Cerpen
Perempuan dengan Seekor Ular Besar di Kamarnya
Aku masih berdiri terpaku di balik pagar ini, entah sudah berapa lama. Rasanya baru kemarin aku berada di dalam rumah yang berada di baliknya. Mataku tertuju pada satu-satunya jendela yang menghadap ke arahku, berharap sosok perempuan itu menampakkan diri untuk sekadar menengok apakah aku masih berada di luar rumahnya atau justru telah memilih pergi.
Semua kejadiannya memang terjadi begitu cepat sekaligus aneh. Belum pernah aku merasakan sensasi-sensasi yang terasa nyata sekaligus tidak nyata dalam satu waktu. Jangan-jangan, rumah ini memang memiliki daya magis yang berhasil memikatku? Atau mungkin aku hanya bodoh saja karena memilih untuk berdiri di depan pagarnya selama berhari-hari?
***
Suatu pagi, beberapa waktu lalu yang tidak aku ingat tanggal pastinya, aku sedang berjalan kaki seperti biasa untuk menggerakkan badan. Pekerjaanku sebagai seorang penulis cerita membuatku harus duduk berjam-jam, sehingga kalau tidak diimbangi aktivitas fisik, badanku akan terasa sakit semua.
Saat itulah aku melewati rumah mungil yang dikelilingi oleh pagar tinggi ini. Pagarnya serupa dengan jeruji besi di penjara, sehingga aku bisa melihat apa yang ada di baliknya. Sejak awal, aku sudah menaruh perhatian terhadap rumah ini. Bentuk bangunan rumahnya bisa dibilang lucu dan ada kesan feminim yang kuat, tapi pagar yang mengelilinginya berwarna hitam pekat dengan ujung yang tajam seolah bisa digunakan sebagai tombak untuk berperang.
Di antara pagar dan bangunan tersebut, ada taman bunga mawar yang begitu indah. Warna merah dari kelopaknya seolah sang bunga sedang merona karena ada seseorang yang sedang memuji kecantikannya. Kuperhatikan tidak ada tanaman lain selain mawar. Aku sendiri sering mengejek mawar, yang terlihat cantik dari luar, tapi menyakitkan ketika kita menyentuh tangkainya.
Tampak depan, rumah itu juga unik karena hanya memiliki satu daun pintu dan satu jendela. Lebar rumahnya hanya sekitar tiga meter kalau dilihat dari balik pagar, tapi entah mengapa aku memiliki feeling kalau isi rumah tersebut jauh lebih luas daripada yang terlihat. Jangan-jangan, bangunan utamanya justru ada di bawah tanah?
Konsentrasi pengamatanku langsung buyar karena terkejut mendengar suara pintu yang dibuka secara tiba-tiba. Dari balik pintu tersebut, keluarlah seorang perempuan berambut sebahu dengan ekspresi ketakutan. Air mata sudah hendak tumpah dari matanya, seolah hidupnya sedang terancam. Walau begitu, hal tersebut tidak menutupi kecantikan wajahnya.
Tak butuh waktu lama sampai matanya menangkap keberadaanku yang sedang berada di luar pagarnya. Merasa ketahuan sedang mengamati rumahnya, aku pun segera bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, suaranya yang lirih dan gemetar berhasil menghentikan langkahku.
“Tolong, tolong aku, ada ular besar di dalam kamarku, aku hampir mati diterkamnya!”
***
Jelas aku tidak memiliki pengalaman untuk menangkap seekor ular, apalagi jenis yang besar pula. Di sisi lain, tak mungkin aku mengabaikan permintaan seorang perempuan muda yang begitu ketakutan ini. Oleh karena itu, kuberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah tersebut tanpa modal senjata apa pun, karena aku tidak membawa apa-apa saat sedang berjalan kaki selain ponsel pintarku.
Kutanyakan kepadanya, apakah ada semacam senjata tajam atau minimal tongkat yang bisa digunakan untuk menghalau ular tersebut. Ia menjawab kalau tidak salah di gudang ada tongkat pramuka, tapi ia tidak berani mengambilnya sendirian. Kami pun berjalan berdua penuh waspada untuk mengambil tongkat tersebut.
Ternyata, benar dugaanku. Bangunan utama rumah ini terletak di bawah tanah. Di permukaan, hanya ada satu ruang tamu kecil dengan furnitur yang cukup minimalis. Hanya ada sofa dan beberapa kursi, serta meja pendek dan satu kabinet mungil. Jika menilai dari penampilannya sekilas, kursi-kursi ini tampak jarang digunakan.
Kami turun menyusuri tangga menuju ruang bawah tanah secara perlahan, waspada kalau-kalau ular besar tersebut hendak memberikan surprise kepada kami. Untungnya, tidak terlihat satu makhluk hidup pun maupun terdengar suara desisan. Perempuan tersebut mengatakan ia telah menutup rapat pintu kamarnya, sehingga kemungkinan besar ular tersebut tidak ke mana-mana.
Dari tangga, kami berjalan ke arah belakang melewati lorong rumah yang cukup panjang. Jelas, arsitektur dari rumah ini sangat tidak biasa. Aku sudah mulai merasa curiga jangan-jangan ini sebuah jebakan dan perempuan ini hanya umpan. Nanti di balik ruangan yang katanya gudang, ternyata ada banyak laki-laki yang siap memutilasi tubuhku demi mendapatkan organ-organ tubuhku untuk dijual mahal.
Untunglah, semua kecemasan tersebut tidak terbukti. Sewaktu mencapai pintu paling belakang di sisi kanan yang ia sebut sebagai gudang, di baliknya memang benar-benar ada berbagai macam peralatan yang sudah selayaknya disimpan di gudang. Aku melihat sebuah tongkat pramuka bersandar di salah satu dinding, lalu mengambilnya.
Dengan satu tarikan napas panjang, aku mempersiapkan diri untuk menghadapi ular besar di kamar perempuan ini.
***
Belum pernah aku melihat ular sebesar itu seumur hidup. Warna sisiknya kombinasi antara kuning cerah dan putih krem, dengan pola yang menyerupai bercak-bercak besar. Kepalanya berbentuk segitiga datar, dengan moncongnya yang agak melancip mengeluarkan lidah bercabang yang mengintimidasi.
Aku bukan ahli ular tentu saja, tapi aku merasa kalau ular yang ada di hadapan kami ini merupakan jenis albino, apalagi kalau melihat warna matanya yang merah muda itu. Kami saling bertatapan mata, seperti dua petarung yang sedang mengukur kemampuan lawannya sebelum memulai perkelahian.
Perempuan itu bersembunyi di belakangku dengan sangat ketakutan. Ia menggenggam lenganku dengan sangat kuat sehingga aku merasa kesakitan. Walau begitu, harga diriku sebagai laki-laki tidak mengizinkanku untuk berteriak, apalagi adrenalinku sedang tinggi karena harus berhadapan dengan reptil yang sejujurnya terlihat indah di depanku ini.
Dengan tongkat pramuka di tanganku, aku mulai memasuki kamar tersebut dengan perlahan-lahan. Ular tersebut sedang berbaring di atas tempat tidur yang terletak di sudut kamar bagian dalam, sehingga ada ruang yang cukup untukku mengambil jarak. Sang perempuan tetap berada di belakangku, kepalanya ia sembunyikan di balik punggungku. Entah hanya perasaanku atau bukan, aku bisa merasakan napasnya menembus pakaianku.
