<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kerja Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/kerja/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/kerja/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 Jun 2024 15:45:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>kerja Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/kerja/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menyalahkan Kondisi Terus hingga Lupa Interopeksi Diri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Jun 2024 15:44:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Gen Z]]></category>
		<category><![CDATA[interopeksi]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[skill]]></category>
		<category><![CDATA[value]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7398</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang bermain Instagram, muncul sebuah pos dari akun @doraemon_hari_ini yang menampilkan panel komik di mana Nobita sedang ditanya oleh Pak Guru kenapa Nobita bisa mendapatkan nilai 0. Nobita pun menjawab dengan enteng, &#8220;Kan diberi oleh bapak.&#8221; Penulis lupa panel tersebut berasal dari cerita atau volume berapa, tapi yang jelas panel tersebut berhasil menggelitik Penulis. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/">Menyalahkan Kondisi Terus hingga Lupa Interopeksi Diri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang bermain Instagram, muncul sebuah pos dari akun <a href="https://www.instagram.com/doraemon_hari_ini/?hl=en">@doraemon_hari_ini</a> yang menampilkan panel komik di mana Nobita sedang ditanya oleh Pak Guru kenapa Nobita bisa mendapatkan nilai 0. Nobita pun menjawab dengan enteng, &#8220;Kan diberi oleh bapak.&#8221;</p>



<p>Penulis lupa panel tersebut berasal dari cerita atau volume berapa, tapi yang jelas panel tersebut berhasil menggelitik Penulis. Dalam sudut pandang Nobita, nilai 0-nya adalah karena pemberian orang lain, bukan karena ketidakmampuannya dalam mengerjakan soal.</p>



<p>Nah, hal ini membuat Penulis bertanya-tanya, jangan-jangan selama ini kita juga seperti Nobita yang menyalahkan faktor ekternal (Pak Guru) dan tidak menyadari kesalahan dari faktor internal (ketidakbecusannya mengerjakan soal). Kita menyalahkan kondisi, hingga lupa interopeksi diri.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner.jpg 1280w " alt="Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/kepingan-puzzle-terakhir-untuk-messi-telah-lengkap/">Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">10 Juta Gen Z Menganggur di Usia Produktif</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7404" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Banyak Gen Z yang Menganggur (<a href="https://parentingteensandtweens.com/8-genius-responses-for-when-your-teen-is-being-lazy-and-entitled/">Parenting Teens and Tweens</a>)</figcaption></figure>



<p>Melansir dari berbagai sumber, disebutkan bahwa jumlah Gen Z (generasi kelahiran 1997 – 2012) di Indonesia yang menganggur hampir mencapai 10 juta orang. Jika diperinci berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), mayoritas pengangguran di Indonesia berusia 18 hingga 24 tahun. </p>



<p>Padahal, usia tersebut harusnya menjadi usia-usia produktif untuk bekerja dan berkarya. Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziah, menyebutkan bahwa salah satu faktornya adalah ketidaksesuai keterampilan mereka dengan kebutuhan tenaga kerja.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Pengangguran kita ini terbanyak disumbangkan dari lulusan SMK, anak-anak lulusan SMA, ini terjadi karena adanya <em>miss-match</em>,&#8221; ungkap Ida sebagaimana dilansir dari CNBC.</p>
</blockquote>



<p>Masih dari sumber yang sama, alasan-alasan lain yang menjadi pendukung tingginya pengangguran dari kalangan Gen Z adalah putus asa, disabilitas, kurangnya akses transportasi dan pendidikan, keterbatasan finansial, hingga kewajiban rumah tangga.</p>



<p>Penulis sempat mengira bahwa tingginya jumlah tersebut karena menghitung jumlah Gen Z yang masih menempuh studi. Faktanya, jumlah 10 juta tersebut benar-benar Gen Z yang tidak sedang menjalani studi maupun pelatihan apapun. Benar-benar <em>full </em>menganggur.</p>



<p>Mungkin ini juga ada kaitannya dengan kebanyakan lowongan pekerjaan yang mensyaratkan memiliki gelar sarjana, bahkan untuk pekerjaan yang sebenarnya tidak membutuhkan tingkat pendidikan setinggi itu. Alhasil, lulusan SMA/SMK pun jadi kesulitan mencari pekerjaan dengan ijazah yang mereka miliki.</p>



<p>Di sisi lain, Penulis sendiri sering menemukan konten dari pihak perusahaan. Seperti yang kita tahu, banyak juga yang mensyaratkan maksimal umur 30 tahun. Artinya, mereka pun sebenarnya juga mencari pekerja dari kalangan Gen Z, bukan Milenial seperti Penulis.</p>



<p>Tidak hanya itu, pihak perusahaan pun banyak yang &#8220;curhat&#8221; mengenai susahnya mencari kandidat yang sesuai dengan keinginan mereka. Lowongan ada, calon pekerja ada, tapi tidak ketemu karena banyak hal. Tak heran jika jumlah pengangguran pun menjadi tinggi sekali.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kondisi Memang Susah, tapi Tidak Boleh Menyalahkan Kondisi Terus</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7405" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Yuk, Terus Kembangkan Value Diri (<a href="https://www.ppic.org/blog/students-prepare-for-ap-exams-during-covid-19/teenager-girl-studying-at-home/">PPIC</a>)</figcaption></figure>



<p>Pak Guru yang memberikan soal ujian adalah analogi untuk kondisi yang kita hadapi. Nobita adalah analogi dari diri kita sendiri. Ketika mendapatkan nilai 0, mana yang akan kita salahkan: <strong>soal sulit dari Pak Guru</strong> atau <strong>ketidakmampuan kita dalam mengerjakan soal</strong>?</p>



<p>Jika mampu untuk interopeksi diri, tentu kita akan menyadari kalau kesalahan terdapat pada diri kita yang mungkin kurang rajin belajar, tidak memperhatikan guru ketika menerangkan, dan lain sebagainya. </p>



<p>Dalam filsafat stoik, salah satu kunci utamanya adalah memahami apa yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak. Soal dan penilaian Pak Guru ada di luar kendali kita. Yang ada di kendali kita adalah u<strong>saha kita agar bisa mengerjakan soal dari Pak Guru</strong>.</p>



<p>Itu pun berlaku dalam konteks mencari pekerjaan yang sedang Penulis bahas. Saat kesulitan mencari pekerjaan, tentu lebih mudah untuk menyalahkan kondisi, entah karena persyaratan perusahaan yang tak masuk akal, janji pemerintah untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang tak terealisasi, kalah dengan orang dalam, dan lain sebagainya.</p>



<p>Namun, terkadang kita lupa untuk menengok ke dalam diri sendiri. Jangan-jangan, kesulitan yang kita alami itu karena kitanya sendiri yang <strong>kurang mengembangkan <em>value </em>diri</strong>, baik <em>hard skill </em>maupun <em>soft skill</em>.</p>



<p>Jangan-jangan selama ini kita mendambakan pekerjaan dengan gaji yang layak, tapi dalam keseharian lebih banyak <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/">menghabiskan waktunya untuk rebahan</a> dan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/"><em>scrolling </em>media sosial</a> atau <em>push rank game </em>HP. Waktu yang ada tidak digunakan untuk mengasah kemampuan diri.</p>



<p>Apalagi, saat ini sebenarnya sarana untuk mengembangkan diri banyak tersedia dan bisa diakses secara gratis di media sosial, YouTube, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/artikel-pada-tulisan-ini-dibuat-menggunakan-ai-chatgpt/">bahkan AI sekalipun</a>. Coba pilih bidang yang diminati agar tidak malas dan merasa bersemangat ketika mempelajarinya.</p>



<p>Sebagai contoh, <a href="https://whathefan.com/pengalaman/salah-jurusan-sampai-lulus/">Penulis yang lulusan IT</a> pun jadi harus mengembangkan dirinya sebagai Editor dan SEO Specialist secara otodidak. Akhir-akhir ini Penulis juga banyak melakukan eksplorasi terhadap dunia AI yang tampaknya akan menjadi masa depan dunia kerja.</p>



<p>Yang tidak kalah penting dari <em>hard skill </em>adalah <em>soft skill</em>. Percuma saja jika memiliki <em>hard</em> <em>skill</em>, tapi <em>attitude-</em>nya minus, tak mampu berbicara di depan orang banyak dengan lancar, tidak disiplin, kesulitan bersosialiasi dengan orang, dan lain sebagainya. </p>



<p>Sebagai contoh, mungkin kita sering lolos hingga sesi wawancara ketika melamar pekerjaan, tapi tak pernah mendapatkan panggilan selanjutnya. Kalau seperti itu, bisa jadi ada yang salah dari performa kita selama wawancara, sehingga harus ada yang perlu diperbaiki.</p>



<p>Mengembangkan relasi juga tak kalah penting. Jangan hanya ngomel karena kalah dari orang dalam, kita juga harus berusaha menjalin relasi dengan banyak orang. Yakinkan kalau kita memiliki <em>skill </em>yang mereka butuhkan, sehingga mereka bisa menjadi &#8220;orang dalam&#8221; untuk kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Memang ada banyak sekali faktor yang memengaruhi mengapa kita kesulitan mendapatkan pekerjaan. Namun, menurut Penulis alangkah baiknya jika kita fokuskan diri kepada apa yang bisa kita kendalikan, yakni diri kita sendiri.</p>



<p>Menyalahkan kondisi terus-menerus tidak akan membantu apa-apa. Yang ada malah membuat hati jengkel dan gelisah terus. Tentu sayang tenaga dan pikiran dibuang untuk melakukan hal tersebut, sampai tak lagi tersisa untuk mengembangkan diri sendiri.</p>



<p>Apalagi di era teknologi seperti ini, sarana untuk mengembangkan <em>skill </em>sangat tersedia di berbagai platform. Mumpung masih muda, coba saja eksplorasi semuanya hingga menemukan mana yang paling membuat kita bersemangat. Asah terus <em>skill </em>untuk meningkatkan <em>value </em>diri sehingga kita punya nilai lebih di dunia kerja.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 11 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari bahwa kita sebagai manusia kerap menyalahkan kondisi di luar, tapi lupa untuk melihat ke dalam</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.instagram.com/p/C7TJ7PYN8wB/">Doraemon Hari Ini</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20240520180812-4-539841/10-juta-gen-z-nganggur-menaker-ida-beberkan-sumber-masalah-utama">10 Juta Gen Z Nganggur, Menaker Ida Beberkan Sumber Masalah Utama (cnbcindonesia.com)</a></li>



<li><a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20240604144503-4-543728/di-depan-sri-mulyani-dpr-angkat-isu-10-juta-gen-z-nganggur">Di Depan Sri Mulyani, DPR Angkat Isu 10 Juta Gen Z Nganggur (cnbcindonesia.com)</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/">Menyalahkan Kondisi Terus hingga Lupa Interopeksi Diri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dear Gen Z, Saingan Kerja Kalian Nanti Bukan Manusia, tapi AI</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/dear-gen-z-saingan-kerja-kalian-nanti-bukan-manusia-tapi-ai/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/dear-gen-z-saingan-kerja-kalian-nanti-bukan-manusia-tapi-ai/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Nov 2023 00:05:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[ancaman]]></category>
		<category><![CDATA[Gen Z]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6976</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan Artificial Intelligence (AI) begitu masif hingga ke tahap yang menakutkan. Banyak orang menyuarakan ketakutan bagaimana AI bisa menggantikan peran manusia di berbagai bidang pekerjaan. Salah satu contohnya adalah bagaimana Writers Guild of America (WGA) dan The Screen Actors Guild-American Federation of Television and Radio Artists (SAG-AFTRA) melakukan aksi mogok karena, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dear-gen-z-saingan-kerja-kalian-nanti-bukan-manusia-tapi-ai/">Dear Gen Z, Saingan Kerja Kalian Nanti Bukan Manusia, tapi AI</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan <em>Artificial Intelligence </em>(AI) begitu masif hingga ke tahap yang menakutkan. Banyak orang menyuarakan ketakutan bagaimana AI bisa menggantikan peran manusia di berbagai bidang pekerjaan.</p>



