Connect with us

Tokoh & Sejarah

Idola Bernama Michael Schumacher

Published

on

Dibandingkan dengan Moto GP, penulis lebih menggemari Formula 1 (F1). Penyebabnya, sewaktu kecil penulis lebih banyak membaca majalah yang berhubungan dengan balap jet darat tersebut.

Majalah F1 yang penulis lupa namanya tersebut menampilkan satu sosok (sebenarnya ada dua, tapi orang yang sama, jadi ya dihitungnya satu) yang menjadi idola penulis hingga sekarang. Ia bernama Michael Schumacher.

Formula 1 Musim 2002

Penulis lupa musim berapa pertama kali mengetahui tentang F1. Antara tahun 2001 atau tahun 2002. Setelah mencari-cari informasi, nampaknya tahun 2002 lah yang benar karena ada beberapa pembalap di tahun 2001 yang tidak penulis ketahui.

Musim 2002 (RaceDepartment)

Pada waktu itu, Schumi, nama panggilan akrab Schumacher, sedang merajai F1 dengan berhasil meraih gelar juara dunianya yang ke lima. Apalagi, rival sekaligus sahabatnya, Mika Hakkinen, telah memutuskan pensiun pada tahun 2001.

Gelar juara Schumi memang sempat menjadi kontroversi karena adanya team order, di mana rekan satu tim Schumi, Rubens Barrichello, disuruh mengalah agar jalan Schumi menuju juara menjadi mulus. Ferrari mendapatkan denda satu juta dolar karena hal ini.

Rival Schumi pada tahun tersebut adalah Juan Pablo Montoya dari tim William-BMW. Tidak seperti dengan Mika, hubungan Schumi dengan Montoya bisa dibilang tidak terlalu baik, seolah-olah mereka saling bermusuhan.

Pada tahun tersebut, muncul pembalap-pembalap muda yang nantinya akan menjadi juara dunia, seperti Kimi Raikonnen, Jenson Button, hingga Fernando Alonso.

Berakhirnya Dominasi dan Comeback 2010

Di antara mereka, Alonso lah yang berhasil menghentikan dominasi Schumi menjadi juara dunia, tepatnya pada musim 2005. Pada musim itu, Schumi hanya berhasil juara di Grand Prix Amerika Serikat. Itu pun karena tim yang menggunakan ban Michelin tidak bisa mengikuti balapan karena beberapa hal.

Schumi dan Mercedes (MY NAME IS HOLLYWOOD KHAN)

Setelah dua musim berturut-turut dikalahkan oleh Alonso, pembalap yang mengawali karirnya di Jordan pada tahun 1991 tersebut memutuskan untuk pensiun. Sang legenda hidup menggantungkan stirnya.

Akan tetapi, pada musim 2010 Schumi melakukan comeback. Bukan kembali bergabung dengan Ferrari, melainkan dengan Mercedes. Hal ini sempat mengejutkan publik. Bahkan petinggi Ferrari mengatakan bahwa Schumi yang ia kenal tak akan mengemudikan mobil tim lain selain Ferrari.

Tidak ada lagi gelar juara yang diraih oleh Schumi bersama tim barunya. Setelah tiga musim berlaga, Schumi kembali memutuskan untuk pensiun untuk kedua kalinya.

Penutup

Apa yang penulis suka dari Michael Schumacher adalah keramahan yang dimiliki olehnya. Ia jauh dari sifat arogan meskipun memegang rekor sebagai juara dunia terbanyak sepanjang masa.

Ditambah lagi kemampuan balapan yang dimilikinya. Ia adalah legenda hidup yang telah memberi inspirasi kepada orang-orang untuk menggapai impiannya dengan bekerja keras.

Pada tahun 2013, Schumi mengalami kecelakaan ketika bermain ski. Hingga saat ini, setelah beberapa hari yang lalu ia berusia 50 tahun, belum ada tanda-tanda Schumi akan sembuh dari cedera kepalanya. Sebagai penggemarnya, tentu penulis mendoakan yang terbaik untuknya.

 

 

Starbucks Kebayoran Lama, 20 Januari 2019, terinspirasi setelah teringat kepada sang idola pada suatu malam

Foto: The Week UK

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Tokoh & Sejarah

Jerome dan Maudy Bicara tentang Pendidikan

Published

on

By

Ada satu hal yang menarik ketika Penulis menonton video kolaborasi antara Jerome Polin dan Maudy Ayunda. Dalam sesi QnA, ada dua pertanyaan dari netizen mengenai apa yang kira-kira harus dikoreksi dari pendidikan di Indonesia dan kalian pernah nyontek nggak.

