Chapter 87 Pertemuan Enam Mata

Ternyata Zane sendiri yang datang menjemputku. Rachel pernah bercerita kalau usia kakaknya belum mencapai kepala tiga, namun penampilan fisiknya terlihat seperti orang yang akan berusia 40-an. Kebotakan mulai terlihat di bagian atas kepalanya, namun kumis dan jenggotnya begitu lebat hingga menyatu. Ia mengenakan kacamata dengan frame tebal. Di baliknya, tersimpan dua bola mata yang seolah terlihat selalu awas. Setelah basa-basi singkat, kami berdua pun meluncur ke Kediaman Trunajaya menggunakan mobil sedannya.

“Saya memutuskan untuk menjemput kamu sendiri karena kamu membawa barang bukti yang teramat penting. Untuk meminimalisir risiko. Awan akan dijemput oleh anak buah saya, jadi kemungkinan aman. Kamu sudah sarapan?”

Aku mengiyakan pertanyaan tersebut. Gisel sempat membuatkanku sepiring roti. Awalnya ia ingin ikut ke pertemuan ini, namun aku memutuskan untuk meninggalkannya di rumah. Pertemuan ini jelas terlalu berat untuk anak seusianya.

“Bagaimana kabar kawanmu itu? Sudah baikan?”

Aku menceritakan kondisi Kenji secara singkat. Selama satu minggu penuh, aku selalu mampir menjenguk untuk mengetahui perkembangan kondisinya. Terkadang, aku juga membawa Gisel meskipun aku khawatir ia bisa tertular. Teman-teman kelas yang lain telah datang berkunjung secara bergantian, bahkan Rachel dan teman-teman kelasnya juga datang berkunjung. Harus diakui kalau kondisi Kenji telah jauh lebih baik dibandingkan hari pertama ketika aku datang mengunjunginya. Aku sedikit merasa lega mengetahui hal tersebut.

Tiga puluh menit kemudian, kami telah sampai di Kediaman Trunajaya. Berbeda dengan kunjungan pertamaku, kali ini rumah ini terasa sangat ramai dan ketat. Aku melihat ada beberapa orang yang tidak pernah kujumpai sebelumnya.

“Sebagai bentuk antisipasi, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Nanti orang-orang inilah yang akan membantu penyelidikan.”

Aku bertemu dengan Rachel ketika masuk ke dalam ruang tamu. Ia menyambutkan dengan ceria dan bertanya bagaimana keadaan Kenji. Setelah pembicaraan singkat dengannya, Zane mengajakku ke sebuah ruangan yang terletak di lantai dua. Di dalam ruangan yang nampaknya kedap suara itu, ada tiga kursi yang mengitari sebuah meja bundar. Aku disuruh duduk di salah satu kursi sambil menunggu kedatangan Awan. Aku mematuhi perintah tersebut dan duduk di kursi yang menghadap ke arah pintu. Entah mengapa aku merasa sedikit tegang dengan pertemuan ini.

Sekitar lima belas menit kemudian, Zane kembali masuk ke ruangan dengan Awan berdiri di belakangnya. Melihat aku yang sudah ada di sana, ia menyapaku dengan memberikan senyuman. Aku membalasnya dengan anggukan pendek.

“Baik tuan-tuan, kita sudah berkumpul udah membicarakan masalah yang saya yakin sudah saling kita ketahui. Mungkin kita bisa langsung mulai, ya? Leon, boleh lihat dokumen-dokumen yang kamu temukan?”

Aku segera mengeluarkan dokumen tersebut dari tas ranselku dan menyerahkannya kepada Zane. Oleh Zane, dokumen tersebut langsung diberikan kepada Awan.

“Bagaimana? Apakah ini memang bukti yang sudah kalian kumpulkan?”

Awan membolak-balikkan dokumen tersebut dan membacanya secara cepat. Sekitar lima menit ia melakukan aktivitas tersebut.

“Iya benar, ini salinan dokumen yang dulu dirampas oleh anak buah Wijaya. Saya yakin ini cukup untuk menyeret beberapa nama yang terkait dengan Wijaya.”

“Baiklah, biar saya dan tim nanti akan mempelajarinya lebih dalam. Mungkin tidak semua kasus bisa kita bawa ke pengadilan, tapi kita akan berusaha semaksimal mungkin.”

“Kenapa seperti itu?” tanyaku keheranan.

“Macam-macam, dunia hukum itu penuh lika-liku, Le. Yang hitam bisa menjadi putih, yang putih bisa menjadi hitam. Lebih banyak yang abu-abu. Kamu tahu, sejak reformasi, ada begitu banyak laporan kehilangan. Hingga hari ini, lebih banyak yang tidak pernah terselesaikan. Tadi saya melihat sedikit ada bukti-bukti kalau kelompok Wijaya terlibat dalam hilangnya anggota Peretas. Mungkin kita bisa menangkap pelakunya, tetapi tidak dengan mengembalikan orang-orang yang hilang.”

