<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pengembangan Diri Archives - whathefan</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/category/pengembangan-diri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/category/pengembangan-diri/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 23 Oct 2026 01:59:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/02/logo-kotak-whathefan-2026-v3-80x80.jpg</url>
	<title>Pengembangan Diri Archives - whathefan</title>
	<link>https://whathefan.com/category/pengembangan-diri/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>The Hardest Part of Ending is Starting Again</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/the-hardest-part-of-ending-is-starting-again/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/the-hardest-part-of-ending-is-starting-again/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2026 11:45:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[akhir]]></category>
		<category><![CDATA[awal]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[self improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8913</guid>

					<description><![CDATA[<p>Judul dari artikel ini Penulis ambil dari salah satu lagu Linkin Park berjudul &#8220;Waiting for the End&#8221; dari album A Thousand Suns (2010), yang juga merupakan salah satu lagu favorit Penulis. Kebetulan, kalimat tersebut juga menjadi salah satu topik utama dari film Linkin Park: Unshatter. Entah mengapa sejak menonton film tersebut dan mendengarkan lagunya berkali-kali, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/the-hardest-part-of-ending-is-starting-again/">The Hardest Part of Ending is Starting Again</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Judul dari artikel ini Penulis ambil dari salah satu lagu Linkin Park berjudul &#8220;Waiting for the End&#8221; dari album <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-a-thousand-suns/"><em>A Thousand Suns </em>(2010</a>), yang juga merupakan salah satu lagu favorit Penulis. Kebetulan, kalimat tersebut juga menjadi salah satu topik utama dari <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-linkin-park-unshatter/">film <em>Linkin Park: Unshatter</em></a>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Entah mengapa sejak menonton film tersebut dan mendengarkan lagunya berkali-kali, muncul keinginan untuk menulis sebuah tulisan dengan judul <em><strong>The Hardest Part of Ending is Starting Again</strong></em>. Menariknya, sampai di paragraf ini, Penulis masih belum tahu akan menulis apa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, Penulis merasa bahwa dirinya perlu memulai saja dulu. Penulis membiarkan jari-jarinya &#8220;menari di atas <em>keyboard</em>&#8221; untuk menuangkan apa yang ada di kepalanya, selama masih berkaitan dengan lirik tersebut.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kenapa-suka-tintin-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kenapa-suka-tintin-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kenapa-suka-tintin-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kenapa-suka-tintin-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kenapa-suka-tintin-banner.jpg 1280w " alt="Kenapa Suka Tintin?" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/kenapa-suka-tintin/">Kenapa Suka Tintin?</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Mengakhiri Sesuatu Terasa Berat</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Entah kebetulan atau bukan, pagi ini, sebelum melanjutkan menulis artikel ini, Penulis menemukan satu <em>quote </em>menarik dari buku<strong> <em>Slow Steps</em></strong> karya Olphi Disya Arinda, M. Psi. Di halaman 178, tertulis:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Agar mampu bergerak maju, kita perlu belajar meninggalkan.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Kata &#8220;meninggalkan&#8221; identik dengan suatu akhir atau <em>ending</em>. Entah itu dalam sebuah hubungan, karier, apa pun itu. Terkadang, atau bahkan sering, mengakhiri sesuatu itu bukan hal yang mudah, apalagi jika kita telah menjalaninya dalam waktu yang cukup lama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam tulisan <em><a href="https://whathefan.com/rasa/tom-telah-memberikan-segalanya-dan-tetap-gagal/#google_vignette">Tom Telah Memberikan Segalanya dan Tetap Tidak Dipilih</a></em>, Penulis telah membahas sedikit tentang <em>sunk cost bias</em>. Intinya, kita sulit mengakhiri sebuah hubungan karena besarnya &#8220;investasi&#8221; yang telah dikeluarkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis bisa merasa paham mengapa sulit untuk meninggalkan hubungan yang seperti itu. Rasanya semua upaya kita selama ini jadi terbuang sia-sia. Padahal, jika hubungan seperti itu tetap dilanjutkan, bisa jadi akan lebih banyak buruknya untuk kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Begitu juga tentang karier. Saat kita telah <em>stay </em>cukup di tempat lama, pasti rasanya cukup berat untuk meninggalkannya. Bisa jadi karena ada kecemasan apakah bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, takut keluar dari zona nyaman, atau alasan lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di antara semua contoh di atas, alasan lain (dan bisa jadi terberat) dari mengakhiri sesuatu adalah <strong>bayangan di kepala kita untuk memulai lagi semuanya dari awal</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Memulai Sesuatu Terasa Berat</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Bayangan untuk memulai lagi memang kerap terasa mengerikan, apalagi kalau kita baru saja meninggalkan sesuatu yang telah berlangsung lama dari hidup kita. Sedikit banyak, mungkin ada hal-hal yang telah menimbulkan trauma.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam menjalin hubungan baru misalnya, kita membayangkan harus berkenalan dengan orang baru, harus beradaptasi lagi, harus belajar memahami lagi, dan lain sebagainya. Itu juga kalau kita menemukan orang yang cocok, yang jarang terjadi di percobaan pertama. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika kita terpikir untuk <em>resign</em>, bisa jadi kita belum tahu ingin melanjutkan karier ke mana. Tak hanya itu, kita juga membayangkan menjalani semua prosesnya dari awal lagi, mulai dari <em>apply</em> lamaran, wawancara, hingga harus adaptasi lagi dengan lingkungan dan <em>jobdesk </em>baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memulai lagi memang terasa mengerikan, karena <strong>kita tidak tahu apa yang akan dihadapi nantinya</strong>. Memulai lagi memang terasa tidak menenangkan, karena ketidakpastian seolah mengintai dengan begitu dekat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semua kekhawatiran dan ketakutan tersebut valid dan wajar. Namun, belakangan ini Penulis belajar bahwa terkadang apa yang kita butuhkan adalah, <strong><em>just do it</em>. Mulai aja dulu</strong>. Pelan-pelan tidak masalah, yang penting kita tetap bergerak.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Agar Memulai Sesuatu Tidak Terasa Berat</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Merasa khawatir dan takut itu tidak apa-apa. Merasa berat untuk memulai itu tidak apa-apa. Yang penting adalah<strong> jangan sampai hal-hal tersebut menahan kita terlalu lama</strong>. Mulailah dari langkah-langkah terkecil, yang bahkan terasa remeh sekalipun tidak masalah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis sedang berusaha menerapkan hal ini. Ketika ingin menyelesaikan sebuah proyek atau <em>task</em>, Penulis akan melakukan <em>breakdown </em>dan membaginya menjadi <em>task-task </em>kecil yang terasa realistis dan relatif mudah untuk dilakukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti dalam membuat artikel ini misalnya, Penulis tidak lagi berambisi untuk menulis artikel dan membuat konten medsos semua selesai dalam satu hari. Penulis membaginya menjadi pencatatan ide, pembuatan <em>draft</em>, penulisan artikel, hingga pembuatan konten untuk medsos.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Contoh lain, dalam membuat portofolio. Ini adalah salah satu <em>task </em>yang dari dulu tidak Penulis mulai-mulai karena berbagai alasan. Oleh karena itu, Penulis memulai dari hal terkecil seperti berikut:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Breakdown isi portofolio</li>



<li>Brainstorm dengan AI terkait isi portofolio</li>



<li>Mencari referensi desain portofolio di Canva</li>



<li>Membuat <em>draft</em> kosongan 5 halaman</li>



<li>Dan seterusnya</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis yang perfeksionis ini kerap<strong> menunggu &#8220;waktu ideal&#8221; untuk memulai sesuatu</strong>. Padahal, <strong>hal tersebut tidak ada</strong>, sehingga pekerjaan pun terus tertunda. Dengan membaginya menjadi <em>task-task </em>yang lebih kecil, Penulis akhirnya bisa memulai proyek-proyek yang telah lama ditunda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Penulis, ini adalah salah satu cara untuk memulai sesuatu yang baru agar tidak terlihat terlalu mengerikan dan tidak terasa berat. Kalau kita hanya berdiam diri saja, kita tidak akan memiliki keberanian untuk berhenti dan memiliki awal yang baru.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang sudah disinggung di awal, motivasi awal Penulis menulis artikel ini adalah karena film Linkin Park dan lagu &#8220;Waiting for the End&#8221;. Penulis tidak tahu harus menulis apa sebenarnya, tapi Penulis memutuskan untuk memulai saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam perjalanannya, Penulis menemukan <em>quote </em>buku yang cocok dengan topik di tulisan ini. Dari sana, Penulis akhirnya seperti menemukan arah mau dibawa ke mana tulisan ini hingga sampai ke bagian Penutup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Analogi ini cocok untuk topik yang sedang Penulis bahas. Terkadang, memulai sesuatu yang baru itu terasa berat <strong>karena kita belum memulainya</strong>. Terlalu banyak hal yang kita pikirkan di dalam kepala kita hingga akhirnya justru tidak mulai-mulai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, <strong>mulai dari yang kecil-kecil </strong>bisa menjadi salah satu tips untuk mengatasi hal tersebut. <em><strong>Just keep moving</strong></em>, <em><strong>just keep pushing</strong></em>. Jangan diam, bergeraklah, berbuat sesuatu dari yang terkecil. Jangan lupa juga untuk merayakan kemenangan-kemenangan kecil yang berhasil kita dapatkan.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 10 Oktober 2026, terinspirasi (lagi-lagi) setelah menonton <em>Linkin Park: Unshatter</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/the-hardest-part-of-ending-is-starting-again/">The Hardest Part of Ending is Starting Again</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/the-hardest-part-of-ending-is-starting-again/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saya Mulai Mencatat Apa yang Sedang Saya Baca</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-mulai-mencatat-apa-yang-sedang-saya-baca/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-mulai-mencatat-apa-yang-sedang-saya-baca/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2026 15:52:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[catatan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8895</guid>

