<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>uang Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/uang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/uang/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Sep 2024 13:50:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>uang Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/uang/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Ngomongin Uang</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ngomongin-uang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ngomongin-uang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Sep 2024 16:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[kaya]]></category>
		<category><![CDATA[keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7919</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa tahun terakhir, keuangan menjadi salah satu topik yang sedang banyak dipelajari mengingat usia Penulis sekarang sudah berkepala tiga. Meskipun bisa dibilang terlambat, rasanya tidak ada salahnya untuk tetap mempelajarinya. Sumber-sumber belajar keuangan pun tentu dari banyak medium, mulai dari YouTube, media sosial, hingga buku. Salah satu buku yang pernah Penulis baca adalah The [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ngomongin-uang/">[REVIEW] Setelah Membaca Ngomongin Uang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa tahun terakhir, keuangan menjadi salah satu topik yang sedang banyak dipelajari mengingat usia Penulis sekarang sudah berkepala tiga. Meskipun bisa dibilang terlambat, rasanya tidak ada salahnya untuk tetap mempelajarinya.</p>



<p>Sumber-sumber belajar keuangan pun tentu dari banyak medium, mulai dari YouTube, media sosial, hingga buku. Salah satu buku yang pernah Penulis baca adalah <em><a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-psychology-of-money/">The Psychology of Money</a></em> karya Morgan Housel. Sayangnya, Penulis merasa buku ini kurang praktis untuk diterapkan dalam keseharian.</p>



<p>Nah, waktu tahu akun Instagram Ngomongin Uang akan menerbitkan sebuah buku tentang keuangan, Penulis langsung merasa tertarik karena telah mengikuti akun tersebut cukup lama dan senang dengan ulasan-ulasan yang mereka buat. </p>



<p>Hasilnya, timbul perasaan menyesal karena harusnya Penulis membaca buku seperti ini bertahun-tahun yang lalu.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-768x566.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-1024x755.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-346x255.jpg 346w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019.jpg 1221w " alt="Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/mencari-inspirasi-karakter-melalui-anime/">Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Ngomongin Uang</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Ngomongin Uang: Menjadi &#8216;Kaya&#8221; Versi Kamu Sendiri</em></li>



<li>Penulis: Glenn Ardi</li>



<li>Penerbit: Penerbit Buku Kompas</li>



<li>Cetakan:</li>



<li>Tanggal Terbit:</li>



<li>Tebal: 244 halaman</li>



<li>ISBN: 9786231606204</li>



<li>Harga: Rp125.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Ngomongin Uang</h2>



<p><em>Kekayaan sering kali bukan hanya soal uang atau status sosial. Kekayaan yang sesungguhnya bersifat sangat personal, karena setiap orang mendefinisikan kesuksesan dan kebahagiaannya dengan cara yang berbeda. </em></p>



<p><em>Namun, apa pun definisi kekayaan bagi kamu, UANG adalah alat ukur dan kendaraan yang bisa membawamu mencapai tujuan. Karena itulah, memahami keuangan adalah hal yang fundamental dalam membangun kehidupan terbaik versi kamu. Buku ini hadir untuk kamu yang merasa keuangannya mandek, kamu yang overthinking dan terus membandingkan dirimu dengan kesuksesan orang lain, dan kamu yang merasa masa depan keuangan kamu suram—Yuk, kita Ngomongin Uang! </em></p>



<p><em>Karena ngomongin uang telah mengubah hidup saya! Membuat hidup saya lebih terencana, memberi rasa aman, kedamaian, kebebasan, sekaligus rasa kecukupan. Buku ini bukan soal motivasi sukses atau cara cepat kaya, tetapi buku ini akan membuat kamu menjadi ‘KAYA’ versi kamu sendiri. </em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Ngomongin Uang</h2>



<p>Sesuai dengan judulnya, buku <em>Ngomongin Uang </em>akan membahas tentang uang dari banyak sudut pandang. Buku ini membahas banyak hal yang sebenarnya cukup generik, mulai dari sejarah uang, cara-cara mendapatkan uang, penjelasan tentang investasi, dan lain sebagainya.</p>



<p>Buku ini terdiri dari 13 bab yang menarik dan dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi menarik yang digambar oleh Ariawan. Masing-masing bab memiliki kedalaman yang bervariasi, tergantung seberapa panjang topik yang dibahas. Ketigabelas bab tersebut adalah:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Bab 1: Cerita Terbentuknya Uang</li>



<li>Bab 2: Nilai Uang yang Selalu Berubah</li>



<li>Bab 3: Tahap Prioritas Keuangan</li>



<li>Bab 4: Ciri Khas Calon Orang Kaya</li>



<li>Bab 5: Perhatikan Pengeluaran Kamu</li>



<li>Bab 6: Jalan Menuju Kekayaan</li>



<li>Bab 7: Memaknai Arti Kekayaan</li>



<li>Bab 8: Kaya Menurut Versi Kamu Sendiri</li>



<li>Bab 9: Investasi Itu untuk Apa? </li>



<li>Bab 10: Gimana Caranya Beli Rumah?</li>



<li>Bab 11: Perlukah Membeli Mobil?</li>



<li>Bab 12: Fenomena Sandwich Generation</li>



<li>Bab 13: Hidup Tanpa Bekerja Lagi</li>



<li>Penutup: Apakah Saat Ini Saya Sudah Kaya?</li>
</ul>



<p>Secara singkat, dua bab pertama membantu kita memahami apa itu uang dan mengapa benda tersebut bisa menjadi sesuatu yang sangat penting, bahkan &#8220;dituhankan&#8221; oleh sebagian manusia. Sebagai <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">orang yang suka sejarah</a>, bab-bab awal ini sangat menarik.</p>



<p>Bab 3 hingga 9 membahas tentang kekayaan dan pengelolaan uang yang kita miliki. Kaya tidak selalu berarti punya harta yang melimpah dan tak akan habis. Masing-masing dari kita bisa memiliki definisi kayanya sendiri. </p>



<p>Bab 9 hingga 11 membahas mengenai topik investasi dan pertimbangan-pertimbangan apakah kita perlu membeli aset seperti rumah dan mobil. Seperti yang kita tahu, kondisi saat ini membuat banyak orang kesulitan untuk membeli aset-aset tersebut, sehingga investasi menjadi penting.</p>



<p>Dua bab terakhir merupakan tambahan <em>insight </em>menarik seputar dunia keuangan terutama pembahasan <em>sandwich generation</em>, sebuah fenomena yang kerap terjadi saat ini di mana seseorang harus menghidupi orang lain dan keluarganya sendiri. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Ngomongin Uang</h2>



<p>Begitu selesai menyelesaikan buku ini (dengan waktu yang relatif singkat), Penulis merasa termenung. Seharusnya, <strong>ilmu-ilmu keuangan yang ada di buku ini sudah dibahas di sekolah</strong>, agar ketika siswa beranjak dewasa, mereka telah memiliki bekal ilmu keuangan yang cukup.</p>



<p>Buku <em>Ngomongin Uang</em>, sejujurnya memang hanya<strong> mengajarkan hal-hal fundamental tentang keuangan</strong>. Namun, dasar-dasar tersebut tidak pernah diajarkan ke kita saat masih sekolah, bahkan ketika kuliah pun tidak ilmunya kecuali kita kuliah jurusan yang berhubungan dengan keuangan.</p>



<p>Apalagi, <strong>bahasa yang digunakan dalam buku ini benar-benar mudah dipahami</strong>. Itu juga yang menjadi salah satu alasan mengapa Penulis mampu menyelesaikan buku ini dengan cepat. Walau begitu, ilmu yang bisa kita dapatkan tidak main-main.</p>



<p>Buku ini tidak mengajak kita untuk mati-matian mengejar uang selama hidup di dunia ini. Sebaliknya, kita diajak untuk bisa bijaksana dalam menyikapi uang. <strong>Posisikan uang sebagai sebuah alat, bukan sebagai sebuah tujuan</strong>.</p>



<p>Topik-topik yang diangkat di buku ini juga <strong><em>related </em>dengan kehidupan sehari-hari kita</strong>, sehingga buku ini pun terasa dekat. Isu-isu seperti harga rumah yang makin mahal dan fenomena <em>sandwich generation </em>dibahas di sini dengan menarik.</p>



<p>Selain itu, ilustrasi-ilustrasi yang terdapat pada buku ini juga mempertahankan ciri khas yang dimiliki oleh akun Instagram Ngomongin Uang. Ilustrasi yang terdapat dalam buku ini tidak hanya menjadi pemanis, karena terkadang membantu kita memahami poin yang ingin disampaikan.</p>



<p>Penulis berharap kalau buku ini akan memiliki sekuel yang akan lebih detail dan membahas topik-topik keuangan yang lebih berat. Seandainya ada, Penulis tanpa ragu akan langsung membelinya untuk menambah ilmu keuangannya. Mungkin itu juga yang menjadi kekurangan buku ini: <strong>isinya kurang banyak</strong>.</p>



<p>Intinya, buku ini sangat Penulis rekomendasikan untuk siapa saja. Keuangan adalah topik yang jarang dibahas secara umum di ruang publik. Memahami ilmu-ilmu dasarnya bisa membantu kita untuk memiliki dan mengelola keuangan kita lebih baik lagi di masa depan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 28 September 2024, terinspirasi setelah membaca buku Ngomongin Uang karya Glenn Ardi</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ngomongin-uang/">[REVIEW] Setelah Membaca Ngomongin Uang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ngomongin-uang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Untuk Apa Uang dan Kekayaan Melimpah Jika Tidak Barokah?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-uang-dan-kekayaan-melimpah-jika-tidak-barokah/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-uang-dan-kekayaan-melimpah-jika-tidak-barokah/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Jul 2024 14:57:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[barokah]]></category>
		<category><![CDATA[harta]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kaya]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7589</guid>

