<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tokoh Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/tokoh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/tokoh/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 29 Jun 2024 17:37:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>tokoh Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/tokoh/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-hoegeng-polisi-dan-menteri-teladan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-hoegeng-polisi-dan-menteri-teladan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Jun 2024 04:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Hoegeng]]></category>
		<category><![CDATA[polisi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7560</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mungkin sudah banyak yang mengetahui kalau polisi yang tak bisa disuap di Indonesia, menurut Gus Dur, hanya ada tiga: patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng. Karena muncul dari mulut mantan presiden Republik Indonesia, tentu nama Hoegeng berhasil menarik perhatian banyak orang, termasuk Penulis. Oleh karena itu, Penulis pun akhirnya ingin mengetahui lebih dalam tentang sosok [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-hoegeng-polisi-dan-menteri-teladan/">[REVIEW] Setelah Membaca Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Mungkin sudah banyak yang mengetahui kalau polisi yang tak bisa disuap di Indonesia, menurut Gus Dur, hanya ada tiga: patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng. Karena muncul dari mulut mantan presiden Republik Indonesia, tentu nama Hoegeng berhasil menarik perhatian banyak orang, termasuk Penulis.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis pun akhirnya ingin mengetahui lebih dalam tentang sosok Hoegeng dan membeli buku <em>Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan </em>yang ditulis oleh Suhartono. Buku ini disusun berdasarkan dari kisah yang diceritakan mantan sekretaris Hoegeng, yaitu Soedharto.</p>



<p>Mengingat bukunya yang cukup tipis, Penulis tidak terlalu berharap kalau isinya akan menceritakan kisah hidup Hoegeng secara rinci dan lengkap. Namun, mengingat buku ini diterbitkan oleh Kompas yang terkenal akan kualitasnya, Penulis pun memutuskan untuk membacanya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-768x566.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-1024x755.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-346x255.jpg 346w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019.jpg 1221w " alt="Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/mencari-inspirasi-karakter-melalui-anime/">Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</em></li>



<li>Penulis: Suhartono</li>



<li>Penerbit: Penerbit Buku Kompas</li>



<li>Cetakan: Ketujuh (Edisi Revisi)</li>



<li>Tanggal Terbit: September 2022</li>



<li>Tebal: 182 halaman</li>



<li>ISBN: 9789797097691</li>



<li>Harga: Rp75.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</h2>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Di Indonesia hanya ada tiga polisi yang tak bisa disuap: patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng” — KH Abdurrahman Wahid </em></p>
</blockquote>



<p><em>Generasi muda kini mungkin tak lagi tahu, Hoegeng yang dimaksud Presiden Abdurrahman Wahid dalam kata katanya di atas adalah almarhum Jenderal (Pol.) Hoegeng Iman Santoso, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) di zaman transisi Orde Lama menuju Orde Baru. Sebagai polisi, Hoegeng dikenal jujur, sederhana, dan tak kenal kompromi. Karenanya, seperti polisi tidur, ia tak bisa disuap. </em></p>



<p><em>Namun, bagaimana kiprah Hoegeng ketika ia dipercaya Presiden Soekarno menjadi Menteri/Sekretaris Presidium Kabinet dan Menteri Iuran Negara, serta Kepala Jawatan Imigrasi Indonesia pada periode tahun 1961-1966? </em></p>



<p><em>Buku ini tak hanya menuturkan keteladanan Hoegeng sebagai polisi dan birokrat. Juga ada kisah hubungan Hoegeng dan Soedharto Martopoespito yang berakhir tragis. Cengkeraman kekuasaan Orde Baru memutuskan hubungan akrab di antara keduanya. Setelah Hoegeng bergabung dengan kelompok Petisi 50, sebagai PNS di kantor Menko Polkam, Dharto tak pernah berani lagi berhubungan secara pribadi dengan mantan atasannya itu. </em></p>



<p><em>Ditulis oleh Suhartono, wartawan harian Kompas berdasarkan kisah Soedharto Martopoespito, mantan sekretaris Hoegeng.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</h2>



<p>Berbeda dengan kebanyakan buku biografi pada umumnya yang menjelaskan kisah biografi secara kronologis, buku ini tidak menceritakan kisah hidup Hoegeng seperti itu. Bisa dibilang, format yang digunakan mirip dengan Seri Tokoh Tempo.</p>



<p>Edisi revisi ini menambahkan tiga bab yang diletakkan di depan lima bab sebelumnya. Ketiga bab tersebut berfungsi sebagai pelengkap, karena lima bab asli buku ini benar-benar murni dari hasil wawancara dengan mantan sekretaris Hoegeng.</p>



<p>Tiga bab tambahan tersebut berjudul 1) Antara Hoegeng dan Bung Karno 2) Legenda versus Realitas 3) Diusulkan Pahlawan Nasional. Sedangkan lima bab aslinya sendiri berjudul 4) Mengenal Hoegeng 5) Kesederhanaan Tanpa Pamrih 6) Kenangan Tugas Masa Lalu 7) Pegangan Hidup 8) Hari-Hari Bersama Keluarga 9) Silahturami yang Terputus.</p>



<p>Bisa dilihat dari judul bab-bab tersebut jika format buku ini bukan kronologis seperti kebanyakan buku biografi. Sebagian besar buku ini menyorot sepak terjang Hoegeng ketika memiliki sekretaris Soedarto. Di luar itu, tidak banyak hal yang dibahas.</p>



<p>Tentu ada bagian-bagian yang menjelaskan bagaimana Hoegeng sebagai polisi, menteri, bahkan anggota Petisi 50 bersama Ali Sadikin dan lainnya. Namun, sekali lagi, buku ini lebih banyak menyorot hubungan personal antara Hoegeng dan Soedharto.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</h2>



<p>Setelah membaca buku ini, jujur saja Penulis merasa kecewa karena isinya yang kurang mendalam dan justru terlalu fokus dengan hubungan Hoegeng dan mantan sekretarisnya. Memang hal tersebut disebutkan dalam sinopsis, tapi Penulis tidak menyangka itu justru mendominasi isi buku ini.</p>



<p>Kalau boleh jujur, buku ini lebih cocok berjudul <em>Hoegeng di Mata Mantan Anak Buahnya. </em>Judul tersebut terasa lebih menggambarkan isi buku ini, seperti buku <em>Bung Hatta di Mata Tiga Putrinya</em>. Pembaca jadi mendapatkan gambaran kalau isi bukunya ya memang menurut perspektif orang lain.</p>



<p>Kalau buku ini, dari judulnya tentu pembaca akan berekspektasi kalau isinya akan banyak mengulas kiprah Hoegeng sebagai polisi dan menteri. Memang dibahas, tapi sangat <em>basic </em>seperti informasi yang bisa ditemukan di Wikipedia. </p>



<p>Fakta-fakta menarik yang menunjukkan kesederhanaan Hoegeng pun rasanya sudah banyak dibahas entah di situs web maupun media sosial. Tidak ada yang spesial dengan isi buku ini, kecuali jika pembacanya mungkin belum pernah mendengar nama Hoegeng sama sekali.</p>



<p>Di sisi lain, mungkin hal tersebut membuat buku ini mudah dipahami karena isinya ya memang sederhana. Kalau untuk sekadar sebagai penambah <em>insight </em>tentang sosok Hoegeng yang luar biasa, buku ini bisa melakukannya.</p>



<p>Setidaknya, setelah membaca buku <em>Hoegeng </em>ini, kita bisa mendapatkan gambaran bagaimana sosok polisi jujur yang satu ini seharusnya bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Hoegeng sudah seharusnya menjadi standar bagi para pejabat publik di Indonesia. </p>



<p>Untuk kisah hidup Hoegeng, Penulis jelas akan memberikan skor 10/10 untuk beliau. Akan tetapi, untuk kualitas bukunya sendiri, Penulis akan memberikan skor yang cukup rendah untuk ukuran buku terbitan Kompas.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 4/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 29 Juni 2024, terinspirasi setelah membaca buku <em>Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan </em>karya Suhartono</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-hoegeng-polisi-dan-menteri-teladan/">[REVIEW] Setelah Membaca Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-hoegeng-polisi-dan-menteri-teladan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Ali Sadikin</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ali-sadikin/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ali-sadikin/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Jun 2024 15:39:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Sadikin]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7493</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika disuruh menyebutkan satu saja gubernur Jawa Timur yang melegenda, Penulis tidak akan bisa menyebutkan satu nama pun. Namun, kalau pertanyaannya diganti gubernur Jakarta, Penulis akan langsung menjawab Ali Sadikin. Penulis tidak benar-benar ingat dari mana nama Ali Sadikin muncul di kehidupan Penulis. Yang Penulis tahu, beliau adalah sosok gubernur yang sangat terkenal dan banyak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ali-sadikin/">[REVIEW] Setelah Membaca Ali Sadikin</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Jika disuruh menyebutkan satu saja gubernur Jawa Timur yang melegenda, Penulis tidak akan bisa menyebutkan satu nama pun. Namun, kalau pertanyaannya diganti gubernur Jakarta, Penulis akan langsung menjawab <strong>Ali Sadikin</strong>.</p>



<p>Penulis tidak benar-benar ingat dari mana nama Ali Sadikin muncul di kehidupan Penulis. Yang Penulis tahu, beliau adalah sosok gubernur yang sangat terkenal dan banyak prestasinya. Seperti apa kebijakan yang ia buat hingga bisa menjadi sosok populis tidak Penulis ketahui.</p>



<p>Nah, kebetulan Tim TEMPO merilis buku biografi singkatnya, yang menyadi edisti terbaru <a href="https://whathefan.com/buku/pelengkap-keping-sejarah-pada-seri-buku-tempo-soeharto/">Seri Buku Tempo</a> setelah sekian lama. Mengingat Penulis mengoleksi serinya, tentu saja Penulis membaca buku ini, sekalian belajar apa saja terobosan yang pernah dilakukan oleh Ali Sadikin.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner.jpg 1280w " alt="Maskulinitas pada Musik Dewa" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/musik/maskulinitas-pada-musik-dewa/">Maskulinitas pada Musik Dewa</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Ali Sadikin</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Ali Sadikin: Gubernur Jakarta yang Melampaui Zaman</em></li>



<li>Penulis: Tim TEMPO</li>



<li>Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia</li>



<li>Cetakan: Pertama</li>



<li>Tanggal Terbit: November 2023 </li>



<li>Tebal: 130 halaman</li>



<li>ISBN: 9786231341167</li>



<li>Harga: Rp75.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Ali Sadikin</h2>



<p><em>Sejarah Jakarta tak bisa dilepaskan dari sosok Ali Sadikin. Ditunjuk langsung sebagai Gubernur DKI Jakarta (menjabat 1966-1977) oleh Presiden Sukarno, Bang Ali-begitu dia biasa disapa-dinilai mampu mengatasi berbagai problem yang melanda ibu kota. Selama 11 tahun menjabat gubernur, Bang Ali tidak hanya meletakkan fondasi perkembangan Jakarta, tetapi juga menunjukkan bagaimana seharusnya kota yang bermartabat sekaligus hijau dibangun.</em></p>



