<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>motivasi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/motivasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/motivasi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 Apr 2025 11:40:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>motivasi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/motivasi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Apr 2025 16:21:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[berjalan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[self-reminder]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8239</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam empat bulan terakhir, atau sejak masuk tahun 2025, Penulis mengakui kalau sedang banyak masalah, yang kebanyakan hanya ada di pikiran. Hal tersebut membuat produktivitas menulis blog ini terasa mandek, dengan jumlah produksi artikel berkurang drastis. Pada bulan Desember, masih lumayan ada tujuh tulisan yang terbit, sebelum di bulan Januari benar-benar tidak ada tulisan yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/">Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam empat bulan terakhir, atau sejak masuk tahun 2025, Penulis mengakui kalau sedang banyak masalah, yang kebanyakan hanya ada di pikiran. Hal tersebut membuat <strong>produktivitas menulis blog ini terasa mandek</strong>, dengan jumlah produksi artikel berkurang drastis.</p>



<p>Pada bulan Desember, masih lumayan ada tujuh tulisan yang terbit, sebelum di bulan Januari benar-benar tidak ada tulisan yang tayang. Februari ada satu tulisan, yang mirisnya merupakan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/ini-adalah-tulisan-pertama-whathefan-di-2025/">tulisan pertama di tahun 2025</a>. Di Maret setidaknya ada empat tulisan.</p>



<p>Blog ini, yang harusnya menjadi tempat menyalurkan hobi,<strong> justru belakangan terasa menjadi beban</strong>. Ada puluhan ide artikel yang tertumpuk begitu saja tanpa pernah dieksekusi. Ada belasan buku yang menanti untuk diulas, hingga lupa apa yang harus diulas.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop.jpg 1280w " alt="Polemik Larangan Berjualan di TikTok Shop" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-larangan-berjualan-di-tiktok-shop/">Polemik Larangan Berjualan di TikTok Shop</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Berhenti Menulis karena Rasa Malas?</h2>



<p>Setiap merasa harus memutus lingkaran ini dan mulai kembali rutin menulis, keinginan tersebut terputus hanya setelah maksimal dua tulisan. Setelah itu kembali menghilang hingga waktu yang tidak ditentukan.</p>



<p>Apakah permasalahan yang Penulis sebutkan di atas hanya merupakan alibi untuk menutupi alasan sebenarnya dari berhentinya Penulis menulis, yaitu <strong>rasa malas</strong>? Bisa jadi. Namun, rasa malas bisa muncul dengan sebab, seperti kepala yang rasanya penuh sekali.</p>



<p>Ketika pikiran suntuk dan dengan &#8220;liarnya&#8221; mengembara ke sana kemari, itu sangat memengaruhi <em>mood</em>. Sekali lagi, menulis yang harusnya jadi aktivitas menyenangkan justru menjadi momok yang menakutkan.</p>



<p>Apakah rasa malas ini muncul karena di tempat kerja Penulis juga menulis? Bisa jadi, karena tentu itu memunculkan rasa jenuh. Mau sebagus apapun idenya, butuh tekad yang kuat untuk bisa mengeksekusinya, dan tekad itu bisa luntur karena rasa jenuh.</p>



<p>Apakah rasa malas ini muncul karena Penulis kesulitan mengatur waktunya? Bisa jadi, karena waktu yang dimiliki dalam 24 jam digunakan untuk aktivitas lainnya. Jujur, kebanyakan bukan aktivitas produktif sebagai pelarian dari masalah yang ada di kepala.</p>



<p>Lantas, apakah rasa malas ini bisa jadi pembenaran untuk berhentinya produksi blog ini? Entahlah, Penulis merasa dirinya terbagi menjadi dua. Satu menjustifikasi rasa malas tersebut karena memang sedang banyak pikiran, yang satu merutuk diri karena kontrol diri yang lemah.</p>



<p>Apakah produksi artikel di blog ini bisa kembali normal jika masalah-masalah yang ada di pikiran itu terselesaikan? Sekali lagi, entahlah. Bisa jadi berhentinya produksi artikel tersebut memang murni karena rasa malas saja, lalu mencari-cari justifikasi yang paling terlihat elegan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Menyadari Kita Harus Tetap Berjalan</h2>



<p>Saat menulis artikel ini, justru masalah-masalah di kepala tengah berada di klimaksnya. Tentu aneh, mengapa ketika berada di puncak permasalahannya Penulis justru akhirnya memutuskan untuk menulis lagi setelah sekian lama.</p>



<p>Mungkin, karena sudah berada di klimaksnya, <strong>Penulis menyadari bahwa setelah ini jalannya akan melandai, menurun</strong>. Permasalahan, apapun bentuknya, pasti akan selesai. Semua itu hanya sementara, tidak akan terjadi selamanya.</p>



<p>Mungkin, karena <strong>pada akhirnya Penulis menyadari bahwa hidup harus tetap berjalan</strong>. Yang namanya berjalan, tentu tak pernah selalu mulus. Pasti beberapa kali kita akan menemukan jalan yang rusak, <em>gronjalan</em>, kubangan lumpur, dan masih banyak lagi lainnya.</p>



<p>Namun, pada akhirnya kita tetap melanjutkan perjalanan. Memang kita jadi kotor, mungkin ada luka juga, tapi itu adalah &#8220;harga&#8221; yang harus dibayar untuk mencapai tujuan. Demi tujuan itulah kita terus berjalan.</p>



<p>Lantas, apa tujuan yang sedang Penulis tuju sekarang? Penulis tidak akan menuliskannya di sini, tapi yang jelas, untuk mencapai tujuan tersebut, <strong>bisa mendisiplinkan diri untuk konsisten menulis artikel di blog ini adalah salah satu jalan yang harus Penulis tempuh</strong>.</p>



<p>Untuk itulah, Penulis akhirnya memutuskan untuk menulis artikel ini, yang mungkin secara bobot tidak ada bobotnya, lebih sekadar gerutuan karena insomnia datang menyerang. Setidaknya, ini adalah upaya nyata Penulis untuk kembali ke jalan yang benar.</p>



<p>Entah cara apa yang akan Penulis lakukan agar aktivitas menulis blog ini menjadi kembali menyenangkan dan membuat Penulis bersemangat, bahkan ketika isi pikirannya penuh dengan masalah. Sambil berjalan, Penulis akan berusaha menemukan jawabannya.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 8 April 2025, terinspirasi karena insomnia karena berbagai masalah yang ada di pikirannya</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/@pripicart/">Tobi via Pexels</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/">Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Catatan yang Selalu Terlihat oleh Mata</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Aug 2024 16:40:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[catatan]]></category>
		<category><![CDATA[lupa]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7736</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis merasa kalau dirinya adalah orang yang pelupa. Bukan tipe yang lupa tanggal ulang tahun seseorang, lebih ke pelupa untuk task apa yang harus diselesaikan. Jika task tersebut tidak dicatat, biasanya akan mudah terlupa begitu saja. Untuk mengatasi hal ini, Penulis berupaya untuk mengatasinya dengan memanfaatkan aplikasi Microsoft To-Do List yang ter-install di PC maupun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/">Pentingnya Catatan yang Selalu Terlihat oleh Mata</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis merasa kalau dirinya adalah orang yang pelupa. Bukan tipe yang lupa tanggal ulang tahun seseorang, lebih ke pelupa untuk <em>task </em>apa yang harus diselesaikan. Jika <em>task </em>tersebut tidak dicatat, biasanya akan mudah terlupa begitu saja. </p>



<p>Untuk mengatasi hal ini, Penulis berupaya untuk mengatasinya dengan memanfaatkan aplikasi Microsoft To-Do List yang ter-<em>install </em>di PC maupun ponselnya. Namun, sudah menggunakan ini pun terkadang Penulis lupa untuk mengeceknya!</p>



<p>Penulis berusaha untuk mencari solusi lain. Lantas, Penulis teringat akan isi buku <em>Atomic Habit </em>di mana salah satu cara untuk membuat kebiasaan bisa terbentuk adalah dengan membuatnya mudah terlihat. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/rezeki-gak-ke-mana-george-russell-banner1-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/rezeki-gak-ke-mana-george-russell-banner1-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/rezeki-gak-ke-mana-george-russell-banner1-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/rezeki-gak-ke-mana-george-russell-banner1-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/rezeki-gak-ke-mana-george-russell-banner1.jpg 1200w " alt="Rezeki Gak ke Mana Ala George Russel dan Mercedes" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/rezeki-gak-ke-mana-ala-george-russel-dan-mercedes/">Rezeki Gak ke Mana Ala George Russel dan Mercedes</a></div></div></div><p></p>


<p>Oleh karena itu, Penulis akhirnya memutuskan untuk menulis catatan yang selalu terlihat di depan mata. Bukan di gawai yang Penulis miliki, tapi benar-benar di buku catatan fisik dan ditulis secara manual pula.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Masih Perlu Catatan Fisik?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-7738" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-1536x864.jpg 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-2048x1152.jpg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Penulis sudah menyinggung kalau dirinya telah mencoba menggunakan aplikasi Microsoft To-Do List untuk mencatat berbagai <em>task </em>agar tidak lupa dikerjakan. Apalagi, aplikasi tersebut dilengkapi dengan fitur <em>reminder </em>untuk membantu mengingatkan kita.</p>



<p>Untuk pekerjaan-pekerjaan rutin, hal ini memang sangat membantu. Namun, ada yang tidak bisa di-<em>cover</em> oleh aplikasi ini setidaknya untuk Penulis:<strong> hal-hal yang muncul secara spontan</strong> <strong>dan tidak terencana</strong>. </p>



<p>Contohnya di sini adalah mencatat apa yang perlu dibahas untuk rapat besok. Mungkin <em>task </em>rapat di pagi hari bisa dimasukkan ke dalam aplikasi To-Do List, tapi isinya terkadang muncul secara tiba-tiba saat sedang mengerjakan <em>task </em>lain.</p>



<p><em>Lalu, mengapa tidak ditambahkan saja catatannya ke dalam aplikasi To-Do List?</em> Jawabannya adalah kembali lagi karena Penulis pelupa, Penulis kemungkinan besar akan lupa untuk mengeceknya! Akibatnya, hal tersebut pun jadi lupa untuk dibahas ketika rapat.</p>



<p>Penulis juga sempat berusaha menggunakan aplikasi Google Keep. Namun, masalahnya tetap sama,<strong> aplikasi ini tidak selalu langsung terlihat </strong>sehingga Penulis sering lupa untuk mengeceknya, bahkan ketika sudah memasang <em>reminder</em>.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis membutuhkan sebuah media yang akan 24 jam terlihat oleh mata. <strong>Buku catatan fisik</strong>, yang mungkin sudah terasa <em>old school</em>, akhirnya menjadi pilihan utama. Buku catatan ini akan terus berada di atas meja kerja Penulis dan selalu terbuka saat jam kerja.</p>



<p>Berhubung Penulis punya hobi menulis manual, kegiatan mencatat ini Penulis buat semenarik mungkin dengan menambahkan batas dengan berbagai warna beserta tanggal yang ditulis menggunakan huruf latin. Hobi yang aneh memang untuk seorang laki-laki.</p>



<p>Memang ada kekurangannya mencatat secara manual seperti ini, seperti <strong>catatan yang telah dituliskan akan sulit untuk ditelusuri dan diarsipkan</strong>. Namun, buku catatan ini<strong> </strong>memang Penulis gunakan untuk sesuatu yang bersifat spontan dan berjangka pendek.</p>