					<description><![CDATA[<p>Banyak crazy rich yang pada akhirnya bermasalah dan terlibat dengan hukum. Contoh paling &#8220;panas&#8221; adalah kasus korupsi timah yang merugikan negara hingga 271 triliun yang melibatkan beberapa crazy rich. Kalau mundur ke belakang lagi, ada banyak kasus penipuan yang juga melibatkan crazy rich. Hingga hari ini, masih ada beberapa kasus yang masih mengintai para crazy [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-uang-dan-kekayaan-melimpah-jika-tidak-barokah/">Untuk Apa Uang dan Kekayaan Melimpah Jika Tidak Barokah?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Banyak <em>crazy rich </em>yang pada akhirnya bermasalah dan terlibat dengan hukum. Contoh paling &#8220;panas&#8221; adalah kasus korupsi timah yang merugikan negara hingga 271 triliun yang melibatkan beberapa <em>crazy rich</em>.</p>



<p>Kalau mundur ke belakang lagi, ada banyak kasus penipuan yang juga melibatkan <em>crazy rich</em>. Hingga hari ini, masih ada beberapa kasus yang masih mengintai para <em>crazy rich</em>, entah terlibat dalam pencucian uang maupun kasus-kasus lainnya. </p>



<p>Seperti yang kita tahu, para <em>crazy rich </em>ini kerap membagikan gaya hidupnya yang mewah, sehingga membuat sebuah fenomena kalau hidup itu harus bisa sampai berfoya-foya seperti mereka. Kita belum bisa dibilang sukses kalau uang dan kekayaannya belum melimpah.</p>



<p>Hal ini membuat Penulis merenung,<strong> <em>mengapa kita ini seolah begitu menghamba pada uang dan kekayaan</em></strong>?</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner.jpg 1280w " alt="Maskulinitas pada Musik Dewa" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/musik/maskulinitas-pada-musik-dewa/">Maskulinitas pada Musik Dewa</a></div></div></div><p></p>


<p>Uang itu penting. Uang bisa membuat kita hidup lebih tenang. Uang bisa membuat hidup kita lebih nyaman. Uang bisa membeli banyak keinginan kita. Uang bisa menjadi jalur untuk beribadah. Uang harus diakui telah menjadi barang yang penting di dunia.</p>



<p>Jika disuruh memilih antara miskin barokah atau kaya tidak barokah, pasti mayoritas dari kita akan memilih <strong>kaya barokah</strong>. Bahkan di dalam keyakinan Penulis, menjadi kaya itu dianjurkan karena kita bisa bersedekah, naik haji, menyantuni anak yatim piatu, dan lain sebagainya.</p>



<p>Memiliki uang dan kekayaan juga bisa meminimalisir potensi masalah yang terjadi. Kita tidak bingung ketika susu anak habis, tidak bingung ketika anak akan masuk sekolah, tidak bingung ketika genteng rumah bocor, dan lain sebagainya.</p>



<p>Uang dan kekayaan bisa mulai <strong>menjadi masalah ketika dijadikan sebagai target dalam hidup,</strong> bukannya sebagai alat. Kalau kita hidup untuk mengejar uang dan kekayaan saja, tidak akan ada puasnya. Nafsu kita sebagai manusia membuat kita terus merasa kurang jika tidak bersyukur.</p>



<p>Menjadikan uang dan kekayaan sebagai tujuan hidup akan mendorong kita untuk tak memedulikan bagaimana kita mendapatkannya. Korupsi, penipuan, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/layakkah-pemain-judi-online-dianggap-sebagai-korban/">judi <em>online</em></a>, ada banyak cara instan dan pastinya haram untuk bisa menjadi kaya.</p>



<p>Mungkin ada yang berhasil menjadi kaya dengan cara tersebut, tapi bisa dipastikan hartanya tidak barokah. Karena tidak barokah, pasti ada saja hal buruk yang menimpanya. Beberapa <em>crazy rich </em>yang telah menjadi tersangka adalah contoh mudahnya.</p>



<p>Memang ada yang berhasil lolos dari jeratan hukum, tapi Penulis tidak yakin ia bisa hidup dengan tenang. Penulis membayangkan mereka akan senantiasa merasa was-was, tidak pernah merasa tenang meskipun memiliki banyak harta. </p>



<p>Mendapatkan uang dan kekayaan dengan cara yang tidak barokah terjadi <strong>ketika manusia tidak mampu mengalahkan ego dan nafsunya</strong>. Banyaknya keinginan tidak sebanding dengan pemasukan yang didapatkan. Alhasil, banyak cara haram yang dilakukan.</p>



<p>Penulis yakin para koruptor atau penipu itu bukan dari kalangan miskin. Jika memiliki gaya hidup yang sederhana, harta yang dimiliki sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Bisa karena gengsi atau memang tamak saja, akhirnya mereka ingin menambah kekayaan secara cepat.</p>



<p>Uang dan kekayaan adalah hal yang tidak abadi dan tidak dibawa mati. Lantas, mengapa kita rela mendapatkannya dengan cara yang tidak barokah? <strong>Untuk apa punya banyak harta di dunia yang sementara, tapi cara mendapatkannya membuat kita kehilangan sesuatu yang abadi seperti surga? </strong></p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Tentu tak mudah untuk mempertahankan prinsip dan idealisme di era yang semakin positivistik ini: semua hanya bisa diukur dari sesuatu yang bisa dilihat, termasuk harta. Apalagi, kemunculan berbagai <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">platform media sosial</a> semakin memperparah keadaan ini.</p>



<p>Kita belum dianggap sukses jika belum memiliki ini itu, yang mungkin sebenarnya tidak kita benar-benar butuhkan. <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/">Calon pasangan mengikuti standar TikTok</a> dan menuntut kita untuk bisa membelikan mereka ini itu. Ada banyak desakan seolah kita ini harus kaya dengan cepat, sehingga tak jarang orang memilih jalan pintas yang salah.</p>



<p>Terkadang kita ini saking cintanya dengan dunia, kita sampai lupa kalau ada kehidupan setelah kematian. <strong>Kita menjadi takut dengan kematian karena terlalu cinta dunia</strong>, <strong>terlalu mengejar dunia</strong>. </p>



<p>Semoga kita semua bisa menggunakan uang dan kekayaan sebagai alat semata, bukan tujuan. Semoga kita semua bisa mendapatkan uang dan kekayaan yang barokah, tidak diperoleh dengan cara yang salah dan merugikan banyak orang. Semoga kita semua bisa menggunakan uang dan kekayaan yang dimiliki untuk hal yang benar. Aamiin.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 3 Juli 2024, terinspirasi setelah menyadari kita sebagai manusia kerap menghamba ke uang dan kekayaan</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.psychologs.com/the-psychology-of-rich-people/#google_vignette">Psychology Magazine</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-uang-dan-kekayaan-melimpah-jika-tidak-barokah/">Untuk Apa Uang dan Kekayaan Melimpah Jika Tidak Barokah?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-uang-dan-kekayaan-melimpah-jika-tidak-barokah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Berinvestasi dengan Uang Panas</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-berinvestasi-dengan-uang-panas/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-berinvestasi-dengan-uang-panas/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Aug 2023 16:00:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[crypto]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[kripto]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6811</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, muncul berita mengejutkan di mana ada seorang mahasiswa dari salah satu universitas negeri ternama melakukan pembunuhan kepada adik tingkatnya. Ketika diusut, penyebabnya adalah karena ia terlilit hutang karena berinvestasi di kripto. Tak tanggung-tanggung, hutang yang dimiliki mencapai 80 juta rupiah. Setelah membunuh adik tingkatnya, ia berencana untuk menjual barang-barang milik orang yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-berinvestasi-dengan-uang-panas/">Ketika Berinvestasi dengan Uang Panas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa waktu lalu, muncul berita mengejutkan di mana ada seorang mahasiswa dari salah satu universitas negeri ternama melakukan pembunuhan kepada adik tingkatnya. Ketika diusut, penyebabnya adalah karena ia terlilit hutang karena berinvestasi di kripto.</p>



<p>Tak tanggung-tanggung, hutang yang dimiliki mencapai 80 juta rupiah. Setelah membunuh adik tingkatnya, ia berencana untuk menjual barang-barang milik orang yang ia bunuh tersebut untuk membayar hutang yang dimilikinya.</p>



<p>Apalagi, kabar beredar kalau adik tingkat tersebut memiliki portofolio investasi yang lebih berhasil, sehingga mungkin menimbulkan rasa iri pada pelaku. Kasus ini pun mengajari kita, kalau jangan berinvestasi menggunakan uang panas seperti hutang.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Investasi Itu Memang Penting, tapi&#8230;</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/ketika-berinvestasi-dengan-uang-panas-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6814" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/ketika-berinvestasi-dengan-uang-panas-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/ketika-berinvestasi-dengan-uang-panas-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/ketika-berinvestasi-dengan-uang-panas-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/ketika-berinvestasi-dengan-uang-panas-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Apa Pilihan Investasi Pembaca? (<a href="https://www.pexels.com/@pixabay/">Pixabay</a>)</figcaption></figure>



<p>Kita semua tentu mendengar tentang pentingnya berinvestasi, tapi rasanya baru belakangan ini fenomenanya menjadi begitu ramai, terutama <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya/">sejak adanya pandemi</a>. Apalagi, sekarang ada banyak pilihan investasi yang bisa dipilih.</p>