<p><em>Bagi Bang Ali, Jakarta harus menjadi ibu kota yang mencerminkan kebanggaan nasional, sesuai cita-cita Bung Karno. Untuk itu, dia berupaya mewujudkan Jakarta yang manusiawi, berbudaya, nyaman, dan tertib. Dia membangun berbagai fasilitas publik dan memperbaiki kampung kumuh, berupaya mengatasi banjir dengan menyiapkan kawasan hijau yang mengelilingi ibu kota, membangun tempat berkumpul bagi para seniman, dan ikut mendirikan Lembaga Bantuan Hukum Jakarta.</em></p>



<p><em>Namun, kepemimpinan Bang Ali bukan tanpa kontroversi. Dia, misalnya, melegalkan perjudian dan memungut pajaknya untuk mengubah wajah kota yang suram menjadi metropolis. Bang Ali tidak peduli meski dicaci maki dan dijuluki-gubernur maksiat-. Setelah tidak menjabat gubernur, dia bergabung dengan kelompok Petisi 50 dan tak ragu menunjukkan sikap politik yang berseberangan dengan Presiden Soeharto.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ali Sadikin?</h2>



<p>Seperti biasa, Seri Buku Tempo tidak menjabarkan kisah sosok yang diangkat secara kronologis. Hanya beberapa kejadian penting saja yang diulas, atau dalam konteks Ali Sadikin, lebih banyak menyorot kebijakan yang pernah ia buat.</p>



<p>Ada dua bab utama dalam buku ini, yakni &#8220;<strong>Nahkoda Koppig Ibu Kota</strong>&#8221; yang menjabarkan sepak terjang Ali selama menjadi gubernur, dan &#8220;<strong>Oposan Setelah Jabatan</strong>&#8221; yang menceritakan kisah Ali yang <a href="https://whathefan.com/politik-negara/negara-tanpa-oposisi/">menjadi oposisi</a> dari Presiden Soeharto.</p>



<p>Hampir semua daftar kebijakan yang dibuat oleh Ali sebenarnya sudah disebutkan di bagian sinopsis di atas. Isi bukunya mengelaborasi kebijakan-kebijakan tersebut secara lebih detail, baik yang positif maupun yang kontroversial.</p>



<p>Salah satu raihan positif yang pernah Ali selama menjabat sebagai seorang gubernur adalah melakukan revitalisasi kota Jakarta menjadi lebih modern, mirip dengan yang dilakukan oleh <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/napoleon-iii-gak-bisa-jadi-presiden-lagi-ya-tinggal-ubah-aturannya/">Napoleon III ke Paris</a>.</p>



<p>Kebijakan yang paling kontroversial tentu saja bagaimana ia melegalkan perjudian untuk menambah anggaran daerah. Uang pemasukan dari sektor tersebut ia gunakan untuk <a href="https://whathefan.com/politik-negara/banjir-jakarta-salah-siapa/">membangun Jakarta</a> menjadi kota modern.</p>



<p>Untuk bagian kedua, sebenarnya lebih menjelaskan posisi Ali yang memutuskan untuk berseberangan dengan Soeharto. Waktu itu, bahkan ada yang menyebut kalau Ali dan Soeharto seolah menjadi matahari kembar.</p>



<p>Ali juga bergabung dengan kelompok Petisi 50 yang berisi beberapa tokoh, termasuk Hoegeng yang buku biografinya juga baru saja Penulis tamatkan (artikel<em> review-</em>nya akan menyusul minggu depan). </p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Ali Sadikin</h2>



<p>Penulis selalu suka dengan buku-buku Seri Buku Tempo yang menyorot banyak tokoh nasional secara singkat, tapi penuh dengan fakta menarik yang disusun secara cermat dan berkualitas. Bahasanya pun menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.</p>



<p>Buku <em>Ali Sadikin </em>ini pun juga masih mempertahankan hal tersebut. Namun, Penulis merasa kalau edisi yang kali ini agak repetitif hingga terkesan dipanjang-panjangkan agar memenuhi syarat untuk diterbitkan menjadi sebuah buku. </p>



<p>Info yang disampaikan cuma itu-itu saja, seolah baca sinopsisnya saja sudah cukup. Entah mengapa Penulis merasa elaborasi di setiap bagiannya terasa kurang mendalam. Ini sangat berbeda dengan beberapa Seri Buku Tempo lain yang pernah Penulis baca.</p>



<p>Apakah itu karena kisah hidup Ali Sadikin memang kurang memiliki banyak cerita menarik? Rasanya tidak. Keputusan Tempo untuk mengangkat kisah Ali Sadikin sudah cukup menjadi bukti bagaimana ia memang seorang tokoh nasional yang layak dipelajari kisah hidupnya.</p>



<p>Setidaknya, Penulis jadi mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengapa Ali Sadikin dianggap sebagai seorang mantan gubernur Jakarta yang legendaris. Kiprahnya selama menjabat telah menjadi standar untuk gubernur-gubernur selanjutnya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 7/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 22 Juni 2024, terinspirasi setelah membaca buku <em>Ali Sadikin </em>dari Tim Tempo</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ali-sadikin/">[REVIEW] Setelah Membaca Ali Sadikin</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ali-sadikin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Nepotisme Kebablasan ala Napoleon Bonaparte</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/nepotisme-kebablasan-ala-napoleon-bonaparte/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/nepotisme-kebablasan-ala-napoleon-bonaparte/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 31 May 2024 04:59:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kekuasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Napoleon Bonaparte]]></category>
		<category><![CDATA[nepotisme]]></category>
		<category><![CDATA[Prancis]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7172</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, Penulis memutuskan untuk menonton film Napoleon yang dibintangi oleh Joaquin Phoenix. Sayangnya, Penulis kurang menyukai film tersebut karena terlalu menonjolkan sisi drama percintaannya dengan Josephine. Salah satu alasan Penulis lumayan mengagumi sosok Napoleon adalah karena kejeniusannya dalam berperang. Hal tersebut justru kurang ditonjolkan di film ini, sehingga Penulis berpendapat kalau film ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/nepotisme-kebablasan-ala-napoleon-bonaparte/">Nepotisme Kebablasan ala Napoleon Bonaparte</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa waktu lalu, Penulis memutuskan untuk menonton film <em>Napoleon </em>yang dibintangi oleh Joaquin Phoenix. Sayangnya, Penulis kurang menyukai film tersebut karena terlalu menonjolkan sisi drama percintaannya dengan Josephine.</p>



<p>Salah satu alasan Penulis lumayan mengagumi sosok Napoleon adalah karena kejeniusannya dalam berperang. Hal tersebut justru kurang ditonjolkan di film ini, sehingga Penulis berpendapat kalau film ini lebih cocok untuk diberi judul <em>Napoleon &amp; Josephine</em>.</p>



<p>Selain itu, perjalanannya dari seorang <em>nobody </em>menjadi penguasa benua Eropa juga sangat menarik. Namun, dalam perjalanannya menjadi <em>somebody </em>tersebut, ia justru melakukan sesuatu yang kurang terpuji: <strong>nepotisme</strong>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/pexels-photo-697243-300x200.jpeg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/pexels-photo-697243-300x200.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/pexels-photo-697243-768x512.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/pexels-photo-697243-1024x683.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/pexels-photo-697243-356x237.jpeg 356w " alt="Menggadaikan Persahabatan Demi Cinta" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/rasa/menggadaikan-persahabatan-demi-cinta/">Menggadaikan Persahabatan Demi Cinta</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Perjalanan Singkat Napoleon Menjadi Kaisar Prancis</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/05/nepotisme-napoleon-0-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7300" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/05/nepotisme-napoleon-0-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/05/nepotisme-napoleon-0-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/05/nepotisme-napoleon-0-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/05/nepotisme-napoleon-0.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Jenderal Perang yang Jenius (<a href="https://historiamundum.com/napoleonic-era">Historia Mundum</a>)</figcaption></figure>



<p><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-discovery-napoleon/">Napoleon Bonaparte</a> berawal dari pulau kecil bernama Corsica, yang dijual Republik Genoa ke Prancis pada tahun 1768 atau satu tahun sebelum Napoleon lahir. Penjualan tersebut menyebabkan munculkan gerakan kemerdekaan Corsica, walau tak pernah berhasil.</p>



<p>Napoleon pun mulai menapaki karier di militer Prancis. Karena kemampuannya di bidang militer memang mumpuni, ia cepat naik pangkat. Ketika Prancis dalam keadaan kacau setelah <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/revolusi-karena-pajak/">revolusi Prancis</a> pada tahun 1789, bisa dibilang Napoleon berhasil &#8220;berperan&#8221; dengan baik.</p>



<p>Puncaknya tentu saja ketika Napoleon mengangkat dirinya sendiri menjadi kaisar pada tahun 1804, di mana ia meletakkan mahkotanya dengan tangannya sendiri, bukan dimahkotai oleh tokoh gereja seperti kebanyakan kerajaan atau kekaisaran lain.</p>



<p>Setelah itu, ia mengangkat Josephine, istrinya saat itu, untuk menjadi <em>empress </em>atau permaisuri. Tidak cukup menjadi kaisar Prancis, Napoelon juga mengangkat dirinya sebagai raja Italia pada tahun 1805. </p>



<p>Mungkin kisah yang paling kita ketahui tentang Napoleon setelah berhasil menjadi kaisar adalah tentang bagaimana ia bisa menguasai benua Eropa dengan cepatnya. Dalam perjalanannya, ia menjadikan saudara-saudaranya untuk menjadi raja di negara lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Napoleon Bernepotisme</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/05/nepotisme-napoleon-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7301" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/05/nepotisme-napoleon-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/05/nepotisme-napoleon-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/05/nepotisme-napoleon-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/05/nepotisme-napoleon-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Louis Napoleon, Raja Belanda (<a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Louis_Bonaparte">Wikipedia</a>)</figcaption></figure>



<p>Dengan status kaisar yang berhasil menakhlukkan banyak negara lain, Napoleon jelas punya kesempatan untuk menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingannya sendiri. Hal tersebut jelas ia manfaatkan dengan baik: ia jadikan saudara-saudaranya menjadi raja juga.</p>



<p><strong>Louis </strong>ia jadikan raja di Belanda (1806–1810), <strong>Joseph </strong>menjadi raja di Naples atau Napoli (1806–1808), <strong>Jérôme </strong>menjadi raja Westphalia (1807–1813, sekarang wilayah Jerman), hingga <strong>Joseph </strong>menjadi raja Spanyol (1808–1813).</p>



<p>Namun, bisa dilihat kalau waktu kekuasaan saudara-saudara Napoleon tersebut tidak berlangsung lama. Salah satu penyebabnya tentu saja karena penduduk asli negara tersebut tidak berkenan untuk dipimpin oleh orang asing.</p>



<p>Contoh yang paling terkenal adalah pemberontakan yang dilakukan oleh rakyat Spanyol. Secara memalukan, pasukan Napoleon berhasil dikalahkan oleh pasukan gerilya. Kabar ini tersebar ke seluruh Eropa, memantik semangat negara lain untuk memukul balik Prancis.</p>



<p>Selain itu, demi melanggengkan kekuasaannya, tentu ia harus memiliki keturunan, sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh Josephine. Oleh karena itu, Napoleon memutuskan untuk bercerai dengannya dan menikahi Marie Louise, putri kerajaan Austria.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/nepotisme-napoleon-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7302" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/nepotisme-napoleon-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/nepotisme-napoleon-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/nepotisme-napoleon-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/nepotisme-napoleon-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Napoleon II (<a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Louis_Bonaparte">Wikipedia</a>)</figcaption></figure>



