Ingin Hilang Ingatan

Hilang ingatan. Aku ingin hilang ingatan. Tidak perlu semuanya, cukup tiga hingga empat tahun terakhir. Aku ingin melupakan semua kenangan yang terjadi pada rentang waktu itu. Aku ingin semuanya seolah-olah tidak pernah terjadi. Bisakah keinginanku ini dikabulkan oleh Tuhan?

***

Aku lupa tanggal pastinya, tapi kejadian itu terjadi sekitar tiga setengah tahun lalu tanpa sengaja. Pada hari itu, seorang tetangga baru datang menempati rumah kosong yang berlokasi tepat di depan rumahku.

Dari desas-desus yang aku dengar dari orangtuaku, penghuni rumah tersebut merupakan keluarga kecil yang terdiri dari papa, mama, dan seorang anak perempuan yang sepertinya seusiaku.

Kata mama, ia sudah bertemu dengan keluarga tersebut. Mereka keluarga yang ramah dan anaknya cantik sekali. Pertemuan ini terjadi di kala aku masih berada di kampus, sehingga aku belum berkesempatan untuk bertatap muka dengan mereka.

Aku pun penasaran dengan keluarga ini, sehingga sesekali mengintip tetangga depan melalui jendela ruang tamu. Aku telah melihat sekilas pasangan suami istri tersebut yang nampaknya sangat bahagia. Namun, aku belum pernah melihat putri mereka sekalipun.

***

“Mas Bayu, kan?”

Aku menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seorang perempuan berambut sebahu tersenyum dengan lesung pipi menghiasi kedua pipinya. Aku melihatnya keheranan, bagaimana perempuan ini bisa tahu namaku?

“Namaku Cleo, tetangga baru yang tinggal di depan rumah mas. Boleh aku duduk di sini?” tanyanya sembari menarik kursi di hadapanku meskipun belum terucap kata iya dari bibirku.

Kejadian ini berlangsung di kafe dekat rumah, tempat favoritku untuk mengerjakan tugas kuliah yang selalu menumpuk seolah tak ada habisnya. Selain karena kenal dengan pemilik tempat ini, aku juga terbiasa memanfaatkan Wi-Fi gratis yang ada di sini.

“Kamu kok tahu aku?” tanyaku padanya, tetap berusaha memasang pagar pembatas karena aku tak pernah merasa nyaman dengan orang asing.

“Aku pernah ke rumah mas buat kenalan sama orangtuanya mas. Di sana, aku lihat foto keluarga besar dan mamanya mas ngasih tahu aku nama mas. Pas ke sini aku lihat ada orang yang mirip dengan foto itu, jadi sambil mastiin aku sekalian mau kenalan sama mas. Apalagi, mas kan gampang dikenalin dengan rambut gondrongnya itu.”

Jawabannya logis, sehingga aku tidak meragukan kejadian tersebut. Kuteguk segelas kopi hitam yang ada di sebelah laptopku dan mengambil sebatang rokok dari saku kemejaku.

“Keberatan kalau aku merokok?”

“Silakan mas, asal jangan disemburkan ke mukaku, ya!”

Perempuan ini nampaknya kerap mengeluarkan hawa dan energi positif. Jawabannya yang mempersilakan justru membuatku mengurungkan niat dan kembali melirik laptop. Tugas telah menanti di sana untuk diselesaikan, tapi obyek di depanku jauh lebih menarik. Akhirnya kami pun berdiskusi banyak hal, mulai dari yang remeh-temeh hingga permasalahan serius.

Ketika kami akan pulang ke rumah masing-masing, pagar pembatas yang kupasang telah terlepas dengan sempurna.

***

Selain tetangga depan rumah, ternyata kami juga melanjutkan studi di kampus yang sama walaupun berbeda fakultas. Aku mengambil jurusan Hubungan Internasional, sedangkan ia mengambil jurusan Akuntansi di Fakultas Ilmu Administrasi. Ia satu angkatan di bawahku.