<p>Jika orang dulu akan memilih investasi dengan membeli tanah, emas, atau properti, maka generasi sekarang cenderung memilih aset seperti saham, reksadana, <em>cryptocurrency</em>, hingga <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/nft-oh-nft/">NFT yang sempat heboh beberapa waktu lalu walaupun kini telah meredup</a>.</p>



<p>Penulis sendiri juga masih belajar sedikit-sedikit tentang investasi. Sebagian tabungan Penulis sisihkan untuk ditaruh di berbagai instrumen. Ada saham lokal, saham luar negeri, reksadana, hingga emas digital. Ada yang sudah profit, ada yang merah terus dan terasa <em>hopeless</em>.</p>



<p>Kenapa Penulis tidak berinvestasi di kripto? Ada banyak alasannya, mulai dari faktor boleh tidaknya di keyakinan Penulis, sifatnya yang sangat fluktuatif dan spekulatif, tidak ada bentuk riilnya, dan karena minimnya pengetahuan yang dimiliki.</p>



<p>Pada dasarnya, Penulis adalah orang yang mudah skeptis dan tidak mudah tergiur sesuatu yang sifatnya &#8220;kaya dengan mudah&#8221;. Meskipun kerap mendengar bagaimana orang mendadak kaya karena kripto, Penulis sama sekali tidak tertarik.</p>



<p>Nah, kasus pembunuhan yang sudah Penulis singgung di atas kemungkinan besar adalah contoh bagaimana manusia bisa tergiur dengan iming-iming &#8220;kaya dengan mudah&#8221; melalui investasi kripto. Padahal, risikonya sangat besar, apalagi jika menggunakan uang panas.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Tidak Boleh Menggunakan Uang Panas untuk Berinvestasi?</h2>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="829" height="641" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/ketika-berinvestasi-dengan-uang-panas-2.png" alt="" class="wp-image-6815" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/ketika-berinvestasi-dengan-uang-panas-2.png 829w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/ketika-berinvestasi-dengan-uang-panas-2-300x232.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/ketika-berinvestasi-dengan-uang-panas-2-768x594.png 768w" sizes="(max-width: 829px) 100vw, 829px" /><figcaption class="wp-element-caption">Luna, Contoh Investasi Kripto yang Crash (<a href="https://boldergroup.com/news/terra-luna-crash/">Bolder Group</a>)</figcaption></figure>



<p>Menurut pengertian Penulis pribadi, uang panas adalah sebuah istilah untuk merujuk kepada <strong>uang yang jika hilang akan menimbulkan masalah berat</strong>. Tentu semua uang yang hilang akan menjadi gawat, tapi uang panas ini sifatnya super duper gawat.</p>



<p>Contohnya adalah uang dari gaji yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika uang tersebut kita gunakan untuk investasi dan raib, maka kita tidak bisa memenuhi kebutuhan kita dan berpotensi membahayakan hidup kita.</p>



<p>Hutang adalah contoh lain dari uang panas. Biasanya, ketika orang berinvestasi dengan uang hutang, mereka berharap akan mendapatkan untung yang bisa ia simpan sekaligus mengembalikan hutang yang ia pinjam.</p>



<p>Sayangnya, kenyataan tidak pernah semanis itu. Boro-boro cuan, yang ada investasinya buntung karena kurangnya edukasi. Tergoda dengan <em>easy money</em>, yang ada ia justru tidak bisa mengembalikan hutang tersebut.</p>



<p>Apalagi, sekarang ada banyak sekali pilihan investasi yang terkesan <em>high risk high value</em>. Kalau mau cuan banyak, ya harus berani ambil risiko tinggi. Bahkan, banyak yang sengaja <em>ngompor-ngomporin </em>agar banyak orang terpikat, seperti yang dilakukan para <em>crazy rich </em>palsu itu.</p>



<p>Tidak hanya kripto, aplikasi <em>trading </em>pun sempat ramai karena banyak yang merasa tertipu. Bahkan yang lebih parah, ada yang menggunakan uang panas untuk judi <em>online </em>atau main slot. Sudah dosa, pakai uang hutang pula.</p>



<p>Kita bisa berkaca pada kasus <em>crash</em>-nya kripto Luna hingga menjadi tidak bernilai sama sekali. Seandainya kita menginvestasikan uang kita di sana dengan uang hutang lalu nilainya <em>drop </em>sedemikian rupa, bagaimana kita bisa mengembalikan hutang tersebut?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis sepakat bahwa investasi itu sangat penting untuk kehidupan kita. Daripada uangnya dibuat membeli sesuatu yang tidak terlalu penting (seperti <em><a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-saya-bagian-1/">board game</a></em>, uhuk), lebih baik diinvestasikan agar bisa &#8220;beranak-pinak&#8221; dan menambah aset kita.</p>



<p>Dengan berinvestasi, kita akan memiliki dana darurat jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Selain itu, investasi juga digunakan sebagai dana pensiun (untuk non-PNS tentunya) agar kita tidak memberatkan anak cucu kita kelak.</p>



<p>Namun, jangan sampai juga memaksakan diri untuk berinvestasi, bahkan sampai berhutang. Jika memang belum ada kemampuan untuk berinvestasi, coba untuk belajar mengelola keuangan lebih baik lagi atau belajar <em>skill </em>baru agar <em>value </em>kita bertambah.</p>



<p>Gunakanlah uang dingin untuk berinvestasi, yakni uang yang tidak berputar dan tidak digunakan untuk berbagai keperluan. Contoh, kita memiliki gaji 15 juta dengan kebutuhan bulanan 10 juta, maka 5 jutanya adalah uang dingin yang bisa digunakan untuk berinvestasi.</p>



<p>Semoga saja kasus pembunuhan karena kripto yang terjadi baru-baru ini bisa memberi kita pelajaran yang penting tentang berinvestasi. Selain jangan menggunakan uang panas, jangan suka pamer portofolio ke orang lain yang bisa bikin mereka iri!</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 25 Agustus 2023, terinspirasi setelah membaca berita tentang mahasiswa UI yang membunuh adik tingkat karena <em>Crypto</em></p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://m.imdb.com/title/tt0468569/mediaviewer/rm3929589505/">IMDb</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-berinvestasi-dengan-uang-panas/">Ketika Berinvestasi dengan Uang Panas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-berinvestasi-dengan-uang-panas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tabungan = Kebutuhan &#8211; Ego</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/tabungan-kebutuhan-ego/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/tabungan-kebutuhan-ego/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Jun 2023 14:38:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[belanja]]></category>
		<category><![CDATA[boros]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[tabungan]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6608</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis suka menonton konten-konten orang yang mengulas suatu isi buku, walaupun &#8220;efek sampingnya&#8221; adalah Penulis jadi ingin membeli buku tersebut. Beberapa YouTuber yang kerap membuat konten tersebut adalah Fellexandro Ruby dan Maudy Ayunda. Nah, ketika Maudy Ayunda membuat konten yang mengulas isi buku The Psychology of Money dari Morgan Housel, ada satu rumus yang menarik [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/tabungan-kebutuhan-ego/">Tabungan = Kebutuhan &#8211; Ego</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis suka menonton konten-konten orang yang mengulas suatu isi buku, walaupun &#8220;efek sampingnya&#8221; adalah Penulis jadi ingin membeli buku tersebut. Beberapa YouTuber yang kerap membuat konten tersebut adalah Fellexandro Ruby dan Maudy Ayunda.</p>



<p>Nah, ketika Maudy Ayunda membuat konten yang mengulas isi buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-psychology-of-money/">The Psychology of Money</a> </em>dari Morgan Housel, ada satu rumus yang menarik perhatian Penulis: <strong>tabungan = kebutuhan &#8211; ego</strong>.</p>



<p>Penulis merasa dirinya belakangan ini kerap kesulitan untuk mengendalikan arus pengeluaran keuangannya, terutama setelah <a href="https://whathefan.com/pengalaman/meninggalkan-jakarta-untuk-sementara/">meninggalkan Jakarta</a> dan kembali ke Malang. Menemukan rumus tersebut seolah mengingatkan Penulis untuk kembali &#8220;ke jalan yang benar&#8221;.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Tinggal di Rumah Jadi Lebih Boros?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6614" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Di Rumah Kok Jadi Lebih Boros? (<a href="https://www.pamelavcarmichael.com/5-reasons-high-income-earners-struggle-financially-and-how-you-can-change-that/">Living Success</a>)</figcaption></figure>



<p>Dulu Penulis kerap berkelakar kalau dirinya memiliki cita-cita &#8220;kerja di Malang, tapi gaji Jakarta&#8221;. Penulis tak menyangka kalau hal tersebut benar-benar terjadi karena sampai saat ini Penulis masih <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/agar-wfh-tetap-produktif/">bekerja secara WFH</a>, bahkan telah memasuki tahun keduanya.</p>



<p>Teman-teman Penulis pun sering berkata, &#8220;Enak dong, tabungannya jadi lebih banyak karena di rumah.&#8221; Memang secara logika, hal tersebut ada benarnya. Namun, terkadang dalam hidup hal ini tidak sesuai dengan logika yang ada di kepala kita.</p>



<p>Penulis justru merasa kalau selama di Malang, <strong>dirinya menjadi lebih boros</strong> dibandingkan waktu masih merantau di Jakarta. Faktor utamanya, menurut analisis Penulis, adalah karena <strong>adanya &#8220;rasa aman&#8221;</strong> yang membuat Penulis terlena.</p>



<p>Ketika merantau, Penulis harus pintar-pintar mengatur keuangannya. Jangan sampai gaji habis sebelum tanggal gajian, karena nanti mau makan apa kalau tidak ada uang. Adanya rasa was-was ini pun membuat Penulis berhasil hidup hemat, bahkan masih memiliki tabungan.</p>



