<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tips Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/tips/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/tips/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 Jun 2024 16:48:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>tips Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/tips/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bagaimana Caranya agar Semangat Membaca Buku?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Jun 2024 16:48:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7520</guid>

					<description><![CDATA[<p>Entah saja kapan Penulis membuat persona dirinya sebagai seorang pembaca buku. Mungkin sejak kuliah, ketika dirinya mulai membeli buku-buku sendiri. Ketika sekolah, Penulis memang sudah membaca buku, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak. Hingga hari ini, persona kutu buku masih melekat pada diri Penulis. Selain karena sering membuat artikel ulasan buku yang sudah selesai dibaca, Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/">Bagaimana Caranya agar Semangat Membaca Buku?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Entah saja kapan Penulis membuat persona dirinya sebagai seorang pembaca buku. Mungkin sejak kuliah, ketika dirinya mulai membeli buku-buku sendiri. Ketika sekolah, Penulis memang sudah membaca buku, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak.</p>



<p>Hingga hari ini, persona kutu buku masih melekat pada diri Penulis. Selain karena sering membuat artikel ulasan buku yang sudah selesai dibaca, Penulis memang sering terlihat bersemangat jika topik obrolan bersama teman-teman sudah membahas tentang buku.</p>



<p>Salah satu pertanyaan yang sering diberikan kepada Penulis adalah bagaimana caranya agar suka membaca? Tentu ini pertanyaan yang cukup <em>tricky</em>, karena kebiasaan membaca Penulis sudah dari kecil. Pengaruh ayah yang juga suka membaca bisa <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apa-yang-salah-dengan-privilege/">menjadi <em>privilige</em></a> untuk Penulis.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-768x566.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-1024x755.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-346x255.jpg 346w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019.jpg 1221w " alt="Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/mencari-inspirasi-karakter-melalui-anime/">Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime</a></div></div></div><p></p>


<p>Namun, jika dipikir-pikir lagi, sebenarnya ada beberapa cara yang berhasil setidaknya pada diri Penulis. Meskipun suka membaca, ada kalanya Penulis merasa sangat malas untuk membuka buku. Entah ada berapa buku yang akhirnya menumpuk dan tidak pernah dibaca.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #1: Pilih Topik Buku yang Digemari</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7523" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/pile-of-assorted-novel-books-694740/">Min An</a></figcaption></figure>



<p>Tips pertama dan yang paling <em>basic </em>adalah <strong>memilih buku sesuai dengan topik yang digemari</strong>. Kalau sukanya fiksi, ya jangan memaksakan diri untuk membaca buku ekonomi. Yang ada malah merasa mual karena tidak paham sama sekali apa isinya.</p>



<p>Penulis sendiri biasanya punya stok untuk beberapa genre yang diminati, karena kebetulan dirinya punya banyak topik bacaan yang digemari. Jadi, Penulis bisa memilih genre bacaannya sesuai dengan <em>mood</em>-nya saat itu. </p>



<p>Saat ini saja, ada sekitar 12 buku yang Penulis baca bersamaan dari berbagai genre, mulai dari fiksi, sejarah, pengembangan diri, dan lain sebagainya. Penulis tinggal memilih mana yang mau dibaca hari ini, benar-benar tergantung <em>mood</em>-nya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #2: Pilih Buku yang Ringan-Ringan Dulu Saja</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7528" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/unrecognizable-woman-sitting-outdoors-and-reading-book-4963708/">Karolina Kaboompics</a></figcaption></figure>



<p>Selain topik, pemilihan bobot buku juga bisa menentukan semangat kita dalam membaca. Kalau belum terbiasa membaca, tips kedua, usahakan untuk<strong> memilih buku yang ringan-ringan dulu saja</strong>, baik dari segi ketebalan halaman maupun bahasa yang dimiliki.</p>



<p>Kalau mau memulai baca novel, bisa coba baca novel-novel ringan seperti karya <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-janji/">Tere Liye</a> atau <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/setelah-membaca-brianna-dan-bottomwise/">Andrea Hirata</a>. Jangan langsung baca novelnya <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-laut-bercerita/">Leila S. Chudori</a>, nanti <em>shock </em>karena ceritanya yang berat dan <em>dark</em>.</p>



<p>Kalau misal mau membaca buku non-fiksi seperti sejarah, bisa mulai baca buku yang kecil atau tipis dulu. Misal mau baca tentang Perang Dunia II, ya jangan langsung baca buku <em>Perang Eropa</em>-nya P. K. Ojong yang tebal-tebal dan ada sampai tiga jilid.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #3: Mulai dari Sedikit Dulu Saja</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7524" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-person-holding-a-book-2663851/">Enzo Muñoz</a></figcaption></figure>



<p>Tips ketiga, <strong>mulai dari sedikit dulu saja</strong>. Satu hari satu halaman pun tidak masalah, asal konsisten setiap hari. Nanti setelah semakin terbiasa, jumlah halaman atau durasi membaca dalam sehari bisa bertambah secara bertahap.</p>



<p>Agar bisa lebih konsisten, ada baiknya kalau kita memiliki <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-3-time-blocking/">time block</a> </em>untuk menentukan kapan kita membaca. Bisa setelah bangun, istirahat makan siang, atau menjelang tidur. Pilih waktu terbaik dari rutinitas harian kita.</p>



<p>Kebiasaan mikro seperti ini dibahas dalam buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/">Atomic Habits</a> </em>karya James Clear. Tidak apa-apa sedikit, yang penting rutin. Agar bisa dirutinkan, letakkan buku yang ingin dibaca di tempat yang mudah terlihat, jangan ditaruh di rak buku atau tempat tak terlihat lainnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #4: Jangan Paksakan Diri untuk Menghabiskan Buku</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7529" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-a-woman-with-bangs-reading-a-book-while-her-hand-is-on-her-head-7320383/">Karolina Kaboompics</a></figcaption></figure>



<p>Terkadang, ada saja buku yang memang seolah ditakdirkan untuk tidak ditamatkan, dan hal itu sama sekali tidak masalah. Tips keempat, <strong>jangan pernah memaksakan diri untuk menghabiskan buku</strong>. </p>



<p>Mungkin setelah membaca seperempat atau setengah buku, ternyata isinya kurang cocok dengan kita. Tidak menamatkan buku yang sudah dimulai bukanlah sebuah dosa. Daripada dipaksa menyelesaikan tapi isinya tidak masuk, ya untuk apa.</p>



<p>Penulis mungkin punya puluhan buku yang bernasib seperti itu, ditutup sebelum halaman terakhir selesai dibaca. Mungkin suatu saat akan coba dibaca lagi, tapi tidak sekarang. Apalagi, masih ada banyak buku lain yang lebih menarik untuk ditamatkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #5: Pinjam, Jangan Beli</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7525" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/assorted-books-on-shelf-1290141/">Ivo Rainha</a></figcaption></figure>



<p>Tips keempat yang bisa digunakan untuk berhemat adalah <strong>jangan membeli buku</strong>. Lho, kok gitu? Karena dengan perasaan memiliki buku tersebut, kita jadi cenderung berpikir, &#8220;Halah, dibaca nanti saja kalau sudah senggang.&#8221; Akhirnya, malah tidak tersentuh sama sekali.</p>



<p>Kalau belum terbiasa membaca, Penulis menyarankan lebih baik meminjam saja, entah ke teman ataupun perpustakaan. Penulis sendiri sering meminjamkan buku-bukunya ke siapapun yang ingin membaca. </p>



<p>Dengan meminjam, kita jadi memiliki semacam <em>deadline </em>kapan buku tersebut harus dikembalikan kepada pemiliknya. Dengan adanya <em>deadline</em>, kita pun jadi lebih termotivasi untuk segera memulai membaca dan menghabiskannya (opsional)</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #6: Baca dengan Suasana Nyaman</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7527" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-in-yellow-long-sleeve-shirt-lying-on-couch-4866043/">cottonbro studio</a></figcaption></figure>



<p>Tips kelima yang sering Penulis lakukan kepada dirinya sendiri adalah <strong>membuat suasana membaca menjadi senyaman mungkin</strong>. Kalau membacanya <em>pewe</em>, maka kita pun akan betah melakukannya dalam jangka waktu yang panjang, asal jangan malah ketiduran!</p>



<p>Kalau Penulis, seringnya membaca di atas kasur dengan lampu baca dan aroma terapi yang menyala. Alternatif tempat lain untuk membaca adalah duduk di teras, mengingat di teras rumah Penulis ada banyak tanaman sehingga suasananya menjadi sejuk.</p>



<p>Selain itu, mendengarkan lagu ketika membaca juga bisa menambah kenyamanan dalam membaca. <em>Playlist </em>lagu-lagu klasik atau <em>lo-fi </em>sangat cocok sebagai teman membaca. Sebaiknya jangan mendengarkan lagu yang memiliki lirik, khawatirnya jadi susah fokus.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #7: Jauhkan Smartphone</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7526" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/person-holding-amazon-kindle-ebook-844734/">özgür</a></figcaption></figure>



<p>Seperti yang sudah pada tulisan sebelumnya, Penulis memanfaatkan buku untuk menjauhkan dirinya dari media sosial. Percayalah, salah satu faktor yang membuat Penulis malas membaca buku adalah karena adanya distraksi dari <em>smartphone</em>-nya. </p>



<p>Oleh karena itu, tips terakhir, <strong>jauhkan <em>smartphone </em>ketika ingin membaca</strong>. Ketika membaca di kamar, Penulis biasanya menyalakan mode senyapnya dan meletakkannya di meja kerja. Kalau membaca di teras, ya <em>smartphone</em>-nya ditinggal saja di kamar. </p>



<p>Buku bisa menjadi subtitusi yang menarik dari <em>smartphone </em>ketika kita butuh mengisi waktu luang. Bahkan, belakangan Penulis lebih sering membawa buku ke kamar mandi ketika ada panggilan alam dibandingkan membawa <em>smartphone</em>. </p>



<p>Lantas, bagaimana jika kita membaca buku lewat aplikasi di <em>smartphone</em>. Nah, kebetulan Penulis merupakan pembaca konvensional yang tidak suka membaca buku digital. Kalau lebih suka membaca di <em>smartphone</em>, ya yang kuat saja menahan godaan untuk membuka apliaksi lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Kurang lebih seperti itulah tips agar semangat membaca yang telah Penulis terapkan sendiri dalam kehidupannya. Mungkin tidak semua tips cocok untuk Pembaca sekalian, tidak apa- Pilih saja tips yang cocok dengan gaya hidup Pembaca.</p>



<p>Yang jelas, membaca buku hingga saat ini tetap menjadi media favorit Penulis entah untuk hiburan maupun mendapatkan ilmu, meskipun sekarang ada banyak konten di media sosial maupun YouTube yang bisa menghadirkan hal tersebut.</p>



<p>Semoga tips di atas bisa menjadi penyemangat kita untuk bisa lebih banyak membaca buku, ya!</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 25 Juni 2024, terinspirasi setelah menulis artikel <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</a> </em>kemarin</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/books-in-black-wooden-book-shelf-159711/">Pixabay</a> </p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/">Bagaimana Caranya agar Semangat Membaca Buku?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lari Pagi adalah Obat Insomnia Terbaik Versi Saya</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jun 2023 13:57:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[insomnia]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[lari pagi]]></category>
		<category><![CDATA[rutinitas]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6566</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa kesempatan, Penulis menyebutkan bahwa dirinya kerap mengalami insomnia alias sulit tidur di malam hari. Tak heran jika Penulis kerap merasa iri kepada orang-orang yang mampu tidur dengan cepat setelah meletakkan kepalanya di atas bantal. Untuk itu, Penulis pun mulai mencoba berbagai cara agar bisa tidur cepat, mulai dari membaca buku, mengaji, minum susu, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya/">Lari Pagi adalah Obat Insomnia Terbaik Versi Saya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa kesempatan, Penulis menyebutkan bahwa dirinya kerap mengalami insomnia alias sulit tidur di malam hari. Tak heran jika Penulis kerap merasa iri kepada orang-orang yang mampu tidur dengan cepat setelah meletakkan kepalanya di atas bantal.</p>



