Connect with us

Olahraga

Polemik European Super League (ESL)

Published

on

Bagi penggemar sepakbola seperti Penulis, beberapa hari terakhir merupakan hari yang gila. Bagaimana tidak, adanya wacana European Super League (ESL) menggegerkan publik dan menimbulkan polemik yang pelik.

ESL resmi ketuk palu setelah 12 klub besar di Eropa menyepakatinya. Mereka adalah:

  • Manchester United
  • Manchester City
  • Liverpool
  • Chelsea
  • Arsenal
  • Tottenham Hotspurs
  • Real Madrid
  • Barcelona
  • Atletico Madrid
  • Inter Milan
  • AC Milan
  • Juventus

Sebenarnya Bayern Munich, Borussia Dortmund, dan Paris St. Germany juga direncanakan turut serta. Hanya saja, mereka memutuskan untuk tidak ikut bagian dalam ajang pesaing Liga Champion tersebut.

Di sini Penulis tidak akan terlalu menjelaskan apa itu ESL dan bagaimana formatnya. Penulis fokus memberikan opininya sebagai penggemar sepakbola atas polemik yang terjadi.

Berawal dari Permasalahan Ekonomi

Inti Masalahnya: Duit (Thinking Heads)

Bisa dibilang, pandemi Corona adalah penyebab utama dari masalah ini. Meski sudah diprediksi oleh Arsene Wenger 10 tahun yang lalu, kemunculan Corona membuat wacana yang terlihat impossible itu menjadi possible.

Klub-klub besar tersebut rata-rata mengalami kerugian yang cukup signifikan. Tidak hadirnya penonton di lapangan jelas memberikan dampak yang tidak sedikit. Belum lagi dari sektor lain seperti menurunnya penjualan merchandise dan lain-lain.

Neraca keuangan klub besar semakin timpang karena tingginya gaji pemain bintang yang harus dibayarkan. Inflasi harga pemain yang makin tidak masuk akal membuat klub juga kesulitan untuk membeli pemain baru.

Di tengah kekeringan pemasukan seperti itu, muncul sebuah oase bernama ESL. Tidak tanggung-tanggung, kompetisi ini menjanjikan nominal hadiah yang berkali-kali lipat dibandingkan hadiah juara Liga Champion yang jumlahnya tidak bisa digunakan untuk membeli Lord Martin Braithwaite.

Belum lagi pemasukan dari hak siar. Penggemar jelas tergoda dengan konsep pertandingan big match setiap minggu tanpa perlu menunggu babak semifinal seperti di Liga Champion. Manchester United vs Barcelona jelas lebih menarik daripada Manchester United vs Burnley.

Florentino Perez (Football Espana)

Secara komersil, ESL memang sangat menggiurkan. Potensi uang yang masuk sangat besar, jauh melebih apa yang bisa diberikan oleh kompetisi di bawah naungan UEFA.

Klub elit yang tengah melempem seperti Arsenal dan AC Milan bisa bersantai. Tak masalah tidak masuk Liga Champion, mereka akan menjadi peserta tetap setiap tahun sehingga pemasukan pun akan terus mengalir tanpa perlu upaya lebih.

Mereka tidak berpikir, jika klub-klub besar tersebut bisa mendapatkan dana besar, bukankah ketimpangan antar klub akan semakin besar? Mereka bisa belanja sesuka hati, tidak seperti klub kecil yang harus memutar otak ketika membelanjakan uangnya.

Kehadiran ESL jelas mengusik zona nyaman yang dimiliki oleh UEFA. Mereka langsung mengecam dan mengeluarkan berbagai ancaman yang mengerikan, mulai dikeluarkan dari liga hingga pemain tidak memiliki hak untuk membela tim nasional mereka.

Gertakan tersebut hanya ditertawakan oleh Florentino Perez dan kawan-kawan. Mereka punya power bargaining yang kuat. Coba saja adakan liga atau turnamen tanpa mereka, niscaya akan sepi penonton karena tidak adanya pemain bintang yang menjadi idola banyak orang.

