<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>lagu Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/lagu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/lagu/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Dec 2025 16:32:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>lagu Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/lagu/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tier List Lagu-Lagu IVE Versi Saya (Bagian 1: Single dan EP Jepang)</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-lagu-ive-bagian-1-single-dan-ep-jepang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-lagu-ive-bagian-1-single-dan-ep-jepang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2025 16:24:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[IVE]]></category>
		<category><![CDATA[K-Pop]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[tier list]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8479</guid>

					<description><![CDATA[<p>Karena sudah di penghujung tahun, maka seperti biasa aplikasi YouTube Music yang Penulis gunakan merilis rekap untuk tahun 2025. Tahun ini, Top 5 artis favorit Penulis adalah IVE, Linkin Park, ONE OK ROCK, NOAH, dan TWICE. Sebuah kombinasi yang unik. Penulis memang merasa tahun ini sangat sering mendengarkan lagu-lagu IVE. Bahkan, Penulis mendengarkan semua lagunya, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-lagu-ive-bagian-1-single-dan-ep-jepang/">Tier List Lagu-Lagu IVE Versi Saya (Bagian 1: Single dan EP Jepang)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Karena sudah di penghujung tahun, maka seperti biasa aplikasi <a href="https://whathefan.com/musik/bagaimana-algoritma-youtube-music-membuat-saya-menyelami-k-pop/">YouTube Music</a> yang Penulis gunakan merilis rekap untuk tahun 2025. Tahun ini, Top 5 artis favorit Penulis adalah <a href="https://whathefan.com/musik/i-am-ive/"><strong>IVE</strong></a>, <a href="https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-lagu-linkin-park-versi-saya/"><strong>Linkin Park</strong></a>, <a href="https://whathefan.com/musik/deeper-deeper-one-ok-rock/"><strong>ONE OK ROCK</strong></a>, <a href="https://whathefan.com/musik/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah/"><strong>NOAH</strong></a>, dan <a href="https://whathefan.com/musik/feel-special-twice/"><strong>TWICE</strong></a>. Sebuah kombinasi yang unik.</p>



<p>Penulis memang merasa tahun ini sangat sering mendengarkan lagu-lagu IVE. Bahkan, Penulis mendengarkan semua lagunya, bukan hanya judul-judul utama saja. Penulis belum pernah melakukan ini ke genre<em> </em>K-Pop. Kalau <a href="https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/">genre <em>rock</em></a>, sering.</p>



<p>Alasannya sederhana, Penulis merasa cocok dengan mayoritas lagu IVE. Tidak terlalu imut-imut, tapi juga tidak terlalu <em>badass</em>. Pas di tengah-tengah. Apalagi, IVE sering mengangkat tema <em>self-confidence</em> dan <em>self-love</em>, sehingga banyak lagunya yang membuat Penulis merasa <em>related</em>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/rawpixel-1065670-unsplash-300x200.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/rawpixel-1065670-unsplash-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/rawpixel-1065670-unsplash-768x513.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/rawpixel-1065670-unsplash-1024x684.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/rawpixel-1065670-unsplash-356x238.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/rawpixel-1065670-unsplash.jpg 1050w " alt="Uang Saya Lari Ke Mana Ya?" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/uang-saya-lari-ke-mana-ya/">Uang Saya Lari Ke Mana Ya?</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Tier List IVE</h2>



<p>Berbeda dengan <em>tier list </em>Linkin Park, tidak ada Tier S di sini karena <em>tier </em>tersebut memang khusus untuk satu lagu saja. Penulis hanya menggunakan Tier A yang terbaik hingga Tier E yang terburuk.</p>



<p>Rinciannya, Tier A adalah lagu-lagu yang masuk ke ke <em>playlist </em>dan sering kali Penulis sengaja dengarkan ketika pertama kali membuka YouTube Music. Lagu-lagu yang masuk ke <em>tier </em>ini juga mendominasi rekap tahun 2025 ini karena sering disetel.</p>



<p>Selanjutnya adalah Tier B, yang masih masuk <em>playlist</em>, tapi jarang Penulis setel duluan. Tier C adalah lagu yang tidak masuk ke dalam <em>playlist</em>, tapi tidak Penulis <em>skip </em>jika kebetulan muncul. Tier D masih bisa Penulis dengarkan, walau peluang buat di-<em>skip</em>-nya cukup besar. Tier E adalah lagu yang pasti Penulis <em>skip</em>.</p>



<p>Sama seperti artikel <em>tier list </em>sebelumnya, Penulis akan memberikan skor sesuai tiap album dan EP dengan Tier A bernilai 4 dan Tier E bernilai 0. Untuk <em>single </em>rasanya tidak perlu Penulis beri nilai secara khusus. </p>



<p>Mengingat ada banyak yang ingin Penulis bicarakan untuk lagu-lagu IVE, Penulis jadi ingin membagi tulisan ini menjadi beberapa bagian. Untuk bagian pertama ini, Penulis ingin membahas terlebih dahulu <em>single-single </em>yang pernah dirilis oleh IVE.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Single</h3>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="IVE, David Guetta - Supernova Love Official Music Video" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/fyk6vjwI3wc?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<ul class="wp-block-list">
<li>A: Supernova Love (2024)</li>



<li>B: After LIKE (2022), I Want (2023)</li>



<li>C: Eleven (2021), Take It (2021), Love Dive (2022), SUMMER FESTA (2024)</li>



<li>D: Royal (2022), My Satisfaction (2022), All Night (2024)</li>



<li>E: &#8211;</li>
</ul>



<p>Sebagaimana grup K-Pop pada umumnya, IVE pun debut lewat <em>single</em>&#8211;<em>single</em> terlebih dulu. Saat pertama kali muncul, mereka merilis <em>single </em><strong>&#8220;Eleven&#8221;</strong>, lantas disusul <strong>&#8220;Love Dive&#8221; </strong>dan <strong>&#8220;After LIKE&#8221;.</strong> Masing-masing <em>single </em>memiliki dua lagu, tapi Penulis kurang menikmati lagu lainnya. </p>



<p>Menariknya, Penulis justru tahu belakangan ketiga <em>single </em>awal ini karena memang Penulis mengenal IVE melalui &#8220;Kitsch&#8221; dan &#8220;I Am&#8221;, yang rilis di tahun 2022. Ketiga lagu utama ini cukup lama bertahan di <em>playlist </em>Penulis, tapi kini tinggal tersisa lagu &#8220;After LIKE&#8221;.</p>



<p>Salah satu alasan yang membuat Penulis cukup menyukai &#8220;After LIKE&#8221; adalah karena gara-gara video konser mereka di kanal YouTube First Take. IVE, yang dulu sempat dicibir karena kurangnya kualitas vokal mereka, telah berevolusi menjadi penyanyi yang solid (terutama Liz).</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="IVE - After LIKE / THE FIRST TAKE" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/BiTEQGmPRfQ?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Setelah merilis tiga <em>single</em>, IVE rajin merilis EP, bahkan bisa hingga dua kali dalam satu tahun seperti di tahun 2025 ini. Maka dari itu, tidak banyak <em>single </em>yang mereka rilis. Paling lagu kolaborasi dengan Pepsi, yakni <strong>&#8220;I Want&#8221;</strong> dan <strong>&#8220;Summer Festa&#8221;</strong> yang terkesan <em>fun </em>banget.</p>



<p>IVE juga dua kali berkolaborasi dengan artis luar negeri. Pertama ada <strong>&#8220;Supernova Love&#8221; </strong>yang merupakan hasil kolaborasi dengan David Guetta. Ini adalah salah satu yang paling sering Penulis dengarkan di tahun 2025 ini.</p>



<p>Sebagai lagu EDM, lagu ini terasa seru, tapi juga ada sisi melankolisnya. Setelah diselidiki, ternyata lagu ini menggunakan <em>sampling </em>dari lagu &#8220;Merry Christmas, Mr. Lawrence&#8221; karya legenda Jepang, Ryuichi Sakamoto, yang dibuat untuk veteran perang.</p>



<p>Oh iya, IVE memang terkenal karena suka menggunakan <em>sampling </em>dari lagu lain. &#8220;After LIKE&#8221; misalnya, mengambil <em>sample </em>dari &#8220;I Will Survive&#8221; karya Gloria Gaynor. Namun, lagu tersebut memang cukup sering dijadikan <em>sample </em>oleh musisi lain.</p>



<p><em>Single </em>dengan artis internasional kedua adalah<strong> &#8220;All Night&#8221; </strong>bersama Saweetie. Lagu ini mengingatkan Penulis kepada lagu-lagu pop tahun 2010-an. Karena Penulis bukan penggemar lagu pop, maka Penulis tidak terlalu menyukai lagu ini.</p>



<p>Secara lirik, lagu-lagu di atas memiliki tema yang lebih ringan dan seputar percintaan, sehingga tidak ada yang istimewa bagi Penulis dari sisi ini. Beda cerita dengan dua lagu berbahasa Jepang yang akan Penulis bahas di poin berikutnya.</p>



<h3 class="wp-block-heading">EP Jepang (WAVE, Alive, Be Alright)</h3>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="IVE 아이브 &#039;Be Alright&#039; MV" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/gC7cURZsiH8?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<ul class="wp-block-list">
<li>A: Be Alright (2025), DARE ME (2025)</li>



<li>B: Crush (2024)</li>



<li>C: &#8211;</li>



<li>D: WAVE (2022), Classic (2022), Will (2024)</li>



<li>E: &#8211;</li>
</ul>



<p>IVE dikenal karena kerap merilis lagu<em> </em>berbahasa Jepang (mungkin karena ada Rei yang berasal dari Jepang). Bukan hanya menerjemahkan yang sudah ada ke versi Jepang, tapi benar-benar membuat lagu baru dalam format <em>extended play </em>(EP).</p>



<p>Memang ada beberapa lagu hit mereka yang diterjemahkan ke bahasa Jepang, tapi lagu-lagu tersebut menjadi sekadar pelengkap saja untuk lagu orisinalnya. Setiap EP Jepang akan merilis dua lagu baru beserta tiga lagu &#8220;terjemahan&#8221;. </p>



<p>Awalnya, Penulis tidak terlalu memedulikan lagu-lagu Jepang ini karena menurut Penulis memang tidak terlalu enak. Dari dua EP pertama,<em>WAVE</em> (2022) dan <em>Alive</em> (2024), hanya lagu <strong>&#8220;Crush&#8221;</strong> yang masih masuk ke telinga Penulis.</p>



<p>Namun, semua berubah ketika EP <em>Be Alright </em>rilis di tahun ini. Dua <em>single </em>utamanya, <strong>&#8220;Be Alright&#8221; </strong>dan <strong>&#8220;DARE ME&#8221;</strong>, benar-benar menjadi favorit baru Penulis. Bukan hanya karena musiknya enak, tapi juga maknanya yang dalam dan datang di saat Penulis membutuhkannya!</p>



<p>Penulis tidak ingat bagaimana pertama kali mendengarkan lagu &#8220;Be Alright&#8221;, tapi rasanya lagu itu tiba-tiba muncul begitu saja. Kebetulan, waktu itu ada orang dekat Penulis yang sedang khawatir dengan situasi kehidupannya. Lagu ini pun Penulis kirimkan kepadanya.</p>



<p>Sesuai dengan judulnya, lagu ini menjadi semacam penyemangat kalau semua akan baik-baik saja, seberat apa pun rasanya saat ini. Lagu ini juga membuat Penulis teringat lagu &#8220;Three Little Birds&#8221; dari Bob Marley. Penulis akan taruh liriknya di bawah ini:</p>



<p><strong>It&#8217;s gonna be alright<br></strong><em>Ini akan baik-baik saja</em></p>



<p><strong>Don&#8217;t worry about tomorrow 弾ける<strong>(hajikeru)</strong></strong> <strong>emotion</strong> <br><em>Jangan khawatirkan hari esok, emosi yang meluap</em></p>



<p><strong>心配いらない (shinpai iranai</strong>) <strong>it&#8217;s gonna be alright<br></strong><em>Tidak perlu khawatir, ini akan baik-baik saja</em></p>



<p><strong>超えてゆく想像 さあおいでよ (koete yuku souzou</strong> <strong>saa oide yo )</strong> <strong>follow<br></strong><em>Melampaui imajinasi, ayo ikutlah (padaku)</em></p>



<p><strong>I know it&#8217;s gonna be, it&#8217;s gonna be alright<br></strong><em>Aku tahu ini akan jadi, ini akan baik-baik saja</em></p>



<p>Lagu ini sekarang Penulis jadikan &#8220;alat&#8221; ketika mulai merasa khawatir berlebihan terhadap segala sesuatu. Lagu ini jadi pengingat bahwa semua akan baik-baik saja, yang penting fokus dengan apa yang kita lakukan saat ini.</p>



<p>Sementara itu, Penulis jatuh cinta dengan lagu &#8220;DARE ME&#8221; karena IVE membawakan lagu ini di kanal First Take juga. Jika &#8220;Be Alright&#8221; mengingatkan kita untuk tidak <em>overthinking </em>berlebihan, maka lagu ini jadi pengingat untuk percaya ke diri sendiri. </p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="IVE - DARE ME / THE FIRST TAKE" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/8k0Myd9F8to?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Coba saja lihat liriknya di bawah ini pada bagian <em>chorus </em>dan<em> post chorus-</em>nya berikut ini:</p>



<p><strong>[CHORUS]</strong></p>



<p><strong>Dare me, dare me!<br></strong><em>Tantang aku, tantang aku!</em></p>



<p><strong>Believe myself<br></strong><em>Percayai diriku sendiri</em></p>



<p><strong>ダメな自分も愛して (Dame na jibun mo aishite)<br></strong><em>Cintai juga dirimu yang tidak sempurna</em></p>



<p><strong>I know that I can shine again<br></strong><em>Aku tahu bahwa aku bisa bersinar lagi</em></p>



<p><strong>さぁ羽を広げて (Saa hane o hirogete)<br></strong><em>Ayo, rentangkan sayapmu</em></p>



<p><strong>Don&#8217;t be afraid to make mistakes<br></strong><em>Jangan takut membuat kesalahan</em></p>



<p><strong>Keep trying, trying daily<br></strong><em>Teruslah mencoba, mencoba setiap hari</em></p>



<p><strong>Just keep moving toward your dream, yeah<br></strong><em>Teruslah bergerak menuju impianmu, yeah</em></p>