<p>Nah, saat di rumah, perasaan was-was tersebut menjadi hilang. Minimal, uang makan dan <em>laundry </em>bisa berkurang. Akibatnya, uang yang biasanya digunakan untuk kebutuhan hidup beralih fungsi menjadi keinginan yang didasarkan oleh ego.</p>



<p>Seperti kalimat yang diucapkan oleh Maudy Ayunda di atas, <strong>tabungan Penulis menjadi lebih sedikit karena ego yang dimiliki menjadi semakin tinggi</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Memangnya Egonya Seperti Apa?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-2-1024x1024.jpg" alt="" class="wp-image-6613" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-2-1024x1024.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-2-300x300.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-2-150x150.jpg 150w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-2-768x768.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-2-80x80.jpg 80w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Salah Satu Ego Terbesar</figcaption></figure>



<p>Tentu dengan tinggal di rumah, pengeluaran yang Penulis keluarkan tidak untuk dirinya sendiri. Seperti ketika membeli makan, Penulis tidak mungkin hanya beli untuk dirinya sendiri. Ini tentu tidak Penulis permasalahkan dan menganggapnya sebagai kebutuhan.</p>



<p>Sebagaimana pepatah <em>boys always be boys</em>, Penulis pun merasa dirinya seperti itu. Ketika sudah memiliki gaji sendiri, tentu <strong>Penulis ingin membeli barang-barang yang dulunya tidak mampu dibeli karena belum punya uang</strong>, termasuk mainan.</p>



<p>Oleh karena itu sewaktu di Jakarta, Penulis membeli <em>action figure </em>Dragon Ball<em> </em>dan <em>model kit </em>Gundam. Tidak banyak, Penulis hanya memiliki <em>action figure </em>Goku dan Vegeta, serta dua <em>model kit </em>Gundam dengan tingkat HG yang relatif masih sangat terjangkau.</p>



<p>Nah, sewaktu tinggal di Malang, jumlah mainan tersebut bertambah secara signifikan. Sampai artikel ini ditulis (termasuk yang dibeli di Jakarta), Penulis telah memiliki sekitar 15 <em>action figure</em> dengan berbagai ukuran, 3 Funko Pop, dan 3 <em>model kit</em>. Bagi Penulis, ini cukup banyak.</p>



<p>Apalagi sewaktu di Malang, Penulis mulai punya hobi baru berupa <strong>koleksi <em>board game</em></strong>. Diawali dengan membeli <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-1-monopoly/">Monopoly</a>, hingga kini Penulis sudah memiliki 22 <em>board game </em>hanya dalam waktu dua tahun. Jujur saja, hobi ini cukup menguras dompet.</p>



<p>Bagi Penulis, inilah ego tertinggi dari dirinya yang menyebabkan jumlah uang yang ditabung setiap bulannya jadi berkurang. Meskipun memberikan perasaan bahagia dengan memilikinya, tak jarang penyesalan muncul karena merasa telah buang-buang uang.</p>



<p>Terkadang, Penulis berandai-andai seandainya saja uang yang digunakan untuk membeli semua barang tersebut dialihkan untuk berinvestasi saja, mungkin lebih berfaedah. Namun, nasi sudah menjadi bubur, yang lebih penting adalah bagaimana ke depannya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengurangi Ego, Menambah Tabungan</h2>



<p>Memang, setiap bulannya Penulis selalu menyisihkan sebagian untuk ditabung atau diinvestasikan. Hanya saja, Penulis merasa masih bisa mengalokasikan gaji bulanannya lebih banyak lagi dari yang sudah-sudah.</p>



<p>Dengan menyadari konsep tabungan = kebutuhan &#8211; ego, tentu apa yang harus Penulis lakukan ke depannya adalah <strong>mengurangi egonya</strong>. Rasanya selama dua tahun terakhir ini, Penulis terlalu memanjakan egonya dengan berbagai dalih seperti <em>self reward</em>.</p>



<p>Apalagi, <a href="https://whathefan.com/pengalaman/tur-kamar-saya-sisi-selatan-dan-barat/">kamar Penulis</a> juga telah penuh dengan berbagai barang tersebut, sehingga hampir tidak tersisa ruang kosong. Perlu diingat, semenjak zaman kuliah Penulis gemar membeli buku, sehingga di kamarnya pun ada ratusan buku yang membutuhkan ruang penyimpanan.</p>



<p>Tentu sesekali membeli barang yang diinginkan (alias menuruti ego) tidak ada salahnya, yang salah adalah ketika dilakukan secara berlebihan, seperti yang telah Penulis lakukan. Semoga saja Penulis bisa mengontrol egonya lebih baik lagi, demi tabungan yang lebih gemuk.f</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 20 Juni 2023, terinspirasi setelah mendengar kalimat tersebut dari Maudy Ayunda</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://unsplash.com/@igalness">Igal Ness via Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/tabungan-kebutuhan-ego/">Tabungan = Kebutuhan &#8211; Ego</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/tabungan-kebutuhan-ego/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca The Psychology of Money</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-psychology-of-money/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-psychology-of-money/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Jun 2023 15:00:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[kekayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Morgan Housel]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[self improvement]]></category>
		<category><![CDATA[The Psychology of Money]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6569</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis menyadari bahwa dirinya termasuk telat dalam menyadari pentingnya mengelola uang dengan baik dan melakukan investasi. Untuk itu, beberapa waktu terakhir ini Penulis banyak membaca atau menonton video seputar keuangan. Nah, salah satu buku keuangan yang sering disebut adalah The Psychology of Money yang ditulis oleh Morgan Housel. Beberapa YouTuber yang Penulis sukai pun telah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-psychology-of-money/">[REVIEW] Setelah Membaca The Psychology of Money</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis menyadari bahwa dirinya termasuk telat dalam menyadari pentingnya mengelola uang dengan baik dan melakukan investasi. Untuk itu, beberapa waktu terakhir ini Penulis banyak membaca atau menonton video seputar keuangan.</p>



<p>Nah, salah satu buku keuangan yang sering disebut adalah <em><strong>The Psychology of Money </strong></em>yang ditulis oleh Morgan Housel. Beberapa YouTuber yang Penulis sukai pun telah mengulas buku ini, seperti Fellexandro Ruby dan Maudy Ayunda.</p>



<p>Meskipun sudah mengetahui garis besar buku tersebut melalui mereka, Penulis memutuskan untuk tetap membeli dan membaca sendiri buku ini. Pada tulisan kali ini, Penulis akan mencoba membagikan ulasannya mengenai buku ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/pexels-photo-697243-300x200.jpeg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/pexels-photo-697243-300x200.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/pexels-photo-697243-768x512.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/pexels-photo-697243-1024x683.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/pexels-photo-697243-356x237.jpeg 356w " alt="Menggadaikan Persahabatan Demi Cinta" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/rasa/menggadaikan-persahabatan-demi-cinta/">Menggadaikan Persahabatan Demi Cinta</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>The Psychology of Money</em></li>



<li>Penulis: Morgan Housel</li>



<li>Penerbit: Penerbit BACA</li>



<li>Cetakan: Ke-35</li>



<li>Tanggal Terbit: Agustus 2022</li>



<li>Tebal: 238 halaman</li>



<li>ISBN: 9786026486578</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Sesuai dengan judulnya,<em> The Psychology of Money </em>mengajak kita untuk lebih memahami bagaimana psikologi dari sebuah uang melalui cerita-cerita pendek yang ia bagi menjadi 20 bab, dengan memberikan berbagai perspektif yang mungkin selama ini terlewat. </p>



<p>Menariknya, setiap akhir bab seolah dibuat semacam <em>teaser </em>untuk bab selanjutnya, sehingga pembaca buku ini pun akan terus merasa penasaran untuk membacanya. Penulis akui kalau trik ini cukup ampuh dan keren.</p>



<p>Setiap babnya akan membahas hal yang berbeda, dengan berbagai contoh dari kehidupan nyata. Yang paling mudah diingat adalah<strong> bagaimana &#8220;beruntungnya&#8221; seorang <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/bill-gates-dan-sumpah-pemuda/">Bill Gates</a> </strong>hingga bisa menjadi orang terkaya di dunia melalui perusahaan yang ia dirikan, Microsoft.</p>



<p>Singkat cerita, salah satu faktor keberutungan yang dimiliki oleh Gates adalah bagaimana ia bisa bersekolah di salah satu sekolah yang memiliki fasilitas komputer dengan probabilitas yang sangat kecil. Ini salah satu hal yang harus kita pahami dari uang.</p>



<p>Banyak hal menarik lainnya yang Penulis temukan di buku ini, seperti bagaimana <strong>kekayaan itu pada dasarnya harus bersifat <em>compound </em></strong>atau bertahap. Kekayaan yang instan, biasanya akan hilang dalam waktu yang instan juga.</p>



<p>Tidak percaya? Coba sebutkan ada berapa banyak orang yang menang lotre mendadak, lantas dapat mempertahankan kekayaan tersebut? Kebanyakan, akan terdengar cerita kalau uang mereka ludes dalam waktu singkat dan mereka kembali ke titik awal lagi.</p>



<p>Masih ada banyak lagi hal menarik seputar uang yang dibahas oleh buku ini. Dengan gaya bahasa yang ringan dan dibalut dengan cerita menarik, rasanya semua kalangan akan mampu mendapatkan <em>insight </em>yang berguna untuk kehidupannya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The Psychology of Money</h2>



<p>Meskipun bisa dibilang inspiratif, Penulis merasa kalau <strong>buku ini tidak begitu aplikatif</strong>. Setelah menyelesaikannya, Penulis merasa belum mendapatkan jawaban yang memuaskan mengenai bagaimana memahami uang agar kita bisa mengendalikannya dengan lebih baik.</p>