Rumah kami yang berdekatan membuat aku sering menawarkan tumpangan kepadanya, baik ketika berangkat maupun pulang. Awalnya ia merasa tidak enak karena takut merepotkan, walau pada akhirnya ia selalu menerima tawaranku. Kami pun menjadi dekat hingga diisukan berpacaran oleh para tetangga yang selalu nyinyir.

Sebagai laki-laki normal, tentu saja aku tertarik dengan Cleo. Ia cantik, ramah, terbuka, open-minded, berwawasan luas, dan memiliki banyak kesamaan denganku. Kami sama-sama suka baca buku, terutama karya-karya penulis seperti George Orwell dan Ernest Hemingway. Kami juga tidak terlalu suka menonton film karena merasa tidak ingin imajinasi kami diatur oleh sutradara.

Sekitar tiga tahun kami menjalin hubungan yang dekat seperti ini tanpa status apapun. Aku, yang belum pernah jatuh cinta seumur hidup, merasakan dorongan untuk mengungkapkan perasaan hingga ke taraf yang tak tertahankan. Aku pun mencoba untuk masuk ke topik ini ketika kami sedang berada di kafe dekat rumah untuk mengerjakan tugas masing-masing.

“Kamu percaya cinta?” tanyaku secara tiba-tiba, membuatnya tersedak karena aku bertanya ketika ia sedang menenggak minumannya.

“Apa sih mas kok tiba-tiba banget, aku kan jadi kaget.”

“Maaf, aku cuma penasaran.”

“Enggak apa-apa kok, aku cuma kaget aja. Cinta, ya? Hmmm, percaya kok. Cinta dari orangtua, dari sahabat, banyak cinta yang udah aku dapatkan hingga sekarang.”

“Termasuk dari tetangga ya,” kataku memberi sedikit kode.

“Hahaha, bisa aja mas.”

“Aku sayang sama kamu Cleo.”

Cleo terdiam beberapa saat, sebelum menjawab pernyataanku.

“Aku juga sayang sama mas . . . sebagai kakak.”

***

Setelah kejadian di kafe itu, kami berusaha menjalin hubungan seperti biasa. Masalahnya, aku jadi kesusahan mengontrol diriku. Aku menjadi perhatian berlebihan, posesif, sering mempertengkarkan hal sepele, cemburu buta, dan lain sebagainya.

Hal ini membuat Cleo secara perlahan mulai menjauhi diriku. Kami sudah jarang berangkat bersama karena ia menolak untuk pergi denganku. Kamu juga jarang menghabiskan waktu bersama di kafe seperti biasa. Pesanku pun mulai sering diabaikan olehnya.

Mungkin karena belum pernah jatuh cinta, aku menjadi terobsesi berlebihan kepadanya. Merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan terkadang membuat seseorang menjadi tolol tak terkira.

Aku menjadi bukti nyatanya. Aku jadi merasa tidak bisa hidup tanpanya, merasa hampa, merasa Cleo adalah satu-satunya perempuan yang cocok untukku. Kesalahanku adalah karena aku terlalu mencintainya, terlalu sayang kepadanya, terlalu peduli kepadanya.

Ingin mengakhiri semua penderitaan ini, aku memutuskan untuk mengajak bicara Cleo untuk yang terakhir kalinya. Aku mengajaknya untuk bertemu di sebuah taman dekat kompleks perumahan yang terkenal sepi. Ia pun menyanggupi permintaan tersebut.

“Kamu tahu, aku merasa hubungan kita akhir-akhir ini memburuk,” kataku membuka percakapan. Cleo hanya menganggukkan kepalanya tanpa melirik sedikitpun ke arahku.

“Aku tahu ini salahku. Seharusnya aku tidak mengungkapkan perasaanku waktu itu. Dengan demikian, hubungan kita akan baik-baik saja seperti dulu, seperti tiga tahun terakhir ini.”