<p>Melalui pernikahan tersebut, Napoleon dikarunia seorang anak yang dikenal dengan nama <strong>Napoleon II</strong>. Saat Napoleon lengser dari kursi kekaisarannya pada tahun 1814 dan dibuang ke pulau Elba, Napoleon II yang baru berusia tiga tahun ditampuk menjadi pengganti.</p>



<p>Namun, Napoleon II hanya beberapa minggu berkuasa, sebelum akhirnya digantikan oleh Louis XVIII. Selain itu, Napoleon II juga berumur pendek. Ia meninggal ketika berusia 21 tahun karena penyakit <em>tuberculosis</em>.</p>



<p>Kembali ke Napoleon, ia sempat kembali menjadi kaisar pada tahun 1815 untuk jangka waktu yang pendek. Namun, <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/kekalahan-terburuk-napoleon-bonaparte/">setelah ia mengalami kekalahan terakhirnya</a>, ia dibuang jauh-jauh ke pulau St. Helena.</p>



<p>Lantas, apakah nepotisme Napoleon berhenti ketika ia turun takhta sebagai kaisar? Jika melihat tahun berakhirnya kekuasaan saudara-saudaranya, bisa dikatakan begitu. Tidak ada Napoleon, maka tidak ada yang menjadi &#8220;pelindung&#8221; bagi saudara-saudaranya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/05/nepotisme-napoleon-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7299" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/05/nepotisme-napoleon-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/05/nepotisme-napoleon-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/05/nepotisme-napoleon-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/05/nepotisme-napoleon-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Napoleon III (<a href="https://www.britannica.com/biography/Napoleon-III-emperor-of-France">Britannica</a>)</figcaption></figure>



<p>Bertahun-tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1842, <strong>Louis Napoleon Bonaparte </strong>atau <strong>Napoleon III </strong>yang merupakan keponakan Napoleon dan anak dari Louis berhasil menjadi presiden Republik Prancis pertama. </p>



<p>Namun, mungkin karena terinspirasi dari pamannya, Napoleon III mengubah statusnya dari presiden menjadi kaisar pada tahun 1852. Artinya, ia mengubah status republik negaranya kembali menjadi kekaisaran. </p>



<p>Napoleon III berkuasa lebih lama dari pamannya, di mana ia menjadi kaisar hingga tahun 1870 atau sekitar 18 tahun (total 22 tahun jika dihitung sejak ia menjadi presiden) setelah mengalami kekalahan atas Prusia. Ia meninggal pada tahun 1873, </p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Nepotisme bisa dilakukan dengan mudah oleh <a href="https://whathefan.com/buku/biografi-singkat-napoleon-pada-misteri-napoleon/">Napoleon Bonaparte</a> karena statusnya sebagai kaisar di sebuah negara monarki. Mungkin karena takut kekuasaannya bisa hilang, ia pun berusaha melanggengkan kekuasaannya dengan menempatkan saudara-saudaranya sendiri di posisi-posisi penting. </p>



<p>Namun, kita bisa melihat kalau nepotisme yang Napoleon lakukan tidak berakhir dengan baik. Kekaisarannya berakhir dalam waktu kurang dari 10 tahun, kekuasaan saudara-saudaranya bahkan lebih pendek, bahkan berakhir sebelum Napoleon turun takhta.</p>



<p>Kalau di negara demokrasi seperti Indonesia, nepotisme seperti itu seharusnya tidak mungkin dilakukan, bukan? Atau justru sedang terjadi, dengan cara yang lebih halus sehingga orang menjadi tidak sadar kalau nepotisme sedang berlangsung?</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 31 Mei 2024, terinspirasi setelah menonton film <em>Napoleon </em></p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://editions.covecollective.org/content/coronation-napoleon-bonaparte">COVE</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://en.wikipedia.org/wiki/House_of_Bonaparte">House of Bonaparte &#8211; Wikipedia</a></li>



<li><a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Napoleon_II">Napoleon II &#8211; Wikipedia</a></li>



<li><a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Napoleon_III">Napoleon III &#8211; Wikipedia</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/nepotisme-kebablasan-ala-napoleon-bonaparte/">Nepotisme Kebablasan ala Napoleon Bonaparte</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/nepotisme-kebablasan-ala-napoleon-bonaparte/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Yudhistira yang Bijak Bermain Dadu?</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/mengapa-yudhistira-yang-bijak-bermain-dadu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/mengapa-yudhistira-yang-bijak-bermain-dadu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Oct 2023 00:06:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[judi]]></category>
		<category><![CDATA[Mahabharata]]></category>
		<category><![CDATA[Pandawa]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<category><![CDATA[Yudhistira]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6895</guid>

					<description><![CDATA[<p>Melihat semakin maraknya kasus judi online di masyarakat yang sangat memprihatinkan hingga melibatkan banyak streamer game, Penulis jadi teringat oleh salah satu kisah pewayangan yang terkenal. Yudhistira yang merupakan sulung para Pandawa pun pernah terlilit masalah karena masalah judi. Padahal, ia dikenal sebagai sosok raja yang bijaksana. Namun, ternyata seorang yang bijaksana pun harus terkena [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/mengapa-yudhistira-yang-bijak-bermain-dadu/">Mengapa Yudhistira yang Bijak Bermain Dadu?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Melihat semakin maraknya kasus judi <em>online </em>di masyarakat yang sangat memprihatinkan hingga <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/streamer-game-terseret-pusaran-judi-online/">melibatkan banyak <em>streamer game</em></a>, Penulis jadi teringat oleh salah satu kisah pewayangan yang terkenal. </p>



<p><strong>Yudhistira</strong> yang merupakan sulung para Pandawa pun pernah <strong>terlilit masalah karena masalah judi</strong>. Padahal, ia dikenal sebagai sosok raja yang bijaksana. Namun, ternyata seorang yang bijaksana pun harus terkena getah karena bermain judi.</p>



<p>Lantas, mengapa Yudhistira bermain judi dalam bentuk dadu? Apa konsekuensi yang harus diterima olehnya (dan keluarganya) karena kalah dalam perjudian tersebut? Semuanya akan berusaha Penulis ringkas melalui tulisan ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-45-300x179.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-45-300x179.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-45-768x459.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-45-1024x612.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-45-356x213.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/photo_2018-05-12_11-08-45.jpg 1279w " alt="Menemukan Kenangan Lama yang Telah Hilang" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/menemukan-kenangan-lama-yang-telah-hilang/">Menemukan Kenangan Lama yang Telah Hilang</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Latar Belakang Yudhistira</h2>



<p><strong>Yudhistira</strong>, atau kerap disebut Puntadewa dalam pewayangan Jawa, merupakan anak sulung dari pasangan <strong>Pandu</strong> dan <strong>Kunti</strong> dari Dinasti Kuru. Menariknya, ia lahir berkat bantuan <strong>Dewa Yama (Dharma)</strong> karena Pandu terkena kutukan akan meninggal jika berhubungan badan.</p>



<p>Dalam Dinasti Kuru, Pandu diangkat menjadi raja karena kakaknya, <strong>Dretarastra</strong>, mengalami kebutaan sejak lahir. Namun, setelah Pandu terkena kutukan, ia memilih untuk menepi dan membuat kakaknya memimpin kerajaan <strong>Hastinapura</strong> untuk sementara.</p>



<p>Lantas, setelah Pandu meninggal karena melanggar kutukan Resi, Yudhistira bersama keempat saudaranya (<strong>Bima</strong>, <strong>Arjuna</strong>, <strong>Nakula</strong>, <strong>Sadewa</strong>) dan Kunti pun kembali ke kerajaan dan mendapatkan bimbingan dari beberapa tokoh seperti Bisma dan Resi Drona.</p>



<p>Sebagai anak dari Pandu, para Pandawa kerap berselisih dengan sepupu mereka yang merupakan anak-anak Drestarastra, yakni para keseratus Kurawa yang disulungi oleh <strong>Duryodhana</strong>. Bumbu-bumbu perebutan takhta pun telah tercium.</p>



<p>Saat Yudhistira beranjak dewasa, artinya status Drestarastra sebagai raja sementara pun akan segera dikembalikan ke keturunan Pandu. Hal ini tidak diinginkan Duryodhana. Maka berbagai rencana jahat pun mulai dilakukan.</p>



<p>Salah satu kisah yang paling terkenal adalah insiden pembakaran Laksagraha, sebuah istana yang terbuat dari lilin. Yudhistira bersama saudara dan ibunya selamat dari kejadian tersebut, lalu memutuskan untuk pergi dari Hastinapura.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Terbaginya Hastinapura Menjadi Dua</h2>



<p>Setelah pergi dari Hastinapura dan mengasingkan diri, Arjuna berhasil memenangkan sayembara untuk menikahi <strong>Drupadi</strong>. Namun, karena kesalapahaman Kunti, pada akhirnya Drupadi menjadi istri dari kelima Pandawa.</p>



<p>(Catatan: Di versi pewayangan Jawa, Drupadi hanya menikah dengan Yudhistira)</p>



<p>Para Pandawa pun kembali ke Hastinapura setelah menikahi Drupadi, menuntut hak mereka atas kerajaan. Karena pihak Kurawa enggan mengembalikan kerajaan tersebut dan demi menghindari perselisihan, akhirnya Hastinapura pun dibagi menjadi dua.</p>



<p>Yudhistira pun menjadi raja di kerajaan yang diberi nama <strong>Indraprastha</strong> (atau lebih terkenal dengan nama Amarta dalam pewayangan Jawa). Dibangun dari hutan &#8220;angker&#8221; yang ditinggalkan, kerajaan Indraprastha memiliki sebuah istana yang begitu megah.</p>



<p>Ketika mengadakan upacara Rajasuya, Yudhistira mengundang raja-raja dari kerajaan lain, termasuk Duryodhana. Saat memasuki istana Indraprastha, Duryodhana merasa kagum dengan kemegahan istana tersebut.</p>



<p>Ada satu kejadian memalukan di mana Duryodhana mengira lantai sebagai air, dan mengira air sebagai lantai. Hal ini membuat Bima tertawa terbahak-bahak, sekaligus menimbulkan perasaan dendam yang teramat besar pada diri Duryodhana.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Undangan Bermain Dadu</h2>



<p>Kemegahan istana Indraprastha membuat Duryodhana ingin menguasainya. Ia pun berkonsultasi dengan paman sekaligus penasehatnya, <strong>Sengkuni</strong>. Akhirnya mereka pun mengundang Yudhistira untuk bermain dadu (baca: judi) melalui Drestarastra.</p>



<p>Meskipun terkenal sebagai raja yang bijaksana, ada versi yang menyebutkan kalau <strong>Yudhistira sebenarnya menyukai permainan dadu</strong>. Namun, ada versi lain yang menyebutkan bahwa sebenarnya Yudhistira sangat menentang judi karena tidak membawa kebaikan.</p>



<p>Di sisi lain, karena yang mengundang pamannya sendiri, ia merasa <strong>perlu menghargai undangan </strong>tersebut dengan cara menghadirinya. Apalagi, Yudhistira pada dasarnya adalah orang yang selalu berprasangka baik kepada orang lain, bahkan kepada Duryodana. </p>



