<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Renungan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/category/renungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/category/renungan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Sep 2025 16:55:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Renungan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/category/renungan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jika Kita Ada di Kursi Mereka, Apakah Kita akan Tetap Berisik?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/jika-kita-ada-di-kursi-mereka-apakah-kita-akan-tetap-berisik/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/jika-kita-ada-di-kursi-mereka-apakah-kita-akan-tetap-berisik/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2025 16:55:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[DPR]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8340</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ini adalah tulisan keempat secara beruntun yang membahas tentang isu masyarakat vs pemerintah yang memanas dalam beberapa minggu terakhir. Mungkin ini akan jadi penutup, sehingga akan Penulis gunakan sebagai bahan renungan bersama. Meskipun masih terpolarisasi karena hal yang remeh, Penulis melihat kita sebagai rakyat cukup bersatu dalam aksi sepanjang akhir Agustus hingga awal September kemarin. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/jika-kita-ada-di-kursi-mereka-apakah-kita-akan-tetap-berisik/">Jika Kita Ada di Kursi Mereka, Apakah Kita akan Tetap Berisik?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ini adalah tulisan keempat secara beruntun yang membahas tentang isu masyarakat vs pemerintah yang memanas dalam beberapa minggu terakhir. Mungkin ini akan jadi penutup, sehingga akan Penulis gunakan sebagai bahan renungan bersama.</p>



<p>Meskipun <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-brave-pink-hero-green-mengapa-kita-mudah-terpolarisasi/">masih terpolarisasi karena hal yang remeh,</a> Penulis melihat kita sebagai rakyat cukup bersatu dalam aksi sepanjang akhir Agustus hingga awal September kemarin. Pasti ada yang masih pro pemerintah, tapi rasanya kali ini mereka minoritas, atau memang enggak kelihatan aja.</p>



<p>Kita bisa bersatu seperti itu karena kita merasa punya &#8220;musuh&#8221; yang sama, di mana di sini adalah pemerintah terutama DPR yang jadi sasaran utama, maupun pihak pengamanan yang dinilai terlalu brutal hingga ada yang tewas.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/setelah-membaca-stoik-apadan-bagaimana-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/setelah-membaca-stoik-apadan-bagaimana-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/setelah-membaca-stoik-apadan-bagaimana-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/setelah-membaca-stoik-apadan-bagaimana-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/setelah-membaca-stoik-apadan-bagaimana-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Membaca Stoik: Apa dan Bagaimana" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-stoik-apa-dan-bagaimana/">Setelah Membaca Stoik: Apa dan Bagaimana</a></div></div></div><p></p>


<p>Bisa dibilang, saat ini kita sama-sama sedang &#8220;menggonggong&#8221; untuk menuntut keadilan, apalagi setelah melihat angka fantastis yang diterima oleh para pejabat di saat kehidupan masyarakat sedang sulit, di saat PHK di mana-mana dan ekonomi terasa berat.</p>



<p>Namun, di satu sisi, Penulis jadi merenungkan satu pertanyaan:<strong> </strong>jika kita berada di dalam menjadi bagian dari pemerintah, <strong>apakah kita akan tetap berisik seperti sekarang atau justru diam-diam saja sembari menikmati segala fasilitas dan tunjangan yang diberikan?</strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Katanya, Pemerintah Itu Cerminan Rakyatnya</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8346" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Pemerintah adalah Cerminan Rakyat (<a href="https://news.detik.com/berita/d-8091993/polisi-olah-tkp-penjarahan-rumah-sahroni-ungkap-ada-barang-dikembalikan">Detik</a>)</figcaption></figure>



<p>Ada yang bilang, <strong>pemerintah itu cerminan rakyatnya</strong>. Pemerintah itu rata-rata masyarakatnya. Jadi, jangan-jangan alasan kita mendapatkan kualitas pemerintah yang seperti itu, ya karena kita seperti itu, hanya saja belum mendapatkan kesempatan seperti mereka saja.</p>



<p>Hal ini langsung dicontohkan dari kasus penjarahan yang terjadi pada rumah beberapa anggota DPR, yang dijadikan sebagai sasaran karena pernyataan kontroversial yang keluar dari mulut mereka.</p>



<p>Di satu sisi, Penulis menganggap kejadian tersebut adalah konsekuensi dari apa yang sudah dikatakan atau dilakukan. Namun, di sisi lain, aktivitas penjarahan juga tidak bisa dibenarkan karena mengambil apa yang bukan hak kita.</p>



<p>Ada yang membalas bahwa pemerintah selama ini juga menjarah rakyat, bahkan alam Indonesia pun ikut dijarah. Namun, membandingkan dua hal yang buruk tidak membuat salah satunya menjadi baik. Membandingkan dua hal haram, tidak membuat salah satunya menjadi halal.</p>



<p><a href="https://whathefan.com/politik-negara/kepada-tuan-dan-puan-yang-terhormat/">Banyak orang di pemerintahan yang korupsi</a>, mungkin di keseharian kita pun masih melakukan korupsi kecil-kecilan, baik disadari maupun tidak. Anggota dewan tidur ketika kerja, mungkin kita di kantor pun terkadang curi-curi waktu untuk tidur siang.</p>



<p>Intinya, kita boleh dan bahkan harus bersuara apabila melihat ketidakadilan yang dilakukan oleh pihak pemerintah. Kita harus tetap &#8220;menggonggong&#8221; dan mengawasi kerja pemerintah, yang gaji dan tunjangannya berasal dari pajak yang kita bayarkan.</p>



<p>Kalau kita diam saja dan memilih apatis, maka pemerintah bisa makin &#8220;sesuka hati&#8221; dalam membuat kebijakan. Tentu kita tidak lupa, bagaimana ada beberapa kebijakan yang dibuat dalam waktu kilat jika itu menguntungkan pihak tertentu.</p>



<p>Namun, jangan lupa untuk menengok ke dalam juga, tanyakan kepada diri sendiri apakah kita sudah benar-benar &#8220;bersih&#8221; dan tidak melakukan hal buruk yang dilakukan oleh pemerintah. Tanyakan kepada diri sendiri, <em><strong>jika kita di dalam, apakah kita akan tetap berisik seperti ketika di luar?</strong></em></p>



<p>Meskipun kita memiliki banyak kekecewaan atau kekesalan terhadap pemerintah, jangan sampai membuat diri kita merasa paling suci atau lebih baik dari mereka. Daripada seperti itu, alangkah lebih baik kalau kita melihat ke dalam diri sendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Memosisikan Diri Sebagai Kontrol Pemerintah</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8343" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Jika di Dalam, Apakah Kita akan Tetap Berisik Seperti Ketika di Luar? (<a href="https://newsmaker.tribunnews.com/2025/08/30/sosok-andovi-da-lopez-youtuber-yang-demo-di-dpr-ajak-rekan-artis-lain-turun-ke-jalan-ikut-bersuara">Tribun</a>)</figcaption></figure>



<p>Ketika membaca kolom komentar untuk konten yang bermuatan politik, Penulis sering menemukan komentar senada yang berbunyi, &#8220;jangan ngomong doang, coba buktiin kalau lu lebih bagus dari yang lu kritik!&#8221;</p>



<p>Menurut Penulis, komentar seperti ini cukup sesat. Kita mengkritik sebagai rakyat, mengkritik pemerintah (entah eksekutif maupun legislatif) yang memang pekerjaannya adalah menyelesaikan berbagai masalah yang ada di negara ini.</p>



<p>Nah, mereka kan udah dibayar nih buat jadi pejabat, masa iya kita juga yang menyediakan solusinya? Kita ini memang berfungsi sebagai pengawas agar pemerintah bisa terkontrol dan tidak seenaknya sendiri, lha kok malah ditambahi kerjaan sebagai penyedia solusi.</p>



<p>Mungkin akan ada komentar juga yang intinya menyuruh kita masuk ke dalam pemerintahan dan ubah dari dalam. Ini ada benarnya, tapi kalau sistemnya sudah rusak, bisa-bisa kita yang akhirnya malah terbawa arus. Mau seidealis seperti apa pun, pasti sulit.</p>



<p>Bahkan, komika Pandji Pragiwaksono dalam sebuah acara di Metro TV sempat berujar yang intinya &#8220;kalau semua yang berisik masuk, ntar nggak ada yang mengonggong dari luar, dong?&#8221; Buktinya banyak aktivis &#8217;98 yang sekarang di kursi pemerintahan, eh ya udah berubah tuh.</p>



<p>Jadi, mungkin bukan pilihan yang salah jika kita memilih untuk tetap di luar tanpa berniat masuk ke dalam. Jika di luar, kita akan lebih bebas bersuara untuk diri sendiri dan masyarakat, bukan bersuara untuk partai yang telah mengusung kita.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 11 September 2025, terinspirasi setelah Penulis merasa selama ini lebih banyak melihat sisi buruk pemerintahan Prabowo Subiyanto dan jarang mengulik &#8220;prestasinya&#8221;</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://news.detik.com/berita/d-5995109/masih-ada-plastiknya-ini-kursi-baru-yang-dikeluhkan-anggota-dpr">Detik</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/jika-kita-ada-di-kursi-mereka-apakah-kita-akan-tetap-berisik/">Jika Kita Ada di Kursi Mereka, Apakah Kita akan Tetap Berisik?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/jika-kita-ada-di-kursi-mereka-apakah-kita-akan-tetap-berisik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Merenungi Manusia Primitif yang Masih Hidup di Era Modern</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/merenungi-manusia-primitif-yang-masih-hidup-di-era-modern/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/merenungi-manusia-primitif-yang-masih-hidup-di-era-modern/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Dec 2024 12:14:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[peradaban]]></category>
		<category><![CDATA[primitif]]></category>
		<category><![CDATA[suku]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7969</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam tulisan &#8220;Manusia adalah Makhluk Paling Berbahaya di Dunia Ini&#8221;, Penulis sudah menjabarkan tentang bagaimana kita ini adalah ancaman paling nyata, baik bagi makhluk hidup lain maupun sesama manusia. Pada salah satu poin, Penulis juga menjelaskan bagaimana manusia tanpa segan menghabisi manusia lain dengan berbagai alasan, walau ketamakan jelas jadi salah satu faktor utamanya. Alhasil, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/merenungi-manusia-primitif-yang-masih-hidup-di-era-modern/">Merenungi Manusia Primitif yang Masih Hidup di Era Modern</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam tulisan <a href="https://whathefan.com/renungan/manusia-adalah-makhluk-paling-berbahaya-di-dunia-ini/">&#8220;Manusia adalah Makhluk Paling Berbahaya di Dunia Ini&#8221;</a>, Penulis sudah menjabarkan tentang bagaimana kita ini adalah ancaman paling nyata, baik bagi makhluk hidup lain maupun sesama manusia.</p>



<p>Pada salah satu poin, Penulis juga menjelaskan bagaimana manusia tanpa segan menghabisi manusia lain dengan berbagai alasan, walau ketamakan jelas jadi salah satu faktor utamanya. Alhasil, bangsa-bangsa yang kalah harus menepi demi keselamatannya.</p>