Cleo masih tidak memberikan respon apa-apa.

“Kamu tahu, tiga tahun terakhir ini bisa dibilang masa-masa terindah dalam hidupku. Aku membuat banyak kenangan sama kamu. Aku membuat banyak cerita indah sama kamu. Seharusnya aku sudah puas dengan itu, tapi aku malah meminta lebih.”

Aku menatap Cleo yang pandangan matanya entah mengarah ke mana.

“Aku ingin diberikan kesempatan kedua, aku ingin memperbaiki semuanya. Kalau kamu sayang aku sebagai kakak, aku akan berusaha menjadi kakak yang baik buat kamu.”

“Maaf mas, tapi aku enggak bisa.”

Jawaban tersebut sungguh di luar dugaan dan membuatku tersentak. Cleo, perempuan yang selama ini kukenal karena kebaikannya yang luar biasa, bisa memberi penolakan yang sangat menusuk hati.

“Kenapa?”

“Aku udah punya pacar.”

Tanpa sadar, aku mengarahkan tanganku ke lehernya dan memberikan tekanan yang kuat. Benar kata orang, kemarahan bisa menambah kekuatan seseorang berkali-kali lipat. Tubuh Cleo yang meronta-ronta bisa kutahan dengan sedemikian rupa. Pada dasarnya, laki-laki memang ditakdirkan lebih kuat dari wanita kebanyakan, sehingga ia tak akan bisa melepaskan diri dariku.

Beberapa menit aku mencekik lehernya, tubuhnya menjadi lunglai. Tak ada lagi perlawanan darinya. Ia sudah mati, mati di tangan orang yang begitu mencintainya.

***

Hilang ingatan. Aku ingin hilang ingatan. Begitu yang terpikirkan di kepalaku setelah aku membunuh Cleo, satu-satunya perempuan di dunia ini yang begitu aku cintai. Aku terlalu mencintainya hingga aku telah membunuhnya. Aku harus membunuhnya agar ia hanya menjadi milikku seorang. Tidak boleh ada laki-laki lain yang boleh memilikinya.

Tapi aku tetap ingin hilang ingatan. Ingatan pernah bertemu dengan Cleo, kenangan yang pernah kubuat dengan Cleo, hingga fakta bahwa aku baru saja melakukan tindakan kriminal dengan membunuh seorang perempuan. Aku ingin semua itu hilang dari ingatanku dan kembali menjalani rutinitasku sebagai mahasiswa yang normal.

Ternyata Tuhan tidak mengabulkan keinginanku. Ingatan tersebut tetap tersimpan di kepalaku dan tak mau lepas. Aku masih terbayang-bayang wajah Cleo, mulai dari awal pertama kali bertemu dengan senyum dan lesung pipitnya, hingga wajah sesaknya ketika aku mencengkeram lehernya.

Aku tidak bisa menghilangkan ingatan tersebut. Ingatan tersebut kini justru menghantuiku dan membuatku takut. Cleo seolah tak rela ia mati sendirian. Ia ingin aku ikut bersamanya, menemaninya di alam baka.

Itulah mengapa sekarang aku berada di pinggir jembatan, ketika pihak kepolisian mulai mencari keberadaanku. Pasti mereka sudah menemukan mayat Cleo yang aku tinggalkan begitu saja di taman sepi itu.

Aku memandangi air sungai dangkal yang mengalir tenang di bawah sana. Aku melihat wajah Cleo memantul di permukaan sungai. Ia tersenyum kepadaku seolah menyambut kedatanganku. Senyum itu sama dengan yang ia berikan ketika kami bertemu pertama kali. Siapa yang menyangka, senyum itu pula yang aku lihat terakhir darinya.

Aku membalas senyum itu dan melangkahkan kaki ke arahnya. Aku datang Cleo.

 

 

Kebayoran Lama, 24 November 2019, terinspirasi setelah menamatkan anime Golden Time

Foto: Michael Heuser