<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Produktivitas Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/category/pengembangan-diri/produktivitas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/category/pengembangan-diri/produktivitas/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 10 Dec 2025 11:42:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Produktivitas Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/category/pengembangan-diri/produktivitas/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Productivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2025 16:47:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[menunda]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[prokrastinasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8470</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika ada satu kekurangan pada dirinya sendiri yang begitu ingin dihilangkan, mungkin salah satunya adalah kebiasaan untuk menunda segala sesuatu. Mulai dari hal-hal remeh sampai pekerjaan penting, Penulis punya kecenderungan untuk menundanya (prokrastinasi). Untuk pekerjaan yang ada deadline-nya, Penulis bisa bilang bisa menyelesaikannya, walau kadang juga harus mepet deadline. Namun, untuk pekerjaan yang tidak memiliki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/">Productivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Jika ada satu kekurangan pada dirinya sendiri yang begitu ingin dihilangkan, mungkin salah satunya adalah kebiasaan untuk menunda segala sesuatu. Mulai dari hal-hal remeh sampai pekerjaan penting, Penulis punya kecenderungan untuk menundanya (prokrastinasi).</p>



<p>Untuk pekerjaan yang ada <em>deadline</em>-nya, Penulis bisa bilang bisa menyelesaikannya, walau kadang juga harus mepet <em>deadline</em>. Namun, untuk pekerjaan yang tidak memiliki <em>deadline</em>, ada peluang besar dari <em>later </em>menjadi <em>never</em>.</p>



<p>Menyadari hal ini, Penulis pun mencoba melakukan metode sederhana yang sedang berusaha diterapkan di kesehariannya. Metode tersebut adalah <strong>&#8220;Aturan 5 Menit&#8221;</strong>, di mana jika sebuah pekerjaan bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari 5 menit, kerjakan sekarang juga. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-banner.jpg 1280w " alt="SWI Mengajar 2.0" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar-2-0/">SWI Mengajar 2.0</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Contoh Aplikasi Aturan 5 Menit</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Jangan Tunda Kalau Cuma Butuh Sebentar Melakukannya (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-carrying-stacked-books-4107106/">cottonbro studio</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebelum menulis artikel ini, Penulis mencoba menerapkan metode ini agar tulisan ini terasa lebih nyata. Ada beberapa aktivitas yang Penulis lakukan di mana beberapa di antaranya sudah diniati sejak lama, tapi belum dikerjakan. Berikut daftarnya:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Mengisi ulang botol Cleo di ruang tamu</li>



<li>Merapikan tas-tas yang menumpuk dan berserakan dekat kasur</li>



<li>Menggantung <em>sweater </em>dan celana <em>training </em>di atas kasur</li>



<li>Mengubah posisi lampu LED di kamar (karena terbalik)</li>



<li>Membersihkan sarang laba-laba dekat meja kerja (<em>suprisingly </em>ada laba-laba betina beserta anak-anaknya)  </li>



<li>Membersihkan sarang laba-laba dekat televisi (ada banyak bangkai semut yang mati)</li>
</ul>



<p>Semua aktivitas tersebut jika waktu mengerjakannya digabung, tidak sampai 15 menit untuk selesai. Akan tetapi, waktu menundanya sudah berminggu-minggu atau lebih parahnya lagi berbulan-bulan. Padahal, tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.</p>



<p>Bagi orang yang suka menunda seperti Penulis, <strong>di pikirannya selalu ada kata nanti</strong>. Ah, nanti aja dikerjakan. Ah, nanti aja diselesaikan. Ah, nanti aja dipikir. Pada akhirnya, &#8220;nanti&#8221; ini pun menjadi sesuatu yang tidak pernah dikerjakan dan akhirnya dilupakan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">&#8220;Tidak ada nanti&#8221;</mark></p>
</blockquote>



<p>Mengutip perkataan Shikamaru Nara di atas (manga <em>Naruto Chapter 325</em>) ketika ia berhadapan dengan Hidan, Penulis juga berusaha menghilangkan kata &#8220;nanti&#8221; dalam kesehariannya. Jika bisa dikerjakan sekarang, kerjakan sekarang. </p>



<p>Ketika sudah berkomitmen untuk menerapkannya, Penulis jadi <strong>lebih jarang untuk menunda-nunda pekerjaan</strong> terutama yang remeh (tentu terkadang masih <em>ndableg</em>). Alhasil, <strong>jadi lebih banyak pekerjaan yang terselesaikan</strong>.</p>



<p>Ada banyak hal sehari-hari yang hanya butuh kurang dari 5 menit untuk menyelesaikannya. Membersihkan tempat tidur, merapikan kabel <em>charger</em> setelah digunakan, cuci piring selesai makan, mengembalikan buku setelah selesai membaca, masih banyak lagi lainnya. Bisa dilihat kalau metode ini juga bisa digunakan untuk<a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/"> </a>melatih disiplin diri. </p>



<p>Ketika bekerja pun, metode ini sangat membantu. Penulis terbiasa melakukan <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-3-time-blocking/">time block</a> </em>secara bulat, sehingga selalu ingin mengakhiri jam kerja di waktu bulan seperti jam 12 siang atau setidaknya 12:30. Rasanya sangat tidak enak jika berhenti kerja di jam 12:14, misalnya.</p>



<p>Nah, katakan jam 11:52 Penulis sudah menyelesaikan pekerjaan utamanya yang memakan waktu banyak, Penulis akan mencari pekerjaan-pekerjaan ringan yang bisa selesai dalam waktu singkat sembari menunggu jam 12:00. </p>



<p>Pekerjaan ringan di tempat kerja, walau ringan, bisa menumpuk juga dan membuat Penulis merasa <em>overwhelming</em>. Alhasil, pekerjaan yang ringan pun bisa menjadi penghambat untuk menyelesaikan pekerjaan yang lebih berat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Sisi Buruk Aturan 5 Menit untuk Orang yang Mudah Terdistraksi</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8475" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kuncinya FOCUS (via <a href="https://www.youtube.com/watch?v=Ur7aK4FvK-U&amp;list=RDUr7aK4FvK-U&amp;start_radio=1">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p>Ada satu <em>loop hole </em>dari metode ini. Terkadang, karena ada <em>mindset </em>untuk segera mengerjakan pekerjaan-pekerjaan remeh,<strong> pekerjaan utama yang harusnya menjadi fokus utama justru jadi terpinggirkan</strong>. Ini sangat mudah terjadi ke orang yang mudah terdistraksi seperti Penulis.</p>



<p>Misal Penulis sedang membuat satu artikel di tempat kerja. Ketika ingin <em>upload </em>gambar, Penulis jadi melihat <em>file-file </em>di komputernya yang belum dirapikan. Penulis pun membuat folder baru untuk memisahkan <em>file-file </em>tersebut berdasarkan tanggalnya.</p>



<p>Setelah itu, Penulis jadi teringat belum melengkapi <em>to-do list </em>kantor untuk disetor. Karena cuma butuh waktu sebentar, Penulis pun jadi menyelesaikan hal tersebut terlebih dahulu. Ketika selesai, Penulis ingat belum cek surel redaksi, sehingga Penulis membuka Outlook dulu.</p>



<p>Bisa dilihat hanya karena satu distraksi kecil, pekerjaan menulis yang menjadi fokus utama pun jadi terpinggirkan. Alokasi waktu yang harusnya untuk menyelesaikan tulisan jadi digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan lain yang secara <em>deadline </em>lebih longgar.</p>



<p>Lantas, bagaimana cara mengatasinya? <strong><em>Time block </em>menjadi pilihan utama Penulis</strong>. Jika sudah mengalokasikan waktu untuk menulis, maka tidak boleh ada pekerjaan lain yang dikerjakan sampai pekerjaan utama selesai (kecuali ada yang <em>urgent</em>).</p>



<p>Untuk pekerjaan-pekerjaan kecil yang hanya butuh waktu sebentar, Penulis bisa<strong> mencatatnya dulu di catatan </strong>agar tidak terlupa. Kalau bisa, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/">di catatan fisik yang selalu terlihat mata</a>. Kalau mencatatnya di ponsel, kemungkinan untuk melupakannya akan lebih besar.</p>



<p>Memang terdengar kontradiksi karena pada akhirnya pekerjaan &lt;5 menit tersebut ditunda juga. Namun, <strong>skala prioritas juga menjadi sesuatu yang tidak boleh diabaikan</strong>. Kita harus tahu mana pekerjaan yang diutamakan, bukan hanya dari durasi untuk menyelesaikannya.</p>



<p>Sejauh ini, Penulis merasakan manfaat dari penerapan metode ini dalam kesehariannya. Sekarang yang menjadi PR adalah bagaimana konsisten melakukannya. Tidak ada nanti.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 9 Desember 2025, terinspirasi dari dirinya yang sedang berusaha untuk menghilangkan kebiasaan menunda-nunda</p>



<p>Featured Image Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/gray-double-bell-clock-1037993/">Moose Photos</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/">Productivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Selama Bangun, Mata Kita Terus Terpapar Layar</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/selama-bangun-mata-kita-terus-terpapar-layar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/selama-bangun-mata-kita-terus-terpapar-layar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Oct 2024 15:43:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[gadget]]></category>
		<category><![CDATA[gawai]]></category>
		<category><![CDATA[layar]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[monitor]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7948</guid>

					<description><![CDATA[<p>Coba ingat-ingat aktivitas kita dalam sehari-hari mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi di malam hari. Seberapa banyak aktivitas yang melibatkan layar di perangkat elektronik, baik dari ponsel, laptop, hingga televisi? Penulis sendiri baru-baru ini menyadari bahwa dirinya hampir terpapar layar selama dirinya beraktivitas, mengingat pekerjaan dan hobi menulis Penulis sama-sama menuntut dirinya untuk selalu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/selama-bangun-mata-kita-terus-terpapar-layar/">Selama Bangun, Mata Kita Terus Terpapar Layar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Coba ingat-ingat aktivitas kita dalam sehari-hari mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi di malam hari. Seberapa banyak aktivitas yang melibatkan layar di perangkat elektronik, baik dari ponsel, laptop, hingga televisi? </p>



<p>Penulis sendiri baru-baru ini menyadari bahwa dirinya hampir terpapar layar selama dirinya beraktivitas, mengingat pekerjaan dan hobi menulis Penulis sama-sama menuntut dirinya untuk selalu berada di hadapan layar.</p>



<p>Pada tulisan kali ini, Penulis ini melakukan interopeksi diri mengenai betapa panjangnya durasi dalam satu hari yang dihabiskan untuk menatap layar elektronik yang sejatinya memancarkan <em>blue light</em>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/banyaknya-pilihan-hiburan-di-satu-perangkat-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/banyaknya-pilihan-hiburan-di-satu-perangkat-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/banyaknya-pilihan-hiburan-di-satu-perangkat-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/banyaknya-pilihan-hiburan-di-satu-perangkat-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/banyaknya-pilihan-hiburan-di-satu-perangkat-banner.jpg 1280w " alt="Satu Perangkat, Banyak Hiburan" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/satu-perangkat-banyak-hiburan/">Satu Perangkat, Banyak Hiburan</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Penulis Menghabiskan Sebagian Besar Waktunya di Depan Layar</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-7955" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-1-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Hari-Hari Lihat Layar (<a href="https://www.st.lukes.org/an-addition-to-your-daily-social-media-scroll/">St. Luke&#8217;s</a>)</p>
</div></div>



<p>Penulis akan berbagai dari pengalamannya sendiri (di hari kerja) untuk menjelaskan bagaimana kita sangat sering terpapar layar sejak dari bangun tidur. Penulis tidak akan menggunakan contoh &#8220;rutinitas yang ideal,&#8221; melainkan menggunakan contoh keseharian yang sering dilakukan.</p>



