<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>alam Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/alam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/alam/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 Oct 2024 23:24:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>alam Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/alam/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Koleksi Board Game #26: Cascadia</title>
		<link>https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-26-cascadia/</link>
					<comments>https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-26-cascadia/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Oct 2024 23:24:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Permainan]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[board game]]></category>
		<category><![CDATA[Cascadia]]></category>
		<category><![CDATA[hewan]]></category>
		<category><![CDATA[tile placement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7996</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tile placement merupakan salah satu unsur board game yang Penulis sukai. Mungkin, salah satu alasannya adalah karena sejak kecil Penulis menyukai puzzle. Itu juga yang menjadi alasan mengapa Penulis membeli Carcassonne, bahkan membeli versi digitalnya juga. Setelah Carcasonne, Penulis juga membeli Kingdomino yang sayangnya lumayan jarang dimainkan. Penulis belum memiliki board game serupa lagi sejak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-26-cascadia/">Koleksi Board Game #26: Cascadia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><em>Tile placement </em>merupakan salah satu unsur board game yang Penulis sukai. Mungkin, salah satu alasannya adalah karena sejak kecil Penulis menyukai <em>puzzle</em>. Itu juga yang menjadi alasan mengapa Penulis membeli <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-4-carcassonne/">Carcassonne</a>, bahkan membeli versi digitalnya juga.</p>



<p>Setelah Carcasonne, Penulis juga membeli <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-19-kingdomino/">Kingdomino</a> yang sayangnya lumayan jarang dimainkan. Penulis belum memiliki <em>board game</em> serupa lagi sejak itu, sampai bertemu dengan <strong>Cascadia</strong> yang Penulis ketahui dari kanal YouTube Actualol.</p>



<p>Menariknya, Penulis cukup lama menunda membeli Cascadia, sampai akhirnya ketika Penulis ke Jakarta dan diajak Pandu untuk pergi ke salah satu toko <em>board game</em> bernama Monopolis Wonder di daerah Pluit. Di sanalah akhirnya Penulis membeli Cascadia.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa-banner.jpg 1280w " alt="Belajar Menulis Fiksi Pada Di Balik Tirai Aroma Karsa" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa/">Belajar Menulis Fiksi Pada Di Balik Tirai Aroma Karsa</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Board Game Cascadia</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: Cascadia</li>



<li>Desainer: Randy Flynn</li>



<li>Publisher: Flatout Games</li>



<li>Tahun Rilis: 2021</li>



<li>Jumlah Pemain: 1-4 pemain</li>



<li>Waktu Bermain: 30-45 menit</li>



<li>Rating BGG: 7,9</li>



<li>Tingkat Kesulitan: 1.85/5</li>



<li>Harga: Rp590.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Cara Bermain Cascadia</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Tutorial Main Board Game - Cascadia" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/r75BWDcuPMs?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Sebagai orang yang &#8220;berusaha&#8221; untuk peduli terhadap isu lingkungan, tema &#8220;reservasi alam&#8221; yang dibawa oleh Cascadia jelas sangat menarik. Cascadia sendiri memang merupakan nama wilayah yang dilindungi di bagian barat Amerika Utara yang terletak di antara Samudera Pasifik dan Pegunungan Rocky.</p>



<p><em>Main</em> <em>objective</em> dari Cascadia adalah <strong>meraih poin tertinggi di akhir permainan</strong>. Ada banyak cara untuk mendapatkan poin dalam permainan ini, yang akan Penulis jelaskan lebih detail di bawah. Untuk sekarang, mari kita bahas dulu mengenai cara bermainnya.</p>



<p>Di awal permainan, bagikan <em>starter tile</em> kepada masing-masing pemain secara acak. <em>Starter tile </em>ini terdiri dari tiga <em>tile </em>Habitat yang dijadikan satu, sehingga kita memiliki opsi penempatan hewan yang lebih banyak.</p>



<p>Setelah itu, buat deretan <strong><em>tile </em>Habitat</strong> (ada 85 buah) dan <strong>token Hewan</strong> (ada 100 buah, masing-masing hewan 20 buah) sebanyak empat &#8220;pasangan&#8221; secara berbaris. Di setiap putaran, masing-masing pemain akan memilih satu pasangan tersebut untuk ditempatkan ke dalam ekosistemnya sendiri.</p>



<p><em><strong>Catatan</strong>: Lakukan </em>reroll<em> apabila semua token Hewan sama</em>,<em> atau jika tiga token Hewan sama, maka pemain pada giliran tersebut bisa melakukan </em>reroll<em> secara cuma-cuma</em></p>



<p>Jumlah <em>tile </em>yang digunakan menyesuaikan jumlah pemain, yakni masing-masing pemain akan <strong>mendapatkan 20 <em>tile </em>ditambah 3</strong>. Untuk token Hewan gunakan semua dengan memasukkannya ke dalam kantong yang tersedia.</p>



<p>Saat mengambil pasangan <em>tile </em>habitat dan token hewan, token hewan yang diambil harus <strong>diletakkan ke dalam habitat yang memiliki simbol hewan yang sama</strong>. Jika tidak ada, maka token hewan tersebut harus dibuang.</p>



<p><em>Tile </em>habitat sendiri terdiri dari lima jenis, yakni <strong>Gunung</strong>, <strong>Hutan</strong>, <strong>Padang Rumput</strong>, <strong>Rawa</strong>, dan <strong>Sungai</strong>. Dalam satu <em>tile </em>bisa memiliki lebih dari satu jenis dan bisa ditempati oleh beberapa jenis hewan. Selain itu, ada juga<em> </em><strong><em>tile </em>Keystone </strong>yang dilambangkan dengan biji pinus.</p>



<p>Nah, apabila pemain berhasil meletakkan token hewan di <em>tile </em>Keystone, maka mereka akan mendapatkan <strong>token Alam</strong> (ada 25 buah). Manfaatnya ada banyak, seperti sisanya akan menjadi poin di akhir permainan, untuk melakukan <em>reroll </em>token Hewan, hingga mengambil <em>tile </em>habitat dan hewan yang bukan pasangan. </p>



<p>Penempatan <em>tile </em>Habitat tidak harus selalu cocok dengan sekitarnya (tidak seperti Kingdomino yang harus diletakkan berjejeran dengan minimal satu <em>tile </em>yang sama). Namun, penempatan habitat yang sama akan memberikan nilai tambahan di <em>scoring</em>.</p>



<p>Token Hewan sendiri bisa dibilang menjadi &#8220;motor utama&#8221; dalam meraih skor dalam Cascadia. Ada lima jenis hewan di permainan ini, yakni <strong>Beruang Grizzly</strong>, <strong>Rusa Roosevelt</strong>, <strong>Salmon Chinook</strong>, <strong>Elang Buntut Merah</strong>, dan <strong>Rubah Merah</strong>.</p>



<p>Masing-masing hewan tersebut memiliki cara berbeda untuk meraih poin. Sebagai contoh, di sini Penulis akan menggunakan Set A, yang direkomendasikan untuk pemain pemula yang belum pernah bermain Cascadia sama sekali:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Beruang Grizzly: Skor untuk setiap beruang yang berpasangan</li>



<li>Rusa Roosevelet: Skor untuk setiap formasi rusa dalam bentuk lurus</li>



<li>Salmon Chinook: Skor untuk setiap baris formasi salmon maksimal 7</li>



<li>Elang Buntut Merah: Skor untuk setiap elang yang tidak bersebelahan dengan elang lainnya</li>



<li>Rubah Merah: Skor untuk setiap jenis hewan yang berbeda di sekitarnya</li>
</ul>



<p>Total ada empat set dalam Cascadia yang menentukan bagaimana masing-masing hewan bisa mencetak skor. Jika sudah cukup sering bermain, maka pemain bisa menggunakan set secara acak dari masing-masing hewan.</p>



<p>Selain dari hewan, skor juga bisa didapatkan dari habitat. Pertama, hitung masing-masing luasnya jenis habitat (hanya hitung yang terluas saja). Setelah itu, pemain bisa mendapatkan bonus poin apabila luas habitatnya paling besar di antara pemain lain.</p>