Setiap aku melangkah, ular tersebut terus memperhatikanku. Tampaknya kehadiranku terasa sebagai ancaman untuknya. Tongkatku mulai kuarahkan kepadanya. Menurut pengetahuan dangkalku, biasanya ular yang berwujud seperti yang ada di hadapanku ini adalah tipe yang tidak berbisa, jadi aku hanya perlu jaga jarak agar tidak dililitnya. Kalaupun penilaianku salah, setidaknya aku mati dalam kondisi berusaha menolong seseorang.
Tongkat makin kugenggam erat, lalu kusodokkan ke arah ular tersebut. Aku mengarahkannya ke tubuh ular tersebut, karena merasa kalau menyerang kepalanya hanya akan membuat ular tersebut makin marah. Ular tersebut terlihat mulai terganggu, tapi pandangannya tak pernah lepas memandangku.
Bagiku, rasanya tak mungkin aku bisa membunuh ular tersebut, tapi setidaknya aku bisa mengusirnya dari rumah ini. Misi tersebut harus diawali dengan membuat ular tersebut keluar dari kamar ini. Miris sebenarnya, karena keberanian yang aku kumpulkan dari tadi ternyata hanya mampu membawaku berbuat hanya sejauh ini.
Sayangnya, hal tersebut pun gagal total. Sang ular justru semakin defensif dan pancaran dari wajahnya menunjukkan bahwa ia akan siap menyerang balik. Menyadari akan bahaya ini, aku pun menarik tongkatku dan berkata pada perempuan tersebut untuk segera keluar dari kamar untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.
***
Untunglah kita hidup di era di mana informasi begitu mudah dicari, termasuk bagaimana cara mengusir ular yang sedang sangat nyaman berada di atas kasur kita. Berdasarkan hasil “riset” singkat di ponsel pintarku, kami berdua memutuskan untuk menggunakan strategi baru. Ular tidak menyukai hawa dingin dan untunglah di kamar tersebut ada AC. Kami pun menyetelnya ke suhu 16 derajat Celcius.
Dari balik celah pintu yang kami sisakan terbuka sedikit, kami bisa melihat kalau ular tersebut mulai merasa tidak nyaman dengan perubahan suhu yang mendadak tersebut. Karena kamar tersebut tidak memiliki ventilasi, pintu ini akan menjadi satu-satunya jalan keluar bagi sang ular.
Benar saja, beberapa saat kemudian, kami bisa mendengar suara desisan yang semakin keras datang ke arah kami. Karena sama-sama takut, kami pun mengambil beberapa langkah mundur. Dari jarak sekitar lima meter, kami bisa melihat ular tersebut keluar dari kamar dan merayap menjauh membelakangi kami.
Aku benar-benar merasa tegang hingga rasanya tak sempat memikirkan hal lain. Seharusnya, aku menyiapkan perangkap lanjutan untuk menangkap ular tersebut dan membawanya keluar dari rumah ini. Sayangnya, aku seakan membeku melihat ular sebesar itu merayap dan menghilang dalam kegelapan.
***
Setidaknya, sang perempuan kini bisa masuk ke dalam kamarnya dengan tenang. Ia segera mengganti sepreinya. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, kamar ini tidak memiliki ventilasi, sehingga tidak ada celah-celah yang bisa membuat ular tersebut masuk kembali ke dalam kamar, kecuali sang perempuan lupa menutup pintunya.
Kami berdua pun duduk untuk melemaskan saraf-saraf kami yang tegang dari tadi. Ada semacam kursi sofa di kamar itu dan di sanalah kami berdua duduk. Ia mengucapkan terima kasih berkali-kali karena sudah membantu mengusir ular tersebut dari kamarnya. Aku mengingatkannya kalau ular itu belum benar-benar pergi, jadi sebaiknya kami tetap waspada.
Aku juga sempat bertanya, bagaimana ular sebesar itu bisa masuk ke dalam kamarnya?
“Entahlah, aku pun tak tahu, saat sedang scrolling sambil rebahan di atas kasur, tiba-tiba saja ia muncul dari arah pintu yang terbuka dan masuk ke dalam kamar. Karena panik, waktu itu aku langsung melompati ular tersebut, membanting pintu kamar, lalu berlari keluar rumah. Untunglah ada kamu yang sedang ada di depan rumahku. Omong-omong, sedang apa kamu di depan rumahku?”
Aku sempat tersedak sedikit ketika disodori pertanyaan seperti itu. Rasanya seperti seorang pengutil yang ketahuan sedang mencuri barang. Walau begitu, aku berusaha menjawab sejujur mungkin dengan mengatakan bahwa aku tertarik dengan desain rumahnya. Rupanya jawaban jujurku tersebut bisa ia terima, lalu ia pun tersenyum dengan getir.
Aku benar-benar merasa khawatir terhadap keadaan perempuan tersebut. Dengan ular yang masih berkeliaran di rumahnya, jelas ia akan kerap paranoid dan hidup penuh ketakutan. Aku pun menawarkan diri untuk berjaga di rumahnya untuk sementara waktu, sampai ular tersebut benar-benar pergi dari rumahnya. Ia menyetujui hal tersebut dan menawarkan kamar tamu yang terletak di dekat tangga untuk tempatku beristirahat.
Entah mengapa sejak peristiwa ini dan bertemu dengan perempuan tersebut, aku seolah berhenti memikirkan hal lain, termasuk deadline novelku yang telah ditunggu oleh editor dan pihak penerbit. Panggilan telepon berkali-kali dari mereka sama sekali tak kuhiraukan.
***
Selama berada di rumah tersebut, aku kerap melakukan patroli untuk mencari di mana ular berwarna kuning-putih tersebut. Senjata andalanku tetap tongkat pramuka yang telah menemaniku sejak hari pertama, karena anehnya perempuan tersebut tidak memilih benda-benda tajam, bahkan sekadar cutter. Jangan berharap akan ada perkakas macam palu di rumah ini.
Sesekali aku menengok keadaan sang perempuan, yang lebih sering berada di kamarnya. Aku belum tahu apa pekerjaannya atau bagaimana cara ia menyambung hidup, tapi aku tidak melihatnya kesulitan secara finansial. Sesekali ia keluar rumah (di mana aku mendampinginya hingga ia keluar dari pintu rumah) untuk belanja bahan masakan. Harus aku akui kalau masakannya cukup lezat.
Saat sendirian di rumah tersebut, selain fokus mencari ular tersebut, aku kerap mengamati rumah unik miliknya ini. Rumah ini sejujurnya terkesan tidak ramah, apalagi ruang tamunya berukuran mungil dan tidak sebanding dengan besarnya bagian rumah yang ada di bawah tanah. Bahkan, kamar tamu yang kutempati pun terasa sempit dan kurang nyaman. Bisa jadi, perempuan itu memang tidak suka membuat tamunya betah untuk berlama-lama di sini.
Aku ingin sedikit mendeskripsikan bagaimana arsitektur interior rumah ini. Setelah menuruni tangga, kita akan melihat lorong panjang dengan banyak pintu di sisi kanan dan kirinya. Lorong ini hanya diterangi oleh lampu yang redup, sehingga untuk melihat sesuatu yang ada beberapa meter di depan kita pun terasa cukup sulit.