Tanggapan Para Fans (dan Penulis)

Para Fans Tersakiti (Football365)

Ketika memantau kolom komentar akun-akun sepakbola di Instagram, mayoritas sangat menentang kehadiran ESL. Mereka merasa kalau pemilik klub sangat tamak dan hanya berusaha mengumpulkan pundi-pundi uang sebanyak mungkin.

Ada beberapa yang mendukung ESL karena membayangkan adanya big match setiap pekan. Selain itu, UEFA dan FIFA sendiri terkenal sebagai organisasi yang korup dan cukup memonopoli pertandingan sepakbola Eropa.

Beberapa pemain sepakbola sudah mulai mengeluarkan suara pertentangannya terhadap ESL, walaupun nampaknya belum ada suara dari pemain yang bermain di dua belas klub penggagas ESL. Mungkin, mereka masih takut dipecat dan kehilangan pemasukan.

Penulis sendiri tidak menyetujui kehadiran ESL karena akan merusak tradisi sepakbola yang sudah terbentuk selama puluhan tahun. Pertandingan seperti Real Madrid vs Juventus menjadi seru karena hanya terjadi beberapa kali dalam setahun, bukan setiap minggu.

Selain itu, Liga Champion menjadi ajang di mana klub kecil bisa berhadapan dengan klub besar. Bisa saja pemain di klub kecil tersebut mengidolakan bintang yang bermain di klub besar. Liga Champion bisa mewujudkan impian bertanding melawan idola mereka.

Kejutan Liga Champion (Twitter)

Dengan format tertutup yang dimiliki ESL, tidak akan ada lagi kejutan seperti FC Porto yang berhasil menjuarai Liga Champion edisi 2004, Ajax Amsterdam yang mengalahkan banyak klub besar sebelum takluk di tangan Tottenham Hotspurs, dan lain sebagainya.

Para pemilik klub besar ini kok kesannya tidak ingin bertemu dengan tim-tim kecil. Hal ini dibuktikan dari ucapan presiden klub Juventus, Andrea Agnelli, yang menyepelekan keikutsertaan Atalanta di Liga Champion.

Seolah yang ada di pikiran mereka hanya bagaimana meraup keuntungan sebesar-besarnya. Melawan tim besar otomatis akan menghasilkan uang lebih banyak dibandingkan ketika mereka melawan klub kecil.

Lebih dari itu, korban sebenarnya dari polemik ini adalah para fans.

When the Rich Wage War It’s the Poor Who Die

Football is for the Fans (Express & Star)

Quote yang Penulis jadikan header di atas merupakan penggalan lirik dari lagu Linkin Park yang berjudul Hands Held High, sebelum mengetahui kalau kalimat ini ternyata diucapkan oleh filsuf Jean-Paul Sartre.

Di mana-mana ketika terjadi perang antara orang yang memiliki kekuasaan (dan harta), yang menjadi korban sesungguhnya adalah masyarakat sipil yang tak berdosa. Ternyata, kalimat ini juga berlaku pada polemik ESL.

Para pemilik klub besar dan UEFA sedang adu kekuatan. Mereka sama-sama merasa punya power tanpa peduli kalau para fans sepakbola di dunia sedang cemas tak karuan. Mereka khawatir, sepakbola akan menuju kematiannya.

Padahal jika menilik sejarah, sepakbola dipopulerkan oleh orang-orang miskin yang butuh hiburan. Manchester United misalnya, didirikan oleh para buruh Manchester. Sekarang, seolah-olah sepakbola telah dicuri oleh mereka yang berduit.

Created by the poor, stolen by the rich

ANONIM

Jika para pemilik klub memang peduli terhadap fans, seharusnya mereka mau mendengarkan suara mereka. Sangat bullshit ketika Perez mengatakan ingin menyelamatkan sepakbola, itu hanya kata pemanis.