<p>Permainan akan berakhir apabila sudah tidak ada <em>tile </em>yang menggantikan <em>tile </em>yang telah diambil (atau masing-masing telah memiliki 20 <em>tile</em>). Hitung skor masing-masing pemain dan pemain dengan skor tertinggi akan menjadi pemenangnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Bermain Cascadia</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/koleksi-board-game-cascadia-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8003" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/koleksi-board-game-cascadia-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/koleksi-board-game-cascadia-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/koleksi-board-game-cascadia-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/koleksi-board-game-cascadia-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Cascadia (<a href="https://www.gameistry.in/product-page/cascadia-board-game-chennai-india-gameistry-entertainment">Gameistry Entertainment</a>)</figcaption></figure>



<p>Cascadia memang bukan tipe <em>board game </em>kompetitif yang membuat kita harus saling menjatuhkan. Mungkin, sisi senggol-senggolannya hanya ketika memperebutkan <em>tile </em>atau hewan yang tersedia di arena.</p>



<p>Namun, Cascadia berhasil <strong>menghadirkan nuansa kompetitif dengan rasa baru</strong>. Meskipun masing-masing pemain fokus pada areanya sendiri, semuanya bersaing untuk membentuk ekosistem yang bernilai paling tinggi di akhir permainan.</p>



<p>Jadi, walaupun rasa kompetitifnya tidak terlalu rasa, secara mengejutkan Cascadia cukup disukai oleh <em>circle </em>Penulis. Biasanya ketika bermain, orang yang mengambil token hewan di dalam kantong akan dilakukan secara bergantian, terutama jika tangan orang sebelumnya dianggap &#8220;bau&#8221; karena yang keluar jelek terus.</p>



<p>Mirip dengan Kingdomino, akan ada kepuasan tersendiri apabila kita bisa membuat ekosistem yang rapi. Walau <em>tile </em>yang ada tidak harus bersebelahan dengan <em>tile </em>yang sama, ada semacam dorongan untuk berusaha menempatkannya seideal mungkin.</p>



<p>Peletakkan dan perebutan hewan pun menjadi salah satu unsur yang tak kalah menarik. Berdasarkan pengalaman Penulis, <strong>Salmon menjadi salah satu META </strong>yang sering diperebutkan pemain karena bisa menghasilkan skor besar dengan cara yang lebih mudah jika dibandingkan dengan binatang lain.</p>



<p>Bicara tentang skor, Penulis baru pernah memainkan Cascadia menggunakan set A saja. Padahal, dalam permainan ini ada sampai set D agar permainan tidak menoton. Walau begitu, memainkan set A berulang-ulang pun tak bisa dibilang membosankan.</p>



<p>Bicara tentang komponennya, <strong>Cascadia memiliki kualitas yang cukup</strong>. Tidak sampai yang istimewa seperti <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-8-wingspan/">Wingspan</a> atau <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-23-trekking-through-history/">Trekking Through History</a>, tapi cukup solid dan rasanya tidak akan mudah rusak.</p>



<p>Oleh karena itu, tak salah jika Penulis memilih Cascadia menjadi salah satu <em>board game </em>favoritnya. Mulai dari tema alamnya, konsep <em>tile placement </em>yang dimiliki, hingga interaksi yang berhasil dihasilkan menjadi beberapa alasannya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<p>Saat membeli Cascadia di Monopolis Wonder, Penulis membeli satu <em>board game </em>lagi. Beda dengan Cascadia yang membutuhkan riset panjang, <em>board game </em>ini Penulis beli secara dadakan karena rekomendasi seorang teman. <em>Board game </em>tersebut adalah <strong>Here to Slay</strong>.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 20 Oktober 2024, terinspirasi setelah ingin melanjutkan seri <em>board game </em>ini</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-26-cascadia/">Koleksi Board Game #26: Cascadia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-26-cascadia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Jika Air Bersih di Bumi Habis?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-air-bersih-di-bumi-habis/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-air-bersih-di-bumi-habis/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Oct 2024 16:08:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7971</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa hari terakhir, di daerah Penulis terjadi &#8220;krisis air&#8221; yang cukup menyusahkan, walau belum sampai tahap berbahaya. Penulis tidak mengetahui apa penyebabnya, tapi yang jelas tandon Penulis yang terletak di atas hampir tidak pernah terisi. Untungnya, keran depan masih bisa mengalirkan air dengan lancar, sehingga setidaknya Penulis sekeluarga tinggal memasang selang hingga ke kamar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-air-bersih-di-bumi-habis/">Bagaimana Jika Air Bersih di Bumi Habis?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa hari terakhir, di daerah Penulis terjadi &#8220;krisis air&#8221; yang cukup menyusahkan, walau belum sampai tahap berbahaya. Penulis tidak mengetahui apa penyebabnya, tapi yang jelas tandon Penulis yang terletak di atas hampir tidak pernah terisi.</p>



<p>Untungnya, keran depan masih bisa mengalirkan air dengan lancar, sehingga setidaknya Penulis sekeluarga tinggal memasang selang hingga ke kamar mandi. Walau sedikit merepotkan, setidaknya &#8220;krisis air&#8221; ini masih bisa teratasi dengan baik.</p>



<p>Mengalami hal seperti ini membuat Penulis kembali merenungkan satu hal yang sebelumnya sudah sering direnungkan: <strong>bagaimana jika air bersih di bumi sampai habis?</strong> Mumpung momennya pas, Penulis ingin membahas tentang hal ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/63f363a5-fdd2-4b16-8fa9-918f70a4a200-768x512-300x200.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/63f363a5-fdd2-4b16-8fa9-918f70a4a200-768x512-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/63f363a5-fdd2-4b16-8fa9-918f70a4a200-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/63f363a5-fdd2-4b16-8fa9-918f70a4a200-768x512-356x237.jpg 356w " alt="Beradaptasi dengan Lingkungan" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/beradaptasi-dengan-lingkungan/">Beradaptasi dengan Lingkungan</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Pengalaman Krisis Air Paling Parah</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-7975" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-1-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Ilustrasi Krisis Air (<a href="https://uk.allianzgi.com/en-gb/insights/outlook-and-commentary/liquid-capital-water-crisis">AllianzGI</a>)</p>
</div></div>



<p>Krisis air yang Penulis alami saat ini bukanlah yang paling parah yang pernah Penulis hadapi. Sewaktu magang di Tangerang, rumah teman Penulis sempat mengalami mati air sama sekali hingga kami harus pergi ke rumah saudaranya untuk meminta air.</p>



<p>Waktu itu, kami harus memasukkan air ke dalam tangki berwarna biru, lalu harus mengangkatnya ke mobil dan menurunkannya di rumah. Karena waktu itu magang, tentu tidak mungkin Penulis tidak mandi sebelum berangkat ke kantor.</p>



<p>Untuk menghemat, Penulis harus pandai-pandai mengelola air ketika mandi. Penulis ingat pernah memanfaatkan tidak sampai sepuluh guyuran gayung lengkap untuk sikat gigi, keramas, dan menyabuni badan. Segitunya untuk menghemat air yang berhenti mengalir.</p>



<p>Tentu saja pengalaman krisis tersebut tidak ada apa-apanya dengan orang lain, katakanlah di Afrika. Penulis ingat di salah satu video pesulap David Blaine, ada orang Afrika yang melatih kemampuan menyimpan air bersih di perutnya karena di negaranya, air bersih sangat sulit untuk didapatkan.</p>



<p>Jika mengingat hal-hal seperti ini, Penulis sering termenung ketika air bersih sedang melimpah. Misal ketika berwudhu, Penulis menyadari ada banyak sekali air bersih yang terbuang ketika transisi dari satu gerakan ke gerakan lain.</p>



<p>Saat krisis air seperti yang terjadi seperti sekarang, Penulis jadi harus benar-benar berhemat ketika berwudhu dengan tetap memastikan kalau semua bagian tubuh yang diwajibkan harus terkena air. Kira-kira butuh sekitar 10 gayung.</p>



