<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>teman Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/teman/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/teman/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jul 2024 11:29:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>teman Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/teman/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Berbincang Sedikit tentang Close Friend</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-sedikit-tentang-close-friend/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-sedikit-tentang-close-friend/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 31 Jul 2021 03:33:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[cepu]]></category>
		<category><![CDATA[Close Friend]]></category>
		<category><![CDATA[Instagram]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[privasi]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5142</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis sudah agak lama tidak membuka Twitter. Entah mengapa rasanya ingin sedikit menjauh dari media sosial yang terkenal karena &#8220;drama&#8221;-nya itu. Sesekali Penulis mengecek ala kadarnya, mungkin hanya sekitar 5-10 saja. Twitter juga masih Penulis manfaatkan untuk share artikel blog yang terbaru. Nah, kok ya pas kemarin cek Twitter muncul berita trending tentang seorang public [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-sedikit-tentang-close-friend/">Berbincang Sedikit tentang Close Friend</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis sudah agak lama tidak membuka Twitter. Entah mengapa rasanya ingin sedikit menjauh dari media sosial yang terkenal karena &#8220;drama&#8221;-nya itu.</p>



<p>Sesekali Penulis mengecek ala kadarnya, mungkin hanya sekitar 5-10 saja. Twitter juga masih Penulis manfaatkan untuk <em>share </em>artikel blog yang terbaru.</p>



<p>Nah, kok ya pas kemarin cek Twitter muncul berita <em>trending</em> tentang seorang <em>public figure </em>yang ketahuan bertindak kurang pantas untuk kedua kalinya.</p>



<p>Penulis sebenarnya merasa <em>bodo amat </em>karena merasa kejadian tersebut bukan urusannya, walaupun timbul perasaan khawatir kalau perbuatan tersebut ditiru oleh anak-anak muda.</p>



<p>Hanya saja, ada satu hal lain yang menarik perhatian Penulis, yakni fitur <em><strong>Close Friend</strong></em> yang dimiliki oleh Instagram.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Fitur <em>Close Friend </em>dari Instagram</h2>



<p>Kalau tidak salah, fitur <em><strong>Close</strong> <strong>Friend </strong></em>dihadirkan oleh Instagram pada tahun 2018. Tujuannya adalah untuk melabeli orang-orang tertentu sebagai &#8220;teman dekat&#8221; kita di Instagram.</p>



<p>Ketika membuat <em>story</em>, kita bisa memilih untuk memublikasikannya kepada khalayak umum atau orang-orang yang berada di daftar <em>Close Friend </em>ini.</p>



<p>Semenjak menggunakan Instagram hingga sekarang, Penulis tidak pernah menggunakan fitur <em>Close Friend</em>. Bukan karena tidak punya teman dekat, melainkan karena merasa tidak perlu saja.</p>



<p>Mungkin fitur ini dibutuhkan oleh orang-orang yang <em>followers</em>-nya banyak. Kadang, ada beberapa momen yang hanya ingin dibagikan kepada orang-orang tertentu karena berbagai alasan.</p>



<p>Walaupun begitu, Penulis merasa tersanjung apabila ada temannya yang memasukkan Penulis sebagai <em>Close Friend-</em>nya. Artinya, teman tersebut percaya atau ingin berbagi momennya dengan Penulis.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><em>Close Friend </em>yang Tidak Benar-Benar <em>Close</em></h2>



<p>Satu hal yang membuat heboh kasus si <em>public figure </em>adalah karena <em>Story</em>-nya dibocorkan oleh salah satu (atau mungkin lebih) teman yang ia masukkan ke dalam <em>Close Friend</em>-nya.</p>



<p>Akibatnya, hal yang ia ingin bagi ke <em>circle </em>tertentu harus bocor ke masyarakat umum dan ia harus kembali menerima hujatan dari masyarakat. Ada sih yang memberi dukungan. Maklum, <em>good-looking privilege</em>.</p>



<p>Karena kejadian ini, banyak yang memelintir <em>Close Friend </em>menjadi <em><strong>Cepu Friend</strong></em>, termasuk <a href="https://whathefan.com/buku/kisah-jerome-polin-pada-buku-latihan-soal-mantappu-jiwa/">Jerome Polin</a> melalui akun Twitter pribadinya. </p>



<p>Buat yang belum tahu, <em>cepu </em>adalah istilah untuk menyebut orang yang tidak bisa menjaga rahasia atau informasi yang dipercayakan kepadanya. <em>Cepu Friend </em>berarti teman yang tidak bisa menjaga rahasia.</p>



<p>Kejadian ini pun membuat kita berpikir, apakah fitur <em>Close Friend </em>benar-benar <em>close </em>dan bisa dipercaya? Mungkin kita saja yang harus memilihnya secara lebih cermat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Memang Tidak Semuanya Harus Dibagi, Termasuk ke <em>Close Friend</em></h2>



<p>Di era keterbukaan seperti sekarang, membagikan momen-momen yang sedang dilalui memang sudah menjadi hal yang wajar. Hanya saja, tetap ada batasan-batasan yang sebaiknya tidak dilanggar.</p>



<p>Apalagi, kita bukan tinggal di negara bebas. Jika dianggap melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat, pasti ada <a href="https://whathefan.com/karakter/kenapa-sih-harus-judgemental/">penghakiman</a> yang seringnya dalam bentuk <em>nyinyiran</em>.</p>



<p>Bisa berbagi momen bukan berarti semuanya harus dibagi. <a href="https://whathefan.com/rasa/ternyata-tidak-semua-yang-dirasa-harus-diungkapkan/">Tetap ada beberapa hal yang sebaiknya disimpan untuk diri sendiri</a>, apalagi sesuatu yang bisa menghebohkan, meresahkan, atau membuat risih orang lain.</p>



<p>Memang, makin banyak <em>public figure </em>yang mengumbar area privasi mereka demi popularitas. Biarkan saja, tidak usah pedulikan, masih banyak hal yang perlu kita lakukan selain berperan dalam melambungkan nama mereka.</p>



<p>Berbeda dengan cerita di novel <em>The Circle</em>, privasi bukanlah pelanggaran di dunia nyata. Kita semua tetap membutuhkan privasi dari pihak manapun, termasuk dari <em>Close Friend </em>sekalipun.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 31 Juli 2021, terinspirasi dari <em>trending</em>-nya seorang <em>public figure </em>karena skandalnya</p>