Mungkin sepakbola memang butuh diselamatkan. Mungkin UEFA dan FIFA memang sama-sama brengseknya. Akan tetapi, bukan dengan cara seperti ini menyelesaikan masalahnya. Jangan jadikan fans sebagai korban dari pertikaian antara pemilik kekuasaan.

Penutup

Seandainya ESL yang dijadwalkan akan dimulai pada bulan Agustus tahun ini benar-benar terlaksana, mungkin Penulis akan benar-benar berhenti menonton sepakbola. Biarlah mereka mengeruk kekayaan sampai mampus, Penulis tidak akan peduli lagi dengan sepakbola.

Penulis yakin banyak fans yang berpikiran sama. Mereka tidak ingin menjadi komoditas bagi para pemilik klub yang ingin menggembungkan rekening klub dan mungkin kantong mereka sendiri.

Ancaman UEFA juga bisa benar-benar terjadi. Kedua belas klub yang menyepakati ESL terancam dicoret dari liga, sehingga kemungkinan kita akan melihat persaingan juara Premier League antara Everton, West Ham, atau Leicester City saja.

Sangat disayangkan olahraga favorit sejuta umat dikuasai oleh segelintir orang yang lebih mengedepankan bisnis dibandingkan keinginan fans. Pembicaraan tentang ESL juga hanya dilakukan antar pemilik klub tanpa melibatkan pemain dan pihak lain.

Walaupun begitu, Penulis masih berharap kalau pada akhirnya penggagas ESL dan UEFA menemukan titik terang dari polemik ini. Entah bagaimana caranya, yang jelas Penulis tidak ingin para pecinta sepakbola menjadi korban dari peperangan ini.

Lawang, 20 April 2021, terinspirasi setelah membaca berbagai berita seputar ESL

Foto: Twitter

Sumber Artikel: The Flanker di Twitter

Olahraga

Manchester United Tidak Sedang Baik-Baik Saja

Published

on

Minggu kemarin jelas bukan minggu yang menyenangkan bagi penggemar klub sepak bola Manchester United (MU). Pasalnya, ada begitu banyak masalah yang datang bertubi-tubi di awal musim 2023/2024 ini.

Selain banyak pemain inti yang cedera, MU juga dipusingkan dengan perseteruan yang terjadi antara pelatih Erik ten Hag dan Jadon Sancho. Tidak hanya itu, Anthony pun terlibat kasus kekerasan terhadap perempuan yang mirip dengan kasus Mason Greenwood.

Puncaknya adalah MU harus mengalami kekalahan yang memalukan atas Brighton & Hove Albion dengan skor 1-3 di kandang pada hari Sabtu (16/9). Ini menjadi kekalahan ketiga secara berturut-turut MU di Liga Inggris dalam lima pertandingan.

BACA JUGA: Ketika Messi Memporak-porandakan Amerika Serikat

Tidak Ada Lagi Kambing Hitam di Skuad

David De Gea (Kiri) dan Harry Maguire di Musim Kemarin (FourFourTwo)

Dulu ketika MU menderita hasil yang kurang baik, publik (terutama penggemar) akan dengan mudah mengambinghitamkan dua nama pemain, yakni Harry Maguire dan David De Gea. Alasannya sederhana, keduanya kerap melakukan blunder yang fatal.

Namun, musim ini berbeda karena De Gea tidak mendapatkan perpanjangan kontrak, sedangkan Maguire sudah resmi menjadi penghangat bangku cadangan. Alhasil, kini yang menjadi sasaran, berdasarkan media sosial, adalah sang pelatih Erik ten Hag.

Musim yang lalu, ten Hag dianggap sebagai sosok yang tepat untuk menukangi MU. Filosofi bermain sepak bolanya banyak dipuji, apalagi jika dibandingkan dengan era Ole Gunnar Solkjaer yang dianggap tidak punya filosofi.

Bahkan, banyak fans yang mendukung keputusannya yang membuang Cristiano Ronaldo karena dianggap tidak cocok dengan gaya bermainnya. Sang mega bintang pun ngambek dan akhirnya memutuskan untuk cabut ke Liga Arab Saudi.