<p>Pagi hari di saat waktu Shubuh, Penulis akan terbangun karena alarm ponsel dan tablet. Setelah menunaikan ibadah sholat, Penulis akan <strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/">kembali rebahan dan mengecek ponsel</a></strong>. Terkadang Penulis <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/">membaca buku</a> dulu, tapi lebih sering mengecek ponsel.</p>



<p>Seringnya, Penulis akan tertidur lagi sekitar 1-2 jam setelah bangun pagi. Penulis baru akan terbangun lagi menjelang <em>morning concall </em>dan <em>brainstorm </em>yang dilakukan setiap pagi jam 9. Kalau lagi malas, <strong>Penulis akan rapat di atas kasur, bisa menggunakan tablet maupun laptop</strong>.</p>



<p>Biasanya rapat pagi ini berlangsung sekitar 1 jam. Setelah itu, Penulis akan <strong>sarapan yang sering dilakukan sambil menonton YouTube</strong>. Selesai sarapan (Penulis sarapan cukup siang), Penulis akan kembali bekerja dan berhenti menjelang Dhuhur untuk mandi, rawat diri, dan sholat Dhuhur.</p>



<p>Antara waktu Dhuhur dan Maghrib adalah<strong> waktu utama Penulis untuk bekerja di depan PC</strong>. Karena <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/">memasang larangan untuk mengecek media sosial</a> atau bermain <em>game</em> di jam kerja, Penulis biasanya beristirahat sambil membaca buku, tidur sejenak, atau sekadar bermain dengan kucing.</p>



<p>Masuk jam istirahat di malam hari, biasanya Penulis habiskan dengan <strong>cek media sosial ataupun menonton YouTube </strong>di televisi ruang keluarga bersama ibu. Makan malam pun seringnya dilakukan sambil menonton televisi.</p>



<p>Jam 9 ke atas, biasanya Penulis kembali masuk ke kamar dan <strong>mulai menulis artikel blog di depan laptop</strong>. Setelah selesai, Penulis bisa <strong>kembali cek media sosial atau bermain <em>game</em> di tablet</strong>. Tak jarang juga Penulis <strong>menonton YouTube di televisi kamar </strong>sebelum akhirnya tidur.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Cara Mengurangi Durasi Melihat Layar</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-7954" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-2-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Buku Menjadi &#8220;Pelarian&#8221; yang Baik (<a href="https://www.pexels.com/photo/woman-reading-a-book-beside-the-window-1031588/">Rahul Shah</a>)</p>
</div></div>



<p>Dari cerita di atas, bisa dilihat kalau hampir seluruh kegiatan Penulis di hari kerja dilakukan dengan melihat layar, entah itu ponsel, tablet, laptop, maupun PC. Mau serius, mau santai, semua berkaitan dengan layar.</p>



<p>Bisa dibilang, hanya ada lima aktivitas yang tidak melibatkan layar sama sekali, yakni ketika <strong>sholat</strong>, <strong>membaca buku</strong>, <strong>bermain kucing</strong>, <strong>mandi</strong>, dan <strong>tidur</strong>. Ini menunjukkan bahwa betapa tergantungnya Penulis terhadap perangkat-perangkat elektronik untuk menjalani kesehariannya.</p>



<p>Penulis merasa kalau ini bukan gaya hidup yang sehat. Meskipun pekerjaannya menuntut untuk sering melihat layar, Penulis harusnya bisa mengimbanginya dengan aktivitas-aktivitas lain yang tidak membutuhkan layar.</p>



<p><strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Membaca buku</a> </strong>jelas menjadi opsi yang paling menyenangkan bagi Penulis. Buku bisa menjadi jeda sejenak dari layar sekaligus sebagai penambah wawasan bagi dirinya. Namun, &#8220;daya&#8221; baca Penulis sudah tidak seperti dulu. Mentok-mentok satu jam sudah lelah, kecuali sedang membaca novel yang seru.</p>



<p>Selain itu,<strong> olahraga <em>outdoor</em> seperti lari pagi juga bisa menjadi aktivitas yang sehat</strong>. Dulu Penulis cukup rutin melakukannya, bahkan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya/">bisa menyebuhkan insomnia yang dideritanya</a>. Namun, belakangan ini entah mengapa rasanya sangat berat untuk melakukannya.</p>



<p><strong>Mencari hobi <em>offline</em> yang tidak membutuhkan layar </strong>juga bisa menjadi alternatif. Contoh yang paling gampang tentu saja bermain <em>board game</em> seperti yang sering Penulis lakukan di akhir pekan bersama <em>circle</em>-nya. Tidak hanya bermain, Penulis juga bisa mengobrol dengan teman-temannya.</p>



<p>Hobi <em>offline </em>lain yang bisa menyita waktu kita adalah<strong> </strong><a href="https://whathefan.com/renungan/filosofi-merakit-gundam/">merakit <em>model kit</em> seperti Gundam</a>, LEGO, dan sejenisnya. Masih ada banyak hobi <em>offline</em> lainnya yang bisa dilakukan, seperti berkebun, futsal, memancing, memasak, menggambar, main musik, dan lainnya. </p>



<p>Penulis juga ingin <strong>mengurangi kebiasaan makan sambil nonton YouTube</strong>. Walau kesannya <em>multitasking</em>, aktivitas makan sebenarnya bisa menjadi jeda yang baik. Apalagi, sudah seharusnya kita fokus dengan makanan yang ada di hadapan kita dan bersyukur masih bisa menikmatinya.</p>



<p><strong>Kegiatan lain yang perlu dikurangi adalah bermain media sosial</strong>. Aktivitas yang satu ini telah terbukti sebagai penyedot waktu terbesar. Walau sudah membatasi diri sekitar 1-2 jam per hari, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/smartphone-adalah-distraksi-terberat-untuk-produktivitas/">Penulis merasa itu masih terlalu banyak dan bisa dikurangi lagi agar lebih produktif</a>. </p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Mungkin karena kebetulan saja pekerjaan Penulis menuntut dirinya untuk melihat layar seharian. Apalagi, Penulis masih <em>work from home </em>sampai sekarang. Jadi, tulisan ini bisa jadi tidak <em>related </em>kepada orang-orang yang pekerjaannya tidak selalu mengharuskan mereka untuk melihat layar.</p>



<p>Namun, bagi para Pembaca yang juga menjalani rutinitas seperti Penulis, semoga saja tulisan ini bisa membantu menyadarkan betapa seringnya mata kita terpapar layar elektronik dan mulai mencari alternatif aktivitas lain yang lebih sehat.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 1 Oktober 2024, terinspirasi setelah menyadari bahwa dirinya hampir selalu menatap layar monitor dalam banyak bentuk</p>



<p>Sumber Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/blackskined-man-using-smart-phones-and-ipads-9783835/">Ron Lach</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/selama-bangun-mata-kita-terus-terpapar-layar/">Selama Bangun, Mata Kita Terus Terpapar Layar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/selama-bangun-mata-kita-terus-terpapar-layar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Catatan yang Selalu Terlihat oleh Mata</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Aug 2024 16:40:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[catatan]]></category>
		<category><![CDATA[lupa]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7736</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis merasa kalau dirinya adalah orang yang pelupa. Bukan tipe yang lupa tanggal ulang tahun seseorang, lebih ke pelupa untuk task apa yang harus diselesaikan. Jika task tersebut tidak dicatat, biasanya akan mudah terlupa begitu saja. Untuk mengatasi hal ini, Penulis berupaya untuk mengatasinya dengan memanfaatkan aplikasi Microsoft To-Do List yang ter-install di PC maupun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/">Pentingnya Catatan yang Selalu Terlihat oleh Mata</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis merasa kalau dirinya adalah orang yang pelupa. Bukan tipe yang lupa tanggal ulang tahun seseorang, lebih ke pelupa untuk <em>task </em>apa yang harus diselesaikan. Jika <em>task </em>tersebut tidak dicatat, biasanya akan mudah terlupa begitu saja. </p>



<p>Untuk mengatasi hal ini, Penulis berupaya untuk mengatasinya dengan memanfaatkan aplikasi Microsoft To-Do List yang ter-<em>install </em>di PC maupun ponselnya. Namun, sudah menggunakan ini pun terkadang Penulis lupa untuk mengeceknya!</p>



<p>Penulis berusaha untuk mencari solusi lain. Lantas, Penulis teringat akan isi buku <em>Atomic Habit </em>di mana salah satu cara untuk membuat kebiasaan bisa terbentuk adalah dengan membuatnya mudah terlihat. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/02/antara-perubahan-dan-keberlanjutan-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/02/antara-perubahan-dan-keberlanjutan-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/02/antara-perubahan-dan-keberlanjutan-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/02/antara-perubahan-dan-keberlanjutan-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/02/antara-perubahan-dan-keberlanjutan-banner.jpg 1280w " alt="Mengamati Pilpres 2024 Bagian 1: Antara Perubahan dan Keberlanjutan" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/politik-negara/mengamati-pilpres-2024-bagian-1-antara-perubahan-dan-keberlanjutan/">Mengamati Pilpres 2024 Bagian 1: Antara Perubahan dan Keberlanjutan</a></div></div></div><p></p>


<p>Oleh karena itu, Penulis akhirnya memutuskan untuk menulis catatan yang selalu terlihat di depan mata. Bukan di gawai yang Penulis miliki, tapi benar-benar di buku catatan fisik dan ditulis secara manual pula.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Masih Perlu Catatan Fisik?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-7738" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-1536x864.jpg 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-2048x1152.jpg 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Penulis sudah menyinggung kalau dirinya telah mencoba menggunakan aplikasi Microsoft To-Do List untuk mencatat berbagai <em>task </em>agar tidak lupa dikerjakan. Apalagi, aplikasi tersebut dilengkapi dengan fitur <em>reminder </em>untuk membantu mengingatkan kita.</p>



<p>Untuk pekerjaan-pekerjaan rutin, hal ini memang sangat membantu. Namun, ada yang tidak bisa di-<em>cover</em> oleh aplikasi ini setidaknya untuk Penulis:<strong> hal-hal yang muncul secara spontan</strong> <strong>dan tidak terencana</strong>. </p>



<p>Contohnya di sini adalah mencatat apa yang perlu dibahas untuk rapat besok. Mungkin <em>task </em>rapat di pagi hari bisa dimasukkan ke dalam aplikasi To-Do List, tapi isinya terkadang muncul secara tiba-tiba saat sedang mengerjakan <em>task </em>lain.</p>



<p><em>Lalu, mengapa tidak ditambahkan saja catatannya ke dalam aplikasi To-Do List?</em> Jawabannya adalah kembali lagi karena Penulis pelupa, Penulis kemungkinan besar akan lupa untuk mengeceknya! Akibatnya, hal tersebut pun jadi lupa untuk dibahas ketika rapat.</p>



<p>Penulis juga sempat berusaha menggunakan aplikasi Google Keep. Namun, masalahnya tetap sama,<strong> aplikasi ini tidak selalu langsung terlihat </strong>sehingga Penulis sering lupa untuk mengeceknya, bahkan ketika sudah memasang <em>reminder</em>.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis membutuhkan sebuah media yang akan 24 jam terlihat oleh mata. <strong>Buku catatan fisik</strong>, yang mungkin sudah terasa <em>old school</em>, akhirnya menjadi pilihan utama. Buku catatan ini akan terus berada di atas meja kerja Penulis dan selalu terbuka saat jam kerja.</p>



<p>Berhubung Penulis punya hobi menulis manual, kegiatan mencatat ini Penulis buat semenarik mungkin dengan menambahkan batas dengan berbagai warna beserta tanggal yang ditulis menggunakan huruf latin. Hobi yang aneh memang untuk seorang laki-laki.</p>



<p>Memang ada kekurangannya mencatat secara manual seperti ini, seperti <strong>catatan yang telah dituliskan akan sulit untuk ditelusuri dan diarsipkan</strong>. Namun, buku catatan ini<strong> </strong>memang Penulis gunakan untuk sesuatu yang bersifat spontan dan berjangka pendek.</p>