<p>Setiap pagi, Penulis akan membaca buku catatan ini untuk memastikan tidak ada <em>task </em>atau poin yang harus diselesaikan. Meskipun terkadang masih <em>miss</em>, Penulis merasa metode ini berhasil meminimalisirnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Tidak Menggunakan Medium Lain?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043142-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7745" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043142-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043142-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043142-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043142.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Sebenarnya, Penulis memiliki tablet yang telah dilengkapi dengan <em>stylus </em>karena pada dasarnya Penulis memang masih suka menulis secara manual, yang juga menjadi salah satu alasan mengapa Penulis membeli tablet tersebut.</p>



<p>Namun, makin ke sini, <em>stylus </em>tersebut makin jarang digunakan. Seandainya menulis di tablet pun, pada akhirnya <strong>catatan tersebut akan tenggelam begitu saja</strong> dan kerap lupa untuk mengeceknya kembali.</p>



<p>Selain itu, layar tablet akan mengunci secara otomatis jika lama tidak digunakan, sama seperti ponsel. Jika menyalakannya terus seharian dan menonaktifkan mode <em>auto-lock-</em>nya, tentu akan membuat baterainya cepat habis. </p>



<p>Dengan demikian, seandainya Penulis membuat catatan di tablet sebagai pengingat, tentu tidak efektif karena <strong>harus berkali-kali menyalakan tablet</strong>. Apalagi, tablet ini juga kerap Penulis gunakan sebagai layar kedua</p>



<p>Penulis sempat mengandalkan Sticky Notes sebagai pengingat. Selain bisa ditempel di mana-mana, Sticky Notes kerap berwarna cerah sehingga akan mencuri perhatian kita saat akan bekerja. Tentu ini jadi pengingat yang mudah kita <em>notice</em>, bukan?</p>



<p>Sayangnya, Sticky Notes pun bagi Penulis kurang efektif. Pertama, <strong>Sticky Notes harus ditempel di suatu tempat</strong>. Kamar Penulis yang sudah penuh dengan barang jelas tidak memiliki tempat kosong untuk hal tersebut.</p>



<p>Kedua, <strong>Sticky Notes yang sudah dipasang sulit untuk di-<em>edit</em></strong>. Padahal, Penulis suka menambahkan catatan tambahan menggunakan tinta merah yang biasanya berfungsi sebagai penanda kalau <em>task </em>tersebut sudah diselesaikan atau sudah dibahas dalam rapat.</p>



<p>Ketiga,<strong> Sticky Notes bisa berceceran ke mana-mana jika sudah terlalu banyak</strong>. Padahal, setiap hari ada cukup banyak hal yang perlu Penulis catat secara manual. Penulis tidak bisa membayangkan bagaimana rupa kamarnya jika menempel terlalu banyak Sticky Notes.</p>



<p>Berdasarkan pengalaman tersebut, Penulis memutuskan untuk memanfaatkan buku catatan dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Penulis menganggap kalau buku catatan ini adalah otak kedua Penulis dalam bentuk fisik.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 26 Agustus 2024, terinspirasi setelah menyadari betapa pentingnya catatan yang harus selalu terlihat</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/person-holding-orange-pen-1925536/">lil artsy</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/">Pentingnya Catatan yang Selalu Terlihat oleh Mata</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Saya Hilangkan Kebiasaan Buruk Dikit-Dikit Cek HP</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Jul 2024 16:12:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[distraksi]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[smartphone]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7637</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang suwung atau menganggur, apa yang akan Pembaca lakukan pertama kali? Kalau Penulis, satu hal yang sangat mungkin dilakukan adalah mengecek ponselnya, entah untuk mengecek pesan WhatsApp yang masuk ataupun scrolling media sosial. Parahnya lagi, Penulis kerap berganti-ganti platform ketika sudah cek HP. Bosan buka Instagram, pindah ke X. Bosan di X, pindah ke [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/">Cara Saya Hilangkan Kebiasaan Buruk Dikit-Dikit Cek HP</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang <em>suwung </em>atau menganggur, apa yang akan Pembaca lakukan pertama kali? Kalau Penulis, satu hal yang sangat mungkin dilakukan adalah <strong>mengecek ponselnya</strong>, entah untuk mengecek pesan WhatsApp yang masuk ataupun <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/"><em>scrolling </em>media sosial</a>.</p>



<p>Parahnya lagi, Penulis kerap berganti-ganti platform ketika sudah cek HP. Bosan buka Instagram, pindah ke X. Bosan di X, pindah ke YouTube. Bosan di YouTube, pindah ke Pinterest. Begitu terus hingga screentime ponsel Penulis menjadi berjam-jam.</p>



<p>Penulis sebenarnya menyadari kalau sedikit-sedikit mengecek ponsel merupakan kebiasaan yang buruk karena seolah-olah otak ini tidak boleh diberi jeda sedikit pun dari konsumsi-konsumsi konten. Otak (dan organ tubuh lainnya) ini seolah tidak boleh istirahat. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/koleksi-dragon-ball-super-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/koleksi-dragon-ball-super-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/koleksi-dragon-ball-super-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/koleksi-dragon-ball-super-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/koleksi-dragon-ball-super-banner.jpg 1200w " alt="Saya Memutuskan untuk Mengoleksi Komik Dragon Ball Super" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-dragon-ball-super/">Saya Memutuskan untuk Mengoleksi Komik Dragon Ball Super</a></div></div></div><p></p>


<p>Padahal, jeda sejenak dari segala kegiatan dan konsumsi konten bagus untuk otak. Membiarkan pikiran mengembara atau merenung terkadang menjadi sesuatu yang kita butuhkan di tengah berbagai tuntutan hidup.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis pun berusaha mengurangi ketergantungan dirinya yang sedikit-sedikit mengecek ponsel. Awalnya memang sangat sulit karena sudah menjadi kebiasaan, tapi lama-kelamaan Penulis mulai terbiasa untuk menjauhinya dan menggantinya dengan aktivitas lain.</p>



<p>Pada tulisan kali ini, Penulis ingin berbagi pengalaman dirinya berusaha mengurangi kebiasaan buruk ini untuk bisa meningkatkan produktivitas dirinya. Penulis tidak membuat daftarnya berdasarkan riset mendalam, hanya dari pengalaman pribadinya saja.</p>



<h2 class="wp-block-heading">1. Memberikan Batasan ke Aplikasi</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7684" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Aplikasi Rekomendasi Penulis (<a href="https://www.opal.so/blog/opal-the-1-screen-time-app">Opal</a>)</figcaption></figure>



<p>Hampir semua media sosial menghadirkan konten tak terbatas yang bertujuan untuk membuat kita betah berlama-lama di platform mereka. Akibatnya, kita suka lupa waktu jika sudah bermain media sosial, terutama jika sedang mengonsumsi konten-konten video pendek.</p>



<p>Penulis termasuk yang kesulitan untuk mengerem kebiasaan buruk ini, sehingga membutuhkan bantuan<em> </em>aplikasi. Untungnya, hampir di semua ponsel pintar saat ini telah memiliki fitur untuk membatasi penggunaan aplikasi dalam jangka waktu panjang.</p>



<p>Namun, Penulis merasa aplikasi bawaan tersebut kurang ketat karena bisa kita ubah dengan mudah. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk menggunakan aplikasi yang lebih ketat seperti <strong>AppBlock </strong>dan <strong>Opal</strong>. Jika batas durasinya sudah lewat, maka Oval tersebut akan otomatis memblokir aplikasi tersebut.</p>



<p>Di ponsel, Penulis memberi batasan penggunaan semua media sosial 1,5 jam per hari, mulai dari YouTube, Instagram, X, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">TikTok</a>, hingga <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/threads-the-right-thing-at-the-right-time/">Threads</a>. Durasi 1,5 jam bukan untuk per aplikasi, tapi kombinasi dari semuanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">2. Menjauhkan Ponsel dari Jangkauan</h2>



<p>Cara pertama yang sering Penulis lakukan adalah menjauhkan ponsel sejauh mungkin dari jangkauannya. Biasanya ini Penulis terapkan ketika kerja, di mana Penulis meletakkan ponselnya di tempat yang tidak kelihatan hingga lupa di mana menaruhnya.</p>



<p>Cara ini cukup efektif jika Penulis ingin <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/smartphone-adalah-distraksi-terberat-untuk-produktivitas/">mengurangi distraksi ketika jam kerja</a>, apalagi <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/agar-wfh-tetap-produktif/">Penulis <em>work from home</em></a>. Penulis harus bisa mendisiplinkan diri sendiri karena tidak ada orang lain yang mengawasi. Alhasil, <em>screentime </em>Penulis terutama di jam kerja (9-6) bisa berkurang drastis. </p>



<p>Tidak hanya itu, kita juga bisa mematikan notifikasi ponsel dengan mengubahnya ke Mode Hening atau mengaktifkan fitur Do Not Disturb. Dengan begitu, suara-suara notifikasi yang seolah tak ada habisnya itu bisa diredam dan tidak membuat kita merasa penasaran lagi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">3. Install WhatsApp atau Aplikasi Chat di PC/Laptop</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7685" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Install Aplikasi WhatsApp Dekstop (<a href="https://www.cnet.com/tech/services-and-software/whatsapps-new-desktop-app-for-windows-how-to-download-it-on-your-pc/">CNET</a>)</figcaption></figure>



<p>Salah satu alasan mengapa Penulis suka mengecek ponselnya adalah karena ingin memeriksa apakah ada pesan WhatsApp yang masuk. Oleh karena itu, Penulis memilih untuk meng-<em>install</em> aplikasi WhatsApp versi<em> </em>PC, sehingga dirinya tak perlu lagi mengecek ponsel.</p>



<p>Kebetulan, di tempat kerja Penulis WhatsApp menjadi media utama untuk berkomunikasi, sehingga tidak mungkin Penulis tidak memeriksa WhatsApp. Bahkan, Penulis menggunakan layar kedua menggunakan tablet untuk selalu menampilkan WhatsApp, karena Penulis juga punya kebiasaan buruk sedikit-sedikit cek WhatsApp.</p>



<p>Tidak hanya WhatsApp, semua aplikasi <em>chat </em>yang Penulis gunakan juga Penulis <em>install </em>di PC, mulai dari Skype hingga Discord. Dengan demikian, tidak ada lagi alasan <em>urgent </em>untuk mengecek ponsel di jam kerja.</p>



<h2 class="wp-block-heading">4. Jangan Gunakan Ponsel Sebagai Alarm Pagi</h2>



<p>Selain godaan di kala menganggur dan di jam kerja, salah satu godaan terbesar untuk mengecek ponsel adalah di pagi hari. Penulis punya kebiasaan buruk setelah mematikan alarm, Penulis akan membuka aplikasi media sosial sebentar.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis menyarankan untuk menggunakan alarm konvensional di pagi hari, bukan alarm yang ada di ponsel. Kalau perlu, jauhkan juga ponsel dari jangkauan sebelum tidur. </p>



<p>Selain itu, tentukan jam berapa ponsel boleh mulai dicek, misalnya pukul tujuh pagi setelah <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutinitas pagi telah selesai dituntaskan</a>. Namun, jika boleh jujur, di antara semua poin yang ada di artikel ini, poin inilah yang sampai sekarang masih Penulis sulit terapkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">5. Sibukkan Diri dengan Kegiatan Bermanfaat</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7686" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Baca Buku Favoritmu (<a href="https://www.pexels.com/@adilgkkya/">Adil via Pexels</a>)</figcaption></figure>



<p>Salah satu pemicu kita kerap mengecek ponsel adalah karena <em>suwung</em> atau sedang menganggur, seperti yang sudah Penulis singgung di atas. Oleh karena itu, kita harus kreatif mengisi waktu kosong kita dengan aktivitas lain.</p>