<p>Dengan keterbatasan air seperti sekarang, Penulis jadi merasa bersyukur selama ini masih bisa menikmati air bersih yang sangat melimpah. Pertanyaan besarnya, sampai kapankah kita bisa menikmati air bersih seperti saat ini?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kerusakan Alam yang Makin Parah</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-7974" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-2-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Pencemaran Air karena Hilirisasi (<a href="https://walhisulsel.or.id/4253-aliansi-sulawesi-respon-pernyataan-gibran-di-debat-perdana-cawapres-hilirisasi-nikel-hancurkan-masa-depan-sulawesi-merusak-bentang-alam-dan-kehidupan-masyarakat-khususnya-perempuan/">WALHI Sulsel</a>)</p>
</div></div>



<p>Ada banyak sekali alasan mengapa Penulis berpendapat bahwa air bersih di bumi bisa saja akan sulit untuk diakses oleh manusia, bahkan yang tinggal di peradaban paling modern sekalipun. Satu alasan paling kuat adalah <strong>perusakan alam yang makin menggila</strong>.</p>



<p>Contoh yang paling dekat adalah bagaimana pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) yang memengaruhi air bersih yang bisa dinikmati oleh warga sekitar. Dalam video dokumentasi yang dibuat oleh tim Narasi, bisa dilihat bagaimana perjuangan mereka untuk mendapatkan air bersih, termasuk harus mengeluarkan uang yang cukup besar.</p>



<p>Selain itu, proyek hilirisasi yang terjadi di berbagai tempat juga bisa mengakibatkan buruknya kualitas air penduduk sekitar. <a href="https://whathefan.com/politik-negara/memahami-apa-itu-hilirisasi-secara-sederhana-melalui-tropico-6/">Hilirisasi yang ugal-ugalan</a> membuat sumber air mereka menjadi tercemar dan tidak bisa dimanfaatkan seperti dulu lagi.</p>



<p>Belum lagi kebiasaan buruk kita untuk membuang sampah ke sungai. Kualitas air pun menjadi sangat tercemar seperti yang terjadi di banyak perkotaan, di mana kualitas airnya kalah jauh dari kualitas air di pedesaan.</p>



<p>Selain itu, jangan lupa kalau dalam peperangan, terkadang ada cara-cara jahat dengan <strong>meracuni sumber air</strong>. Tentu ini strategi yang tidak manusiawi dan dampaknya pun bisa mengakibatkan <em>butterfly effect</em> yang tidak sepele.</p>



<p>Tentu banyak manusia yang menyadari potensi hilangnya air bersih dari permukaan bumi. Para ilmuwan ataupun akademisi banyak yang berupaya untuk membuat teknologi untuk mengelola air-air yang awalnya tidak bisa digunakan menjadi bisa digunakan.</p>



<p>Namun, <strong>seberapa banyak orang yang dapat merasakan manfaat tersebut? </strong>Teknologi-teknologi semaju itu biasanya membutuhkan biaya yang tinggi. Jika teknologi tersebut memang bisa digunakan secara murah dan massal, tentu krisis air di dunia sudah bisa teratasi.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Perlu diingat bahwa meskipun <a href="https://whathefan.com/renungan/bumi-itu-datar/">planet bumi</a> didominasi oleh air, hanya sekitar <strong>2-3% air bersih</strong> yang bisa digunakan oleh manusia untuk berbagai kebutuhan. Sisanya merupakan air laut yang sangat sulit untuk dimanfaatkan karena tingginya kandungan garam yang dimiliki.</p>



<p>Jika air bersih di bumi sampai benar-benar habis, maka rasanya krisis akan terjadi di mana-mana. Perang untuk memperebutkan sumber air yang masih bersih sangat mungkin terjadi.  Manusia yang bisa bermutasi dengan meminum air kotor akan menjadi spesies yang bertahan.</p>



<p>Oleh karena itu, sudah sewajarnya kita lebih <strong>menghargai dan mensyukuri air bersih</strong> yang bisa kita nikmati dengan melimpah saat ini. Jangan membuang-buang air bersih untuk hal yang mubazir, gunakan dengan sebijak mungkin.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 7 Oktober 2024, terinspirasi setelah air di rumah mengalami pengurangan volume</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/girl-drinking-water-from-the-pipe-28101461/">illustrate Digital Ug</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-air-bersih-di-bumi-habis/">Bagaimana Jika Air Bersih di Bumi Habis?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-air-bersih-di-bumi-habis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berburu Pembuat &#8220;Mural&#8221; yang Seharusnya Dilakukan</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/berburu-pembuat-mural-yang-seharusnya-dilakukan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/berburu-pembuat-mural-yang-seharusnya-dilakukan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2021 14:48:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[Greenpeace]]></category>
		<category><![CDATA[hutan]]></category>
		<category><![CDATA[kerusakan hutan]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[prioritas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5243</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, sempat heboh sebuah berita yang mengabarkan bahwa pihak kepolisian sendang memburu pembuat mural yang menggambarkan sosok Jokowi dengan disertai tulisan 404: Not Found. Sontak hal ini menimbulkan beragam reaksi dari masyarakat. Kebanyakan menganggap bahwa hal tersebut menunjukkan kalau pemerintah anti kritik dan &#8220;takut&#8221; dengan mural. Sebelumnya, ada juga mural bertulisan &#8220;Tuhan aku [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/berburu-pembuat-mural-yang-seharusnya-dilakukan/">Berburu Pembuat &#8220;Mural&#8221; yang Seharusnya Dilakukan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa waktu lalu, sempat heboh sebuah berita yang mengabarkan bahwa pihak kepolisian sendang memburu pembuat mural yang menggambarkan sosok Jokowi dengan disertai tulisan 404: Not Found.</p>



<p>Sontak hal ini menimbulkan beragam reaksi dari masyarakat. Kebanyakan menganggap bahwa hal tersebut menunjukkan kalau pemerintah anti kritik dan &#8220;takut&#8221; dengan mural.</p>



<p>Sebelumnya, ada juga mural bertulisan &#8220;Tuhan aku lapar&#8221; dan &#8220;Wabah sesungguhnya adalah lapar&#8221; yang akhirnya dihapuskan oleh pihak kepolisian, meskipun alasannya adalah permintaan dari warga.</p>



<p>Begitu cepatnya reaksi kepolisian terhadap mural jalanan yang mengekspresikan pendapat menjadi berbanding terbalik dengan lambatnya reaksi pihak yang berwajib terhadap &#8220;mural&#8221; yang sebenarnya lebih berbahaya.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Mural di Alam Indonesia</h2>



<p>Jika biasanya mural menggunakan tembok sebagai media, maka &#8220;mural&#8221; yang satu ini menggunakan bentang alam Indonesia. Jika mural biasanya hanya berukuran meter, &#8220;mural&#8221; yang satu ini butuh berhektar-hektar tanah.</p>



<p>&#8220;Mural&#8221; yang dimaksud adalah hutan-hutan gundul yang dilakukan secara ilegal oleh perusahaan. <em>Illegal logging </em>yang dilakukan meninggalkan semacam &#8220;karya seni&#8221; di mana bekas hutan membentuk semacam pola yang, ironinya, indah.</p>



<p>Penulis mendapatkan ide artikel ini dari sebuah pos milik Greenpeace Indonesia. Pembaca bisa melihatnya di bawah ini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-instagram wp-block-embed-instagram"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/CSybOpfhEU8/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="13" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/CSybOpfhEU8/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/CSybOpfhEU8/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank">A post shared by Greenpeace Indonesia (@greenpeaceid)</a></p></div></blockquote><script async src="//platform.instagram.com/en_US/embeds.js"></script>
</div></figure>



<p>Daripada berburu orang yang menyuarakan kritik, mengapa tidak berburu para perusak hutan Indonesia? Dampak negatif yang dihasilkan jauh lebih besar dari sekadar mural di tembok yang mungkin bagi sebagian orang justru memperindah lingkungan.</p>



<p>Para pelakunya seolah tak tersentuh hukum dan bebas beroperasi selama bertahun-tahun. Apakah karena mereka membayarkan semacam &#8220;upeti&#8221; kepada yang berwajib? Rasanya ini sudah menjadi semacam rahasia umum.</p>



