<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>renungan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/renungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/renungan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 01 Jun 2024 12:01:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>renungan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/renungan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca A Happy Life: Sebuah Perenungan</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-a-happy-life-sebuah-perenungan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-a-happy-life-sebuah-perenungan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 01 Jun 2024 12:01:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Seneca]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<category><![CDATA[Yunani Kuno]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7305</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kalau sering membaca ulasan buku di blog ini, mungkin Pembaca menyadari kalau Penulis cukup menggemari buku-buku stoik. Beberapa buku yang pernah dibaca adalah Stoik: Apa dan Bagaimana dan Filosofi Teras. Walaupun sudah mengetahui konsep dasarnya, Penulis merasa tetap perlu untuk membaca referensi lagi untuk semakin mendalami salah satu cabang filsafat ini. Seperti kata pepatah, semakin [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-a-happy-life-sebuah-perenungan/">[REVIEW] Setelah Membaca A Happy Life: Sebuah Perenungan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Kalau sering membaca ulasan buku di blog ini, mungkin Pembaca menyadari kalau Penulis cukup menggemari buku-buku stoik. Beberapa buku yang pernah dibaca adalah <em><a href="Stoik: Apa dan Bagaimana">Stoik: Apa dan Bagaimana</a> </em>dan <em><a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Filosofi Teras</a></em>.</p>



<p>Walaupun sudah mengetahui konsep dasarnya, Penulis merasa tetap perlu untuk membaca referensi lagi untuk semakin mendalami salah satu cabang filsafat ini. Seperti kata pepatah, semakin kita tahu, semakin sadar kalau yang tidak kita diketahui selalu lebih banyak.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli buku <em>A Happy Life: Sebuah Perenungan </em>yang merupakan karya Seneca, salah satu toko Stoik yang dari Yunani. Berikut adalah ulasan Penulis setelah menyelesaikan buku yang satu ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner.jpg 1280w " alt="Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/kepingan-puzzle-terakhir-untuk-messi-telah-lengkap/">Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>A Happy Life: Sebuah Perenungan</em></li>



<li>Penulis: Seneca</li>



<li>Penerbit: Noura Books</li>



<li>Cetakan: Pertama</li>



<li>Tanggal Terbit: Februari 2023</li>



<li>Tebal: 308 halaman</li>



<li>ISBN: 9786232423831</li>



<li>Harga: Rp84.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis A Happy Life: Sebuah Perenungan</h2>



<p><em>Kebahagiaan—paling sering dibicarakan, sekaligus paling sukar dipahami. Dalam keadaan buta dan tergesa-gesa, semua orang mengejar kebahagiaan tanpa arah, yang akhirnya hanya mendapatkan lelah. </em></p>



<p><em>A Happy Life, yang dirangkum dari kumpulan catatan dan surat-surat Lucius Annaeus Seneca, mengajak kita merenungi “apa tujuan kita”, kemudian “mana jalan terbaik untuk mencapainya”. Salah satu pemikir Romawi yang disebut sebagai paling cerdas di antara semua filsuf Stoa ini, mencoba menjawab dua pertanyaan tentang apa itu bahagia dan apa saja yang mendasarinya.</em></p>



<p><em>Pembaca era modern saat ini akan merasakan, betapa buah pikir Seneca tak pernah usang dan tetap relevan meski sudah dua milenium berselang sejak dituliskan.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku A Happy Life: Sebuah Perenungan</h2>



<p>Sebagai salah satu tokoh stoik yang paling terkenal, Seneca membagikan pemikirannya melalui tulisan-tulisan, yang lantas terangkum dalam buku ini. Sesuai dengan judulnya, tema yang diusung adalah mengenai &#8220;kebahagiaan.&#8221;</p>



<p>Bagi manusia, tema kebahagiaan adalah salah satu topik yang paling sering didiskusikan. Apa itu bahagia? Mengapa kita sulit untuk bahagia? Mengapa manusia mengejar kebahagiaan? Mengapa rasa bahagia hanya bertahan sebentar? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.</p>



<p>Buku ini tidak berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara gamblang. Sesuai dengan sub-judulnya, buku ini mengajak pembacanya untuk merenungkan sendiri tentang kebahagiaan, lantas menemukan jawabannya sendiri.</p>



<p>Dalam membahas mengenai kebahagiaan, buku ini dibagi dengan beberapa bab yang cukup pendek, hanya sekitar 10 halaman saja. Oleh karena itu, buku ini sangat cocok menjadi teman perjalanan atau mengisi waktu luang yang sedikit.</p>



<p>Total ada 25 bab pada buku ini, mulai dari &#8220;Tentang Hidup Bahagia dan Apakah Kebahagiaan Itu&#8221; hingga &#8220;Kemiskinan adalah Keberkahan dan Bukan Kemalangan.&#8221; Dalam penyusunannya, buku ini dibuat sesuai dengan sub-topiknya.</p>



<p>Misalnya, bab I hingga VIII berusaha menjelaskan mengenai definisi kebahagiaan dan apa yang bisa menimbulkan kebahagiaan. Bab IX hingga XIV menjelaskan tentang penyebab ketidakbahagiaan. Bab sisanya lebih ke praktik untuk bagaimana cara agar kita bisa bahagia.</p>



<p>Ketika membaca buku ini, tidak perlu tergesa-gesa untuk menyelesaikannya. Baca saja setiap babnya secara perlahan, lalu renungkan isinya. Dengan begitu, isi buku ini pun bisa lebih masuk ke dalam diri kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca A Happy Life: Sebuah Perenungan</h2>



<p>Penulis memiliki &#8220;ketakutan&#8221; akan karya-karya klasik karena merasa tidak percaya diri bisa memahami tata bahasanya, yang kadang bisa terasa sangat sulit untuk dicerna. Untungnya, buku <em>A Happy Life: Sebuah Perenungan </em>ini tidak seperti itu.</p>



<p>Entah karena skrip aslinya memang menggunakan bahasa yang mudah atau kemampuan penerjemahnya, buku ini sama sekali tidak terasa sebagai literatur klasik yang dibuat di awal-awal tahun masehi. Isinya sederhana, tapi bermakna.</p>



<p>Dalam menulis, di sini Seneca menggunakan gaya bahasa seolah sedang berdialog dengan kita pembacanya. Jangan heran kalau Pembaca akan menemukan banyak kata &#8220;Aku&#8221; dalam buku ini, karena memang gaya penulisannya seperti itu.</p>



<p>Jadi, ketika kita membaca buku ini, rasanya kita sedang mengikuti kuliah di zaman Yunani kuno. Tentu ini pengalaman membaca yang menyenangkan bagi sebagian orang yang memiliki obsesi terhadap kebudayaan Yunani kuno.</p>



<p>Selain itu, Seneca juga menyelipkan beberapa tokoh Yunani kuno di dalam tulisannya agar kita sebagai Pembaca bisa lebih membayangkan apa yang ia sampaikan. Jadi, meskipun ini buku filsafat/pengembangan diri, kita bisa sedikit-sedikit belajar sejarah Yunani kuno juga.</p>



<p>Namun, beberapa bagian mungkin akan terasa cukup membingungkan dan agak terlalu bertele-tele. Meskipun di awal Penulis bilang buku ini relatif mudah dipahami, tetap saja ada bagian yang &#8220;khas&#8221; karya klasik.</p>



<p>Penulis akan menyarankan buku ini untuk Pembaca yang tertarik dengan filsafat stoik, tapi sudah pernah membaca buku-buku lain sebelumnya. Bisa dibilang, buku ini lebih bersifat komplementer untuk yang tertarik dengan stoik, bukannya elementer.</p>



