar jahat dan DODC adalah <em>villain </em>yang sesungguhnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pola cerita seperti ini bisa dibilang sangat klise dan <em>overuse</em>, bahkan rasanya konyol karena Peter lagi-lagi dikelabui oleh pihak penjahat. Sebelumnya di film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-spider-man-far-from-home/">Spider-Man: Far from Home</a> </em>(2019), ia juga ditipu mentah-mentah oleh Mysterio.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak hanya itu, Peter yang tiba-tiba mampu menguasai kemampuan mutasi barunya dengan kekuatan &#8220;tekad&#8221; juga terasa klise. Padahal, sepanjang film kita bisa melihat bagaimana ia benar-benar <em>struggling </em>dengan kemampuan barunya tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis juga agak tertawa ketika mengetahui apa makna di balik V-Max. Bagi Penulis, plot V-Max ini terasa agak memaksa. Apakah memang tidak ada ruangan lain untuk menyekap Jean? Mengapa V-Max justru jadi yang terucap terakhir dari Sara?</p>



<h3 class="wp-block-heading">Cameo Yelena yang Terasa Nanggung</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-6-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8847" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-6-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-6-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-6-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-6.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Cameo Yelena Belova (<a href="https://www.facebook.com/nathanistic/posts/brand-new-day-has-yelena-meet-peter-in-a-bathhousethe-fandom-is-abuzz-over-a-hil/1055667963510639/">Facebook</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Yelena Belova, yang diperankan oleh Florence Pugh, menjadi <em>cameo </em>yang paling mengejutkan di film ini. Namun, kehadirannya juga terasa &#8220;asal tempel&#8221; karena perannya di film ini rasanya bisa digantikan siapa saja, selama punya jaringan informasi yang luas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sama sekali tidak disinggung terkait pesawat Fantastic Four yang terlihat di adegan <em>post-credit Thunderbolts* </em>yang hendak menuju bumi. Hal ini menimbulkan pertanyaan, kejadian di film ini terjadi sebelum atau sesudah film<em> Thunderbolts*</em>?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setidaknya, ada satu hal menarik yang terungkap dengan adanya interaksi antara Peter dan Yelena, yakni tentang &#8220;<em>small potato</em>&#8221; versus &#8220;<em>big potato</em>&#8220;. Marvel tampaknya ingin memfokuskan Spider-Man menghadapi <em>street-villain level</em>, sedangkan Avengers versi Yelena akan menangani ancaman yang lebih besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya ini hal yang cukup menggelikan, karena anggota Avengers mana selain Sentry yang lebih kuat dari Spider-Man?</p>



<h3 class="wp-block-heading">Spider-Man Tidak Muncul di Avengers: Doomsday?</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Film ini juga sama sekali tidak menyinggung tentang <a href="https://whathefan.com/filmserial/langkah-frustasi-marvel-dalam-menyelamatkan-semestanya/">Doctor Doom yang akan menjadi musuh utama di film <em>Avengers: Doomsday</em></a>. Padahal, ini adalah film terakhir sebelum film kelima Avengers tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adegan <em>post-credit </em>di film ini memang menunjukkan sinyal kalau ada Spider-Man di luar bumi yang terdeteksi oleh alat pelacak Spider-Man. Itu jelas pertanda bahwa ada Spider-Man dari <em>mulitverse </em>lain, tapi belum ada konfirmasi kalau itu akan berkaitan dengan film <em>Doomsday.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Jujur, Penulis menjadi merasa waswas dan khawatir akan film <em>Avengers: Doomsday</em>, karena <em>build up</em>-nya benar-benar terasa kurang hingga saat ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kesimpulan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis tidak bilang benar-benar menikmati film ini, tapi juga tidak sampai menganggapnya jelek. Penulis memahami kalau film ini memang lebih menonjolkan sisi emosional daripada <em>action</em>-nya, tapi bukan berarti Penulis jadi menyukainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, Penulis tetap menganggap kalau film ini layak untuk ditonton, apalagi nuansa gelapnya lumayan dapat dan komedinya benar-benar tipis, tidak seperti trilogi sebelumnya yang cukup kental. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Film ini juga seolah memiliki pesan bahwa musuh terbesar kita justru diri kita sendiri, dan kita harus bisa mengalahkan sisi buruk diri kita tersebut. Peter Parker, yang merupakan seorang pahlawan, ternyata juga punya masalah yang <em>related </em>dengan kita!</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">SKOR: 7/10</mark></strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 29 Agustus 2026, terinspirasi setelah menonton <em>Spider-Man: Brand New Day</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-spider-man-brand-new-day/">[REVIEW] Setelah Menonton Spider-Man: Brand New Day</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-spider-man-brand-new-day/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Esensialisme</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2026 16:17:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nonfiksi]]></category>
		<category><![CDATA[esensialisme]]></category>
		<category><![CDATA[Greg McKeown]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8820</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah membaca buku Effortless yang cukup berkesan, Penulis pun memutuskan untuk membeli buku Greg McKeown lainnya yang telah dirilis terlebih dahulu, yakni Esensialisme. Apalagi, buku ini disebutkan beberapa kali di buku Effortless. Selain karena alasan tersebut, Penulis juga merasa dirinya kadang kurang bisa memilah mana yang penting bagi dirinya dan mana yang tidak perlu diperhatikan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/">[REVIEW] Setelah Membaca Esensialisme</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/">Setelah membaca buku <em>Effortless</em></a> yang cukup berkesan, Penulis pun memutuskan untuk membeli buku <strong>Greg McKeown </strong>lainnya yang telah dirilis terlebih dahulu, yakni<strong> <em>Esensialisme</em></strong>. Apalagi, buku ini disebutkan beberapa kali di buku <em>Effortless</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain karena alasan tersebut, Penulis juga merasa dirinya kadang kurang bisa memilah mana yang penting bagi dirinya dan mana yang tidak perlu diperhatikan. Oleh karena itu, Penulis berharap kalau buku ini dapat menjadi semacam panduan untuk itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, tampaknya ekspektasi Penulis terlalu tinggi, yang salah satunya disebabkan oleh buku <em>Effortless.</em> Secara singkat, impresi Penulis terhadap buku ini sama dengan <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-start-with-why/">buku <em>Start with Why</em></a>. Penulis akan menjabarkan alasannya di bawah ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/banner-fleet-300x149.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/banner-fleet-300x149.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/banner-fleet-768x382.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/banner-fleet-356x177.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/banner-fleet.jpg 867w " alt="Milikmu Bukanlah Milikmu" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/renungan/milikmu-bukanlah-milikmu/">Milikmu Bukanlah Milikmu</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Esensialisme</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Esensialisme</em></li>



<li>Penulis: Greg McKeown</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-7</li>



<li>Tanggal Terbit: Desember 2025</li>



<li>Tebal: 354 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020656151</li>



<li>Harga: Rp108.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Esensialisme?</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan <em>tagline </em>&#8220;Pentingkan yang Penting Saja&#8221;, sebenarnya kita bisa menebak kalau isi buku ini akan mengajak kita belajar memprioritaskan mana yang penting dan mengabaikan apa yang kurang esensial. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Buat orang yang suka <em>ruwet </em>dengan pikirannya sendiri, jelas buku ini terasa menarik. Apalagi, di bagian <em>cover </em>ini terdapat semacam ilustrasi garis <em>ruwet </em>dengan tanda panah mengarah ke sebuah lingkaran dengan tulisan &#8220;ini&#8221; di tengah-tengahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan buku <em>Effortless</em>, buku ini terbagi menjadi ke dalam empat bagian, yakni:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian I: Intisari</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Esensialis</strong></li>



<li><strong>MEMILIH</strong>: Kekuatan Tak Terkalahkan dari Kemampuan Memilih</li>



<li><strong>MELIHAT DAN MENCERMATI</strong>: Yang Tidak Penting pada Hampir Segala Hal</li>



<li><strong>TRADE-OFF</strong>: Masalah Mana yang Ingin Saya Pecahkan?</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Bisa dibilang, ini adalah bagian &#8220;pembukaan&#8221; untuk memahami apa yang dimaksud dengan Esensialisme. Akan ada banyak istilah di bagian ini yang akan muncul kembali di bab selanjutnya, terutama bagian <em>trade-off</em> atau menukar apa yang tidak esensial menjadi esensial.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian II: Eksplorasi</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>MEMBEBASKAN DIRI</strong>: Manfaat Tak Terduga dari Menjadi yang Tak Tersedia</li>



<li><strong>MENCERMATI</strong>: Melihat Mana yang Sungguh Penting</li>



<li><strong>BERMAIN</strong>: Mengambil Kearifan Kanak-Kanak Dalam Diri Anda</li>



<li><strong>TIDUR</strong>: Melindungi Aset</li>



<li><strong>MEMILIH</strong>: Kedahsyatan Kriteria Ekstrem</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam bagian ini, kita diajak untuk mengeksplorasi diri untuk menemukan apa yang benar-benar penting dalam kehidupan kita. Ada dua bab yang menarik di sini, yakni &#8220;bermain&#8221; dan &#8220;tidur&#8221;. Aktivitas yang kerap dianggap tidak produktif ini ternyata esensial!</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian III: Eliminasi</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>KLARIFIKASI</strong>: Sebuah Keputusan yang Meniadakan Seribu Keputusan</li>



<li><strong>BERANI</strong>: Kedahsyatan Jawaban &#8220;Tidak&#8221; yang Anggun</li>



<li><strong>MELEPAS KOMITMEN</strong>: Menang Besar dengan Menghentikan Proyek Rugi</li>



<li><strong>MENYUNTING</strong>: Seni yang Tidak Kelihatan</li>



<li><strong>BATAS</strong>: Kebebasan Berkat Menetapkan Batasan-Batasan </li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Selain melakukan eksplorasi untuk menemukan yang esensial, memahami mana yang tidak esensial juga tak kalah penting. Oleh karena itu, bagian ini akan mengajak kita untuk melakukan eliminasi terhadap hal-hal yang tidak esensial.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian IV: Eksekusi</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>PENYANGGA</strong>: Keunggulan yang Tidak Wajar</li>



