<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Buku Archives - whathefan</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/buku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/buku/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 14 Mar 2026 14:09:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/02/logo-kotak-whathefan-2026-v3-80x80.jpg</url>
	<title>Buku Archives - whathefan</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/buku/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2026 12:57:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Keigo Higashino]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8591</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa tulisan ke depan, Penulis akan cukup sering mengulas novel-novel dari Keigo Higashino, karena memang sedang suka (lagi) membaca novel-novel detektif. Sebelumnya, Penulis sudah pernah mengulas The Devotion of Suspect X dan A Midsummer’s Equation, di mana pendapat Penulis bisa dibilang cukup berbeda di antara keduanya. Penulis sangat suka The Devotion of Suspect X, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/">[REVIEW] Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa tulisan ke depan, Penulis akan cukup sering mengulas novel-novel dari <strong>Keigo Higashino</strong>, karena memang sedang suka (lagi) membaca novel-novel detektif. </p>



<p>Sebelumnya, Penulis sudah pernah mengulas <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/"><em>The Devotion of Suspect X</em></a> dan <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/"><em>A Midsummer’s Equation</em></a>, di mana pendapat Penulis bisa dibilang cukup berbeda di antara keduanya. </p>



<p>Penulis sangat suka The Devotion of Suspect X, tapi kurang puas dengan A Midsummer’s Equation, bahkan sempat berpikir untuk tidak lanjut membaca buku-buku Keigo.</p>



<p>Namun, Penulis memutuskan untuk berubah pikiran dan akhirnya membeli novel ketiga yang berjudul <em><strong>Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</strong></em>. Tokoh utama di novel ini bukan Profesor Yukawa, tapi Detektif Kaga!</p>



<p class="has-text-align-center"><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/negara-tanpa-oposisi-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/negara-tanpa-oposisi-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/negara-tanpa-oposisi-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/negara-tanpa-oposisi-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/negara-tanpa-oposisi-banner.jpg 1280w " alt="Negara Tanpa Oposisi" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/politik-negara/negara-tanpa-oposisi/">Negara Tanpa Oposisi</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Malice</em> <em>&#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</em></li>



<li>Penulis: Keigo Higashino</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-14</li>



<li>Tanggal Terbit: Mei 2025</li>



<li>Tebal: 224 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020639321</li>



<li>Harga: Rp99.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</h2>



<p>Pada kasus kali ini, seorang penulis novel bernama <strong>Hidaka Kunihiko</strong> ditemukan tewas di rumahnya yang terkunci, tepatnya di ruang kerjanya yang juga terkunci. Padahal, ia akan pindah dari Jepang ke Kanada keesokan harinya. </p>



<p>Mayatnya ditemukan oleh istri dan sahabatnya yang bernama <strong>Nonoguchi Osamu</strong>, tapi keduanya memiliki alibi yang kuat. <strong>Detektif Kaga Kyoichiro</strong> sendiri menaruh curiga kepada Osamu dan penyelidikan pun dimulai.</p>



<p>Nah, jika Profesor Yukawa lebih mirip Hercule Poirot, maka Detektif Kaga ini lebih mirip dengan Sherlock Holmes. Bagaikan anjing pelacak, ia akan menelusuri setiap sudut untuk menemukan fakta yang akan terlewatkan mayoritas orang.</p>



<p>Selain itu, Detektif Kaga juga sangat peduli terhadap detail kecil sekalipun. Bayangkan saja, kondisi jari orang bisa menjadi petunjuk penting untuk menemukan siapa pelaku pembunuhan.</p>



<p>Satu hal yang menarik begitu membaca novel ini adalah <strong><em>angle</em>-nya yang dibuat seperti sebuah catatan tertulis</strong>. Namun, penulisnya berbeda-beda, terkadang Osamu sebagai sahabat korban, kadang catatan Detektif Kaga.</p>



<p>Novel ini mengingatkan Penulis akan novel Agatha Christie yang berjudul <em>The Murder of Roger Ackroyd</em>. Di novel tersebut, tokoh &#8220;aku&#8221; yang menulis novel tersebut ternyata terungkap menjadi pembunuhnya. Nah, formula tersebut sedikit mirip di sini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</h2>



<p>Berbeda dengan <em>The Devotion of Suspect X </em>yang pembunuhnya jelas-jelas ketahuan sejak awal atau <em>A Midsummer’s Equation</em> yang benar-benar gelap di awal cerita, novel ini mengambil jalan tengah (walau memang condong mengikuti formula <em>The Devotion of Suspect X </em>).</p>



<p>Kecurigaan memang langsung menuju ke Osamu, tapi untuk membuktikan ia pelakunya tidak langsung dijelaskan. Ia bahkan memiliki alibi yang menunjukkan bahwa dirinya bukan pelaku pembunuhan, setidaknya di 1/3 awal buku.</p>



<p>Nah, hal paling seru di novel ini adalah bagaimana kita bisa <strong>melihat ada banyak <em>reverse psychology </em>di sini</strong>, di mana awalnya kita dibuat berpikir A, lalu ternyata kenyataannya adalah B, tapi ternyata itu adalah trik untuk menutupi kenyataan C, dan seterusnya.</p>



<p>Ketika membaca penjelasan bagian ini, Penulis harus mengakui bahwa hal tersebut ditulis dengan cerdas oleh Keigo. Penulis yang awalnya sudah terbawa arus pun dibuat terkejut ketika kenyataannya terbongkar.</p>



<p>Karena hal tersebut adalah hal paling seru di novel ini, maka Penulis tidak akan menceritakan detailnya. Intinya, jangan mudah percaya dengan apa yang dibaca, teruslah curiga dan amati setiap detail terkecil!</p>



<p>Mungkin salah satu hal yang paling melelahkan dari novel ini adalah bagian interogasi di 1/3 akhir novel, di mana <strong>ada banyak sekali catatan interogasi terhadap banyak narasumber</strong>. Bagi sebagian orang, mungkin bagian ini bisa terasa <em>overwhelming</em>.</p>



<p>Walau begitu, Penulis bisa memahami bahwa hal tersebut memang harus dilakukan oleh Detektif Kaga untuk menemukan motif pelaku, yang ternyata memang berakar dari masa lalunya. Motif masa lalu itulah yang ingin ditutupi oleh sang pelaku.</p>



<p>Yang jelas, ada satu pesan penting yang ingin disampaikan Keigo: <em><strong>stop bullying</strong></em>. Lho, apa hubungan kematian seorang novelis dengan kasus perundungan? Jawabannya akan ketemu jika Pembaca membaca novel ini.</p>



<p>Kesimpulannya, <em>Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</em> mengulang formula D<em>evotion of Mr. X </em>yang pelakunya ketahuan secara cepat. Kedua novel tersebut bukan tentang siapa pelakunya, bukan tentang bagaimana cara melakukan pembunuhannya, tapi tentang <strong>mengapa melakukannya</strong>.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>SKOR: <strong>8/10</strong></p>
</blockquote>



<p>Penulis akhirnya memutuskan untuk terus membaca novel-novel Keigo, karena cerita misterinya yang cukup ringan cocok untuk Penulis. Novel selanjutnya yang Penulis pilih adalah <em><strong>Salvation of a Saint &#8211; Dosa Malaikat</strong>.</em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 14 Maret 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Malice</em> karya Keigo Higashino</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/">[REVIEW] Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Caranya agar Semangat Membaca Buku?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Jun 2024 16:48:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7520</guid>

					<description><![CDATA[<p>Entah saja kapan Penulis membuat persona dirinya sebagai seorang pembaca buku. Mungkin sejak kuliah, ketika dirinya mulai membeli buku-buku sendiri. Ketika sekolah, Penulis memang sudah membaca buku, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak. Hingga hari ini, persona kutu buku masih melekat pada diri Penulis. Selain karena sering membuat artikel ulasan buku yang sudah selesai dibaca, Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/">Bagaimana Caranya agar Semangat Membaca Buku?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Entah saja kapan Penulis membuat persona dirinya sebagai seorang pembaca buku. Mungkin sejak kuliah, ketika dirinya mulai membeli buku-buku sendiri. Ketika sekolah, Penulis memang sudah membaca buku, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak.</p>



<p>Hingga hari ini, persona kutu buku masih melekat pada diri Penulis. Selain karena sering membuat artikel ulasan buku yang sudah selesai dibaca, Penulis memang sering terlihat bersemangat jika topik obrolan bersama teman-teman sudah membahas tentang buku.</p>



<p>Salah satu pertanyaan yang sering diberikan kepada Penulis adalah bagaimana caranya agar suka membaca? Tentu ini pertanyaan yang cukup <em>tricky</em>, karena kebiasaan membaca Penulis sudah dari kecil. Pengaruh ayah yang juga suka membaca bisa <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apa-yang-salah-dengan-privilege/">menjadi <em>privilige</em></a> untuk Penulis.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG_4669-300x126.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG_4669-300x126.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG_4669-768x324.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG_4669-1024x432.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG_4669-356x150.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG_4669.jpg 2048w " alt="SWI Barang Bekas" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/swi-barang-bekas/">SWI Barang Bekas</a></div></div></div><p></p>


<p>Namun, jika dipikir-pikir lagi, sebenarnya ada beberapa cara yang berhasil setidaknya pada diri Penulis. Meskipun suka membaca, ada kalanya Penulis merasa sangat malas untuk membuka buku. Entah ada berapa buku yang akhirnya menumpuk dan tidak pernah dibaca.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #1: Pilih Topik Buku yang Digemari</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7523" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/pile-of-assorted-novel-books-694740/">Min An</a></figcaption></figure>



<p>Tips pertama dan yang paling <em>basic </em>adalah <strong>memilih buku sesuai dengan topik yang digemari</strong>. Kalau sukanya fiksi, ya jangan memaksakan diri untuk membaca buku ekonomi. Yang ada malah merasa mual karena tidak paham sama sekali apa isinya.</p>



<p>Penulis sendiri biasanya punya stok untuk beberapa genre yang diminati, karena kebetulan dirinya punya banyak topik bacaan yang digemari. Jadi, Penulis bisa memilih genre bacaannya sesuai dengan <em>mood</em>-nya saat itu. </p>