<p>Setiap pagi, Penulis akan membaca buku catatan ini untuk memastikan tidak ada <em>task </em>atau poin yang harus diselesaikan. Meskipun terkadang masih <em>miss</em>, Penulis merasa metode ini berhasil meminimalisirnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Tidak Menggunakan Medium Lain?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043142-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7745" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043142-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043142-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043142-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043142.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Sebenarnya, Penulis memiliki tablet yang telah dilengkapi dengan <em>stylus </em>karena pada dasarnya Penulis memang masih suka menulis secara manual, yang juga menjadi salah satu alasan mengapa Penulis membeli tablet tersebut.</p>



<p>Namun, makin ke sini, <em>stylus </em>tersebut makin jarang digunakan. Seandainya menulis di tablet pun, pada akhirnya <strong>catatan tersebut akan tenggelam begitu saja</strong> dan kerap lupa untuk mengeceknya kembali.</p>



<p>Selain itu, layar tablet akan mengunci secara otomatis jika lama tidak digunakan, sama seperti ponsel. Jika menyalakannya terus seharian dan menonaktifkan mode <em>auto-lock-</em>nya, tentu akan membuat baterainya cepat habis. </p>



<p>Dengan demikian, seandainya Penulis membuat catatan di tablet sebagai pengingat, tentu tidak efektif karena <strong>harus berkali-kali menyalakan tablet</strong>. Apalagi, tablet ini juga kerap Penulis gunakan sebagai layar kedua</p>



<p>Penulis sempat mengandalkan Sticky Notes sebagai pengingat. Selain bisa ditempel di mana-mana, Sticky Notes kerap berwarna cerah sehingga akan mencuri perhatian kita saat akan bekerja. Tentu ini jadi pengingat yang mudah kita <em>notice</em>, bukan?</p>



<p>Sayangnya, Sticky Notes pun bagi Penulis kurang efektif. Pertama, <strong>Sticky Notes harus ditempel di suatu tempat</strong>. Kamar Penulis yang sudah penuh dengan barang jelas tidak memiliki tempat kosong untuk hal tersebut.</p>



<p>Kedua, <strong>Sticky Notes yang sudah dipasang sulit untuk di-<em>edit</em></strong>. Padahal, Penulis suka menambahkan catatan tambahan menggunakan tinta merah yang biasanya berfungsi sebagai penanda kalau <em>task </em>tersebut sudah diselesaikan atau sudah dibahas dalam rapat.</p>



<p>Ketiga,<strong> Sticky Notes bisa berceceran ke mana-mana jika sudah terlalu banyak</strong>. Padahal, setiap hari ada cukup banyak hal yang perlu Penulis catat secara manual. Penulis tidak bisa membayangkan bagaimana rupa kamarnya jika menempel terlalu banyak Sticky Notes.</p>



<p>Berdasarkan pengalaman tersebut, Penulis memutuskan untuk memanfaatkan buku catatan dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Penulis menganggap kalau buku catatan ini adalah otak kedua Penulis dalam bentuk fisik.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 26 Agustus 2024, terinspirasi setelah menyadari betapa pentingnya catatan yang harus selalu terlihat</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/person-holding-orange-pen-1925536/">lil artsy</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/">Pentingnya Catatan yang Selalu Terlihat oleh Mata</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Saya Hilangkan Kebiasaan Buruk Dikit-Dikit Cek HP</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Jul 2024 16:12:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[distraksi]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[smartphone]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7637</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang suwung atau menganggur, apa yang akan Pembaca lakukan pertama kali? Kalau Penulis, satu hal yang sangat mungkin dilakukan adalah mengecek ponselnya, entah untuk mengecek pesan WhatsApp yang masuk ataupun scrolling media sosial. Parahnya lagi, Penulis kerap berganti-ganti platform ketika sudah cek HP. Bosan buka Instagram, pindah ke X. Bosan di X, pindah ke [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/">Cara Saya Hilangkan Kebiasaan Buruk Dikit-Dikit Cek HP</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang <em>suwung </em>atau menganggur, apa yang akan Pembaca lakukan pertama kali? Kalau Penulis, satu hal yang sangat mungkin dilakukan adalah <strong>mengecek ponselnya</strong>, entah untuk mengecek pesan WhatsApp yang masuk ataupun <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/"><em>scrolling </em>media sosial</a>.</p>



<p>Parahnya lagi, Penulis kerap berganti-ganti platform ketika sudah cek HP. Bosan buka Instagram, pindah ke X. Bosan di X, pindah ke YouTube. Bosan di YouTube, pindah ke Pinterest. Begitu terus hingga screentime ponsel Penulis menjadi berjam-jam.</p>



<p>Penulis sebenarnya menyadari kalau sedikit-sedikit mengecek ponsel merupakan kebiasaan yang buruk karena seolah-olah otak ini tidak boleh diberi jeda sedikit pun dari konsumsi-konsumsi konten. Otak (dan organ tubuh lainnya) ini seolah tidak boleh istirahat. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/10/haruskah-ole-out-banner2-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/10/haruskah-ole-out-banner2-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/10/haruskah-ole-out-banner2-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/10/haruskah-ole-out-banner2-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/10/haruskah-ole-out-banner2.jpg 1280w " alt="Haruskah Ole Out? Iya, Ole HARUS Out!" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/haruskah-ole-out-iya-ole-harus-out/">Haruskah Ole Out? Iya, Ole HARUS Out!</a></div></div></div><p></p>


<p>Padahal, jeda sejenak dari segala kegiatan dan konsumsi konten bagus untuk otak. Membiarkan pikiran mengembara atau merenung terkadang menjadi sesuatu yang kita butuhkan di tengah berbagai tuntutan hidup.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis pun berusaha mengurangi ketergantungan dirinya yang sedikit-sedikit mengecek ponsel. Awalnya memang sangat sulit karena sudah menjadi kebiasaan, tapi lama-kelamaan Penulis mulai terbiasa untuk menjauhinya dan menggantinya dengan aktivitas lain.</p>



<p>Pada tulisan kali ini, Penulis ingin berbagi pengalaman dirinya berusaha mengurangi kebiasaan buruk ini untuk bisa meningkatkan produktivitas dirinya. Penulis tidak membuat daftarnya berdasarkan riset mendalam, hanya dari pengalaman pribadinya saja.</p>



<h2 class="wp-block-heading">1. Memberikan Batasan ke Aplikasi</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7684" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Aplikasi Rekomendasi Penulis (<a href="https://www.opal.so/blog/opal-the-1-screen-time-app">Opal</a>)</figcaption></figure>



<p>Hampir semua media sosial menghadirkan konten tak terbatas yang bertujuan untuk membuat kita betah berlama-lama di platform mereka. Akibatnya, kita suka lupa waktu jika sudah bermain media sosial, terutama jika sedang mengonsumsi konten-konten video pendek.</p>



<p>Penulis termasuk yang kesulitan untuk mengerem kebiasaan buruk ini, sehingga membutuhkan bantuan<em> </em>aplikasi. Untungnya, hampir di semua ponsel pintar saat ini telah memiliki fitur untuk membatasi penggunaan aplikasi dalam jangka waktu panjang.</p>



<p>Namun, Penulis merasa aplikasi bawaan tersebut kurang ketat karena bisa kita ubah dengan mudah. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk menggunakan aplikasi yang lebih ketat seperti <strong>AppBlock </strong>dan <strong>Opal</strong>. Jika batas durasinya sudah lewat, maka Oval tersebut akan otomatis memblokir aplikasi tersebut.</p>



<p>Di ponsel, Penulis memberi batasan penggunaan semua media sosial 1,5 jam per hari, mulai dari YouTube, Instagram, X, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">TikTok</a>, hingga <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/threads-the-right-thing-at-the-right-time/">Threads</a>. Durasi 1,5 jam bukan untuk per aplikasi, tapi kombinasi dari semuanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">2. Menjauhkan Ponsel dari Jangkauan</h2>



<p>Cara pertama yang sering Penulis lakukan adalah menjauhkan ponsel sejauh mungkin dari jangkauannya. Biasanya ini Penulis terapkan ketika kerja, di mana Penulis meletakkan ponselnya di tempat yang tidak kelihatan hingga lupa di mana menaruhnya.</p>



<p>Cara ini cukup efektif jika Penulis ingin <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/smartphone-adalah-distraksi-terberat-untuk-produktivitas/">mengurangi distraksi ketika jam kerja</a>, apalagi <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/agar-wfh-tetap-produktif/">Penulis <em>work from home</em></a>. Penulis harus bisa mendisiplinkan diri sendiri karena tidak ada orang lain yang mengawasi. Alhasil, <em>screentime </em>Penulis terutama di jam kerja (9-6) bisa berkurang drastis. </p>



<p>Tidak hanya itu, kita juga bisa mematikan notifikasi ponsel dengan mengubahnya ke Mode Hening atau mengaktifkan fitur Do Not Disturb. Dengan begitu, suara-suara notifikasi yang seolah tak ada habisnya itu bisa diredam dan tidak membuat kita merasa penasaran lagi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">3. Install WhatsApp atau Aplikasi Chat di PC/Laptop</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7685" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Install Aplikasi WhatsApp Dekstop (<a href="https://www.cnet.com/tech/services-and-software/whatsapps-new-desktop-app-for-windows-how-to-download-it-on-your-pc/">CNET</a>)</figcaption></figure>



<p>Salah satu alasan mengapa Penulis suka mengecek ponselnya adalah karena ingin memeriksa apakah ada pesan WhatsApp yang masuk. Oleh karena itu, Penulis memilih untuk meng-<em>install</em> aplikasi WhatsApp versi<em> </em>PC, sehingga dirinya tak perlu lagi mengecek ponsel.</p>



<p>Kebetulan, di tempat kerja Penulis WhatsApp menjadi media utama untuk berkomunikasi, sehingga tidak mungkin Penulis tidak memeriksa WhatsApp. Bahkan, Penulis menggunakan layar kedua menggunakan tablet untuk selalu menampilkan WhatsApp, karena Penulis juga punya kebiasaan buruk sedikit-sedikit cek WhatsApp.</p>



<p>Tidak hanya WhatsApp, semua aplikasi <em>chat </em>yang Penulis gunakan juga Penulis <em>install </em>di PC, mulai dari Skype hingga Discord. Dengan demikian, tidak ada lagi alasan <em>urgent </em>untuk mengecek ponsel di jam kerja.</p>



<h2 class="wp-block-heading">4. Jangan Gunakan Ponsel Sebagai Alarm Pagi</h2>



<p>Selain godaan di kala menganggur dan di jam kerja, salah satu godaan terbesar untuk mengecek ponsel adalah di pagi hari. Penulis punya kebiasaan buruk setelah mematikan alarm, Penulis akan membuka aplikasi media sosial sebentar.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis menyarankan untuk menggunakan alarm konvensional di pagi hari, bukan alarm yang ada di ponsel. Kalau perlu, jauhkan juga ponsel dari jangkauan sebelum tidur. </p>



<p>Selain itu, tentukan jam berapa ponsel boleh mulai dicek, misalnya pukul tujuh pagi setelah <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutinitas pagi telah selesai dituntaskan</a>. Namun, jika boleh jujur, di antara semua poin yang ada di artikel ini, poin inilah yang sampai sekarang masih Penulis sulit terapkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">5. Sibukkan Diri dengan Kegiatan Bermanfaat</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7686" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Baca Buku Favoritmu (<a href="https://www.pexels.com/@adilgkkya/">Adil via Pexels</a>)</figcaption></figure>



<p>Salah satu pemicu kita kerap mengecek ponsel adalah karena <em>suwung</em> atau sedang menganggur, seperti yang sudah Penulis singgung di atas. Oleh karena itu, kita harus kreatif mengisi waktu kosong kita dengan aktivitas lain.</p>