<p>Foto: <em><a href="https://www.theverge.com/2020/2/5/21124269/instagram-close-friends-how-to-add-threads-app-stories">The Verge</a></em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-sedikit-tentang-close-friend/">Berbincang Sedikit tentang Close Friend</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-sedikit-tentang-close-friend/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8220;Jangan Cerita Siapa-Siapa, ya&#8221;</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/jangan-cerita-siapa-siapa-ya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/jangan-cerita-siapa-siapa-ya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2021 13:38:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[amanah]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[percaya]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5025</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bercerita adalah sifat dasar manusia. Rasanya jarang sekali ada manusia yang tidak pernah bercerita seumur hidupnya. Bahkan, orang pendiam pun juga bercerita. Cerita ada banyak macamnya. Ada yang cerita lucu, cerita horor, cerita pengalaman, cerita fiksi, cerita percintaan, cerita kegalauan, dan lain sebagainya. Jika ada pencerita, maka ada pendengar. Jika tidak ada pendengar, namanya bukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/jangan-cerita-siapa-siapa-ya/">&#8220;Jangan Cerita Siapa-Siapa, ya&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Bercerita adalah sifat dasar manusia. Rasanya jarang sekali ada manusia yang tidak pernah bercerita seumur hidupnya. Bahkan, orang pendiam pun juga bercerita.</p>



<p>Cerita ada banyak macamnya. Ada yang cerita lucu, cerita horor, cerita pengalaman, cerita fiksi, cerita percintaan, cerita kegalauan, dan lain sebagainya.</p>



<p>Jika ada pencerita, maka ada pendengar. Jika tidak ada pendengar, namanya bukan bercerita, tapi bermonolog. Pendengar pun ada banyak macamnya, tapi rasanya tidak perlu dijabarkan di sini.</p>



<p>Nah, terkadang ada cerita yang tidak ingin kita sebarkan ke orang lain. Akan tetapi, ada dorongan dari dalam diri untuk menceritakannya ke orang lain. Akhirnya, kita memilih orang-orang tertentu untuk mendengarkan cerita tersebut.</p>



<p>Agar orang yang tersebut tidak menyebarkan cerita tersebut ke orang lain, biasanya kita akan berkata, <strong>&#8220;jangan cerita ke siapa-siapa, ya, cukup kamu aja yang tahu.&#8221;</strong></p>



<p>Kalimat tersebut terkesan mudah sekali untuk dilakukan. Si pendengar hanya perlu tutup mulut dan menyimpannya sendirian. </p>



<p>Sayang, pada kenyataannya, kalimat tersebut adalah salah satu amanah yang berat untuk dilakukan.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Terkadang, ada saja orang yang meneruskan cerita kita ke orang lain meskipun sudah diminta untuk tidak melakukannya. Alasannya pun bermacam-macam. Ada yang memang bermulut ember, ada yang kelepasan, ada yang panik, dan lain sebagainya.</p>



<p>Ketika kita mengetahui kalau orang yang kita percayai tidak amanah, otomatis akan timbul <a href="https://whathefan.com/sajak/tersedak-kecewa/">rasa kekecewaan dalam diri</a> dan rasanya tidak ingin memercayai orang itu lagi. Kita merasa telah dikhianati.</p>



<p>Sayangnya, <a href="https://whathefan.com/karakter/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">kita tidak mengontrol orang lain</a>. Mau kita memohon sampai berbusa sekalipun, belum tentu orang tersebut akan benar-benar diam dan tidak bercerita ke orang lain.</p>



<p>Oleh karena itu, kita harus benar-benar selektif baik dalam hal <strong>memilih apa yang ingin diceritakan</strong> dan<strong> kepada siapa cerita itu ingin kita sampaikan</strong>.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Memilih cerita yang ingin disampaikan artinya kita telah menyadari apa konsekuensi apabila cerita tersebut disebarkan. Jika kita benar-benar tidak ingin cerita tersebut diketahui orang lain, mungkin sebaiknya memang dipendam sendiri saja karena <a href="https://whathefan.com/rasa/ternyata-tidak-semua-yang-dirasa-harus-diungkapkan/">tidak semua hal perlu diungkapkan</a>.</p>



<p>Sebelum memutuskan untuk berbagi cerita, coba pikirkan apa dampak apabila cerita tersebut tersebar luas. Jika efeknya begitu besar, ada baiknya untuk tetap menyimpannya sendiri. Kalau perlu, alihkan dengan menuliskannya di buku jurnal.</p>



<p>Memilih siapa cerita itu ingin disampaikan artinya kita telah menentukan siapa saja yang bisa kita percaya untuk menyimpan cerita tersebut. Orang tersebut bisa orangtua, saudara, sahabat, pacar, atau orang lain yang bisa memberikan kita rasa nyaman untuk bercerita.</p>



<p>Biasanya, orang yang kita percaya memiliki <em>track record </em>yang baik di masa lalu. Mereka tidak pernah membocorkan cerita kita ke orang lain tanpa sepengetahuan kita. Dengan kata lain, mereka adalah orang yang amanah.</p>



<p>Tapi, hati-hati. Rasa percaya kita ke orang tersebut itulah yang bisa menjadi benih kekecewaan jika ternyata orang tersebut tidak seperti yang kita kira. Oleh karena itu, kita harus lebih bijak dalam memilih orang-orang yang akan menjadi pendengar kita.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Bagi Penulis, jika ada orang yang bercerita ke dirinya lantas meminta untuk tidak menceritakannya ke orang lain, Penulis akan berusaha setengah mati untuk melaksanakan amanah tersebut. </p>



<p>Memang dalam realitanya, Penulis tidak selalu bisa menutup mulut. Namun, setidaknya Penulis benar-benar berusaha untuk memenuhi permintaan tersebut. </p>