<p>Untuk itu, Penulis pun mulai mencoba berbagai cara agar bisa tidur cepat, mulai dari membaca buku, mengaji, minum susu, meditasi, mendengarkan musik, dan lain sebagainya. Sayangnya, tidak ada yang benar-benar berhasil menghilangkan insomnia.</p>



<p>Namun, ada satu aktivitas yang, anehnya, dilakukan di pagi hari dan mampu memberikan efek yang relatif instan. Ketika melakukannya, maka Penulis bisa tidur dengan cepat dan tidak terlalu larut. Aktivitas tersebut adalah <strong>lari pagi</strong>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner.jpg 1280w " alt="Maskulinitas pada Musik Dewa" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/musik/maskulinitas-pada-musik-dewa/">Maskulinitas pada Musik Dewa</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Lari Pagi, Aktivitas Ringan yang Berat untuk Dilakukan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6589" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sebenarnya Enteng, tapi Kalah oleh Rasa Malas (<a href="https://www.pexels.com/id-id/@tirachard-kumtanom-112571/">Tirachard Kumtanom</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebenarnya, lari pagi bukanlah aktivitas yang baru Penulis lakukan. Dulu, Penulis pernah <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutin selama kurang lebih tiga bulan melakukannya</a>, sebelumnya akhirnya berhenti karena kalah dari rasa malas. Nah, baru akhir-akhir ini Penulis berusaha merutinkannya lagi.</p>



<p>Setelah sholat Shubuh dan mengaji, Penulis biasanya akan langsung siap-siap untuk lari pagi yang tentunya diawali dengan pemanasan. Karena daerah rumahnya cukup dingin, Penulis selalu menggunakan jaket.</p>



<p>Penulis tidak pernah lari pagi dengan jarah yang jauh, cukup tiga-empat kali putaran mengelilingi perumahan ditambah satu putaran untuk pendinginan. Itu pun sudah bisa menghasilkan keringat yang lumayan hingga membasahi kaus yang dikenakan.</p>



<p>Jika melihat aplikasi <em>tracker</em>, setiap pagi Penulis melangkah sebanyak 3.000 hingga 4.000 langkah, yang setara dengan 3-4 kilometer. Penulis memilih untuk lari pagi dengan jarak yang sedikit, tapi rutin.</p>



<p>Sebenarnya aktivitas lari pagi adalah sesuatu yang ringan, apalagi jarak yang ditempuh juga tidak terlalu jauh. Namun, aktivitas ringan tersebut menjadi berat jika kita tidak mampu mengalahkan rasa malas dari dalam diri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Efek Instan Lari Pagi</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6590" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Bangun Jadi Lebih Segar (<a href="https://www.pexels.com/id-id/@tirachard-kumtanom-112571/">Tirachard Kumtanom</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis berhasil membuktikan bahwa lari pagi dapat membantu mengatasi insomnia secara instan. Entah bagaimana dari sisi medisnya, tapi yang jelas Penulis jadi bisa tidur cepat sekitar pukul 10:30 setiap malamnya.</p>



<p>Sebagai perbandingan, sebelumnya Penulis baru bisa tidur di atas jam 12 malam. Beberapa minggu terakhir Penulis sempat bolong menjalani rutinitas ini, dan akibatnya Penulis harus tidur lebih malam.</p>



<p>Kualitas tidur Penulis juga jadi meningkat setelah rutin lari pagi. Jika biasanya Penulis justru merasa lelah saat bangun, sekarang Penulis merasa lebih segar. Ini juga berlaku ketika Penulis tidur siang selama beberapa menit di sela-sela jam kerja.</p>



<p>Lari pagi juga memiliki efek positif bagi Penulis. Pertama, Penulis jadi tidak tidur lagi setelah sholat Shubuh, sehingga bisa langsung menjalani rutinitas harian seusai beristirahat. Sekarang, Penulis telah biasa memulai jam kerja mulai pukul 7 pagi.</p>



<p>Selain itu, metabolisme tubuh pun menjadi lebih lancar. Buang air besar Penulis menjadi lebih teratur. Nafsu makan Penulis juga bertambah, sehingga berat badannya bertambah dan mendekati bobot idealnya, yang biasanya di bawah 50 sekarang menjadi 53 kg. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Meskipun sudah tahu sejak lama kalau <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-2/">rutin lari pagi</a> membawa banyak manfaat, ada saja alasan untuk menunda-nunda dan tidak melakukannya. Padahal, intinya hanya karena rasa malas yang tidak bisa disingkirkan.</p>



<p>Menyadari dirinya butuh pola hidup yang lebih sehat, Penulis pun berusaha untuk terus merutinkan lari pagi beserta rutinitas-rutinitas positif lainnya dalam hidup. Penulis perlu membenahi hidupnya, mengingat sebentar lagi dirinya akan berkepala tiga.</p>



<p>Untuk yang tidak suka atau tidak kuat lari, mungkin bisa diganti dengan berjalan kaki sekitar rumah. Yang penting adalah aktivitas fisik di luar rumah, karena hawa pagi seolah membawa energi positif untuk hidup kita.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 6 Juni 2023, terinspirasi dari pengalaman pribadi yang pola tidurnya membaik setelah (kembali) rutin lari pagi</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.bodyandsoul.com.au/fitness/laura-henshaws-goto-lowimpact-workouts-for-running-towards-your-goals-and-away-from-injury/news-story/15ca825c668b53520019f07491bf12ed">Body+Soul</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya/">Lari Pagi adalah Obat Insomnia Terbaik Versi Saya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Aplikasi Produktivitas yang Saya Gunakan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/aplikasi-produktivitas-yang-saya-gunakan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/aplikasi-produktivitas-yang-saya-gunakan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2023 15:48:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[aplikasi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6299</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sama seperti pisau, smartphone yang kita gunakan sehari-hari juga bermata dua. Di satu sisi bisa menyeret kita ke dalam lingkaran setan dengan berbagai godaannya, tapi di sisi lain bisa digunakan untuk menunjang produktivitas kita. Penulis berusaha untuk mereduksi penggunaannya smartphone-nya untuk kegiatan yang kurang produktif seperti cek media sosial, nonton YouTube, dan lain sebagainya. Salah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/aplikasi-produktivitas-yang-saya-gunakan/">Aplikasi Produktivitas yang Saya Gunakan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sama seperti pisau, <em>smartphone </em>yang kita gunakan sehari-hari juga bermata dua. Di satu sisi bisa menyeret kita ke dalam lingkaran setan dengan berbagai godaannya, tapi di sisi lain bisa digunakan untuk menunjang produktivitas kita.</p>



<p>Penulis berusaha untuk mereduksi penggunaannya <em>smartphone</em>-nya untuk kegiatan yang kurang produktif seperti cek media sosial, nonton YouTube, dan lain sebagainya. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan berbagai aplikasi produktivitas.</p>



<p>Untuk itu, Penulis ingin berbagi sedikit tentang pengalamannya dalam menggunakan<em> </em>aplikasi-aplikasi produktivitas yang pernah (dan masih) digunakan. Semoga saja, rekomendasi aplikasi berikut bisa membantu masalah yang sedang dihadapi oleh Pembaca.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Daftar Aplikasi Produktivitas yang Penulis Gunakan</h2>



<p>Untuk memudahkan para Pembaca yang ingin langsung mencoba menggunakannya, Penulis akan langsung memberikan tautan untuk mengunduhnya. Apalagi, aplikasi yang ada di daftar ini semuanya gratis, walau ada beberapa yang <em>freemium</em>.</p>



<p>Tanpa perlu berpanjang lebar lagi, inilah daftar aplikasi produktivitas yang Penulis gunakan sehari-hari:</p>



<h3 class="wp-block-heading">1. Google Calendar &#8211; Menulis Agenda Harian</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="513" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-1-1-1024x513.jpg" alt="" class="wp-image-6304" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-1-1-1024x513.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-1-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-1-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-1-1-1536x769.jpg 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-1-1.jpg 1920w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Sejak zaman kuliah, Penulis kerap mencatat agenda harian. Awalnya, Penulis mencatat rencana apa yang akan dilakukan hari itu, atau mungkin bisa disebut juga sebagai <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-3-time-blocking/">time blocking</a></em>.</p>



<p>Namun, pada pelaksanaannya ternyata banyak yang meleset, sehingga Penulis memutuskan untuk menggantinya dengan mencatat apa saja yang telah dilakukan hari itu. Ini membantu Penulis mengevaluasi diri apa saja yang sudah dilakukan pada hari tersebut.</p>



<p>Dulu, setiap tahun Penulis akan membeli buku agenda fisik yang tebalnya lumayan. Lantas, Penulis memutuskan untuk beralih ke digital dan <strong>Google Calendar</strong> menjadi pilihan karena kemudahan dan kesederhanannya.</p>



<p>Dalam menulis agenda harian, Penulis membedakan aktivitasnya berdasarkan warna. Misal, warna Blueberry untuk aktivitas produktif, Tomato untuk kegiatan seputar ibadah, dan Tangerine untuk aktivitas blog.</p>



<p>Seringnya Penulis mencatat agenda harian di Google Calendar pada malam hari menjelang tidur, sekitar jam 9-10. Dibutuhkan konsistensi tinggi untuk bisa rutin menulis agenda harian ini.</p>



<div class="wp-block-buttons alignwide is-content-justification-center is-layout-flex wp-block-buttons-is-layout-flex">
<div class="wp-block-button"><a class="wp-block-button__link" href="https://play.google.com/store/apps/details?id=com.google.android.calendar&amp;hl=en&amp;gl=US" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Google Calendar &#8211; Apps on Google Play</a></div>
</div>



<h3 class="wp-block-heading">2. Loop Habit Tracker &#8211; Mencatat dan Melacak Kebiasaan</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="513" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-2-1024x513.jpg" alt="" class="wp-image-6305" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-2-1024x513.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-2-1536x769.jpg 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-2.jpg 1920w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Omong-omong soal konsistensi, hal tersebut terkait dengan yang namanya kebiasaan. Untuk membantu <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/membangun-kebiasaan-baik-itu-memang-sangat-sulit/">membangun kebiasaan baik</a>, Penulis pun memutuskan untuk menggunakan aplikasi bernama <strong>Loop Habit Tracker</strong>.</p>



<p>Aplikasi ini memiliki <em>user interface </em>yang sederhana, di mana akan ada daftar baris kebiasaan dan kolom hari. Ketika kebiasaan tersebut terlaksana, kita hanya perlu mencetangnya. Jika tidak terlaksana, biarkan saja.</p>



<p>Sama seperti aplikasi sebelumnya, kita juga bisa mengkategorikan kebiasaan sesuai dengan warna agar lebih mudah mengurutkannya. Penulis menggunakan warna merah untuk kegiatan ibadah, warna biru untuk rutinitas pagi, warna kuning untuk aktivitas belajar, dan lainnya.</p>