<p>Menariknya, mereka ini terus bisa mempertahankan peradabannya walau terisolasi dari dunia lain. Melalui kacamata kita, mereka terlihat sebagai bangsa primitif yang hidup di era modern yang serba canggih. Keberadaan mereka ini membuat Penulis jadi merenung.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-04_21-24-12-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-04_21-24-12-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-04_21-24-12-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-04_21-24-12-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-04_21-24-12-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-04_21-24-12.jpg 1280w " alt="Pengalaman Menjadi Volunteer Asian Games (Apa yang Saya Lakukan)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-apa-yang-saya-lakukan/">Pengalaman Menjadi Volunteer Asian Games (Apa yang Saya Lakukan)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Kehidupan &#8220;Manusia Primitif&#8221; Terputus dari Kehidupan Modern</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/manusia-primitif-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8123" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/manusia-primitif-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/manusia-primitif-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/manusia-primitif-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/manusia-primitif-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Man in Hole (<a href="https://www.usatoday.com/videos/news/2022/08/30/indigenous-man-hole-last-his-tribe-dies-amazon/7935891001/">USA Today</a>)</figcaption></figure>



<p>Melalui video dokumenter yang sama dari artikel &#8220;Manusia adalah Makhluk Paling Berbahaya di Dunia Ini&#8221;, Penulis jadi menyadari bahwa di dalam hutan Amazon, <strong>masih ada banyak <em>native tribe </em>yang seolah mencerminkan kehidupan beribu-ribu tahun yang lalu</strong>.</p>



<p>Penulis juga menemukan fakta tentang <strong>Man in Hole</strong>. Singkat cerita, ia adalah orang terakhir dari salah satu suku yang menghuni hutan Amazon, setelah anggota sukunya yang lain telah tewas terbunuh akibat konflik agraria yang terjadi di Brazil.</p>



<p>Hidupnya yang nomaden seumur hidupnya terpaksa ia lakukan demi bertahan hidup. Ketika mengetahui fakta ini, Penulis jadi berempati dengannya dan tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jadi &#8220;orang terakhir&#8221; dari sukunya sebelum akhirnya ia juga meninggal.  </p>



<p>Keberadaan mereka, yang pernah (dan mungkin masih) terancam karena peradaban manusia yang lebih modern, terlihat seolah <em>timeline </em>mereka tidak pernah maju dan memutus kehidupan mereka dengan dunia luar. Teknologi yang mengubah peradaban manusia tak pernah menyentuh mereka.</p>



<p>Sebenarnya tak perlu jauh-jauh ke Brazil yang berada di belahan bumi lain. Di Indonesia pun, yang terdiri dari banyak sekali suku, masih banyak yang menjalani kehidupan primitif dan tinggal di dalam hutan, jauh dari peradaban modern.</p>



<p>Secara manusiawi, kita pasti merasa &#8220;kasihan&#8221; dengan kehidupan yang seperti itu. Namun, pantaskan mereka dikasihani? Atau justru sebenarnya kita yang patut dikasihani?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Kita Lebih Bahagia dari Manusia Primitif?</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8124" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/manusia-primitif-2-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/manusia-primitif-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/manusia-primitif-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/manusia-primitif-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/manusia-primitif-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Mungkin Mereka Lebih Bahagia dari Kita (<a href="https://www.scientificamerican.com/article/this-amazonian-indigenous-group-has-lessons-in-sustainable-living-for-all-of-us/">Scientific American</a>)</p>
</div></div>



<p>Belum lama ini, Penulis juga membuat artikel berjudul <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/">&#8220;Bagaimana Manusia Diperbudak oleh Ciptaannya Sendiri&#8221;</a>. Teknologi dan berbagai ciptaan kita memang sangat membantu memajukan peradaban, tapi di sisi lain memiliki efek negatif karena mengakibatkan ketergantungan.</p>



<p>Kita akan kesulitan hidup tanpa <em>smartphone</em>, internet, listrik, dan lain sebagainya. Mati listrik beberapa jam saja sudah menderita setengah mati, seolah tidak ada aktivitas <em>offline </em>yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu sembari menunggu listrik kembali nyala.</p>



<p>Nah, tentu &#8220;penderitaan&#8221; seperti ini tidak pernah dialami oleh manusia primitif. Mereka telah terbiasa hidup berpijak tanah dan beratapkan langit. Mereka tak pernah berjumpa dengan listrik, apalagi internet, dan hidup mereka bisa baik-baik saja dari generasi ke generasi.</p>



<p>Kita dalam peradaban modern kerap dibuat stres dengan berbagai tekanan, yang bisa berupa tuntutan pekerjaan, kewajiban mencari uang untuk melanjutkan hidup, <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/revolusi-karena-pajak/">tarikan pajak yang tak masuk akal dari pemerintah</a>, dan lain sebagainya.</p>



<p>Sekali lagi, tekanan seperti ini rasanya tidak dialami oleh manusia primitif. Mereka tidak mengenal adanya KPI, kalau lapar ya langsung berburu atau berkebun. Mereka tidak dibingungkan dengan tatanan dunia yang makin ke sini makin uangsentris.</p>



<p>Para manusia primitif tampaknya juga tak pernah memikirkan gengsi seperti manusia modern, yang kerap ditampilkan melalui gaya hidup mereka. Tanpa pakai baju pun, mereka tetap sehat-sehat saja, walau manusia terutama di barat juga semakin jarang menggunakan baju.</p>



<p>Dengan beberapa contoh tersebut, apakah kita masih bisa berpikir kalau kehidupan kita lebih baik dari kehidupan mereka?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Lantas, apakah renungan di atas membuat Penulis ingin hidup seperti manusia primitif? <strong>Tentu tidak</strong>. Penulis besar dengan kehidupan modern, sehingga penyesuaian untuk hidup seperti mereka akan menjadi penderitaan yang luar biasa.</p>



<p>Tulisan ini bertujuan untuk memberikan insight bahwa di kehidupan modern yang serba digital ini, masih ada kehidupan terbelakang di sudut-sudut dunia ini. Walaupun begitu, belum tentu kita lebih bahagia dibandingkan mereka. Bisa jadi, mereka jauh lebih bahagia dengan kehidupannya.</p>



<p>Penulis merasa bersyukur dengan kehidupan yang telah diberikan Tuhan kepada dirinya, walau terkadang masih ada perasaan iri kepada manusia primitif yang tampaknya bisa hidup lebih tenang dibandingkan kebanyakan manusia modern.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 1 Desember 2024, terinspirasi setelah menonton video dokumenter tentang hutan Amazon yang menjadi rumah bagi penduduk asli Amerika</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://apnews.com/article/brazil-indigenous-women-climate-rainforest-tribe-0fa79e0a604d5f96394352e5500b516c">AP News</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.npr.org/2022/08/30/1119939392/last-member-uncontacted-tribe-dies-brazil">&#8216;Man of the Hole,&#8217; the last member of his Amazon tribe, dies in Brazil : NPR</a></li>



<li><a href="https://www.youtube.com/watch?v=uFR0rpvyg9k">What&#8217;s Hidden Under the Trees of the Amazon Rainforest? &#8211; YouTube</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/merenungi-manusia-primitif-yang-masih-hidup-di-era-modern/">Merenungi Manusia Primitif yang Masih Hidup di Era Modern</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/merenungi-manusia-primitif-yang-masih-hidup-di-era-modern/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Manusia Diperbudak oleh Ciptaannya Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Nov 2024 14:38:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[robot]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8108</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saat ini, Penulis sedang membaca buku Filsafat Moral karya Fahruddin Faiz, setelah sebelumnya menyelesaikan buku Filsafat Kebahagiaan (ulasan menyusul). Nah, ketika membaca bagian Hans Jonas, Penulis menemukan sesuatu yang menarik. Dalam salah satu subbabnya, Faiz menjabarkan &#8220;Situasi Apokaliptik Teknologi&#8221; yang pernah disinggung oleh Jonas. Intinya, teknologi-teknologi yang diciptakan oleh manusia berpotensi mengakibatkan kiamat bagi peradaban [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/">Bagaimana Manusia Diperbudak oleh Ciptaannya Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Saat ini, Penulis sedang membaca buku <em>Filsafat Moral </em>karya <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/">Fahruddin Faiz</a>, setelah sebelumnya menyelesaikan buku <em>Filsafat Kebahagiaan</em> (ulasan menyusul). Nah, ketika membaca bagian Hans Jonas, Penulis menemukan sesuatu yang menarik.</p>



<p>Dalam salah satu subbabnya, Faiz menjabarkan <strong>&#8220;Situasi Apokaliptik Teknologi&#8221; </strong>yang pernah disinggung oleh Jonas. Intinya, teknologi-teknologi yang diciptakan oleh manusia berpotensi mengakibatkan kiamat bagi peradaban manusia.</p>



<p>Menurut Jonas, <strong>semakin manusia mengembangkan teknologi, mereka semakin tidak mampu menguasai teknologi yang mereka ciptakan</strong> (hal. 79). Tanda-tandanya makin ke sini makin terlihat, di mana manusia semakin diperbudak oleh teknologi buatannya sendiri.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/setelah-membaca-memulihkan-pendidikan-memulihkan-manusia-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/setelah-membaca-memulihkan-pendidikan-memulihkan-manusia-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/setelah-membaca-memulihkan-pendidikan-memulihkan-manusia-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/setelah-membaca-memulihkan-pendidikan-memulihkan-manusia-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/setelah-membaca-memulihkan-pendidikan-memulihkan-manusia-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Membaca Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-memulihkan-sekolah-memulihkan-manusia/">Setelah Membaca Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Manusia Diperbudak oleh Ciptaannya Sendiri</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8111" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-1-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Diperbudak oleh Ciptaan Sendiri (<a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-people-engaged-on-their-phones-8088489/">cottonbro studio</a>)</p>
</div></div>



<p>Ketika menuliskan <em>opening </em>di atas, teknologi apa yang pertama kali terlintas di pikiran? Mungkin mayoritas jawabannya adalah <em><strong>smartphone</strong></em>, <strong>internet</strong>, hingga <strong>media sosial</strong>. Jawaban itu benar, tapi yang memperbudak kita jauh lebih banyak dari itu.</p>



<p>Ketiga hal yang Penulis sebut di atas jelas telah menjadi keseharian kita. Pernah terbayang satu hari tanpa ketiganya? Rasanya kita sudah <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">begitu tergantung kepadanya</a> sehingga rasanya tak mungkin hidup tanpa ketiganya.</p>



<p>Sekarang bayangkan seandainya dunia tiba-tiba mengalami <strong>Internet Apocalypse</strong>, di mana tiba-tiba tidak ada lagi internet di dunia. Selain <em>smarpthone</em> kita menjadi<em> nottoosmartphone</em>, media sosial pun tak bakal bisa akses.</p>



<p>Lebih gawatnya lagi, kalau yang bekerja <em>remote </em>seperti Penulis, jelas kehilangan pekerjaan akan terjadi. Semua harus kembali manual seperti puluhan tahun yang lalu, dunia di mana belum ada internet.</p>



<p>Namun, sebenarnya ciptaan kita yang memperbudak tak hanya sebatas itu. Internet hanyalah sebagian kecil saja. Contoh lain yang tak kalah menyusahkan seandainya tiba-tiba lenyap adalah <strong>listrik</strong>. Seandainya internet tak hilang pun, akan percuma jika tidak ada listrik.</p>



<p>Bayangkan, tak ada tempat untuk menyimpan makan seperti kulkas, tak ada lampu untuk penerangan di malam hari, tak ada mesin cuci untuk membersihkan pakaian, tak ada komputer untuk bekerja, dan masih banyak lagi hal yang tak akan bisa kita lakukan.</p>



