Connect with us

Olahraga

“Saya Kira Situasi Membaik, Saya Kira Kondisi yang Sekarang Ini Sudah Cukup”

Published

on

Bulan Desember ini rasanya tidak ramah bagi pendukung Manchester United (MU). Pasalnya, banyak sekali pertandingan MU yang dimainkan pukul 3 pagi waktu Indonesia Barat. Iya kalau menang, kalau seri atau kalah jadi terasa sia-sia bangun sepagi itu.

Salah satu pertandingan yang baru saja usai adalah saat menjamu Bournemouth, yang berlangsung pada hari Selasa (16/12) kemarin. Pertandingan yang berlangsung dramatis tersebut harus berakhir imbang dengan skor fantastis, 4-4.

Mungkin banyak pendukung (termasuk Penulis) MU yang merasa bahwa situasi tim saat ini sudah membaik. Setelah mengalami musim neraka sebelumnya, kondisi yang ada sekarang jelas terasa sudah cukup, setidaknya untuk menghindari bully dari pendukung tim lain.

Evaluasi Singkat Pertandingan Melawan Bournemouth

Pertahanan Masih Banyak PR (via Metro Daily)

Mengingat MU sekarang sering dianggap sebagai klub papan tengah, Bournemouth adalah salah satu lawan yang membuat kami sering merasa deg-degan. Pasalnya, klub tersebut cukup rajin membobol gawang MU, bahkan pernah dua kali menang 3-0 di Old Trafford di musim 23/24 dan 24/25.

Musim ini, Bournemouth berhasil menjebol empat gol di Old Trafford, yang untungnya MU juga bisa mencetak jumlah gol yang sama. Pertandingan tersebut memang bagaikan sebuah roller coaster, dari 1-0, 1-1, 2-1, 2-2, 2-3, 3-3, 4-3, hingga akhirnya 4-4.

Terlepas dari hasilnya, sebenarnya Penulis melihat kalau MU memiliki progres yang terlihat. Dalam pertandingan kemarin contohnya, lini penyerangan MU terlihat lebih berbahaya dan berhasil mencatatkan banyak peluang hingga 25 tembakan (17 di antaranya di babak pertama).

Namun, serangan yang banyak tersebut nyatanya jadi sia-sia karena banyak finisihing yang kurang klinis. Mbuemo yang biasanya moncer terlihat agar kurang kemarin, karena beberapa kali membuang peluang emas di depan gawang. MU sejatinya bisa mencetak lebih dari empat gol.

Setidaknya, pola serangan MU jadi lebih jelas dan enak untuk ditonton, beda dengan musim lalu yang kayak enggak jelas mau bermain seperti apa. Set piece MU juga makin tajam, di mana musim ini telah mencetak 11 gol dari kondisi ini.

Sisi pertahanan pun patut disorot. Kebobolan 10 dalam tiga laga terakhir ketika menjamu Bournemouth di kandang jelas bukan raihan yang impresif. Memang, ada yang mengatakan bahwa tidak apa-apa kebobolan empat, asal bisa mencetak lima. Masalahnya MU hanya bisa mencetak empat.

Dari sisi kiper, Lammens yang menggantikan Onana berhasil melakukan beberapa penyelamatan krusial terutama di menit-menit akhir. Hanya saja, ia juga melakukan kesalahan ketika telat melompat saat Bournemouth mendapatkan tendangan bebas di depan gawang.

Amorim menurunkan dua bek muda pada pertandingan kemarin, yakni Yoro dan Heaven, karena Maguire dan De Light masih berhalangan untuk tampil. Mereka berdua tampil cukup solid, bahkan mungkin lebih baik dari Shaw yang kemarin sempat kehilangan bola dan berujung kebobolan.

Jika disimpulkan, musim ini para pemain MU tampak sudah mulai nyetel dengan formasi 3-4-2-1 yang menjadi andalan Amorim. Tak hanya itu, sang pelatih juga tampaknya mendengarkan masukan dan mulai mengubah sedikit strateginya.

Perubahan Strategi Amorim

Jadi Lebih Menyerang (via Bola)

Sejak menangani MU, Ruben Amorim dan strateginya kerap disorot. Dengan status sebagai manajer terburuk setelah era Sir Alex Ferguson, banyak yang menganggap formasi 3-4-2-1 yang ia usung tak cocok untuk MU.