<li><strong>MENGURANGI</strong>: Maju Lebih Pesat dengan Menghilangkan Hambatan</li>



<li><strong>KEMAJUAN</strong>: Kedahsyatan Kemenangan-Kemenangan Kecil</li>



<li><strong>ALIRAN (FLOW)</strong>: Hebatnya Sebuah Rutin</li>



<li><strong>FOKUS</strong>: Apa yang Penting Sekarang?</li>



<li><strong>JADILAH</strong>: Hidup Seorang Esensialis</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Menemukan apa yang esensial, sudah. Mengetahui apa yang tidak esensial, sudah. Maka langkah terakhir yang perlu kita ketahui adalah bagaimana mengeksekusi semua teori Esensialisme ke dalam hidup kita sehari-hari. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Esensialisme</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya, pekerjaan Penulis sebagai seorang editor juga berkaitan erat dengan Esensialisme. Dalam menyunting artikel, tentu Penulis harus cermat dalam menentukan mana yang Esensial, mana yang Nonesensial dan dihapus dari artikel. Mungkin itu juga yang membuat Penulis tertarik untuk membaca buku ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena buku <em>Effortless</em>, jujur ekspektasi Penulis terhadap buku ini cukup tinggi. Sayangnya, ekspektasi tersebut harus runtuh karena secara keseluruhan, isi buku ini cukup &#8220;umum&#8221; dan penuh dengan hal-hal klise yang mungkin kita sudah tahu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang, setiap babnya diceritakan dengan mudah dan aplikatif. Hanya saja, banyak yang terasa terlalu general dan kurang spesifik. Lebih parahnya lagi, terkadang beberapa bab terasa <em>dragging </em>dan cukup repetitif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika membaca buku ini, Penulis merasakan sensasi seperti ketika membaca buku <em>Start with Why</em>, di mana penulis buku ini terlalu menglorifikasi teori Esensialisme yang sedang dibahas sekaligus terlalu menyederhanakan semua permasalahan yang disebutkan di sini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di setiap babnya, ada semacam tabel yang terdiri dari dua kolom, yakni Nonesensialis dan Esensialis. Tentu saja bagian Nonesensialis menjadi bagian yang buruk dan Esensialis menjadi bagian yang baik. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadinya, cuma ada dua kutub ekstrem antara Nonesensialis dan Esensialis. Kalau bukan seorang Esensialis, berarti otomatis kita adalah Nonesensialis. Padahal, dalam kenyataannya hidup tidak sehitam-putih dan sesederhana itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara konsep, teori Esensialisme memang penting, apalagi bagi orang yang kerap <em>overthinking </em>seperti Penulis. Justru karena merasa itu penting, Penulis butuh elaborasi yang lebih mendalam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika membaca buku ini, Penulis sudah membiasakan diri untuk mencatat berbagai hal menarik dari buku yang sedang dibaca. Nah, buku ini termasuk yang catatannya sedikit karena jujur tidak banyak poin menarik yang Penulis temukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, ada satu <em>quote </em>dari buku ini yang Penulis benar-benar ingat dari halaman 135, yakni<strong> &#8220;No more yes, it&#8217;s either HELL YEAH or no!&#8221;</strong> yang maknanya adalah kita harus melakukan sesuatu yang benar-benar membuat kita langsung bersemangat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di halaman 192, yang termasuk ke dalam bagian Eliminasi, ada juga pengingat tentang komitmen yang sangat masuk untuk Penulis. Ternyata, salah satu hal yang membuat kita melepaskan komitmen adalah <em><strong>sink-cost bias</strong></em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Singkatnya, <em>sink-cost bias </em>adalah kondisi di mana kita sudah merasa &#8220;berinvestasi&#8221; banyak sehingga merasa sayang jika melepaskan suatu komitmen. Padahal, jika kita terus mempertahankan komitmen tersebut, kerugian yang kita derita akan semakin besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis memang merasa kurang puas dengan buku ini karena berharap isinya bisa lebih detail. Namun, buat Pembaca yang kerap merasa <em>overwhelmed </em>dengan kehidupannya, buku ini akan memberi cara bagaimana mengurainya secara sistematis.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Skor: <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#930b0f" class="has-inline-color">6/10</mark></strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 9 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Esensialisme </em>karya Greg McKeown</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/">[REVIEW] Setelah Membaca Esensialisme</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-seporsi-mie-ayam-sebelum-mati/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-seporsi-mie-ayam-sebelum-mati/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2026 14:42:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Brian Khrisna]]></category>
		<category><![CDATA[mie ayam]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8803</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sewaktu berjalan-jalan di Gramedia Malang dengan seorang kawan, Penulis menemukan satu novel yang terlihat menarik. Bukan karena cover-nya unik atau judulnya bombastis, melainkan karena ada tulisan &#8220;Edisi Spesial Cetakan ke-100&#8221;. Novel tersebut adalah Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna, yang sesungguhnya sudah sering Penulis lihat di rak toko buku. Penulis juga tahu kalau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-seporsi-mie-ayam-sebelum-mati/">[REVIEW] Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sewaktu berjalan-jalan di Gramedia Malang dengan seorang kawan, Penulis menemukan satu novel yang terlihat menarik. Bukan karena <em>cover</em>-nya unik atau judulnya bombastis, melainkan karena ada tulisan <strong>&#8220;Edisi Spesial Cetakan ke-100&#8221;</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Novel tersebut adalah <em><strong>Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</strong></em> karya <strong>Brian Khrisna</strong>, yang sesungguhnya sudah sering Penulis lihat di rak toko buku. Penulis juga tahu kalau penulis novel ini telah menerbitkan banyak buku, hanya saja Penulis memang belum pernah mencoba membaca karyanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena menemukan edisi spesial ini, Penulis pun jadi penasaran dan membelinya. Selain karena ingin tahu apa yang membuat buku ini bisa sampai dicetak sebanyak 100 kali, kata-kata yang terdapat di bagian belakang buku ini juga sedang <em>related </em>bagi Penulis:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">&#8220;<em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Semua hal bisa berakhir begitu saja. Meskipun kita sudah berjuang dengan sekuat tenaga, ada beberapa hal yang harus berakhir dan kita hanya bisa menerima.</mark></em>&#8220;</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/63f363a5-fdd2-4b16-8fa9-918f70a4a200-768x512-300x200.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/63f363a5-fdd2-4b16-8fa9-918f70a4a200-768x512-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/63f363a5-fdd2-4b16-8fa9-918f70a4a200-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/63f363a5-fdd2-4b16-8fa9-918f70a4a200-768x512-356x237.jpg 356w " alt="Beradaptasi dengan Lingkungan" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/beradaptasi-dengan-lingkungan/">Beradaptasi dengan Lingkungan</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:<em> Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati (Edisi Spesial Cetakan ke-100)</em></li>



<li>Penulis: Brian Khrisna</li>



<li>Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia</li>



<li>Cetakan: Ke-100</li>



<li>Tanggal Terbit: April 2026 </li>



<li>Tebal: 216 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020531328</li>