					<description><![CDATA[<p>Membaca telah menjadi hobi Penulis sejak lama. Penulis belum pernah menghitung jumlah pastinya, tapi Penulis yakin kalau jumlah buku yang pernah dibaca seumur hidup sudah mencapai ratusan. Walau begitu, tidak semua buku yang Penulis baca benar-benar Penulis ingat. Terkadang, terutama buku-buku yang sudah lama dibaca, Penulis lupa apa saja isinya dan poin-poin penting yang dibahas. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-mulai-mencatat-apa-yang-sedang-saya-baca/">Saya Mulai Mencatat Apa yang Sedang Saya Baca</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Membaca telah menjadi hobi Penulis sejak lama. Penulis belum pernah menghitung jumlah pastinya, tapi Penulis yakin kalau jumlah buku yang pernah dibaca seumur hidup sudah mencapai ratusan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, tidak semua buku yang Penulis baca benar-benar Penulis ingat. Terkadang, terutama buku-buku yang sudah lama dibaca, Penulis lupa apa saja isinya dan poin-poin penting yang dibahas. Penulis baru ingat kalau isinya benar-benar berkesan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, ditambah dengan semakin bertambahnya usia, Penulis mencoba untuk mencatat apa yang sedang dibaca. Jadi, ketika sedang membaca buku (terutama nonfiksi), Penulis akan menyiapkan sebuah catatan kecil beserta bolpoin.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/09/pembubaran-panitia-17-an-kali-ini-agak-berbeda-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/09/pembubaran-panitia-17-an-kali-ini-agak-berbeda-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/09/pembubaran-panitia-17-an-kali-ini-agak-berbeda-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/09/pembubaran-panitia-17-an-kali-ini-agak-berbeda-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/09/pembubaran-panitia-17-an-kali-ini-agak-berbeda-banner.jpg 1280w " alt="Pembubaran Panitia Tahun Ini Sedikit Berbeda" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/pembubaran-panitia-tahun-ini-sedikit-berbeda/">Pembubaran Panitia Tahun Ini Sedikit Berbeda</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Penulis Mencatat Apa yang Sedang Dibaca</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-1-1024x683.png" alt="" class="wp-image-8898" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-1-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-1-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-1-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-1.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis memulai mencatat apa yang sedang dibaca pada tanggal 29 April 2026. Judul pertama yang Penulis catat adalah <em>Merawat Luka Batin </em>yang ditulis oleh dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ. Penulis tidak menulis sejak halaman pertama, tapi melanjutkan saja dari yang terakhir dibaca.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang Penulis catat adalah <strong>apa yang menurut Penulis penting atau menarik</strong>. Jadi, ketika membaca sesuatu Penulis sampai bergumam &#8220;ooooh&#8221;, biasanya akan Penulis catat. Bentuk kalimatnya pun sesuai yang ada di kepala, bukan ditulis ulang (kecuali ada <em>quote </em>yang menarik).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Contoh di buku <em>Merawat Luka Batin</em>, di halaman 186 Penulis mencatat: <strong>Hindari &#8220;seharusnya&#8221; jika sesuatu terjadi di luar keinginan kita</strong>. Bagi Penulis, kalimat itu cukup menggugah hati, bahkan Penulis sudah membuat <em>draft </em>artikel yang terinspirasi dari kalimat tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis berusaha untuk <strong>membuat catatan buku ini sesederhana mungkin</strong> agar tidak memberatkan, seperti yang diungkap buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/">Atomic Habits</a> </em>maupun <em><a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-effortless/">Effortless</a></em>. Cukup ada keterangan judul, tanggal buku dibaca, dan halaman yang sedang disorot, lalu baru menulis poin-poin yang ingin dicatat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain agar bisa mengingat poin-poin penting dari buku yang sedang dibaca, salah satu tujuan mencatat ini adalah untuk<strong> memudahkan proses pembuatan artikel <em>review</em></strong><em> </em>di blog ini. Seringnya karena selesainya sudah agak lama, jadi ada poin-poin yang terlewat untuk dibahas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alasan lain mengapa Penulis membutuhkan catatan ini adalah Penulis hobi berpindah-pindah bacaan, tergantung dirinya sedang ingin membaca genre atau topik apa. Bisa saja satu buku baru dibaca lagi satu bulan kemudian atau bahkan lebih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan adanya catatan ini, Penulis setidaknya bisa <strong>me-<em>review </em>secara singkat apa saja yang terakhir Penulis baca</strong> dari buku ini. Dengan begitu, Penulis bisa lebih nyambung dengan bab selanjutnya yang akan dibaca.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, mengapa harus capek-capek mencatat di sebuah buku? Karena Penulis tidak akan tega mencoret-coret buku atau sekadar menempelkan <em>notes</em>. Mungkin tidak akan selengkap yang dilakukan oleh &#8220;joki buku&#8221; yang sedang viral saat ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemilihan <em>notes </em>kecil berukuran A5 pun ada alasannya, yaitu biar mudah dibawa ke mana-mana. Walaupun punya kamar yang bisa dibilang nyaman untuk membaca, Penulis kerap berpindah lokasi ketika membaca untuk berganti suasana.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Memindahkan Catatan Fisik ke Digital</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-2-1024x683.png" alt="" class="wp-image-8899" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-2-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-2-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-2-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-2.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Karena ditulis sesuai dengan urutan buku yang sedang dibaca, maka posisi catatan buku pun tersebar-sebar. Contoh buku <em>Merawat Luka Batin </em>yang tadi, catatan pertama bertanggal 29 April 2026. Penulis baru membaca buku itu lagi pada tanggal 11 Mei 2026.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sela-sela itu, Penulis membaca banyak buku nonfiksi lain yang juga dicatat, mulai dari <em>Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan</em>, <em>Mengapa Negara Gagal</em>, hingga<em> <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-start-with-why/">Start with Why</a></em>. Seperti yang sudah disinggung, Penulis memang hobi berpindah-pindah bacaan sesuai <em>mood</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, Penulis butuh platform lain untuk merapikan catatan buku ini. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-menggunakan-notion-untuk-mencatat-progres-artikel-whathefan/"><strong>Notion</strong> menjadi jawaban dari permasalahan ini</a>. Penulis bisa menyalin catatan fisiknya dalam format digital, tapi kali ini diurutkan berdasarkan bukunya. Jadi, tak masalah meskipun ada jeda panjang ketika membaca bukunya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-3-1024x683.png" alt="" class="wp-image-8900" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-3-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-3-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-3-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-3.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan kombinasi fisik dan digital ini, Penulis bisa <strong>memperkecil kemungkinan untuk melupakan apa yang pernah dibaca</strong>. Misal sedang membutuhkan inspirasi atau informasi, Penulis juga tinggal membaca ulang catatannya ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis tidak setiap hari menyalin catatan fisiknya ke digital. Bisa dibilang, Penulis melakukannya hanya ketika ingin saja. Bahkan, catatan di Notion ini baru sampai bulan Juni, padahal sekarang sudah bulan Oktober. Ada cukup banyak yang belum Penulis salin ke Notion.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sejauh ini, Penulis hanya mencatat buku-buku nonfiksi karena ingin menjadikan fiksi sebagai murni hiburan. Apalagi, jika sebuah cerita fiksi bagus atau berkesan, Penulis pasti akan lebih mudah mengingatnya. Ini berbeda dengan nonfiksi yang memiliki banyak sekali poin penting yang bisa sulit untuk terus diingat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, Penulis rasanya juga perlu mengutarakan kekurangan metode ini. Adanya &#8220;beban&#8221; untuk mencatat buku terkadang justru menghentikan Penulis membaca buku. Jika seperti itu, maka Penulis memutuskan untuk membaca saja tanpa mencatat, nanti kalau sudah <em>mood </em>baru direkap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga tulisan ini bisa sedikit &#8220;menginspirasi&#8221; Pembaca yang kerap mengalami keresahan yang sama dengan Penulis, alias suka lupa dengan apa yang sedang dibaca. Buat yang baru ingin mulai rutin membaca, metode pencatatan ini rasanya tidak terlalu direkomendasikan.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 6 Oktober 2026, terinspirasi setelah telah mencatat apa yang sedang dibaca dalam sebuah catatan kecil</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-mulai-mencatat-apa-yang-sedang-saya-baca/">Saya Mulai Mencatat Apa yang Sedang Saya Baca</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-mulai-mencatat-apa-yang-sedang-saya-baca/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saya Membiasakan Diri Duduk Tegak Gara-gara Jang Wonyoung</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-membiasakan-diri-duduk-tegak-gara-gara-jang-wonyoung/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-membiasakan-diri-duduk-tegak-gara-gara-jang-wonyoung/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2026 13:39:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[duduk]]></category>
		<category><![CDATA[Jang Wonyoung]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8594</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika membicarakan tentang IVE, tentu kita tidak bisa lepas dari nama Jang Wonyoung. Sebelum bergabung dengan Starship Entertainment, ia sudah debut duluan di IZ*ONE bersama An Yujin, yang sekarang jadi leader IVE. Nah, salah satu hal yang paling sering Penulis dengar tentang Wonyoung adalah bagaimana ia dianggap pick me dan dianggap sebagai anak emas agensinya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-membiasakan-diri-duduk-tegak-gara-gara-jang-wonyoung/">Saya Membiasakan Diri Duduk Tegak Gara-gara Jang Wonyoung</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Jika membicarakan tentang <a href="https://whathefan.com/musik/i-am-ive/">IVE</a>, tentu kita tidak bisa lepas dari nama <strong>Jang Wonyoung</strong>. Sebelum bergabung dengan Starship Entertainment, ia sudah debut duluan di IZ*ONE bersama An Yujin, yang sekarang jadi <em>leader </em>IVE.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, salah satu hal yang paling sering Penulis dengar tentang Wonyoung adalah bagaimana ia dianggap <em>pick me </em>dan dianggap sebagai anak emas agensinya. Hal ini bisa benar, bisa tidak, <em>mong</em> Penulis enggak kenal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang, berdasarkan hasil riset kawan Penulis yang merupakan pengamat dunia K-Pop, pemasukan yang dihasilkan Wonyoung seorang diri lebih besar dari keseluruhan IVE, sehingga terkesan &#8220;wajar&#8221; kalau ia diistimewakan oleh agensinya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Siapa-yang-Menyangka-Kalau-F1-Musim-2025-akan-Seseru-Ini-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Siapa-yang-Menyangka-Kalau-F1-Musim-2025-akan-Seseru-Ini-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Siapa-yang-Menyangka-Kalau-F1-Musim-2025-akan-Seseru-Ini-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Siapa-yang-Menyangka-Kalau-F1-Musim-2025-akan-Seseru-Ini-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Siapa-yang-Menyangka-Kalau-F1-Musim-2025-akan-Seseru-Ini-banner.jpg 1200w " alt="Lando Norris Memang Layak untuk Menjadi Juara Dunia 2025" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/lando-norris-memang-layak-untuk-menjadi-juara-dunia-2025/">Lando Norris Memang Layak untuk Menjadi Juara Dunia 2025</a></div></div></div><p></p>