<p>Contoh lain, bayangkan dunia tanpa <strong>bensin</strong>. Kendaraan semewah Ferrari atau Lamborghini pun akan menjadi mesin yang tidak bisa melakukan apa-apa. Manusia diberi pilihan mau mengendarai kuda atau sepeda untuk bisa mencapai tujuan dengan cepat.</p>



<p>Jangan lupa, <strong>uang</strong> yang merupakan alat ciptaan manusia untuk mempermudah transaksi pun juga telah memperbudak kita sejak lama. Tentu Pembaca sudah bosan mendengar berita tentang bagaimana serakahnya manusia demi mendapatkan uang.</p>



<p>Manusia rela melakukan banyak hal tercela untuk bisa mendapatkan uang, yang ia gunakan untuk memenuhi hawa nafsunya yang tak berbatas. Kalau perlu menyengsarakan manusia satu negara, mereka akan melakukannya tanpa peduli sama sekali.</p>



<p>Contoh-contoh di atas rasanya sudah cukup memberikan gambaran bagaimana kita manusia sudah diperbudak dan dibuat ketergantungan dengan ciptaan kita sendiri. Apalagi, kita baru akan memasuki era AI yang tampaknya akan dengan mudah membuat kita ketergantungan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Lantas, Apa yang Harus Kita Lakukan?</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8112" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-2-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Apa Kita Siap Hidup Tanpa Internet? (<a href="https://www.youtube.com/watch?v=Inpbk2Ge6sQ">YouTube</a>)</p>
</div></div>



<p>Kita sekarang mengetahui bahwa manusia diperbudak oleh ciptaannya sendiri? Lantas, apa yang harus kita lakukan sebagai manusia agar tidak diperbudak oleh ciptaannya sendiri? Apakah kita harus kembali hidup ala zaman batu ketika kita belum menemukan apa-apa?</p>



<p>Kalau Penulis, rasanya sekarang <strong>kita berada di situasi yang hampir tidak memungkinkan untuk lepas seutuhnya segala hal yang telah kita ciptakan</strong>. Tak mungkin juga kita mengambil langkah ekstrem dan meninggalkan semua teknologi yang ada.</p>



<p>Menurut Penulis, apa yang dimaksud dari peringatan Hans adalah bagaimana kita sebagai manusia harus selalu ingat kalau <strong>teknologi yang kita buat adalah alat yang harus kita kendalikan</strong>, bukan kita yang justru oleh dikendalikan.</p>



<p>Sesederhana contoh media sosial, jangan mau kita terus diperbudak dengan terus melakukan <em>scrolling </em>tanpa batas dan membuat diri kita menjadi komoditas platform untuk dijual ke pengiklan. Kita harus bisa mengontrol durasi penggunaan media sosial kita.</p>



<p>Penggunaan listrik pun ada baiknya kita kontrol dengan bijaksana. Jangan di siang hari kita menyalakan semua lampu padahal ruangan cukup terang. Jangan mentang-mentang kita bisa bayar, lantas membuang-buang energi seperti itu.</p>



<p>Para ilmuwan atau siapapun itu yang telah menciptakan berbagai hal memang membuatnya untuk mempermudah kehidupan kita sebagai manusia. Kita harus berterima kasih kepada mereka karena hidup kita menjadi lebih mudah karena ciptaan-ciptaan mereka.</p>



<p>Selain itu, jangan sampai <strong>kita sebagai manusia justru akan dimusnahkan oleh ciptaan kita sendiri</strong>. Kepandaian manusia justru digunakan untuk <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-perang-nuklir-benar-benar-terjadi/">membuat senjata pemusnah massal</a>. Namun, itulah realita yang sedang terjadi saat ini.</p>



<p>Kutipan yang diucapkan oleh Jonas juga bisa diartikan bahwa ada masanya manusia akan membuat senjata yang ternyata tidak bisa dikendalikan oleh manusia. Contoh mudahnya, lihat saja <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-what-if-bagian-2/">Ultron yang dihadapi oleh para Avengers</a>.</p>



<p>Semoga saja hal tersebut tidak pernah terjadi, baik di masa kini maupun di masa depan. Semoga manusia cukup bijak untuk memanfaatkan ciptaan-ciptaannya. Jangan sampai kehidupan di bumi ini rusak hanya karena kita tidak mampu mengendalikan apa yang kita ciptakan.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Lawang, 29 November 2024, terinspirasi ketika membaca buku <em>Filsafat Moral</em> karya Fahruddin Faiz</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/">Bagaimana Manusia Diperbudak oleh Ciptaannya Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Jika Air Bersih di Bumi Habis?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-air-bersih-di-bumi-habis/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-air-bersih-di-bumi-habis/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Oct 2024 16:08:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7971</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa hari terakhir, di daerah Penulis terjadi &#8220;krisis air&#8221; yang cukup menyusahkan, walau belum sampai tahap berbahaya. Penulis tidak mengetahui apa penyebabnya, tapi yang jelas tandon Penulis yang terletak di atas hampir tidak pernah terisi. Untungnya, keran depan masih bisa mengalirkan air dengan lancar, sehingga setidaknya Penulis sekeluarga tinggal memasang selang hingga ke kamar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-air-bersih-di-bumi-habis/">Bagaimana Jika Air Bersih di Bumi Habis?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa hari terakhir, di daerah Penulis terjadi &#8220;krisis air&#8221; yang cukup menyusahkan, walau belum sampai tahap berbahaya. Penulis tidak mengetahui apa penyebabnya, tapi yang jelas tandon Penulis yang terletak di atas hampir tidak pernah terisi.</p>



<p>Untungnya, keran depan masih bisa mengalirkan air dengan lancar, sehingga setidaknya Penulis sekeluarga tinggal memasang selang hingga ke kamar mandi. Walau sedikit merepotkan, setidaknya &#8220;krisis air&#8221; ini masih bisa teratasi dengan baik.</p>



<p>Mengalami hal seperti ini membuat Penulis kembali merenungkan satu hal yang sebelumnya sudah sering direnungkan: <strong>bagaimana jika air bersih di bumi sampai habis?</strong> Mumpung momennya pas, Penulis ingin membahas tentang hal ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/holywar-300x171.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/holywar-300x171.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/holywar.jpg 350w " alt="Perlukah Tuhan Dibela?" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/renungan/perlukah-tuhan-dibela/">Perlukah Tuhan Dibela?</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Pengalaman Krisis Air Paling Parah</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-7975" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-1-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Ilustrasi Krisis Air (<a href="https://uk.allianzgi.com/en-gb/insights/outlook-and-commentary/liquid-capital-water-crisis">AllianzGI</a>)</p>
</div></div>



<p>Krisis air yang Penulis alami saat ini bukanlah yang paling parah yang pernah Penulis hadapi. Sewaktu magang di Tangerang, rumah teman Penulis sempat mengalami mati air sama sekali hingga kami harus pergi ke rumah saudaranya untuk meminta air.</p>



<p>Waktu itu, kami harus memasukkan air ke dalam tangki berwarna biru, lalu harus mengangkatnya ke mobil dan menurunkannya di rumah. Karena waktu itu magang, tentu tidak mungkin Penulis tidak mandi sebelum berangkat ke kantor.</p>



<p>Untuk menghemat, Penulis harus pandai-pandai mengelola air ketika mandi. Penulis ingat pernah memanfaatkan tidak sampai sepuluh guyuran gayung lengkap untuk sikat gigi, keramas, dan menyabuni badan. Segitunya untuk menghemat air yang berhenti mengalir.</p>



<p>Tentu saja pengalaman krisis tersebut tidak ada apa-apanya dengan orang lain, katakanlah di Afrika. Penulis ingat di salah satu video pesulap David Blaine, ada orang Afrika yang melatih kemampuan menyimpan air bersih di perutnya karena di negaranya, air bersih sangat sulit untuk didapatkan.</p>



<p>Jika mengingat hal-hal seperti ini, Penulis sering termenung ketika air bersih sedang melimpah. Misal ketika berwudhu, Penulis menyadari ada banyak sekali air bersih yang terbuang ketika transisi dari satu gerakan ke gerakan lain.</p>



<p>Saat krisis air seperti yang terjadi seperti sekarang, Penulis jadi harus benar-benar berhemat ketika berwudhu dengan tetap memastikan kalau semua bagian tubuh yang diwajibkan harus terkena air. Kira-kira butuh sekitar 10 gayung.</p>



<p>Dengan keterbatasan air seperti sekarang, Penulis jadi merasa bersyukur selama ini masih bisa menikmati air bersih yang sangat melimpah. Pertanyaan besarnya, sampai kapankah kita bisa menikmati air bersih seperti saat ini?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kerusakan Alam yang Makin Parah</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-7974" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-2-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Pencemaran Air karena Hilirisasi (<a href="https://walhisulsel.or.id/4253-aliansi-sulawesi-respon-pernyataan-gibran-di-debat-perdana-cawapres-hilirisasi-nikel-hancurkan-masa-depan-sulawesi-merusak-bentang-alam-dan-kehidupan-masyarakat-khususnya-perempuan/">WALHI Sulsel</a>)</p>
</div></div>



<p>Ada banyak sekali alasan mengapa Penulis berpendapat bahwa air bersih di bumi bisa saja akan sulit untuk diakses oleh manusia, bahkan yang tinggal di peradaban paling modern sekalipun. Satu alasan paling kuat adalah <strong>perusakan alam yang makin menggila</strong>.</p>



<p>Contoh yang paling dekat adalah bagaimana pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) yang memengaruhi air bersih yang bisa dinikmati oleh warga sekitar. Dalam video dokumentasi yang dibuat oleh tim Narasi, bisa dilihat bagaimana perjuangan mereka untuk mendapatkan air bersih, termasuk harus mengeluarkan uang yang cukup besar.</p>



<p>Selain itu, proyek hilirisasi yang terjadi di berbagai tempat juga bisa mengakibatkan buruknya kualitas air penduduk sekitar. <a href="https://whathefan.com/politik-negara/memahami-apa-itu-hilirisasi-secara-sederhana-melalui-tropico-6/">Hilirisasi yang ugal-ugalan</a> membuat sumber air mereka menjadi tercemar dan tidak bisa dimanfaatkan seperti dulu lagi.</p>



<p>Belum lagi kebiasaan buruk kita untuk membuang sampah ke sungai. Kualitas air pun menjadi sangat tercemar seperti yang terjadi di banyak perkotaan, di mana kualitas airnya kalah jauh dari kualitas air di pedesaan.</p>



<p>Selain itu, jangan lupa kalau dalam peperangan, terkadang ada cara-cara jahat dengan <strong>meracuni sumber air</strong>. Tentu ini strategi yang tidak manusiawi dan dampaknya pun bisa mengakibatkan <em>butterfly effect</em> yang tidak sepele.</p>



<p>Tentu banyak manusia yang menyadari potensi hilangnya air bersih dari permukaan bumi. Para ilmuwan ataupun akademisi banyak yang berupaya untuk membuat teknologi untuk mengelola air-air yang awalnya tidak bisa digunakan menjadi bisa digunakan.</p>



<p>Namun, <strong>seberapa banyak orang yang dapat merasakan manfaat tersebut? </strong>Teknologi-teknologi semaju itu biasanya membutuhkan biaya yang tinggi. Jika teknologi tersebut memang bisa digunakan secara murah dan massal, tentu krisis air di dunia sudah bisa teratasi.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Perlu diingat bahwa meskipun <a href="https://whathefan.com/renungan/bumi-itu-datar/">planet bumi</a> didominasi oleh air, hanya sekitar <strong>2-3% air bersih</strong> yang bisa digunakan oleh manusia untuk berbagai kebutuhan. Sisanya merupakan air laut yang sangat sulit untuk dimanfaatkan karena tingginya kandungan garam yang dimiliki.</p>