<p>Saat ini saja, ada sekitar 12 buku yang Penulis baca bersamaan dari berbagai genre, mulai dari fiksi, sejarah, pengembangan diri, dan lain sebagainya. Penulis tinggal memilih mana yang mau dibaca hari ini, benar-benar tergantung <em>mood</em>-nya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #2: Pilih Buku yang Ringan-Ringan Dulu Saja</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7528" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/unrecognizable-woman-sitting-outdoors-and-reading-book-4963708/">Karolina Kaboompics</a></figcaption></figure>



<p>Selain topik, pemilihan bobot buku juga bisa menentukan semangat kita dalam membaca. Kalau belum terbiasa membaca, tips kedua, usahakan untuk<strong> memilih buku yang ringan-ringan dulu saja</strong>, baik dari segi ketebalan halaman maupun bahasa yang dimiliki.</p>



<p>Kalau mau memulai baca novel, bisa coba baca novel-novel ringan seperti karya <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-janji/">Tere Liye</a> atau <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/setelah-membaca-brianna-dan-bottomwise/">Andrea Hirata</a>. Jangan langsung baca novelnya <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-laut-bercerita/">Leila S. Chudori</a>, nanti <em>shock </em>karena ceritanya yang berat dan <em>dark</em>.</p>



<p>Kalau misal mau membaca buku non-fiksi seperti sejarah, bisa mulai baca buku yang kecil atau tipis dulu. Misal mau baca tentang Perang Dunia II, ya jangan langsung baca buku <em>Perang Eropa</em>-nya P. K. Ojong yang tebal-tebal dan ada sampai tiga jilid.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #3: Mulai dari Sedikit Dulu Saja</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7524" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-person-holding-a-book-2663851/">Enzo Muñoz</a></figcaption></figure>



<p>Tips ketiga, <strong>mulai dari sedikit dulu saja</strong>. Satu hari satu halaman pun tidak masalah, asal konsisten setiap hari. Nanti setelah semakin terbiasa, jumlah halaman atau durasi membaca dalam sehari bisa bertambah secara bertahap.</p>



<p>Agar bisa lebih konsisten, ada baiknya kalau kita memiliki <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-3-time-blocking/">time block</a> </em>untuk menentukan kapan kita membaca. Bisa setelah bangun, istirahat makan siang, atau menjelang tidur. Pilih waktu terbaik dari rutinitas harian kita.</p>



<p>Kebiasaan mikro seperti ini dibahas dalam buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/">Atomic Habits</a> </em>karya James Clear. Tidak apa-apa sedikit, yang penting rutin. Agar bisa dirutinkan, letakkan buku yang ingin dibaca di tempat yang mudah terlihat, jangan ditaruh di rak buku atau tempat tak terlihat lainnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #4: Jangan Paksakan Diri untuk Menghabiskan Buku</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7529" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-a-woman-with-bangs-reading-a-book-while-her-hand-is-on-her-head-7320383/">Karolina Kaboompics</a></figcaption></figure>



<p>Terkadang, ada saja buku yang memang seolah ditakdirkan untuk tidak ditamatkan, dan hal itu sama sekali tidak masalah. Tips keempat, <strong>jangan pernah memaksakan diri untuk menghabiskan buku</strong>. </p>



<p>Mungkin setelah membaca seperempat atau setengah buku, ternyata isinya kurang cocok dengan kita. Tidak menamatkan buku yang sudah dimulai bukanlah sebuah dosa. Daripada dipaksa menyelesaikan tapi isinya tidak masuk, ya untuk apa.</p>



<p>Penulis mungkin punya puluhan buku yang bernasib seperti itu, ditutup sebelum halaman terakhir selesai dibaca. Mungkin suatu saat akan coba dibaca lagi, tapi tidak sekarang. Apalagi, masih ada banyak buku lain yang lebih menarik untuk ditamatkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #5: Pinjam, Jangan Beli</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7525" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/assorted-books-on-shelf-1290141/">Ivo Rainha</a></figcaption></figure>



<p>Tips keempat yang bisa digunakan untuk berhemat adalah <strong>jangan membeli buku</strong>. Lho, kok gitu? Karena dengan perasaan memiliki buku tersebut, kita jadi cenderung berpikir, &#8220;Halah, dibaca nanti saja kalau sudah senggang.&#8221; Akhirnya, malah tidak tersentuh sama sekali.</p>



<p>Kalau belum terbiasa membaca, Penulis menyarankan lebih baik meminjam saja, entah ke teman ataupun perpustakaan. Penulis sendiri sering meminjamkan buku-bukunya ke siapapun yang ingin membaca. </p>



<p>Dengan meminjam, kita jadi memiliki semacam <em>deadline </em>kapan buku tersebut harus dikembalikan kepada pemiliknya. Dengan adanya <em>deadline</em>, kita pun jadi lebih termotivasi untuk segera memulai membaca dan menghabiskannya (opsional)</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #6: Baca dengan Suasana Nyaman</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7527" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-in-yellow-long-sleeve-shirt-lying-on-couch-4866043/">cottonbro studio</a></figcaption></figure>



<p>Tips kelima yang sering Penulis lakukan kepada dirinya sendiri adalah <strong>membuat suasana membaca menjadi senyaman mungkin</strong>. Kalau membacanya <em>pewe</em>, maka kita pun akan betah melakukannya dalam jangka waktu yang panjang, asal jangan malah ketiduran!</p>



<p>Kalau Penulis, seringnya membaca di atas kasur dengan lampu baca dan aroma terapi yang menyala. Alternatif tempat lain untuk membaca adalah duduk di teras, mengingat di teras rumah Penulis ada banyak tanaman sehingga suasananya menjadi sejuk.</p>



<p>Selain itu, mendengarkan lagu ketika membaca juga bisa menambah kenyamanan dalam membaca. <em>Playlist </em>lagu-lagu klasik atau <em>lo-fi </em>sangat cocok sebagai teman membaca. Sebaiknya jangan mendengarkan lagu yang memiliki lirik, khawatirnya jadi susah fokus.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #7: Jauhkan Smartphone</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7526" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/person-holding-amazon-kindle-ebook-844734/">özgür</a></figcaption></figure>



<p>Seperti yang sudah pada tulisan sebelumnya, Penulis memanfaatkan buku untuk menjauhkan dirinya dari media sosial. Percayalah, salah satu faktor yang membuat Penulis malas membaca buku adalah karena adanya distraksi dari <em>smartphone</em>-nya. </p>



<p>Oleh karena itu, tips terakhir, <strong>jauhkan <em>smartphone </em>ketika ingin membaca</strong>. Ketika membaca di kamar, Penulis biasanya menyalakan mode senyapnya dan meletakkannya di meja kerja. Kalau membaca di teras, ya <em>smartphone</em>-nya ditinggal saja di kamar. </p>



<p>Buku bisa menjadi subtitusi yang menarik dari <em>smartphone </em>ketika kita butuh mengisi waktu luang. Bahkan, belakangan Penulis lebih sering membawa buku ke kamar mandi ketika ada panggilan alam dibandingkan membawa <em>smartphone</em>. </p>



<p>Lantas, bagaimana jika kita membaca buku lewat aplikasi di <em>smartphone</em>. Nah, kebetulan Penulis merupakan pembaca konvensional yang tidak suka membaca buku digital. Kalau lebih suka membaca di <em>smartphone</em>, ya yang kuat saja menahan godaan untuk membuka apliaksi lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Kurang lebih seperti itulah tips agar semangat membaca yang telah Penulis terapkan sendiri dalam kehidupannya. Mungkin tidak semua tips cocok untuk Pembaca sekalian, tidak apa- Pilih saja tips yang cocok dengan gaya hidup Pembaca.</p>



<p>Yang jelas, membaca buku hingga saat ini tetap menjadi media favorit Penulis entah untuk hiburan maupun mendapatkan ilmu, meskipun sekarang ada banyak konten di media sosial maupun YouTube yang bisa menghadirkan hal tersebut.</p>



<p>Semoga tips di atas bisa menjadi penyemangat kita untuk bisa lebih banyak membaca buku, ya!</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 25 Juni 2024, terinspirasi setelah menulis artikel <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</a> </em>kemarin</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/books-in-black-wooden-book-shelf-159711/">Pixabay</a> </p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/">Bagaimana Caranya agar Semangat Membaca Buku?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Jun 2024 16:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[baca]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[detox]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7513</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak kecil, Penulis sudah gemar membaca walau jenisnya baru sebatas komik dan ensiklopedia anak. Semakin dewasa, variasi bacaan Penulis pun bertambah, seperti novel, sejarah, pengembangan diri, biografi, hingga filsafat. Namun, ada masa ketika Penulis benar-benar tidak membaca sama sekali. Hobi yang dulu sangat menyenangkan menjadi menjemukan dan terasa berat. Buku-buku yang sudah beli ditumpuk begitu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sejak kecil, Penulis sudah gemar membaca walau jenisnya baru sebatas komik dan ensiklopedia anak. Semakin dewasa, variasi bacaan Penulis pun bertambah, seperti novel, sejarah, pengembangan diri, biografi, hingga filsafat.</p>



<p>Namun, ada masa ketika Penulis benar-benar tidak membaca sama sekali. Hobi yang dulu sangat menyenangkan menjadi menjemukan dan terasa berat. Buku-buku yang sudah beli ditumpuk begitu saja, bahkan beberapa masih dibungkus plastik. </p>



<p>Ketika direnungkan, mungkin salah satu penyebabnya adalah <strong>Penulis terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial</strong>. Konten pendek yang muncul tanpa batas tersebut seolah &#8220;menjebak&#8221; Penulis untuk tidak mengonsumsi konten panjang.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-18-300x225.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-18-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-18-768x576.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-18-1024x768.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-18-340x255.jpg 340w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-18.jpg 1280w " alt="Berteriak karena Buku" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/berteriak-karena-buku/">Berteriak karena Buku</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Konten Pendek Membuat Kita Malas Mengonsumsi Konten Panjang</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7516" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Konten Pendek Media Sosial Membuat Kita Lupa Waktu (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-man-in-white-dress-shirt-holding-phone-near-window-859265">Andrea Piacquadio</a>)</figcaption></figure>