<p>Namun, jika memutuskan untuk membaca buku ini sebagai perkenalan stoik, ya sebenarnya sah-sah saja. Bahasanya tidak terlalu <em>njelimet </em>sehingga bisa dipahami dengan mudah. Akan ada banyak bagian yang akan membuat kita merenungkan tentang kebahagiaan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Rating: 7/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 1 Juni 2024, terinspirasi setelah membaca <em>A Happy Life:</em> <em>Sebuah Perenungan </em>karya Seneca</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-a-happy-life-sebuah-perenungan/">[REVIEW] Setelah Membaca A Happy Life: Sebuah Perenungan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-a-happy-life-sebuah-perenungan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2022 01:21:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Desi Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[pandemi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6125</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang berjalan-jalan di Gramedia beberapa bulan yang lalu, Penulis menemukan buku terbaru dari Desi Anwar yang berjudul The Art of Solitude. Buku ini berbahasa Inggris, tetapi Penulis tetap ingin membelinya. Hitung-hitung sebagai latihan juga. Namun, ketika melihat-lihat sekitar, ternyata buku ini memiliki versi bahasa Indonesia-nya berjudul Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian. Setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/">Setelah Membaca Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang berjalan-jalan di Gramedia beberapa bulan yang lalu, Penulis menemukan buku terbaru dari <strong>Desi Anwar</strong> yang berjudul <em><strong>The Art of Solitude</strong></em>. Buku ini berbahasa Inggris, tetapi Penulis tetap ingin membelinya. Hitung-hitung sebagai latihan juga.</p>



<p>Namun, ketika melihat-lihat sekitar, ternyata buku ini memiliki versi bahasa Indonesia-nya berjudul <em><strong>Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</strong>.</em> Setelah ditimbang-timbang, Penulis pun memutuskan untuk membeli yang bahasa Indonesia saja.</p>



<p>Sama seperti buku-buku Desi Anwar yang lain seperti <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hidup-sederhana/">Hidup Sederhana</a> </em>dan <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-going-offline/">Going Offline</a></em>, buku ini juga cukup tipis sehingga praktis untuk dibawa ke mana-mana. Bedanya, buku yang satu ini akan berisi pemikiran Desi selama masa pandemi.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: <em>Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</em></li><li>Penulis: Desi Anwar</li><li>Penerbit: Penerbit Gramedia</li><li>Cetakan: Ketiga</li><li>Tanggal Terbit: September 2021</li><li>Tebal: 221 halaman</li><li>ISBN: 9786020648330</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Dalam pendahuluannya, Desi telah menyebutkan kalau buku ini terinspirasi di masa-masa ketika kita harus menjalani <em>lockdown</em>, karantina mandiri, <a href="https://whathefan.com/politik-negara/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya/">PPKM</a>, dan lain sebagainya. Interaksi antarmanusia benar-benar dibatasi karena adanya virus COVID-19.</p>



<p>Dengan begitu, banyak pemikirannya di buku ini yang mengambil sudut pandang ketika kita dipaksa sendirian oleh keadaan. Apa yang ada di pikiran kita di masa-masa ini? Apa yang bisa dipelajari dengan situasi yang ada?</p>



<p>Dari banyaknya tulisan yang ada di buku ini, kebanyakan akan berfokus pada bagaimana pandemi kemarin akan membuat kita memiliki waktu lebih banyak untuk diri sendiri. Selama ini, mungkin saja kita sering mengabaikannya karena berbagai kesibukan kita.</p>



<p>Pandemi kemarin juga mengajak kita untuk lebih mengenal diri sendiri, entah itu dari melamun, merenung, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menikmati-kebosanan/">menikmati kebosanan</a>, dan lain sebagainya. Jika mau lihat &#8220;<em>silver lining</em>&#8221; dari pandemi kemarin, mungkin itu adalah salah satunya.</p>



<p>Seperti buku-buku Desi lainnya, setiap bab di buku ini juga hanya terdiri dari 4-5 halaman saja. Ada sekitar 40 topik yang bisa dibaca. Sayangnya, karena Penulis sudah cukup lama menyelesaikan buku ini, Penulis lupa mana yang jadi favoritnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</h2>



<p>Sebagai orang yang <em>introvert </em>dan suka menyendiri, buku ini cukup <em>related </em>dengan kehidupan Penulis. Memang tidak semua topiknya seperti itu, tetapi buku ini cukup menyenangkan untuk dibaca di kala senggang. </p>



<p>Penulis juga mengalami sendiri bagaimana masa pandemi kemarin membawa Penulis untuk mengenal dirinya sendiri. Karena tidak bisa ke mana-mana (walau pada dasarnya Penulis jarang keluar), Penulis jadi lebih sering merenung saat tidak ada aktivitas.</p>



<p>Topik yang dibawakan oleh Desi Anwar di buku ini juga cukup luas. Tidak hanya ajakan untuk memanfaatkan kesendirian di saat pandemi untuk lebih mengenal diri sendiri, ada juga topik yang serius seperti kematian dan masa depan manusia.</p>



<p>Beberapa topik juga terkesan bertele-tele dan terlalu diulur-ulur seolah itu dilakukan demi menambah jumlah halaman agar buku ini tidak terlalu tipis. Itu membuat buku ini terasa agak membosankan. Penulis sendiri membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menamatkannya.</p>



<p>Namun, <em>overall</em>, buku ini masih oke untuk dibaca, terutama untuk orang-orang yang ingin lebih mengenal diri sendiri. Meskipun pandemi tampaknya akan berakhir, cobalah cari waktu untuk diri sendiri agar bisa mengenalnya lebih baik lagi.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 2 November 2022, terinspirasi setelah membaca buku <em>Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian </em>karya Desi Anwar</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/">Setelah Membaca Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa yang Saya Pelajar dari Video Asumsi Mengenai Bantar Gebang</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2022 15:19:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Bantar Gebang]]></category>
		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[mengeluh]]></category>
		<category><![CDATA[pemulung]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[tempat sampah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5997</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kemarin siang ketika selesai makan siang, tanpa sengaja Penulis mendengarkan sebuah video YouTube dari TV yang sedang ditonton oleh ibu. Hanya sepintas, tapi entah mengapa langsung tertangkap oleh telinga Penulis. Video tersebut merupakan sebuah video dari Asumsi yang sedang mewawancarai orang-orang di Bantar Gebang, sebuah tempat di Bekasi yang terkenal sebagai tempat pembuangan sampah akhir. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/">Apa yang Saya Pelajar dari Video Asumsi Mengenai Bantar Gebang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Kemarin siang ketika selesai makan siang, tanpa sengaja Penulis mendengarkan sebuah video YouTube dari TV yang sedang ditonton oleh ibu. Hanya sepintas, tapi entah mengapa langsung tertangkap oleh telinga Penulis.</p>



<p>Video tersebut merupakan sebuah video dari Asumsi yang sedang mewawancarai orang-orang di <strong>Bantar Gebang</strong>, sebuah tempat di Bekasi yang terkenal sebagai tempat pembuangan sampah akhir. Istilah kerennya, Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST).</p>



<p>Salah satu narasumber di video tersebut mengatakan kalau ternyata penghasilan pemulung di sana lumayan mencukupi. Bahkan, ada yang berhasil membangun rumah hingga membeli mobil.</p>





<p>Karena merasa penasaran, malamnya Penulis pun memutuskan untuk menonton video lengkapnya. Dari sana, ternyata Penulis merasa mendapatkan banyak hal yang bisa dijadikan sebagai pelajaran dalam hidup ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bantar Gebang, Tempat Sampah dengan Tumpukan Makna</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Distrik: Bantar Gebang dan Kemampuan Adaptasi Manusia" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/jgc8O10lhQw?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Penulis mengetahui nama Bantar Gebang pertama kali melalui novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/pemilihan-diksi-dan-totalitas-riset-pada-aroma-karsa/">Aroma Karsa</a> </em>karya Dee Lestari. Tokoh utama di novel tersebut digambarkan tinggal di sana dan dianugerahi dengan indra penciuman yang tajam.</p>



<p>Selain itu, Dee Lestari juga membahas mengenai tempat tersebut lebih detail melalui bukunya yang lain berjudul <em><a href="https://whathefan.com/buku/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa/">Di Balik Tirai Aroma Karsa</a></em>. Di buku ini, Dee menceritakan perjalanan risetnya ke Bantar Gebang untuk lebih mendalami penceritaannya.</p>



<p>Berbekal kedua buku tersebut, Penulis pun berasumsi kalau Bantar Gebang adalah tempat pembuangan sampah raksasa. Sudah, hanya sebatas itu. Tidak ada yang menarik dari sebuah tempat sampah.</p>