<p>Penulis ingin jadi orang yang bisa dipercaya sekaligus bisa memberikan rasa nyaman untuk orang-orang yang ingin bercerita.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 3 Juni 2021, terinspirasi dari pengalaman pribadi</p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://the5amhustle.wordpress.com/2018/04/11/iwtyts-how-to-persuade-with-ease/">The 5am Hustle &#8211; WordPress.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/jangan-cerita-siapa-siapa-ya/">&#8220;Jangan Cerita Siapa-Siapa, ya&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/jangan-cerita-siapa-siapa-ya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Teman Cerita yang Buruk</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/teman-cerita-yang-buruk/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Jan 2020 16:41:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[dengar]]></category>
		<category><![CDATA[justifikasi]]></category>
		<category><![CDATA[mendengarkan]]></category>
		<category><![CDATA[menghakimi]]></category>
		<category><![CDATA[pendengar]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3323</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis senang mendengarkan cerita orang lain. Alasannya, Penulis bisa belajar banyak dari pengalaman orang lain tanpa perlu mengalaminya sendiri. Akan tetapi ketika sedang melakukan perenungan akhir-akhir ini, Penulis merasa bahwa dirinya belum bisa menjadi teman cerita yang baik karena beberapa alasan. Daripada terus berkutat di dalam pikiran, Penulis memutuskan untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Harapannya, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/teman-cerita-yang-buruk/">Teman Cerita yang Buruk</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis senang mendengarkan cerita orang lain. Alasannya, Penulis bisa <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/belajar-dari-pengalaman-orang-lain/">belajar banyak dari pengalaman orang lain</a> tanpa perlu mengalaminya sendiri.</p>
<p>Akan tetapi ketika sedang melakukan perenungan akhir-akhir ini, Penulis merasa bahwa dirinya belum bisa menjadi teman cerita yang baik karena beberapa alasan.</p>
<p>Daripada terus berkutat di dalam pikiran, Penulis memutuskan untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Harapannya, bisa membuat Penulis menjadi lebih baik ke depannya.</p>
<h3>Membandingkan dengan Kisah Sendiri</h3>
<p>Ketika ada seseorang menceritakan beban hidupnya ataupun masalah-masalah lain, yang biasa kita lakukan adalah memberikan kata-kata penyemangat dengan tujuan memotivasi.</p>
<p>Masalahnya, terkadang Penulis menganggap ringan masalah orang tersebut sehingga membandingkan cerita tersebut dengan kisahnya sendiri.</p>
<p>Contohnya seperti ini:</p>
<p><strong>Teman</strong>: <em>&#8220;Kemarin aku baru aja dimarahin sama dosen karena enggak ngumpulin tugas.&#8221;</em></p>
<p><strong>Penulis</strong>: <em>&#8220;Itu sih belum seberapa, dulu aku sampai harus ngulang kelas karena lupa bawa KTM waktu ujian.&#8221;</em></p>
<p>Membandingkan permasalahan yang ada hanya akan membuat sang pencerita merasa tidak dihargai karena masalahnya dianggap sepele. Idealnya, kita mendengarkan tersebut tanpa harus menjustifikasi besar kecilnya permasalahan seseorang.</p>
<p>Malah kalau perlu, kita lebih sering merespon cerita mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang memancing mereka untuk lebih banyak bercerita lagi.</p>
<h3>Memberi Saran Tanpa Diminta</h3>
<p>Dalam buku <em>Men Are from Mars, Women Are from Venus</em> yang terkenal, Penulis mengetahui fakta bahwa perempuan sebenarnya hanya butuh didengar. Hal ini berbeda dengan laki-laki yang biasanya meminta solusi yang logis.</p>
<p>Walaupun Penulis mengetahui fakta ini, tetap saja dalam kesehariannya memberi saran kepada teman yang sedang bercerita tanpa diminta. Yang bercerita pun akan merasa kalau kita terlalu <em>sotoy </em>dan sok menggurui.</p>
<p>Sebenarnya hal ini wajar, mengingat kebanyakan laki-laki memandang segala sesuatu secara rasional. Jika ada yang bercerita, artinya ia meminta solusi dari permasalahan yang dihadapi.</p>
<p>Padahal tidak selalu seperti itu, terutama jika yang bercerita adalah seorang wanita. Mereka hanya ingin bercerita agar beban yang sedanng dipanggul berkurang.</p>
<h3>Menyalahkan Mereka</h3>
<p>Pernah tidak ketika seseorang bercerita, kita justru malah balik menyalahkan mereka dengan kata-kata seperti &#8220;<em>itu sih salahmu sendiri, aku kan dulu udah pernah bilang&#8221;.</em></p>
<p>Mereka sudah pusing dengan permasalahan mereka sendiri, pernyataan menyalahkan yang keluar dari kita hanya akan membuat perasaan mereka semakin memburuk.</p>
<p>Seharusnya, terlepas masalah tersebut berasal dari mana, kita harus bisa memberikan rasa nyaman kepada mereka yang sedang bercerita tentang masalahnya.</p>
<p>Jika memang itu memang kesalahan mereka, tak perlu menyerang mereka dengan kata-kata agresif. Sebaliknya, ajak mereka untuk melakukan interopeksi secara halus agar kesalahan serupa tak terulang di masa depan.</p>
<h3>Melakukan Justifikasi</h3>
<p>Dalam perenungannya, Penulis menganggap melakukan justifikasi seenak <em>udelnya </em>merupakan salah satu bentuk terburuk ketika sedang mendengarkan cerita orang lain.</p>
<p>Hanya berbekal beberapa kalimat, kita bisa langsung menilai sesuatu. Tak jarang penghakiman kita tersebut membuat teman kita merasa tersudutkan sehingga urung untuk bercerita lagi.</p>
<p>Contoh mudah justifikasi adalah mengentengkan permasalahan orang lain seperti yang sudah Penulis singgung di atas. Kata-kata seperti <em>&#8220;cuma gitu aja?&#8221; </em>adalah sesuatu yang fatal dan bisa melukai perasaan lawan bicara.</p>
<p>Tidak hanya dalam mendengarkan cerita, <em>ngejudge </em>orang memang sebaiknya tidak dilakukan pada kondisi apapun karena kita tak pernah tahu apa yang terjadi pada orang lain.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis menyadari bahwa kekurangan-kekurangan yang telah Penulis sebutkan di atas masih melekat pada Penulis, sekalipun Penulis sudah menyadari bahwa hal tersebut salah.</p>
<p>Memang ada beberapa poin positif yang pernah disampaikan oleh teman-teman ketika Penulis menjadi pendengar, seperti mampu bersikap tenang ketika mendengar apapun, sabar, bisa membantu mengurai permasalahan, dan lain sebagainya.</p>
<p>Walaupun begitu, Penulis harus bisa menghilangkan (atau setidaknya mengurangi) sifat-sifat yang membuat Penulis menjadi teman cerita yang buruk.</p>
<p>Penulis senang mendengarkan cerita orang lain, sehingga memiliki ketakutan seandainya tidak lagi dipercaya oleh orang-orang terdekat untuk berbagi kisahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 24 Januari 2020, terinspirasi dari diri sendiri</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@priscilladupreez?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Priscilla Du Preez</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/two-friends?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/teman-cerita-yang-buruk/">Teman Cerita yang Buruk</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kok Mainnya Sama Anak Kecil?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/kok-mainnya-sama-anak-kecil/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Aug 2019 14:15:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[penngalaman]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2627</guid>