Siapa sangka, jawaban mereka menjadi begitu panjang dan pembicaraan mereka menjadi diskusi yang begitu menarik untuk disimak. Melihat dua orang pintar dan berprestasi (terlepas bantuan privilege yang mereka miliki) berdiskusi sangat menginspirasi dan memotivasi.

Begitu menariknya video tersebut membuat Penulis menuliskan artikel tentang jawaban dari dua pertanyaan tersebut. Untuk Pembaca yang belum menonton video lengkapnya, bisa nonton di bawah ini:

Apa yang Kira-Kira Harus Dikoreksi dari Pendidikan di Indonesia?

Ada beberapa poin yang menjadi concern mereka, seperti membentuk kebiasaan baik. Jerome memberikan contoh kalau siswa di Jepang begitu disiplin tentang masalah sampah. Kita mengetahui teori “buang sampah pada tempatnya”, tapi pada praktiknya masih kurang.

Maudy menambahkan kalau hal-hal baik seperti itu akan lebih berhasil jika ada collective action, di mana jika yang benar hanya kita sendiri sedangkan orang lain tidak, maka akan susah untuk dilakukan. Namun, tidak ada salahnya untuk berani memulai dari diri kita sendiri.

Setelah itu, Maudy menyayangkan bahwa kita kurang memiliki budaya cinta belajar. Kebanyakan siswa di negara maju, mereka memiliki “rasa lapar” untuk mendapatkan pengetahuan.

Mencari tahu informasi dan bertanya seolah sudah menjadi budaya mereka yang tentunya akan bagus jika dimiliki juga oleh kita. Menumbuhkan rasa suka belajar jelas tidak mudah karena harus dibentuk sejak dini dan didukung oleh lingkungan yang mendukung.

Dari tidak tahu menjadi tahu itu menimbulkan kepuasan, kata Jerome yang diamini oleh Maudy. Penulis menyetujui pendapat ini karena telah merasakan kepuasaan itu sendiri dan menimbulkan “ketagihan” secara positif.

Kalian Pernah Nyontek Nggak?

Pertanyaan ini tentu menarik, mengingat Jerome dan Maudy dikenal sebagai orang yang pintar. Apakah orang pintar pernah menyontek? Ternyata jawaban mereka sama, kalau menyontek tidak pernah, tapi memberi contekan atau jawaban pernah.

Hal ini jelas berbeda dengan di Jepang. Jerome bercerita kalau di sana tidak ada siswa yang akan sekadar memanggil temannya ketika ujian berlangsung. Memang tidak bisa digeneralisir semua murid Jepang, hanya saja rasanya yang seperti itu menjadi mayoritas di sana.

Kalau di sini, menolak memberikan jawaban hampir pasti akan menjadi korban bully atau dipanggil pelit, pahit, dan sebagainya. Padahal, meminta jawaban ketika ujian saja sudah salah, tapi yang berpegang teguh dengan prinsipnya justru dimusuhin.

Sebenarnya integritas yang dimiliki murid Jepang juga didukung dengan guru dan orang tua yang disiplin. Kalau ada yang ketahuan menyontek, murid tersebut akan mendapatkan hukuman.

Nah, poin menarik disampaikan oleh Maudy. Ia menyebutkan kalau ilmu dan nilai itu adalah kepemilikan kita. Ujian adalah salah satu cara untuk mendapatkan evaluasi yang tepat mengenai pemahaman kita mengenai ilmu tersebut.

Jika kita dapat nilai bagus dengan menyontek, what’s the point? Di sekolah mungkin kita belum merasakan dampaknya. Akan tetapi, di kehidupan nyata nanti ilmu yang kita miliki barulah terasa manfaatnya.

(Mungkin akan ada yang menyanggah selama punya “bantuan orang dalam” atau “privilege dari orang tua” tidak akan ada masalah. Akan tetapi, mau sampai kapan kita akan terus mendapatkan bantuan dari orang lain dan tidak bisa mengandalkan diri kita sendiri?)

Lebih mementingkan nilai dibandingkan esensi ilmunya memang menjadi masalah utama di negara kita. Banyaknya persyaratan yang membutuhkan nilai ditambah tuntutan untuk mendapatkan nilai bagus dari lingkungan menjadi pemicu utama.