<p><strong>[POST-CHORUS]</strong></p>



<p><strong>Believe me, believe me, believe myself<br></strong><em>Percayalah padaku, percayalah padaku, percayai diriku sendiri</em></p>



<p><strong>誰に何を言われたって yeah (Dare ni nani o iwaretatte yeah)<br></strong><em>Tidak peduli orang akan mengatakan apa pun (padaku) yeah</em></p>



<p><strong>I L-O-V-E M-E, yes<br></strong><em>Aku C-I-N-T-A D-I-R-I-K-U, ya</em></p>



<p><strong>Believe me, believe me, just be myself<br></strong><em>Percayalah padaku, percayalah padaku, jadilah diriku sendiri saja</em></p>



<p><strong>ありのままの私でいいの yeah (Ari no mama no watashi de ii no yeah)<br></strong><em>Tidak apa-apa menjadi diriku apa adanya, yeah</em></p>



<p><strong>I L-O-V-E M-E, yes<br></strong><em>Aku C-I-N-T-A D-I-R-I-K-U, ya</em></p>



<p>Karena liriknya yang mendalam dan kebetulan secara musik juga enak, tak heran kalau kedua lagu masuk ke Tier A dan belakangan begitu sering Penulis dengarkan. Apalagi harmonisasi suara Yujin dan Liz di lagu &#8220;DARE ME&#8221;, pantas mendapatkan apresiasi.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Setelah bertahun-tahun mendengarkan lagu K-Pop, baru kali ini Penulis merasa begitu memperhatikan liriknya. Penulis tidak bahasa Korea, tapi ketika mendengarkan lagu IVE, Penulis punya <em>feeling </em>lagunya ingin menyampaikan pesan penting dan ternyata memang terbukti.</p>



<p>Padahal, baru dua lagu dari EP Jepang yang Penulis jadikan contoh. Masih ada banyak lagi lagu lain yang bertema <em>self-love</em>, <em>self-confidence</em>, bahkan <em>self-acceptance </em>di lagu-lagu utama mereka, yang akan Penulis bahas di artikel selanjutnya.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 11 Desember 2025, terinspirasi setelah IVE menjadi artis yang paling sering Penulis dengarkan di tahun 2025 melalui aplikasi YouTube Music</p>



<p>Foto Featured Image: YouTube</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-lagu-ive-bagian-1-single-dan-ep-jepang/">Tier List Lagu-Lagu IVE Versi Saya (Bagian 1: Single dan EP Jepang)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-lagu-ive-bagian-1-single-dan-ep-jepang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tier List Lagu-Lagu Linkin Park Versi Saya</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-lagu-linkin-park-versi-saya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-lagu-linkin-park-versi-saya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Jun 2024 16:51:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[tier list]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7551</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika membuka rubrik Musik di blog ini, mayoritas artikelnya membahas seputar K-Pop, karena memang genre tersebut yang sedang Penulis sering dengarkan selama satu setengah tahun terakhir. Karena masih baru, makanya Penulis banyak melakukan eksplorasi. Namun, mau sebanyak apapun Penulis &#8220;berkenalan&#8221; dengan girlband Korea atau mendengarkan lagu K-Pop, tetap saja genre favorit Penulis tetap rock, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-lagu-linkin-park-versi-saya/">Tier List Lagu-Lagu Linkin Park Versi Saya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Jika membuka rubrik Musik di blog ini, <a href="https://whathefan.com/musik/benarkah-girlband-k-pop-gen-4-tidak-perlu-bisa-menyanyi-bagian-1/">mayoritas artikelnya membahas seputar K-Pop</a>, karena memang genre tersebut yang sedang Penulis sering dengarkan selama satu setengah tahun terakhir. Karena masih baru, makanya Penulis banyak melakukan eksplorasi.</p>



<p>Namun, mau sebanyak apapun Penulis &#8220;berkenalan&#8221; dengan <em>girlband </em>Korea atau <a href="https://whathefan.com/musik/benarkah-girlband-k-pop-gen-4-tidak-perlu-bisa-menyanyi-bagian-2/">mendengarkan lagu K-Pop</a>, tetap saja <a href="https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/">genre favorit Penulis tetap <em>rock</em></a>, dan <strong>Linkin Park</strong> tetap menjadi musisi favorit meskipun sudah ditinggalkan oleh <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/chester-2-tahun-yang-lalu/">Chester Bennington</a>. </p>



<p>Sebelumnya, Penulis sudah pernah menulis artikel <em><a href="https://whathefan.com/musik/20-lagu-terbaik-linkin-park-versi-saya/">20 Lagu Terbaik Linkin Park Versi Saya</a></em>. Namun, Penulis merasa kalau dirinya perlu membuat semacam <em>tier list </em>untuk menilai semua lagu Linkin Park.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/setelah-membaca-a-happy-life-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/setelah-membaca-a-happy-life-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/setelah-membaca-a-happy-life-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/setelah-membaca-a-happy-life-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/setelah-membaca-a-happy-life-banner.jpg 1200w " alt="[REVIEW] Setelah Membaca A Happy Life: Sebuah Perenungan" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-a-happy-life-sebuah-perenungan/">[REVIEW] Setelah Membaca A Happy Life: Sebuah Perenungan</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Tier List Lagu Linkin Park</h2>



<p>Dalam membuat <em>tier list </em>ini, Penulis akan membuatnya per album, dari <em>Hybrid Theory </em>(2000) hingga <em>One More Light </em>(2017). Setelah itu, Penulis akan menghitung skor tiap album untuk menentukan mana urutannya dari yang terabik hingga terburuk.</p>



<p>Dalam membuat <em>tier list</em>, Penulis membuat Tier S hingga Tier E. Hanya ada satu lagu yang ke Tier S, yang menandakan kalau lagu itu menjadi lagu favorit Penulis seumur hidup. Untuk lagu yang selalu masuk ke <em>playlist</em>, akan Penulis masukkan ke dalam Tier A.</p>



<p>Tier B akan berisikan lagu-lagu yang sebenarnya juga masuk ke <em>playlist</em>, tapi terkadang ada perasaan bosan mendengarkannya. Tier C berisi lagu yang sebenarnya cukup favorit, tapi tidak sampai masuk ke dalam <em>playlist.</em></p>



<p>Tier D adalah lagu-lagu yang cukup Penulis hindari, tapi masih oke untuk didengarkan. Tier E atau yang paling rendah berisi lagu yang akan Penulis <em>skip</em>. Ya, walaupun ini Linkin Park, tetap saja ada lagu yang masuk ke dalam kategori tersebut.</p>



<p>Selain itu, Penulis juga akan memberikan skor untuk setiap Tier, di mana Tier S memiliki skor 5 dan Tier E memiliki skor 0. Dengan demikian, nanti akan jadi ketahuan album mana yang memiliki skor tertinggi (berdasarkan skor akhir dibagi jumlah lagu di album tersebut) versi Penulis.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Tier List Hybrid Theory (2000)</h3>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Papercut [Official HD Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/vjVkXlxsO8Q?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<ul class="wp-block-list">
<li>S: &#8211;</li>



<li>A: Papercut, Pushing Me Away</li>



<li>B: In the End, A Place for My Head</li>



<li>C: One Step Closer, With You, Crawling, Points of Authority, Runaway, By Myself, Forgotten, Cure for the Itch</li>



<li>D: &#8211; </li>



<li>E: &#8211;</li>
</ul>



<p>Di album pertama, <em><strong><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-hybrid-theory/">Hybrid Theory</a></strong></em>, bisa dibilang tidak ada lagu yang tidak bisa didengarkan. Meskipun kebanyakan masuk ke Tier C, album ini mau bagaimanapun menjadi &#8220;perkenalan&#8221; Linkin Park kepada para penggemarnya.</p>



<p>Meskipun hanya dua lagu yang berhasil masuk ke Tier A, Penulis harus menyebutkan kalau lagu &#8220;Papercut&#8221; adalah lagu favoritnya nomor dua dari Linkin Park. Jika ada Tier di antara S dan A, Penulis akan memasukkan lagu ini ke Tier tersebut.</p>



<p><strong>Skor Akhir: 30</strong> <strong>(Rata-Rata: 2,5)</strong></p>



<h3 class="wp-block-heading">Tier List Meteora (2003)</h3>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Numb (Official Music Video) [4K UPGRADE] – Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/kXYiU_JCYtU?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<ul class="wp-block-list">
<li>S: Numb</li>



<li>A: Don&#8217;t Stay, Somewhere I Belong, Lying from You, Easier to Run, Breaking the Habit, From the Inside</li>



<li>B: Faint, Session</li>



<li>C: Hit the Floor, Figure, Nobody Listening</li>



<li>D: Foreword</li>



<li>E: &#8211;</li>
</ul>



<p>Seperti yang sudah Penulis singgung beberapa kali, <em><strong><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-meteora/">Meteora</a> </strong></em>adalah album favorit Penulis dan menganggapnya sebagai album terbaik sepanjang masa. Album ini juga menjadi satu-satunya yang menyumbangkan lagu dengan Tier S melalui lagu &#8220;Numb.&#8221;</p>



<p>Selain itu, bisa dilihat jika album ini memiliki banyak sekali lagu yang masuk ke dalam Tier A. Sama seperti <em>Hybrid Theory</em>, tidak ada lagu yang tidak enak dari album ini, kecuali &#8220;Foreword&#8221; yang suaranya memang cuma begitu saja.</p>



<p>Hal tersebut membuat skor dari album ini sangat tinggi dibandingkan dengan album-album Linkin Park lainnya.</p>



<p><strong><strong>Skor </strong>Akhir: 42</strong> <strong>(Rata-Rata: 3,23)</strong></p>



<h3 class="wp-block-heading">Tier List Minutes to Midnight (2007)</h3>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Leave Out All The Rest (Official Music Video) [4K Upgrade] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/yZIummTz9mM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<ul class="wp-block-list">
<li>S: &#8211;</li>



<li>A: Leave Out All the Rest, Shadow of the Day</li>



<li>B: Given Up, Bleed It Out</li>



<li>C: Wake, What I’ve Done, Hands Held High, No More Sorrow</li>



<li>D: Valentine’s Day, In Between, In Pieces, The Little Things Give You Away</li>



<li>E: &#8211;</li>
</ul>



<p>Sejujurnya, <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-minutes-to-midnight/">Minutes to Midnight</a> </em>adalah album yang kurang Penulis sukai. Akan tetapi, ternyata setelah dihitung skornya berdasarkan <em>tier list </em>di atas, skornya masih lumayan tinggi dan di luar ekspektasi.</p>



<p>Pada artikel <em>20 Lagu Terbaik Linkin Park Versi Saya</em>, Penulis hanya meletakkan lagu &#8220;Leave Out All the Rest&#8221; di peringkat 10, di bawah lagu-lagu dari enam album lainnya. Ini menunjukkan kalau sebenarnya album ini memang kurang Penulis sukai, meskipun tidak sampai ada yang masuk ke Tier E.  </p>



<p><strong><strong>Skor </strong>Akhir: 26 (Rata-Rata: 2,17)</strong></p>



<h3 class="wp-block-heading">Tier List A Thousand Suns (2010)</h3>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Waiting For The End (Official Music Video) [4K Upgrade] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/5qF_qbaWt3Q?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<ul class="wp-block-list">
<li>S: &#8211;</li>



<li>A: Waiting for the End</li>



<li>B: The Requiem, Burning in the Skies</li>



<li>C: The Radiance, When They Come for Me, Jornada Del Muerto, Blackout, Iridescent, The Catalyst</li>



<li>D: Empty Space, Robot Boy, Wretches and Kings, Wisdom, Justice, and Love, The Fallout</li>



<li>E: The Messenger</li>
</ul>



<p>Penulis sudah pernah menyebutkan kalau album <em><strong><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-a-thousand-suns/">A Thousand Suns</a> </strong></em>menjadi album favoritnya secara konsep, yang nyambung dari depan hingga belakang. Sayangnya, hal tersebut membuat skor album ini cukup jatuh dan menjadi yang terburuk di antara yang lain.</p>



<p>Alasannya, banyak lagu-lagu di album ini yang hanya berfungsi sebagai <em>bridging</em>, bukan sebagai lagu utuh. Memang Penulis suka &#8220;The Requiem,&#8221; tapi yang lain kurang suka. Belum lagi lagu &#8220;The Messenger&#8221; yang benar-benar tidak Penulis sukai.</p>



<p><strong><strong>Skor </strong>Akhir: 27 (Rata-Rata: 1,8)</strong></p>



<h3 class="wp-block-heading">Tier List Living Things (2012)</h3>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="CASTLE OF GLASS (Official Music Video) [4K Upgrade] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/ScNNfyq3d_w?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<ul class="wp-block-list">
<li>S: &#8211;</li>



<li>A: In My Remains, Lies Greed Misery, Castle of Glass, Road Untraveled, Powerless</li>



<li>B: Until It Breaks</li>



<li>C: Lost in the Echo, Tinfoil</li>



<li>D: Burn It Down, I’ll Be Gone</li>



<li>E: Skin to Bone</li>
</ul>



<p><em><strong><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-living-things/">Living Things</a> </strong></em>menjadi album yang menyumbangkan lagu di Tier A terbanyak setelah <em>Meteora</em> dengan lima lagu. Hal tersebut membuat album ini memiliki skor yang cukup tinggi, hanya kalah dari dua album pertama Linkin Park.</p>



<p>&#8220;Castle of Glass&#8221; yang menjadi lagu urutan keenam di album ini menjadi lagu favorit Penulis nomor 3. Namun, album ini juga memiliki lagu yang sangat Penulis hindari, yakni &#8220;Skin to Bone.&#8221; </p>



<p><strong><strong>Skor </strong>Akhir: 29</strong> <strong>(Rata-Rata:2,42)</strong></p>



<h3 class="wp-block-heading">Tier List The Hunting Party (2014)</h3>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Final Masquerade [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/i8q8fFs3kTM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<ul class="wp-block-list">
<li>S: &#8211;</li>



<li>A: Rebellion, Final Masquerade</li>



<li>B: Keys to the Kingdom, Wasteland</li>



<li>C: All for Nothing, Guilty All the Same, War, Until It’s Gone.</li>



<li>D: The Summoning</li>



<li>E: Mark the Graves, Drawbar, A Line in the Sand</li>
</ul>



<p>Di antara semua album Linkin Park, <em><strong><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-the-hunting-party/">The Hunting Party</a></strong> </em>menjadi penyumbang Tier List E terbanyak. Tiga lagu yang Penulis masukkan ke <em>tier </em>ini benar-benar tidak Penulis sukai dan selalu di-<em>skip </em>jika tiba-tiba muncul di pemutar musiknya.</p>