<li>Harga: Rp93.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Novel <em>Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati </em>berpusat pada karakter bernama <strong>Ale</strong>, seorang laki-laki pekerja kantoran yang hidupnya sepi. Ia merasa tidak punya siapa-siapa. Jangankan kekasih, keluarga pun seolah enggan dengannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ale juga merasa bahwa bentuk dirinya yang buruk rupa membuatnya tidak dicintai oleh siapa pun. Keberadaannya kerap dianggap tidak ada, termasuk di kantor. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang ia rasa tak ada artinya tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelum mati, ia memiliki satu keinginan terakhir dalam hidupnya: makan mie ayam langganannya. Namun, ketika ia hendak melakukan niatnya tersebut, ternyata tempat mie ayam tersebut justru tutup, seolah semesta melarangnya untuk mati!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia pun menelusuri dan mencari info mengenai penjual mie ayam tersebut. Ternyata, bapak yang berjualan meninggal dunia. Siapa sangka, berawal dari peristiwa yang tampak sederhana itu, Ale akan menjalani kehidupan yang mengubah seluruh pemikirannya selama ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ale harus mengalami rasanya dipenjara, bekerja untuk seorang kriminal, masuk ke tempat prostitusi, bertemu dengan OB dari kantornya, berjualan bolu kukus, hingga bertemu seorang buta yang bijaksana. Hidup yang ia ketahui selama ini pun menjadi terlihat berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, di edisi spesial ini, ada satu &#8220;perjalanan tambahan&#8221; yang menurut Penulis diposisikan untuk memberi akhir yang jelas untuk karakter Ale. Penulis tidak yakin karena tidak membaca versi aslinya, tapi kemungkinan akhir dari versi aslinya diserahkan kepada pembaca.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Karena belakangan ini suka membaca <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/terima-kasih-keigo-higashino-selamat-jalan/">novel-novel dari penulis Jepang</a>, sudah lama rasanya Penulis tidak membeli novel buatan penulis Indonesia. Oleh karena itu, Penulis merasa ini momen yang tepat untuk &#8220;berkenalan&#8221; dengan karya-karya Brian Khrisna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara topik, isu yang diangkat oleh Brian rasanya akan <em>related </em>dengan kebanyakan orang di masa modern ini. Segala problematika yang menghantui kita saat ini <strong>terkadang membuat kita merasa buntu</strong> dan<strong> tidak tahu bagaimana cara keluar dari rasa sakit tersebut</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alhasil, &#8220;kematian&#8221; pun seolah menjadi satu-satunya jalan keluar dari rasa sakit tersebut. Padahal, tidak sebanding rasanya jika <strong>masalah yang sementara harus diselesaikan dengan solusi yang permanen</strong>. Ini bukan kata Penulis, tapi kata <strong>Dr. Jiemi Ardian</strong> lewat bukunya yang berjudul <em>Merawat Luka Batin</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, Penulis memandang buku ini sebagai <strong>&#8220;pelukan hangat&#8221; </strong>dari Brian untuk pembacanya yang juga kepikiran untuk mengakhiri hidupnya. Ia berusaha memperlihatkan kalau masih ada harapan jika kita berani untuk melanjutkan hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Novel ini juga berusaha mengingatkan kepada kita bahwa apa pun kondisi kita saat ini, <strong>kita memiliki peran masing-masing</strong>. Mungkin kehidupan yang tidak kita anggap berharga ini, bisa jadi berarti bagi orang lain yang bahkan tidak pernah kita pikirkan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena tema dari buku ini cukup gelap, wajar jika Penulis menemukan beberapa <em>quote </em>kehidupan yang bisa menjadi pengingat ketika kita sedang berada di masa-masa gelap. Selain yang telah disebutkan di atas, ada satu lagi yang menarik bagi Penulis:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">&#8220;<em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Setiap manusia seharusnya tidak perlu meminta orang lain untuk mencintainya atau bahkan sampai memohon agar dicintai. Sebab, di hadapan orang yang tepat kamu tidak perlu memohon apa-apa.</mark></em>&#8221; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, ada beberapa hal yang terasa mengganjal bagi Penulis. Pertama, <strong>beberapa dialog di novel ini terasa kurang natural</strong>. Alih-alih terasa sebagai percakapan antara dua orang, dialognya terasa seperti <em>textbook</em> yang jika dibacakan dengan lantang akan terasa aneh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adegan ketika ia tanpa sengaja bertemu dengan mantan teman sekolahnya di sebuah tempat makan, jujur bagi Penulis rasanya <em>cringe</em>. Mungkin memang ada orang yang lama tidak ketemu, begitu ketemu langsung <em>ngatain</em>, tapi di novel ini terasa sekali dramatisirnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, semua orang yang ditemui oleh Ale seolah-olah <strong>punya pekerja sampingan sebagai motivator</strong>. Mungkin, Brian ingin memperlihatkan kalau inspirasi dan motivasi itu bisa datang dari mana saja, termasuk dari kaum marjinal, tapi dosisnya menurut Penulis terlalu berlebihan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>&#8220;Petualangan Ale&#8221; dalam buku ini juga terasa terlalu mulus</strong>. Seperti kritik pada <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-project-hail-mary/">film <em>Project Hail Mary</em></a>, Penulis tidak menyukai cerita di mana karakter utamanya mulus-mulus saja dalam menghadapi tantangan yang ada di hadapannya. Apalagi, rentetan kejadiannya terasa kurang realistis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu hal yang paling mengganjal adalah betapa mudahnya Ale &#8220;lolos&#8221; setelah memutuskan kabur dari Murad dan kelompok kriminalnya. Memang, di edisi spesial ini ada cerita tambahan bagaimana Murad pada akhirnya berhasil menemukan Ale, walau tetap ujungnya terlalu <em>happy ending</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Murad mungkin merasa berhutang budi karena kebetulan adiknya bekerja di kantor yang sama dengan Ale, bahkan bisa masuk pun karena ada sedikit andil darinya. Di sini juga terjadi klise di mana seorang penjahat ternyata memiliki &#8220;kelemahan&#8221; berupa keluarga yang ia sayangi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Terlepas dari kekurangannya tersebut, Penulis tetap menikmati novel ini, bahkan menandaskannya secara langsung hanya dalam waktu sekitar 2 jam. Tema yang dibawanya <em>universal </em>dan mungkin sedang kita rasakan juga saat ini. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah menamatkannya, Penulis merasa kalau novel ini bisa sampai cetakan ke-100 adalah karena memang sangat mudah untuk dicerna, sehingga bisa menjangkau banyak orang. Sama sekali tidak ada bagian yang membuat otak berpikir keras, semua dijelaskan dengan gamblang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis merekomendasikan novel ini untuk siapa pun yang sedang merasa buntu dalam hidupnya dan melihat kalau kematian adalah solusi satu-satunya. Percayalah, Tuhan tidak akan memberikan ujian yang melebihi kemampuan umat-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Skor: <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">6/10</mark></strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 5 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati </em>karya Brian Khrisna</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-seporsi-mie-ayam-sebelum-mati/">[REVIEW] Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-seporsi-mie-ayam-sebelum-mati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Menonton The Odyssey</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-the-odyssey/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-the-odyssey/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2026 14:49:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[Christopher Nolan]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Homer]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[the odyssey]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8779</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis telah menemukan film terbaik yang telah ditonton pada tahun 2026 ini. Bukan Projecy Hail Mary, melainkan The Odyssey karya Christopher Nolan, salah satu sutradara favorit Penulis. Film ini memang sejak awal telah Penulis antisipasi rilisnya. Bahkan, Penulis sengaja mengajak adiknya untuk menonton di Surabaya, karena di Malang tidak ada bioskop yang memiliki layar IMAX. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-the-odyssey/">[REVIEW] Setelah Menonton The Odyssey</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penulis telah menemukan film terbaik yang telah ditonton pada tahun 2026 ini. Bukan <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-project-hail-mary/">Projecy Hail Mary</a></em>, melainkan <em><strong>The Odyssey</strong> </em>karya Christopher Nolan, salah satu sutradara favorit Penulis. Film ini memang sejak awal telah Penulis antisipasi rilisnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, Penulis sengaja mengajak adiknya untuk menonton di Surabaya, karena di Malang tidak ada bioskop yang memiliki layar IMAX. Penulis ingin merasakan sensasi menonton yang maksimal untuk film yang sejak awal telah menuai kontroversi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengapa Penulis merasa ini adalah film terbaik yang telah Penulis tonton di tahun ini? Apakah <em>cast </em>yang bermasalah tidak memengaruhi penilaian Penulis? Semua akan coba Penulis jelaskan melalui artikel ini!</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">NB: Tahun 2026, Penulis baru menonton Project Hail Mary, Supergirl, The Odyssey, Spider-Man Brand New Day</mark></em></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Rame-Rame-Ganti-Foto-Profil-Luffy-Gear-5-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Rame-Rame-Ganti-Foto-Profil-Luffy-Gear-5-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Rame-Rame-Ganti-Foto-Profil-Luffy-Gear-5-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Rame-Rame-Ganti-Foto-Profil-Luffy-Gear-5-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Rame-Rame-Ganti-Foto-Profil-Luffy-Gear-5-banner.jpg 1280w " alt="Rame-Rame Ganti Foto Profil Luffy Gear 5" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/rame-rame-ganti-foto-profil-luffy-gear-5/">Rame-Rame Ganti Foto Profil Luffy Gear 5</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Film The Odyssey</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>The Odyssey</em></li>



<li>Sutradara: Christoper Nolan</li>



<li>Cast: Matt Damon, Tom Holland, Anne Hathaway, Robert Pattinson, Lupita Nyong&#8217;o, Zendaya, and Charlize Theron</li>