<p>Dalam tulisan <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/">Alasan Kenapa “Mindless Scrolling” adalah Pelarian yang Buruk</a></em>, Penulis sudah pernah berpendapat kalau salah satu bahaya dari konten-konten pendek di media sosial adalah <strong>membuat kita tidak tahu kapan harus berhenti</strong>.</p>



<p>Berbeda dengan menonton video panjang di YouTube di mana kita bisa menentukan konten mana yang ingin kita tonton, konten pendek di TikTok, Reels, maupun Shorts selalu menghadirkan konten baru yang tidak kita rencanakan untuk kita tonton. Semua berdasarkan algoritma. </p>



<p>Adanya unsur &#8220;kejutan&#8221; membuat kita mendapatkan dopamin dari sana, sehingga di dalam otak seolah ada <em>mindset </em>untuk terus mencari konten yang akan memberikan kita kebahagiaan. Masalahnya, ini bisa berlangsung selama berjam-jam tanpa disadari.</p>



<p>Penulis sendiri merasa kalau dirinya bisa terjebak berjam-jam jika sudah melakukan <em>scrolling-scrolling </em>di media sosial. Yang rencananya cuma 5 menit bisa bertambah hingga 2 jam. Tentu ini sangat berpengaruh kepada produktivitas sehari-hari.</p>



<p>Permasalahan lain adalah karena otak terbiasa dengan konten pendek yang menyajikan info secara cepat dan singkat, <strong>kita jadi tidak terbiasa (baca: malas) untuk mengonsumsi konten yang lebih panjang dan lengkap</strong>. </p>



<p>Konten panjang yang Penulis maksud di sini bisa berbentuk buku, jurnal, film, dokumenter, serial, dan lain sebagainya. Konten panjang membutuhkan &#8220;dedikasi&#8221; kita untuk menghabiskan beberapa jam (bahkan hari) yang kita miliki untuk menyelesaikannya.</p>



<p>Di sisi lain, konten pendek akan langsung habis secara instan dalam hitungan detik atau menit. Dalam sekejap, kita bisa mendapatkan sesuatu entah itu ilmu ataupun hiburan. Dalam beberapa jam, entah berapa info yang masuk ke dalam otak kita, walau kebanyakan akan langsung terlupakan.</p>



<p>Konten panjang <strong>memiliki batas yang jelas kapan dia akan selesai</strong>. Konten pendek memang cuma berdurasi beberapa detik/menit, tapi konten-konten selanjutnya akan terus bermunculan tanpa habis. Inilah yang berbahaya dari mengonsumsi konten pendek di media sosial.</p>



<p>Mungkin akan ada yang berargumen kalau konten pendek seperti itu akan sangat berguna untuk menghemat waktu, Itu ada benarnya, tapi terkadang kita membutuhkan informasi yang lebih lengkap, bukan yang sepotong-sepotong.</p>



<p>Menurut Penulis, netizen kita sering ribut di internet juga salah satunya adalah kebiasaan ini. Kita jadi merasa paling tahu hanya bermodalkan konten-konten pendek. Padahal, kebijaksanaan tertinggi menurut Socrates adalah mengetahui kalau kita ini tidak tahu apa-apa. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Buku Bisa Menjadi Penyelamat Penulis</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7517" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Membaca Sebagai Sarana untuk Mengurangi Candu Media Sosial (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-reading-a-book-5634667/">Monstera Production</a>)</figcaption></figure>



<p>Biasanya, ketika mulai menyadari bahwa dirinya sudah terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial, Penulis akan melakukan <em>detox</em> untuk sementara waktu. Tidak sampai tidak mengecek media sosialnya, tapi cukup mengurangi durasinya per hari.</p>



<p>Untuk itu, Penulis menggunakan berbagai <strong>aplikasi yang bisa melimitasi penggunaan media sosial</strong>. Ini tentu harus diiringi oleh niat yang kuat, karena godaan untuk mengubah limitasinya sangat besar dan mudah dilakukan. </p>



<p>Penulis benar-benar berusaha untuk mematuhi batasan penggunaan media sosial di gawainya, walau terkadang masih indisipliner. Harusnya, kalau memang sudah <em>limit</em>, ya sudah, jangan diubah batas durasinya, jangan dibuka aplikasi pembatasnya untuk menghapus <em>limit </em>yang sudah dibuat.</p>



<p>Ketika tidak bisa mengecek media sosial (yang sudah menjadi kebiasaan), tentu kita butuh aktivitas lain untuk mengalihkan fokus kita. Jelas setiap orang memiliki preferensi aktivitasnya masing-masing, tapi kalau <strong>Penulis pribadi memilih media buku</strong>, &#8220;kawan lama&#8221; yang sudah menjadi hobi Penulis sejak lama.</p>



<p>Untuk bisa membangkitkan minat bacanya kembali, Penulis memutuskan untuk <strong>membaca buku yang benar-benar menarik minatnya</strong>, bisa buku lama maupun buku baru. Contoh buku yang berhasil membuat Penulis bersemangat membaca adalah <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-keajaiban-toko-kelontong-namiya/">Keajaiban Toko Kelontong Namiya.</a></em></p>



<p>Tidak hanya karya fiksi, Penulis juga memilih buku non-fiksi dengan topik yang menarik minatnya. Contoh, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">Penulis suka sejarah</a>, maka Penulis membeli buku sejarah. Buku sejarah yang sedang dibaca saat ini adalah <em>Sejarah Prancis </em>dan <em>Memahami Jepang.</em></p>



<p>Bahkan, Penulis juga mulai membeli komik lagi seperti ketika masih muda dulu. Contoh, Penulis telah membeli semua komik <em>Dragon Ball Super </em>dari volume 1 sampai 19. Jika sukanya baca komik, ya tidak apa. Aktivitas membaca tidak selalu dikonotasikan belajar, karena membaca juga bisa menjadi sarana hiburan.</p>



<p>Penulis bukan tipe pembaca yang harus menghabiskan satu buku dulu baru berpindah ke buku lain. Saat ini saja, ada belasan buku dengan berbagai genre/topik yang sedang Penulis baca secara bersamaan. Penulis tinggal memilih mau membaca yang mana hari ini, tergantung <em>mood</em>-nya.</p>



<p>Inilah mengapa buku bisa menjadi penyelamat Penulis dari kecanduan konten pendek di media sosial: <strong>Penulis bisa bebas memilih buku apa yang akan dibaca</strong>. Hal ini tidak kita dapatkan dari TikTok, Reels, dan Shorts yang menghadirkan konten sesuai dengan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">algoritma mereka</a>.</p>



<p>Membaca juga menjadi pilihan Penulis karena dirinya memang tidak terlalu suka aktivitas menonton film atau serial. Apalagi, Penulis punya kebiasaan buruk ketika sudah menonton serial yang menarik: tidak bisa berhenti menonton semua episodenya sampau tamat. </p>



<p>Ini terjadi ketika Penulis mulai menonton serial <em>How I Met Your Mother</em>. Bahkan, <em>final season</em>-nya Penulis tamatkan dalam semalam. Karena alasan inilah Penulis menghindari menonton serial, karena percuma jika kecanduan kita di media sosial malah berpindah ke serial. </p>



<p>Kalaupun menonton konten di YouTube, jangan membuka Shorts. Penulis menonton YouTube di TV agar akses ke Shorts menjadi lebih sulit. Alhasil, Penulis pun hanya bisa memilih konten-konten yang berdurasi panjang, entah yang berbobot ataupun yang ringan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis merasa terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial tidak baik untuk dirinya, terutama karena mengganggu produktivitasnya. Untuk itu, ada beberapa hal yang Penulis lakukan, mulai dari membatasi durasi media sosial hingga menghabiskan waktunya lebih banyak untuk membaca.</p>



<p>Membaca buku fisik, setidaknya bagi Penulis, merupakan aktivitas yang bisa membantu Penulis menjauhi media sosial. Penulis bisa memilih buku mana yang akan Penulis baca, tidak seperti konten pendek di media sosial yang tidak bisa kita atur.</p>



<p>Penulis menyadari kalau membaca buku bukan aktivitas favorit banyak orang. Oleh karena itu, mungkin di tulisan berikutnya Penulis akan mencoba berbagai tips agar minat baca itu bisa tumbuh, terutama untuk Pembaca yang juga merasa butuh &#8220;lari&#8221; dari kecanduan konten-konten pendek di media sosial.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 24 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau dirinya mulai bersemangat untuk banyak membaca lagi</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-reading-book-5331072/">Monstera Production</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Menikmati Kepergianmu</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-menikmati-kepergianmu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-menikmati-kepergianmu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Oct 2023 23:08:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Alfialghazi]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[galau]]></category>
		<category><![CDATA[melepaskan]]></category>
		<category><![CDATA[romansa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6931</guid>

					<description><![CDATA[<p>Melepaskan seseorang dari kehidupan kita bisa menjadi hal yang berat, entah karena kematian, pertengkaran, jarak, dan alasan lainnya. Keterikatan, banyaknya momen yang tercipta, adanya kebutuhan, menjadi beberapa alasan mengapa melepaskan menjadi berat Penulis pun merasakannya, sehingga secara iseng mencoba membeli buku karya Alfiaghazi berjudul Menikmati Kepergianmu yang satu ini. Padahal, biasanya tipe-tipe buku seperti ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-menikmati-kepergianmu/">Setelah Membaca Menikmati Kepergianmu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Melepaskan seseorang dari kehidupan kita bisa menjadi hal yang berat, entah karena kematian, pertengkaran, jarak, dan alasan lainnya. Keterikatan, banyaknya momen yang tercipta, adanya kebutuhan, menjadi beberapa alasan mengapa melepaskan menjadi berat</p>



<p>Penulis pun merasakannya, sehingga secara iseng mencoba membeli buku karya <strong>Alfiaghazi </strong>berjudul <strong><em>Menikmati Kepergianmu</em></strong> yang satu ini. Padahal, biasanya tipe-tipe buku seperti ini adalah yang paling jarang dibeli.</p>