Namun, hal yang berbeda terlihat di musim ini, di mana publik justru berbalik menghujat ten Hag. Ketidakmampuannya menangani Sancho dianggap sebagai bukti kalau ia memiliki people management yang buruk. Padahal, MU sedang krisis pemain terutama di lini depan.

Dengan keterbatasan pilihan pemain yang dapat dimainkan, ten Hag juga terlihat kurang solutif. Apalagi, penyakit lama para pemain yakni mental juga terlihat kambuh. Dalam beberapa pertandingan, Penulis sama sekali tidak melihat daya juang dari para pemainnya.

Pemain Baru Justru Menjadi Masalah?

Andre Onana (Daily Mail)

Padahal, MU lumayan aktif di bursa transfer kemarin. Sayangnya, tampaknya belum semua nyetel dengan pola permainan MU. Andre Onana, kiper baru MU yang jago build up serangan, nyatanya sudah kebobolan 10 gol dari 5 pertandingan.

Penulis menemukan komentar yang menyebutkan bahwa baru sekarang lah terlihat betapa vital peran De Gea di bawah mistar gawang. Meskipun tidak mampu melakukan build up dan kadang melakukan blunder, harus diakui kemampuannya menghalau bola memang luar biasa.

Rasmus Højlund yang diharapkan menjadi ujung tombak baru juga belum terlihat tajinya, meskipun memang ia baru satu kali dimainkan secara penuh saat berhadapan dengan Brighton. Ia sempat membuat gol, walau akhirnya dianulir.

Namun, untuk kasus Højlund banyak yang justru menyalahkan Marcus Rashford yang dianggap terlalu egois. Dalam beberapa pertandingan, terlihat ia terlalu bernafsu untuk mencatatkan namanya di papan skor, sehingga Højlund tidak mendapatkan suplai bola.

Pemain baru MU lainnya justru harus menepi karena cedera, seperti Mason Mount dan Sofyan Amrabat. Untuk Sergio Reguilón sendiri, menurut Penulis setidaknya ia mampu mem-back up posisi bek kiri yang ditinggal Luke Shaw dan Tyrell Malacia.

Oleh karena itu, tak heran jika ten Hag mau tidak mau jadi harus mengandalkan para pemain muda seperti Alejandro Garnacho, Facundo Pellistri, hingga Hanibal Mejbri yang baru mencatatkan gol perdananya untuk MU pada pertandingan melawan Brighton kemarin.

Penutup

Melihat tren permainan MU dalam beberapa match terakhir, jujur Penulis benar-benar merasa pesimis ata perjalanan klub setan merah ini di musim ini. Permainan mereka benar-benar tidak enak dipandang dan memang layak untuk menderita kekalahan.

Banyaknya pemain yang cedera memang berpengaruh besar, tetapi seharusnya klub sebesar MU mampu memiliki solusi untuk mengatasinya. Mau dilihat dari kacamata mana pun, skuad yang dimiliki oleh MU jelas lebih bagus dari klub sekelas Brighton.

Erik ten Hag sebagai pelatih pun patut dievaluasi atas rentetan buruk yang terjadi baik di dalam maupun luar lapangan. Apalagi, ten Hag beberapa kali terekam justru menyalahkan ini itu, bukannya interopeksi diri mengapa klub yang ia latih bisa seberantakan ini.

Jika permasalahan MU adalah mental dan ego dari pemainnya, maka sudah menjadi tugas ten Hag untuk mencari solusinya. Sebagai pelatih klub yang memiliki nama besar, ia harus bisa melakukannya dalam waktu yang singkat.

Tampaknya, Penulis sebagai fans MU harus menerima kenyataan kalau dirinya akan (kembali) menjadi bulan-bulanan karena klub yang didukung sedang ambyar. Entah sampai kapan MU yang sedang tidak baik-baik saja ini akan berubah menjadi lebih baik.