<p>Melakukan hobi adalah salah satu cara yang menyenangkan untuk mengisi waktu luang. Kalau Penulis, biasanya akan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/">membaca buku</a> atau menulis artikel. Kedua aktivitas ini lumayan ampuh bagi Penulis untuk tidak mengecek ponsel.</p>



<p>Di malam hari setelah jam kerja, biasanya Penulis menyempatkan diri untuk menemani ibu menonton televisi. Meskipun bukan kegiatan yang produktif, setidaknya menemani ibu menjadi aktivitas yang bermanfaat sekaligus melepas penat setelah seharian bekerja.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Berselancar di media sosial untuk mencari hiburan bukan hal yang salah. Yang salah adalah jika dilakukan secara berlebihan hingga lupa waktu. Waktu yang kita miliki di dunia ini terbatas, sehingga sayang jika tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya.</p>



<p>Penulis merasa bahwa dirinya sudah terlalu <em>attach </em>dengan ponsel, sehingga muncul kebiasaan sedikit-sedikit ingin mengecek ponsel. Menyadari kekurangan ini, Penulis pun berusaha untuk melakukan tips-tips yang telah disebutkan di atas. </p>



<p>Semoga saja tulisan ini bisa membantu Pembaca yang juga mengalami kesulitan seperti Penulis.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 22 Juli 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau dirinya kerap kali mengecek HP-nya setiap tidak ada aktivitas</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/selective-focus-photography-of-person-using-iphone-x-1542252/">Kerde Severin</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/">Cara Saya Hilangkan Kebiasaan Buruk Dikit-Dikit Cek HP</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Jun 2024 16:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[baca]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[detox]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7513</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak kecil, Penulis sudah gemar membaca walau jenisnya baru sebatas komik dan ensiklopedia anak. Semakin dewasa, variasi bacaan Penulis pun bertambah, seperti novel, sejarah, pengembangan diri, biografi, hingga filsafat. Namun, ada masa ketika Penulis benar-benar tidak membaca sama sekali. Hobi yang dulu sangat menyenangkan menjadi menjemukan dan terasa berat. Buku-buku yang sudah beli ditumpuk begitu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sejak kecil, Penulis sudah gemar membaca walau jenisnya baru sebatas komik dan ensiklopedia anak. Semakin dewasa, variasi bacaan Penulis pun bertambah, seperti novel, sejarah, pengembangan diri, biografi, hingga filsafat.</p>



<p>Namun, ada masa ketika Penulis benar-benar tidak membaca sama sekali. Hobi yang dulu sangat menyenangkan menjadi menjemukan dan terasa berat. Buku-buku yang sudah beli ditumpuk begitu saja, bahkan beberapa masih dibungkus plastik. </p>



<p>Ketika direnungkan, mungkin salah satu penyebabnya adalah <strong>Penulis terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial</strong>. Konten pendek yang muncul tanpa batas tersebut seolah &#8220;menjebak&#8221; Penulis untuk tidak mengonsumsi konten panjang.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/perihal-meninggalkan-dan-ditinggalkan-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/perihal-meninggalkan-dan-ditinggalkan-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/perihal-meninggalkan-dan-ditinggalkan-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/perihal-meninggalkan-dan-ditinggalkan-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/perihal-meninggalkan-dan-ditinggalkan-banner.jpg 1280w " alt="Perihal Meninggalkan dan Ditinggalkan" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/rasa/perihal-meninggalkan-dan-ditinggalkan/">Perihal Meninggalkan dan Ditinggalkan</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Konten Pendek Membuat Kita Malas Mengonsumsi Konten Panjang</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7516" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Konten Pendek Media Sosial Membuat Kita Lupa Waktu (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-man-in-white-dress-shirt-holding-phone-near-window-859265">Andrea Piacquadio</a>)</figcaption></figure>



<p>Dalam tulisan <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/">Alasan Kenapa “Mindless Scrolling” adalah Pelarian yang Buruk</a></em>, Penulis sudah pernah berpendapat kalau salah satu bahaya dari konten-konten pendek di media sosial adalah <strong>membuat kita tidak tahu kapan harus berhenti</strong>.</p>



<p>Berbeda dengan menonton video panjang di YouTube di mana kita bisa menentukan konten mana yang ingin kita tonton, konten pendek di TikTok, Reels, maupun Shorts selalu menghadirkan konten baru yang tidak kita rencanakan untuk kita tonton. Semua berdasarkan algoritma. </p>



<p>Adanya unsur &#8220;kejutan&#8221; membuat kita mendapatkan dopamin dari sana, sehingga di dalam otak seolah ada <em>mindset </em>untuk terus mencari konten yang akan memberikan kita kebahagiaan. Masalahnya, ini bisa berlangsung selama berjam-jam tanpa disadari.</p>



<p>Penulis sendiri merasa kalau dirinya bisa terjebak berjam-jam jika sudah melakukan <em>scrolling-scrolling </em>di media sosial. Yang rencananya cuma 5 menit bisa bertambah hingga 2 jam. Tentu ini sangat berpengaruh kepada produktivitas sehari-hari.</p>



<p>Permasalahan lain adalah karena otak terbiasa dengan konten pendek yang menyajikan info secara cepat dan singkat, <strong>kita jadi tidak terbiasa (baca: malas) untuk mengonsumsi konten yang lebih panjang dan lengkap</strong>. </p>



<p>Konten panjang yang Penulis maksud di sini bisa berbentuk buku, jurnal, film, dokumenter, serial, dan lain sebagainya. Konten panjang membutuhkan &#8220;dedikasi&#8221; kita untuk menghabiskan beberapa jam (bahkan hari) yang kita miliki untuk menyelesaikannya.</p>



<p>Di sisi lain, konten pendek akan langsung habis secara instan dalam hitungan detik atau menit. Dalam sekejap, kita bisa mendapatkan sesuatu entah itu ilmu ataupun hiburan. Dalam beberapa jam, entah berapa info yang masuk ke dalam otak kita, walau kebanyakan akan langsung terlupakan.</p>



<p>Konten panjang <strong>memiliki batas yang jelas kapan dia akan selesai</strong>. Konten pendek memang cuma berdurasi beberapa detik/menit, tapi konten-konten selanjutnya akan terus bermunculan tanpa habis. Inilah yang berbahaya dari mengonsumsi konten pendek di media sosial.</p>



<p>Mungkin akan ada yang berargumen kalau konten pendek seperti itu akan sangat berguna untuk menghemat waktu, Itu ada benarnya, tapi terkadang kita membutuhkan informasi yang lebih lengkap, bukan yang sepotong-sepotong.</p>



<p>Menurut Penulis, netizen kita sering ribut di internet juga salah satunya adalah kebiasaan ini. Kita jadi merasa paling tahu hanya bermodalkan konten-konten pendek. Padahal, kebijaksanaan tertinggi menurut Socrates adalah mengetahui kalau kita ini tidak tahu apa-apa. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Buku Bisa Menjadi Penyelamat Penulis</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7517" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Membaca Sebagai Sarana untuk Mengurangi Candu Media Sosial (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-reading-a-book-5634667/">Monstera Production</a>)</figcaption></figure>



<p>Biasanya, ketika mulai menyadari bahwa dirinya sudah terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial, Penulis akan melakukan <em>detox</em> untuk sementara waktu. Tidak sampai tidak mengecek media sosialnya, tapi cukup mengurangi durasinya per hari.</p>



<p>Untuk itu, Penulis menggunakan berbagai <strong>aplikasi yang bisa melimitasi penggunaan media sosial</strong>. Ini tentu harus diiringi oleh niat yang kuat, karena godaan untuk mengubah limitasinya sangat besar dan mudah dilakukan. </p>



<p>Penulis benar-benar berusaha untuk mematuhi batasan penggunaan media sosial di gawainya, walau terkadang masih indisipliner. Harusnya, kalau memang sudah <em>limit</em>, ya sudah, jangan diubah batas durasinya, jangan dibuka aplikasi pembatasnya untuk menghapus <em>limit </em>yang sudah dibuat.</p>



<p>Ketika tidak bisa mengecek media sosial (yang sudah menjadi kebiasaan), tentu kita butuh aktivitas lain untuk mengalihkan fokus kita. Jelas setiap orang memiliki preferensi aktivitasnya masing-masing, tapi kalau <strong>Penulis pribadi memilih media buku</strong>, &#8220;kawan lama&#8221; yang sudah menjadi hobi Penulis sejak lama.</p>



<p>Untuk bisa membangkitkan minat bacanya kembali, Penulis memutuskan untuk <strong>membaca buku yang benar-benar menarik minatnya</strong>, bisa buku lama maupun buku baru. Contoh buku yang berhasil membuat Penulis bersemangat membaca adalah <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-keajaiban-toko-kelontong-namiya/">Keajaiban Toko Kelontong Namiya.</a></em></p>



<p>Tidak hanya karya fiksi, Penulis juga memilih buku non-fiksi dengan topik yang menarik minatnya. Contoh, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">Penulis suka sejarah</a>, maka Penulis membeli buku sejarah. Buku sejarah yang sedang dibaca saat ini adalah <em>Sejarah Prancis </em>dan <em>Memahami Jepang.</em></p>



<p>Bahkan, Penulis juga mulai membeli komik lagi seperti ketika masih muda dulu. Contoh, Penulis telah membeli semua komik <em>Dragon Ball Super </em>dari volume 1 sampai 19. Jika sukanya baca komik, ya tidak apa. Aktivitas membaca tidak selalu dikonotasikan belajar, karena membaca juga bisa menjadi sarana hiburan.</p>



<p>Penulis bukan tipe pembaca yang harus menghabiskan satu buku dulu baru berpindah ke buku lain. Saat ini saja, ada belasan buku dengan berbagai genre/topik yang sedang Penulis baca secara bersamaan. Penulis tinggal memilih mau membaca yang mana hari ini, tergantung <em>mood</em>-nya.</p>



<p>Inilah mengapa buku bisa menjadi penyelamat Penulis dari kecanduan konten pendek di media sosial: <strong>Penulis bisa bebas memilih buku apa yang akan dibaca</strong>. Hal ini tidak kita dapatkan dari TikTok, Reels, dan Shorts yang menghadirkan konten sesuai dengan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">algoritma mereka</a>.</p>



<p>Membaca juga menjadi pilihan Penulis karena dirinya memang tidak terlalu suka aktivitas menonton film atau serial. Apalagi, Penulis punya kebiasaan buruk ketika sudah menonton serial yang menarik: tidak bisa berhenti menonton semua episodenya sampau tamat. </p>



<p>Ini terjadi ketika Penulis mulai menonton serial <em>How I Met Your Mother</em>. Bahkan, <em>final season</em>-nya Penulis tamatkan dalam semalam. Karena alasan inilah Penulis menghindari menonton serial, karena percuma jika kecanduan kita di media sosial malah berpindah ke serial. </p>



<p>Kalaupun menonton konten di YouTube, jangan membuka Shorts. Penulis menonton YouTube di TV agar akses ke Shorts menjadi lebih sulit. Alhasil, Penulis pun hanya bisa memilih konten-konten yang berdurasi panjang, entah yang berbobot ataupun yang ringan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis merasa terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial tidak baik untuk dirinya, terutama karena mengganggu produktivitasnya. Untuk itu, ada beberapa hal yang Penulis lakukan, mulai dari membatasi durasi media sosial hingga menghabiskan waktunya lebih banyak untuk membaca.</p>



<p>Membaca buku fisik, setidaknya bagi Penulis, merupakan aktivitas yang bisa membantu Penulis menjauhi media sosial. Penulis bisa memilih buku mana yang akan Penulis baca, tidak seperti konten pendek di media sosial yang tidak bisa kita atur.</p>