<p>Memang, buku ini tidak jualan &#8220;5 Cara Menjadi Kaya&#8221;, sehingga kurang ada tips yang aplikatif seperti bagaimana melakukan investasi yang baik atau agar menabung bisa menjadi lebih efektif. Kita hanya akan dipaparkan cara memperlakukan uang dalam hidup.</p>



<p>Walaupun begitu, masih ada beberapa poin aplikatif di buku ini, seperti bagaimana <strong>pentingnya untuk melakukan diversivikasi investasi</strong> karena kita harus selalu menyiapkan <em>room for error</em>. </p>



<p>Selain itu, Penulis juga sadar kalau <em>skill </em>mendapatkan uang dan <em>skill </em>mempertahankan uang itu berbeda. Penulis sendiri mengalami ketika memegang uang, hasrat untuk membelanjakannya begitu tinggi, terutama untuk barang-barang yang konsumtif.</p>



<p>Seperti kata <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/">Maudy Ayunda</a>, tabungan adalah <strong>pengeluaran kebutuhan dikurang ego kita</strong>. Semakin tinggi ego kita, semakin sedikit pula tabungan yang akan kita miliki. Untuk itu, dibutuhkan konsistensi untuk menabung, termasuk dalam berinvestasi.</p>



<p>Yang jelas, kita juga harus memahami kalau <strong>uang itu penting, tapi sebagai instrumen</strong>, bukan tujuan. Jadikan uang hanya sebagai alat untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk kita, bukan menimbulkan perasaan kalau uanglah yang membuat kita baik.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 15 Juni 2023, terinspirasi setelah membaca buku <em>The Psychology of Money </em>karya Morgan Housel</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-psychology-of-money/">[REVIEW] Setelah Membaca The Psychology of Money</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-psychology-of-money/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kehidupan Fana Palsu para Crazy Rich</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Apr 2022 05:48:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[crazy rich]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[kaya]]></category>
		<category><![CDATA[kekayaan]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5632</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu terakhir ini, berita mengenai penangkapan para crazy rich di Indonesia sangat memenuhi media. Tuduhannya kurang lebih sama, dipidana atas kasus penipuan. Entah sudah berapa orang yang ditangkap. Dari yang Penulis baca, mereka ini adalah affiliator dari aplikasi atau platform trading dengan konsep binary option. Intinya, user diharuskan menebak apakah nilai suatu saham akan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich/">Kehidupan Fana Palsu para Crazy Rich</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa waktu terakhir ini, berita mengenai penangkapan para <em>crazy rich </em>di Indonesia sangat memenuhi media. Tuduhannya kurang lebih sama, dipidana atas kasus penipuan. Entah sudah berapa orang yang ditangkap.</p>



<p>Dari yang Penulis baca, mereka ini adalah <em>affiliator </em>dari aplikasi atau platform <em>trading</em> dengan konsep <em>binary option</em>. Intinya, <em>user</em> diharuskan menebak apakah nilai suatu saham<em> </em>akan naik atau turun. Kalau naik ya <em>cuan</em>, kalau turun ya <em>sayonara goodbye.</em></p>



<p>Fenomena yang tengah terjadi ini seolah menjadi pengingat bagi kita semua, kalau kekayaan secara instan itu adalah hal yang hampir mustahil terjadi, terutama kita yang biasa-biasa ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Iming-Iming Kaya dengan Instan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/03/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5648" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/03/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/03/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/03/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/03/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Contoh Crazy Rich yang Ditangkap (<a href="https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4882304/sosok-indra-kenz-crazy-rich-medan-yang-dituduh-menipu-bermodus-trading">Liputan 6</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebagai seorang <em>affiliator</em>, para <em>crazy rich </em>ini tampaknya diwajibkan untuk mengajak sebanyak mungkin orang untuk menggunakan platform yang berafiliasi dengan mereka. Mungkin mirip dengan sistem rekrutmen MLM.</p>



<p>Bagaimana cara mereka menarik perhatian para calon &#8220;korban&#8221;? Tentu saja dengan memamerkan kekayaan yang katanya berasal dari keuntungan menggunakan platform tertentu. Kekayaan instan dalam waktu cepat, siapa yang tidak tergiur?</p>



<p>Apalagi, sosok-sosok yang menjadi <em>crazy rich </em>ini digambarkan sosok muda tanpa latar belakang keluarga kaya. Kekayaan mereka seolah mengalahkan harta yang dimiliki oleh <em>crazy rich </em>asli yang namanya sudah terkenal di negara kita.</p>



<p>Oleh karena itu, jumlah kerugian yang diderita oleh para korban juga tidak main-main, bisa mencapai miliaran rupiah. Bahkan, tak sedikit yang rela menjual harta benda mereka agar punya modal untuk &#8220;bermain&#8221; di platform ini.</p>



<p>Begitu mudahnya kita tergoda untuk menjadi kaya secara cepat membuat para penipu ini memiliki &#8220;pasar&#8221; untuk membuat diri mereka semakin kaya. Bayangkan, memperkaya diri dengan memiskinkan orang lain. Betapa tercelanya cara tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tidak Ada yang Namanya Kaya Instan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/03/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5649" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/03/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/03/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/03/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/03/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Yuk Kerja Keras! (<a href="https://unsplash.com/@israelandrxde">Israel Andrade</a>)</figcaption></figure>



<p>Dengan adanya kasus ini, tentu kita berharap bisa memetik pelajaran berharga: <strong>Tidak ada yang namanya kaya instan</strong>. Kalau kita bukan anak konglomerat, kita harus menyadari kalau jalan untuk menjadi kaya akan berat dan tidak mudah.</p>



<p>Bahkan, beberapa kasus langka seperti yang dialami Ghozali Everyday pun diawali dengan konsistensinya mengunggah foto <em>selfie</em>-nya selama kurang lebih lima tahun. Pemenang lotre atau kaya dari judi jelas tidak Penulis anggap.</p>



<p>Kalau kita berasal dari masyarakat yang biasa-biasa saja tanpa <em>privilege </em>lebih, jangan mudah tergiur dengan iming-iming kaya instan yang belum tentu benar. Lebih baik, kita investasikan waktu, uang, dan tenaga kita untuk mengembangkan <em>skill</em>, <em>knowledge</em>, serta relasi.</p>



<p>Jika ingin, ada banyak sarana investasi lain yang lebih jelas. Emas, tanah, saham, hingga reksadana. Jika punya dana berlebih, tak ada salahnya mencoba instrumen-instrumen tersebut dengan syarat kita harus mendalaminya terlebih dulu.</p>



<p>Terkadang, ada banyak orang yang ingin belajar investasi hanya karena ikut-ikutan atau karena FOMO (<em>Fear Out Missing Out</em>). Akibatnya, keputusan investasi yang kita ambil jadi kurang tepat dan terkesan terburu-buru.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Hidup dengan <em>financial freedom</em> memang seolah menjadi mimpi banyak orang. Namun, kadang kita lupa untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit.</p>



<p>Mungkin ada yang berpendapat kalau kita tidak bisa kaya <a href="https://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/">hanya dengan bermodalkan kerja keras</a>. Banyak faktor di sekeliling kita yang akan menghambat kemajuan kita. Itu Penulis akui ada benarnya.</p>



<p>Hanya saja, jika memang tidak memiliki <em>previlege </em>apa-apa lantas memilih bermalas-malasan dan berusaha kaya dengan cara yang tidak benar, menurut Penulis juga tidak tepat. Tidak ada yang salah dengan bekerja keras, <em>Gusti mboten sare</em>.</p>



<p>Memang hasilnya mungkin tidak akan sama dengan mereka-mereka yang kaya dengan cara tidak halal. Namun, percayalah harta yang didapatkan dengan cara baik akan lebih berkah dan membuat kita tenang.</p>



<p>Semoga saja kita semua bisa mengambil hikmah dari tertangkapnya para <em>crazy rich </em>ini. Semoga kita sadar, hampir tidak ada jalan pintas untuk bisa menjadi kaya dalam waktu singkat tanpa berusaha.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 9 April 2022, terinspirasi setelah banyaknya para <em>crazy rich </em>yang ditangkap oleh pihak kepolisian</p>



<p>Foto: <a href="https://www.bbc.com/reel/video/p07vts5j/the-surprising-psychology-behind-being-rich">BBC</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich/">Kehidupan Fana Palsu para Crazy Rich</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/kehidupan-fana-palsu-para-crazy-rich/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Polemik European Super League (ESL)</title>
		<link>https://whathefan.com/olahraga/polemik-european-super-league-esl/</link>
					<comments>https://whathefan.com/olahraga/polemik-european-super-league-esl/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2021 14:02:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[ESL]]></category>
		<category><![CDATA[fans]]></category>
		<category><![CDATA[FIFA]]></category>
		<category><![CDATA[liga]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[sepakbola]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<category><![CDATA[UEFA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4907</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bagi penggemar sepakbola seperti Penulis, beberapa hari terakhir merupakan hari yang gila. Bagaimana tidak, adanya wacana European Super League (ESL) menggegerkan publik dan menimbulkan polemik yang pelik. ESL resmi ketuk palu setelah 12 klub besar di Eropa menyepakatinya. Mereka adalah: Manchester United Manchester City Liverpool Chelsea Arsenal Tottenham Hotspurs Real Madrid Barcelona Atletico Madrid Inter [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/olahraga/polemik-european-super-league-esl/">Polemik European Super League (ESL)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Bagi penggemar sepakbola seperti Penulis, beberapa hari terakhir merupakan hari yang gila. Bagaimana tidak, adanya wacana <strong>European Super League (ESL)</strong> menggegerkan publik dan menimbulkan polemik yang pelik.</p>