Amorim tak menyerah begitu saja pada filosofinya, lantas ia mendatangkan tiga pemain baru agar strateginya bisa lebih jalan. Hal tersebut memang terlihat karena MU jelas lebih moncer dibandingkan setengah musim lalu.

Satu hal yang paling terlihat dari pertandingan kemarin adalah perubahan strategi dari Amorim. Melansir dari tulisan analis Alex Keble, Amorim mencoba bereksperimen dengan empat bek “palsu”, dengan Yoro main di sisi kanan.

Dengan demikian, posisi Diallo yang di atas kertas merupakan bek sayap kanan bisa lebih maju untuk membantu lini penyerangan. Ia bersama Mbuemo, Mount, dan Fernandes menjadi pemain yang menyokong Cunha yang kemarin dipasang sebagai false 9.

Sementara itu, Casemiro diplot sebagai penghubung antara lini depan dan lini belakang, alias menjadi penyeimbang. Jadi, walau di atas kertas posisi MU 3-4-2-1, di lapangan bisa berubah seperti 4-1-4-1.

Jika Dalot ikut menyerang, maka formasinya akan bisa berubah menjadi 3-1-1-5, di mana Fernandes yang akan menjadi pengatur serangan dengan memanfaatkan overload pemain di depan. Namun, tentu pola ini sangat rentan terkena serangan balik.

Ketika tertinggal, MU berubah formasi menjadi 4-2-4 di mana Sesko dimasukkan. Strategi ini sempat berhasil karena berhasil membuat MU berbalik unggul. Sayangnya, Amorim tidak segera mengubah formasi menjadi lebih defensif sehingga MU kembali kebobolan.

Perubahan strategi ini memang terlihat berhasil karena MU bisa mencetak gol banyak. Meskipun Sesko masih sering terlihat enggak ngapain-ngapain dan Mount inkonsisten, setidaknya permainan Cunha, Mbuemo, dan Diallo bisa memberikan harapan.

Satu hal lain yang perlu dicatat adalah bagaimana pemain MU tidak terlalu terpatok pada posisinya, sehingga alur serangan terlihat sangat fluid. Dalot tiba-tiba bisa di tengah, Cunha sering turun ke dalam untuk jemput bola, Mount kerap melebar, dan seterusnya.

Di sisi lain, strategi tersebut menimbulkan celah yang cukup lebar di belakang. Selain Casemiro yang harus cover banyak area, jarak antarbek pun cukup lebar dan celah tersebut kerap dimanfaatkan.

Dalam pertandingan kemarin, bisa dilihat ketika situasi bola berhasil direbut ketika sedang build up serangan, pemain MU terlihat kewalahan dalam menjaga pemain lawan sekaligus menutup area agar tidak dieksploitasi. Casemiro bahkan sampai melakukan pelanggaran yang berujung gol.

Memang ada faktor pengalaman, mengingat Yoro dan Heaven bahkan belum berusia 20 tahun. Jika De Ligt dan Maguire telah kembali (dan Martinez telah menemukan kembali performa terbaiknya), strategi ini terlihat sangat menjanjikan.

***

Jika melihat sekarang, memang situasinya terlihat lebih baik. Bertengger di peringkat enam setelah musim lalu finis di peringkat 15 jelas membuat kami merasa senang. Padahal, dalam tujuh pertandingan terakhir, MU hanya bisa menang dua kali. Sungguh keajaiban.

Namun, bukan berarti kondisi tim sudah membaik secara menyeluruh. Masih ada banyak PR yang harus diselesaikan agar tim setan merah ini bisa segera kembali ke jajaran tim top Eropa dan agar Frank Ilett segera memotong rambutnya.


Lawang, 18 Desember 2025, terinspirasi setelah menonton pertandingan antara MU vs Bournemouth

Foto Featured Image: Kompas Bola

Sumber Artikel:

Olahraga

Keajaiban Tanjung Verde di Piala Dunia 2026

Published

on

By

Dibandingkan dengan edisi-edisi sebelumnya, jujur Penulis paling tidak antusias dengan Piala Dunia 2026 (FIFA World Cup 2026). Pasalnya, Penulis menganggap salah satu tuan rumahnya, yakni Amerika Serikat, sangat problematik sejak sebelum turnamen dimulai.