<p>Jika air bersih di bumi sampai benar-benar habis, maka rasanya krisis akan terjadi di mana-mana. Perang untuk memperebutkan sumber air yang masih bersih sangat mungkin terjadi.  Manusia yang bisa bermutasi dengan meminum air kotor akan menjadi spesies yang bertahan.</p>



<p>Oleh karena itu, sudah sewajarnya kita lebih <strong>menghargai dan mensyukuri air bersih</strong> yang bisa kita nikmati dengan melimpah saat ini. Jangan membuang-buang air bersih untuk hal yang mubazir, gunakan dengan sebijak mungkin.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 7 Oktober 2024, terinspirasi setelah air di rumah mengalami pengurangan volume</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/girl-drinking-water-from-the-pipe-28101461/">illustrate Digital Ug</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-air-bersih-di-bumi-habis/">Bagaimana Jika Air Bersih di Bumi Habis?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-air-bersih-di-bumi-habis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Manusia adalah Makhluk Paling Berbahaya di Dunia Ini</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/manusia-adalah-makhluk-paling-berbahaya-di-dunia-ini/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/manusia-adalah-makhluk-paling-berbahaya-di-dunia-ini/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 22 Sep 2024 15:08:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[amerika]]></category>
		<category><![CDATA[genosida]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[penjajahan]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7908</guid>

					<description><![CDATA[<p>Manusia, atau Homo sapiens, kerap dianggap sebagai makhluk paling sempurna yang ada di dunia ini. Dari sisi agama pun, manusia yang ditunjuk sebagai pemimpin di Bumi, bukan makhluk lain seperti singa, gajah, paus, ataupun kaktus. Dibandingkan spesies lainnya, kita memang memiliki banyak kelebihan. Jika spesies lain menggunakan akalnya untuk sekadar bertahan hidup, maka manusia bisa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/manusia-adalah-makhluk-paling-berbahaya-di-dunia-ini/">Manusia adalah Makhluk Paling Berbahaya di Dunia Ini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Manusia, atau <em>Homo sapiens</em>, kerap dianggap sebagai <strong>makhluk paling sempurna yang ada di dunia ini</strong>. Dari sisi agama pun, manusia yang ditunjuk sebagai pemimpin di Bumi, bukan makhluk lain seperti singa, gajah, paus, ataupun kaktus.</p>



<p>Dibandingkan spesies lainnya, kita memang memiliki banyak kelebihan. Jika spesies lain menggunakan akalnya untuk sekadar bertahan hidup, maka manusia bisa menggunakannya untuk mendominasi dunia dan menguras segala isinya tanpa pernah merasa puas. </p>



<p>Hal terebut membuat manusia, bagi Penulis, adalah <strong>makhluk paling berbahaya yang ada di dunia ini</strong>. Tidak hanya berbahaya untuk spesies lainnya hingga menyebabkan kepunahan, manusia juga berbahaya untuk sesamanya dengan melakukan genosida.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-banner.jpg 1280w " alt="Safa, Fanatisme Idola, dan Hubungan Parasosial" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/safa-fanatisme-idola-dan-hubungan-parasosial/">Safa, Fanatisme Idola, dan Hubungan Parasosial</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Berbahayanya Manusia terhadap Spesies Lainnya</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/manusia-makhuk-paling-berbahaya-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7911" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/manusia-makhuk-paling-berbahaya-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/manusia-makhuk-paling-berbahaya-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/manusia-makhuk-paling-berbahaya-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/manusia-makhuk-paling-berbahaya-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Manusia Kerap Memusnahkan Spesies Lainnya (<a href="https://jurassic-park-institute.fandom.com/wiki/Dodo">Fandom</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis sedang membaca buku <em>Sapiens Grafis Vol. 1</em> karya Yuval Noah Harari. Pada salah satu babnya, diceritakan bahwa sedang ada pengadilan terhadap nenek moyang <em>Homo sapiens </em>yang hidup di era awal-awal peradaban manusia.</p>



<p>Singkat cerita, intinya ketika manusia pertama kali melakukan migrasi ke Australia, tak lama setelah itu banyak spesies Australia yang mengalami kepunahan. Memang ada faktor lain yang menyebabkan hal tersebut, seperti perubahan iklim yang terjadi.</p>



<p>Ada banyak contoh kepunahan spesies yang disebutkan pada buku tersebut, seperti kanguru setinggi dua meter, singa berkantung, koala raksasa, burung tuna yang lebih besar dari burung unta modern, kadal sepanjang lima meter, hingga diprotodon raksasa.</p>



<p>Ini hanya salah satu contoh yang terjadi puluhan ribu tahun yang lalu. Kalau di era modern, <a href="http://Tokoh &amp; Sejarah6 tahun agoBelajar Waspada Dari Punahnya Burung DodoKita sering mendengar istilah positive thinking yang secara singkat berarti memelihara pikiran yang positif dalam diri kita. Pola pikir seperti ini memang harus dilakukan dalam keseharian...">kepunahan burung dodo di Mauritius</a> menjadi contoh yang paling terkenal. Mereka merupakan jenis burung yang tak bisa terbang, sehingga spesies mereka hanya ada di pulau tersebut.</p>



<p>Karena burung dodo belum pernah melihat manusia sebelumnya, mereka santai-santai saja dan tidak merasa terancam. Hasilnya, hanya dalam waktu singkat mereka punah karena diburu oleh manusia sebagai bahan pangan. Tak tersisa satu ekor pun yang masih hidup saat ini.</p>



<p>Bahkan hingga hari ini, ada banyak sekali spesies yang terancam kepunahannya. Beberapa contohnya adalah badak jawa, eastern lowland gorilla, orangutan tapanuli, dan masih banyak lagi lainnya. </p>



<p>Namun, ternyata manusia tidak hanya berbahaya bagi spesies lain. Manusia juga sangat berbahaya kepada sesama manusia lainnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Berbahayanya Manusia terhadap Manusia Lainnya</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/manusia-makhuk-paling-berbahaya-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7910" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/manusia-makhuk-paling-berbahaya-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/manusia-makhuk-paling-berbahaya-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/manusia-makhuk-paling-berbahaya-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/manusia-makhuk-paling-berbahaya-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Penduduk Asli Benua Amerika (<a href="https://www.history.com/topics/native-american-history/native-american-cultures">History</a>)</figcaption></figure>



<p>Tak hanya memusnahkan spesies hewan, manusia pun dalam sejarahnya kerap memusnahkan sesama manusia lainnya, terutama kepada ras lain. Alasannya pun bervariasi, tapi kebanyakan karena ingin menguasai wilayah lain yang sebenarnya bukan miliknya.</p>



<p>Penulis baru saja menonton sebuah video dokumenter di YouTube dari kanal RealLifeLore yang membahas tentang apa yang tersembunyi di balik hutan Amazon yang misterius. Menurut video tersebut, hutan Amazon adalah salah satu wilayah di permukaan bumi yang masih diliputi banyak misteri.</p>



<p>Salah satu poin dari video tersebut adalah tentang banyaknya suku asli Amerika yang masih hidup di sana. Mereka adalah penduduk asli benua Amerika yang terpinggirkan sejak penjajahan bangsa Eropa ratusan tahun yang lalu. </p>



<p>Melalui video tersebut, diketahui bahwa ketika bangsa Eropa datang pertama kali, diperkirakan ada sekitar 8 juta penduduk asli Amerika yang hidup di sekitar Amazon. Dalam 4 abad saja, jumlah tersebut berkurang drastis hingga tersisa 1 juta penduduk. Pada tahun 1980-an, jumlahnya kembali menyusut hingga tersisa 200 ribu saja.</p>



<p>Data lain menunjukkan bahwa ketika bangsa Eropa datang, diperkirakan ada sekitar 145 juta manusia yang telah menempati benua Eropa. Dua abad kemudian (awal abad 17), jumlah tersebut <strong>habis sekitar 90-95% </strong>karena hanya tersisa 7 hingga 15 juta orang saja atau setara 130 juta orang telah tewas.</p>



<p>Ada juga data yang mengatakan bahwa dari bangsa Spanyol saja telah membunuh sekitar <strong>8 juta penduduk asli Amerika</strong>. Ada juga yang menyebutkan sekitar ada <strong>56 juta orang yang tewas </strong>hanya dalam waktu 100 tahun. Namun, ada data lain yang menyebutkan &#8220;hanya&#8221; <strong>4,7 juta orang </strong>dari awal penjelajahan bangsa Eropa hingga awal abad 19.</p>



<p>Intinya, ada banyak sekali penduduk asli benua Amerika yang terbunuh oleh bangsa Eropa. Tanpa membenarkan perbuatannya, jumlah tersebut membuat<a href="https://whathefan.com/animekomik/antara-eren-thanos-dan-hitler/"> genosida yang dilakukan oleh Adolf Hitler ke bangsa Yahudi</a> jadi terlihat sangat kecil.</p>



<p>Mayoritas pengurangan tersebut tentu saja terjadi karena penjajahan dan perebutan wilayah yang dilakukan oleh bangsa barat, mulai dari Amerika Serikat, Spanyol, Portugal, dan bangsa-bangsa lainnya. Tak hanya itu, mereka pun membawa virus yang bagi masyarakat asli Amerika begitu mematikan karena mereka belum memiliki imunnya.</p>



<p>Kejadian seperti ini tak hanya terjadi di Amerika, tapi juga terjadi di banyak wilayah lainnya. Contohnya adalah suku Aborigin di Australia dan suku Maori yang kini menjadi minoritas di wilayahnya sendiri. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Mari Kita Renungkan&#8230;</h2>



<p>Kita sebagai manusia ternyata telah menjadi makhluk yang paling berbahaya di muka bumi ini. Tak hanya memusnahkan spesien lain hingga punah, kita juga saling berperang satu sama lain demi memuaskan nafsu yang tak pernah bisa dipuaskan.</p>



<p>Jutaan penduduk asli Amerika yang mati karena penjajahan bangsa barat hanya salah satu contoh bagaimana kita sebagai manusia tak bisa menghargai sebuah nyawa. Peristiwa tersebut menjadi contoh bagaimana kita bisa dengan gampangnya melakukan genosida ke bangsa lain.</p>



<p>Coba kira renungkan kembali posisi kita di bumi ini:<strong> sebagai pemimpin di dunia, pantaskah manusia berbuat kerusakan sedemikian besarnya</strong>? Malaikat telah memprediksi hal ini dan mengutarakannya ke Tuhan, tapi Tuhan tetap percaya kepada kita.</p>



<p>Namun, kepercayaan tersebut telah kita rusak sepanjang sejarah. Keserakahan, ambisi, hingga nafsu telah menguasai manusia hingga rela berbuat apa saja tanpa memperhatikan hal lain. Kita seharusnya harus bisa hidup saling berdampingan dengan damai, entah dengan spesies lain maupun dengan sesama manusia.</p>



<p>Memang benar kalau semua kerusakan dan pembantaian yang telah terjadi pasti memiliki hikmahnya. Namun, itu tak bisa dijadikan sebagai pembenaran untuk melakukan perusakan demi perusakan, seolah tak tahu kapan harus berhenti merusak.</p>