<p>Pendapat tersebut ternyata berubah setelah Penulis menonton video dari Asumsi yang melakukan dokumentasi ke sana. Ada beberapa poin yang Penulis catat sebagai pelajaran untuk dirinya sendiri, dan semoga juga bisa menginspirasi para Pembaca sekalian.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Bagi Kita Sampah, Bagi Mereka Harta Karun</h3>



<p>Dalam salah satu komik <em>Doraemon</em>, ada alat yang membuat semacam lubang dimensi. Nobita dengan otak bisnisnya pun membuka jasa bagi orang-orang yang ingin membuang sampahnya. Apesnya, Doraemon tersedot masuk dan terbawa ke masa lampau.</p>



<p>Barang-barang yang dianggap sebagai sampah orang modern ternyata bermanfaat untuk orang zaman dulu, bahkan sampai menjadi &#8220;inspirasi&#8221; untuk cerita rakyat. Setelah berhasil kembali ke zaman sekarang, Doraemon pun menjadi selektif dalam membuang sampah.</p>



<p>Nah, itulah yang benar-benar terjadi bagi orang-orang yang tinggal di Bantar Gebang. Barang yang sudah kita anggap sebagai<strong> sampah ternyata bisa menjadi semacam harta karun</strong> untuk mereka. Bagi kita bukit sampah, bagi mereka bukit emas.</p>



<p>Para pemulung bisa menemukan barang-barang bagus yang bisa dijual ke penadah dan mendapatkan pemasukan dari sana. Tak jarang, mereka menemukan makanan dan minuman sisa yang sudah dibuang untuk dikonsumsi!</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kemampuan Adaptasi Manusia yang Luar Biasa</h3>



<p>Orang gila yang makan dari sampah mungkin sudah biasa, tapi bagaimana dengan orang waras yang melakukan itu? Penulis baru menyadari kalau ternyata ada banyak yang melakukan hal tersebut. Pemulung di Bantar Gebang melakukan hal-hal tersebut.</p>



<p>Mungkin, itu adalah salah satu upaya <em>survive </em>mereka dari kerasnya kehidupan di sana. Meskipun katanya mereka bisa membangun rumah dengan memulung, mungkin mereka sudah terbiasa makan dari sampah demi mengirit pengeluaran.</p>



<p>Penulis merasa heran atas kemampuan adaptasi tubuh orang-orang di Bantar Gebang. Secara logika, makanan yang sudah menjadi sampah tentu penuh dengan kuman dan penyakit, tapi mengapa mereka terlihat sehat-sehat saja dan jarang sakit?</p>



<p>Tak salah lagi, keadaan telah memaksa tubuh mereka <strong>melakukan adaptasi yang luar biasa</strong>. Demi bisa bertahan hidup, tubuh pun harus menjadi lebih tangguh dalam menghadapi berbagai potensi bahaya yang masuk dari makanan-makanan sisa tersebut.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Terlihat Hina, Padahal Berkecukupan</h3>



<p>Penulis benar-benar kaget ketika mendengar pengakuan narasumber di video tersebut (seorang penadah) yang mengatakan kalau anak buahnya yang pemulung ternyata bisa membangun rumah di kampungnya, yang dianggapnya lebih bagus dari rumahnya sendiri. </p>



<p>Tidak cukup sampai di situ, ada banyak pemulung yang berhasil mencicil motor hingga mobil. Jujur, logika Penulis tidak sampai ke sana bagaimana mereka bisa mengelola uangnya dengan begitu baik.</p>



<p>Bagi orang di luar Bantar Gebang, mungkin pekerjaan sebagai pemulung adalah pekerjaan yang hina dan kotor. Namun, nyatanya <strong>mereka bisa hidup bahagia dan mampu memiliki berbagai aset</strong>. </p>



<p>Ini berkebalikan dengan beberapa orang di kota besar, di mana dari luar keliatan <em>borjuis </em>dan bergaya hidup mewah, padahal barangnya banyak yang kredit, bahkan ada yang hanya pinjaman. Semua demi menjaga gengsi semata. Pertanyaannya, mana yang lebih hina?</p>



<h3 class="wp-block-heading">Mereka Belajar Finance dari Mana?</h3>



<p>Si penadah yang sudah Penulis sebutkan di atas ternyata menginvestasikan sebagian penghasilannya untuk beternak kambing. Katanya, seandainya ada hal buruk terjadi seperti pandemi kemarin, setidaknya ia punya sesuatu untuk dijual demi menyambung hidup.</p>



<p>Selain itu, ada juga seorang penjaja warung di Bantar Gebang. Ia memiliki semacam lapak di atas tumpukan sampah. Menurut pengakuannya, ia bisa mendapatkan penghasilan dalam sehari antara ratusan ribu hingga jutaan rupiah dalam sehari.</p>



<p>Ia mengatakan kalau separuh dari pemasukan tersebut ia tabung. Hasilnya, ia pun sudah bisa punya rumah sendiri. Kenyataan ini benar-benar menampar Penulis: Mereka tidak pernah belajar tentang <em>finance</em>, tapi <strong>pengelolaan uangnya sangat baik</strong>!</p>



<p>Penulis merasa dirinya cukup banyak membaca posting atau menonton video seputar <em>finance</em>, tapi belum bisa di level mereka. Memang ada banyak faktor lain yang memengaruhi ini seperti gaya hidup, tapi Penulis ingin fokus dengan kehebatan mereka dalam mengelola uang.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Nikmat Mana Lagi yang Aku Dustakan?</h3>



<p>&#8220;Tidak ada orang yang susah, adanya orang yang malas,&#8221; tutur penjaja warung di video tersebut. Satu kalimat sederhana yang keluar dari orang biasa, tetapi mampu membuat Penulis merasa malu.</p>



<p>Dibandingkan mereka, Penulis tentu merasa memiliki banyak <em>privilege</em> dalam hidupnya. Penulis jadi <strong>merasa bertanggung jawab untuk bisa memanfaatkan <em>privilege</em></strong><em> </em>tersebut untuk bisa menjadi orang yang lebih baik lagi dan bisa bermanfaat untuk orang banyak.</p>



<p>Selain itu, Penulis juga sadar kalau selama ini dirinya selama ini <strong>terlalu banyak mengeluh</strong>. Iya memang kemampuan orang dalam menghadapi masalah beda-beda, tetapi Penulis tidak ingin menjadikan hal tersebut sebagai pembenaran untuk mengeluh.</p>



<p>Penulis jadi <strong>banyak-banyak bersyukur</strong> karena tidak perlu menjalani kehidupan berat seperti mereka yang setiap hari harus bekerja dengan risiko tinggi. Di TPST seperti itu, terlindas buldoser atau terpapar cairan kimia berbahaya bisa terjadi.</p>



<p>Penulis juga jadi lebih mensyukuri setiap makanan yang disantapnya, bersyukur bisa bekerja di tempat yang nyaman, dan lain sebagainya. Sesungguhnya Penulis jadi sadar, <strong>betapa banyak nikmat yang telah Penulis dustakan selama ini</strong>. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Ketika membaca kolom komentar, mayoritas memuji Asumsi karena &#8220;berani&#8221; dan totalitas dalam menyusun video tersebut. Bagaimana tidak, sang <em>host </em>sampai nekat untuk memakan makanan bekas!</p>



<p>Bagi Penulis, melihat sisi kehidupan lain yang selama ini tak terpikirkan memang menarik. Penulis jadi mengetahui ada kehidupan seperti di Bantar Gebang yang begitu unik dan berwarna. <strong>Kondisi yang memaksa memunculkan celah untuk bertahan hidup</strong>.</p>



<p>Mungkin ke depannya Penulis akan lebih sering menonton video-video dokumenter seperti ini agar Penulis bisa mengerti bagaimana kehidupan di luar sana dan membantu Penulis untuk bisa menjadi manusia yang lebih bersyukur.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 11 Oktober 2022, terinspirasi setelah menonton video Asumsi mengenai Bantar Gebang di YouTube</p>