<p>Hal tersebut sebenarnya cukup Penulis sayangkan, mengingat Penulis sangat menyukai lagu &#8220;Rebellion&#8221; dan &#8220;Final Masquerade.&#8221; Namun, bisa dibilang hanya dua lagu tersebut yang benar-benar Penulis suka dari album ini.</p>



<p><strong><strong>Skor </strong>Akhir: 23</strong> <strong>(Rata-Rata: 1,92)</strong></p>



<h3 class="wp-block-heading">Tier List One More Light (2017)</h3>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Heavy [Official Music Video] - Linkin Park (feat. Kiiara)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/5dmQ3QWpy1Q?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<ul class="wp-block-list">
<li>S: &#8211;</li>



<li>A: Heavy</li>



<li>B: One More Light</li>



<li>C: Nobody Can Save Me, Good Goodbye, Talking to Myself, Battle Symphony, Invisible, Sorry for Now, Halfway Right</li>



<li>D: Sharp Edges</li>



<li>E: &#8211;</li>
</ul>



<p>Album terakhir Linkin Park, <em><strong><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-one-more-light/">One More Light</a></strong></em>, bisa dibilang sebagai album paling medioker. Sama seperti <em>Hybrid Theory</em>, mayoritas lagu di album ini masuk ke Tier C. Suka enggak, tapi seenggaknya masih oke untuk didengarkan.</p>



<p>Selain itu, sama seperti album <em>A Thousand Suns</em>, hanya ada satu lagu dari album ini yang berhasil masuk ke dalam 20 lagu favorit Linkin Park versi Penulis. Setidaknya, album ini tidak memiliki lagu yang layak untuk masuk ke Tier List E. </p>



<p><strong><strong>Skor </strong>Akhir: 22</strong> (Rata-Rata: 2,2)</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Berdasarkan perhitungan skor dari <em>tier list </em>di atas, maka bisa disimpulkan kalau menurut Penulis album terbaik dari Linkin Park adalah <em>Meteora</em>, dan yang paling buruk adalah <em>A Thousand Suns</em>. Pembaca bisa melihat daftar lengkapnya di bawah ini (diurutkan berdasarkan rata-rata skornya):</p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Meteora </strong>&#8211; Bobot Akhir: 42 (Rata-Rata: 3,23)</li>



<li><strong>Hybrid Theory</strong> &#8211; Bobot Akhir: 30 (Rata-Rata: 2,5)</li>



<li><strong>Living Things </strong>&#8211; Bobot Akhir: 29 (Rata-Rata:2,42)</li>



<li><strong>One More Light</strong> &#8211; Bobot Akhir: 22 (Rata-Rata: 2,2)</li>



<li><strong>Minutes to Midnight</strong> &#8211; Bobot Akhir: 26 (Rata-Rata: 2,17)</li>



<li><strong>The Hunting Party</strong> &#8211; Bobot Akhir: 23 (Rata-Rata: 1,92)</li>



<li><strong>A Thousand Suns</strong> &#8211; Bobot Akhir: 27 (Rata-Rata: 1,8)</li>
</ol>



<p>Jika ditotal, maka ada Tier S memiliki 1 lagu, Tier A memiliki 19 lagu, Tier B memiliki 12 lagu, Tier C memiliki 34 lagu, Tier D memiliki 14 lagu, dan Tier E memiliki 5 lagu. Pembaca bisa melihat rekap lengkapnya di bawah ini:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>S: Numb</li>



<li>A: Papercut, Pushing Me Away, Don&#8217;t Stay, Somewhere I Belong, Lying from You, Easier to Run, Breaking the Habit, From the Inside, Leave Out All the Rest, Shadow of the Day, Waiting for the End, In My Remains, Lies Greed Misery, Castle of Glass, Road Untraveled, Powerless, Rebellion, Final Masquerade, Heavy</li>



<li>B: In the End, A Place for My Head, Faint, Session, Given Up, Bleed It Out,  The Requiem, Burning in the Skies, Until It Breaks, Keys to the Kingdom, Wasteland, One More Light</li>



<li>C: One Step Closer, With You, Crawling, Points of Authority, Runaway, By Myself, Forgotten, Cure for the Itch, Hit the Floor, Figure, Nobody Listening, Wake, What I’ve Done, Hands Held High, No More Sorrow, The Radiance, When They Come for Me, Jornada Del Muerto, Blackout, Iridescent, The Catalyst, Lost in the Echo, Tinfoil, All for Nothing, Guilty All the Same, War, Until It’s Gone, Nobody Can Save Me, Good Goodbye, Talking to Myself, Battle Symphony, Invisible, Sorry for Now, Halfway Right</li>



<li>D: Foreword, Valentine’s Day, In Between, In Pieces, The Little Things Give You Away, Empty Space, Robot Boy, Wretches and Kings, Wisdom, Justice, and Love, The Fallout, Burn It Down, I’ll Be Gone, The Summoning, Sharp Edges</li>



<li>E: The Messenger, Skin to Bone, Mark the Graves, Drawbar, A Line in the Sand</li>
</ul>



<ul class="wp-block-list"></ul>



<ul class="wp-block-list"></ul>



<p>Kurang lebih seperti itu <em>tier list </em>lagu Linkin Park versi Penulis. Sebenarnya Penulis ingin memasukkan beberapa lagu non-album, tapi ini saja sudah cukup banyak. Mungkin nanti Penulis akan membuat artikel yang khusus membahas lagu-lagu tersebut.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 28 Juni 2024, terinspirasi setelah ingin menulis artikel tentang Linkin Park lagi</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.billboard.com/music/rock/chester-bennington-grey-daze-whats-in-the-eye-8548274/">Billboard</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-lagu-linkin-park-versi-saya/">Tier List Lagu-Lagu Linkin Park Versi Saya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-lagu-linkin-park-versi-saya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Feel My Rhythm: Red Velvet</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/feel-my-rhythm-red-velvet/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/feel-my-rhythm-red-velvet/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Jun 2024 16:55:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[K-Pop]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[Red Velvet]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7465</guid>

					<description><![CDATA[<p>Blackpink (YG Entertainment) sudah, Twice (JYP Entertainemnt) sudah. Artinya, tinggal satu lagi girlband yang dianggap sebagai Big 3 dari gen 3 yang belum Penulis eksplorasi musiknya, yaitu Red Velvet dari SM Entertainment. Penulis sendiri sebenarnya tidak asing dengan Red Velvet, mengingat dulu ada salah satu teman kantornya yang merupakan penggemar dari girlband beranggotakan Irene, Wendy, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/feel-my-rhythm-red-velvet/">Feel My Rhythm: Red Velvet</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="https://whathefan.com/musik/forever-young-blackpink/">Blackpink</a> (YG Entertainment) sudah, <a href="https://whathefan.com/musik/feel-special-twice/">Twice</a> (JYP Entertainemnt) sudah. Artinya, tinggal satu lagi <em>girlband </em>yang dianggap sebagai Big 3 dari gen 3 yang belum Penulis eksplorasi musiknya, yaitu <strong>Red Velvet</strong> dari SM Entertainment. </p>



<p>Penulis sendiri sebenarnya tidak asing dengan Red Velvet, mengingat dulu ada salah satu teman kantornya yang merupakan penggemar dari <em>girlband </em>beranggotakan Irene, Wendy, Seulgi, Joy, dan Yeri ini. </p>



<p>Salah satu komentar dari teman kantor Penulis yang paling nempel adalah video-video klip Red Velvet kerap identik dengan nuansa <em>creepy</em>, berbeda dengan Blackpink yang berkonsep <em>girl crush </em>atau Twice yang terkesan imut. Ternyata, hal tersebut (separuh) benar.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-300x200.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1.jpg 2048w " alt="Chapter 10 Perjanjian Damai" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-10-perjanjian-damai/">Chapter 10 Perjanjian Damai</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Lagu-Lagu Red Velvet yang Penulis Dengarkan</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Red Velvet 레드벨벳 &#039;Psycho&#039; MV" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/uR8Mrt1IpXg?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Dulu sekali, satu-satunya lagu Red Velvet yang Penulis ketahui adalah &#8220;<strong>Psycho</strong>.&#8221; Itu pun hanya mendengarkannya sambil lewat, tidak pernah mendengarkannya secara utuh. Baru setelah <a href="https://whathefan.com/musik/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice/">berkenalan dengan Twice-lah</a> Penulis jadi mencoba untuk mendengarkannya.</p>



<p>Namun, justru karena lagu &#8220;<strong>Feel My Rhythm</strong>&#8220;-lah yang membuat Penulis memutuskan untuk mendalami Red Velvet. Penulis akan membahas lagu ini secara khusus di bawah karena menurut Penulis ini adalah lagu K-Pop terindah yang pernah didengarkan.</p>



<p>Lagu-lagu Red Velvet selanjutnya yang berhasil menarik perhatian Penulis adalah &#8220;<strong>Bad Boy</strong>&#8221; dan &#8220;<strong>Peek-a-Boo</strong>&#8221; karena memiliki keunikannya sendiri. Keduanya langsung masuk ke dalam daftar Liked Music Penulis di <a href="https://whathefan.com/musik/bagaimana-algoritma-youtube-music-membuat-saya-menyelami-k-pop/">YouTube Music</a>.</p>



<p>Setelah empat lagu tersebut, makin banyak lagu Red Velvet yang masuk ke dalam <em>playlist </em>Penulis, seperti &#8220;<strong>Queendom</strong>,&#8221; &#8220;<strong>Red Flavor</strong>,&#8221; &#8220;<strong>Ice Cream Cake</strong>,&#8221; &#8220;<strong>Happiness</strong>,&#8221; &#8220;<strong>Really Bad Boy</strong>,&#8221; hingga yang terbaru &#8220;<strong>Chill Kill</strong>.&#8221;</p>



<p>Salah satu alasan mengapa Penulis bisa masuk dengan musik Red Velvet adalah kualitas vokal <em>member</em>-nya yang menurut Penulis di atas Blackpink dan Twice, bahkan cukup jauh. Maklum, mereka anak SM yang terkenal dengan kualitas vokalnya.</p>



<p>Penulis pribadi sangat mengagumi kualitas vokal Wendy, terutama setelah melihat<em> </em>proses perekaman lagu &#8220;Feel My Rhythm&#8221; di mana ia banyak memberikan <em>input</em>. Selain itu, Seulgi dan Joy juga memiliki kualitas suara yang <a href="https://whathefan.com/musik/benarkah-girlband-k-pop-gen-4-tidak-perlu-bisa-menyanyi-bagian-1/">tak banyak dimiliki oleh <em>girlband </em>dari gen 4</a>. </p>



<p>Bahkan, Irene dan Yeri yang lebih sering mengisi <em>part rap </em>secara kualitas vokal juga cukup oke, walau tentu tak sebagus tiga nama sebelumnya. Kualitas vokal anak SM memang tak kaleng-kaleng</p>



<h2 class="wp-block-heading">Feel My Rhythm</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Red Velvet 레드벨벳 &#039;Feel My Rhythm&#039; MV" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/R9At2ICm4LQ?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Dari pertama kali muncul dari algoritma YouTube Music, Penulis langsung jatuh hati kepada lagu &#8220;Feel My Rhythm&#8221; dari detik pertama. Bagaimana tidak, dari intro saja mereka langsung menggunakan <em>sample </em>dari lagu klasik &#8220;<strong>Air on the G String</strong>&#8221; gubahan <strong>Johann Sebastian Bach</strong>.</p>



<p>Walaupun bukan pendengar intens, Penulis cukup menikmati musik-musik klasik terutama karya Wolfgang Amadeus Mozart dan Ludwig van Beethoven. Penulis memiliki beberapa CD orisinal mereka dan kerap mendengarkannya saat sedang belajar.</p>



<p>Penulis juga pernah mendengarkan Bach mengingat waktu kecil pernah membaca komik biografinya. Apalagi, &#8220;Air on the G String&#8221; merupakan salah satu lagu klasik yang paling <em>mainstream</em>, sehingga Penulis cukup familiar dengan nadanya. </p>



<p>Oleh karena itu, begitu mendengar ada alunan lagu ini di lagu K-Pop, Penulis cukup tercengang karena itu adalah kali pertama Penulis mengetahui kalau lagu klasik bisa dimasukkan ke lagu K-Pop yang lebih modern. </p>



<p>Tidak hanya digunakan di intro, <em>sample </em>&#8220;Air on the G String&#8221; juga kembali terdengar di bagian <em>reff</em>. Meskipun ada yang berpendapat kalau hal tersebut membuat <em>reff </em>terdengar terlalu ramai, menurut Penulis sang produser mampu menempatkannya dengan harmoni yang pas.</p>



<p>Mungkin lagu ini tidak terlalu memamerkan nada tinggi dari Wendy maupun Seulgi seperti di lagu <em>Happiness </em>atau <em>Red Flavor</em>, tapi tetap terasa mewah dan elegan. Suara mereka terdengar selaras dengan konsep lagunya. Vokal Joy yang kerap menjadi <em>bridging </em>pun juga sangat pas.</p>



<p>Dalam sebuah video <em>reaction </em>yang dilakukan musisi klasik dan <em>jazz</em>, mayoritas dari mereka menganggap kalau lagu ini memang sebuah karya yang luar biasa. Lagu ini seolah berhasil menggabungkan dua musik dari dua era yang jauh berbeda (&#8220;Air on the G String rilis tahun 1871, satu setengah abad sebelum &#8220;Feel My Rhythm&#8221; rilis). </p>



<p>Penempatan &#8220;Air on the G String&#8221; dalam lagu dilakukan dengan cerdik, dengan beberapa perubahan untuk menyesuaikan dengan lagu &#8220;Feel My Rhythm&#8221; itu sendiri. <em>Sample </em>dari lagu tersebut bisa dibilang tersebar dari awal hingga akhir lagu.</p>



<p>Seni dalam lagu &#8220;Feel My Rhythm&#8221; tidak hanya berhenti di &#8220;Air on the G String&#8221; saja. Di video klipnya, ada banyak referensi ke lukisan-lukisan klasik, tapi yang paling menonjol adalah karya-karya <strong>Hieronymus Bosch</strong> yang terkenal karena lukisan-lukisannya yang &#8220;unik.&#8221;</p>