<p>Oleh karena itu, undangan tersebut ia anggap sebagai ajakan bermain dari keluarga tanpa ada prasangka negatif. Apalagi, pasti ada konsekuensi jika ia sampai menolak undangan bermain dadu dari kerajaan lain, seperti dianggap pengecut atau bahkan hingga memicu perang.</p>



<p>Permainan dadu pun diadakan di Hastinapura. Sama seperti kasus judi <em>online </em>kebanyakan, awalnya Yudhistira diberi kemenangan oleh pihak Duryodana dan Sengkuni. Taruhan yang semula kecil-kecilan, pada akhirnya semakin menjadi tidak masuk akal.</p>



<p>Yudhistira pada satu titik akhirnya<strong> mempertaruhkan seluruh kerajaan Indraprastha</strong>, yang menjadi target sebenarnya permainan judi tersebut diadakan. Tentu saja hal tersebut berakhir dengan kekalahan karena permainan tersebut memang sudah di-<em>setting </em>oleh Sengkuni.</p>



<p>Meskipun telah kehilangan kerajaannya, Yudhistira seolah menjadi gelap mata seperti para pemain judi <em>online </em>yang terus berharap kemenangan di ronde berikutnya. Bayangkan, <strong>ia mempertaruhkan para saudaranya, dirinya sendiri, bahkan istrinya Drupadi</strong>.</p>



<p>Drestarastra yang merasa tidak tega melihat keponakannya begitu terhina akhirnya memerintahkan Duryodana untk mengembalikan semuanya, yang berat hati ia lakukan. Akhirnya judi dilakukan ulang, dengan taruhan yang kalah harus mengasingkan diri.</p>



<p>Seolah tidak belajar dari kesalahan, Yudhistira pun kembali bermain dan tentu saja kalah lagi. Alhasil, ia bersama saudara, istri, dan ibunya pun harus mengasingkan diri selama 12 tahun ditambah 1 tahun menyamar tanpa boleh ketahuan pihak Kurawa.</p>



<p>Kelak, setelah mengasingkan diri dan menyamar tanpa ketahuan, Yudhistira datang ke Duryodana untuk meminta kembali Indraprastha. Namun, Duryodana menolak untuk menyerahkannya. Yudhistira melunak dengan meminta lima desa saja, tapi tetap ditolak.</p>



<p>Hal inilah yang akhirnya memicu Perang Mahabharata yang amat dahsyat di kemudian hari, sebuah perang dengan jumlah korban yang tidak main-main. Sebuah pertempuran antara satu dinasti yang memperebutkan takhta, yang bisa terjadi karena diawali oleh judi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Bayangkan, dari sebuah karya kuno yang ditulis ribuan tahun lalu, sebenarnya kita bisa belajar mengenai betapa destruktifnya permainan dadu bagi para pemainnya. Yudhistira yang bijak pun harus merasakan pahitnya kekalahan bermain judi.</p>



<p>Sengkuni pun masih hadir di dunia perjudian saat ini dalam bentuk bandar-bandar judi yang sudah mengatur permainan agar bisa mengeruk keuntungan sebanyak-banyak dari para pemain yang telah gelap mata dan terus berharap di <em>game </em>selanjutnya akan menang.</p>



<p>Meskipun tidak bisa dijustifikasi, alasan Yudhistira menerima ajakan bemain dadu adalah demi menghormati pamannya, yang ia anggap sebagai ayahnya sendiri. Ia terlalu berprasangka baik, dengan bepikir tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi.</p>



<p>Nah, kalau &#8220;Yudhistira-Yudhistira&#8221; di era modern, apa alasan mereka untuk bermain judi? Kemungkinan besar adalah karena menyimpan harapan bisa meraup uang banyak dengan cara mudah, tanpa menyadari ada &#8220;Sengkuni&#8221; di balik permainan tersebut. </p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 16 Oktober 2023, terinspirasi dari adanya kasus judi <em>online </em>yang semakin meresahkan</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.apartmenttherapy.com/dice-games-37187802">Apartment Therapy</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://youtu.be/6qYf0E425qw?si=8qgoVzh8NiKTilqH">MEMPERTANYAKAN SOSOK YUDHISTIRA &#8211; Tangan Belang</a></li>



<li><a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Yudhishthira">Yudhishthira &#8211; Wikipedia</a></li>



<li><a href="https://www.quora.com/What-is-the-character-of-Yudhistira-in-the-perspective-of-a-dice-game">What is the character of Yudhistira in the perspective of a dice game? &#8211; Quora</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/mengapa-yudhistira-yang-bijak-bermain-dadu/">Mengapa Yudhistira yang Bijak Bermain Dadu?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/mengapa-yudhistira-yang-bijak-bermain-dadu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mario Savio dan Pidatonya akan Bahaya Mesin (AI)</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/mario-savio-dan-pidatonya-akan-bahaya-mesin-ai/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/mario-savio-dan-pidatonya-akan-bahaya-mesin-ai/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Jul 2023 15:00:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[Mario Savio]]></category>
		<category><![CDATA[mesin]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6345</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Ketika pengoperasian mesin menjadi sangat menjijikkan, membuat Anda sangat sakit hati, sehingga Anda tidak dapat mengambil bagian. Anda bahkan tidak dapat berpartisipasi secara pasif, dan Anda harus meletakkan tubuh Anda di atas persneling dan di atas roda, di tuas, di semua peralatan, dan Anda harus menghentikannya!&#8221; Kutipan di atas merupakan kutipan dari Mario Savio, seorang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/mario-savio-dan-pidatonya-akan-bahaya-mesin-ai/">Mario Savio dan Pidatonya akan Bahaya Mesin (AI)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Ketika pengoperasian mesin menjadi sangat menjijikkan, membuat Anda sangat sakit hati, sehingga Anda tidak dapat mengambil bagian. Anda bahkan tidak dapat berpartisipasi secara pasif, dan Anda harus meletakkan tubuh Anda di atas persneling dan di atas roda, di tuas, di semua peralatan, dan Anda harus menghentikannya!&#8221;</p>
</blockquote>



<p>Kutipan di atas merupakan kutipan dari <strong>Mario Savio</strong>, seorang aktivis yang menjadi bagian dari Berkerley Free Speech Moment. Penulis mengetahuinya karena <a href="https://whathefan.com/musik/20-lagu-terbaik-linkin-park-versi-saya/">Linkin Park</a> menggunakan pidato tersebut untuk lagunya yang berjudul &#8220;Wretches and Kings&#8221; di album <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-a-thousand-suns/"><em>A Thousand Suns</em></a>.</p>



<p>Yang Penulis tangkap dari pidato Savio tersebut adalah kekhawatirannya Savio mengenai keberadaan mesin yang semakin mengkhawatirkan dan bisa menggantikan peran manusia. Menariknya, pidato tersebut dilakukan pada tanggal <strong>2 Desember 1964</strong>. </p>



<p>Penulis melihat ini menjadi hal yang sangat menarik, karena bagaimana bisa pidato yang diucapkan 60 tahun lalu masih relevan hingga saat ini, ketika keberadaan <em>Artificial Intelegence</em> (AI) di dunia untuk menggantikan manusia semakin mengerikan dan mengkhawatirkan.</p>





<h2 class="wp-block-heading">AI yang Semakin Merajarela</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Mario-Savio-dan-Pidatonya-akan-Bahaya-Mesin-AI-1-1024x683.png" alt="" class="wp-image-6660" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Mario-Savio-dan-Pidatonya-akan-Bahaya-Mesin-AI-1-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Mario-Savio-dan-Pidatonya-akan-Bahaya-Mesin-AI-1-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Mario-Savio-dan-Pidatonya-akan-Bahaya-Mesin-AI-1-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Mario-Savio-dan-Pidatonya-akan-Bahaya-Mesin-AI-1.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Steve Wozniak (<a href="https://dext.com/uk/resources/accounting-news/3-reasons-why-ai-will-not-replace-your-job-by-steve-wozniak">Dext</a>)</figcaption></figure>



<p>Seperti yang kita ketahui, belakangan ini isu AI semakin ramai. Dimulai dari ChatGPT yang bisa membuat tulisan hingga AI yang bisa membuat desain sendiri hanya dengan memasukkan kata-kata, kekhawatiran publik langsung mencuat.</p>



<p>Bahkan, beberapa tokoh terkenal di bidang teknologi pun ikut menyuarakan ketakutannya, seperti <strong>Elon Musk</strong> (CEO Tesla dan SpaceX),<strong> Steve Wozniak</strong> (salah satu <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/benarkah-apple-telah-berhenti-berinovasi/">pendiri Apple</a>), hingga <strong>Evan Sharp </strong>(pendiri Pinterest).</p>



<p>Bagaimana tidak, pekerjaan-pekerjaan yang dulu dianggap &#8220;aman&#8221; dan tidak akan digantikan mesin ternyata bisa digantikan. Contoh yang paling nyata dan dekat dengan kehidupan Penulis adalah pekerjaan sebagai penulis dan desainer.</p>



<p>Hampir semua pekerjaan-pekerjaan &#8220;di balik meja&#8221; bisa digantikan, bahkan pembawa berita acara dan bintang iklan pun bisa dilakukan oleh AI. Rasanya, saat ini hanya pekerjaan fisik seperti pemain sepak bola, supir, hingga kuli bangunan yang benar-benar aman.</p>



<p>Di tengah susahnya bagi sebagian orang untuk menemukan pekerjaan, tentu kabar ini semakin membuat ketar-ketir. Jika dulu hanya bersaing dengan sesama manusia saja sudah sulit,  sekarang harus sudah ditambah dengan bersaing melawan AI.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Perang Lawan AI, Kita Harus Apa?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Mario-Savio-dan-Pidatonya-akan-Bahaya-Mesin-AI-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6659" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Mario-Savio-dan-Pidatonya-akan-Bahaya-Mesin-AI-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Mario-Savio-dan-Pidatonya-akan-Bahaya-Mesin-AI-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Mario-Savio-dan-Pidatonya-akan-Bahaya-Mesin-AI-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Mario-Savio-dan-Pidatonya-akan-Bahaya-Mesin-AI-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">ChatGPT (<a href="https://www.zdnet.com/article/what-is-chatgpt-and-why-does-it-matter-heres-everything-you-need-to-know/">ZDNET</a>)</figcaption></figure>



<p>Kalau dari sisi perusahaan atau korporat, tentu penggunaan AI sangat membantu dalam menghemat anggaran. Apalagi, AI terbukti mampu bekerja lebih cepat, walau terkadang hasilnya masih belum benar-benar sempurna.</p>



<p>Hal ini semakin diperparah karena AI disokong oleh perusahaan-perusahaan teknologi raksasa seperti Microsoft dan Google. Semua seolah berlomba untuk menghadirkan AI terbaik, dengan dalih ingin membantu pekerjaan manusia menjadi lebih ringan.</p>



<p>Lantas, di tengah &#8220;perang&#8221; antara manusia dan AI ini, apa yang harus kita lakukan? Menurut Penulis, satu langkah konkrit yang bisa diambil adalah <strong>berusaha untuk memiliki <em>skill </em>yang tidak akan bisa digantikan oleh AI</strong>.</p>



<p>Tentu tidak mudah untuk menemukannya. Seperti yang sudah Penulis singgung di atas, banyak pekerjaan yang awalnya dianggap aman ternyata bisa-bisa saja digantikan Ai. Beberapa tahun ke depan, Penulis tidak bisa membayangkan akan secanggaih apa AI nanti.</p>