Menurut Maudy, salah satu solusi dari permasalahan ini adalah mengubah kurikulum, terutama dalam penilaian. Jangan hanya memberikan ujian dalam bentuk opsional yang mudah dicontek, tapi berikan juga ujian berupa presentasi atau esai yang tidak bisa dicontek.

Penutup

Setelah menonton video tersebut, Penulis teringat satu hal yang sering dirisaukan tentang sistem pendidikan kita: Budaya menyontek yang masih dianggap wajar.

Memang, Penulis tidak bisa dibilang benar-benar bersih dari budaya ini, tapi menyadari kalau ini adalah budaya yang sangat buruk dan sangat berbahaya bagi masa depan bangsa ini. Selain itu, sistem yang ada sekarang pun sangat “mendukung” budaya tersebut untuk tumbuh subur.

Di tulisan berikutnya, Penulis akan membahas mengenai fenomena sosial ini sekaligus opini pribadinya. Stay tuned!


Lawang, 12 Desember 2021, terinspirasi setelah menonton video Nihonggo Mantappu di atas

Foto: Instagram

Continue Reading

Tokoh & Sejarah

Kimi Raikkonen: The Iceman yang akan Dirindukan

Published

on

By

Pada tulisan Idola Bernama Michael Schumacher, Penulis sudah menyinggung tentang dirinya yang lebih menyukai Formula 1 ketimbang MotoGP. Apalagi sewaktu kecil, Penulis menyukai ajang balapan ini karena sosok Schumacher.

Walaupun begitu, ada beberapa pembalap lain yang Penulis ikuti sepak terjangnya. Salah satunya adalah The Iceman, Kimi Raikkonen. Apalagi, ia adalah sosok yang menggantikan Schumacher ketika pensiun di akhir musim 2006.

Beberapa waktu lalu, Raikkonen telah mengumumkan akan pensiun di akhir musim ini. Ia mengumumkan hal tersebut melalui akun Instagram-nya sebagai berikut:

Sebuah perjalanan panjang yang cukup untuk menjadi alasan Penulis menuliskan rangkuman kisahnya melalui artikel ini berdasarkan ingatan Penulis (dan tentu bantuan dari sumber-sumber lainnya).

Awal Karir Raikkonen di F1

Raikkonen di Sauber (Motor1)

Penulis ingat betul, pertama kali mengetahui Raikkonen adalah melalui majalah F1 di mana ia menggunakan pakaian tim Sauber. Kalau tidak salah, waktu itu ia masih menjadi seorang rookie. Ketika Penulis tonton perjalanannya, Penulis mengetahui kalau karirnya lumayan “lompat”.

Walaupun begitu, ia berhasil menunjukkan kalau dirinya merupakan pembalap yang menjanjikan. Menjalani debut di tahun 2001, Raikkonen berhasil mengumpulkan 9 poin dan membantu Sauber untuk bertengger di posisi 4 klasemen konstruktor.

Penampilan impresif tersebut membuat pembalap legendaris Mclaren Mercedes, Mika Hakkinen, membujuk petinggi tim untuk merekrut Raikkonen untuk menggantikan dirinya yang akan pensiun dan meninggalkan tim. (Kekuatan orang dalam)

Raikkonen di Mclaren Mercedes (Crash)

Meskipun terkesan nepotisme karena sama-sama orang Finlandia, akhirnya Mclaren merekrut Raikkonen untuk musim 2002. Sayangnya, mobil Mclaren pada tahun tersebut (dan tahun-tahun berikutnya) kerap memiliki performa buruk yang memengaruhi hasil balapan.

Kemenangan perdana Raikkonen di F1 baru diraih di musim 2003 di sirkuit Sepang, Malaysia. Pada musim tersebut juga ia berhasil menjadi runner-up klasemen pembalap, dua poin di belakang Michael Schumacher.

Masalah reabilitas mobil menghantui Mclaren selama bermusim-musim. Mungkin karena merasa sulit berkembang dan meraih prestasi, Raikkonen memutuskan untuk hengkang ke Ferrari pada musim 2007.

Pengganti Schumacher

Juara Dunia Bersama Ferrari (Twitter)

Setelah dominasinya dipatahkan oleh Fernando Alonso selama 2 musim, secara mengejutkan Michael Schumacher memutuskan pensiun pada tahun 2006. Hal ini membuat Ferrari harus mencari penggantinya, dan pilihan itu jatuh ke tangan Raikkonen.