					<description><![CDATA[<p>FANANDI MAINNYA SAMA ANAK KECIL! Tidak jarang penulis mendengarkan kalimat seperti itu. Tentu, anak kecil yang dimaksudkan adalah kawan-kawan di Karang Taruna yang memang rentang usianya cukup jauh di bawah penulis, sekitar 5 hingga 10 tahun. Mau dianggap seperti itu sebenarnya juga tidak masalah. Toh, penulis juga tidak mungkin menjelaskan mengapa penulis bisa dekat dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kok-mainnya-sama-anak-kecil/">Kok Mainnya Sama Anak Kecil?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>FANANDI MAINNYA SAMA ANAK KECIL!</strong></p>
<p>Tidak jarang penulis mendengarkan kalimat seperti itu. Tentu, anak kecil yang dimaksudkan adalah kawan-kawan di Karang Taruna yang memang rentang usianya cukup jauh di bawah penulis, sekitar 5 hingga 10 tahun.</p>
<p>Mau dianggap seperti itu sebenarnya juga tidak masalah. Toh, penulis juga tidak mungkin menjelaskan mengapa penulis bisa dekat dengan mereka semua semenjak <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">Karang Taruna berdiri</a> di lingkungan RW.</p>
<h3><strong><em>Jadi, kenapa penulis sering bermain bersama mereka?</em></strong></h3>
<p>Ya, karena sering kumpul sama mereka aja. Semenjak <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/">rangkaian acara kemerdekaan Indonesia</a> pada tahun 2016, kami semua sering bekerja sama dalam menyukseskan acara.</p>
<p>Mulanya pada rapat pendahuluan, penulis dan teman yang seumuran sempat gusar karena oleh salah satu pihak dari pengurus RW. Alasannya, semua konsep yang sudah kami siapkan ditolak mentah-mentah.</p>
<p>Beliau justru mengajukan <strong>Ekky</strong>, teman baik adik penulis yang waktu itu masih kelas 2 SMK. Yang membuat terkejut, banyak sekali anak-anak remaja (SMP dan SMA) yang sebelumnya tidak terlalu penulis kenal ketika rapat perdana tersebut.</p>
<p>Singkat cerita, penulis pun berusaha membantu mereka dari belakang dan membuat kami sering berinteraksi. Eh, berawal dari kegusaran, kami jadi dekat satu sama lain hingga sekarang.</p>
<p>Selang beberapa hari setelah pembubaran panitia, Karang Taruna pun resmi dibentuk pada tanggal <strong>3 September 2016</strong>. Kami pun jadi semakin dekat satu sama lain, lengkap dengan sekelumit permasalahannya.</p>
<p>Waktu itu, penulis yang terpilih sebagai ketua pertama paham apa tugas terberatnya: <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/membangun-fondasi-organisasi/">membangun fondasi organisasi</a>. Salah satu caranya adalah dengan membuat banyak program kerja seperti <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/swi-mengajar/">SWI Mengajar</a>, <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/swi-barang-bekas/">SWI Barang Bekas</a>, dan lain sebagainya.</p>
<p>Kalau hanya mengerjakan program kerja tentu akan menjenuhkan. Maka dari itu, biasanya setiap malam minggu kami berkumpul untuk meningkatkan <em>chemistry </em>antar anggota (bahkan ada yang menumbuhkan perasaan suka antar anggota).</p>
<p>Bahkan, dengan alasan agar ketika kumpul tidak sibuk dengan HP-nya sendiri-sendiri, penulis berinisiatif untuk membuat berbagai permainan, mulai dari <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/werewolf-ala-sumber-wuni-indah/">Werewolf dengan penambahan karakter</a>, <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/permainan-perekat-kebersamaan-tebak-satu-kata-dan-hexagon-war/">tebak satu kata</a>, hingga merancang <em>board game <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/stars-and-rabbits-sebuah-permainan/">Stars &amp; Rabbits</a>.</em></p>
<h3><strong><em>Dengan demikian, sudah jelas bukan kenapa penulis begitu dekat dan sayang ke mereka? </em></strong></h3>
<p>Penulis berusaha memosisikan diri sebagai kakak sekaligus teman bagi mereka semua. Jika ada yang membutuhkan saran atau sekadar ingin bercerita, penulis berusaha untuk menjadi <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/bukan-pendengar-yang-baik/">pendengar yang baik</a>.</p>
<p>Penulis mengakui mungkin sedikit lebih dekat dengan anggota-anggota perempuan yang ada di Karang Taruna. Obsesi ingin memiliki adik perempuan bisa menjadi salah satu alasannya. Belum punya pacar menjadi alasan lainnya.</p>
<p>Kedekatan dengan orang lain seperti ini baru penulis rasakan ketika sudah berkepala dua. Seperti yang sudah penulis curhatkan panjang lebar di tulisan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/"><em>Rasa Takut Akan Sendirian</em></a>, penulis tidak punya banyak teman sewaktu sekolah.</p>
<p>Kehadiran mereka di kehidupan penulis membuat penulis merasa menemukan kepingan <em>puzzle </em>yang hilang. Berkumpul dengan mereka mungkin membuat penulis menjadi <em>childish</em>, tapi semoga penulis bisa mengubahnya dengan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/keluar-dari-zona-nyaman/">keluar dari zona nyaman</a>.</p>
<p>Yang jelas, penulis menyayangi mereka semua. Maka dari itu, penulis rela menghabiskan jatah cutinya demi pulang dan berkumpul dengan mereka pada acara peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-74.</p>
<p><em>Dan itu sangat menyenangkan, walaupun ketika kembali ke Jakarta harus menambah beban rindu yang berat.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 Agustus 2019, terinspirasi setelah pulang ke Lawang selama 9 hari</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kok-mainnya-sama-anak-kecil/">Kok Mainnya Sama Anak Kecil?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Untuk Kamu yang Merasa Terbuang</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/untuk-kamu-yang-merasa-terbuang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 May 2019 16:43:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<category><![CDATA[terbuang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2342</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang yang dulu sering merasa susah berinteraksi dengan orang lain (atau sampai sekarang?), penulis sering kali berpikir secara berlebihan terhadap persepsi orang lain kepada diri penulis. Bahkan, penulis sampai merasa sebagai orang yang terbuang, yang kehadiran dan ketidakhadirannya sama saja. Hanya dianggap sebagai pelengkap yang keberadaannya tidak diinginkan. Setelah dewasa, penulis menyadari bahwa pola [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/untuk-kamu-yang-merasa-terbuang/">Untuk Kamu yang Merasa Terbuang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orang yang dulu sering merasa susah berinteraksi dengan orang lain (atau sampai sekarang?), penulis sering kali berpikir secara berlebihan terhadap persepsi orang lain kepada diri penulis.</p>
<p>Bahkan, penulis sampai merasa sebagai <strong>orang yang terbuang</strong>, yang kehadiran dan ketidakhadirannya sama saja. Hanya dianggap sebagai pelengkap yang keberadaannya tidak diinginkan.</p>