<p>Karena beberapa alasan tersebutlah Penulis menganggap kalau lagu &#8220;Feel My Rhythm&#8221; adalah lagu K-Pop terindah yang pernah Penulis dengarkan. Satu-satunya bagian yang kurang Penulis sukai hanyalah bagian akhirnya yang seolah &#8220;langsung berhenti.&#8221;</p>



<h2 class="wp-block-heading">Dua Kepribadian Red Velvet</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Red Velvet 레드벨벳 &#039;Chill Kill&#039; MV" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/xlyrt5eAtKI?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Dari video-video klip yang pernah Penulis tonton, Red Velvet memang seolah digambarkan memiliki dua kepribadian atau bisa disebut juga sebagai <em>mood</em>, yakni <strong>Halloween (<em>creepy</em>) </strong>dan <strong>Summer</strong>. Padahal, dua hal tersebut saling bertolak belakang.</p>



<p>Video klip yang termasuk ke kategori Halloween adalah &#8220;Psycho,&#8221; &#8220;Bad Boy,&#8221; &#8220;Peek-A-Boo,&#8221; &#8220;Really Bad Boy,&#8221; hingga &#8220;Chill Kill&#8221; memiliki kesan yang suram dan gelap. Mau tidak mau, kesan tersebut terbawa ketika mendengarkan lagunya saja.</p>



<p>Sedangkan lagu &#8220;Russian Roulette,&#8221; &#8220;Queendom,&#8221; &#8220;Red Flavor,&#8221; &#8220;Ice Cream Cake,&#8221; &#8220;Rookie,&#8221; &#8220;Dumb Dumb,&#8221; hingga &#8220;Happiness&#8221; memiliki kesan Summer yang lebih ceria dan bersemangat. Kesan <em>creepy</em>, kecuali di &#8220;Russian Roulette,&#8221; hampir tidak terasa sama sekali. </p>



<p>Lantas, bagaimana dengan lagu &#8220;Feel My Rhythm&#8221; yang Penulis sukai? Rasanya lagu tersebut bisa dimasukkan ke kedua kepribadian. Meskipun kesan Summer-nya cukup kuat, ada beberapa bagian yang lebih cocok untuk dimasukkan ke dalam kategori Halloween.</p>



<p>Saat artikel ini ditulis, Red Velvet telah mengumumkan akan merilis album terbarunya berjudul <em>Love is COSMIC</em> yang akan rilis pada tanggal 24 Juni 2024. Dilihat dari video trailernya, tampaknya konsep <em>creepy </em>masih dipertahankan oleh mereka di usia yang ke-10. </p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 20 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari vokal Red Velvet yang luar biasa</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.sportskeeda.com/pop-culture/red-velvet-s-extravagant-set-feel-my-rhythm-dance-performance-video-leaves-fans-awehttps://www.sportskeeda.com/pop-culture/red-velvet-s-extravagant-set-feel-my-rhythm-dance-performance-video-leaves-fans-awe">Sportskeeda</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.youtube.com/watch?v=v1w3DS1lE0s&amp;t=214s">Classical &amp; Jazz Musicians React: Red Velvet &#8216;Feel My Rhythm&#8217; &#8211; YouTube</a></li>



<li><a href="https://tkunt.medium.com/red-velvet-%EB%A0%88%EB%93%9C%EB%B2%A8%EB%B2%B3-feel-my-rhythm-a-comprehensive-list-of-all-references-and-themes-draft-21275cde974">Red Velvet (레드벨벳) “Feel My Rhythm” — A comprehensive list of all references and themes | by Tim | Medium</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/feel-my-rhythm-red-velvet/">Feel My Rhythm: Red Velvet</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/feel-my-rhythm-red-velvet/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Awal Perkenalan dengan Twice, Park Jihyo, dan Time to Twice</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Mar 2023 04:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[girlband]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Jihyo]]></category>
		<category><![CDATA[K-Pop]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[Twice]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6342</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah &#8220;berkenalan&#8221; dengan Blackpink karena teman beberapa tahun yang lalu, Penulis tidak menyangka dirinya akan kembali &#8220;terjun&#8221; ke dunia per-K-Pop-an lagi. Apalagi, perjalanannya cukup menarik hingga Penulis merasa ingin menuliskannya. Girlband yang akan Penulis bahas sebenarnya sudah debut sejak tahun 2015, dan Penulis juga sudah lama tahu karena ada mantan teman kantor yang juga menjadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice/">Awal Perkenalan dengan Twice, Park Jihyo, dan Time to Twice</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah &#8220;berkenalan&#8221; dengan <a href="https://whathefan.com/musik/forever-young-blackpink/">Blackpink</a> karena teman beberapa tahun yang lalu, Penulis tidak menyangka dirinya akan kembali &#8220;terjun&#8221; ke dunia per-K-Pop-an lagi. Apalagi, perjalanannya cukup menarik hingga Penulis merasa ingin menuliskannya.</p>



<p><em>Girlband </em>yang akan Penulis bahas sebenarnya sudah debut sejak tahun 2015, dan Penulis juga sudah lama tahu karena ada mantan teman kantor yang juga menjadi penggemarnya. <em>Girlband </em>tersebut adalah, <em>one in a million</em>, <strong>Twice</strong>.</p>



<p>Kali ini, Penulis akan membahas bagaimana Penulis &#8220;diracun&#8221; untuk menyukai Twice dan bagaimana &#8220;perkenalannya&#8221; dengan Twice yang tidak disengaja. Berawal dari coba-coba, Penulis jadi menyukai mereka bersembilan.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Perkenalan Pertama dengan Twice</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6376" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Chou Tzuyu (<a href="https://rare-gallery.com/1005711-women-model-portrait-long-hair-asian-photography-singer-fashion-korean-twice-tzuyu-tzuyu-k-pop-beaut.html">Rare Pictures</a>)</figcaption></figure>



<p>Sejak zaman berkenalan dengan Blackpink sekitar tahun 2018-2019, Penulis sudah pernah mendengar nama Twice. Apalagi, jumlah anggotanya ada sembilan, sama dengan Girls Generation atau SNSD yang sangat terkenal pada zamannya.</p>



<p>Namun, saat itu rasanya yang lebih <em>booming </em>memang Blackpink dan lagu-lagu mereka memang lebih <em>catchy</em>. Penulis, pada saat itu, belum pernah mendengarkan satu pun lagu dari Twice dan memang tidak berminat untuk mendengarkannya.</p>



<p>Ketika menulis sebuah artikel tentang foto wanita cantik, ada satu anggota Twice yang masuk ke dalam daftar: <strong>Chou Tzuyu</strong>. Penulis mengakui kecantikannya yang terlihat kalem, tetapi itu masih belum bisa mendorong Penulis untuk mendengarkan lagu-lagu Twice.</p>



<p>Selama bertahun-tahun, Penulis benar-benar tidak bersentuhan dengan Twice. Justru ketika melihat konten-konten <strong>Uncle Roger</strong>, Penulis jadi beberapa kali mendengarkan lagu Twice yang sering ia selipkan di videonya, seperti <em>Feel Special</em>, <em>Fancy</em>, hingga <em>What Is Love?.</em></p>



<p>Lagu-lagu tersebut hanya dimainkan sekian detik yang hanya memperdengarkan lirik sesuai judulnya. Namun, hanya dari sana saja Penulis paham kalau lagu-lagu dari Twice memang <em>catchy</em>, walau tidak sampai membuat Penulis tertarik untuk mendengarkan versi lengkapnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Semua Berawal dari Jihyo</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6377" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Park Jihyo (<a href="https://wallpaperaccess.com/jihyo-desktop">Wallpaper Access</a>)</figcaption></figure>



<p>Menjelang berakhirnya tahun 2022, Penulis sedang mengobrol dengan temannya yang cukup mengikuti dunia K-Pop. Pada satu titik kami sedang membicarakan tentang sesuatu yang berujung pada &#8220;perkenalan&#8221; Penulis dengan <em>leader </em>dari Twice, <strong>Park Jihyo</strong>.</p>



<p>Saat pertama melihatnya, Penulis langsung merasa terpana dan mengagumi kecantikan serta kharismanya. Bagi Penulis, sekilas Jihyo sedikit mirip dengan Hesti Purwadinata, yang masih tetap cantik meskipun umurnya sebentar lagi akan memasuki kepala empat.</p>



<p>Nah, seperti yang kita tahu, media sosial selalu punya telinga untuk mendengarkan apa yang kita bicarakan. Setelah obrolan malam itu, Reels Penulis penuh dengan video-video yang memperlihatkan Jihyo, entah sedang <em>perform </em>ataupun sedang di <em>reality show</em>.</p>



<p>Di video-video pendek tersebut, tentu ada <em>backsound </em>dari lagu-lagu Twice yang Penulis tentu tidak tahu itu lagu apa. Karena terus-menerus terdengar, Penulis pun jadi hafal beberapa meskipun belum tergerak hatinya untuk mencari apa judul dari lagu tersebut.</p>



<p>Saat itu, Penulis seolah masih menolak untuk sekali lagi masuk ke dunia per-K-Pop-an. Jihyo memang cantik (banget), suaranya enak, tapi Penulis benar-benar belum ingin mengenal Twice secara utuh karena takut &#8220;jatuh terlalu dalam&#8221;.</p>



<p>Namun, akhirnya Penulis luluh setelah &#8220;diracuni&#8221; oleh teman untuk menonton satu <em>reality show </em>dari Twice. Kebetulan, Penulis juga sering menonton cuplikannya di Reels, sehingga ada rasa penasaran untuk menonton lengkapnya. <em>Reality </em>show tersebut berjudul <em><strong>Time to Twice</strong></em>. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Lalu Berlanjut dengan Nonton Time to Twice</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6378" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Time to Twice (<a href="https://youtu.be/P1LFWVEGpSk">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p>Saat berkunjung ke rumah teman kuliah, kebetulan ia sedang menonton salah satu episode dari <em>Time to Twice </em>yang, kebetulan juga, sering Penulis liat cuplikannya di Reels. Penulis mengetahui hal ini dari <em>outfit </em>dari para anggota Twice dan juga latarnya yang serba putih.</p>



<p>Teman Penulis pun menyarankan untuk menontonnya dan memberikan beberapa judul rekomendasi. Saat itu, Penulis hanya mengiyakan dan belum berniat untuk menontonnya secara utuh.</p>



<p>Lalu suatu hari, mungkin karena saat itu sedang tidak ada kerjaan, Penulis memutuskan untuk <em>give a shot</em> ke <em>Time to Twice</em>. Awalnya Penulis merasa <em>reality show </em>tersebut agak membosankan, tetapi pada akhirnya Penulis justru telah menonton semua episodenya!</p>



<p>Tidak semua benar-benar menarik, tapi Penulis merasa banyak sekali yang menghibur. Penulis pribadi menyukai episode yang para anggota Twice saling bersaing, seperti yang terjadi di episode-episode <em><a href="https://www.youtube.com/watch?v=ngWV3R5xHZo&amp;pp=ygUNdGltZSB0byB0d2ljZQ%3D%3D">TWICE New Year</a></em>, <em><a href="https://www.youtube.com/watch?v=Smr_1LfNu0E&amp;pp=ygUZdGltZSB0byB0d2ljZSB0ZG9vbmcgdG91cg%3D%3D">TDOONG Tour</a></em>, dan<em> <a href="https://www.youtube.com/watch?v=5lTnuK17xE4&amp;pp=ygUNdGltZSB0byB0d2ljZQ%3D%3D">TDOONG Battle</a></em>.</p>



<p>Karena menonton banyak episode <em>Time to Twice</em>, algoritma YouTube pun memberikan banyak rekomendasi video-video Twice lainnya, termasuk <em>interview</em>, kompilasi, acara <em>reality show </em>lain seperti <em>Weekly Idol</em>, dan lain sebagainya.</p>



<p>Gara-gara menonton hampir semua episode <em>Time to Twice</em>, Penulis pun jadi semakin banyak mendengarkan lagu Twice yang kerap muncul di tiap episodenya, dan akhirnya terdorong untuk mulai mendengarkan lagu-lagu mereka. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis pun pada akhirnya benar-benar mendalami Twice, bahkan jauh lebih dalam daripada Blackpink. Penulis hafal semua anggota Twice dan mendengarkan banyak lagunya, yang awalnya Penulis anggap terlalu <em>girly </em>dan ceria.</p>



<p>Pada tulisan selanjutnya, Penulis akan membahas masing-masing anggotanya dan juga beberapa lagu yang sering Penulis dengarkan. Setidaknya, akan ada tiga tulisan tentang Twice di blog ini. <em>Stay tuned!</em> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 27 Januari 2023, terinspirasi setelah merasa dirinya telah berhasil diracuni untuk menyukai Twice</p>



<p>Foto: <a href="https://www.twiceportal.net/2022/10/twice-y2k-tdoong-show.html" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Twice Portal</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice/">Awal Perkenalan dengan Twice, Park Jihyo, dan Time to Twice</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>20 Lagu Terbaik Linkin Park Versi Saya</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/20-lagu-terbaik-linkin-park-versi-saya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/20-lagu-terbaik-linkin-park-versi-saya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2022 16:22:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[Castle of Glass]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[Numb]]></category>
		<category><![CDATA[Papercut]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6253</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belakangan ini, Penulis kembali sering mendengarkan lagu-lagu dari Linkin Park. Ini menjadi semacam siklus di kehidupan Penulis, di mana setelah mendengarkan lagu-lagu dari band atau penyanyi lain, Penulis akan selalu kembali mendengarkan Linkin Park. Penulis sendiri tidak pernah menyangka akan menjadi sesuka ini dengan musik-musik yang dibuat oleh Linkin Park. Berawal dari &#8220;pertemuan&#8221; di SMP, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/20-lagu-terbaik-linkin-park-versi-saya/">20 Lagu Terbaik Linkin Park Versi Saya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Belakangan ini, Penulis kembali sering mendengarkan lagu-lagu dari Linkin Park. Ini menjadi semacam siklus di kehidupan Penulis, di mana setelah mendengarkan lagu-lagu dari <em>band </em>atau penyanyi lain, Penulis akan selalu kembali mendengarkan Linkin Park.</p>



<p>Penulis sendiri tidak pernah menyangka akan menjadi sesuka ini dengan musik-musik yang dibuat oleh Linkin Park. Berawal dari &#8220;pertemuan&#8221; di SMP, kurang lebih sudah 15 tahun Penulis mendengarkan lagu-lagu mereka dan jarang sekali merasa bosan.</p>