<p>Salah satu contohnya adalah bagaimana Writers Guild of America (WGA) dan The Screen Actors Guild-American Federation of Television and Radio Artists (SAG-AFTRA) melakukan aksi mogok karena, salah satu alasannya, menentang adanya AI ini di tempat kerja mereka.</p>



<p>Jika menengok ke situs <a href="https://www.insidr.ai/">https://www.insidr.ai/</a>, ada begitu banyak <em>tools </em>AI yang bisa digunakan untuk mempermudah dan mempercepat pekerjaan, sehingga kebutuhan <em>manpower </em>di sebuah perusahaan bisa dikurangi untuk memangkas biaya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner.jpg 1280w " alt="Siapa yang Akhirnya Menang?" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/siapa-yang-akhirnya-menang/">Siapa yang Akhirnya Menang?</a></div></div></div><p></p>


<p>Pertanyaannya, sebagai generasi yang akan langsung berhadapan dengan AI, <strong>apakah para Gen Z sudah siap untuk bersaing? </strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Baru Mau Kerja, Langsung Lawan AI</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-0-1-1024x683.png" alt="" class="wp-image-6982" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-0-1-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-0-1-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-0-1-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-0-1.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gen Z Sedang Berpacu Melawan AI (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.pearsonaccelerated.com%2Fblog%2Fgen-z-more-likely-to-go-to-college.html&amp;psig=AOvVaw2i3sWiJM6d6DuhkmIaKRG3&amp;ust=1701302268208000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;opi=89978449&amp;ved=0CAUQjB1qFwoTCOCmnJb054IDFQAAAAAdAAAAABAE">Pearson Accelerated Pathways</a>)</figcaption></figure>



<p>Jika mengacu pada pendapat Jean Twenge, Gen Z adalah generasi yang lahir antara tahun <strong>1995 hingga 2012</strong>. Sedangkan menurut Pew Research Center, <em>range </em>tahun lahir Gen Z adalah antara tahun <strong>1997 hingga 2012</strong>.</p>



<p>Berdasarkan tahun lahir tersebut, tentu Gen Z yang lahir di tahun 90-an kemungkinan besar sudah merasakan bagaimana persaingan di dunia kerja. Untuk yang lahir di tahun 2000 ke atas, mayoritas baru kerja atau baru lulus dari bangku kuliah.</p>



<p>Nah, apesnya, mereka masuk ke dunia kerja di saat AI sedang <em>booming</em>. Pekerjaan yang dulunya terlihat aman dan tak akan tergantikan oleh mesin nyatanya bisa saja digantikan. Dari bidang Penulis saja, pekerjaan menulis dan mendesain sudah bisa dikerjakan oleh AI.</p>



<p>Artinya, para Gen Z terutama yang lahir di tahun 2000 ke atas harus menghadapi kenyataan kalau <strong>saingan mereka di dunia kerja bukan hanya manusia, tapi juga harus melawan AI</strong>. Persaingan kerja yang aslinya sudah ketat menjadi jauh lebih ketat lagi.</p>



<p>Para bos perusahaan tentu mempertimbangkan untuk menggunakan AI jika memang terbukti lebih cepat dan murah. Bayangkan jika manusia membutuhkan 1 jam untuk menulis satu artikel pendek, mungkin AI hanya butuh sekian menit atau bahkan detik saja.</p>



<p>Untuk urusan akting saja sudah ada wacana untuk menggunakan AI, sehingga SAG-AFTRA melakukan aksi mogok yang dampaknya begitu luar biasa. Menurut World Economic Forum, tahun 2025 diprediksi akan ada <strong>85 juta pekerjaan yang akan berpotensi diganti oleh AI</strong>. </p>



<p>Bahkan sebelum AI ini ramai seperti sekarang, banyak bidang pekerjaan yang telah digantikan oleh mesin. Contoh yang paling mudah adalah pegawai gerbang tol yang diganti Gardu Tol Otomatis (GTO) dan mesin <em>order </em>otomatis di restoran cepat saji.</p>



<p>Penulis belum mendalami secara menyeluruh bidang apa saja yang sangat berpotensi untuk digantikan AI. Namun, contoh yang Penulis sebutkan membuktikan kalau tidak ada bidang yang benar-benar aman untuk digantikan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Lawan AI, Kita Harus Apa?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="586" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-1-1-1024x586.jpg" alt="" class="wp-image-6983" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-1-1-1024x586.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-1-1-300x172.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-1-1-768x440.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-1-1.jpg 1170w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Bagaimana Cara Melawan AI? (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.cumanagement.com%2Farticles%2F2018%2F09%2Fhumans-versus-ai&amp;psig=AOvVaw0uENBnzhyArJRaCDgqbd-n&amp;ust=1701302644131000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;opi=89978449&amp;ved=0CAUQjB1qFwoTCNjOh7D054IDFQAAAAAdAAAAABAE">CU Management</a>)</figcaption></figure>



<p>Pada tulisan <em> <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/mario-savio-dan-pidatonya-akan-bahaya-mesin-ai/">Mario Savio dan Pidatonya akan Bahaya Mesin (AI)</a></em>, Penulis sudah menuliskan bahwa salah satu cara untuk bisa <em>survive </em>dari persaingan kerja melawan AI ini adalah dengan <strong>terus mengasah <em>skill </em>kita</strong>, terutama yang sekiranya tidak tergantikan oleh AI.</p>



<p>Bisa dibilang, hingga saat ini manusia masih unggul untuk masalah <strong>kreativitas </strong>dan <strong>imajinasi</strong>. AI masih terasa terbatas untuk kedua hal tersebut, meskipun tidak menutup kemungkinan beberapa tahun lagi mereka bisa menyusul kemampuan kita.</p>



<p>Perlu dicatat kalau AI yang ada sekarang baru permulaan saja. Di masa depan, akan terus hadir AI-AI yang lebih canggih. Bahkan, sudah ada istilah <strong>Artificial General Intellegence (AGI) </strong>yang berusaha meniru konsep berpikir manusia serealistis mungkin. Terdengar seram, bukan?</p>



<p>Kabar baiknya, kemunculan AI kemungkinan besar juga akan melahirkan ladang pekerjaan baru. Masih menurut World Economic Forum, diproyeksikan akan ada <strong>93 juta lapangan pekerjaan baru yang tercipta karena kemunculan AI</strong>.</p>



<p>Lho, bukannya tadi katanya kita harus bersaing dengan AI? Iya, itu benar, untuk pekerjaan-pekerjaan yang bisa diotomatisasi dengan AI. Namun, jangan lupa kalau AI masih membutuhkan orang untuk mengoperasikannya.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Iya, AI Masih Butuh Manusia untuk Dioperasikan.</strong></h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-2-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-6979" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-2-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-2-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-2-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/gen-z-vs-ai-2.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ilustrasi Pekerjaan Seorang AI Prompter (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fgenerativeai.pub%2Fai-prompter-a-new-nicheai-job-in-the-market-8f01729e0798&amp;psig=AOvVaw0O4wTt_0W30kKWQPF8TGXo&amp;ust=1701302301429000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;opi=89978449&amp;ved=0CAUQjB1qFwoTCLiIg4_z54IDFQAAAAAdAAAAABAJ">Generative AI</a>)</figcaption></figure>



<p>Secanggih-canggihnya <em>tools </em>AI, mereka belum bisa mengoperasikan dirinya sendiri. Bahkan, <a href="http://autoblogging.ai">autoblogging.ai</a> yang mampu menghasilkan artikel berkualitas saja masih butuh manusia untuk memasukkan <em>prompt </em>atau perintah agar bisa <em>generate </em>tulisan.</p>



<p>Secanggih-canggihnya <em>tools </em>untuk membuat gambar tertentu, mereka belum bisa membuat gambar berdasarkan imajinasinya sendiri. Mereka membutuhkan imajinasi manusia untuk bisa menghasilkan gambar yang telah diperintahkan.</p>



<p>Oleh karena itu, selain terus melakukan <em>upgrade </em>diri dengan mempelajari <em>skill-skill </em>tertentu, kita juga harus bisa <strong>beradaptasi dengan cara belajar untuk menguasai <em>tools-tools </em>AI tersebut.</strong> Istilah kerennya adalah <strong>AI Prompter</strong>.</p>



<p>Secara sederhananya, AI Prompter<strong> bertanggung jawab untuk menuliskan sebuah perintah AI agar bisa memberikan hasil terbaik secara spesifik</strong>. Untuk bisa menguasainya, dibutuhkan beberapa <em>basic skill </em>seperti kemampuan menulis dan analitikal. </p>



<p>Selain AI Prompter tentu masih banyak ladang pekerjaan di seputar AI. Hanya saja, Penulis belum benar-benar memahaminya, sehingga tidak memasukkannya di tulisan ini. Yang jelas, AI bisa menjadi ancaman sekaligus peluang untuk kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Bisa menguasai AI, termasuk menjadi seorang AI Prompter, adalah bentuk adaptasi kita sebagai manusia atas perubahan zaman. Kita harus bisa menerima kenyataan untuk hidup berdampingan dengan AI. </p>



<p>Menolak kehadiran AI sama dengan bagaimana <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-larangan-berjualan-di-tiktok-shop/">pedagang di Tanah Abang menolak TikTok Shop</a> dan ojek pangkalan menolak kemunculan ojek <em>online</em>. Kemunculan AI adalah disrupsi di berbagai bidang industri yang tak terhindarkan. </p>



<p>Maka dari itu, pilihan yang kita miliki sekarang adalah menyerah dengan keberadaan AI atau justru membalikkan keadaan dengan berusaha menguasai AI. <strong>Kita harus bisa memanfaatkan AI</strong> agar tidak terlindas zaman begitu saja. </p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.linkedin.com/pulse/humans-vs-ai-lost-battle-navin-sabharwal">LinkedIn</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.pewresearch.org/short-reads/2019/01/17/where-millennials-end-and-generation-z-begins/">Where Millennials end and Generation Z begins | Pew Research Center</a></li>



<li><a href="https://findweb3.com/posts/how-many-jobs-will-ai-replace?gclid=CjwKCAiAvJarBhA1EiwAGgZl0M4tEe-6nujVNydip-bMgsFxhEWdlFtWThzBGGDJC-ZeiBHh2ld7EhoCJTUQAvD_BwE">How Many Jobs Will AI Replace: 85 Million by 2025 (findweb3.com)</a></li>



<li><a href="https://www.forbes.com/sites/forbestechcouncil/2022/06/28/as-ai-advances-will-human-workers-disappear/?sh=4f0a54095e68">As AI Advances, Will Human Workers Disappear? (forbes.com)</a></li>



<li><a href="https://generativeai.pub/ai-prompter-a-new-nicheai-job-in-the-market-8f01729e0798">‘AI Prompter’ A New Niche AI job in the market | by My Manifestation Guru | Generative AI</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dear-gen-z-saingan-kerja-kalian-nanti-bukan-manusia-tapi-ai/">Dear Gen Z, Saingan Kerja Kalian Nanti Bukan Manusia, tapi AI</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/dear-gen-z-saingan-kerja-kalian-nanti-bukan-manusia-tapi-ai/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kerja Secukupnya atau Kasih Value Lebih?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Oct 2022 16:07:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[fenomena]]></category>
		<category><![CDATA[kantor]]></category>
		<category><![CDATA[karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pegawai]]></category>
		<category><![CDATA[quiet quitting]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6029</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang berselancar di YouTube Shorts, tiba-tiba Penulis menemukan sebuah video dari Raymond Chin yang sedang menjelaskan quiet quitting yang katanya tengah menjadi tren di kalangan Gen Z. Singkatnya, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan karyawan yang bekerja setengah-setengah karena sebenarnya ingin resign. Hanya saja, ada kondisi yang membuat hal tersebut tidak mungkin dilakukan. Dengan kata [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih/">Kerja Secukupnya atau Kasih Value Lebih?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang berselancar di YouTube Shorts, tiba-tiba Penulis menemukan sebuah <a href="https://www.youtube.com/shorts/yqrL1UqsBTk">video dari Raymond Chin</a> yang sedang menjelaskan <em><strong>quiet quitting</strong></em> yang katanya tengah menjadi tren di kalangan Gen Z. </p>