<p>Melakukan hobi adalah salah satu cara yang menyenangkan untuk mengisi waktu luang. Kalau Penulis, biasanya akan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/">membaca buku</a> atau menulis artikel. Kedua aktivitas ini lumayan ampuh bagi Penulis untuk tidak mengecek ponsel.</p>



<p>Di malam hari setelah jam kerja, biasanya Penulis menyempatkan diri untuk menemani ibu menonton televisi. Meskipun bukan kegiatan yang produktif, setidaknya menemani ibu menjadi aktivitas yang bermanfaat sekaligus melepas penat setelah seharian bekerja.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Berselancar di media sosial untuk mencari hiburan bukan hal yang salah. Yang salah adalah jika dilakukan secara berlebihan hingga lupa waktu. Waktu yang kita miliki di dunia ini terbatas, sehingga sayang jika tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya.</p>



<p>Penulis merasa bahwa dirinya sudah terlalu <em>attach </em>dengan ponsel, sehingga muncul kebiasaan sedikit-sedikit ingin mengecek ponsel. Menyadari kekurangan ini, Penulis pun berusaha untuk melakukan tips-tips yang telah disebutkan di atas. </p>



<p>Semoga saja tulisan ini bisa membantu Pembaca yang juga mengalami kesulitan seperti Penulis.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 22 Juli 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau dirinya kerap kali mengecek HP-nya setiap tidak ada aktivitas</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/selective-focus-photography-of-person-using-iphone-x-1542252/">Kerde Severin</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/">Cara Saya Hilangkan Kebiasaan Buruk Dikit-Dikit Cek HP</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Caranya agar Semangat Membaca Buku?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Jun 2024 16:48:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7520</guid>

					<description><![CDATA[<p>Entah saja kapan Penulis membuat persona dirinya sebagai seorang pembaca buku. Mungkin sejak kuliah, ketika dirinya mulai membeli buku-buku sendiri. Ketika sekolah, Penulis memang sudah membaca buku, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak. Hingga hari ini, persona kutu buku masih melekat pada diri Penulis. Selain karena sering membuat artikel ulasan buku yang sudah selesai dibaca, Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/">Bagaimana Caranya agar Semangat Membaca Buku?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Entah saja kapan Penulis membuat persona dirinya sebagai seorang pembaca buku. Mungkin sejak kuliah, ketika dirinya mulai membeli buku-buku sendiri. Ketika sekolah, Penulis memang sudah membaca buku, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak.</p>



<p>Hingga hari ini, persona kutu buku masih melekat pada diri Penulis. Selain karena sering membuat artikel ulasan buku yang sudah selesai dibaca, Penulis memang sering terlihat bersemangat jika topik obrolan bersama teman-teman sudah membahas tentang buku.</p>



<p>Salah satu pertanyaan yang sering diberikan kepada Penulis adalah bagaimana caranya agar suka membaca? Tentu ini pertanyaan yang cukup <em>tricky</em>, karena kebiasaan membaca Penulis sudah dari kecil. Pengaruh ayah yang juga suka membaca bisa <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apa-yang-salah-dengan-privilege/">menjadi <em>privilige</em></a> untuk Penulis.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan.jpg 1280w " alt="Chapter 88 Pengakuan Markus" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-88-pengakuan-markus/">Chapter 88 Pengakuan Markus</a></div></div></div><p></p>


<p>Namun, jika dipikir-pikir lagi, sebenarnya ada beberapa cara yang berhasil setidaknya pada diri Penulis. Meskipun suka membaca, ada kalanya Penulis merasa sangat malas untuk membuka buku. Entah ada berapa buku yang akhirnya menumpuk dan tidak pernah dibaca.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #1: Pilih Topik Buku yang Digemari</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7523" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/pile-of-assorted-novel-books-694740/">Min An</a></figcaption></figure>



<p>Tips pertama dan yang paling <em>basic </em>adalah <strong>memilih buku sesuai dengan topik yang digemari</strong>. Kalau sukanya fiksi, ya jangan memaksakan diri untuk membaca buku ekonomi. Yang ada malah merasa mual karena tidak paham sama sekali apa isinya.</p>



<p>Penulis sendiri biasanya punya stok untuk beberapa genre yang diminati, karena kebetulan dirinya punya banyak topik bacaan yang digemari. Jadi, Penulis bisa memilih genre bacaannya sesuai dengan <em>mood</em>-nya saat itu. </p>



<p>Saat ini saja, ada sekitar 12 buku yang Penulis baca bersamaan dari berbagai genre, mulai dari fiksi, sejarah, pengembangan diri, dan lain sebagainya. Penulis tinggal memilih mana yang mau dibaca hari ini, benar-benar tergantung <em>mood</em>-nya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #2: Pilih Buku yang Ringan-Ringan Dulu Saja</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7528" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/unrecognizable-woman-sitting-outdoors-and-reading-book-4963708/">Karolina Kaboompics</a></figcaption></figure>



<p>Selain topik, pemilihan bobot buku juga bisa menentukan semangat kita dalam membaca. Kalau belum terbiasa membaca, tips kedua, usahakan untuk<strong> memilih buku yang ringan-ringan dulu saja</strong>, baik dari segi ketebalan halaman maupun bahasa yang dimiliki.</p>



<p>Kalau mau memulai baca novel, bisa coba baca novel-novel ringan seperti karya <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-janji/">Tere Liye</a> atau <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/setelah-membaca-brianna-dan-bottomwise/">Andrea Hirata</a>. Jangan langsung baca novelnya <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-laut-bercerita/">Leila S. Chudori</a>, nanti <em>shock </em>karena ceritanya yang berat dan <em>dark</em>.</p>



<p>Kalau misal mau membaca buku non-fiksi seperti sejarah, bisa mulai baca buku yang kecil atau tipis dulu. Misal mau baca tentang Perang Dunia II, ya jangan langsung baca buku <em>Perang Eropa</em>-nya P. K. Ojong yang tebal-tebal dan ada sampai tiga jilid.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #3: Mulai dari Sedikit Dulu Saja</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7524" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-person-holding-a-book-2663851/">Enzo Muñoz</a></figcaption></figure>



<p>Tips ketiga, <strong>mulai dari sedikit dulu saja</strong>. Satu hari satu halaman pun tidak masalah, asal konsisten setiap hari. Nanti setelah semakin terbiasa, jumlah halaman atau durasi membaca dalam sehari bisa bertambah secara bertahap.</p>



<p>Agar bisa lebih konsisten, ada baiknya kalau kita memiliki <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-3-time-blocking/">time block</a> </em>untuk menentukan kapan kita membaca. Bisa setelah bangun, istirahat makan siang, atau menjelang tidur. Pilih waktu terbaik dari rutinitas harian kita.</p>



<p>Kebiasaan mikro seperti ini dibahas dalam buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/">Atomic Habits</a> </em>karya James Clear. Tidak apa-apa sedikit, yang penting rutin. Agar bisa dirutinkan, letakkan buku yang ingin dibaca di tempat yang mudah terlihat, jangan ditaruh di rak buku atau tempat tak terlihat lainnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #4: Jangan Paksakan Diri untuk Menghabiskan Buku</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7529" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-a-woman-with-bangs-reading-a-book-while-her-hand-is-on-her-head-7320383/">Karolina Kaboompics</a></figcaption></figure>



<p>Terkadang, ada saja buku yang memang seolah ditakdirkan untuk tidak ditamatkan, dan hal itu sama sekali tidak masalah. Tips keempat, <strong>jangan pernah memaksakan diri untuk menghabiskan buku</strong>. </p>



<p>Mungkin setelah membaca seperempat atau setengah buku, ternyata isinya kurang cocok dengan kita. Tidak menamatkan buku yang sudah dimulai bukanlah sebuah dosa. Daripada dipaksa menyelesaikan tapi isinya tidak masuk, ya untuk apa.</p>



<p>Penulis mungkin punya puluhan buku yang bernasib seperti itu, ditutup sebelum halaman terakhir selesai dibaca. Mungkin suatu saat akan coba dibaca lagi, tapi tidak sekarang. Apalagi, masih ada banyak buku lain yang lebih menarik untuk ditamatkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #5: Pinjam, Jangan Beli</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7525" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/assorted-books-on-shelf-1290141/">Ivo Rainha</a></figcaption></figure>



<p>Tips keempat yang bisa digunakan untuk berhemat adalah <strong>jangan membeli buku</strong>. Lho, kok gitu? Karena dengan perasaan memiliki buku tersebut, kita jadi cenderung berpikir, &#8220;Halah, dibaca nanti saja kalau sudah senggang.&#8221; Akhirnya, malah tidak tersentuh sama sekali.</p>



<p>Kalau belum terbiasa membaca, Penulis menyarankan lebih baik meminjam saja, entah ke teman ataupun perpustakaan. Penulis sendiri sering meminjamkan buku-bukunya ke siapapun yang ingin membaca. </p>



<p>Dengan meminjam, kita jadi memiliki semacam <em>deadline </em>kapan buku tersebut harus dikembalikan kepada pemiliknya. Dengan adanya <em>deadline</em>, kita pun jadi lebih termotivasi untuk segera memulai membaca dan menghabiskannya (opsional)</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #6: Baca dengan Suasana Nyaman</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7527" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-in-yellow-long-sleeve-shirt-lying-on-couch-4866043/">cottonbro studio</a></figcaption></figure>



<p>Tips kelima yang sering Penulis lakukan kepada dirinya sendiri adalah <strong>membuat suasana membaca menjadi senyaman mungkin</strong>. Kalau membacanya <em>pewe</em>, maka kita pun akan betah melakukannya dalam jangka waktu yang panjang, asal jangan malah ketiduran!</p>



<p>Kalau Penulis, seringnya membaca di atas kasur dengan lampu baca dan aroma terapi yang menyala. Alternatif tempat lain untuk membaca adalah duduk di teras, mengingat di teras rumah Penulis ada banyak tanaman sehingga suasananya menjadi sejuk.</p>



<p>Selain itu, mendengarkan lagu ketika membaca juga bisa menambah kenyamanan dalam membaca. <em>Playlist </em>lagu-lagu klasik atau <em>lo-fi </em>sangat cocok sebagai teman membaca. Sebaiknya jangan mendengarkan lagu yang memiliki lirik, khawatirnya jadi susah fokus.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #7: Jauhkan Smartphone</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7526" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/person-holding-amazon-kindle-ebook-844734/">özgür</a></figcaption></figure>



<p>Seperti yang sudah pada tulisan sebelumnya, Penulis memanfaatkan buku untuk menjauhkan dirinya dari media sosial. Percayalah, salah satu faktor yang membuat Penulis malas membaca buku adalah karena adanya distraksi dari <em>smartphone</em>-nya. </p>



<p>Oleh karena itu, tips terakhir, <strong>jauhkan <em>smartphone </em>ketika ingin membaca</strong>. Ketika membaca di kamar, Penulis biasanya menyalakan mode senyapnya dan meletakkannya di meja kerja. Kalau membaca di teras, ya <em>smartphone</em>-nya ditinggal saja di kamar. </p>



<p>Buku bisa menjadi subtitusi yang menarik dari <em>smartphone </em>ketika kita butuh mengisi waktu luang. Bahkan, belakangan Penulis lebih sering membawa buku ke kamar mandi ketika ada panggilan alam dibandingkan membawa <em>smartphone</em>. </p>