<p>Namun, dengan tujuan &#8220;riset&#8221; dan merasa topik yang dibahas selaras dengan stoik (kepergian orang lain berada <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/">di luar kendali kita</a>), maka Penulis mencoba untuk membacanya dengan harapan lebih bisa mengendalikan dirinya ketika ada yang meninggalkan dirinya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-menonton-black-panther-wakanda-forever-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-menonton-black-panther-wakanda-forever-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-menonton-black-panther-wakanda-forever-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-menonton-black-panther-wakanda-forever-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-menonton-black-panther-wakanda-forever-1536x864.jpg 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-menonton-black-panther-wakanda-forever.jpg 1688w " alt="Setelah Menonton Black Panther: Wakanda Forever" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-black-panther-wakanda-forever/">Setelah Menonton Black Panther: Wakanda Forever</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Menikmati Kepergianmu</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Menikmati Kepergianmu</em></li>



<li>Penulis: Alfiaghazi</li>



<li>Penerbit: Penerbit Sahima</li>



<li>Cetakan: Ketiga</li>



<li>Tanggal Terbit: 2022</li>



<li>Tebal: 194 halaman</li>



<li>ISBN: 978-602-6744-57-9</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Menikmati Kepergianmu</h2>



<p><em>Aku pernah takut menghadapi kepergian sebab cintaku sudah menancap terlalu dalam.</em></p>



<p><em>Namun sebanyak apa pun aku berkorban, sekuat apa pun aku mencoba bertahan, kepergian tetap tak pernah bisa terhindarkan.</em></p>



<p><em>Maka, bila sudah begitu, apalagi yang bisa aku lakukan selain menikmatinya? Sederas-derasnya hujan, kelak pasti akan reda juga.</em></p>



<p><em>Kepergianmu memang menyisakan luka, tapi yang membawaku kepada kebahagiaan yang sesungguhnya.</em></p>



<p><em>Sebab bagi orang yang terlalu mencintai sepertiku, patah hati adalah anugerah. </em></p>



<p><em>Darinya, aku mengerti ternyata sesakit itu berharap kepada sesuatu yang semu; manusia.</em></p>



<p><em>Yang terbaik, pilihan Allah.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Menikmati Kepergianmu</h2>



<p><em>Menikmati Kepergianmu </em>berisikan tentang tulisan-tulisan pendek yang menurut Penulis tidak terlalu memiliki kesinambungan antara satu dengan yang lainnya. Artinya, Pembaca bisa membuka halaman secara acak tanpa perlu membaca halaman-halaman sebelumnya.</p>



<p>Topik yang dihadirkan pun seputar permasalahan percintaan, terutama tentang kegalauan penulis buku ini tentang melepaskan seseorang yang sangat dicintai. Kita akan dibuat merasakan betapa beratnya melakukan hal tersebut.</p>



<p>Tak jarang isi buku ini juga terasa seperti curahan hati sang penulis buku dengan menyelipkan kisah-kisah yang terasa benar-benar terjadi di kehidupannya. Yang jelas, Penulis merasa kalau buku ini lebih banyak menimbulkan perasaan pedih daripada motivasi untuk bangkit.</p>



<p>Di antara tulisan-tulisan pendek, ada banyak <em>quote </em>yang bisa jadi akan <em>related </em>dengan apa yang sedang dialami oleh pembacanya. Ada satu <em>quote </em>yang paling Penulis sukai dari buku ini, yakni:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Tidak ada cara pergi yang baik, semua selalu menyakitkan.&#8221;</p>
</blockquote>



<p>Mengingat jumlah halamannya yang sedikit dan terkadang tulisannya ada yang tidak sampai satu halaman, maka buku ini bisa diselesaikan dengan cepat. Apalagi, bahasa yang digunakan bukan bahasa puitis yang ambigu dan susah untuk dipahami.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Menikmati Kepergianmu</h2>



<p>Meskipun akan terasa <em>related</em> bagi sebagian pembacanya, Penulis justru merasakan kalau esensi yang ditawarkan pada bagian sinopsis tidak terlalu ditonjolkan, yakni tentang bagaimana kita seharusnya hanya berharap kepada Tuhan.</p>



<p>Penulis juga berharap kalau buku ini akan bisa membuat Penulis bisa menikmati kepergian orang-orang penting dalam hidupnya. Seperti yang sudah disinggung di atas, Penulis tidak bisa mengendalikan <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-mau-stay-ya-stay-kalau-mau-leave-ya-leave-bebas/">siapa-siapa yang mau <em>stay </em>di kehidupan Penulis</a>.</p>



<p>Alih-alih, buku ini lebih terasa kepada curhatan penulis buku yang ingin &#8220;mengomersialkan&#8221; kisahnya. Meskipun di belakang buku tertulis genre buku ini &#8220;Motivasi&#8221;, kenyataannya tidak banyak motivasi yang Penulis dapatkan.</p>



<p>Jika menengok kebiasaan manusia yang justru akan mendengarkan musik galau ketika sedang galau, maka buku galau ini pun bisa menjadi teman yang pas untuk bergalau ria. Namun, jika niat membaca ingin <em>uplifting</em>, jangan berharap terlalu banyak dari buku ini.</p>



<p>Jadi, jika Pembaca sedang galau dan memang sedang mencari bacaan galau, mungkin buku ini akan menjadi pilihan yang menarik. Apalagi, ada banyak <em>quote </em>yang bisa dijadikan sebagai <em>aesthetic story</em>.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 5/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 24 Oktober 2023, terinspirasi setelah membaca <em>Menikmati Kepergianmu </em>karya Alfiaghazi</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-menikmati-kepergianmu/">Setelah Membaca Menikmati Kepergianmu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-menikmati-kepergianmu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca The Leader Who Had No Title</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-leader-who-had-no-title/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-leader-who-had-no-title/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Aug 2023 15:33:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Robin Sharma]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6757</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang membaca buku The 5 AM Club karya Robin Sharma, Penulis menemukan satu lagi bukunya saat sedang jalan-jalan di toko buku yang berjudul The Leader Who Had No Title. Meskipun kurang menyukai The 5 AM Club, ada tiga alasan mengapa Penulis memutuskan untuk tetap membelinya. Pertama, karena bukunya cukup tipis. Kedua, mengangkat tema kepemimpinan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-leader-who-had-no-title/">[REVIEW] Setelah Membaca The Leader Who Had No Title</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang membaca buku <em>The 5 AM Club </em>karya <strong>Robin Sharma</strong>, Penulis menemukan satu lagi bukunya saat sedang jalan-jalan di toko buku yang berjudul <em><strong>The Leader Who Had No Title</strong>.</em></p>



<p>Meskipun kurang menyukai <em>The 5 AM Club</em>, ada tiga alasan mengapa Penulis memutuskan untuk tetap membelinya. Pertama, karena bukunya cukup tipis. Kedua, mengangkat tema kepemimpinan. Ketiga, karena latar ceritanya tentang seorang penjaga toko buku.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membelinya, hitung-hitung sebagai &#8220;kesempatan kedua&#8221; bagi Robin Sharma. Sayangnya, buku ini pun kurang Penulis sukai karena beberapa alasan yang sama dengan<em> </em>buku sebelumnya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/plot-twist-ala-masamune-kun-no-revenge-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/plot-twist-ala-masamune-kun-no-revenge-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/plot-twist-ala-masamune-kun-no-revenge-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/plot-twist-ala-masamune-kun-no-revenge-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/plot-twist-ala-masamune-kun-no-revenge-banner.jpg 1280w " alt="Digantung Ala Anime (Bagian 2)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/digantung-ala-anime-bagian-2/">Digantung Ala Anime (Bagian 2)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>The Leader Who Had No Title</em></li>



<li>Penulis: Robin Sharma</li>



<li>Penerbit: Penerbit Bentang</li>



<li>Cetakan: Pertama</li>



<li>Tanggal Terbit: Agustus 2022</li>



<li>Tebal: 264 halaman</li>



<li>ISBN: 9786022919308</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Sama seperti <em>The 5 AM Club</em>, Robin Sharma berusaha menerangkan poin-poin yang ingin ia sampaikan melalui sebuah cerita. Kali ini, kita akan mengikuti kisah seorang mantan tentara yang kini menjadi penjaga toko buku bernama <strong>Blake Davis</strong>.</p>



<p>Blake merasa kalau hidupnya terasa hampa dan sama sekali tidak bermakna, apalagi setelah ia pulang dari medan pertempuran. Lantas, tiba-tiba ia bertemu dengan rekan kerja baru berusia 77 tahun yang bernama <strong>Tommy Flinn</strong>, yang ternyata merupakan teman ayahnya.</p>



<p>Singkat cerita, Tommy berjanji kepada Blake akan membuat hidupnya berubah total dengan seni memimpin tanpa jabatan. Untuk itu, Tommy pun membawa Blake ke guru-gurunya yang akan memberikan formula tersebut.</p>



<p>Lucunya, keempat orang tersebut sama-sama memiliki akronim untuk menyimpulkan apa inti ajaran mereka. Penulis akan menuliskan keempatnya agar Pembaca mendapatkan garis besar dari isi buku ini.</p>



<p><strong>1. Kita Tidak Butuh Jabatan untuk Memimpin &#8211; IMAGE</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>I</strong>nnovation (Inovasi)</li>



<li><strong>M</strong>astery (Menguasai)</li>



<li><strong>A</strong>utheticity (Autentisitas)</li>



<li><strong>G</strong>uts (Naluri)</li>



<li><strong>E</strong>thics (Etika)</li>
</ul>



<p><strong>2. Masa-Masa Bergejolak Membentuk Pemimpin Hebat &#8211; SPARK</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>S</strong>peak with Candor (Bicara Terus Terang)</li>



<li><strong>P</strong>rioritize (Tentukan Prioritas)</li>



<li><strong>A</strong>dversity Breeds Opportunity (Kesulitan Melahirkan Kesempatan)</li>