<p>Penulis menyadari kalau membaca buku bukan aktivitas favorit banyak orang. Oleh karena itu, mungkin di tulisan berikutnya Penulis akan mencoba berbagai tips agar minat baca itu bisa tumbuh, terutama untuk Pembaca yang juga merasa butuh &#8220;lari&#8221; dari kecanduan konten-konten pendek di media sosial.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 24 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau dirinya mulai bersemangat untuk banyak membaca lagi</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-reading-book-5331072/">Monstera Production</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saya Menggunakan Notion untuk Mencatat Progres Artikel Whathefan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-menggunakan-notion-untuk-mencatat-progres-artikel-whathefan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-menggunakan-notion-untuk-mencatat-progres-artikel-whathefan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Jun 2024 15:27:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[jadwal]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Notion]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[scheduling]]></category>
		<category><![CDATA[tracker]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7319</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setiap awal tahun, Penulis pasti memiliki resolusi untuk bisa menulis artikel blog lebih rutin lagi. Selain karena diingatkan tagihan hosting dan domain tahunan yang jumlahnya lumayan, Penulis juga menyadari kalau setiap tahun produktivitasnya berkurang. Namun, pada akhirnya target tersebut sering meleset. Contohnya pada tahun ini, secara berurutan Penulis hanya menulis dua tulisan di Januari, tiga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-menggunakan-notion-untuk-mencatat-progres-artikel-whathefan/">Saya Menggunakan Notion untuk Mencatat Progres Artikel Whathefan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="https://whathefan.com/pengalaman/ini-adalah-tulisan-pertama-whathefan-di-tahun-2024/">Setiap awal tahun</a>, Penulis pasti memiliki resolusi untuk bisa menulis artikel blog lebih rutin lagi. Selain karena diingatkan tagihan <em>hosting </em>dan <em>domain </em>tahunan yang jumlahnya lumayan, Penulis juga menyadari kalau setiap tahun produktivitasnya berkurang.</p>



<p>Namun, pada akhirnya target tersebut sering meleset. Contohnya pada tahun ini, secara berurutan Penulis hanya menulis dua tulisan di Januari, tiga tulisan di Februari, 13 tulisan di Maret, delapan tulisan di April, dan tujuh tulisan di Mei. Total, 34 tulisan.</p>



<p>Penulis sendiri tidak tahu mengapa dirinya begitu kesulitan dalam mengalokasikan waktu untuk menulis artikel. Jika dibilang tidak ada waktu, rasanya itu hanya alasan saja karena <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/">Penulis menghabiskan waktu di depan layar ponsel/tablet sambil rebahan</a> cukup lama.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/IMG_6283-Copy-300x133.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/IMG_6283-Copy-300x133.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/IMG_6283-Copy-768x340.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/IMG_6283-Copy-1024x454.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/IMG_6283-Copy-356x158.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/IMG_6283-Copy.jpg 1361w " alt="Pengalaman Melamar Kerja di Net TV (Tahap Kedua dan Ketiga)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-net-tv-tahap-kedua-dan-ketiga/">Pengalaman Melamar Kerja di Net TV (Tahap Kedua dan Ketiga)</a></div></div></div><p></p>


<p>Setelah melakukan evaluasi diri, Penulis merasa kalau dirinya membutuhkan alat bantu yang bisa berperan sebagai &#8220;asisten pribadi.&#8221; Setelah mencoba berbagai platform, akhirnya Penulis merasa kalau <strong>Notion </strong>adalah asisten terbaik sejauh ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Membutuhkan Bantuan &#8220;Otak&#8221; Kedua</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="523" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-220507-1024x523.png" alt="" class="wp-image-7330" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-220507-1024x523.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-220507-300x153.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-220507-768x392.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-220507-1536x784.png 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-220507.png 1876w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Google Keeps Kurang Efektif</figcaption></figure>



<p>Selama ini, Penulis menggunakan berbagai metode untuk mencatat ide dan progres untuk blognya ini. Namun, yang Penulis gunakan beberapa waktu ke belakang adalah<strong> Samsung Notes </strong>dan <strong>Google Keeps</strong>. </p>



<p>Untuk ide yang baru judul saja, Penulis sering mencatatnya di Keeps karena simpel dan bisa diakses di banyak perangkat. Kalau ingin melakukan <em>breakdown </em>ide dan menjabarkan apa yang ingin dibahas, baru Penulis mencatatnya di Samsung Notes agar bisa menulis dengan tangan. </p>



<p>Masalahnya, metode tersebut benar-benar tidak efektif. Di Keeps, seringnya ide-ide tersebut tertumpuk begitu saja tanpa pernah dieksekusi. Akibatnya, Penulis pun sampai lupa sebenarnya ingin membahas apa dari ide tersebut.</p>



<p>Samsung Notes pun begitu. Karena ingin memanfaatkan fitur S-Pen dari tablet yang dimiliki, Penulis berusaha membiasakan untuk mencatat ide yang lebih jauh di Samsung Notes. Ini sempat berjalan selama beberapa bulan, tapi akhirnya berhenti karena <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/bahaya-mager-dan-apatis/">mager</a>.</p>



<p>Saat lebaran tahun ini, Penulis mampir ke toko buku dan menemukan sebuah buku berjudul <em>Building a Second Brain </em>karya Tiago Forte. Dari sinopsisnya yang menjelaskan betapa seringnya informasi hilang dari otak kita, Penulis jadi tertarik untuk membacanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Perjalanan Menemukan Platform Otak Kedua Terbaik</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/notion-whathefan-artikel-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7331" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/notion-whathefan-artikel-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/notion-whathefan-artikel-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/notion-whathefan-artikel-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/notion-whathefan-artikel.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Buku Building a Second Brain (<a href="https://www.youtube.com/watch?v=K-ssUVyfn5g">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p>Meskipun belum selesai membaca buku tersebut, Penulis menangkap esensi utamanya yang memanfaatkan teknologi untuk menjadi otak kedua kita karena keterbatasan otak utama kita dalam menyimpan informasi. Penulis pun terdorong untuk mencari platform otak kedua ini.</p>



<p>Pertama, Penulis coba mengoptimalkan aplikasi yang sudah sering digunakan, yakni <strong>Google Keeps</strong>. Sayangnya, Keeps terlalu sederhana sehingga tidak bisa membuat folder sesuai kebutuhan, kita hanya bisa memanfaatkan fitur Tags.</p>



<p>Selanjutnya Penulis mencoba <strong>Microsoft OneNote</strong>, yang sayangnya sekali lagi memiliki keterbatasan dalam membuat folder-folder. <strong>Evernote </strong>sebenarnya memiliki fitur yang cukup lengkap, tapi sayangnya mayoritas fitur mengharuskan kita berlangganan.</p>



<p>Setelah itu, Penulis mencoba beberapa aplikasi lain seperti Joplin, tapi tetap saja kurang srek. Akhirnya Penulis menemukan <strong>Notion</strong>, sebuah platform yang sebenarnya lebih banyak digunakan untuk proyek-proyek IT karena banjir fitur.</p>



<p>Penulis sempat merasa kalau Notion akan terasa terlalu <em>overkill </em>untuk sekadar mencatat ide artikel blog. Namun, Penulis merasa perlu untuk mencoba platform ini. Hasilnya, Penulis berhasil menemukan platform terbaik yang bisa Penulis gunakan untuk dijadikan otak kedua. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Notion Jadi Platform Terbaik untuk Penulis?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="555" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-02-225325-1024x555.png" alt="" class="wp-image-7329" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-02-225325-1024x555.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-02-225325-300x163.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-02-225325-768x416.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-02-225325-1536x832.png 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-02-225325.png 1920w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Semua Kebutuhan dalam Satu Layar</figcaption></figure>



<p>Ada banyak alasan mengapa Penulis akhirnya menjatuhkan pilihan pada Notion. Pertama, ada banyak <em>template </em>yang bisa Penulis manfaatkan. Tidak hanya untuk mencatat ide, Notion juga bisa Penulis manfaatkan sebagai <em>tracker </em>seperti yang terlihat pada gambar di atas.</p>



<p>Awalnya, Penulis memisahkan daftar ide beserta <em>breakdown</em>-nya dan progres artikel di catatan yang berbeda. Namun, setelah mencoba beberapa hari, Penulis merasa hal tersebut sama sekali tidak efektif, sehingga memutuskan untuk menjadikannya satu.</p>



<p>Progres dari setiap ide Penulis bagi menjadi enam bagian, yakni:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Ideas List:</strong> Berisi ide yang masih berupa judul saja</li>



<li><strong>Point List:</strong> Berisi ide yang sudah di-<em>breakdown </em>akan ada apa saja isinya</li>



<li><strong>Planned: </strong>Ide di Point List yang sudah dijadwalkan kapan akan tayang (sudah ditentukan <em>deadline</em>-nya)</li>



<li><strong>Drafted:</strong> Ide di Planned yang sudah dibuatkan <em>draft</em>-nya di WordPress</li>



<li><strong>Article Done:</strong> Ide di <em>draft </em>yang sudah ditayangkan</li>



<li><strong>Social Media Done: </strong>Artikel yang sudah tayang telah dibuatkan konten media sosialnya</li>
</ul>



<p>Karena antarmuka Notion juga menarik dan responsif, Penulis jadi merasa senang ketika menggunakannya. Bayangkan, untuk memindahkan ide dari satu bagian ke bagian lain, Penulis hanya perlu <em>drag and drop </em>saja tanpa ribet.</p>



<p>Notion juga bisa diakses di semua perangkat, yang membuatnya sangat fleksibel. Begitu Penulis menemukan inspirasi, maka Penulis tinggal mengeluarkan ponselnya dan mencatatnya di Notion dengan mudah.</p>



<p>Karena merasa sangat terbantu, Penulis pun mencoba mengeksplorasi fitur lain dari Notion. Beberapa yang sudah Penulis ketahui adalah bagaimana kita bisa melihat <em>tracker </em>di atas dalam bentuk <em>timeline </em>dan <em>table</em>. Contohnya bisa dilihat di bawah ini:</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="547" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-221659-1024x547.png" alt="" class="wp-image-7332" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-221659-1024x547.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-221659-300x160.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-221659-768x411.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-221659-1536x821.png 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-221659.png 1919w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Dari <em>timeline </em>di atas, Penulis jadi bisa melihat seberapa konsisten dirinya dalam menulis artikel blog. Sejak memutuskan untuk menggunakan Notion, Penulis sudah mencatatkan <em>streak </em>sebanyak 10 hari berturut-turut termasuk artikel ini.</p>



<p>Penulis dulu melakukan <em>tracking </em>menggunakan Google Sheets secara manual (dan melelahkan). Dalam catatan tersebut, terakhir kali Penulis mencatat <em>streak </em>sepanjang ini adalah pada bulan Oktober 2022 dengan 13 hari. Sudah selama itu Penulis inkonsisten.</p>



<p>Setidaknya sampai hari ini, Penulis merasa sangat terbantu dengan kehadiran Notion dan telah terbukti berhasil meningkatkan konsistensinya dalam memproduksi tulisan. Semoga saja <em>streak </em>ini bisa terus terjaga selama mungkin, seperti ketika awal-awal Penulis membuat blog ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Menggunakan Notion untuk mengelola ide-ide blog adalah langkah pertama Penulis dalam membuat otak keduanya. Ke depannya, Penulis ingin memanfaatkan Notion lebih jauh lagi untuk keperluan mencatat.</p>



<p>Satu hal yang ingin Penulis segera masukkan ke dalam Notion adalah catatan-catatannya yang berkaitan dengan dunia kerja seperti SEO dan <em>digital marketing, </em>yang saat ini tersebar di berbagai platform dan tidak terorganisir sama sekali. </p>