<p>Setelah dewasa, penulis menyadari bahwa pola berpikir merasa terbuang cukup destruktif dan tidak membawa satu pun hal yang positif untuk diri kita.</p>
<h3>Bukan Orang yang Terbuang</h3>
<p><div id="attachment_2344" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2344" class="size-large wp-image-2344" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/merasa-terbuang-1-1024x683.jpg" alt="" width="800" height="534" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/merasa-terbuang-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/merasa-terbuang-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/merasa-terbuang-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/merasa-terbuang-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2344" class="wp-caption-text">Bukan Terbuang (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@wildlittlethingsphoto">Helena Lopes</a>)</p></div></p>
<p>Penulis menilai ada dua poin yang bisa diangkat dari topik perasaan terbuang ini. Poin pertama, <strong>pikiran tersebut belum tentu benar</strong>.</p>
<p>Bisa jadi, orang lain tidak benar-benar berpikir seperti itu. Mungkin saja kita yang kurang terbuka kepada orang lain sehingga komunikasi menjadi tidak lancar.</p>
<p>Jika melihat ke belakang, memang banyak peristiwa yang membuat penulis merasa seperti itu. Akan tetapi ketika melakukan interopeksi diri, penulis sadar bahwa bisa jadi akar permasalahannya ada di dalam diri penulis sendiri.</p>
<p>Dalam perenungan, penulis menemukan salah satu akar permasalahan ini adalah <a href="https://whathefan.com/karakter/bukan-sombong-tapi-minder/">rasa minder</a> yang bersarang dalam diri. Penulis adalah orang yang kurang percaya diri walaupun tidak sampai akut.</p>
<p>Seandainya dulu penulis sedikit lebih percaya diri dan berani <em>nimbrung </em>di dalam pembicaraan atau sekadar berusaha terlibat dalam diskusi, mungkin hasilnya akan berbeda dan penulis tidak akan merasa jadi orang yang terbuang.</p>
<h3>Memang Orang yang Terbuang</h3>
<p><div id="attachment_2343" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2343" class="size-large wp-image-2343" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/merasa-terbuang-2-1024x683.jpg" alt="" width="800" height="534" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/merasa-terbuang-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/merasa-terbuang-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/merasa-terbuang-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/merasa-terbuang-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2343" class="wp-caption-text">Memang Terbuang (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.idntimes.com/science/discovery/sri-mulyati-2/alasan-ilmiah-perilaku-bullying-c1c2" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwieltvx8I7iAhXo6XMBHV-_BnYQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">IDN Times</span></a>)</p></div></p>
<p>Sayangnya, poin yang kedua adalah jika <strong>memang keberadaan kita tidak diinginkan oleh orang lain</strong>. Kita dianggap tidak cocok dengan gaya bergaul mereka, tidak satu frekuensi, bahkan dianggap tidak satu level dengan mereka.</p>
<p>Penulis pernah merasa dianggap seperti ini, sehingga mau seberusaha apapun untuk membaur akan menjadi percuma karena pada dasarnya ada penolakan yang cukup terasa. Jujur, rasanya cukup sakit.</p>
<p>Walaupun begitu, kita tidak perlu bersedih. Bisa jadi, kita memang tidak cocok dengan mereka. Toh, kita tidak punya kewajiban untuk bisa akrab dengan semua orang yang kita kenal.</p>
<p>Ambil saja sisi positifnya. Mungkin, itu merupakan pengingat diri kita, siapa tahu kita pernah memperlakukan hal yang sama kepada orang lain, tapi tidak kita sadari.</p>
<p>Mungkin kita memang tidak bisa berteman dengan mereka. Sama seperti pernikahan, persahabatan juga tidak bisa dipaksakan. Buktinya, kita cenderung berkumpul dengan teman-teman yang kita anggap cocok.</p>
<p>Jadi, jika kita berada di dalam situasi seperti itu, jangan diambil pusing. Teringat dari buku tulisan <strong>Mark Manson</strong>, <a href="https://whathefan.com/buku/motivasi-anti-mainstream-pada-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat/">berusahalah untuk bersikap bodo amat</a>.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Merasa sebagai orang terbuang. Merasa sebagai kepribadian yang dibenci dan tidak diharapkan kehadirannya. Merasa sebagai orang yang dibenci dan dimusuhi.</p>
<p>Pikiran-pikiran seperti itu kerap muncul pada orang-orang yang kerap <em>overthinking</em> seperti penulis. Untunglah, penulis telah menyadari kesalahan itu dan memutuskan untuk melanjutkan hidup bersama orang-orang terdekat.</p>
<p>Daripada berfokus kepada orang-orang yang tidak peduli kepada kita, mengapa tidak kita curahkan hidup kita kepada orang-orang yang berharga dan mau menerima kita di kehidupan mereka?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 9 September 2019, terinspirasi dari sebuah diskusi hati ke hati dengan seseorang</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@franciscoegonzalez">Francisco Gonzalez</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/untuk-kamu-yang-merasa-terbuang/">Untuk Kamu yang Merasa Terbuang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kelewat Baper vs Bercanda Kelewatan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Feb 2019 00:29:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[baper]]></category>
		<category><![CDATA[bercanda]]></category>
		<category><![CDATA[bully]]></category>
		<category><![CDATA[canda]]></category>
		<category><![CDATA[pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<category><![CDATA[tersinggung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2170</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang yang dianggap mudah terbawa perasaaan alias baper ketika kuliah (atau sampai sekarang?), penulis sangat memahami bagaimana rasanya mendapatkan cap seperti itu. Bukan baper karena merasa geer seseorang suka dengan kita ya. Baper yang penulis angkat di sini adalah dalam konteks bercanda, di mana kita merasa tersinggung atau direndahkan karena candaan tersebut. Kelewat Baper Nah, perasaan tersakiti karena candaan teman-teman ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/">Kelewat Baper vs Bercanda Kelewatan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orang yang dianggap mudah terbawa perasaaan alias <em>baper</em> ketika kuliah (atau sampai sekarang?), penulis sangat memahami bagaimana rasanya mendapatkan cap seperti itu.</p>
<p>Bukan <em>baper </em>karena merasa <em>geer</em> seseorang suka dengan kita ya. <em>Baper </em>yang penulis angkat di sini adalah dalam konteks bercanda, di mana kita merasa tersinggung atau direndahkan karena candaan tersebut.</p>
<h3>Kelewat Baper</h3>