<p>Bahkan hingga hari ini, ketika era kolonolialisme dan imperialisme (katanya) telah berakhir, peperangan masih terjadi di mana-mana. Perusakan alam dan pengerukan sumber daya secara tamak masih dilakukan. Ketidakpedulian terhadap lingkungan masih dilakukan.</p>



<p>Mari kita renungkan kembali bersama-sama apa peran kita sebenarnya sebagai manusia di dunia ini: <strong>apakah kita memang ditakdirkan untuk menjadi makhluk paling berbahaya di dunia dan melawan takdirnya sebagai pemimpin yang harusnya membawa kebaikan untuk dunia</strong>?</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 19 September 2024, terinspirasi setelah menonton video dokumenter tentang hutan Amazon yang menjadi rumah bagi penduduk asli Amerika</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.history.com/topics/native-american-history/american-indian-wars-timeline">History</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.youtube.com/watch?v=uFR0rpvyg9k">What&#8217;s Hidden Under the Trees of the Amazon Rainforest? &#8211; YouTube</a></li>



<li><a href="https://www.communitycommons.org/entities/5881b499-5621-4cec-916b-05f9e79bfec7#:~:text=European%20settlers%20killed%2056%20million,London%2C%20or%20UCL%2C%20estimate.">European Colonizers Killed So Many Native Americans that It Changed the Global Climate &#8211; Community Common</a><a href="https://edition.cnn.com/2019/02/01/world/european-colonization-climate-change-trnd">s</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/manusia-adalah-makhluk-paling-berbahaya-di-dunia-ini/">Manusia adalah Makhluk Paling Berbahaya di Dunia Ini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/manusia-adalah-makhluk-paling-berbahaya-di-dunia-ini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Untuk Apa Uang dan Kekayaan Melimpah Jika Tidak Barokah?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-uang-dan-kekayaan-melimpah-jika-tidak-barokah/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-uang-dan-kekayaan-melimpah-jika-tidak-barokah/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Jul 2024 14:57:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[barokah]]></category>
		<category><![CDATA[harta]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kaya]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7589</guid>

					<description><![CDATA[<p>Banyak crazy rich yang pada akhirnya bermasalah dan terlibat dengan hukum. Contoh paling &#8220;panas&#8221; adalah kasus korupsi timah yang merugikan negara hingga 271 triliun yang melibatkan beberapa crazy rich. Kalau mundur ke belakang lagi, ada banyak kasus penipuan yang juga melibatkan crazy rich. Hingga hari ini, masih ada beberapa kasus yang masih mengintai para crazy [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-uang-dan-kekayaan-melimpah-jika-tidak-barokah/">Untuk Apa Uang dan Kekayaan Melimpah Jika Tidak Barokah?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Banyak <em>crazy rich </em>yang pada akhirnya bermasalah dan terlibat dengan hukum. Contoh paling &#8220;panas&#8221; adalah kasus korupsi timah yang merugikan negara hingga 271 triliun yang melibatkan beberapa <em>crazy rich</em>.</p>



<p>Kalau mundur ke belakang lagi, ada banyak kasus penipuan yang juga melibatkan <em>crazy rich</em>. Hingga hari ini, masih ada beberapa kasus yang masih mengintai para <em>crazy rich</em>, entah terlibat dalam pencucian uang maupun kasus-kasus lainnya. </p>



<p>Seperti yang kita tahu, para <em>crazy rich </em>ini kerap membagikan gaya hidupnya yang mewah, sehingga membuat sebuah fenomena kalau hidup itu harus bisa sampai berfoya-foya seperti mereka. Kita belum bisa dibilang sukses kalau uang dan kekayaannya belum melimpah.</p>



<p>Hal ini membuat Penulis merenung,<strong> <em>mengapa kita ini seolah begitu menghamba pada uang dan kekayaan</em></strong>?</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/50852_620-300x172.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/50852_620-300x172.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/50852_620-356x204.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/50852_620.jpg 620w " alt="Soeharto: Sendiri Setelah Reformasi" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/">Soeharto: Sendiri Setelah Reformasi</a></div></div></div><p></p>


<p>Uang itu penting. Uang bisa membuat kita hidup lebih tenang. Uang bisa membuat hidup kita lebih nyaman. Uang bisa membeli banyak keinginan kita. Uang bisa menjadi jalur untuk beribadah. Uang harus diakui telah menjadi barang yang penting di dunia.</p>



<p>Jika disuruh memilih antara miskin barokah atau kaya tidak barokah, pasti mayoritas dari kita akan memilih <strong>kaya barokah</strong>. Bahkan di dalam keyakinan Penulis, menjadi kaya itu dianjurkan karena kita bisa bersedekah, naik haji, menyantuni anak yatim piatu, dan lain sebagainya.</p>



<p>Memiliki uang dan kekayaan juga bisa meminimalisir potensi masalah yang terjadi. Kita tidak bingung ketika susu anak habis, tidak bingung ketika anak akan masuk sekolah, tidak bingung ketika genteng rumah bocor, dan lain sebagainya.</p>



<p>Uang dan kekayaan bisa mulai <strong>menjadi masalah ketika dijadikan sebagai target dalam hidup,</strong> bukannya sebagai alat. Kalau kita hidup untuk mengejar uang dan kekayaan saja, tidak akan ada puasnya. Nafsu kita sebagai manusia membuat kita terus merasa kurang jika tidak bersyukur.</p>



<p>Menjadikan uang dan kekayaan sebagai tujuan hidup akan mendorong kita untuk tak memedulikan bagaimana kita mendapatkannya. Korupsi, penipuan, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/layakkah-pemain-judi-online-dianggap-sebagai-korban/">judi <em>online</em></a>, ada banyak cara instan dan pastinya haram untuk bisa menjadi kaya.</p>



<p>Mungkin ada yang berhasil menjadi kaya dengan cara tersebut, tapi bisa dipastikan hartanya tidak barokah. Karena tidak barokah, pasti ada saja hal buruk yang menimpanya. Beberapa <em>crazy rich </em>yang telah menjadi tersangka adalah contoh mudahnya.</p>



<p>Memang ada yang berhasil lolos dari jeratan hukum, tapi Penulis tidak yakin ia bisa hidup dengan tenang. Penulis membayangkan mereka akan senantiasa merasa was-was, tidak pernah merasa tenang meskipun memiliki banyak harta. </p>



<p>Mendapatkan uang dan kekayaan dengan cara yang tidak barokah terjadi <strong>ketika manusia tidak mampu mengalahkan ego dan nafsunya</strong>. Banyaknya keinginan tidak sebanding dengan pemasukan yang didapatkan. Alhasil, banyak cara haram yang dilakukan.</p>



<p>Penulis yakin para koruptor atau penipu itu bukan dari kalangan miskin. Jika memiliki gaya hidup yang sederhana, harta yang dimiliki sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Bisa karena gengsi atau memang tamak saja, akhirnya mereka ingin menambah kekayaan secara cepat.</p>



<p>Uang dan kekayaan adalah hal yang tidak abadi dan tidak dibawa mati. Lantas, mengapa kita rela mendapatkannya dengan cara yang tidak barokah? <strong>Untuk apa punya banyak harta di dunia yang sementara, tapi cara mendapatkannya membuat kita kehilangan sesuatu yang abadi seperti surga? </strong></p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Tentu tak mudah untuk mempertahankan prinsip dan idealisme di era yang semakin positivistik ini: semua hanya bisa diukur dari sesuatu yang bisa dilihat, termasuk harta. Apalagi, kemunculan berbagai <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">platform media sosial</a> semakin memperparah keadaan ini.</p>



<p>Kita belum dianggap sukses jika belum memiliki ini itu, yang mungkin sebenarnya tidak kita benar-benar butuhkan. <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/">Calon pasangan mengikuti standar TikTok</a> dan menuntut kita untuk bisa membelikan mereka ini itu. Ada banyak desakan seolah kita ini harus kaya dengan cepat, sehingga tak jarang orang memilih jalan pintas yang salah.</p>



<p>Terkadang kita ini saking cintanya dengan dunia, kita sampai lupa kalau ada kehidupan setelah kematian. <strong>Kita menjadi takut dengan kematian karena terlalu cinta dunia</strong>, <strong>terlalu mengejar dunia</strong>. </p>



<p>Semoga kita semua bisa menggunakan uang dan kekayaan sebagai alat semata, bukan tujuan. Semoga kita semua bisa mendapatkan uang dan kekayaan yang barokah, tidak diperoleh dengan cara yang salah dan merugikan banyak orang. Semoga kita semua bisa menggunakan uang dan kekayaan yang dimiliki untuk hal yang benar. Aamiin.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 3 Juli 2024, terinspirasi setelah menyadari kita sebagai manusia kerap menghamba ke uang dan kekayaan</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.psychologs.com/the-psychology-of-rich-people/#google_vignette">Psychology Magazine</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-uang-dan-kekayaan-melimpah-jika-tidak-barokah/">Untuk Apa Uang dan Kekayaan Melimpah Jika Tidak Barokah?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-uang-dan-kekayaan-melimpah-jika-tidak-barokah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Jika Perang Nuklir Benar-Benar Terjadi?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-perang-nuklir-benar-benar-terjadi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-perang-nuklir-benar-benar-terjadi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Jul 2023 10:22:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[nuklir]]></category>
		<category><![CDATA[Oppenheimer]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[perang nuklir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6723</guid>

					<description><![CDATA[<p>Meskipun tidak ditampilkan di dalam film Oppenheimer, Penulis bisa membayangkan betapa dahsyatnya ledakan bom atom yang dijatuhkan di dua kota Jepang, Hiroshima dan Nagasaki. Selain hancurnya kota, banyaknya korban jiwa juga menjadi bukti nyata. Penulis pun jadi berpikir, ledakan sedahsyat tersebut terjadi hampir 80 tahun yang lalu. Pasca-Perang Dunia 2, banyak negara yang tetap mengembangkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-perang-nuklir-benar-benar-terjadi/">Bagaimana Jika Perang Nuklir Benar-Benar Terjadi?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Meskipun tidak ditampilkan di dalam film <em>Oppenheimer</em>, Penulis bisa membayangkan betapa dahsyatnya ledakan bom atom yang dijatuhkan di dua kota Jepang, Hiroshima dan Nagasaki. Selain hancurnya kota, banyaknya korban jiwa juga menjadi bukti nyata.</p>



<p>Penulis pun jadi berpikir, ledakan sedahsyat tersebut terjadi hampir 80 tahun yang lalu. Pasca-Perang Dunia 2, banyak negara yang tetap mengembangkan bom mereka yang jauh lebih dahsyat. Beberapa yang pernah terdengar adalah <strong>Hydrogen Bomb</strong> dan <strong>Tsar Bomba</strong>.</p>



<p>Itu yang ketahuan dan diketahui oleh publik. Bagaimana dengan senjata-senjata rahasia yang lebih mematikan? Bagaimana dengan bom yang daya ledaknya jauh lebih eksplosif? Bagaimana dengan penggunaan senjata nuklir dan biologis?</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-300x200.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1.jpg 2048w " alt="Chapter 18  Kompetisi untuk Harga Diri" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-18-kompetisi-untuk-harga-diri/">Chapter 18  Kompetisi untuk Harga Diri</a></div></div></div><p></p>