<p>Lantas, bagaimana jika kita membaca buku lewat aplikasi di <em>smartphone</em>. Nah, kebetulan Penulis merupakan pembaca konvensional yang tidak suka membaca buku digital. Kalau lebih suka membaca di <em>smartphone</em>, ya yang kuat saja menahan godaan untuk membuka apliaksi lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Kurang lebih seperti itulah tips agar semangat membaca yang telah Penulis terapkan sendiri dalam kehidupannya. Mungkin tidak semua tips cocok untuk Pembaca sekalian, tidak apa- Pilih saja tips yang cocok dengan gaya hidup Pembaca.</p>



<p>Yang jelas, membaca buku hingga saat ini tetap menjadi media favorit Penulis entah untuk hiburan maupun mendapatkan ilmu, meskipun sekarang ada banyak konten di media sosial maupun YouTube yang bisa menghadirkan hal tersebut.</p>



<p>Semoga tips di atas bisa menjadi penyemangat kita untuk bisa lebih banyak membaca buku, ya!</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 25 Juni 2024, terinspirasi setelah menulis artikel <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</a> </em>kemarin</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/books-in-black-wooden-book-shelf-159711/">Pixabay</a> </p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/">Bagaimana Caranya agar Semangat Membaca Buku?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Jun 2024 16:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[baca]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[detox]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7513</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak kecil, Penulis sudah gemar membaca walau jenisnya baru sebatas komik dan ensiklopedia anak. Semakin dewasa, variasi bacaan Penulis pun bertambah, seperti novel, sejarah, pengembangan diri, biografi, hingga filsafat. Namun, ada masa ketika Penulis benar-benar tidak membaca sama sekali. Hobi yang dulu sangat menyenangkan menjadi menjemukan dan terasa berat. Buku-buku yang sudah beli ditumpuk begitu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sejak kecil, Penulis sudah gemar membaca walau jenisnya baru sebatas komik dan ensiklopedia anak. Semakin dewasa, variasi bacaan Penulis pun bertambah, seperti novel, sejarah, pengembangan diri, biografi, hingga filsafat.</p>



<p>Namun, ada masa ketika Penulis benar-benar tidak membaca sama sekali. Hobi yang dulu sangat menyenangkan menjadi menjemukan dan terasa berat. Buku-buku yang sudah beli ditumpuk begitu saja, bahkan beberapa masih dibungkus plastik. </p>



<p>Ketika direnungkan, mungkin salah satu penyebabnya adalah <strong>Penulis terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial</strong>. Konten pendek yang muncul tanpa batas tersebut seolah &#8220;menjebak&#8221; Penulis untuk tidak mengonsumsi konten panjang.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/09/bapak-lu-punya-tim-f1-lu-punya-kuasa-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/09/bapak-lu-punya-tim-f1-lu-punya-kuasa-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/09/bapak-lu-punya-tim-f1-lu-punya-kuasa-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/09/bapak-lu-punya-tim-f1-lu-punya-kuasa-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/09/bapak-lu-punya-tim-f1-lu-punya-kuasa-banner.jpg 1280w " alt="(Bapak) Lu Punya Tim F1, Lu Punya Kuasa" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/bapak-lu-punya-tim-f1-lu-punya-kuasa/">(Bapak) Lu Punya Tim F1, Lu Punya Kuasa</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Konten Pendek Membuat Kita Malas Mengonsumsi Konten Panjang</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7516" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Konten Pendek Media Sosial Membuat Kita Lupa Waktu (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-man-in-white-dress-shirt-holding-phone-near-window-859265">Andrea Piacquadio</a>)</figcaption></figure>



<p>Dalam tulisan <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/">Alasan Kenapa “Mindless Scrolling” adalah Pelarian yang Buruk</a></em>, Penulis sudah pernah berpendapat kalau salah satu bahaya dari konten-konten pendek di media sosial adalah <strong>membuat kita tidak tahu kapan harus berhenti</strong>.</p>



<p>Berbeda dengan menonton video panjang di YouTube di mana kita bisa menentukan konten mana yang ingin kita tonton, konten pendek di TikTok, Reels, maupun Shorts selalu menghadirkan konten baru yang tidak kita rencanakan untuk kita tonton. Semua berdasarkan algoritma. </p>



<p>Adanya unsur &#8220;kejutan&#8221; membuat kita mendapatkan dopamin dari sana, sehingga di dalam otak seolah ada <em>mindset </em>untuk terus mencari konten yang akan memberikan kita kebahagiaan. Masalahnya, ini bisa berlangsung selama berjam-jam tanpa disadari.</p>



<p>Penulis sendiri merasa kalau dirinya bisa terjebak berjam-jam jika sudah melakukan <em>scrolling-scrolling </em>di media sosial. Yang rencananya cuma 5 menit bisa bertambah hingga 2 jam. Tentu ini sangat berpengaruh kepada produktivitas sehari-hari.</p>



<p>Permasalahan lain adalah karena otak terbiasa dengan konten pendek yang menyajikan info secara cepat dan singkat, <strong>kita jadi tidak terbiasa (baca: malas) untuk mengonsumsi konten yang lebih panjang dan lengkap</strong>. </p>



<p>Konten panjang yang Penulis maksud di sini bisa berbentuk buku, jurnal, film, dokumenter, serial, dan lain sebagainya. Konten panjang membutuhkan &#8220;dedikasi&#8221; kita untuk menghabiskan beberapa jam (bahkan hari) yang kita miliki untuk menyelesaikannya.</p>



<p>Di sisi lain, konten pendek akan langsung habis secara instan dalam hitungan detik atau menit. Dalam sekejap, kita bisa mendapatkan sesuatu entah itu ilmu ataupun hiburan. Dalam beberapa jam, entah berapa info yang masuk ke dalam otak kita, walau kebanyakan akan langsung terlupakan.</p>



<p>Konten panjang <strong>memiliki batas yang jelas kapan dia akan selesai</strong>. Konten pendek memang cuma berdurasi beberapa detik/menit, tapi konten-konten selanjutnya akan terus bermunculan tanpa habis. Inilah yang berbahaya dari mengonsumsi konten pendek di media sosial.</p>



<p>Mungkin akan ada yang berargumen kalau konten pendek seperti itu akan sangat berguna untuk menghemat waktu, Itu ada benarnya, tapi terkadang kita membutuhkan informasi yang lebih lengkap, bukan yang sepotong-sepotong.</p>



<p>Menurut Penulis, netizen kita sering ribut di internet juga salah satunya adalah kebiasaan ini. Kita jadi merasa paling tahu hanya bermodalkan konten-konten pendek. Padahal, kebijaksanaan tertinggi menurut Socrates adalah mengetahui kalau kita ini tidak tahu apa-apa. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Buku Bisa Menjadi Penyelamat Penulis</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7517" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Membaca Sebagai Sarana untuk Mengurangi Candu Media Sosial (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-reading-a-book-5634667/">Monstera Production</a>)</figcaption></figure>



<p>Biasanya, ketika mulai menyadari bahwa dirinya sudah terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial, Penulis akan melakukan <em>detox</em> untuk sementara waktu. Tidak sampai tidak mengecek media sosialnya, tapi cukup mengurangi durasinya per hari.</p>



<p>Untuk itu, Penulis menggunakan berbagai <strong>aplikasi yang bisa melimitasi penggunaan media sosial</strong>. Ini tentu harus diiringi oleh niat yang kuat, karena godaan untuk mengubah limitasinya sangat besar dan mudah dilakukan. </p>



<p>Penulis benar-benar berusaha untuk mematuhi batasan penggunaan media sosial di gawainya, walau terkadang masih indisipliner. Harusnya, kalau memang sudah <em>limit</em>, ya sudah, jangan diubah batas durasinya, jangan dibuka aplikasi pembatasnya untuk menghapus <em>limit </em>yang sudah dibuat.</p>



<p>Ketika tidak bisa mengecek media sosial (yang sudah menjadi kebiasaan), tentu kita butuh aktivitas lain untuk mengalihkan fokus kita. Jelas setiap orang memiliki preferensi aktivitasnya masing-masing, tapi kalau <strong>Penulis pribadi memilih media buku</strong>, &#8220;kawan lama&#8221; yang sudah menjadi hobi Penulis sejak lama.</p>



<p>Untuk bisa membangkitkan minat bacanya kembali, Penulis memutuskan untuk <strong>membaca buku yang benar-benar menarik minatnya</strong>, bisa buku lama maupun buku baru. Contoh buku yang berhasil membuat Penulis bersemangat membaca adalah <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-keajaiban-toko-kelontong-namiya/">Keajaiban Toko Kelontong Namiya.</a></em></p>



<p>Tidak hanya karya fiksi, Penulis juga memilih buku non-fiksi dengan topik yang menarik minatnya. Contoh, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">Penulis suka sejarah</a>, maka Penulis membeli buku sejarah. Buku sejarah yang sedang dibaca saat ini adalah <em>Sejarah Prancis </em>dan <em>Memahami Jepang.</em></p>



<p>Bahkan, Penulis juga mulai membeli komik lagi seperti ketika masih muda dulu. Contoh, Penulis telah membeli semua komik <em>Dragon Ball Super </em>dari volume 1 sampai 19. Jika sukanya baca komik, ya tidak apa. Aktivitas membaca tidak selalu dikonotasikan belajar, karena membaca juga bisa menjadi sarana hiburan.</p>



<p>Penulis bukan tipe pembaca yang harus menghabiskan satu buku dulu baru berpindah ke buku lain. Saat ini saja, ada belasan buku dengan berbagai genre/topik yang sedang Penulis baca secara bersamaan. Penulis tinggal memilih mau membaca yang mana hari ini, tergantung <em>mood</em>-nya.</p>



<p>Inilah mengapa buku bisa menjadi penyelamat Penulis dari kecanduan konten pendek di media sosial: <strong>Penulis bisa bebas memilih buku apa yang akan dibaca</strong>. Hal ini tidak kita dapatkan dari TikTok, Reels, dan Shorts yang menghadirkan konten sesuai dengan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">algoritma mereka</a>.</p>



<p>Membaca juga menjadi pilihan Penulis karena dirinya memang tidak terlalu suka aktivitas menonton film atau serial. Apalagi, Penulis punya kebiasaan buruk ketika sudah menonton serial yang menarik: tidak bisa berhenti menonton semua episodenya sampau tamat. </p>



<p>Ini terjadi ketika Penulis mulai menonton serial <em>How I Met Your Mother</em>. Bahkan, <em>final season</em>-nya Penulis tamatkan dalam semalam. Karena alasan inilah Penulis menghindari menonton serial, karena percuma jika kecanduan kita di media sosial malah berpindah ke serial. </p>



<p>Kalaupun menonton konten di YouTube, jangan membuka Shorts. Penulis menonton YouTube di TV agar akses ke Shorts menjadi lebih sulit. Alhasil, Penulis pun hanya bisa memilih konten-konten yang berdurasi panjang, entah yang berbobot ataupun yang ringan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis merasa terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial tidak baik untuk dirinya, terutama karena mengganggu produktivitasnya. Untuk itu, ada beberapa hal yang Penulis lakukan, mulai dari membatasi durasi media sosial hingga menghabiskan waktunya lebih banyak untuk membaca.</p>



<p>Membaca buku fisik, setidaknya bagi Penulis, merupakan aktivitas yang bisa membantu Penulis menjauhi media sosial. Penulis bisa memilih buku mana yang akan Penulis baca, tidak seperti konten pendek di media sosial yang tidak bisa kita atur.</p>