<p class="wp-block-paragraph">Namun, di tulisan kali ini, Penulis tidak akan membahas hal tersebut. Penulis justru akan membahas tentang hal yang agak <em>nyeleneh</em>, yakni tentang <strong>kebiasaan duduk Wonyoung </strong>yang ingin Penulis tiru.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Postur Duduk Jang Wonyoung</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dari postur duduk Wonyoung. Ia hanya membiasakan diri untuk duduk tegak dan menjaga postur tubuhnya tetap &#8220;sempurna&#8221;, bahkan ketika duduk yang tidak memiliki sandaran sekalipun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis mengetahui hal ini pertama kali ketika menonton acara <em>reality show </em>1,2,3 IVE 5 Ep. 1, ketika semua <em>member </em>sedang bersauna. Ketika sedang duduk lesehan, terlihat kalau postur Wonyoung paling tegak di antara <em>member</em> yang lain.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8621" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Lihat Postur Duduk Wonyoung di Sebelah Paling Kiri (<a href="https://www.youtube.com/watch?v=E6ZPIVS2WRY&amp;t=1437s">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini juga terlihat di ajang-ajang penghargaan K-Pop, yang biasanya lewat di YouTube Shorts Penulis. Memang <em>idol </em>yang lain juga berusaha menjaga <em>image </em>dengan postur duduk yang baik, tapi Wonyoung memang yang paling terlihat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terbaru, ketika IVE menjadi bintang tamu di acara milik musisi Epic High, hal ini juga kembali dibahas (yang menjadi inspirasi tulisan ini). Bahkan, <em>host</em>-nya pun menanyakan apakah nyaman duduk dengan postur seperti itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wonyoung (dan Rei yang ketika itu juga duduk dengan tegak) pun dengan enteng menjawab bahwa duduk dengan postur tersebut justru posisi yang paling nyaman. Jawaban tersebut membuat Liz yang duduk <em>senden </em>langsung membetulkan postur duduknya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8622" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">IVE di Channel YouTube Epic High (<a href="https://www.youtube.com/watch?v=xmPkKHhcRqY">YouTube</a>) </figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai orang yang kerjanya bisa 8 jam di depan layar monitor, posisi duduk menjadi krusial. Waktu awal-awal <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/agar-wfh-tetap-produktif/"><em>work from home </em>(WFH)</a> sekitar lima tahun lalu, Penulis kerap mengalami sakit punggung dan tangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa tahun ini, hal tersebut sudah berkurang drastis karena Penulis membeli beberapa aksesoris untuk meminimalisir timbulnya rasa sakit. Apalagi, Penulis sekarang menggunakan kursi ergonomis yang dibeli di IKEA.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau sudah menggunakan kursi yang ergonomis, posisi duduk Penulis masih kerap kurang ergonomis. Seringnya, Penulis justru duduk terlalu maju dan tidak menempatkan punggungnya di sandaran punggung yang sebenarnya sudah sangat ideal untuk menopang punggung Penulis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, entah mengapa ketika berada dalam posisi seperti ini, Penulis langsung teringat postur duduk Wonyoung dan akhirnya memperbaiki posisi duduknya. Ketika mendengarkan khotbah Jumatan pun Penulis sering teringat hal tersebut dan membetulkan posisi duduknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan membiasakan diri duduk tegak seperti Wonyoung, Penulis berharap bisa mengurangi risiko untuk menjadi bungkuk dan memiliki postur tubuh yang buruk. Memang awalnya tidak nyaman dan terasa melelahkan, tapi harus dibiasakan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mindset ala Lucky Vicky</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8623" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Lucky Vicky (<a href="https://crastfm.com/yuk-coba-pola-pikir-positif-lucky-vicky-ala-jang-wonyoung-ive/">Crast FM</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Selain postur duduk, satu hal lain yang ingin Penulis tiru dari Wonyoung adalah <em>mindset </em><strong>Lucky Vicky</strong> yang dimilikinya. Sebenarnya, konsepnya sama dengan idiom <em>every cloud has a sliver lining</em>, di mana di setiap kejadian buruk, pasti ada hal baiknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lucky Vicky menjadi identik dengan Wonyoung karena hal tersebut memang kerap diucapkannya. Ia jadi dikenal sebagai pribadi yang punya pikiran positif terhadap apa pun yang dihadapinya, mungkin juga ketika menghadapi para <em>haters</em>-nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang ia bukan membawa konsep baru, hanya melakukan <em>rebranding </em>yang sudah ada menjadi versinya sendiri. Alhasil, jadi banyak orang yang berusaha untuk mengikuti <em>mindset </em>positifnya tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sebetulnya, dua hal dari Wonyoung yang Penulis sebut di atas tersebut adalah contoh bagaimana kita sebenarnya memiliki pilihan ketika melihat sesuatu, mau melihat baiknya atau fokus ke buruknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau kita fokus dengan hal buruknya, maka kita akan terus membenci Wonyoung yang dianggap <em>pick me</em>, dianakemaskan, obsesi untuk menjadi <em>center</em>, dan lain sebagainya. Padahal, ada hal-hal baik yang bisa kita jadikan inspirasi, yang terlupakan karena terlalu fokus dengan sisi buruknya (<em>mindset </em>Lucky Vicky).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis bukan penggemar Wonyoung secara khusus, toh di <a href="https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-lagu-ive-bagian-1-single-dan-ep-jepang/">IVE</a> bias Penulis adalah Rei. Walau begitu, Penulis tidak menutup mata jika ada hal-hal baik yang bisa Penulis panutan di kehidupan sehari-hari.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 15 Maret 2026, terinspirasi setelah melihat postur duduk Jang Wonyoung yang tegak</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-membiasakan-diri-duduk-tegak-gara-gara-jang-wonyoung/">Saya Membiasakan Diri Duduk Tegak Gara-gara Jang Wonyoung</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-membiasakan-diri-duduk-tegak-gara-gara-jang-wonyoung/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Productivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2025 16:47:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[menunda]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[prokrastinasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8470</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika ada satu kekurangan pada dirinya sendiri yang begitu ingin dihilangkan, mungkin salah satunya adalah kebiasaan untuk menunda segala sesuatu. Mulai dari hal-hal remeh sampai pekerjaan penting, Penulis punya kecenderungan untuk menundanya (prokrastinasi). Untuk pekerjaan yang ada deadline-nya, Penulis bisa bilang bisa menyelesaikannya, walau kadang juga harus mepet deadline. Namun, untuk pekerjaan yang tidak memiliki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/">Productivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Jika ada satu kekurangan pada dirinya sendiri yang begitu ingin dihilangkan, mungkin salah satunya adalah kebiasaan untuk menunda segala sesuatu. Mulai dari hal-hal remeh sampai pekerjaan penting, Penulis punya kecenderungan untuk menundanya (prokrastinasi).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk pekerjaan yang ada <em>deadline</em>-nya, Penulis bisa bilang bisa menyelesaikannya, walau kadang juga harus mepet <em>deadline</em>. Namun, untuk pekerjaan yang tidak memiliki <em>deadline</em>, ada peluang besar dari <em>later </em>menjadi <em>never</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menyadari hal ini, Penulis pun mencoba melakukan metode sederhana yang sedang berusaha diterapkan di kesehariannya. Metode tersebut adalah <strong>&#8220;Aturan 5 Menit&#8221;</strong>, di mana jika sebuah pekerjaan bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari 5 menit, kerjakan sekarang juga. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-banner.jpg 1280w " alt="Kita Bukan Apa-Apa di Semesta Ini" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/renungan/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini/">Kita Bukan Apa-Apa di Semesta Ini</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Contoh Aplikasi Aturan 5 Menit</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Jangan Tunda Kalau Cuma Butuh Sebentar Melakukannya (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-carrying-stacked-books-4107106/">cottonbro studio</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelum menulis artikel ini, Penulis mencoba menerapkan metode ini agar tulisan ini terasa lebih nyata. Ada beberapa aktivitas yang Penulis lakukan di mana beberapa di antaranya sudah diniati sejak lama, tapi belum dikerjakan. Berikut daftarnya:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Mengisi ulang botol Cleo di ruang tamu</li>



<li>Merapikan tas-tas yang menumpuk dan berserakan dekat kasur</li>



<li>Menggantung <em>sweater </em>dan celana <em>training </em>di atas kasur</li>



<li>Mengubah posisi lampu LED di kamar (karena terbalik)</li>



<li>Membersihkan sarang laba-laba dekat meja kerja (<em>suprisingly </em>ada laba-laba betina beserta anak-anaknya)  </li>



<li>Membersihkan sarang laba-laba dekat televisi (ada banyak bangkai semut yang mati)</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph">Semua aktivitas tersebut jika waktu mengerjakannya digabung, tidak sampai 15 menit untuk selesai. Akan tetapi, waktu menundanya sudah berminggu-minggu atau lebih parahnya lagi berbulan-bulan. Padahal, tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi orang yang suka menunda seperti Penulis, <strong>di pikirannya selalu ada kata nanti</strong>. Ah, nanti aja dikerjakan. Ah, nanti aja diselesaikan. Ah, nanti aja dipikir. Pada akhirnya, &#8220;nanti&#8221; ini pun menjadi sesuatu yang tidak pernah dikerjakan dan akhirnya dilupakan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph"><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">&#8220;Tidak ada nanti&#8221;</mark></p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Mengutip perkataan Shikamaru Nara di atas (manga <em>Naruto Chapter 325</em>) ketika ia berhadapan dengan Hidan, Penulis juga berusaha menghilangkan kata &#8220;nanti&#8221; dalam kesehariannya. Jika bisa dikerjakan sekarang, kerjakan sekarang. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika sudah berkomitmen untuk menerapkannya, Penulis jadi <strong>lebih jarang untuk menunda-nunda pekerjaan</strong> terutama yang remeh (tentu terkadang masih <em>ndableg</em>). Alhasil, <strong>jadi lebih banyak pekerjaan yang terselesaikan</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada banyak hal sehari-hari yang hanya butuh kurang dari 5 menit untuk menyelesaikannya. Membersihkan tempat tidur, merapikan kabel <em>charger</em> setelah digunakan, cuci piring selesai makan, mengembalikan buku setelah selesai membaca, masih banyak lagi lainnya. Bisa dilihat kalau metode ini juga bisa digunakan untuk<a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/"> </a>melatih disiplin diri. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika bekerja pun, metode ini sangat membantu. Penulis terbiasa melakukan <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-3-time-blocking/">time block</a> </em>secara bulat, sehingga selalu ingin mengakhiri jam kerja di waktu bulan seperti jam 12 siang atau setidaknya 12:30. Rasanya sangat tidak enak jika berhenti kerja di jam 12:14, misalnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, katakan jam 11:52 Penulis sudah menyelesaikan pekerjaan utamanya yang memakan waktu banyak, Penulis akan mencari pekerjaan-pekerjaan ringan yang bisa selesai dalam waktu singkat sembari menunggu jam 12:00. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Pekerjaan ringan di tempat kerja, walau ringan, bisa menumpuk juga dan membuat Penulis merasa <em>overwhelming</em>. Alhasil, pekerjaan yang ringan pun bisa menjadi penghambat untuk menyelesaikan pekerjaan yang lebih berat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Sisi Buruk Aturan 5 Menit untuk Orang yang Mudah Terdistraksi</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8475" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kuncinya FOCUS (via <a href="https://www.youtube.com/watch?v=Ur7aK4FvK-U&amp;list=RDUr7aK4FvK-U&amp;start_radio=1">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ada satu <em>loop hole </em>dari metode ini. Terkadang, karena ada <em>mindset </em>untuk segera mengerjakan pekerjaan-pekerjaan remeh,<strong> pekerjaan utama yang harusnya menjadi fokus utama justru jadi terpinggirkan</strong>. Ini sangat mudah terjadi ke orang yang mudah terdistraksi seperti Penulis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Misal Penulis sedang membuat satu artikel di tempat kerja. Ketika ingin <em>upload </em>gambar, Penulis jadi melihat <em>file-file </em>di komputernya yang belum dirapikan. Penulis pun membuat folder baru untuk memisahkan <em>file-file </em>tersebut berdasarkan tanggalnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah itu, Penulis jadi teringat belum melengkapi <em>to-do list </em>kantor untuk disetor. Karena cuma butuh waktu sebentar, Penulis pun jadi menyelesaikan hal tersebut terlebih dahulu. Ketika selesai, Penulis ingat belum cek surel redaksi, sehingga Penulis membuka Outlook dulu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bisa dilihat hanya karena satu distraksi kecil, pekerjaan menulis yang menjadi fokus utama pun jadi terpinggirkan. Alokasi waktu yang harusnya untuk menyelesaikan tulisan jadi digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan lain yang secara <em>deadline </em>lebih longgar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, bagaimana cara mengatasinya? <strong><em>Time block </em>menjadi pilihan utama Penulis</strong>. Jika sudah mengalokasikan waktu untuk menulis, maka tidak boleh ada pekerjaan lain yang dikerjakan sampai pekerjaan utama selesai (kecuali ada yang <em>urgent</em>).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk pekerjaan-pekerjaan kecil yang hanya butuh waktu sebentar, Penulis bisa<strong> mencatatnya dulu di catatan </strong>agar tidak terlupa. Kalau bisa, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/">di catatan fisik yang selalu terlihat mata</a>. Kalau mencatatnya di ponsel, kemungkinan untuk melupakannya akan lebih besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang terdengar kontradiksi karena pada akhirnya pekerjaan &lt;5 menit tersebut ditunda juga. Namun, <strong>skala prioritas juga menjadi sesuatu yang tidak boleh diabaikan</strong>. Kita harus tahu mana pekerjaan yang diutamakan, bukan hanya dari durasi untuk menyelesaikannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejauh ini, Penulis merasakan manfaat dari penerapan metode ini dalam kesehariannya. Sekarang yang menjadi PR adalah bagaimana konsisten melakukannya. Tidak ada nanti.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 9 Desember 2025, terinspirasi dari dirinya yang sedang berusaha untuk menghilangkan kebiasaan menunda-nunda</p>