Sumber Featured Image: The People Person

Continue Reading

Olahraga

(Bapak) Lu Punya Tim F1, Lu Punya Kuasa

Published

on

Musim Formula 1 (F1) di musim 2023 memang terkesan membosankan karena dominasi Max Verstappen dan Red Bull yang luar biasa. Mau tidak mau publik pun teringat era Lewis Hamilton bersama Mercedes maupun Michael Schumacher dengan Ferrari.

Selain Verstappen yang baru meraih rekor fantastis dengan mencatatkan 10 kemenangan beruntun, Red Bull pun masih menyapu bersih semua kemenangan di musim ini sebelum akhirnya terputus di GP Singapura, di mana Verstappen hanya berhasil finish di posisi 5.

Oleh karena itu, tak heran jika penggemar F1 lebih memilih untuk mengalihkan fokusnya kepada siapa yang juara ketiga di klasemen pembalap (karena tampaknya Sergio Perez sudah pasti akan juara dua) dan tim mana yang akan juara dua di klasemen konstruktor.

BACA JUGA: Siapa Bisa Hentikan Verstappen dan Red Bull? – Whathefan!

Klasemen Sementara Pembalap dan Konstruktor F1

Alonso Masih di Papan Atas (F1)

Untuk klasemen pembalap, saat ini posisi ketiga sedang dipegang oleh Lewis Hamilton dengan 180 poin. Ia menyalip Fernando Alonso (170 poin) dari Aston Martin yang mengalami nasib kurang beruntung pada GP Singapura dengan finish di posisi terakhir.

Carlos Sainz Jr. dari Ferrari pun semakin mendekati posisi Alonso setelah berhasil memenangkan GP Singapura dengan penampilannya yang luar biasa. Pembalap asal Spanyol tersebut telah mengumpulkan 142 poin. 

Untuk klasemen konstruktor, di bawah Red Bull ada Mercedes (289 poin), Ferrari (265 poin), dan Aston Martin (217 poin). Menariknya, Aston Martin baru saja lengser dari peringkat tiga karena duo Ferrari berhasil mengumpulkan poin lebih banyak di GP Italia kemarin.

Selain itu, Aston Martin juga tampil buruk di GP Singapura setelah Alonso dan rekan setimnya, Lance Stroll, gagal mendulang satu poin pun. Bahkan, Stroll tidak ikut balapan setelah mengalami kecelakaan yang lumayan hebat saat kualifikasi.

Padahal, di awal musim Aston Martin bisa tampil begitu trengginas berkat performa epic Alonso yang berkali-kali berhasil meraih podium. Sayangnya, memasuki pertengahan musim mobil Aston Martin mengalami penurunan yang cukup terlihat.

Performa Pembalap Aston Martin yang Cukup Jomplang

Lance Stroll (Kiri) dan Alonso (Sky Sports)

Mobil Aston Martin memang terlihat garang di awal musim, di mana Alonso kerap meraih podium di belakang mobil Red Bull. Namun, performa tersebut seolah memudar. Untuk sekadar bersaing di papan tengah pun Aston Martin tampak kesulitan.

Oleh karena itu, tak heran jika Aston Martin yang sempat berada di posisi kedua klasemen konstruktor harus turun hingga ke peringkat 4. Namun, sebenarnya permasalahan utama Aston Martin adalah jomplang-nya performa Alonso dengan pembalap satunya, Lance Stroll.

Bagaimana tidak, sampai di GP Singapura kemarin, Stroll baru mengumpulkan 47 poin atau selisih 123 poin dari Alonso. Jumlah tersebut adalah yang jarak poin rekan satu tim terlebar setelah Red Bull, yang bisa dimaklumi karena Verstappen terus meraih kemenangan.

Stroll di awal musim sebenarnya tampil cukup baik, mengingat dirinya mengalami cedera di beberapa balapan. Namun, justru setelah cederanya sembuh, penampilannya terjun bebas dan sangat kebanting dengan performa Alonso.