<p>Penulis menyadari kalau membaca buku bukan aktivitas favorit banyak orang. Oleh karena itu, mungkin di tulisan berikutnya Penulis akan mencoba berbagai tips agar minat baca itu bisa tumbuh, terutama untuk Pembaca yang juga merasa butuh &#8220;lari&#8221; dari kecanduan konten-konten pendek di media sosial.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 24 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau dirinya mulai bersemangat untuk banyak membaca lagi</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-reading-book-5331072/">Monstera Production</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyalahkan Kondisi Terus hingga Lupa Interopeksi Diri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Jun 2024 15:44:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Gen Z]]></category>
		<category><![CDATA[interopeksi]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[skill]]></category>
		<category><![CDATA[value]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7398</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang bermain Instagram, muncul sebuah pos dari akun @doraemon_hari_ini yang menampilkan panel komik di mana Nobita sedang ditanya oleh Pak Guru kenapa Nobita bisa mendapatkan nilai 0. Nobita pun menjawab dengan enteng, &#8220;Kan diberi oleh bapak.&#8221; Penulis lupa panel tersebut berasal dari cerita atau volume berapa, tapi yang jelas panel tersebut berhasil menggelitik Penulis. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/">Menyalahkan Kondisi Terus hingga Lupa Interopeksi Diri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang bermain Instagram, muncul sebuah pos dari akun <a href="https://www.instagram.com/doraemon_hari_ini/?hl=en">@doraemon_hari_ini</a> yang menampilkan panel komik di mana Nobita sedang ditanya oleh Pak Guru kenapa Nobita bisa mendapatkan nilai 0. Nobita pun menjawab dengan enteng, &#8220;Kan diberi oleh bapak.&#8221;</p>



<p>Penulis lupa panel tersebut berasal dari cerita atau volume berapa, tapi yang jelas panel tersebut berhasil menggelitik Penulis. Dalam sudut pandang Nobita, nilai 0-nya adalah karena pemberian orang lain, bukan karena ketidakmampuannya dalam mengerjakan soal.</p>



<p>Nah, hal ini membuat Penulis bertanya-tanya, jangan-jangan selama ini kita juga seperti Nobita yang menyalahkan faktor ekternal (Pak Guru) dan tidak menyadari kesalahan dari faktor internal (ketidakbecusannya mengerjakan soal). Kita menyalahkan kondisi, hingga lupa interopeksi diri.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teman-cerita-yang-buruk-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teman-cerita-yang-buruk-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teman-cerita-yang-buruk-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teman-cerita-yang-buruk-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teman-cerita-yang-buruk-banner.jpg 1280w " alt="Teman Cerita yang Buruk" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/teman-cerita-yang-buruk/">Teman Cerita yang Buruk</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">10 Juta Gen Z Menganggur di Usia Produktif</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7404" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Banyak Gen Z yang Menganggur (<a href="https://parentingteensandtweens.com/8-genius-responses-for-when-your-teen-is-being-lazy-and-entitled/">Parenting Teens and Tweens</a>)</figcaption></figure>



<p>Melansir dari berbagai sumber, disebutkan bahwa jumlah Gen Z (generasi kelahiran 1997 – 2012) di Indonesia yang menganggur hampir mencapai 10 juta orang. Jika diperinci berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), mayoritas pengangguran di Indonesia berusia 18 hingga 24 tahun. </p>



<p>Padahal, usia tersebut harusnya menjadi usia-usia produktif untuk bekerja dan berkarya. Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziah, menyebutkan bahwa salah satu faktornya adalah ketidaksesuai keterampilan mereka dengan kebutuhan tenaga kerja.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Pengangguran kita ini terbanyak disumbangkan dari lulusan SMK, anak-anak lulusan SMA, ini terjadi karena adanya <em>miss-match</em>,&#8221; ungkap Ida sebagaimana dilansir dari CNBC.</p>
</blockquote>



<p>Masih dari sumber yang sama, alasan-alasan lain yang menjadi pendukung tingginya pengangguran dari kalangan Gen Z adalah putus asa, disabilitas, kurangnya akses transportasi dan pendidikan, keterbatasan finansial, hingga kewajiban rumah tangga.</p>



<p>Penulis sempat mengira bahwa tingginya jumlah tersebut karena menghitung jumlah Gen Z yang masih menempuh studi. Faktanya, jumlah 10 juta tersebut benar-benar Gen Z yang tidak sedang menjalani studi maupun pelatihan apapun. Benar-benar <em>full </em>menganggur.</p>



<p>Mungkin ini juga ada kaitannya dengan kebanyakan lowongan pekerjaan yang mensyaratkan memiliki gelar sarjana, bahkan untuk pekerjaan yang sebenarnya tidak membutuhkan tingkat pendidikan setinggi itu. Alhasil, lulusan SMA/SMK pun jadi kesulitan mencari pekerjaan dengan ijazah yang mereka miliki.</p>



<p>Di sisi lain, Penulis sendiri sering menemukan konten dari pihak perusahaan. Seperti yang kita tahu, banyak juga yang mensyaratkan maksimal umur 30 tahun. Artinya, mereka pun sebenarnya juga mencari pekerja dari kalangan Gen Z, bukan Milenial seperti Penulis.</p>



<p>Tidak hanya itu, pihak perusahaan pun banyak yang &#8220;curhat&#8221; mengenai susahnya mencari kandidat yang sesuai dengan keinginan mereka. Lowongan ada, calon pekerja ada, tapi tidak ketemu karena banyak hal. Tak heran jika jumlah pengangguran pun menjadi tinggi sekali.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kondisi Memang Susah, tapi Tidak Boleh Menyalahkan Kondisi Terus</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7405" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Yuk, Terus Kembangkan Value Diri (<a href="https://www.ppic.org/blog/students-prepare-for-ap-exams-during-covid-19/teenager-girl-studying-at-home/">PPIC</a>)</figcaption></figure>



<p>Pak Guru yang memberikan soal ujian adalah analogi untuk kondisi yang kita hadapi. Nobita adalah analogi dari diri kita sendiri. Ketika mendapatkan nilai 0, mana yang akan kita salahkan: <strong>soal sulit dari Pak Guru</strong> atau <strong>ketidakmampuan kita dalam mengerjakan soal</strong>?</p>



<p>Jika mampu untuk interopeksi diri, tentu kita akan menyadari kalau kesalahan terdapat pada diri kita yang mungkin kurang rajin belajar, tidak memperhatikan guru ketika menerangkan, dan lain sebagainya. </p>



<p>Dalam filsafat stoik, salah satu kunci utamanya adalah memahami apa yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak. Soal dan penilaian Pak Guru ada di luar kendali kita. Yang ada di kendali kita adalah u<strong>saha kita agar bisa mengerjakan soal dari Pak Guru</strong>.</p>



<p>Itu pun berlaku dalam konteks mencari pekerjaan yang sedang Penulis bahas. Saat kesulitan mencari pekerjaan, tentu lebih mudah untuk menyalahkan kondisi, entah karena persyaratan perusahaan yang tak masuk akal, janji pemerintah untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang tak terealisasi, kalah dengan orang dalam, dan lain sebagainya.</p>



<p>Namun, terkadang kita lupa untuk menengok ke dalam diri sendiri. Jangan-jangan, kesulitan yang kita alami itu karena kitanya sendiri yang <strong>kurang mengembangkan <em>value </em>diri</strong>, baik <em>hard skill </em>maupun <em>soft skill</em>.</p>



<p>Jangan-jangan selama ini kita mendambakan pekerjaan dengan gaji yang layak, tapi dalam keseharian lebih banyak <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/">menghabiskan waktunya untuk rebahan</a> dan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/"><em>scrolling </em>media sosial</a> atau <em>push rank game </em>HP. Waktu yang ada tidak digunakan untuk mengasah kemampuan diri.</p>



<p>Apalagi, saat ini sebenarnya sarana untuk mengembangkan diri banyak tersedia dan bisa diakses secara gratis di media sosial, YouTube, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/artikel-pada-tulisan-ini-dibuat-menggunakan-ai-chatgpt/">bahkan AI sekalipun</a>. Coba pilih bidang yang diminati agar tidak malas dan merasa bersemangat ketika mempelajarinya.</p>



<p>Sebagai contoh, <a href="https://whathefan.com/pengalaman/salah-jurusan-sampai-lulus/">Penulis yang lulusan IT</a> pun jadi harus mengembangkan dirinya sebagai Editor dan SEO Specialist secara otodidak. Akhir-akhir ini Penulis juga banyak melakukan eksplorasi terhadap dunia AI yang tampaknya akan menjadi masa depan dunia kerja.</p>



<p>Yang tidak kalah penting dari <em>hard skill </em>adalah <em>soft skill</em>. Percuma saja jika memiliki <em>hard</em> <em>skill</em>, tapi <em>attitude-</em>nya minus, tak mampu berbicara di depan orang banyak dengan lancar, tidak disiplin, kesulitan bersosialiasi dengan orang, dan lain sebagainya. </p>



<p>Sebagai contoh, mungkin kita sering lolos hingga sesi wawancara ketika melamar pekerjaan, tapi tak pernah mendapatkan panggilan selanjutnya. Kalau seperti itu, bisa jadi ada yang salah dari performa kita selama wawancara, sehingga harus ada yang perlu diperbaiki.</p>



<p>Mengembangkan relasi juga tak kalah penting. Jangan hanya ngomel karena kalah dari orang dalam, kita juga harus berusaha menjalin relasi dengan banyak orang. Yakinkan kalau kita memiliki <em>skill </em>yang mereka butuhkan, sehingga mereka bisa menjadi &#8220;orang dalam&#8221; untuk kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Memang ada banyak sekali faktor yang memengaruhi mengapa kita kesulitan mendapatkan pekerjaan. Namun, menurut Penulis alangkah baiknya jika kita fokuskan diri kepada apa yang bisa kita kendalikan, yakni diri kita sendiri.</p>



<p>Menyalahkan kondisi terus-menerus tidak akan membantu apa-apa. Yang ada malah membuat hati jengkel dan gelisah terus. Tentu sayang tenaga dan pikiran dibuang untuk melakukan hal tersebut, sampai tak lagi tersisa untuk mengembangkan diri sendiri.</p>



<p>Apalagi di era teknologi seperti ini, sarana untuk mengembangkan <em>skill </em>sangat tersedia di berbagai platform. Mumpung masih muda, coba saja eksplorasi semuanya hingga menemukan mana yang paling membuat kita bersemangat. Asah terus <em>skill </em>untuk meningkatkan <em>value </em>diri sehingga kita punya nilai lebih di dunia kerja.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 11 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari bahwa kita sebagai manusia kerap menyalahkan kondisi di luar, tapi lupa untuk melihat ke dalam</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.instagram.com/p/C7TJ7PYN8wB/">Doraemon Hari Ini</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20240520180812-4-539841/10-juta-gen-z-nganggur-menaker-ida-beberkan-sumber-masalah-utama">10 Juta Gen Z Nganggur, Menaker Ida Beberkan Sumber Masalah Utama (cnbcindonesia.com)</a></li>