Aku pernah menghitung jumlah pintu yang ada di lorong ini, jumlahnya ada sekitar 14 pintu. Ada beberapa ruangan yang pernah aku masuki karena diberi izin, tapi lebih banyak pintu yang tetap menjadi misteri. Sebagai tamu, aku berusaha menghargai batasan tersebut dan tidak bertanya lebih lanjut.
Sama seperti kamar milik sang perempuan, tidak ada ventilasi di kamarku. Bahkan kalau aku perhatikan, semua ruangan di rumah ini tidak memiliki ventilasi. Karena tidak ada ventilasi, artinya sebenarnya tidak banyak tempat bagi sang ular untuk bersembunyi.
Anehnya, aku gagal menemukannya. Ruang yang benar-benar terbuka hanya ruang tamu, tapi tidak banyak tempat bersembunyi untuknya. Memang ada beberapa ruangan yang tidak aku masuki karena dilarang oleh sang perempuan, tapi ia bersikukuh kalau ruangan-ruangan itu belum pernah ia buka lagi sejak kemunculan ular tersebut.
Saat sedang duduk di ruang tamu sembari menunggu sang perempuan selesai belanja, aku pun jadi bertanya kepada diriku sendiri: Jika ular tersebut ternyata sudah keluar dari rumah ini, lantas apa alasanku untuk tetap tinggal di rumah ini?
***
Aku sudah lupa berapa lama tinggal di rumah ini. Kegiatan patroliku untuk mencari ular tersebut juga semakin berkurang. Anehnya, aku malah mulai merasa nyaman berada di rumah ini. Sang perempuan pun juga tak pernah sekalipun mengusirku secara terang-terangan maupun melalui kode-kode tertentu.
Biasanya ketika makan bersama, kami saling membagikan kisah kehidupan kami masing-masing. Ia bahkan berinisiatif untuk menceritakan tentang pekerjaannya sebagai remote worker di sebuah perusahaan kesehatan di Amerika Serikat, bagaimana ia merupakan seorang introver parah (yang menjelaskan desain rumahnya yang unik), hingga hobinya menonton anime hingga berjam-jam ketika sedang punya waktu luang.
Kami punya beberapa kemiripan, salah satunya adalah hobi membaca buku. Ia sempat mengajakku ke perpustakaan mininya (pintu nomor 4 di sisi kanan, persis sebelah kamarnya) dan menunjukkan beberapa koleksinya. Ia memberiku akses penuh ke perpustakaan tersebut, sehingga aku sering membaca buku di sela-sela patroliku.
Pada satu waktu, kami sedang mengobrol di perpustakaan mengenai karya-karya Leila S. Chudori, yang kerap mengangkat topik kejahatan-kejahatan selama Orde Baru. Sejarah adalah salah satu topik favoritku, sehingga aku bisa menjawab beberapa pertanyaan kritis yang ia lontarkan dengan wajah serius yang menggemaskan.
Saat aku menjelaskan berbagai hal yang menurutku sendiri sebenarnya membosankan untuk sebagian besar orang, ia justru tampak tertarik. Matanya terus menjaga kontak dengan mataku, sesekali ia mengangguk-angguk untuk menandakan ia paham apa yang sedang aku jelaskan. Jujur, aku benar-benar merasa baru kali ini ada orang yang mau mendengarkan yapping-ku sampai seperti ini.
Di saat pembicaraan tersebut, ia tiba-tiba berteriak karena ular besar tersebut muncul di ambang pintu. Aku segera refleks membalikkan badan dan hendak melemparkan buku Laut Bercerita yang sedang kupegang, tapi kuurungkan karena aku tidak tega melempar karya orang lain.
Aku segera mencari benda lain untuk dilemparkan di perpustakaan tersebut, untunglah ada semacam bantal duduk. Kulemparkan bantal tersebut seperti Captain America melempar perisainya, dan ajaibnya, ular tersebut segera melarikan diri. Apa yang membuat ular tersebut kembali lagi setelah sekian lama menghilang?
Setelah ular tersebut tak terlihat lagi, aku segera berbalik badan untuk mengecek kondisi perempuan tersebut. Ia langsung mendekapkan dirinya di tubuhku sembari menangis keras-keras. Di sela-sela tangisnya, ia mengatakan bahwa dirinya benar-benar takut dengan ular tersebut.
Aku yang belum pernah sedekat ini secara fisik dengan perempuan lain pun jadi merasa canggung, tapi naluriku mengatakan untuk menepuk punggungnya dengan lembut untuk membantu menenangkannya. Seumur hidupku, belum pernah aku merasa sebegitu dibutuhkan oleh orang lain sedalam ini, dan hal ini membuatku makin punya alasan untuk tetap tinggal di rumah ini entah sampai kapan. Aku benar-benar semakin merasa nyaman bersamanya.
***
Entah perasaanku atau bukan, seiring berjalannya waktu, lampu redup di lorong tersebut terasa lebih terang. Dari ujung lorong pun, kini aku bisa melihat di mana tangga menuju ruang tamu berada. Aku tak pernah melihat sang perempuan mengganti lampunya, jadi aku tidak bisa memahami apa yang membuat intensitas cahaya lampu-lampu ini berubah.
Selain lampu, sesungguhnya aku kerap membantu sang perempuan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah yang tak sanggup ia lakukan. Pipa bocor? Bisa kutangani. Air AC menetes terus? Tak sulit untuk memperbaikinya. Saluran WC mampet? Walau cukup sulit, tapi aku bisa mengatasinya dengan sedikit bantuannya. Intinya, banyak hal yang kulakukan untuk sang perempuan di rumah ini.
Kami pun menjadi semakin dekat sekaligus lebih terbuka. Ia juga tertarik dengan pekerjaanku sebagai penulis, meskipun rasanya kini aku sudah masuk ke daftar pencarian orang hilang karena aku tak kunjung memberi kabar ke editor dan penerbitku. Aku benar-benar merasa terlalu nyaman di sini sehingga seolah tak memedulikan hal lain, yang penting aku bisa terus bersama perempuan yang telah memberikan rasa nyaman kepadaku ini.
Lantas, apakah ia juga merasa nyaman ketika berada di dekatku? Ataukah hubungan kami sebatas karena ia sedang membutuhkan perlindunganku dari ular tersebut? Jujur, aku sering merasa walau kami semakin dekat, tetap ada jarak yang ia pasang di antara kami. Terkadang aku merasa tergoda untuk menembus batasan tersebut, tapi aku selalu berhasil menahannya.
Yang jelas, kalau dari sisiku, rasa nyaman yang aku terima di rumah ini telah menimbulkan harapan untuk bisa tinggal di sini selamanya. Bukan sebagai pasangan tentu saja, tapi semacam shared house di mana aku akan membayar uang sewa kepadanya setiap bulan. Aku bisa meninggalkan apartemenku dan melanjutkan pekerjaan menulisku di sini.
Aku pun menyinggung hal ini ke perempuan tersebut ketika satu waktu kami berpapasan di lorong. Aku bahkan mengatakan rela untuk mengeluarkan uang sewa yang cukup tinggi di sini, dengan alasan aku merasa bisa mendapatkan banyak inspirasi untuk menulis di sini.