Oleh karena itu, Penulis benar-benar melewatkan semua pertandingan di babak grup, meskipun secara jam tayang sebenarnya sangat bisa. Penulis masih menonton highlight dan rutin mengecek skor, tapi tidak pernah benar-benar menonton pertandingannya.

Penulis baru mulai menonton ketika babak 32 besar dimulai. Pertandingan pertama yang ditonton (itu pun baru mulai nonton babak kedua) adalah pertandingan Belanda melawan Maroko, yang berakhir dengan kemenangan Maroko setelah melalui adu penalti.

Nah, pertandingan utuh yang Penulis tonton pertama kali adalah Argentina vs Tanjung Verde. Ini adalah pertandingan antara juara bertahan melawan debutan yang sepanjang babak grup berhasil membuat kejutan dengan menahan imbang Spanyol dan Uruguai.

Di atas kertas, jelas Argentina dengan Lionel Messi yang sedang on fire diunggulkan. Namun, siapa sangka kalau Tanjung Verde, negara kecil yang mungkin banyak orang yang baru mendengar namanya, berhasil menahan Argentina hingga menit-menit terakhir.

Negara Kecil yang Menyulitkan Juara Bertahan

Para Pemain Tanjung Verde (FIFA)

Buat yang belum tahu, Tanjung Verde (disebut juga Cape Verde atau Cabo Verde) sebenarnya bukan negara yang berada di semenanjung seperti Malaysia, melainkan negara kepulauan. Di benderanya ada lambang 10 bintang, bukan? Itu melambangkan 10 pulau utama dari negara tersebut.

Sebagai perbandingan, luas wilayah daratan Tanjung Verde (4.033 km persegi) lebih kecil dari luas pulau Madura (5.379 km persegi) di Jawa Timur. Di antara semua peserta Piala Dunia 2026, mereka adalah negara terkecil.

Tentu dengan kecilnya wilayah negaranya, wajar kalau penduduknya pun sedikit, yakni sekitar 500-600 ribu orang. Argentina yang menjadi lawannya memiliki penduduk sekitar 46 juta jiwa. Bahkan, penduduk Kota Malang lebih banyak, yakni 891 ribu orang.

Itulah mengapa perjalanan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026 ini berhasil mendapatkan respect dan dukungan yang luar biasa besarnya. Sebagai debutan, mereka berhasil memperlihatkan fighting spirit yang begitu besar dan menolak untuk kalah begitu saja.

Di pertandingan kemarin, Tanjung Verde berhasil bermain sebagai tim yang sangat solid dan tentu mengejutkan Argentina sebagai salah satu kandidat juara. Messi memang berhasil mencetak gol terlebih dahulu, tapi Tanjung Verde berhasil menyamakan kedudukan lewat gol cantik dari sudut sempit.

Pertandingan normal yang berjalan 90 menit berakhir dengan skor 1-1 dan memaksa Argentina lanjut ke babak tambahan. Ini juga berarti Tanjung Verde sama sekali belum pernah kalah di Piala Dunia dalam waktu normal, walau memang di satu sisi juga tidak pernah menang.

Menariknya, Argentina berubah jadi “mode Arsenal” karena dua golnya di babak tambahan ini berawal dari corner kick. Tanjung Verde sempat menyamakan kedudukan lewat gol cantik (kandidat kuat Goal of the Tournament) dari Sidny Lopes Cabral, tapi sayangnya masih belum cukup.

Tanjung Verde boleh pulang dari turnamen ini. Namun, dunia sedang memberi standing ovation kepada mereka yang telah berjuang hingga detik terakhir turnamen. Perjalanan mereka akan menjadi salah satu kejadian yang akan diingat oleh publik.

Vozinha sang Pahlawan Tanjung Verde

Vozinha (Just Jared)

Salah satu nama yang paling mencuri perhatian dari Tanjung Verde adalah sang kiper, Josimar José Évora Dias atau lebih dikenal sebagai Vozinha. Ia menjadi salah satu pemain paling tua yang bermain di Piala Dunia 2026, karena usianya telah mencapai 40 tahun.