<p>Foto: <a href="https://news.detik.com/berita/d-5731837/kontrak-tpst-bantargebang-dengan-bekasi-berakhir-oktober-ini-kata-wagub-dki">Detik</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/">Apa yang Saya Pelajar dari Video Asumsi Mengenai Bantar Gebang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menghargai Orang yang Peduli ke Kita, Sebelum Terlambat</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/menghargai-orang-yang-peduli-ke-kita-sebelum-terlambat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/menghargai-orang-yang-peduli-ke-kita-sebelum-terlambat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2022 23:28:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5779</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dead people receive more flowers than living ones, because regret is stronger than gratitude Anonymous Coba luangkan waktu sejenak untuk berdiam diri dari segala kesibukan dan hiruk pikuk yang ada di pikiran. Cari posisi duduk yang paling membuat kita merasa nyaman. Lalu, pusatkan perhatian pada aktivitas bernapas, hingga kita merasa benar-benar hadir di saat ini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/menghargai-orang-yang-peduli-ke-kita-sebelum-terlambat/">Menghargai Orang yang Peduli ke Kita, Sebelum Terlambat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Dead people receive more flowers than living ones, because regret is stronger than gratitude</p><cite>Anonymous</cite></blockquote>



<hr class="wp-block-separator alignfull is-style-wide"/>



<p>Coba luangkan waktu sejenak untuk berdiam diri dari segala kesibukan dan hiruk pikuk yang ada di pikiran. Cari posisi duduk yang paling membuat kita merasa nyaman. Lalu, pusatkan perhatian pada aktivitas bernapas, hingga kita merasa benar-benar hadir di saat ini.</p>



<p>Setelah itu, coba renungkan kehadiran orang-orang yang ada di sekitar kita. Keluarga, pasangan, teman, kolega kerja, tetangga. Di antara mereka semua, siapa saja yang sudah memberikan perhatian dan kepedulian ke kita?</p>



<p>Jika sudah mendapatkan daftar namanya, coba tanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/">menghargai mereka dengan baik</a>? Sudahkah kita bersyukur atas kehadiran mereka? Atau ternyata selama ini kita cenderung acuh terhadap mereka dan kurang menghargai mereka?</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Dari sebuah <em>quote </em>yang Penulis temukan di Pinterest, ada sebuah kiasan yang menarik di mana orang yang telah mati biasanya mendapatkan bunga lebih banyak dari mereka yang masih hidup. Alasannya, penyesalan selalu lebih besar dari rasa syukur.</p>



<p>Ketika merenungkan <em>quote </em>tersebut, Penulis pun jadi merasa kalau dirinya selama ini belum bisa menghargai secara pantas orang-orang yang sudah peduli kepadanya. Jangankan membalas kepedulian tersebut, menghargai saja belum.</p>



<p>Itu bisa ke orang tua, ke teman, ke nenek Penulis, <em>and the list goes on</em>. Padahal sudah banyak cerita, di mana orang merasa menyesal karena belum bisa membalas kebaikan dan kepedulian orang lain karena yang bersangkutan sudah meninggalkan dunia ini mendahului kita.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Salah satu bentuk penyesalan Penulis yang terkadang masih terngiang-ngiang sampai sekarang adalah ketika salah satu sahabat, kakak, mentor Penulis di Jakarta meninggal dunia pada awal tahun ini karena sakit yang sudah lama dideritanya.</p>



<p>Sewaktu masih di <a href="https://whathefan.com/sajak/jakarta/">Jakarta</a>, Penulis kerap bertukar pikiran dengannya dan mendapatkan banyak sekali ilmu darinya. Sayangnya sewaktu sakitnya semakin parah, Penulis merasa kurang peduli, kurang memberikan perhatian dan bantuan. </p>



<p>Sampai akhirnya, tiba-tiba Penulis mendapatkan kabar duka tersebut dari teman Penulis dan merasa cukup terpukul. Perasaan menyesal pun datang karena belum bisa membalas kepeduliannya ke Penulis. Al-Fatihah untuk beliau&#8230;</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Belajar dari pengalaman tersebut, Penulis lebih berusaha untuk menghargai orang-orang yang telah mengalokasikan waktunya untuk peduli kepada Penulis. Keberadaan mereka harus benar-benar Penulis syukuri agar tidak merasa menyesal ketika mereka sudah pergi.</p>



<p>Terkadang, kita terlalu sibuk dengan keseharian dan pikiran sendiri, sehingga mengabaikan hal-hal semacam ini. Kesibukan ini kita jadikan dalih untuk menunda-nunda apa yang seharusnya bisa kita lakukan untuk mereka yang sudah peduli dengan kita.</p>



<p>Oleh karena itu, coba <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-sejenak/">berhenti sejenak</a> dari segala aktivitas kita. Tidak perlu lama-lama, cukup beberapa menit. Lalu, coba ekpresikan rasa syukur dan terima kasih kita kepada mereka yang sudah peduli dengan kita, sebelum terlambat.</p>



<p></p>



<p>NB: <em>Quote </em>di awal tulisan kerap ditulis sebagai perkataan dari seorang penulis buku harian dan korban <em>holocaust</em>, Anne Frank. Namun setelah ditelusuri, tidak ada bukti kalau<em> quote </em>tersebut berasal darinya.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 28 Juni 2022, terinspirasi setelah merasa dirinya belum bisa menghargai orang-orang yang peduli dengannya</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@minan1398/">Min An on Pexels</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/menghargai-orang-yang-peduli-ke-kita-sebelum-terlambat/">Menghargai Orang yang Peduli ke Kita, Sebelum Terlambat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/menghargai-orang-yang-peduli-ke-kita-sebelum-terlambat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjadi Dewasa Itu&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Mar 2022 13:28:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kedewasaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5623</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Grow up, act according to your age, you are not a child anymore.&#8221; Anonymous Setelah direnungkan, ternyata menjadi dewasa itu memang berat. Ada banyak hal yang harus kita lakukan seiring bertambahnya usia kita. Ada banyak hal kekanakan yang harus kita tinggalkan. Penulis kerap berpikir mengenai apa makna menjadi seorang dewasa belakangan ini. Hasil pemikiran tersebut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/">Menjadi Dewasa Itu&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;<em>Grow up, act according to your age, you are not a child anymore</em>.&#8221;</p><cite>Anonymous</cite></blockquote>



<p>Setelah direnungkan, ternyata menjadi dewasa itu memang berat. Ada banyak hal yang harus kita lakukan seiring bertambahnya usia kita. Ada banyak hal kekanakan yang harus kita tinggalkan. </p>



<p>Penulis kerap berpikir mengenai apa makna menjadi seorang dewasa belakangan ini. Hasil pemikiran tersebut akhirnya Penulis tuangkan dalam tulisan ini. Semoga saja, tulisan ini mampu menginspirasi Pembaca dan Penulis sendiri tentang menjadi seorang dewasa.</p>





<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Menyadari kalau hidup ini ada di tangan kita. Kita punya tanggung jawab yang besar untuk diri sendiri. Jangan menjadi benalu bagi orang lain, bahkan kalau bisa kita yang meringankan beban mereka.</p>



<p><em><strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dimengerti-dengan-mengerti/">Menjadi dewasa itu&#8230;</a></strong></em></p>