<p>Faktanya, data menunjukkan bahwa kerusakan hutan di Indonesia berada di taraf yang cukup mengkhawatirkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Data Kerusakan Hutan di Indonesia</h2>



<p>Dilansir dari data yang dilaporkan oleh <em>WRI Indonesia</em> pada tahun 2020, kerusakan hutan di Indonesia menempati posisi keempat di dunia setelah Brazil, Kongo, dan Bolivia. </p>



<p>Kita berhasil mencatatkan &#8220;prestasi dengan turun satu peringkat jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, data menunjukkan bahwa sejak tahun 2017, kerusakan hutan di Indonesia mengalami penurunan yang cukup drastis.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://content.globalforestwatch.org/wp-content/uploads/2021/03/Indonesian_GFW-Tree-Loss-v1_Indonesia-Primary-Forest-Loss.png" alt="Indonesia tropical primary forest loss 2020"/><figcaption>Data Diambil dari WRI Indonesia</figcaption></figure>



<p>Salah satu penyebab penurunan ini adalah kebakaran hutan dan gambut skala besar yang terjadi pada tahun 2015 silam. Semenjak bencana tersebut, ada pemantauan dan pencegahan kebakaran hutan secara ketat dari Pemerintah Indonesia.</p>



<p>Untuk sementara waktu, penerbitan izin baru untuk perkebunan kelapa sawit dihentikan oleh pemerintah. Moratoium izin perkebunan kelapa sawit juga diberlakukan, meskipun akan berakhir pada tahun 2021 ini. Apakah akan diperpanjang atau tidak, belum ada informasinya.</p>



<p>Berdasarkan data WRI di atas, kerusakan hutan di Indonesia selama 4 tahun terakhir berkisar di angka 200 hingga 400 ribu hektar per tahunnya. Sebagai perbandingan, ada beberapa data kerusakan hutan Indonesia alternatif:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>World Bank</strong>: Kerusakah hutan antara 700 ribu hingga 1.2 juta hektar per tahun</li><li><strong>Food and Agriculture Organization (FAO)</strong>: Kerusakan hutan mencapai 1.315.000 hektar yang setara berkurangnya 1% area hutan setiap tahunnya.</li><li><strong>Greenpeace</strong>: 3.8 juta hektar per tahun, di mana mayoritas disebabkan oleh penebangan liar</li></ul>



<p>Mana data yang benar? Entahlah, tidak ada yang tahun secara pasti. Yang jelas., kerusakan hutan di Indonesia benar-benar terjadi dan pelakunya masih melenggang dengan bebas, mungkin dengan tumpukan uang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Salah Prioritas Ala Pemerintah</h2>



<p>Berhubung yang membuat pos adalah Greenpeace, wajar jika yang disorot adalah masalah kerusakan hutan. Viralnya pemburuan pembuat mural mereka jadikan kesempatan untuk menyadarkan masyarakat mengenai tingginya kerusakan hutan di Indonesia.</p>



<p>Di mata Penulis, contoh dari Greenpeace tersebut menjadi salah satu indikator kalau pemerintah kita <strong>kerap salah menentukan prioritas mereka</strong>. Yang sepele diseriusin, yang serius disepelekan.</p>



<p>Pembuat mural bernada kritik yang sepele diburu, tapi pembuat &#8220;mural&#8221; berhektar-hektar dilepas begitu saja. Yang mencuri karena lapar dihukum panjang, yang korupsi demi nafsu duniawi diberi potongan masa tahanan.</p>



<p>Di saat butuh kekuatan untuk memberantas korupsi, <a href="https://whathefan.com/politik-negara/kpk-dan-upaya-untuk-menggembosinya/">KPK malah terkesan dilemahkan</a>. Di saat butuh kesigapan pemerintah dalam menanggulangi pandemi Covid-19, <a href="https://whathefan.com/politik-negara/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya/">pemerintah malah terkesan sibuk dengan istilah yang kerap berubah-ubah</a>.</p>



<p>Semoga saja, ke depannya pemerintah bisa lebih bijak dalam menentukan prioritas mereka. Kami ingin ada perubahan dalam tubuh pemerintah di mana yang jelas-jelas bersalah mendapatkan hukuman yang setimpal.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 23 Agustus 2021, terinspirasi dari pos Instagram Greenpeace Indonesia</p>



<p>Foto: <a href="https://www.greenpeace.org.au/what-we-do/protecting-forests/threats/">Greenpeace Australia Pacific</a></p>