<p>Singkatnya, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan <strong>karyawan yang bekerja setengah-setengah karena sebenarnya ingin <em>resign</em></strong>. Hanya saja, ada kondisi yang membuat hal tersebut tidak mungkin dilakukan. Dengan kata lain, kerja setengah hati.</p>



<p>Mereka hanya melakukan kewajiban mereka dan datang-pulang kantor tepat waktu. Dari sisi karyawan, mungkin ini adalah hal yang baik karena mereka jadi punya <em>work-life balance </em>yang baik dan punya waktu untuk kehidupan pribadi mereka.</p>





<p>Hanya saja, Raymond berpendapat bahwa hal tersebut kurang bagus untuk <em>personal growth </em>kita. Bahkan Raymond memberikan saran agar lebih baik kita mencari tempat baru yang membuat kita bisa bekerja sepenuh hati, bukan setengah-setengah. </p>



<p>Nah, ketika mampir ke kolom komentar, hampir semuanya kontra dengan pendapat Raymond tersebut. Dari yang Penulis baca, dapat disimpulkan bahwa mereka berpendapat ya memang sudah seharusnya karyawan cukup untuk bekerja sesuai dengan <em>jobdesk</em>-nya saja.</p>



<p>Penulis pun jadi terpikirkan untuk menuliskan pendapat pribadinya mengenai fenomena ini. Apakah kita memang perlu bekerja secukupnya saja, atau memberikan <em>value </em>lebih telah menjadi kewajiban untuk bisa bersaing di dunia kerja yang makin keras?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pengalaman Pribadi Penulis</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6033" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Persaingan Kerja Makin Keras, Kita Harus Punya Value Lebih? (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/person-writing-on-a-notebook-beside-macbook-1766604/">Judit Peter</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis akan mencoba beropini lewat pengalaman pribadinya terlebih dahulu. Hingga saat ini, secara formal Penulis telah bekerja di dua tempat. Dua-duanya, Penulis sering memberikan lebih dari <em>jobdesk </em>awalnya.</p>



<p><a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/">Di tempat pertama, ketika masih menjadi <em>content writer</em></a>, Penulis dengan sukarela mengajukan diri untuk menjadi admin Instagram perusahaan. Di tempat kedua, Penulis yang seorang editor seolah merangkap sebagai <em>data analyst </em>dan <em>SEO specialist </em>kecil-kecilan.</p>



<p><strong>Kok mau diperbudak sama korporat? </strong>Padahal kan kalau kerjaan tambahannya tidak dilakukan, gajinya juga sama saja? Iya, memang kelihatannya seperti itu. Penulis seolah terlihat bodoh karena mau saja &#8220;dikerjai&#8221; oleh perusahaan.</p>



<p>Namun, Penulis melihatnya dari sisi lain. Bagi Penulis, hal tersebut adalah kesempatan <strong>untuk bisa mengembangkan diri sendiri dengan menambah <em>skill-skill </em>baru</strong>. Apalagi, Penulis juga jadi punya &#8220;wadah&#8221; untuk mempraktekkan ilmu-ilmu yang didapatkan.</p>



<p>Bagi Penulis pribadi, mendapatkan pekerjaan yang di luar <em>jobdesk </em>boleh saja dilakukan, <strong>asal kita mendapatkan <em>value </em>lebih dan dilakukan dalam batas wajar</strong>. Kalau kerjaan tambahannya hanya menambah lelah tanpa kita mendapatkan apapun, ya <em>skip</em>.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis pun tidak merasa keberatan jika memang ada <em>jobdesk </em>lain selama itu juga memberikan keuntungan bagi Penulis. Hanya saja, memang perlu diingat kalau kita perlu menarik batas yang tegas sampai sejauh apa kita bekerja di luar <em>jobdesk</em>.</p>



<p>Dengan begitu, baik Penulis maupun perusahaan sama-sama mendapatkan keuntungan. <em>Win-win solution</em>. Penulis dapat ilmu dan <em>skill </em>baru, perusahaan juga mendapatkan benefit dari apa yang Penulis kerjakan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Quiet Quitting Berawal dari Kurangnya Apresiasi Kantor?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6034" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Apakah Perusahaan Sudah Cukup Memberi Apresiasi? (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/mad-formal-executive-man-yelling-at-camera-3760790/">Andrea Piacquadio</a>)</figcaption></figure>



<p>Dalam kolom komentar video Raymond Chin, banyak yang curhat kalau mereka sudah mengupayakan yang terbaik dan bekerja melampaui kewajibannya. Hanya saja, kantor seolah tutup mata dan kurang mengapresiasi kerja keras mereka tersebut.</p>



<p>Penulis, untungnya, merasa cukup diapresiasi kerjanya, sehingga tidak memiliki keluhan tersebut. Hanya saja, Penulis juga berempati kepada rekan-rekan pekerja yang tidak mendapatkan apresiasi yang pantas mereka dapatkan tersebut.</p>



<p>Perusahaan memang ada baiknya melakukan interopeksi diri,<strong> apakah mereka sudah memperlakukan karyawannya</strong> <strong>dengan baik atau tidak</strong>. Jika ada yang berprestasi dan mampu memajukan perusahaan, sudahkah ada <em>reward </em>yang diberikan?</p>



<p>Penulis mengetahui kalau ada perusahaan-perusahaan yang &#8220;nakal&#8221; ke karyawannya. Jangankan apresiasi, hak karyawan saja kadang ditahan-tahan. Karena orientasi perusahaan itu <em>cuan</em>, tak jarang mereka mengorbankan karyawan demi hal tersebut.</p>



<p>Sebaliknya, para karyawan pun juga perlu melakukan interopeksi diri. <strong>Apakah dalam jam kerja kita sudah bekerja dengan optimal?</strong> Apa jangan-jangan kita sering membuang waktu kerja kita dengan bermain media sosial, main <em>game</em>, ataupun nonton YouTube?</p>



<p>Jangan sampai fenomena <em>quite quitting </em>ini disalahartikan kalau kita bisa kerja seenak kita. Penulis sedikit khawatir ada beberapa oknum yang menggunakan fenomena ini sebagai alasan untuk bekerja ala kadarnya, lantas ngomel-ngomel karena merasa tidak diapresiasi.</p>



<p>Sebagai seorang karyawan, ada baiknya sesekali kita memosisikan diri sebagai bos. Seandainya kita menjadi bos dan memiliki karyawan seperti kita, apakah kita akan senang dan mempertahankannya? Jika jawabannya tidak, mungkin kita yang perlu memperbaiki diri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pulang Tepat Waktu = Tidak Outstanding?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-3-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6036" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-3-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-3-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-3-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-3-1-1536x1024.jpg 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-3-1-2048x1365.jpg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Masa Iya Harus Lembur Tiap Hari? (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/black-twin-bell-alarm-desk-clock-on-table-714701/">JESHOOTS.com</a>)</figcaption></figure>



<p>Ada satu hal yang tidak Penulis suka dari kalimat Raymond, yakni ketika ia <strong>mempermasalahkan karyawan yang datang dan pulang kantor tepat waktu</strong>. Loh, adanya peraturan jam datang-pulang kantor kan untuk ditaati, masa dilanggar?</p>



<p>Menurut Penulis, selama kerjaan dan tanggung jawabnya selesai, karyawan memang harus pulang tepat waktu. Kalau kita bisa melakukan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-3-time-blocking/"><em>time management </em>dengan baik di jam kerja</a>, maka pulang tepat waktu adalah sesuatu yang harus diwajarkan. </p>



<p>Kerjaan sudah beres dengan baik, tapi masih dituntut untuk lembur mengerjakan sesuatu yang tidak menambah <em>value </em>kita. Kalau seperti itu mungkin perusahaannya memang <em>toxic </em>dan ingin mengeksploitasi karyawannya demi menghemat <em>cuan</em>.</p>



<p>Jika kita memosisikan diri sebagai bos, tentu senang melihat ada karyawan yang mampu bekerja secara efisien, cerdas, dan tepat waktu. Yang lembur-lembur, bisa jadi malah karena terlalu <em>leha-leha </em>di jam kerjanya.</p>



<p>Jadi, menurut Penulis<strong> pulang tepat waktu tidak sama dengan tidak <em>outstanding</em></strong>. Kita bisa kok jadi karyawan yang <em>outstanding </em>tanpa harus lembur setiap hari. Caranya, tentu dengan memaksimalkan jam kerja dan mencari cara bekerja yang paling efektif dan efisien.</p>



<p>Selain itu, bekerja sesuai dengan jam kerja juga tidak sama dengan bekerja setengah hati. Kita pun memiliki kehidupan pribadi yang harus dijalani. Kalau kita kenapa-napa (seperti sakit), belum tentu perusahaan mau bertanggung jawab.</p>



<p>Toh, kalau alasannya lembur untuk <em>personal growth</em>, <strong>ada banyak cara di luar kantor untuk melakukannya</strong>. Misalnya, seperti yang sedang Penulis lakukan sekarang, adalah dengan mengikuti berbagai kelas <em>online </em>yang bisa menambah <em>skill</em>. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Salah satu pemicu dari fenomena <em>quiet quitting </em>ini adalah adanya kondisi yang tidak memungkinkan untuk <em>resign</em>. Contohnya adalah karena sudah memiliki tanggungan keluarga atau sedang ada cicilan yang harus dilunasi.</p>



<p>Kalau memaksa <em>resign </em>seperti saran Raymond, belum tentu kita bisa mendapatkan gantinya dengan cepat. Kecuali, kita mengajukan <em>resign </em>setelah mendapatkan kepastian di tempat lain, tentu lebih baik kita pindah ke tempat yang kita rasa akan lebih baik untuk kita.</p>



<p>Lantas, mana yang benar? Kerja secukupnya atau kasih <em>value </em>lebih. Jawabannya Penulis kembalikan ke Pembaca, karena bagi Penulis tidak ada pilihan yang salah. Semua orang memiliki alasan masing-masing untuk memiliki mau bekerja seperti apa.</p>



<p>Kalau Penulis pribadi, Penulis akan memberi <em>value </em>lebih ke perusahaan dengan syarat itu juga akan menambah <em>value </em>untuk diri Penulis sendiri. Kalau tidak, ya untuk apa dikerjakan. Dapat ilmu/apresiasi enggak, capek dan sakit yang iya.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 19 Oktober 2022, terinspirasi setelah menonton YouTube Shorts dari Raymond Chin</p>