Namanya langsung mencuat sejak pertandingan melawan Spanyol yang berakhir 0-0, di mana ia berhasil mencatatkan 7 save. Bayangkan, ia menjadi salah satu kiper tertua yang berhasil mencatatkan clean sheet di Piala Dunia, bersanding dengan nama legendaris seperti Peter Shilton dan Dino Zoff!

Selain melawan Spanyol, Vozinha juga berhasil mencatatkan clean sheet kala negaranya bersua dengan Arab Saudi. Artinya, penampilan gemilangnya memang bukan kebetulan, ia benar-benar kiper yang jago!

Permainan yang luar biasa kembali ia perlihatkan ketika menghadapi Argentina. Total, delapan penyelamatan gemilang berhasil ia catatkan. Beberapa kali ia harus berhadapan 1-on-1 dengan Messi dan menepis beberapa tendangan berbahayanya!

Ia pun mendapatkan pujian dari semua kalangan, bahkan dari fans Argentina sekali pun. Vozinha bahkan dianggap sebagai pahlawan bagi negaranya. Jumlah followers-nya di Instagram pun meroket, dari sekitar 50 ribu hingga kini menjadi lebih dari 25 juta!

Sayangnya, usianya sudah tak lagi muda, sehingga bisa jadi ini akan menjadi Piala Dunia pertama sekaligus terakhirnya. Walau begitu, publik akan terus mengingatnya sebagai salah satu kiper dengan penampilan terbaik di Piala Dunia.

***

Memang harus diakui kalau salah satu hal yang menarik dari Piala Dunia adalah momen-momen keajaiban seperti yang dialami Tanjung Verde dan Vozinha ini. Dibandingkan turnamen atau liga lain yang lebih rutin, Piala Dunia seolah punya daya magisnya sendiri.

Apa ya, menurut Penulis para pemain yang berlaga di Piala Dunia itu kerap terlihat bermain luar biasa karena bermain dengan bangsanya, bukan karena uang semata. Mereka memberikan segalanya demi mengharumkan nama negaranya.

Sekali lagi, selamat atas perjuangan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026!


Lawang, 5 Juli 2026, terinspirasi setelah melihat perjuangan heroik timnas Tanjung Verde di Piala Dunia 2026

Continue Reading

Olahraga

Anomali Antonelli

Published

on

By

Ketika menonton GP Monako, ekspektasi Penulis selalu diturunkan mengingat balapan di sana relatif membosankan. Seringnya, urutan posisi pembalap akan tetap sama dengan posisi ketika start, kecuali ada insiden yang sebenarnya juga jarang terjadi.

Untunglah ekspektasi tersebut telah Penulis turunkan, karena kita justru mendapatkan tontonan yang menarik dan chaos di Monako tahun ini! Kita seolah mendapatkan segalanya, kecuali balapan itu sendiri!

Terlepas dari semua yang terjadi pada balapan pada hari Minggu (7/6) kemarin, Penulis ingin fokus ke satu “anomali” pada sosok Kimi Andrea Antonelli, yang kini berhasil mencatatkan lima kemenangan beruntun di musim 2026!

Menjawab Segala Keraguan

Toto Wolff (Kiri) dan Antonelli (Reuters)

Kimi Andrea Antonelli merupakan pembalap asal Italia kelahiran tahun 2006, jadi seumuran dengan Carmen dan Jiwoo dari Hearts2Hearts. Ia menjalani musim debutnya bersama Mercedes pada tahun 2025 kemarin, menggantikan posisi Sir Lewis Hamilton yang hijrah ke Ferrari.

Waktu itu, keputusan Toto Wolff selaku CEO dan Team Principal untuk mendebutkan Antonelli di Mercedes banyak dipertanyakan, mengingat usianya yang masih muda. Sebagai perbandingan, George Russell yang merupakan rekan setimnya “disekolahkan” dulu di William selama tiga tahun sebelum akhirnya menjadi pembalap Mercedes.

Ada yang menyebut kalau keputusan ini didasarkan adanya kekhawatiran kalau potensi Antonelli akan “menguap” jika harus bermain untuk tim lain dulu, seperti yang terjadi pada Russell yang terlalu lama menghabiskan waktu untuk William.