Tiba-tiba saja, lampu-lampu lorong kembali meredup seperti sedia kala. Ekspresinya yang tadinya cerah berubah menjadi dingin dalam sekejap. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya, tapi sorot matanya tajam seolah menyiratkan kalau aku sudah melanggar batas privasinya.
Setelah ada keheningan selama beberapa detik, aku merasa seolah ada seekor ular tak terlihat yang menarik kakiku ke belakang dengan begitu cepatnya. Kini aku berada di ruang tamunya, sedangkan tangga menuju lorong bawah tanah langsung tertutup. Aku bahkan tidak tahu kalau tangga tersebut memiliki semacam pintu.
Entah bagaimana menggambarkannya dengan tepat, tapi rumah ini seolah bisa merespons apa yang sedang dirasakan oleh pemilik rumahnya. Tidak paham dengan apa yang baru saja terjadi, aku pun hanya duduk termenung di sofa ruang tamu, berusaha menemukan jawaban dari semua peristiwa-peristiwa aneh tersebut.
***
Aku mulai merasa terusir dari rumah tersebut, bahkan secara kasar. Namun, aku masih bersikeras meyakinkan diriku kalau aku pergi, bisa saja ular tersebut kembali dan memangsa perempuan tersebut. Jadi, walau aku tidur di sofa ruang tamu, aku memutuskan untuk tetap tinggal setidaknya beberapa hari lagi.
Dua hari setelah peristiwa tidak masuk akal tersebut, aku mendengar suara pintu dibuka. Ternyata, suara tersebut berasal dari pintu yang menutup akses ke ruang bawah tanah. Muncullah perempuan tersebut dengan muka yang sangat ditekuk. Ia mengatakan bahwa aku kehilangan “akses” ke kamar tamu dan perpustakaan, tapi aku dipersilakan untuk ke dapur dan kamar mandi. Ia seolah tak peduli aku mau tidur di mana untuk seterusnya.
Tentu aku terpukul dengan keputusan sepihak itu, tapi aku berusaha menerimanya karena mau bagaimanapun ini tetap rumahnya. Aku juga tidak berusaha menanyainya lebih jauh tentang apa yang baru terjadi kemarin, termasuk kenapa seolah-olah ada sesuatu yang menarikku ke ruang tamu. Yang bisa aku lakukan hanyalah berusaha mengerti dan menerima semua ini.
Sejak saat itu, kami juga semakin jarang berinteraksi. Ia tak lagi memasakkan untukku, sehingga aku harus memasak sendiri. Belanja bahan pun kini aku lakukan sendiri, bahkan sesekali aku berinisiatif untuk membeli bahan-bahan yang hampir habis untuk sekadar menunjukkan bahwa aku bukan hanya orang yang ingin numpang tinggal di sini.
Jika tidak sengaja berpapasan, kami hanya menyapa singkat tanpa ada percakapan yang berarti. Situasi ini jelas membuatku merasa tidak nyaman. Setelah semua yang aku lakukan untuknya selama ini, setelah semua yang aku korbankan sampai di titik ini, apakah aku layak diperlakukan seperti ini? Bukankah dia yang tiba-tiba muncul dalam hidupku dan memohon-mohon bantuanku?
Saat aku merasa sudah tidak bisa menahan lagi semuanya, aku pun mengajaknya berbicara ketika kami berpapasan di lorong. Aku memuntahkan semua yang kupikirkan dan kurasakan selama ini, hingga akhirnya muncul satu pertanyaan terakhir: Sebenarnya aku ini apa dalam hidupmu?
Lagi-lagi, sensasi ditarik ke belakang oleh ular tak kasat mata kembali kurasakan, kali ini entah mengapa terasa lebih menyakitkan baik secara fisik maupun emosional. Aku sempat melihat ke arahnya untuk terakhir kalinya, dan wajah itu menampakkan kebencian yang luar biasa. Semua senyuman dan kebaikan yang pernah ia berikan kepadaku seolah menghilang begitu saja.
Tiba-tiba saja aku sudah berada di balik pagar rumah tersebut. Pagarnya dalam kondisi digembok, sehingga aku tidak bisa masuk lagi ke dalam. Tempat yang telah terasa nyaman untukku berubah menjadi asing kembali.
***
Entah sudah berapa hari aku berdiri di balik pagar ini. Panas maupun hujan tak kuhiraukan. Aku masih menyimpan harapan bahwa akan datang waktunya di mana perempuan tersebut akan terlihat dari jendela dan menyuruhku untuk kembali masuk ke dalam rumahnya. Aku berharap bahwa kami bisa memperbaiki semuanya, sehingga aku bisa mendapatkan semua akses yang sempat ia berikan, terutama perpustakaannya yang benar-benar aku rindukan.
Sayangnya, semakin lama aku berdiri di sini, semakin aku sadar betapa bodohnya diriku selama ini.
Aku selalu senang berperan sebagai superhero bagi orang lain. Alasanku menjadi penulis pun karena berharap kalau tulisanku bisa “menyelamatkan” orang lain seperti yang dilakukan oleh penulis-penulis hebat. Ketika berusaha mengusir ular tersebut, aku sengaja tidak memanggil pihak pemadam kebakaran maupun lainnya karena aku ingin diriku seorang yang menjadi satu-satunya sosok penyelamat perempuan tersebut.
Hanya saja, bodoh pun ada batasnya. Aku merasa seperti barang yang dibuang setelah tidak dibutuhkan lagi. Atau justru aku yang bodoh karena berharap lebih setelah berbuat sesuatu untuk orang lain? Apakah aku terlalu tinggi menilai peranku dalam hidup orang lain?
Di saat itulah, aku mendengar suara desisan ular dari sisi kananku. Aku menengok ke sumber suara dan melihat ular besar itu telah berada di sampingku. Matanya tidak menunjukkan tanda permusuhan, bahkan anehnya aku sedang merasakan simpati darinya. Ia seolah ingin berkata kalau peranku di sini telah berakhir. Setelah mendesis, ia membalikkan badan dan merayap menjauhi rumah tersebut.
Dengan satu tarikan napas panjang, aku memutuskan untuk menjauh dari rumah tersebut dan kembali ke apartemenku sendiri yang sudah lama kutinggalkan. Aku harus menemukan alasan kuat untuk editor dan penerbitku, mengapa aku menghilang dalam waktu yang lama tanpa bisa dihubungi sama sekali. Apakah mereka akan percaya kalau aku jawab aku telah diperdaya dan dijebak oleh siluman ular?
Lawang, 18 Oktober 2026, terinspirasi dari pengalaman hidup
Cerpen
Ingin Hilang Ingatan
Hilang ingatan. Aku ingin hilang ingatan. Tidak perlu semuanya, cukup tiga hingga empat tahun terakhir. Aku ingin melupakan semua kenangan yang terjadi pada rentang waktu itu. Aku ingin semuanya seolah-olah tidak pernah terjadi. Bisakah keinginanku ini dikabulkan oleh Tuhan?
***
Aku lupa tanggal pastinya, tapi kejadian itu terjadi sekitar tiga setengah tahun lalu tanpa sengaja. Pada hari itu, seorang tetangga baru datang menempati rumah kosong yang berlokasi tepat di depan rumahku.
Dari desas-desus yang aku dengar dari orangtuaku, penghuni rumah tersebut merupakan keluarga kecil yang terdiri dari papa, mama, dan seorang anak perempuan yang sepertinya seusiaku.