<p>Tidak boleh <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">terlalu banyak rebahan</a> dan membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna. Harus terus mengembangkan diri, bahkan menghasilkan suatu karya sekecil apapun. Jadi pribadi yang bermanfaat untuk sekitarnya.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Menyadari kalau <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">tidak semua hal bisa kita kontrol</a>. Apa yang benar-benar bisa kendalikan adalah diri kita sendiri dan respon kita atas semua peristiwa yang terjadi. Jangan terlalu berharap dari hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, seperti orang lain.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Memiliki kontrol diri yang lebih baik lagi. Tak mudah untuk terpancing emosinya hanya karena masalah-masalah sepele. Mampu meredam amarah dan berpikir jernih meskipun ada peristiwa yang melukai batinnya.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-menyalahkan-diri-sendiri/">Berhenti menyalahkan diri</a> sendiri atas sesuatu yang di luar kendali kita. Apapun yang terjadi, lebih baik curahkan energi untuk mencari solusi daripada hanya merutuk diri sendiri. Sekali lagi, memahami kalau ada banyak hal yang tidak bisa kita kontrol.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Berani menghadapi masalah secara langsung dan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/lebih-mudah-untuk-lari/">tidak lari dari masalah</a>. Apalagi kalau masalah tersebut berasal dari kita, harus berani tanggung jawab. Mau seberat apapun masalah, kabur darinya tidak pernah menjadi pilihan.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Harus bisa menerima kenyataan yang terjadi tanpa merengek-rengek betapa tidak adilnya dunia. Sepahit apapun yang terjadi dalam hidup, harus yakin kalau Tuhan punya skenario yang lebih baik untuk kita.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Harus bisa jadi sosok yang tangguh dan kuat. Tidak boleh dengan mudah menunjukkan sisi lemah ke orang lain. Tidak boleh jadi pribadi yang cengeng dan mudah menyerah. Tidak boleh selalu menyalahkan orang lain tanpa melakukan interopeksi diri</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Berusaha untuk selalu berbenah menjadi lebih baik lagi, sedikit demi sedikit. Tak pernah lelah untuk belajar demi diri sendiri. Mampu mencintai diri lebih hebat lagi dari sebelumnya. Terus berusaha untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruknya.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Selalu bisa bangkit dari segala kejatuhan yang diderita. Sedih, marah, kecewa, hanya boleh dialami sesaat, tidak boleh berlarut-larut hingga mengganggu keseharian. Harus bisa tetap berdiri dalam keadaan sesulit apapun.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu</strong></em></p>



<p>Punya <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dengan-diri-sendiri/">kepedulian terhadap dirinya sendir</a>i tanpa berubah menjadi sosok yang egois. Mampu menolong dan mencintai dirinya sendiri sebagaimana ketika dilakukan untuk orang lain. Memahami betapa pentingnya <em>self-love </em>untuk diri sendiri.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Punya kekuatan untuk menolong orang lain tanpa berharap imbalan apapun. Mampu peduli dan punya empati untuk orang lain tanpa berharap akan mendapatkan hal yang sama dari mereka. <a href="https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/">Memiliki keikhlasan untuk peduli</a> tanpa syarat.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Mampu beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi. Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda 180 derajat sekalipun. Berani mengambil risiko dan keluar dari zona nyamannya jika itu dirasa akan membuat dirinya menjadi lebih baik lagi. </p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Mampu menghargai orang lain dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Mampu <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-mau-stay-ya-stay-kalau-mau-leave-ya-leave-bebas/">menghargai orang yang <em>stay</em></a>, mampu menghargai orang yang memutuskan untuk pergi. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dimengerti-dengan-mengerti/">Berusaha mengerti dan memahami orang lain</a> tanpa menghakimi.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Mampu belajar dari kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat dan tak mengulanginya di masa depan. Menjadikannya sebagai pembelajaran di masa depan agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Mampu <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikecewakan-ekspektasi/">mengolah ekspektasi</a> dengan lebih baik lagi. Harus menyadari kalau semakin tinggi harapannya, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/semakin-tinggi-harapannya-semakin-sakit-jatuhnya/">semakin sakit jatuhnya</a>. Tidak terlalu berharap pada manusia, hanya menaruhnya kepada Tuhan yang Maha Kuasa.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Mampu memilah prioritasnya dengan baik, tahu mana yang harus didahulukan dan mana yang bisa ditinggal untuk sementara. Kita juga <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/">harus bisa memahami prioritas orang lain</a> dan tidak boleh berharap akan diprioritaskan oleh orang lain.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Mampu menerima kritikan dan masukan dari orang lain dengan lapang dada. Tidak menganggap masukan sebagai sesuatu yang ofensif. Mengambil hikmah dan berusaha menerima kata orang dari sisi positifnya.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Tidak boleh banyak berharap kepada orang lain karena kita harus menjadi sosok yang mandiri dan tangguh. Kita harus belajar untuk mengandalkan diri sendiri. Diri ini harus didorong terus hingga melampaui batasannya.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Mampu memaafkan bahkan untuk sesuatu yang benar-benar menyakitkan. Mampu memberi maaf walau orang yang berbuat salah tidak memintanya. Mampu mengikhlaskan perbuatan buruk orang lain tanpa punya niat untuk membalasnya.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p><strong>Menjadi dewasa itu berat</strong>. Kita bukan anak kecil lagi yang selalu dilindungi oleh orang tua. Fase transisi yang kita lalui pasti tidak mudah. Namun, kita pasti bisa melewatinya. Pada akhirnya, kita akan tumbuh dan harus bertindak sesuai usia kita.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 12 Maret 2022, terinspirasi dari hasil kontemplasinya mengenai menjadi dewasa</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@nathan_mcb">Nathan McBride</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/">Menjadi Dewasa Itu&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Umur Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Jan 2022 14:04:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kedewasaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[umur]]></category>
		<category><![CDATA[usia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5562</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika masih duduk di bangku sekolah, Penulis memiliki kenalan dekat yang usianya beberapa tahun di atas Penulis. Kami sering mengobrolkan banyak hal, tetapi ada satu quote darinya yang Penulis ingat hingga sekarang: &#8220;Umur Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan&#8221; Waktu itu, Penulis belum terlalu memahami apa makna yang terkandung dalam kalimat tersebut. Batin Penulis, itu hanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/">Umur Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika masih duduk di bangku sekolah, Penulis memiliki kenalan dekat yang usianya beberapa tahun di atas Penulis. Kami sering mengobrolkan banyak hal, tetapi ada satu <em>quote </em>darinya yang Penulis ingat hingga sekarang:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Umur Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan&#8221;</p></blockquote>



<p>Waktu itu, Penulis belum terlalu memahami apa makna yang terkandung dalam kalimat tersebut. Batin Penulis, itu hanya sebuah kutipan keren yang ia temukan dan mungkin ingin dibagikan ke orang lain.</p>



<p>Setelah Penulis berada di usia yang cukup untuk disebut dewasa, barulah Penulis menyadari kalau <em>quote </em>tersebut memiliki makna yang mendalam.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Berbicara tentang Umur</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5564" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Umur Itu Pasti (<a href="https://unsplash.com/@jonathanborba">Jonathan Borba</a>)</figcaption></figure>



<p>Ketika memasuki <a href="https://whathefan.com/renungan/manusia-dalam-tiga-babak/">babak pertama dalam kehidupan</a> (Baca: Lahir), kita mulai dari angka 0. Setelah itu, setiap tahun angka tersebut akan bertambah secara berurutan hingga ajal menjemput.</p>



<p>Umur hanyalah deretan angka-angka tersebut yang bersifat mutlak dan tidak bisa dihindari maupun dimanipulasi. Misal, kita ingin tahun depan usia kita justru berkurang biar awet muda, ya tidak bisa seperti itu. </p>



<p>Umur terikat oleh waktu, sehingga tak akan pernah punya kesempatan untuk diulang. Mau pakai kosmetik atau <em>make up </em>apapun untuk menyamarkan bentuk wajah atau fisik kita, umur kita akan tetap dan tidak akan bisa berubah.</p>



<p>Umur akan selalu melekat pada kita, tak peduli seberapa kita senang maupun takut dengannya. Ada yang tak sabar ingin segera berusia 17 tahun, karena katanya itu merupakan angka transisi dari remaja ke dewasa. Ada yang takut masuk ke usia ke-30, karena merasa dirinya masih ingin senang-senang.</p>



<p>Umur hanyalah sebuah angka, yang mungkin bisa menjadi parameter muda-tua. Akan tetapi, umur tidak bisa menjadi sebuah parameter lain, seperti tingkat kedewasaan seseorang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Berbicara tentang Dewasa</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5565" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Dewasa Itu Pilihan (<a href="https://unsplash.com/@jeshoots">JESHOOTS.COM</a>)</figcaption></figure>



<p>Apa itu dewasa? Apa ciri-ciri orang bisa dianggap dewasa? Tentu ada banyak pendapat mengenai hal ini. Masing-masing memiliki argumennya sendiri. Bagi Penulis sendiri, dewasa tidak bisa terikat dengan satu makna karena ia sangat luas.</p>