<p>Untuk itu, Penulis jadi ingin membuat daftar lagu terbaik Linkin Park versi Penulis. Awalnya Penulis ingin membuat daftar dari semua lagunya, tetapi pada akhirnya Penulis memutuskan untuk memilih 20 lagu saja.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Lagu Linkin Park Terbaik Versi Penulis</h2>



<p>Dalam menentukan lima besar dalam daftar ini adalah perkara yang mudah, daftarnya di setiap tahun rasanya tidak pernah berubah. Yang menjadi PR adalah lima belas lagu berikutnya, cukup sulit untuk memilih.</p>



<p>Untuk lagu yang di luar 20 besar, jangan ditanya. Penulis benar-benar kesulitan untuk memilih mana yang akan dimasukkan ke mana. Pada akhirnya, Penulis menyerah dalam membuat daftar versi panjangnya.</p>



<p>Selain itu, Penulis juga tidak memasukkan lagu-lagu yang rilis di luar tujuh album utama, seperti <em>A Light That Never Comes</em>, lagu-lagu dari album <em>remix</em>, dan album kolaborasi seperti yang pernah mereka lakukan bersama Jay-Z. </p>



<p>Tanpa perlu berlama-lama lagi, berikut adalah daftar lagu Linkin Park terbaik versi Penulis:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Numb [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/kXYiU_JCYtU?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>1. Numb (Meteora)</p>



<p>2. Papercut (Hybrid Theory)</p>



<p>3. Castle of Glass (Living Things)</p>



<p>4. Waiting for the End (A Thousand Suns)</p>



<p>5. Final Masquerade (The Hunting Party)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Heavy [Official Music Video] - Linkin Park (feat. Kiiara)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/5dmQ3QWpy1Q?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>6. Heavy (One More Light)</p>



<p>7. Rebellion (The Hunting Party)</p>



<p>8. Somewhere I Belong (Meteora)</p>



<p>9. Easier to Run (Meteora)</p>



<p>10. Leave Out All the Rest (Minutes to Midnight)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-4-3 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Lying From You [Live In Texas] - Linkin Park" width="740" height="555" src="https://www.youtube.com/embed/5cNdDuNKrx0?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>11. Lying from You (Meteora)</p>



<p>12. From the Inside (Meteora)</p>



<p>13. Breaking the Habit (Meteora)</p>



<p>14. Lies Greed Misery (Living Things)</p>



<p>15. Powerless (Living Things)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Linkin Park - Roads Untraveled (Live Hollywood Bowl 2017)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/yMcwZT0D7fw?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>16. Roads Untraveled (Living Things)</p>



<p>17. In My Remains (Living Things)</p>



<p>18. Don&#8217;t Stay (Meteora)</p>



<p>19. Pushing Me Away (Hybrid Theory)</p>



<p>20. Shadow of the Day (Minutes to Midnight)</p>



<p>Bisa dilihat dari daftar di atas, lagu dari album <em>Meteora </em>cukup mendominasi dengan tujuh lagu. Bahkan, <em>Numb </em>yang jadi lagu nomor satu seumur hidup Penulis berasal dari album tersebut. Ini membuktikan kalau <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-meteora/"><em>Meteora </em>menjadi album favorit Penulis</a>.</p>



<p>Album <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-living-things/">Living Things</a> </em>juga menyumbangkan cukup banyak lagu dengan lima judul. Bisa dibilang, album ini adalah album favorit kedua Penulis setelah <em>Meteora </em>karena lagunya memang enak-enak.</p>



<p>Sebaliknya, hanya ada satu lagi dari album terbaru Linkin Park, <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-one-more-light/">One More Light</a></em>, yang diwakili oleh lagu <em>Heavy</em>. Ini tidak menandakan kalau Penulis paling tidak menyukai album ini, hanya saja menurut Penulis lagu-lagu di album ini medioker saja.</p>



<p>Jika diperhatikan, ada beberapa judul lagu populer seperti<em> In the End</em>, <em>What I&#8217;ve Done</em>, dan <em>Burn It Down</em>. Bagi Penulis, judul-judul tersebut memang kurang <em>nyantol </em>di telinga sehingga Penulis memilih lagu lain untuk masuk ke dalam daftar.</p>



<p>Dari 20 lagu di atas, hanya tujuh lagu yang <em>full </em>dinyanyikan oleh Chester Bennington. Sisanya, Mike Shinoda selalu memiliki bagian. Penulis memang lebih menyukai lagu yang memiliki unsur suara Mike dibandingkan yang tidak ada sama sekali.</p>



<p>Menariknya, Penulis hanya memasukkan empat lagu yang mengandung <em>screaming </em>dari Chester. Padahal, Linkin Park terkenal karena &#8220;kekerasannya&#8221;. Ternyata, Penulis baru menyadari kalau dirinya lebih suka lagu Linkin Park tanpa unsur <em>screaming</em>.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Rasanya mau sampai kapanpun, Linkin Park akan selalu menjadi <em>band </em>favorit Penulis. Lagu-lagunya yang sudah Penulis putar ribuan kali jarang membuat bosan, bahkan menimbulkan pesan rindu ketika lama tidak mendengarkannya.</p>



<p>Salah satu impian Penulis adalah menonton konser Linkin Park, yang sayangnya, tidak akan pernah tercapai karena sang vokalis <a href="https://whathefan.com/musik/saya-dan-linkin-park-tentang-kematian-chester-dan-perjumpaan-pertama/">Chester Bennington telah meninggal dunia</a>. Sebagai pelipur lara, Penulis akan terus mendengarkan lagu-lagu terbaik Linkin Park.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 21 Desember 2022, terinspirasi setelah akhir-akhir ini sering mendengarkan (kembali)  lagu-lagu Linkin Park</p>



<p>Foto: <a href="https://twitter.com/linkinpark/status/976146559996903424?t=Fv1pIAMa_DGXnss1HGuD0A&amp;s=19">Twitter</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/20-lagu-terbaik-linkin-park-versi-saya/">20 Lagu Terbaik Linkin Park Versi Saya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/20-lagu-terbaik-linkin-park-versi-saya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tetap Dalam Jiwa: Isyana Sarasvati</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/tetap-dalam-jiwa-isyana-sarasvati/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/tetap-dalam-jiwa-isyana-sarasvati/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2022 13:00:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[idola]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[isyana]]></category>
		<category><![CDATA[Isyana Sarasvati]]></category>
		<category><![CDATA[klasik]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[opera]]></category>
		<category><![CDATA[penyanyi]]></category>
		<category><![CDATA[pinggir]]></category>
		<category><![CDATA[pop]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5613</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis mengakui kalau dirinya tidak begitu sering mendengarkan lagu Indonesia di masa remajanya. Lagu-lagu rock dari barat terdengar lebih menggoda dan cocok dengan selera musik Penulis. Walaupun begitu, Penulis masih memiliki beberapa penyanyi atau band lokal favorit seperti Peterpan (sebelum menjadi Noah). Untuk penyanyi, Penulis sempat mengidolakan Gita Gutawa. Bahkan, ada teman SMA Penulis yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/tetap-dalam-jiwa-isyana-sarasvati/">Tetap Dalam Jiwa: Isyana Sarasvati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis mengakui kalau dirinya tidak begitu sering mendengarkan lagu Indonesia di masa remajanya. Lagu-lagu <em>rock </em>dari barat terdengar lebih menggoda dan cocok dengan selera musik Penulis.</p>



<p>Walaupun begitu, Penulis masih memiliki beberapa penyanyi atau <em>band </em>lokal favorit seperti <a href="https://whathefan.com/musik/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah/">Peterpan</a> (sebelum menjadi Noah). Untuk penyanyi, Penulis sempat mengidolakan Gita Gutawa. Bahkan, ada teman SMA Penulis yang sampai memberikan poster bergambar dirinya.</p>



<p>Bertahun-tahun kemudian, Penulis baru menemukan lagi sesosok penyanyi perempuan yang diidolakan. Ia adalah <strong>Isyana Sarasvati</strong>, orang yang sering dianggap sebagai komedian berkedok penyanyi.</p>



<p>Melalui tulisan kali ini, Penulis ingin berbagi sedikit mengenai bagaimana Penulis bisa mengidolakan Isyana Sarasvati dan pendapatnya tentang musik-musik yang ia ciptakan.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Pertemuan dengan Isyana Sarasvati</h2>



<p><em>Fun fact</em>, Isyana Sarasvati adalah satu-satunya idola yang berhasil Penulis ajak untuk foto bareng. Menariknya, kejadian tersebutlah yang membuat Penulis menjadikannya sebagai sesosok idola. Artikel lengkapnya bisa dibaca di sini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-whathefan wp-block-embed-whathefan"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="84RnN8OyH0"><a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-bertemu-isyana-sarasvati/">Pengalaman Bertemu Isyana Sarasvati</a></blockquote><iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Pengalaman Bertemu Isyana Sarasvati&#8221; &#8212; Whathefan!" src="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-bertemu-isyana-sarasvati/embed/#?secret=84RnN8OyH0" data-secret="84RnN8OyH0" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<p>Kesempatan untuk bisa mendengarkan konsernya secara langsung, berfoto dan bersalaman dengannya (walaupun hanya pucuk tangannya), hingga mendapatkan CD-nya secara gratis membuat Penulis ingin mendalami musikalitas Isyana.</p>



<p>Tidak hanya itu, Penulis juga banyak menonton video-videonya di YouTube, terutama video yang berkaitan dengan &#8220;kekocakan&#8221; yang dimilikinya. Perpaduan antara musik yang ia ciptakan dengan karakter yang dimilikinya jelas meninggalkan kesan tersendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Perkenalan Isyana di Industri Musik Indonesia</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5732" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Isyana dan Album <em>Explore!</em> (<a href="https://www.liputan6.com/showbiz/read/2375951/album-explore-wakili-jiwa-isyana-sarasvati">Liputan6</a>)</figcaption></figure>



<p>Sama seperti kebanyakan pendengar Isyana, Penulis mengenal lagu Isyana dari <em>single-single </em>awalnya seperti <em><strong>Keep Being You</strong> </em>dan <em><strong>Tetap Dalam Jiwa</strong> </em>yang masuk ke dalam album pertamanya, <em><strong>Explore!</strong></em> (2015).</p>



<p>Sebagai album perkenalan Isyana, album ini menurut Penulis masih mengikuti pasar Indonesia dan bisa didengarkan oleh banyak orang karena <em>easy listening</em>. Penulis sendiri bukan penggemar genre tersebut, tetapi masih bisa menikmatinya.</p>



<p>Selain dua lagu yang menjadi <em>single </em>utama dari album tersebut, Penulis juga menyukai lagu <strong><em>Kau Adalah</em> </strong>yang merupakan hasil kolaborasinya dengan personil Ran, Rayi Putra. Hingga kini, Penulis masih mendengarkan lagu-lagu tersebut.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5733" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Isyana dan Album <em>Paradox </em>(<a href="https://youtu.be/BaSCPxAEdN8">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p>Selang dua tahun (2017), Isyana kembali menelurkan album baru yang berjudul <em><strong>Paradox</strong></em>. Penulis berhasil mendapatkan album aslinya ketika beli makan di KFC. Dibandingkan dengan album sebelumnya, lagu-lagu yang terdapat di album ini terasa lebih berwarna.</p>



<p>Jika membaca dari beberapa sumber, album ini banyak mengangkat kisah pribadi Isyana, berbanding terbalik dengan album sebelumnya yang kerap bercerita tentang kisah temannya atau sepenuhnya fiktif.</p>



<p>Salah satu lagu yang menjadi <em>hits </em>di album ini tentu saja lagu <em><strong>Anganku Anganmu </strong></em>yang ia nyanyikan bersama Raisa. Kedua penyanyi ini sama- sama cantik dan bersuara emas. Apalagi, banyak orang yang kerap membandingkan keduanya.</p>



<p>Di antara semua lagu yang ada di album ini, Penulis paling menyukai lagu <em><strong>Lembaran Buku </strong></em>yang walaupun terkesan <em>gloomy</em>, entah mengapa liriknya terasa begitu dalam. Lagu lain yang Penulis sukai di album ini adalah <em><strong>Nada Cinta </strong></em>yang kesannya ceria dan bahagia. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Jujur kepada Diri Sendiri</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5734" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Isyana dan Album <em>Lexicon </em>(<a href="https://m.fimela.com/entertainment/read/4123653/lexicon-luapan-energi-terpendam-isyana-sarasvati">Fimela</a>)</figcaption></figure>



<p>Mungkin isi lagu dari album <em>Paradox </em>memang lebih menggambarkan seorang Isyana. Namun, secara musikalitas sebenarnya Isyana masih &#8220;bermain aman&#8221; dan mengikuti pasar Indonesia. Di album ketiganya, <em><strong>Lexicon</strong></em> (2019), barulah Isyana benar-benar berani <a href="https://whathefan.com/pengalaman/keluar-dari-zona-nyaman/">keluar dari zona nyaman</a>.</p>



<p>Jika dua albumnya lebih bergenre <em>pop </em>dan <em>R&amp;B</em>, maka di album ini terasa bergenre klasik dan <em>rock </em>progresif. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat Isyana memang memiliki <em>background </em>pendidikan di genre-genre tersebut. </p>



<p>Ini tentu cukup menimbulkan kekagetan di antara penggemar dan menimbulkan polarisasi. Ada yang menganggap Isyana telah keluar jalur, ada yang menyebut kalau inilah diri Isyana yang sebenarnya. Tak heran, ada beberapa anggapan yang menyebutkan banyak pendengar Isyana berpaling darinya.</p>



<p>Penulis sendiri sebagai penikmat musik <em>rock </em>sebenarnya terima-terima saja dengan keputusan Isyana dan tidak mempermasalahkannya. Jujur kepada diri sendiri merupakan hal penting, termasuk dalam pemilihan musikalitas sang penyanyi.</p>



<p>Di antara semua lagu yang ada di album ini, Penulis memiliki satu judul favorit, yakni <em><strong>Untuk Hati yang Terluka</strong></em>. Untuk lagu-lagu lainnya, Penulis kurang bisa menikmatinya karena tidak sesuai dengan selera saja. Namun, album ini memang benar-benar berbeda.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Siapa yang Menyangka Isyana akan Merilis Lagu Metal?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5735" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-4.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Isyana di Video Klip <em>Il Sogno </em>(<a href="https://www.nme.com/en_asia/news/music/isyana-sarasvati-and-deadsquad-share-music-video-for-il-sogno-3146709">NME</a>)</figcaption></figure>