Kata mama, ia sudah bertemu dengan keluarga tersebut. Mereka keluarga yang ramah dan anaknya cantik sekali. Pertemuan ini terjadi di kala aku masih berada di kampus, sehingga aku belum berkesempatan untuk bertatap muka dengan mereka.
Aku pun penasaran dengan keluarga ini, sehingga sesekali mengintip tetangga depan melalui jendela ruang tamu. Aku telah melihat sekilas pasangan suami istri tersebut yang nampaknya sangat bahagia. Namun, aku belum pernah melihat putri mereka sekalipun.
***
“Mas Bayu, kan?”
Aku menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seorang perempuan berambut sebahu tersenyum dengan lesung pipi menghiasi kedua pipinya. Aku melihatnya keheranan, bagaimana perempuan ini bisa tahu namaku?
“Namaku Cleo, tetangga baru yang tinggal di depan rumah mas. Boleh aku duduk di sini?” tanyanya sembari menarik kursi di hadapanku meskipun belum terucap kata iya dari bibirku.
Kejadian ini berlangsung di kafe dekat rumah, tempat favoritku untuk mengerjakan tugas kuliah yang selalu menumpuk seolah tak ada habisnya. Selain karena kenal dengan pemilik tempat ini, aku juga terbiasa memanfaatkan Wi-Fi gratis yang ada di sini.
“Kamu kok tahu aku?” tanyaku padanya, tetap berusaha memasang pagar pembatas karena aku tak pernah merasa nyaman dengan orang asing.
“Aku pernah ke rumah mas buat kenalan sama orangtuanya mas. Di sana, aku lihat foto keluarga besar dan mamanya mas ngasih tahu aku nama mas. Pas ke sini aku lihat ada orang yang mirip dengan foto itu, jadi sambil mastiin aku sekalian mau kenalan sama mas. Apalagi, mas kan gampang dikenalin dengan rambut gondrongnya itu.”
Jawabannya logis, sehingga aku tidak meragukan kejadian tersebut. Kuteguk segelas kopi hitam yang ada di sebelah laptopku dan mengambil sebatang rokok dari saku kemejaku.
“Keberatan kalau aku merokok?”
“Silakan mas, asal jangan disemburkan ke mukaku, ya!”
Perempuan ini nampaknya kerap mengeluarkan hawa dan energi positif. Jawabannya yang mempersilakan justru membuatku mengurungkan niat dan kembali melirik laptop. Tugas telah menanti di sana untuk diselesaikan, tapi obyek di depanku jauh lebih menarik. Akhirnya kami pun berdiskusi banyak hal, mulai dari yang remeh-temeh hingga permasalahan serius.
Ketika kami akan pulang ke rumah masing-masing, pagar pembatas yang kupasang telah terlepas dengan sempurna.
***
Selain tetangga depan rumah, ternyata kami juga melanjutkan studi di kampus yang sama walaupun berbeda fakultas. Aku mengambil jurusan Hubungan Internasional, sedangkan ia mengambil jurusan Akuntansi di Fakultas Ilmu Administrasi. Ia satu angkatan di bawahku.
Rumah kami yang berdekatan membuat aku sering menawarkan tumpangan kepadanya, baik ketika berangkat maupun pulang. Awalnya ia merasa tidak enak karena takut merepotkan, walau pada akhirnya ia selalu menerima tawaranku. Kami pun menjadi dekat hingga diisukan berpacaran oleh para tetangga yang selalu nyinyir.
Sebagai laki-laki normal, tentu saja aku tertarik dengan Cleo. Ia cantik, ramah, terbuka, open-minded, berwawasan luas, dan memiliki banyak kesamaan denganku. Kami sama-sama suka baca buku, terutama karya-karya penulis seperti George Orwell dan Ernest Hemingway. Kami juga tidak terlalu suka menonton film karena merasa tidak ingin imajinasi kami diatur oleh sutradara.
Sekitar tiga tahun kami menjalin hubungan yang dekat seperti ini tanpa status apapun. Aku, yang belum pernah jatuh cinta seumur hidup, merasakan dorongan untuk mengungkapkan perasaan hingga ke taraf yang tak tertahankan. Aku pun mencoba untuk masuk ke topik ini ketika kami sedang berada di kafe dekat rumah untuk mengerjakan tugas masing-masing.
“Kamu percaya cinta?” tanyaku secara tiba-tiba, membuatnya tersedak karena aku bertanya ketika ia sedang menenggak minumannya.
“Apa sih mas kok tiba-tiba banget, aku kan jadi kaget.”
“Maaf, aku cuma penasaran.”
“Enggak apa-apa kok, aku cuma kaget aja. Cinta, ya? Hmmm, percaya kok. Cinta dari orangtua, dari sahabat, banyak cinta yang udah aku dapatkan hingga sekarang.”
“Termasuk dari tetangga ya,” kataku memberi sedikit kode.
“Hahaha, bisa aja mas.”
“Aku sayang sama kamu Cleo.”
Cleo terdiam beberapa saat, sebelum menjawab pernyataanku.
“Aku juga sayang sama mas . . . sebagai kakak.”
***
Setelah kejadian di kafe itu, kami berusaha menjalin hubungan seperti biasa. Masalahnya, aku jadi kesusahan mengontrol diriku. Aku menjadi perhatian berlebihan, posesif, sering mempertengkarkan hal sepele, cemburu buta, dan lain sebagainya.
Hal ini membuat Cleo secara perlahan mulai menjauhi diriku. Kami sudah jarang berangkat bersama karena ia menolak untuk pergi denganku. Kamu juga jarang menghabiskan waktu bersama di kafe seperti biasa. Pesanku pun mulai sering diabaikan olehnya.
Mungkin karena belum pernah jatuh cinta, aku menjadi terobsesi berlebihan kepadanya. Merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan terkadang membuat seseorang menjadi tolol tak terkira.
Aku menjadi bukti nyatanya. Aku jadi merasa tidak bisa hidup tanpanya, merasa hampa, merasa Cleo adalah satu-satunya perempuan yang cocok untukku. Kesalahanku adalah karena aku terlalu mencintainya, terlalu sayang kepadanya, terlalu peduli kepadanya.
Ingin mengakhiri semua penderitaan ini, aku memutuskan untuk mengajak bicara Cleo untuk yang terakhir kalinya. Aku mengajaknya untuk bertemu di sebuah taman dekat kompleks perumahan yang terkenal sepi. Ia pun menyanggupi permintaan tersebut.
“Kamu tahu, aku merasa hubungan kita akhir-akhir ini memburuk,” kataku membuka percakapan. Cleo hanya menganggukkan kepalanya tanpa melirik sedikitpun ke arahku.
“Aku tahu ini salahku. Seharusnya aku tidak mengungkapkan perasaanku waktu itu. Dengan demikian, hubungan kita akan baik-baik saja seperti dulu, seperti tiga tahun terakhir ini.”
Cleo masih tidak memberikan respon apa-apa.
“Kamu tahu, tiga tahun terakhir ini bisa dibilang masa-masa terindah dalam hidupku. Aku membuat banyak kenangan sama kamu. Aku membuat banyak cerita indah sama kamu. Seharusnya aku sudah puas dengan itu, tapi aku malah meminta lebih.”