<p class="wp-block-paragraph">Featured Image Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/gray-double-bell-clock-1037993/">Moose Photos</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/">Productivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Sep 2025 15:22:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8409</guid>

					<description><![CDATA[<p>Siapa yang tidak ingin bahagia? Penulis rasa sudah fitrahnya manusia untuk merasa bahagia selama dia hidup. Walaupun definisi bahagia orang bisa berbeda-beda, sudah sewajarnya manusia mengejar kebahagiaan. Jika disuruh mendeskripsikan apa itu bahagia, jujur Penulis sedikit kebingungan mendefinisikan versi Penulis. Mungkin karena tidak memahami apa makna dari kebahagiaan inilah Penulis jadi jarang merasa bahagia. Karena [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/">Memahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Siapa yang tidak ingin bahagia? Penulis rasa sudah fitrahnya manusia untuk merasa bahagia selama dia hidup. Walaupun definisi bahagia orang bisa berbeda-beda, sudah sewajarnya manusia mengejar kebahagiaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika disuruh mendeskripsikan apa itu bahagia, jujur Penulis sedikit kebingungan mendefinisikan versi Penulis. Mungkin karena tidak memahami apa makna dari kebahagiaan inilah Penulis jadi <a href="https://whathefan.com/olahraga/kunci-bahagia-jangan-jadi-fans-manchester-united/">jarang merasa bahagia</a>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena merasa kesulitan mendefinisikan kebahagiaan, Penulis mencoba untuk berpikir sebaliknya. Bagaimana jika kita mencari apa yang membuat kita tidak bahagia, karena lebih mudah untuk diidentifikasi? </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-banner.jpg 1280w " alt="Sistem Pendidikan Ala Assassination Classroom" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom/">Sistem Pendidikan Ala Assassination Classroom</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Memahami Apa Penyebab Ketidakbahagiaan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8412" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kita Lebih Mudah Tidak Bahagia daripada Bahagia (<a href="https://www.pexels.com/photo/woman-leaning-at-the-table-3209117/">Engin Akyurt</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu banyak hal yang bisa membuat kita tidak bahagia. Namun, jika dirumuskan dalam satu kalimat, Penulis meyakini kalau ketidakbahagiaan muncul ketika <strong>gambaran ideal yang ada di kepala tidak menjadi kenyataan</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Misalnya begini. Bagi Penulis, secara ideal Penulis harus bisa bangun pagi yang dilanjutkan dengan lari pagi. Setelah itu, mandi pagi, menulis artikel blog, baru mulai bekerja. Jika semua rangkaian tersebut tidak terlaksana, Penulis merasa gagal, dan akhirnya tidak bahagia</p>



<p class="wp-block-paragraph">Contoh lain, bagi Penulis penghasilan yang ideal adalah 20 juta rupiah per bulan. Namun, hingga saat ini Penulis belum bisa mencapai nominal tersebut. Karena tidak sesuai dengan gambaran idealnya, Penulis pun jadi merasa tidak bahagia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekarang Penulis mengambil contoh gambaran ideal ke orang lain. Misal kita punya gambaran ideal tentang pasangan di kepala: perhatian, peka, pendengar yang baik, loyal. Nah, ketika mendapatkan pasangan yang tidak sesuai dengan gambaran ideal tersebut, kita tidak bahagia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan kata lain, kita harus <strong>pandai-pandai mengelola ekspektasi yang ada di kepala kita</strong>, entah itu ekspektasi ke diri sendiri maupun ke orang lain. Tentu bukan berarti kita jadi punya target yang rendah dalam hidup, tapi lebih bisa menerima jika target tersebut belum bisa dicapai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejujurnya karena tulisan ini lama ditunda, Penulis lupa di mana menemukan konsep di atas. Kemungkinan besar dari buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/">Filsafat Kebahagiaan</a></em>, tapi Penulis tak bisa memastikan. Jadi, anggap saja benar.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bersyukur Setiap Kali Mengeluh</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8414" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Selalu Cari Apa yang Bisa Disyukuri (<a href="https://www.pexels.com/photo/crop-faceless-sportswoman-showing-namaste-gesture-4498156/">Kaboompics.com</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam buku <em>Effortless </em>karya Greg McKeown yang sedang dibaca, Penulis menemukan satu konsep yang menarik. Dalam salah satu babnya, kita diajak<strong> membiasakan diri untuk mensyukuri sesuatu setiap kali kita mengeluh</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau Penulis tarik, ini bisa Penulis kaitkan dengan bahasan kebahagiaan dan ketidakbahagiaan di tulisan ini. Keluhan identik dengan ketidakbahagiaan, sedangkan rasa syukur identik dengan kebahagiaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Misal begini, kita mengeluhkan betapa banyaknya kerjaan yang terasa tidak masuk akal untuk kita kerjakan sendiri. Alhasil kita jadi merasa tidak bahagia, karena menurut gambaran ideal kita, seharusnya kita tidak mengerjakan tugas sebanyak itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, begitu terbesit keluhan tersebut, coba kita cari satu hal saja yang bisa disyukuri tentang pekerjaan tersebut. Setidaknya, kita masih punya pekerjaan di tengah badai PHK di banyak tempat dan kondisi ekonomi seperti ini. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Contoh lain, kita merasa sebal karena pasangan kita kurang pengertian dan kurang peka. Dari keluhan tersebut, coba cari hal yang bisa disyukuri darinya. Oh, walau dia gitu, tapi dia setia banget dan selalu mau membantu di kala kita kesusahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau mengingat hal-hal yang bisa disyukuri, gambaran ideal di kepala pun akan menyesuaikan diri. Dengan demikian, kita akan mencocokkan realita dengan bayangan ideal kita, sehingga kita bisa merasa bahagia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, jika disimpulkan, maka kebahagiaan adalah ketika <strong>kita bisa mengelola gambaran ideal yang ada di kepala kita</strong>. Kebahagiaan adalah ketika <strong>kita bisa mengelola ekspektasi kita dengan baik</strong>. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-lupa-bahagia/">Jangan lupa bahagia</a>!</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 17 September 2025, terinspirasi karena merasa dirinya perlu mendefinisikan ulang mengenai apa itu kebahagiaan</p>