<p>Dewasa mungkin berarti bisa menempatkan diri di segala situasi dengan baik. Dewasa mungkin bisa mengendalikan diri dan emosinya dengan baik. Dewasa mungkin ketika telah merasa dirinya telah memiliki tanggung jawab, setidaknya untuk dirinya sendiri.</p>



<p>Dewasa mungkin berarti menjadi bijaksana ketika sedang dirundung masalah. Dewasa mungkin bisa mengetahui mana yang sebaiknya disimpan untuk diri sendiri mana yang bisa dibagi ke orang lain. Dewasa mungkin ketika kita bisa memilah mana yang seharusnya menjadi prioritas.</p>



<p>Dewasa mungkin berarti mengemban amanah baik dari skala kecil seperti keluarga maupun skala yang lebih besar. Dewasa mungkin bisa mengerjakan banyak hal yang anak-anak maupun remaja tidak bisa melakukannya. Dewasa mungkin ketika kita mampu meredam ego pribadi.</p>



<p>Segala definisi di atas tersebut bisa dialami semua, sebagian, atau bahkan tidak sama sekali oleh kita. Nah, beberapa ciri-ciri di atas bisa dialami oleh siapa saja tanpa memandang umurnya, karena kedewasaan sesungguhnya tidak terlalu berkorelasi dengan umur.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Keterkaitan Umur dan Kedewasaan</h2>



<p>Memang, umur kerap dikaitkan dengan dewasa. Patokannya berbeda-beda, tapi banyak yang menyebutkan kalau mulai usia 20-an lah manusia memasuki umur dewasanya. Hanya saja, setiap orang tentu berbeda.</p>



<p>Mungkin ada yang dewasa lebih cepat karena tekanan lingkungannya. Ada yang sudah mencapai kepala tiga, tetapi tidak dewasa sama sekali dan kerap bersikap kekanakan. Semua ini sangat mungkin terjadi.</p>



<p>Orang yang hidupnya selalu enak dan serba terpenuhi mungkin akan lebih tidak dewasa dibandingkan orang yang hidupnya susah dan sangat <em>struggle</em>. Anak yang biasa dimanja orang tua mungkin akan lama dewasanya dibandingkan anak yang memiliki orang tua keras.</p>



<p><strong>Dewasa dan kedewasaan itu berbeda</strong>. Berada di usia dewasa tidak otomatis menjadikan kita memiliki sikap kedewasaan. Sebaliknya, di usia muda pun bukan tidak mungkin memiliki kedewasaan yang lebih tinggi dibandingkan orang-orang yang lebih tua.</p>



<p>Semakin bertambahnya umur, semakin pelik pula masalah yang akan dihadapi. Mental kita akan benar-benar diasah dengan setiap konflik yang ditemui. Itulah mengapa orang yang sudah berumur kerap dituntut untuk dewasa karena memang sudah seharusnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Lantas, apakah perlu memiliki kedewasaan? Bagi Penulis, tentu perlu karena itu akan menunjukkan tingkat kematangan kita dalam menjalani hidup. Kalau merasa belum dewasa ketika seharusnya sudah, ya belajar bagaimana caranya menjadi dewasa.</p>



<p>Bagaimana caranya? Penulis sendiri tidak tahu karena merasa dirinya juga tidak dewasa-dewasa amat. Hanya saja, kita bisa memulainya dengan menengok ke dalam diri sendiri dan mencari mana kekurangan diri yang perlu dibenahi. Mulai saja dulu dari sana.</p>



<p>Memang banyak faktor yang menentukan kedewasaan, tapi kita punya <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">kontrol penuh</a> untuk memilih menjadi seorang dewasa. Sekarang, coba ambil jeda sejenak dan renungkan dalam diri, apakah kita sudah cukup dewasa untuk umur kita?</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 12 Desember 2022, terinspirasi setelah dirinya diingatkan oleh seseorang untuk bersikap sesuai umurnya</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@gzzhouming1">David Zhou</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/">Umur Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Yakin Kita Sudah Merdeka?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2021 15:45:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kedaulatan]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[makna]]></category>
		<category><![CDATA[merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5225</guid>

					<description><![CDATA[<p>Untuk kali kedua, kita harus melewati hari kemerdekaan Indonesia di tengah keprihatinan. Penyebabnya apalagi kalau bukan belum meredanya pandemi Covid-19. Bulan yang biasanya diisi oleh lomba-lomba untuk menyemarakkan kemerdekaan harus ditiadakan. Acara malam tasyakuran untuk mengenang para pahlawan juga harus ditunda. Walaupun begitu, bukan berarti kita tidak bisa menghayati makna kemerdekaan itu sendiri. Setidaknya, muncul [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/">Yakin Kita Sudah Merdeka?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Untuk kali kedua, kita harus melewati hari kemerdekaan Indonesia di tengah keprihatinan. Penyebabnya apalagi kalau bukan belum meredanya pandemi Covid-19.</p>



<p>Bulan yang biasanya diisi oleh <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/">lomba-lomba untuk menyemarakkan kemerdekaan </a>harus ditiadakan. Acara malam tasyakuran untuk mengenang para pahlawan juga harus ditunda.</p>



<p>Walaupun begitu, bukan berarti kita tidak bisa menghayati makna kemerdekaan itu sendiri. Setidaknya, muncul satu pertanyaan di benak Penulis: <strong>yakin kita sudah merdeka?</strong></p>





<h2 class="wp-block-heading">Definisi Kemerdekaan</h2>



<p>Di dalam <em>KBBI</em>, merdeka memiliki tiga arti, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri</li><li>tidak terkena atau lepas dari tuntutan</li><li>tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa</li></ol>



<p>Mari kita coba urai satu per satu, apakah kemerdekaan yang sudah kita rasakan sekarang benar-benar kemerdekaan yang sesungguhnya. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Makna Pertama</h3>



<p>Makna pertama, bebas dari penjajahan. Secara fisik, kita memang sudah tidak dijajah oleh Belanda atau Jepang. Kita memiliki kedaulatan dan diakui oleh negara lain.</p>



<p>Akan tetapi, apakah kita telah merdeka dari penjajahan dalam bentuk lain? Penjajahan sumber daya, penjajahan budaya, penjajahan ideologi, rasa-rasanya masih terjadi hingga sekarang bahkan lebih berbahaya dan mengerikan.</p>



<p>Tidak percaya? Dulu, penjajahan wilayah terlihat bentuk fisiknya. Nah, penjajahan mode baru yang disebutkan di atas kan tidak kelihatan secara fisik. Karena tidak kelihatan, kita pun tidak merasa sedang dijajah oleh bangsa lain.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Makna Kedua</h3>



<p>Makna kedua, lepas dari tuntutan. Makna yang satu ini memang lebih pas jika diidentikkan dengan pengadilan hukum. Apakah sebuah negara bisa dituntut oleh pihak lain? Bisa saja.</p>



<p>Meskipun sudah berdaulat, ada banyak negara lain yang memiliki kepentingan di negara kita. Efek sampingnya, akan muncul banyak tuntutan untuk kepentingannya sendiri.</p>



<p>Misal, menuntut kita untuk menandatangani kontrak tambang dengan dibayang-bayangi ancaman berskala global. Contoh lain, menuntut kita untuk menerima tenaga kerja asing dari negaranya. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Makna Ketiga</h3>



<p>Makna ketiga, tidak bergantung ke pihak tertentu. Rasanya kita semua telah menyadari bahwa negara kita masih begitu bergantung kepada negara lain hingga rasanya begitu mengkhawatirkan.</p>



<p>Tengok saja kepada banyaknya produk impor yang harus kita datangkan demi memenuhi kebutuhan. Sesuatu seperti produk pertanian yang bisa kita hasilkan sendiri pun harus meminta pasokan dari negara lain.</p>



<p>Jelas masih ada sektor-sektor lain yang menunjukkan kalau kita masih terlalu bergantung kepada pihak lain. Istilah <em>berdikari </em>seolah tinggal slogan semata tanpa bisa dieksekusi oleh kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Kita Sudah Merdeka?</h2>