<p>Dengan menggunakan aplikasi ini, Penulis jadi merasa ada semacam keterikatan agar tidak <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-2-dont-break-the-chain/">memutus rantai kebiasaan</a> yang telah dibentuk. Bisa dibilang, aplikasi ini menjadi semacam <em>to-do list </em>apa saja rutinitas yang harus diselesaikan hari itu.</p>



<p>Selain itu, ketika dalam satu hari ada banyak kebiasaan yang berhasil dilakukan, akan muncul perasaan senang karena merasa hari tersebut sangat produktif. Ini juga akan berdampak positif pada kesehatan mental.</p>



<div class="wp-block-buttons is-content-justification-center is-layout-flex wp-block-buttons-is-layout-flex">
<div class="wp-block-button"><a class="wp-block-button__link" href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.isoron.uhabits&amp;hl=en&amp;gl=US" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Loop Habit Tracker &#8211; Apps on Google Play</a></div>
</div>



<h3 class="wp-block-heading">3. Wallet &#8211; Mencatat Keuangan</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="513" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-3-1024x513.jpg" alt="" class="wp-image-6306" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-3-1024x513.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-3-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-3-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-3-1536x769.jpg 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-3.jpg 1920w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Mungkin aplikasi ini tidak benar-benar membantu produktivitas kita, tapi setidaknya aplikasi ini membantu mengurangi beban pikiran ketika muncul pertanyaan, &#8220;<a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/uang-saya-lari-ke-mana-ya/">Uang saya lari ke mana, ya</a>?&#8221; </p>



<p>Dari banyaknya aplikasi manajemen keuangan yang ada, Penulis memilih <strong>Wallet</strong>. Bahkan, Penulis memutuskan untuk membeli versi premiumnya ketika sedang ada promo. Namun, versi yang gratis saja seharusnya sudah lebih dari cukup.</p>



<p>Dengan mencatat pemasukan dan pengeluaran, Penulis merasa lebih bisa mengendalikan keuangannya secara lebih baik. Selain itu, Penulis juga jadi bisa melakukan evaluasi terkait pengeluaran mana yang bisa dikurang alokasinya agar tabungan jadi lebih banyak.</p>



<p>Penulis memiliki empat &#8220;rekening&#8221; dalam aplikasi ini, yakni uang <em>cash</em>, tabungan di dua bank, dan <em>e-wallet</em>. Meskipun ada fitur tersambung dengan bank secara langsung, Penulis lebih memilih untuk mencatat manual agar lebih terkontrol.</p>



<p>Sudah sejak tahun 2015 Penulis menggunakan aplikasi ini, di mana sebelumnya Penulis mencatat secara manual di buku. Penulis menyarankan, jangan pernah menunda-nunda dalam mencatat di aplikasi ini. Kalau sudah menumpuk, jadi malas untuk mencatatnya.</p>



<div class="wp-block-buttons is-content-justification-center is-layout-flex wp-block-buttons-is-layout-flex">
<div class="wp-block-button"><a class="wp-block-button__link" href="https://play.google.com/store/apps/details?id=com.droid4you.application.wallet&amp;hl=en&amp;gl=US" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Wallet: Budget Expense Tracker &#8211; Apps on Google Play</a></div>
</div>



<h3 class="wp-block-heading">4. Microsoft To-Do List &#8211; Mencatat To-Do List Harian</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="513" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-4-1024x513.jpg" alt="" class="wp-image-6307" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-4-1024x513.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-4-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-4-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-4-1536x769.jpg 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-4.jpg 1920w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Meskipun sudah ada aplikasi Habits, Penulis merasa kalau aplikasi tersebut hanya berfungsi sebagai <em>to-do list </em>yang bersifat rutinitas dan umum. Padahal, Penulis butuh <em>to-do list </em>yang bisa di-<em>breakdown </em>agar memperjelas apa saja yang butuh dikerjakan.</p>



<p>Penulis sempat <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-1-to-do-list-harian/">menulis <em>to-do list </em>harian secara manual</a>, karena Penulis sendiri juga menyukai kegiatan menulis tangan. Namun, pada akhirnya Penulis (lagi-lagi) memutuskan untuk berpindah ke digital demi alasan efisensi waktu.</p>



<p>Pilihan Penulis jatuh ke <strong>Microsoft To-Do List</strong>. Ketika mencobanya karena aplikasi ini tersedia secara <em>default </em>di laptop, Penulis langsung merasa aplikasi ini sangat cocok untuk kebutuhan dirinya. Apalagi, aplikasi ini <em>cross-platform </em>dan tersedia di Android serta iOS.</p>



<p>Apa yang membuat aplikasi ini cocok untuk Penulis adalah kita bisa melakukan <em>breakdown </em>dari semua aktivitas yang direncakana. Contohnya, Penulis bisa mem-<em>breakdown</em> apa saja aktivitas pekerjaan kantor yang harus diselesaikan.</p>



<p>Penulis juga bisa menjadwalkan pekerjaan apa saja yang akan dikerjakan di waktu yang akan datang agar tidak terlupa. Biasanya, Penulis akan mencatat <em>to-do list </em>di aplikasi ini di pagi hari menjelang jam masuk kantor.</p>



<div class="wp-block-buttons is-content-justification-center is-layout-flex wp-block-buttons-is-layout-flex">
<div class="wp-block-button"><a class="wp-block-button__link" href="https://play.google.com/store/apps/details?id=com.microsoft.todos&amp;hl=en&amp;gl=US" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Microsoft To Do: Lists &amp; Tasks &#8211; Apps on Google Play</a></div>
</div>



<h3 class="wp-block-heading">5. AppBlock &#8211; Memblokir Distraksi</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="513" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-5-1024x513.jpg" alt="" class="wp-image-6308" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-5-1024x513.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-5-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-5-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-5-1536x769.jpg 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-5.jpg 1920w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Salah satu musuk terbesar produktivitas adalah distraksi yang sangat menggoda, seperti media sosial. Apalagi, hampir semua konten di media sosial sekarang memiliki konsep <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/">infinity scrolling</a> </em>yang bisa membuat kita lupa waktu.</p>



<p>Selain itu, bermain media sosial, nonton YouTube, hingga main <em>game </em>di jam kerja juga berpotensi untuk menimbulkan rasa malas dan tertundanya pekerjaan. Untuk itu, distraksi-distraksi ini harus segera dihilangkan.</p>



<p>Jika imannya kuat, menjauhkan <em>smartphone </em>dari jangkauan ketika jam kerja sebenarnya sudah cukup. Namun, kalau imannya lemah (seperti Penulis), butuh aplikasi bantuan. Untuk itu, Penulis menggunakan aplikasi<strong> AppBlock</strong>.</p>



<p>Penulis akan memblokir penggunaan media sosial dan <em>game </em>di <em>smartphone </em>mulai jam 9 pagi hingga 6 sore. Selain itu, Penulis juga memblokir di jam malam agar dirinya bisa jauh dari <em>smartphone </em>ketika menjelang tidur.</p>



<p>Dengan aplikasi ini, upaya untuk membuka aplikasi yang diblokir akan menjadi sia-sia. Tentu ada cara dengan menonaktifkan di dalam aplikasinya, sehingga kembali lagi segalanya adalah tentang niat dari diri sendiri.</p>



<div class="wp-block-buttons is-content-justification-center is-layout-flex wp-block-buttons-is-layout-flex">
<div class="wp-block-button"><a class="wp-block-button__link" href="https://play.google.com/store/apps/details?id=cz.mobilesoft.appblock&amp;hl=en&amp;gl=US" target="_blank" rel="noreferrer noopener">AppBlock &#8211; Block Apps &amp; Sites &#8211; Apps on Google Play</a></div>
</div>



<h3 class="wp-block-heading">6. Elevate &#8211; Melatih Otak</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="513" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-6-1024x513.jpg" alt="" class="wp-image-6309" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-6-1024x513.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-6-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-6-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-6-1536x769.jpg 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-6.jpg 1920w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Setiap pagi setelah menyelesaikan ibadah, Penulis akan meluangkan waktu 15 menit untuk menggunakan aplikasi <strong>Elevate</strong>. Penulis sudah menggunakan aplikasi ini selama bertahun-tahun, bahkan hingga berlangganan tahunan untuk menikmati fitur premiumnya.</p>



<p>Elevate merupakan aplikasi &#8220;belajar&#8221; yang membantu melatih otak di berbagai bidang. Ada lima bidang utama di aplikasi ini, yaitu Writing, Speaking, Reading, Math, dan Memory, di mana semuanya menggunakan bahasa Inggris.</p>



<p>Penulis merasa sangat terbantu dengan aplikasi ini karena mampu mengasah kemampuan otak Penulis di berbagai bidang, terutama bahasa Inggris-nya. Kemampuan <em>listening </em>Penulis yang dirasa kurang juga jadi ada perbaikan. </p>



<div class="wp-block-buttons is-content-justification-center is-layout-flex wp-block-buttons-is-layout-flex">
<div class="wp-block-button"><a class="wp-block-button__link" href="https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wonder&amp;hl=en&amp;gl=US" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Elevate &#8211; Brain Training Games &#8211; Apps on Google Play</a></div>
</div>



<h3 class="wp-block-heading">7. Blinklist &#8211; Bacaan Ringan untuk Asupan Otak</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="513" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-7-1024x513.jpg" alt="" class="wp-image-6310" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-7-1024x513.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-7-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-7-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-7-1536x769.jpg 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/aplikasi-produktivitas-7.jpg 1920w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Aplikasi terakhir yang ada di daftar ini baru Penulis gunakan dalam beberapa minggu terakhir. <strong>Blinklist </strong>merupakan aplikasi rangkuman buku di mana kita bisa membaca sembari dibacakan oleh narator. </p>



<p>Untuk versi gratisnya, kita hanya bisa membaca satu buku pilihan aplikasi. Satu buku kira-kira membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 20 menit. Jadi, aplikasi ini cocok untuk dibaca seperti saat sedang di toilet.</p>



<p>Buku-buku yang ada cukup menarik, dan pembawaan naratornya juga enak. Sama sekali tidak terasa kalau sang narator adalah robot seperti suara asisten Google. Ringkasan yang ada juga cukup jelas dalam menjelaskan apa inti dari buku tersebut.</p>



<div class="wp-block-buttons is-content-justification-center is-layout-flex wp-block-buttons-is-layout-flex">
<div class="wp-block-button"><a class="wp-block-button__link" href="https://play.google.com/store/apps/details?id=com.blinkslabs.blinkist.android&amp;hl=en&amp;gl=US" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Blinkist: Big Ideas in 15 Min &#8211; Apps on Google Play</a></div>
</div>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Dalam kesehariannya, ada momen-momen di mana Penulis tidak menggunakan aplikasi-aplikasi di atas. Biasanya ketika <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kalau-lagi-stres-jadinya-tidak-produktif/">sedang <em>hectic </em>atau stres</a>, Penulis tidak akan memiliki gairah untuk menggunakannya.</p>



<p>Namun, Penulis selalu berusaha untuk kembali ke rutinitasnya dan hidup produktif dengan bantuan aplikasi-aplikasi di atas. Seperti kata orang, kalau jatuh 1.000 kali, kita harus bangkit 1.001 kali. </p>