Di musim debutnya, performa Antonelli bisa dibilang cukup solid, meskipun tidak langsung luar biasa. Di akhir musim, ia bertengger di posisi ke-7 dengan raihan 150 poin dan tiga kali podium. Tidak ada kemenangan di musim perdananya.

Ketika musim ini akan dimulai, Mercedes langsung menunjukkan kalau mereka menjadi tim yang berpotensi mendominasi musim 2026. Hal ini langsung terbukti dari balapan pertama GP Australia, di mana George Russell berhasil meraih kemenangan.

Namun, setelah itu, angin seolah mengarah ke Antonelli karena ia terus memecahkan rekor baru di usianya yang belum genap 20 tahun! Kemenangan di GP Monako kemarin merupakan kemenangan lima kali beruntunnya di musim ini!

Daftar Rekor yang Dipecahkan Antonelli

Ketika Antonelli “Digendong” Senior-Seniornya (The Post)

Di GP China, ia berhasil mencatatkan kemenangan perdananya di F1 dan menjadi yang termuda kedua sepanjang sejarah setelah Max Verstappen. Ia juga menjadi pembalap asal Italia termuda yang meraih Pole Position dan kemenangan di F1.

Selanjutnya, ia kembali menang di GP Jepang. Kemenangan tersebut juga membawanya menjadi pemimpin klasemen termuda di F1, mengalahkan rekor yang sebelumnya dipegang oleh Hamilton.

Anomali berlanjut di GP Miami, ketika ia menjadi pembalap termuda yang meraih tiga pole position dan kemenangan secara berturut-turut. Ia juga menjadi pembalap pertama yang berhasil mengonversi tiga pole position pertamanya menjadi kemenangan.

Rekor selanjutnya yang dipecahkan terjadi di GP Kanada, setelah ia menjadi pembalap termuda dengan memenangkan empat balapan F1 dan mengalahkan rekor Verstappen. Rentetan kemenangan ini pun tetap berlanjut di GP Monako.

Ada beberapa rekor yang ia raih di GP Monako. Selain menjadi peraih Grand Slam termuda (dan pembalap kelima yang meraihnya), ia juga menjadi pembalap termuda yang berhasil menang di sana (sebelumnya dipegang oleh Hamilton).

Tidak banyak pembalap yang berhasil mencatatkan lima kemenangan beruntun, apalagi berurutan sejak kemenangan perdananya. Kemenangan ini pun membuatnya semakin kokoh di puncak klasemen, meninggalkan rekan setimnya yang justru turun ke peringkat 3.

Sekarang Mari Kita Bicarakan GP Monako

Insiden Leclerc (Formula 1)

Selain berbagai rekor “termuda” yang berhasil dipecahkan oleh Antonelli, masih banyak hal menarik yang terjadi sepanjang balapan GP Monako kemarin. Dari lap pertama saja, langsung ada insiden yang membuat Verstappen harus DNF sejak start.

Selain Verstappen, total ada enam pembalap lain yang juga gagal finis. Mereka adalah Valteri Bottas (Cadillac), Oliver Bearman (Haas), Lando Norris (McLaren), Lance Stroll (Aston Martin), Charles Leclerc (Ferrari), dan Carlos Sainz (William).

Mungkin yang paling nyesek adalah Leclerc, mengingat sepanjang balapan ia berhasil mempertahankan posisi 3-nya. Sayangnya, masalah rem dan aspal di tikungan terakhir membuat akamsi yang satu ini harus gagal finis.

Setelah insiden yang dialami Leclerc, Red Flag pun dikibarkan untuk dilakukan investigasi dan artinya balapan pun mengalami restart. Sebelum Red Flag, sudah dua kali Yellow Flag dikibarkan. Ini menggambarkan betapa chaos balapan kemarin.

Hal lain yang disorot adalah “hujan” penalti yang diberikan kepada para pembalap. Mayoritas penyebabnya adalah speeding in the pit lane. Salah satu yang paling nyesek terjadi pada Pierre Gasly dari Alpine, yang sempat merayakan ketika tahu ia finis di peringkat 3.

Russell juga bisa dibilang mengalami balapan yang menyebalkan. Keputusan tim yang kurang tepat ditambah penalti yang ia dapatkan membuat posisinya di klasemen disalip oleh Hamilton. Kini, ia tertinggal 68 poin dari Antonelli di puncak klasemen.