<li>Durasi: 172 Menit</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Cerita The Odyssey?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8785" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-4.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Odysseus (<a href="https://www.imdb.com/title/tt33764258/mediaviewer/rm1126024706/">IMDb</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><em>The Odyssey </em>diadaptasi dari sebuah puisi epik klasik karya Homer berjudul sama, yang telah berusia sekitar 3000 tahun. Ceritanya sendiri berpusat pada <strong>Odysseus</strong> (Matt Damon), yang terjebak selama 10 tahun sehingga tidak bisa pulang ke negaranya, Ithaca, setelah kemenangan di Perang Troya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Odysseus adalah orang di balik strategi kuda troya, di mana ia dan beberapa pasukannya sembunyi ke dalam patung kuda yang dihadiahkan kepada bangsa Troya. Ide tersebut, yang sebenarnya melanggar &#8220;Hukum Zeus&#8221;, mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 10 tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Odysseus, bersama Agamemnon dan Menelaus, memang berhasil memenangkan perang. Namun, ternyata harga yang dibayar tidak murah. Odysseus yang mengambil jalur terpisah dari Agamemnon dan Menelaus harus menghadapi berbagai macam ujian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Odysseus dan pasukannya harus bertemu dengan Cyclops bernama <strong>Polyphemus</strong>, raksasa kanibal <strong>Laestrygonians</strong>, <strong>Siren</strong>, hingga <strong>Scylla</strong>. Mereka juga bertemu dengan <em>nymph </em>bernama <strong>Circe</strong> (Samantha Morton) yang sempat mengubah pasukan Odysseus menjadi seekor babi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, perjalanan Odysseus paling lama ditahan oleh <strong>Calypso</strong> (Charlize Theron), yang mencapai tujuh tahun. Ia tinggal di sana setelah semua pasukannya tewas, setelah melanggar aturan untuk tidak memakan ternak milih dewa Apollo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, Ithaca telah 20 tahun ditinggal rajanya. <strong>Penelope</strong> (Anne Hathaway), istri dari Odysseus, telah dilamar oleh ratusan laki-laki yang setiap hari datang ke istana dan berhasil menjaga kesetiaannya. Sementara itu, <strong>Telemachus</strong> (Tom Holland) yang beranjak dewasa mulai mencari kejelasan di mana ayahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, perjalanan pulang Odysseus selama 10 tahun ini lebih dari sekadar &#8220;tersesat&#8221;, melainkan menjadi semacam perjalanan penebusan dosa untuknya. Ketika ia pada akhirnya kembali, ia pun membuktikan mengapa ia menjadi seorang raja.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Menonton The Odyssey</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah film ini usai, banyak penonton yang bertepuk tangan. Menurut Penulis, hal tersebut memang layak karena skala film ini benar-benar luar biasa. Apalagi jika menonton di IMAX, pengalaman menontonnya menjadi lebih maksimal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada beberapa poin yang ingin Penulis bahas mengenai film ini.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Interpretasi Nolan terhadap The Odyssey</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-7-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8788" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-7-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-7-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-7-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-7.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Odysseus dan Pasukannya (<a href="https://www.imdb.com/title/tt33764258/mediaviewer/rm1092470274/">IMDb</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak awal, tampaknya Nolan memang ingin <strong>mengadaptasi cerita Homer dengan interpretasinya sendiri</strong>. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang ia ubah dari cerita aslinya, termasuk pemilihan Lupita Nyong&#8217;o sebagai Helen of Troy.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Contoh hal yang diubah adalah karakter Odysseus sendiri. Di film, <strong>ia terlihat lebih bijaksana dan manusiawi</strong>, walau tetap terasa sekali egonya. Ia lebih tidak &#8220;brengsek&#8221; jika dibandingkan dengan versi aslinya, walau tetap terasa kalau ia diam-diam menjadi antagonis di film ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa perubahan lain yang Penulis ketahui adalah beberapa lokasi atau monster yang dihilangkan dari versi aslinya, jumlah pasukan dan kapal yang ikut dengan Odysseus, hingga hilangnya adegan &#8220;Nobody&#8221; ketika bersama Polyphemus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, yang paling Penulis perhatikan adalah <strong>interpretasi Nolan terhadap sosok dewa-dewa </strong>di film ini. Ada beberapa nama yang disebutkan dalam film ini, mulai Zeus, Poseidon, Apollo, hingga Athena. Hanya saja, tidak ada yang pernah terlihat wujudnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alih-alih menampilkan sosok dewa, kehadiran mereka diwujudkan dalam bentuk &#8220;pertanda alam&#8221;, seperti Zeus diwakili oleh suara petir dan Poseidon diwakili oleh amukan laut. Bahkan, wujud Athena yang kita lihat sepanjang film memiliki alasan mengapa berwujud seperti itu, yang akan Penulis bahas di poin selanjutnya.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Perjalanan &#8220;Tobat&#8221; Odysseus</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8784" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Odysseus dan Athena (<a href="https://www.imdb.com/title/tt33764258/mediaviewer/rm1327351298/">IMDb</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis sudah menyinggung mengenai bagaimana Odysseus memenangkan perang dengan curang. Rupanya, hal tersebut menimbulkan semacam <strong>trauma</strong> atau <strong>PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder)</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sosok Athena di kepala Odysseus, yang diperankan oleh Zendaya, ternyata adalah sosok perempuan <em>innocence </em>yang ia lihat kepalanya dipenggal oleh pasukannya sewaktu menghabisi kota tersebut. Artinya, sosok tersebut seolah menjadi perwakilan trauma Odysseus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, perjalanan pulangnya yang sampai 10 tahun itu pun <strong>terasa seperti &#8220;hukuman&#8221; atas semua perbuatannya</strong>, baik ketika perang Troya maupun sepulangnya dari sana. Dari menjarah, membutakan Polyphemus, memakan ternak Apollo, dan lain sebagainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika ditahan oleh Calypso, ia kehilangan memorinya. Namun, ternyata keinginannya untuk bertemu kembali dengan Penelope begitu kuat. Ketika ingatannya kembali, ia pun berlayar dan menaiki rakit apa adanya dengan menyerahkan diri ke &#8220;Tuhan&#8221;.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Akting Top Para Aktor Top</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8783" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">John Leguizamo sebagai Eumaeus (<a href="https://www.imdb.com/title/tt33764258/mediaviewer/rm1444791810/?ref_=tt_ph_sm">IMDb</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Kita tahu kalau Nolan punya beberapa nama top yang seolah menjadi langganan untuk muncul di film-filmnya. Oleh karena itu, bukan hal yang mengherankan kalau banyak sekali pemeran di film ini yang aktingnya terasa luar biasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Matt Damon </strong>sebagai karakter utama di film ini tak perlu diragukan lagi, walau sebagian besar kita melihat ekspresi penyesalan dari dirinya di sepanjang film. <strong>Anne Hathaway</strong> juga menunjukkan kelasnya sebagai pemenang Oscar, bahkan Penulis sampai lupa kalau ini film saking realistisnya aktingnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Robert Pattinson </strong>yang berperan sebagai Antinous juga bisa memperlihatkan sebagai sosok antagonis yang licik dan pengecut. Ekspresi ketakutannya ketika menyadari Odysseus telah pulang, lalu berteriak berbagai semacam senjata sembari bersembunyi di balik pilar, benar-benar mantap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nama lain yang patut diapresiasi adalah <strong>John Leguizamo </strong>sebagai Eumaeus. Berperan sebagai orang buta, ia bisa memainkan karakter yang loyal dan bijaksana dengan baik. <strong>Benny Safdie</strong> yang menjadi Agamemnon juga berhasil <em>aura farming </em>tanpa banyak dialog, dengan kostumnya yang mirip Batman.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Hal Lain yang Patut Diapresiasi</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-6-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8787" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-6-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-6-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-6-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-6.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Penelope dan Busur Milik Odysseus (<a href="https://www.imdb.com/title/tt33764258/mediaviewer/rm1260242434/">IMDb</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Alur ceritanya tetap non-liner </strong>khas Nolan, maju mundur maju mundur, sehingga bisa membuat penonton bingung terutama yang tidak mengerti cerita <em>The Odyssey </em>sebelumnya. Namun, Penulis justru menyukai format film seperti ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apalagi, sepanjang film Nolan<strong> menebar banyak <em>foreshadow </em></strong>yang akan terjawab di akhir film. Banyak adegan yang diulang-ulang, seolah menunjukkan bahwa adegan ini penting dan nanti pada akhirnya akan ada penjelasan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai informasi, film ini direkam sepenuhnya dengan kamera IMAX. Oleh karena itu, secara <strong>visual film ini benar-benar memuaskan dan memanjakan mata</strong>. Penulis hampir tidak bisa melepaskan fokusnya ketika menonton film ini. Durasi 3 jam sama sekali tidak terasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di film ini, Nolan kembali menggandeng <strong>Ludwig Göransson</strong> yang sebelumnya juga menggarap <em>soundtrack </em>untuk film <em>Oppenheimer</em>. Sepanjang filmnya, banyak sekali musik yang membuat bulu kuduk Penulis merinding.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika berbicara tentang <em>scene </em>favorit, maka Penulis akan memilih adegan ketika<strong> Odysseus kembali ke Ithaca dan berhasil memasang busurnya</strong>. Diiringi dengan musik gubahan Göransson, adegan ini benar-benar terasa sempurna!</p>



<h3 class="wp-block-heading">Beberapa Hal yang Kurang</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-5-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8786" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-5-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-5-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-5-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-5.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Penelope dan Telemachus (<a href="https://www.imdb.com/title/tt33764258/mediaviewer/rm1293796866/">IMDb</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak ada film yang sempurna, begitu pula <em>The Odyssey</em> ini. Penulis tidak terlalu memusingkan pemilihan beberapa <em>cast</em>-nya, walau memang terasa kurang <em>perfect.</em> Bagi Penulis, <strong>Tom Holland terlihat terlalu tua untuk menjadi Telemachus</strong>. Aktingnya juga sedikit <em>kebanting </em>dengan pemeran lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Akting pemeran lain yang terasa biasa adalah Zendaya</strong>. Entah mengapa Penulis tidak bisa menangkap perannya sebagai Athena, mungkin karena karakternya juga minim ekspresi. Karakter yang diperankan oleh <strong>Travis Scott</strong> juga terasa ganjal ada di film tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, <strong>adegan pertarungan terakhir di istana juga terlihat sedikit kaku dan kurang natural.</strong> Bukan karena Odysseus yang terlihat <em>overpowered </em>karena bisa mengalahkan orang sebanyak itu, melainkan koreografinya saja yang membuat Penulis kurang <em>sreg</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di beberapa adegan, <strong><em>speaker </em>di IMAX terasa terlalu kencang</strong> di telinga Penulis yang cukup sensitif. Penulis tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya kemarin menonton film ini di 4DX, apalagi di adegan ketika kapal Odysseus terombang-ambing oleh ganasnya badai!</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kesimpulan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Penulis, <em>The Odyssey </em>adalah film kedua terbaik dari semua film Nolan yang pernah Penulis tonton, di bawah <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/film-favorit-saya-the-dark-knight/">The Dark Knight</a></em> dan di atas <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-oppenheimer/">Oppenheimer</a></em>. Penulis merasa cukup percaya diri kalau film ini akan masuk ke dalam nominasi Oscar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, hingga artikel ini ditulis, masih ada keinginan untuk menonton ulang film ini di bioskop. Apalagi, Penulis sempat ketinggalan beberapa menit filmnya karena adik Penulis sedang ada tes kerja di siang harinya!</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#930b0f" class="has-inline-color">SKOR: 9/10</mark></strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 3 Agustus 2026, terinspirasi setelah menonton <em>The Odyssey </em>karya Christopher Nolan</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-the-odyssey/">[REVIEW] Setelah Menonton The Odyssey</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-the-odyssey/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Menonton Supergirl</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-supergirl/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-supergirl/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Jul 2026 01:29:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[DC]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[supergirl]]></category>
		<category><![CDATA[superhero]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8745</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bulan Juni hingga Juli akan menjadi waktu-waktu di mana Penulis akan sering ke bioskop. Pasalnya, ada tiga film yang masuk ke dalam daftar tonton Penulis tahun ini, mulai dari Supergirl (24 Juni), The Odyssey (15 Juli), dan Spider-Man: Brand New Day (29 Juli). Nah, meskipun agak telat menulis artikel ulasannya, Penulis sebenarnya telah menonton film [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-supergirl/">[REVIEW] Setelah Menonton Supergirl</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Bulan Juni hingga Juli akan menjadi waktu-waktu di mana Penulis akan sering ke bioskop. Pasalnya, ada tiga film yang masuk ke dalam daftar tonton Penulis tahun ini, mulai dari <em>Supergirl</em> (24 Juni), <em>The Odyssey</em> (15 Juli), dan<em> Spider-Man: Brand New Day </em>(29 Juli).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, meskipun agak telat menulis artikel ulasannya, Penulis sebenarnya telah menonton film <em>Supergirl </em>ketika <em>premiere</em>. Karakternya sendiri sudah sempat muncul sebentar di film <em>Superman </em>yang tayang pada tahun kemarin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, apakah <em>Supergirl</em> berhasil menampilkan film minimal sebagus <em>Superman</em>, atau justru ini menjadi film <em>flop </em>pertama <a href="https://whathefan.com/filmserial/ketika-dc-comics-mengejar-marvel/">DC Studios</a> di bawah arahan James Gunn? Menurut Penulis, singkatnya, <em>this movie was not bad, but not good enough.</em></p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">SPOILER ALERT!!!</mark></strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan.jpg 1280w " alt="Chapter 78 Kesaksian Malik" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-78-kesaksian-malik/">Chapter 78 Kesaksian Malik</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Film Supergirl</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Supergirl</em></li>