<p>Sama seperti kekhawatiran banyak pihak, Penulis pun jadi merasa was-was seandainya dunia kembali saling melempar senjata nuklir ke lawan mereka. Jika hal buruk tersebut benar-benar terjadi, akan seperti apa dampaknya ke kita?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Linkin Park dan Peringatannya akan Perang Nuklir</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="What I&#039;ve Done [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/8sgycukafqQ?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Peringatan akan potensi terjadinya perang nuklir (ataupun jenis perang lainnya yang juga destruktif) bukan Penulis temukan pertama kali <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-oppenheimer/">setelah menonton <em>Oppenheimer</em></a>. Jauh sebelumnya, Penulis telah mengetahuinya dari album-album <strong>Linkin Park</strong>.</p>



<p>Sebagai informasi, nama album <em><strong><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-minutes-to-midnight/">Minutes to Midnight</a> </strong></em>yang dirilis pada tahun 2007 tersebut diambil dari sebuah istilah metafora, yang merujuk kepada betapa dekatnya kita akan kehancuran gara-gara apa yang kita buat sendiri.</p>



<p>Beberapa <em>track </em>yang ada di dalamnya pun penuh dengan pesan perdamaian sekaligus pengingat betapa besar kerusakan yang telah kita buat. Tengok saja video klip dari lagu &#8220;What I&#8217;ve Done&#8221; yang terkenal.</p>



<p>Selang tiga tahun kemudian, Linkin Park merilis album <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-a-thousand-suns/"><strong>A Thousand Suns</strong></a></em>. Nama album ini diambil dari kutipan Bhagavad Gita yang diucapkan oleh J. Robert Oppenheimer, yang menggambarkan ledakan nuklir akan seterang seribu matahari.</p>



<p>Linkin Park juga menyisipkan pidato Oppenheimer yang paling terkenal, di mana ia sekali lagi mengutip Bhagavad Gita dan mengatakan, &#8220;<em>Now I am death, destroyer of the world</em>.&#8221; Banyak yang mengintepretasikan kalau ini menjadi penyesalannya karena telah membuat bom atom.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Perang Dunia Berakhir, Pengembangan Senjata Terus Berlangsung</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="5 Recently Declassified Nuclear Test Videos" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/aTGNPiBGzpE?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Bom atom yang dibuat melalui Manhattan Project awalnya ditujukan ke Jerman. Namun, berhubung Jerman sudah menyerah duluan, alhasil bom atom tersebut dialihkan ke Jepang dengan tujuan membuat mereka menyerah dan mengakhiri perang.</p>



<p>Beberapa ilmuwan yang terlibat dalam Manhattan Project <strong>mengajukan petisi agar bom atom tidak perlu dijatuhkan</strong>. Namun, pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Harry Truman bersikeras dengan alasan Jepang tidak menghiraukan ultimatum mereka.</p>



<p>Alhasil, dengan dalih agar jumlah korban yang jatuh tidak lebih banyak lagi, bom atom pun dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Perang Dunia 2 pun resmi berakhir. Namun, pengembangan senjata nuklir tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti.</p>



<p><a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/bagaimana-oppenheimer-secara-tidak-langsung-membantu-indonesia-merdeka/">Oppenheimer selaku kepala Manhattan Project</a> mendesak agar <strong>pemerintah AS berhenti mengembangkan senjata nuklir</strong>, yang kini hendak membuat Hydrogen Bomb dengan daya hancur yang berkali-kali lipat. Sayang, pendapatnya tidak digubris dan ia pun &#8220;dikucilkan&#8221;.</p>



<p>Pada masa-masa Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, banyak kekhawatiran kalau perang nuklir akan benar-benar terjadi, mengingat kedua kubu memang sama-sama gencar dalam mengembangkan arsenal tempur mereka.</p>



<p>Untungnya hingga Uni Soviet bubar, hal tersebut tidak pernah terjadi. Memang masih ada banyak perang di mana-mana, termasuk akibat perang ideologi antara kapitalisme melawan komunisme. Setidaknya, tidak ada kejadian seperti Hiroshima dan Nagasaki lagi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Senjata Tak akan Pernah Menghentikan Perang</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/bagaimana-jika-perang-nuklir-benar-benar-terjadi-banner-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6726" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/bagaimana-jika-perang-nuklir-benar-benar-terjadi-banner-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/bagaimana-jika-perang-nuklir-benar-benar-terjadi-banner-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/bagaimana-jika-perang-nuklir-benar-benar-terjadi-banner-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/bagaimana-jika-perang-nuklir-benar-benar-terjadi-banner-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Perlombaan Senjata Tak Pernah Usai (<a href="https://www.sipri.org/commentary/topical-backgrounder/2018/how-much-does-russia-spend-nuclear-weapons">SIPRI</a>)</figcaption></figure>



<p>Terus berlangsungnya perang di berbagai belahan dunia seolah mematahkan harapan Oppenheimer dan ilmuwan lainnya. Mereka sebenarnya berharap kalau <strong>senjata yang mereka buat akan menghentikan perang</strong>, karena lawan terlalu takut untuk menyerang.</p>



<p>Kenyataannya, justru lawan jadi <strong>terdorong untuk menciptakan senjata yang jauh lebih hebat</strong>. Alhasil, masing-masing negara justru saling berlomba untuk membuat senjata terhebat yang akan membuat mereka ditakuti oleh lawan.</p>



<p>Contoh nyata bisa kita lihat di era Perang Dingin. Jika Amerika Serikat ditanya mengapa mereka membuat senjata nuklir, mereka akan menjawab karena Uni Soviet. Sebaliknya pun begitu,<em> </em>Uni Soviet membuat senjata nuklir karena Amerika Serikat. </p>



<p>Ketegangan dunia pun seolah berada di titik yang konstan. Seolah-olah ada bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Ketika <a href="https://whathefan.com/politik-negara/standar-ganda-ala-barat/">Rusia tiba-tiba menginvasi Ukraina</a>, siapa yang menyangka? Mungkin segelintir orang, tapi orang pada umumnya tidak akan mengira.</p>



<p>Kekhawatiran akan diluncurkannya senjata nuklir pun kembali mencuat. Sama seperti ketika Amerika Serikat menjatuhkan Fat Man dan Little Boy, bukan tidak mungkin ada negara lain yang ingin <em>show off</em> kepada dunia kalau mereka memiliki senjata yang pantas untuk ditakuti.</p>



<p>Pada akhirnya, <strong>pembuatan senjata tidak akan pernah menghentikan perang</strong>. Yang ada, justru akan melanggengkan perang. Saling curiga antarnegara akan terus terjadi, karena selalu ada kemungkinan kalau negara lain menyimpan senjata yang sangat berbahaya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Jika Perang Nuklir Benar-Benar Terjadi?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/bagaimana-jika-perang-nuklir-benar-benar-terjadi-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6727" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/bagaimana-jika-perang-nuklir-benar-benar-terjadi-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/bagaimana-jika-perang-nuklir-benar-benar-terjadi-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/bagaimana-jika-perang-nuklir-benar-benar-terjadi-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/bagaimana-jika-perang-nuklir-benar-benar-terjadi-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ilustrasi Ledakan Bom Nuklir (<a href="https://www.colorado.edu/today/2022/08/15/nuclear-war-would-cause-global-famine-and-kill-billions-study-finds">University of Colorado Boulder</a>)</figcaption></figure>



<p>Lantas, bagaimana jika (amit-amit) perang nuklir benar-benar terjadi? Bagaimana jika para negara adidaya memutuskan untuk meluncurkan senjata pemusnah massal yang sama sekali tidak berperikemanusiaan tersebut?</p>



<p><strong>Ya sudah, terima takdir apa adanya.</strong> Tidak banyak hal yang bisa dilakukan orang biasa seperti kita. Tidak mungkin juga kita tiba-tiba terjun ke medan perang dan menghentikan semua aktivitas perang atau membatalkan peluncuran senjata nuklir.</p>



<p>Jika perang nuklir benar-benar terjadi, maka artinya tengah malam (<em>midnight</em>) telah tiba. Apa yang diperingatkan oleh Linkin Park melalui albumnya benar-benar terjadi, dan kita harus menerima kenyataan kalau tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menghentikannya.</p>



<p>Paling banter, yang bisa kita lakukan adalah menjadi aktivis dan kerap menyerukan perdamaian. Namun, seberapa lantang suara kita hingga akan didengar oleh para pemangku kekuasaan di dunia? Memang ada peluangnya, tapi sangat kecil.</p>



<p>Untuk sekarang, yang bisa kita lakukan hanyalah berharap perang nuklir tidak pernah terjadi. Sampai detik ini, terhitung baru Amerika Serikat saja yang pernah menjatuhkan senjata nuklir berupa bom atom ke negara lain. Semoga saja itu juga menjadi yang terakhir kalinya.</p>



<p>Kita hanya bisa berharap (dan berdoa) negara-negara besar yang membuat senjata-senjata berbahaya tersebut punya kesadaran untuk tidak memusnahkan kehidupan manusia sebelum hari kiamat tiba.  </p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 25 Juli 2023, terinspirasi setelah menonton film <em>Oppenheimer</em></p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.nj.com/opinion/2022/12/even-a-very-limited-nuclear-war-could-kill-more-than-2-billion-people-opinion.html">NJ.com</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="http://www.immortalreviews.com/home/2017/5/11/how-linkin-parks-urgent-message-in-minutes-to-midnight-is-still-relevant-today">Immortal Reviews</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-perang-nuklir-benar-benar-terjadi/">Bagaimana Jika Perang Nuklir Benar-Benar Terjadi?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-perang-nuklir-benar-benar-terjadi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sungguh, Berharap ke Manusia Itu Benar-Benar Mengecewakan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Apr 2023 14:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[berharap]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kecewa]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6435</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.&#8221; -Ali bin Abi Thalib- Sebagai makhluk yang lemah dan penuh kekurangan, berharap kepada sesama manusia menjadi sesuatu yang sangat lumrah. Dalam keseharian kita, tak pernah luput dari aktivitas tersebut. Hanya saja, terkadang kita tidak sadar ketika sedang menaruh harapan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/">Sungguh, Berharap ke Manusia Itu Benar-Benar Mengecewakan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.&#8221;</p>



<p>-Ali bin Abi Thalib-</p>
</blockquote>



<p>Sebagai makhluk yang lemah dan penuh kekurangan, <strong>berharap kepada sesama manusia</strong> menjadi sesuatu yang sangat lumrah. Dalam keseharian kita, tak pernah luput dari aktivitas tersebut.</p>



<p>Hanya saja, terkadang kita tidak sadar ketika sedang menaruh harapan kita kepada orang lain. Setidaknya, Penulis merasa seperti itu hingga pada akhirnya tersadar dalam satu titik dan membuat dirinya melakukan refleksi diri tentang apa itu berharap kepada manusia.</p>





<p>Mari kita renungkan. Ketika kita <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menolong-orang-secara-berlebihan/">menolong seseorang</a>, apakah kita berharap ia membalas kebaikan kita atau apa yang kita lakukan tanpa pamrih? Apakah kita sebenarnya berharap setidaknya yang ditolong memberikan respons yang baik?</p>



<p>Ketika kita berhasil mengerjakan pekerjaan di tempat kerja dengan baik, apakah kita berharap mendapatkan pujian dan bonus dari atasan? Apakah kita sebenarnya berharap kalau derajat kita di mata kolega kantor menjadi lebih tinggi?</p>



<p>Ketika kita merasa membutuhkan pertolongan dari orang lain, apakah kita benar-benar menggantungkan diri kepada orang tersebut? Apakah kita sebenarnya lupa kalau yang bisa menolong kita hanyalah Tuhan, yang bisa menolong lewat perantara apapun?</p>