Isack Hadjar juga patut diapresiasi di balapan kemarin. Meskipun mengalami berbagai masalah pada mobilnya, ia menolak menyerah dan berhasil meraih podium perdananya bersama Red Bull.

Menarik untuk menanti seperti apa akhir dari musim ini. Apakah Antonelli mampu melanjutkan anomalinya? Apakah Russell mampu bangkit dan merebut gelar dari “juniornya” tersebut? Atau ada pembalap lain yang bisa memanfaatkan persaingan antarpembalap Mercedes?


Lawang, 8 Juni 2026, setelah menonton “anomali: yang dilakukan oleh Antonelli di musim 2026

Continue Reading

Olahraga

Menatap Keseruan Musim F1 2026 Setelah GP Australia

Published

on

By

Setelah lama dinanti, akhirnya Formula 1 (F1) musim 2026 resmi dimulai. Seperti biasa, tahun ini pun juga dibuka di GP Australia, tepatnya di sirkuit Albert Park, Melbourne.

Salah satu alasan utama mengapa musim ini banyak dinanti adalah karena adanya perubahan regulasi besar-besaran yang membuat peta persaingan menjadi sedikit berubah. Walau sudah sedikit terlihat ketika pra-musim, tentu hasil balapan menjadi hal yang lebih ditunggu.

Lantas, setelah GP Australia resmi berakhir beberapa menit lalu, apakah sudah terlihat tim mana yang akan dominan dan siapa yang akan menjadi juara dunia? Yup, sudah sedikit terlihat walau tentu potensi kejutan masih ada.

Dominasi Mercedes, Ferrari Kembali Lawak

Russell vs Leclerc (BBC)

Regulasi 2026 menjanjikan akan menyajikan lebih banyak aksi overtake dan hal tersebut memang langsung terlihat, setidaknya di 1/3 awal balapan. Duel antara George Russell vs Charles Leclerc benar-benar seru.

Leclerc memang berhasil langsung tancap gas merebut posisi satu dengan menyalip tiga pembalap sekaligus (termasuk Kimi Antonelli dan Isack Hadjar), tapi Russell juga tidak mau menyerahkan kemenangannya begitu saja.

Di awal-awal balapan, terlihat mereka berduel sengit dan saling gantian menyalip. Hal semacam ini rasanya sudah lama tidak terlihat di beberapa musim terakhir F1. Sayangnya, hal seru tersebut berhenti setelah Virtual Safety Car (VSC) pertama keluar.

VSC keluar setelah Hadjar yang mengalami trouble pada mesinnya, yang membuatnya harus DNF. Mercedes membuat keputusan untuk pit, sedangkan Ferrari memutuskan untuk stay out untuk kedua pembalapnya.

Keputusan ini memang agak gambling karena tampaknya Ferrari mengincar satu kali pit stop. Apalagi, tak lama berselang, VSC kembali keluar setelah Valterri Bottas dari Cadillac juga mengalami permasalahan pada mobilnya.

Nah, harusnya begitu VSC keluar lagi, Ferrari harusnya pit, bukan? Apalagi beberapa pembalap juga memanfaatkan VSC kedua ini. Hanya saja, ini kan Ferrari, jadi ya kadang suka melawak.

Alih-alih langsung pit, mereka justru tidak langsung masuk ke dalam pit. Saat mau masuk ke pit, pintu masuknya malah ditutup karena digunakan untuk mengevakuasi Bottas. Alhasil, Leclerc dan Lewis Hamilton pun harus pit saat VSC telah usai.

Hal ini pun berhasil dimanfaatkan oleh Mercedes dengan baik dan mereka mampu mengunci podium 1-2. Sementara itu, Leclerc harus puas berada di podium ketiga. Walau apes, setidaknya Ferrari berhasil mengunci posisi 3-4 dan menunjukkan mereka adalah salah satu kandidat juara.

Verstappen Kembali Unjuk Kebolehan, McLaren agak Was-was

Verstappen Tetap Solid (PlanetF1)

Selain duel seru antara Mercedes vs Ferrari, hal menarik lainnya dari balapan kemarin adalah Max Verstappen yang mampu bangkit. Start dari posisi 20 karena insiden saat kualifikasi, ia berhasil merangkak naik hingga finis di peringkat ke-6.

