Chapter 10 Perjanjian Damai

Ketika menjelang sore, terdengar ketukan pintu dari depan rumah. Siapa gerangan yang datang? Aku jarang sekali mendapat tamu. Penasaran, aku langkahkan kakiku ke ruang tamu.

“Hai Leon, apa kabar?” katanya dengan ceria seperti biasa. Siapa lagi kalau bukan Kenji.

“Tidak terlalu buruk. Diskors bukan masalah berarti. Aku masih bisa belajar sendiri.” jawabku tanpa intonasi.

“Ini hari pertama kan? Masih kurang enam hari lagi ya.”

“Iya.”

“Bagaimana kamu bisa belajar sendiri jika tadi kamu tidak ikut pelajaran dan buku untuk kita belum keluar?” tanyanya dengan penuh semangat.

“Entahlah.”

“Ini, ambilah. Semoga bermanfaat untukmu. Aku sudah fotokopi catatanku, semoga lengkap. Aku juga sudah fotokopi untuk Andra dan Bejo.”

“Te . . terima kasih.”

“Oh ada kak Kenji, masuk dulu kak!” adikku Gisel memunculkan dirinya.

“Haha, oke Gisel. Pasti ada yang mau kamu tanyakan.”

“Kok tahu?”

“Karena kamu memang tipe orang yang seperti itu, hehe.”

Tampaknya adikku benar-benar memiliki banyak pertanyaan untuk Kenji. Semoga saja dia tidak menanyakan bagaimana cara Kenji bisa membuatku berubah seperti ini.

“Kak, mengapa air bisa memadamkan api?” tanya Gisel ketika Kenji sudah duduk di kursi ruang tamuku.

“Kenapa tanya itu?”

“Karena dulu Gisel pernah mencoba menyalakan api karena penasaran, tapi langsung disiram air sama kakakku,” katanya sambil melirik aku, “dan ajaibnya apinya langsung padam.”

“Wah, bahaya sekali Gisel, kamu enggak boleh main api sembarangan.”

“Kan Gisel penasaran.”

“Kau ini kalau dikasih tahu diam.” aku menyertakan diri dalam pembicaraan, dengan ketus.

“Sudahlah Leon, Edison dulu juga pernah hampir membakar rumahnya sendiri karena penasaran. Tapi Gisel jangan sampai seperti itu ya.” kata Kenji dengan ramahnya. Dilihat dari gayanya, nampaknya ia tipe orang yang dekat dengan anak kecil.

“Edison itu siapa?”

“Thomas Alva Edison, penemu lebih dari seribu dua ratus penemuan seperti lampu pijar, perekam suara, film, dan masih banyak yang lain.”

Jujur, bagiku pun ini adalah pengetahuan baru untukku. Selain kecerdasan, nampaknya ia memiliki banyak sekali wawasan tentang pengetahuan umum yang belum tentu diajarkan di sekolah.

“Lalu tentang pertanyaan awalmu tadi, mengapa air bisa memadamkan api, itu karena air dapat menghilangkan panas dari api. Itu saja kok penjelasannya.”

Tanya jawab ini berlangsung lumayan lama dan hangat. Meskipun hanya sebagai pendengar, sesekali aku juga ikut mengajukan pertanyaan yang ada di dalam topik bahasan mereka. Benar-benar terasa sekali suasana kekeluargaannya

Dengan lambaian tangan, dia pergi meninggalkan rumahku. Sejak itu, hingga masa skorsku berakhir, dia selalu mampir ke rumah, memberiku catatannya, dan pulang dengan menyunggingkan senyum khasnya. Entah apa yang ada di pikirannya, sampai-sampai ia melakukan hal semacam ini kepadaku. Padahal aku merasa tidak pernah berbuat baik padanya. Sekalipun.