<p class="wp-block-paragraph">Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-woman-wearing-white-shirt-2701660/">Jorge Fakhouri Filho</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/">Memahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2025 14:35:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[mulai]]></category>
		<category><![CDATA[perfeksionis]]></category>
		<category><![CDATA[sempurna]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8399</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak dulu, Penulis merasa dirinya adalah seorang perfeksionis parah. Segala sesuatu harus sesuai dengan standarnya. Bahkan, tak jarang kalau Penulis baru akan memulai sesuatu jika merasa itu sudah sempurna. Tak hanya itu, Penulis kerap menanti waktu terbaik untuk memulainya agar sempurna seperti yang ada di bayangannya. Alhasil, karena menunggu kesempurnaan itu, Penulis justru tidak memulai-mulainya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/">Jangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sejak dulu, Penulis merasa dirinya adalah seorang perfeksionis parah. Segala sesuatu harus sesuai dengan standarnya. Bahkan, tak jarang kalau Penulis baru akan memulai sesuatu jika merasa itu sudah sempurna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak hanya itu, Penulis kerap menanti waktu terbaik untuk memulainya agar sempurna seperti yang ada di bayangannya. Alhasil, karena menunggu kesempurnaan itu, Penulis justru tidak memulai-mulainya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, saat ini Penulis sedang membaca buku <em>Effortless</em> karya Greg McKeown. Salah satu poin yang tertera di buku tersebut adalah <strong>Dimulai</strong>. Intinya kita harus melakukan satu aksi pertama yang nyata, yang benar-benar kita lakukan. Itulah yang ingin Penulis bahas kali ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/bulan-juni-artikel-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/bulan-juni-artikel-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/bulan-juni-artikel-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/bulan-juni-artikel-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/bulan-juni-artikel.jpg 1200w " alt="Juni 2024 adalah Bulan Pertama Saya Menulis Tiap Hari Tanpa Putus" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/juni-2024-adalah-bulan-pertama-saya-menulis-tiap-hari-tanpa-putus/">Juni 2024 adalah Bulan Pertama Saya Menulis Tiap Hari Tanpa Putus</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Menengok Ketidaksempurnaan Mangaka Populer</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dibandingkan menonton anime, Penulis lebih suka membaca komik karena membutuhkan durasi yang lebih singkat. Menariknya, dari sekian banyak komik yang pernah dibaca, Penulis menemukan satu kesamaan: <strong>tidak semua mangaka langsung bisa menggambar dengan bagus</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Contoh yang paling terkenal kasus ini adalah <strong>Hajime Isayama</strong>, mangaka <em>Attack on Titan.</em> Banyak orang yang membandingkan bagaimana &#8220;mentahnya&#8221; gambar di awal-awal jika dibandingkan dengan <em>chapter-chapter </em>yang paling baru.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8402" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Evolusi Gambar Attack on Titan (<a href="https://www.reddit.com/r/ShingekiNoKyojin/comments/139l83o/isayamas_artstyles_evolution_through_the_years/">Reddit</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Tak hanya Isayama, Penulis juga merasa ada evolusi dari gambar Masashi Kishimoto (<em><a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-naruto-bind-up-edition/">Naruto</a></em>), <a href="https://whathefan.com/animekomik/terima-kasih-akira-toriyama-selamat-jalan/">Akira Toriyama</a> (<em><a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-dragon-ball-super/">Dragon Ball</a></em>), Eiichiro Oda (<em><a href="https://whathefan.com/animekomik/alasan-saya-tidak-suka-one-piece/">One Piece</a></em>), dan masih banyak lagi. Biasanya, <em>chapter-chapter </em>awal para mangaka tersebut masih mencari formula terbaik untuk komiknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu ada standar minimum agar karya mereka bisa lolos dari editor. Namun, tetap saja jika dibandingkan dengan <em>chapter-chapter </em>terbaru dari komik tersebut, kita bisa melihat perubahan ke arah yang lebih baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak hanya komik, Webtoon pun memiliki pola yang sama. Dari beberapa judul favorit Penulis seperti <em>Ngopi Yuk!</em>,<em> <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/">Kosan 95</a></em>, <em>Si Ocong</em>, sampai <em>Tahilalat</em> pun juga tak langsung sempurna. Mereka tak menanti sempurna, yang penting mulai dulu aja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan blog ini pun bisa dibilang juga memiliki pola yang sama. Ketika Penulis membaca tulisan-tulisan awal yang terbit di tahun 2018, Penulis merasa malu sendiri karena kualitasnya jelek dan banyak kesalahan penulisan yang mendasar.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mulai Dulu Aja</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8403" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Mulai Aja Dulu (<a href="https://www.pexels.com/photo/women-s-wearing-purple-floral-brassiere-holding-gray-concrete-pathway-during-day-time-42400/">JÉSHOOTS</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis menyadari bahwa perfeksionisme justru bisa menjadi benalu yang menghambat perkembangan diri. Menanti sesuatu yang tak akan pernah datang, seperti kesempurnaan, hanya akan berakhir dengan buruk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari buku <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/"><em>Atomic Habits </em>karya James Clear</a>, Penulis belajar bahwa untuk memulai sesuatu, <strong>mulailah dari yang kecil terlebih dahulu</strong>. Bangun lima menit lebih awal, menulis satu paragraf, membaca satu halaman, mengubah satu baris CV, adalah beberapa contohnya. <strong>Jangan dibuat ribet, buat sesederhana mungkin</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Misal Penulis ingin mengejar lagi cita-citanya untuk bekerja di luar negeri. Tidak perlu muluk-muluk harus <em>apply </em>10 perusahaan dalam sehari. Penulis bisa memulai dengan memeriksa CV lamanya untuk mengecek apakah sudah layak atau belum.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Contoh lain adalah ketika Penulis ingin memiliki keseharian yang lebih sehat dan teratur. Maklum, bekerja dari rumah (WFH) selama hampir lima tahun membuat Penulis cukup kesulitan untuk mendisiplinkan diri. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, harus ada langkah-langkah kecil yang nyatan dan harus diambil untuk memperbaiki hal tersebut. Penulis memutuskan untuk merutinkan jalan kaki ke masjid setiap waktu sholat tiba, yang membuat Penulis jadi lebih disiplin waktu dibandingkan sebelumnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembalinya blog ini juga buah dari <em>mulai aja dulu</em>. Penulis dulu merasa perfeksionis dengan merasa nulis blog itu harus ada <em>time block</em>-nya sendiri, di pagi hari sebelum jam bekerja. Alhasil, blog pun jadi terbengkalai selama berbulan-bulan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis pun coba mengubah <em>mindset</em>-nya, yang penting nulis hari ini. Tidak sampai tayang pun tidak apa, yang penting mulai nulis dulu aja. Menariknya, setiap memulai menulis, pada akhirnya tulisan tersebut bisa tuntas hingga tayang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, gimana kalau ketika kita misalnya ingin membangun rutinitas harian, tapi sering <em>miss</em>-nya? Ya, tidak apa-apa. <strong>Jangan mengejar kesempurnaan</strong> harus melakukan rutinitas tersebut selama 7 hari dalam seminggu. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dibandingkan mengejar <em>streak</em>, yang penting ada berusaha agar setiap harinya bisa melakukan rutinitas tersebut. Kalau masih bolong-bolong pun tidak apa-apa. Akan tetapi, kalau bisa memang jangan bolong terlalu panjang, nanti malah berhenti total.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk memudahkan, setiap kepikiran ingin melakukan sesuatu, langsung pikirkan apa yang harus dilakukan pertama kali. Nantinya, langkah-langkah selanjutnya akan mengikuti dengan sendirinya. Sekadar mencatat pun sudah cukup, yang penting ada aksi nyata yang dilakukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal lain yang tak kalah penting adalah <strong>jangan suka</strong> <strong>menunda-nunda</strong>. Ini adalah kebiasaan buruk Penulis yang sering dilakukan. Akibatnya, banyak hal jadi terlupakan begitu saja tanpa pernah direalisasikan. Ide-ide tulisan blog misalnya, yang keburu usang karena sudah lupa apa yang ingin ditulis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu hal lain yang cukup fatal adalah Penulis merupakan tipe yang kalau <strong>satu tidak dilakukan, maka semua tidak dilakukan</strong>. Ini adalah puncak dari masalah yang ditimbulkan oleh sifat perfeksionisme, yang sering <em>all or nothing</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal, jika ada satu hal yang tidak sesuai rencana, masih ada banyak hal lain yang bisa diperjuangkan untuk diselesaikan. Jangan hanya karena satu hal membuat berantakan semuanya. Lebih baik kita fokus dengan apa yang masih bisa diselesaikan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai orang yang sangat perfeksionis, belakangan ini <strong>Penulis berusaha berdamai dengan ketidaksempurnaan</strong>. Tidak semuanya harus sempurna sesuai dengan keinginan kita. Jika bisa melakukannya, mungkin kita akan bisa melakukan apa yang dulu kita anggap mustahil.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">16 September 2025, terinspirasi setelah menyadari bahwa kita tak perlu menunggu sempurna untuk memulai sesuatu</p>



<p class="wp-block-paragraph">Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-in-white-long-sleeve-shirt-holding-pink-and-white-floral-textile-6932014/">Mikhail Nilov</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/">Jangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Selama Bangun, Mata Kita Terus Terpapar Layar</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/selama-bangun-mata-kita-terus-terpapar-layar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/selama-bangun-mata-kita-terus-terpapar-layar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Oct 2024 15:43:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[gadget]]></category>
		<category><![CDATA[gawai]]></category>
		<category><![CDATA[layar]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[monitor]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7948</guid>

					<description><![CDATA[<p>Coba ingat-ingat aktivitas kita dalam sehari-hari mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi di malam hari. Seberapa banyak aktivitas yang melibatkan layar di perangkat elektronik, baik dari ponsel, laptop, hingga televisi? Penulis sendiri baru-baru ini menyadari bahwa dirinya hampir terpapar layar selama dirinya beraktivitas, mengingat pekerjaan dan hobi menulis Penulis sama-sama menuntut dirinya untuk selalu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/selama-bangun-mata-kita-terus-terpapar-layar/">Selama Bangun, Mata Kita Terus Terpapar Layar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Coba ingat-ingat aktivitas kita dalam sehari-hari mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi di malam hari. Seberapa banyak aktivitas yang melibatkan layar di perangkat elektronik, baik dari ponsel, laptop, hingga televisi? </p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis sendiri baru-baru ini menyadari bahwa dirinya hampir terpapar layar selama dirinya beraktivitas, mengingat pekerjaan dan hobi menulis Penulis sama-sama menuntut dirinya untuk selalu berada di hadapan layar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada tulisan kali ini, Penulis ini melakukan interopeksi diri mengenai betapa panjangnya durasi dalam satu hari yang dihabiskan untuk menatap layar elektronik yang sejatinya memancarkan <em>blue light</em>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-banner.jpg 1280w " alt="Dilarang Baper di Jakarta" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/dilarang-baper-di-jakarta/">Dilarang Baper di Jakarta</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Penulis Menghabiskan Sebagian Besar Waktunya di Depan Layar</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-7955" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-1-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size wp-block-paragraph">Hari-Hari Lihat Layar (<a href="https://www.st.lukes.org/an-addition-to-your-daily-social-media-scroll/">St. Luke&#8217;s</a>)</p>
</div></div>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis akan berbagai dari pengalamannya sendiri (di hari kerja) untuk menjelaskan bagaimana kita sangat sering terpapar layar sejak dari bangun tidur. Penulis tidak akan menggunakan contoh &#8220;rutinitas yang ideal,&#8221; melainkan menggunakan contoh keseharian yang sering dilakukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pagi hari di saat waktu Shubuh, Penulis akan terbangun karena alarm ponsel dan tablet. Setelah menunaikan ibadah sholat, Penulis akan <strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/">kembali rebahan dan mengecek ponsel</a></strong>. Terkadang Penulis <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/">membaca buku</a> dulu, tapi lebih sering mengecek ponsel.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seringnya, Penulis akan tertidur lagi sekitar 1-2 jam setelah bangun pagi. Penulis baru akan terbangun lagi menjelang <em>morning concall </em>dan <em>brainstorm </em>yang dilakukan setiap pagi jam 9. Kalau lagi malas, <strong>Penulis akan rapat di atas kasur, bisa menggunakan tablet maupun laptop</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Biasanya rapat pagi ini berlangsung sekitar 1 jam. Setelah itu, Penulis akan <strong>sarapan yang sering dilakukan sambil menonton YouTube</strong>. Selesai sarapan (Penulis sarapan cukup siang), Penulis akan kembali bekerja dan berhenti menjelang Dhuhur untuk mandi, rawat diri, dan sholat Dhuhur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Antara waktu Dhuhur dan Maghrib adalah<strong> waktu utama Penulis untuk bekerja di depan PC</strong>. Karena <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/">memasang larangan untuk mengecek media sosial</a> atau bermain <em>game</em> di jam kerja, Penulis biasanya beristirahat sambil membaca buku, tidur sejenak, atau sekadar bermain dengan kucing.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masuk jam istirahat di malam hari, biasanya Penulis habiskan dengan <strong>cek media sosial ataupun menonton YouTube </strong>di televisi ruang keluarga bersama ibu. Makan malam pun seringnya dilakukan sambil menonton televisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jam 9 ke atas, biasanya Penulis kembali masuk ke kamar dan <strong>mulai menulis artikel blog di depan laptop</strong>. Setelah selesai, Penulis bisa <strong>kembali cek media sosial atau bermain <em>game</em> di tablet</strong>. Tak jarang juga Penulis <strong>menonton YouTube di televisi kamar </strong>sebelum akhirnya tidur.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Cara Mengurangi Durasi Melihat Layar</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-7954" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-2-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size wp-block-paragraph">Buku Menjadi &#8220;Pelarian&#8221; yang Baik (<a href="https://www.pexels.com/photo/woman-reading-a-book-beside-the-window-1031588/">Rahul Shah</a>)</p>
</div></div>