Aku menelan ludah. Awalnya, ada sedikit harapan kalau aku bisa bertemu dengan orangtua kandungku atau setidaknya makamnya. Tapi mendengar pemaparan dari Zane, harapan tersebut harus aku pupuskan.

“Saya bersumpah Leon atas nama ibu saya, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan keadilan,” tegas Zane secara tiba-tiba, mungkin karena melihat wajahku yang murung.

“Terima kasih, tapi bolehkah saya minta satu permintaan?” tanyaku tiba-tiba karena teringat sesuatu.

“Apa itu?”

“Saya ingin bertemu dengan orang yang bernama Markus. Ialah orang yang membuat ibu saya meninggal. Saya ingin bertemu dengannya sekali saja.”

“Asal kamu bisa menahan emosi dan tidak melakukan serangan fisik, saya akan mengusahakannya. Tentu saja hal pertama yang harus kita lakukan adalah menemukan di mana ia berada sekarang.”

Sekali lagi aku menganggukkan kepala. Aku ingin sekali saja mendengar pengakuan dari orang yang telah memaksa ibuku menggantung dirinya. Pasti akan sulit untuk mengendalikan emosi. Akan tetapi, aku harus benar-benar menahan diri agar mendapatkan kesempatan tersebut.

“Mungkinkah kita menangkap bos besarnya? Si Wijaya?” tanya Awan ketika keheningan menghampiri kami.

“Jujur saja, itu adalah PR terbesarnya. Isunya, Wijaya telah lama tinggal di luar negeri dan mengubah identitasnya. Ada beberapa saksi mata yang pernah melihatnya di Singapura. Sebentar, saya sudah menyiapkan fotonya untuk pertemuan ini.”

Zane beranjak dari kursinya dan mengambil koper kecil yang tadi ia letakkan di dekat lemari. Ia kembali ke meja dengan membawa selembar foto.

“Pak Awan, menurut Anda benarkah ini Wijaya?” tanya Zane.

“Iya, tidak salah lagi. Meskipun ia menutupi kepalanya dengan wig jelek, aku tidak akan pernah melupakan wajahnya.”

“Akan sangat susah jika ia berada di sana mengingat kita tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Singapura. Tapi kalau kita berhasil menangkap beberapa orang pentingnya, pasti ia akan limbung juga.”

“Bolehkah saya melihatnya?”

“Tentu Leon, silakan dilihat.”

Aku mengambil foto tersebut dan mengamatinya dengan sangat detail. Aku akan merekam setiap lekuk wajahnya dan menyimpannya di dalam memori otakku. Aku tidak akan melupakannya, siapa tahu suatu saat aku akan bertemu dengannya. Jika itu sampai terjadi, aku akan melakukan perhitungan.

***

Selanjutnya, Zane melakukan tanya jawab kepada kami berdua seputar kasus ini. Tentu saja Awan yang lebih banyak menjawab karena ia yang lebih tahu. Sesi tanya jawab tersebut berlangsung selama kurang lebih satu jam. Zane meminta izin untuk menyimpan barang bukti tersebut agar segera bisa dilakukan penyelidikan. Ia juga menawariku untuk mengantarnya pulang, namun aku menolaknya karena ingin berkunjung ke rumah sakit. Ketika sudah turun ke lantai satu, aku bertemu dengan Rachel lagi. Nampaknya ia telah terbiasa rumahnya diisi oleh banyak orang karena ia sama sekali tidak terlihat risih.

“Kak Leon mau mampir rumah sakit? Aku boleh ikut?”

Tidak mungkin aku melarangnya menjenguk Kenji, sehingga aku mengiyakan permintaan tersebut. Rachel pun meminta supirnya untuk mengantar kami berdua. Di dalam perjalanan, Rachel bertanya tentang pengumuman SNMPTN-ku.

“Iya, diterima di jurusan Kedokteran UI.”

“Wah keren, aku juga rencana mau daftar di sana. Kapan kak harus berangkat ke sana?”

“Satu bulan setengah mungkin? Sekitar bulan Juli. Ada banyak yang harus disiapkan, termasuk tempat tinggal. Mungkin untuk pertama aku akan tinggal di asramanya, tapi entahlah masih belum kuputuskan.”

“Gitu ya, sedih deh harus ditinggal sama Kak Leon.”