<li><a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20240604144503-4-543728/di-depan-sri-mulyani-dpr-angkat-isu-10-juta-gen-z-nganggur">Di Depan Sri Mulyani, DPR Angkat Isu 10 Juta Gen Z Nganggur (cnbcindonesia.com)</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/">Menyalahkan Kondisi Terus hingga Lupa Interopeksi Diri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saya Menggunakan Notion untuk Mencatat Progres Artikel Whathefan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-menggunakan-notion-untuk-mencatat-progres-artikel-whathefan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-menggunakan-notion-untuk-mencatat-progres-artikel-whathefan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Jun 2024 15:27:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[jadwal]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Notion]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[scheduling]]></category>
		<category><![CDATA[tracker]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7319</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setiap awal tahun, Penulis pasti memiliki resolusi untuk bisa menulis artikel blog lebih rutin lagi. Selain karena diingatkan tagihan hosting dan domain tahunan yang jumlahnya lumayan, Penulis juga menyadari kalau setiap tahun produktivitasnya berkurang. Namun, pada akhirnya target tersebut sering meleset. Contohnya pada tahun ini, secara berurutan Penulis hanya menulis dua tulisan di Januari, tiga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-menggunakan-notion-untuk-mencatat-progres-artikel-whathefan/">Saya Menggunakan Notion untuk Mencatat Progres Artikel Whathefan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="https://whathefan.com/pengalaman/ini-adalah-tulisan-pertama-whathefan-di-tahun-2024/">Setiap awal tahun</a>, Penulis pasti memiliki resolusi untuk bisa menulis artikel blog lebih rutin lagi. Selain karena diingatkan tagihan <em>hosting </em>dan <em>domain </em>tahunan yang jumlahnya lumayan, Penulis juga menyadari kalau setiap tahun produktivitasnya berkurang.</p>



<p>Namun, pada akhirnya target tersebut sering meleset. Contohnya pada tahun ini, secara berurutan Penulis hanya menulis dua tulisan di Januari, tiga tulisan di Februari, 13 tulisan di Maret, delapan tulisan di April, dan tujuh tulisan di Mei. Total, 34 tulisan.</p>



<p>Penulis sendiri tidak tahu mengapa dirinya begitu kesulitan dalam mengalokasikan waktu untuk menulis artikel. Jika dibilang tidak ada waktu, rasanya itu hanya alasan saja karena <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/">Penulis menghabiskan waktu di depan layar ponsel/tablet sambil rebahan</a> cukup lama.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/10/setelah-menonton-what-if-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/10/setelah-menonton-what-if-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/10/setelah-menonton-what-if-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/10/setelah-menonton-what-if-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/10/setelah-menonton-what-if-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Menonton What If&#8230;? (Bagian 1)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-what-if-bagian-1/">Setelah Menonton What If&#8230;? (Bagian 1)</a></div></div></div><p></p>


<p>Setelah melakukan evaluasi diri, Penulis merasa kalau dirinya membutuhkan alat bantu yang bisa berperan sebagai &#8220;asisten pribadi.&#8221; Setelah mencoba berbagai platform, akhirnya Penulis merasa kalau <strong>Notion </strong>adalah asisten terbaik sejauh ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Membutuhkan Bantuan &#8220;Otak&#8221; Kedua</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="523" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-220507-1024x523.png" alt="" class="wp-image-7330" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-220507-1024x523.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-220507-300x153.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-220507-768x392.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-220507-1536x784.png 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-220507.png 1876w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Google Keeps Kurang Efektif</figcaption></figure>



<p>Selama ini, Penulis menggunakan berbagai metode untuk mencatat ide dan progres untuk blognya ini. Namun, yang Penulis gunakan beberapa waktu ke belakang adalah<strong> Samsung Notes </strong>dan <strong>Google Keeps</strong>. </p>



<p>Untuk ide yang baru judul saja, Penulis sering mencatatnya di Keeps karena simpel dan bisa diakses di banyak perangkat. Kalau ingin melakukan <em>breakdown </em>ide dan menjabarkan apa yang ingin dibahas, baru Penulis mencatatnya di Samsung Notes agar bisa menulis dengan tangan. </p>



<p>Masalahnya, metode tersebut benar-benar tidak efektif. Di Keeps, seringnya ide-ide tersebut tertumpuk begitu saja tanpa pernah dieksekusi. Akibatnya, Penulis pun sampai lupa sebenarnya ingin membahas apa dari ide tersebut.</p>



<p>Samsung Notes pun begitu. Karena ingin memanfaatkan fitur S-Pen dari tablet yang dimiliki, Penulis berusaha membiasakan untuk mencatat ide yang lebih jauh di Samsung Notes. Ini sempat berjalan selama beberapa bulan, tapi akhirnya berhenti karena <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/bahaya-mager-dan-apatis/">mager</a>.</p>



<p>Saat lebaran tahun ini, Penulis mampir ke toko buku dan menemukan sebuah buku berjudul <em>Building a Second Brain </em>karya Tiago Forte. Dari sinopsisnya yang menjelaskan betapa seringnya informasi hilang dari otak kita, Penulis jadi tertarik untuk membacanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Perjalanan Menemukan Platform Otak Kedua Terbaik</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/notion-whathefan-artikel-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7331" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/notion-whathefan-artikel-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/notion-whathefan-artikel-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/notion-whathefan-artikel-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/notion-whathefan-artikel.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Buku Building a Second Brain (<a href="https://www.youtube.com/watch?v=K-ssUVyfn5g">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p>Meskipun belum selesai membaca buku tersebut, Penulis menangkap esensi utamanya yang memanfaatkan teknologi untuk menjadi otak kedua kita karena keterbatasan otak utama kita dalam menyimpan informasi. Penulis pun terdorong untuk mencari platform otak kedua ini.</p>



<p>Pertama, Penulis coba mengoptimalkan aplikasi yang sudah sering digunakan, yakni <strong>Google Keeps</strong>. Sayangnya, Keeps terlalu sederhana sehingga tidak bisa membuat folder sesuai kebutuhan, kita hanya bisa memanfaatkan fitur Tags.</p>



<p>Selanjutnya Penulis mencoba <strong>Microsoft OneNote</strong>, yang sayangnya sekali lagi memiliki keterbatasan dalam membuat folder-folder. <strong>Evernote </strong>sebenarnya memiliki fitur yang cukup lengkap, tapi sayangnya mayoritas fitur mengharuskan kita berlangganan.</p>



<p>Setelah itu, Penulis mencoba beberapa aplikasi lain seperti Joplin, tapi tetap saja kurang srek. Akhirnya Penulis menemukan <strong>Notion</strong>, sebuah platform yang sebenarnya lebih banyak digunakan untuk proyek-proyek IT karena banjir fitur.</p>



<p>Penulis sempat merasa kalau Notion akan terasa terlalu <em>overkill </em>untuk sekadar mencatat ide artikel blog. Namun, Penulis merasa perlu untuk mencoba platform ini. Hasilnya, Penulis berhasil menemukan platform terbaik yang bisa Penulis gunakan untuk dijadikan otak kedua. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Notion Jadi Platform Terbaik untuk Penulis?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="555" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-02-225325-1024x555.png" alt="" class="wp-image-7329" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-02-225325-1024x555.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-02-225325-300x163.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-02-225325-768x416.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-02-225325-1536x832.png 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-02-225325.png 1920w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Semua Kebutuhan dalam Satu Layar</figcaption></figure>



<p>Ada banyak alasan mengapa Penulis akhirnya menjatuhkan pilihan pada Notion. Pertama, ada banyak <em>template </em>yang bisa Penulis manfaatkan. Tidak hanya untuk mencatat ide, Notion juga bisa Penulis manfaatkan sebagai <em>tracker </em>seperti yang terlihat pada gambar di atas.</p>



<p>Awalnya, Penulis memisahkan daftar ide beserta <em>breakdown</em>-nya dan progres artikel di catatan yang berbeda. Namun, setelah mencoba beberapa hari, Penulis merasa hal tersebut sama sekali tidak efektif, sehingga memutuskan untuk menjadikannya satu.</p>



<p>Progres dari setiap ide Penulis bagi menjadi enam bagian, yakni:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Ideas List:</strong> Berisi ide yang masih berupa judul saja</li>



<li><strong>Point List:</strong> Berisi ide yang sudah di-<em>breakdown </em>akan ada apa saja isinya</li>



<li><strong>Planned: </strong>Ide di Point List yang sudah dijadwalkan kapan akan tayang (sudah ditentukan <em>deadline</em>-nya)</li>



<li><strong>Drafted:</strong> Ide di Planned yang sudah dibuatkan <em>draft</em>-nya di WordPress</li>



<li><strong>Article Done:</strong> Ide di <em>draft </em>yang sudah ditayangkan</li>



<li><strong>Social Media Done: </strong>Artikel yang sudah tayang telah dibuatkan konten media sosialnya</li>
</ul>



<p>Karena antarmuka Notion juga menarik dan responsif, Penulis jadi merasa senang ketika menggunakannya. Bayangkan, untuk memindahkan ide dari satu bagian ke bagian lain, Penulis hanya perlu <em>drag and drop </em>saja tanpa ribet.</p>



<p>Notion juga bisa diakses di semua perangkat, yang membuatnya sangat fleksibel. Begitu Penulis menemukan inspirasi, maka Penulis tinggal mengeluarkan ponselnya dan mencatatnya di Notion dengan mudah.</p>



<p>Karena merasa sangat terbantu, Penulis pun mencoba mengeksplorasi fitur lain dari Notion. Beberapa yang sudah Penulis ketahui adalah bagaimana kita bisa melihat <em>tracker </em>di atas dalam bentuk <em>timeline </em>dan <em>table</em>. Contohnya bisa dilihat di bawah ini:</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="547" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-221659-1024x547.png" alt="" class="wp-image-7332" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-221659-1024x547.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-221659-300x160.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-221659-768x411.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-221659-1536x821.png 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/Screenshot-2024-06-04-221659.png 1919w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Dari <em>timeline </em>di atas, Penulis jadi bisa melihat seberapa konsisten dirinya dalam menulis artikel blog. Sejak memutuskan untuk menggunakan Notion, Penulis sudah mencatatkan <em>streak </em>sebanyak 10 hari berturut-turut termasuk artikel ini.</p>



<p>Penulis dulu melakukan <em>tracking </em>menggunakan Google Sheets secara manual (dan melelahkan). Dalam catatan tersebut, terakhir kali Penulis mencatat <em>streak </em>sepanjang ini adalah pada bulan Oktober 2022 dengan 13 hari. Sudah selama itu Penulis inkonsisten.</p>



<p>Setidaknya sampai hari ini, Penulis merasa sangat terbantu dengan kehadiran Notion dan telah terbukti berhasil meningkatkan konsistensinya dalam memproduksi tulisan. Semoga saja <em>streak </em>ini bisa terus terjaga selama mungkin, seperti ketika awal-awal Penulis membuat blog ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Menggunakan Notion untuk mengelola ide-ide blog adalah langkah pertama Penulis dalam membuat otak keduanya. Ke depannya, Penulis ingin memanfaatkan Notion lebih jauh lagi untuk keperluan mencatat.</p>



<p>Satu hal yang ingin Penulis segera masukkan ke dalam Notion adalah catatan-catatannya yang berkaitan dengan dunia kerja seperti SEO dan <em>digital marketing, </em>yang saat ini tersebar di berbagai platform dan tidak terorganisir sama sekali. </p>



<p>Tidak hanya yang sudah dicatat, Penulis juga ingin mencatat berbagai <em>insight </em>dan pengetahuan seputar banyak hal, terutama yang berkaitan dengan penambahan <em>value </em>diri. <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/artikel-pada-tulisan-ini-dibuat-menggunakan-ai-chatgpt/">AI adalah salah satu topik paling seksi untuk didalami</a>.</p>