<p>Semoga saja rekomendasi aplikasi produktivitas yang Penulis gunakan dalam kesehariannya juga dapat membantu keseharian Pembaca yang ingin menjalani hidupnya dengan lebih produktif.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 16 Januari 2023, terinspirasi setelah dirinya berusaha untuk memulai lagi rutinitas pagi yang telah lama ditinggalkan</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@priscilladupreez">Twitter</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/aplikasi-produktivitas-yang-saya-gunakan/">Aplikasi Produktivitas yang Saya Gunakan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/aplikasi-produktivitas-yang-saya-gunakan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Healing dengan Menjadi Produktif</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/healing-dengan-menjadi-produktif/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/healing-dengan-menjadi-produktif/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Nov 2021 15:42:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[healing]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[self-care]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[self-love]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5457</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di Twitter, sedang viral mengenai sebuah tempat di Jakarta Utara yang menyediakan jasa healing dengan cara yang unik: Menghancurkan barang. Kita bisa membayar nominal tertentu untuk merusak beberapa barang hingga puas, tentu kita mengenakan pakaian yang safety. Hal ini memicu beragam komentar yang lucu, walau kebanyakan bernada nyinyir. Banyak yang menawarkan alternatif healing yang lebih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/healing-dengan-menjadi-produktif/">Healing dengan Menjadi Produktif</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Di Twitter, sedang viral mengenai sebuah tempat di Jakarta Utara yang menyediakan jasa <em>healing </em>dengan cara yang unik: <strong>Menghancurkan barang</strong>. Kita bisa membayar nominal tertentu untuk merusak beberapa barang hingga puas, tentu kita mengenakan pakaian yang <em>safety</em>.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-twitter wp-block-embed-twitter"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true"><p lang="in" dir="ltr">Buat yang butuh healing nih, ada yang udah nyobain Breakroom di Jakarta Utara ini? Mulai dari Rp100.000 per orang per 20 menit. <br><br>Ruangannya ber-AC dan katanya private. Ada CCTV gak ya di dalamnya? 😶<br><br>Cr: tiktok <a href="https://t.co/viMoYlVvem">https://t.co/viMoYlVvem</a> <a href="https://t.co/FTIWpTyTGn">pic.twitter.com/FTIWpTyTGn</a></p>&mdash; pancasyah  (@pancasyah) <a href="https://twitter.com/pancasyah/status/1462716719743455236?ref_src=twsrc%5Etfw">November 22, 2021</a></blockquote><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script>
</div></figure>



<p>Hal ini memicu beragam komentar yang lucu, walau kebanyakan bernada <em>nyinyir</em>. Banyak yang menawarkan alternatif <em>healing </em>yang lebih rasional, mulai beli makan, jalan-jalan, beribadah, menulis jurnal, pergi ke psikolog, dan lain sebagainya.</p>



<p>Beberapa netizen menyebutkan betapa berbahayanya <em>healing </em>dengan melampiaskan kemarahan seperti itu. Lucunya, ada yang bilang kalau marah harus pergi ke sebuah tempat, pilih barang yang ingin dihancurkan, terus pakai pakaian tertentu, marahnya keburu hilang.</p>



<p>Penulis sendiri merasa tidak perlu memberikan justifikasi apakah <em>healing </em>dengan melampiaskan kemarahan pada barang menjadi cara yang benar. Toh, masing-masing orang memiliki cara <em>healing </em>masing-masing.</p>



<p>Pada tulisan ini, Penulis hanya ingin sekadar menawarkan alternatif pilihan yang murah, tapi butuh <em>effort </em>yang tidak sedikit: <strong>Menjadi produktif</strong>.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Melampiaskan Emosi Menjadi Produktif</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5459" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Semua Butuh Healing (<a href="https://unsplash.com/@arash_payam">arash payam</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebagai makhluk yang punya perasaan, wajar jika manusia kerap mengalami berbagai bentuk emosi yang tidak menyenangkan. Sedih, marah, kecewa, seolah sudah menjadi makanan sehari-hari, terutama jika sedang diterpa masalah.</p>



<p>Seringnya, termasuk pada Penulis, bentuk emosi negatif akan memengaruhi keseharian kita. Rasanya jadi malas untuk melakukan sesuatu, susah untuk fokus, mudah melamun, hingga <em>mood </em>yang naik turun secara drastis.</p>



<p>Nah, salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan melakukan <em>self-healing</em>. Mengobati diri sendiri dengan beragam cara. Bagi Penulis, salah satu cara <em>healing </em>yang paling efektif dan bermanfaat adalah dengan menjadi produktif.</p>



<p>Ibaratnya, kita menyalurkan dan memfokuskan energi kita untuk melakukan sesuatu yang positif. Segala perasaan negatif yang sedang kita rasakan, kita salurkan dengan berbagai aktivitas yang membawa manfaat untuk diri kita sendiri.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5461" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Menulis To-do List (<a href="https://unsplash.com/@glenncarstenspeters">Glenn Carstens-Peters</a>)</figcaption></figure>



<p>Kalau Penulis biasanya akan &#8220;memaksa&#8221; dirinya untuk menjadi produktif dengan membuat <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-1-to-do-list-harian/"><em>to-do list </em>harian</a>. Ketika menuliskannya, seperti ada dorongan dari dalam untuk menyelesaikan apa yang sudah ditulis.</p>



<p>Hal produktif lain yang bisa dilakukan adalah melakukan rutinitas. Di pagi hari misalnya, kita bisa berolahraga, membaca buku, membersihkan rumah, mandi pagi, mempersiapkan sarapan, dan lain sebagainya. Di malam hari kita bisa menulis jurnal ataupun meditasi.</p>



<p>Kalau Penulis, di samping rutinitas kerjanya, biasanya akan mengisi waktu dengan menulis blog. Intinya, kita harus menyibukkan diri dengan beraktivitas (secara positif) agar perasaan-perasaan negatif tersebut menjadi terabaikan.</p>



<p>Selain itu, menjadi produktif juga menciptakan perasaan bahagia bagi diri. Rasanya hidup jadi lebih menyenangkan begitu mengetahui kalau hari ini kita sudah banyak melakukan hal yang berguna dan tidak menyia-nyiakan waktu yang ada.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5460" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Boleh Kok Sesekali Nonton Film (<a href="https://unsplash.com/@freestocks">freestocks</a>)</figcaption></figure>



<p>Tentu kita boleh melakukan aktivitas santai seperti menonton film, menonton YouTube, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/"><em>scrolling </em>media sosial</a>, bermain <em>game</em>, dan lain sebagainya. Anggap saja sebagai selingan agar kita tidak merasa jenuh</p>



<p>Hanya saja, aktivitas konsumtif tersebut justru bisa membuat kita memiliki perasaan bersalah jika dilakukan secara berlebihan. Menurut Penulis, sebaiknya aktivitas konsumtif seperti itu tidak dijadikan sebagai cara <em>healing</em> utama.</p>



<p>Mungkin memang cara ini (menjadi produktif) tidak cocok untuk semua orang. Hanya saja, Penulis merasa beraktivitas secara produktif dapat meningkatkan <em>mood </em>dan mengusir perasaan-perasaan negatif di pikiran, terutama untuk <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hari-hari-kaum-overthinker/">kaum <em>overthinker</em></a><em> </em>seperti Penulis.</p>



<p>Lawan utama dari cara <em>healing </em>yang satu ini adalah <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-pemalas/">rasa malas</a>. Kalau kita memang benar-benar ingin <em>healing</em>, maka kita harus memiliki tekad yang kuat untuk mengusir rasa malas tersebut.</p>



<p>Jadi, cara <em>healing </em>mana yang paling sesuai dengan Pembaca? Coba tuliskan di kolom komentar!</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 23 November 2021, terinspirasi dari viralnya postingan di Twitter tentang tempat <em>healing </em>berbayar</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@frozen_warmth">William Farlow</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/healing-dengan-menjadi-produktif/">Healing dengan Menjadi Produktif</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/healing-dengan-menjadi-produktif/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Productivity Hacks #2: Don&#8217;t Break the Chain</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-2-dont-break-the-chain/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-2-dont-break-the-chain/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2021 15:09:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[#ProductivityHacks]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[rutinitas]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[to-do list]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5231</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bisa menjadi manusia yang produktif adalah impian banyak orang. Kalau bisa, waktu kita di dunia yang sebentar ini digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat. Tapi yang namanya manusia, terkadang (atau sering?) ada rasa malas. Tak jarang kita memutuskan untuk menunda pekerjaan, hingga ada &#8220;pepatah&#8221; mengatakan kalau bisa dikerjakan besok kenapa sekarang? Penulis berusaha mendorong dirinya untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-2-dont-break-the-chain/">Productivity Hacks #2: Don&#8217;t Break the Chain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Bisa menjadi manusia yang produktif adalah impian banyak orang. Kalau bisa, waktu kita di dunia yang sebentar ini digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat.</p>



<p>Tapi yang namanya manusia, terkadang (atau sering?) ada rasa malas. Tak jarang kita memutuskan untuk menunda pekerjaan, hingga ada &#8220;pepatah&#8221; mengatakan <em>kalau bisa dikerjakan besok kenapa sekarang?</em></p>



<p>Penulis berusaha mendorong dirinya untuk bisa menjadi manusia yang produktif. Salah satu caranya adalah dengan memiliki <a href="https://whathefan.com/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutinitas harian</a>, yang pernah Penulis bahas beberapa waktu lalu.</p>



<p>Bisa dibilang, praktiknya susah luar biasa. Apalagi jika sudah berhenti lama melakukan kebiasaan baik, untuk memulainya lagi sangatlah sulit.</p>



<p>Akhir-akhir ini karena situasi hatinya yang sedang buruk, Penulis sedang gencar memulai hidup produktif lagi. Berbagai cara Penulis lakukan agar bisa seperti dulu lagi, ketika mampu konsisten melakukan rutinitas pagi.</p>



<p>Dari pengalamannya, Penulis menemukan satu kunci untuk bisa konsiten melakukan kebiasaan baik: <em><strong>don&#8217;t break the chain</strong></em><strong>. </strong>Jangan putuskan rantainya.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Berhenti Menulis <em>To-Do List</em></h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5233" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Susah Melawan Rasa Malas (<a href="https://unsplash.com/@cathrynlavery">Cathryn Lavery</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis kebetulan adalah tipe orang yang suka dengan rutinitas. Penulis tidak menyukai sesuatu yang sifatnya spontan dan mendadak. Kalau bisa, semua tertata rapi dan terorganisir dengan baik.</p>



<p>Oleh karena itu, salah satu metode untuk produktif yang cocok untuk Penulis adalah <strong><a href="https://whathefan.com/produktivitas/productivity-hacks-1-to-do-list-harian/">memiliki <em>to-do list</em> harian</a></strong>. Penulis rutin melakukannya mulai awal tahun ini, namun tersendat di bulan Juli karena berbagai macam alasan.</p>



<p>Salah satu hal yang membuat Penulis merasa malas menulis <em>to-do list </em>belakangan ini adalah karena merasa tidak banyak yang harus dikerjakan selain pekerjaan kantor dan menulis artikel blog. Akhirnya, buku <em>to-do list </em>Penulis pun terbengkalai beberapa minggu.</p>



<p>Penulis pun memutuskan untuk mengubah format buku <em>to-do list </em>miliknya. Anggap saja <em>to-do list </em>harian versi 2. Mungkin Penulis akan membuat artikel terpisah tentangnya karena Penulis sangat menyukai format baru ini.</p>



<p>Pada buku <em>to-do list </em>v2 ini, Penulis akan mencatat <em>morning routine </em>dan <em>evening routine </em>di sini. Setiap Penulis berhasil melakukan rutinitas atau kebiasaan ini, Penulis akan memberi tanda merah di kotaknya.</p>