<p>Tidak hanya yang sudah dicatat, Penulis juga ingin mencatat berbagai <em>insight </em>dan pengetahuan seputar banyak hal, terutama yang berkaitan dengan penambahan <em>value </em>diri. <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/artikel-pada-tulisan-ini-dibuat-menggunakan-ai-chatgpt/">AI adalah salah satu topik paling seksi untuk didalami</a>.</p>



<p>Yang jelas, Notion benar-benar telah membantu Penulis dengan menjadi otak keduanya, walaupun saat ini masih terbatas untuk keperluan blog saja. Penulis merekomendasikan Notion untuk Pembaca yang merasa butuh aplikasi catatan dengan fitur yang berlimpah.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 4 Juni 2024, terinspirasi setelah dirinya menggunakan Notion untuk <em>blogging</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-menggunakan-notion-untuk-mencatat-progres-artikel-whathefan/">Saya Menggunakan Notion untuk Mencatat Progres Artikel Whathefan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-menggunakan-notion-untuk-mencatat-progres-artikel-whathefan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Smartphone adalah Distraksi Terberat untuk Produktivitas</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/smartphone-adalah-distraksi-terberat-untuk-produktivitas/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/smartphone-adalah-distraksi-terberat-untuk-produktivitas/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Jun 2023 07:10:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[distraksi]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[ponsel]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[smarpthone]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6597</guid>

					<description><![CDATA[<p>Banyak orang yang menginginkan hidup produktif. Namun, tidak banyak orang yang berhasil melakukannya. Beberapa alasannya adalah rasa malas, kurang motivasi, hingga adanya distraksi atau gangguan yang menghambat kita untuk produktif. Rasa malas atau kurang motivasi berasal dari internal, sehingga cara mengatasinya pun mau tidak mau harus dari diri sendiri. Kita harus bisa mengendalikan diri kita [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/smartphone-adalah-distraksi-terberat-untuk-produktivitas/">Smartphone adalah Distraksi Terberat untuk Produktivitas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Banyak orang yang menginginkan hidup produktif. Namun, tidak banyak orang yang berhasil melakukannya. Beberapa alasannya adalah <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-pemalas/">rasa malas</a>, kurang motivasi, hingga adanya distraksi atau gangguan yang menghambat kita untuk produktif.</p>



<p>Rasa malas atau kurang motivasi berasal dari internal, sehingga cara mengatasinya pun mau tidak mau harus dari diri sendiri. Kita harus bisa mengendalikan diri kita sendiri untuk bisa mengusir hal-hal yang menghambat produktivitas tersebut.</p>



<p>Nah, lain halnya dengan adanya distraksi yang kerap datang dari luar atau eksternal diri kita. Bentuknya pun macam-macam. Namun, ada satu distraksi yang Penulis anggap sebagai yang terbesar sekaligus terbesar, yaitu <strong>adanya <em>smartphone</em> alias ponsel pintar</strong>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/20180115_174240-300x225.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/20180115_174240-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/20180115_174240-768x576.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/20180115_174240-1024x768.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/20180115_174240-340x255.jpg 340w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/20180115_174240.jpg 2048w " alt="Mengasah Rasa dengan Sastra" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/mengasah-rasa-dengan-sastra/">Mengasah Rasa dengan Sastra</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Smartphone adalah Distraksi Terbesar?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/smartphone-adalah-distraksi-terberat-untuk-produktivitas-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6600" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/smartphone-adalah-distraksi-terberat-untuk-produktivitas-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/smartphone-adalah-distraksi-terberat-untuk-produktivitas-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/smartphone-adalah-distraksi-terberat-untuk-produktivitas-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/smartphone-adalah-distraksi-terberat-untuk-produktivitas-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Distraksi Terbesar Saat Bekerja atau Belajar (<a href="https://www.pexels.com/id-id/foto/tangan-iphone-smartphone-laptop-5077039/">cottonbro studio</a>)</figcaption></figure>



<p>Selama beberapa tahun terakhir, <em>smartphone </em>kita terus berevolusi menjadi sebuah gawai yang sangat canggih, hingga seolah-olah kita bisa melakukan semua hal menggunakannya. Ini semakin dilengkapi dengan berbagai aplikasi yang jumlahnya mungkin mencapai jutaan.</p>



<p>Salah satu dampak terbesar yang dihasilkan oleh <em>smartphone </em>adalah meningkatnya interaksi antarmanusia hingga seolah tak berbatas ruang dan waktu. Kita bisa melihat berbagai kejadian di seluruh dunia hanya dalam kedipan mata saja melalui media sosial.</p>



<p>Ada banyak pilihan media sosial yang bisa kita gunakan, mulai Facebook, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/twitter-dan-tuntutan-kesempurnaannya/">Twitter</a>, Instagram, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">TikTok</a>, hingga Pinterest. Sarana hiburan untuk menonton tayangan visual pun banyak, mulai yang gratis seperti YouTube hingga yang berbayar seperti <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/netflix-dan-fenomena-disrupsi-yang-tengah-dihadapinya/">Netflix</a>, Disney+, Vidio, dan lainnya.</p>



<p>Jangan lupakan juga judul-judul <em>game </em>yang bisa membuat kita melupakan kehidupan kita sejenak di dunia nyata. Ada yang menyukai <em>game </em>kompetitif seperti <em>Mobile Legends </em>dan <em><a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-menyebar-screenshot-pubg/">PUBG Mobile</a></em>, ada juga yang suka bertualang di <em>Genshin Impact</em>.</p>



<p>Masih banyak yang bisa kita lakukan melalui <em>smartphone</em>, seperti membaca berita, membaca komik, melihat meme, membuat konten viral, dan lain sebagainya. <strong>Banyaknya aktivitas yang bisa dilakukan inilah yang membuat <em>smartphone </em>menjadi distraksi yang luar biasa</strong>.</p>



<p>Bayangkan, setelah merasa bosan dengan Instagram, beralik ke TikTok. Begitu bosan, pindah lagi ke Twitter. Bosan lagi, pindah main <em>game</em>. Capek, <em>refreshing </em>dengan menonton YouTube. Putaran aktivitas ini seolah tak pernah berhenti mengisi hari-hari kita.</p>



<p>Apalagi, kini semakin banyak platform yang menyediakan fitur <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/">infinity scroll</a> </em>di mana kita secara tak terbatas diberikan konten video pendek. Berdasarkan pengalaman Penulis, fitur ini kerap membuat kita merasa lupa waktu karena tidak tahu kapan harus berhenti.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana agar Smartphone Tidak Menjadi Sebuah Distraksi?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="528" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Forest-1024x528.jpg" alt="" class="wp-image-6601" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Forest-1024x528.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Forest-300x155.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Forest-768x396.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Forest.jpg 1250w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Salah Satu Aplikasi yang Membantu Mengatasi Distraksi Smartphone (<a href="https://www.datingadvice.com/for-women/forest-app-helps-people-be-present-in-relationships">Dating Advice</a>)</figcaption></figure>



<p>Ketika sedang bekerja atau belajar, kita kerap beralih ke <em>smartphone </em>kita dengan dalih &#8220;<em>refreshing</em>&#8221; karena merasa suntuk. Niatnya hanya 5 menit, tahu-tahu bertambah menjadi 50 menit. Pekerjaan pun akhirnya tertunda, menumpuk, atau bahkan tidak selesai.</p>



<p>Penulis kerap berniat untuk menjalani hari yang produktif, seperti menulis beberapa artikel blog, membaca buku <em>self-improvement</em>, atau mulai menulis novel lagi. Namun, jika sudah main <em>smartphone </em>dan rebahan, niat tersebut pun sirna begitu saja, kalah oleh rasa malas.</p>



<p>Berdasarkan poin di atas, Penulis pun menganggap kalau <em>smartphone </em>adalah distraksi terbesar dalam produktivitas. Oleh karena itu, perlu dilakukan beberapa cara agar kita bisa menghindari distraksi tersebut semaksimal mungkin.</p>



<p>Kalau yang mau ekstrem, Penulis di jam kerja biasanya <strong>menjauhkan <em>smartphone </em>sejauh mungkin dari jangkauan</strong>. Dengan membuatnya &#8220;tidak terlihat&#8221;, rasa penasaran ingin mengeceknya pun bisa menjadi berkurang.</p>



<p>Lalu, apa yang bisa kita lakukan ketika merasa suntuk atau penat? Lakukan <strong>aktivitas fisik yang tidak melibatkan <em>smartphone</em></strong><em>.</em> Beberapa hal yang Penulis lakukan adalah baca buku, bermain bersama kucing, duduk melihat tanaman, hingga rebahan sejenak.</p>



<p>Seandainya tidak bisa menahan diri untuk mengecek <em>smartphone</em>, mungkin kita butuh bantuan aplikasi seperti <strong>Forest</strong> dan <strong>AppBlock</strong>. Bisa juga menggunakan fitur bawaan dari <em>smartphone </em>yang mengatur berapa jam maksimal kita menggunakan aplikasi tertentu.</p>



<p>Penulis merasa terbantu dengan aplikasi-aplikasi ini agar Penulis bisa berhenti membuka aplikasi-aplikasi tertentu di jam profuktif. Namun, terkadang diri kita pun &#8220;nakal&#8221; dan justru memilih untuk menghapus aplikasi-aplikasi tersebut.</p>



<p>Jadi, pada dasarnya <strong>semua kembali ke diri sendiri</strong>, apakah kita benar-benar ingin menghilangkan distraksi tersebut atau tidak. Kalau keinginan dan tekad kita benar-benar kuat, bahkan tanpa bantuan aplikasi pun kita bisa menyingkirkan distraksi tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Selain <em>smartphone</em>, tentu masih ada distraksi lain mengingat kebanyakan aplikasi-aplikasi yang ada di <em>smartphone </em>juga tersedia di laptop. Namun, setidaknya laptop tidak bisa digunakan sambil rebahan karena kurang nyaman dan berat.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis benar-benar berusaha membatasi penggunaan <em>smartphone </em>hariannya karena terbukti sangat sering membuat hari Penulis menjadi tidak produktif. Entah sudah berapa banyak waktu yang terbuang karena <em>smartphone </em>ini.</p>



<p>Penulis pun memiliki target agar penggunaan <em>smartphone </em>dalam sehari tidak melebihi 5 jam. Sejauh ini, target ini relatif bisa dicapai di <em>weekday</em> karena adanya rutinitas pekerjaan. Di <em>weekend</em>, angka penggunaan bisa naik walau tidak terlalu banyak.</p>



<p>Dengan mengurangi penggunaan <em>smartphone</em>, Penulis berharap bisa menjadi pribadi yang lebih produktif lagi, memiliki pola hidup yang lebih teratur, dan mampu melakukan banyak hal yang lebih bermanfaat.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 12 Juni 2023, terinspirasi karena merasa <em>smartphone </em>adalah distraksi terbesar ketika dirinya ingin memiliki hidup yang produktif</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.marketwatch.com/story/the-dos-and-donts-of-using-your-cell-phone-at-work-2018-01-08">MarketWatch</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/smartphone-adalah-distraksi-terberat-untuk-produktivitas/">Smartphone adalah Distraksi Terberat untuk Produktivitas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/smartphone-adalah-distraksi-terberat-untuk-produktivitas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lari Pagi adalah Obat Insomnia Terbaik Versi Saya</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jun 2023 13:57:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[insomnia]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[lari pagi]]></category>
		<category><![CDATA[rutinitas]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6566</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa kesempatan, Penulis menyebutkan bahwa dirinya kerap mengalami insomnia alias sulit tidur di malam hari. Tak heran jika Penulis kerap merasa iri kepada orang-orang yang mampu tidur dengan cepat setelah meletakkan kepalanya di atas bantal. Untuk itu, Penulis pun mulai mencoba berbagai cara agar bisa tidur cepat, mulai dari membaca buku, mengaji, minum susu, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya/">Lari Pagi adalah Obat Insomnia Terbaik Versi Saya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa kesempatan, Penulis menyebutkan bahwa dirinya kerap mengalami insomnia alias sulit tidur di malam hari. Tak heran jika Penulis kerap merasa iri kepada orang-orang yang mampu tidur dengan cepat setelah meletakkan kepalanya di atas bantal.</p>