<p>Nah, perasaan tersakiti karena candaan teman-teman ini biasanya membuat kita terus kepikiran hingga akhirnya mengganggu produktivitas. Kita akan memikirkannya secara berlarut-larut hingga susah tidur, bahkan tak jarang sampai menangis.</p>
<p>Terkadang kita juga jadi sering berimajinasi terlalu jauh sesuatu yang kemungkinan tidak pernah terjadi. Misal, kamu akan membayangkan dirimu akan dikucilkan karena mendapatkan perlakuan buruk hingga memutuskan untuk pindah rumah. Terlalu berlebihan bukan?</p>
<p><div id="attachment_2172" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2172" class="size-large wp-image-2172" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2172" class="wp-caption-text">Kelewat Baper (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.theodysseyonline.com/girls-do-cry" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjBmIH3t7fgAhXZZSsKHWVYAfEQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Odyssey</span></a>)</p></div></p>
<p>Seringkali kita dijuluki <em>baper</em> seperti itu karena kita tidak bisa menerima bahan candaan yang dilontarkan oleh teman-teman kita. Entah apapun motif mereka bercanda seperti itu, yang jelas kita disuruh menerima candaan sebagai candaan, bukan sebagai serangan personal.</p>
<p>Permasalahanya, tidak semua orang bisa menerima candaan seperti itu karena sensitivitas orang berbeda-beda. Penulis termasuk yang sensitivitasnya tinggi dan mudah tersinggung, walaupun sekarang merasa sudah mulai berkurang.</p>
<p>Penulis juga punya teman yang sensitivitasnya sangat rendah, sehingga ia tak pernah marah ataupun tersinggung ketika dijadikan bahan olok-olok. Ya, kita tidak tahu bagaimana di dalam hatinya, tapi yang jelas ia tak pernah mengumbar ketersinggungannya di ruang publik.</p>
<p>Lantas, bagaimana cara mengatasi sifat <em>baper </em>yang seperti ini? Penulis memiliki beberapa cara yang sudah berusaha diterapkan ke diri sendiri. Tidak mudah, tapi bisa dilakukan.</p>
<ul>
<li><strong>Selalu berpikir positif</strong>, contohnya menganggap teman-temanmu yang kerap menggoda kita sebagai upaya untuk lebih dekat dengan kita. Sudah banyak orang yang mengatakan, semakin dekat seseorang, semakin parah bercandanya.</li>
<li><strong>Jangan semua dimasukkan ke dalam hati</strong>, karena kita harus pandai-pandai menyeleksi mana yang harus masuk ke ruang hati kita yang terbatas. Jangan sampai masalah sepele mendapatkan tempat di dalam hati.</li>
<li><strong>Jadikan bahan interopeksi diri</strong>, tanyakan kepada diri sendiri apa yang membuat orang berbuat seperti itu kepada kita. Bisa jadi, penyebab orang berbuat hal yang kurang menyenangkan bermula dari diri kita sendiri.</li>
<li><strong>Belajar menjadi lebih dewasa</strong>, karena kedewasaan itu pilihan yang tak bergantung usia. Orang yang sudah mengalami berbagai peristiwa dalam hidupnya seringkali menjadi lebih dewasa, sehingga tidak mudah terganggu oleh masalah kecil.</li>
<li><strong>Mendekatkan diri ke Tuhan</strong>, karena pendengar terbaik di alam semesta adalah <a href="http://whathefan.com/renungan/bagaimana-tuhan-diciptakan/">Tuhan sang pencipta alam</a> ini. Jika Islam, perbanyaklah <em>istighfar </em>atau ambil air wudhu agar amarah reda. Begitu pula dengan agama lain, lakukan ritual yang bisa menenangkan diri.</li>
<li><strong>Cerita ke orang</strong> <strong>lain yang dipercaya</strong>, jangan memendam permasalahan sendirian. Berbagilah kepada orang-orang yang kamu anggap bisa menenangkan dirimu dan memberikan solusi terbaik.</li>
</ul>
<p>Nah, akan tetapi, bisa jadi bukan kita yang kelewat <em>baper</em>. Bisa jadi, orang lain yang bercandanya kelewatan hingga siapapun akan merasa sakit hati dengan kata-kata yang diujarkannya.</p>
<h3>Bercanda Kelewatan</h3>
<p>Mungkin karena sewaktu kecil sering di-<em>bully </em>oleh teman-teman sekolah, penulis jadi jarang mengeluarkan candaan yang mungkin bisa menyakitkan hati. Tentu pernah, akan tetapi tidak sering. Apalagi jika yang diajak bercanda mulai terlihat tersinggung, penulis akan segera berhenti.</p>
<p>Akan tetapi, ada banyak orang yang kadang-kadang bercandanya melampaui batas. Biasanya, orang-orang seperti ini bukan tipe orang yang mudah terbawa perasaan. Sensitivitas yang dimilikinya termasuk rendah, sehingga tidak mudah tersinggung.</p>
<p><div id="attachment_2173" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2173" class="size-large wp-image-2173" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598-1024x615.jpg" alt="" width="800" height="480" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598-1024x615.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598-300x180.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598-768x461.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2173" class="wp-caption-text">Bercanda Kelewatan (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.iamsecond.com/is-living-second-really-just-being-first-loser/" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjfm8SwubfgAhVNi3AKHf4dDH0QjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">I Am Second</span></a>)</p></div></p>
<p>Sayangnya, karena memiliki sensitivitas rendah, mereka menganggap orang lain sama seperti mereka. Logika yang digunakan seperti ini: kalau aku enggak sakit hati, ngapain orang lain sakit hati?</p>
<p>Masalahnya, tidak semua orang <em>baper </em>sejak lahir. Bisa jadi ada faktor-faktor penyebab orang lain menjadi mudah tersinggung, seperti adanya suasana hati yang sudah buruk, mengalami masalah yang berat, atau perasaannya sedang terluka.</p>
<p>Oleh karena itu, bercanda juga harus melihat kondisi, waktu, dan tempat. Jangan sampai ketika melihat orang lain sudah mulai tersinggung dengan ucapan kita, malah diteruskan hingga membuat orang tersebut emosi.</p>
<p>Yang membuat penulis seringkali mengelus dada, <strong>sejak ada kata <em>baper, </em>kata maaf seolah pudar</strong>. Yang sudah mengolok-olok merasa bahan candaannya masih wajar sehingga menuding pihak lain sebagai orang yang <em>baper</em>. Tak ada kata maaf di sana karena merasa benar.</p>
<p>Ada beberapa hal yang penulis lakukan untuk menahan diri ketika dirasa bahan bercandaanya sudah kelewatan.</p>
<ul>
<li><strong>Tumbuhkan empati</strong>, cobalah membayangkan diri menjadi orang yang kamu olok-olok. Jika kamu ada di posisinya, apakah kamu akan merasa tersinggung juga? Ingat, sensitivitas masing-masing orang berbeda.</li>
<li><strong>Berpikir sebelum berbicara</strong>, pertimbangkan manfaat dari kata-kata yang akan keluar dari mulutmu. Apakah kalimat yang akan kamu ucapkan membawa kebaikan atau justru menggoreskan luka pada orang lain?</li>
<li><strong>Belajar menjaga perasaan orang lain</strong>, karena apapun tujuannya, terkadang bercanda yang kelewatan akan melukai perasaan orang lain. Cobalah untuk belajar menjaga perasaan orang lain dengan mengurangi kata-kata yang berpotensi menimbulkan konflik.</li>