<p>Yang jelas, Notion benar-benar telah membantu Penulis dengan menjadi otak keduanya, walaupun saat ini masih terbatas untuk keperluan blog saja. Penulis merekomendasikan Notion untuk Pembaca yang merasa butuh aplikasi catatan dengan fitur yang berlimpah.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 4 Juni 2024, terinspirasi setelah dirinya menggunakan Notion untuk <em>blogging</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-menggunakan-notion-untuk-mencatat-progres-artikel-whathefan/">Saya Menggunakan Notion untuk Mencatat Progres Artikel Whathefan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-menggunakan-notion-untuk-mencatat-progres-artikel-whathefan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>People &#8220;Come&#8221;, People &#8220;Go&#8221;</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/people-come-people-go/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/people-come-people-go/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Oct 2023 23:48:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bantuan]]></category>
		<category><![CDATA[membantu]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pergi]]></category>
		<category><![CDATA[tolong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6936</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pembaca pasti merasa familiar dengan frase bahasa Inggris people come and go. Secara sederhana, frase ini bermakna kalau orang-orang dalam kehidupan kita akan datang dan pergi secara bergiliran. Tidak ada yang akan benar-benar stay. Maka dari itu, menahan orang-orang yang ingin pergi dari kehidupan kita akan terasa percuma, karena pada dasarnya mereka berada di luar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/people-come-people-go/">People &#8220;Come&#8221;, People &#8220;Go&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pembaca pasti merasa familiar dengan frase bahasa Inggris <em>people come and go</em>. Secara sederhana, frase ini bermakna kalau orang-orang dalam kehidupan kita akan datang dan pergi secara bergiliran. <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-mau-stay-ya-stay-kalau-mau-leave-ya-leave-bebas/">Tidak ada yang akan benar-benar <em>stay</em></a>.</p>



<p>Maka dari itu, menahan orang-orang yang ingin pergi dari kehidupan kita akan terasa percuma, karena pada dasarnya mereka berada di luar kendali kita. Yang bisa kita kendalikan adalah respons kita terhadap kepergian mereka.</p>



<p>Namun, pada suatu saat, Penulis menangkap ada makna lain dari frase <em>people come and go</em>. Untuk membedakan, Penulis akan menuliskannya dengan <em>people come, people go</em>. <strong>Datang ketika butuh kita, tetapi pergi ketika kita yang butuh</strong>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/antarafoto-letusan-gunung-anak-krakatau-231218-pras-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/antarafoto-letusan-gunung-anak-krakatau-231218-pras-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/antarafoto-letusan-gunung-anak-krakatau-231218-pras-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/antarafoto-letusan-gunung-anak-krakatau-231218-pras-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/antarafoto-letusan-gunung-anak-krakatau-231218-pras-banner-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/antarafoto-letusan-gunung-anak-krakatau-231218-pras-banner.jpg 1280w " alt="Ketika Alam Sudah Berbicara&#8230;" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/renungan/ketika-alam-sudah-berbicara/">Ketika Alam Sudah Berbicara&#8230;</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Datang Ketika Butuh Kita</h2>



<p>Di media sosial akhir-akhir ini sedang viral tentang &#8220;pinjam dulu seratus&#8221; yang biasanya dibalut dalam bentuk pantun. Ini adalah sebuah kalimat horor ketika ada orang datang ke kita untuk meminjam uang, yang biasanya sulit untuk kembali.</p>



<p>Seringkali, orang-orang yang seperti ini adalah orang yang hanya datang ke kita ketika mereka merasa butuh. Tidak melulu tentang pinjan uang, tapi bisa juga butuh bantuan untuk hal lain. Ketika sedang tidak butuh, mereka seolah-olah tidak kenal dengan kita. </p>



<p>Dalam hidup, rasanya hampir semua manusia pernah bertemu dengan tipe orang yang seperti ini. Lantas, bagaimana menghadapi mereka? Kembali lagi ke diri kita masing-masing, apakah mau dimanfaatkan orang lain begitu saja atau memberi batasan yang jelas.</p>



<p>Jika niat hati ingin menolong dan bermanfaat tanpa peduli pikiran orang lain, bagus. Tidak semua orang punya ketulusan hati seperti ini. Toh seperti <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/pada-akhirnya-kebaikan-yang-kita-lakukan-akan-kembali-ke-diri-sendiri/">kata Tanjiro Kamado</a> dari anime <em><a href="https://whathefan.com/animekomik/berempati-ke-villain-ala-demon-slayer/">Demon Slayer</a></em>, kebaikan yang kita lakukan pada akhirnya akan kembali ke diri sendiri.</p>



<p>Namun, jika belum bisa mencapai level tersebut, menolak untuk dimanfaatkan juga tidak salah. Apalagi, jika tenaga, waktu, bahkan uang kita benar-benar terkuras untuk mereka. Mengetahui batasan diri juga dibutuhkan untuk kebaikan diri kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pergi Ketika Kita yang Butuh</h2>



<p>Datang ketika butuh saja sudah cukup problematik, apalagi jika mereka justru pergi ketika kita yang membutuhkan bantuan. Dengan beribu alasan, mereka akan menolak untuk mengulurkan tangan mereka.</p>



<p>Manusia sebagai makhluk sosial jelas harus saling membantu. Mau semandiri apapun, kita pasti tetap membutuhkan bantuan orang lain. Oleh karena itu, sejak kecil kita diajari untuk saling tolong-menolong karena memang seterikat itu kita dengan manusia lain.</p>



<p>Masalahnya, tidak semua orang memiliki kesadaran untuk membantu orang lain. Ada oknum-oknum yang berpikir kalau dirinya adalah pusat semesta, sehingga merasa acuh ketika melihat ada orang yang sedang membutuhkan bantuan dirinya.</p>



<p></p>



<p>Ketika menghadapi tipe orang yang seperti ini, rasanya lebih bijak jika kita menjaga jarak dengan mereka. Berbuat baik sih berbuat baik, tapi kalau hanya kita yang dimanfaatkan ya buat apa? Toh, masih banyak orang lain yang bisa kita tolong daripada parasit seperti mereka.</p>



<p><strong>Datang ketika kita butuh, tetapi pergi ketika kita yang butuh</strong>. Semoga saja kita selalu dihindarkan untuk bertemu dengan orang-orang yang seperti ini. Semoga kita selalu dikelilingi oleh orang-orang baik yang mau saling tolong-menolong.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 25 Oktober 2023, terinspirasi setelah menyadari kalau frase <em>people come and go </em>bisa dimaknai lain</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/time-lapse-photography-of-people-walking-on-pedestrian-lane-842339/">Mike Chai</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/people-come-people-go/">People &#8220;Come&#8221;, People &#8220;Go&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/people-come-people-go/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Melepas Perasaan Bersalah dari Kosan 95</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Aug 2023 15:28:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bersalah]]></category>
		<category><![CDATA[Kosan 95]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[Webtoon]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6802</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hari ini (24/8), Penulis kembali membuka aplikasi Webtoon setelah sudah cukup lama tidak menggunakannya. Salah satu komik yang ingin Penulis baca adalah kelanjutan dari Kosan 95 yang sedang memasuki babak akhirnya. Terakhir kali membaca, ceritanya sedang berfokus pada karakter Budi yang merupakan salah satu anggota kos. Waktu kecil, ia berteman baik dengan Faisal dan Fani [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/">Belajar Melepas Perasaan Bersalah dari Kosan 95</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Hari ini (24/8), Penulis kembali membuka aplikasi Webtoon setelah sudah cukup lama tidak menggunakannya. Salah satu komik yang ingin Penulis baca adalah kelanjutan dari <em>Kosan 95</em> yang sedang memasuki babak akhirnya.</p>



<p>Terakhir kali membaca, ceritanya sedang berfokus pada karakter <strong>Budi</strong> yang merupakan salah satu anggota kos. Waktu kecil, ia berteman baik dengan<strong> Faisal</strong> dan<strong> Fani</strong> (saudara kembar, anggota Kosan 95 juga), yang dijauhi teman-teman sebayanya karena dianggap anak haram.</p>



<p>Budi menjadi kawan pertama mereka yang benar-benar terlihat baik, peduli, dan tulus. Namun, tiba-tiba Budi menghilang begitu saja dari kehidupan Faisal dan Fani, yang pada akhirnya menimbulkan perasaan bersalah pada Budi untuk waktu yang sangat lama.</p>



<p class="has-text-align-center"><strong><em>SPOILER AHEAD!!!</em></strong></p>





<h2 class="wp-block-heading">Ringkasan Cerita hingga Budi Merasa Bersalah</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6805" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Dari Kiri: Faisal, Budi, Fani (<a href="https://twitter.com/linewebtoonid/status/1287947401827774464">Twitter</a>)</figcaption></figure>



<p>Alasan awal Budi berteman dengan Faisal dan Fani adalah untuk membantu ayahnya, yang bekerja untuk <strong>keluarga Jaya</strong>. Ayahnya memiliki misi untuk memata-matai Faisal dan Fani, di mana mereka adalah bagian dari <strong>keluarga Sundari</strong> yang merupakan saingan keluarga Jaya. </p>



<p>Setelah misi tersebut selesai, Budi pun meninggalkan Faisal dan Fani, meskipun ia sebenarnya sangat menyayangi mereka. Nasib pun mempertemukan mereka kembali, di mana Budi langsung kabur karena ada <strong>perasaan bersalah </strong>setelah apa yang ia lakukan di masa lalu.</p>



<p>Budi berpikir kalau dirinya tidak bisa bertemu dan berhubungan lagi dengan Faisal dan Fani karena ia telah menyakiti mereka. Meskipun ia kerap sedih karena perasaan bersalah tersebut, ia merasa takut ketika akhirnya dipertemukan dengan mereka berdua.</p>



<p>Namun, akhirnya Budi memutuskan untuk menerima tawaran keluarga Jaya untuk bergabung dengan Kosan 95, agar ia memiliki kesempatan untuk menebus dosanya kepada Faisal dan Fani. </p>



<p>Sayangnya, yang ada <strong>perasaan bersalah tersebut justru terus tumbuh</strong> karena ia belum menemukan jawaban mengenai bagaimana cara menebus kesalahannya. Apalagi, ternyata hubungan Faisal dan Fani pun memburuk karena suatu hal.</p>



<p>Saat bertemu dengan Fani pertama kali di Kosan 95, Fani langsung meminta tolong untuk membantunya berbaikan dengan Faisal. Hubungan buruk mereka langsung terbukti ketika Faisal langsung mengusir Fani begitu melihatnya.</p>



<p>Hal tersebut membuat Budi <strong>semakin merasa bersalah</strong>. Masa-masa awal Budi di Kosan 95 pun penuh dengan konflik batin. Ia menyesal karena di masa lalu dirinya lebih banyak diam, ketika ada banyak hal yang sebenarnya bisa ia lakukan untuk Faisal dan Fani.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Budi (dan Fani) Berusaha Menghilangkan Perasaan Bersalahnya</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204-1024x683.png" alt="" class="wp-image-6806" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Dua Karakter yang Sama-sama Terjebak Rasa Bersalah (<a href="https://www.instagram.com/p/CtvwzXyyVg9/">Instagram</a>)</figcaption></figure>



<p>Selama bertahun-tahun, perasaan bersalah itu terus menghinggapi Budi seolah tak bisa disingkirkan. Ia merasa tidak bisa menebus kesalahan tersebut dan layak untuk mendapatkan maaf.</p>



<p>Budi pun mendapatkan nasehat dari <strong>Pak Agus</strong>, penjaga Kosan 95, yang mengatakan kalau Budi harus bisa menjadi<strong> penengah antara Faisal dan Fani</strong> layaknya teman yang bersikap adil. Pak Agus juga mengatakan kalau konflik yang terjadi antara mereka bukan salah Budi.</p>