<p>Jika mau melihat dari diri sendiri, sebenarnya kita memang bisa merasakan kemerdekaan. Penulis bisa sekolah dan bekerja tanpa harus takut akan ada bom yang jatuh dari langit. Penulis juga, syukurnya, tidak pernah merasa kelaparan hingga tidak bisa makan.</p>



<p>Hanya saja, kemerdekaan yang Penulis rasakan tersebut hanya dalam skala kecil. Jika melihat gambaran besarnya, ada banyak sisi yang menunjukkan bahwa Indonesia belum sepenuhnya merdeka.</p>



<p>Saat para pahlawan kita meneriakkan kata merdeka, mereka ingin kita memiliki sebuah negara yang utuh dan berdaulat. Mereka ingin kita menjadi raja di tanahnya sendiri. Kenyataannya sekarang?</p>



<p>Sumber daya kita masih banyak yang dikuasai asing, ketergantungan terhadap produk impor, lilitan hutang ribuan triliun, menjadi beberapa contoh menakutkan yang membuat kita meragukan apakah kita sudah benar-benar merdeka.</p>



<p>Semoga saja di ulang tahun yang ke-76 ini, Indonesia mampu segera bangkit dan sembuh dari berbagai penyakitnya. Semoga bangsa Indonesia bisa benar-benar merasakan kemerdekaan yang sejati, bukan kemerdekaan yang semu.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 17 Agustus 2021, terinspirasi setelah <em>chatting </em>dengan salah satu teman</p>



<p>Foto: <a href="https://publicholidays.co.id/independence-day/">Public Holidays</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/">Yakin Kita Sudah Merdeka?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pernah Terpikir untuk Bunuh Diri?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Jul 2021 01:21:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[bunuh diri]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[mati]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[ujian]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5122</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam hidup, manusia akan selalu menjumpai yang namanya masalah. Kok manusia, kucing aja pun punya masalah seperti di mana mencari makan atau buang pup. Masalah pun bermacam-macam. Ada yang ringan, ada yang berat. Ada yang karena pekerjaan, percintaan, hubungan sosial, global warming, konspirasi elit politik, dan lain sebagainya. Terkadang, kita pernah tertimpa masalah hingga membuat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri/">Pernah Terpikir untuk Bunuh Diri?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam hidup, manusia akan selalu menjumpai yang namanya masalah. Kok manusia, kucing aja pun punya masalah seperti di mana mencari makan atau buang pup.</p>



<p>Masalah pun bermacam-macam. Ada yang ringan, ada yang berat. Ada yang karena pekerjaan, percintaan, hubungan sosial, <em>global warming</em>, konspirasi elit politik, dan lain sebagainya.</p>



<p>Terkadang, kita pernah tertimpa masalah hingga membuat kita goyah untuk bertahan hidup. Akhirnya, terbesit pikiran untuk mengakhirinya. Bunuh diri.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Berawal dari Chester</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5124" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Chester Bennington (<a href="http://globalradio.co.id/news/detail/2444/semarang-masuk-dalam-video-tribute-to-chester-bennington">Global Radio</a>)</figcaption></figure>



<p>Pertama kali Penulis memiliki <em>concern </em>terhadap isu bunuh diri adalah setelah kematian vokalis Linkin Park, <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/chester-2-tahun-yang-lalu/"><strong>Chester Bennington</strong></a>, yang memilih untuk menggantung dirinya.</p>



<p>Hingga kini, tidak bisa dipastikan apa yang menjadi penyebab Chester melakukan hal tersebut dan membuat para fansnya menangisi kematiannya. </p>



<p>Apalagi, banyak lagu yang ia nyanyikan mampu menyelamatkan banyak nyawa. Ketika membaca kolom komentar di YouTube, banyak yang mengaku mendapatkan semangat hidup dari lagu-lagu Linkin Park.</p>



<p>Penulis pun berpikir, apa masalah yang menimpanya hingga membuatnya berpikir kematian adalah satu-satunya jalan keluar? Apakah hidup sebegitu mengerikannya sehingga ia merasa putus asa?</p>



<p>Sebagai <a href="https://whathefan.com/karakter/suka-duka-seorang-pemikir/">orang yang pemikir</a>, Penulis pun merenungkan hal ini. Merenungkan mengapa ada manusia yang berpikir kematian lebih baik dari pada kehidupan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kenapa Terpikir untuk Bunuh Diri?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5126" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Depresi Memicu Bunuh Diri (<a href="https://unsplash.com/@elevantarts">christopher lemercier</a>)</figcaption></figure>



<p>Yang namanya manusia, mungkin pernah berada di keadaan yang membuatnya terjepit sehingga merasa kematian setidaknya akan membuatnya lepas dari masalah. Ada beberapa alasan mengapa orang memiliki pikiran untuk bunuh diri.</p>



<p>Di zaman sekarang, istilah <em>insecure </em>begitu populer. <a href="https://whathefan.com/karakter/dikit-dikit-insecure/">Dikit-dikit <em>inscure</em></a>, dikit-dikit <em>insecure</em>. Ada hal apapun yang lewat di linimasa media sosial bisa menimbulkan rasa <em>insecure</em>.</p>



<p>Perasaan <em>insecure </em>ini bisa mendorong kita untuk <strong>takut hidup</strong>. Kok, rasanya hidup ini enggak punya masa depan. Perasaan takut hidup ini bisa membuat kita merasa terjepit, sehingga mungkin merasa mati akan lebih baik.</p>



<p>Di kalangan remaja, biasanya mereka akan dengan mudah dimabuk asmara. Rasanya seolah cinta mati kepada pasangan dan seolah tidak bisa hidup tanpanya.</p>



<p>Ketika dilanda masalah, mereka menjadi begitu <strong>patah hati</strong> dan merasa tidak bisa hidup tanpanya. Tak jarang, ada yang menggunakan ancaman bunuh diri ketika sedang bertengkar, seolah nyawa adalah benda yang diobral.</p>



<p><strong>Masalah ekonomi</strong> seperti dikejar hutang dan tidak tahu cara membayarnya juga bisa menjadi salah satu pemicu bunuh diri. Penulis ingat ada salah satu artis yang terbesit untuk bunuh diri karena tidak mampu membayar hutang dalam jumlah milyaran rupiah.</p>



<p><strong>Perasaan depresi</strong>, <strong>tertekan oleh standar masyarakat</strong>, <strong>merasa jadi beban keluarga hingga merasa tidak pantas berada di dunia</strong>, <strong>tidak punya tujuan hidup</strong>, hingga <strong>kesepian </strong>menjadi beberapa alasan lainnya.</p>



<p>Ada banyak sekali alasan orang terpikir untuk bunuh diri. Intinya, mereka merasa tidak mampu untuk menghadapi ujian-ujian yang diberikan oleh Tuhan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ujian dari Tuhan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5125" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Yakin Kuat Menahan Panasnya Api Neraka? (<a href="https://www.pexels.com/@freeimages9">icon0.com</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebagai orang yang percaya dengan agama, Penulis meyakini bahwa mengakhiri hidup sendiri adalah perbuatan dosa dan melawan takdir. Dalam keyakinan yang Penulis anut, orang yang bunuh diri akan berakhir di neraka dan kekal di sana.</p>



<p>Sepahit-pahitnya kenyataan hidup di dunia, Penulis meyakini bahwa api neraka akan jauh lebih menyiksa kita. Sakit yang kita rasakan di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan sakitnya di neraka.</p>



<p>Penulis juga meyakini bahwa <strong>Tuhan tidak akan memberikan ujian yang melebihi kemampuan umat-Nya</strong>. Jika ada orang yang dihadapkan pada situasi sulit, artinya ia memiliki kemampuan untuk melewatinya.</p>



<p>Kalau kita merasa tidak mampu melewati sebuah ujian dari Tuhan, artinya kita meremehkan Tuhan. Kita mengganggap Tuhan melakukan kesalahan dengan memberikan ujian yang terlalu berat untuk dirinya.</p>



<p>Memang, manusia itu penuh keterbatasan. Ada banyak manusia yang benar-benar berada di situasi sulit yang mungkin bagi kebanyakan orang mustahil untuk dilalui.</p>