<li><strong>R</strong>espond Versus React (Respons Versus Reaksi)</li>



<li><strong>K</strong>udos to Everyone (Penghargaan untuk Setiap Orang)</li>
</ul>



<p><strong>3. Semakin Dalam Hubunganmu, Semakin Kuat Kepemimpinanmu &#8211; HUMAN</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>H</strong>elpfulness (Tolong-menolong)</li>



<li><strong>U</strong>nderstanding (Pengertian)</li>



<li><strong>M</strong>ingle (Membaur)</li>



<li><strong>A</strong>muse (Gembira)</li>



<li><strong>N</strong>urture (Merawat)</li>
</ul>



<p><strong>4. Untuk Menjadi Pemimpin Besar, Jadilah Orang Besar Terlebih Dulu &#8211; SHINE</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>S</strong>ee Clearly (Lihat dengan Saksama)</li>



<li><strong>H</strong>ealth is Wealth (Kesehatan Itu Bernilai)</li>



<li><strong>I</strong>nspiration Matters (Inspirasi Penting)</li>



<li><strong>N</strong>eglect Not Your Family (Jangan Abaikan Keluargamu)</li>



<li><strong>E</strong>levate Your Lifestyle (Tingkatkan Gaya Hidupmu)</li>
</ul>



<p>Setelah memperkenalkan Blake kepada empat guru yang mengajarkan ilmu kepemimpinan tersebut, Tommy meninggal dunia tak lama kemudian. Blake pun merasa hidupnya berubah, dan berusaha untuk menyebarkan apa yang diajarkan Tommy kepada orang lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The Leader Who Had No Title</h2>



<p>Dari segi cerita, sebenarnya <em>The Leader Who Had</em> <em>No Title </em>lebih terasa masuk akal dibandingkan <em>The 5 AM Club</em> yang bagi Penulis terasa aneh dan dangkal. Hanya saja, rasanya tetap tidak terlalu realistis dan sangat terkesan utopis. </p>



<p>Hampir semua peristiwa yang terjadi di buku ini terjadi hanya dalam satu hari. Tommy berhasil membawa Blake bertemu dengan empat gurunya (yang lebih muda darinya) dalam satu hari yang sama, dan semuanya bisa ditemui serta punya waktu untuk berbagi ilmu.</p>



<p>Untuk segi isinya sendiri, jujur saja Penulis tidak merasa telah mendapatkan sesuatu yang &#8220;mencerahkan hidup&#8221; seperti yang dirasakan oleh Blake. Poin-poin yang disampaikan biasa saja seperti seminar kepemimpinan pada umumnya, tidak ada yang spesial.</p>



<p>Apalagi, buku ini menggunakan banyak sekali akronim yang tentu agak sulit dihafalkan oleh orang-orang yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pertamanya. Penulis tidak bisa mengingat satu pun &#8220;formula&#8221; yang dibagikan buku ini.</p>



<p>Alhasil, buku ini pun selesai Penulis baca tanpa banyak meninggalkan kesan yang berarti. Ulasannya pun menjadi cukup pendek, karena tidak banyak hal menarik yang bisa dibahas. Oleh karena itu, Penulis tidak terlalu merekomendasikan buku ini.</p>



<p>Namun, setidaknya buku ini mengajak pembacanya untuk mengembangkan dirinya menjadi versi lebih baiknya, sehingga bisa menginspirasi orang lain. Itulah poin utama dari seni memimpin tanpa jabatan.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span style="color:#1767ef">★</span><span style="color:#1767ef">★</span><span style="color:#1767ef">★</span><span style="color:#1767ef">★</span><span style="color:#1767ef">★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 7 Agustus 2023, terinspirasi setelah membaca <em>The Leader Who Had No Title </em>karya Robin Sharma</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-leader-who-had-no-title/">[REVIEW] Setelah Membaca The Leader Who Had No Title</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-leader-who-had-no-title/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca The 5 AM Club</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/review-setelah-membaca-the-5-am-club/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/review-setelah-membaca-the-5-am-club/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Jul 2023 14:03:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[bangun pagi]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Robin Sharma]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6702</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menyadari dirinya kesulitan untuk bisa bangun pagi secara konsisten, Penulis pun mencari motivasi untuk bisa melakukannya. Salah satunya adalah dengan membaca buku berjudul The 5 AM Club karya Robin Sharma. Salah satu alasan lain Penulis memutuskan untuk membeli buku ini adalah karena Maudy Ayunda merekomendasikannya di kanal YouTube-nya. Bahkan, Penulis tidak mengintip isinya ketika di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/review-setelah-membaca-the-5-am-club/">[REVIEW] Setelah Membaca The 5 AM Club</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Menyadari dirinya kesulitan untuk bisa bangun pagi secara konsisten, Penulis pun mencari motivasi untuk bisa melakukannya. Salah satunya adalah dengan membaca buku berjudul <em><strong>The 5 AM Club </strong></em>karya <strong>Robin Sharma</strong>.</p>



<p>Salah satu alasan lain Penulis memutuskan untuk membeli buku ini adalah karena <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/">Maudy Ayunda</a> merekomendasikannya di kanal YouTube-nya. Bahkan, Penulis tidak mengintip isinya ketika di <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/benarkah-era-toko-buku-akan-segera-berakhir/">toko buku</a> karena merasa percaya saja dengan rekomendasinya.</p>



<p>Alhasil, Penulis pun terkejut ketika membuka buku ini untuk pertama kalinya karena ternyata buku <em>self-improvement </em>ini dibalut dalam bentuk novel. Sempat tergeletak lama karena terasa membosankan, akhirnya Penulis berhasil menamatkan buku ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" style="border-color:#9e0b0f;"><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-banner.jpg 1280w " alt="Teralihkan Isu Bombastis" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" style="color:#9e0b0f;">Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  style="color:#9e0b0f;"  href="https://whathefan.com/politik-negara/teralihkan-isu-bombastis/">Teralihkan Isu Bombastis</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>The 5 AM Club</em></li>



<li>Penulis: Robin Sharma</li>



<li>Penerbit: Penerbit Bhuana Ilmu Populer (BIP)</li>



<li>Cetakan: Ke-2</li>



<li>Tanggal Terbit: Agustus 2019</li>



<li>Tebal: 450 halaman</li>



<li>ISBN: 9786232161368</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Secara garis besar, hanya ada empat karakter yang ada di buku ini, yaitu <strong>Sang Pemikat</strong>, <strong>Miliuner</strong>, <strong>Pengusaha</strong>, dan <strong>Seniman</strong>. Sepanjang novel, hanya sang Miliuner yang memiliki nama, yakni Mr. Riley.</p>



<p>Di awal buku, diceritakan kalau Sang Pemikat sedang mengadakan sebuah &#8220;seminar motivasi&#8221;, di mana Pengusaha dan Seniman menjadi salah satu pesertanya. Miliuner juga hadir, walaupun ia menyamar menjadi seorang gelandangan nyentrik.</p>



<p>Ketika sedang mengisi seminar tersebut, tiba-tiba Sang Pemikat jatuh sakit dan acara pun berhanti. Lantas, terjadi pembicaraan tiga arah antara Pengusaha, Seniman, dan Miliuner. Singkat cerita, Pengusaha dan Seniman pun diundang oleh Miliuner ke Mauritania.</p>



<p>Selama di pulau tersebut, Miliuner dan Sang Pemikat (yang ternyata merupakan guru dari Miliuner) pun membagikan ilmu-ilmu terkait bagaimana bangun pagi pukul 5 pagi sangat berpengaruh dalam hidup yang sukses. Beberapa di antaranya adalah:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Prinsip 20/20/20, di mana satu jam pertama setelah bangun jam 5 pagi adalah 20 menit aktivitas fisik seperti olahraga, 20 menit refleksi diri dan ibadah, dan 20 menit belajar</li>



<li>Prinsip 90/90/1, di mana selama 90 hari ke depan, fokuskan 90 menit untuk mengerjakan 1 hal yang paling penting</li>



<li>Prinsip 60/10, di mana setiap bekerja/belajar selama 60 menit, ambil istirahat selama 10 menit</li>
</ul>



<p>Di sela-sela penjabaran tersebut, terselip cerita dari para karakternya, termasuk kisah cinta antara Pengusaha dan Seniman, perjalanan keliling dunia mereka, bagaimana masalah perusahaan si Pengusaha akhirnya dibantu oleh Miliuner, dan lain sebagainya. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The 5 AM Club</h2>



<p>Penulis memiliki ekspektasi yang cukup tinggi terhadap buku ini, mengingat Maudy Ayunda merekomendasikannya. Kenyataannya, bisa dibilang buku ini cukup mengecewakan di berbagai aspeknya.</p>



<p>Pertama dari segi penceritaan, bisa dibilang jalan ceritanya cukup buruk dan sama sekali tidak realistis. Coba bayangkan, seberapa besar kemungkinan kita diajak oleh seorang Miliuner &#8220;berlibur&#8221; ke pulau eksotis sembari mendapatkan ilmunya? <em>Near zero</em>.</p>



<p>Selain itu, permasalahan kantor yang dialami oleh Pengusaha juga terasa cuma &#8220;tempelan&#8221;. <em>Ending </em>dari permasalahan tersebut juga klise, di mana si Miliuner membantu penyelesaian tersebut dengan sangat mudahnya.</p>



<p>Pengembangan karakter Pengusaha dan Seniman pun terasa tidak <em>smooth</em> dan berubah secara drastis hanya dengan mendengar beberapa nasihat dari orang yang baru dikenal. Kisah cinta mereka juga sama sekali tidak berkesan.</p>



<p>Untuk segi <em>self-improvement</em>-nya, bisa dibilang buku ini terlalu bertele-tele. Poin-poin yang ingin disampaikan sebenarnya tidak terlalu banyak, sehingga ada banyak bagian yang seolah hanya untuk mempertebal buku saja.</p>



<p>Bagian 20/20/20 bisa dibilang menjadi bagian yang paling &#8220;berguna&#8221;, meskipun tentu untuk penerapannya bisa berbeda-beda. Penulis sendiri biasanya memiliki <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutinitas pagi</a> yang dibagi menjadi 30 menit ibadah, 45 menit olahraga, dan 30 menit baca buku.</p>