<p>ESL resmi ketuk palu setelah 12 klub besar di Eropa menyepakatinya. Mereka adalah:</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Manchester United</li><li>Manchester City</li><li>Liverpool</li><li>Chelsea</li><li>Arsenal</li><li>Tottenham Hotspurs</li><li>Real Madrid</li><li>Barcelona</li><li>Atletico Madrid</li><li>Inter Milan</li><li>AC Milan</li><li>Juventus</li></ul>



<p>Sebenarnya Bayern Munich, Borussia Dortmund, dan Paris St. Germany juga direncanakan turut serta. Hanya saja, mereka memutuskan untuk tidak ikut bagian dalam ajang pesaing Liga Champion tersebut.</p>



<p>Di sini Penulis tidak akan terlalu menjelaskan apa itu ESL dan bagaimana formatnya. Penulis fokus memberikan opininya sebagai penggemar sepakbola atas polemik yang terjadi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Berawal dari Permasalahan Ekonomi</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4909" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Inti Masalahnya: Duit (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.thinkingheads.com/en/global-trend/the-economics-of-football/">Thinking Heads</a>)</figcaption></figure>



<p>Bisa dibilang, <strong>pandemi Corona</strong> adalah penyebab utama dari masalah ini. Meski sudah diprediksi oleh Arsene Wenger 10 tahun yang lalu, kemunculan Corona membuat wacana yang terlihat <em>impossible </em>itu menjadi <em>possible</em>.</p>



<p>Klub-klub besar tersebut rata-rata <strong>mengalami kerugian yang cukup signifikan</strong>. Tidak hadirnya penonton di lapangan jelas memberikan dampak yang tidak sedikit. Belum lagi dari sektor lain seperti menurunnya penjualan <em>merchandise </em>dan lain-lain.</p>



<p>Neraca keuangan klub besar semakin timpang karena tingginya gaji pemain bintang yang harus dibayarkan.<a href="https://whathefan.com/intermeso/hiperinflasi-pada-sepakbola/"> Inflasi harga pemain yang makin tidak masuk akal</a> membuat klub juga kesulitan untuk membeli pemain baru.</p>



<p>Di tengah kekeringan pemasukan seperti itu, muncul sebuah oase bernama ESL. Tidak tanggung-tanggung, kompetisi ini menjanjikan <strong>nominal hadiah yang berkali-kali lipat</strong> dibandingkan hadiah juara Liga Champion yang jumlahnya tidak bisa digunakan untuk membeli Lord Martin Braithwaite.</p>



<p>Belum lagi pemasukan dari hak siar. Penggemar jelas tergoda dengan konsep pertandingan <em>big match </em>setiap minggu tanpa perlu menunggu babak semifinal seperti di Liga Champion. Manchester United vs Barcelona jelas lebih menarik daripada Manchester United vs Burnley.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4910" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Florentino Perez (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.football-espana.net/2021/04/19/florentino-perez-speaks-out-on-real-madrids-european-super-league-move">Football Espana</a>)</figcaption></figure>



<p>Secara komersil, ESL memang sangat menggiurkan. Potensi uang yang masuk sangat besar, jauh melebih apa yang bisa diberikan oleh kompetisi di bawah naungan UEFA. </p>



<p>Klub elit yang tengah melempem seperti Arsenal dan AC Milan bisa bersantai. Tak masalah tidak masuk Liga Champion, mereka akan menjadi peserta tetap setiap tahun sehingga pemasukan pun akan terus mengalir tanpa perlu upaya lebih.</p>



<p>Mereka tidak berpikir, jika klub-klub besar tersebut bisa mendapatkan dana besar, bukankah ketimpangan antar klub akan semakin besar? Mereka bisa belanja sesuka hati, tidak seperti klub kecil yang harus memutar otak ketika membelanjakan uangnya.</p>



<p>Kehadiran ESL jelas mengusik zona nyaman yang dimiliki oleh UEFA. Mereka langsung mengecam dan mengeluarkan berbagai ancaman yang mengerikan, mulai dikeluarkan dari liga hingga pemain tidak memiliki hak untuk membela tim nasional mereka.</p>



<p>Gertakan tersebut hanya ditertawakan oleh Florentino Perez dan kawan-kawan. Mereka punya <em>power bargaining </em>yang kuat. Coba saja adakan liga atau turnamen tanpa mereka, niscaya akan sepi penonton karena tidak adanya pemain bintang yang menjadi idola banyak orang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tanggapan Para Fans (dan Penulis)</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4912" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Para Fans Tersakiti (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.football365.com/news/wanted-the-next-generation-of-football-fans">Football365</a>)</figcaption></figure>



<p>Ketika memantau kolom komentar akun-akun sepakbola di Instagram, <strong>mayoritas sangat menentang kehadiran ESL</strong>. Mereka merasa kalau pemilik klub sangat tamak dan hanya berusaha mengumpulkan pundi-pundi uang sebanyak mungkin.</p>



<p>Ada beberapa yang mendukung ESL karena membayangkan adanya <em>big match </em>setiap pekan. Selain itu, UEFA dan FIFA sendiri terkenal sebagai organisasi yang korup dan cukup memonopoli pertandingan sepakbola Eropa.</p>



<p>Beberapa pemain sepakbola sudah mulai mengeluarkan suara pertentangannya terhadap ESL, walaupun nampaknya belum ada suara dari pemain yang bermain di dua belas klub penggagas ESL. Mungkin, mereka masih takut dipecat dan kehilangan pemasukan.</p>



<p>Penulis sendiri tidak menyetujui kehadiran ESL karena akan <strong>merusak tradisi sepakbola</strong> yang sudah terbentuk selama puluhan tahun. Pertandingan seperti Real Madrid vs Juventus menjadi seru karena hanya terjadi beberapa kali dalam setahun, bukan setiap minggu.</p>



<p>Selain itu, Liga Champion menjadi ajang di mana klub kecil bisa berhadapan dengan klub besar. Bisa saja pemain di klub kecil tersebut mengidolakan bintang yang bermain di klub besar. Liga Champion bisa mewujudkan impian bertanding melawan idola mereka.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-5-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4913" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-5-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-5-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-5-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Kejutan Liga Champion (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://twitter.com/fcporto/status/606507199133831168">Twitter</a>)</figcaption></figure>



<p>Dengan format tertutup yang dimiliki ESL, tidak akan ada lagi kejutan seperti FC Porto yang berhasil menjuarai Liga Champion edisi 2004, Ajax Amsterdam yang mengalahkan banyak klub besar sebelum takluk di tangan Tottenham Hotspurs, dan lain sebagainya.</p>



<p>Para pemilik klub besar ini kok kesannya tidak ingin bertemu dengan tim-tim kecil. Hal ini dibuktikan dari ucapan presiden klub Juventus, Andrea Agnelli, yang menyepelekan keikutsertaan Atalanta di Liga Champion.</p>



<p>Seolah yang ada di pikiran mereka hanya bagaimana meraup keuntungan sebesar-besarnya. Melawan tim besar otomatis akan menghasilkan uang lebih banyak dibandingkan ketika mereka melawan klub kecil.</p>



<p>Lebih dari itu, <strong>korban sebenarnya dari polemik ini adalah para fans.</strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">When the Rich Wage War It&#8217;s the Poor Who Die</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4911" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/polemik-european-super-league-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Football is for the Fans (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.expressandstar.com/news/uk-news/2021/04/20/boris-johnson-to-host-meeting-with-football-bosses-and-fans-over-super-league/">Express &amp; Star</a>)</figcaption></figure>



<p><em>Quote </em>yang Penulis jadikan <em>header </em>di atas merupakan penggalan lirik dari lagu Linkin Park yang berjudul <em>Hands Held High</em>, sebelum mengetahui kalau kalimat ini ternyata diucapkan oleh filsuf Jean-Paul Sartre.</p>



<p>Di mana-mana ketika terjadi perang antara orang yang memiliki kekuasaan (dan harta)<strong>, yang menjadi korban sesungguhnya adalah masyarakat sipil</strong> yang tak berdosa. Ternyata, kalimat ini juga berlaku pada polemik ESL.</p>



<p>Para pemilik klub besar dan UEFA sedang adu kekuatan. Mereka sama-sama merasa punya <em>power </em>tanpa peduli kalau para fans sepakbola di dunia sedang cemas tak karuan. Mereka khawatir, sepakbola akan menuju kematiannya. </p>



<p>Padahal jika menilik sejarah, sepakbola dipopulerkan oleh orang-orang miskin yang butuh hiburan. Manchester United misalnya, didirikan oleh para buruh Manchester. Sekarang, seolah-olah sepakbola telah dicuri oleh mereka yang berduit.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-style-large is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Created by the poor, stolen by the rich</p><cite>ANONIM</cite></blockquote>



<p>Jika para pemilik klub memang peduli terhadap fans, seharusnya mereka mau mendengarkan suara mereka. Sangat <em>bullshit </em>ketika Perez mengatakan ingin menyelamatkan sepakbola, itu hanya kata pemanis. </p>



<p>Mungkin sepakbola memang butuh diselamatkan. Mungkin UEFA dan FIFA memang sama-sama brengseknya. Akan tetapi, bukan dengan cara seperti ini menyelesaikan masalahnya. Jangan jadikan fans sebagai korban dari pertikaian antara pemilik kekuasaan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Seandainya ESL yang dijadwalkan akan dimulai pada bulan Agustus tahun ini benar-benar terlaksana, mungkin <strong>Penulis akan benar-benar berhenti menonton sepakbola</strong>. Biarlah mereka mengeruk kekayaan sampai mampus, Penulis tidak akan peduli lagi dengan sepakbola.</p>