<p>Sumber Artikel: </p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://www.google.com/url?sa=t&amp;rct=j&amp;q=&amp;esrc=s&amp;source=web&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwjk8Yn2rMfyAhUzqksFHeekCFQQFnoECBoQAw&amp;url=https%3A%2F%2Fdlhk.bantenprov.go.id%2Fupload%2Farticle%2FKerusakan_Hutan_dan_dampaknya_bagi_%2520kehidupan.pdf&amp;usg=AOvVaw2ipO27MrAdiIvY_hMm4E6p">DLHK Pemprov Banten</a></li><li><a href="https://wri-indonesia.org/id/blog/kerusakan-hutan-hujan-primer-meningkat-sebesar-12-dari-tahun-2019-hingga-tahun-2020">Kerusakan Hutan Hujan Primer Meningkat Sebesar 12% dari Tahun 2019 hingga Tahun 2020 | WRI Indonesia (wri-indonesia.org)</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/berburu-pembuat-mural-yang-seharusnya-dilakukan/">Berburu Pembuat &#8220;Mural&#8221; yang Seharusnya Dilakukan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/berburu-pembuat-mural-yang-seharusnya-dilakukan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mungkin Alam Mulai Enggan Bersahabat dengan Kita&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/mungkin-alam-mulai-enggan-bersahabat-dengan-kita/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/mungkin-alam-mulai-enggan-bersahabat-dengan-kita/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2021 11:02:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[2021]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[banjir]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[sumber daya]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4279</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang Kita semua nampaknya sepakat kalau tahun 2020 adalah tahun yang memprihatinkan. Selain banyaknya kejadian yang membuat kita mengelus dada, adanya pandemi Covid-19 makin memperparah keadaan. Jutaan orang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/mungkin-alam-mulai-enggan-bersahabat-dengan-kita/">Mungkin Alam Mulai Enggan Bersahabat dengan Kita&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita<br />
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa<br />
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita<br />
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang</p></blockquote>
<p>Kita semua nampaknya sepakat kalau tahun 2020 adalah tahun yang memprihatinkan. Selain banyaknya kejadian yang membuat kita mengelus dada, adanya <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya/"><strong>pandemi Covid-19</strong></a> makin memperparah keadaan.</p>
<p>Jutaan orang terjangkit penyakit ini, pembatasan terjadi di mana-mana yang memukul telak berbagai industri. Orang-orang banyak yang kehilangan pekerjaan, perusahaan banyak yang pailit.</p>
<p>Keseriusan pemerintah menangani musibah ini dipertanyakan oleh rakyatnya. Di sisi lain, banyak orang yang <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/relativitas-kebenaran/">skeptis terhadap kebenaran virus ini</a>.</p>
<p>Oleh karena itu, banyak yang berharap di tahun 2021 ini akan menjadi tahun yang lebih bersahabat untuk kita semua. Kita begitu optimis menyongsong tahun baru.</p>
<p>Sayang, <strong>tahun ini diawali dengan berbagai kejadian buruk.</strong></p>
<h3 style="text-align: left;">Deretan Bencana di Awal Tahun</h3>
<p>Januari baru berlangsung 20 hari ketika tulisan ini disusun. Walaupun begitu, jumlah bencana yang terjadi di Indonesia sudah begitu banyak.</p>
<p>Kita dihebohkan dengan kejadian <strong>jatuhnya pesawat Sriwijaya Air</strong> di dekat Kepulauan Seribu, Jakarta. Duka merundung negeri atas kejadian yang mengerikan tersebut.</p>
<p>Belum pulih dari kejadian tersebut, Indonesia diberondong berbagai bencana di berbagai daerah.<strong> Gempa bumi</strong> di Sulawesi Barat,<strong> banjir bandang</strong> di Kalimantan Selatan, <strong>erupsi gunung</strong> Sinabung dan Semeru.</p>
<p><strong>Banjir</strong> juga terjadi di Kepulauan Bangka Belitung, Aceh, Jember, Indramayu, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, Tasikmalaya, Kalimantan Utara, Maluku Utara, Jombang, Pulau Bawean, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Sampang, Sidoarjo, dan Sulawesi Tenggara,</p>
<p>Itu belum semua. Masih ada <strong>longsor</strong> di Sumedang, Batam, Cianjur, Manado, Aceh. Ada <strong>gelombang tinggi</strong> di Manado dan Natuna. Sudah habis? Belum, masih ada daerah yang mengalami <strong>cuaca ekstrem</strong> seperti Cirebon, Natuna, Sumatera Utara, Aceh.</p>
<p><em>Astaghfirullah</em>&#8230;</p>
<h3>Melupakan Persahabatan dengan Alam</h3>
<p>Bencana alam yang bertubi-tubi menimpa Indonesia seolah menjadi pengingat, <strong>apakah selama ini kita sudah melupakan persahabatan dengan alam?</strong></p>
<p>Apakah bencana yang terjadi ini akibat kelalaian kita sebagai manusia yang tidak bisa menjaga kelestarian alam? Apakah ini hukuman dari Tuhan karena kita begitu serakah mengambil sumber daya alam?</p>
<p>Seandainya bencana merupakan bentuk hukuman dari Tuhan, <strong>kenapa yang terkena dampaknya justru rakyat kecil yang tak memetik keuntungan dari pengerukan alam?</strong></p>
<p>Sumber daya terus diludeskan, pepohonan terus ditebangi. Rakyat kecil dapat apa dari itu semua? Mereka justru kehilangan harta benda, keluarga, tempat tinggal.</p>
<p>Sementara para pengusaha yang menikmati hasil perusakan alam mungkin sedang duduk di rumah mewahnya dengan segelas wine di tangan, sembari membaca laporan keuntungan yang terus meroket.</p>
<p>Jelas itu merupakan misteri Ilahi kenapa ketidakadilan bisa terjadi seperti itu. Kapasitas kita sebagai manusia tak akan mampu menjangkaunya.</p>
<p>Berbagai bencana yang melanda tanah air bisa kita jadikan pengingat, kalau alam bisa menjadi demikian mengerikan apabila kita merusaknya.</p>
<p>Jika alam sudah mengamuk, kita sebagai manusia seolah tak berdaya menghadapinya. Lantas, mengapa kita begitu angkuh hidup di dunia ini?</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Lirik lagu <em><strong>Berita Kepada Kawan</strong> </em>yang dinyanyikan oleh<strong> Ebiet G. Ade</strong> sangat cocok untuk menggambarkan kondisi sekarang, terutama lirik yang terdapat pada awal tulisan.</p>
<p>Beberapa bencana memang murni terjadi karena kejadian alam, tapi sebagian lainnya <a href="https://whathefan.com/renungan/bencana-datang-karena-maksiat/">terjadi karena ulah manusia sendiri</a>.</p>
<p>Penulis berdoa agar semua korban bencana alam di tanah air bisa tabah melewati ujian ini. Jika ada korban jiwa, semoga mereka diampuni dosanya dan diterima di sisi-Nya.</p>
<p>Semoga sederet bencana di awal tahun ini bukan pertanda kalau tahun ini akan sama atau lebih kelabu dari tahun kemarin.</p>
<p>Semoga saja sederet bencana ini bisa menjadi pengingat kita yang masih diberi keselamatan untuk terus bersyukur atas nikmat yang telah diberikan.</p>
<p>Semoga saja sederet bencana ini juga bisa menjadi pengingat kita untuk terus bersahabat dengan alam dengan menjaga kelestariannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 20 Januari 2021, terinspirasi dari komik buatan Mice Cartoon</p>
<p>Foto: <a href="https://koran.tempo.co/read/nasional/461640/10-daerah-di-kalsel-dilanda-banjir?">Tempo</a></p>
<p>Sumber Artikel:</p>
<p><a href="https://www.instagram.com/p/CKLYpkWlelj/">@micecartoon.co.id • Instagram photos and videos</a></p>