<p>Untuk itu, Penulis pun mulai mencoba berbagai cara agar bisa tidur cepat, mulai dari membaca buku, mengaji, minum susu, meditasi, mendengarkan musik, dan lain sebagainya. Sayangnya, tidak ada yang benar-benar berhasil menghilangkan insomnia.</p>



<p>Namun, ada satu aktivitas yang, anehnya, dilakukan di pagi hari dan mampu memberikan efek yang relatif instan. Ketika melakukannya, maka Penulis bisa tidur dengan cepat dan tidak terlalu larut. Aktivitas tersebut adalah <strong>lari pagi</strong>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/setelah-membaca-segala-galanya-ambyar-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/setelah-membaca-segala-galanya-ambyar-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/setelah-membaca-segala-galanya-ambyar-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/setelah-membaca-segala-galanya-ambyar-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/setelah-membaca-segala-galanya-ambyar-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Membaca Segala-Galanya Ambyar" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-segala-galanya-ambyar/">Setelah Membaca Segala-Galanya Ambyar</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Lari Pagi, Aktivitas Ringan yang Berat untuk Dilakukan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6589" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sebenarnya Enteng, tapi Kalah oleh Rasa Malas (<a href="https://www.pexels.com/id-id/@tirachard-kumtanom-112571/">Tirachard Kumtanom</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebenarnya, lari pagi bukanlah aktivitas yang baru Penulis lakukan. Dulu, Penulis pernah <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutin selama kurang lebih tiga bulan melakukannya</a>, sebelumnya akhirnya berhenti karena kalah dari rasa malas. Nah, baru akhir-akhir ini Penulis berusaha merutinkannya lagi.</p>



<p>Setelah sholat Shubuh dan mengaji, Penulis biasanya akan langsung siap-siap untuk lari pagi yang tentunya diawali dengan pemanasan. Karena daerah rumahnya cukup dingin, Penulis selalu menggunakan jaket.</p>



<p>Penulis tidak pernah lari pagi dengan jarah yang jauh, cukup tiga-empat kali putaran mengelilingi perumahan ditambah satu putaran untuk pendinginan. Itu pun sudah bisa menghasilkan keringat yang lumayan hingga membasahi kaus yang dikenakan.</p>



<p>Jika melihat aplikasi <em>tracker</em>, setiap pagi Penulis melangkah sebanyak 3.000 hingga 4.000 langkah, yang setara dengan 3-4 kilometer. Penulis memilih untuk lari pagi dengan jarak yang sedikit, tapi rutin.</p>



<p>Sebenarnya aktivitas lari pagi adalah sesuatu yang ringan, apalagi jarak yang ditempuh juga tidak terlalu jauh. Namun, aktivitas ringan tersebut menjadi berat jika kita tidak mampu mengalahkan rasa malas dari dalam diri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Efek Instan Lari Pagi</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6590" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Bangun Jadi Lebih Segar (<a href="https://www.pexels.com/id-id/@tirachard-kumtanom-112571/">Tirachard Kumtanom</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis berhasil membuktikan bahwa lari pagi dapat membantu mengatasi insomnia secara instan. Entah bagaimana dari sisi medisnya, tapi yang jelas Penulis jadi bisa tidur cepat sekitar pukul 10:30 setiap malamnya.</p>



<p>Sebagai perbandingan, sebelumnya Penulis baru bisa tidur di atas jam 12 malam. Beberapa minggu terakhir Penulis sempat bolong menjalani rutinitas ini, dan akibatnya Penulis harus tidur lebih malam.</p>



<p>Kualitas tidur Penulis juga jadi meningkat setelah rutin lari pagi. Jika biasanya Penulis justru merasa lelah saat bangun, sekarang Penulis merasa lebih segar. Ini juga berlaku ketika Penulis tidur siang selama beberapa menit di sela-sela jam kerja.</p>



<p>Lari pagi juga memiliki efek positif bagi Penulis. Pertama, Penulis jadi tidak tidur lagi setelah sholat Shubuh, sehingga bisa langsung menjalani rutinitas harian seusai beristirahat. Sekarang, Penulis telah biasa memulai jam kerja mulai pukul 7 pagi.</p>



<p>Selain itu, metabolisme tubuh pun menjadi lebih lancar. Buang air besar Penulis menjadi lebih teratur. Nafsu makan Penulis juga bertambah, sehingga berat badannya bertambah dan mendekati bobot idealnya, yang biasanya di bawah 50 sekarang menjadi 53 kg. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Meskipun sudah tahu sejak lama kalau <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-2/">rutin lari pagi</a> membawa banyak manfaat, ada saja alasan untuk menunda-nunda dan tidak melakukannya. Padahal, intinya hanya karena rasa malas yang tidak bisa disingkirkan.</p>



<p>Menyadari dirinya butuh pola hidup yang lebih sehat, Penulis pun berusaha untuk terus merutinkan lari pagi beserta rutinitas-rutinitas positif lainnya dalam hidup. Penulis perlu membenahi hidupnya, mengingat sebentar lagi dirinya akan berkepala tiga.</p>



<p>Untuk yang tidak suka atau tidak kuat lari, mungkin bisa diganti dengan berjalan kaki sekitar rumah. Yang penting adalah aktivitas fisik di luar rumah, karena hawa pagi seolah membawa energi positif untuk hidup kita.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 6 Juni 2023, terinspirasi dari pengalaman pribadi yang pola tidurnya membaik setelah (kembali) rutin lari pagi</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.bodyandsoul.com.au/fitness/laura-henshaws-goto-lowimpact-workouts-for-running-towards-your-goals-and-away-from-injury/news-story/15ca825c668b53520019f07491bf12ed">Body+Soul</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya/">Lari Pagi adalah Obat Insomnia Terbaik Versi Saya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rebahan + Main HP = Kombo Maut</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 May 2023 14:27:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[main HP]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[medsos]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[rebahan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6530</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika berusaha menerapkan kehidupan yang produktif, Penulis menemukan ada satu &#8220;musuh&#8221; yang cukup tangguh dan sulit dilawan: Rebahan + Main HP. Aktivitas ini seolah memiliki black hole yang membuat kita sulit untuk bangkit dari kasur. Tentu ada kalanya kita ingin bersantai setelah menjalani rutinitas harian yang padat. Kasur menjadi destinasi favorit kita karena gratis dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/">Rebahan + Main HP = Kombo Maut</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika berusaha menerapkan kehidupan yang produktif, Penulis menemukan ada satu &#8220;musuh&#8221; yang cukup tangguh dan sulit dilawan: <strong>Rebahan + Main HP</strong>. Aktivitas ini seolah memiliki <em>black hole </em>yang membuat kita sulit untuk bangkit dari kasur.</p>



<p>Tentu ada kalanya kita ingin bersantai setelah menjalani rutinitas harian yang padat. Kasur menjadi destinasi favorit kita karena gratis dan mudah dijangkau. Ditambah dengan adanya ponsel, makin nyamanlah kita dibuatnya.</p>



<p>Namun, Penulis kerap merasa begitu kita melakukan aktivitas ini, waktu yang terbuang terasa begitu banyak. Apalagi, dengan media sosial (medsos) yang hampir semuanya memiliki <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/">fitur video pendek tak terbatas</a>, kita jadi semakin sulit untuk berhenti melakukannya. </p>





<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Rebahan + Main HP Itu Kombo Maut?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6532" width="755" height="503" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 755px) 100vw, 755px" /><figcaption class="wp-element-caption">Aplikasi-Aplikasi Candu (<a href="https://www.pexels.com/id-id/@magnus-mueller-1398178/">Magnus Mueller</a>)</figcaption></figure>



<p>Media sosial dipenuhi dengan konten menarik yang memang dibuat agar kita sebagai pengguna mau menggunakannya selama mungkin. Dengan adanya <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">algoritma candu</a>, konten yang muncul pun sesuai dengan apa yang sering kita lihat.</p>



<p>Maka dari itu, tak heran jika media sosial kerap menjadi pelarian ketika kita sedang gabut. Menunggu orang, cek medsos. Di toilet, cek medsos. Kumpul dengan teman, cek medsos. Seolah otak kita tidak boleh berhenti menerima asupan konten-konten tersebut.</p>



<p>Nah, rebahan di atas kasur adalah termasuk salah satu aktivitas yang membosankan. Otak yang kecanduan konten pun akan secara otomatis membuat kita meraih ponsel dan mulai membuka aplikasi medsos.</p>



<p>Apalagi, dengan adanya konten-konten video pendek <em>random </em>yang muncul tanpa henti, kita tanpa sadar akan terus <em>scroll-scroll </em>karena berharap akan menemukan konten yang menyenangkan, lagi dan lagi, untuk terus memberikan perasaan senang kepada diri. </p>



<p>Terkadang muncul kesadaran diri untuk berhenti cek medsos dengan berkata 5 menit lagi. Setelah 5 menit, menemukan konten yang sangat menarik, sehingga memutuskan untuk lanjut sebentar lagi. Namun, seringnya aktivitas ini tidak pernah berlangsung sebentar.</p>



<p>Apa akibatnya? Selain waktu yang terbuang untuk melihat konten yang sebenarnya tidak terlalu bermanfaat untuk kita, bisa jadi akan muncul perasaan bersalah karena telah membuang-buang waktu. Sekali lagi, hari ini menjadi hari yang tidak produktif. </p>



<p>Apakah hanya cek medsos yang bisa dilakukan sambil rebahan? Tentu tidak. Membaca web novel, komik daring, hingga bermain <em>game</em> juga bisa sama adiktifnya dengan cek medsos. Ada begitu godaan yang membuat kita betah rebahan seharian selama ada ponsel di tangan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Cara Agar Bisa Mengurangi Rebahan + Main HP</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6533" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Waktu untuk Rebahan + Main HP Bisa Digunakan untuk Aktivitas Lain (<a href="https://www.pexels.com/id-id/@thirdman/">Thirdman</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis kerap merasa dirinya terjebak dalam kombo maut rebahan + main HP ini. Apalagi kalau sudah melihat Instagram Reels atau YouTube Shorts, rasanya sangat susah untuk berhenti, terutama ketika memang tidak ada hal <em>urgent </em>yang harus diselesaikan.</p>



<p>Kalau sedang hari libur atau tidak ada pekerjaan, hal tersebut masih oke untuk dilakukan. Masalahnya, tak jarang di hari kerja pun Penulis melakukan kombo ini. Produktivitas harian yang dikejar pun menjadi tidak terlaksana.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis pun berusaha mencari cara agar bisa melepaskan diri dari jeratan ini. Tentu saja boleh rebahan sambil main HP, apalagi setelah lelah bekerja. Namun, jelas tidak boleh dilakukan secara berlebihan.</p>



<p>Di hari kerja, Penulis sedang mendisiplinkan diri langsung membereskan tempat tidur begitu bangun di pagi hari. Dengan adanya kasur yang rapi, kecil kemungkinan Penulis akan rebahan di sana selama jam kerja, kecuali jika benar-benar mengantuk.</p>



<p>Lalu, Penulis juga membatasi penggunaan media sosial dan aplikasi adiktif lainnya. Untungnya, ponsel sekarang memiliki fitur yang akan langsung memblokir jika kita sudah melewati batas penggunaan.</p>



<p>Tidak cukup di situ, Penulis juga akan memblokir media sosial dan <em>game</em> selama jam kerja menggunakan aplikasi AppBlock, salah satu <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/aplikasi-produktivitas-yang-saya-gunakan/">aplikasi produktivitas andalan Penulis</a>. Ini hanyalah aplikasi yang membantu, karena pada dasarnya semua kembali pada niat kita.</p>