<p>Kondisi ini tentu membuat kita teringat akan film-film bertema <em>sci-fi</em> di mana manusia tak berdaya berkat ciptaannya sendiri. Keberadaan AI yang semakin canggih tentu membuat masa-masa distopia seperti itu sangat mungkin untuk terjadi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Pekerjaan Penulis Juga Terancam?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Mario-Savio-dan-Pidatonya-akan-Bahaya-Mesin-AI-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6661" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Mario-Savio-dan-Pidatonya-akan-Bahaya-Mesin-AI-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Mario-Savio-dan-Pidatonya-akan-Bahaya-Mesin-AI-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Mario-Savio-dan-Pidatonya-akan-Bahaya-Mesin-AI-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Mario-Savio-dan-Pidatonya-akan-Bahaya-Mesin-AI-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sampai Saat Ini, Masih Aman (<a href="https://www.canbuyornot.com/roundup/5-mechanical-keyboards-for-better-typing/">Can Buy or Not</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis telah berkarir di bidang media selama kurang lebih 8 tahun, dimulai dari seorang penulis hingga sekarang sebagai editor. Dengan kehadiran AI terutama ChatGPT, apakah pekerjaan di bidang ini akan terancam?</p>



<p>Seperti yang kita ketahui, ChatGPT (dan AI lainnya) belum benar-benar sempurna. Meskipun mampu merangkai kalimat dengan sangat baik, Penulis masih merasakan kalau tulisan tersebut dibuat oleh mesin, bukan tangan manusia.</p>



<p>Tidak percaya? Beberapa waktu lalu, salah satu kontributor di tempat kerja Penulis menyetorkan artikel yang terasa &#8220;terlalu sempurna&#8221;. Apalagi, dia mampu membuatnya dalam waktu yang begitu cepat. Hal ini ganjil, mengingat yang bersangkutan kurang berpengalaman.</p>



<p>Benar saja, kecurigaan Penulis terbukti benar. Di salah satu artikel yang ia buat, ada informasi yang benar-benar kacau dan ia tidak menyadarinya. Setelah Penulis desak, ternyata terbukti kalau ia menggunakan ChatGPT untuk menyelesaikan artikel.</p>



<p>Belajar dari kasus ini, Penulis menyimpulkan kalau AI belum bisa menggantikan peran penulis betulan, setidaknya untuk saat ini. Manusia jelas masih lebih hebat dalam menyusun kalimat yang menarik. Terasa kok, mana tulisan buatan manusia mana buatan mesin.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Siapa yang menyangka kekhawatiran Mario Savio berpuluh-puluh tahun yang lalu masih relevan hingga hari ini, bahkan dalam skala yang lebih mengerikan. Jika dulu mesin yang menggantikan manusia bisa terlihat secara fisik, maka AI seolah tak terlihat.</p>



<p>Mau berharap pengembangan AI dihentikan juga susah, karena para korporat raksasa justru berlomba menciptakan yang terbaik. Tampaknya percuma saja kita mengajukan protes, pengembangan AI tidak menunjukkan tanda-tanda akan melambat.</p>



<p>Namun, daripada memusingkan kemunculan AI, lebih kita fokus dengan apa yang bisa dilakukan. Anggap saja kemunculan AI mendorong dan memaksa kita keluar dari zona nyaman. Kehadiran AI menjadi pengingat, kita harus selalu mengembangkan diri.</p>



<hr class="wp-block-separator has-css-opacity"/>



<p>Lawang, 2 Juli 2023, terinspirasi setelah ada banyak sekali AI yang semakin mengkhawatirkan</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.thenation.com/article/archive/what-might-mario-savio-have-said-about-the-milo-protest-at-berkeley/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">The Nation</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.michigandaily.com/opinion/the-future-of-ai-might-be-scary-but-lets-focus-on-why-its-scary-today/">The Michigan Daily</a></li>



<li></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/mario-savio-dan-pidatonya-akan-bahaya-mesin-ai/">Mario Savio dan Pidatonya akan Bahaya Mesin (AI)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/mario-savio-dan-pidatonya-akan-bahaya-mesin-ai/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jerome dan Maudy Bicara tentang Pendidikan</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Dec 2021 12:58:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jerome Polin]]></category>
		<category><![CDATA[Maudy Ayunda]]></category>
		<category><![CDATA[menyontek]]></category>
		<category><![CDATA[Nihonggo Mantappu]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Youtube]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5477</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ada satu hal yang menarik ketika Penulis menonton video kolaborasi antara Jerome Polin dan Maudy Ayunda. Dalam sesi QnA, ada dua pertanyaan dari netizen mengenai apa yang kira-kira harus dikoreksi dari pendidikan di Indonesia dan kalian pernah nyontek nggak. Siapa sangka, jawaban mereka menjadi begitu panjang dan pembicaraan mereka menjadi diskusi yang begitu menarik untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/">Jerome dan Maudy Bicara tentang Pendidikan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ada satu hal yang menarik ketika Penulis menonton video kolaborasi antara <a href="https://whathefan.com/buku/kisah-jerome-polin-pada-buku-latihan-soal-mantappu-jiwa/">Jerome Polin</a> dan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dilema-berkelas-ala-maudy-ayunda/">Maudy Ayunda</a>. Dalam sesi QnA, ada dua pertanyaan dari netizen mengenai <strong>apa yang kira-kira harus dikoreksi dari pendidikan di Indonesia</strong> dan <strong>kalian pernah nyontek nggak</strong>.</p>



<p>Siapa sangka, jawaban mereka menjadi begitu panjang dan pembicaraan mereka menjadi diskusi yang begitu menarik untuk disimak. Melihat dua orang pintar dan berprestasi (<a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">terlepas bantuan <em>privilege </em>yang mereka miliki</a>) berdiskusi sangat menginspirasi dan memotivasi.</p>



<p>Begitu menariknya video tersebut membuat Penulis menuliskan artikel tentang jawaban dari dua pertanyaan tersebut. Untuk Pembaca yang belum menonton video lengkapnya, bisa nonton di bawah ini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="PACAR HARUS PINTER!? FIRST IMPRESSION? - Q&amp;A SPESIAL JEROME &amp; MAUDY AYUNDA" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/4vIZVHzOCYE?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>





<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Kira-Kira Harus Dikoreksi dari Pendidikan di Indonesia?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5480" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Ada beberapa poin yang menjadi <em>concern </em>mereka, seperti <strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/membangun-kebiasaan-baik-itu-memang-sangat-sulit/">membentuk kebiasaan baik</a></strong>. Jerome memberikan contoh kalau siswa di Jepang begitu disiplin tentang masalah sampah. Kita mengetahui teori &#8220;buang sampah pada tempatnya&#8221;, tapi pada praktiknya masih kurang.</p>



<p>Maudy menambahkan kalau hal-hal baik seperti itu akan lebih berhasil jika ada <em>collective action</em>, di mana jika yang benar hanya kita sendiri sedangkan orang lain tidak, maka akan susah untuk dilakukan. Namun, tidak ada salahnya untuk berani memulai dari diri kita sendiri.</p>



<p>Setelah itu, Maudy menyayangkan bahwa kita kurang memiliki <strong>budaya cinta belajar</strong>. Kebanyakan siswa di negara maju, mereka memiliki &#8220;rasa lapar&#8221; untuk mendapatkan pengetahuan. </p>



<p>Mencari tahu informasi dan bertanya seolah sudah menjadi budaya mereka yang tentunya akan bagus jika dimiliki juga oleh kita. Menumbuhkan rasa suka belajar jelas tidak mudah karena harus dibentuk sejak dini dan didukung oleh lingkungan yang mendukung.</p>



<p><strong>Dari tidak tahu menjadi tahu itu menimbulkan kepuasan</strong>, kata Jerome yang diamini oleh Maudy. Penulis menyetujui pendapat ini karena telah merasakan kepuasaan itu sendiri dan menimbulkan &#8220;ketagihan&#8221; secara positif.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kalian Pernah Nyontek Nggak?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5481" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Pertanyaan ini tentu menarik, mengingat Jerome dan Maudy dikenal sebagai orang yang pintar. Apakah orang pintar pernah menyontek? Ternyata jawaban mereka sama,<strong> kalau menyontek tidak pernah, tapi memberi contekan atau jawaban pernah</strong>.</p>



<p>Hal ini jelas berbeda dengan di Jepang. Jerome bercerita kalau di sana tidak ada siswa yang akan sekadar memanggil temannya ketika ujian berlangsung. Memang tidak bisa digeneralisir semua murid Jepang, hanya saja rasanya yang seperti itu menjadi mayoritas di sana.</p>



<p>Kalau di sini, <strong>menolak memberikan jawaban hampir pasti akan menjadi korban <em>bully</em></strong><em> </em>atau dipanggil pelit, pahit, dan sebagainya. Padahal, meminta jawaban ketika ujian saja sudah salah, tapi yang berpegang teguh dengan prinsipnya justru dimusuhin.</p>



<p>Sebenarnya integritas yang dimiliki murid Jepang juga <strong>didukung dengan guru dan orang tua yang disiplin</strong>. Kalau ada yang ketahuan menyontek, murid tersebut akan mendapatkan hukuman.</p>



<p>Nah, poin menarik disampaikan oleh Maudy. Ia menyebutkan kalau<strong> ilmu dan nilai itu adalah kepemilikan kita</strong>. Ujian adalah salah satu cara untuk mendapatkan evaluasi yang tepat mengenai pemahaman kita mengenai ilmu tersebut. </p>



<p>Jika kita dapat nilai bagus dengan menyontek, <em>what&#8217;s the point</em>? Di sekolah mungkin kita belum merasakan dampaknya. Akan tetapi, di kehidupan nyata nanti ilmu yang kita miliki barulah terasa manfaatnya.</p>



<p>(Mungkin akan ada yang menyanggah selama punya &#8220;bantuan orang dalam&#8221; atau &#8220;<em>privilege </em>dari orang tua&#8221; tidak akan ada masalah. Akan tetapi, mau sampai kapan kita akan terus mendapatkan bantuan dari orang lain dan tidak bisa mengandalkan diri kita sendiri?)</p>



<p><strong>Lebih mementingkan nilai dibandingkan esensi ilmunya</strong> memang menjadi masalah utama di negara kita. Banyaknya persyaratan yang membutuhkan nilai ditambah tuntutan untuk mendapatkan nilai bagus dari lingkungan menjadi pemicu utama.</p>



<p>Menurut Maudy, salah satu solusi dari permasalahan ini adalah <strong>mengubah kurikulum</strong>, terutama dalam penilaian. Jangan hanya memberikan ujian dalam bentuk opsional yang mudah dicontek, tapi berikan juga ujian berupa presentasi atau esai yang tidak bisa dicontek.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Setelah menonton video tersebut, Penulis teringat satu hal yang sering dirisaukan tentang sistem pendidikan kita: <strong>Budaya menyontek yang masih dianggap wajar</strong>. </p>



<p>Memang, Penulis tidak bisa dibilang benar-benar bersih dari budaya ini, tapi menyadari kalau ini adalah budaya yang sangat buruk dan sangat berbahaya bagi masa depan bangsa ini. Selain itu, sistem yang ada sekarang pun sangat &#8220;mendukung&#8221; budaya tersebut untuk tumbuh subur.</p>