<p>Sejak perilisan album ketiganya, Penulis tidak terlalu mengikuti lagu-lagu terbaru Isyana. Bahkan, Penulis hampir tidak pernah mendengarkan album mininya yang berkolaborasi dengan Afgan dan Rendy Pandugo.</p>



<p>Namun, Penulis kembali mendengarkan lagu Isyana berkat <em>single</em> <strong><em>Il Sogno </em></strong>(2021) yang juga menjadi <em>soundtrack </em>dari film <em>Teka-Teki Tika</em>. Gila, siapa yang menyangka Isyana akan menciptakan lagu sekeras ini. Perpaduan antara <em>rock</em>, classic, dan suara opera Isyana benar-benar cocok di telinga Penulis.</p>



<p>Bahkan, versi kolaborasinya dengan Deadsquad (rilis 2022) membuat lagu ini semakin enak (dan tentunya makin keras!) saja didengar dan membuat Penulis melakukan <em>headbang </em>ketika sedang mendengarkannya. Lagu ini benar-benar keren!</p>



<p><em>Il Sogno </em>jugalah yang membuat Penulis akhirnya kembali mendengarkan lagu-lagu Isyana dan menemukan beberapa lagu yang ternyata cukup enak. Salah satunya adalah <em><strong>Unlock the Key</strong> </em>(2020)<em> </em>yang juga bergenre <em>rock</em>. Semoga saja Isyana makin sering membuat lagu bergenre <em>rock </em>progresif!</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis sebenarnya bukan tipe orang yang menyukai seorang penyanyi karena lebih menyukai <em>band</em>. Penulis bisa menyebutkan banyak nama <em>band </em>favoritnya, tetapi akan kebingungan jika ditanya siapa penyanyi favoritnya.</p>



<p>Kehadiran Isyana di ranah musik Indonesia membuat Penulis tak ragu menjadikannya penyanyi favorit. Mengikuti evolusi musikalitasnya dari debut hingga sekarang benar-benar menarik dan menurut Penulis cukup unik. Tak banyak penyanyi yang berani keluar dari zona nyamannya.</p>



<p>Oleh karena itu, Isyana Sarasvati akan tetap ada di dalam jiwa Penulis sampai kapan pun. Apalagi, Penulis memiliki kenangan indah ketika bisa berjumpa dengannya dan berfoto bareng.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 21 Februari 2022, terinspirasi setelah mendengarkan lagu-lagu Isyana Sarasvati</p>



<p>Foto: <a href="https://www.ussfeed.com/lagu-il-sogno-isyana-sarasvati-cerita-tentang-mimpi/">USS Feed</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/tetap-dalam-jiwa-isyana-sarasvati/">Tetap Dalam Jiwa: Isyana Sarasvati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/tetap-dalam-jiwa-isyana-sarasvati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi di Dalam Lirik: Peterpan dan Noah</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2021 09:24:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[lirik]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[Noah]]></category>
		<category><![CDATA[Peterpan]]></category>
		<category><![CDATA[pinggir]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[puitis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4245</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika ditanya mengenai band atau penyanyi Indonesia favorit Penulis, Penulis tanpa ragu akan menjawab Peterpan atau yang sekarang telah bertransformasi menjadi Noah. Pada dasarnya, mulai SMP Penulis lebih menyukai musik luar negeri seperti Linkin Park, Avenged Sevenfold, hingga Good Charlotte. Bukannya tidak nasionalis, tapi memang masalah selera saja. Hanya saja, Penulis merasa cocok dengan&#160;style&#160;musik Peterpan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah/">Puisi di Dalam Lirik: Peterpan dan Noah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Jika ditanya mengenai band atau penyanyi Indonesia favorit Penulis, Penulis tanpa ragu akan menjawab <strong>Peterpan</strong> atau yang sekarang telah bertransformasi menjadi <strong>Noah</strong>.</p>



<p>Pada dasarnya, mulai SMP Penulis lebih menyukai musik luar negeri seperti <a href="https://whathefan.com/musikfilm/linkin-park-dan-hybrid-theory/">Linkin Park</a>, Avenged Sevenfold, hingga Good Charlotte. Bukannya tidak nasionalis, tapi memang masalah selera saja.</p>



<p>Hanya saja, Penulis merasa cocok dengan&nbsp;<em>style&nbsp;</em>musik Peterpan yang puitis. Rasanya, band yang satu ini membawa warna yang berbeda untuk belantika musik Indonesia.</p>



<p>Penulis sempat berhenti total mendengarkan lagu-lagu Peterpan ketika sang vokalis, Ariel, tersandung kasus pornografi. Koleksi kasetnya langsung Penulis jual ke teman satu bangku.</p>



<p>Hanya saja beberapa tahun terakhir ini, Penulis memutuskan untuk mendengarkan mereka lagi karena merasa terlalu sayang untuk dilewatkan. Apalagi, Noah memiliki banyak lagu yang enak didengarkan.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Peterpan dan Album-Albumnya</h1>



<p>Sepengetahuan Penulis, Peterpan memiliki empat album plus satu album kompilasi. Keempat album tersebut adalah <em><strong>Taman Langit</strong></em> (2003), <strong><em>Bintang di Surga</em></strong> (2004), <strong><em>Alexandria</em></strong> (2005), dan <strong><em>Hari yang Cerah&#8230;</em></strong> (2007).</p>



<p>Yang menjadi favorit Penulis adalah album&nbsp;<em>Alexandria</em>. Album ini hanya memiliki lima lagu baru, di mana lima lagu lainnya merupakan hasil aransemen ulang. Hanya saja, Penulis menyukai semua lagu yang ada di album ini.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Peterpan - Ku Katakan Dengan Indah (Official Audio)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/G6YWDl0-IXU?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Penulis paling menyukai lagu&nbsp;<em><strong>Ku Katakan dengan Indah</strong>&nbsp;</em>yang liriknya sangat mengena di hati. Lirik ini yang paling Penulis sukai:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Kau beri rasa yang berbeda, mungkin ku salah<br>Mengartikannya, yang kurasa cinta</p></blockquote>



<p>Penulis juga menyukai lagu&nbsp;<em><strong>Di Belakangmu</strong>&nbsp;</em>dan&nbsp;<strong><em>Langit Tak Mendengar</em></strong>. Secara kualitas musik, Penulis sangat puas dengan album yang merupakan&nbsp;<em>soundtrack&nbsp;</em>film berjudul sama ini.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Peterpan - Bintang Di Surga (Official Music Video)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/Yi-C9okDw3A?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Di urutan kedua, Penulis menyukai album&nbsp;<em>Bintang di Surga&nbsp;</em>yang legendaris. Sama seperti sebelumnya, Penulis menyukai semua lagu yang ada di dalam album ini.</p>



<p>Selain lagu&nbsp;<em>Ku Katakan dengan Indah&nbsp;</em>versi asli, Penulis juga menyukai lagu&nbsp;<em><strong>Di Atas Normal</strong>&nbsp;</em>dan&nbsp;<strong><em>Bintang di Surga</em></strong>. Apalagi, video klip <em>Bintang di Surga&nbsp;</em>dibuat macam film Hollywood.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Peterpan - Hari Yang Cerah Untuk Jiwa Yang Sepi (Official Music Video)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/fuEdMCclYn0?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Selanjutnya di album <em>Hari yang Cerah&#8230;,&nbsp;</em>Penulis menyukai lagi&nbsp;<em><strong>Hari yang Cerah untuk Jiwa yang Sepi</strong>&nbsp;</em>dan&nbsp;<strong><em>Kota Mati</em></strong>. Album ini terdengar lebih modern dibandingkan album sebelumnya.</p>



<p>Penulis kurang menyukai album pertama mereka,&nbsp;<em>Taman Langit</em>, meskipun banyak lagu&nbsp;<em>hits&nbsp;</em>Peterpan berasal dari album ini. Sekali lagi, semua hanya masalah selera.</p>



<p>Album kompilasi mereka berjudul&nbsp;<em><strong>Sebuah Nama Sebuah Cerita</strong>&nbsp;</em>yang dirilis pada tahun 2008. Ada beberapa lagu baru juga di album ini dan Penulis sangat menikmati lagu&nbsp;<strong><em>Dilema Besar.</em></strong></p>



<h1 class="wp-block-heading">Noah dan Album-Albumnya</h1>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="NOAH - Jika Engkau (Official Music Video)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/8Rxj-Drr0dA?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Pada tahun 2012, setelah Ariel menyelesaikan masa hukumannya, Peterpan resmi berubah nama menjadi Noah. Album pertama mereka adalah&nbsp;<strong><em>Seperti Seharusnya </em></strong>dengan <em>single </em>pertama <strong><em>Separuh Aku</em></strong>.</p>



<p>Pada album ini, Penulis lebih menyukai lagu <em><strong>Jika Engkau (Berartinya Dirimu)</strong>&nbsp;</em>dan&nbsp;<strong><em>Tak Lagi Sama</em></strong>. Kedua lagu ini sama-sama mengandung kegetiran dan ketakutan untuk ditinggalkan oleh sang kekasih.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="NOAH - Menunggumu (Official Music Video)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/A_OJzo1LUMI?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Noah juga melakukan aransemen ulang beberapa lagu Peterpan di album <strong><em>Second Chance</em></strong> yang rilis pada tahun 2014. Di salah satu&nbsp;<em>podcast</em>, Ariel mengatakan hal itu dilakukan agar lagu-lagu lama mereka memiliki versi yang terdengar Noah.</p>



<p>Di album ini, Penulis sangat sangat sangat menyukai aransemen ulang lagu&nbsp;<strong><em>Menunggumu&nbsp;</em></strong>yang dulu Peterpan nyanyikan bersama almarhum Chrisye. Di iTunes Penulis, lagu ini sudah Penulis putar lebih dari 400 kali, hampir tiga kali lipat dari lagu-lagu lainnya.</p>



<p>Pada tahun 2016, Noah merilis album&nbsp;<em>Sings Legends&nbsp;</em>di mana mereka melakukan aransemen ulang terhadap lagu-lagu milik legendaris, seperti lagu&nbsp;<strong><em>Andaikan Kau Datang</em></strong>-nya Koes Plus dan&nbsp;<em><strong>Sajadah Panjang</strong>&#8211;</em>nya Bimbo.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="NOAH - Kupeluk Hatimu (Official Music Video)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/jFGkeMPq8Lo?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Album utuh kedua Noah rilis pada tahun 2019 dengan judul <em><strong>Keterkaitan Keterikatan</strong></em>. Jumlah lagu di album ini tergolong sedikit jika dibandingkan dengan album-album sebelumnya, hanya ada delapan lagu.</p>



<p>Penulis paling suka dengan lagu&nbsp;<strong><em>Kupeluk Hatimu </em></strong>yang sendu dan<strong>&nbsp;<em>Jalani Mimpi </em></strong>yang sangat optimistik dan membuat semangat untuk menjalani hari.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="NOAH - Kala Cinta Menggoda (Official Music Video)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/Xyrpb1w5kkw?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Ketika pandemi kemarin, mereka juga melakukan aransemen ulang terhadap lagu&nbsp;<em><strong>Kala Cinta Menggoda</strong>&nbsp;</em>yang dipopulerkan oleh almarhum Chrisye. Penulis lebih menyukai versi baru ini dibandingkan versi aslinya yang bernada ceria.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Puisi di Dalam Lirik</h1>



<p>Formasi awal Peterpan terdiri dari enam orang, yakni <strong>Ariel</strong>, <strong>Lukman</strong>, <strong>Uki</strong>, <strong>Reza</strong>, <strong>Andika</strong>, dan <strong>Indra</strong>. Dua nama terakhir hengkang dan membentuk band sendiri dengan nama <strong>The Titans</strong>.</p>



<p>Ketika berubah menjadi Noah, personilnya bertambah satu: <strong>David</strong> sebagai pemain piano. Kini, Noah tinggal bertiga setelah Reza dan Uki memutuskan untuk pensiun dari dunia musik.</p>



<p>Dari awal mendengarkan lagu Peterpan, Penulis langsung jatuh cinta dengan lirik-liriknya yang puitis. Mereka kerap menggunakan metafora yang terkadang sebenarnya tidak bisa Penulis pahami.</p>



<p>Hal ini bisa kita lihat pada album pertama mereka. Metafora yang digunakan kadang membuat bingung lagunya bercerita tentang apa. Tapi semakin ke sini, metafora yang berlebihan mulai dikurangi dan tiap lagu memiliki pesannya masing-masing.</p>



<p>Ketika Peterpan berubah menjadi Noah, Penulis merasa lirik-liriknya sudah tidak terlalu puitis. Masih indah, tapi kata-katanya menjadi lebih mudah dipahami. Yang jelas, Penulis masih mendengarkan lagu-lagunya hingga kini, terutama ketika hati sedang gundah gulana.</p>



<p>Lawang, 9 Desember 2020, terinspirasi setelah menyadari kalau rubrik Musik &amp; Film sudah lama tidak diisi</p>



<p>Foto: <a href="https://urbanradiobandung.com/news/kala-cinta-menggoda-versi-noah-kemarin-rilis/">Urban Radio Bandung</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah/">Puisi di Dalam Lirik: Peterpan dan Noah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Linkin Park dan The Hunting Party</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-the-hunting-party/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Apr 2020 13:39:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<category><![CDATA[The Hunting Party]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3780</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tidak ingin mengulangi kesalahan ketika album&#160;Living Things&#160;rilis, Penulis benar-benar memantau kabar terbaru dari Linkin Park. Siapa tahu, mereka akan merilis album baru dua tahun kemudian. Benar saja, pada tahun 2014 Linkin Park mengeluarkan album keenam mereka yang diberi judul&#160;The Hunting Party.&#160;Jujur, Penulis sangat menyukai&#160;art cover&#160;dari album ini. Rasanya sangat artistik. Selain itu, isi lagu di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-the-hunting-party/">Linkin Park dan The Hunting Party</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Tidak ingin mengulangi kesalahan ketika album&nbsp;<em>Living Things&nbsp;</em>rilis, Penulis benar-benar memantau kabar terbaru dari Linkin Park. Siapa tahu, mereka akan merilis album baru dua tahun kemudian.</p>