<p>Ketika kita berbuat baik di lingkungan, apakah kita berharap akan disanjung oleh para warga yang melihatnya? Apakah kita sebenarnya melakukannya hanya demi terlihat baik di mata orang lain dan melupakan esensi dari perbuatan baik yang dilakukan.</p>



<p>Ketika kita menyayangi seseorang, apakah kita berharap ia akan menyayangi kita juga? Apakah kita ingin diperlakukan oleh dia sebagaimana kita memperlakukan mereka? Apakah kita sebenarnya hanya <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gejolak-nafsu-kawula-muda/">menuruti hawa nafsu</a> semata yang berkedok cinta?</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Itu adalah beberapa contoh bentuk &#8220;berharap kepada manusia&#8221; yang setidaknya Penulis sadari pernah (dan mungkin masih) dilakukan. Memang kesannya semua hal tersebut manusiawi dan wajar saja jika terjadi. Namanya juga manusia.</p>



<p>Namun, Penulis menyadari bahwa berharap kepada manusia dalam bentuk apapun kerap kali menimbulkan perasaan kecewa, jika harapan tersebut tidak terwujud. Bahkan, tak jarang jika hal tersebut justru berbalik menjadi hal yang buruk ke kita.</p>



<p>Contohnya, kita berharap kepada kawan kita untuk menolong kita. Ternyata, kita justru dimanfaatkan demi kepentingannya sendiri. Orang yang kita percayai sebegitu tingginya, ternyata menusuk kita dari belakang. Ia menghancurkan harapan kita begitu saja.</p>



<p>Kita berharap ke sesama manusia begitu tinggi, sehingga seolah melupakan adanya peran Tuhan dalam kehidupan kita. Memang, pada prakteknya rasanya hampir mustahil kita tidak berharap kepada manusia. </p>



<p>Rasanya sulit untuk tidak berharap mendapatkan bonus jika target di tempat kerja berhasil dicapai sebelum tenggat dan kita selalu bekerja melebihi <em>workload </em>yang diberikan. Rasanya sulit untuk berbuat baik tanpa mendapatkan apresiasi yang cukup.</p>



<p>Hampir mustahil rasanya kita tidak berharap dicintai oleh orang yang kita cintai. Perasaan kompleks yang dimiliki oleh manusia ini sangat &#8220;haus&#8221; akan balasan, sehingga rasanya sulit untuk bisa mencapai level &#8220;menyayangi dengan ikhlas&#8221; dan tidak mengharapkan balasan.</p>



<p>Yang ingin Penulis ingatkan untuk dirinya sendiri di tulisan ini adalah, setidaknya, mampu mengurangi kadar berharap ke manusia. Penulis ingat kalau sebagai sesama manusia, kita ini sama-sama makhluk yang lemah dan penuh dengan kekurangan.</p>



<p>Mengapa tidak berharap ke entitas yang Maha Kuat dan Maha Kuasa, yakni <strong>Tuhan</strong>? Secara logika, tentu kita seharusnya berharap kepada sesuatu yang lebih kuat dari kita, bukan kepada yang satu level atau bahkan lebih rendah levelnya dari kita.</p>



<p>Ketika kita menolong orang atau berbuat baik, lebih baik kita niatkan untuk mendapatkan rida dari Tuhan. Ketika kita melakukan pekerjaan dengan baik, niatkan untuk mendapatkan rida dari Tuhan. Ketika mencintai seseorang, niatkan untuk mendapatkan rida Tuhan.</p>



<p>Penulis bukan tipe orang yang super religius yang keimanan dan ketakwaannya sudah selangit sehingga sudah tidak pernah berharap ke manusia. Justru, Penulis menulis artikel ini karena merasa dirinya masih sangat sering berharap kepada sesama manusia.</p>



<p>Semoga saja setelah menulis artikel ini, Penulis (dan Pembaca sekalian) bisa mulai mengurangi harapannya kepada sesama manusia. Sebagai makhluk sosial, tentu kita tetap saling membutuhkan dan melakukan interaksi seperti pada umumnya.</p>



<p>Namun, sebisa mungkin kita tidak menggantungkan harapan apapun kepada sesama manusia. Selain karena lebih banyak membuat kecewanya, ada Tuhan yang lebih layak kita gantungkan harapan kepada-Nya.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 11 April 2023, terinspirasi setelah menyadari (lagi) kalau berharap ke sesama manusia itu mengecewakan</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-female-mobster-pointing-the-gun-on-man-7299584/">cottonbro studio</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/">Sungguh, Berharap ke Manusia Itu Benar-Benar Mengecewakan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>1/365</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/1-365/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/1-365/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2023 15:23:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[2022]]></category>
		<category><![CDATA[2023]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[resolusi]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>
		<category><![CDATA[target]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6263</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tahun 2023 telah tiba. Setelah melalui 365 hari, kita berjumpa kembali dengan tanggal 1 Januari. Hari pertama dari tahun yang baru, bagi kebanyakan orang, akan memberikan semangat baru dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Yang berbeda dari pergantian tahun ini bagi Penulis adalah, selama bulan Desember 2022 kemarin, Penulis (yang sejujurnya sedang banyak pikiran) kerap beberapa kali [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/1-365/">1/365</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Tahun 2023 telah tiba. Setelah melalui 365 hari, kita berjumpa kembali dengan tanggal 1 Januari. Hari pertama dari tahun yang baru, bagi kebanyakan orang, akan memberikan semangat baru dalam mengarungi kerasnya kehidupan.</p>



<p>Yang berbeda dari pergantian tahun ini bagi Penulis adalah, selama bulan Desember 2022 kemarin, Penulis (yang sejujurnya sedang banyak pikiran) kerap beberapa kali melakukan refleksi diri atas apa yang telah terjadi di sepanjang tahun 2022.</p>



<p>Pada tulisan pertama di tahun ini, Penulis ingin sedikit berbagi mengenai apa saja yang telah dipelajari dalam hidupnya selama tahun 2022 kemarin. Selain itu, Penulis juga ingin menyampaikan harapannya di tahun 2023 ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Dipelajari di Tahun 2022</h2>



<p>Penulis merasa di tahun 2022, ada banyak sekali pelajaran kehidupan yang didapatkan. Penulis merasa itu semua menjadi &#8220;modal&#8221; bagi dirinya untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik di tahun-tahun berikutnya, diawali di tahun 2023 ini.</p>



<p>Salah satu yang baru berusaha Penulis pahami adalah tentang bagaimana tentang <strong><a href="https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/">berbuat baik dengan ikhlas</a></strong> tanpa berharap timbal balik apapun. Ternyata, tanpa disadari, Penulis beberapa kali masih berharap adanya <em>feedback </em>dari orang yang telah dibantunya.</p>



<p>Sebagai contoh, ketika Penulis ada ketika seseorang membutuhkannya, Penulis juga berharap kalau orang tersebut ada <em>ketika Penulis yang membutuhkannya</em>. Walaupun terdengar manusiawi, Penulis ingin ke depannya tidak mengharapkan hal tersebut lagi.</p>



<p>Penulis juga belajar banyak mengenai <strong><a href="https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/">menjadi dewasa</a></strong>. Ternyata ada beberapa hal kekanakan di diri Penulis yang belum hilang, seperti kontrol emosi yang (terkadang) masih buruk dan egonya yang (terkadang) masih tinggi. </p>



<p>Apalagi, menjelang usianya yang akan segera mencapai kepala tiga, Penulis masih harus terus belajar mengenai bagaimana menjadi orang yang dewasa yang <em>proper</em>. Tidak perlu muluk-muluk menjadi panutan orang lain, cukup menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitarnya.</p>



<p>Sebagai orang yang kerap <em>overthinking</em>, Penulis mulai belajar mengenai <strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-menerima-keadaan-dari-peter-parker/">berusaha menerima keadaan</a> </strong>dalam hidupnya tanpa perlu memikirkannya secara berlebihan. Menyadari bahwa ada banyak hal yang tidak bisa kontrol benar-benar membantu Penulis.</p>



<p>Sebelumnya, Penulis kerap berusaha mengendalikan banyak hal, termasuk bagaimana sikap dan respons orang lain ke kita, bahkan meminta untuk diprioritaskan. Selain hanya menimbulkan pertengkaran, hal tersebut juga membebani orang lain dengan ekspekstasi kita.</p>



<p>Selain poin-poin di atas, tentu masih ada banyak pelajaran kehidupan lain yang Penulsi dapatkan di tahun 2022. Namun, Penulis merasa bahwa ketiga hal tersebut adalah yang paling esensial dan banyak membantu Penulis untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Diharapkan di Tahun 2023</h2>



<p>Dengan semangat pergantian tahun, tentu ada beberapa hal yang diharapkan akan bisa dilakukan di tahun 2023 ini. Anggap saja ada <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/resolusi-tahun-baru-setiap-hari/">beberapa resolusi yang ingin dicapai tahun ini</a>, terlepas dari adanya beberapa resolusi yang gagal dicapai di tahun lalu.</p>



<p>Penulis merasa agak &#8220;berantakan&#8221; di tahun 2022 kemarin karena rutinitas mencatat jurnal harian dan keuangannya tidak teratur dan banyak bolongnya. Penulis berharap di tahun 2023 ini, Penulis bisa lebih <strong>konsisten melakukan rutinitas</strong> yang telah dilakukan sejak kuliah itu.</p>



<p>Berbicara tentang rutinitas, Penulis juga ingin bisa kembali <strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutin olahraga pagi</a></strong> yang sudah lama ditinggalkannya. Ini jelas butuh niat dan motivasi yang sangat kuat, apalagi jika tidak ada orang lain yang mendorong kita untuk melakukannya.</p>



<p>Penulis juga ingin lebih <strong>rutin menulis blog</strong>, karena tahun 2022 kemarin menjadi rekor penulisan paling sedikit, yaitu <strong>91 artikel</strong>. Ini adalah pertama kalinya sejak blog ini tayang, jumlah artikel yang diproduksi dalam setahun kurang dari 100 artikel.</p>



<p>Besok, tanggal 2 Januari 2023, adalah ulang tahun yang ke-5 dari blog ini. Penulis harapkan ke depannya bisa lebih rutin dalam menulis di <a href="https://whathefan.com/pengalaman/whathefan-adalah-investasi-saya/">blog yang sudah berperan besar dalam kehidupan Penulis</a> ini.</p>



<p>Untuk bisa mencapai hal tersebut, tentu Penulis harus bisa <strong>lebih baik lagi dalam mengatur manajemen waktunya</strong>. Selama 2022 kemarin, Penulis merasa sering membuang-buang waktunya untuk hal yang kurang berfaedah. Semoga saja itu bisa berubah di tahun 2023.</p>



<p>Tentunya di atas itu semua, Penulis berharap bisa menjadi <strong>manusia yang lebih baik lagi</strong>, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Penulis akan terus berusaha menebar kebaikan dan menjadi manfaat bagi sekitarnya.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Semoga saja di tahun 2023 ini, Penulis bisa benar-benar memperbaiki kekurangannya berdasarkan apa yang dirinya pelajari di 2022, serta bisa melakukan hal-hal apa yang telah ditargetkan, dimulai dari hari pertama dari 365 hari yang akan dilalui di tahun 2023.</p>



<p></p>



<p>NB: Gambar Jihyo di <em>banner </em>hanya sebagai ilustrasi optimisme dalam menyambut tahun 2023</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 1 Januari 2023, terinspirasi setelah belakangan ini kerap melakukan refleksi diri menjelang pergantian tahun</p>