Red Bull memang disebut sebagai mobil tercepat ketiga di musim ini setelah Mercedes dan Ferrari. Bahkan seandainya Hadjar tidak mengalami kerusakan pada mobilnya, bisa jadi ia berhasil meraih podium perdana bersama tim barunya.

Verstappen tampaknya akan kembali menunjukkan anomalinya seperti tahun kemarin. Meskipun tidak berada di mobil tercepat, ia tetap merupakan salah satu kandidat juara musim ini.

Sementara itu, McLaren tampaknya agak kewalahan di musim ini. Setelah dominasi dua musim terakhir, tampaknya mereka bukan lagi kandidat juara di musim ini. Lando Norris memang hebat karena mampu menahan Verstappen, tapi tak cukup cepat untuk menjadi penantang juara.

Nasib apes juga kembali menghampiri pembalap tuan rumah, Oscar Piastri. Setelah musim kemarin terpelintir di akhir balapan dan hanya finis di peringkat 9, musim ini ia malah gagal start setelah mobilnya mengalami insiden bahkan sebelum balapan dimulai.

(Sebagai tambahan, Hadjar juga lagi-lagi gagal finis di GP Australia seperti tahun kemarin)

Regulasi Baru: Makin Oke atau Makin Payah?

Jujur, Berpotensi Seru (Crash.net)

Sejak pra-musim, sudah banyak pembalap yang komplain tentang regulasi baru. Penulis tidak akan menjabarkan detail teknisnya, tapi intinya mobil yang sekarang bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang paling cerdik melakukan manajemen.

Jika di regulasi sebelumnya manajemen ban menjadi kunci, maka musim ini kita diperlihatkan bagaimana pembalap juga harus semakin pandai dan perhitungan dalam melakukan manajemen baterai.

Mengingat misi FIA yang ingin semakin go green, maka mobil F1 pun dibuat semakin ramah lingkungan. Bahkan, tak sedikit yang menyebut kalau F1 sekarang adalah Formula E versi premium.

Kecepatan mobil pun menjadi hal yang paling sorot. Dari hasil lap tercepat kualifikasi misalnya, fastest lap musim ini ternyata lebih lambat sekitar 3 detik dibandingkan dengan musim kemarin.

Di balapan tadi, top speed-nya sendiri menyentuh angka 344 km/jam yang berhasil diraih oleh Franco Colapinto dari Alpine. Sebagai perbandingan, rekor di tahun kemarin adalah 360 km/jam.

Meskipun lebih lambat, janji FIA tentang lebih banyak aksi overtake memang terbukti. Selain duel antara Russell vs Leclerc, di belakang pun ada banyak aksi overtake walau memang 1/3 akhir balapan sudah seperti Sunmori.

Dari sisi suara mesin, jujur saja suaranya memang semakin lama semakin tidak enak didengar. Karena Penulis besar dengan suara mesin V10, suara mobil saat ini seperti (mengutip F1 Speed Indonesia) suara mesin fogging.

Memang terlalu dini untuk menilai apakah F1 musim 2026 akan membosankan dengan regulasi baru. Namun, dari GP Australia hari ini, tampaknya kita memang diberi harapan kalau balapan akan jadi lebih seru.

Siapa yang Berpeluang Juara?

Lantas, siapa yang berpeluang juara? Seperti hasil di pra-musim, Mercedes memang menjadi tim yang paling kompetitif dan itu terbukti dari hasil GP Australia. Russell juga menjadi kandidat terkuat karena dirinya juga semakin matang.

Sementara itu, Ferrari juga tidak boleh dicoret dari daftar kandidat juara. Selama mereka tidak sering melawak seperti biasanya, bisa jadi tahun ini benar-benar akan menjadi tahun mereka setelah juara terakhir kali pada tahun 2007 silam (nyaris 20 tahun lalu).

Tentu saja jangan lupakan Verstappen, yang tetap menjadi anomali bersama Red Bull. Rasanya ia (bersama Leclerc) akan tetap jadi penantang paling serius dari Russell. Sayang, sang juara bertahan tampaknya tak akan mampu mempertahankan gelar juaranya.


Lawang, 8 Maret 2026, terinspirasi setelah menonton GP Australia

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018