<p>Penulis yakin banyak fans yang berpikiran sama. Mereka tidak ingin menjadi komoditas bagi para pemilik klub yang ingin menggembungkan rekening klub dan mungkin kantong mereka sendiri.</p>



<p>Ancaman UEFA juga bisa benar-benar terjadi. Kedua belas klub yang menyepakati ESL terancam dicoret dari liga, sehingga kemungkinan kita akan melihat persaingan juara Premier League antara Everton, West Ham, atau Leicester City saja.</p>



<p>Sangat disayangkan olahraga favorit sejuta umat dikuasai oleh segelintir orang yang lebih mengedepankan bisnis dibandingkan keinginan fans. Pembicaraan tentang ESL juga hanya dilakukan antar pemilik klub tanpa melibatkan pemain dan pihak lain. </p>



<p>Walaupun begitu, Penulis masih berharap kalau pada akhirnya penggagas ESL dan UEFA menemukan titik terang dari polemik ini. Entah bagaimana caranya, yang jelas Penulis tidak ingin para pecinta sepakbola menjadi korban dari peperangan ini.</p>



<p></p>



<p></p>



<p>Lawang, 20 April 2021, terinspirasi setelah membaca berbagai berita seputar ESL</p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://twitter.com/Sharizardx/status/1384077105500020742/photo/1">Twitter</a></p>



<p>Sumber Artikel: <a href="https://twitter.com/theflankerID/status/1384008508203433987">The Flanker di Twitter</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/olahraga/polemik-european-super-league-esl/">Polemik European Super League (ESL)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/olahraga/polemik-european-super-league-esl/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Keuangan Pada Why the Rich are Getting Richer</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/pendidikan-keuangan-pada-why-the-rich-are-getting-richer/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Oct 2019 18:31:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika Serikat]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Robert T. Kiyosaki]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2809</guid>