<p>Ketika melihat daftar rutinitas yang berhasil dikerjakan hari ini, Penulis jadi terpacu untuk bisa melakukannya lagi keesokan harinya. Akhirnya,<strong> terbentuk semacam &#8220;rantai&#8221; kebiasaan</strong> yang membuat Penulis berusaha agar jangan sampai rantai itu putus.</p>



<p>Nah, inilah salah satu kunci keberhasilan untuk bisa konsisten melakukan kebiasaan dan menjadi lebih produktif.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Rantai yang Tampak Mata</h2>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5234" width="740" height="493" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption>Harus Kelihatan Mata (<a href="https://unsplash.com/@epicantus">Daria Nepriakhina</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebelumnya, Penulis sering mencatat kebiasaan-kebiasaan melalui aplikasi <em>Loop Habit Tracker</em> di smartphone-nya. Ada banyak kebiasaan yang Penulis tuliskan di sana, termasuk kewajiban sholat lima waktu.</p>



<p>Hanya saja karena tidak tampak fisik, Penulis menjadi tidak bersemangat untuk mengerjakan semuanya. Penulis seolah merasa tidak punya motivasi untuk mengerjakan daftar kebiasaan yang seharusnya dilakukan.</p>



<p>Setelah menonton beberapa video di YouTube, ternyata memang sebaiknya catatan kebiasaan itu ditulis dalam buku fisik yang selalu kelihatan mata. Kalau di smarpthone, kita harus buka aplikasinya terlebih dahulu.</p>



<p>Selain itu, kita pun jadi menuliskan daftar kebiasaan secara fisik setiap hari. Hal tersebut mampu memberikan sugesti kepada diri agar melakukan hal-hal yang sudah dicatat.</p>



<p>Maka dari itu, Penulis memutuskan untuk menuliskannya di buku catatan dan meletakkannya di atas meja sepanjang hari, berhubung Penulis menghabiskan sebagian besar waktunya di depan meja kerja.</p>



<p>Sebagai orang yang perfeksionis, Penulis akan merasa gatal apabila ada kotak-kotak yang masih kosong. Penulis pun jadi terdorong untuk segera melakukan kegiatan yang kotaknya masih kosong tersebut.</p>



<p>Berdasarkan pengalaman tersebut, Penulis jadi meyakini kalau <strong>rantai kebiasaan yang ingin kita lakukan haruslah tampak mata</strong>. Salah satu caranya adalah dengan menuliskannya secara fisik dan meletakannya di tempat yang selalu terlihat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kenapa Mempertahankan Rantai Itu Penting</h2>



<p>Bagi orang yang ingin hidup produktif, memiliki rutinitas harian bisa menjadi salah satu hal yang sangat membantu. Namun, perlu dicatat bahwa yang susah adalah <a href="https://whathefan.com/produktivitas/menjaga-konsistensi/">mempertahankan konsistensi</a>.</p>



<p>Sekali rantai kebiasaan tersebut putus, dorongan untuk meninggalkan kebiasaan tersebut sangat besar. Rasanya begitu berat untuk memulai lagi dari awal. Ada juga perasaan kecewa karena rantai tersebut harus terputus.</p>



<p>Untuk menghindari hal tersebut, coba saja dimulai sedikit demi sedikit saja. Mungkin dari satu kebiasaan dulu. Jika sudah berhasil konsisten, tambah lagi kebiasaan baru dan begitu seterusnya.</p>



<p>Penulis sendiri sekarang sedang merutinkan delapan rutinitas, empat di pagi hari dan empat di malam hari. Walaupun terdengar banyak, sebenarnya kebiasaan yang Penulis catatkan tidak membutuhkan waktu panjang.</p>



<p>Ada beragam cara untuk mempertahankan rantai tersebut untuk tetap tersambung. Cara yang sedang Penulis terapkan adalah salah satunya. </p>



<p>Berhubung baru jalan tiga hari, Penulis belum bisa menyimpulkan kalau metode ini berhasil. Walaupun begitu, caranya layak untuk dicoba agar hidup ini menjadi lebih produktif.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 19 Agustus 2021, terinspirasi dari usahanya sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih produktif</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@jjying">JJ Ying</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-2-dont-break-the-chain/">Productivity Hacks #2: Don&#8217;t Break the Chain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-2-dont-break-the-chain/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Menghargai Diri Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/cara-menghargai-diri-sendiri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/cara-menghargai-diri-sendiri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2021 12:07:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan mental]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[overthinking]]></category>
		<category><![CDATA[self-care]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[self-love]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5215</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang menelusuri linimasa Instagram, tanpa sengaja Penulis menemukan sebuah pos dari akun @komikin_ajah. Ada yang berbeda dengan pos tersebut sehingga menarik minat Penulis. Biasanya, akun ini akan mengunggah komik bergenre komedi. Akan tetapi, di pos ini mereka mengunggah gambar berjudul Beberapa Cara Berpikir yang Membuatmu Sulit Menghargai Dirimu Sendiri. Ketika di-swipe ke kiri, poin-poin [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/cara-menghargai-diri-sendiri/">Cara Menghargai Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang menelusuri linimasa Instagram, tanpa sengaja Penulis menemukan sebuah pos dari akun <a href="https://www.instagram.com/komikin_ajah/">@komikin_ajah</a>. Ada yang berbeda dengan pos tersebut sehingga menarik minat Penulis.</p>



<p>Biasanya, akun ini akan mengunggah komik bergenre komedi. Akan tetapi, di pos ini mereka mengunggah gambar berjudul <em>Beberapa Cara Berpikir yang Membuatmu Sulit Menghargai Dirimu Sendiri.</em></p>



<p>Ketika di-<em>swipe </em>ke kiri, poin-poin yang disampaikan oleh komik karya <a href="https://www.instagram.com/petualanganmenujusesuatu/">@petualanganmenujusatu</a> ini sangat <em>related </em>dengan kehidupan Penulis. Pembaca bisa membacanya melalui <em>embed link </em>berikut ini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-instagram wp-block-embed-instagram"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/CSWqwt7pZl3/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="13" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/CSWqwt7pZl3/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/CSWqwt7pZl3/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank">A post shared by KOMIK KESEHATAN MENTAL🔎 (@petualanganmenujusesuatu)</a></p></div></blockquote><script async src="//platform.instagram.com/en_US/embeds.js"></script>
</div></figure>



<p>Karena merasa <em>related</em>, Penulis pun berpikir untuk menjabarkan poin-poin yang disampaikan berdasarkan pengalaman dan pemikiran Penulis. Harapannya, tulisan ini bisa menjadi motivasi untuk kita semua yang kesulitan untuk menghargai diri kita sendiri.</p>





<h2 class="wp-block-heading">1. <em>Negative Self-Labeling</em></h2>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="601" height="600" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-1.jpg" alt="" class="wp-image-5220" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-1.jpg 601w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-1-300x300.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-1-150x150.jpg 150w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-1-80x80.jpg 80w" sizes="(max-width: 601px) 100vw, 601px" /><figcaption>Negative Self-Labeling (<a href="https://www.instagram.com/petualanganmenujusesuatu/">@petualanganmenujusatu</a>)</figcaption></figure>



<p>Hal pertama yang membuat kita susah untuk menghargai diri kita sendiri adalah adanya <em><strong>negative self-labeling</strong></em><strong> </strong>alias mengecap diri kita dengan hal-hal negatif.</p>



<p>Semua sudah mengetahui kalau manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sialnya, kita terkadang terlalu fokus dengan kekurangan diri hingga lupa dengan kelebihan yang dimiliki.</p>



<p>Mungkin kita merasa diri ini emosian, <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/bagaimana-cara-mengatasi-baper/">mudah <em>baper</em></a>, kurang percaya diri, ceroboh, malas, peragu, egois, <em><a href="https://whathefan.com/karakter/apakah-saya-toxic/">toxic</a></em>, dan lain sebagainya. Akibatnya, kita merasa kalau diri kita hanya terdiri dari sifat-sifat negatif tersebut.</p>



<p>Padahal, mungkin kita orang yang suka menolong orang lain, punya empati, tulus, pekerja keras, memiliki etos kerja yang baik, ramah, tidak sombong, dan lainnya. Sikap-sikap positif tersebut seolah tertutup dengan label negatif yang kita sematkan ke diri sendiri.</p>



<p>Jika kita kesulitan untuk menemukan apa kelebihan diri sendiri, tidak ada salahnya minta tolong kepada orang lain untuk menunjukkan apa kelebihan kita. Dengan mengetahui apa kelebihan diri, kita pun bisa menghindari untuk melabeli diri secara negatif.</p>



<h2 class="wp-block-heading">2. <em>Disqualifying the Positives</em></h2>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="601" height="600" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-2.jpg" alt="" class="wp-image-5219" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-2.jpg 601w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-2-300x300.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-2-150x150.jpg 150w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-2-80x80.jpg 80w" sizes="(max-width: 601px) 100vw, 601px" /><figcaption>Disqualifying the Positives (<a href="https://www.instagram.com/petualanganmenujusesuatu/">@petualanganmenujusatu</a>)</figcaption></figure>



<p>Salah satu penyebab mengapa kita dengan mudahnya melabeli diri sendiri secara negatif adalah kita yang kerap melakukan <em><strong>disqualifying the positive</strong></em> atau mengerdilkan hal positif yang terjadi.</p>



<p>Entah mengapa ketika kita meraih <em>achievement </em>atau suatu keberhasilan, ada saja bisikan-bisikan negatif yang seolah melakukan <em>denial </em>kalau kita berhasil meraih atau mendapatkan sesuatu.</p>



<p>Jika tidak begitu, kita akan mencari alasan eksternal yang menyebabkan kita berhasil, seperti berkat bantuan orang lain, keberuntungan, dan lain-lain. Sebenarnya tidak salah, tapi kalau sampai membuat tidak menghargai diri sendiri ya jangan.</p>



<p>Terkadang, kita juga berpikir seperti ini gara-gara omongan dan <em>nyinyiran</em> orang lain. Kita yang cenderung susah untuk mengabaikan perkataan orang pun jadi terpengaruh dan memercayai kata mereka.</p>



<p>Bisa dibilang, poin kedua ini adalah poin yang paling tidak <em>related </em>dengan kehidupan Penulis. Setidaknya, Penulis masih mengapresiasi dirinya ketika berhasil melakukan sesuatu.</p>



<h2 class="wp-block-heading">3. <em>Personalisation &amp; Blaming</em></h2>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="601" height="600" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-3.jpg" alt="" class="wp-image-5218" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-3.jpg 601w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-3-300x300.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-3-150x150.jpg 150w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-3-80x80.jpg 80w" sizes="(max-width: 601px) 100vw, 601px" /><figcaption>Personalisation &amp; Blaming ( <a href="https://www.instagram.com/petualanganmenujusesuatu/">@petualanganmenujusatu</a>)</figcaption></figure>



<p>Di antara empat poin yang ada di artikel ini, bisa dibilang <em><strong>personalisation &amp; blaming</strong> </em>adalah yang paling sering Penulis lakukan. Setiap ada sesuatu, dikit-dikit akan menyalahkan dirinya sendiri.</p>



<p>Parahnya, kita menyalahkan diri terhadap <a href="https://whathefan.com/karakter/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan</a>. Teman balas singkat, merasa kita merusak <em>mood</em>-nya. Bertengkar sama pasangan, kita terus <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/berhenti-menyalahkan-diri-sendiri/">merasa bersalah</a> sudah membuat dia marah.</p>



<p>Kita perlu menyadari bahwa ada banyak sekali yang tidak bisa kita kendalikan, termasuk orang lain. Yang benar-benar bisa kita kendalikan hanya diri kita sendiri, pikiran kita sendiri, perasaan kita sendiri.</p>