<p>Foto: <a href="https://www.forbes.com/sites/meghanbiro/2020/11/24/exhausted-employees-4-surprising-ways-to-better-lead-them/">Forbes</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih/">Kerja Secukupnya atau Kasih Value Lebih?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Meninggalkan Jakarta (untuk Sementara)</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/meninggalkan-jakarta-untuk-sementara/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/meninggalkan-jakarta-untuk-sementara/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2020 01:19:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[impian]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[keputusan]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4126</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bulan September tahun 2020 menjadi bulan yang amat berat untuk Penulis. Setelah dua tahun bekerja di jalantikus.com, Penulis memutuskan untuk mengundurkan diri alias resign. Mungkin, ada beberapa yang akan menganggap Penulis nekat karena keluar dalam kondisi belum mendapatkan pekerjaan baru. Padahal, kondisi dunia sedang tidak stabil karena pandemi. Sebenarnya, Penulis sungguh menikmati lingkungan kerja di sana [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/meninggalkan-jakarta-untuk-sementara/">Meninggalkan Jakarta (untuk Sementara)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan September tahun 2020 menjadi bulan yang amat berat untuk Penulis. Setelah dua tahun bekerja di<a href="https://jalantikus.com/"><em> jalantikus.com</em></a>, Penulis memutuskan untuk<strong> mengundurkan diri alias <em>resign</em></strong>.</p>
<p>Mungkin, ada beberapa yang akan menganggap Penulis nekat karena keluar dalam kondisi belum mendapatkan pekerjaan baru. Padahal, kondisi dunia sedang tidak stabil karena pandemi.</p>
<p>Sebenarnya, Penulis sungguh <strong>menikmati lingkungan kerja di sana dan menikmati <em>jobdesk</em>-nya</strong>. Lantas mengapa <em>resign?</em></p>
<p>Karena satu dua hal, Penulis tidak bisa menyebutkan alasan spesifiknya di sini. Secara klise, mungkin alasannya adalah &#8220;terdapat perbedaan visi antara saya dan perusahaan&#8221;.</p>
<p>Yang jelas, Penulis sama sekali tidak menyesali keputusan ini dan yakin akan mendapatkan pengganti yang lebih baik lagi. Semua yang terjadi pasti memiliki alasan untuk terjadi.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Rencana awal, Penulis akan tetap bertahan di Jakarta sambil mencari pekerjaan baru. Sayang, keputusan Pemda Jakarta untuk memberlakukan kembali PSBB membuat Penulis memutuskan untuk pulang ke Malang hingga waktu yang belum ditentukan.</p>
<p>Mohon dimaklumi, ketika PSBB pertama kali diberlakukan, tiga bulan Penulis tidak keluar dari kamar kosnya. Daripada tidak bisa keluar lagi untuk jangka waktu yang belum ditentukan, lebih baik Penulis pulang.</p>
<p>Setelah di Malang, Penulis justru memutuskan untuk tidak kembali dulu untuk sementara waktu. Toh, Penulis sudah mendapatkan tawaran pekerjaan yang bisa dikerjakan dari rumah.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Penulis &#8220;resmi&#8221; meninggalkan Jakarta ketika pada akhir bulan Oktober memutuskan untuk keluar dari kamar kosnya. Penulis telah mengambil semua barang di sana karena merasa sayang uang yang keluar untuk membayar biaya sewa bulannanya.</p>
<p>Meninggalkan kota tersebut terasa jauh lebih berat daripada keputusan untuk <em>resign </em>dari tempat kerja. Mengapa?</p>
<p>Karena sejak kecil Penulis memiliki impian untuk kerja (dan tinggal) di kota besar. Kalau bisa, kerja di gedung tinggi. Itu semua sudah tercapai selama dua tahun terakhir.</p>
<p><strong>Dan tiba-tiba Penulis harus kembali ke Malang, meninggalkan impiannya yang sedang berjalan.</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Penulis bukannya takut tidak akan mendapatkan pekerjaan pengganti. Bahkan sekarang, alhamdulillah Penulis sudah mendapatkan gantinya walaupun hanya berstatus sebagai <em>freelance</em>.</p>
<p>Penulis hanya merasa sentimentil karena kota itu sudah memberikan banyak hal ke Penulis. Kembali ke kota asal seolah membuat Penulis melakukan <em>restart </em>pada kehidupannya.</p>
<p>Selain itu, Penulis merasa bisa banyak belajar di sana. Saat pertama kali ke sana, sangat terasa sekali <em>culture shock</em>-nya. Kemampuan adaptasi Penulis benar-benar diuji.</p>
<p>Namun pada akhirnya, Penulis sangat menikmati momen tiap momen yang Penulis lewati di sana, walau sesekali (atau sering?) <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">merasa kesepian</a> karena harus jauh dari keluarga dan teman-teman dekat.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Sebagai pelipur lara, Penulis banyak melakukan aktivitas seperti dekorasi kamar atau sering berkumpul dengan teman-teman di sini. Lumayan untuk melupakan kesedihan.</p>
<p>Lantas, sampai kapan Penulis akan tetap tinggal di Malang? Target pribadi, setidaknya sampai <strong>awal atau pertengahan tahun 2022</strong>. Semoga saja pandemi telah berakhir saat itu.</p>
<p>Sampai waktunya merantau lagi tiba, entah ke Jakarta lagi atau kota lainnya, Penulis akan <strong>membenahi dirinya</strong> dulu yang sempat berantakan selama beberapa bulan terakhir.</p>
<p>Istilah kerennya, <strong><em>recovery </em></strong>dan <strong><em>rediscovery </em></strong>diri. Menyembuhkan diri dan menemukan kembali dirinya. Mungkin Penulis akan mengulas ini lebih dalam di tulisan yang lain.</p>
<p>Penulis berusaha membuat <em>morning routine </em>untuk membuatnya lebih sehat dan produktif, belajar banyak hal baru, menambah <em>skill</em>, melakukan sesuatu yang menyenangkan bersama orang-orang tersayang, dan lain sebagainya.</p>
<p>Tentu sambil mengerjakan tanggung jawabnya sebagai <em>freelance </em>sembari menanti ada kesempatan yang lebih baik lagi.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Melalui tulisan ini, Penulis ingin mengucapkan <strong>terima kasih</strong> kepada tempat kerja beserta orang-orangnya karena telah memberikan banyak sekali pelajaran kepada Penulis, baik <em>skill </em>kerja maupun pengalaman kehidupan.</p>
<p>Dua tahun ini telah mengubah banyak sekali pandangan hidup Penulis. Jika diurai satu persatu, entah ada menjadi berapa <em>part </em>tulisan. Yang jelas, sangat banyak sehingga Penulis tidak akan pernah menyesali keputusannya untuk merantau.</p>
<p>Untuk sekarang, biarlah Penulis meninggalkan Jakarta untuk sementara. Jika rezekinya memang di sana, Penulis akan kembali suatu saat nanti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 16 November 2020, terinspirasi dari keputusannya untuk meninggalkan Jakarta, kota yang sangat berarti untuk Penulis</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/meninggalkan-jakarta-untuk-sementara/">Meninggalkan Jakarta (untuk Sementara)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/meninggalkan-jakarta-untuk-sementara/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Agar WFH Tetap Produktif</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/agar-wfh-tetap-produktif/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2020 10:32:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[aplikasi]]></category>
		<category><![CDATA[AppBlock]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[Forest]]></category>
		<category><![CDATA[HP]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[Quality Time]]></category>
		<category><![CDATA[WFH]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3710</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis merasa bersyukur karena bisa mendapatkan privilege berupa kesempatan untuk Work From Home (WFH). Tidak banyak orang yang bisa mendapatkan kesempatan seperti ini, terutama orang-orang yang bergantung pada pendapatan harian. Hingga hari ini, sudah dua minggu ini Penulis bekerja dari kos. Selama dua minggu itu, Penulis ternyata mengalami kesulitan untuk menemukan ritme kerja yang tepat. Akibatnya, pola hidup Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/agar-wfh-tetap-produktif/">Agar WFH Tetap Produktif</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis merasa bersyukur karena bisa mendapatkan <em>privilege </em>berupa kesempatan untuk <em>Work From Home </em>(WFH). Tidak banyak orang yang bisa mendapatkan kesempatan seperti ini, terutama orang-orang yang <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya/">bergantung pada pendapatan harian</a>.</p>
<p>Hingga hari ini, sudah dua minggu ini Penulis bekerja dari kos. Selama dua minggu itu, Penulis ternyata mengalami kesulitan untuk menemukan ritme kerja yang tepat. Akibatnya, pola hidup Penulis jadi berantakan.</p>
<p>Bangun jadi siang, kerja sampai dini hari (terkadang sampai pagi), makan sering terlambat, banyak sekali yang mejadi kacau dalam keseharian Penulis.  Oleh karena itu, Penulis berusaha mencari solusi dari permasalahan ini.</p>
<h3>Mencari Akar Permasalahan</h3>
<p>Karena tidak ingin terus berlarut-larut dalam perasaan bersalah karena kacaunya pola hidup, Penulis mencoba mencari akar permasalahannya. Setelah direnungkan, ada dua penyebab utama:</p>
<ol>
<li>HP</li>
<li>Tidur siang</li>
</ol>
<p>Menjadi tiga jika niat dimasukkan, tapi Penulis putuskan untuk mengabaikan variabel tersebut. Penulis akan berfokus kepada dua penyebab permasalahan yang ada di atas.</p>
<p>[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=iBxM5Nq3UyI[/embedyt]</p>
<p>Melalui aplikasi <strong>Quality Time</strong>, Penulis menyadari kalau penggunaan HP selama WFH benar-benar melonjak tinggi. Dalam sehari, Penulis bisa menghabiskan waktu lebih dari 10 jam.</p>
<p>Karena terlalu banyak bermain HP (entah <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-main-game/">main game</a> ataupun <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/"><em>scroll </em>media sosial</a>), pekerjaan pun menjadi tertunda. Pekerjaan tertunda menyebabkan Penulis kurang tidur yang pada akhirnya membuat Penulis tidur siang.</p>
<p>Sampai di titik ini, Penulis sadar bahwa musuh terbesarnya adalah HP-nya sendiri.</p>
<h3>Aplikasi-Aplikasi Penyita Waktu</h3>
<p>Sebenarnya, Penulis bisa memanfaatkan aplikasi seperti <strong>Forest</strong> yang akan membantu kita fokus tanpa melirik HP. Sayangnya, aplikasi tersebut belum cukup untuk menjaga konsentrasi Penulis.</p>
<p>Melalui aplikasi <strong>Quality Time</strong> yang sudah disinggung sebelumnya, Penulis menemukan ada aplikasi-aplikasi yang paling menguras waktu Penulis. Data minggu kemarin menunjukkan angka seperti berikut:</p>
<ol>
<li><strong>WhatsApp</strong> (19 jam 44 menit)</li>
<li><strong>Chess Rush</strong> (8 jam 34 menit)</li>
<li><strong>Instagram</strong> (4 jam 47 menit)</li>
<li><strong>YouTube</strong> (4 jam 28 menit)</li>
<li><strong>Twitter</strong> (3 jam 57 menit)</li>
<li><strong>Zoom</strong> (2 jam 41 menit)</li>
<li><strong>Samsung Internet</strong> (2 jam 26 menit)</li>
<li><strong>Catan Universe</strong> (1 jam 49 menit)</li>
<li><strong>Skype</strong> (1 jam 42 menit)</li>
</ol>
<p>Total waktu yang Penulis habiskan dalam satu minggu adalah <strong>58 jam 57 menit</strong> atau setara dengan 9 jam/hari. Minggu ini, jumlahnya sudah menyentuh angka <strong>61 jam 40 menit</strong>. Padahal, masih ada hari Minggu besok dan hari Sabtu ini belum berakhir.</p>
<p>Dari 60 jam tersebut, Penulis banyak menghabiskan waktu pada aplikasi:</p>
<ol>
<li><strong>WhatsApp</strong> (16 jam 8 menit)</li>
<li><strong>YouTube</strong> (9 jam 14 menit)</li>
<li><strong>Instagram</strong> (4 jam 59 menit)</li>
<li><strong>Twitter</strong> (4 jam 46 menit)</li>
<li><strong>Chess Rush</strong> (4 jam 20 menit)</li>
<li><strong>Risk</strong> (4 jam 6 menit)</li>