Jika ada pembalap yang penampilannya buruk, biasanya akan diganti dengan pembalap lain yang lebih menjanjikan. Contoh paling dengan adalah Nick De Vries dari tim Alpha Tauri yang digantikan oleh Daniel Ricciardo di tengah musim.

Masalahnya, tampaknya hal tersebut akan sulit terjadi di Aston Martin, mengingat pemilik tim tersebut, Lawrence Stroll, merupakan ayah kandung dari Lance Stroll. Apakah seorang ayah akan tega menendang anaknya sendiri demi kebaikan tim?

Akankah Lance Stroll akan Terus Aman?

Lawrence Stroll (PlanetF1)

Aston Martin memiliki sejarah yang sebenarnya belum terlalu panjang di F1. Selain pernah berkompetisi sebentar di akhir tahun 50-an, mereka juga pernah menjadi sponsor untuk tim Red Bull di tahun 2016 hingga 2020 sebelum akhirnya menjadi tim sendiri.

Semenjak dimiliki oleh Lawrence Stroll, Aston Martin memang terlihat begitu ambisius untuk bisa menjadi tim F1 yang top. Gelontoran dana yang dikeluarkan selama ini mulai menampakkan hasilnya dengan banyaknya raihan podium musim ini.

Pada musim 2026 yang akan datang, Aston Martin telah menandatangani kontrak dengan Honda, mesin di balik kesuksesan Red Bull menjadi begitu tangguh selama beberapa tahun terakhir. Tentu kita jadi menaruh asa yang besar terhadap tim yang satu ini.

Untuk membantu pengembangan tim, Aston Martin juga merekrut pembalap-pembalap veteran yang mampu memberikan masukan. Setelah merekrut Sebastian Vettel di tahun 2020, tim ini pun merekrut Alonso setelah Vettel memutuskan untuk pensiun dari F1.

Dengan ambisinya yang begitu besar, banyak penggemar yang berharap kalau Lawrence Stroll bisa bersikap tegas dengan menendang Lance Stroll yang kurang perform. Bahkan, ada yang berharap kalau Vettel mau comeback untuk menggantikan Stroll.

Lance Stroll memang bukan pembalap yang buruk. Ia telah meraih podium dan dalam beberapa kali kesempatan mampu menunjukkan skill balapannya yang luar biasa. Stroll juga kerap memberikan masukan yang tidak kalah berbobot dari pembalap senior.

Namun, memang harus diakui kalau musim ini bukan musim yang baik untuknya. Kecelakaan yang ia alami di GP Singapura hingga membuatnya absen seolah menjadi penegas hal tersebut. Entah kapan Stroll bisa bangkit dan bisa menyumbang poin lebih banyak untuk tim.

Untuk informasi, durasi kontrak yang dimiliki Stroll tidak diketahui, sehingga bisa saja ia mendapatkan kontrak seumur hidup. Selama bapaknya masih menjadi pemilik tim, tampaknya Stroll akan masih punya “kuasa” untuk tetap bertahan di F1.


Sumber Featured Image: Wide World of Sports – Nine

Continue Reading

Olahraga

Ketika Messi Memporak-porandakan Amerika Serikat

Published

on

Ketika Lionel Messi memutuskan untuk bermain di Major League Soccer (MLS) bersama Inter Miami, Penulis menyayangkan keputusan tersebut karena merasa sang mega bintang tersebut masih memiliki kemampuan bersaing di Eropa.

Hanya saja, jika dipikir-pikir lagi, Messi bisa dibilang sudah meraih segalanya, baik di level tim maupun tim nasional. Mungkin, Messi hanya ingin menikmati akhir masanya dan menikmati bagaimana nyamannya tinggal di Amerika Serikat.

Namun, Penulis tak menyangka kalau Messi akan menjadi terlalu overpowered di sana. Baru beberapa bulan, ia telah berhasil membawa Inter Miami, yang babak belur di liga, menjuarai Leagues Cup.