<p>Bisa dibilang, hanya menyalahkan diri sendiri tidak akan memberikan manfaat apa-apa bagi kita. Ia hanya akan merusak diri dan membuat kita melabeli diri secara negatif yang ujung-ujungnya susah untuk menghargai diri sendiri.</p>



<p>Merasa bersalah itu normal, tapi lebih baik kita gunakan untuk interopeksi dan memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik lagi. Percuma saja jika merasa bersalah, tapi tidak ada aksi untuk memperbaiki kesalahan tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">4. <em>Jumping to Conclusion</em>s</h2>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="601" height="600" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-4.jpg" alt="" class="wp-image-5217" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-4.jpg 601w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-4-300x300.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-4-150x150.jpg 150w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-4-80x80.jpg 80w" sizes="(max-width: 601px) 100vw, 601px" /><figcaption>Jumping to Conclusion (<a href="https://www.instagram.com/petualanganmenujusesuatu/">@petualanganmenujusatu</a>)</figcaption></figure>



<p>Poin-poin yang ada artikel ini memiliki sumber yang sama: <em>overthinking</em>. Kita ini kadang terlalu banyak berpikir sehingga hal-hal yang sederhana dibuat rumit, hingga susah untuk mengapresiasi diri sendiri.</p>



<p><em><strong>Jumping to conclusion</strong> </em>atau kerap membuat kesimpulan terlalu dini adalah buah dari <em>overthinking</em>. Poin di nomor 3 bisa terjadi karena kita langsung loncat ke kesimpulan yang kita buat sendiri.</p>



<p>Parahnya, kesimpulan yang kita buat kerap bernada negatif ke arah diri sendiri. Padahal, tidak ada yang bukti konkrit yang mendukung kesimpulan tersebut. Semua hanya pikiran kita sendiri yang belum tentu benar dan seringnya tidak pernah benar.</p>



<p>Ketika menghadapi sesuatu yang kurang menyenangkan, seperti <em>mood </em>teman yang tiba-tiba berubah, berusahalah untuk mendiamkan otak dan tidak berpikir yang macam-macam. Alihkan perhatian ke hal lain agar kita tidak membuat kesimpulan sembarangan.</p>



<p>Cobalah untuk <a href="https://whathefan.com/karakter/berhenti-berpikir/">berhenti berpikir</a>. Tidak semua terjadi karena salah kita. Tidak perlu menyimpulkan sesuatu di dalam otak kita. Biarkan semua mengalir saja, tidak perlu disimpulkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Sudah lama Penulis menyadari bahwa dirinya kerap melakukan empat poin di atas. Oleh karena itu, Penulis coba mempelajari Stoik melalui beberapa buku seperti <em><a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Filosofi Teras</a> </em>yang intinya mengajari bahwa banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan. </p>



<p>Hanya saja, untuk bisa mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari memang tidak mudah. Bagi kaum pemikir seperti Penulis, berhenti <em>overthinking </em>itu sama susahnya dengan berhentinya orang yang kecanduan opium.</p>



<p>Sifat <em>overthinking </em>tersebut memicu kita untuk susah menghargai diri sendiri. Belum lagi adanya faktor lain seperti lingkungan yang <em>toxic</em>, trauma, ataupun situasi lain yang membuat kita susah untuk melakukannya.</p>



<p><strong>Hanya saja, kitalah yang paling mampu untuk menghargai diri sendiri. Kalau kita saja tidak menghargai diri sendiri, gimana orang lain bisa menghargai kita?</strong></p>



<p>Semoga saja setelah membuat tulisan ini, Penulis dan para Pembaca yang merasa <em>related </em> bisa  lebih menghargai diri sendiri. Memang susah, tapi bisa. Ayo kita sama-sama belajar dan mendukung satu sama lain.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 11 Agustus 2021, terinspirasi setelah menemukan sebuah pos dari <a href="https://www.instagram.com/petualanganmenujusesuatu/">@petualanganmenujusatu</a></p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@giulia_bertelli">Giulia Bertelli</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/cara-menghargai-diri-sendiri/">Cara Menghargai Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/cara-menghargai-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lelah dengan Diri Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/lelah-dengan-diri-sendiri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/lelah-dengan-diri-sendiri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2021 13:50:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[capek]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[lelah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5047</guid>

					<description><![CDATA[<p>Lelah ada dua jenis: lelah fisik dan lelah mental. Kalau lelah fisik kita tinggal beristirahat untuk memulihkan stamina, gimana kalau lelah mental? Cara yang dibutuhkan jelas lebih kompleks. Lelah mental pun ada banyak macamnya, entah karena lingkungan yang menekan, baru mengalami kejadian yang traumatis, hubungan yang toxic, dan lain sebagainya. Salah satu lelah yang paling [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/lelah-dengan-diri-sendiri/">Lelah dengan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Lelah ada dua jenis: lelah fisik dan lelah mental. Kalau lelah fisik kita tinggal beristirahat untuk memulihkan stamina, gimana kalau lelah mental? Cara yang dibutuhkan jelas lebih kompleks.</p>



<p>Lelah mental pun ada banyak macamnya, entah karena lingkungan yang menekan, baru mengalami kejadian yang traumatis, hubungan yang <em>toxic</em>, dan lain sebagainya.</p>



<p>Salah satu lelah yang paling berbahaya menurut Penulis adalah <strong>lelah dengan diri sendiri</strong>.</p>





<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Apa itu lelah dengan diri sendiri? Tentu ada banyak versi, tergantung dari individu masing-masing. Namun bagi Penulis, lelah dengan diri sendiri <strong>memiliki keterkaitan yang erat dengan depresi dan frustasi</strong>.</p>



<p>Ciri-cirinya ada beberapa, seperti menjadi sensitif dan mudah emosi, suasana hati berubah-ubah, merasa malas dan kehilangan gairah untuk melakukan sesuatu, tidak ingin bertemu orang, pikiran terasa penat, dan lain-lain.</p>



<p>Penyebabnya juga banyak. Misal, kadang kita menyadari kalau diri ini punya berbagai kekurangan. Hanya saja, rasanya sangat susah untuk menghilangkan atau mengurangi sifat buruk tersebut yang akibatnya membuat kita merasa lelah.</p>



<p>Penulis misalnya, merasa lelah dengan sifat <em>overthinking </em>yang dimilikinya. Mau berusaha diam berpikir seperti apapun, otak ini rasanya tidak mau berhenti berpikir. Akibatnya, Penulis pun <em>overthinking </em>terhadap <em>overthinking</em>-nya.</p>



<p>Sering merasa gagal juga bisa menimbulkan perasaan tersebut. Rasanya, diri ini begitu tidak berguna sehingga hal sepele saja tidak bisa dilakukan. Pikiran negatif pun datang dan menguasai diri.</p>



<p>Kadang kita juga merasa tidak memahami diri sendiri. Penulis jadi teringat dengan perkataan Frigga kepada anaknya, Loki, di film <em>Thor: The Dark World</em>.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p><em>&#8220;Always so perceptive about everyone but yourself.&#8221;</em></p><cite>Frigga , Queen of Asgard</cite></blockquote>



<p>Terjemahannya adalah: Selalu bisa memahami orang lain, tapi tidak kepada diri sendiri. Rasanya kita bisa dengan mudah memahami orang lain, tapi justru tidak memahami dirinya sendiri.</p>



<p>Pikiran-pikiran negatif juga membuat kita merasa lelah dengan diri sendiri. Merasa tidak berguna, <em>insecure </em>dengan masa depan, ada sesuatu yang mengganjal, selalu menyalahkan diri sendiri, ada banyak yang menyebabkan kita merasa lelah dengan diri sendiri.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Lelah terhadap diri sendiri adalah sebuah<strong> kondisi mental yang butuh diobati</strong>. Banyak yang menyarankan untuk mendekatkan diri ke Tuhan, menjadi produktif, liburan, melakukan hal yang menyenangkan, berdamai dengan keadaan, dan lain-lain.</p>



<p>Kadang kita hanya butuh waktu untuk sendirian dan menenangkan pikiran. Rasanya ingin <a href="https://whathefan.com/rasa/menepi-sejenak/">menepi sejenak</a> agar otak bisa menjadi jernih kembali dan hati merasa tenang. Semoga setelah itu, kita bisa menjadi lebih positif dalam menatap hidup.</p>



<p>Jika kita merasa tidak bisa mengatasinya sendirian, mungkin sudah saatnya untuk meminta bantuan kepada orang lain. </p>



<p>Coba temukan orang-orang yang bisa memberi rasa nyaman, yang tidak akan menghakimi kita apapun cerita kita, yang bisa memberikan ketenangan, yang bisa menguatkan kita. Tidak ada salahnya untuk mencoba ke psikiater.</p>



<p>Jangan sepelekan perasaan lelah terhadap diri sendiri. Kondisi ini bisa berpengaruh kepada kesehatan mental dan fisik kita. Untuk itu, segeralah temukan cara mengatasinya yang paling sesuai denganmu. </p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 22 Juni 2021, terinspirasi dari pengalaman sendiri</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@anniespratt">Annie Spratt</a></p>



<p>Sumber Artikel:<br>&#8211; <a href="https://www.sehatq.com/forum/lelah-dengan-sifat-pada-diri-sendiri-q10914">Lelah dengan sifat pada diri sendiri. Mohon bantuan dok. | Tanya Dokter (sehatq.com)</a><br>&#8211; <a href="https://www.idntimes.com/life/career/astrimeita185atgmailcom/5-tanda-kalau-dirimu-mulai-lelah-c1c2/1">5 Tanda Kalau Dirimu Mulai Lelah dan Butuh Waktu untuk Diri Sendiri (idntimes.com)</a><br>&#8211; <a href="https://www.popmama.com/life/health/jemima/tanda-lelah-hati-yang-berdampak-pada-kesehatan-mental/5">5 Tanda Lelah Hati yang Berdampak pada Kesehatan Mental | Popmama.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/lelah-dengan-diri-sendiri/">Lelah dengan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/lelah-dengan-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8220;Gapapa Bad Mood, tapi Jangan Nyakitin Orang Lain, ya&#8221;</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 May 2021 11:34:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bad mood]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[mood]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5002</guid>

					<description><![CDATA[<p>Walau sudah menghapus banyak aplikasi media sosial di ponsel, Penulis masih memiliki aplikasi Pinterest. Itupun dibatasi sehari maksimal 15 menit. Salah satu alasan Penulis tetap menggunakan Pinterest adalah karena aplikasi ini tidak terlalu memberikan efek candu seperti yang diberikan TikTok. Main Pinterest selama 15 menit saja sudah timbul rasa bosan. Selain itu, Penulis juga kerap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/">&#8220;Gapapa Bad Mood, tapi Jangan Nyakitin Orang Lain, ya&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Walau sudah <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/istirahat-dari-media-sosial/">menghapus banyak aplikasi media sosial</a> di ponsel, Penulis masih memiliki aplikasi Pinterest. Itupun dibatasi sehari maksimal 15 menit.</p>



<p>Salah satu alasan Penulis tetap menggunakan Pinterest adalah karena aplikasi ini tidak terlalu memberikan efek candu seperti yang diberikan TikTok. Main Pinterest selama 15 menit saja sudah timbul rasa bosan.</p>