<li>Sutradara: Craig Gillespie</li>



<li>Cast: Milly Alcock, Eve Ridley, Jason Momoa, Matthias Schoenaerts, David Corenswet</li>



<li>Tanggal Rilis: 24 Juni 2026 (Indonesia)</li>



<li>Durasi: 108 Menit</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Cerita Supergirl?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/review-supergirl-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8748" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/review-supergirl-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/review-supergirl-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/review-supergirl-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/review-supergirl-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Supergirl (<a href="https://www.cgmagonline.com/review/movie/supergirl-2026/">CGMagazine</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sesuai dengan judulnya, <em>Supergirl </em>berfokus pada kehidupan <strong>Kara Zor-El</strong> alias <strong>Supergirl</strong> (Milly Alcock) yang berbeda dengan sepupunya, <strong>Kal-El</strong> alias <strong>Superman</strong> (David Corenswet). Jika Superman bisa melihat kebaikan di setiap orang, ia melihat manusia &#8220;apa adanya&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika Superman hidupnya terkesan lurus, maka Supergirl terasa <em>chaos </em>dan berantakan. Bahkan, ia dengan sengaja pergi ke planet yang mataharinya merah agar dirinya bisa mabuk! Sebagai informasi, makhluk Kryptonian seperti mereka tidak bisa mabuk di planet dengan matahari kuning seperti Bumi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nantinya, di pertengahan film akan dijelaskan mengenai perbedaan ini. Berbeda dengan Superman yang dikirim ke Bumi sejak kecil, Supergirl sempat tinggal di Argo City, sebuah kota &#8220;sempalan&#8221; dari planet Krypton yang meledak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, masa hidup kota tersebut tidak bisa bertahan lama karena ternyata mengandung kelemahan mereka semua, yakni Kriptonite. Alhasil, Kara dan anjingnya yang bernama Krypto pun dikirim ke Bumi untuk dititipkan ke Superman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Latar belakangnya yang seperti itulah yang membuat Supergirl terus mencari di mana &#8220;rumahnya&#8221; yang sebenarnya. Ia merasa Bumi tempat Superman tinggal bukan rumah sejatinya, sehingga ia pun kerap berkelana ke berbagai planet.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, kebetulan ia sedang berada di sebuah planet saat perayaan ulang tahunnya yang ke-23. Di planet tersebut, kebetulan ada seorang penjahat bernama <strong>Krem of the Yellow Hills </strong>(Matthias Schoenaerts) yang membantai keluarga <strong>Ruthye Marye Knoll</strong> (Eve Ridley) karena alasan yang cukup konyol.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ruthye pun punya misi balas dendam dan pergi ke bar untuk mencari orang yang bisa membantunya. Kebetulan (lagi), Supergirl sedang berada di bar tersebut. Walau sempat membantu Ruthye, Supergirl menolak untuk membantunya melakukan balas dendam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, pesawat milik Krem sempat diledakkan oleh keluarga Ruthye. Kebetulan (lagi), mereka menemukan pesawat milik Supergirl. Lebih parahnya lagi, Krem sempat menyuntikkan racun ke Krypto yang akan menewaskannya dalam waktu tiga hari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Supergirl pun yang awalnya menolak permintaan Ruthye akhirnya mau tidak mau mencari Krem dan dimulailah petualangan mereka berdua. Oh iya, di film ini ada Jason Momoa sebagai Lobo, tapi jujur perannya tidak terlalu signifikan. Hal ini akan Penulis bahas di poin selanjutnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Menonton Supergirl</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Semakin dipikirkan, Penulis semakin merasa kalau film ini benar-benar terasa kurang, apalagi jika dibandingkan dengan <em>Superman</em>. Selain terasa <em>fun</em>-nya, film ini begitu generik, penuh klise, <em>villain </em>yang kurang <em>memorable</em>, dan secara <em>overall </em>tidak istimewa. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Sisi Positif Film Supergirl</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/review-supergirl-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8749" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/review-supergirl-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/review-supergirl-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/review-supergirl-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/review-supergirl-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ruthye (<a href="https://thedirect.com/article/james-gunn-hd-look-supergirl-sidekick-ruthye-marye-knoll">The Direct</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Mari kita bicarakan dulu dari sisi positifnya. <strong><em>Vibe</em> film ini bagi Penulis mirip</strong> <strong>Borderlands </strong>(salah satu seri <em>game </em>favorit Penulis) yang <em>fun</em>, walau netizen mengatakan film ini perpaduan <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-guardians-of-the-galaxy-vol-3/">Guardians of the Galaxy</a> </em>dan <em>Mad Max</em>. Oleh karena itu, Penulis bisa menikmati latar-latar tempatnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penampilan para <em>cast</em>-nya tidak buruk, tapi juga tidak terlalu spesial. Penampilan Alcock yang &#8220;kuat di luar, tapi rapuh di dalam&#8221; patut diapresiasi. Schoenaerts sebagai <em>villain </em>yang agak sinting juga cukup menarik, walau memang (sekali lagi) kurang <em>memorable</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagian akhir film ini juga Penulis suka. Setelah menghentikan keinginan Ruthye untuk membunuh Krem, <strong>Supergirl mengotori tangannya sendiri untuk membunuhnya</strong>. Ini salah satu hal yang tidak klise di film ini sekaligus membedakan antara Superman dan Supergirl.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Sisi Negatif Film Supergirl</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/review-supergirl-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8750" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/review-supergirl-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/review-supergirl-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/review-supergirl-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/review-supergirl-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Lobo (<a href="https://variety.com/2026/film/news/jason-momoa-lobo-first-look-supergirl-woman-of-tomorrow-1236639176/">Variety</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, sekarang masuk ke kekurangannya. Mungkin ada Pembaca yang <em>notice </em>bagaimana Penulis menuliskan banyak kata &#8220;kebetulan&#8221; di bagian sinopsis sebelumnya. Itu yang Penulis rasakan karena <strong>memang terlalu banyak kebetulan </strong>di film ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Film ini mungkin bukan tipe film yang banjir <em>plot hole</em>, tapi memang dari sisi cerita seperti <strong>kurang eksplorasi</strong> dan <strong>banyak logika yang tidak masuk</strong>. Inti dari film ini memang sebenarnya tentang penerimaan diri, tapi konfliknya sesederhana mencari <em>antidote </em>untuk Krypto yang keracunan. Tidak lebih dari itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak adegan yang kadang membuat Penulis mengangkat alis. Ketika awal film misalnya, ketika keluarga Ruthye dibantai. Penyebabnya sederhana sekali, karena kakak Ruthye tiba-tiba mengagetkannya (ia pakai <em>headset</em> sehingga tak sadar rumahnya kedatangan tamu yang berbahaya), lalu tiba-tiba dibunuh oleh Krem karena itu!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena anaknya dibunuh, tentu orang tua Ruthye murka dan jadi menyerang Krem dan pasukannya. Tentu saja mereka kalah dengan mudah. Anehnya, Ruthye dibiarkan hidup, padahal <strong>kakaknya pun dibunuh karena alasan yang sepele</strong>!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, di film juga diceritakan kalau Krem dan pasukannya (disebut Brigands) mencari para perempuan untuk melanjutkan keturunan mereka yang terancam punah. Lantas,<strong> kenapa Ruthye tidak diculik</strong>? Memang dia baru remaja, tapi kalau melihat perempuan-perempuan yang mereka culik, rasanya beda usianya tidak terpaut jauh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Supergirl datang ke markas Krem, ternyata planet tersebut mengorbit di dua matahari, yakni matahari hijau dan kuning. Artinya, Krem tahu kalau matahari hijau adalah kelemahan Kryptonian. Lantas, <strong>mengapa ia tidak mencari planet yang HANYA mengorbit matahari hijau saja</strong>? Pasti ada tata surya seperti itu di semesta DC, Penulis sangat yakin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu hal yang paling mengganggu Penulis bukanlah Ruthye yang terasa sebagai beban sepanjang film, melainkan <strong>keberadaan Lobo</strong>! Lagi-lagi, &#8220;kebetulan&#8221; orang yang ia incar merupakan pasukan dari Krem, sehingga bisa berada di satu tempat yang sama dengan Supergirl dan Ruthye.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, keberadaan Lobo di film ini seolah asal tempel. Seandainya tidak ada Lobo pun rasanya tidak banyak hal yang berubah. Kemunculannya menyelamatkan Supergirl di akhir film juga terasa memaksa, apalagi tiba-tiba ia bawa motornya ke tengah-tengah pasukan Brigands!</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Skor: <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#930b0f" class="has-inline-color">6/10</mark></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Akhir dari film ini juga memberikan petunjuk tentang film selanjutnya, yakni <em><strong>Superman: Man of Tomorrow </strong></em>yang dijadwalkan rilis tahun depan. Superman mengatakan bahwa ia membutuhkan bantuan Supergirl untuk menghadapi &#8220;musuh yang satu ini&#8221;. Semoga saja film ini bisa lebih baik!</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 6 Juli 2026, terinspirasi setelah menonton <em>Supergirl</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-supergirl/">[REVIEW] Setelah Menonton Supergirl</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-supergirl/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Menonton Project Hail Mary</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-project-hail-mary/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-project-hail-mary/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2026 12:30:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[astronot]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[luar angkasa]]></category>
		<category><![CDATA[Project Hail Mary]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8651</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak menonton trailernya tahun lalu, Penulis sudah meniatkan diri untuk menonton Project Hail Mary. Selain karena Penulis lumayan astrophile (pecinta luar angkasa), Penulis punya feeling film ini akan bagus. Penulis pun akhirnya menontonnya pada hari Sabtu minggu kemarin di MOPIC Malang, sekalian mencoba pengalaman menonton di bioskop tersebut. Harusnya film ini rilis secara global ketika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-project-hail-mary/">[REVIEW] Setelah Menonton Project Hail Mary</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sejak menonton trailernya tahun lalu, Penulis sudah meniatkan diri untuk menonton <em><strong>Project Hail Mary</strong></em>. Selain karena Penulis lumayan <em>astrophile</em> (pecinta luar angkasa), Penulis punya <em>feeling </em>film ini akan bagus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis pun akhirnya menontonnya pada hari Sabtu minggu kemarin di MOPIC Malang, sekalian mencoba pengalaman menonton di bioskop tersebut. Harusnya film ini rilis secara global ketika lebaran, yang sayangnya harus tergeser karena slotnya digunakan untuk menayangkan film horor lokal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, apakah film ini berhasil memenuhi ekspektasi Penulis? Apakah benar kata orang-orang yang memuji film ini setinggi langit? Singkat kata, Penulis menyukainya dengan beberapa catatan yang membuat skornya tidak terlalu tinggi.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">SPOILER ALERT!!!</mark></strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan.jpg 1280w " alt="Chapter 69 Mereka Tetap Orangtuaku" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-69-mereka-tetap-orangtuaku/">Chapter 69 Mereka Tetap Orangtuaku</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Film Project Hail Mary</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Project Hail Mary</em></li>