Torehan Mentereng Messi di Debutnya Bersama Inter Miami

Langsung Gacor di Amerika Serikat (CNN)

Messi langsung “menendang” sejak pertandingan debutnya saat Inter Miami berhadapan dengan Cruz Azul di Round 1 Leagues Cup. Masuk sebagai pemain pengganti, Messi langsung mencetak gol kemenangan pada saat injury time, tepatnya pada menit ke-94.

Di Round 2, Messi kembali tampil garang dengan mencatatkan 2 gol dan 1 assist yang membawa timnya menang dengan skor telak 4-0 atas Atlanta United. Saat melawan Orlando City di babak 32 besar, ia kembali berhasil mencetak 2 gol dan membawa timnya menang 3-1.

Pertandingan heroik Messi terjadi di babak selanjutnya saat Inter Miami berhadapan dengan FC Dallas. Sempat tertinggal 4-2, Messi menjadi penyama kedudukan di menit 85 melalui tendangan bebasnya yang cantik. Inter Miami pun menang setelah drama adu penalti.

Inter Miami menang mudah 4-0 saat berhadapan dengan Charlotte FC. Kali ini, Messi hanya menyumbangkan 1 gol. Begitu pula saat di babak semifinal saat melawan Philadelphia Union, yang diakhir kemenangan 4-1 dan Messi menyumbangkan 1 gol.

Pada babak final melawan Nashville SC, Messi mencetak gol pembuka sebelum akhirnya disamakan oleh gol bunuh diri. Pertandingan berlanjut hingga adu penalti yang akhirnya dimenangkan oleh Inter Miami dengan skor 11-10.

Artinya, sepanjang Leagues Cup atau dalam 7 pertandingan, Messi berhasil mencetak 9 gol dan 1 assist. Ia pun berhasil menjadi top score dengan torehan golnya tersebut. Debut Messi di Amerika Serikat pun dimulai dengan manis.

Untuk rekor pribadi, Messi juga sah menjadi pemain dengan raihan trofi terbanyak dengan 44 trofi. Ia berhasil mengalahkan mantan rekannya di Barcelona, Daniel Alves, yang memiliki 43 trofi. Benar-benar luar biasa.

Kita Sedang Berada di Penghujung Sebuah Era

Messi Terlalu OP untuk Amerika Serikat? (CNN)

Kesuksesan Messi mengantarkan Inter Miami menjadi juara Leagues Cup membuat banyak pihak berpikir kalau Messi terlalu overpowered untuk bermain di Amerika Serikat. Melihat kemampuannya di atas lapangan, rasanya ia masih layak untuk bermain di Eropa.

Namun, kita harus ingat kalau sekarang kita memang sedang di penghujung sebuah era, di mana para pemain bintang akan memasuki masa-masa pensiunnya. Selain Messi yang ke Amerika Serikat, Ronaldo pun pergi ke Arab Saudi yang diikuti oleh pemain “uzur” lainnya.

Eropa, yang menjadi kiblat sepak bola dunia, musim ini memang banyak ditinggalkan oleh pemain senior yang pada masanya memiliki permainan yang sangat bisa dinikmati. Hanya tinggal segelintir yang masih bisa bertahan di kerasnya sepak bola Eropa.

Namun, jangan lupa kalau masih ada banyak talenta muda yang akan siap menggantikan peran para pemain senior. Kylian Mbappe dan Erling Haaland disebut akan menjadi Messi vs Ronaldo selanjut, apalagi setelah Mbappe menolak untuk pindah ke Arab.

Untuk saat ini, marilah kita mengheningkan cipta atas berakhirnya sebuah era emas sepak bola di mana kita bisa melihat pemain sekaliber Messi dan Ronaldo bersaing di level teratas sepak bola. Mari kita bersyukur telah diberi kesempatan untuk melihat mereka.


Lawang, 21 Agustus 2023, terinspirasi setelah melihat bagaimana OP-nya Messi di MLS

Foto Featured Image: MLS

Continue Reading

Fanandi's Choice