<p>Di tulisan berikutnya, Penulis akan membahas mengenai fenomena sosial ini sekaligus opini pribadinya. <em>Stay tuned</em>!</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 12 Desember 2021, terinspirasi setelah menonton video Nihonggo Mantappu di atas</p>



<p>Foto: <a href="https://www.instagram.com/p/CW43RJupMtf/">Instagram</a></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/">Jerome dan Maudy Bicara tentang Pendidikan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kimi Raikkonen: The Iceman yang akan Dirindukan</title>
		<link>https://whathefan.com/olahraga/kimi-raikkonen-the-iceman-yang-akan-dirindukan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/olahraga/kimi-raikkonen-the-iceman-yang-akan-dirindukan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Nov 2021 01:53:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[Alfa Romeo]]></category>
		<category><![CDATA[balapan]]></category>
		<category><![CDATA[F1]]></category>
		<category><![CDATA[Ferrari]]></category>
		<category><![CDATA[Formula 1]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kimi]]></category>
		<category><![CDATA[Kimi Raikkonen]]></category>
		<category><![CDATA[Lotus F1]]></category>
		<category><![CDATA[Mclaren Mercedes]]></category>
		<category><![CDATA[Sauber]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5417</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada tulisan Idola Bernama Michael Schumacher, Penulis sudah menyinggung tentang dirinya yang lebih menyukai Formula 1 ketimbang MotoGP. Apalagi sewaktu kecil, Penulis menyukai ajang balapan ini karena sosok Schumacher. Walaupun begitu, ada beberapa pembalap lain yang Penulis ikuti sepak terjangnya. Salah satunya adalah The Iceman, Kimi Raikkonen. Apalagi, ia adalah sosok yang menggantikan Schumacher ketika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/olahraga/kimi-raikkonen-the-iceman-yang-akan-dirindukan/">Kimi Raikkonen: The Iceman yang akan Dirindukan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada tulisan <em><a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/idola-bernama-michael-schumacher/">Idola Bernama Michael Schumacher</a>, </em>Penulis sudah menyinggung tentang dirinya yang lebih menyukai Formula 1 ketimbang MotoGP. Apalagi sewaktu kecil, Penulis menyukai ajang balapan ini karena sosok Schumacher.</p>



<p>Walaupun begitu, ada beberapa pembalap lain yang Penulis ikuti sepak terjangnya. Salah satunya adalah <em>The Iceman</em>, <strong>Kimi Raikkonen</strong>. Apalagi, ia adalah sosok yang menggantikan Schumacher ketika pensiun di akhir musim 2006.</p>



<p>Beberapa waktu lalu, Raikkonen telah mengumumkan akan pensiun di akhir musim ini. Ia mengumumkan hal tersebut melalui akun Instagram-nya sebagai berikut:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-instagram wp-block-embed-instagram"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/CTSUHnoDG4L/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/CTSUHnoDG4L/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/CTSUHnoDG4L/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank">A post shared by Kimi Räikkönen (@kimimatiasraikkonen)</a></p></div></blockquote><script async src="//platform.instagram.com/en_US/embeds.js"></script>
</div></figure>



<p>Sebuah perjalanan panjang yang cukup untuk menjadi alasan Penulis menuliskan rangkuman kisahnya melalui artikel ini berdasarkan ingatan Penulis (dan tentu bantuan dari sumber-sumber lainnya).</p>





<h2 class="wp-block-heading">Awal Karir Raikkonen di F1</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kimi-raikkonen-the-iceman-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5419" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kimi-raikkonen-the-iceman-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kimi-raikkonen-the-iceman-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kimi-raikkonen-the-iceman-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kimi-raikkonen-the-iceman-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Raikkonen di Sauber (<a href="https://www.motor1.com/news/42531/raikkonen-could-race-a-sauber-in-austin-salo/">Motor1</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis ingat betul, pertama kali mengetahui Raikkonen adalah melalui majalah F1 di mana ia menggunakan pakaian tim Sauber. Kalau tidak salah, waktu itu ia masih menjadi seorang <em>rookie</em>. Ketika Penulis tonton perjalanannya, Penulis mengetahui kalau karirnya lumayan &#8220;lompat&#8221;.</p>



<p>Walaupun begitu, ia berhasil menunjukkan kalau dirinya merupakan pembalap yang menjanjikan. Menjalani debut di tahun 2001, Raikkonen berhasil mengumpulkan 9 poin dan membantu Sauber untuk bertengger di posisi 4 klasemen konstruktor.</p>



<p>Penampilan impresif tersebut membuat pembalap legendaris Mclaren Mercedes, Mika Hakkinen, membujuk petinggi tim untuk merekrut Raikkonen untuk menggantikan dirinya yang akan pensiun dan meninggalkan tim. (Kekuatan orang dalam)</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kimi-raikkonen-the-iceman-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5422" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kimi-raikkonen-the-iceman-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kimi-raikkonen-the-iceman-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kimi-raikkonen-the-iceman-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kimi-raikkonen-the-iceman-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Raikkonen di Mclaren Mercedes (<a href="https://www.crash.net/id/f1/feature/900432/1/bisakah-raikkonen-benarbenar-kembali-ke-mclaren-f1-pada-2019">Crash</a>)</figcaption></figure>



<p>Meskipun terkesan nepotisme karena sama-sama orang Finlandia, akhirnya Mclaren merekrut Raikkonen untuk musim 2002. Sayangnya, mobil Mclaren pada tahun tersebut (dan tahun-tahun berikutnya) kerap memiliki performa buruk yang memengaruhi hasil balapan.</p>



<p>Kemenangan perdana Raikkonen di F1 baru diraih di musim 2003 di sirkuit Sepang, Malaysia. Pada musim tersebut juga ia berhasil menjadi <em>runner-up </em>klasemen pembalap, dua poin di belakang Michael Schumacher.</p>



<p>Masalah reabilitas mobil menghantui Mclaren selama bermusim-musim. Mungkin karena merasa sulit berkembang dan meraih prestasi, Raikkonen memutuskan untuk hengkang ke Ferrari pada musim 2007.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pengganti Schumacher</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kimi-raikkonen-the-iceman-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5421" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kimi-raikkonen-the-iceman-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kimi-raikkonen-the-iceman-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kimi-raikkonen-the-iceman-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kimi-raikkonen-the-iceman-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Juara Dunia Bersama Ferrari (<a href="https://twitter.com/fansofkr/status/1186259362689536000">Twitter</a>)</figcaption></figure>



<p>Setelah dominasinya dipatahkan oleh Fernando Alonso selama 2 musim, secara mengejutkan <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/idola-bernama-michael-schumacher/">Michael Schumacher</a> memutuskan pensiun pada tahun 2006. Hal ini membuat Ferrari harus mencari penggantinya, dan pilihan itu jatuh ke tangan Raikkonen.</p>



<p>Kepindahan ini langsung berbuah manis, Raikkonen berhasil menjadi juara dunia dengan selisih hanya satu poin dari Lewis Hamilton dan Fernando Alonso. Itu merupakan satu-satunya gelar juara dunia yang pernah ia raih dalam karirnya.</p>



<p>Sayangnya, tahun-tahun berikutnya merupakan tahun yang suram untuk Raikkonen. Mobilnya kerap bermasalah dan tampaknya hubungannya dengan tim juga kurang harmonis. Puncaknya, kontraknya harus diputus di tahun 2009 karena Ferrari akan merekrut Fernando Alonso.</p>



<p>Akibatnya, Raikkonen pun memutuskan untuk keluar dari F1 sementara waktu. Ia mencoba ajang balapan lain seperti WRC dan bergabung dengan tim Citroen. Ia juga pernah mencoba ajang NASCAR.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kembali ke F1</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kimi-raikkonen-the-iceman-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5420" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kimi-raikkonen-the-iceman-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kimi-raikkonen-the-iceman-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kimi-raikkonen-the-iceman-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kimi-raikkonen-the-iceman-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Raikkonen di Lotus (<a href="https://www.bosshunting.com.au/motors/kimi-raikkonen-lotus/">Boss Hunting</a>)</figcaption></figure>



<p>Kurang lebih dua tahun nama Raikkonen menghilang dari dunia F1. Baru di tahun 2012 lah ia melakukan <em>comeback </em>bersama tim Lotus F1. Debutnya setelah pensiun tidak mengecewakan, ia berhasil duduk di peringkat tiga di musim tersebut.</p>



<p>Pada tahun 2014, ia kembali ke klub lamanya, Ferrari. Salah satu alasannya meninggalkan Lotus F1 adalah karena masalah penundaan gaji dan bonus. Maklum, klub tersebut menjanjikan sejumlah uang untuk setiap poin yang dihasilkan Raikkonen. Eh, ternyata poin yang berhasil dikumpulkan banyak.</p>



<p>Ditandemkan dengan Fernando Alonso, Kimi memulai musim baru bersama klub baru dengan buruk. Untuk pertama kalinya sejak tahun 2002, ia mengakhiri musim tanpa pernah sekalipun naik ke podium.</p>



<p>Raikkonen bertahan di Ferrari hingga tahun 2018. Mulai musim 2019, ia kembali klub yang membantu melambungkan namanya, Sauber, yang kini telah berganti nama menjadi Alfa Romeo.</p>



<p>Setelah kurang lebih 20 tahun berkarir di F1, Raikkonen akhirnya memutuskan untuk menggantung stir di akhir musim 2021 ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Meskipun hanya sekali berhasil menjadi juara dunia, nama Raikkonen jelas bisa dianggap sebagai legenda di F1 karena sikap dingin dan masa bodo yang dimiliki. Kompilasinya di radio tim menjadi salah satu favorit fan untuk ditonton berulang-ulang.</p>



<p>Tentu menyedihakan bagi penggemar F1 di seluruh dunia harus berpisah dengan pembalap yang begitu ikonik dan mewarnai ajang balap jet darat ini selama 20 tahun. Sepertinya akan susah untuk menemukan penggantinya di masa depan.</p>



<p><em>Kiitos paljon</em>, Kimi, selamat menikmati masa pensiunmu!</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 10 November 2021, terinspirasi setelah menonton beberapa video tentang Raikkonen</p>



<p>Foto: <a href="https://www.formula1.com/en/latest/article.kimi-raikkonen-to-retire-from-formula-1-at-the-end-of-2021.vxi5ocWxW7KuYa89iZmOm.html">F1</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://www.youtube.com/watch?v=8BB2yrNC3rI">Kimi Raikkonen: Pembalap Tiga Zaman Formula 1 &#8211; YouTube</a></li><li><a href="https://www.youtube.com/watch?v=8S2IRfKVeBY">Kimi Raikkonen : Perjalanan panjang The Iceman di dunia balap &#8211; YouTube</a></li><li><a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Kimi_R%C3%A4ikk%C3%B6nen">Kimi Räikkönen &#8211; Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/olahraga/kimi-raikkonen-the-iceman-yang-akan-dirindukan/">Kimi Raikkonen: The Iceman yang akan Dirindukan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/olahraga/kimi-raikkonen-the-iceman-yang-akan-dirindukan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Privilege Ala Kartini</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/privilege-ala-kartini/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/privilege-ala-kartini/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Apr 2021 13:25:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[emansipasi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kartini]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4919</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tanggal 21 April selalu identik dengan satu hal: hari Kartini. Tokoh emansipasi wanita tersebut lahir di Jepara pada tanggal tersebut di tahun 1879. Perannya sudah tidak perlu diragukan lagi, ia menjadi inspirasi bagi banyak wanita di Indonesia. Sudah banyak yang bercerita tentang kehidupan beliau. Penulis tertarik untuk mengulik sisi lain dari seorang Raden Adjeng Kartini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/privilege-ala-kartini/">Privilege Ala Kartini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Tanggal 21 April selalu identik dengan satu hal: <strong>hari Kartini</strong>. Tokoh emansipasi wanita tersebut lahir di Jepara pada tanggal tersebut di tahun 1879. Perannya sudah tidak perlu diragukan lagi, ia menjadi inspirasi bagi banyak wanita di Indonesia.</p>