<li><strong>Jangan pernah merasa lebih baik</strong>, karena mentalitas yang dimiliki oleh seorang pem-<em>bully </em>adalah <a href="http://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/">merasa dirinya lebih baik</a> atau lebih hebat dari orang yang di-<em>bully</em>. Posisikan diri sejajar dengan orang lain, bukan lebih tinggi maupun lebih rendah.</li>
<li><strong>Peka terhadap situasi dan memahami orang lain</strong>, karena sikap <em>baper </em>bisa muncul tiba-tiba tergantung apa yang sedang dialami oleh orang lain. Seperti yang sudah penulis sebutkan di atas, bisa jadi seseorang sedang berada di kondisi buruk sehingga berubah menjadi mudah tersinggung.</li>
<li><strong>Jangan merasa paling benar</strong>, sehingga kita enggan mengeluarkan kata maaf. Berhenti menyalahkan ke-<em>baper-</em>an orang lain dan mulai interopeksi diri bahwa yang sudah kita lakukan adalah salah. Minta maaflah jika ada yang orang tersakiti karena ucapan kita.</li>
</ul>
<p>Kalau kita biasa menahan diri dan menghargai perasaan orang lain, tentu kita tahu kapan kita bisa bercanda dan kapan kita harus berhenti bercanda.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Hidup dalam lingkungan sosial membuat kita kerap berinteraksi dengan orang lain. Di antara interaksi-interaksi tersebut, tentu kadang terjadi gesekan-gesekan yang membuat kita memiliki masalah dengan orang lain, termasuk masalah bercanda ini.</p>
<p>Sekali lagi, salah satu kuncinya adalah <a href="http://whathefan.com/karakter/budaya-menghargai-di-indonesia/">menghargai orang lain</a>, menghargai perasaannya. Jangan sampai yang <em>baper </em>menjadi emosi karena terus-menerus diserang, lantas yang bercandanya kelewatan juga ikutan emosi karena merasa si <em>baper </em>sudah <em>lebay</em>.</p>
<p>Tentu kedua belah pihak harus sama-sama interopeksi diri dan berhenti membenarkan diri sendiri. Yang mudah <em>baper</em>, coba dikurangi ke-<em>baper-</em>annya. Yang sering bercandanya kelewatan, coba belajar memahami perasaan orang-orang yang mudah <em>baper</em>.</p>
<p>Kalau kedua belah pihak bisa melakukan semua yang sudah dijabarkan, tentu penulis bisa berharap bahwa konflik antara <em><strong>kelewat baper vs bercanda kelewatan</strong> </em>ini bisa tereduksi di masa depan, setidaknya di lingkungan sekitar penulis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 13 Februari 2019, terinspirasi dari, ya begitulah&#8230;</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://everything-voluntary.com/forced-association-compounds-bullying" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiQqrC8t7fgAhVWaCsKHUKqD3cQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Everything-Voluntary.com</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/">Kelewat Baper vs Bercanda Kelewatan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membuat Kenangan Ala Isshuukan Friends</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/membuat-kenangan-ala-isshuukan-friends/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/membuat-kenangan-ala-isshuukan-friends/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Dec 2018 15:59:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[ingatan]]></category>
		<category><![CDATA[Isshuukan Friends]]></category>
		<category><![CDATA[kenangan]]></category>
		<category><![CDATA[memori]]></category>
		<category><![CDATA[One Week Friends]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1906</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika mendapatkan tawaran menonton salah satu film pada even Pekan Sinema Jepang di Grand Indonesia, penulis memutuskan untuk menonton One Week Friends setelah beberapa judul lainnya tidak cocok jam tayangnya. Setelah membaca sinopsis singkatnya, penulis merasa penasaran dengan film ini. Diceritakan seorang anak SMA bernama Kaori Fujimiya yang hanya bisa memiliki ingatan tentang temannya dalam waktu satu minggu. Setiap Senin, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/membuat-kenangan-ala-isshuukan-friends/">Membuat Kenangan Ala Isshuukan Friends</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika mendapatkan tawaran menonton salah satu film pada even <strong>Pekan Sinema Jepang </strong>di Grand Indonesia, penulis memutuskan untuk menonton <strong>One Week Friends </strong>setelah beberapa judul lainnya tidak cocok jam tayangnya.</p>
<p>Setelah membaca sinopsis singkatnya, penulis merasa penasaran dengan film ini. Diceritakan seorang anak SMA bernama <strong>Kaori Fujimiya </strong>yang hanya bisa memiliki ingatan tentang temannya dalam waktu satu minggu. Setiap Senin, ia akan lupa dengan teman-temannya.</p>
<p><div id="attachment_1909" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1909" class="size-large wp-image-1909" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IF-1024x576.png" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IF-1024x576.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IF-300x169.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IF-768x432.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IF-356x200.png 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IF.png 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1909" class="wp-caption-text">Kaori dan Yuki (Akiba Nation)</p></div></p>
<p>Namun hal tersebut tidak menghalangi niat <strong>Yuki Hase</strong> untuk menjadikan Kaori sebagai temannya. Meskipun ditolak berkali-kali, Yuki selalu berusaha meminta Kaori menjadi temannya,</p>
<p>Penulis sempat curiga bahwa film ini diangkat dari serial anime jika dilihat dari model ceritanya. Ternyata benar saja, film ini diangkat dari anime yang berjudul sama, yang dalam bahasa Jepang disebut <strong>Isshuukan Friends.</strong></p>
<h3>Anime vs <em>Live Action</em></h3>
<p>Waktu pertama kali melihat <em>style </em>dari anime ini, penulis langsung suka. Anime ini digambarkan dengan sederhana dengan nuansa warna yang sendu. Rasanya baru kali ini penulis menemukan <em>style </em>anime seperti ini.</p>
<p>Jalan ceritanya versi animenya ini ternyata memiliki beberapa perbedaan dengan versi <em>live action</em>-nya. Sebut saja <strong>Saki Yamagishi </strong>yang pada <em>live action-</em>nya merupakan teman masa kecil Yuki, di animenya justru merupakan teman masa kecil sahabat Yuki yang bernama <strong>Shogo Kiryu</strong>.</p>
<p>Karakter Kaori versi animenya juga lebih ramah dan lebih terbuka kepada orang lain. Ayah Kaori yang lumayan dominan di <em>live action</em>-nya sama sekali tidak pernah muncul di versi animenya.</p>