Aku tidak tahu bagaimana harus merespon Rachel. Meskipun hubungan kami telah membaik dan ia telah menganggapku sebagai kakaknya sendiri, aku tetap tidak boleh memberikan harapan apapun kepadanya. Aku yakin Rachel dengan paras dan kepintaran yang dimiliki akan menemukan lelaki yang lebih pantas untuknya.

Sekitar 30 menit kemudian kami sampai di rumah sakit. Kami langsung menuju ke ruangan Kenji. Ternyata, Rika dan Sarah juga sedang datang berkunjung. Melihat aku datang bersama Rachel, sempat terasa ketegangan di dalam ruangan. Untunglah Rika berhasil menguasai diri dan menyambut kami seolah tak pernah terjadi apa-apa.

“Ah Leon dan Rachel, masuk-masuk, kami baru aja mau pamitan. Ya udah Kenji, aku sama Sarah balik dulu ya, cepet sembuh cepet kumpul lagi sama kita!”

Setelah itu, Rika dan Sarah menyalami kami. Sebelum mereka menghilang dari balik pintu, aku memanggil Rika dan mengajaknya berbicara singkat.

“Rika, tadi aku baru dari rumahnya untuk membicarakan kasus itu dengan kakaknya. Ketika aku bilang mau menjenguk Kenji, ia bilang kalau mau ikut menjenguk juga.”

Rika hanya tertawa mendengar penjelasanku. Aku pun dibuat bingung olehnya.

“Aku tahu kok kamu dari rumahnya, Kenji cerita tadi. Cuma ya aku sempat kaget tiba-tiba kamu datang sama dia. Tenang aja Leon, aku enggak gampang cemburu kayak dulu, kok. Aku percaya sama kamu.”

Aku pun melemparkan senyum canggung. Rika melambaikan tangan dengan ceria dan kembali berjalan beriringan dengan Sarah. Setelah itu, aku kembali masuk ke ruangan untuk menengok Kenji.

“Gimana, Le? Lancar pertemuannya?”

Aku menceritakan jalannya pertemuan enam mata yang kami lakukan tadi. Kenji mendengarnya dengan penuh antusias. Rachel yang tak terlalu memahami permasalahan ini hanya berusaha menyimak sekuat tenaga.

“Syukurlah kalau begitu, kita semakin melihat pencerahan dari masalah-masalah ini. Aku tebak, kamu ingin bertemu dengan orang yang bernama Markus itu, kan?”

“Iya, ada beberapa hal yang ingin aku pastikan.”

“Aku setuju Le, walau kamu harus benar-benar bisa menjaga emosimu. Jangan sampai kamu yang dipenjara karena menghajar orang, hahaha.”

Aku tertawa ringan mendengar celetukan Kenji. Setelah itu, kami memutuskan untuk mengobrolkan sesuatu yang lebih santai. Untunglah Rachel termasuk tipe orang yang pandai mencari topik pembicaraan, sehingga ada saja yang kami bahas. Kenji terlihat bersemangat dalam pembicaraan, membuatku merasa yakin kalau kondisi tubuhnya semakin membaik. Semoga saja dalam beberapa hari ke depan ia sudah boleh diizinkan untuk pulang.

Tiba-tiba aku merasa ingin ke toilet dan meminta izin ke mereka berdua. Di dalam toilet, aku sedikit merenung. Aku dan Kenji telah kenal kurang lebih dua tahun. Selama itu pula kami mengalami banyak kejadian. Awal pertemuan kami tidak begitu baik, di mana aku memberinya sebuah pukulan telak. Namun itu tidak membuatnya membenciku, ia justru membelaku di depan teman-teman yang lain. Setelah itu, aku pun mulai menyadari kesalahanku dan mulai berubah. Aku mulai belajar menyayangi adikku, aku juga mulai berbaur dengan teman-teman kelas yang lain. Ada konflik, namun semuanya selalu bisa terselesaikan dengan baik.

Setelah itu, kami menemukan fakta kalau ibu kami saling kenal. Fakta ini terkonfirmasi ketika ayah datang dan menceritakan semuanya. Aku juga mengetahui kalau orangtuaku selama ini hanyalah orangtua angkat. Orangtua kandungku telah raib entah ke mana. Di saat-saat sulit seperti ini, Kenji selalu menemaniku. Ia seolah ingin memberiku kekuatan agar bisa melewati badai ujian yang sedang menghadang.

Karena itulah aku sangat merasa bersalah kepada Kenji. Aku tidak bisa memberi perhatian kepadanya sebesar perhatian yang telah ia berikan kepadaku. Hasilnya, Kenji harus dirawat di rumah sakit karena penyakit yang serius. Kalau saja aku memberi sedikit perhatian kepadanya, kejadian seperti ini tidak perlu terjadi. Aku terus menyalahkan diriku, hingga tak terasa air mata menetes membasahi kedua pipiku.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.