<p>Sudah banyak yang bercerita tentang kehidupan beliau. Penulis tertarik untuk mengulik sisi lain dari seorang Raden Adjeng Kartini. Menurut Penulis, Kartini bisa menjadi sedemikian ikonik berkat <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/apa-yang-salah-dengan-privilege/"><em>privilege </em>yang ia miliki</a> sejak lahir. Kok bisa?</p>





<h2 class="wp-block-heading"><em>Privilege </em>Sejak Lahir</h2>



<p><em>Privilege </em>telah dimiliki oleh Kartini sejak lahir karena ia terlahir dari kalangan <em>priyayi </em>alias bangsawan Jawa. Ia merupakan putri dari <strong>Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat</strong>, yang setelah putrinya lahir diangkat mejnadi bupati Jepara.</p>



<p>Jejak darah biru bisa ditelusuri hingga <strong>Hamengkubuwana VI</strong>. Keluarga ibunya sendiri bukan keluarga bangsawan, sehingga ayahnya harus menikah lagi dengan wanita bangsawan sebagai salah satu syarat untuk bisa menjadi seorang bupati.</p>



<p>Sebagai anak seorang bangsawan, Kartini memiliki kesempatan untuk bersekolah di <strong>Europeesche Lagere School (ELS)</strong> walau hanya boleh sampai berusia 12 tahun. Setidaknya, ia lebih beruntung dibandingkan kebanyakan wanita pribumi saat itu.</p>



<p>Berhenti dari sekolah tidak membuat Kartini berhenti belajar. Secara otodidak ia belajar sendiri di rumah dan kerap menulis surat untuk teman-temannya yang berasal dari Belanda. Ia juga bisa mendapatkan buku-buku, koran, dan majalah Eropa (<em>another big privilege</em>).</p>



<p>Nah, dari sanalah Kartini mendapatkan pandangan betapa <strong>majunya cara berpikir wanita Eropa</strong> jika dibandingkan dengan wanita pribumi yang  kerapdipandang rendah. Muncullah keinginan Kartini untuk memajukan harkat wanita pribumi.</p>



<p>Wawasannya yang luas membuatnya mulai menulis dan dimuat dalam berbagai macam surat kabar seperti <em><strong>De Hollandsche Lelie</strong></em>. Kartini sering menulis seputar permasalahan emansipasi wanita, walau terkadang ia membahasi isu sosial lainnya.</p>



<p>Bahkan setelah menikah, ia tetap melakukan perjuangannya. Sang suami yang seorang bupati Rembang memberikan kebebasan dan mendukung Kartini yang ingin mendirikan sekolah wanita di dekat kantor bupati.</p>



<p>Sayangnya, Kartini tidak berumur panjang. Hanya beberapa hari setelah melahirkan anaknya yang pertama, ia harus menghembuskan napas terakhir ketika berusia relatif muda, 25 tahun.</p>



<p>Meskipun begitu, peninggalannya meninggalkan jejak yang luar biasa. Ide-ide yang tertuang di suratnya begitu revolusioner dan dianggap melampaui zamannya. </p>



<p>Surat-surat Kartini diterbitkan di Belanda, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul <em><strong>Habis Gelap Terbitlah Terang</strong></em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Memanfaatkan <em>Privilege </em>dengan Benar</h2>



<p>Memang benar jika Kartini bisa berpikiran seperti ini karena memilki <em>privilege</em>. Hanya saja, Kartini bisa <strong>menggunakan <em>privilege </em>yang dimiliki dengan benar dan tepat</strong>. Ia <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">tidak memanfaatkan <em>privilege </em>untuk dirinya semata</a>, melainkan untuk kesejahteraan semua wanita pribumi di Indonesia.</p>



<p>Di era ketika Kartini hidup, ada berapa banyak wanita yang lahir dari keluarga bangsawan? Penulis tidak tahu berapa jumlah pastinya, tapi Penulis yakin jika jumlahnya cukup banyak. Apalagi, para bangsawan kerap memiliki istri lebih dari satu (Kartini sendiri merupakan istri ketiga).</p>



<p>Dari banyaknya wanita yang memiliki <em>privilege </em>tersebut, mengapa hanya Kartini yang terlihat berusaha memperjuangkan untuk mengangkat harkat martabat wanita pribumi? Mungkin ada, tapi tidak sebesar Kartini atau memang tidak terdokumentasi dalam sejarah.</p>



<p>Kartini sendiri bukan satu-satunya wanita hebat di masa perjuangan kemerdekaan. Ada nama seperti Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika, Martha Christina Tiahahu, dan lain-lain. Ada beberapa pihak yang protes, kenapa hanya Kartini saja yang diistimewakan.</p>



<p>Hanya saja, Kartini memang populer atas pemikiran-pemikirannya tentang emansipasi wanita yang kerap diabaikan pada masa itu. <strong>Tidak banyak wanita dapat memanfaatkan <em>privilege </em>yang dimiliki seperti yang dilakukan oleh Kartini.</strong></p>



<p></p>



<p></p>



<p>Lawang, 21 April 2021, terinspirasi karena hari ini hari Kartini</p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://jatim.tribunnews.com/2020/04/21/kumpulan-44-quotes-hari-kartini-dalam-bahasa-inggris-dan-indonesia-untuk-peringati-emansipasi-wanita?page=3">Tribun Jatim &#8211; Tribunnews.com</a></p>



<p>Sumber Artikel: <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Kartini">Kartini &#8211; Wikipedia bahasa Indonesia</a>, <a href="https://voi.id/memori/5008/tidak-banyak-orang-yang-mampu-memanfaatkan-hak-istimewanya-sehebat-kartini">Tidak Banyak Orang yang Mampu Memanfaatkan Hak Istimewanya Sehebat Kartini (voi.id)</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/privilege-ala-kartini/">Privilege Ala Kartini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/privilege-ala-kartini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Discovery: Napoleon</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-discovery-napoleon/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-discovery-napoleon/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 May 2020 23:24:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Big Bad Wolf]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Napoleon Bonaparte]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[Prancis]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3850</guid>