<p><div id="attachment_1907" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1907" class="size-large wp-image-1907" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/One-Week-Friends-F-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/One-Week-Friends-F-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/One-Week-Friends-F-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/One-Week-Friends-F-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/One-Week-Friends-F-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/One-Week-Friends-F.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1907" class="wp-caption-text">Live Action (KAORI Nusantara)</p></div></p>
<p>Perbedaan yang lebih mendasar adalah tentang buku harian Kaori. Jika di versi <em>live action-</em>nya Yuki yang menulis buku tersebut, maka di animenya Kaori sendirilah yang menulis pengalaman-pengalamannya.</p>
<p>Lalu, peristiwa yang menyebabkan Kaori hilang ingatan sebenarnya sama, hanya saja berbeda waktu. Di <em>live action</em>, Kaori kecelakaan sewaktu SMP, sedangkan di animenya terjadi sewaktu SD.</p>
<p>Dua-duanya terjadi dengan sumber permasalahan yang sama. Kaori hendak bertemu dengan temannya yang akan pindah, <strong>Hajime Kujo</strong>, namun dihalangi oleh teman-temannya yang cemburu akan kedekatan Kaori dengan Hajime.</p>
<p>Yang jelas, versi <em>live action</em>-nya lebih drama dibandingkan animenya, dan penulis kurang menyukainya. Mungkin ada perbedaan-perbedaan lainnya, tapi penulis tidak akan membahasnya lagi. Sekarang, penulis ingin membahas lebih dalam tentang animenya.</p>
<h3>Anime yang Membuat Sesak Dada</h3>
<p>Anime ini tergolong singkat, hanya memiliki 12 episode. Episode 1 sampai 8 menceritakan perjuangan Yuki untuk bisa menjadi teman Kaori, diawali dari makan siang bersama di atap sekolah.</p>
<p>Yuki juga banyak membantu Kaori untuk bisa berteman dengan teman kelas lainnya. Perjuangan Yuki tidak sia-sia. Lama-kelamaan, Kaori bisa mengingat teman-temannya tersebut, tentu dengan bantuan buku harian yang ia tulis.</p>
<p><div id="attachment_1908" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1908" class="size-large wp-image-1908" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Vivid-Isshuukan-Friends-08-SmallAnime.com-2F79639A.mkv_snapshot_23.36_2014.05.28_07.33.18-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Vivid-Isshuukan-Friends-08-SmallAnime.com-2F79639A.mkv_snapshot_23.36_2014.05.28_07.33.18-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Vivid-Isshuukan-Friends-08-SmallAnime.com-2F79639A.mkv_snapshot_23.36_2014.05.28_07.33.18-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Vivid-Isshuukan-Friends-08-SmallAnime.com-2F79639A.mkv_snapshot_23.36_2014.05.28_07.33.18-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Vivid-Isshuukan-Friends-08-SmallAnime.com-2F79639A.mkv_snapshot_23.36_2014.05.28_07.33.18-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Vivid-Isshuukan-Friends-08-SmallAnime.com-2F79639A.mkv_snapshot_23.36_2014.05.28_07.33.18.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1908" class="wp-caption-text">Teman-Teman Kaori (Red Utopia)</p></div></p>
<div class="mceTemp"></div>
<p>Semakin bertambahnya hari, kemampuan mengingat Kaori semakin membaik. Hingga teman SD-nya yang bernama Hajime pindah ke kelas Yuki dan Kaori. Di hari pertamanya, ia menyebut Kaori sebagai pengkhianat, membuat Kaori jatuh pingsan dan kehilangan lagi ingatannya.</p>
<p>Bayangkan, selama 8 episode berjuang secara bertahap agar dirinya bisa menjadi teman dan diingat oleh Kaori, langsung sirna pada satu episode. Buku harian yang dibaca Kaori setelahnya tidak banyak membantu, dan itu membuat Yuki merasa sedih.</p>
<p>Ketika terbongkar penyebab ketidakmampuan Kaori mengingat tentang teman, Yuki memutuskan untuk menjauh dari Kaori. Ia tidak ingin membuat Kaori mengalami kejadian-kejadian serupa yang membuatnya hilang ingatan.</p>
<p><div id="attachment_1911" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1911" class="size-large wp-image-1911" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/vlcsnap-2014-06-02-01h47m32s233-1024x576.png" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/vlcsnap-2014-06-02-01h47m32s233-1024x576.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/vlcsnap-2014-06-02-01h47m32s233-300x169.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/vlcsnap-2014-06-02-01h47m32s233-768x432.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/vlcsnap-2014-06-02-01h47m32s233-356x200.png 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/vlcsnap-2014-06-02-01h47m32s233.png 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1911" class="wp-caption-text">Hajime Kujo (JUS @nimanga &#8211; WordPress.com)</p></div></p>
<p>Episode 9 sampai 11 merupakan episode-episode yang membuat sesak dada karena melihat Yuki yang terpaksa menjauh demi kebaikan Kaori. Kaori yang sebenarnya ingin tetap berteman baik dengan Yuki pun seperti tidak tahu harus berbuat apa.</p>
<p>Untunglah, di episode terakhir, semua berakhir dengan bahagia. Ketika mereka berdoa di depan kuil setelah tak sengaja bertemu, Kaori mengucapkan harapannya sambil menangis untuk tetap bisa berteman dengan Yuki seperti biasanya.</p>
<p>Harapan tersebut dijawab dengan teriakan dari Yuki, mengucapkan bahwa ia menginginkan hal yang sama. Tawa bahagia keluar dari mereka berdua, dan hubungan pertemanan mereka pun kembali normal. Tamat!</p>
<p><em>Ending</em>-nya memiliki perbedaan dengan versi manganya (iya, anime ini sebenarnya diangkat dari sebuah manga). Di versi manga, semua ingatan Kaori kembali setelah ia mengetahui penyebab kecelakaannya. Di versi anime maupun <em>live action</em>, hal ini tidak terjadi.</p>
<p>Sebagai tambahan, <em>background music </em>dari anime ini sangat enak untuk didengarkan.</p>
<h3>Terus Membuat Kenangan Baru</h3>
<p>Penulis sangat menyukai kalimat yang keluar dari Yuki ketika episode terakhir akan habis:</p>
<blockquote><p><i>Kenangan memang penting, tetapi ada hal yang jauh lebih penting. Hal itu adalah terus membuat kenangan baru.</i></p></blockquote>
<p>Yuki mengajarkan kita untuk tidak pernah menyerah dalam membuat kenangan baru. Meskipun ingatan Kaori hanya bertahan satu minggu, ia tidak pernah mundur dan menyerah.</p>
<p>Mungkin kita pernah terjebak dalam kenangan, berharap kenangan indah tersebut akan terulang kembali. Padahal, yang lebih penting adalah membuat lebih banyak kenangan baru meskipun tidak seindah kenangan yang telah terjadi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 30 Desember 2018, terinspirasi setelah menonton anime <strong>Isshuukan Friends</strong></p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://arekploso24.blogspot.com/2014/11/isshuukan-friend-quotes.html" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiugbe2ysXfAhWBK48KHcnABnIQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Arek Ploso</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/membuat-kenangan-ala-isshuukan-friends/">Membuat Kenangan Ala Isshuukan Friends</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/membuat-kenangan-ala-isshuukan-friends/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