<p>Melalui buku <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/"><em>Atomic Habit </em>karya James Clear</a>, salah satu tahap untuk menghilangkan kebiasaan buruk adalah dengan mempersulitnya. Cara-cara yang Penulis lakukan di atas bertujuan untuk mempersulit kombo rebahan + main HP dilakukan, terutama di hari kerja.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Jadikan Rebahan + Main HP Sebagai Reward</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6534" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Jadikan Reward, Bukan Sarana Refreshing (<a href="https://www.pexels.com/id-id/@rdne/">RDNE Stock project</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis bukan anti-rebahan atau anti-main HP. Penulis hanya menyadari dirinya kerap membuang waktu karena aktivitas tersebut, sehingga banyak pekerjaan yang harusnya diselesaikan jadi terabaikan atau minimal terlambat.</p>



<p>Apalagi, Penulis sampai sekarang masih <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/agar-wfh-tetap-produktif/">Work from Home</a></em>, sehingga harus bisa mengatur dirinya sendiri dengan baik. Karena tidak ada yang mengawasi langsung seperti jika bekerja di kantor, Penulis harus bisa menjadi pengawas untuk dirinya sendiri.</p>



<p>Ada pembelaan kalau HP menjadi sarana <em>refreshing </em>agar tidak merasa penat ketika bekerja. Itu ada benarnya, tapi Penulis merasa tidak cocok karena kerap terbuai HP. Maka dari itu, selama jam kerja, Penulis sering menjauhkan HP dari jangkauannya.</p>



<p>Lantas, apa yang biasanya Penulis lakukan untuk <em>refreshing </em>di jam kerja? Biasanya Penulis akan memilih aktivitas seperti membaca buku/komik atau sekadar bermain dengan kucing. Penulis berusaha mencari aktivitas yang jauh dari benda elektronik.</p>



<p>Harus diakui kalau rebahan sambil main HP, apapun aktivitasnya, memang menyenangkan. Aktivitas santai yang menghibur tanpa perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Namun, jika menjadi berlebihan tentu akibatnya tidak baik untuk diri kita, apalagi dilakukan di jam kerja.</p>



<p>Karena menyenangkan, jadikanlah kombo maut ini sebagai &#8220;hadiah&#8221; apabila kita berhasil menyelesaikan hari dengan baik dan produktif. Setelah semua pekerjaan atau <em>to-do-list </em>terselesaikan, diri kita berhak untuk menikmati enaknya rebahan sambil main HP.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 22 Mei 2023, terinspirasi dari pengalaman pribadinya yang kerap sulit meninggalkan kombo rebahan + main HP</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/id-id/@olly/">Andrea Piacquadio</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/">Rebahan + Main HP = Kombo Maut</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Suntuk, Coba Keluar dan Berjalan Sejenak</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ketika-suntuk-coba-keluar-dan-berjalan-sejenak/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ketika-suntuk-coba-keluar-dan-berjalan-sejenak/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Feb 2023 01:01:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[berjalan]]></category>
		<category><![CDATA[introvert]]></category>
		<category><![CDATA[keluar]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[stres]]></category>
		<category><![CDATA[suntuk]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6353</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam menjalani keseharian, pasti ada saja masalah atau sesuatu yang menimbulkan perasaan suntuk, bahkan stres. Semakin dipikir, semakin rasanya tidak menemukan jalan keluar untuk permasalahan tersebut. Kita tentu berusaha mencari cara agar bisa berhenti merasa suntuk. Setiap inidividu tentu memiliki caranya masing-masing, seperti curhat ke teman, scrolling media sosial untuk mencari sesuatu yang lucu, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ketika-suntuk-coba-keluar-dan-berjalan-sejenak/">Ketika Suntuk, Coba Keluar dan Berjalan Sejenak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam menjalani keseharian, pasti ada saja masalah atau sesuatu yang menimbulkan perasaan suntuk, bahkan stres. Semakin dipikir, semakin rasanya tidak menemukan jalan keluar untuk permasalahan tersebut.</p>



<p>Kita tentu berusaha mencari cara agar bisa berhenti merasa suntuk. Setiap inidividu tentu memiliki caranya masing-masing, seperti curhat ke teman, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/"><em>scrolling </em>media sosial</a> untuk mencari sesuatu yang lucu, dan lain-lain.</p>



<p>Penulis juga punya caranya sendiri dan ada beberapa. Namun, satu yang dirasa paling sering memberikan dampak positif adalah <strong>keluar dari rumah dan berjalan sejenak</strong>. Mengapa cara ini Penulis anggap ampuh untuk mengatasi rasa sumpek?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Keluar Rumah Itu Berat untuk Orang Introvert (dan Pemalas)</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6356" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Kamar adalah Tempat Ternyaman untuk Kaum Introvert (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.nbcnews.com%2Fbetter%2Flifestyle%2Fback-basics-how-instituting-nightly-reading-ritual-has-become-my-ncna1071391&amp;psig=AOvVaw0lPs3gsEMcRNS8gvg3OCOY&amp;ust=1676336031650000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CAMQjB1qFwoTCMCl3L-kkf0CFQAAAAAdAAAAABAJ">NBC News</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebagai orang yang <em>introvert</em>, rumah (terutama kamar) merupakan tempat ternyaman yang mampu memberikan perasaan aman. Oleh karena itu, jangan heran jika kamar para <em>introvert </em>terkesan nyaman untuk ditempati.</p>



<p>Penulis pun seperti itu. Entah sudah berapa uang yang dikeluarkan demi membuat <a href="https://whathefan.com/pengalaman/tur-kamar-saya-sisi-selatan-dan-barat/">kamarnya nyaman</a>. Bahkan, teman-teman Penulis sudah banyak yang memberikan &#8220;testimoni&#8221; terkait betapa nyaman kamar Penulis.</p>



<p>Apalagi, kamar Penulis juga berfungsi sebagai tempat kerja, mengingat sampai sekarang Penulis masih <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/agar-wfh-tetap-produktif/"><em>Work from Home</em> (WFH).</a> Jadi ada semakin banyak alasan untuk tetap berada di dalam kamar selama mungkin. </p>



<p>Namun, mau se-<em>introvert </em>apapun orangnya, pasti akan menemui titik jenuh jika terus-menerus berada di dalam kamar atau rumah. Seorang <em>introvert </em>pun butuh interaksi dengan dunia luar selama dosisnya tidak berlebihan.</p>



<p>Apalagi jika sedang suntuk, kamar yang awalnya terasa nyaman pun bisa terasa sumpek. Kondisi kamar yang biasanya dijaga kerapiannya tiba-tiba menjadi berantakan dan banyak barang berserakan tidak pada tempatnya. </p>



<p>Bisa dibayangkan, orang yang sedang sumpek tentu akan makin sumpek jika melihat sesuatu yang berantakan. Ada banyak yang berpendapat, kondisi kamar yang berantakan mencerminkan kondisi pikiran yang berantakan pula. Penulis setuju dengan itu.</p>



<p>Penulis pribadi merasa <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-pemalas/">dirinya cukup pemalas</a>, terutama ketika sedang banyak pikiran. Hobi yang biasanya begitu menyenangkan saja berubah menjadi sesuatu yang menyebalkan. Hobi bersih-bersih kamar pun juga ikut ditinggalkan.</p>



<p>Jika sudah sampai berada di titik ini, biasanya Penulis akan memutuskan untuk jalan-jalan keluar sejenak untuk menyegarkan pikiran. Bagi seorang <em>introvert </em>(dan pemalas), itu adalah hal yang cukup berat untuk dilakukan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Berjalan Sejenak untuk Menghilangkan Suntuk</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6357" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Penulis Seringnya Jalan Setelah Jam Kerja (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.theguardian.com%2Fcities%2F2016%2Fdec%2F15%2Fnight-walks-great-tonic-urban-stress-your-stories-nocturnal-city&amp;psig=AOvVaw1UO8uKwq1d9HVkLxOFjwNz&amp;ust=1676336176761000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CAMQjB1qFwoTCJjNjIWlkf0CFQAAAAAdAAAAABAd">The Guardian</a>)</figcaption></figure>



<p>Tak perlu jauh-jauh hingga perlu mengendarai motor, cukup berjalan-jalan di sekitar saja. Penulis sendiri biasanya melakukan jalan-jalan selepas jam kerja, sekalian membeli makan malam (yang biasanya dilakukan dengan naik motor).</p>



<p>Ketika berjalan kaki, benang kusut yang ada di dalam pikiran biasanya pelan-pelan terurai. Entah apakah ada bukti secara ilmiahnya, tapi mungkin dengan berjalan akan membantu melancarkan peredaran darah yang ujungnya membuat otak menjadi lebih jernih.</p>



<p>Berjalan kaki juga bisa memunculkan dopamin (Penulis belum riset yang membuktikan hal ini) yang membantu menimbulkan perasaan bahagia, sehingga perasaan suntuk seharian yang dirasakan juga perlahan sirna.</p>



<p>Selain itu, Penulis jarang membawa ponselnya ketika berjalan keluar. Itu Penulis lakukan agar dirinya lebih fokus pada momen saat ini tanpa terdistraksi dunia maya, walau tentu saja seringkali pikiran tetap melayang ke mana-mana.</p>



<p>Namun, dengan tidak adanya distraksi, Penulis jadi bisa memerhatikan banyak hal. Ketika membeli makan, Penulis jadi bisa memperhatikan abangnya dan bertanya-tanya banyak hal. Tidak hanya abangnya, Penulis juga memperhatikan orang lain di sekitarnya.</p>



<p>Berapa pemasukan si abang dalam sehari? Apakah cukup untuk memenuhi kebutuhannya? Apakah mereka merasa bahagia? Apakah mereka merasa lelah dalam menjalani rutinitas kesehariannya? Apa yang membuat mereka tetap semangat hidup? Dan lain-lain.</p>



<p>Setelah mengamati orang lain, akhirnya muncul perasaan syukur dari dalam diri. Penulis merasa bersyukur masih diberi kerja yang relatif enak, tidak harus banting tulang dari pagi hingga malam yang membutuhkan tenaga super.</p>



<p>Mungkin banyak yang tidak setuju dengan metode &#8220;membandingkan&#8221; ini, tapi Penulis merasakan manfaatnya. Bersyukur setelah melihat keadaan orang lain rasanya tidak salah, kecuali kita jadi merasa sombong dan merendahkan pekerjaan orang lain. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Merasa suntuk atau stres itu sangat manusiawi dan wajar. Justru rasanya aneh, jika ada manusia yang tidak pernah merasakannya. Yang penting adalah bagaimana kita mengatasi hal tersebut agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.</p>



<p>Biasanya setelah berjalan-jalan sejenak, Penulis yang pikirannya menjadi lebih jernih bisa mulai beraktivitas secara normal. Penulis jadi termotivasi untuk <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/merapikan-kamar-merapikan-diri/">merapikan kamar</a>, menyelesaikan tanggungan pekerjaan, dan lain sebagainya.</p>



<p>Dengan begitu, Penulis pun bisa perlahan-lahan kembali produktif kembali. Contohnya adalah dengan menulis artikel ini, setelah hampir satu bulan merasa tidak <em>mood </em>untuk menulis artikel blog. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-2/">Rutinitas pagi</a> yang lama ditinggalkan pun sedang dimulai kembali.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 13 Februari 2023, terinspirasi dari pikiran yang kerap menjadi lebih tenang setelah berjalan keluar</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-berbaju-coklat-berdiri-di-lapangan-rumput-coklat-dekat-badan-air-4275893/">Mateusz Sałaciak</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ketika-suntuk-coba-keluar-dan-berjalan-sejenak/">Ketika Suntuk, Coba Keluar dan Berjalan Sejenak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ketika-suntuk-coba-keluar-dan-berjalan-sejenak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