					<description><![CDATA[<p>Biasanya ketika berkunjung ke acara Big Bad Wolf (BBW), Penulis akan berburu buku anak-anak yang bahasa Inggrisnya mudah dipahami. Kalaupun beli buku berat, biasanya hanya dijadikan sebagai koleksi semata. Hal yang berbeda terjadi pada BBW tahun ini karena Penulis memberanikan diri untuk membaca buku-buku berbahasa Inggris yang cukup tebal, bukan sekadar ensiklopedia anak. Salah satu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-discovery-napoleon/">Setelah Membaca Discovery: Napoleon</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Biasanya ketika berkunjung ke acara <a href="https://whathefan.com/pengalaman/saya-dan-big-bad-wolf-bagian-1/"><em>Big Bad Wolf</em> (BBW)</a>, Penulis akan berburu buku anak-anak yang bahasa Inggrisnya mudah dipahami. Kalaupun beli buku berat, biasanya hanya dijadikan sebagai koleksi semata.</p>
<p>Hal yang berbeda terjadi pada BBW tahun ini karena Penulis memberanikan diri untuk membaca buku-buku berbahasa Inggris yang cukup tebal, bukan sekadar ensiklopedia anak.</p>
<p>Salah satu yang Penulis beli adalah <strong><em>Discovery: Napoleon </em></strong>yang memiliki subjudul <em>My ambition was great. </em>Entah mengapa Penulis merasa subjudul ini sedikit <em>creepy </em>dan aneh.</p>
<p>Lantas, bisakah Penulis memahami isi buku ini?</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Pada tulisan <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/kekalahan-terburuk-napoleon-bonaparte/"><em>Kekalahan Terburuk Napoleon Bonaparte</em></a>, Penulis sudah memberitahu kalau dirinya merupakan penggemar kaisar Prancis tersebut. Penulis juga membaca buku <a href="https://whathefan.com/buku/biografi-singkat-napoleon-pada-misteri-napoleon/"><em>Misteri Napoleon</em></a> yang cukup menarik.</p>
<p>Penulis memutuskan untuk membeli buku ini karena sudah mengetahui sebagian besar kisah hidupnya, sehingga setidaknya punya semacam dasar ilmu untuk memahami buku ini.</p>
<p>Apalagi, buku ini dilengkapi dengan berbagai ilustrasi yang sangat menarik dan berhasil membuat Penulis merasa sedang berada di era-era <em>Napoleonic Wars</em>.</p>
<p>Buku ini dibagi menjadi lima bab, yakni:</p>
<ol>
<li><strong><em>Son of the Revolution</em></strong>, bercerita tentang masa kecil Napoleon di pulau kecil bernama Corsica hingga ia bergabung dengan militer Prancis. Bab ini berakhir dengan kekalahan Napoleon di Mesir melawan pasukan Inggris.</li>
<li><strong><em>The Conquest of Power</em></strong>, menceritakan bagaimana pengaruh Napoleon dalam sistem pemerintahan Prancis yang baru saja menyingkirkan sistem monarki. Pada akhirnya, Napoleon malah menjadi kaisar baru Prancis.</li>
<li><strong><em>The Founder of Contemporary France</em></strong>, ada banyak inovasi yang dilakukan oleh Napoleon semenjak menjabat sebagai kaisar.</li>
<li><strong><em>The God of War</em></strong>, tidak hanya membuat berbagai terobosan baru, Napoleon juga ingin memperluas wilayan kekuasaannya dengan melakukan invasi ke berbagai wilayah.</li>
<li><strong><em>The Fall</em></strong>, menceritakan tentang kejatuhan Napoleon yang diawali dengan pemberontakan di Spanyol, kekalahan memalukan dari Rusia, hingga akhirnya harus dibuang ke Pulau St. Helena.</li>
</ol>
<p>Di bagian akhir, ada beberapa salinan dokumen yang berkaitan dengan kehidupan Napoleon. Hanya saja, Penulis memutuskan untuk tidak membacanya karena kurang menarik.</p>
<p>Selain itu, ada juga kronologi kehidupan Napoleon dari awal hingga akhir serta beberapa informasi menarik lainnya seputar Napoleon.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku Discovery: Napoleon</h3>
<p>Sebagai penggemar Napoleon, buku ini benar-benar bisa memuaskan Penulis melalui visual-visual yang ada di dalamnya. Apalagi, buku ini <em>full color </em>sehingga sangat memanjakan mata.</p>
<p>Meskipun tergolong buku sejarah-biografi, bahasanya tidak berat-berat amat. Mengetahui sedikit latar belakangnya mungkin membuat Penulis bisa memahami sebagian besar isi bukunya.</p>
<p>Kejadian tiap kejadiannya dituliskan sesuai dengan urutan kronologi yang rapi. Banyak kutipan-kutipan dari Napoleon (atau mungkin juga dari orang-orang yang ada di sekitarnya) yang akan Pembaca temukan.</p>
<p>Hanya saja, buku ini terlihat sedikit ringkih dan mudah tertekuk. Mungkin karena jenis kertas yang digunakan. Penulis harus ekstra hati-hati ketika menamatkannya.</p>
<p>Di bagian kover belakang, tertera harga aslinya adalah $12.95 atau setara dengan Rp190 ribuan jika menggunakan kurs sekarang. Penulis mendapatkannya seharga tujuh puluh ribu rupiah dan merasa sangat sangat <em>worth it</em>.</p>
<p>Kalau pembaca adalah seorang penggemar Napoleon atau setidaknya penggemar sejarah, buku ini sangat Penulis rekomendasikan untuk menemani waktu-waktu sengang.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.2/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 15 Mei 2020, terinspirasi setelah membaca buku <em>Discovery: Napoleon </em>karya Thiery Lentz</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-discovery-napoleon/">Setelah Membaca Discovery: Napoleon</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-discovery-napoleon/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenang Eyang Habibie</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/mengenang-eyang-habibie/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Sep 2019 00:23:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Habibie]]></category>
		<category><![CDATA[pesawat]]></category>
		<category><![CDATA[presiden]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2673</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis merupakan penggemar berat eyang Habibie, mungkin semenjak duduk di bangku kuliah. Tidak kurang dari lima buku tentang beliau pernah penulis baca. Penulis pernah membaca buku yang pernah beliau tulis, buku biografi baik kehidupan pribadi maupun politiknya, buku yang berisikan nasihat-nasihat beliau, dan lain sebagainya. Belum film-filmnya yang pernah penulis tonton. Oleh karena itu, penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/mengenang-eyang-habibie/">Mengenang Eyang Habibie</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis merupakan penggemar berat eyang Habibie, mungkin semenjak duduk di bangku kuliah. Tidak kurang dari lima buku tentang beliau pernah penulis baca.</p>
<p>Penulis pernah membaca buku yang pernah beliau tulis, buku biografi baik kehidupan pribadi maupun politiknya, buku yang berisikan nasihat-nasihat beliau, dan lain sebagainya. Belum film-filmnya yang pernah penulis tonton.</p>
<p>Oleh karena itu, penulis merasa berduka ketika mendengar kabar kematiannya kemarin setelah sholat Maghrib. Beliau adalah orang yang banyak menginspirasi penulis dalam menjalani kehidupan.</p>
<h3 style="text-align: left;">Habibie di Kala Muda</h3>
<p><div id="attachment_2675" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2675" class="size-large wp-image-2675" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2675" class="wp-caption-text">Habibie Muda (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwiJ-u6ZgMrkAhXEILcAHWu2CvMQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Findonesiainside.id%2Fnews%2Fnasional%2F2019%2F09%2F12%2Fdi-usia-14-tahun-habibie-sudah-kehilangan-sosok-ayah%2F&amp;psig=AOvVaw3_UmK9ayI1Bpb4FeVGP5o9&amp;ust=1568333622452256">Indonesia Inside</a>)</p></div></p>
<p>Eyang Habibie adalah panutan yang tak bisa disangkal oleh siapapun. Sejak muda, ia sudah rajin belajar dan tak malu untuk memiliki mimpi setinggi langit.</p>
<p>Menghabiskan masa kecil di <strong>Parepare</strong>, Sulawesi Selatan, beliau pindah ke Bandung dan besekolah di ITB. Waktu itu, kampus tersebut masih menjadi bagian dari Universitas Indonesia.</p>
<p>Setelah itu, beliau pindah ke Jerman untuk melanjutkan kuliah. Presiden Sukarno waktu itu memang sedang gencar-gencarnya mengirimkan pemuda Indonesia ke luar negeri untuk belajar.</p>
<p>Habibie mengambil jurusan yang tidak biasa, <strong>teknik penerbangan</strong>. Sebagai negara yang baru saja merdeka, tidak banyak orang Indonesia yang mengambil jurusan ini.</p>
<p>Habibie adalah orang yang visioner. Ia mengambil jurusan tersebut karena percaya Indonesia harus bisa memproduksi pesawat sendiri untuk menghubungkan antar pulau di Indonesia.</p>
<p>Di sela-sela kuliahnya di Jerman inilah Habibie bertemu dengan <strong>ibu Ainun</strong>, sewaktu mengambil waktu liburan untuk pulang ke Bandung. Beliau pun melamar dan membawanya ke Jerman.</p>
<p>Setelah lulus, Habibie sempat bekerja di Jerman untuk beberapa waktu sebelum mendapatkan <strong>panggilan pulang dari presiden Soeharto</strong>. Ia diminta untuk turut membantu mengembangkan Indonesia.</p>
<h3>Tahun-Tahun Politik Habibie</h3>
<p><div id="attachment_2678" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2678" class="size-large wp-image-2678" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-2-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-2-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-2-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-2-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-2-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2678" class="wp-caption-text">Habibie dan Soeharto (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwiGz6q3gMrkAhUgmI8KHXQCASAQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.era.id%2Fread%2FwnUnpO-peringatan-20-tahun-reformasi-habibie-dan-transisi-orde-baru&amp;psig=AOvVaw0ISGg3YO6cB21mrcSW7o8x&amp;ust=1568333691481207">Era.id</a>)</p></div></p>
<p>Mulai tahun 1978 hingga 1998, ia menjabat sebagai <strong>Menteri Negara Riset dan Pembangunan</strong> untuk empat periode, waktu yang cukup lama untuk jabatan menteri.</p>
<p>Selain itu, ia juga menjabat sebagai ketua <strong>Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)</strong> yang dibentuk pada awal 1990-an, sebuah organisasi yang dianggap sebagai <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/">kendaraan politik Soeharto setelah memburuknya hubungan dengan militer</a>.</p>
<p>Pada tahun 1998, ia berhenti menjadi seorang menteri karena dipilih menjadi wakil presiden Soeharto yang ke-6. Masa jabatan ini hanya berlangsung singkat karena terjadinya gejolak di mana-mana akibat krisis moneter.</p>
<p>Soeharto, setelah 32 tahun menjabat, pada akhirnya harus mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden. Habibie, selaku wakilnya, naik menjadi presiden meskipun sempat diminta Soeharto untuk ikut mundur bersamanya.</p>
<p>Hal ini menyebabkan hubungan mereka berdua memburuk. Bahkan, Soeharto sampai menolak untuk bertemu dengan Habibie selama bertahun-tahun. Habibie dianggap sebagai pengkhianat. Padahal, selama ini Habibie menjadi salah satu anak emas Soeharto.</p>
<p>Masa jabatan Habibie juga tidak terlalu lama. Pada tahun 1999, DPR menolak laporan pertanggungjawabannya dan beliau pun menolak untuk dicalonkan kembali menjadi calon presiden untuk periode 1999-2004.</p>
<p>Selama menjadi presiden, banyak hal yang terjadi dengan republik ini. Maklum, baru bebas dari pemerintahan yang otoriter selama puluhan tahun.</p>
<p>Habibie dianggap sebagai penyebab <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kecil-timor-leste/">lepasnya Timor Leste dari tanah air</a> karena menyelenggarakan referendum. Padahal, banyak faktor yang memicu hal tersebut, bukan karena Habibie semata.</p>
<p>Beliau berhasil menurunkan nilai tukar rupiah dalam waktu singkat, juga membuka kran kebebasan pers selebar-lebarnya dan membebaskan para tahanan politik.</p>
<p>Tidak cukup di situ, beliau juga menelurkan UU Anti Monopoli, UU Otonomi daerah, revisi UU Partai Politik yang dulu hanya dibatasi tiga partai, dan masih banyak lainnya. Intinya, banyak kebijakan penting yang ia keluarkan di masa jabatannya yang singkat.</p>
<p>Kalau kata Dahlan Iskan, Habibie adalah <em>the right man in the wrong time</em>.</p>
<h3>Habibie dan Pesawat</h3>
<p><div id="attachment_2677" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2677" class="size-large wp-image-2677" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-3-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-3-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-3-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-3-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/mengenang-eyang-habibie-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2677" class="wp-caption-text">N-250 (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwj59Lrz_8nkAhUx7nMBHabODt4QjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.pinterest.com%2Fpin%2F336503403380446461%2F&amp;psig=AOvVaw3t4kQX03QkItKhFTujUQ9e&amp;ust=1568333543153704">Pinterest</a>)</p></div></p>
<p>Semasa menjabat sebagai menteri, Habibie mengembangkan proyek <del>mobil</del> pesawat nasional yang diberi nama <strong>N-250 Gatot Kaca</strong>. Pesawat ini termasuk canggih pada masa itu karena telah menerapkan sistem <em>fly by wire</em>.</p>
<p>Pesawat ini pertama kali mengudara dengan sukses pada tahun 1995, disaksikan oleh jutaan pasang mata. Indonesia, negara yang masih dianggap primitif oleh sebagian negara lain, ternyata mampu membuat pesawatnya sendiri.</p>
<p>Sayang, krisis moneter yang dimulai tahun 1996 hingga 1998 menghempaskan impian tersebut. Negara memprioritaskan diri untuk membenahi dirinya terlebih dahulu.</p>
<p>Indonesia meminta bantuan kepada <em>International Moneter Fund </em>(IMF). Mereka bersedia membantu dengan salah satu syaratnya adalah menghentikan proyek pesawat Habibie. <i>Takut Indonesia berdikari, IMF?</i></p>
<p>Impian tersebut pun harus tertunda. Ketika Habibie menjadi presiden pun ia lebih memprioritaskan diri untuk menyelesaikan permasalahan negara yang urgensinya lebih tinggi.</p>
<p>Akan tetapi, bukan Habibie namanya jika putus asa semudah itu. Ia bersama anaknya membuat perusahaan PT. Regio Aviasi Industri dan sedang mengembangkan pesawat <strong>R-80</strong>. Sayang, beliau wafat sebelum pesawat tersebut digunakan secara massal.</p>
<h3><strong>Penutup</strong></h3>
<p>Meskipun telah meninggalkan kita semua, eyang Habibie akan tetap menjadi inspirasi dan panutan bagi kita semua. Karya-karyanya akan tetap abadi dan dikenang oleh para generasi penerus.</p>
<p>Semoga eyang bisa beristirahat dengan tenang, diampuni segala dosanya, diterima di sisi-Nya, dan jika Tuhan mengizinkan, bertemu kembali dengan ibu Ainun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 12 Agustus 2019, terinspirasi setelah wafatnya eyang Habibie</p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwiMnMrR_8nkAhWbinAKHTuJDKMQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Findonesiainside.id%2Fnews%2F2019%2F09%2F11%2Fprabowo-jokowi-ucapkan-duka-mendalam-atas-kepergian-habibie%2F&amp;psig=AOvVaw2CAv7xSVuwfGPhKIpx2J3K&amp;ust=1568333470345056">Indonesia Inside</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/mengenang-eyang-habibie/">Mengenang Eyang Habibie</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