<p>Oleh karena itu, rasanya Penulis susah untuk merekomendasikan buku ini. Apalagi, buku ini cukup tebal dengan isi yang tidak seberapa. Jika ingin bangun pagi, yang paling penting adalah NIAT.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 16 Juli 2023, terinspirasi setelah membaca buku <em>The 5 AM Club </em>karya Robin Sharma</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/review-setelah-membaca-the-5-am-club/">[REVIEW] Setelah Membaca The 5 AM Club</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/review-setelah-membaca-the-5-am-club/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Benarkah Era Toko Buku akan Segera Berakhir?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/benarkah-era-toko-buku-akan-segera-berakhir/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/benarkah-era-toko-buku-akan-segera-berakhir/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Jun 2023 14:29:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[baca]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[literasi]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[toko buku]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6621</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, toko buku Gunung Agung yang legendaris resmi tutup. Penulis sendiri hanya pernah sekali berkunjung ke toko yang ada di daerah Kwitang. Tampaknya, memang toko buku yang satu ini harus mengakui kekalahannya melawan zaman. Merasa penasaran dengan kasus ini, Penulis pun menonton video dari Dr. Indrawan Nugroho yang berjudul &#8220;Kiamat Toko Buku&#8221;. Secara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/benarkah-era-toko-buku-akan-segera-berakhir/">Benarkah Era Toko Buku akan Segera Berakhir?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa waktu lalu, toko buku Gunung Agung yang legendaris resmi tutup. Penulis sendiri hanya pernah sekali berkunjung ke toko yang ada di daerah Kwitang. Tampaknya, memang toko buku yang satu ini harus mengakui kekalahannya melawan zaman.</p>



<p>Merasa penasaran dengan kasus ini, Penulis pun menonton video dari Dr. Indrawan Nugroho yang berjudul &#8220;Kiamat Toko Buku&#8221;. Secara logika, tentu hal ini masuk akal mengingat kita memang tengah berada di era digital, sehingga keberadaan buku fisik terasa tak relevan lagi.</p>



<p>Pada tulisan kali ini, Penulis ingin membahas mengenai toko buku dan bagaimana zaman makin mendorongnya ke pinggir dari perspektif pribadi, mengingat Penulis adalah orang yang cukup rajin untuk mampir ke toko buku.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/secangkir-toleransi-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/secangkir-toleransi-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/secangkir-toleransi-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/secangkir-toleransi-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/secangkir-toleransi-banner.jpg 1280w " alt="Secangkir Toleransi" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/secangkir-toleransi/">Secangkir Toleransi</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Pada Dasarnya, Tingkat Literasi Kita Sudah Rendah</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6623" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Apakah Pembaca Suka Membaca? (<a href="https://www.pexels.com/@gabby-k/">Monstera</a>)</figcaption></figure>



<p>Mungkin para pembaca sudah tahu kalau negara kita tercinta memiliki tingkat literasi yang rendah. Berdasarkan data dari Program for International Student Assessment (PISA) di tahun 2019, Indonesia hanya <strong>menempati peringkat 62 dari 70 negara</strong>.</p>



<p>Data lain dari UNESCO menunjukan bahwa persentase orang Indonesia yang suka membaca adalah<strong> 0,0001% atau 1:1000</strong>. Jadi, dari 273 juta penduduk Indonesia, yang gemar membaca sekitar 273 ribu orang saja. </p>



<p>Kalau mau menggunakan logika kasar, dengan rendahnya tingkat literasi, maka tingkat daya beli masyarakat terhadap buku tentu akan ikut rendah. Setidaknya, masih ada sarana yang menyediakan buku gratis seperti perpustakaan.</p>



<p>Jika melihat sekitar, Penulis juga jarang menemukan teman atau kenalan yang juga memiliki hobi membaca, dan lebih jarang lagi yang membeli buku. Maka dari itu, tak heran jika banyak teman yang meminjam ke Penulis jika sedang ingin membaca sesuatu.</p>



<p>Apalagi, kita sudah dibuat tergantung sedemikian besar dengan gawai, sehingga keberadaan buku semakin terasa tidak diperlukan. Ketika buku terasa tidak dibutuhkan, toko buku pun perlahan akan terus ditinggalkan, hingga akhirnya harus menyerah dan tutup.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Toko Buku Sudah Kehilangan Relevansinya?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6625" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Tutup karena Sudah Tidak Relevan? (<a href="https://megapolitan.kompas.com/read/2023/05/23/05000011/nostalgia-di-toko-gunung-agung-kwitang-bukan-sekadar-toko-buku-?page=all">Kompas</a>)</figcaption></figure>



<p>Dulu ketika masih kuliah, dalam satu bulan setidaknya Penulis bisa ke toko buku hingga dua kali. Kadang beli, kadang cuma lihat-lihat. Bagi Penulis, toko buku seolah memiliki suasana magis yang membuat kita merasa berada di alam yang berbeda.</p>



<p>Belakangan ini, Penulis semakin jarang ke toko buku karena beberapa alasan. Selain karena merasa bukunya sudah terlalu banyak, Penulis juga sudah tidak membaca sebanyak dulu. Sekarang, paling hanya 15-30 menit per hari, bahkan sering tidak membaca sama sekali.</p>



<p>Apakah ini menjadi semacam pembenaran kalau toko buku memang sudah kehilangan relevansinya? Tentu tidak, karena ini hanya contoh dari satu individu. Penulis yakin<strong> toko buku akan tetap ada</strong>, terutama yang mampu menyesuaikan diri dengan zaman.</p>



<p>Memang, sekarang kita dimudahkan dengan adanya <em>marketplace </em>atau toko buku <em>online</em>. Namun, bagi Penulis pribadi, keberadaan toko buku fisik rasanya tidak akan tergantikan begitu saja. Mungkin akan ada yang tutup, tapi pasti ada yang berhasil bertahan.</p>



<p>&#8220;Kenikmatan&#8221; ketika mata memperhatikan buku demi buku, rak demi rak, tak bisa digantikan dengan <em>scroll </em>di <em>marketplace</em>. Apalagi, di toko buku kita bisa membaca sekilas apa isi buku tersebut, sehingga bisa menambah keyakinan untuk membeli suatu buku.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Harus Dilakukan oleh Toko Buku agar Bertahan?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6624" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Akankah Segera Menyusul Gunung Agung, atau Justru Berhasil Bertahan? (<a href="https://indonesiaemasgroup.com/buku-terbitan-ieg-kini-tersedia-di-gramedia/?v=7c1f12124b9e">Indonesia Emas Group</a>)</figcaption></figure>



<p>Berdasarkan video yang dibuat oleh Dr. Indrawan Nugraha, ada banyak cara yang bisa dilakukan toko buku agar bisa bertahan. Salah satunya adalah menjadikan toko buku bukan sekadar jualan buku, tapi menjadi <strong>tempat berkumpulnya komunitas</strong>.</p>



<p>Jika selama ini toko buku terkesan individual karena orang-orang hanya membeli buku yang diinginkan, maka di masa depan toko buku justru harus terbuka dan menyediakan tempat nongkrong atau berdiskusi. Beberapa toko buku di Indonesia sudah menerapkan hal tersebut.</p>



<p>Bahkan, tak jarang toko buku sekarang<strong> menggandeng <em>brand </em>F&amp;B atau bahkan membuka <em>brand </em>mereka sendiri</strong>. Jadi, setelah berbelanja buku, pengunjung dapat bersantai menikmati kopi sembari membaca buku yang baru saja dibeli.</p>



<p>Selain itu, sekarang rasanya <strong>jarang toko buku hanya menjual buku</strong>. Gramedia misalnya, terkenal karena juga menjual alat tulis, alat olahraga, pernak-pernik, dekorasi, mainan, dan lain sebagainya. Ini bisa menarik pengunjung yang tidak suka buku.</p>



<p>Tentu masih ada cara lain yang telah atau akan dilakukan oleh toko buku. Dengan jatuhnya Gunung Agung bukan berarti toko buku yang lain akan mengikuti jejaknya. Pada akhirnya, semua dituntut untuk sekreatif mungkin agar bisa bertahan di era modern ini.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 26 Juni 2023, terinspirasi setelah menonton <a href="https://www.youtube.com/watch?v=f62II5G49KY&amp;t=434s">video Dr. Indrawan Nurgroh</a>o yang membahas mengenai kiamat toko buku</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/@abby-chung-371167/">Abby Chung</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.whiteboardjournal.com/ideas/human-interest/literasi-indonesia-peringkat-62-dari-70-apakah-peningkatan-kualitas-perpustakaan-daerah-bisa-membantu/">Literasi Indonesia Peringkat 62 dari 70, Apakah Peningkatan Kualitas Perpustakaan Daerah Bisa Membantu? &#8211; Whiteboard Journal</a></li>



<li><a href="https://www.kominfo.go.id/content/detail/10862/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media">Kementerian Komunikasi dan Informatika (kominfo.go.id)</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/benarkah-era-toko-buku-akan-segera-berakhir/">Benarkah Era Toko Buku akan Segera Berakhir?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/benarkah-era-toko-buku-akan-segera-berakhir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca The Art of the Good Life</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2023 15:54:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[non-fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Rolf Dobelli]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6194</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu kanal YouTube yang Penulis sukai adalah milik Fellexandro Ruby. Alasannya, ia memiliki semacam &#8220;rubrik&#8221; bernama Dibacain, di mana ia akan mengupas buku yang telah ia baca dan menyampaikan intisarinya kepada penonton. Nah, di seri Dibacain yang ke-14, buku yang ia ulas adalah The Art of the Good Life karya Robert Dobelli. Buku ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/">Setelah Membaca The Art of the Good Life</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Salah satu kanal YouTube yang Penulis sukai adalah milik Fellexandro Ruby. Alasannya, ia memiliki semacam &#8220;rubrik&#8221; bernama <em>Dibacain</em>, di mana ia akan mengupas buku yang telah ia baca dan menyampaikan intisarinya kepada penonton.</p>