<p>Foto: <a href="https://id.pinterest.com/pin/51158145758127469/">Pinterest</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/1-365/">1/365</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/1-365/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa yang Saya Pelajar dari Video Asumsi Mengenai Bantar Gebang</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2022 15:19:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Bantar Gebang]]></category>
		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[mengeluh]]></category>
		<category><![CDATA[pemulung]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[tempat sampah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5997</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kemarin siang ketika selesai makan siang, tanpa sengaja Penulis mendengarkan sebuah video YouTube dari TV yang sedang ditonton oleh ibu. Hanya sepintas, tapi entah mengapa langsung tertangkap oleh telinga Penulis. Video tersebut merupakan sebuah video dari Asumsi yang sedang mewawancarai orang-orang di Bantar Gebang, sebuah tempat di Bekasi yang terkenal sebagai tempat pembuangan sampah akhir. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/">Apa yang Saya Pelajar dari Video Asumsi Mengenai Bantar Gebang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Kemarin siang ketika selesai makan siang, tanpa sengaja Penulis mendengarkan sebuah video YouTube dari TV yang sedang ditonton oleh ibu. Hanya sepintas, tapi entah mengapa langsung tertangkap oleh telinga Penulis.</p>



<p>Video tersebut merupakan sebuah video dari Asumsi yang sedang mewawancarai orang-orang di <strong>Bantar Gebang</strong>, sebuah tempat di Bekasi yang terkenal sebagai tempat pembuangan sampah akhir. Istilah kerennya, Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST).</p>



<p>Salah satu narasumber di video tersebut mengatakan kalau ternyata penghasilan pemulung di sana lumayan mencukupi. Bahkan, ada yang berhasil membangun rumah hingga membeli mobil.</p>





<p>Karena merasa penasaran, malamnya Penulis pun memutuskan untuk menonton video lengkapnya. Dari sana, ternyata Penulis merasa mendapatkan banyak hal yang bisa dijadikan sebagai pelajaran dalam hidup ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bantar Gebang, Tempat Sampah dengan Tumpukan Makna</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Distrik: Bantar Gebang dan Kemampuan Adaptasi Manusia" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/jgc8O10lhQw?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Penulis mengetahui nama Bantar Gebang pertama kali melalui novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/pemilihan-diksi-dan-totalitas-riset-pada-aroma-karsa/">Aroma Karsa</a> </em>karya Dee Lestari. Tokoh utama di novel tersebut digambarkan tinggal di sana dan dianugerahi dengan indra penciuman yang tajam.</p>



<p>Selain itu, Dee Lestari juga membahas mengenai tempat tersebut lebih detail melalui bukunya yang lain berjudul <em><a href="https://whathefan.com/buku/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa/">Di Balik Tirai Aroma Karsa</a></em>. Di buku ini, Dee menceritakan perjalanan risetnya ke Bantar Gebang untuk lebih mendalami penceritaannya.</p>



<p>Berbekal kedua buku tersebut, Penulis pun berasumsi kalau Bantar Gebang adalah tempat pembuangan sampah raksasa. Sudah, hanya sebatas itu. Tidak ada yang menarik dari sebuah tempat sampah.</p>



<p>Pendapat tersebut ternyata berubah setelah Penulis menonton video dari Asumsi yang melakukan dokumentasi ke sana. Ada beberapa poin yang Penulis catat sebagai pelajaran untuk dirinya sendiri, dan semoga juga bisa menginspirasi para Pembaca sekalian.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Bagi Kita Sampah, Bagi Mereka Harta Karun</h3>



<p>Dalam salah satu komik <em>Doraemon</em>, ada alat yang membuat semacam lubang dimensi. Nobita dengan otak bisnisnya pun membuka jasa bagi orang-orang yang ingin membuang sampahnya. Apesnya, Doraemon tersedot masuk dan terbawa ke masa lampau.</p>



<p>Barang-barang yang dianggap sebagai sampah orang modern ternyata bermanfaat untuk orang zaman dulu, bahkan sampai menjadi &#8220;inspirasi&#8221; untuk cerita rakyat. Setelah berhasil kembali ke zaman sekarang, Doraemon pun menjadi selektif dalam membuang sampah.</p>



<p>Nah, itulah yang benar-benar terjadi bagi orang-orang yang tinggal di Bantar Gebang. Barang yang sudah kita anggap sebagai<strong> sampah ternyata bisa menjadi semacam harta karun</strong> untuk mereka. Bagi kita bukit sampah, bagi mereka bukit emas.</p>



<p>Para pemulung bisa menemukan barang-barang bagus yang bisa dijual ke penadah dan mendapatkan pemasukan dari sana. Tak jarang, mereka menemukan makanan dan minuman sisa yang sudah dibuang untuk dikonsumsi!</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kemampuan Adaptasi Manusia yang Luar Biasa</h3>



<p>Orang gila yang makan dari sampah mungkin sudah biasa, tapi bagaimana dengan orang waras yang melakukan itu? Penulis baru menyadari kalau ternyata ada banyak yang melakukan hal tersebut. Pemulung di Bantar Gebang melakukan hal-hal tersebut.</p>



<p>Mungkin, itu adalah salah satu upaya <em>survive </em>mereka dari kerasnya kehidupan di sana. Meskipun katanya mereka bisa membangun rumah dengan memulung, mungkin mereka sudah terbiasa makan dari sampah demi mengirit pengeluaran.</p>



<p>Penulis merasa heran atas kemampuan adaptasi tubuh orang-orang di Bantar Gebang. Secara logika, makanan yang sudah menjadi sampah tentu penuh dengan kuman dan penyakit, tapi mengapa mereka terlihat sehat-sehat saja dan jarang sakit?</p>



<p>Tak salah lagi, keadaan telah memaksa tubuh mereka <strong>melakukan adaptasi yang luar biasa</strong>. Demi bisa bertahan hidup, tubuh pun harus menjadi lebih tangguh dalam menghadapi berbagai potensi bahaya yang masuk dari makanan-makanan sisa tersebut.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Terlihat Hina, Padahal Berkecukupan</h3>



<p>Penulis benar-benar kaget ketika mendengar pengakuan narasumber di video tersebut (seorang penadah) yang mengatakan kalau anak buahnya yang pemulung ternyata bisa membangun rumah di kampungnya, yang dianggapnya lebih bagus dari rumahnya sendiri. </p>



<p>Tidak cukup sampai di situ, ada banyak pemulung yang berhasil mencicil motor hingga mobil. Jujur, logika Penulis tidak sampai ke sana bagaimana mereka bisa mengelola uangnya dengan begitu baik.</p>



<p>Bagi orang di luar Bantar Gebang, mungkin pekerjaan sebagai pemulung adalah pekerjaan yang hina dan kotor. Namun, nyatanya <strong>mereka bisa hidup bahagia dan mampu memiliki berbagai aset</strong>. </p>



<p>Ini berkebalikan dengan beberapa orang di kota besar, di mana dari luar keliatan <em>borjuis </em>dan bergaya hidup mewah, padahal barangnya banyak yang kredit, bahkan ada yang hanya pinjaman. Semua demi menjaga gengsi semata. Pertanyaannya, mana yang lebih hina?</p>



<h3 class="wp-block-heading">Mereka Belajar Finance dari Mana?</h3>



<p>Si penadah yang sudah Penulis sebutkan di atas ternyata menginvestasikan sebagian penghasilannya untuk beternak kambing. Katanya, seandainya ada hal buruk terjadi seperti pandemi kemarin, setidaknya ia punya sesuatu untuk dijual demi menyambung hidup.</p>



<p>Selain itu, ada juga seorang penjaja warung di Bantar Gebang. Ia memiliki semacam lapak di atas tumpukan sampah. Menurut pengakuannya, ia bisa mendapatkan penghasilan dalam sehari antara ratusan ribu hingga jutaan rupiah dalam sehari.</p>



<p>Ia mengatakan kalau separuh dari pemasukan tersebut ia tabung. Hasilnya, ia pun sudah bisa punya rumah sendiri. Kenyataan ini benar-benar menampar Penulis: Mereka tidak pernah belajar tentang <em>finance</em>, tapi <strong>pengelolaan uangnya sangat baik</strong>!</p>



<p>Penulis merasa dirinya cukup banyak membaca posting atau menonton video seputar <em>finance</em>, tapi belum bisa di level mereka. Memang ada banyak faktor lain yang memengaruhi ini seperti gaya hidup, tapi Penulis ingin fokus dengan kehebatan mereka dalam mengelola uang.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Nikmat Mana Lagi yang Aku Dustakan?</h3>



<p>&#8220;Tidak ada orang yang susah, adanya orang yang malas,&#8221; tutur penjaja warung di video tersebut. Satu kalimat sederhana yang keluar dari orang biasa, tetapi mampu membuat Penulis merasa malu.</p>



<p>Dibandingkan mereka, Penulis tentu merasa memiliki banyak <em>privilege</em> dalam hidupnya. Penulis jadi <strong>merasa bertanggung jawab untuk bisa memanfaatkan <em>privilege</em></strong><em> </em>tersebut untuk bisa menjadi orang yang lebih baik lagi dan bisa bermanfaat untuk orang banyak.</p>



<p>Selain itu, Penulis juga sadar kalau selama ini dirinya selama ini <strong>terlalu banyak mengeluh</strong>. Iya memang kemampuan orang dalam menghadapi masalah beda-beda, tetapi Penulis tidak ingin menjadikan hal tersebut sebagai pembenaran untuk mengeluh.</p>



<p>Penulis jadi <strong>banyak-banyak bersyukur</strong> karena tidak perlu menjalani kehidupan berat seperti mereka yang setiap hari harus bekerja dengan risiko tinggi. Di TPST seperti itu, terlindas buldoser atau terpapar cairan kimia berbahaya bisa terjadi.</p>



<p>Penulis juga jadi lebih mensyukuri setiap makanan yang disantapnya, bersyukur bisa bekerja di tempat yang nyaman, dan lain sebagainya. Sesungguhnya Penulis jadi sadar, <strong>betapa banyak nikmat yang telah Penulis dustakan selama ini</strong>. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Ketika membaca kolom komentar, mayoritas memuji Asumsi karena &#8220;berani&#8221; dan totalitas dalam menyusun video tersebut. Bagaimana tidak, sang <em>host </em>sampai nekat untuk memakan makanan bekas!</p>



<p>Bagi Penulis, melihat sisi kehidupan lain yang selama ini tak terpikirkan memang menarik. Penulis jadi mengetahui ada kehidupan seperti di Bantar Gebang yang begitu unik dan berwarna. <strong>Kondisi yang memaksa memunculkan celah untuk bertahan hidup</strong>.</p>



<p>Mungkin ke depannya Penulis akan lebih sering menonton video-video dokumenter seperti ini agar Penulis bisa mengerti bagaimana kehidupan di luar sana dan membantu Penulis untuk bisa menjadi manusia yang lebih bersyukur.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 11 Oktober 2022, terinspirasi setelah menonton video Asumsi mengenai Bantar Gebang di YouTube</p>



<p>Foto: <a href="https://news.detik.com/berita/d-5731837/kontrak-tpst-bantargebang-dengan-bekasi-berakhir-oktober-ini-kata-wagub-dki">Detik</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/">Apa yang Saya Pelajar dari Video Asumsi Mengenai Bantar Gebang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