<li><strong>Zoom</strong> (2 jam 36 menit)</li>
<li><strong>WormsZone.io</strong> (1 jam 52 menit)</li>
<li><strong>Samsung Internet</strong> (1 jam 45 menit)</li>
</ol>
<p>Jumlahnya, bagi Penulis, sudah terlampau tinggi. Padahal, Penulis memberi target kepada dirinya sendiri agar penggunaan HP maksimal 5 jam setiap harinya. Untungnya, Penulis menemukan sebuah aplikasi bernama <strong>AppBlock</strong>.</p>
<h3>Sang Penyelamat</h3>
<p>Penulis menemukan aplikasi <strong>AppBlock</strong> ini tanpa sengaja pada hari Jumat. Waktu dicoba, ternyata aplikasi ini sangat berguna untuk membatasi penggunaan aplikasi-aplikasi tertentu dalam jangka waktu tertentu.</p>
<p>[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=_cHC6CLnUBc[/embedyt]</p>
<p>Pada hari pertama, Penulis mencoba untuk memblokir lima aplikasi:<strong> YouTube, Instagram, Twitter, Chess Rush, Risk</strong>. Penulis tidak bisa memblokir WhatsApp karena itu merupakan jalur komunikasi yang vital.</p>
<p>Rentang waktu yang Penulis pilih adalah pukul 09:00-18:00, sama seperti jam kantor. Hasilnya? Penggunaan HP memang berkurang walau Penulis masih membuka game dan aplikasi lain sebagai alternatif.</p>
<p>Masalahnya setelah jam blokir berakhir, Penulis kembali menghabiskan waktunya di depan layar. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk melakukan penambahan jam menjadi:</p>
<ul>
<li>Jam Pertama:<strong> 09:00-19:00</strong></li>
<li>Jam Kedua: <strong>23:00-06:00</strong></li>
</ul>
<p>Penambahan jam kedua dilakukan agar Penulis tidak bermain HP menjelang tidur. Sudah sering terjadi kalau hendak tidur bermain HP terlebih dahulu, waktu tidur kita menjadi terus mundur.</p>
<p>Selain itu, Penulis juga memperketat penggunaan Instagram, Twitter, dan YouTube menjadi <strong>30 menit tiap harinya</strong>. Bukan tiap aplikasinya, melainkan total dari ketiganya. Butuh langkah ekstrem seperti ini untuk mengubah kebiasaan buruk.</p>
<p>Jika Penulis bisa mengurangi penggunaan HP secara drastis, harapannya WFH minggu ketiga bisa menjadi lebih produktif dan pola hidup Penulis pun menjadi lebih baik.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Dampak lain dari berantakannya WFH dua minggu pertama adalah terbengkalainya blog ini. Sudah hampir dua minggu Penulis tidak menulis di blog. Selain itu, aktivitas mencatat aktivitas dan uang harian juga tersendat.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis harus bisa memaksa diri untuk berubah. Selain memaksimalkan aplikasi yang sudah disebutkan di atas, Penulis juga harus lebih tegas dalam mendisiplinkan diri. Jujur, Penulis sering <em>nyambi </em>bekerja dengan bermain game seperti Risk dan Chess Rush.</p>
<p>Penulis juga akan membuat semacam daftar rutinitas harian untuk <em>weekday </em>dan benar-benar berkomitmen dengan daftar yang sudah dibuat. Kalau pola hidup Penulis menjadi lebih baik, yang memetik hasilnya juga diri Penulis sendiri.</p>
<p>Memang masih ada godaan lain seperti laptop yang membuat Penulis bisa mengakses semua yang sudah diblokir di HP. Untungnya, laptop tidak bisa diakses sambil rebahan sehingga risiko gangguannya lebih kecil.</p>
<p>Semoga saja dengan keras kepada diri sendiri seperti ini, Penulis bisa menjalani WFH secara lebih baik dan produktif. Kalau ada yang mau meniru metode ini, sangat boleh kok.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 4 April 2020, terinspirasi dari pengalaman diri sendiri yang sering kacau ketika WFH</p>
<p>Foto: <a href="https://blog.privy.id/3-cara-efisiensi/happy-young-entrepreneur-teenager-business-owner-work-at-home/">Privy</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/agar-wfh-tetap-produktif/">Agar WFH Tetap Produktif</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rebahan Terus, Kapan Suksesnya?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Feb 2020 04:29:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[istirahat]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[malas]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[rebahan]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3438</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernah mendengar atau membaca kata rebahan? Rebahan menjadi salah satu kata yang paling populer saat ini dan kerap diidentikkan dengan angkatan milenial. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kegiatan bersantai di atas kasur untuk jangka waktu yang cukup lama, sering kali diiringi dengan kegiatan bermain HP. Para &#8220;pengikutnya&#8221; disebut sebagai kaum rebahan yang terdiri dari orang-orang yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">Rebahan Terus, Kapan Suksesnya?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah mendengar atau membaca kata <em><strong>rebahan</strong>? </em>Rebahan menjadi salah satu kata yang paling populer saat ini dan kerap diidentikkan dengan angkatan milenial.</p>
<p>Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kegiatan bersantai di atas kasur untuk jangka waktu yang cukup lama, sering kali diiringi dengan kegiatan bermain HP.</p>
<p>Para &#8220;pengikutnya&#8221; disebut sebagai <strong><em>kaum rebahan</em></strong> yang terdiri dari orang-orang yang malas beraktivitas demi mencicipi nikmatnya bersantai di atas kasur.</p>
<p>Sebenarnya tidak ada yang salah dengan rebahan, apalagi dilakukan ketika <em>weekend </em>setelah menjalani hari-hari sekolah atau kerja yang sangat padat.</p>
<p>Akan tetapi, terlalu banyak rebahan juga akan memberikan efek negatif yang akan merugikan diri sendiri.</p>
<h3>Stereotipe Masyarakat Terhadap Rebahan</h3>
<p>Di tengah tuntuntan hidup yang makin membuat kepala pening, rebahan (atau dalam Bahasa Jawa disebut <em>leyeh-leyeh</em>) sebenarnya penting digunakan untuk mengistirahatkan tubuh kita dari rutinitas sehari-hari.</p>
<p><div id="attachment_3440" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3440" class="size-large wp-image-3440" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3440" class="wp-caption-text">Rebahan dan Kasur (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@elizabethlies">elizabeth lies</a>)</p></div></p>
<p>Tidak harus dilakukan ketika <em>weekend</em>, rebahan juga dilakukan pulang kantor ataupun beberapa menit sebelum berangkat kerja. Hal yang sama juga berlaku untuk usia anak sekolah.</p>
<p>Hanya saja, muncul stereotipe dari masyarakat kita yang menganggap kaum rebahan adalah sekumpulan orang pemalas yang menyia-nyiakan waktunya demi hal yang kontraproduktif.</p>
<p>Hal ini diperparah dengan berbagai label yang melekat pada generasi milenial yang dianggap serba instan, cenderung apatis terhadap sekitarnya, tidak punya tujuan hidup, egosentris, dan lain sebagainya.</p>
<p>Sebenarnya, stereotipe ini juga kurang pas jika digunakan untuk mengecap semua generasi milenial. Ada banyak hal yang membuat generasi milenial membutuhkan rebahan, sehingga rebahan tidak selalu identik dengan kemalasan.</p>
<p>Generasi milenial hidup di era kemajuan teknologi yang begitu pesat sehingga apapun bisa dilakukan dengan cepat, bahkan dilakukan sambil rebahan. Kerja pun bisa dilakukan di atas kasur tanpa perlu berangkat ke kantor setiap pagi.</p>
<p>Hal ini berbeda dengan zaman dulu, zamannya generasi <em>boomer. </em>Belum ada smartphone dan teknologi lainnya, sehingga rebahan bisa menjadi aktivitas yang sangat membosankan.</p>
<h3>Akan Tetapi&#8230;</h3>
<p>Rebahan dibutuhkan mereka yang sudah menjalani hari-hari padat dengan jumlah istirahat yang relatif sedikit. Tubuh ini memiliki energi yang terbatas, sehingga perlu diisi ulang.</p>
<p><div id="attachment_3441" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3441" class="size-large wp-image-3441" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/rebahan-terus-kapan-suksesnya-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3441" class="wp-caption-text">Padatnya Rutinitas (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@helloquence">Helloquence</a>)</p></div></p>
<p>Hanya saja untuk orang-orang dengan jumlah aktivitas yang tidak terlalu padat, rebahan tidak terlalu dibutuhkan. Mereka murni rebahan karena memang pemalas (terkadang, Penulis juga menjadi salah satu bagian dari mereka).</p>
<p>Contoh, seorang karyawan di kantor kerjaannya ghibah dan tidur, pulang kantor rebahan main game sampai ngantuk, besoknya kesiangan sehingga di kantor tidur lagi. Kerjanya enggak seberapa, rebahannya banyak banget.</p>
<p>Terlalu banyak rebahan akan membawa beberapa dampak negatif, seperti rentan terkena penyakit, menurunkan daya konsentrasi, hingga membuat diri kita jauh dari kesuksesan.</p>
<p>Kasarnya, gimana mau dapat gaji besar kalau kerjaannya cuma rebahan mulu? Gimana mau ketemu jodoh kalau kerjaannya cuma rebahan mulu? Gimana mau sukses kalau kerjaannya cuma rebahan mulu?</p>
<p>Sebagai <a href="https://whathefan.com/karakter/suka-duka-seorang-pemikir/">orang yang pemikir</a>, Penulis kerap berpikir <em><a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mau-kayak-gini-sampai-kapan/">mau kayak gini sampai kapan?</a> </em>ketika dirinya lebih sering bermalas-malasan daripada melakukan sesuatu yang produktif.</p>
<p>Jika sudah demikian, Penulis akan merasa bersalah karena telah membuang-buang waktunya. Penulis pun mulai beraktivitas yang lebih produktif, biasanya dimulai dengan membersihkan kamar.</p>
<p>Hidup ini singkat, sayang jika digunakan untuk melakukan sesuatu yang kurang berarti.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Rebahan di atas kasur sambil <em>scrolling </em>media sosial, main game HP, atau nonton YouTube berjam-jam memang terlihat sangat nikmat. Saking nikmatnya, rebahan bisa berubah menjadi sesuatu yang bersifat candu.</p>
<p>Rebahan memang menggiurkan, tapi kalau dilakukan secara berlebihan hingga melupakan aktivitas yang lain juga kurang baik. Penulis sering seperti itu, membuang waktunya dengan rebahan sambil melakukan aktivitas konsumtif yang minim manfaat.</p>
<p>Oleh karena itu, tulisan kali ini sebenarnya bertujuan untuk mengingatkan diri sendiri agar tidak menyia-nyiakan waktu yang dimilikinya.</p>
<p>Orang bisa sukses (terlepas dari <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">segala <em>privilege</em> yang dimiliki</a>) karena bangun dari tempat tidur dan mulai melakukan sesuatu untuk menggapai mimpinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 Februari 2020, terinspirasi dari diri sendiri yang merasa dirinya terlalu banyak rebahan</p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwiHkprKi8HnAhUIXSsKHdKnAFAQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.independent.co.uk%2Flife-style%2Fhealth-and-families%2Fdepression-loneliness-mobile-phone-use-10pm-instagram-twitter-mood-disorder-a8353851.html&amp;psig=AOvVaw3SGsm2FuGtwrrjUayIKnUS&amp;ust=1581221588365101">The Independent</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://news.detik.com/kolom/d-4826065/menepis-stereotip-generasi-milenial-sebagai-kaum-rebahan">Detik</a>, <a href="https://kumparan.com/karjaid/dampak-negatif-menjadi-kaum-rebahan-1scXFdAkBFv">Kumparan</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">Rebahan Terus, Kapan Suksesnya?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Melamar Kerja di Mainspring Technology</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Oct 2019 05:47:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[JalanTikus]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Mainspring Technology]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[wawancara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2880</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dulu, penulis berjanji dengan dirinya sendiri untuk menulis pengalamannya melamar kerja di Mainspring Technology ketika sudah genap satu tahun bekerja di sana. Tanggal 17 Oktober 2019 kemarin adalah harinya, meskipun harus mendapat kado pahit karena salah satu teman kantor harus resign di hari yang sama. Oleh karena itu, silakan dibaca bagaimana pengalaman penulis melamar kerja di kantor [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/">Pengalaman Melamar Kerja di Mainspring Technology</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu, penulis berjanji dengan dirinya sendiri untuk menulis pengalamannya melamar kerja di <strong>Mainspring Technology </strong>ketika sudah genap satu tahun bekerja di sana.</p>