<p>Pak Agus juga mengingatkan kalau Budi harus <strong>merelakan apa yang telah terjadi di masa lalu </strong>dan <strong>jangan berlarut-larut di dalam penyesalan tanpa akhir</strong>. Daripada seperti itu, lebih baik<strong> fokus dengan melakukan apa yang bisa diperbaiki sekarang dan terus maju</strong>.</p>



<p>Akhirnya seiring berjalannya waktu, Budi merasa bahwa penebusan dosa yang mungkin bisa ia lakukan adalah <strong>membuat Faisal dan Fani berdamai </strong>seperti dulu lagi. Mereka bertiga pernah akrab dan saling berbagi tawa, dan ia ingin hal tersebut bisa terjadi lagi saat ini.</p>



<p>Sebenarnya bukan cuma Budi yang memiliki perasaan bersalah, karena Fani pun juga merasa bersalah ke Faisal. Alasan mereka menjadi renggang adalah karena Fani justru tidak percaya kepada Faisal di saat saudara kembarnya tersebut sedang membelanya.</p>



<p>Merasa dirinya begitu egois, Fani pun menyesal dan terus berusaha untuk <strong>memperbaiki hubungannya </strong>dengan Faisal. Berbagai hal ia <strong>berusaha lakukan dan berikan</strong> untuk menyenangkan Faisal, meskipun kerap mendapatkan respons yang kurang mengenakkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Belajar Melepas Perasaan Bersalah dari Kosan 95</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307-1024x683.png" alt="" class="wp-image-6808" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ini Budi (<a href="https://www.instagram.com/p/Cq1_TL_r17h/">Instagram</a>)</figcaption></figure>



<p>Dari kisah hubungan antara Budi, Faisal, dan Fani di atas, kita bisa belajar beberapa hal mengenai cara melepas perasaan bersalah yang membelenggu kita. Penulis yakin, kebanyakan dari kita pernah mengalami perasaan yang dialami oleh karakter-karakter <em>Kosan 95</em>.</p>



<p>Sebagai manusia, tentu kita pernah berbuat salah, baik ke diri sendiri maupun orang lain. Bagi sebagian orang, berbuat salah ke orang lain bisa menimbulkan perasaan bersalah yang begitu dalam, seolah tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk menghilangkannya.</p>



<p>Penulis sendiri pernah merasa seperti itu dan mencoba berbagai cara, mulai dari minta maaf, berusaha memperbaiki keadaan, <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-sayang-seseorang-kita-rela-berubah-jadi-lebih-baik/">mengubah diri menjadi lebih baik</a>, dan lain sebagainya. Kurang lebih sama seperti yang sedang dilakukan oleh Budi dan Fani.</p>



<p>Namun, sama seperti yang dirasakan Budi, perasaan bersalah itu masih saja hinggap. Pada akhirnya Penulis menyadari kalau pada akhirnya kitalah yang harus bisa <strong>memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri </strong>atas kesalahan yang sudah diperbuat.</p>



<p>Seperti yang dikatakan oleh Pak Agus, pada akhirnya kita harus merelakan apa yang sudah terjadi dan fokus dengan hari ini. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terbelenggu-rasa-bersalah/">Terbelenggu dengan perasaan bersalah</a> yang kita buat sendiri hanya akan menghambat kita untuk melangkah maju.</p>



<p>Jika kita sudah bisa melakukan hal tersebut, proses memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri pun akan lebih mudah kita lakukan. Nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terlanjur. Mari kita sama-sama belajar untuk melepaskan perasaan bersalah yang ada di dalam diri kita.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 24 Agustus 2023, terinspirasi setelah membaca Webtoon <em>Kosan 95</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/">Belajar Melepas Perasaan Bersalah dari Kosan 95</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca The Leader Who Had No Title</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-leader-who-had-no-title/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-leader-who-had-no-title/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Aug 2023 15:33:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Robin Sharma]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6757</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang membaca buku The 5 AM Club karya Robin Sharma, Penulis menemukan satu lagi bukunya saat sedang jalan-jalan di toko buku yang berjudul The Leader Who Had No Title. Meskipun kurang menyukai The 5 AM Club, ada tiga alasan mengapa Penulis memutuskan untuk tetap membelinya. Pertama, karena bukunya cukup tipis. Kedua, mengangkat tema kepemimpinan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-leader-who-had-no-title/">[REVIEW] Setelah Membaca The Leader Who Had No Title</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang membaca buku <em>The 5 AM Club </em>karya <strong>Robin Sharma</strong>, Penulis menemukan satu lagi bukunya saat sedang jalan-jalan di toko buku yang berjudul <em><strong>The Leader Who Had No Title</strong>.</em></p>



<p>Meskipun kurang menyukai <em>The 5 AM Club</em>, ada tiga alasan mengapa Penulis memutuskan untuk tetap membelinya. Pertama, karena bukunya cukup tipis. Kedua, mengangkat tema kepemimpinan. Ketiga, karena latar ceritanya tentang seorang penjaga toko buku.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membelinya, hitung-hitung sebagai &#8220;kesempatan kedua&#8221; bagi Robin Sharma. Sayangnya, buku ini pun kurang Penulis sukai karena beberapa alasan yang sama dengan<em> </em>buku sebelumnya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/spiderman-far-from-home-banner-300x150.jpeg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/spiderman-far-from-home-banner-300x150.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/spiderman-far-from-home-banner-768x384.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/spiderman-far-from-home-banner-1024x512.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/spiderman-far-from-home-banner.jpeg 1280w " alt="Setelah Menonton Spider-Man: Far From Home" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-spider-man-far-from-home/">Setelah Menonton Spider-Man: Far From Home</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>The Leader Who Had No Title</em></li>



<li>Penulis: Robin Sharma</li>



<li>Penerbit: Penerbit Bentang</li>



<li>Cetakan: Pertama</li>



<li>Tanggal Terbit: Agustus 2022</li>



<li>Tebal: 264 halaman</li>



<li>ISBN: 9786022919308</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Sama seperti <em>The 5 AM Club</em>, Robin Sharma berusaha menerangkan poin-poin yang ingin ia sampaikan melalui sebuah cerita. Kali ini, kita akan mengikuti kisah seorang mantan tentara yang kini menjadi penjaga toko buku bernama <strong>Blake Davis</strong>.</p>



<p>Blake merasa kalau hidupnya terasa hampa dan sama sekali tidak bermakna, apalagi setelah ia pulang dari medan pertempuran. Lantas, tiba-tiba ia bertemu dengan rekan kerja baru berusia 77 tahun yang bernama <strong>Tommy Flinn</strong>, yang ternyata merupakan teman ayahnya.</p>



<p>Singkat cerita, Tommy berjanji kepada Blake akan membuat hidupnya berubah total dengan seni memimpin tanpa jabatan. Untuk itu, Tommy pun membawa Blake ke guru-gurunya yang akan memberikan formula tersebut.</p>



<p>Lucunya, keempat orang tersebut sama-sama memiliki akronim untuk menyimpulkan apa inti ajaran mereka. Penulis akan menuliskan keempatnya agar Pembaca mendapatkan garis besar dari isi buku ini.</p>



<p><strong>1. Kita Tidak Butuh Jabatan untuk Memimpin &#8211; IMAGE</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>I</strong>nnovation (Inovasi)</li>



<li><strong>M</strong>astery (Menguasai)</li>



<li><strong>A</strong>utheticity (Autentisitas)</li>



<li><strong>G</strong>uts (Naluri)</li>



<li><strong>E</strong>thics (Etika)</li>
</ul>



<p><strong>2. Masa-Masa Bergejolak Membentuk Pemimpin Hebat &#8211; SPARK</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>S</strong>peak with Candor (Bicara Terus Terang)</li>



<li><strong>P</strong>rioritize (Tentukan Prioritas)</li>



<li><strong>A</strong>dversity Breeds Opportunity (Kesulitan Melahirkan Kesempatan)</li>



<li><strong>R</strong>espond Versus React (Respons Versus Reaksi)</li>



<li><strong>K</strong>udos to Everyone (Penghargaan untuk Setiap Orang)</li>
</ul>



<p><strong>3. Semakin Dalam Hubunganmu, Semakin Kuat Kepemimpinanmu &#8211; HUMAN</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>H</strong>elpfulness (Tolong-menolong)</li>



<li><strong>U</strong>nderstanding (Pengertian)</li>



<li><strong>M</strong>ingle (Membaur)</li>



<li><strong>A</strong>muse (Gembira)</li>



<li><strong>N</strong>urture (Merawat)</li>
</ul>



<p><strong>4. Untuk Menjadi Pemimpin Besar, Jadilah Orang Besar Terlebih Dulu &#8211; SHINE</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>S</strong>ee Clearly (Lihat dengan Saksama)</li>



<li><strong>H</strong>ealth is Wealth (Kesehatan Itu Bernilai)</li>



<li><strong>I</strong>nspiration Matters (Inspirasi Penting)</li>



<li><strong>N</strong>eglect Not Your Family (Jangan Abaikan Keluargamu)</li>



<li><strong>E</strong>levate Your Lifestyle (Tingkatkan Gaya Hidupmu)</li>
</ul>



<p>Setelah memperkenalkan Blake kepada empat guru yang mengajarkan ilmu kepemimpinan tersebut, Tommy meninggal dunia tak lama kemudian. Blake pun merasa hidupnya berubah, dan berusaha untuk menyebarkan apa yang diajarkan Tommy kepada orang lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The Leader Who Had No Title</h2>



<p>Dari segi cerita, sebenarnya <em>The Leader Who Had</em> <em>No Title </em>lebih terasa masuk akal dibandingkan <em>The 5 AM Club</em> yang bagi Penulis terasa aneh dan dangkal. Hanya saja, rasanya tetap tidak terlalu realistis dan sangat terkesan utopis. </p>



<p>Hampir semua peristiwa yang terjadi di buku ini terjadi hanya dalam satu hari. Tommy berhasil membawa Blake bertemu dengan empat gurunya (yang lebih muda darinya) dalam satu hari yang sama, dan semuanya bisa ditemui serta punya waktu untuk berbagi ilmu.</p>



<p>Untuk segi isinya sendiri, jujur saja Penulis tidak merasa telah mendapatkan sesuatu yang &#8220;mencerahkan hidup&#8221; seperti yang dirasakan oleh Blake. Poin-poin yang disampaikan biasa saja seperti seminar kepemimpinan pada umumnya, tidak ada yang spesial.</p>



<p>Apalagi, buku ini menggunakan banyak sekali akronim yang tentu agak sulit dihafalkan oleh orang-orang yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pertamanya. Penulis tidak bisa mengingat satu pun &#8220;formula&#8221; yang dibagikan buku ini.</p>



<p>Alhasil, buku ini pun selesai Penulis baca tanpa banyak meninggalkan kesan yang berarti. Ulasannya pun menjadi cukup pendek, karena tidak banyak hal menarik yang bisa dibahas. Oleh karena itu, Penulis tidak terlalu merekomendasikan buku ini.</p>



<p>Namun, setidaknya buku ini mengajak pembacanya untuk mengembangkan dirinya menjadi versi lebih baiknya, sehingga bisa menginspirasi orang lain. Itulah poin utama dari seni memimpin tanpa jabatan.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span style="color:#1767ef">★</span><span style="color:#1767ef">★</span><span style="color:#1767ef">★</span><span style="color:#1767ef">★</span><span style="color:#1767ef">★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 7 Agustus 2023, terinspirasi setelah membaca <em>The Leader Who Had No Title </em>karya Robin Sharma</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-leader-who-had-no-title/">[REVIEW] Setelah Membaca The Leader Who Had No Title</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-leader-who-had-no-title/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