<p>Nah, di seri <em>Dibacain </em>yang ke-14, buku yang ia ulas adalah <em><strong>The Art of the Good Life</strong></em> karya <strong>Robert Dobelli</strong>. Buku ini banyak membahas mengenai bagaimana kita bisa menjalani hidup dengan lebih tenang tanpa perlu memikirkan apa yang seharusnya tidak perlu dipikirkan.</p>



<p>Karena tertarik, Penulis pun jadi ingin membeli buku ini dan menyelami lebih dalam tentang apa yang sebenarnya butuh diraih dalam mencapai hidup tenteram, seperti yang dijabarkan oleh buku ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: <em>The Art of the Good Life: Filosofi Hidup Klasik untuk Abad Ke-21</em></li><li>Penulis: Robert Dobelli</li><li>Penerbit: KPG</li><li>Cetakan: Keempat</li><li>Tanggal Terbit: Desember 2021</li><li>Tebal: 319 halaman</li><li>ISBN: 9781473667488</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Dalam kehidupan yang makin kompleks dan penuh dengan hiruk pikuk, baik di dunia nyata maupun dunia maya, menjalani hidup dengan tenang dan tentram telah menjadi banyak tujuan manusia modern.</p>



<p>Berlandaskan hal tersebut, banyak orang yang kembali menoleh ke filosofi <em>stoicism </em>atau stoik dari Yunani Kuno. Sudah banyak buku yang membahas mengenai hal ini, seperti <em><a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Filosofi Teras</a></em> dan buku <em>The Art of the Good Life </em>ini.</p>



<p>Buku ini memilki 52 bab yang masing-masing memiliki topiknya masing-masing, tetapi masih dalam lingkup &#8220;kunci hidup tenteram&#8221;. Setiap babnya pendek saja, sekitar lima halaman. Pembaca buku ini bisa memilih mau membacanya secara berurutan maupun lompat-lompat.</p>



<p>Sebagai buku yang menggunakan stoik sebagai landasannya, banyak bab di buku ini yang mengajak kita untuk berfokus pada apa yang bisa kita kendalikan, atau istilahnya adalah dikotomi kendali.</p>



<p>Hal ini memang masuk akal, apalagi bagi <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hari-hari-kaum-overthinker/">orang yang kerap <em>overthinking</em></a><em> </em>seperti Penulis. Dengan menyadari ada banyak hal yang tidak bisa kendalikan dalam hidup, niscaya kehidupan pun akan terasa lebih tenang.</p>



<p>Selain itu, setiap bab juga memiliki judul yang jika dibaca sekilas tidak terlihat dengan jelas topik atau argumen apa yang akan dibawakan. Untungnya, ada keterangan di bawah judul bab sehingga kita akan selalu memiliki gambaran tentang bab tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The Art of the Good Life</h2>



<p>Sebagai orang yang menyukai buku bertema stoik, Penulis cukup menikmati buku <em>The Art of the Good Life </em>ini. Dengan panjang babnya yang cuma berkisar lima halaman, buku ini cocok dibaca sebagai selingan dari rutinitas hariannya.</p>



<p>Hanya saja, entah mengapa Penulis merasa tidak banyak isi buku ini yang <em>nyantol </em>di kepalanya. Karena sudah menamatkannya beberapa bulan lalu, Penulis sudah tidak terlalu ingat dengan isinya. Artinya, isinya memang tidak terlalu mengesankan.</p>



<p>Mungkin itu juga terjadi karena Penulis sudah membaca beberapa buku yang juga bermuara dari konsep stoik. Setidaknya, buku ini hadir sebagai pengingat atas ilmu-ilmu stoik yang mungkin sudah Penulis lupakan.</p>



<p>Sebenarnya bahasa yang digunakan oleh Rolf Dobelli tidak terlalu berat. Hanya saja, memang ada bagian-bagian yang tidak cukup untuk dibaca sekali agar benar-benar memahami pesan apa yang ingin disampaikan.</p>



<p>Penulis menyarankan kepada Pembaca untuk menonton video dari Fellexandro Ruby yang telah disinggu di awal untuk bisa mendapatkan gambaran yang lebih baik lagi tentang buku ini. Jika setelah menonton video tersebut jadi yakin, Penulis merekomendasikan buku ini.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 3 Januari 2023, terinspirasi setelah membaca buku <em>The Art of the Good Life </em>karya Rolf Dobelli</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/">Setelah Membaca The Art of the Good Life</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Rapijali 3: Kembali</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-rapijali-3-kembali/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-rapijali-3-kembali/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Sep 2022 14:09:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Dee Lestari]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Rapijali]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5771</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mungkin untuk pertama kalinya, Penulis merasa kurang bersemangat membaca ketika mendapatkan novel terbaru dari Dee Lestari, Rapijali 3: Kembali. Padahal, Penulis ikut pre-order-nya, seperti seri Rapijali lainnya (dan seperti biasa, di Markas Buku). Bukan karena novel tersebut jelek, jelas tidak, melainkan karena sedang kurang bergairah saja untuk membaca novel. Mungkin Pembaca juga pernah mengalaminya, ketika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-rapijali-3-kembali/">Setelah Membaca Rapijali 3: Kembali</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Mungkin untuk pertama kalinya, Penulis merasa kurang bersemangat membaca ketika mendapatkan novel terbaru dari Dee Lestari, <em><strong>Rapijali 3: Kembali</strong></em>. Padahal, Penulis ikut <em>pre-order</em>-nya, seperti seri <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-rapijali-1-mencari/">Rapijali</a> </em>lainnya (dan seperti biasa, di <a href="https://shopee.co.id/markasbuku">Markas Buku</a>).</p>



<p>Bukan karena novel tersebut jelek, jelas tidak, melainkan karena sedang kurang bergairah saja untuk membaca novel. Mungkin Pembaca juga pernah mengalaminya, ketika kita sama sekali tidak ingin melakukan hobi yang biasanya menyenangkan.</p>



<p>Lantas suatu ketika, Penulis sedang ingin membaca novel dan memutuskan untuk memulai membaca novel ini. Alhasil, hanya dalam waktu dua hari (bahkan nyaris dalam semalam) saja, Penulis berhasil menandaskan novel yang cukup tebal ini.</p>



<p>Ada banyak hal yang ingin Penulis sampaikan setelah selesai membaca novel ini. Bisa dibilang, pendapat Penulis tentang novel ini cukup campur aduk, walau secara keseluruhan Penulis masih menikmati novel ini. <em><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></em></p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: <em>Rapijali 3: Kembali</em></li><li>Penulis: Dee Lestari</li><li>Penerbit: Bentang </li><li>Cetakan: Pertama</li><li>Tanggal Terbit: Desember 2021</li><li>Tebal: 776 halaman</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Awalnya, Penulis mengira kalau novel ini akan membahas masa-masa kuliah dari para anggota <em>band </em>Rapijali. Ternyata, kita akan langsung dibawa lompat 8 tahun setelah peristiwa terakhir yang terjadi di <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-rapijali-2-menjadi/">Rapijali 2: Menjadi</a></em>.</p>



<p>Meskipun karakternya telah beranjak dewasa, <em>core </em>dari novel ini tetap berkutat tentang masalah musik dan percintaan. Tentu ada konflik lain seperti masalah keluarga dan berdamai dengan masa lalu.</p>



<p>Setelah 8 tahun berlalu, Ping telah menjadi seorang penyanyi terkenal. Namun, ia kerap beberapa kali terkena serangan panik ketika konser, yang ternyata memiliki keterkaitan dengan masalah dengan dirinya sendiri dan masa lalunya.</p>



<p><em>Band </em>Rapijali sendiri telah tercerai-berai, di mana para anggotanya telah memiliki kesibukan masing-masing. Namun, undangan untuk tampil bersama di acara Reuni Akbar Sekolah Pradipa Bangsa membuat mereka harus bertemu kembali di satu titik.</p>



<p>Karena antaranggotanya ada konflik masing-masing, tentu menarik bagaimana mereka semua, terutama Ping, bisa berdamai. Jangan lupakan Oding yang juga begitu dirindukan oleh Ping di dalam sanubari hatinya yang paling dalam.</p>



<p>Sesuai dengan sinopsis buku yang ada di bagian belakang buku ini, <em>Rapijali 3: Kembali </em>akan memberikan semua jawaban yang muncul dari dua judul sebelumnya. Mampukah para karakter yang ada di dalamnnya berdamai dengan berbagai luka di masa lalu?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Rapijali 3: Kembali</h2>



<p>Seperti biasa, kita selalu bisa mengharapkan cerita yang mengalir ala Dee Lestari. Dialog yang dimiliki oleh para karakternya pun terasa natural dan berhasil membawa pembacanya  Plot ceritanya sendiri ringan ringan berat, cocok untuk remaja.</p>



<p>Ada tiga poin utama yang ingin Penulis singgung dari novel ini, yakni:</p>



<h3 class="wp-block-heading">Berdamai dengan Diri Sendiri</h3>



<p>Fokus utama dari novel ini bagaimana para karakternya, terutama para anggota <em>band </em>Rapijali, berdamai dengan konflik-konflik masa lalu sekaligus berdamai dengan dirinya sendiri. Terlebih lagi ada banyak <em>quote </em>yang <em>related </em>dengan kehidupan kita.</p>



<p>(Mohon maaf karena Penulis sudah cukup lama menamatkan novel ini, Penulis lupa ada di halaman berapa <em>quote </em>yang Penulis sukai)</p>



<p>Hanya saja, konflik batin yang terjadi memiliki kesan agak terlalu berputar-putar. Mungkin, itu memang dilakukan oleh Dee untuk menegaskan betapa sulitnya karakter yang ada di ceritanya untuk berdamai dengan diri sendiri.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Novel yang Dinamis, namun Perubahan Karakter Kurang Terasa</h3>



<p>Karena masing-masing karakter sedang berada di tempat yang berbeda-beda, perubahan sudut pandang karakternya cukup dinamis sehingga dibutuhkan fokus yang cukup tinggi. Apalagi, ada lompatan waktu hingga 8 tahun,</p>