<p>Benar saja, pada tahun 2014 Linkin Park mengeluarkan album keenam mereka yang diberi judul&nbsp;<em><strong>The Hunting Party</strong>.&nbsp;</em>Jujur, Penulis sangat menyukai&nbsp;<em>art cover&nbsp;</em>dari album ini. Rasanya sangat artistik.</p>



<p>Selain itu, isi lagu di album ini juga berbeda dari album-album sebelumnya. Singkatnya, album ini terdengar sangat rusuh!</p>



<h1 class="wp-block-heading">Rock Murni</h1>



<p>Satu poin yang membuat album ini sangat berbeda dibandingkan dengan dua album sebelumnya adalah minimnya sentuhan elektronik pada lagu-lagunya. Benar-benar terdengar seperti lagu <em>rock&nbsp;</em>murni.</p>



<p>Penulis sampai berpikir apa peran sang DJ, Mr. Han, di album ini. Lagu-lagunya benar-benar menonjolkan instrumen musik&nbsp;<em>rock </em>yang sangat berat, keras, dan kental<em>.</em></p>



<p>Banyak yang menganggap Linkin Park sedang melawan arus, mengingat band lain mencoba menyesuaikan diri dengan zaman. Semua eksperimen yang telah dilakukan ditinggalkan demi instrumen musik&nbsp;<em>rock&nbsp;</em>tradisional.</p>



<p>Selain itu, untuk pertama kalinya Linkin Park menggandeng musisi lain di dalam albumnya. Mereka adalah <strong>Page Hamilton</strong> (Helmet), <strong>Daron Malakian</strong> (System of a Down), <strong>Tom Morello</strong> (Race Against the Machine), dan <strong>Rakim</strong>.</p>



<p>Itulah beberapa alasan yang membuat Penulis merasa kalau album yang satu ini sangat rusuh!</p>



<h1 class="wp-block-heading">Lagu-Lagu <em>The Hunting Party</em></h1>



<p>Album ini berisikan 12 lagu, di mana 2 lagu hanya berperan sebagai&nbsp;<em>interlude</em>. Lagu pembuka dari lagu ini adalah&nbsp;<em><strong>Keys to the Kingdom</strong>. </em>Penulis setuju lagu ini dijadikan sebagai&nbsp;<em>track&nbsp;</em>nomor satu karena mampu merepresntasikan kerusuhan album ini.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Keys To The Kingdom - Linkin Park (The Hunting Party)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/ZPlUjhroNd4?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Diawali dengan suara teriakan Chester, kita akan mendengar&nbsp;<em>rap&nbsp;</em>Mike yang diiringi dengan dentuman musik yang makin menjelang akhir makin keras. Penulis cukup menyukai lagu ini.</p>



<p>Album berlanjut dengan lagu&nbsp;<strong><em>All for Nothing</em></strong>, di mana Linkin Park menggandeng Page Hamilton yang merupakan gitaris dan vokalis band Helmet.</p>



<p>Dengan aliran&nbsp;<em>hip-hop&nbsp;</em>di bagian awal, lagu ini terdengar seperti lagu&nbsp;<em>punk</em>. Permainan gitar Brad Delson benar-benar sangat menonjol di sini, tentu dengan bantuan dari Page.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Guilty All The Same (Official Lyric Video) - Linkin Park (feat. Rakim)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/cEaEdLQbAFM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><em>Single&nbsp;</em>pertama yang rilis dari album ini adalah&nbsp;<strong><em>Guilty All the Same</em></strong>. Untuk pertama kalinya, Linkin Park menggandeng seorang&nbsp;<em>rapper&nbsp;</em>lain untuk mengisi pos yang biasanya diisi oleh Mike.&nbsp;<em>Rapper </em>yang dipilih adalah Rakim.</p>



<p>Intro lagu ini cukup panjang, lebih dari satu menit. Durasi lagunya sendiri hampir menyentuh angka enam. Didominasi oleh suara gitar dan drum yang agresif, mendengarkan lagu ini seolah memancing kita untuk berbuat kerusuhan.</p>



<p>Setelah itu, ada lagu&nbsp;<em><strong>The Summoning</strong>&nbsp;</em>yang berperan sebagai&nbsp;<em>interlude&nbsp;</em>dari lagu&nbsp;<em><strong>War</strong>.&nbsp;</em>Lagu ini mirip dengan lagu&nbsp;<em>Victimized&nbsp;</em>dari album sebelumnya. Durasinya pendek, namun vokal Chester sangat kuat. Bedanya, lagu ini tidak memiliki bagian&nbsp;<em>rap</em>.</p>



<p>Selanjutnya ada lagu&nbsp;<em><strong>Wasteland</strong>&nbsp;</em>yang awalnya tidak Penulis sukai karena terdengar berantakan. Setelah didengar ulang dan menonton video konsernya, Penulis jadi menyukai lagu ini. Lagu ini menjadi lagu ketiga di mana Mike melakukan&nbsp;<em>rap</em>.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Until It&#039;s Gone [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/oM-XJD4J36U?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><em>Outro</em> dari <em>Wasteland</em> juga menjadi pembuka untuk lagu selanjutnya, <strong><em>Until It&#8217;s Gone</em></strong>. Lagu ini menjadi salah satu lagu yang masih memiliki efek elektronik yang tidak terlalu menonjol. Walaupun begitu, Penulis kurang menyukai lagu ini.</p>



<p>Sama seperti sebelumnya,&nbsp;<em>outro&nbsp;</em>dari lagu ini juga terhubung dengan lagu selanjutnya,&nbsp;<strong><em>Rebellion</em></strong>. Nah, kalau lagu ini sangat Penulis sukai. Selain karena permainan gitar yang ditunjukkan oleh Daron Malkian, Penulis juga menyukai liriknya.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Rebellion (Official Lyric Video) - Linkin Park (feat. Daron Malakian)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/OCy5461BtTg?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Lagu ini menggunakan&nbsp;<em>riff </em>gitar yang cepat dan hentakan drum yang dinamis, membuat kita akan bersemangat ketika mendengarkannya. Mike menyanyi di lagu ini walaupun bukan bagian&nbsp;<em>rap</em>. Ada juga bagian Chester melakukan&nbsp;<em>screaming</em>.</p>



<p><em><strong>Mark the Graves</strong>&nbsp;</em>yang menjadi lagu selanjutnya benar-benar tidak Penulis sukai. Sangat terdengar berantakan seolah yang menyanyikan bukan Linkin Park. Penulis tidak ragu untuk memberikan lagu ini bintang dua di iTunes.</p>



<p>Selanjutnya ada lagu instrumen berjudul&nbsp;<em><strong>Drawbar</strong>,&nbsp;</em>di mana Tom Morello dari Race Against the Machine ikut mengambil bagian. Berbeda dengan lagu&nbsp;<em>Cure for the Itch&nbsp;</em>dan&nbsp;<em>Session</em>, tidak terdengar suara elektronik di lagu ini.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Final Masquerade [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/i8q8fFs3kTM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Di antara semua lagu,&nbsp;<em><strong>Final Masquerade</strong>&nbsp;</em>adalah lagu favorit Penulis di album ini. Lagu ini dideskripsikan sebagai genre&nbsp;<em>rock&nbsp;</em>alternatif atau&nbsp;<em>hard rock</em>. Nuansanya mirip dengan lagu&nbsp;<em>What I&#8217;ve Done</em>.</p>



<p>Tempo lagunya tidak terlalu cepat, namun sangat enak didengarkan. Chester tidak perlu melakukan&nbsp;<em>screaming&nbsp;</em>untuk menunjukkan kemampuan vokalnya yang luar biasa.</p>



<p>Album ditutup dengan lagu&nbsp;<em><strong>A Line in the Sand</strong>&nbsp;</em>yang juga tidak Penulis sukai sama sekali. Alasannya sama dengan lagu&nbsp;<em>Mark the Graves</em>, begitupun dengan ratingnya di iTunes Penulis.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Penutup</h1>



<p>Bagi penggemar lagu-lagu&nbsp;<em>rock,&nbsp;</em>album ini akan disukai setelah sebelumnya Linkin Park gemar melakukan eksperimen. Nyaris tidak ada sentuhan elektronik sekali, sehingga bagi beberapa fans album ini terdengar aneh.</p>



<p>Penulis pun sejujurnya kurang menyukai album ini, walaupun menyukai beberapa lagu di dalamnya seperti&nbsp;<em>Wasteland</em>,&nbsp;<em>Rebellion,&nbsp;</em>dan&nbsp;<em>Final Masquerade.</em></p>



<p>Bagi Penulis, yang namanya Linkin Park harus mampu menggabungkan musik&nbsp;<em>rock, electronic, </em>hingga&nbsp;<em>hip-hop</em>. Lagu yang memiliki video klip juga hanya dua, <em>Until It&#8217;s Gone </em>dan <em>Final Masquerade. </em>Tapi yang namanya fans, Penulis tetap mendengarkan album ini.</p>



<p>Setelah mendengarkan album ini, Penulis berharap di album selanjutnya Linkin Park akan kembali seperti dulu lagi. Harapan tersebut tidak terkabul, karena Linkin Park semakin berubah drastis!</p>



<p>Album selanjutnya,&nbsp;<em><strong>One More Light</strong>. Stay Tuned!</em></p>



<p>Kebayoran Lama, 19 April 2020, terinspirasi karena ingin menulis serial artikel tentang Linkin Park</p>



<p>Foto: <a href="https://www.amazon.com/Hunting-Party-Linkin-Park/dp/B00K03VZ1K">Amazon</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-the-hunting-party/">Linkin Park dan The Hunting Party</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Linkin Park dan Living Things</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-living-things/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Apr 2020 12:30:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[Living Things]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3735</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saat kelas 11-12 SMA, selera musik Penulis mulai merambah ke dunia lain yang waktu itu sedang&#160;booming: K-Pop. Ada alasannya, namun rasanya tidak akan Penulis ceritakan di sini. Karena genre musik tersebut benar-benar baru, maka Penulis banyak menghabiskan waktu untuk mendengarkan lagu-lagunya terutama dari SNSD dan Super Junior. Akibatnya, Penulis sampai tidak menyadari kalau Linkin Park [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-living-things/">Linkin Park dan Living Things</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Saat kelas 11-12 SMA, selera musik Penulis mulai merambah ke dunia lain yang waktu itu sedang&nbsp;<em>booming</em>: <strong>K-Pop</strong>. Ada alasannya, namun rasanya tidak akan Penulis ceritakan di sini.</p>



<p>Karena genre musik tersebut benar-benar baru, maka Penulis banyak menghabiskan waktu untuk mendengarkan lagu-lagunya terutama dari SNSD dan Super Junior.</p>



<p>Akibatnya, Penulis sampai tidak menyadari kalau Linkin Park mengeluarkan album baru!</p>



<h1 class="wp-block-heading">Album dengan Jarak Terpendek</h1>



<p>Penulis pertama kali mengetahui kalau Linkin Park mengeluarkan album baru adalah dari tetangga. Katanya, Linkin Park punya&nbsp;<em>single&nbsp;</em>baru yang berjudul&nbsp;<em>Burn It Down</em>.</p>



<p>Waktu itu Penulis tidak percaya dan mengatakan kalau itu merupakan lagu dari Avenged Sevefold. Ketika dicek, ternyata memang benar kalau Linkin Park baru merilis album baru berjudul <strong><em>Living Things</em></strong>.</p>



<p>Hal ini memang sangat mengejutkan Penulis karena jarak album ini dengan album sebelumnya,&nbsp;<em><a href="https://whathefan.com/musikfilm/linkin-park-dan-a-thousand-suns/">A Thousand Suns</a>, </em>hanya 2 tahun. Bisa dibilang, ini merupakan rekor tercepat.</p>



<p>Sebagai perbandingan, jarak antara&nbsp;<em><a href="https://whathefan.com/musikfilm/linkin-park-dan-hybrid-theory/">Hybrid Theory</a>&nbsp;</em>dan&nbsp;<em>Meteora&nbsp;</em>adalah 3 tahun. Jarak <em><a href="https://whathefan.com/musikfilm/linkin-park-dan-meteora/">Meteora</a>&nbsp;</em>dan&nbsp;<em>Minutes to Midnight&nbsp;</em>adalah 4 tahun.&nbsp;<a href="https://whathefan.com/musikfilm/linkin-park-dan-minutes-to-midnight/"><em>Minutes to&nbsp;Midnight</em></a> ke&nbsp;<em>A Thousand Suns&nbsp;</em>juga 3 tahun.</p>



<p>Oleh karena itu, di tahun 2012 Penulis sama sekali tidak menyangka kalau band ini akan merilis album baru mereka. Meskipun sedang menggandrungi K-Pop, album baru Linkin Park adalah sesuatu yang wajib didengarkan.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Lagu-Lagu <em>Living Things</em></h1>



<p><i>Living Things </i>berisikan 12 lagu dan terdengar &#8220;normal&#8221; jika dibandingkan dengan album sebelumnya, <em>A Thousand Suns</em>. Linkin Park mengatakan kalau album ini menggabungkan unsur-unsur yang ada di empat album sebelumnya.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="LOST IN THE ECHO [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/co4YpHTqmfQ?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Album dibuka dengan lagu&nbsp;<em><strong>Lost in the Echo</strong>&nbsp;</em>yang menggabungkan&nbsp;<em>rap&nbsp;</em>Mike Shinoda dan vokal Chester di bagian&nbsp;<em>reff.&nbsp;</em>Bisa dibilang, inilah formula standar untuk lagu-lagu Linkin Park.</p>



<p>Selanjutnya ada lagu&nbsp;<em><strong>In My Remains</strong>&nbsp;</em>yang cukup Penulis sukai. Musiknya enak, suara Chester terdengar sangat merdu dan&nbsp;<em>powerful</em>, suara Mike di&nbsp;<em>bridging&nbsp;</em>berhasil membuat Penulis merinding ketika mendengarkannya.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="BURN IT DOWN [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/dxytyRy-O1k?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><em>Single&nbsp;</em>pertama dari album ini adalah&nbsp;<em><strong>Burn It Down</strong>&nbsp;</em>yang video klipnya terlihat seperti dari film Transformers dan banyak adegan <em>slow-motion</em>. Sayangnya, Penulis kurang menyukai lagu ini.</p>



<p>Lagu berikutnya,&nbsp;<em><strong>Lies Greed Misery</strong>,&nbsp;</em>baru Penulis sangat sukai. Meskipun terdengar sangat elektronik dan hip-hop, lagu ini terasa sangat enak dan keras untuk didengarkan.</p>