					<description><![CDATA[<p>Buku Why the Rich are Getting Richer adalah buku kedua karya Robert T. Kiyosaki yang penulis baca. Yang pertama adalah Rich Dad Poor Dad yang penulis baca waktu awal kuliah. Alasan penulis membeli buku ini adalah karena ingin mengetahui bagaimana cara mengelola uang yang lebih baik. Akan tetapi, ternyata penulis mendapatkan hal lain yang juga penting untuk hidup penulis. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/pendidikan-keuangan-pada-why-the-rich-are-getting-richer/">Pendidikan Keuangan Pada Why the Rich are Getting Richer</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Buku <em>Why the Rich are Getting Richer </em>adalah buku kedua karya <strong>Robert T. Kiyosaki </strong>yang penulis baca. Yang pertama adalah <em>Rich Dad Poor Dad </em>yang penulis baca waktu awal kuliah.</p>
<p>Alasan penulis membeli buku ini adalah karena ingin mengetahui bagaimana cara mengelola uang yang lebih baik. Akan tetapi, ternyata penulis mendapatkan hal lain yang juga penting untuk hidup penulis.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Sewaktu membaca bagian awal dari buku ini, penulis sedikit terkejut karena Kiyosaki ternyata seorang pendukung Donald Trump ketika pemilihan presiden Amerika Serikat pada 2016.</p>
<p>Alasannya, ia menganggap Trump sebagai sosok calon presiden yang akan memberikan kail dan umpan kepada rakyatnya. Sebaliknya, Hillary Clinton dan Barack Obama dianggap sebagai orang yang akan memberikan ikan begitu saja kepada rakyatnya.</p>
<p>Pilihan politiknya ini sempat membuat penulis merasa <em>ilfeel </em>terhadap Kiyosaki. Namun pada akhirnya, penulis memilih untuk mengabaikannya karena semua orang punya hak untuk memilih siapa. Yang penting, penulis bisa mendapatkan ilmu dari bukunya.</p>
<p>Kiyosaki terkenal karena berani mendobrak pandangan umum yang populer di masyarakat. Di buku ini, ia dengan lantang bahwa seorang <strong>penabung adalah pecundang</strong>.</p>
<p>Baginya, kita tidak akan bisa menjadi orang kaya hanya dengan menabung di bank. Harus ada hal lain yang dilakukan agar pundi-pundi uang kita bertambah.</p>
<p>Sebelum memberi tahu caranya, Kiyosaki menunjukkan bahwa ada dua hal yang membuat orang kaya bertambah kaya di bagian satu. Hal tersebut adalah <strong>hutang </strong>dan <strong>pajak</strong>.</p>
<p>Menurutnya, orang kaya mampu mengelola hutang untuk keperluan investasi secara cerdas. Orang kaya tidak menggunakan hutang untuk memenuhui kebutuhan gaya hidupnya.</p>
<p>Yang lebih mengejutkan, orang kaya harus bisa membayar pajak sedikit mungkin dengan cara legal. Penulis, dan mungkin sebagian besar orang, selama ini menganggap orang kaya lah yang harusnya membayar pajak paling besar. <em>Mindblowing</em>!</p>
<p>Masih di bagian ini, Kiyosaki memberi tahu sejarah singkat perbankan Amerika Serikat yang sangat menarik. Penulis jadi tahu bagaimana perekonomian dunia bisa terguncang akibat keputusan-keputusan yang diambil oleh pemerintah sana.</p>
<p>Pada bagian selanjutnya, dijelaskan tentang apa pentingnya pendidikan keuangan untuk kita. Apalagi, kita sama sekali tidak mendapatkannya ketika di bangku sekolah.</p>
<p>Bagian ketiga beriskan bab-bab teknis tentang pendidikan keuangan. Salah satu yang paling sering diulas adalah tentang <strong>kuadran </strong><em><strong>cashflow</strong>, </em>terdiri dari E (<em>Employed</em>), S (<em>Self-Employed</em>), B (<em>Business Owner</em>), dan I (<em>Investor</em>).</p>
<p>Para orang kaya tentu saja berada di kuadran I, yang sudah menerima pendapatan pasif dan pendapatan siluman. Apa perbedaan di antara kedua hal tersebut, bisa ditemukan pada buku ini.</p>
<p>Setelah itu, bagian terakhir Kiyosaki memberikan contoh penerapan semua yang sudah ia jabarkan pada buku ini, ketika ia membeli sebuah mobil <em>Porsche </em>dan berhasil membuatnya bertambah kaya.</p>
<h3>Pendapat Penulis Tentang Buku Ini</h3>
<p>Ekonomi merupakan salah satu pelajaran yang tidak penulis sukai ketika duduk di bangku SMA. Oleh karena itu, banyak sekali istilah ekonomi yang gagal penulis pahami dari buku ini. Padahal, buku ini sudah disuguhkan dengan bahasa yang renyah dan mudah dicerna.</p>
<p>Selain itu teori-teori yang dikemukakan pada buku ini, terutama untuk penulis sendiri, sangat sulit untuk dipraktekkan di dunia nyata. Ketika selesai membaca buku ini, penulis tetap tidak tahu apa yang harus dilakukan agar bertambah kaya,</p>
<p>Meskipun buku ini bukan tipe buku yang bisa dipahami dengan sekali baca, penulis tetap menikmatinya. Penulis mendapatkan banyak pelajaran dan wawasan baru dari dunia keuangan.</p>
<p>Di buku ini Kiyosaki juga menyisipkan pengalaman-pengalaman pribadinya dan banyak mengambil rujukan dari bukunya yang paling fenomenal, <em>Rich Dad Poor Dad.</em></p>
<p>Buku ini penulis rekomendasikan bagi pembaca yang merasa memiliki jiwa bisnis dan <em>enterpreneur </em>yang tinggi. Bagi yang masih awam dengan dunia ekonomi seperti penulis, kurang direkomendasikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nilainya: <strong>3.8/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 6 Oktober 2019, terinspirasi setelah membaca buku <em>Why the Rich are Getting Richer </em>karya Robert T. Kiyosaki</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/pendidikan-keuangan-pada-why-the-rich-are-getting-richer/">Pendidikan Keuangan Pada Why the Rich are Getting Richer</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Minta Gaji 8 Juta</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/minta-gaji-8-juta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Jul 2019 16:23:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[8 juta]]></category>
		<category><![CDATA[gaji]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<category><![CDATA[viral]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2579</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir, media sosial riuh oleh sebuah story di Instagram mengenai mahasiswa fresh graduate yang mengeluh karena hanya ditawari gaji 8 juta rupiah oleh salah satu perusahaan lokal. Alasan dikeluarkannya keluhan tersebut adalah ia merasa sebagai lulusan salah satu kampus terbesar di negara ini, ia layak mendapatkan gaji yang lebih tinggi, meskipun ia baru saja lulus. Akunnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/minta-gaji-8-juta/">Minta Gaji 8 Juta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir, media sosial riuh oleh sebuah <em>story</em> di Instagram mengenai mahasiswa <em>fresh graduate </em>yang mengeluh karena <em>hanya </em>ditawari gaji 8 juta rupiah oleh salah satu perusahaan lokal.</p>
<p>Alasan dikeluarkannya keluhan tersebut adalah ia merasa sebagai lulusan salah satu kampus terbesar di negara ini, ia layak mendapatkan gaji yang lebih tinggi, meskipun ia baru saja lulus.</p>
<p>Akunnya sendiri sampai saat ini belum diketahui milik siapa. Potongan <em>story </em>tersebut hanya diunggah oleh seseorang dengan menyensor namanya. Mungkin, yang bersangkutan ingin melindungi pemilik akun dari serangan netizen.</p>
<p>Bahkan, teman penulis di kantor sampai berteori bahwa sebenarnya tidak ada pemilik akun Instagram tersebut. Postingan tersebut dibuat sendiri oleh yang menyebarkan agar viral. Mungkinkah? Entahlah, bisa jadi.</p>
<h3>Reaksi Para Netizen</h3>
<p>Netizen pun cepat bereaksi atas kejadian ini. Ada yang marah, ada yang emosi, ada yang langsung membandingkan dengan gaji pertamanya, ada yang buat <em>thread</em>, macam-macam.</p>
<p>Reaksi seperti ini sudah penulis duga sebelumnya, sama seperti kasus <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/">Bibit Unggul</a> yang sempat heboh beberapa waktu lalu. Bedanya, waktu itu yang bersangkutan diketahui identitasnya.</p>
<p>Melihat kesombongan seseorang tentu membuat kita jengah dan jengkel. Pertanyaannya, apakah kita tidak pernah melakukan kesalahan yang sama?</p>
<p>Seperti yang pernah penulis tuliskan pada tulisan <a href="https://whathefan.com/renungan/dosa-terbesar-seorang-penjahat/">Dosa Terbesar Seorang Penjahat</a>, kita cenderung merasa &#8220;suci&#8221; ketika melihat orang lain berbuat buruk.</p>
<p>Bahasa yang digunakan oleh orang tersebut memang terkesan angkuh, sombong, congkak, dan lain sebagainya. Akan tetapi, itu tidak berarti kita boleh <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/">merasa lebih baik</a> darinya. Mungkin saja kita juga pernah sombong, hanya saja tidak sampai viral.</p>
<h3>Gaji Pertama</h3>
<p>Jika ingin berbaik sangka, mungkin yang bersangkutan merasa dirinya memiliki kemampuan mumpuni yang bisa diberikan kepada perusahaan. Tawaran gaji 8 juta dianggap merendahkan dirinya sehingga terbitlah <em>story </em>tersebut.</p>
<p>Beberapa <em>netizen </em>berkata bahwa kata-kata di <em>story </em>tersebut menunjukkan yang bersangkutan tidak bisa bersyukur. Lantas, beberapa <em>netizen </em>memberitahu nominal gaji pertama mereka sembari mensyukurinya.</p>
<p>Ketika mendapatkan kerja kantoran pertama, nominal yang ditawarkan penulis jauh di bawah angka 8 juta. Penulis sadar diri sebagai orang yang tidak terlalu berpengalaman.</p>
<p>Penulis selalu ingat petuah dari ayah, yang mengatakan jangan bekerja demi uang. Uang memang penting, tapi bukan menjadi tujuan. Uang hanyalah sarana dalam <a href="https://whathefan.com/renungan/perlukah-hidup-memiliki-tujuan/">meraih tujuan yang sebenarnya</a>.</p>
<p>Oleh karena itu, sewaktu menuliskan permintaan gaji, penulis menuliskano nominal yang tidak seberapa. Setidaknya, di atas Upah Minimum Kerja (UMR). Ternyata, penulis malah ditawari sedikit lebih tinggi, ya alhamdulillah.</p>
<p>Petuah lain yang diberikan ayah penulis adalah bekerja dengan niat <em>lillahi ta&#8217;ala</em>, berikan yang terbaik, berikan nilai tambah, nanti jumlah gaji akan mengikuti. Penulis berusaha betul melaksanakan nasihat tersebut, sehingga insyaallah jarang memusingkan masalah gaji.</p>
<p>Tapi kalau diberi kenaikan gaji, ya diterima dan mengucap syukur <em>alhamdulillah</em>.</p>
<h3>Gaya Hidup yang Melebihi Gaji</h3>
<p>Salah satu komentar yang menarik perhatian penulis adalah mengenai gaya hidup. Ada <em>netizen </em>yang berkomentar gaya hidup orang yang membuat <em>story </em>tersebut cukup <em>hedon</em>, sehingga gaji 8 juta tidak akan bisa memenuhi kehidupannya.</p>
<p>Bahkan <strong>Sujiwo Tedjo</strong> menuliskan cuitan tentang <em>gaji sebesar apapun enggak akan pernah cukup karena akan melahirkan kebutuhan</em> <em>baru</em>. Salah satunya ya gaya hidup ini.</p>
<p>Penulis merasakan betul tentang gaya hidup ini. Jika kita tidak bisa mengendalikan hasrat kita dan loyal menghamburkan uang, gaji berapa pun tak akan cukup. Percuma gaji naik jika gaya hidup juga ikut naik.</p>
<p>Godaan di ibukota terbilang cukup besar. Mau beli apa saja bisa tersedia dengan mudah. Malas keluar, bisa beli lewat daring. Sebagai Apalagi, gedung kantor penulis jadi satu dengan mal.</p>
<p>Penulis tidak merasa telah pandai mengendalikan gaya hidup. Justru dengan tulisan ini, penulis berharap ke depannya bisa lebih bijak dalam mengelola gaji yang diterima setiap bulan.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Setiap ada kejadian yang viral, penulis berusaha memahaminya hanya dari satu sudut pandang. Penulis berusaha untuk melihatnya dari banyak sisi dengan harapan bisa menemukan pelajaran yang bisa dipetik.</p>
<p>Begitu pula dari kasus gaji 8 juta ini. Ada begitu banyak pelajaran yang bisa dipetik, sehingga sayang jika hanya dijadikan sebagai wadah untuk mengeluarkan kata-kata hujatan yang belum tentu bermanfaat.</p>
<p>Semoga saja dengan kejadian ini, kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi, yang lebih mudah bersyukur daripada mengeluh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 Juli 2019, terinspirasi dengan ramainya kasus gaji 8 juta</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@alexandermils">Alexander Mils</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/minta-gaji-8-juta/">Minta Gaji 8 Juta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Seandainya Mendapatkan 80 Juta</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/seandainya-mendapatkan-80-juta/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/seandainya-mendapatkan-80-juta/?noamp=mobile#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Jan 2019 23:00:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[aksi]]></category>
		<category><![CDATA[andai]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[impian]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[tindakan]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2014</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan membangun perpustakaan pribadi yang tak kalah lengkap dari koleksi bung Hatta yang jumlahnya mencapai 40 ribu buku itu. Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan memilih untuk menginvestasikannya sebagai tabunganku di masa depan. Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan memberangkatkan kedua orangtuaku umroh atau bahkan haji dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/seandainya-mendapatkan-80-juta/">Seandainya Mendapatkan 80 Juta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan membangun perpustakaan pribadi yang tak kalah lengkap dari koleksi bung Hatta yang jumlahnya mencapai 40 ribu <a href="http://whathefan.com/category/buku/">buku</a> itu.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan memilih untuk menginvestasikannya sebagai tabunganku di masa depan.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan memberangkatkan kedua orangtuaku umroh atau bahkan haji dengan travel yang paling nyaman dan terpercaya.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan membelikan adik-adikku barang-barang yang mereka inginkan selama ini, entah sepatu bola basket mahal maupun <em>jersey</em> <a href="http://whathefan.com/sosialpolitik/hiperinflasi-pada-sepakbola/">sepakbola</a> asli tim favorit mereka.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan menyumbangkannya kepada orang-orang fakir yang lebih membutuhkan dan anak-anak yatim piatu yang mendambakan kasih sayang,</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan membeli banyak aksesoris <a href="http://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/">wayang</a> yang selama ini selalu kuinginkan untuk dipajang di  dalam kamar.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan pergi liburan ke Jepang atau <a href="http://whathefan.com/pengalaman/terobsesi-oleh-inggris/">Inggris</a>, mengunjungi tempat-tempat yang selama ini hanya bisa kupandang melalui fotonya.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan membeli <a href="http://whathefan.com/tips-motivasi/filosofi-merakit-gundam/">Gundam</a>, <em>action figure</em>, monopoli, dan mainan-mainan lainnya yang telah lama ingin aku jadikan sebagai koleksi.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan membangun sebuah bangunan sederhana sebagai tempat <a href="http://whathefan.com/category/karang-taruna/">Karang Taruna</a> berkumpul, entah untuk rapat ataupun sekadar bermain.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan membeli berbagai gawai yang selama ini telah kuidam-idamkan.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan menggunakannya sebagai modal usaha yang selama ini telah berada di dalam angan-anganku.</p>
<p><strong>Akan tetapi&#8230;</strong></p>
<p>Seandainya aku berhenti berandai-andai dan mulai bekerja lebih cerdas, semua itu sangat mungkin digapai.</p>
<p>Seandainya aku berhenti berandai-andai dan mulai belajar lebih giat, semua itu sangat bisa untuk diraih walaupun bukan sekarang.</p>
<p>Seandainya aku berhenti berandai-andai dan mulai bertindak, semua itu bisa dikejar sebanding dengan usaha yang telah dikeluarkan.</p>
<p>Seandainya aku berhenti berandai-andai dan mulai menetapkan target-target untuk beberapa waktu ke depan, kakiku tidak akan melangkah menuju ketidakpastian.</p>
<p>Seandainya aku berhenti berandai-andai dan mulai meyakini bahwa impian yang telah tertulis di atas harus berhasil dicapai, maka aku harus berhenti bermalas-malasan dan mulai berjuang lebih baik, lebih keras, lebih cerdas lagi dari sekarang.</p>
<p>Tidak ada lagi berandai-andai, <strong>karena impian akan menjadi percuma apabila tidak diiringi aksi yang nyata untuk mewujudkannya.</strong></p>
<p><em>Stop wishing, start acting.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 7 Januari 2019, terinspirasi dari tarif salah satu artis yang tertangkap karena prostitusi online</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://batman.wikia.com/wiki/File:Joker_money.jpg" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiw6eyygdzfAhXNWysKHfu1DNkQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Batman Wiki &#8211; Fandom</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/seandainya-mendapatkan-80-juta/">Seandainya Mendapatkan 80 Juta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/seandainya-mendapatkan-80-juta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