<p>Adanya lompatan waktu membuat kita sering dibawa ke masa lalu (<em>flashback</em>) untuk memahami apa yang membawa karakter-karakter tersebut berada di posisi saat ini. Jadi, apa yang terjadi sekarang selalu memiliki keterkaitan dengan masa lalu.</p>



<p>Untuk perkembangan karakternya sendiri, Penulis merasa perubahan kedewasaan yang dialami para karakternya tidak terlalu terasa. Ping dan kawan-kawan masih terasa sebagai remaja yang sering mengalami konflik terkait percintaan.</p>



<p>Mungkin perubahan yang paling mengejutkan adalah yang dialami oleh Ardi, saudara tiri dari Ping. Ia yang di dua novel terlihat sebagai anak manja dan egosentris bertransformasi menjadi orang yang bijaksana dan telah berdamai dengan diri.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Ending yang Terlalu Sempurna</h3>



<p>Jika disuruh menyebutkan kekurangannya, mungkin Penulis merasa <em>ending </em>yang dimiliki oleh novel ini terlalu sempurna. Konklusinya memang menyenangkan, tapi terlalu panjang, serta terkesan klise dan <em>too good to be true</em>.</p>



<p>Selain itu, banyak adegan atau drama percintaan yang bagi Penulis terasa berlebihan, terutama Rakai dan Jemi. Ping dan Oding sebenarnya juga, tapi masih bisa ditolerir. Bahkan, hubungan Rakai-Ines dan Oding-Dayu juga sedikit terasa berlebihan.</p>



<p>Dee berusaha menyelipkan humor melalui interaksi Buto dan Inggil. Mereka seolah dihadirkan sebagai oase dari peliknya masalah percintaan yang ada di novel ini. Hanya saja, terkadang <em>jokes </em>yang ada agak kurang masuk di Penulis.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Dengan rilisnya novel ini, maka berakhirnya seri <em>Rapijali </em>yang disebut Dee sebagai karya yang telah tertidur selama bertahun-tahun. Novel ini akan Penulis rekomendasikan bagi Pembaca yang sedang mencari novel percintaan ringan.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 4 September 2022, terinspirasi setelah membaca novel <em>Rapijali 3: Kembali </em>karya Dee Lestari</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-rapijali-3-kembali/">Setelah Membaca Rapijali 3: Kembali</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-rapijali-3-kembali/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Bedebah di Ujung Tanduk</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-bedebah-di-ujung-tanduk/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-bedebah-di-ujung-tanduk/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Aug 2022 16:00:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Tere Liye]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5770</guid>

					<description><![CDATA[<p>Novel Tere Liye pertama yang Penulis baca adalah Pulang. Penulis membelinya sewaktu zaman kuliah dan ceritanya pun terasa seru-seru saja. Apalagi, novel ini yang membuat Penulis jadi membeli novel-novel Tere Liye lainnya. Hanya saja, ketika sudah beranjak dewasa seperti sekarang, rasanya ceritanya sudah minta ampun membosankannya. Beberapa kali Penulis membuat ulasan tentang novel Tere Liye [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-bedebah-di-ujung-tanduk/">Setelah Membaca Bedebah di Ujung Tanduk</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Novel Tere Liye pertama yang Penulis baca adalah <em><a href="https://whathefan.com/buku/antara-pulang-dan-pergi/">Pulang</a></em>. Penulis membelinya sewaktu zaman kuliah dan ceritanya pun terasa seru-seru saja. Apalagi, novel ini yang membuat Penulis jadi membeli novel-novel Tere Liye lainnya.</p>



<p>Hanya saja, ketika sudah beranjak dewasa seperti sekarang, rasanya ceritanya sudah minta ampun membosankannya. Beberapa kali Penulis membuat ulasan tentang novel Tere Liye di blog ini, dan kebanyakan isinya adalah keluhan dan keluhan.</p>



<p>Nah, novel Tere Liye terbaru yang telah Penulis selesaikan adalah <em><strong>Bedebah di Ujung Tanduk</strong></em><strong> </strong>yang menggabungkan <em>universe </em>dari seri <em>Pulang </em>dan <em>Negeri Para Bedebah. </em>Kedua karakter utama dari seri tersebut, <strong>Bujang</strong> dan <strong>Thomas</strong>, muncul di novel ini.</p>



<p>Apakah Penulis kembali menelan pil kekecewaan pada novel kali ini? Sayangnya, iya. Akan ada banyak sekali keluhan yang akan Penulis tuangkan di sini, mungkin dengan sedikit emosi. <em><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></em><font _mstmutation="1" _msthash="1047852"></p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: Bedebah di Ujung Tanduk</li><li>Penulis: Tere Liye</li><li>Penerbit: Sabakgrip</li><li>Cetakan: &#8211;</li><li>Tanggal Terbit: &#8211;</li><li>Tebal: 415 halaman</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Penulis tidak akan bercerita terlalu detail tentang novel ini, hanya poin-poin pentingnya saja. Inti dari konflik yang ada di novel ini adalah Thomas yang membantu jual beli gunung yang ternyata milik kelompok <strong>Teratai Emas</strong> pimpinan <strong>Roh Drukpa XX</strong>.</p>



<p>Karakter langganan dari seri <em>Pulang </em>pun kembali muncul, seperti <strong>Salonga</strong>, <strong>Junior</strong>, <strong>White</strong>, <strong>Yuki dan Kiko</strong>, dan tentu saja Bujang yang lebih dominan di cerita ini daripada Thomas. Sebagai tambahan, <strong>Ayako</strong> juga bergabung dengan &#8220;kelompok sirkus&#8221; ini.</p>



<p>Singkat cerita, mereka semua diburu oleh kelompok Teratai Emas karena menolak untuk menyerahkan Thomas. Alhasil, mereka semua pun tertangkap dan dibawa ke markas Teratai Emas.</p>



<p>Lantas, apakah mereka semua pada akhirnya mati karena tidak ada kesempatan untuk kabur? Tentu saja tidak. Ayako, yang kehadirannya memang diperlukan untuk keperluan plot, mengajukan semacam tantangan ke Roh Drukpa XX.</p>



<p>Intinya, ada tiga tantangan yang akan diajukan oleh masing-masing pihak Jika Bujang dkk berhasil menang, maka mereka akan dibebaskan. Jika tidak, hukuman mati pun akan dilaksanakan.</p>



<p>Menjelang akhir cerita, tiba-tiba kakak Bujang yaitu <strong>Diego</strong> tiba-tiba muncul (seperti biasa) dan membuat kekacauan hingga membuat Roh Drukpa XX mati. Selain itu, Ayako juga mengorbankan diri agar rombongan lain bisa selamat.</p>



<p>Ada juga sisipan kisah romansa antara Bujang dan Maria, yang hampir saja menikah di novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang-pergi/">Pulang-Pergi</a></em>. Di novel ini, kita mengetahui kalau Bujang telah memiliki sosok spesial di dalam hatinya, yang belum kita ketahui hingga sekarang.</p>



<p>Sudah, kurang lebih seperti itu plot ceritanya. Seperti biasa, novel ini pun akan kembali memiliki kelanjutannya dengan judul <em><strong>Tanah Para Bandit</strong></em>. Entah sampai kapan Tere Liye akan terus melakukan <em>milking </em>terhadap karya-karyanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Bedebah di Ujung Tanduk</h2>



<p>Penulis pernah membuat ulasan tentang film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-fast-furious-9/">Fast &amp; Furious 9</a></em>, di mana para karakternya yang manusia biasa terasa memiliki kekuatan super. Seri ini juga memiliki tendensi untuk mengarah ke arah yang sama.</p>



<p>Dibandingkan genre <em>action</em>, <strong>seri ini sudah lebih mengarah ke genre fantasi</strong>. Bayangkan saja, Thomas digambarkan memiliki pemberat ala Rock Lee dan mampu meningkatkan kekuatannya hingga berkali-kali lipat. Sangat tidak terasa orisinal.</p>



<p>Apalagi, tidak ada karakter utama atau bahkan pendamping yang dibunuh oleh <em>author</em>. Kematian Ayako sudah Penulis prediksi sejak awal kemunculannya, karena memang biasanya karakter baru muncul untuk sekadar ditumbalkan.</p>



<p>Selain itu, <strong>karakter Thomas juga terlihat berubah </strong>di novel ini. Sebelumnya, ia terlihat sebagai pribadi yang cerdas, berwibawa, dan mengandalkan logika. Di sini, ia terkesan kekanakan dan hanya mengandalkan kemampuan fisik saja.</p>



<p>Yang paling klise tentu saja <strong>kemunculan Diego yang (lagi-lagi) muncul di saat-saat krusial</strong>. Ia seolah dihadirkan untuk menjadi nemesis dari Bujang, sehingga tidak akan dimatikan dalam waktu dekat.</p>



<p>Tere Liye berusaha menyisipkan sedikit sejarah di novel ini, apalagi latar tempatnya yang berlokasi di Nepal dan Bhutan. Hanya saja, sisipan tersebut terasa dangkal dan kurang mendalam, seolah hanya <em>searching </em>di Google saja.</p>



<p>Beberapa hal lain yang menurut Penulis cukup mengecewakan dari novel ini adalah dialog pasukan yang monoton, efek suara yang aneh serta terlalu banyak, penempatan humor yang memaksa, penggambaran pertarungan yang terlalu panjang, dan lainnya.</p>



<p>Jika ditarik kesimpulan, lagi-lagi novel Tere Liye mengecewakan Penulis dan kesulitan untuk mencari sisi positifnya. Akibatnya, hingga saat ini Penulis memutuskan untuk belum membeli novel terbaru dari <a href="https://whathefan.com/buku/menjelajah-dunia-paralel/">serial <em>Bumi</em></a><em> </em>karena takut dikecewakan lagi.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 29 Agustus 2022, terinspirasi setelah membaca novel <em>Bedebah di Ujung Tanduk </em>karya Tere Liye</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-bedebah-di-ujung-tanduk/">Setelah Membaca Bedebah di Ujung Tanduk</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-bedebah-di-ujung-tanduk/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