<p>Selain itu, Penulis juga kerap menemukan ide dari aplikasi ini. Salah satunya adalah kalimat yang Penulis jadikan judul pada tulisan ini.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Penulis merasa dirinya cukup <em>moody</em>. Bahkan, <em>mood </em>bisa tiba-tiba berubah tanpa ada penyebabnya. Tiba-tiba rasanya jadi murung dan merasa negatif begitu saja.</p>



<p>Masalahnya, <em>bad mood </em>ini bisa menimbulkan efek yang buruk tidak hanya bagi Penulis, tapi juga orang-orang yang ada di sekitarnya. Hal ini karena Penulis menjadi orang yang lebih sensitif dari biasanya.</p>



<p>Karena <em>bad mood, </em>mulut Penulis rasanya bisa begitu mudah menyakiti perasaan orang lain dengan ucapan-ucapannya yang menusuk. Tidak hanya secara verbal, di <em>chat </em>pun Penulis akan menunjukkan hal yang sama.</p>



<p>Secara tidak langsung dan mungkin tidak sadar, Penulis telah <strong>menyakiti perasaan orang lain</strong> karena <em>bad mood </em>yang sedang dialami.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Ketika sedang tenang seperti saat menulis artikel ini, Penulis menyadari sepenuhnya kalau hal tersebut salah. Mau seburuk apapun hari atau kejadian yang menimpa kita, seharusnya orang lain tidak boleh kena getahnya, terlebih orang-orang yang peduli dan perhatian dengan kita.</p>



<p>Hanya saja kalau sedang <em>bad mood</em>, Penulis kadang suka gelap mata dan tidak berpikir panjang ketika melakukan sesuatu. Rasanya Penulis ingin melampiaskan buruknya <em>mood </em>ini ke orang lain tanpa memedulikan perasaan orang lain.</p>



<p>Menyadari kekurangan ini, Penulis tentu ingin memperbaikinya. Tentu tidak mudah, tapi harus Penulis lakukan agar orang lain tidak perlu tersakiti akibat perbuatan Penulis.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Dari yang pernah Penulis baca, salah satu cara mengatasi <em>bad mood </em>adalah dengan <strong>mengubah suasana hati</strong>. Cara yang paling sering Penulis lakukan adalah berjalan-jalan. Ketika di Jakarta, Penulis sering melakukan hal ini sekalian mengeksplorasi ibukota.</p>



<p>Bagaimana kalau kita <em>mager </em>keluar? Sebenarnya menjadi masalah lain, tapi tidak apa-apa. Jika memang malas keluar, coba cari perubahan suasana dengan <strong>menonton sesuatu yang menyebarkan energi positif</strong>.</p>



<p>Penulis sama sekali tidak merekomendasikan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">media sosial seperti TikTok</a>. Jika kita melarikan diri ke aplikasi adiktif seperti itu, yang ada kita malah merasa &#8220;bersalah&#8221; karena telah membuang-buang waktu.</p>



<p>Selain itu, cobalah untuk <strong>duduk sejenak dan menjernihkan pikiran</strong>. Coba jujur kepada diri sendiri, apa yang membuat <em>mood </em>kita berantakan. Jika memungkinkan, coba selesaikan akar permasalahan agar <em>mood </em>kita membaik.</p>



<p>Jika kesusahan menghadapinya sendiri, mengapa tidak kita coba untuk meminta bantuan kepada orang lain? Inilah salah satu masalah yang Penulis garis bawahi di tulisan ini.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Karena sedang <em>bad mood</em>, kita bisa saja justru menyakiti orang lain yang ingin kita mintai bantuan. Bisa karena solusi atau tanggapan yang diberikan tidak sesuai dengan ekspetasi kita, bisa kitanya saja yang memang kelewat sensitif.</p>



<p>Banyak yang mengatakan <strong>perasaan yang terlalu lama disimpan sendiri bisa menjadi racun untuk mental </strong>kita. Diri kita memiliki batasan, jangan sampai kita membuat diri kita menyimpan semuanya sendiri hingga wadah tersebut tidak lagi mampu menampungnya.</p>



<p>Akan tetapi, kita takut untuk menyakiti orang lain karena <em>mood </em>kita. Kok jadi dilema begini? Lalu mana yang harus dilakukan?</p>



<p>Menurut Penulis, coba saja kita minta bantuan orang lain sembari menahan diri untuk tidak bersikap kelewat batas. Mau seburuk apapun perasaan kita, coba untuk terus mengingat <strong>jangan sampai menyakiti perasaan orang lain</strong>.</p>



<p>Dengan adanya <em>mindset </em>seperti itu, kita pun (harusnya) bisa lebih mengontrol <em>mood </em>kita ketika bercerita ke orang lain. Mau tanggapan orang tersebut tidak sesuai dengan ekspetasi sekalipun, kita tidak akan mudah terpancing untuk melampiaskan <em>bad mood </em>kita ke orang tersebut.</p>



<p>Selain itu, berkumpul dengan keluarga atau teman-teman (selama bukan mereka yang menjadi sumber penyebab <em>bad mood</em>) juga bisa membantu kita mengubah suasana hati. Oleh karena itu, jangan segan untuk meminta bantuan kepada orang lain.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p><em>Bad mood </em>memang salah satu sifat yang manusiawi. Rasanya semua orang pernah mengalami hal ini, baik dikarenakan masalah yang pelik maupun sepele.</p>



<p>Hanya saja, kalau <em>bad mood </em>tersebut memengaruhi kehidupan kita dan memberikan efek yang negatif kepada orang lain juga kurang baik. </p>



<p>Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk mencoba memperbaiki sikap kita menghadapi <em>bad mood </em>dengan beberapa cara yang sudah disebutkan di atas.</p>



<p>Enggak apa-apa <em>bad mood</em>, tapi jangan sampai menyakiti perasaan orang lain, ya!</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 26 Mei 2021, terinspirasi setelah menemukan sebuah <em>post </em>di Pinterest seperti yang tertera di judul</p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://deepstash.com/idea/57892/handling-a-bad-mood">Deepstash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/">&#8220;Gapapa Bad Mood, tapi Jangan Nyakitin Orang Lain, ya&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyelesaikan Masalah dengan Tidak Berbuat Apa-Apa</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 May 2021 01:27:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[benar]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4995</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ada satu kutipan dari Sam Wilson dalam serial The Falcon and the Winter Soldier yang sangat Penulis sukai. Kalimat tersebut adalah: &#8220;Maybe this is something that you or Steve will never understand. But can you accept that I did what I thought was right?&#8221; Sam Wilson Kalimat atau pertanyaan tersebut diutarakan oleh Sam ketika Bucky [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa/">Menyelesaikan Masalah dengan Tidak Berbuat Apa-Apa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ada satu kutipan dari Sam Wilson dalam serial <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-the-falcon-and-the-winter-soldier-bagian-1/">The Falcon and the Winter Soldier</a></em> yang sangat Penulis sukai. Kalimat tersebut adalah:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Maybe this is something that you or Steve will never understand. But can you accept that I did what I thought was right?&#8221;</p><cite>Sam Wilson</cite></blockquote>



<p>Kalimat atau pertanyaan tersebut diutarakan oleh Sam ketika Bucky kembali mempertanyakan keputusan Sam menyerahkan perisai warisan Steve Rogers kepada pemerintah. Sam merasa ia hanya melakukan apa yang ia pikir benar.</p>



<p>Kita semua mungkin pernah merasa seperti itu. Kita berbuat sesuatu, baik untuk diri sendiri ataupun orang lain, karena merasa bahwa itulah yang terbaik. Sayangnya, terkadang hal tersebut berubah menjadi sebuah <strong>kesalahan</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Belum Tentu Baik Juga untuk Orang Lain</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4998" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sam dan Bucky (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://screenrant.com/falcon-winter-soldier-sam-bucky-ship-sebastian-stan-response/">Screen Rant</a>)</figcaption></figure>



<p>Apa yang kita pikir benar, ternyata<strong> belum tentu benar bagi orang lain</strong>. Bahkan, bisa saja hal tersebut justru menyusahkan atau mengganggu orang lain. Perbedaan persepsi dalam memandang suatu hal sering menjadi pemicu utamanya.</p>



<p>Jika orang dekat kita memiliki sebuah permasalahan, biasanya kita akan melakukan sesuatu untuk membantunya dengan cara kita. Sayangnya, ternyata cara yang kita anggap benar tersebut tidak cocok untuk orang tersebut.</p>



<p>Misal, ada teman kita yang sedang patah hati karena memergoki kekasihnya seleweng. Kita berusaha untuk menghiburnya dengan berbagai cara dan ia justru marah. Ternyata, yang ia butuhkan sekarang adalah waktu untuk sendiri dan merenung, bukan hiburan.</p>



<p>Contoh lain ketika kita punya seorang adik yang sedang kewalahan dengan tugasnya. Kita merasa ingin membantunya mengerjakan tugas tersebut. Ia justru marah karena ia ingin berhasil dengan kerja kerasnya sendiri, bukan dengan bantuan orang lain.</p>



<p>Kita hanya melakukan apa yang kita pikir benar dan ternyata salah bagi orang lain. Oleh karena itu, terkadang <strong>tidak berbuat apa-apa </strong>justru menjadi solusi dari sebuah permasalahan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tidak Berbuat Apa-Apa</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4997" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Tidak Berbuat Apa-Apa (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.goodvibeblog.com/before-you-do-nothing/">Good Vibe Blog</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis mengetahui teori <strong>&#8220;tidak berbuat apa-apa&#8221;</strong> ini ketika membaca buku berjudul <strong><em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-four-seconds/">Four Seconds</a></em> </strong>karya Peter Bregman. Intinya, terkadang dalam penyelesaian masalah, berbuat sesuatu justru akan memperparah keadaan. Tidak berbuat apa-apa justru menjadi kunci penyelesaiannya.</p>



<p>Penulis ambil dua contoh di atas, kawan yang sedang patah hati dan adik yang kewalahan dengan tugasnya. </p>



<p>Jika kita tidak berbuat apa-apa, mungkin si kawan pada akhirnya berhasil <em>move on </em>setelah menemukan teman kencan dengan bantuan aplikasi Tinder. Jika kita tidak berbuat apa-apa, mungkin si adik berhasil mempelajari sesuatu yang baru dari tugas-tugasnya.</p>



<p>Di dalam buku <em>Four Seconds</em>, ada kalimat seperti berikut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Terkadang, tidak mencoba memperbaiki sesuatu merupakan hal yang justru dibutuhkan untuk memperbaikinya.&#8221;</p><cite>Buku <em>four seconds </em>halaman 36</cite></blockquote>



<p>Hanya saja, teori ini tidak bisa diterapkan dalam semua kondisi. Jika ada pekerjaan kantor yang menumpuk dan kita memutuskan untuk tidak berbuat apa-apa, ya kita bakal dipecat sama atasan. Jika ada tugas sekolah menumpuk kita tidak berbuat apa-apa, ya kita bakal mendapat nilai buruk.</p>



<p>Intinya, teori tidak berbuat apa-apa ini hanya bisa dilakukan dalam situasi dan kondisi tertentu. Bagaimana cara mengetahui kapan kita harus tidak berbuat apa-apa? Harus berdasarkan pengalaman dan data pada masa lalu. Tidak ada teori pasti yang bisa digunakan.</p>



<p>Selain itu, jangan sampai teori ini membuat kita menjadi orang yang cuek dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Itu juga salah. Tetaplah berusaha untuk menjadi orang baik dan tak segan mengulurkan tangan ketika orang lain butuh pertolongan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Jika Sam tidak berbuat apa-apa dan menyimpan perisai Captain America di rumahnya, mungkin tidak akan ada Captain America baru yang menjadi pemicu konflik di serialnya.</p>