<p><a href="https://tirto.id/daftar-bencana-alam-januari-2021-gempa-banjir-gunung-meletus-f9lW">Daftar Bencana Alam Januari 2021: Gempa, Banjir, Gunung Meletus &#8211; Tirto.ID</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/mungkin-alam-mulai-enggan-bersahabat-dengan-kita/">Mungkin Alam Mulai Enggan Bersahabat dengan Kita&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/mungkin-alam-mulai-enggan-bersahabat-dengan-kita/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bumi (Tanpa) Manusia</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bumi-tanpa-manusia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2020 12:05:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[kerusakan]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi industri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3748</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apakah ada hal positif yang muncul akibat meruaknya virus Corona ke segala penjuru dunia? Tanpa mengurangi empati kepada korban dan keluarganya, Penulis merasa ada. Dengan adanya virus ini, kebanyakan orang harus mengurangi kegiatannya dan berdiam diri di rumah. Banyak tempat kerja menerapkan kebijakan Work from Home sehingga jalanan lebih lenggang. Akibatnya, tingkat polusi berkurang secara signifikan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bumi-tanpa-manusia/">Bumi (Tanpa) Manusia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah ada hal positif yang muncul akibat meruaknya <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya/">virus Corona</a> ke segala penjuru dunia? Tanpa mengurangi empati kepada korban dan keluarganya, Penulis merasa ada.</p>
<p>Dengan adanya virus ini, kebanyakan orang harus mengurangi kegiatannya dan berdiam diri di rumah. Banyak tempat kerja menerapkan kebijakan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/agar-wfh-tetap-produktif/"><em>Work from Home</em></a> sehingga jalanan lebih lenggang.</p>
<p>Akibatnya, tingkat polusi berkurang secara signifikan, hewan-hewan yang dulu tidak bebas bergerak jadi berani untuk muncul, dan masih banyak lainnya.</p>
<p>Penulis menjadi terpikir sesuatu, <strong>apakah Bumi memang lebih baik tanpa kehadiran manusia?</strong></p>
<h3>Zaman Dinosaurus dan Era Peperangan</h3>
<p>Jika mau percaya kepada para arkeolog, pernah ada suatu masa ketika reptil raksasa menguasai dunia. Alam bekerja secara baik hingga muncul bencana yang memusnahkan mereka.</p>
<p>Lantas, Bumi perlahan diambil oleh mamalia. Menurut penganut teori evolusi Charles Darwin, ada makhluk-makhluk yang akan menjadi cikal bakal manusia modern seperti sekarang.</p>
<p><div id="attachment_3751" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3751" class="wp-image-3751 size-large" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3751" class="wp-caption-text">Manusia dan Perang (<a class="o5rIVb irc_hol irc_lth" tabindex="0" href="https://en.wikipedia.org/wiki/Napoleonic_Wars" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwj8huy59vHoAhXd4XMBHX1pCQcQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Wikipedia</span></a>)</p></div></p>
<p>Kalau menurut keyakinan Penulis, Nabi Adam dan Hawa diturunkan dari surga karena melanggar perintah Tuhan. Mereka lah nenek moyang manusia, berawal dari dua orang hingga menjadi milyaran seperti sekarang.</p>
<p>Penulis banyak membaca buku sejarah, termasuk sejarah peradaban. Semenjak kemunculan manusia dan perlahan membangun peradaban, <strong>ada saja bentuk kerusakan yang ditimbulkan</strong>.</p>
<p>Tak terhitung berapa jumlah perang yang sudah dilakukan umat manusia. Ada yang demi memperluas kekuasaan, fasisme, menyebarkan ajaran agama, perebutan sumber daya, dan lain sebagainya.</p>
<p>Siapa yang dirugikan? Selain rakyat sipil yang tidak bersalah, alam pun turut menjadi korban. Kerusakan yang dihasilkan oleh perang jelas tidak sedikit.</p>
<h3>Revolusi Industri</h3>
<p>Selain perang, kerusakan alam secara masif juga dipicu oleh <strong>Revolusi Industri</strong> yang terjadi di sekitar abad 18 yang bermula di Britania Raya dan menyebar ke seluruh dunia.</p>
<p><div id="attachment_3752" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3752" class="size-large wp-image-3752" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3752" class="wp-caption-text">Revolusi Industri (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.history.com/news/second-industrial-revolution-advances" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCOiPo8328egCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Visit History.com"><span class="pM4Snf">History.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Pertumbuhan penduduk meningkat pesat, roda ekonomi berputar lebih cepat, terjadinya perubahan besar-besaran di berbagai bidang, mulai dari pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, hingga teknologi.</p>
<p>Salah satu faktor yang mendorong hal tersebut adalah penemuan mesin uap oleh James Watt. Mesin tersebut membuat pekerjaan manusia bisa selesai lebih efisien dan cepat.</p>
<p>Efek sampingnya? Polusi yang gila-gilaan. Mesin uap membutuhkan batu bara sebagai bahan bakar, salah satu jenis bahan bakar fosil. Otomatis, dibutuhkan proses penambangan yang jelas merusak alam.</p>
<p>Kehidupan manusia memang menjadi lebih baik. Akan tetapi, ada tumbal yang harganya tidak murah.</p>
<h3>Bumi (Tanpa) Manusia</h3>
<p>Hanya dari dua contoh di atas (perang dan revolusi industri), kita bisa melihat betapa besar kerusakan alam yang dihasilkan oleh manusia untuk Bumi kita tercinta.</p>
<p><em>Apakah berarti Bumi akan lebih baik tanpa manusia?</em> Bisa jadi iya, bisa jadi tidak.</p>
<p><div id="attachment_3753" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3753" class="size-large wp-image-3753" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3753" class="wp-caption-text">Beruang Kutub Mencari Makan (<a class="o5rIVb irc_hol irc_lth" tabindex="0" href="https://www.nytimes.com/2019/06/19/world/europe/polar-bear-norilsk-russia.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiq0t7U9vHoAhUX63MBHczcAKYQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">The New York Times</span></a>)</p></div></p>
<p>Di dalam keyakinan Penulis, telah ditakdirkan bahwa manusia diturunkan ke Bumi untuk menjadi pemimpin di Bumi. Tidak ada makhluk lain yang secerdas dan sehebat manusia.</p>
<p>Hanya saja dalam prosesnya, banyak perbuatan kita yang menyimpang dan membuat alam kita rusak. Hutan semakin habis, laut semakin kotor, binatang banyak yang punah dan terancam punah, dan masih banyak contoh lainnya.</p>
<p>Untungnya di era modern seperti sekarang, kesadaran untuk peduli terhadap lingkungan semakin meningkat. Orang-orang seperti <strong>Greta Thunberg</strong> bisa menginspirasi banyak orang dengan aksinya.</p>
<p>Jadi, Bumi memang bisa lebih baik tanpa ada manusia. Namun faktanya, manusia telah ditakdirkan untuk menjadi pemimpin di Bumi dan sudah seharusnya kita menjalankan amanat tersebut dengan baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 18 April 2020, terinspirasi dengan banyaknya makhluk hidup lain yang bisa bergerak bebas selama pandemik Corona ini</p>
<p>Foto: <a href="https://www.thehour.com/news/article/As-humans-stay-indoors-wild-animals-take-back-15201739.php?src=nwkhpcp">TheHour</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bumi-tanpa-manusia/">Bumi (Tanpa) Manusia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bencana Datang karena Maksiat?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bencana-datang-karena-maksiat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Jan 2020 14:40:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[azab]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kerusakan]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3259</guid>