Aku menatap Cleo yang pandangan matanya entah mengarah ke mana.
“Aku ingin diberikan kesempatan kedua, aku ingin memperbaiki semuanya. Kalau kamu sayang aku sebagai kakak, aku akan berusaha menjadi kakak yang baik buat kamu.”
“Maaf mas, tapi aku enggak bisa.”
Jawaban tersebut sungguh di luar dugaan dan membuatku tersentak. Cleo, perempuan yang selama ini kukenal karena kebaikannya yang luar biasa, bisa memberi penolakan yang sangat menusuk hati.
“Kenapa?”
“Aku udah punya pacar.”
Tanpa sadar, aku mengarahkan tanganku ke lehernya dan memberikan tekanan yang kuat. Benar kata orang, kemarahan bisa menambah kekuatan seseorang berkali-kali lipat. Tubuh Cleo yang meronta-ronta bisa kutahan dengan sedemikian rupa. Pada dasarnya, laki-laki memang ditakdirkan lebih kuat dari wanita kebanyakan, sehingga ia tak akan bisa melepaskan diri dariku.
Beberapa menit aku mencekik lehernya, tubuhnya menjadi lunglai. Tak ada lagi perlawanan darinya. Ia sudah mati, mati di tangan orang yang begitu mencintainya.
***
Hilang ingatan. Aku ingin hilang ingatan. Begitu yang terpikirkan di kepalaku setelah aku membunuh Cleo, satu-satunya perempuan di dunia ini yang begitu aku cintai. Aku terlalu mencintainya hingga aku telah membunuhnya. Aku harus membunuhnya agar ia hanya menjadi milikku seorang. Tidak boleh ada laki-laki lain yang boleh memilikinya.
Tapi aku tetap ingin hilang ingatan. Ingatan pernah bertemu dengan Cleo, kenangan yang pernah kubuat dengan Cleo, hingga fakta bahwa aku baru saja melakukan tindakan kriminal dengan membunuh seorang perempuan. Aku ingin semua itu hilang dari ingatanku dan kembali menjalani rutinitasku sebagai mahasiswa yang normal.
Ternyata Tuhan tidak mengabulkan keinginanku. Ingatan tersebut tetap tersimpan di kepalaku dan tak mau lepas. Aku masih terbayang-bayang wajah Cleo, mulai dari awal pertama kali bertemu dengan senyum dan lesung pipitnya, hingga wajah sesaknya ketika aku mencengkeram lehernya.
Aku tidak bisa menghilangkan ingatan tersebut. Ingatan tersebut kini justru menghantuiku dan membuatku takut. Cleo seolah tak rela ia mati sendirian. Ia ingin aku ikut bersamanya, menemaninya di alam baka.
Itulah mengapa sekarang aku berada di pinggir jembatan, ketika pihak kepolisian mulai mencari keberadaanku. Pasti mereka sudah menemukan mayat Cleo yang aku tinggalkan begitu saja di taman sepi itu.
Aku memandangi air sungai dangkal yang mengalir tenang di bawah sana. Aku melihat wajah Cleo memantul di permukaan sungai. Ia tersenyum kepadaku seolah menyambut kedatanganku. Senyum itu sama dengan yang ia berikan ketika kami bertemu pertama kali. Siapa yang menyangka, senyum itu pula yang aku lihat terakhir darinya.
Aku membalas senyum itu dan melangkahkan kaki ke arahnya. Aku datang Cleo.
Kebayoran Lama, 24 November 2019, terinspirasi setelah menamatkan anime Golden Time
Foto: Michael Heuser
Cerpen
Seorang Wanita di Antara Kawan Pria dan Kekasihnya
Seorang pria terhadap kawan wanitanya…
Dia tak pernah percaya dengan yang namanya cinta. Katanya, cinta adalah sesuatu paling omong kosong di semesta ini. Tawa sinis selalu ia keluarkan ketika melihat pasangan sedang memadu kasih. Bahkan seandainya memungkinkan, mungkin ia akan meludah.
Dari berbagai cerita yang ia bertahukan kepadaku, tak pernah secara gamblang ia memberikan alasan mengapa tidak percaya cinta. Apakah mungkin karena ia tidak pernah merasakan cinta yang sebenarnya? Bisa jadi.
Pernah pada suatu malam kami berdiskusi secara sengit. Waktu itu, aku sedang membahas suatu adegan romantis dari sebuah film. Ketika aku menyatakan pendapatku mengenai adegan itu, ia justru menunjukkan ekspresi ingin muntah.
“Boy, itu cuma film yang penuh dengan kemunafikan. Bisa-bisanya kamu baper dengan yang kayak gitu.” katanya sambil memegang pundakku, seolah aku adalah orang yang patut dikasihani. Dia memang sering memanggil aku dengan sebutan boy.
“Tapi film itu diangkat dari kisah nyata, dan aku yakin hal tersebut lumrah bagi orang yang sedang jatuh cinta.”
“Dari mana kamu tahu itu dari kisah nyata? Percaya sama aku, adegan itu pasti didramatisir. Hidup ini sudah penuh dengan drama boy, tak perlulah kau menambahinya dengan film-film picisan seperti itu.”
Aku tak menyangkalnya lagi karena tahu bagaimana keras kepalanya kawan wanitaku yang satu ini. Hingga muntah darah pun ia tak akan mengendurkan pendapatnya. Mungkin sifatnya yang satu ini juga membuat ia belum menemukan cintanya,
Suatu hari, saat kami berdua sedang duduk di sebuah taman setelah berolahraga, lagi-lagi aku mengusik pandangannya terhadap cinta. Benar-benar dibuat penasaran aku olehnya.
“Orang tuamu bertemu dan akhirnya menikah karena cinta bukan?” tanyaku padanya sambil mengusap keringat di dahi menggunakan handuk yang menggantung di leher.
“Huh, aku tidak percaya mereka menikah karena cinta. Pasti ada motif lain yang memaksa mereka untuk menikah.”
“Apa semua pasangan di seluruh dunia seperti itu?”
“Kalaupun ada, pasti hanya sekadar cinta-cintaan. Tidak ada yang namanya cinta sejati.”
“Jadi, kamu enggak akan nikah seumur hidup nih?”
“Kalau sendiri lebih enak, ngapain harus menjalani hubungan rumit dengan orang lain.”
Aku mengurungkan niatku untuk mendesaknya lebih jauh lagi. Raut mukanya menunjukkan ketidaksukaan terhadap topik yang aku angkat. Rahangnya mengeras seperti menahan amarah yang bergejolak di dalam hatinya.
Aku hanya ingin menolongnya dan menyadarkan bahwa cinta itu memiliki sisi yang membahagiakan. Aku buktinya. Semenjak bertemu dengan Chelsea dan menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, kami berdua merasa dunia jauh lebih cerah.
Bertemu tanpa sengaja ketika ada sebuah even pameran lukisan salah satu maestro dalam dunia seni lukis, kami langsung cocok satu sama lain. Walaupun aku menyukai karya Monet dan ia lebih menyukai goresan Andy Warhol, kami bisa menghargai perbedaan satu sama lain.
Aku tidak mengetahui kapan kawan wanitaku ini mulai memandang rendah cinta. Memang sudah lama ia sering berkata bahwa ia tidak peduli dengan yang namanya cinta, tapi akhir-akhir ini ia semakin menunjukkan kebencian terhadap anugerah dari Tuhan tersebut.