<p>Tanggal 17 Oktober 2019 kemarin adalah harinya, meskipun harus mendapat kado pahit karena salah satu teman kantor harus <em>resign </em>di hari yang sama.</p>
<p>Oleh karena itu, silakan dibaca bagaimana pengalaman penulis melamar kerja di kantor ini dan diterima.</p>
<h3>Kenapa Melamar Kerja di Mainspring Technology?</h3>
<p>Seperti yang sudah pernah penulis singgung pada artikel-artikel sebelumnya, penulis memutuskan untuk tetap tinggal di Jakarta setelah menyelesaikan tugasnya sebagai <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-awal-dari-segalanya/"><em>volunteer </em>Asian Games 2018</a>. Penulis ingin mencoba peruntungan di ibu kota ini.</p>
<p>Oleh karena itu, dengan menumpang rumah tante penulis memutuskan untuk menerapkan metode <em>brute force</em> dalam mencari pekerjaan. Tak memandang apa perusahaannya, penulis lamar.</p>
<p>Ada beberapa bidang yang penulis masuki, seperti <em>content writer, social media specialist, editor, </em>hingga <em>marketing communication</em>. Dengan pengalaman kerja formal yang minim, penulis nekat untuk mencoba.</p>
<p>Salah satu yang penulis coba adalah <strong>Mainspring Technology </strong>sebagai <em>content writer</em>. Ketika penulis membaca deskripsi pekerjaannya, ternyata perusahaan ini yang memiliki situs <a href="http://jalantikus.com/"><em>jalantikus.com</em></a>.</p>
<p>Penulis sudah tahu situs tersebut sejak zaman kuliah, ketika dirinya pernah diajak untuk membuat <em>startup </em>di bidang media juga. Sayang, <em>startup </em>tersebut hanya bertahan satu tahun.</p>
<h3>Panggilan Wawancara Pertama</h3>
<p>Penulis baru mendapatkan undangan untuk melakukan tes dan wawancara di Gandaria 8 Office Tower pada tanggal 24 September 2018.</p>
<p>Untungnya, sebelumnya penulis sudah pernah ke Gandaria City untuk menghadiri acara pameran pendidikan, sehingga tidak menemukan kendala mencari lokasi.</p>
<p>Penulis tentu menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan, seperti CV dan fotokopi ijazah. Penulis juga mencantumkan beberapa portfolio tulisan penulis di <em>Whathefan</em>.</p>
<p>Di sana, penulis diminta untuk datang ke lantai 9. Setelah menunggu beberapa lama, penulis mengerjakan tes IQ yang sudah sering penulis temui bersama beberapa orang yang juga melamar dengan jenis lowongan yang berbeda.</p>
<p>Setelah itu, penulis dipanggil untuk melakukan wawancara bersama dua orang HRD, yakni <strong>Iqbal</strong> dan <strong>Tya</strong>. Penulis ditanya beberapa macam pertanyaan, mulai pengetahuannya tentang teknologi hingga gawai yang digunakan.</p>
<p>Selepas proses wawancara, penulis diberitahu untuk menunggu kabar selanjutnya jika memang lolos akan mendapatkan panggilan lagi untuk wawancara. Penulis juga mendapatkan tugas untuk mengerjakan artikel seputar teknologi.</p>
<p>(Ketika penulis sudah masuk kerja, kak Tya bercerita bahwa sebenarnya dirinya tidak ingin meloloskan penulis karena dianggap minim pengalaman. Tapi, mas Iqbal mengatakan ia ingin mencoba meloloskan karena blog <em>Whathefan </em>yang penulis miliki!)</p>
<h3>Panggilan Wawancara Kedua</h3>
<p>Karena tak kunjung mendapatkan panggilan lagi, penulis mulai merasa frustasi. Apalagi, sudah satu bulan penulis menumpang di rumah tante sehingga merasa tidak enak.</p>
<p>Bahkan, di awal bulan Oktober penulis sempat berpikir untuk pulang terlebih dahulu hingga mulai mencari tiket pesawat. Untungnya, penulis mendapatkan panggilan wawancara di Penerbit Bestari pada tanggal 4 Oktober2018.</p>
<p>Kenapa untung? Karena seandainya penulis tidak mendapatkan panggilan tersebut, kemungkinan penulis sudah membeli tiket pulang ke Malang dan melewatkan panggilan wawancara kedua di Mainspring Technology pada tanggal 5 Oktober 2018.</p>
<p>(<em>Tuhan memang selalu memiki cara untuk menunjukkan jalan</em>)</p>
<p>Berbeda dengan wawancara pertama, kali ini penulis melakukan wawancara di lantai 22. Di sana, penulis bertemu dengan seorang HRD (yang kelak penulis kenal dengan nama <strong>Icut</strong>) dan disuruh menunggu.</p>
<p>Ketika menunggu waktu giliran wawancara, penulis melihat sekelompok orang masuk ke dalam ruangan kantor. Kelak, penulis mengetahui bahwa mereka lah calon teman kerja penulis.</p>
<p>Di antara mereka, ada satu yang mencolok karena rambutnya yang berwarna dan menggunakan jaket bermotif rubik. <em>Feeling </em>penulis berkata bahwa ia yang paling senior. Benar saja, ternyata penulis diwawancarai olehnya.</p>
<p>Namanya adalah <strong>Epi</strong>, <em>head of content </em>kalau tidak salah waktu itu. Penulis pun melakukan wawancara seperti biasa. Salah satu pertanyaan yang penulis ingat adalah apa yang bisa penulis berikan untuk perusahaan ini.</p>
<p>Kalau tak salah ingat, penulis mengatakan bahwa dirinya ingin memberikan sentuhan yang lebih humanis kepada artikel-artikel di JalanTikus. Bukan sekadar teknologi sebagai benda mati, melainkan tangan-tangan dan sejarah yang ada di baliknya.</p>
<p>(<em>Mungkin, karena itu artikel-artikel penulis di JalanTikus banyak yang bersentuhan dengan sisi manusianya</em>)</p>
<p>Epi juga mendiskusikan beberapa artikel <em>Whathefan </em>yang penulis jadikan portfolio. Dari obrolan tersebut, penulis mengetahui bahwa Epi juga gemar membaca buku.</p>
<p>Setelah itu, penulis melakukan wawancara dengan <strong>Kak Ratna</strong>, yang waktu menjabat sebagai <em>head of digital strategy </em>kalau tidak salah.  Proses wawancara pun berjalan lancar.</p>
<p>Kedua orang yang mewawancarai penulis ini sama-sama berkata oke, yang menimbulkan sedikit rasa aman untuk dipanggil pada wawancara terakhir, dengan CEO dari perusahaan ini.</p>
<h3>Panggilan Wawancara Terakhir</h3>
<p>Wawancara terakhir dilakukan pada tanggal 13 Oktober 2018 di tempat yang sama. Kali ini, penulis harus berhadapan den CEO dari Mainspring Technology, <strong>Weihan Liew</strong>.</p>
<p>Pada wawancara kedua, penulis telah diberitahu untuk bersiap-siap wawancara dengan menggunakan bahasa Inggris. Penulis pun sedikit gugup, meskipun memiliki pengalaman belajar di Kampung Inggris.</p>
<p>Penulis pun datang ke gedung pada jam 12 siang. Di sana, penulis juga bertemu dengan kandidat lain untuk videografer. Kelak, penulis tahu ia bernama <strong>Tania</strong>.</p>
<p>Berbeda dengan wawancara sebelumnya, pada wawancara ini penulis diberikan pertanyaan-pertanyaan logika. Total ada tiga pertanyaan, yang <em>alhamdulillah </em>berhasil penulis jawab semua meskipun sempat tersendat di pertanyaan kedua.</p>
<p>Setelah menjawab pertanyaan terakhir, sang CEO mengajukan pertanyaan-pertanyaan teknis seperti harapan gaji. Lalu, ia pun langsung mengatakan <em>WELCOME</em> yang artinya penulis diterima di perusahaan ini!</p>
<p>Sebelum pulang, penulis diminta untuk menunggu sebentar untuk membicarakan teknis masuknya. Oleh mas Iqbal diberitahu bahwa penulis harus masuk kantor pada tanggal 17 Oktober 2018, tidak bisa menuruti permintaan penulis yang meminta masuk tanggal 25.</p>
<p>Kami juga membicarakan perihal gaji, dan ternyata penulis mendapatkan nominal di atas keinginan penulis. Setelah itu, penulis memberitahukan kabar bahagia ini kepada keluarga.</p>
<p>Setelah makan di <em>The People&#8217;s Cafe</em>, penulis memutuskan untuk pulang ke Malang malam itu juga sebelum membuka lembaran hidupnya yang baru di ibu kota.</p>
<h3>Bagaimana Sekarang?</h3>
<p>Penulis yakin di setiap tempat kerja, pasti ada suka dukanya. Begitupun di kantor penulis. Akan tetapi, penulis berusaha untuk lebih melihat sisi positifnya saja.</p>
<p>Di kantor ini, penulis mendapatkan banyak pelajaran baru. Tidak hanya dari segi teknis pekerjaan, tapi juga dari sisi kehidupan yang belum pernah penulis saksikan sebelumnya.</p>
<p>Penulis juga bertemu dengan banyak teman baru di kantor dengan beragam karakter. Penulis menikmati hubungan dengan mereka semua, mungkin kecuali dengan satu orang (<em>you know who,</em> <em>guys</em>).</p>
<p>Adapun sisi negatifnya, kebanyakan berasal dari diri penulis sendiri. Mungkin, <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">minimnya pengalaman jauh dari rumah</a> yang memengaruhi hal tersebut. Ketika ada teman <em>resign </em>juga menimbulkan duka tersendiri.</p>
<p>Sampai kapan penulis akan berada di perusahaan ini? Penulis pun belum tahu. Yang jelas, penulis akan berusaha untuk terus memberikan yang terbaik hingga waktu untuk pergi telah tiba.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 20 Oktober 2019, terinspirasi setelah bekerja di Mainspring Technology selama satu tahun</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/">Pengalaman Melamar Kerja di Mainspring Technology</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Minta Gaji 8 Juta</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/minta-gaji-8-juta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Jul 2019 16:23:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[8 juta]]></category>
		<category><![CDATA[gaji]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<category><![CDATA[viral]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2579</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir, media sosial riuh oleh sebuah story di Instagram mengenai mahasiswa fresh graduate yang mengeluh karena hanya ditawari gaji 8 juta rupiah oleh salah satu perusahaan lokal. Alasan dikeluarkannya keluhan tersebut adalah ia merasa sebagai lulusan salah satu kampus terbesar di negara ini, ia layak mendapatkan gaji yang lebih tinggi, meskipun ia baru saja lulus. Akunnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/minta-gaji-8-juta/">Minta Gaji 8 Juta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir, media sosial riuh oleh sebuah <em>story</em> di Instagram mengenai mahasiswa <em>fresh graduate </em>yang mengeluh karena <em>hanya </em>ditawari gaji 8 juta rupiah oleh salah satu perusahaan lokal.</p>
<p>Alasan dikeluarkannya keluhan tersebut adalah ia merasa sebagai lulusan salah satu kampus terbesar di negara ini, ia layak mendapatkan gaji yang lebih tinggi, meskipun ia baru saja lulus.</p>
<p>Akunnya sendiri sampai saat ini belum diketahui milik siapa. Potongan <em>story </em>tersebut hanya diunggah oleh seseorang dengan menyensor namanya. Mungkin, yang bersangkutan ingin melindungi pemilik akun dari serangan netizen.</p>
<p>Bahkan, teman penulis di kantor sampai berteori bahwa sebenarnya tidak ada pemilik akun Instagram tersebut. Postingan tersebut dibuat sendiri oleh yang menyebarkan agar viral. Mungkinkah? Entahlah, bisa jadi.</p>
<h3>Reaksi Para Netizen</h3>
<p>Netizen pun cepat bereaksi atas kejadian ini. Ada yang marah, ada yang emosi, ada yang langsung membandingkan dengan gaji pertamanya, ada yang buat <em>thread</em>, macam-macam.</p>
<p>Reaksi seperti ini sudah penulis duga sebelumnya, sama seperti kasus <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/">Bibit Unggul</a> yang sempat heboh beberapa waktu lalu. Bedanya, waktu itu yang bersangkutan diketahui identitasnya.</p>
<p>Melihat kesombongan seseorang tentu membuat kita jengah dan jengkel. Pertanyaannya, apakah kita tidak pernah melakukan kesalahan yang sama?</p>