<p>Dua pertiga lagu didominasi oleh&nbsp;<em>rap </em>dari Mike, sedangkan sepertiganya lagi kita akan mendengarkan teriakan Chester yang sangat kuat sampai akhir lagu.</p>



<p>Penulis kurang menyukai lagu&nbsp;<em><strong>I&#8217;ll Be Gone</strong>&nbsp;</em>dan hanya memberikannya bintang dua di iTunes. Penulis sangat jarang memberikan lagu Linkin Park dengan bintang serendah itu.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="CASTLE OF GLASS [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/ScNNfyq3d_w?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Sebaliknya, lagu&nbsp;<em><strong>Castle of Glass</strong>&nbsp;</em>menjadi lagu favorit Penulis di album ini. Gimana ya, sangat susah untuk mendeskripsikan lagu yang satu ini.</p>



<p>Diawali dengan suara&nbsp;<em>sample&nbsp;</em>yang sangat&nbsp;<em>catchy,&nbsp;</em>kita akan mendengarkan suara Mike yang disambung dengan suara Chester di bagian&nbsp;<em>reff</em>. Meskipun terdengar lembut, lagu ini mampu menyayat hati.</p>



<p>Konsep dari video klipnya sendiri sangat Penulis sukai, di mana ada cuplikan game <em>Medal of Honor: Warfighter. </em>Lagu ini memang menjadi soundtrack dari game tersebut.</p>



<p>Tidak hanya lagu Lies Greed Mesery, lagu Victimized juga sangat keras. Durasi lagunya di bawah 3 menit, membuat lagu ini terdengar sangat intens dan padat. <em><strong>Skin to Bone</strong>&nbsp;</em>terdengar aneh, sehingga Penulis kurang menyukainya.</p>



<p>Kalau lagu&nbsp;<em><strong>Until It Breaks</strong>&nbsp;</em>yang bernuansa hip-hop cukup Penulis sukai. Lagunya terasa seperti lagu&nbsp;<em>When They Come for Me&nbsp;</em>di album&nbsp;<em>A Thousand Suns</em>.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="ABRAHAM LINCOLN: VAMPIRE HUNTER feat. POWERLESS (Trailer) - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/VPTdlrN4AFI?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Selanjutnya adalah <em><strong>Tinfoil</strong>&nbsp;</em>yang merupakan <em>interlude </em>dari lagu terakhir,&nbsp;<strong><em>Powerless</em></strong>. Lagu ini menjadi salah satu&nbsp;<em>soundtrack&nbsp;</em>film&nbsp;<em>Abraham Lincoln: Vampire Hunter.</em></p>



<p>Lirik lagu ini terasa dalam dan memilukan karena menunjukkan ketidakberdayaan kita.&nbsp; Oleh karena itu, lagu ini menjadi favorit Penulis lainnya dari album ini.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Penutup</h1>



<p>Setelah melakukan dua eksperimen di album&nbsp;<em>Minutes to Midnight&nbsp;</em>dan&nbsp;<em>A Thousand Suns</em>, Linkin Park merasa menemukan zona nyaman baru mereka sehingga terciptalah album ini.</p>



<p>Album ini memang terdengar segar, namun tidak meninggalkan identitas Linkin Park yang selama ini dikenal oleh publik. Sayangnya, suara gesekan <em>turntables </em>sudah tidak terdengar lagi, mungkin sudah dianggap ketinggalan zaman<em>.</em></p>



<p>Jika disimpulkan, album ini masih mengusung genre <em>alternative rock</em>, <em>electronic rock</em>, dan <em>rap rock.&nbsp;</em>Genre-genre tersebut sudah lama identik dengan Linkin Park sehingga Penulis lumayan menyukai lagu-lagu yang ada di album ini.</p>



<p>Tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, Penulis akhirnya memasang mata agar tidak ketinggalan album barunya. Benar saja, dua tahun kemudian, Linkin Park kembali merilis albumnya yang paling rusuh!</p>



<p>Album selanjutnya,&nbsp;<em><strong>The Hunting Party</strong>. Stay Tuned!</em></p>



<p>Kebayoran Lama, 12 April 2020, terinspirasi karena ingin menulis serial artikel tentang Linkin Park</p>



<p>Foto:&nbsp;<a href="https://www.amazon.com/Living-Things-Linkin-Park/dp/B007UQ5Z1G">Amazon</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-living-things/">Linkin Park dan Living Things</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Linkin Park dan Meteora</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-meteora/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2020 16:47:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[Meteora]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3628</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di antara semua album Linkin Park, yang menjadi favorit adalah Meteora. Dirilis pada tahun 2003, banyak lagu-lagu favorit Penulis yang berasal dari album ini. Selain itu, dua dari tiga lagu Linkin Park pertama yang Penulis dengarkan berasal dari album ini:&#160;Somewhere I Belong dan Faint. Walaupun begitu, pada akhirnya Penulis memutuskan untuk menomorsatukan lagu lain dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-meteora/">Linkin Park dan Meteora</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Di antara semua album Linkin Park, yang menjadi favorit adalah <strong><em>Meteora</em></strong>. Dirilis pada tahun 2003, banyak lagu-lagu favorit Penulis yang berasal dari album ini.</p>



<p>Selain itu, dua dari tiga lagu Linkin Park pertama yang Penulis dengarkan berasal dari album ini:&nbsp;<em>Somewhere I Belong </em>dan <em>Faint</em>. Walaupun begitu, pada akhirnya Penulis memutuskan untuk menomorsatukan lagu lain dari album ini.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Kenapa Namanya&nbsp;<em>Meteora</em>?</h1>



<p>Mendengar nama albumnya, mungkin kita akan merasa penasaran dengan artinya. Apakah ada hubungannya dengan meteor? Ternyata bukan.</p>



<figure class="wp-block-image alignnone size-large wp-image-3631"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="607" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/meteora-1-1024x607.jpg" alt="" class="wp-image-3631" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/meteora-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/meteora-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/meteora-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/meteora-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Meteora, Yunani (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.klook.com/id/activity/6049-day-tour-meteora-train-athens/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCKjano-qi-gCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Kunjungi Klook"><span class="pM4Snf">Klook</span></a>)</figcaption></figure>



<p>Dari beberapa sumber yang pernah Penulis baca, <em>Meteora&nbsp;</em>diambil dari sebuah tempat suci (semacam biara) di Yunani. Penulis tidak mengetahui alasan pemilihan tempat tersebut.</p>



<p>Album ini terdengar sama seperti pendahulunya,&nbsp;<a href="https://whathefan.com/musikfilm/linkin-park-dan-hybrid-theory/"><em>Hybrid Theory</em></a>, di mana ketika mendengarkan lagunya kita tahu kalau lagu tersebut merupakan lagu Linkin Park.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Lagu-Lagu <em>Meteora</em></h1>



<p>Album ini berisikan 13 lagu, meskipun&nbsp;<em>track</em> nomor satu, <em>Foreword,&nbsp;</em>hanya terdengar seperti suara dentingan besi. Durasinya pun super singkat, hanya beberapa detik. Mungkin lagu ini dimaksudkan sebagai intro album.</p>



<p>Lagu langsung disambung dengan&nbsp;<em>Don&#8217;t Stay</em>. Pada lagu ini, kita hanya akan mendengarkan vokal Chester yang kuat. Yang membuat Penulis lumayan menyukai lagu ini apalagi kalau bukan gesekan&nbsp;<em>turntables&nbsp;</em>dari Mr. Han.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Somewhere I Belong [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="555" src="https://www.youtube.com/embed/zsCD5XCu6CM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Selanjutnya ada lagu&nbsp;<em>Somewhere I Belong&nbsp;</em>yang sangat terkenal. Penulis masih sangat menyukai lagu ini karena memiliki paket lengkap:&nbsp;<em>rap&nbsp;</em>Mike, vokal kuat dari Chester, gesekan DJ, dan iringan musik yang keras.</p>



<p>Selain lagunya, Penulis juga menyukai konsep video klipnya yang pada bagian awal menunjukkan kamar minimalis ala Jepang dan ada Gundamnya. Keinginan <a href="https://whathefan.com/renungan/filosofi-merakit-gundam/">Penulis memiliki Gundam</a> mungkin berawal dari video klip ini.</p>



<p><em>Lying from You&nbsp;</em>merupakan paket lengkap lainnya yang mendapatkan bintang 5 dari Penulis. Lagu ini terdengar lebih keras karena Chester berteriak pada lagu ini. Sayang, lagu ini tidak memiliki video klip.</p>



<p>Lagu kelima dari album ini adalah&nbsp;<em>Hit the Floor</em> yang terdengar sangat keras. Lagu ini termasuk yang paling jarang dinyanyikan Linkin Park ketika konser.</p>



<p>Lagu selanjutnya,&nbsp;<em>Easier to Run</em>, juga termasuk jarang dinyanyikan. Padahal, Penulis sangat menyukainya,terutama karena liriknya yang terkesan suram dan depresif. Penulis sempat membuat <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/lebih-mudah-untuk-lari/">artikel yang terinspirasi dari judul lagu</a> ini.</p>



<p>Justru lagu selanjutnya,&nbsp;<em>Faint</em>, yang termasuk sering ada di konser. Maklum, lagu ini menjadi salah satu lagu Linkin Park yang paling terkenal walau Penulis hanya menyukai sekadarnya.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
 <iframe loading="lazy" title="Breaking The Habit [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/v2H4l9RpkwM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Penulis tidak terlalu menyukai lagu&nbsp;<em>Figure&nbsp;</em>walau masih bisa menikmatinya. Beda cerita dengan lagu selanjutnya,&nbsp;<em>Breaking the Habit</em>, lagu terkenal Linkin Park lainnya.</p>



<p>Dibandingkan dengan lagu-lagu lainnya, lagu ini terdengar lebih &#8220;lembut&#8221;. Bahkan sepanjang lagu kita tidak akan mendengarkan&nbsp;<em>genjrengan&nbsp;</em>gitar keras seperti biasanya.</p>



<p>Vokal tinggi Chester dipamerkan di bagian <em>bridge </em>lagu. Biasanya kalau konser, Chester akan menyanyikan <em>reff</em>-nya tanpa diiringi musik yang akan memukau penonton. Sebagai tambahan, video klip dengan gaya animasi yang dimiliki juga sangat keren.</p>



<p>Setelah&nbsp;<em>Breaking the Habit</em>. ada lagu&nbsp;<em>From the Inside&nbsp;</em>yang juga menjadi salah satu favorit Penulis. Lagu ini termasuk paket lengkap plus&nbsp;<em>screaming&nbsp;</em>dari Chester.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="From The Inside [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/YLHpvjrFpe0?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Video klipnya juga meninggalkan kesan untuk Penulis, di mana kita akan melihat anak kecil yang seolah terjebak dalam situasi rusuh di kotanya. Lagu ini benar-benar&nbsp;<em>badass</em>.</p>



<p>Album berlanjut dengan lagu&nbsp;<em>Nobody Listening&nbsp;</em>yang kesannya Jepang banget. Penulis memaklumi hal ini karena Mike Shinoda merupakan keturunan Jepang.</p>



<p>Jika di album&nbsp;<em>Hybrid Theory&nbsp;</em>ada lagu&nbsp;<em>Cure for the Itch&nbsp;</em>sebagai lagu instrumental, maka&nbsp;<em>Meteora&nbsp;</em>memiliki lagu&nbsp;<em>Session</em>. Di sini, kemampuan Mr. Han sebagai DJ benar-benar terdengar.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Numb [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/kXYiU_JCYtU?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Nah, lagu penutup dari album ini merupakan lagu nomor satu Penulis dari Linkin Park. Sampai kapanpun, posisinya tidak akan tergantikan oleh lagu lain.&nbsp;<em>Numb&nbsp;</em>menjadi lagu terakhir dari album&nbsp;<em>Meteora</em>.</p>



<p>Mungkin lagu ini tidak termasuk paket lengkap seperti&nbsp;<em>Somewhere I Belong&nbsp;</em>atau&nbsp;<em>Lying from You</em> karena tidak ada&nbsp;<em>rap.&nbsp;</em>Hanya ada suara Mike sebagai&nbsp;<em>backing vocal&nbsp;</em>di bagian&nbsp;<em>bridge.</em></p>



<p>Pada tulisan sebelumnya, Penulis mengatakan bahwa dirinya merupakan tipe yang mendengarkan musik tanpa terlalu memedulikan lirik. Beda kasus dengan lagu ini yang liriknya benar-benar Penulis perhatikan.</p>



<p>Penulis menangkap kalau lagu ini berusaha menggambarkan seseorang yang telah lelah menjadi orang lain hingga kehilangan jati dirinya sendiri. Hal ini diperkuat oleh video klipnya.</p>



<p>Bisa dibilang lagu ini merupakan lagu yang paling sering membuat Penulis menangis. Padahal Penulis tidak merasa terlalu&nbsp;<em>related&nbsp;</em>dengan lagu ini, mungkin karena merasa terbawa oleh lagunya saja.</p>



<p>Ketika konser memperingati kematian Chester, Linkin Park memainkan lagu ini tanpa suara vokal. Suara penonton yang menjadi penggantinya. Saat melihatnya, air mata Penulis jatuh begitu saja.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Penutup</h1>



<p><em>Meteora </em>merupakan album favorit Penulis dari Linkin Park, atau bahkan album favorit dari semua grup musik. Komposisi daftar lagu yang ada di dalamnya benar-benar cocok dengan selera Penulis.</p>



<p>Apalagi, setelah album ini Linkin Park seperti mengalami perubahan genre musik. Mike Shinoda pada satu kesempatan menyebutnya sebagai proses evolusi band.</p>



<p>Walaupun begitu, Penulis tetap mendengarkan semua lagu yang dikeluarkan oleh Linkin Park sembari tetap mendengarkan lagu-lagu yang telah melambungkan nama mereka.</p>



<p>Album selanjutnya,&nbsp;<em>Minutes to Midnight. Stay tuned!</em></p>



<p><em><strong>NB:</strong></em><strong>&nbsp;</strong>Ketika menulis artikel ini, Penulis menonton ulang video klip yang berasal dari album ini. Ketika sampai di lagu Numb, Penulis kembali menangis.</p>



<p>Kebayoran Lama, 8 Maret 2020, terinspirasi karena ingin menulis sesuatu tentang Linkin Park</p>



<p>Foto: <a href="https://www.amazon.com/Meteora-Linkin-Park/dp/B00008H2LB">Amazon</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-meteora/">Linkin Park dan Meteora</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