					<description><![CDATA[<p>Awal tahun 2020 harus dibuka dengan banyaknya bencana di berbagai tempat, mulai dari banjir di Indonesia hingga kebakaran di Australia yang seolah tak kunjung padam. Di Twitter, sempat ramai cuitan salah satu komedian yang tujuannya menyindir orang-orang yang kerap menghubung-hubungkan terjadinya bencana dengan kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia. Sepengamatan Penulis, cuitan tersebut mendapatkan respon negatif [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bencana-datang-karena-maksiat/">Bencana Datang karena Maksiat?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Awal tahun 2020 harus dibuka dengan banyaknya bencana di berbagai tempat, mulai dari banjir di Indonesia hingga kebakaran di Australia yang seolah tak kunjung padam.</p>
<p>Di Twitter, sempat ramai cuitan salah satu komedian yang tujuannya menyindir orang-orang yang kerap menghubung-hubungkan terjadinya bencana dengan kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia.</p>
<p>Sepengamatan Penulis, cuitan tersebut mendapatkan respon negatif dan kebanyakan netizen merutuknya, walaupun tak sedikit yang membelanya (mungkin dari para fansnya yang &#8220;<em>open-minded</em>&#8220;).</p>
<p>Terlepas dari kontroversi tersebut, benarkah bencana bisa datang karena perbuatan maksiat yang dilakukan oleh manusia?</p>
<h3>Definisi Maksiat</h3>
<p><div id="attachment_3261" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3261" class="size-large wp-image-3261" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/bencana-datang-karena-maksiat-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/bencana-datang-karena-maksiat-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/bencana-datang-karena-maksiat-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/bencana-datang-karena-maksiat-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/bencana-datang-karena-maksiat-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3261" class="wp-caption-text">Apa Itu Maksiat? (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.ibiza-spotlight.com/magazine/2019/08/clubbing-on-ibiza-on-budget" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwj4gpWIpP7mAhWQdn0KHQ5pBNUQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Ibiza Spotlight</span></a>)</p></div></p>
<p>Dalam pemahaman sehari-hari, kata &#8220;<strong>maksiat</strong>&#8221; sering diidentikkan dengan perbuatan tercela yang biasanya dilarang oleh agama. Contohnya yang paling mudah adalah berzina dan mabuk-mabukan.</p>
<p>Jika menggunakan logika manusia, jelas seolah tidak ada hubungannya antara berzina dan timbulnya bencana alam. Paling mentok kita akan menganggap bencana tersebut datang sebagai bentuk azab kepada manusia.</p>
<p>Penulis pernah menemukan lelucon di media sosial yang mengatakan bahwa jika memang seperti itu, maka orang Kalimantan adalah orang yang baik-baik karena jarang terkena bencana.</p>
<p>Setahu Penulis, gempa bumi hampir tidak pernah mampir ke sana, beda dengan mayoritas daerah lain di wilayah Indonesia. Mungkin itu yang menjadi salah satu alasan mengapa <a href="https://whathefan.com/politik/analogi-perpindahan-ibu-kota/">ibu kota akan dipindahkan ke sana</a>.</p>
<p>Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pemahaman tersebut menjadi lebih luas seperti yang tertera di bawah ini:</p>
<blockquote><p><b class="main highlight">maksiat</b><span class="per-suku">/mak·si·at/</span> <em class="jk" title="nomina (kata benda)">n</em> perbuatan yang melanggar perintah Allah; perbuatan dosa (tercela, buruk, dan sebagainya): <em>salat itu mencegah &#8211;;</em></p></blockquote>
<p>Artinya, semua perbuatan yang melanggar aturan agama adalah perbuatan maksiat. Nah, ketika sholat Jumat kemarin, Penulis mendapatkan pencerahan dari sang khotib mengenai korelasi antara bencana dan maksiat.</p>
<h3>Merusak Alam adalah Bentuk Kemaksiatan</h3>
<p><div id="attachment_3262" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3262" class="size-large wp-image-3262" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/bencana-datang-karena-maksiat-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/bencana-datang-karena-maksiat-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/bencana-datang-karena-maksiat-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/bencana-datang-karena-maksiat-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/bencana-datang-karena-maksiat-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3262" class="wp-caption-text">Greta Thunberg (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.businessinsider.com/greta-thunberg-nobel-peace-prize-why-she-didnt-win-2019-10" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiyzbeOpP7mAhUVVH0KHa7tCDcQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Business Insider</span></a>)</p></div></p>
<p>Penulis yakin semua agama mengajarkan kita untuk menjaga dan melestarikan alam. Kita adalah bagian mereka, sehingga tak patut bagi kita untuk merusaknya dengan berbagai aktivitas.</p>
<p>Perusakan alam, menurut sang khotib sholat Jumat, merupakan <strong>salah satu bentuk kemaksiatan yang kita lakukan kepada lingkungan</strong>. Bisa berupa hal besar seperti deforestasi hingga yang sepele seperti membuang sampah tidak pada tempatnya.</p>
<p>Jika kita sudah mengedapan ego dan melupakan tugas kita untuk menjaganya, alam pun akan murka dan memberikan balasan kepada kita. Sudah banyak sekali contoh yang menghampiri kita.</p>
<p>Lantas, apa yang bisa kita lakukan sekarang? Jika tidak bisa melakukan hal besar seperti yang dilakukan oleh <strong>Greta Thunberg</strong>, mulailah dari hal-hal yang sepele dan ada di sekitar kita.</p>
<p>Mengurangi penggunaan sampah plastik, hidup secukupnya tanpa perlu berlebihan, hingga menanam pohon merupakan contoh-contoh kecil yang bisa kita lakukan untuk tidak melakukan kemaksiatan kepada alam.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Di dalam kepercayaan yang Penulis yakini, memang ada yang menyebutkan bahwa kemaksiatan bisa menimbulkan azab berupa bencana alam. Akan tetapi, Penulis tidak menganggap hanya kemaksiatan seperti berzina yang bisa menimbulkan azab tersebut.</p>
<p>Perusakan lingkungan menjadi salah satu bentuk kemaksiatan yang fatal karena dampaknya bisa mengenai semua orang, termasuk yang tidak melakukannya. Bahkan makhluk hidup lain yang tak bersalah pun menjadi korbannya.</p>
<p>Yang bisa kita lakukan adalah mengurangi perusakan lingkungan dan melakukan antisipasi agar dampak yang ditimbulkan bencana tersebut bisa diminimalisir di masa depan. Jika mampu, berilah bantuan kepada korban bencana sesuai kemampuan kita.</p>
<p>Semoga saudara-saudara kita yang terdampak bencana, di mana pun mereka berada, segera diberikan kemudahan dan ketabahan untuk menghadapinya. Amin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 12 Januari 2020, terinspirasi setelah mendengarkan khotbah Sholat Jumat di masjid Gandaria City</p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwiGkLj7o_7mAhXTbX0KHS_dATcQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.nbcnews.com%2Fnews%2Fworld%2Faustralia-wildfire-map-2020-n1109741&amp;psig=AOvVaw2K6fdiVFIb1OHXp1mcRo24&amp;ust=1578926031404097">NBC News</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bencana-datang-karena-maksiat/">Bencana Datang karena Maksiat?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Alam Sudah Berbicara&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/ketika-alam-sudah-berbicara/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/ketika-alam-sudah-berbicara/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Dec 2018 17:41:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Krakatau]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Krakatau]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1859</guid>