<li>Sutradara: Phil Lord, Christopher Miller</li>



<li>Cast: Ryan Gosling, Sandra Hüller, James Ortiz, Lionel Boyce</li>



<li>Durasi: 156 Menit</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Cerita Project Hail Mary?</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Project Hail Mary - Official Trailer" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/m08TxIsFTRI?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Project Hail Mary</em> diangkat dari sebuah novel karya Andy Weir berjudul sama. Buat yang merasa familier dengan nama tersebut, beliau adalah penulis buku <em>The Martian</em>, yang juga diangkat menjadi film dan dibintangi oleh Matt Damon.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Premis <em>Project Hail Mary </em>sebenarnya sederhana, di mana sebuah misi penyelamatan bumi sedang dilakukan oleh seorang guru sains di sebuah SMP bernama <strong>Ryland Grace</strong> (Ryan Gosling).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ceritanya, matahari di tata surya kita sedang sekarat karena alien bernama <strong>Astrophage</strong> (pemakan bintang). Makhluk tersebut berkembang biak di matahari dan membuatnya meredup. Otomatis, suhu di bumi pun langsung <em>drop.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal yang sama terjadi di tata surya lain kecuali satu, yakni <strong>Tau Ceti</strong>. Perjalanan antariksa pun dilakukan untuk mengetahui apa yang membuat tata surya tersebut selamat. Misi tersebut, disebut Project Hail Mary, dipimpin oleh <strong>Eva Stratt </strong>(Sandra Hüller).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Awalnya, Grace direkrut bersama banyak ilmuwan lainnya untuk meneliti Astrophage yang berhasil ditangkap. Nah, Grace-lah yang berhasil menemukan alasan mengapa alien tersebut sampai membentuk garis antara matahari dan Venus (disebut <strong>Petrova Line</strong>).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, bagaimana seorang guru SMP bisa terjebak dalam pesawat ruang angkasa? Nanti di bagian akhir cerita akan dijelaskan, karena film ini menggunakan POV Grace yang mengalami amnesia. Ketika sadar, ia sudah berada di dalam pesawat tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nantinya sepanjang cerita, kita akan dibawa maju-mundur karena ingatan Grace perlahan kembali. Jadi, akan ada dua lini waktu di film ini, yakni ketika Grace masih di bumi dan direkrut oleh Strat, serta ketika ia telah berada di luar angkasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam misinya tersebut, ketika pesawat Grace sudah mendekati Tau Ceti, ia melihat pesawat alien. Ternyata di dalamnya ada sesosok alien berbentuk batu dengan lima kaki (atau lengan, tergantung digunakan untuk apa).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, ternyata alien tersebut juga merupakan satu-satunya yang tersisa di pesawat tersebut, sama seperti Grace. Mereka berdua pun jadi menjalin persahabatan karena tujuan mereka sama, yakni meneliti mengapa Tau Ceti bisa selamat. Grace memberi nama alien tersebut <strong>Rocky</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena menurut Penulis filmnya sangat layak untuk ditonton, Penulis tidak akan bercerita lebih jauh dari ini. Intinya, mereka berdua pun bekerja sama untuk menyelamatkan planet mereka masing-masing dari kepunahan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Menonton Project Hail Mary</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah menonton <em>Project Hail Mary</em>, Penulis memahami mengapa film ini begitu dicintai oleh para penontonnya. <strong>Visual dan <em>scoring</em>-nya benar-benar memanjakan mata dan telinga</strong>. Sayang, Penulis tidak menonton film ini di IMAX.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada banyak hal yang ingin Penulis bahas tentang film ini, termasuk kekurangan yang cukup mengganggu Penulis.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Protagonis yang Mirip Mark Watney</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/review-project-hail-mary-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8655" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/review-project-hail-mary-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/review-project-hail-mary-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/review-project-hail-mary-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/review-project-hail-mary-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Mark Watney (Kiri) dan Ryland Grace (<a href="https://the-martian.fandom.com/wiki/Mark_Watney/Film">Fandom</a>) </figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Mengingat sumbernya sama, wajar jika <em>Project Hail Mary </em>memiliki kemiripan dengan <em>The Martian</em>. Tidak hanya tema <em>sci-fi </em>yang diusung, kepribadian dan situasi yang harus dihadapi oleh protagonisnya pun mirip.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, Grace dan Mark Watney (protagonis di The Martian) sama-sama <strong>terjebak di luar angkasa sendirian</strong>. Bedanya, Watney masih &#8220;dekat&#8221; karena di Mars, sedangkan Grace sudah beda semesta. &#8220;Mainnya&#8221; Grace lebih jauh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun berada di kondisi yang sulit, mereka berdua sama-sama <strong>tetap optimis dan berusaha ceria</strong>. Selain itu, fokus cerita kedua film juga sama-sama ke protagonisnya yang harus bisa keluar dari krisis.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Hangatnya Hubungan Grace dan Rocky</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/review-project-hail-mary-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8656" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/review-project-hail-mary-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/review-project-hail-mary-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/review-project-hail-mary-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/review-project-hail-mary-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Rocky (<a href="https://projecthailmary.fandom.com/wiki/Rocky">Fandom</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Jika dibandingkan dengan <em>Interstellar</em> yang lebih mikir, <em>Project Hail Mary</em> lebih <strong>menonjolkan sisi dramanya dibandingkan sainsnya</strong>. Memang banyak istilah fisika, kimia, dan biologi di film ini, tapi masih dalam taraf yang mudah dipahami.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu unsur drama yang paling menarik sepanjang film adalah <strong>hubungan Grace dan Rocky yang terasa hangat</strong>. Kita tidak bisa tidak menyukai kedua karakter tersebut, terutama Rocky.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan desain yang unik dan sebenarnya tidak menggemaskan (karena <em>literally </em>berbentuk batu), ia berhasil <strong>membuat penonton merasa ingin ikut melindunginya</strong>, apalagi setelah krisis di <em>act three </em>film ini. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu momen paling mengharukan sepanjang film adalah ketika <strong>Rocky bilang bisa memberikan bahan bakar Astrophage agar Grace bisa pulang ke Bumi</strong>. Project Hail Mary awalnya adalah <em>one way ticket</em>, sehingga Grace sudah menerima bahwa ia tak akan pernah pulang. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Harapan yang diberikan oleh Rocky, dengan mengorbankan waktu kepulangannya yang lebih lama, <strong>membuat Grace (dan penonton) menangis</strong>. Momen ini berhasil disajikan dengan sangat baik. Kita ikut merasakan apa yang dirasakan oleh karakter di dalam film.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Interaksi antara keduanya juga menyenangkan untuk dilihat. Mengingat keduanya terjebak di kondisi yang mirip, wajar jika akhirnya mereka memiliki hubungan yang dekat, bahkan Grace rela menunda kepulangannya ke Bumi demi menyelamatkan Rocky.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasanya semua yang sudah menonton film ini bisa sepakat, kalau kita sama-sama sayang Rocky.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Plot Armor Grace</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/review-project-hail-mary-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8657" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/review-project-hail-mary-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/review-project-hail-mary-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/review-project-hail-mary-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/review-project-hail-mary-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Grace dalam Misi Penyelamatan Bumi (<a href="https://www.slashfilm.com/2096092/project-hail-mary-footage-description-potential-best-2026-sci-fi-movie/">SlashFilm</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun sudah banyak menyebutkan kelebihannya, ada beberapa kekurangan di film ini yang mengganjal Penulis. Pertama adalah latar belakang Grace yang hanya guru dan ilmuwan<strong> tanpa pernah ada latar sebagai <a href="https://whathefan.com/pengalaman/perjalanan-cita-cita-saya/">astronot</a></strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di <em>The Martian</em>, Watney memang seorang astronot, sehingga wajar jika ia tahu bagaimana cara bertahan hidup di luar angkasa karena memang sudah dibekali. Nah, beda cerita dengan Grace yang harus dibius dan dibuat koma dulu (karena ia sebenarnya menolak) sebelum dipaksa menjalankan misi Project Hail Mary.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Grace memang pintar, tapi mau sepintar apa pun ia, rasanya sulit diterima <strong>ia bisa melanjutkan misi tersebut seorang diri</strong>, meskipun memang <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/">dibantu AI</a> di sana. Belum lagi masalah kondisi fisik astronot yang harus ditempa bertahun-tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apalagi, dua rekannya justru sudah meninggal dunia, meskipun Andy Weir selaku penulis novelnya mengatakan bahwa penyebab kematian mereka memang masih disimpan untuk &#8220;potensi sekuel.&#8221; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk orang yang dipaksa menjalankan misi (sendirian pula), <strong>Grace terlalu mulus menyelesaikan Project Hail Mary nyaris tanpa cacat</strong>. Memang ia hampir tak selamat, tapi ujungnya kehadiran Rocky berhasil menyelamatkan nyawanya.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Bahasa Rocky yang Terlalu Mudah Dipahami</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Selain masalah <em>plot armor</em> yang dimiliki oleh Grace, salah satu hal yang Penulis sorot adalah <strong>mudahnya ia dalam menerjemahkan bahasa yang dimiliki oleh Rocky</strong>. Sebagai perbandingan, kata atasan Penulis, film <em>Arrival</em> (2016) mampu menggambarkan sulitnya hal tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang, masalah durasi membuat hal tersebut disederhanakan. Hanya saja, kembali lagi, <strong>Grace yang manusia biasa terasa jadi punya <em>superpower</em></strong> yang bisa melakukan ini itu dengan cepat. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Jangan lupakan bagaimana Grace mampu membuat alat yang bisa menerjemahkan bahasa Rocky secara <em>live</em> dengan alat seadanya. Jika memang semudah itu, harusnya kita juga bisa membuat alat penerjemah bahasa kucing atau paus dengan mudah.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Bagi Penulis, Film Ini Terlalu Happy Ending</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Peringatan <em>spoiler</em>, film ini bagi Penulis <strong>terlalu <em>happy ending</em>. </strong>Akhir film ini terlalu sempurna. Grace dan Rocky sama-sama berhasil menyelamatkan planet mereka, Grace yang tak punya siapa-siapa di bumi juga mendapatkan tempat di Erid, planet asal Rocky.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau mengikuti selera Penulis, harapannya adalah <strong>salah satu antara Grace atau Rocky harus mati karena keadaan</strong>. Misal, Rocky mati setelah menyelamatkan Grace, yang membuat Grace pergi ke Erid untuk menyelamatkan planet tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Toh, Grace sudah membuat alat penerjemah, sehingga ia bisa berkomunikasi dengan penduduk Erid lainnya. Nilai pengorbanan yang dilakukan Rocky akan berdampak besar bagi Grace, tanpa melupakan misi Project Hail Mary.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kesimpulan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Terlepas dari beberapa kekurangan yang Penulis sebutkan, <em>Project Hail Mary </em>tetap menjadi film yang bagus dan <em>enjoyable</em>. Penulis sangat senang karena film pertama yang ditonton di tahun ini sebagus ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika disuruh merangkum, ada tiga kata Rocky yang bisa menggambarkan perasaan Penulis setelah selesai menonton film ini: <em><strong>amaze, amaze, amaze</strong></em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">SKOR: 8/10</mark></strong></p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 18 April 2026, setelah menonton film <em>Project Hail Mary</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-project-hail-mary/">[REVIEW] Setelah Menonton Project Hail Mary</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-project-hail-mary/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Apr 2026 13:54:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nonfiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Mel Robbins]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8598</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada bulan November tahun lalu, Penulis mendengar istilah &#8220;The Let Them Theory&#8221; untuk pertama kali dari seorang teman. Saat itu, kami memang sedang mendiskusikan tentang melepaskan kemelekatan. Nah, lantas pada waktu ke Gramedia pada bulan Februari tahun ini, Penulis menemukan buku berjudul The Let Them Theory karya Mel Robbins. Waktu itu, Penulis belum tahu kalau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/">[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Pada bulan November tahun lalu, Penulis mendengar istilah &#8220;The Let Them Theory&#8221; untuk pertama kali dari seorang teman. Saat itu, kami memang sedang mendiskusikan tentang melepaskan kemelekatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, lantas pada waktu ke Gramedia pada bulan Februari tahun ini, Penulis menemukan buku berjudul <em>The Let Them Theory </em>karya Mel Robbins. Waktu itu, Penulis belum tahu kalau istilah tersebut ternyata merupakan judul buku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena penasaran dengan isinya (dan merasa butuh belajar melepaskan juga), Penulis akhirnya memutuskan untuk membelinya. Alhasil, buku ini berhasil Penulis tamatkan dalam waktu yang relatif singkat.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Disclaimer: Saat menulis artikel ini, Penulis menyadari ada isu plagiarisme yang ditujukan ke buku ini. Walau begitu, tulisan ini hanya akan fokus membahas isi buku ini.</mark></em></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner.jpg 1280w " alt="Untuk Apa Main Game?" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-main-game/">Untuk Apa Main Game?</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku The Let Them Theory</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>The Let Them Theory</em></li>