<p class="wp-block-paragraph">Dari cerita di atas, bisa dilihat kalau hampir seluruh kegiatan Penulis di hari kerja dilakukan dengan melihat layar, entah itu ponsel, tablet, laptop, maupun PC. Mau serius, mau santai, semua berkaitan dengan layar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bisa dibilang, hanya ada lima aktivitas yang tidak melibatkan layar sama sekali, yakni ketika <strong>sholat</strong>, <strong>membaca buku</strong>, <strong>bermain kucing</strong>, <strong>mandi</strong>, dan <strong>tidur</strong>. Ini menunjukkan bahwa betapa tergantungnya Penulis terhadap perangkat-perangkat elektronik untuk menjalani kesehariannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis merasa kalau ini bukan gaya hidup yang sehat. Meskipun pekerjaannya menuntut untuk sering melihat layar, Penulis harusnya bisa mengimbanginya dengan aktivitas-aktivitas lain yang tidak membutuhkan layar.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Membaca buku</a> </strong>jelas menjadi opsi yang paling menyenangkan bagi Penulis. Buku bisa menjadi jeda sejenak dari layar sekaligus sebagai penambah wawasan bagi dirinya. Namun, &#8220;daya&#8221; baca Penulis sudah tidak seperti dulu. Mentok-mentok satu jam sudah lelah, kecuali sedang membaca novel yang seru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu,<strong> olahraga <em>outdoor</em> seperti lari pagi juga bisa menjadi aktivitas yang sehat</strong>. Dulu Penulis cukup rutin melakukannya, bahkan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya/">bisa menyebuhkan insomnia yang dideritanya</a>. Namun, belakangan ini entah mengapa rasanya sangat berat untuk melakukannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Mencari hobi <em>offline</em> yang tidak membutuhkan layar </strong>juga bisa menjadi alternatif. Contoh yang paling gampang tentu saja bermain <em>board game</em> seperti yang sering Penulis lakukan di akhir pekan bersama <em>circle</em>-nya. Tidak hanya bermain, Penulis juga bisa mengobrol dengan teman-temannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hobi <em>offline </em>lain yang bisa menyita waktu kita adalah<strong> </strong><a href="https://whathefan.com/renungan/filosofi-merakit-gundam/">merakit <em>model kit</em> seperti Gundam</a>, LEGO, dan sejenisnya. Masih ada banyak hobi <em>offline</em> lainnya yang bisa dilakukan, seperti berkebun, futsal, memancing, memasak, menggambar, main musik, dan lainnya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis juga ingin <strong>mengurangi kebiasaan makan sambil nonton YouTube</strong>. Walau kesannya <em>multitasking</em>, aktivitas makan sebenarnya bisa menjadi jeda yang baik. Apalagi, sudah seharusnya kita fokus dengan makanan yang ada di hadapan kita dan bersyukur masih bisa menikmatinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kegiatan lain yang perlu dikurangi adalah bermain media sosial</strong>. Aktivitas yang satu ini telah terbukti sebagai penyedot waktu terbesar. Walau sudah membatasi diri sekitar 1-2 jam per hari, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/smartphone-adalah-distraksi-terberat-untuk-produktivitas/">Penulis merasa itu masih terlalu banyak dan bisa dikurangi lagi agar lebih produktif</a>. </p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin karena kebetulan saja pekerjaan Penulis menuntut dirinya untuk melihat layar seharian. Apalagi, Penulis masih <em>work from home </em>sampai sekarang. Jadi, tulisan ini bisa jadi tidak <em>related </em>kepada orang-orang yang pekerjaannya tidak selalu mengharuskan mereka untuk melihat layar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, bagi para Pembaca yang juga menjalani rutinitas seperti Penulis, semoga saja tulisan ini bisa membantu menyadarkan betapa seringnya mata kita terpapar layar elektronik dan mulai mencari alternatif aktivitas lain yang lebih sehat.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 1 Oktober 2024, terinspirasi setelah menyadari bahwa dirinya hampir selalu menatap layar monitor dalam banyak bentuk</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/blackskined-man-using-smart-phones-and-ipads-9783835/">Ron Lach</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/selama-bangun-mata-kita-terus-terpapar-layar/">Selama Bangun, Mata Kita Terus Terpapar Layar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/selama-bangun-mata-kita-terus-terpapar-layar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Catatan yang Selalu Terlihat oleh Mata</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Aug 2024 16:40:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[catatan]]></category>
		<category><![CDATA[lupa]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7736</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis merasa kalau dirinya adalah orang yang pelupa. Bukan tipe yang lupa tanggal ulang tahun seseorang, lebih ke pelupa untuk task apa yang harus diselesaikan. Jika task tersebut tidak dicatat, biasanya akan mudah terlupa begitu saja. Untuk mengatasi hal ini, Penulis berupaya untuk mengatasinya dengan memanfaatkan aplikasi Microsoft To-Do List yang ter-install di PC maupun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/">Pentingnya Catatan yang Selalu Terlihat oleh Mata</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penulis merasa kalau dirinya adalah orang yang pelupa. Bukan tipe yang lupa tanggal ulang tahun seseorang, lebih ke pelupa untuk <em>task </em>apa yang harus diselesaikan. Jika <em>task </em>tersebut tidak dicatat, biasanya akan mudah terlupa begitu saja. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk mengatasi hal ini, Penulis berupaya untuk mengatasinya dengan memanfaatkan aplikasi Microsoft To-Do List yang ter-<em>install </em>di PC maupun ponselnya. Namun, sudah menggunakan ini pun terkadang Penulis lupa untuk mengeceknya!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis berusaha untuk mencari solusi lain. Lantas, Penulis teringat akan isi buku <em>Atomic Habit </em>di mana salah satu cara untuk membuat kebiasaan bisa terbentuk adalah dengan membuatnya mudah terlihat. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/privilege-ala-kartini-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/privilege-ala-kartini-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/privilege-ala-kartini-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/privilege-ala-kartini-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/privilege-ala-kartini-banner.jpg 1280w " alt="Privilege Ala Kartini" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/tokohsejarah/privilege-ala-kartini/">Privilege Ala Kartini</a></div></div></div><p></p>


<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, Penulis akhirnya memutuskan untuk menulis catatan yang selalu terlihat di depan mata. Bukan di gawai yang Penulis miliki, tapi benar-benar di buku catatan fisik dan ditulis secara manual pula.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Masih Perlu Catatan Fisik?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-7738" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-1536x864.jpg 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-2048x1152.jpg 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis sudah menyinggung kalau dirinya telah mencoba menggunakan aplikasi Microsoft To-Do List untuk mencatat berbagai <em>task </em>agar tidak lupa dikerjakan. Apalagi, aplikasi tersebut dilengkapi dengan fitur <em>reminder </em>untuk membantu mengingatkan kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk pekerjaan-pekerjaan rutin, hal ini memang sangat membantu. Namun, ada yang tidak bisa di-<em>cover</em> oleh aplikasi ini setidaknya untuk Penulis:<strong> hal-hal yang muncul secara spontan</strong> <strong>dan tidak terencana</strong>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Contohnya di sini adalah mencatat apa yang perlu dibahas untuk rapat besok. Mungkin <em>task </em>rapat di pagi hari bisa dimasukkan ke dalam aplikasi To-Do List, tapi isinya terkadang muncul secara tiba-tiba saat sedang mengerjakan <em>task </em>lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Lalu, mengapa tidak ditambahkan saja catatannya ke dalam aplikasi To-Do List?</em> Jawabannya adalah kembali lagi karena Penulis pelupa, Penulis kemungkinan besar akan lupa untuk mengeceknya! Akibatnya, hal tersebut pun jadi lupa untuk dibahas ketika rapat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis juga sempat berusaha menggunakan aplikasi Google Keep. Namun, masalahnya tetap sama,<strong> aplikasi ini tidak selalu langsung terlihat </strong>sehingga Penulis sering lupa untuk mengeceknya, bahkan ketika sudah memasang <em>reminder</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, Penulis membutuhkan sebuah media yang akan 24 jam terlihat oleh mata. <strong>Buku catatan fisik</strong>, yang mungkin sudah terasa <em>old school</em>, akhirnya menjadi pilihan utama. Buku catatan ini akan terus berada di atas meja kerja Penulis dan selalu terbuka saat jam kerja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berhubung Penulis punya hobi menulis manual, kegiatan mencatat ini Penulis buat semenarik mungkin dengan menambahkan batas dengan berbagai warna beserta tanggal yang ditulis menggunakan huruf latin. Hobi yang aneh memang untuk seorang laki-laki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang ada kekurangannya mencatat secara manual seperti ini, seperti <strong>catatan yang telah dituliskan akan sulit untuk ditelusuri dan diarsipkan</strong>. Namun, buku catatan ini<strong> </strong>memang Penulis gunakan untuk sesuatu yang bersifat spontan dan berjangka pendek.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap pagi, Penulis akan membaca buku catatan ini untuk memastikan tidak ada <em>task </em>atau poin yang harus diselesaikan. Meskipun terkadang masih <em>miss</em>, Penulis merasa metode ini berhasil meminimalisirnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Tidak Menggunakan Medium Lain?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043142-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7745" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043142-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043142-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043142-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043142.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya, Penulis memiliki tablet yang telah dilengkapi dengan <em>stylus </em>karena pada dasarnya Penulis memang masih suka menulis secara manual, yang juga menjadi salah satu alasan mengapa Penulis membeli tablet tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, makin ke sini, <em>stylus </em>tersebut makin jarang digunakan. Seandainya menulis di tablet pun, pada akhirnya <strong>catatan tersebut akan tenggelam begitu saja</strong> dan kerap lupa untuk mengeceknya kembali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, layar tablet akan mengunci secara otomatis jika lama tidak digunakan, sama seperti ponsel. Jika menyalakannya terus seharian dan menonaktifkan mode <em>auto-lock-</em>nya, tentu akan membuat baterainya cepat habis. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, seandainya Penulis membuat catatan di tablet sebagai pengingat, tentu tidak efektif karena <strong>harus berkali-kali menyalakan tablet</strong>. Apalagi, tablet ini juga kerap Penulis gunakan sebagai layar kedua</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis sempat mengandalkan Sticky Notes sebagai pengingat. Selain bisa ditempel di mana-mana, Sticky Notes kerap berwarna cerah sehingga akan mencuri perhatian kita saat akan bekerja. Tentu ini jadi pengingat yang mudah kita <em>notice</em>, bukan?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, Sticky Notes pun bagi Penulis kurang efektif. Pertama, <strong>Sticky Notes harus ditempel di suatu tempat</strong>. Kamar Penulis yang sudah penuh dengan barang jelas tidak memiliki tempat kosong untuk hal tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, <strong>Sticky Notes yang sudah dipasang sulit untuk di-<em>edit</em></strong>. Padahal, Penulis suka menambahkan catatan tambahan menggunakan tinta merah yang biasanya berfungsi sebagai penanda kalau <em>task </em>tersebut sudah diselesaikan atau sudah dibahas dalam rapat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga,<strong> Sticky Notes bisa berceceran ke mana-mana jika sudah terlalu banyak</strong>. Padahal, setiap hari ada cukup banyak hal yang perlu Penulis catat secara manual. Penulis tidak bisa membayangkan bagaimana rupa kamarnya jika menempel terlalu banyak Sticky Notes.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan pengalaman tersebut, Penulis memutuskan untuk memanfaatkan buku catatan dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Penulis menganggap kalau buku catatan ini adalah otak kedua Penulis dalam bentuk fisik.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 26 Agustus 2024, terinspirasi setelah menyadari betapa pentingnya catatan yang harus selalu terlihat</p>



<p class="wp-block-paragraph">Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/person-holding-orange-pen-1925536/">lil artsy</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/">Pentingnya Catatan yang Selalu Terlihat oleh Mata</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Saya Hilangkan Kebiasaan Buruk Dikit-Dikit Cek HP</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Jul 2024 16:12:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[distraksi]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[smartphone]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7637</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang suwung atau menganggur, apa yang akan Pembaca lakukan pertama kali? Kalau Penulis, satu hal yang sangat mungkin dilakukan adalah mengecek ponselnya, entah untuk mengecek pesan WhatsApp yang masuk ataupun scrolling media sosial. Parahnya lagi, Penulis kerap berganti-ganti platform ketika sudah cek HP. Bosan buka Instagram, pindah ke X. Bosan di X, pindah ke [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/">Cara Saya Hilangkan Kebiasaan Buruk Dikit-Dikit Cek HP</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Ketika sedang <em>suwung </em>atau menganggur, apa yang akan Pembaca lakukan pertama kali? Kalau Penulis, satu hal yang sangat mungkin dilakukan adalah <strong>mengecek ponselnya</strong>, entah untuk mengecek pesan WhatsApp yang masuk ataupun <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/"><em>scrolling </em>media sosial</a>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Parahnya lagi, Penulis kerap berganti-ganti platform ketika sudah cek HP. Bosan buka Instagram, pindah ke X. Bosan di X, pindah ke YouTube. Bosan di YouTube, pindah ke Pinterest. Begitu terus hingga screentime ponsel Penulis menjadi berjam-jam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis sebenarnya menyadari kalau sedikit-sedikit mengecek ponsel merupakan kebiasaan yang buruk karena seolah-olah otak ini tidak boleh diberi jeda sedikit pun dari konsumsi-konsumsi konten. Otak (dan organ tubuh lainnya) ini seolah tidak boleh istirahat. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/setelah-membaca-start-with-why-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/setelah-membaca-start-with-why-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/setelah-membaca-start-with-why-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/setelah-membaca-start-with-why-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/setelah-membaca-start-with-why.jpg 1200w " alt="[REVIEW] Setelah Membaca Start with Why" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-start-with-why/">[REVIEW] Setelah Membaca Start with Why</a></div></div></div><p></p>


<p class="wp-block-paragraph">Padahal, jeda sejenak dari segala kegiatan dan konsumsi konten bagus untuk otak. Membiarkan pikiran mengembara atau merenung terkadang menjadi sesuatu yang kita butuhkan di tengah berbagai tuntutan hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, Penulis pun berusaha mengurangi ketergantungan dirinya yang sedikit-sedikit mengecek ponsel. Awalnya memang sangat sulit karena sudah menjadi kebiasaan, tapi lama-kelamaan Penulis mulai terbiasa untuk menjauhinya dan menggantinya dengan aktivitas lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada tulisan kali ini, Penulis ingin berbagi pengalaman dirinya berusaha mengurangi kebiasaan buruk ini untuk bisa meningkatkan produktivitas dirinya. Penulis tidak membuat daftarnya berdasarkan riset mendalam, hanya dari pengalaman pribadinya saja.</p>



<h2 class="wp-block-heading">1. Memberikan Batasan ke Aplikasi</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7684" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Aplikasi Rekomendasi Penulis (<a href="https://www.opal.so/blog/opal-the-1-screen-time-app">Opal</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Hampir semua media sosial menghadirkan konten tak terbatas yang bertujuan untuk membuat kita betah berlama-lama di platform mereka. Akibatnya, kita suka lupa waktu jika sudah bermain media sosial, terutama jika sedang mengonsumsi konten-konten video pendek.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis termasuk yang kesulitan untuk mengerem kebiasaan buruk ini, sehingga membutuhkan bantuan<em> </em>aplikasi. Untungnya, hampir di semua ponsel pintar saat ini telah memiliki fitur untuk membatasi penggunaan aplikasi dalam jangka waktu panjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Penulis merasa aplikasi bawaan tersebut kurang ketat karena bisa kita ubah dengan mudah. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk menggunakan aplikasi yang lebih ketat seperti <strong>AppBlock </strong>dan <strong>Opal</strong>. Jika batas durasinya sudah lewat, maka Oval tersebut akan otomatis memblokir aplikasi tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di ponsel, Penulis memberi batasan penggunaan semua media sosial 1,5 jam per hari, mulai dari YouTube, Instagram, X, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">TikTok</a>, hingga <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/threads-the-right-thing-at-the-right-time/">Threads</a>. Durasi 1,5 jam bukan untuk per aplikasi, tapi kombinasi dari semuanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">2. Menjauhkan Ponsel dari Jangkauan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Cara pertama yang sering Penulis lakukan adalah menjauhkan ponsel sejauh mungkin dari jangkauannya. Biasanya ini Penulis terapkan ketika kerja, di mana Penulis meletakkan ponselnya di tempat yang tidak kelihatan hingga lupa di mana menaruhnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cara ini cukup efektif jika Penulis ingin <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/smartphone-adalah-distraksi-terberat-untuk-produktivitas/">mengurangi distraksi ketika jam kerja</a>, apalagi <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/agar-wfh-tetap-produktif/">Penulis <em>work from home</em></a>. Penulis harus bisa mendisiplinkan diri sendiri karena tidak ada orang lain yang mengawasi. Alhasil, <em>screentime </em>Penulis terutama di jam kerja (9-6) bisa berkurang drastis. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak hanya itu, kita juga bisa mematikan notifikasi ponsel dengan mengubahnya ke Mode Hening atau mengaktifkan fitur Do Not Disturb. Dengan begitu, suara-suara notifikasi yang seolah tak ada habisnya itu bisa diredam dan tidak membuat kita merasa penasaran lagi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">3. Install WhatsApp atau Aplikasi Chat di PC/Laptop</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7685" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Install Aplikasi WhatsApp Dekstop (<a href="https://www.cnet.com/tech/services-and-software/whatsapps-new-desktop-app-for-windows-how-to-download-it-on-your-pc/">CNET</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu alasan mengapa Penulis suka mengecek ponselnya adalah karena ingin memeriksa apakah ada pesan WhatsApp yang masuk. Oleh karena itu, Penulis memilih untuk meng-<em>install</em> aplikasi WhatsApp versi<em> </em>PC, sehingga dirinya tak perlu lagi mengecek ponsel.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kebetulan, di tempat kerja Penulis WhatsApp menjadi media utama untuk berkomunikasi, sehingga tidak mungkin Penulis tidak memeriksa WhatsApp. Bahkan, Penulis menggunakan layar kedua menggunakan tablet untuk selalu menampilkan WhatsApp, karena Penulis juga punya kebiasaan buruk sedikit-sedikit cek WhatsApp.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak hanya WhatsApp, semua aplikasi <em>chat </em>yang Penulis gunakan juga Penulis <em>install </em>di PC, mulai dari Skype hingga Discord. Dengan demikian, tidak ada lagi alasan <em>urgent </em>untuk mengecek ponsel di jam kerja.</p>



<h2 class="wp-block-heading">4. Jangan Gunakan Ponsel Sebagai Alarm Pagi</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Selain godaan di kala menganggur dan di jam kerja, salah satu godaan terbesar untuk mengecek ponsel adalah di pagi hari. Penulis punya kebiasaan buruk setelah mematikan alarm, Penulis akan membuka aplikasi media sosial sebentar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, Penulis menyarankan untuk menggunakan alarm konvensional di pagi hari, bukan alarm yang ada di ponsel. Kalau perlu, jauhkan juga ponsel dari jangkauan sebelum tidur. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, tentukan jam berapa ponsel boleh mulai dicek, misalnya pukul tujuh pagi setelah <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutinitas pagi telah selesai dituntaskan</a>. Namun, jika boleh jujur, di antara semua poin yang ada di artikel ini, poin inilah yang sampai sekarang masih Penulis sulit terapkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">5. Sibukkan Diri dengan Kegiatan Bermanfaat</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7686" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Baca Buku Favoritmu (<a href="https://www.pexels.com/@adilgkkya/">Adil via Pexels</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu pemicu kita kerap mengecek ponsel adalah karena <em>suwung</em> atau sedang menganggur, seperti yang sudah Penulis singgung di atas. Oleh karena itu, kita harus kreatif mengisi waktu kosong kita dengan aktivitas lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melakukan hobi adalah salah satu cara yang menyenangkan untuk mengisi waktu luang. Kalau Penulis, biasanya akan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/">membaca buku</a> atau menulis artikel. Kedua aktivitas ini lumayan ampuh bagi Penulis untuk tidak mengecek ponsel.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di malam hari setelah jam kerja, biasanya Penulis menyempatkan diri untuk menemani ibu menonton televisi. Meskipun bukan kegiatan yang produktif, setidaknya menemani ibu menjadi aktivitas yang bermanfaat sekaligus melepas penat setelah seharian bekerja.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berselancar di media sosial untuk mencari hiburan bukan hal yang salah. Yang salah adalah jika dilakukan secara berlebihan hingga lupa waktu. Waktu yang kita miliki di dunia ini terbatas, sehingga sayang jika tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis merasa bahwa dirinya sudah terlalu <em>attach </em>dengan ponsel, sehingga muncul kebiasaan sedikit-sedikit ingin mengecek ponsel. Menyadari kekurangan ini, Penulis pun berusaha untuk melakukan tips-tips yang telah disebutkan di atas. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga saja tulisan ini bisa membantu Pembaca yang juga mengalami kesulitan seperti Penulis.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 22 Juli 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau dirinya kerap kali mengecek HP-nya setiap tidak ada aktivitas</p>



<p class="wp-block-paragraph">Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/selective-focus-photography-of-person-using-iphone-x-1542252/">Kerde Severin</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/">Cara Saya Hilangkan Kebiasaan Buruk Dikit-Dikit Cek HP</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Caranya agar Semangat Membaca Buku?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Jun 2024 16:48:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7520</guid>

					<description><![CDATA[<p>Entah saja kapan Penulis membuat persona dirinya sebagai seorang pembaca buku. Mungkin sejak kuliah, ketika dirinya mulai membeli buku-buku sendiri. Ketika sekolah, Penulis memang sudah membaca buku, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak. Hingga hari ini, persona kutu buku masih melekat pada diri Penulis. Selain karena sering membuat artikel ulasan buku yang sudah selesai dibaca, Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/">Bagaimana Caranya agar Semangat Membaca Buku?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Entah saja kapan Penulis membuat persona dirinya sebagai seorang pembaca buku. Mungkin sejak kuliah, ketika dirinya mulai membeli buku-buku sendiri. Ketika sekolah, Penulis memang sudah membaca buku, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hingga hari ini, persona kutu buku masih melekat pada diri Penulis. Selain karena sering membuat artikel ulasan buku yang sudah selesai dibaca, Penulis memang sering terlihat bersemangat jika topik obrolan bersama teman-teman sudah membahas tentang buku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu pertanyaan yang sering diberikan kepada Penulis adalah bagaimana caranya agar suka membaca? Tentu ini pertanyaan yang cukup <em>tricky</em>, karena kebiasaan membaca Penulis sudah dari kecil. Pengaruh ayah yang juga suka membaca bisa <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apa-yang-salah-dengan-privilege/">menjadi <em>privilige</em></a> untuk Penulis.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan.jpg 1280w " alt="Chapter 63 Seorang Aktivis HAM" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-63-seorang-aktivis-ham/">Chapter 63 Seorang Aktivis HAM</a></div></div></div><p></p>


<p class="wp-block-paragraph">Namun, jika dipikir-pikir lagi, sebenarnya ada beberapa cara yang berhasil setidaknya pada diri Penulis. Meskipun suka membaca, ada kalanya Penulis merasa sangat malas untuk membuka buku. Entah ada berapa buku yang akhirnya menumpuk dan tidak pernah dibaca.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #1: Pilih Topik Buku yang Digemari</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7523" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/pile-of-assorted-novel-books-694740/">Min An</a></figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Tips pertama dan yang paling <em>basic </em>adalah <strong>memilih buku sesuai dengan topik yang digemari</strong>. Kalau sukanya fiksi, ya jangan memaksakan diri untuk membaca buku ekonomi. Yang ada malah merasa mual karena tidak paham sama sekali apa isinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis sendiri biasanya punya stok untuk beberapa genre yang diminati, karena kebetulan dirinya punya banyak topik bacaan yang digemari. Jadi, Penulis bisa memilih genre bacaannya sesuai dengan <em>mood</em>-nya saat itu. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat ini saja, ada sekitar 12 buku yang Penulis baca bersamaan dari berbagai genre, mulai dari fiksi, sejarah, pengembangan diri, dan lain sebagainya. Penulis tinggal memilih mana yang mau dibaca hari ini, benar-benar tergantung <em>mood</em>-nya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #2: Pilih Buku yang Ringan-Ringan Dulu Saja</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7528" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/unrecognizable-woman-sitting-outdoors-and-reading-book-4963708/">Karolina Kaboompics</a></figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Selain topik, pemilihan bobot buku juga bisa menentukan semangat kita dalam membaca. Kalau belum terbiasa membaca, tips kedua, usahakan untuk<strong> memilih buku yang ringan-ringan dulu saja</strong>, baik dari segi ketebalan halaman maupun bahasa yang dimiliki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau mau memulai baca novel, bisa coba baca novel-novel ringan seperti karya <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-janji/">Tere Liye</a> atau <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/setelah-membaca-brianna-dan-bottomwise/">Andrea Hirata</a>. Jangan langsung baca novelnya <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-laut-bercerita/">Leila S. Chudori</a>, nanti <em>shock </em>karena ceritanya yang berat dan <em>dark</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau misal mau membaca buku non-fiksi seperti sejarah, bisa mulai baca buku yang kecil atau tipis dulu. Misal mau baca tentang Perang Dunia II, ya jangan langsung baca buku <em>Perang Eropa</em>-nya P. K. Ojong yang tebal-tebal dan ada sampai tiga jilid.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #3: Mulai dari Sedikit Dulu Saja</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7524" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-person-holding-a-book-2663851/">Enzo Muñoz</a></figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Tips ketiga, <strong>mulai dari sedikit dulu saja</strong>. Satu hari satu halaman pun tidak masalah, asal konsisten setiap hari. Nanti setelah semakin terbiasa, jumlah halaman atau durasi membaca dalam sehari bisa bertambah secara bertahap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Agar bisa lebih konsisten, ada baiknya kalau kita memiliki <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-3-time-blocking/">time block</a> </em>untuk menentukan kapan kita membaca. Bisa setelah bangun, istirahat makan siang, atau menjelang tidur. Pilih waktu terbaik dari rutinitas harian kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kebiasaan mikro seperti ini dibahas dalam buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/">Atomic Habits</a> </em>karya James Clear. Tidak apa-apa sedikit, yang penting rutin. Agar bisa dirutinkan, letakkan buku yang ingin dibaca di tempat yang mudah terlihat, jangan ditaruh di rak buku atau tempat tak terlihat lainnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #4: Jangan Paksakan Diri untuk Menghabiskan Buku</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7529" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-a-woman-with-bangs-reading-a-book-while-her-hand-is-on-her-head-7320383/">Karolina Kaboompics</a></figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Terkadang, ada saja buku yang memang seolah ditakdirkan untuk tidak ditamatkan, dan hal itu sama sekali tidak masalah. Tips keempat, <strong>jangan pernah memaksakan diri untuk menghabiskan buku</strong>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin setelah membaca seperempat atau setengah buku, ternyata isinya kurang cocok dengan kita. Tidak menamatkan buku yang sudah dimulai bukanlah sebuah dosa. Daripada dipaksa menyelesaikan tapi isinya tidak masuk, ya untuk apa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis mungkin punya puluhan buku yang bernasib seperti itu, ditutup sebelum halaman terakhir selesai dibaca. Mungkin suatu saat akan coba dibaca lagi, tapi tidak sekarang. Apalagi, masih ada banyak buku lain yang lebih menarik untuk ditamatkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #5: Pinjam, Jangan Beli</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7525" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/assorted-books-on-shelf-1290141/">Ivo Rainha</a></figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Tips keempat yang bisa digunakan untuk berhemat adalah <strong>jangan membeli buku</strong>. Lho, kok gitu? Karena dengan perasaan memiliki buku tersebut, kita jadi cenderung berpikir, &#8220;Halah, dibaca nanti saja kalau sudah senggang.&#8221; Akhirnya, malah tidak tersentuh sama sekali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau belum terbiasa membaca, Penulis menyarankan lebih baik meminjam saja, entah ke teman ataupun perpustakaan. Penulis sendiri sering meminjamkan buku-bukunya ke siapapun yang ingin membaca. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan meminjam, kita jadi memiliki semacam <em>deadline </em>kapan buku tersebut harus dikembalikan kepada pemiliknya. Dengan adanya <em>deadline</em>, kita pun jadi lebih termotivasi untuk segera memulai membaca dan menghabiskannya (opsional)</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #6: Baca dengan Suasana Nyaman</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7527" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-in-yellow-long-sleeve-shirt-lying-on-couch-4866043/">cottonbro studio</a></figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Tips kelima yang sering Penulis lakukan kepada dirinya sendiri adalah <strong>membuat suasana membaca menjadi senyaman mungkin</strong>. Kalau membacanya <em>pewe</em>, maka kita pun akan betah melakukannya dalam jangka waktu yang panjang, asal jangan malah ketiduran!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau Penulis, seringnya membaca di atas kasur dengan lampu baca dan aroma terapi yang menyala. Alternatif tempat lain untuk membaca adalah duduk di teras, mengingat di teras rumah Penulis ada banyak tanaman sehingga suasananya menjadi sejuk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, mendengarkan lagu ketika membaca juga bisa menambah kenyamanan dalam membaca. <em>Playlist </em>lagu-lagu klasik atau <em>lo-fi </em>sangat cocok sebagai teman membaca. Sebaiknya jangan mendengarkan lagu yang memiliki lirik, khawatirnya jadi susah fokus.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #7: Jauhkan Smartphone</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7526" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/person-holding-amazon-kindle-ebook-844734/">özgür</a></figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang sudah pada tulisan sebelumnya, Penulis memanfaatkan buku untuk menjauhkan dirinya dari media sosial. Percayalah, salah satu faktor yang membuat Penulis malas membaca buku adalah karena adanya distraksi dari <em>smartphone</em>-nya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, tips terakhir, <strong>jauhkan <em>smartphone </em>ketika ingin membaca</strong>. Ketika membaca di kamar, Penulis biasanya menyalakan mode senyapnya dan meletakkannya di meja kerja. Kalau membaca di teras, ya <em>smartphone</em>-nya ditinggal saja di kamar. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Buku bisa menjadi subtitusi yang menarik dari <em>smartphone </em>ketika kita butuh mengisi waktu luang. Bahkan, belakangan Penulis lebih sering membawa buku ke kamar mandi ketika ada panggilan alam dibandingkan membawa <em>smartphone</em>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, bagaimana jika kita membaca buku lewat aplikasi di <em>smartphone</em>. Nah, kebetulan Penulis merupakan pembaca konvensional yang tidak suka membaca buku digital. Kalau lebih suka membaca di <em>smartphone</em>, ya yang kuat saja menahan godaan untuk membuka apliaksi lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kurang lebih seperti itulah tips agar semangat membaca yang telah Penulis terapkan sendiri dalam kehidupannya. Mungkin tidak semua tips cocok untuk Pembaca sekalian, tidak apa- Pilih saja tips yang cocok dengan gaya hidup Pembaca.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang jelas, membaca buku hingga saat ini tetap menjadi media favorit Penulis entah untuk hiburan maupun mendapatkan ilmu, meskipun sekarang ada banyak konten di media sosial maupun YouTube yang bisa menghadirkan hal tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga tips di atas bisa menjadi penyemangat kita untuk bisa lebih banyak membaca buku, ya!</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 25 Juni 2024, terinspirasi setelah menulis artikel <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</a> </em>kemarin</p>



<p class="wp-block-paragraph">Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/books-in-black-wooden-book-shelf-159711/">Pixabay</a> </p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/">Bagaimana Caranya agar Semangat Membaca Buku?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