***

Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah setelah melewati masa-masa skors. Jantungku berdegub kencang, karena aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Berdiam diri seperti biasa, ataukah meminta maaf ke semua teman-teman kelas. Antara perasaan bersalah dan gengsi, antara kesadaran diri dan egoisme, antara pernyataan bersalah dan keangkuhan hati. Mungkin, aku hanya perlu diam dan tidak terlalu kejam, sehingga setidaknya aku terlihat telah berubah menjadi anak yang baik-baik. Semoga saja.

Begitu kakiku menginjakkan lantai di ambang pintu kelas, semua mata tertuju padaku. Seperti biasa, pandangan penuh dengan kesinisan. Memang aku kebal dengan semua ini, tapi bagaimana bisa memberi tahu kalau aku sudah berubah jika tatapan mereka masih sama?

“Pagi Leon!” siapalagi yang mau menyapaku, selain si dung, . . maksudku si Kenji. Bibirku sangat berat untuk kubuka, tapi aku berusaha untuk membukanya sekuat tenaga dan membalas sapaannya.

“Pagi.”

Hanya satu kata, tetapi bisa membuat kelas terperangah dalam diam seakan-akan aku sedang menunjukkan aksi sirkus yang menakjubkan. Terdengar was wes wos di kelas membicarakan diriku. Aku sudah tidak peduli lagi, aku sangat malu menjadi pusat perhatian. Terlebih lagi, ini kali pertama perhatian tersebut disebabkan bukan karena kelakuan burukku. Hanya membalas teguran Kenji, cukup untuk membuat tatapan sinis mereka berubah menjadi tatapan keheranan.

“Hei Kenji, kamu beri apa dia, sampai bisa membalas sapaanmu?” tanya salah satu dari idi, . . Sudarwono bersaudara.

“Aku tidak melakukan apa-apa, kalian saja yang terlalu banyak berpikiran negatif. Sebenarnya Leon itu baik, tidak seperti yang ada di pikiran kalian. Iya kan Leon?”

Aku hanya mengangguk kecil.

“Sangat aneh, iya kan Dea?”

“Benar Andra, sangat aneh.”

“Tapi tidak ada yang mustahil . .”

“. . jika kita mau berusaha.”

Celotehan mereka mendapatkan tepuk tangan yang cukup meriah. Aku ikut bertepuk tangan kecil di bawah meja. Lalu tanpa disangka-sangka, mereka berdua menghampiri diriku.

“Hei bung, kami minta maaf . .”

“. . karena telah membuatmu . .”

“. . menjadi seperti mumi.”

Mungkin karena mereka saudara kembar, mereka memiliki kemampuan untuk saling sahut menyahut seperti itu.

“Iya Andra, dan Dea, aku minta maaf.”

“Tenang saja bung . .”

“. . karena kami baik hati . .”

“. . dan tidak sombong . .”

“. . maka dari itu . .”

“. . Anda kami maafkan!”

Terserah kalian, aku tidak peduli, jawab batinku. Hanya di dalam batin. Takut menyinggung perasaan mereka. Meskipun yang lain tertawa karena hal ini, aku tidak dapat menemukan dimana lucunya. Mungkin selera humorku sangat rendah, lebih rendah dari selera humor seekor hyena.

“Kamu tidak minta maaf kepada teman-teman yang lain?” celetuk seorang wanita dari arah depan. Dari suaranya,tampaknya wanita yang menyentakku di hari pertama MOS, namanya Jessica kalau tidak salah.

Sesaat kami bertatapan mata. Sungguh, nampaknya baru kali ini juga aku bertatapan dengan lawan jenis bukan karena bertengkar. Aku melihat ke seluruh isi kelas, balas memandang semua mata yang tertuju padaku. Dengan menggenggam erat tanganku, aku berdiri dari tempatku duduk.

“Teman-teman, saya minta maaf atas perbuatan saya selama ini. Terima kasih.”

“Ayo, sini salaman dengan semuanya.” kini tanganku ditarik oleh Jessica sendiri.