<p>Walau ada kemungkinan pemerintah akan meminta Sam menyerahkan perisai tersebut, setidaknya bukan ia yang memberikan secara sukarela. Ia tidak akan bertanggung jawab atas terpilihnya John Walker sebagai Captain America baru dan tidak perlu berdebat dengan Bucky.</p>



<p>Sam hanya melakukan apa yang ia pikir benar. Menyerahkan perisai tersebut ia lakukan atas dasar karena ia merasa belum pantas menjadi pengganti Captain America. </p>



<p>Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Hanya saja, terkadang apa yang kita pikir benar belum tentu benar bagi orang lain. Permasalahan yang hendak kita selesaikan justru menjadi semakin rumit.</p>



<p>Jika sudah demikian, mungkin memang saatnya kita tidak perlu berbuat apa-apa untuk menyelesaikan suatu permasalahan.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 24 Mei 2021, terinspirasi setelah teringat kalimat favorit yang diucapkan oleh Sam Wilson pada serial <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-the-falcon-and-the-winter-soldier-bagian-2/">The Falcon and the Winter Soldier</a></em></p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://cahobnemodo.ga/">cahobnemodo.ga</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa/">Menyelesaikan Masalah dengan Tidak Berbuat Apa-Apa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Productivity Hacks #1: To-Do List Harian</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-1-to-do-list-harian/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-1-to-do-list-harian/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2021 12:10:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[#ProductivityHacks]]></category>
		<category><![CDATA[catatan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[to-do list]]></category>
		<category><![CDATA[tugas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4382</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menjadi orang yang produktif setiap hari (setidaknya, ketika weekday) adalah salah satu impian Penulis dalam hidup. Hidup ini terlalu singkat untuk sesuatu yang sia-sia. Sayangnya, Penulis merupakan tipe orang yang malas dan suka menunda-nunda. Akibatnya, Penulis kerap lalai dalam memanfaatkan waktu dalam hidupnya. Menyadari kekurangan tersebut, Penulis memutuskan untuk membuat to-do list harian untuk mengetahui apa yang akan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-1-to-do-list-harian/">Productivity Hacks #1: To-Do List Harian</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Menjadi <strong>orang yang produktif</strong> setiap hari (setidaknya, ketika <em>weekday</em>) adalah salah satu impian Penulis dalam hidup. Hidup ini terlalu singkat untuk sesuatu yang sia-sia.</p>
<p>Sayangnya, Penulis merupakan tipe <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/saya-ini-pemalas/">orang yang malas</a> dan suka menunda-nunda. Akibatnya, Penulis kerap lalai dalam memanfaatkan waktu dalam hidupnya.</p>
<p>Menyadari kekurangan tersebut, Penulis memutuskan untuk membuat <strong><em>to-do list </em>harian</strong> untuk mengetahui apa yang akan dilakukan hari ini.</p>
<h3>Untuk Apa <em>To-Do List </em>Harian?</h3>
<p><div id="attachment_4385" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4385" class="size-large wp-image-4385" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/productivity-hacks-1-to-do-list-harian-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/productivity-hacks-1-to-do-list-harian-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/productivity-hacks-1-to-do-list-harian-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/productivity-hacks-1-to-do-list-harian-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/productivity-hacks-1-to-do-list-harian-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4385" class="wp-caption-text">Buat Apa Sih? (<a href="https://www.pexels.com/id-id/@breakingpic">Breakingpic</a>)</p></div></p>
<p>Ketika bermain game, misalnya PUBG Mobile, biasanya kita memiliki <strong>misi-misi yang harus diselesaikan</strong> untuk mendapatkan <em>reward </em>tertentu.</p>
<p>Di game-game Steam, ada beberapa <strong><em>achievement </em>yang bisa kita dapatkan</strong> jika sudah melakukan sesuatu di dalam game.</p>
<p>Hal-hal seperti itu membuat kita <strong>bersemangat untuk <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-main-game/">bermain game</a></strong>. Akan muncul semacam kepuasan jika kita berhasil mendapatkannya.</p>
<p><strong>Itulah peran dari <em>to-do list </em>harian.</strong></p>
<p>Sama seperti game, kita akan <strong>merasa puas apabila bisa memberikan tanda centang</strong> kepada daftar pekerjaan yang telah dituntaskan.</p>
<p>Jika berhasil melakukan apa yang sudah dituliskan pada <em>to-do list</em>, kita akan merasa <strong>hari ini telah dijalani dengan produktif</strong> yang ujung-ujungnya baik bagi kesehatan mental.</p>
<p>Tentu saja daftar pekerjaannya yang berbau produktif, ya! Jangan sampai main game Mobile Legends 2 jam dimasukkan ke dalam <em>to-do list</em>, kalau seperti itu sama saja bohong.</p>
<p>Masukkan daftar pekerjaan yang produktif seperti belajar, mempelajari atau menemukan hal baru, membersihkan kamar, menyelesaikan tanggungan pekerjaan, dan lain sebagainya.</p>
<p>Penulis sendiri biasanya menyantumkan <strong>&#8220;100% completed&#8221;</strong> sebagai penanda kalau semua <em>to-do list </em>hari ini berhasil dikerjakan. Anggap saja seperti mendapatkan <em>badges </em>di Steam.</p>
<h3>Bagaimana Cara Membuat <em>To-Do List </em>Harian?</h3>
<p><div id="attachment_4386" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4386" class="size-large wp-image-4386" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/productivity-hacks-1-to-do-list-harian-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/productivity-hacks-1-to-do-list-harian-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/productivity-hacks-1-to-do-list-harian-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/productivity-hacks-1-to-do-list-harian-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/productivity-hacks-1-to-do-list-harian-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4386" class="wp-caption-text">To-Do List Penulis</p></div></p>
<p>Tidak ada patokan khusus untuk membuat <em>to-do list </em>harian. Sesukanya saja, tapi diusahakan yang bisa membuat kita merasa senang ketika menuliskannya.</p>
<p>Penulis pribadi memiliki hobi membuat <strong>catatan dengan rapi</strong>. Oleh karena itu, Penulis menjadikan sebuah buku dan mendesainnya sendiri menjadi <em>to-do list</em>.</p>
<p>Sebagai pemanis, Penulis memberikan tambahan ornamen-ornamen yang sederhana. Tidak lupa catatan harus berwarna-warni agar tidak monoton dan membosankan.</p>
<p>Mungkin ada yang lebih nyaman dan merasa praktis dengan <strong>menggunakan aplikasi</strong> di ponsel. Kalau Penulis merasa tidak cocok karena <em>feel</em>-nya tidak dapat.</p>
<p>Ada yang lebih suka <strong>menuliskannya di </strong><em><strong>sticky notes</strong> </em>dan menempelkannya di tempat yang mudah terlihat. Macam-macam, metodenya bisa dipilih sesuka hati.</p>
<h3>Bagaimana Jika Banyak Tugas yang Tidak Diselesaikan?</h3>
<p><div id="attachment_4387" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4387" class="size-large wp-image-4387" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/productivity-hacks-1-to-do-list-harian-3-1024x607.jpeg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/productivity-hacks-1-to-do-list-harian-3-1024x607.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/productivity-hacks-1-to-do-list-harian-3-300x178.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/productivity-hacks-1-to-do-list-harian-3-768x455.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/productivity-hacks-1-to-do-list-harian-3.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4387" class="wp-caption-text">Gagal? Tetep Gas! (<a href="https://www.pexels.com/id-id/@freestocks">freestocks.org</a>)</p></div></p>
<p>Sudah membuat <em>to-do list </em>tapi ternyata sampai menjelang tidur <strong>masih banyak tugas yang belum selesai?</strong> Tenang, itu merupakan hal yang lumrah dalam dunia per-<em>to-do-list-</em>an.</p>
<p>Penulis sangat sering mengalaminya. Sebagai orang yang <em>moody</em>, terkadang suasana hati yang sedang berantakan bisa membuat Penulis mengabaikan semua tugas yang sudah ditulis.</p>
<p>Yang penting, <strong>jangan berhenti membuat </strong><em><strong>to-do list</strong>. </em>Kalau punya kebiasaan baik harus dipertahankan, jangan dihentikan hanya karena merasa <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/menjaga-konsistensi/">tidak mampu konsisten</a>.</p>
<p>Ketika kita melakukan evaluasi <em>to-do list </em>yang gagal dikerjakan, memang <strong>akan memunculkan perasaan bersalah</strong> yang membuat kita malas untuk menulis <em>to-do list </em>lagi.</p>
<p>Tidak apa-apa, nikmati saja perasaan bersalah tersebut sembari berusaha besok akan lebih baik lagi. Jika ada yang tidak selesai hari ini, coba untuk diselesaikan besok.</p>
<p>Inilah pentingnya untuk <strong>tidak membuat </strong><em><strong>to-do list </strong></em><strong>terlalu banyak </strong>ketika baru mulai. Daftar tugas yang terlalu banyak berpotensi terbengkalai dan akhirnya membuat kita malas.</p>
<p>Hanya ada <strong>satu <i>to-do list </i></strong>pun tidak masalah, misalnya latihan mengerjakan latihan soal SBMPTN sebanyak 5 soal dalam sehari. Yang penting adalah komitmen kita untuk mengerjakannya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Mencatat <em>to-do list </em>harian bisa jadi tidak cocok untuk sebagian orang, terutama orang yang benci rutinitas dan menyukai hal-hal yang berbau spontan (<em>uhuy!</em>).</p>
<p>Berhubung Penulis tipe orang yang suka dengan rutinitas, mencatat <em>to-do list </em>setiap hari bisa meningkatkan produktivitas dan membuat dirinya bersemangat menjalani hidup.</p>
<p>Ketika tulisan ini ditulis, Penulis telah berhasil <strong>menyelesaikan tujuh tugas</strong> yang dibuat pada pagi hari ini. Kelihatan hebat? Sebenarnya tidak jika melihat hari-hari sebelumnya.</p>
<p>Sabtu dan Minggu kemarin, Penulis <strong>tidak mencatat <em>to-do list </em>sama sekali</strong>. Akibatnya, Penulis menghabiskan waktunya untuk bermain game dan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/istirahat-dari-media-sosial/"><em>scroll </em></a><a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/istirahat-dari-media-sosial/">media sosial berjam-jam</a>.</p>
<p>Pada hari Kamis dan Jumat kemarin, <strong>hanya satu dari lima tugas yang berhasil dikerjakan</strong>. Alasannya seperti yang sudah disebutkan di atas, <em>mood </em>sedang tidak karuan.</p>
<p>Walaupun gagal berkali-kali, Penulis tidak berhenti mencatat <em>to-do list </em>harian karena merasa bisa membantu Penulis untuk tetap produktif.</p>
<p>Perasaan gembira yang muncul ketika berhasil meninggalkan tanda centang sangat memuaskan. Penulis harap, para Pembaca sekalian juga bisa merasakannya setelah membuat <em>to-do list </em>harian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NB: Tulisan ini menjadi tulisan pertama dalam serial <em>Productivity Hacks</em>. Ditunggu tulisan-tulisan yang bisa memotivasi diri untuk lebih produktif lagi!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 8 Februari 2021, terinspirasi setelah dirinya merasa mendapatkan banyak manfaat dengan mencatat <em>to-do list </em>harian</p>
<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/id-id/@ivan-samkov">Ivan Samkov · Fotografi (pexels.com)</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-1-to-do-list-harian/">Productivity Hacks #1: To-Do List Harian</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-1-to-do-list-harian/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