Kepindahan ini langsung berbuah manis, Raikkonen berhasil menjadi juara dunia dengan selisih hanya satu poin dari Lewis Hamilton dan Fernando Alonso. Itu merupakan satu-satunya gelar juara dunia yang pernah ia raih dalam karirnya.

Sayangnya, tahun-tahun berikutnya merupakan tahun yang suram untuk Raikkonen. Mobilnya kerap bermasalah dan tampaknya hubungannya dengan tim juga kurang harmonis. Puncaknya, kontraknya harus diputus di tahun 2009 karena Ferrari akan merekrut Fernando Alonso.

Akibatnya, Raikkonen pun memutuskan untuk keluar dari F1 sementara waktu. Ia mencoba ajang balapan lain seperti WRC dan bergabung dengan tim Citroen. Ia juga pernah mencoba ajang NASCAR.

Kembali ke F1

Raikkonen di Lotus (Boss Hunting)

Kurang lebih dua tahun nama Raikkonen menghilang dari dunia F1. Baru di tahun 2012 lah ia melakukan comeback bersama tim Lotus F1. Debutnya setelah pensiun tidak mengecewakan, ia berhasil duduk di peringkat tiga di musim tersebut.

Pada tahun 2014, ia kembali ke klub lamanya, Ferrari. Salah satu alasannya meninggalkan Lotus F1 adalah karena masalah penundaan gaji dan bonus. Maklum, klub tersebut menjanjikan sejumlah uang untuk setiap poin yang dihasilkan Raikkonen. Eh, ternyata poin yang berhasil dikumpulkan banyak.

Ditandemkan dengan Fernando Alonso, Kimi memulai musim baru bersama klub baru dengan buruk. Untuk pertama kalinya sejak tahun 2002, ia mengakhiri musim tanpa pernah sekalipun naik ke podium.

Raikkonen bertahan di Ferrari hingga tahun 2018. Mulai musim 2019, ia kembali klub yang membantu melambungkan namanya, Sauber, yang kini telah berganti nama menjadi Alfa Romeo.

Setelah kurang lebih 20 tahun berkarir di F1, Raikkonen akhirnya memutuskan untuk menggantung stir di akhir musim 2021 ini.

Penutup

Meskipun hanya sekali berhasil menjadi juara dunia, nama Raikkonen jelas bisa dianggap sebagai legenda di F1 karena sikap dingin dan masa bodo yang dimiliki. Kompilasinya di radio tim menjadi salah satu favorit fan untuk ditonton berulang-ulang.

Tentu menyedihakan bagi penggemar F1 di seluruh dunia harus berpisah dengan pembalap yang begitu ikonik dan mewarnai ajang balap jet darat ini selama 20 tahun. Sepertinya akan susah untuk menemukan penggantinya di masa depan.

Kiitos paljon, Kimi, selamat menikmati masa pensiunmu!


Lawang, 10 November 2021, terinspirasi setelah menonton beberapa video tentang Raikkonen

Foto: F1

Sumber Artikel:

Continue Reading

Tokoh & Sejarah

Benarkah Apple Telah Berhenti Berinovasi?

Published

on

By

Beberapa tahun terakhir ini bukan tahun yang terlalu bagi Apple. Bukan karena penurunan profit (mereka masih jadi salah satu perusahaan terkaya di dunia), melainkan karena hujatan-hujatan yang dilemparkan oleh publik kepada mereka.

Alasan utamanya adalah minimnya inovasi yang mereka hasilkan sekarang jika dibandingkan dengan era mendiang Steve Jobs. Banyak yang mencibir Apple hanya menjual produk lama yang dikemas baru, terutama dari lini iPhone dan MacBook.

Seandainya Jobs masih hidup, apakah ia bisa membawa Apple untuk tetap inovatif seperti dulu? Atau benarkah Apple benar-benar sudah berhenti berinovasi dan akan bernasib sama seperti Nokia dan Blackberry?

Steve Jobs Pernah Selamatkan Apple

Steve Jobs (Neoluxor)

Pasti banyak yang sudah mendengar kalau Steve Jobs pernah ditendang dari perusahaan yang ia dirikan di pertengahan 80-an. Jika pernah, pasti tahu kalau akhirnya Steve Jobs melakukan comeback di tahun 1996 dan menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut tersebut.