Chelsea tahu kedekatanku dengan kawan wanitaku ini, dan ia sama sekali tidak mempermasalahkan. Toh, aku kenal dengan kawanku terlebih dahulu sebelum bertemu Chelsea, jadi ia tidak ingin hubungan kami rusak hanya karena kehadirannya.
Aku selalu meminta ijin ke Chelsea apabila ingin bertemu dengan kawanku dan ia sama sekali tak keberatan karena percaya denganku. Aku benar-benar mencintai Chelsea karena kebaikannya, dan aku berharap kawan wanitaku akan menemui seorang pria sebaik Chelsea.
Aku ingin kawan wanitaku percaya dengan cinta, seperti aku mempercayainya…
Seorang wanita terhadap kekasih dan kawan wanitanya…
Namaku Chelsea, dan aku memiliki seorang kekasih yang sangat baik hatinya. Kami bertemu tanpa sengaja di sebuah acara pameran lukisan, ketika kami sama-sama sedang memandangi sebuah lukisan abstrak yang menggambarkan pertarungan antara dua ekor elang.
“Lukisan ini memang layak untuk dijadikan masterpiece.” ujarnya yang sebenarnya ditujukan untuk dirinya sendiri, hanya saja aku tertarik untuk menyahutinya.
“Kenapa mas berpendapat seperti itu? Menurut saya lebih pantas lukisannya yang berjudul Kereta di Ufuk.”
Ia nampak terkejut gumamannya direspon oleh orang lain. Butuh beberapa detik agar ia bisa menjawab pertanyaanku. Kami berdiskusi ringan mengenai lukisan yang ada di hadapan kami, lantas memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan kami di sebuah kafe.
Kami langsung cocok satu sama lain. Sebelum berpisah, ia meminta nomor teleponku yang dengan senang hati kuberikan. Walaupun ia berkata bahwa tujuannya meminta nomor untuk berdiskusi tentang lukisan lagi, aku yakin ia punya maksud lain.
Setelah itu, semua mengalir begitu saja. Hingga suatu hari, ia menyatakan perasaannya dan aku menyambutnya dengan senang hati. Kami resmi menjadi sepasang kekasih.
Ia pernah bercerita bahwa dirinya memiliki kawan sejak kecil yang tak pernah percaya dengan yang namanya cinta. Meskipun kami berstatus sebagai pasangan, aku tak pernah menyuruhnya menjauhi kawannya tersebut.
Bukannya karena aku tidak peduli dengan kekasihku. Aku menyadari bahwa aku hadir sebagai orang baru, dan aku tidak ingin merusak hubungan perkawanan yang sudah lama terjalin tersebut.
Suatu hari, aku dikenalkan oleh kawan wanitanya tersebut. Dilihat sekilas, ia terlihat jutek dan sering memasang wajah cemberut. Ia tak pernah ramah kepadaku meskipun aku sudah berusaha baik kepadanya.
Bisa jadi, ia merasa cemburu terhadap hubunganku dengan kawan prianya…
Seorang wanita terhadap kawan pria dan kekasihnya…
Dia yang terlalu percaya dengan cinta, terlihat begitu menjijikkan bagiku. Semenjak bertemu dengan wanita sok baik bernama Chelsea, kawan priaku itu seolah-olah hidup di alam lain yang tak memiliki kepahitan hidup.
Kawan priaku itu selalu berusaha memberiku pertanyaan-pertanyaan seputar cinta, dan kami akan berdebat panjang mengenai hal tersebut. Kami tidak akan menemukan kesepakatan apapun pada debat tersebut.
Bertahun-tahun aku hidup dalam zona nyaman kesendirianku dengan membawa teman-teman yang aku percaya ke dalam lingkaran, termasuk kawan priaku tersebut. Harus kuakui, dia adalah pria yang baik.
Ia adalah tipe orang yang tidak bisa membiarkan orang lain kesusahan. Tangannya selalu ia ulurkan untuk menolong orang lain. Ia selalu mendahulukan kepentingan orang lain terlebih dahulu daripada dirinya sendiri.
Di luar pembahasan cinta, banyak hal yang sering kami diskusikan hingga larut. Agama, filsafat, semesta, sebut sama semua bidang yang diajarkan di bangku kuliah, aku berani bertaruh semua sudah pernah kami bahas.
Pernah ketika kami sedang ngobrol di beranda rumahku, tiba-tiba ia diam memandangku. Merasa tak nyaman, aku segera mendorong dirinya.
“Apaan sih ngelihatin kayak gitu.”
“Heran aja, kamu itu sebenarnya manis, tapi sama sekali enggak tertarik punya hubungan sama cowok lain.”
“It’s not your business.”
“Of course it’s my business because you’re my best friend. Siapa sih yang enggak khawatir kalau kawan baiknya seapatis itu sama cinta.”
Entah apa yang kulakukan waktu itu, aku tak bisa mengingatnya. Yang jelas, tak lama setelah itu kami mendiskusikan hal lain mengenai alasan eksistensi kita di alam semesta yang luas ini.
Kami sudah berkawan sejak kecil, bahkan berangkat sekolah bersama. Ia tak pernah berubah dari dulu: polos, murah senyum, pintar, walaupun agak penakut dan sering gugup.
Bisa dibilang, aku memiliki sifat yang berlainan dengannya. Aku dikenal sebagai pribadi yang jutek, pemarah, tak peduli dengan orang lain, dan lain sebagainya. Mereka yang berpendapat seperti itu adalah mereka belum mengenalku terlalu dalam.
Buktinya, aku memiliki banyak teman yang sering berbagi cerita kepadaku. Di antara cerita-cerita tersebut, sering terselip luka yang diakibatkan oleh cinta. Bahkan, temanku pernah hampir bunuh diri karena merasa depresi ditingal oleh kekasihnya.
Melihat kawan-kawanku sering tersakiti oleh cinta, aku memutuskan untuk tidak akan pernah percaya dengan cinta. Aku menjauhkan diri dari segala tetek bengek yang absurd itu.
Hanya saja, semakin lama aku merasa bahwa aku memiliki perasaan yang berbeda kepada kawan priaku ini. Aku berusaha menjauhkan segala pikiran tersebut. Namun semakin dijauhkan, perasaan tersebut justru semakin dekat.
Aku memendam semua perasaan ini dalam-dalam, karena tidak ingin meruntuhkan ideologiku terhadap cinta. Keras kepala memang sudah menjadi salah satu sifatku yang nampaknya tidak akan pernah hilang.
Tidak mungkin aku yang sudah banyak mencaci cinta tiba-tiba menyatakan cinta kepada orang yang sudah mendengar cacianku. Apalagi, ada kekhawatiran bahwa kawan priaku tersebut akan berubah jika aku mengungkapkan perasaanku.
Sewaktu kawan priaku mengajak pergi ke sebuah acara pameran lukisan, aku tidak bisa menemaninya karena sedang demam parah. Keputusan yang kusesali karena sepulang acara tersebut, ia telah menambatkan hatinya untuk wanita lain. Ya, si Chelsea itu.