<p>Seperti yang pernah penulis tuliskan pada tulisan <a href="https://whathefan.com/renungan/dosa-terbesar-seorang-penjahat/">Dosa Terbesar Seorang Penjahat</a>, kita cenderung merasa &#8220;suci&#8221; ketika melihat orang lain berbuat buruk.</p>
<p>Bahasa yang digunakan oleh orang tersebut memang terkesan angkuh, sombong, congkak, dan lain sebagainya. Akan tetapi, itu tidak berarti kita boleh <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/">merasa lebih baik</a> darinya. Mungkin saja kita juga pernah sombong, hanya saja tidak sampai viral.</p>
<h3>Gaji Pertama</h3>
<p>Jika ingin berbaik sangka, mungkin yang bersangkutan merasa dirinya memiliki kemampuan mumpuni yang bisa diberikan kepada perusahaan. Tawaran gaji 8 juta dianggap merendahkan dirinya sehingga terbitlah <em>story </em>tersebut.</p>
<p>Beberapa <em>netizen </em>berkata bahwa kata-kata di <em>story </em>tersebut menunjukkan yang bersangkutan tidak bisa bersyukur. Lantas, beberapa <em>netizen </em>memberitahu nominal gaji pertama mereka sembari mensyukurinya.</p>
<p>Ketika mendapatkan kerja kantoran pertama, nominal yang ditawarkan penulis jauh di bawah angka 8 juta. Penulis sadar diri sebagai orang yang tidak terlalu berpengalaman.</p>
<p>Penulis selalu ingat petuah dari ayah, yang mengatakan jangan bekerja demi uang. Uang memang penting, tapi bukan menjadi tujuan. Uang hanyalah sarana dalam <a href="https://whathefan.com/renungan/perlukah-hidup-memiliki-tujuan/">meraih tujuan yang sebenarnya</a>.</p>
<p>Oleh karena itu, sewaktu menuliskan permintaan gaji, penulis menuliskano nominal yang tidak seberapa. Setidaknya, di atas Upah Minimum Kerja (UMR). Ternyata, penulis malah ditawari sedikit lebih tinggi, ya alhamdulillah.</p>
<p>Petuah lain yang diberikan ayah penulis adalah bekerja dengan niat <em>lillahi ta&#8217;ala</em>, berikan yang terbaik, berikan nilai tambah, nanti jumlah gaji akan mengikuti. Penulis berusaha betul melaksanakan nasihat tersebut, sehingga insyaallah jarang memusingkan masalah gaji.</p>
<p>Tapi kalau diberi kenaikan gaji, ya diterima dan mengucap syukur <em>alhamdulillah</em>.</p>
<h3>Gaya Hidup yang Melebihi Gaji</h3>
<p>Salah satu komentar yang menarik perhatian penulis adalah mengenai gaya hidup. Ada <em>netizen </em>yang berkomentar gaya hidup orang yang membuat <em>story </em>tersebut cukup <em>hedon</em>, sehingga gaji 8 juta tidak akan bisa memenuhi kehidupannya.</p>
<p>Bahkan <strong>Sujiwo Tedjo</strong> menuliskan cuitan tentang <em>gaji sebesar apapun enggak akan pernah cukup karena akan melahirkan kebutuhan</em> <em>baru</em>. Salah satunya ya gaya hidup ini.</p>
<p>Penulis merasakan betul tentang gaya hidup ini. Jika kita tidak bisa mengendalikan hasrat kita dan loyal menghamburkan uang, gaji berapa pun tak akan cukup. Percuma gaji naik jika gaya hidup juga ikut naik.</p>
<p>Godaan di ibukota terbilang cukup besar. Mau beli apa saja bisa tersedia dengan mudah. Malas keluar, bisa beli lewat daring. Sebagai Apalagi, gedung kantor penulis jadi satu dengan mal.</p>
<p>Penulis tidak merasa telah pandai mengendalikan gaya hidup. Justru dengan tulisan ini, penulis berharap ke depannya bisa lebih bijak dalam mengelola gaji yang diterima setiap bulan.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Setiap ada kejadian yang viral, penulis berusaha memahaminya hanya dari satu sudut pandang. Penulis berusaha untuk melihatnya dari banyak sisi dengan harapan bisa menemukan pelajaran yang bisa dipetik.</p>
<p>Begitu pula dari kasus gaji 8 juta ini. Ada begitu banyak pelajaran yang bisa dipetik, sehingga sayang jika hanya dijadikan sebagai wadah untuk mengeluarkan kata-kata hujatan yang belum tentu bermanfaat.</p>
<p>Semoga saja dengan kejadian ini, kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi, yang lebih mudah bersyukur daripada mengeluh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 Juli 2019, terinspirasi dengan ramainya kasus gaji 8 juta</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@alexandermils">Alexander Mils</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/minta-gaji-8-juta/">Minta Gaji 8 Juta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Seandainya Mendapatkan 80 Juta</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/seandainya-mendapatkan-80-juta/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/seandainya-mendapatkan-80-juta/?noamp=mobile#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Jan 2019 23:00:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[aksi]]></category>
		<category><![CDATA[andai]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[impian]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[tindakan]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2014</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan membangun perpustakaan pribadi yang tak kalah lengkap dari koleksi bung Hatta yang jumlahnya mencapai 40 ribu buku itu. Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan memilih untuk menginvestasikannya sebagai tabunganku di masa depan. Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan memberangkatkan kedua orangtuaku umroh atau bahkan haji dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/seandainya-mendapatkan-80-juta/">Seandainya Mendapatkan 80 Juta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan membangun perpustakaan pribadi yang tak kalah lengkap dari koleksi bung Hatta yang jumlahnya mencapai 40 ribu <a href="http://whathefan.com/category/buku/">buku</a> itu.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan memilih untuk menginvestasikannya sebagai tabunganku di masa depan.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan memberangkatkan kedua orangtuaku umroh atau bahkan haji dengan travel yang paling nyaman dan terpercaya.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan membelikan adik-adikku barang-barang yang mereka inginkan selama ini, entah sepatu bola basket mahal maupun <em>jersey</em> <a href="http://whathefan.com/sosialpolitik/hiperinflasi-pada-sepakbola/">sepakbola</a> asli tim favorit mereka.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan menyumbangkannya kepada orang-orang fakir yang lebih membutuhkan dan anak-anak yatim piatu yang mendambakan kasih sayang,</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan membeli banyak aksesoris <a href="http://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/">wayang</a> yang selama ini selalu kuinginkan untuk dipajang di  dalam kamar.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan pergi liburan ke Jepang atau <a href="http://whathefan.com/pengalaman/terobsesi-oleh-inggris/">Inggris</a>, mengunjungi tempat-tempat yang selama ini hanya bisa kupandang melalui fotonya.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan membeli <a href="http://whathefan.com/tips-motivasi/filosofi-merakit-gundam/">Gundam</a>, <em>action figure</em>, monopoli, dan mainan-mainan lainnya yang telah lama ingin aku jadikan sebagai koleksi.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan membangun sebuah bangunan sederhana sebagai tempat <a href="http://whathefan.com/category/karang-taruna/">Karang Taruna</a> berkumpul, entah untuk rapat ataupun sekadar bermain.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan membeli berbagai gawai yang selama ini telah kuidam-idamkan.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan menggunakannya sebagai modal usaha yang selama ini telah berada di dalam angan-anganku.</p>
<p><strong>Akan tetapi&#8230;</strong></p>
<p>Seandainya aku berhenti berandai-andai dan mulai bekerja lebih cerdas, semua itu sangat mungkin digapai.</p>
<p>Seandainya aku berhenti berandai-andai dan mulai belajar lebih giat, semua itu sangat bisa untuk diraih walaupun bukan sekarang.</p>
<p>Seandainya aku berhenti berandai-andai dan mulai bertindak, semua itu bisa dikejar sebanding dengan usaha yang telah dikeluarkan.</p>
<p>Seandainya aku berhenti berandai-andai dan mulai menetapkan target-target untuk beberapa waktu ke depan, kakiku tidak akan melangkah menuju ketidakpastian.</p>
<p>Seandainya aku berhenti berandai-andai dan mulai meyakini bahwa impian yang telah tertulis di atas harus berhasil dicapai, maka aku harus berhenti bermalas-malasan dan mulai berjuang lebih baik, lebih keras, lebih cerdas lagi dari sekarang.</p>
<p>Tidak ada lagi berandai-andai, <strong>karena impian akan menjadi percuma apabila tidak diiringi aksi yang nyata untuk mewujudkannya.</strong></p>
<p><em>Stop wishing, start acting.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 7 Januari 2019, terinspirasi dari tarif salah satu artis yang tertangkap karena prostitusi online</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://batman.wikia.com/wiki/File:Joker_money.jpg" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiw6eyygdzfAhXNWysKHfu1DNkQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Batman Wiki &#8211; Fandom</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/seandainya-mendapatkan-80-juta/">Seandainya Mendapatkan 80 Juta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/seandainya-mendapatkan-80-juta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dulu Kerja di Mana?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Dec 2018 18:00:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[beasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[benang merah]]></category>
		<category><![CDATA[impian]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan Tikus]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan hidup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1890</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pertanyaan ini sering penulis dapatkan sejak tinggal dan bekerja di Jakarta dan, hehe, terkadang penulis merasa bingung harus menjawab seperti apa. Bukan karena belum pernah bekerja, melainkan karena tak tahu bagaimana harus menjelaskan perjalanan penulis setelah lulus. Melalui tulisan ini, penulis berharap bisa memberikan jawaban yang terbaik bagi yang penasaran (jika ada). Jadi, siap-siap membaca [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/">Dulu Kerja di Mana?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan ini sering penulis dapatkan sejak tinggal dan bekerja di Jakarta dan, hehe, terkadang penulis merasa bingung harus menjawab seperti apa. Bukan karena belum pernah bekerja, melainkan karena tak tahu bagaimana harus menjelaskan perjalanan penulis setelah lulus.</p>
<p>Melalui tulisan ini, penulis berharap bisa memberikan jawaban yang terbaik bagi yang penasaran (jika ada). Jadi, siap-siap membaca sebuah dongeng tentang seorang anak lulusan Informatika setelah mendapatkan gelar sarjananya.</p>
<h3>Kerja di NET TV Kayaknya Asyik</h3>
<p>Mungkin sama seperti para lulusan lainnya, hal yang dilakukan oleh penulis setelah lulus adalah mencari beberapa lowongan pekerjaan melalui acara Job Fair. Penulis sempat ikut tes kerja Paragon dan Frissian Flag, walaupun dilakukan dengan setengah hati.</p>
<p>Kenapa setengah hati? Karena penulis sama sekali tidak tertarik kerja di perusahaan industri seperti itu. Penulis ingin kerja di bidang industri kreatif, media, penerbitan, atau menjadi seorang dosen. Oleh karena itu, penulis memutuskan untuk ikut <a href="http://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-net-tv-tahap-pertama/">tes kerja di <strong>NET TV</strong></a>, yang waktu itu sedang ramai.</p>