Bagaimana cara Steve Jobs menyelamatkan Apple di akhir 90-an dan berhasil menjadikannya sebagai perusahaan paling bernilai di dunia? Hal pertama yang ia lakukan adalah menentukan fokus produk apa saja yang akan dijual.

Pada masa-masa ketika ditinggal Jobs, Apple mengeluarkan hampir segala macam produk, mulai dari printer hingga PDA ber-stylus bernama Newton yang sangat dibenci Jobs. Selain itu, komputer yang diproduksi Apple pun berseri-seri, mulai dari seri 1400 hingga 9600.

Begitu Jobs menjadi iCEO (interim CEO), ia hampir mencoret semua produk tersebut dan menentukan fokus Apple ke dalam 4 bidang yang ia tuliskan ke dalam tabel.

Dua kolom di atas diberi judul “Konsumen” dan “Pro”, lalu Dua baris di samping diberi judul “Desktop” dan “Portabel”. Empat produk itulah yang akan diproduksi Apple untuk menggantikan produk-produk di era sebelum Jobs.

Steve Jobs dan iPod (Extremetech)

Kebangkitan Apple dimulai ketika iPod dirilis pada tahun 2001. Meskipun bukan pemutar musik portable pertama di dunia, iPod berhasil merevolusi cara user mendengarkan musik secara mudah.

Puncak kesuksesan Apple diraih ketika iPhone rilis pada tahun 2007, di mana Jobs mengatakan bahwa, “Today Apple is going to reinvent the phone“. Smartphone yang ditawarkan oleh Apple benar-benar berbeda dari milik kompetitor.

Kehadiran iPhone dianggap benar-benar mengubah industri ponsel, bahkan membuat Nokia yang begitu dominan di awal 2000-an harus jatuh secara tragis. Brand lain pun kerap dianggap membuntuti kesuksesan Apple.

Begitulah cara Steve Jobs menyelamatkan Apple dari kebangkrutan. Sebenarnya masih banyak dobrakan yang dilakukan oleh Jobs, tetapi tiga contoh di atas sudah cukup. Pertanyaannya, dapatkah Jobs menyelamatkan Apple dari cap minim inovasi dari publik?

Benarkah Apple Sudah Berhenti Berinovasi?

Cook dan Apple Watch (Los Angeles Times)

Sebenarnya kurang fair jika Apple dianggap sudah berhenti berinovasi. Mereka masih terus (berusaha) memproduksi barang berkualitas dengan penggunaan yang mudah untuk dipelajari, serta mendukung ekosistem Apple yang sangat solid.

Di era Tim Cook, setidaknya Apple sudah merilis Apple Watch yang mengubah lini jam tangan dan AirPods yang membuat para kompetitor berama-ramai membuat produk serupa. Jika Jobs masih hidup, kemungkinan ia juga akan merilis kedua produk tersebut.

Inovasi di era Jobs lebih “mudah” dilakukan karena memang belum ada produk yang bagus. Pemutar musik masih banyak yang ampas, smartphone yang ada penggunaannya begitu kompleks dan menyusahkan.

Jobs dan Apple, meskipun bukan sebagai yang pertama melakukannya, berhasil membuat barang produksi mereka menjadi pendobrak pasar. Itulah alasan utama mengapa Apple di era Jobs dianggap inovatif jika dibandingkan dengan era Cook.

Kompetitor di era Cook jauh lebih sengit dibandingkan dengan era Jobs dulu. Samsung, Google, Microsoft, merek-merek China, semua berlomba-lomba menghadirkan produk terbaik untuk menarik perhatian konsumen, bahkan menemukan sebuah hal baru.

Bahkan, sebenarnya Cook sudah melakukan banyak hal yang sebelumnya tidak dilakukan oleh Jobs, seperti benar-benar memperhatikan masalah lingkungan, lebih aktif di bidang amal, hingga berusaha untuk dekat dengan media. Hanya saja, rasanya pengguna tidak terlalu memedulikan hal tersebut.

Lantas, Kenapa Apple Dicap Berhenti Berinovasi?

iPhone 13 (TechRadar)

Apple dicap tidak inovatif karena lini iPhone-nya seolah stuck sejak tahun 2017, ketika iPhone X pertama kali diperkenalkan. Selain kamera dan prosesor yang terus diperbarui, memang nampaknya tidak banyak hal yang berubah dari smartphone ini.