<li>Penulis: Mel Robbins dan Sawyer Robbins</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-3</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2026</li>



<li>Tebal: 328 halaman</li>



<li>ISBN: 625221049</li>



<li>Harga: Rp119.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku The Let Them Theory</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Inti dari buku <em>The Let Them Theory</em> sebenarnya sangat stoik, yakni tentang bagaimana kita fokus tentang diri kita sendiri dan menaruh &#8220;kekuasaan&#8221; kepada diri sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama ini, jangan-jangan kita menaruh &#8220;kekuasaan&#8221; tersebut ke orang lain, sehingga kehidupan kita pun jadi terpengaruh oleh orang lain. Buku ini pun menjadi pengingat kalau kita harus kembali merebut kendali atas kehidupan kita sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun judulnya <strong>&#8220;Let Them&#8221;</strong> atau<strong> &#8220;Biarkan Mereka&#8221;</strong>, sebenarnya ada satu lagi bagian yang akan dibahas hampir di setiap babnya, yakni <strong>&#8220;Let Me&#8221;</strong> atau <strong>&#8220;Biarkan Aku&#8221;</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, selain &#8220;Biarkan Mereka&#8221; yang sifatnya eksternal, kita juga akan belajar tentang &#8220;Biarkan Aku&#8221; yang berfokus pada apa yang bisa kita lakukan. Kalau dua hal tersebut bisa kita terapkan dalam keseharian, buku ini menjanjikan kehidupan yang lebih tenang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yakni <strong>Teori Biarkan Saja</strong>, <strong>Kau dan Teori Biarkan Saja</strong>, dan <strong>Hubunganmu dan Teori Biarkan Saja</strong>. Setiap bagian akan memiliki beberapa bab dan sub-bab.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Teori Biarkan Saja akan memaparkan dasar-dasar teori yang akan dibahas secara berulang sepanjang buku ini. Nah, di bagian selanjutnya, kita akan melihat bagaimana menerapkan teori tersebut ke diri kita sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada empat bab utama di bagian ini, yakni <strong>Mengelola Stres</strong>,<strong> Takut akan Pendapat Orang Lain</strong>, <strong>Menghadapi Reaksi Emosianal Orang Lain</strong>, dan <strong>Mengatasi Perbandingan Kronis</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagian terakhir adalah tentang bagaimana menerapkan teori ini dalam konteks berhadapan dengan orang lain, entah itu keluarga, teman, pasangan, maupun orang asing yang menyebalkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagian ini juga ada empat bab, yakni <strong>Memahami Pertemanan Orang Dewasa</strong>, <strong>Memotivasi Orang Lain untuk Berubah</strong>, <strong>Membantu Orang Lain yang Sedang Mengalami Kesulitan</strong>, dan<strong> Memilih Cinta yang Layak Kau Dapatkan</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The Let Them Theory</h2>



<p class="wp-block-paragraph"><em>The Let Them Theory </em>adalah bacaan yang ringan, sehingga cocok untuk dibaca pembaca pemula yang kerap <em>overthinking </em>seperti Penulis. Isinya sendiri sebenarnya menurut Penulis hanya &#8220;varian&#8221; dari konsep <a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Dikotomi Kendali dari stoikisme.</a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya saja, Penulis terkadang merasa bisa mendapatkan <strong>buku yang tepat di waktu yang tepat</strong>. Nah, buku ini termasuk salah satunya. Penulis membaca buku ini di saat yang tepat, sehingga isinya pun bisa <em>related</em> dengan dirinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama membaca, Penulis jadi sering berpikir, &#8220;Iya, ya?&#8221; ke dirinya sendiri. Mungkin Penulis sebenarnya sudah tahu akan hal tersebut dan buku ini hadir sebagai pengingat.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Perkara Menolong Orang Lain</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu bab paling menohok bagi Penulis adalah <strong>&#8220;Membantu Orang Lain yang Sedang Mengalami Kesulitan&#8221;</strong>. Karena trauma masa kecil, Penulis cenderung <em>extra effort</em> untuk orang lain, terutama yang meminta bantuan ke Penulis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, misal dimintai tolong sesuatu, Penulis akan memberikan lebih dari yang diminta. Tak jarang hal ini justru menimbulkan rasa risih dari orang yang meminta tolong.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kasus yang sama juga terjadi jika ada orang yang cerita masalahnya. Penulis sering <em>overthinking </em>bagaimana jika orang tersebut tidak bisa menyelesaikan masalahnya tersebut, sehingga Penulis berinisiatif untuk melakukan sesuatu (yang juga bisa menimbulkan perasaan risih).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah membaca buku ini, Penulis jadi sadar kalau orang ada masalah, ya sudah, <strong>biarkan saja mereka melewati masalahnya</strong>. Jika memang butuh bantuan, mereka akan bilang. Tidak perlu melakukannya secara berlebihan, sewajarnya saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak hanya dalam hal menolong, menasehati pun juga menjadi hal yang dibahas di buku ini. Tentu kalau kita merasa perlu menasehati tidak masalah, tapi jangan berharap kalau orang tersebut akan langsung berubah begitu mendengar nasehat kita.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Fokus ke Diri Sendiri</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Hal lain yang Penulis berusaha terapkan setelah membaca buku ini adalah bagaimana <strong>Penulis berusaha meletakkan fokus hidupnya ke diri sendiri</strong>, bukan ke orang lain. Penulis merasa dirinya selama ini terlalu berorientasi ke orang lain</p>