Semenjak itu, ia semakin jarang menemuiku. Setiap ingin bertemu denganku, ia akan minta ijin kepada kekasihnya walaupun tak pernah diminta. Ketidakpercayaanku kepada cinta yang mulai runtuh kembali berdiri tegak.
Aku kembali menegaskan diriku untuk tidak percaya dengan yang namanya cinta. Cinta hanya akan membawa sengsara dan derita. Ia akan melukai kita tanpa menunggu kita siap untuk dilukai.
Dan pria yang sudah membuatku tak percaya cinta lagi selalu bertanya kenapa aku tak percaya cinta. Pria memang terkadang tolol tak terkira.
Kebayoran Lama, 31 Januari 2019, terinspirasi dari seorang wanita yang katanya tak percaya dengan cinta
Foto: Tom Sodoge
Cerpen
Lelatu
Kobaran api menjalar ke udara di tengah pekatnya malam. Langit cerah tak berawan, memperkecil kemungkinan hujan turun untuk memadamkan kebakaran di rumah tetanggaku yang sedang dilalap api ini. Entah apa yang menjadi pemicunya.
Aku bersama beberapa warga lain bahu membahu ikut membantu memadamkan api dengan peralatan seadanya. Ember, bak mandi, selang, hingga kaleng cat kami manfaatkan untuk menimba air. Lokasi kampung kami yang cukup jauh dari pusat kota membuat mobil pemadam kebakaran tidak bisa datang lebih cepat.
Pasangan pemilik rumah hanya bisa menangis histeris, beberapa meter dari lokasi. Bukan karena rumah mereka yang terbakar, melainkan karena satu-satunya anak mereka masih terjebak di dalam rumah. Mereka tidak ada di lokasi ketika kebakaran terjadi. Api sudah terlampau besar untuk bisa diterjang warga demi menyelamatkan sang anak tersebut, yang baru duduk di bangku SMA.
Selain kedua orangtua anak tersebut, kekasih yang sekaligus tetangga anak tersebut juga sedang menangis tersedu, membayangkan tubuh pacarnya dimakan api tanpa ampun. Gadis tersebut baru duduk di bangku SMP, dan sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Sambil estafet menggiringkan ember demi ember, aku mencuri pandang kepadanya, memastikan kondisinya baik-baik saja.
***
Beberapa bulan sebelumnya, warga baru tersebut datang ke kampung kami. Mereka merupakan pasangan dari luar pulau, yang pindah ke mari karena tugas dinas sang suami. Sang anak yang baru saja lulus dari SMP turut serta diajak serta, mungkin karena mereka tidak ingin jauh-jauh dari satu-satunya buah hati mereka.
Meskipun datang dari belahan daerah yang jauh dari kami, nyatanya anak tersebut mudah sekali beradaptasi dengan kami. Ia tidak pernah merasa canggung ketika berkomunikasi dengan kami, tak segan menawarkan bantuan jika ada yang membutuhkan, terkadang melemparkan candaaan yang membuat teman-teman lain tertawa.
Ia menjadi yang tertinggi di antara remaja lainnya, mungkin hobi basketnya yang memiliki andil dalam pertumbuhannya tersebut. Selain itu, ia juga pandai memainkan gitar. Jari-jarinya tampak lihai berpindah-pindah dari satu senar ke senar lainnya. Vokal yang dihasilkan dari pita suaranya juga lumayan merdu untuk dinikmati.
Pendek kata, ia berhasil berbaur dengan sempurna dengan lingkungannya. Di antara pembauran tersebut, terselip cinta.
***
Orang yang beruntung mendapatkan cinta dari anak pindahan tersebut adalah gadis yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Pada mulanya, mereka seringkali bertikai kecil-kecilan, saling mengumpat dengan bercanda. Karena interaksi macam itulah teman-teman yang lain sering menjodohkan mereka berdua.
Siapa yang menyangka, berawal dari itulah benih-benih cinta tumbuh. Tanpa disadari oleh yang lain, mereka sering bertukar kabar melalui WA, kadang sekadar mengucapkan selamat malam. Semua mereka lakukan diam-diam, seolah ingin menyembunyikan fakta bahwa mereka saling mencintai.
Karena telah lama dekat, seringkali adikku tersebut bercerita kepadaku. Itu pun setelah kupaksa untuk berkata sejujurnya, karena meskipun bukan kakak karena kesamaan DNA, aku merasa berhak untuk mengetahui apa-apa tentang dia. Akhirnya sedikit demi sedikit ia mau membuka diri, bercerita tentang hubungan mereka.
Sebagai orang yang jauh lebih tua, aku sering memberikan nasihat-nasihat kepada gadis yang sudah kuanggap adikku sendiri tersebut. Aku tak pernah secara gamblang menyatakan setuju atau tidak setuju dengan hubungannya, aku hanya selalu mendoakan yang terbaik untuknya.
Dari cerita ke cerita, aku menyadari bahwa mereka benar-benar saling mencintai, mungkin lebih besar dari rasa sayangku kepada adikku tersebut. Aku hanya bisa tersenyum menyaksikan hubungan yang mereka sembunyikan tersebut.
***
Setelah upaya selama enam jam, akhirnya kebakaran berhasil dipadamkan. Sang ayah langsung menerjang masuk untuk mengecek keadaan, meskipun sempat ditahan oleh beberapa pihak kepolisian yang baru saja tiba. Selang beberapa menit, sang ayah kembali dengan tangan hampa, ekspresinya kosong.
Mungkin ia telah menemukan mayat anaknya yang pasti sudah tidak dapat diidentifikasi. Sekarang tugas pihak yang berwajib untuk mencari tahu penyebab kebakaran, yang turut membakar dua rumah di kanan-kirinya meskipun tidak sampai memakan korban jiwa.
Aku menghampiri gadis yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri untuk memberikan semangat. Kerengkuh pundaknya, seolah ingin memberikan energiku kepadanya.
“Sabar ya dek, ini ujian, semoga kekasihmu diterima di sisi-Nya.”
Ia hanya mengangguk pelan, sambil bergumam terima kasih. Aku memandang kosong bekas bangunan yang habis terbakar tersebut, sambil berharap polisi tidak menemukan kejanggalan dari aksiku semalam, ketika aku mendatangi rumah ini, membuat anak dari pemilik rumah tidak sadarkan diri, lantas membakar rumah itu dengan segala trik yang sudah kupelajari berbulan-bulan yang lalu.
Pemicu kebakaran ini sebenarnya sudah jelas, lelatu alias percikan api. Api kecemburuan. Percikan itulah yang menjadi penyebab kebakaran besar ini.
Lawang, 18 Juni 2018, terinspirasi sama apa hayo 🙂
-
Produktivitas10 bulan agoProductivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang
-
Olahraga12 bulan agoKita Selalu Senang Jika Ada Pembalap yang Raih Podium Perdana
-
Musik10 bulan agoTier List Lagu-Lagu IVE Versi Saya (Bagian 1: Single dan EP Jepang)
-
Permainan11 bulan agoKoleksi Board Game #31: Scrabble/Scrabble Together
-
Olahraga10 bulan agoLando Norris Memang Layak untuk Menjadi Juara Dunia 2025
-
Olahraga10 bulan ago“Saya Kira Situasi Membaik, Saya Kira Kondisi yang Sekarang Ini Sudah Cukup”
-
Nonfiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Effortless
-
Fiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop

You must be logged in to post a comment Login