<p><div id="attachment_1893" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1893" class="size-large wp-image-1893" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_6040-1024x339.jpg" alt="" width="1024" height="339" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_6040-1024x339.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_6040-300x99.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_6040-768x254.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_6040-356x118.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_6040.jpg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1893" class="wp-caption-text">Suasana Tes NET TV</p></div></p>
<p>Walaupun berhasil sampai tahap terakhir (wawancara), ternyata penulis belum berjodoh dengan perusahaan tersebut. Sempat depresi beberapa hari, penulis memutuskan untuk membantu ayah penulis di tempatnya bekerja.</p>
<h3>Mencoba Meraih Impian Kembali</h3>
<p>Kebetulan, apartemen yang hendak dibangun sedang ingin <em>re-branding </em>hingga perusahaan tersebut meminta bantuan konsultan <em>marketing communication</em>. Di bagian inilah penulis bekerja sebagai Social Media Specialist sekaligus Web Developer sekaligus Content Writer.</p>
<p>Sekitar empat bulan penulis bekerja di sana, mulai bulan April hingga Agustus. Alasan berhentinya, mungkin pembaca akan terkejut, adalah karena ingin fokus menyiapkan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/"><strong>rangkaian acara peringatan 17 Agustus</strong></a> di tempat tinggal penulis.</p>
<p><div id="attachment_1895" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1895" class="size-large wp-image-1895" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/the-bizsquare-night-scene-50-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/the-bizsquare-night-scene-50-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/the-bizsquare-night-scene-50-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/the-bizsquare-night-scene-50-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/the-bizsquare-night-scene-50-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/the-bizsquare-night-scene-50.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1895" class="wp-caption-text">BiZ Square Apartment</p></div></p>
<p>Sebagai ketua Karang Taruna, penulis bertanggungjawab memastikan acara akan berlangsung dengan baik, mulai dari lomba-lomba hingga malam tasyakuran. Memang ada ketua panitia, tapi tetap butuh didampingi karena masih SMA.</p>
<p>Selain itu, setelah diskusi panjang dengan pak Teddy (pemilik PT TDS yang menjadi konsultan <em>marcomm </em>di apartemen ayah penulis), penulis ingin mencoba meraih kembali cita-cita penulis untuk bisa kuliah di luar negeri.</p>
<p>Sewaktu awal kuliah, penulis memajang foto kampus-kampus luar negeri di depan meja penulis untuk motivasi belajar. Sayang, setelah berhadapan dengan realita, impian tersebut harus terkubur pelan-pelan. Pertemuan dengan pak Teddy membuat penulis ingin mencoba lagi untuk meraih mimpi tersebut.</p>
<h3>Belajar Bahasa Inggris Hingga ke Pare</h3>
<p>Salah satu syarat untuk bisa mendapatkan beasiswa ke luar negeri adalah memiliki sertifikat <strong>IELTS</strong>. Oleh karena itu, penulis mengambil kursus di Malang. Akan tetapi, karena merasa sangat kurang, penulis bersama satu teman kuliah penulis memutuskan untuk pergi ke kampung Inggris, Pare.</p>
<p>Penulis mengambil kelas khusus persiapan IELTS di <strong>TEST English School</strong>. Hanya saja, karena penulis sudah berada di Pare dua minggu sebelum kelas dibuka, penulis mengambil kursus di tempat lain dulu, yakni <strong>Global English</strong> dan <strong>Mr. Bob</strong>.</p>
<p>Total empat bulan penulis berada di sana, mulai akhir Agustus hingga awal Desember. Selain belajar di tempat kursus, penulis juga belajar sendiri. Penulis mengambil target akan melakukan tes pada bulan Desember 2017.</p>
<p><div id="attachment_1896" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1896" class="size-large wp-image-1896" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_9586-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_9586-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_9586-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_9586-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_9586-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG_9586.jpg 1068w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1896" class="wp-caption-text">Teman Seperjuangan Pemburu Beasiswa</p></div></p>
<p>Sebelum mengambil tes, penulis sudah mencoba untuk mendaftar beasiswa <strong>Chevening</strong>, beasiswa bagi yang ingin melanjutkan studi di Inggris. Pada awal November, penulis ke Yogya untuk menghadiri EHEF European Fair, pameran edukasi kampus-kampus Eropa.</p>
<p>Chevening mengharuskan kita memilih tiga kampus ketika mendaftar, dan dua di antaranya hadir pada even tersebut. Mereka adalah <strong>University of Reading </strong>dan <strong>Manchester Metropolitan University</strong>.</p>
<p>Penulis banyak bertanya tentang bagaimana mendapatkan <em>Letter of Acceptance</em> dan lain-lain. Mereka sangat ramah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan penulis. Sepulang dari Yogya, penulis mendaftar di kampus-kampus tersebut dan berhasil mendapatkan <em>LoA conditional </em>karena belum memiliki sertifikat IELTS.</p>
<h3>Setelah Mendapatkan Sertifikat IELTS</h3>
<p>Pertengahan Desember, penulis akhirnya mengambil tes IELTS di Yogyakarta. Pemilihan lokasi tes yang jauh dari rumah adalah karena dua hal: satu, mengikuti saran yang sudah pernah tes; dua, mengikuti perasaan.</p>
<p>Setelah menunggu hasilnya dalam waktu dua minggu (sekitar pertengahan Januari 2018), penulis mendapatkan nilai <strong>6.5</strong>, syarat rata-rata minimum bagi pengambil beasiswa. Berkat sertifikat ini, penulis berhasil mendapatkan <em>LoA unconditional </em>dari University of Reading.</p>
<p>Kampus sudah dapat, sertifikat IELTS sudah dapat, hanya tinggal satu yang belum dapat: beasiswanya. Sayang, belum rezeki penulis untuk melanjutkan studinya di <a href="http://whathefan.com/pengalaman/terobsesi-oleh-inggris/">Inggris</a>.</p>
<p><div id="attachment_1892" style="width: 630px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1892" class="size-full wp-image-1892" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/5991931412_72263a8235_b2-620x330.jpg" alt="" width="620" height="330" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/5991931412_72263a8235_b2-620x330.jpg 620w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/5991931412_72263a8235_b2-620x330-300x160.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/5991931412_72263a8235_b2-620x330-356x189.jpg 356w" sizes="(max-width: 620px) 100vw, 620px" /><p id="caption-attachment-1892" class="wp-caption-text">Henley Business School, University of Reading</p></div></p>
<p>Penulis memutuskan untuk mencari beasiswa lainnya. Target selanjutnya adalah <strong>New Zealand ASEAN Scholarship (NZAS)</strong>. Sayang, kali ini juga belum lolos. Selanjutnya penulis mencoba beasiswa <strong>Ignacy Lukasiewicz </strong>dari Polandia, masih belum lolos juga.</p>
<p>Gagal tiga kali secara berturut-turut lumayan membuat penulis merasa <em>down</em>. Apalagi, penulis mencurahkan fokus untuk berburu beasiswa selama berbulan-bulan (selain mempersiapkan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/tim-transisi-gen-x-swi/">kaderisasi dan pergantian kepengengurusan Karang Taruna</a>) hingga sama sekali tidak melirik lowongan pekerjaan yang ada.</p>
<p>Untunglah, penulis melamar menjadi <em>volunteer </em>Asian Games ketika sedang berada di Pare.</p>
<h3>Awal Kehidupan di Jakarta</h3>
<p>Penulis jadi kerap bolak-balik Malang-Jakarta gara-gara harus mengikuti serangkaian pelatihan sebagai <em>volunteer</em>. Tapi berkat itu, penulis jadi tahu sedikit-sedikit tentang lokasi-lokasi di Jakarta, karena penulis melakukan eksplorasi ketika memiliki waktu luang.</p>
<p>Sebelum berangkat ke Jakarta pada bulan Agustus, penulis menyelesaian beberapa urusan. Salah satunya adalah pergantian pengurus Karang Taruna, sehingga penulis bisa tenang meninggalkan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">organisasi yang telah dirintis sejak 2016</a> ini.</p>
<p>Terhitung mulai bulan Agustus hingga September, penulis berkonsentrasi penuh mengabdikan diri menjadi seorang <em>volunteer</em>. Untuk kisahnya sendiri telah penulis tulis sebanyak <a href="http://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-awal-dari-segalanya/">7 bagian di blog ini</a>.</p>
<p><div id="attachment_1894" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1894" class="size-large wp-image-1894" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-08-30_21-48-57-1-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-08-30_21-48-57-1.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-08-30_21-48-57-1-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-08-30_21-48-57-1-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-08-30_21-48-57-1-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1894" class="wp-caption-text">Teman-Teman Volunteer</p></div></p>
<p>Setelah selesai menunaikan tugas, penulis memutuskan untuk tinggal di Jakarta, menumpang di rumah tante. Penulis memutuskan untuk mencari pekerjaan di Jakarta, menepikan sementara impian penulis untuk melanjutkan kuliah di luar negeri.</p>
<p>Dengan menerapkan metode <em>brute force</em>, penulis melamar kerja di berbagai tempat. Setelah satu setengah bulan, pada akhirnya penulis mendapatkan pekerjaan di <strong>Mainspring Technology </strong>sebagai <strong>Content Writer</strong> <a href="http://jalantikus.com">jalantikus.com</a>.</p>
<h3>Benang Merah Pada Perjalanan Hidup Penulis</h3>
<p><em>Every cloud has a silver lining</em>. Semua yang terjadi pasti memiliki hikmah di baliknya. Penulis percaya apa yang selama ini penulis alami dan jalani memiliki maknanya masing-masing.</p>
<p>Jika ditarik ke belakang, semua perjalanan hidup penulis tersambung oleh benang merah, Secara singkat, bisa dituliskan seperti ini.</p>
<blockquote><p>Lulus -&gt; Melamar di NET -&gt; Gagal, sempat depresi -&gt; Menawarkan diri untuk membantu ayah -&gt; Bertemu dengan Pak Teddy -&gt; Memutuskan untuk lanjut kuliah di luar negeri -&gt; Ambil persiapan IELTS di Pare -&gt; Diajak teman di Pare menjadi <em>volunteer</em> Asian Games -&gt; Gagal mendapatkan beasiswa tiga kali -&gt; Menjadi <em>volunteer </em>Asian Games di Jakarta -&gt; Memutuskan mencari kerja di Jakarta -&gt; Bekerja di Mainspring Technology</p></blockquote>
<p>Selain itu, penulis memulai menulis blog juga terinspirasi dari teman di Pare. Dengan adanya blog ini, mungkin jadi bahan pertimbangan perusahaan untuk menerima penulis. Setidaknya, penulis tidak kebingungan ketika diminta untuk menyerahkan contoh portofolio.</p>
<p>Lantas, apakah penulis menyerah dengan impiannya untuk kuliah di luar negeri? Tentu tidak. Penulis hanya menundanya untuk sementara waktu. Mungkin, Tuhan menyuruh penulis untuk bekerja terlebih dahulu sebelum kuliah lagi.</p>
<p>Sekarang, penulis mau fokus melakukan yang terbaik untuk pekerjaan penulis. Penulis akan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dari tempat kerja penulis. Penulis tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan kepercayaan yang telah diberikan kepada penulis, setelah melalui proses panjang tersebut.</p>
<p>Jika ada yang bertanya &#8220;dulu kerja di mana?&#8221; lagi, mungkin penulis akan menjawab &#8220;kawan, bersiaplah mendengarkan sebuah kisah yang cukup panjang&#8221;.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 29 Desember 2018, terinspirasi dari banyaknya yang mengajukan pertanyaan tersebut ke penulis</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@rawpixel">rawpixel</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/">Dulu Kerja di Mana?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