<p class="wp-block-paragraph">Misal, jika Penulis ingin menolong orang lain, ya karena Penulis ingin, bukan karena berharap orang tersebut akan ini itu di masa depan. Jika ingin melakukan sesuatu, ya karena kita ingin, bukan karena orang lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://whathefan.com/pengalaman/whathefan-punya-logo-baru-di-tahun-2026-ini/">Perubahan logo whatheFAN</a> pun terinspirasi setelah membaca buku ini. Penulis ingin blog ini tetap jadi wadah tulisan apa yang ingin Penulis tulis, bukan apa yang Penulis pikir akan dibaca oleh orang lain.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Perkara Perbandingan Kronis</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Bab lain yang sangat masuk ke Penulis adalah bagian <strong>&#8220;Mengatasi Perbandingan Kronis&#8221;</strong>. Penulis yang pada dasarnya punya <em>low esteem</em> kerap membandingkan hidupnya dengan orang lain yang dianggap lebih hebat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis sering merasa kalau &#8220;kemenangan&#8221; orang lain berarti &#8220;kekalahan&#8221; kita. Padahal, itu kesimpulan yang salah karena &#8220;kemenangan&#8221; orang lain ya &#8220;kemenangan&#8221; mereka, tidak berpengaruh apa-apa ke kita, tidak menjadikan kita &#8220;kalah&#8221;.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kekurangan Buku Ini</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya saja, tentu buku ini jauh dari sempurna. Sama seperti kebanyakan buku <em>self-help </em>yang merasa punya satu teori hebat, <strong>buku ini juga cenderung repetitif</strong>. Setelah membaca beberapa bab, maka kita akan merasa isinya &#8220;ini lagi ini lagi&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu,<strong> isu plagiarisme buku ini memang cukup kencang terdengar</strong>. Memang bisa jadi benar kalau Mel Robbins terinspirasi dari buku tersebut, lalu mengklaim itu jadi miliknya. Namun, hal tersebut rasanya akan sulit untuk dibuktikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya buku ini juga mencantumkan daftar pustaka yang cukup panjang, serta ada juga wawancara dengan pakar. Jadi, semisal memang benar Robbins terinspirasi dari orang lain, ia tetap melakukan riset untuk memperdalam teori tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau mengandung kata &#8220;teori&#8221; di judulnya, sebenarnya tidak ada teori rumit di dalamnya. Buku ini ya buku motivasi pada umumnya, bahkan kalau boleh kritik, buku ini malah <strong>memperumit &#8220;teori&#8221; sederhana yang ingin dijelaskan</strong>.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Penulis, <em>The Let Them Theory </em>adalah buku yang menyenangkan untuk dibaca. Walau rasanya tak semua orang akan cocok dengan buku ini, Penulis merasa mendapatkan &#8220;pencerahan&#8221; ketika membaca isinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Buku ini menjadi pengingat kalau kita tidak boleh meletakkan kendali hidup kita orang lain. Kita yang harus bertanggung jawab atas diri kita sendiri, atas kebahagiaan kita sendiri, atas <em>mood </em>kita sendiri, dan lain sebagainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaliknya, buku ini juga mengingatkan kalau kita tidak punya kendali atas hidup orang lain, jadi jangan berusaha untuk mengendalikannya. Sekali lagi, hanya diri kitalah yang benar-benar berada di bawah kendali kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor:<strong> 8/10</strong></mark></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 10 April 2026, terinspirasi setelah membaca <em>The Let Them Theory</em> karya Mel Robbins</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/">[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2026 12:57:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Keigo Higashino]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8591</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa tulisan ke depan, Penulis akan cukup sering mengulas novel-novel dari Keigo Higashino, karena memang sedang suka (lagi) membaca novel-novel detektif. Sebelumnya, Penulis sudah pernah mengulas The Devotion of Suspect X dan A Midsummer’s Equation, di mana pendapat Penulis bisa dibilang cukup berbeda di antara keduanya. Penulis sangat suka The Devotion of Suspect X, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/">[REVIEW] Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dalam beberapa tulisan ke depan, Penulis akan cukup sering mengulas novel-novel dari <strong>Keigo Higashino</strong>, karena memang sedang suka (lagi) membaca novel-novel detektif. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelumnya, Penulis sudah pernah mengulas <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/"><em>The Devotion of Suspect X</em></a> dan <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/"><em>A Midsummer’s Equation</em></a>, di mana pendapat Penulis bisa dibilang cukup berbeda di antara keduanya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis sangat suka The Devotion of Suspect X, tapi kurang puas dengan A Midsummer’s Equation, bahkan sempat berpikir untuk tidak lanjut membaca buku-buku Keigo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Penulis memutuskan untuk berubah pikiran dan akhirnya membeli novel ketiga yang berjudul <em><strong>Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</strong></em>. Tokoh utama di novel ini bukan Profesor Yukawa, tapi Detektif Kaga!</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-menoton-the-guardians-of-the-galaxy-holiday-special-banner-300x169.jpeg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-menoton-the-guardians-of-the-galaxy-holiday-special-banner-300x169.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-menoton-the-guardians-of-the-galaxy-holiday-special-banner-1024x576.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-menoton-the-guardians-of-the-galaxy-holiday-special-banner-768x432.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-menoton-the-guardians-of-the-galaxy-holiday-special-banner.jpeg 1280w " alt="Setelah Menoton The Guardians of the Galaxy Holiday Special" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menoton-the-guardians-of-the-galaxy-holiday-special/">Setelah Menoton The Guardians of the Galaxy Holiday Special</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Malice</em> <em>&#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</em></li>



<li>Penulis: Keigo Higashino</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-14</li>



<li>Tanggal Terbit: Mei 2025</li>



<li>Tebal: 224 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020639321</li>



<li>Harga: Rp99.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pada kasus kali ini, seorang penulis novel bernama <strong>Hidaka Kunihiko</strong> ditemukan tewas di rumahnya yang terkunci, tepatnya di ruang kerjanya yang juga terkunci. Padahal, ia akan pindah dari Jepang ke Kanada keesokan harinya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Mayatnya ditemukan oleh istri dan sahabatnya yang bernama <strong>Nonoguchi Osamu</strong>, tapi keduanya memiliki alibi yang kuat. <strong>Detektif Kaga Kyoichiro</strong> sendiri menaruh curiga kepada Osamu dan penyelidikan pun dimulai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, jika Profesor Yukawa lebih mirip Hercule Poirot, maka Detektif Kaga ini lebih mirip dengan Sherlock Holmes. Bagaikan anjing pelacak, ia akan menelusuri setiap sudut untuk menemukan fakta yang akan terlewatkan mayoritas orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, Detektif Kaga juga sangat peduli terhadap detail kecil sekalipun. Bayangkan saja, kondisi jari orang bisa menjadi petunjuk penting untuk menemukan siapa pelaku pembunuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu hal yang menarik begitu membaca novel ini adalah <strong><em>angle</em>-nya yang dibuat seperti sebuah catatan tertulis</strong>. Namun, penulisnya berbeda-beda, terkadang Osamu sebagai sahabat korban, kadang catatan Detektif Kaga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Novel ini mengingatkan Penulis akan novel Agatha Christie yang berjudul <em>The Murder of Roger Ackroyd</em>. Di novel tersebut, tokoh &#8220;aku&#8221; yang menulis novel tersebut ternyata terungkap menjadi pembunuhnya. Nah, formula tersebut sedikit mirip di sini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan <em>The Devotion of Suspect X </em>yang pembunuhnya jelas-jelas ketahuan sejak awal atau <em>A Midsummer’s Equation</em> yang benar-benar gelap di awal cerita, novel ini mengambil jalan tengah (walau memang condong mengikuti formula <em>The Devotion of Suspect X </em>).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kecurigaan memang langsung menuju ke Osamu, tapi untuk membuktikan ia pelakunya tidak langsung dijelaskan. Ia bahkan memiliki alibi yang menunjukkan bahwa dirinya bukan pelaku pembunuhan, setidaknya di 1/3 awal buku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, hal paling seru di novel ini adalah bagaimana kita bisa <strong>melihat ada banyak <em>reverse psychology </em>di sini</strong>, di mana awalnya kita dibuat berpikir A, lalu ternyata kenyataannya adalah B, tapi ternyata itu adalah trik untuk menutupi kenyataan C, dan seterusnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika membaca penjelasan bagian ini, Penulis harus mengakui bahwa hal tersebut ditulis dengan cerdas oleh Keigo. Penulis yang awalnya sudah terbawa arus pun dibuat terkejut ketika kenyataannya terbongkar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena hal tersebut adalah hal paling seru di novel ini, maka Penulis tidak akan menceritakan detailnya. Intinya, jangan mudah percaya dengan apa yang dibaca, teruslah curiga dan amati setiap detail terkecil!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin salah satu hal yang paling melelahkan dari novel ini adalah bagian interogasi di 1/3 akhir novel, di mana <strong>ada banyak sekali catatan interogasi terhadap banyak narasumber</strong>. Bagi sebagian orang, mungkin bagian ini bisa terasa <em>overwhelming</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, Penulis bisa memahami bahwa hal tersebut memang harus dilakukan oleh Detektif Kaga untuk menemukan motif pelaku, yang ternyata memang berakar dari masa lalunya. Motif masa lalu itulah yang ingin ditutupi oleh sang pelaku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang jelas, ada satu pesan penting yang ingin disampaikan Keigo: <em><strong>stop bullying</strong></em>. Lho, apa hubungan kematian seorang novelis dengan kasus perundungan? Jawabannya akan ketemu jika Pembaca membaca novel ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kesimpulannya, <em>Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</em> mengulang formula D<em>evotion of Mr. X </em>yang pelakunya ketahuan secara cepat. Kedua novel tersebut bukan tentang siapa pelakunya, bukan tentang bagaimana cara melakukan pembunuhannya, tapi tentang <strong>mengapa melakukannya</strong>.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">SKOR: <strong>8/10</strong></p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis akhirnya memutuskan untuk terus membaca novel-novel Keigo, karena cerita misterinya yang cukup ringan cocok untuk Penulis. Novel selanjutnya yang Penulis pilih adalah <em><strong>Salvation of a Saint &#8211; Dosa Malaikat</strong>.</em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 14 Maret 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Malice</em> karya Keigo Higashino</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/">[REVIEW] Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
