Menjaga Konsistensi

Sir Alex Ferguson melalui buku autobiografinya pernah menyatakan bahwa mempertahankan gelar lebih susah dibandingkan meraihnya.

Jika diaplikasikan melalui kehidupan sehari-hari, kutipan tersebut dapat diterjemahkan sebagai:

Memulai kebiasaan baik baru jauh lebih mudah daripada mempertahankannya

Menjaga konsistensi dalam melakukan sesuatu, terutama hal baik, merupakan hal yang susah. Apakah memang benar demikian? Berdasarkan pengalaman pribadi, hal tersebut benar adanya.

Susah Memulai Lagi

Susah Memulai Lagi Jika Berakhir (Braden Collum)

The hardest part of ending is starting again

Kalimat di atas merupakan lirik dari lagu Waiting for the End dari band favorit Penulis, Linkin Park. Dalam bahasa Indonesia artinya bagian tersulit dari akhir adalah memulainya kembali.

Itulah yang Penulis alami saat ini. Pada tulisan Rutinitas Pagi Harian, Penulis menjelaskan bagaimana dirinya memiliki rutinitas yang dilakukan setiap pagi.

Rutinitas tersebut berlangsung kurang lebih dua bulan. Menjelang pergantian tahun, semangat Penulis justru turun. Ketika tulisan ini dibuat, Penulis sudah satu minggu berhenti lari pagi.

Kenapa? Karena sudah terlalu lama berhenti.

Padahal di tulisan sebelumnya Penulis sudah menuliskan salah satu pantangan membuat rutinitas pagi adalah berhenti lebih dari dua hari. Ironis memang, Penulis melanggar pantangannya sendiri.

Sekarang, rasanya begitu berat untuk mengambil jaket dan menggunakan sepatu, lantas melakukan pemanasan dan lari keliling perumahan. Padahal Shubuh bangun, tapi rasanya begitu malas keluar rumah.

Dengan kata lain, kurangnya niat juga menjadi musuh terbesar dalam menjaga konsistensi.

Buruknya Time Management

Gunakan Waktu dengan Bijak (Nathan Dumlao)

Contoh lain dari susahnya menjaga konsistensi adalah blog ini. Pada awal tahun 2020, Penulis berhasil rutin menulis setiap hari. Akhir tahun? Sedikit sekali tulisan yang Penulis produksi.

Apakah Penulis sibuk hingga tidak punya waktu untuk menulis blog? Apakah Penulis mengalami creative block karena padatnya pekerjaan?

Jika Penulis renungkan kembali, itu semua hanya alasan sebagai pembenaran. Alasan sebenarnya adalah Penulis terlalu malas dan time management yang buruk.

Penulis rutin menulis agenda harian (salah satu rutinitas yang berhasil Penulis pertahankan dari zaman kuliah, walaupun sempat berhenti beberapa bulan di tahun 2020 kemarin).

Dari sana Penulis tahu dalam satu hari apa saja yang Penulis lakukan. Setelah dievaluasi, memang Penulis terlalu banyak membuang-buang waktunya.

Dibuang seperti apa? Terlalu banyak main media sosial (medsos), terlalu banyak main game, terlalu banyak tidur menjadi contoh yang paling mudah.

Ambil contoh Penulis menghabiskan waktu di medsos sebanyak 2 jam satu hari. Menulis artikel blog paling lama satu jam, tapi biasanya 30 menit sudah selesai.

Jika Penulis mengambil waktu di medsos 1 jam, mau sesibuk apapun Penulis bisa mengalokasikannya untuk menulis artikel blog. Apalagi, ada aplikasi WordPress di ponsel sehingga aktivitas ngeblog tidak melulu harus di layar laptop.

Apa yang Harus Dilakukan?

Memanfaatkan To-Do-List (Cathryn Lavery)

Lantas, apa yang harus dilakukan untuk menjaga konsistensi? Jawabannya klasik dan klise, semuanya berawal dari niat!

Setiap orang mungkin akan memiliki metode yang berbeda, tapi ini cara Penulis. Sebagai awal, Penulis harus memaksa dirinya untuk membuat to-do-list harian.

Penulis adalah tipe orang yang suka menetapkan target-target untuk dicapai karena dengan demikian Penulis jadi memiliki titik fokus dalam menjalani harinya.

Jika Penulis tidak tahu apa yang akan dilakukan hari ini, Penulis akan terdorong untuk menyia-nyiakan waktu yang ada.

Di to-do-list harian tersebut, bisa dibilang isinya hampir sama setiap hari. Jika ada yang beda mungkin hanya satu dua, tapi selebihnya sama.

Walaupun begitu, hal tersebut melatih konsistensi Penulis. Dari sisi psikologi, akan muncul perasaan senang apabila berhasil menyelesaikan target-target yang telah dibuat.

Penulis juga memanfaatkan aplikasi Loop Habit Tracker yang bisa diunduh gratis di Play Store. Kalau lihat daftar kebiasaan yang kita buat tercentang semua, rasanya puas sekali!

Kadang Penulis juga berusaha memunculkan kembali semangat menjalani rutinitas dengan mencari motivasi, entah dari buku ataupun video YouTube.

Penutup

Memulai kebiasaan baik yang baru merupakan hal yang sulit. Mempertahankannya jauh lebih sulit lagi. 

Pembaca mungkin punya kesulitan menjaga konsistensi di bidang lain, mungkin ibadahnya, diet makannya, belajarnya, dan lain sebagainya.

Penulis tidak memiliki kapabilitas untuk memberikan jawaban untuk permasalahan tersebut. Hanya saja, Penulis berharap tulisan ini dapat menginspirasi Pembaca untuk menemukan solusinya sendiri.

Yang perlu diingat adalah musuh terbesar dari konsistensi adalah berhenti untuk jangka waktu tertentu, kurangnya niat, rasa malas, dan time management yang buruk.

Kalau kita berhasil mengalahkan empat hal ini, kemungkinan besar kita bisa menjaga konsistensi kita dalam hal apapun.

Yuk, teguhkan niat untuk menjaga konsistensi. Serap sebanyak mungkin motivasi dari mana pun agar kita semangat untuk menjaga konsistensi tersebut!

 

 

Lawang, 12 Januari 2021, terinspirasi dari dirinya sendiri yang kesulitan menjaga konsistensi diri

Foto: Siora Photography

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.