					<description><![CDATA[<p>Indonesia kembali diterpa ujian. Beberapa daerah terkena dampak gelombang tsunami yang diakibatkan oleh aktivitas gunung Anak Krakatau. Ratusan korban jiwa melayang akibat bencana ini. Ketika alam sudah berbicara seperti ini, nampaklah ketidakberdayaan kita sebagai manusia. Mau sekaya, setampan, sekuat apapun kita, tidak ada yang bisa melawan kekuatan alam. Jika faktanya seperti itu, lantas untuk apa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/ketika-alam-sudah-berbicara/">Ketika Alam Sudah Berbicara&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Indonesia kembali diterpa ujian. Beberapa daerah terkena dampak gelombang tsunami yang diakibatkan oleh aktivitas gunung Anak Krakatau. Ratusan korban jiwa melayang akibat bencana ini.</p>
<p><strong>Ketika alam sudah berbicara seperti ini</strong>, nampaklah ketidakberdayaan kita sebagai manusia. Mau sekaya, setampan, sekuat apapun kita, tidak ada yang bisa melawan kekuatan alam.</p>
<p>Jika faktanya seperti itu, lantas untuk apa kita sombong? Segala yang kita sombongkan bisa dalam sekejap dilenyapkan oleh kekuatan alam. Tentu sesuai dengan kehendak-Nya.</p>
<p><strong>Ketika alam sudah berbicara seperti ini</strong>, kita tersadarkan untuk menjalin hubungan yang hangat dengan alam. Mungkin kita sedang ditegur untuk melindungi lingkungan dari keserakahan kita.</p>
<p>Meskipun aktivitas yang terjadi di perut bumi berada di luar kemampuan manusia, setidaknya kita ikut menjaga apa yang nampak di permukaan. Minimal menjaga kebersihan di lingkungan sekitar.</p>
<p><strong>Ketika alam sudah berbicara seperti ini</strong>, apa yang bisa kita lakukan selain meminta pertolongan kepada-Nya? Apakah aktivitas alam ini merupakan peringatan Tuhan kepada kita yang sering lalai dalam menjalani perintah dan menjauhi larangannya?</p>
<p>Mungkin Tuhan masih sayang kepada kita yang masih diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup, walaupun Sujiwo Tejo mengatakan bahwa yang meninggal mungkin lebih selamat daripada kita yang masih hidup.</p>
<blockquote><p><i>Every cloud has a silver</i> <em>lining</em></p></blockquote>
<p>Setiap peristiwa pasti memiliki hikmah yang bisa dipetik, baik untuk keluarga yang ditinggalkan maupun kita yang tidak tersentuh bencana tersebut. Setidaknya, kita bisa sadar bahwa <strong>kematian itu begitu dekat</strong> dan bisa datang kapan saja tanpa permisi.</p>
<p>Jangan sampai kita, terlebih penulis sendiri, menyia-nyiakan waktu yang masih dimiliki.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 Desember 2018, terinspirasi dari bencana alam yang terjadi di Selat Sunda</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.medcom.id/foto/news/akWG9Dak-erupsi-anak-krakatau-di-selat-sunda" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiwhfiG-7jfAhUMvY8KHd0VDOYQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Medcom.id</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/ketika-alam-sudah-berbicara/">Ketika Alam Sudah Berbicara&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/ketika-alam-sudah-berbicara/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hutan Belantara</title>
		<link>https://whathefan.com/sajak/hutan-belantara/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sajak/hutan-belantara/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Jul 2018 07:31:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sajak]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[belantara]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[hutan]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<category><![CDATA[semesta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1036</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hutan belantara yang kita jelajah tanpa peta Membingkai perjalanan dalam cerita Mengikat dengan hangat perasaan kita Memberi kesempatan untuk tumbuhnya cinta Yang dapat hadir tanpa dipinta &#160; Hutan belantara yang tercecer di semesta Tidak bisa dideskripsikan dengan kata Membuat kita terbata Keindahannya yang bagai permata Melenyapkan segala derita &#160; Hutan belantara yang gelap gulita Bagai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/hutan-belantara/">Hutan Belantara</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Hutan belantara yang kita jelajah tanpa peta</p>
<p>Membingkai perjalanan dalam cerita</p>
<p>Mengikat dengan hangat perasaan kita</p>
<p>Memberi kesempatan untuk tumbuhnya cinta</p>
<p>Yang dapat hadir tanpa dipinta</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hutan belantara yang tercecer di semesta</p>
<p>Tidak bisa dideskripsikan dengan kata</p>
<p>Membuat kita terbata</p>
<p>Keindahannya yang bagai permata</p>
<p>Melenyapkan segala derita</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hutan belantara yang gelap gulita</p>
<p>Bagai digoreskan dengan pekatnya tinta</p>
<p>Kekelamannya bukanlah sebuah dusta</p>
<p>Tidak bisa dihayati dengan mata</p>
<p>Membuat kita merenta-renta</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 26 Juli 2018, (lagi-lagi) pengembangan dari sajak karangan Angela</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://unsplash.com/photos/1L71sPT5XKc">https://unsplash.com/photos/1L71sPT5XKc</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/hutan-belantara/">Hutan Belantara</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sajak/hutan-belantara/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Matahari dan Bulan</title>
		<link>https://whathefan.com/sajak/matahari-dan-bulan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sajak/matahari-dan-bulan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Jul 2018 06:52:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sajak]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[Bulan]]></category>
		<category><![CDATA[fajar]]></category>
		<category><![CDATA[Matahari]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[personifikasi]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<category><![CDATA[senja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1034</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aku mengibaratkanmu sebagai matahari Sedang aku hanyalah bulan yang bergantung pada cahayamu Kita dipisahkan sesuatu bernama senja Di kala kau hendak menyembunyikan diri ketika aku menampakkan diri Ketika kau kembali saat fajar menyingsing Aku sudah terlalu lelah untuk sekedar menyapamu &#160; Terkadang bintang menghasutku untuk menghiraukan kodrat kita Menerobos senja maupun fajar yang menjadi penghalang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/matahari-dan-bulan/">Matahari dan Bulan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Aku mengibaratkanmu sebagai matahari</p>
<p>Sedang aku hanyalah bulan yang bergantung pada cahayamu</p>
<p>Kita dipisahkan sesuatu bernama senja</p>
<p>Di kala kau hendak menyembunyikan diri ketika aku menampakkan diri</p>
<p>Ketika kau kembali saat fajar menyingsing</p>
<p>Aku sudah terlalu lelah untuk sekedar menyapamu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terkadang bintang menghasutku untuk menghiraukan kodrat kita</p>
<p>Menerobos senja maupun fajar yang menjadi penghalang kita</p>
<p>Terkadang aku melakukan itu, dan terjadilah gerhana</p>
<p>Pertemuan yang singkat, namun sangat berarti</p>
<p>Entah kau merasakannya juga atau tidak</p>
<p>Aku tak pernah tahu apa yang ada di dalam kepalamu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku hanyalah bulan yang tak akan terlihat tanpa pantulan sinarmu</p>
<p>Itulah yang akan selalu kuingat darimu</p>
<p>Aku tak akan pernah bisa berpaling darimu walau hanya sedetik</p>
<p>Keberadaanmu berarti matahariku</p>
<p>Namun aku tetap hanyalah bulan di malam hari</p>
<p>Kuharap kau paham maksudku</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 26 Juli 2018, pengembangan dari sajak karangan Angela</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://unsplash.com/photos/JPdapbV4C6Q">https://unsplash.com/photos/JPdapbV4C6Q</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/matahari-dan-bulan/">Matahari dan Bulan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sajak/matahari-dan-bulan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Stephen Hawking dan Perenungan Alam Semesta</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Jan 2018 16:07:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[angkasa]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[fisika]]></category>
		<category><![CDATA[hawking]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[jenius]]></category>
		<category><![CDATA[laniakea]]></category>
		<category><![CDATA[luar]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[profesor]]></category>
		<category><![CDATA[sains. astronomi]]></category>
		<category><![CDATA[semesta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=237</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak kecil, saya sudah sering diberi berbagai macam buku bacaan yang sesuai dengan usia saya waktu itu. Yang banyak adalah ensiklopedia anak, salah satunya adalah seri buku Ternyata Bisa, seri yang nampaknya sudah tidak pernah diterbitkan lagi. Diantara tiga judul yang saya punya, saya paling suka yang Ruang Angkasa. Buku inilah yang mengantarkan saya gemar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">Stephen Hawking dan Perenungan Alam Semesta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak kecil, saya sudah sering diberi berbagai macam buku bacaan yang sesuai dengan usia saya waktu itu. Yang banyak adalah ensiklopedia anak, salah satunya adalah seri buku Ternyata Bisa, seri yang nampaknya sudah tidak pernah diterbitkan lagi. Diantara tiga judul yang saya punya, saya paling suka yang Ruang Angkasa. Buku inilah yang mengantarkan saya gemar mempelajari alam semesta.</p>
<p>Ketika beranjak dewasa, saya bertemu dengan Stephen Hawking, seorang jenius yang menjadi profesor di Cambridge, melalui karya-karyanya. Ia terkenal karena menuliskan alam semesta dalam bentuk yang dapat dipahami oleh orang awam. Buku pertama yang saya beli adalah <em>My Brief History</em>, sebuah autobiografi dari seorang Hawking. Meskipun judulnya autobiografi, tetap saja di dalamnya berisi banyak rumus-rumus astronomi yang susah dipahami.</p>
<p>Meskipun di buku pertama mengalami kesulitan dalam memahami isinya, saya tidak kapok untuk kembali membeli buku Hawking yang lainnya. Buku kedua yang saya miliki adalah <em>George&#8217;s Secret Key to the Universe</em>, sebuah novel anak yang beliau tulis bersama anaknya, Lucy. Karena buku anak, tentu sangat mudah untuk memahami isi novel ini.</p>
<p>Karyanya yang paling fenomenal, <em>A Brief History of Time, </em>menjadi buku ketiga yang saya miliki. Buku ini pun juga membuat saya mengerutkan dahi karena bahasanya yang tinggi. Meskipun demikian, tetap saja saya tidak kapok membeli buku Hawking. Maka <em>The Grand Design </em>yang ditulis dengan bahasa filsafat pun telah berada di rak buku sebagai bagian dari koleksi.</p>
<p><div id="attachment_240" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-240" class="wp-image-240 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-1024x494.jpg" alt="" width="1024" height="494" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-1024x494.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-300x145.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-768x370.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-356x172.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1.jpg 1263w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-240" class="wp-caption-text">Buku-Buku Hawking (via https://pics-about-space.com/stephen-hawking-black-holes-book?p=4)</p></div></p>
<p>Selain dari buku, saya pun melihat acara televisinya di <em>National Geographic</em> yang berjudul <em>Genius</em>. Penjelasan berbagai fenomena alam dengan menggunakan analogi yang mudah dipahami membuat saya terpukau dengan berbagai keajaiban alam.</p>
<p>Sebagai contoh, dalam membuktikan bahwa Bumi itu bulat, relawan dalam acara tersebut (satu episode diikuti oleh tiga orang relawan) menggunakan sinar laser dari pinggir pantai -sinar laser dipilih karena arah cahayanya yang lurus. Dalam jarak tertentu, mereka membandingkan tinggi sinar laser tersebut, hingga pada jarak terjauh mereka harus menggunakan helikopter. Selain bisa membuktikan bahwa teori bumi datar itu salah, dengan menggunakan hasil percobaan tersebut kita bisa membuat persamaan yang dapat digunakan untuk menghitung keliling Bumi.</p>
<p>Akan tetapi, episode yang paling berkesan bagi saya adalah ketika episode yang menerangkan ukuran alam semesta. Di akhir acara, ditampilkan sebuah animasi yang berawal dari Bumi, lalu Bumi mengecil hingga tampak <em>solar system </em>kita, lalu mengecil lagi hingga nampak galaksi kita, <em>milky way, </em>mengecil lagi hingga ke <em>supercluster </em>kita, <em>Laniakea</em>. Animasi ini semakin menjauh dan mengecil hingga ke tingkat yang sangat susah dipercaya oleh nalar.</p>
<p>Alam semesta seringkali menjadi bahan perenungan saya. Saat menyadari bagaimana posisi Bumi di alam semesta, saya merasa kecil, merasa bukan apa-apa jika dibandingkan dengan luasnya alam semesta, apalagi dengan Tuhan yang dengan segala kuasa-Nya dapat membuat alam semesta ini begitu teratur. Dengan mengetahui keteraturan alam semesta ini, niscaya semakin tebal pula keimanan kita kepada Tuhan. Oleh karena itu, saya akan tetap mendalami alam semesta kita, walaupun buku-buku yang menjelaskan tentangnya susah untuk dicerna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 24 Januari 2018, setelah bermain game Age of Empires III</p>
<p>Sumber Foto:  <a href="http://www.howitworksdaily.com)">www.howitworksdaily.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">Stephen Hawking dan Perenungan Alam Semesta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