Kusalami satu persatu mereka semua. Hanya wanita Jakarta yang tampaknya tidak peduli dengan permohonan maafku yang tulus. Selain dia, Bejo pun nampak belum ikhlas memaafkanku, mungkin karena aku membuat pekerjaannya sebagai ketua kelas terasa berat. Biarlah, yang penting aku sudah minta maaf, dimaafkan atau tidak urusan mereka.

“Ada yang belum bung.” kata Sudarwono bersaudara dengan berbarengan.

“Siapa?”

“Kakak-kakak senior.”

Ya, mereka benar. Aku juga harus minta maaf kepada mereka. Sama seperti Bejo, aku telah membuat masa-masa mereka menjadi senior menjadi berat. Meskipun aku pernah dihajar habis-habisan oleh salah satu dari mereka, aku tidak akan malu untuk meminta maaf. Maka sewaktu istirahat, ditemani Kenji dan Sudarwono bersaudara, aku berkeliling di lantai dua, ruangan kelas tiga, untuk mencari mereka satu persatu.

Untunglah Kenji hapal kelas berapa saja mereka. Mereka tampak heran bercampur dengan kaget melihat aku meminta maaf kepada mereka. Satu per satu kami menghampiri mereka. Ada yang langsung memaafkan, ada yang memberikan tatapan penuh kecurigaan namun tetap memaafkan, ada yang mengapresiasi keberanianku untuk mengakui kesalahan, ada yang tidak peduli, macam-macam.

Ketika bertemu dengan tiga orang OSIS yang mengawasi kelas kami (Rina, Desi, dan Joko), mereka memberikan tiga respon yang berbeda. Rina dengan tersenyum memaafkan, Dessy dengan masih bingung dengan rambutnya nampaknya tidak peduli, dan Joko terlihat agak enggan untuk memaafkan, namun tetap menyambut uluran tanganku. Akhirnya setelah berkeliling, tersisa satu orang lagi, si alis tebal.

“Ini dia kelasnya, dua belas IPS lima. Kamu sudah siap Leon?” tanya Kenji kepadaku.

“Siap.”

“Biar kami yang memanggilkan, mas Aan!” seloroh mereka berdua begitu saja. Diiringi dengan aura kegelapan, dia datang menghampiri kami. Mulanya ia cengar-cengir melihat Sudarwono bersaudara, namun begitu melihatku, raut wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat.

“Ada apa ini? Minta dikeroyok lagi?”katanya dengan nada tinggi.

“Tenang big bro . .”

“. . dia kemari . .”

“. . hanya untuk minta maaf . .”

“. . atas kelakuannya selama MOS . .”

“. . tenang saja big bro . .”

“. . dia sudah berubah total . .”

“. . menjadi Power Ranger!”

Gelak tawa mereka berikan kepada kami, namun diantara kami berdua, aku dan alis tebal, tidak ada yang tertawa. Wajahnya tetap suram.

“Pergi, atau kuhajar kalian semua.”

Ternyata orang ini masih menyimpan dendam. Padahal ia telah mengerahkan anak buahnya untuk menghajarku hingga babak belur. Apa yang harus kuperbuat? Pergi, atau tetap bertahan disini?

“Kak Aan yang kuhormati, Leon sengaja datang kemari untuk me . .” belum Kenji selesai bicara, Aan berteriak di depan kami dengan suara yang lebih keras.

“PERGI!! Kalian enggak tahu semua anggota gangku disini?? Mau dihajar ramai-ramai kalian?? PERGI!!”

Dengan ketakutan -tentunya mereka bertiga, karena aku tidak takut sedikitpun- kami pergi meninggalkannya. Aku menatap matanya dengan tajam seolah menantangnya sebelum meninggalkannya. Aku tetaplah Leon. Aku akan memilih untuk acuh dan tidak terlalu mempedulikan penolakan ini. Yang penting, aku sudah membuat banyak perjanjian damai dengan orang lain.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.