Parahnya lagi, Apple memutuskan untuk menghilangkan kepala charger dari kardus penjualan dengan alasan “lingkungan”. Hal ini seolah mengulang kontroversi ketika Apple memutuskan untuk menghilangkan lubang headphone jack di iPhone 7 demi mendongkrak penjualan AirPods.

Selain itu, MacBook Pro yang baru saja mereka rilis juga menuai cibiran dari publik. Bukan karena fiturnya (bahkan Apple mendengar masukan pengguna sehingga mengembalikan beberapa port), melainkan karena harganya yang selangit.

Memang, hampir tidak ada laptop yang mampu menyaingi MacBook dari segi performa dan efisiensi. Chip M1 mereka benar-benar menjadi sebuah terobosan yang rasanya akan sulit disaingi oleh para produsen laptop lainnya.

Akan tetapi, harga yang begitu mahal bisa membuat pengguna lebih memilih laptop atau komputer Windows karena merasa dengan anggaran yang sama, mereka bisa mendapatkan produk yang lebih baik lagi.

Akankah Apple akan Bernasib Sama dengan Nokia?

Pernah Menjadi Raja di Masanya (Engadget)

Jika Apple memang stuck dan seolah terjebak di zona nyamannya, akankah mereka akan bernasib sama dengan Nokia? Rasanya tidak, setidaknya belum akan terjadi dalam waktu dekat.

Berbeda dengan Nokia yang menggantungkan profitnya dari penjualan ponsel, Apple sekarang telah tumbuh besar dan memiliki banyak sekali produk yang dijual di pasaran. Mac, iPad, Apple Watch, AirPods, Apple Pencil, ada beragam produk untuk mendukung ekosistem Apple.

Brand Apple yang telah dibangun oleh Jobs memiliki fondasi yang begitu kuat, sehingga rasanya tidak akan mudah goyah. Meskipun sudah berkurang, filosofi perusahaan masih berusaha dipertahankan oleh Cook dan tim.

Selain itu, masyarakat juga sudah mengakui kalau Apple adalah brand dengan kasta tertinggi untuk kategori teknologi. Bagi mereka yang ingin merasa prestige, memiliki produk Apple adalah sebuah kewajiban meskipun fitur yang ditawarkan produk kompetitor lebih baik.

Memang, sering ada candaan kalau Apple seolah selalu “terlambat” dalam menghadirkan fitur di produk mereka. Hanya saja, kualitas yang dimiliki biasanya lebih baik dari kompetitor yang sudah merilis fitur tersebut terlebih dahulu.

Patut untuk dicatat, publik akan semakin cerdas dalam memilih perangkat yang ideal dan bisa mengakomodir kebutuhan mereka. Jika Apple tidak mampu menawarkan kelebihan dibandingkan kompetitornya, mereka bisa saja ditinggalkan oleh fan garis kerasnya.

Penutup

Seandainya Jobs masih hidup dan menerapkan strategi yang sama, rasanya cap tidak inovatif dari publik akan sedikit berkurang karena Jobs mampu meyakinkan orang dengan lihainya. Kharisma yang dimiliki seolah membuat kita percaya begitu saja apa katanya.

Selain itu, Penulis merasa ada beberapa keputusan yang diambil diera Cook akan ditentang oleh Jobs. Dari dulu, Jobs selalu menekankan kesederhanaan lini produknya. Apple sekarang terlihat terlalu memiliki banyak pilihan. iPhone saja sekarang ada 4 jenis setiap tahun.

Mungkin akan ada produk revolusioner baru yang akan diperkenalkan oleh Jobs, meskipun Penulis sendiri kesulitan untuk membayangkan produk teknologi apa yang akan mendobrak pasar. Rasanya, semua teknologi yang kita pegang saat ini sudah bagus-bagus semua.

Jadi jika ditanya apakah Apple telah berhenti berinovasi, jawabannya adalah iya dan tidak. Di satu sisi, Apple terus memperkuat ekosistemnya dengan membuat lebih banyak produk baru. Di sisi lain, Apple nampak kesulitan untuk menemukan hal baru untuk perangkat mereka.

Jika 1-2 tahun ke depan Apple tetap merilis iPhone baru tanpa pembaruan berarti, mungkin kita baru bisa berpendapat kalau Apple memang telah berhenti berinovasi, setidaknya dari lini smartphone yang berhasil membuat mereka menjadi perusahaan seperti sekarang.


Foto: Emarat Daily

Sumber Artikel:

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan