<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pengembangan Diri Archives - whathefan</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/category/pengembangan-diri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/category/pengembangan-diri/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 15 Mar 2026 13:56:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/02/logo-kotak-whathefan-2026-v3-80x80.jpg</url>
	<title>Pengembangan Diri Archives - whathefan</title>
	<link>https://whathefan.com/category/pengembangan-diri/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Saya Membiasakan Diri Duduk Tegak Gara-gara Jang Wonyoung</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-membiasakan-diri-duduk-tegak-gara-gara-jang-wonyoung/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-membiasakan-diri-duduk-tegak-gara-gara-jang-wonyoung/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2026 13:39:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[duduk]]></category>
		<category><![CDATA[Jang Wonyoung]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8594</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika membicarakan tentang IVE, tentu kita tidak bisa lepas dari nama Jang Wonyoung. Sebelum bergabung dengan Starship Entertainment, ia sudah debut duluan di IZ*ONE bersama An Yujin, yang sekarang jadi leader IVE. Nah, salah satu hal yang paling sering Penulis dengar tentang Wonyoung adalah bagaimana ia dianggap pick me dan dianggap sebagai anak emas agensinya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-membiasakan-diri-duduk-tegak-gara-gara-jang-wonyoung/">Saya Membiasakan Diri Duduk Tegak Gara-gara Jang Wonyoung</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Jika membicarakan tentang <a href="https://whathefan.com/musik/i-am-ive/">IVE</a>, tentu kita tidak bisa lepas dari nama <strong>Jang Wonyoung</strong>. Sebelum bergabung dengan Starship Entertainment, ia sudah debut duluan di IZ*ONE bersama An Yujin, yang sekarang jadi <em>leader </em>IVE.</p>



<p>Nah, salah satu hal yang paling sering Penulis dengar tentang Wonyoung adalah bagaimana ia dianggap <em>pick me </em>dan dianggap sebagai anak emas agensinya. Hal ini bisa benar, bisa tidak, <em>mong</em> Penulis enggak kenal.</p>



<p>Memang, berdasarkan hasil riset kawan Penulis yang merupakan pengamat dunia K-Pop, pemasukan yang dihasilkan Wonyoung seorang diri lebih besar dari keseluruhan IVE, sehingga terkesan &#8220;wajar&#8221; kalau ia diistimewakan oleh agensinya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1.jpg 1280w " alt="Bagian 1 Distopia Bagi Kia" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-1-distopia-bagi-kia/">Bagian 1 Distopia Bagi Kia</a></div></div></div><p></p>


<p>Namun, di tulisan kali ini, Penulis tidak akan membahas hal tersebut. Penulis justru akan membahas tentang hal yang agak <em>nyeleneh</em>, yakni tentang <strong>kebiasaan duduk Wonyoung </strong>yang ingin Penulis tiru.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Postur Duduk Jang Wonyoung</h2>



<p>Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dari postur duduk Wonyoung. Ia hanya membiasakan diri untuk duduk tegak dan menjaga postur tubuhnya tetap &#8220;sempurna&#8221;, bahkan ketika duduk yang tidak memiliki sandaran sekalipun.</p>



<p>Penulis mengetahui hal ini pertama kali ketika menonton acara <em>reality show </em>1,2,3 IVE 5 Ep. 1, ketika semua <em>member </em>sedang bersauna. Ketika sedang duduk lesehan, terlihat kalau postur Wonyoung paling tegak di antara <em>member</em> yang lain.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8621" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Lihat Postur Duduk Wonyoung di Sebelah Paling Kiri (<a href="https://www.youtube.com/watch?v=E6ZPIVS2WRY&amp;t=1437s">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p>Hal ini juga terlihat di ajang-ajang penghargaan K-Pop, yang biasanya lewat di YouTube Shorts Penulis. Memang <em>idol </em>yang lain juga berusaha menjaga <em>image </em>dengan postur duduk yang baik, tapi Wonyoung memang yang paling terlihat.</p>



<p>Terbaru, ketika IVE menjadi bintang tamu di acara milik musisi Epic High, hal ini juga kembali dibahas (yang menjadi inspirasi tulisan ini). Bahkan, <em>host</em>-nya pun menanyakan apakah nyaman duduk dengan postur seperti itu.</p>



<p>Wonyoung (dan Rei yang ketika itu juga duduk dengan tegak) pun dengan enteng menjawab bahwa duduk dengan postur tersebut justru posisi yang paling nyaman. Jawaban tersebut membuat Liz yang duduk <em>senden </em>langsung membetulkan postur duduknya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8622" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">IVE di Channel YouTube Epic High (<a href="https://www.youtube.com/watch?v=xmPkKHhcRqY">YouTube</a>) </figcaption></figure>



<p>Sebagai orang yang kerjanya bisa 8 jam di depan layar monitor, posisi duduk menjadi krusial. Waktu awal-awal <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/agar-wfh-tetap-produktif/"><em>work from home </em>(WFH)</a> sekitar lima tahun lalu, Penulis kerap mengalami sakit punggung dan tangan.</p>



<p>Beberapa tahun ini, hal tersebut sudah berkurang drastis karena Penulis membeli beberapa aksesoris untuk meminimalisir timbulnya rasa sakit. Apalagi, Penulis sekarang menggunakan kursi ergonomis yang dibeli di IKEA.</p>



<p>Walau sudah menggunakan kursi yang ergonomis, posisi duduk Penulis masih kerap kurang ergonomis. Seringnya, Penulis justru duduk terlalu maju dan tidak menempatkan punggungnya di sandaran punggung yang sebenarnya sudah sangat ideal untuk menopang punggung Penulis.</p>



<p>Nah, entah mengapa ketika berada dalam posisi seperti ini, Penulis langsung teringat postur duduk Wonyoung dan akhirnya memperbaiki posisi duduknya. Ketika mendengarkan khotbah Jumatan pun Penulis sering teringat hal tersebut dan membetulkan posisi duduknya.</p>



<p>Dengan membiasakan diri duduk tegak seperti Wonyoung, Penulis berharap bisa mengurangi risiko untuk menjadi bungkuk dan memiliki postur tubuh yang buruk. Memang awalnya tidak nyaman dan terasa melelahkan, tapi harus dibiasakan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mindset ala Lucky Vicky</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8623" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Lucky Vicky (<a href="https://crastfm.com/yuk-coba-pola-pikir-positif-lucky-vicky-ala-jang-wonyoung-ive/">Crast FM</a>)</figcaption></figure>



<p>Selain postur duduk, satu hal lain yang ingin Penulis tiru dari Wonyoung adalah <em>mindset </em><strong>Lucky Vicky</strong> yang dimilikinya. Sebenarnya, konsepnya sama dengan idiom <em>every cloud has a sliver lining</em>, di mana di setiap kejadian buruk, pasti ada hal baiknya.</p>



<p>Lucky Vicky menjadi identik dengan Wonyoung karena hal tersebut memang kerap diucapkannya. Ia jadi dikenal sebagai pribadi yang punya pikiran positif terhadap apa pun yang dihadapinya, mungkin juga ketika menghadapi para <em>haters</em>-nya.</p>



<p>Memang ia bukan membawa konsep baru, hanya melakukan <em>rebranding </em>yang sudah ada menjadi versinya sendiri. Alhasil, jadi banyak orang yang berusaha untuk mengikuti <em>mindset </em>positifnya tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Sebetulnya, dua hal dari Wonyoung yang Penulis sebut di atas tersebut adalah contoh bagaimana kita sebenarnya memiliki pilihan ketika melihat sesuatu, mau melihat baiknya atau fokus ke buruknya.</p>



<p>Kalau kita fokus dengan hal buruknya, maka kita akan terus membenci Wonyoung yang dianggap <em>pick me</em>, dianakemaskan, obsesi untuk menjadi <em>center</em>, dan lain sebagainya. Padahal, ada hal-hal baik yang bisa kita jadikan inspirasi, yang terlupakan karena terlalu fokus dengan sisi buruknya (<em>mindset </em>Lucky Vicky).</p>



<p>Penulis bukan penggemar Wonyoung secara khusus, toh di <a href="https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-lagu-ive-bagian-1-single-dan-ep-jepang/">IVE</a> bias Penulis adalah Rei. Walau begitu, Penulis tidak menutup mata jika ada hal-hal baik yang bisa Penulis panutan di kehidupan sehari-hari.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 15 Maret 2026, terinspirasi setelah melihat postur duduk Jang Wonyoung yang tegak</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-membiasakan-diri-duduk-tegak-gara-gara-jang-wonyoung/">Saya Membiasakan Diri Duduk Tegak Gara-gara Jang Wonyoung</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-membiasakan-diri-duduk-tegak-gara-gara-jang-wonyoung/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Productivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2025 16:47:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[menunda]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[prokrastinasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8470</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika ada satu kekurangan pada dirinya sendiri yang begitu ingin dihilangkan, mungkin salah satunya adalah kebiasaan untuk menunda segala sesuatu. Mulai dari hal-hal remeh sampai pekerjaan penting, Penulis punya kecenderungan untuk menundanya (prokrastinasi). Untuk pekerjaan yang ada deadline-nya, Penulis bisa bilang bisa menyelesaikannya, walau kadang juga harus mepet deadline. Namun, untuk pekerjaan yang tidak memiliki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/">Productivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Jika ada satu kekurangan pada dirinya sendiri yang begitu ingin dihilangkan, mungkin salah satunya adalah kebiasaan untuk menunda segala sesuatu. Mulai dari hal-hal remeh sampai pekerjaan penting, Penulis punya kecenderungan untuk menundanya (prokrastinasi).</p>



<p>Untuk pekerjaan yang ada <em>deadline</em>-nya, Penulis bisa bilang bisa menyelesaikannya, walau kadang juga harus mepet <em>deadline</em>. Namun, untuk pekerjaan yang tidak memiliki <em>deadline</em>, ada peluang besar dari <em>later </em>menjadi <em>never</em>.</p>



<p>Menyadari hal ini, Penulis pun mencoba melakukan metode sederhana yang sedang berusaha diterapkan di kesehariannya. Metode tersebut adalah <strong>&#8220;Aturan 5 Menit&#8221;</strong>, di mana jika sebuah pekerjaan bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari 5 menit, kerjakan sekarang juga. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/dialog-masyarakat-pada-obrolan-sukab-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/dialog-masyarakat-pada-obrolan-sukab-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/dialog-masyarakat-pada-obrolan-sukab-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/dialog-masyarakat-pada-obrolan-sukab-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/dialog-masyarakat-pada-obrolan-sukab-banner.jpg 1280w " alt="Dialog Masyarakat Pada Obrolan Sukab" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/dialog-masyarakat-pada-obrolan-sukab/">Dialog Masyarakat Pada Obrolan Sukab</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Contoh Aplikasi Aturan 5 Menit</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Jangan Tunda Kalau Cuma Butuh Sebentar Melakukannya (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-carrying-stacked-books-4107106/">cottonbro studio</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebelum menulis artikel ini, Penulis mencoba menerapkan metode ini agar tulisan ini terasa lebih nyata. Ada beberapa aktivitas yang Penulis lakukan di mana beberapa di antaranya sudah diniati sejak lama, tapi belum dikerjakan. Berikut daftarnya:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Mengisi ulang botol Cleo di ruang tamu</li>



<li>Merapikan tas-tas yang menumpuk dan berserakan dekat kasur</li>



<li>Menggantung <em>sweater </em>dan celana <em>training </em>di atas kasur</li>



<li>Mengubah posisi lampu LED di kamar (karena terbalik)</li>



<li>Membersihkan sarang laba-laba dekat meja kerja (<em>suprisingly </em>ada laba-laba betina beserta anak-anaknya)  </li>



<li>Membersihkan sarang laba-laba dekat televisi (ada banyak bangkai semut yang mati)</li>
</ul>



<p>Semua aktivitas tersebut jika waktu mengerjakannya digabung, tidak sampai 15 menit untuk selesai. Akan tetapi, waktu menundanya sudah berminggu-minggu atau lebih parahnya lagi berbulan-bulan. Padahal, tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.</p>



<p>Bagi orang yang suka menunda seperti Penulis, <strong>di pikirannya selalu ada kata nanti</strong>. Ah, nanti aja dikerjakan. Ah, nanti aja diselesaikan. Ah, nanti aja dipikir. Pada akhirnya, &#8220;nanti&#8221; ini pun menjadi sesuatu yang tidak pernah dikerjakan dan akhirnya dilupakan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">&#8220;Tidak ada nanti&#8221;</mark></p>
</blockquote>



<p>Mengutip perkataan Shikamaru Nara di atas (manga <em>Naruto Chapter 325</em>) ketika ia berhadapan dengan Hidan, Penulis juga berusaha menghilangkan kata &#8220;nanti&#8221; dalam kesehariannya. Jika bisa dikerjakan sekarang, kerjakan sekarang. </p>



<p>Ketika sudah berkomitmen untuk menerapkannya, Penulis jadi <strong>lebih jarang untuk menunda-nunda pekerjaan</strong> terutama yang remeh (tentu terkadang masih <em>ndableg</em>). Alhasil, <strong>jadi lebih banyak pekerjaan yang terselesaikan</strong>.</p>



<p>Ada banyak hal sehari-hari yang hanya butuh kurang dari 5 menit untuk menyelesaikannya. Membersihkan tempat tidur, merapikan kabel <em>charger</em> setelah digunakan, cuci piring selesai makan, mengembalikan buku setelah selesai membaca, masih banyak lagi lainnya. Bisa dilihat kalau metode ini juga bisa digunakan untuk<a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/"> </a>melatih disiplin diri. </p>



<p>Ketika bekerja pun, metode ini sangat membantu. Penulis terbiasa melakukan <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-3-time-blocking/">time block</a> </em>secara bulat, sehingga selalu ingin mengakhiri jam kerja di waktu bulan seperti jam 12 siang atau setidaknya 12:30. Rasanya sangat tidak enak jika berhenti kerja di jam 12:14, misalnya.</p>



<p>Nah, katakan jam 11:52 Penulis sudah menyelesaikan pekerjaan utamanya yang memakan waktu banyak, Penulis akan mencari pekerjaan-pekerjaan ringan yang bisa selesai dalam waktu singkat sembari menunggu jam 12:00. </p>



<p>Pekerjaan ringan di tempat kerja, walau ringan, bisa menumpuk juga dan membuat Penulis merasa <em>overwhelming</em>. Alhasil, pekerjaan yang ringan pun bisa menjadi penghambat untuk menyelesaikan pekerjaan yang lebih berat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Sisi Buruk Aturan 5 Menit untuk Orang yang Mudah Terdistraksi</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8475" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kuncinya FOCUS (via <a href="https://www.youtube.com/watch?v=Ur7aK4FvK-U&amp;list=RDUr7aK4FvK-U&amp;start_radio=1">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p>Ada satu <em>loop hole </em>dari metode ini. Terkadang, karena ada <em>mindset </em>untuk segera mengerjakan pekerjaan-pekerjaan remeh,<strong> pekerjaan utama yang harusnya menjadi fokus utama justru jadi terpinggirkan</strong>. Ini sangat mudah terjadi ke orang yang mudah terdistraksi seperti Penulis.</p>



<p>Misal Penulis sedang membuat satu artikel di tempat kerja. Ketika ingin <em>upload </em>gambar, Penulis jadi melihat <em>file-file </em>di komputernya yang belum dirapikan. Penulis pun membuat folder baru untuk memisahkan <em>file-file </em>tersebut berdasarkan tanggalnya.</p>



<p>Setelah itu, Penulis jadi teringat belum melengkapi <em>to-do list </em>kantor untuk disetor. Karena cuma butuh waktu sebentar, Penulis pun jadi menyelesaikan hal tersebut terlebih dahulu. Ketika selesai, Penulis ingat belum cek surel redaksi, sehingga Penulis membuka Outlook dulu.</p>



<p>Bisa dilihat hanya karena satu distraksi kecil, pekerjaan menulis yang menjadi fokus utama pun jadi terpinggirkan. Alokasi waktu yang harusnya untuk menyelesaikan tulisan jadi digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan lain yang secara <em>deadline </em>lebih longgar.</p>



<p>Lantas, bagaimana cara mengatasinya? <strong><em>Time block </em>menjadi pilihan utama Penulis</strong>. Jika sudah mengalokasikan waktu untuk menulis, maka tidak boleh ada pekerjaan lain yang dikerjakan sampai pekerjaan utama selesai (kecuali ada yang <em>urgent</em>).</p>



<p>Untuk pekerjaan-pekerjaan kecil yang hanya butuh waktu sebentar, Penulis bisa<strong> mencatatnya dulu di catatan </strong>agar tidak terlupa. Kalau bisa, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/">di catatan fisik yang selalu terlihat mata</a>. Kalau mencatatnya di ponsel, kemungkinan untuk melupakannya akan lebih besar.</p>



<p>Memang terdengar kontradiksi karena pada akhirnya pekerjaan &lt;5 menit tersebut ditunda juga. Namun, <strong>skala prioritas juga menjadi sesuatu yang tidak boleh diabaikan</strong>. Kita harus tahu mana pekerjaan yang diutamakan, bukan hanya dari durasi untuk menyelesaikannya.</p>



<p>Sejauh ini, Penulis merasakan manfaat dari penerapan metode ini dalam kesehariannya. Sekarang yang menjadi PR adalah bagaimana konsisten melakukannya. Tidak ada nanti.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 9 Desember 2025, terinspirasi dari dirinya yang sedang berusaha untuk menghilangkan kebiasaan menunda-nunda</p>



<p>Featured Image Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/gray-double-bell-clock-1037993/">Moose Photos</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/">Productivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Sep 2025 15:22:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8409</guid>

					<description><![CDATA[<p>Siapa yang tidak ingin bahagia? Penulis rasa sudah fitrahnya manusia untuk merasa bahagia selama dia hidup. Walaupun definisi bahagia orang bisa berbeda-beda, sudah sewajarnya manusia mengejar kebahagiaan. Jika disuruh mendeskripsikan apa itu bahagia, jujur Penulis sedikit kebingungan mendefinisikan versi Penulis. Mungkin karena tidak memahami apa makna dari kebahagiaan inilah Penulis jadi jarang merasa bahagia. Karena [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/">Memahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Siapa yang tidak ingin bahagia? Penulis rasa sudah fitrahnya manusia untuk merasa bahagia selama dia hidup. Walaupun definisi bahagia orang bisa berbeda-beda, sudah sewajarnya manusia mengejar kebahagiaan.</p>



<p>Jika disuruh mendeskripsikan apa itu bahagia, jujur Penulis sedikit kebingungan mendefinisikan versi Penulis. Mungkin karena tidak memahami apa makna dari kebahagiaan inilah Penulis jadi <a href="https://whathefan.com/olahraga/kunci-bahagia-jangan-jadi-fans-manchester-united/">jarang merasa bahagia</a>.</p>



<p>Karena merasa kesulitan mendefinisikan kebahagiaan, Penulis mencoba untuk berpikir sebaliknya. Bagaimana jika kita mencari apa yang membuat kita tidak bahagia, karena lebih mudah untuk diidentifikasi? </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/the-future-of-marvel-cinematic-universe-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/the-future-of-marvel-cinematic-universe-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/the-future-of-marvel-cinematic-universe-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/the-future-of-marvel-cinematic-universe-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/01/the-future-of-marvel-cinematic-universe-banner.jpg 1280w " alt="The Future of Marvel Cinematic Universe" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/the-future-of-marvel-cinematic-universe/">The Future of Marvel Cinematic Universe</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Memahami Apa Penyebab Ketidakbahagiaan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8412" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kita Lebih Mudah Tidak Bahagia daripada Bahagia (<a href="https://www.pexels.com/photo/woman-leaning-at-the-table-3209117/">Engin Akyurt</a>)</figcaption></figure>



<p>Tentu banyak hal yang bisa membuat kita tidak bahagia. Namun, jika dirumuskan dalam satu kalimat, Penulis meyakini kalau ketidakbahagiaan muncul ketika <strong>gambaran ideal yang ada di kepala tidak menjadi kenyataan</strong>.</p>



<p>Misalnya begini. Bagi Penulis, secara ideal Penulis harus bisa bangun pagi yang dilanjutkan dengan lari pagi. Setelah itu, mandi pagi, menulis artikel blog, baru mulai bekerja. Jika semua rangkaian tersebut tidak terlaksana, Penulis merasa gagal, dan akhirnya tidak bahagia</p>



<p>Contoh lain, bagi Penulis penghasilan yang ideal adalah 20 juta rupiah per bulan. Namun, hingga saat ini Penulis belum bisa mencapai nominal tersebut. Karena tidak sesuai dengan gambaran idealnya, Penulis pun jadi merasa tidak bahagia.</p>



<p>Sekarang Penulis mengambil contoh gambaran ideal ke orang lain. Misal kita punya gambaran ideal tentang pasangan di kepala: perhatian, peka, pendengar yang baik, loyal. Nah, ketika mendapatkan pasangan yang tidak sesuai dengan gambaran ideal tersebut, kita tidak bahagia.</p>



<p>Dengan kata lain, kita harus <strong>pandai-pandai mengelola ekspektasi yang ada di kepala kita</strong>, entah itu ekspektasi ke diri sendiri maupun ke orang lain. Tentu bukan berarti kita jadi punya target yang rendah dalam hidup, tapi lebih bisa menerima jika target tersebut belum bisa dicapai.</p>



<p>Sejujurnya karena tulisan ini lama ditunda, Penulis lupa di mana menemukan konsep di atas. Kemungkinan besar dari buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/">Filsafat Kebahagiaan</a></em>, tapi Penulis tak bisa memastikan. Jadi, anggap saja benar.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bersyukur Setiap Kali Mengeluh</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8414" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Selalu Cari Apa yang Bisa Disyukuri (<a href="https://www.pexels.com/photo/crop-faceless-sportswoman-showing-namaste-gesture-4498156/">Kaboompics.com</a>)</figcaption></figure>



<p>Dalam buku <em>Effortless </em>karya Greg McKeown yang sedang dibaca, Penulis menemukan satu konsep yang menarik. Dalam salah satu babnya, kita diajak<strong> membiasakan diri untuk mensyukuri sesuatu setiap kali kita mengeluh</strong>.</p>



<p>Kalau Penulis tarik, ini bisa Penulis kaitkan dengan bahasan kebahagiaan dan ketidakbahagiaan di tulisan ini. Keluhan identik dengan ketidakbahagiaan, sedangkan rasa syukur identik dengan kebahagiaan.</p>



<p>Misal begini, kita mengeluhkan betapa banyaknya kerjaan yang terasa tidak masuk akal untuk kita kerjakan sendiri. Alhasil kita jadi merasa tidak bahagia, karena menurut gambaran ideal kita, seharusnya kita tidak mengerjakan tugas sebanyak itu.</p>



<p>Nah, begitu terbesit keluhan tersebut, coba kita cari satu hal saja yang bisa disyukuri tentang pekerjaan tersebut. Setidaknya, kita masih punya pekerjaan di tengah badai PHK di banyak tempat dan kondisi ekonomi seperti ini. </p>



<p>Contoh lain, kita merasa sebal karena pasangan kita kurang pengertian dan kurang peka. Dari keluhan tersebut, coba cari hal yang bisa disyukuri darinya. Oh, walau dia gitu, tapi dia setia banget dan selalu mau membantu di kala kita kesusahan.</p>



<p>Kalau mengingat hal-hal yang bisa disyukuri, gambaran ideal di kepala pun akan menyesuaikan diri. Dengan demikian, kita akan mencocokkan realita dengan bayangan ideal kita, sehingga kita bisa merasa bahagia.</p>



<p>Jadi, jika disimpulkan, maka kebahagiaan adalah ketika <strong>kita bisa mengelola gambaran ideal yang ada di kepala kita</strong>. Kebahagiaan adalah ketika <strong>kita bisa mengelola ekspektasi kita dengan baik</strong>. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-lupa-bahagia/">Jangan lupa bahagia</a>!</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 17 September 2025, terinspirasi karena merasa dirinya perlu mendefinisikan ulang mengenai apa itu kebahagiaan</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-woman-wearing-white-shirt-2701660/">Jorge Fakhouri Filho</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/">Memahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2025 14:35:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[mulai]]></category>
		<category><![CDATA[perfeksionis]]></category>
		<category><![CDATA[sempurna]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8399</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak dulu, Penulis merasa dirinya adalah seorang perfeksionis parah. Segala sesuatu harus sesuai dengan standarnya. Bahkan, tak jarang kalau Penulis baru akan memulai sesuatu jika merasa itu sudah sempurna. Tak hanya itu, Penulis kerap menanti waktu terbaik untuk memulainya agar sempurna seperti yang ada di bayangannya. Alhasil, karena menunggu kesempurnaan itu, Penulis justru tidak memulai-mulainya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/">Jangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sejak dulu, Penulis merasa dirinya adalah seorang perfeksionis parah. Segala sesuatu harus sesuai dengan standarnya. Bahkan, tak jarang kalau Penulis baru akan memulai sesuatu jika merasa itu sudah sempurna.</p>



<p>Tak hanya itu, Penulis kerap menanti waktu terbaik untuk memulainya agar sempurna seperti yang ada di bayangannya. Alhasil, karena menunggu kesempurnaan itu, Penulis justru tidak memulai-mulainya. </p>



<p>Nah, saat ini Penulis sedang membaca buku <em>Effortless</em> karya Greg McKeown. Salah satu poin yang tertera di buku tersebut adalah <strong>Dimulai</strong>. Intinya kita harus melakukan satu aksi pertama yang nyata, yang benar-benar kita lakukan. Itulah yang ingin Penulis bahas kali ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/review-setelah-menonton-oppenheimer-banner-300x169.webp" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/review-setelah-menonton-oppenheimer-banner-300x169.webp 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/review-setelah-menonton-oppenheimer-banner-1024x576.webp 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/review-setelah-menonton-oppenheimer-banner-768x432.webp 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/review-setelah-menonton-oppenheimer-banner.webp 1280w " alt="[REVIEW] Setelah Menonton Oppenheimer" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-oppenheimer/">[REVIEW] Setelah Menonton Oppenheimer</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Menengok Ketidaksempurnaan Mangaka Populer</h2>



<p>Dibandingkan menonton anime, Penulis lebih suka membaca komik karena membutuhkan durasi yang lebih singkat. Menariknya, dari sekian banyak komik yang pernah dibaca, Penulis menemukan satu kesamaan: <strong>tidak semua mangaka langsung bisa menggambar dengan bagus</strong>.</p>



<p>Contoh yang paling terkenal kasus ini adalah <strong>Hajime Isayama</strong>, mangaka <em>Attack on Titan.</em> Banyak orang yang membandingkan bagaimana &#8220;mentahnya&#8221; gambar di awal-awal jika dibandingkan dengan <em>chapter-chapter </em>yang paling baru.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8402" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Evolusi Gambar Attack on Titan (<a href="https://www.reddit.com/r/ShingekiNoKyojin/comments/139l83o/isayamas_artstyles_evolution_through_the_years/">Reddit</a>)</figcaption></figure>



<p>Tak hanya Isayama, Penulis juga merasa ada evolusi dari gambar Masashi Kishimoto (<em><a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-naruto-bind-up-edition/">Naruto</a></em>), <a href="https://whathefan.com/animekomik/terima-kasih-akira-toriyama-selamat-jalan/">Akira Toriyama</a> (<em><a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-dragon-ball-super/">Dragon Ball</a></em>), Eiichiro Oda (<em><a href="https://whathefan.com/animekomik/alasan-saya-tidak-suka-one-piece/">One Piece</a></em>), dan masih banyak lagi. Biasanya, <em>chapter-chapter </em>awal para mangaka tersebut masih mencari formula terbaik untuk komiknya.</p>



<p>Tentu ada standar minimum agar karya mereka bisa lolos dari editor. Namun, tetap saja jika dibandingkan dengan <em>chapter-chapter </em>terbaru dari komik tersebut, kita bisa melihat perubahan ke arah yang lebih baik.</p>



<p>Tak hanya komik, Webtoon pun memiliki pola yang sama. Dari beberapa judul favorit Penulis seperti <em>Ngopi Yuk!</em>,<em> <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/">Kosan 95</a></em>, <em>Si Ocong</em>, sampai <em>Tahilalat</em> pun juga tak langsung sempurna. Mereka tak menanti sempurna, yang penting mulai dulu aja.</p>



<p>Bahkan blog ini pun bisa dibilang juga memiliki pola yang sama. Ketika Penulis membaca tulisan-tulisan awal yang terbit di tahun 2018, Penulis merasa malu sendiri karena kualitasnya jelek dan banyak kesalahan penulisan yang mendasar.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mulai Dulu Aja</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8403" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Mulai Aja Dulu (<a href="https://www.pexels.com/photo/women-s-wearing-purple-floral-brassiere-holding-gray-concrete-pathway-during-day-time-42400/">JÉSHOOTS</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis menyadari bahwa perfeksionisme justru bisa menjadi benalu yang menghambat perkembangan diri. Menanti sesuatu yang tak akan pernah datang, seperti kesempurnaan, hanya akan berakhir dengan buruk.</p>



<p>Dari buku <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/"><em>Atomic Habits </em>karya James Clear</a>, Penulis belajar bahwa untuk memulai sesuatu, <strong>mulailah dari yang kecil terlebih dahulu</strong>. Bangun lima menit lebih awal, menulis satu paragraf, membaca satu halaman, mengubah satu baris CV, adalah beberapa contohnya. <strong>Jangan dibuat ribet, buat sesederhana mungkin</strong>.</p>



<p>Misal Penulis ingin mengejar lagi cita-citanya untuk bekerja di luar negeri. Tidak perlu muluk-muluk harus <em>apply </em>10 perusahaan dalam sehari. Penulis bisa memulai dengan memeriksa CV lamanya untuk mengecek apakah sudah layak atau belum.</p>



<p>Contoh lain adalah ketika Penulis ingin memiliki keseharian yang lebih sehat dan teratur. Maklum, bekerja dari rumah (WFH) selama hampir lima tahun membuat Penulis cukup kesulitan untuk mendisiplinkan diri. </p>



<p>Jadi, harus ada langkah-langkah kecil yang nyatan dan harus diambil untuk memperbaiki hal tersebut. Penulis memutuskan untuk merutinkan jalan kaki ke masjid setiap waktu sholat tiba, yang membuat Penulis jadi lebih disiplin waktu dibandingkan sebelumnya.</p>



<p>Kembalinya blog ini juga buah dari <em>mulai aja dulu</em>. Penulis dulu merasa perfeksionis dengan merasa nulis blog itu harus ada <em>time block</em>-nya sendiri, di pagi hari sebelum jam bekerja. Alhasil, blog pun jadi terbengkalai selama berbulan-bulan.</p>



<p>Penulis pun coba mengubah <em>mindset</em>-nya, yang penting nulis hari ini. Tidak sampai tayang pun tidak apa, yang penting mulai nulis dulu aja. Menariknya, setiap memulai menulis, pada akhirnya tulisan tersebut bisa tuntas hingga tayang.</p>



<p>Lantas, gimana kalau ketika kita misalnya ingin membangun rutinitas harian, tapi sering <em>miss</em>-nya? Ya, tidak apa-apa. <strong>Jangan mengejar kesempurnaan</strong> harus melakukan rutinitas tersebut selama 7 hari dalam seminggu. </p>



<p>Dibandingkan mengejar <em>streak</em>, yang penting ada berusaha agar setiap harinya bisa melakukan rutinitas tersebut. Kalau masih bolong-bolong pun tidak apa-apa. Akan tetapi, kalau bisa memang jangan bolong terlalu panjang, nanti malah berhenti total.</p>



<p>Untuk memudahkan, setiap kepikiran ingin melakukan sesuatu, langsung pikirkan apa yang harus dilakukan pertama kali. Nantinya, langkah-langkah selanjutnya akan mengikuti dengan sendirinya. Sekadar mencatat pun sudah cukup, yang penting ada aksi nyata yang dilakukan.</p>



<p>Hal lain yang tak kalah penting adalah <strong>jangan suka</strong> <strong>menunda-nunda</strong>. Ini adalah kebiasaan buruk Penulis yang sering dilakukan. Akibatnya, banyak hal jadi terlupakan begitu saja tanpa pernah direalisasikan. Ide-ide tulisan blog misalnya, yang keburu usang karena sudah lupa apa yang ingin ditulis.</p>



<p>Satu hal lain yang cukup fatal adalah Penulis merupakan tipe yang kalau <strong>satu tidak dilakukan, maka semua tidak dilakukan</strong>. Ini adalah puncak dari masalah yang ditimbulkan oleh sifat perfeksionisme, yang sering <em>all or nothing</em>.</p>



<p>Padahal, jika ada satu hal yang tidak sesuai rencana, masih ada banyak hal lain yang bisa diperjuangkan untuk diselesaikan. Jangan hanya karena satu hal membuat berantakan semuanya. Lebih baik kita fokus dengan apa yang masih bisa diselesaikan. </p>



<p>Sebagai orang yang sangat perfeksionis, belakangan ini <strong>Penulis berusaha berdamai dengan ketidaksempurnaan</strong>. Tidak semuanya harus sempurna sesuai dengan keinginan kita. Jika bisa melakukannya, mungkin kita akan bisa melakukan apa yang dulu kita anggap mustahil.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>16 September 2025, terinspirasi setelah menyadari bahwa kita tak perlu menunggu sempurna untuk memulai sesuatu</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-in-white-long-sleeve-shirt-holding-pink-and-white-floral-textile-6932014/">Mikhail Nilov</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/">Jangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Selama Bangun, Mata Kita Terus Terpapar Layar</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/selama-bangun-mata-kita-terus-terpapar-layar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/selama-bangun-mata-kita-terus-terpapar-layar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Oct 2024 15:43:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[gadget]]></category>
		<category><![CDATA[gawai]]></category>
		<category><![CDATA[layar]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[monitor]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7948</guid>

					<description><![CDATA[<p>Coba ingat-ingat aktivitas kita dalam sehari-hari mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi di malam hari. Seberapa banyak aktivitas yang melibatkan layar di perangkat elektronik, baik dari ponsel, laptop, hingga televisi? Penulis sendiri baru-baru ini menyadari bahwa dirinya hampir terpapar layar selama dirinya beraktivitas, mengingat pekerjaan dan hobi menulis Penulis sama-sama menuntut dirinya untuk selalu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/selama-bangun-mata-kita-terus-terpapar-layar/">Selama Bangun, Mata Kita Terus Terpapar Layar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Coba ingat-ingat aktivitas kita dalam sehari-hari mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi di malam hari. Seberapa banyak aktivitas yang melibatkan layar di perangkat elektronik, baik dari ponsel, laptop, hingga televisi? </p>



<p>Penulis sendiri baru-baru ini menyadari bahwa dirinya hampir terpapar layar selama dirinya beraktivitas, mengingat pekerjaan dan hobi menulis Penulis sama-sama menuntut dirinya untuk selalu berada di hadapan layar.</p>



<p>Pada tulisan kali ini, Penulis ini melakukan interopeksi diri mengenai betapa panjangnya durasi dalam satu hari yang dihabiskan untuk menatap layar elektronik yang sejatinya memancarkan <em>blue light</em>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/aku-ingin-pulang-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/aku-ingin-pulang-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/aku-ingin-pulang-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/aku-ingin-pulang-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/aku-ingin-pulang-banner.jpg 1280w " alt="Aku Ingin Pulang" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sajak/aku-ingin-pulang/">Aku Ingin Pulang</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Penulis Menghabiskan Sebagian Besar Waktunya di Depan Layar</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-7955" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-1-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Hari-Hari Lihat Layar (<a href="https://www.st.lukes.org/an-addition-to-your-daily-social-media-scroll/">St. Luke&#8217;s</a>)</p>
</div></div>



<p>Penulis akan berbagai dari pengalamannya sendiri (di hari kerja) untuk menjelaskan bagaimana kita sangat sering terpapar layar sejak dari bangun tidur. Penulis tidak akan menggunakan contoh &#8220;rutinitas yang ideal,&#8221; melainkan menggunakan contoh keseharian yang sering dilakukan.</p>



<p>Pagi hari di saat waktu Shubuh, Penulis akan terbangun karena alarm ponsel dan tablet. Setelah menunaikan ibadah sholat, Penulis akan <strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/">kembali rebahan dan mengecek ponsel</a></strong>. Terkadang Penulis <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/">membaca buku</a> dulu, tapi lebih sering mengecek ponsel.</p>



<p>Seringnya, Penulis akan tertidur lagi sekitar 1-2 jam setelah bangun pagi. Penulis baru akan terbangun lagi menjelang <em>morning concall </em>dan <em>brainstorm </em>yang dilakukan setiap pagi jam 9. Kalau lagi malas, <strong>Penulis akan rapat di atas kasur, bisa menggunakan tablet maupun laptop</strong>.</p>



<p>Biasanya rapat pagi ini berlangsung sekitar 1 jam. Setelah itu, Penulis akan <strong>sarapan yang sering dilakukan sambil menonton YouTube</strong>. Selesai sarapan (Penulis sarapan cukup siang), Penulis akan kembali bekerja dan berhenti menjelang Dhuhur untuk mandi, rawat diri, dan sholat Dhuhur.</p>



<p>Antara waktu Dhuhur dan Maghrib adalah<strong> waktu utama Penulis untuk bekerja di depan PC</strong>. Karena <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/">memasang larangan untuk mengecek media sosial</a> atau bermain <em>game</em> di jam kerja, Penulis biasanya beristirahat sambil membaca buku, tidur sejenak, atau sekadar bermain dengan kucing.</p>



<p>Masuk jam istirahat di malam hari, biasanya Penulis habiskan dengan <strong>cek media sosial ataupun menonton YouTube </strong>di televisi ruang keluarga bersama ibu. Makan malam pun seringnya dilakukan sambil menonton televisi.</p>



<p>Jam 9 ke atas, biasanya Penulis kembali masuk ke kamar dan <strong>mulai menulis artikel blog di depan laptop</strong>. Setelah selesai, Penulis bisa <strong>kembali cek media sosial atau bermain <em>game</em> di tablet</strong>. Tak jarang juga Penulis <strong>menonton YouTube di televisi kamar </strong>sebelum akhirnya tidur.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Cara Mengurangi Durasi Melihat Layar</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-7954" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-2-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/selalu-melihat-monitor-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Buku Menjadi &#8220;Pelarian&#8221; yang Baik (<a href="https://www.pexels.com/photo/woman-reading-a-book-beside-the-window-1031588/">Rahul Shah</a>)</p>
</div></div>



<p>Dari cerita di atas, bisa dilihat kalau hampir seluruh kegiatan Penulis di hari kerja dilakukan dengan melihat layar, entah itu ponsel, tablet, laptop, maupun PC. Mau serius, mau santai, semua berkaitan dengan layar.</p>



<p>Bisa dibilang, hanya ada lima aktivitas yang tidak melibatkan layar sama sekali, yakni ketika <strong>sholat</strong>, <strong>membaca buku</strong>, <strong>bermain kucing</strong>, <strong>mandi</strong>, dan <strong>tidur</strong>. Ini menunjukkan bahwa betapa tergantungnya Penulis terhadap perangkat-perangkat elektronik untuk menjalani kesehariannya.</p>



<p>Penulis merasa kalau ini bukan gaya hidup yang sehat. Meskipun pekerjaannya menuntut untuk sering melihat layar, Penulis harusnya bisa mengimbanginya dengan aktivitas-aktivitas lain yang tidak membutuhkan layar.</p>



<p><strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Membaca buku</a> </strong>jelas menjadi opsi yang paling menyenangkan bagi Penulis. Buku bisa menjadi jeda sejenak dari layar sekaligus sebagai penambah wawasan bagi dirinya. Namun, &#8220;daya&#8221; baca Penulis sudah tidak seperti dulu. Mentok-mentok satu jam sudah lelah, kecuali sedang membaca novel yang seru.</p>



<p>Selain itu,<strong> olahraga <em>outdoor</em> seperti lari pagi juga bisa menjadi aktivitas yang sehat</strong>. Dulu Penulis cukup rutin melakukannya, bahkan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya/">bisa menyebuhkan insomnia yang dideritanya</a>. Namun, belakangan ini entah mengapa rasanya sangat berat untuk melakukannya.</p>



<p><strong>Mencari hobi <em>offline</em> yang tidak membutuhkan layar </strong>juga bisa menjadi alternatif. Contoh yang paling gampang tentu saja bermain <em>board game</em> seperti yang sering Penulis lakukan di akhir pekan bersama <em>circle</em>-nya. Tidak hanya bermain, Penulis juga bisa mengobrol dengan teman-temannya.</p>



<p>Hobi <em>offline </em>lain yang bisa menyita waktu kita adalah<strong> </strong><a href="https://whathefan.com/renungan/filosofi-merakit-gundam/">merakit <em>model kit</em> seperti Gundam</a>, LEGO, dan sejenisnya. Masih ada banyak hobi <em>offline</em> lainnya yang bisa dilakukan, seperti berkebun, futsal, memancing, memasak, menggambar, main musik, dan lainnya. </p>



<p>Penulis juga ingin <strong>mengurangi kebiasaan makan sambil nonton YouTube</strong>. Walau kesannya <em>multitasking</em>, aktivitas makan sebenarnya bisa menjadi jeda yang baik. Apalagi, sudah seharusnya kita fokus dengan makanan yang ada di hadapan kita dan bersyukur masih bisa menikmatinya.</p>



<p><strong>Kegiatan lain yang perlu dikurangi adalah bermain media sosial</strong>. Aktivitas yang satu ini telah terbukti sebagai penyedot waktu terbesar. Walau sudah membatasi diri sekitar 1-2 jam per hari, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/smartphone-adalah-distraksi-terberat-untuk-produktivitas/">Penulis merasa itu masih terlalu banyak dan bisa dikurangi lagi agar lebih produktif</a>. </p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Mungkin karena kebetulan saja pekerjaan Penulis menuntut dirinya untuk melihat layar seharian. Apalagi, Penulis masih <em>work from home </em>sampai sekarang. Jadi, tulisan ini bisa jadi tidak <em>related </em>kepada orang-orang yang pekerjaannya tidak selalu mengharuskan mereka untuk melihat layar.</p>



<p>Namun, bagi para Pembaca yang juga menjalani rutinitas seperti Penulis, semoga saja tulisan ini bisa membantu menyadarkan betapa seringnya mata kita terpapar layar elektronik dan mulai mencari alternatif aktivitas lain yang lebih sehat.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 1 Oktober 2024, terinspirasi setelah menyadari bahwa dirinya hampir selalu menatap layar monitor dalam banyak bentuk</p>



<p>Sumber Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/blackskined-man-using-smart-phones-and-ipads-9783835/">Ron Lach</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/selama-bangun-mata-kita-terus-terpapar-layar/">Selama Bangun, Mata Kita Terus Terpapar Layar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/selama-bangun-mata-kita-terus-terpapar-layar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Catatan yang Selalu Terlihat oleh Mata</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Aug 2024 16:40:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[catatan]]></category>
		<category><![CDATA[lupa]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7736</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis merasa kalau dirinya adalah orang yang pelupa. Bukan tipe yang lupa tanggal ulang tahun seseorang, lebih ke pelupa untuk task apa yang harus diselesaikan. Jika task tersebut tidak dicatat, biasanya akan mudah terlupa begitu saja. Untuk mengatasi hal ini, Penulis berupaya untuk mengatasinya dengan memanfaatkan aplikasi Microsoft To-Do List yang ter-install di PC maupun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/">Pentingnya Catatan yang Selalu Terlihat oleh Mata</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis merasa kalau dirinya adalah orang yang pelupa. Bukan tipe yang lupa tanggal ulang tahun seseorang, lebih ke pelupa untuk <em>task </em>apa yang harus diselesaikan. Jika <em>task </em>tersebut tidak dicatat, biasanya akan mudah terlupa begitu saja. </p>



<p>Untuk mengatasi hal ini, Penulis berupaya untuk mengatasinya dengan memanfaatkan aplikasi Microsoft To-Do List yang ter-<em>install </em>di PC maupun ponselnya. Namun, sudah menggunakan ini pun terkadang Penulis lupa untuk mengeceknya!</p>



<p>Penulis berusaha untuk mencari solusi lain. Lantas, Penulis teringat akan isi buku <em>Atomic Habit </em>di mana salah satu cara untuk membuat kebiasaan bisa terbentuk adalah dengan membuatnya mudah terlihat. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/manchester-united-vs-barcelona-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/manchester-united-vs-barcelona-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/manchester-united-vs-barcelona-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/manchester-united-vs-barcelona-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/manchester-united-vs-barcelona.jpg 1280w " alt="&#8220;Ini Mah Setting-an UEFA&#8221;" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/ini-mah-setting-an-uefa/">&#8220;Ini Mah Setting-an UEFA&#8221;</a></div></div></div><p></p>


<p>Oleh karena itu, Penulis akhirnya memutuskan untuk menulis catatan yang selalu terlihat di depan mata. Bukan di gawai yang Penulis miliki, tapi benar-benar di buku catatan fisik dan ditulis secara manual pula.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Masih Perlu Catatan Fisik?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-7738" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-1536x864.jpg 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043131-2048x1152.jpg 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Penulis sudah menyinggung kalau dirinya telah mencoba menggunakan aplikasi Microsoft To-Do List untuk mencatat berbagai <em>task </em>agar tidak lupa dikerjakan. Apalagi, aplikasi tersebut dilengkapi dengan fitur <em>reminder </em>untuk membantu mengingatkan kita.</p>



<p>Untuk pekerjaan-pekerjaan rutin, hal ini memang sangat membantu. Namun, ada yang tidak bisa di-<em>cover</em> oleh aplikasi ini setidaknya untuk Penulis:<strong> hal-hal yang muncul secara spontan</strong> <strong>dan tidak terencana</strong>. </p>



<p>Contohnya di sini adalah mencatat apa yang perlu dibahas untuk rapat besok. Mungkin <em>task </em>rapat di pagi hari bisa dimasukkan ke dalam aplikasi To-Do List, tapi isinya terkadang muncul secara tiba-tiba saat sedang mengerjakan <em>task </em>lain.</p>



<p><em>Lalu, mengapa tidak ditambahkan saja catatannya ke dalam aplikasi To-Do List?</em> Jawabannya adalah kembali lagi karena Penulis pelupa, Penulis kemungkinan besar akan lupa untuk mengeceknya! Akibatnya, hal tersebut pun jadi lupa untuk dibahas ketika rapat.</p>



<p>Penulis juga sempat berusaha menggunakan aplikasi Google Keep. Namun, masalahnya tetap sama,<strong> aplikasi ini tidak selalu langsung terlihat </strong>sehingga Penulis sering lupa untuk mengeceknya, bahkan ketika sudah memasang <em>reminder</em>.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis membutuhkan sebuah media yang akan 24 jam terlihat oleh mata. <strong>Buku catatan fisik</strong>, yang mungkin sudah terasa <em>old school</em>, akhirnya menjadi pilihan utama. Buku catatan ini akan terus berada di atas meja kerja Penulis dan selalu terbuka saat jam kerja.</p>



<p>Berhubung Penulis punya hobi menulis manual, kegiatan mencatat ini Penulis buat semenarik mungkin dengan menambahkan batas dengan berbagai warna beserta tanggal yang ditulis menggunakan huruf latin. Hobi yang aneh memang untuk seorang laki-laki.</p>



<p>Memang ada kekurangannya mencatat secara manual seperti ini, seperti <strong>catatan yang telah dituliskan akan sulit untuk ditelusuri dan diarsipkan</strong>. Namun, buku catatan ini<strong> </strong>memang Penulis gunakan untuk sesuatu yang bersifat spontan dan berjangka pendek.</p>



<p>Setiap pagi, Penulis akan membaca buku catatan ini untuk memastikan tidak ada <em>task </em>atau poin yang harus diselesaikan. Meskipun terkadang masih <em>miss</em>, Penulis merasa metode ini berhasil meminimalisirnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Tidak Menggunakan Medium Lain?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043142-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7745" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043142-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043142-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043142-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/1000043142.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Sebenarnya, Penulis memiliki tablet yang telah dilengkapi dengan <em>stylus </em>karena pada dasarnya Penulis memang masih suka menulis secara manual, yang juga menjadi salah satu alasan mengapa Penulis membeli tablet tersebut.</p>



<p>Namun, makin ke sini, <em>stylus </em>tersebut makin jarang digunakan. Seandainya menulis di tablet pun, pada akhirnya <strong>catatan tersebut akan tenggelam begitu saja</strong> dan kerap lupa untuk mengeceknya kembali.</p>



<p>Selain itu, layar tablet akan mengunci secara otomatis jika lama tidak digunakan, sama seperti ponsel. Jika menyalakannya terus seharian dan menonaktifkan mode <em>auto-lock-</em>nya, tentu akan membuat baterainya cepat habis. </p>



<p>Dengan demikian, seandainya Penulis membuat catatan di tablet sebagai pengingat, tentu tidak efektif karena <strong>harus berkali-kali menyalakan tablet</strong>. Apalagi, tablet ini juga kerap Penulis gunakan sebagai layar kedua</p>



<p>Penulis sempat mengandalkan Sticky Notes sebagai pengingat. Selain bisa ditempel di mana-mana, Sticky Notes kerap berwarna cerah sehingga akan mencuri perhatian kita saat akan bekerja. Tentu ini jadi pengingat yang mudah kita <em>notice</em>, bukan?</p>



<p>Sayangnya, Sticky Notes pun bagi Penulis kurang efektif. Pertama, <strong>Sticky Notes harus ditempel di suatu tempat</strong>. Kamar Penulis yang sudah penuh dengan barang jelas tidak memiliki tempat kosong untuk hal tersebut.</p>



<p>Kedua, <strong>Sticky Notes yang sudah dipasang sulit untuk di-<em>edit</em></strong>. Padahal, Penulis suka menambahkan catatan tambahan menggunakan tinta merah yang biasanya berfungsi sebagai penanda kalau <em>task </em>tersebut sudah diselesaikan atau sudah dibahas dalam rapat.</p>



<p>Ketiga,<strong> Sticky Notes bisa berceceran ke mana-mana jika sudah terlalu banyak</strong>. Padahal, setiap hari ada cukup banyak hal yang perlu Penulis catat secara manual. Penulis tidak bisa membayangkan bagaimana rupa kamarnya jika menempel terlalu banyak Sticky Notes.</p>



<p>Berdasarkan pengalaman tersebut, Penulis memutuskan untuk memanfaatkan buku catatan dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Penulis menganggap kalau buku catatan ini adalah otak kedua Penulis dalam bentuk fisik.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 26 Agustus 2024, terinspirasi setelah menyadari betapa pentingnya catatan yang harus selalu terlihat</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/person-holding-orange-pen-1925536/">lil artsy</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/">Pentingnya Catatan yang Selalu Terlihat oleh Mata</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Saya Hilangkan Kebiasaan Buruk Dikit-Dikit Cek HP</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Jul 2024 16:12:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[distraksi]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[smartphone]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7637</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang suwung atau menganggur, apa yang akan Pembaca lakukan pertama kali? Kalau Penulis, satu hal yang sangat mungkin dilakukan adalah mengecek ponselnya, entah untuk mengecek pesan WhatsApp yang masuk ataupun scrolling media sosial. Parahnya lagi, Penulis kerap berganti-ganti platform ketika sudah cek HP. Bosan buka Instagram, pindah ke X. Bosan di X, pindah ke [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/">Cara Saya Hilangkan Kebiasaan Buruk Dikit-Dikit Cek HP</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang <em>suwung </em>atau menganggur, apa yang akan Pembaca lakukan pertama kali? Kalau Penulis, satu hal yang sangat mungkin dilakukan adalah <strong>mengecek ponselnya</strong>, entah untuk mengecek pesan WhatsApp yang masuk ataupun <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/"><em>scrolling </em>media sosial</a>.</p>



<p>Parahnya lagi, Penulis kerap berganti-ganti platform ketika sudah cek HP. Bosan buka Instagram, pindah ke X. Bosan di X, pindah ke YouTube. Bosan di YouTube, pindah ke Pinterest. Begitu terus hingga screentime ponsel Penulis menjadi berjam-jam.</p>



<p>Penulis sebenarnya menyadari kalau sedikit-sedikit mengecek ponsel merupakan kebiasaan yang buruk karena seolah-olah otak ini tidak boleh diberi jeda sedikit pun dari konsumsi-konsumsi konten. Otak (dan organ tubuh lainnya) ini seolah tidak boleh istirahat. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-menulis-blog-banner.jpg 1280w " alt="Mengapa Makin ke Sini Makin Jarang Nulis Blog?" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-nulis-blog/">Mengapa Makin ke Sini Makin Jarang Nulis Blog?</a></div></div></div><p></p>


<p>Padahal, jeda sejenak dari segala kegiatan dan konsumsi konten bagus untuk otak. Membiarkan pikiran mengembara atau merenung terkadang menjadi sesuatu yang kita butuhkan di tengah berbagai tuntutan hidup.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis pun berusaha mengurangi ketergantungan dirinya yang sedikit-sedikit mengecek ponsel. Awalnya memang sangat sulit karena sudah menjadi kebiasaan, tapi lama-kelamaan Penulis mulai terbiasa untuk menjauhinya dan menggantinya dengan aktivitas lain.</p>



<p>Pada tulisan kali ini, Penulis ingin berbagi pengalaman dirinya berusaha mengurangi kebiasaan buruk ini untuk bisa meningkatkan produktivitas dirinya. Penulis tidak membuat daftarnya berdasarkan riset mendalam, hanya dari pengalaman pribadinya saja.</p>



<h2 class="wp-block-heading">1. Memberikan Batasan ke Aplikasi</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7684" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Aplikasi Rekomendasi Penulis (<a href="https://www.opal.so/blog/opal-the-1-screen-time-app">Opal</a>)</figcaption></figure>



<p>Hampir semua media sosial menghadirkan konten tak terbatas yang bertujuan untuk membuat kita betah berlama-lama di platform mereka. Akibatnya, kita suka lupa waktu jika sudah bermain media sosial, terutama jika sedang mengonsumsi konten-konten video pendek.</p>



<p>Penulis termasuk yang kesulitan untuk mengerem kebiasaan buruk ini, sehingga membutuhkan bantuan<em> </em>aplikasi. Untungnya, hampir di semua ponsel pintar saat ini telah memiliki fitur untuk membatasi penggunaan aplikasi dalam jangka waktu panjang.</p>



<p>Namun, Penulis merasa aplikasi bawaan tersebut kurang ketat karena bisa kita ubah dengan mudah. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk menggunakan aplikasi yang lebih ketat seperti <strong>AppBlock </strong>dan <strong>Opal</strong>. Jika batas durasinya sudah lewat, maka Oval tersebut akan otomatis memblokir aplikasi tersebut.</p>



<p>Di ponsel, Penulis memberi batasan penggunaan semua media sosial 1,5 jam per hari, mulai dari YouTube, Instagram, X, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">TikTok</a>, hingga <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/threads-the-right-thing-at-the-right-time/">Threads</a>. Durasi 1,5 jam bukan untuk per aplikasi, tapi kombinasi dari semuanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">2. Menjauhkan Ponsel dari Jangkauan</h2>



<p>Cara pertama yang sering Penulis lakukan adalah menjauhkan ponsel sejauh mungkin dari jangkauannya. Biasanya ini Penulis terapkan ketika kerja, di mana Penulis meletakkan ponselnya di tempat yang tidak kelihatan hingga lupa di mana menaruhnya.</p>



<p>Cara ini cukup efektif jika Penulis ingin <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/smartphone-adalah-distraksi-terberat-untuk-produktivitas/">mengurangi distraksi ketika jam kerja</a>, apalagi <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/agar-wfh-tetap-produktif/">Penulis <em>work from home</em></a>. Penulis harus bisa mendisiplinkan diri sendiri karena tidak ada orang lain yang mengawasi. Alhasil, <em>screentime </em>Penulis terutama di jam kerja (9-6) bisa berkurang drastis. </p>



<p>Tidak hanya itu, kita juga bisa mematikan notifikasi ponsel dengan mengubahnya ke Mode Hening atau mengaktifkan fitur Do Not Disturb. Dengan begitu, suara-suara notifikasi yang seolah tak ada habisnya itu bisa diredam dan tidak membuat kita merasa penasaran lagi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">3. Install WhatsApp atau Aplikasi Chat di PC/Laptop</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7685" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Install Aplikasi WhatsApp Dekstop (<a href="https://www.cnet.com/tech/services-and-software/whatsapps-new-desktop-app-for-windows-how-to-download-it-on-your-pc/">CNET</a>)</figcaption></figure>



<p>Salah satu alasan mengapa Penulis suka mengecek ponselnya adalah karena ingin memeriksa apakah ada pesan WhatsApp yang masuk. Oleh karena itu, Penulis memilih untuk meng-<em>install</em> aplikasi WhatsApp versi<em> </em>PC, sehingga dirinya tak perlu lagi mengecek ponsel.</p>



<p>Kebetulan, di tempat kerja Penulis WhatsApp menjadi media utama untuk berkomunikasi, sehingga tidak mungkin Penulis tidak memeriksa WhatsApp. Bahkan, Penulis menggunakan layar kedua menggunakan tablet untuk selalu menampilkan WhatsApp, karena Penulis juga punya kebiasaan buruk sedikit-sedikit cek WhatsApp.</p>



<p>Tidak hanya WhatsApp, semua aplikasi <em>chat </em>yang Penulis gunakan juga Penulis <em>install </em>di PC, mulai dari Skype hingga Discord. Dengan demikian, tidak ada lagi alasan <em>urgent </em>untuk mengecek ponsel di jam kerja.</p>



<h2 class="wp-block-heading">4. Jangan Gunakan Ponsel Sebagai Alarm Pagi</h2>



<p>Selain godaan di kala menganggur dan di jam kerja, salah satu godaan terbesar untuk mengecek ponsel adalah di pagi hari. Penulis punya kebiasaan buruk setelah mematikan alarm, Penulis akan membuka aplikasi media sosial sebentar.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis menyarankan untuk menggunakan alarm konvensional di pagi hari, bukan alarm yang ada di ponsel. Kalau perlu, jauhkan juga ponsel dari jangkauan sebelum tidur. </p>



<p>Selain itu, tentukan jam berapa ponsel boleh mulai dicek, misalnya pukul tujuh pagi setelah <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutinitas pagi telah selesai dituntaskan</a>. Namun, jika boleh jujur, di antara semua poin yang ada di artikel ini, poin inilah yang sampai sekarang masih Penulis sulit terapkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">5. Sibukkan Diri dengan Kegiatan Bermanfaat</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7686" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Baca Buku Favoritmu (<a href="https://www.pexels.com/@adilgkkya/">Adil via Pexels</a>)</figcaption></figure>



<p>Salah satu pemicu kita kerap mengecek ponsel adalah karena <em>suwung</em> atau sedang menganggur, seperti yang sudah Penulis singgung di atas. Oleh karena itu, kita harus kreatif mengisi waktu kosong kita dengan aktivitas lain.</p>



<p>Melakukan hobi adalah salah satu cara yang menyenangkan untuk mengisi waktu luang. Kalau Penulis, biasanya akan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/">membaca buku</a> atau menulis artikel. Kedua aktivitas ini lumayan ampuh bagi Penulis untuk tidak mengecek ponsel.</p>



<p>Di malam hari setelah jam kerja, biasanya Penulis menyempatkan diri untuk menemani ibu menonton televisi. Meskipun bukan kegiatan yang produktif, setidaknya menemani ibu menjadi aktivitas yang bermanfaat sekaligus melepas penat setelah seharian bekerja.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Berselancar di media sosial untuk mencari hiburan bukan hal yang salah. Yang salah adalah jika dilakukan secara berlebihan hingga lupa waktu. Waktu yang kita miliki di dunia ini terbatas, sehingga sayang jika tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya.</p>



<p>Penulis merasa bahwa dirinya sudah terlalu <em>attach </em>dengan ponsel, sehingga muncul kebiasaan sedikit-sedikit ingin mengecek ponsel. Menyadari kekurangan ini, Penulis pun berusaha untuk melakukan tips-tips yang telah disebutkan di atas. </p>



<p>Semoga saja tulisan ini bisa membantu Pembaca yang juga mengalami kesulitan seperti Penulis.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 22 Juli 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau dirinya kerap kali mengecek HP-nya setiap tidak ada aktivitas</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/selective-focus-photography-of-person-using-iphone-x-1542252/">Kerde Severin</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/">Cara Saya Hilangkan Kebiasaan Buruk Dikit-Dikit Cek HP</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Caranya agar Semangat Membaca Buku?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Jun 2024 16:48:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7520</guid>

					<description><![CDATA[<p>Entah saja kapan Penulis membuat persona dirinya sebagai seorang pembaca buku. Mungkin sejak kuliah, ketika dirinya mulai membeli buku-buku sendiri. Ketika sekolah, Penulis memang sudah membaca buku, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak. Hingga hari ini, persona kutu buku masih melekat pada diri Penulis. Selain karena sering membuat artikel ulasan buku yang sudah selesai dibaca, Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/">Bagaimana Caranya agar Semangat Membaca Buku?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Entah saja kapan Penulis membuat persona dirinya sebagai seorang pembaca buku. Mungkin sejak kuliah, ketika dirinya mulai membeli buku-buku sendiri. Ketika sekolah, Penulis memang sudah membaca buku, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak.</p>



<p>Hingga hari ini, persona kutu buku masih melekat pada diri Penulis. Selain karena sering membuat artikel ulasan buku yang sudah selesai dibaca, Penulis memang sering terlihat bersemangat jika topik obrolan bersama teman-teman sudah membahas tentang buku.</p>



<p>Salah satu pertanyaan yang sering diberikan kepada Penulis adalah bagaimana caranya agar suka membaca? Tentu ini pertanyaan yang cukup <em>tricky</em>, karena kebiasaan membaca Penulis sudah dari kecil. Pengaruh ayah yang juga suka membaca bisa <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apa-yang-salah-dengan-privilege/">menjadi <em>privilige</em></a> untuk Penulis.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-30_21-48-57-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-30_21-48-57-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-30_21-48-57-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-30_21-48-57-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-30_21-48-57-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-30_21-48-57.jpg 1280w " alt="Syair Hari Terakhir" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sajak/syair-hari-terakhir/">Syair Hari Terakhir</a></div></div></div><p></p>


<p>Namun, jika dipikir-pikir lagi, sebenarnya ada beberapa cara yang berhasil setidaknya pada diri Penulis. Meskipun suka membaca, ada kalanya Penulis merasa sangat malas untuk membuka buku. Entah ada berapa buku yang akhirnya menumpuk dan tidak pernah dibaca.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #1: Pilih Topik Buku yang Digemari</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7523" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/pile-of-assorted-novel-books-694740/">Min An</a></figcaption></figure>



<p>Tips pertama dan yang paling <em>basic </em>adalah <strong>memilih buku sesuai dengan topik yang digemari</strong>. Kalau sukanya fiksi, ya jangan memaksakan diri untuk membaca buku ekonomi. Yang ada malah merasa mual karena tidak paham sama sekali apa isinya.</p>



<p>Penulis sendiri biasanya punya stok untuk beberapa genre yang diminati, karena kebetulan dirinya punya banyak topik bacaan yang digemari. Jadi, Penulis bisa memilih genre bacaannya sesuai dengan <em>mood</em>-nya saat itu. </p>



<p>Saat ini saja, ada sekitar 12 buku yang Penulis baca bersamaan dari berbagai genre, mulai dari fiksi, sejarah, pengembangan diri, dan lain sebagainya. Penulis tinggal memilih mana yang mau dibaca hari ini, benar-benar tergantung <em>mood</em>-nya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #2: Pilih Buku yang Ringan-Ringan Dulu Saja</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7528" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/unrecognizable-woman-sitting-outdoors-and-reading-book-4963708/">Karolina Kaboompics</a></figcaption></figure>



<p>Selain topik, pemilihan bobot buku juga bisa menentukan semangat kita dalam membaca. Kalau belum terbiasa membaca, tips kedua, usahakan untuk<strong> memilih buku yang ringan-ringan dulu saja</strong>, baik dari segi ketebalan halaman maupun bahasa yang dimiliki.</p>



<p>Kalau mau memulai baca novel, bisa coba baca novel-novel ringan seperti karya <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-janji/">Tere Liye</a> atau <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/setelah-membaca-brianna-dan-bottomwise/">Andrea Hirata</a>. Jangan langsung baca novelnya <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-laut-bercerita/">Leila S. Chudori</a>, nanti <em>shock </em>karena ceritanya yang berat dan <em>dark</em>.</p>



<p>Kalau misal mau membaca buku non-fiksi seperti sejarah, bisa mulai baca buku yang kecil atau tipis dulu. Misal mau baca tentang Perang Dunia II, ya jangan langsung baca buku <em>Perang Eropa</em>-nya P. K. Ojong yang tebal-tebal dan ada sampai tiga jilid.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #3: Mulai dari Sedikit Dulu Saja</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7524" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-person-holding-a-book-2663851/">Enzo Muñoz</a></figcaption></figure>



<p>Tips ketiga, <strong>mulai dari sedikit dulu saja</strong>. Satu hari satu halaman pun tidak masalah, asal konsisten setiap hari. Nanti setelah semakin terbiasa, jumlah halaman atau durasi membaca dalam sehari bisa bertambah secara bertahap.</p>



<p>Agar bisa lebih konsisten, ada baiknya kalau kita memiliki <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-3-time-blocking/">time block</a> </em>untuk menentukan kapan kita membaca. Bisa setelah bangun, istirahat makan siang, atau menjelang tidur. Pilih waktu terbaik dari rutinitas harian kita.</p>



<p>Kebiasaan mikro seperti ini dibahas dalam buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/">Atomic Habits</a> </em>karya James Clear. Tidak apa-apa sedikit, yang penting rutin. Agar bisa dirutinkan, letakkan buku yang ingin dibaca di tempat yang mudah terlihat, jangan ditaruh di rak buku atau tempat tak terlihat lainnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #4: Jangan Paksakan Diri untuk Menghabiskan Buku</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7529" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-a-woman-with-bangs-reading-a-book-while-her-hand-is-on-her-head-7320383/">Karolina Kaboompics</a></figcaption></figure>



<p>Terkadang, ada saja buku yang memang seolah ditakdirkan untuk tidak ditamatkan, dan hal itu sama sekali tidak masalah. Tips keempat, <strong>jangan pernah memaksakan diri untuk menghabiskan buku</strong>. </p>



<p>Mungkin setelah membaca seperempat atau setengah buku, ternyata isinya kurang cocok dengan kita. Tidak menamatkan buku yang sudah dimulai bukanlah sebuah dosa. Daripada dipaksa menyelesaikan tapi isinya tidak masuk, ya untuk apa.</p>



<p>Penulis mungkin punya puluhan buku yang bernasib seperti itu, ditutup sebelum halaman terakhir selesai dibaca. Mungkin suatu saat akan coba dibaca lagi, tapi tidak sekarang. Apalagi, masih ada banyak buku lain yang lebih menarik untuk ditamatkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #5: Pinjam, Jangan Beli</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7525" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/assorted-books-on-shelf-1290141/">Ivo Rainha</a></figcaption></figure>



<p>Tips keempat yang bisa digunakan untuk berhemat adalah <strong>jangan membeli buku</strong>. Lho, kok gitu? Karena dengan perasaan memiliki buku tersebut, kita jadi cenderung berpikir, &#8220;Halah, dibaca nanti saja kalau sudah senggang.&#8221; Akhirnya, malah tidak tersentuh sama sekali.</p>



<p>Kalau belum terbiasa membaca, Penulis menyarankan lebih baik meminjam saja, entah ke teman ataupun perpustakaan. Penulis sendiri sering meminjamkan buku-bukunya ke siapapun yang ingin membaca. </p>



<p>Dengan meminjam, kita jadi memiliki semacam <em>deadline </em>kapan buku tersebut harus dikembalikan kepada pemiliknya. Dengan adanya <em>deadline</em>, kita pun jadi lebih termotivasi untuk segera memulai membaca dan menghabiskannya (opsional)</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #6: Baca dengan Suasana Nyaman</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7527" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-in-yellow-long-sleeve-shirt-lying-on-couch-4866043/">cottonbro studio</a></figcaption></figure>



<p>Tips kelima yang sering Penulis lakukan kepada dirinya sendiri adalah <strong>membuat suasana membaca menjadi senyaman mungkin</strong>. Kalau membacanya <em>pewe</em>, maka kita pun akan betah melakukannya dalam jangka waktu yang panjang, asal jangan malah ketiduran!</p>



<p>Kalau Penulis, seringnya membaca di atas kasur dengan lampu baca dan aroma terapi yang menyala. Alternatif tempat lain untuk membaca adalah duduk di teras, mengingat di teras rumah Penulis ada banyak tanaman sehingga suasananya menjadi sejuk.</p>



<p>Selain itu, mendengarkan lagu ketika membaca juga bisa menambah kenyamanan dalam membaca. <em>Playlist </em>lagu-lagu klasik atau <em>lo-fi </em>sangat cocok sebagai teman membaca. Sebaiknya jangan mendengarkan lagu yang memiliki lirik, khawatirnya jadi susah fokus.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #7: Jauhkan Smartphone</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7526" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/person-holding-amazon-kindle-ebook-844734/">özgür</a></figcaption></figure>



<p>Seperti yang sudah pada tulisan sebelumnya, Penulis memanfaatkan buku untuk menjauhkan dirinya dari media sosial. Percayalah, salah satu faktor yang membuat Penulis malas membaca buku adalah karena adanya distraksi dari <em>smartphone</em>-nya. </p>



<p>Oleh karena itu, tips terakhir, <strong>jauhkan <em>smartphone </em>ketika ingin membaca</strong>. Ketika membaca di kamar, Penulis biasanya menyalakan mode senyapnya dan meletakkannya di meja kerja. Kalau membaca di teras, ya <em>smartphone</em>-nya ditinggal saja di kamar. </p>



<p>Buku bisa menjadi subtitusi yang menarik dari <em>smartphone </em>ketika kita butuh mengisi waktu luang. Bahkan, belakangan Penulis lebih sering membawa buku ke kamar mandi ketika ada panggilan alam dibandingkan membawa <em>smartphone</em>. </p>



<p>Lantas, bagaimana jika kita membaca buku lewat aplikasi di <em>smartphone</em>. Nah, kebetulan Penulis merupakan pembaca konvensional yang tidak suka membaca buku digital. Kalau lebih suka membaca di <em>smartphone</em>, ya yang kuat saja menahan godaan untuk membuka apliaksi lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Kurang lebih seperti itulah tips agar semangat membaca yang telah Penulis terapkan sendiri dalam kehidupannya. Mungkin tidak semua tips cocok untuk Pembaca sekalian, tidak apa- Pilih saja tips yang cocok dengan gaya hidup Pembaca.</p>



<p>Yang jelas, membaca buku hingga saat ini tetap menjadi media favorit Penulis entah untuk hiburan maupun mendapatkan ilmu, meskipun sekarang ada banyak konten di media sosial maupun YouTube yang bisa menghadirkan hal tersebut.</p>



<p>Semoga tips di atas bisa menjadi penyemangat kita untuk bisa lebih banyak membaca buku, ya!</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 25 Juni 2024, terinspirasi setelah menulis artikel <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</a> </em>kemarin</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/books-in-black-wooden-book-shelf-159711/">Pixabay</a> </p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/">Bagaimana Caranya agar Semangat Membaca Buku?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Jun 2024 16:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[baca]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[detox]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7513</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak kecil, Penulis sudah gemar membaca walau jenisnya baru sebatas komik dan ensiklopedia anak. Semakin dewasa, variasi bacaan Penulis pun bertambah, seperti novel, sejarah, pengembangan diri, biografi, hingga filsafat. Namun, ada masa ketika Penulis benar-benar tidak membaca sama sekali. Hobi yang dulu sangat menyenangkan menjadi menjemukan dan terasa berat. Buku-buku yang sudah beli ditumpuk begitu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sejak kecil, Penulis sudah gemar membaca walau jenisnya baru sebatas komik dan ensiklopedia anak. Semakin dewasa, variasi bacaan Penulis pun bertambah, seperti novel, sejarah, pengembangan diri, biografi, hingga filsafat.</p>



<p>Namun, ada masa ketika Penulis benar-benar tidak membaca sama sekali. Hobi yang dulu sangat menyenangkan menjadi menjemukan dan terasa berat. Buku-buku yang sudah beli ditumpuk begitu saja, bahkan beberapa masih dibungkus plastik. </p>



<p>Ketika direnungkan, mungkin salah satu penyebabnya adalah <strong>Penulis terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial</strong>. Konten pendek yang muncul tanpa batas tersebut seolah &#8220;menjebak&#8221; Penulis untuk tidak mengonsumsi konten panjang.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner.jpg 1200w " alt="Musim Baru, Pemain Baru, MU-nya Masih Sama" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/musim-baru-pemain-baru-mu-nya-masih-sama/">Musim Baru, Pemain Baru, MU-nya Masih Sama</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Konten Pendek Membuat Kita Malas Mengonsumsi Konten Panjang</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7516" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Konten Pendek Media Sosial Membuat Kita Lupa Waktu (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-man-in-white-dress-shirt-holding-phone-near-window-859265">Andrea Piacquadio</a>)</figcaption></figure>



<p>Dalam tulisan <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/">Alasan Kenapa “Mindless Scrolling” adalah Pelarian yang Buruk</a></em>, Penulis sudah pernah berpendapat kalau salah satu bahaya dari konten-konten pendek di media sosial adalah <strong>membuat kita tidak tahu kapan harus berhenti</strong>.</p>



<p>Berbeda dengan menonton video panjang di YouTube di mana kita bisa menentukan konten mana yang ingin kita tonton, konten pendek di TikTok, Reels, maupun Shorts selalu menghadirkan konten baru yang tidak kita rencanakan untuk kita tonton. Semua berdasarkan algoritma. </p>



<p>Adanya unsur &#8220;kejutan&#8221; membuat kita mendapatkan dopamin dari sana, sehingga di dalam otak seolah ada <em>mindset </em>untuk terus mencari konten yang akan memberikan kita kebahagiaan. Masalahnya, ini bisa berlangsung selama berjam-jam tanpa disadari.</p>



<p>Penulis sendiri merasa kalau dirinya bisa terjebak berjam-jam jika sudah melakukan <em>scrolling-scrolling </em>di media sosial. Yang rencananya cuma 5 menit bisa bertambah hingga 2 jam. Tentu ini sangat berpengaruh kepada produktivitas sehari-hari.</p>



<p>Permasalahan lain adalah karena otak terbiasa dengan konten pendek yang menyajikan info secara cepat dan singkat, <strong>kita jadi tidak terbiasa (baca: malas) untuk mengonsumsi konten yang lebih panjang dan lengkap</strong>. </p>



<p>Konten panjang yang Penulis maksud di sini bisa berbentuk buku, jurnal, film, dokumenter, serial, dan lain sebagainya. Konten panjang membutuhkan &#8220;dedikasi&#8221; kita untuk menghabiskan beberapa jam (bahkan hari) yang kita miliki untuk menyelesaikannya.</p>



<p>Di sisi lain, konten pendek akan langsung habis secara instan dalam hitungan detik atau menit. Dalam sekejap, kita bisa mendapatkan sesuatu entah itu ilmu ataupun hiburan. Dalam beberapa jam, entah berapa info yang masuk ke dalam otak kita, walau kebanyakan akan langsung terlupakan.</p>



<p>Konten panjang <strong>memiliki batas yang jelas kapan dia akan selesai</strong>. Konten pendek memang cuma berdurasi beberapa detik/menit, tapi konten-konten selanjutnya akan terus bermunculan tanpa habis. Inilah yang berbahaya dari mengonsumsi konten pendek di media sosial.</p>



<p>Mungkin akan ada yang berargumen kalau konten pendek seperti itu akan sangat berguna untuk menghemat waktu, Itu ada benarnya, tapi terkadang kita membutuhkan informasi yang lebih lengkap, bukan yang sepotong-sepotong.</p>



<p>Menurut Penulis, netizen kita sering ribut di internet juga salah satunya adalah kebiasaan ini. Kita jadi merasa paling tahu hanya bermodalkan konten-konten pendek. Padahal, kebijaksanaan tertinggi menurut Socrates adalah mengetahui kalau kita ini tidak tahu apa-apa. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Buku Bisa Menjadi Penyelamat Penulis</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7517" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Membaca Sebagai Sarana untuk Mengurangi Candu Media Sosial (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-reading-a-book-5634667/">Monstera Production</a>)</figcaption></figure>



<p>Biasanya, ketika mulai menyadari bahwa dirinya sudah terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial, Penulis akan melakukan <em>detox</em> untuk sementara waktu. Tidak sampai tidak mengecek media sosialnya, tapi cukup mengurangi durasinya per hari.</p>



<p>Untuk itu, Penulis menggunakan berbagai <strong>aplikasi yang bisa melimitasi penggunaan media sosial</strong>. Ini tentu harus diiringi oleh niat yang kuat, karena godaan untuk mengubah limitasinya sangat besar dan mudah dilakukan. </p>



<p>Penulis benar-benar berusaha untuk mematuhi batasan penggunaan media sosial di gawainya, walau terkadang masih indisipliner. Harusnya, kalau memang sudah <em>limit</em>, ya sudah, jangan diubah batas durasinya, jangan dibuka aplikasi pembatasnya untuk menghapus <em>limit </em>yang sudah dibuat.</p>



<p>Ketika tidak bisa mengecek media sosial (yang sudah menjadi kebiasaan), tentu kita butuh aktivitas lain untuk mengalihkan fokus kita. Jelas setiap orang memiliki preferensi aktivitasnya masing-masing, tapi kalau <strong>Penulis pribadi memilih media buku</strong>, &#8220;kawan lama&#8221; yang sudah menjadi hobi Penulis sejak lama.</p>



<p>Untuk bisa membangkitkan minat bacanya kembali, Penulis memutuskan untuk <strong>membaca buku yang benar-benar menarik minatnya</strong>, bisa buku lama maupun buku baru. Contoh buku yang berhasil membuat Penulis bersemangat membaca adalah <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-keajaiban-toko-kelontong-namiya/">Keajaiban Toko Kelontong Namiya.</a></em></p>



<p>Tidak hanya karya fiksi, Penulis juga memilih buku non-fiksi dengan topik yang menarik minatnya. Contoh, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">Penulis suka sejarah</a>, maka Penulis membeli buku sejarah. Buku sejarah yang sedang dibaca saat ini adalah <em>Sejarah Prancis </em>dan <em>Memahami Jepang.</em></p>



<p>Bahkan, Penulis juga mulai membeli komik lagi seperti ketika masih muda dulu. Contoh, Penulis telah membeli semua komik <em>Dragon Ball Super </em>dari volume 1 sampai 19. Jika sukanya baca komik, ya tidak apa. Aktivitas membaca tidak selalu dikonotasikan belajar, karena membaca juga bisa menjadi sarana hiburan.</p>



<p>Penulis bukan tipe pembaca yang harus menghabiskan satu buku dulu baru berpindah ke buku lain. Saat ini saja, ada belasan buku dengan berbagai genre/topik yang sedang Penulis baca secara bersamaan. Penulis tinggal memilih mau membaca yang mana hari ini, tergantung <em>mood</em>-nya.</p>



<p>Inilah mengapa buku bisa menjadi penyelamat Penulis dari kecanduan konten pendek di media sosial: <strong>Penulis bisa bebas memilih buku apa yang akan dibaca</strong>. Hal ini tidak kita dapatkan dari TikTok, Reels, dan Shorts yang menghadirkan konten sesuai dengan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">algoritma mereka</a>.</p>



<p>Membaca juga menjadi pilihan Penulis karena dirinya memang tidak terlalu suka aktivitas menonton film atau serial. Apalagi, Penulis punya kebiasaan buruk ketika sudah menonton serial yang menarik: tidak bisa berhenti menonton semua episodenya sampau tamat. </p>



<p>Ini terjadi ketika Penulis mulai menonton serial <em>How I Met Your Mother</em>. Bahkan, <em>final season</em>-nya Penulis tamatkan dalam semalam. Karena alasan inilah Penulis menghindari menonton serial, karena percuma jika kecanduan kita di media sosial malah berpindah ke serial. </p>



<p>Kalaupun menonton konten di YouTube, jangan membuka Shorts. Penulis menonton YouTube di TV agar akses ke Shorts menjadi lebih sulit. Alhasil, Penulis pun hanya bisa memilih konten-konten yang berdurasi panjang, entah yang berbobot ataupun yang ringan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis merasa terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial tidak baik untuk dirinya, terutama karena mengganggu produktivitasnya. Untuk itu, ada beberapa hal yang Penulis lakukan, mulai dari membatasi durasi media sosial hingga menghabiskan waktunya lebih banyak untuk membaca.</p>



<p>Membaca buku fisik, setidaknya bagi Penulis, merupakan aktivitas yang bisa membantu Penulis menjauhi media sosial. Penulis bisa memilih buku mana yang akan Penulis baca, tidak seperti konten pendek di media sosial yang tidak bisa kita atur.</p>



<p>Penulis menyadari kalau membaca buku bukan aktivitas favorit banyak orang. Oleh karena itu, mungkin di tulisan berikutnya Penulis akan mencoba berbagai tips agar minat baca itu bisa tumbuh, terutama untuk Pembaca yang juga merasa butuh &#8220;lari&#8221; dari kecanduan konten-konten pendek di media sosial.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 24 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau dirinya mulai bersemangat untuk banyak membaca lagi</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-reading-book-5331072/">Monstera Production</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Terlalu Fokus Investasi Sampai Lupa Mengembangkan Diri Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-fokus-investasi-sampai-lupa-mengembangkan-diri-sendiri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-fokus-investasi-sampai-lupa-mengembangkan-diri-sendiri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Jun 2024 08:39:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[skill]]></category>
		<category><![CDATA[value]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7462</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belakangan ini, tren investasi di kalangan generasi muda semakin naik. Bukan lagi instrumen &#8220;lawas&#8221; seperti emas dan properti, melainkan berbagai instrumen yang menggunakan platform digital seperti reksadana, saham, hinggai cryptocurrency. Di satu sisi, investasi itu menjadi hal yang sangat penting dengan banyak tujuan, entah memutar uang agar menjadi lebih banyak, tabungan masa tua, dan lain [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-fokus-investasi-sampai-lupa-mengembangkan-diri-sendiri/">Terlalu Fokus Investasi Sampai Lupa Mengembangkan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Belakangan ini, tren investasi di kalangan generasi muda semakin naik. Bukan lagi instrumen &#8220;lawas&#8221; seperti emas dan properti, melainkan berbagai instrumen yang menggunakan platform digital seperti reksadana, saham, hinggai <em>cryptocurrency</em>.</p>



<p>Di satu sisi, investasi itu menjadi hal yang sangat penting dengan banyak tujuan, entah memutar uang agar menjadi lebih banyak, tabungan masa tua, dan lain sebagainya. Penulis sendiri telah mencoba beberapa instrumen investasi.</p>



<p>Di sisi lain, banyak yang salah kaprah tentang investasi dan meniatkannya hanya sebagai cara untuk kaya dengan instan. Banyak orang-orang yang hanya FOMO dan ikut-ikutan tanpa benar-benar memahami instrumen yang mereka investasikan. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/ketika-berinvestasi-dengan-uang-panas-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/ketika-berinvestasi-dengan-uang-panas-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/ketika-berinvestasi-dengan-uang-panas-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/ketika-berinvestasi-dengan-uang-panas-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/ketika-berinvestasi-dengan-uang-panas.jpg 1280w " alt="Ketika Berinvestasi dengan Uang Panas" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-berinvestasi-dengan-uang-panas/">Ketika Berinvestasi dengan Uang Panas</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Pengalaman Investasi Penulis</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7471" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Tren Saham META Lima Tahun Terakhir </figcaption></figure>



<p>Penulis ingin berbagi sedikit tentang investasi yang pernah dicoba, meskipun tidak banyak. Cerita ini bukan rekomendasi ataupun anjuran, hanya berbagi pengalaman saja mana yang berhasil cuan mana yang boncos.</p>



<p>Investasi pertama yang pernah Penulis coba adalah<strong> emas digital </strong>menggunakan platform <strong>Tokopedia</strong>. Emas adalah instrumen yang relatif aman, sehingga Penulis berhasil cuan setelah &#8220;menyimpannya&#8221; cukup lama.</p>



<p>Setelah itu, Penulis berusaha merambah ke investasi lain karena merasa pergerakan emas cukup lambat. Ada dua instrumen yang Penulis pilih, yakni <strong>reksadana </strong>dan <strong>saham</strong>. Untuk reksadana Penulis memilih <strong>Bibit</strong>, sedangkan saham memilih <strong>Ajaib</strong>.</p>



<p>Untuk yang belum tahu, secara sederhana beda dari saham dan reksadana adalah jika di saham kita memilih sendiri saham apa yang dibeli dan kapan membelinya, maka di reksadana kita akan menyerahkan dana kita ke manajer investasi untuk dikelola. </p>



<p>Di Bibit, ada tiga jenis reksadana, yakni <strong>Reksadana Pasar Uang</strong>, <strong>Obligasi</strong>, dan <strong>Saham</strong>. Untuk alokasinya, Penulis saat ini membaginya 38% di Pasar Uang, 47% di Obligasi, dan 15% di Saham. Selain Saham yang boncos, dua jenis lainnya berhasil mendatangkan cuan.</p>



<p>Untuk saham di Ajaib, Penulis memiliki empat jenis saham yang semuanya BUMN, yakni <strong>ANTM (Aneka Tambang)</strong>,<strong> PTBA (Bukit Asam)</strong>, <strong>TLKM (Telkom Indonesia)</strong>, dan <strong>WIKA (Wijaya Karya)</strong>. Keempat-empatnya minus hingga ke tahap yang bikin sakit mata.</p>



<p>Selain saham Indonesia, Penulis juga mencoba investasi saham perusahaan luar menggunakan platform <strong>GoTrade</strong>. Ada lima perusahaan yang Penulis miliki sahamnya, yakni <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/kelihaian-apple-dalam-menutupi-kekurangannya/"><strong>Apple</strong></a>, <strong>Advanced Micro Devices (AMD)</strong>, <strong>Google</strong>, <a href="https://whathefan.com/olahraga/daftar-pemain-manchester-united-yang-ingin-saya-jual-musim-depan/"><strong>Manchester United (MU)</strong></a>, dan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/threads-the-right-thing-at-the-right-time/"><strong>Meta (Facebook)</strong>.</a> </p>



<p>Hanya AMD dan MU yang minus karena Penulis membelinya tidak di waktu yang tepat, sedangkan tiga lainnya berhasil mendatangkan cuan. Bahkan, kenaikannya bisa sampai ratusan kali lipat karena Penulis membelinya ketika banyak saham teknologi turun di masa pandemi.</p>



<p>Penulis tidak pernah mencoba <em><strong>cryptocurrency </strong></em>karena beberapa hal alasan, seperti merasa konsep <em>crypto </em>yang wujud barangnya tidak jelas, kenaikan dan penurunan harganya yang tergantung <em>demand</em>, hingga status halal-haramnya yang masih simpang-siur. </p>



<p>Selain itu, Penulis juga pernah mendengar dari temannya yang mencoba Deposito (konsep menabung di bank di mana nasabah tidak boleh mengambil uangnya untuk jangka waktu tertentu), di mana akhirnya ia harus penalti karena harus mengambil uangnya sebelum waktunya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Investasi Bukan Sarana untuk Kaya Instan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-2-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7472" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-2-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-2-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-2-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-2-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kasus Anjloknya Nilai LUNA (<a href="https://www.coolwallet.io/blog/terra-luna-and-ust-crypto-crash-what-happened/">CoolWallet</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis mulai berinvestasi ketika mulai bekerja, tepatnya ketika masa pandemi. Saat itu, tren investasi memang mulai naik dengan narasi &#8220;persiapan masa tua&#8221; dan &#8220;membiarkan uang yang bekerja untuk kita.&#8221; Bisa dibilang, mungkin waktu itu Penulis juga FOMO.</p>



<p>Uang yang Penulis investasikan pun uang dingin alias tabungan, bukan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-berinvestasi-dengan-uang-panas/">uang panas</a>. Jumlah yang Penulis investasikan pun tidak banyak karena niatnya memang bukan untuk cepat kaya, melainkan lebih untuk menabung. Kalau nabung di bank, kan, uangnya tidak bertambah.</p>



<p>Nah, ketika Penulis mengamati tren investasi sekarang terutama di generasi muda, kebanyakan niatnya<strong> memang ingin kaya dengan cepat dan instan</strong>. Hal ini terbukti dari banyaknya jargon bernada seperti &#8220;McLaren lu warna apa, bos?&#8221; yang menunjukkan materialisme.</p>



<p>Teman Penulis ada yang mengikuti kelas investasi seharga 17 juta dari seorang <em>influencer </em>terkenal. Ia mengatakan kalau isi kelas tersebut memang daging dan bermanfaat untuk orang tepat. Saat Penulis tanya berapa persen orang yang tepat tersebut, ia menjawab hanya 5%.</p>



<p>Inilah yang Penulis khawatirkan: <strong>investasi karena FOMO dan ingin kaya secara instan</strong>. Akibatnya, bisa jadi uang yang diinvestasikan tersebut merupakan uang hasil hutang ataupun memanfaatkan pinjaman <em>online</em>, dengan harapan uang yang diputar akan berkembang biak secara cepat.</p>



<p>Mungkin Pembaca masih ingat kasus pembunuhan yang dilakukan masalah UI akibat terlilit hutang hingga 80 juta yang ia gunakan untuk berinvestasi di <em>cryptocurrency</em>. Contoh lain adalah ketika banyak orang kehilangan uang begitu saja ketika nilai LUNA anjlok.</p>



<p>Sampai sekarang, Penulis masih meyakini tidak ada cara instan yang benar untuk menjadi kaya. Kalau kita bukan anak konglomerat, butuh proses yang panjang dan terjal untuk bisa menjadi kaya. <strong>Jangan berharap bisa kaya instan dari investasi</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Investasi Itu Butuh Income</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7473" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">&#8220;McLaren lu warna apa, bos?&#8221; (<a href="https://www.roadandtrack.com/car-culture/a60514821/mclaren-f1-greatest-cars/">Road &amp; Track</a>)</figcaption></figure>



<p>Satu hal lain yang membuat Penulis merasa miris adalah ada beberapa generasi muda yang masih duduk di bangku sekolah atau kuliah merasa ingin fokus ke investasi hingga merasa pendidikan itu tidak penting sama sekali. Bahkan, tak sedikit yang sampai memutuskan untuk berhenti sekolah/kuliah.</p>



<p>Bukan hanya karena masalah pendidikan itu penting, tapi Penulis merasa miris betapa salahnya <em>mindset </em>mereka dengan menjadikan <strong>kekayaan sebagai tujuan utama</strong> <strong>hidup</strong> dan seolah-olah hal lainnya (termasuk pendidikan) menjadi tidak penting. </p>



<p>Selain itu, banyak yang lupa kalau investasi itu butuh dana untuk diinvestasikan. Penulis tadi sudah menyinggung betapa bahayanya jika kita menggunakan uang panas untuk diinvestasikan, apalagi ke instrumen yang risikonya tinggi seperti <em>crypto</em>.</p>



<p>Kecuali kalau kita anak konglomerat yang diam saja dapat uang, mungkin masih bisa. Akan tetapi, tentu hal tersebut hanya terjadi pada sebagian kecil orang. Mayoritas ya harus berjuang dan bekerja dulu untuk bisa mendapatkan dana yang bisa diinvestasikan. Tidak mungkin, kan, mengandalkan uang saku dari orang tua terus?</p>



<p>Oleh karena itu, kita butuh bekerja. Untuk bisa bekerja, kita butuh <em>skill</em> yang bisa didapatkan dari mana saja, tidak hanya dari jalur pendidikan. Nah, inilah yang sering diabaikan oleh generasi muda, di mana mereka <strong>terlalu fokus investasi hingga lupa mengembangkan diri</strong>. </p>



<p>Mereka ingin kaya dengan cepat sampai lupa kalau punya <em>skill </em>untuk meningkatkan <em>value </em>diri itu sangat penting. Mereka ingin kaya secara instan, tapi tidak ada pemasukan dana yang stabil untuk bisa diinvestasikan.</p>



<p><em>Skill </em>tidak hanya didapatkan dari bangku sekolah atau universitas, ada banyak sarana untuk bisa meningkatkan <em>skill</em>, entah dari YouTube, mengikuti kelas <em>online</em>, ikut orang untuk menyerap ilmunya, dan lain sebagainya. Apalagi, sekarang serba mudah dan bisa diakses setiap saat.</p>



<p>Kalau menurut Penulis, cara paling ideal untuk berinvestasi adalah kita<strong> fokus mengembangkan dulu diri kita agar memiliki <em>skill </em>dan <em>value </em>yang tinggi</strong>. Setelah itu, kita bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang layak dan <strong>sebagian dari gaji tersebut bisa kita investasikan</strong>.   </p>



<p>Semua orang ingin menjadi kaya, tapi jangan sampai itu yang menjadi tujuan hidup, melainkan apa yang ingin dilakukan ketika berhasil menjadi kaya. Misal, ingin kaya karena banyak ingin bersedekah dan bermanfaat untuk sekitarnya, bukan untuk pamer McLaren.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Sebagai <em>disclaimer</em>, Penulis tidak melarang siapapun untuk melakukan investasi. Silakan saja, toh uang yang dipakai bukan uang Penulis. Di sini, Penulis hanya ingin saling mengingatkan kalau jangan sampai kita terlalu fokus investasi sampai lupa mengembangkan diri sendiri. </p>



<p>Penulis sendiri sebenarnya belum rutin melakukan investasi setiap bulan karena uangnya kepakai untuk keperluan lain (seperti membeli <em>board game</em>, ehem). Berinvestasi dalam hidup Penulis hanya sebagai <em>compliment </em>saja, bukan menjadi aktivitas utama.</p>



<p>Berinvestasi itu penting, dan Penulis bersyukur di era digital seperti sekarang sangat mudah untuk melakukan investasi. Hanya saja, jangan sampai kita terlalu fokus investasi sampai lupa mengembangkan aset terbesar kita, yaitu diri kita sendiri.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 18 Juni 2024, terinspirasi setelah melihat fenomena di mana banyak orang FOMO investasi sampai lupa mengembangkan skill diri</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://prosper-ifa.co.uk/why-are-fewer-people-investing-in-the-markets/">Prosper Wealth Management</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-fokus-investasi-sampai-lupa-mengembangkan-diri-sendiri/">Terlalu Fokus Investasi Sampai Lupa Mengembangkan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-fokus-investasi-sampai-lupa-mengembangkan-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