<p>Akan tetapi, kembali lagi ke keyakinan Penulis bahwa Tuhan tidak mungkin memberikan ujian yang melebihi kemampuan umat-Nya. Dengan keyakinan seperti itu, Penulis bisa &#8220;<em>ngerem</em>&#8221; dirinya ketika berada di situasi sulit.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Saya Pernah Terbesit Pikiran untuk Bunuh Diri?</h2>



<p>Jika ditanya seperti judul pada artikel ini, jawabannya adalah <strong>pernah</strong>. Namun, bukan karena ada masalah, melainkan karena penasaran siapa saja yang akan sedih dan menangisi kematian Penulis.</p>



<p>Penulis tidak tahu kenapa pernah berpikir seperti itu. Rasanya <em>random </em>saja, tiba-tiba terpikirkan tanpa direncanakan. Jika mulai berpikir yang buruk seperti itu, Penulis berusaha untuk istighfar.</p>



<p>Kadang, bayangan bunuh diri malah jadi ide untuk cerita <a href="https://whathefan.com/category/cerpen/">cerpen</a> atau <a href="https://whathefan.com/category/leonkenji/">novelnya</a>. Seandainya ditemukan orang gantung diri begini, nanti reaksi orang-orang akan begitu. Dalam waktu dekat, Penulis akan membuat cerpen yang berasal dari imajinasi liarnya ini.</p>



<p>Untungnya, pikiran-pikiran tersebut tetap bertahan di pikiran saja. Kok gantung diri atau mengiris nadi, kepalanya <em>kebentuk </em>atau kelingking menabrak kaki meja saja sakitnya bukan main kok.</p>



<p>Untungnya, Penulis bukan tipe orang yang betah sakit. Kok <em>self-harm</em>, luka ditetesin Betadine saja perihnya tidak tahan. Kok menyakiti diri sendiri, <em>mong </em>pakai Insto saja susah untuk tetap <em>melek</em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Bunuh diri tidak akan menjadi penyelesaian suatu masalah, sampai kapan pun. Mau sepahit apapun kenyataan hidup, kematian karena bunuh diri akan jauh lebih menyiksa untuk selamanya.</p>



<p>Jangan meremehkan diri sendiri. Kita semua pasti mampu melewati semua ujian yang diberikan oleh Tuhan. Pasti ada hikmah di balik masalah yang kita hadapi. Percayalah itu.</p>



<p>Jika Pembaca ada yang pernah terbesit pikiran untuk bunuh diri, silakan hubungi Penulis ataupun orang lain yang dipercaya bisa memberikan rasa nyaman.</p>



<p>Pembaca juga bisa menghubungi Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes di nomor <strong>021-500-454</strong> ataupun lembaga-lembaga lain yang dapat membantu mencegah kita untuk bunuh diri.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 27 Juli 2021, terinspirasi dari mudahnya kita berpikir untuk bunuh diri ketika sedang tertimpa masalah</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@evablue">Eva Blue</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri/">Pernah Terpikir untuk Bunuh Diri?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Berpisah dengan Ramadhan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/setelah-berpisah-dengan-ramadhan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/setelah-berpisah-dengan-ramadhan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 May 2021 09:57:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Idul Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4962</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah satu bulan, akhirnya kita harus rela berpisah dengan bulan Ramadhan yang suci. Tidak hanya menahan lapar dan haus, kita juga diwajibkan untuk menahan segala bentuk hawa nafsu dan emosi. Oleh karena itu, hari raya Idul Fitri atau lebaran kerap dianggap sebagai hari kemenangan. Kita telah berhasil melewati bulan tersebut dengan baik dan menganggap setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/setelah-berpisah-dengan-ramadhan/">Setelah Berpisah dengan Ramadhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah satu bulan, akhirnya kita harus rela berpisah dengan bulan Ramadhan yang suci. Tidak hanya menahan lapar dan haus, kita juga diwajibkan untuk menahan segala bentuk hawa nafsu dan emosi.</p>



<p>Oleh karena itu, hari raya Idul Fitri atau lebaran kerap dianggap sebagai hari kemenangan. Kita telah berhasil melewati bulan tersebut dengan baik dan menganggap setelah ini banyak hal akan dimulai lagi dari nol.</p>



<p>Hanya saja, bagi Penulis bentuk ujian yang sebenarnya justru <strong>setelah kita berpisah dengan bulan Ramadhan.</strong></p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Bagi Penulis sendiri, bulan Ramadhan tahun ini terasa kurang maksimal. Meskipun puasa tahun ini bisa di rumah, dua minggu terakhir Penulis kerap diserang penyakit seperti asam lambung dan demam. Alhasil, bulan puasa tahun ini harus rela bolong dua hari.</p>



<p>Jumlah bolong ini adalah rekor seumur hidup Penulis. Tahun kemarin, Penulis sempat bolong satu kali karena sakit juga. Sebelumnya, seingat Penulis belum pernah bolong sama sekali. Kalau masalah menahan lapar dan haus, Penulis termasuk jago.</p>



<p>Hanya saja, Penulis juga jadi merenung. <strong>Apakah ujian yang sebenarnya justru setelah bulan Ramadhan?</strong></p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Selama bulan puasa, kita berusaha menahan diri dari berbagai godaan. Terlepas dari masalah perut, sebenarnya ada banyak hal yang harus kita jaga selama berpuasa.</p>



<p>Kita berusaha untuk menahan marah, tidak membicarakan orang, meningkatkan ibadah kita, pergi ke masjid untuk sholat berjamaah, tadarusan, tidak berbuat hal buruk, dan lain sebagainya. Semenjak Shubuh hingga Maghrib, kita berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.</p>



<p>Pertanyaannya, dapatkah kita menjadi seperti itu di luar waktu puasa? Bisakah kita mempertahankan kebiasaan baik dan meninggalkan kebiasaan buruk seperti ketika puasa?</p>



<p>Penulis merasa bahwa inilah ujian kita yang sebenarnya: <strong>Apakah kita bisa menjadi manusia yang lebih baik di 11 bulan lainnya setelah berpuasa selama satu bulan?</strong></p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Menahan diri ketika berpuasa bisa dibilang cukup mudah. Ketika hendak melakukan hal yang buruk, kita akan teringat, &#8220;Oh iya, lagi puasa, enggak boleh begitu.&#8221;</p>



<p>Tapi kalau sedang di luar puasa, apa yang akan menjadi pengingat kita? Di sana lah letak kesulitan untuk mempertahankan kebiasaan baik di luar bulan puasa. Tidak ada yang bisa menjadi pengingat secara langsung.</p>



<p>Ketika Penulis berusaha menghayati bulan puasa yang telah dilewati, Penulis menyadari bahwa ini menjadi salah satu alasan kenapa kita harus berpuasa selama satu bulan: <strong>Agar kita sadar untuk bisa bersikap seperti ketika sedang puasa walaupun tidak sedang puasa.</strong></p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Setelah berpisah dengan bulan Ramadhan, Penulis menjadi tergerak hatinya untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Tidak hanya dari rutinitas harian, tapi juga meningkatkan kualitas ibadahnya.</p>



<p>Yang namanya manusia, pasti semangatnya akan mengalami naik turun. Penulis sudah sering mengalaminya dalam hidup.</p>



<p>Penulis akan berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan kebiasaan baik dan meninggalkan kebiasaan buruk, setidaknya sampai bertemu dengan bulan Ramadhan tahun depan jika diizinkan oleh Tuhan. Aamiin.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 15 Mei 2021, terinspirasi setelah merenungi makna bulan Ramadhan yang telah dijalani</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@sxy_selia">Sangga Rima Roman Selia</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/setelah-berpisah-dengan-ramadhan/">Setelah Berpisah dengan Ramadhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/setelah-berpisah-dengan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Repetisi Dalam Kehidupan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/repetisi-dalam-kehidupan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/repetisi-dalam-kehidupan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2021 14:08:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Leessang]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengulangan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[repetisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4477</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis mengakui kalau akhir-akhir ini dirinya kerap merasa sedang penuh pikirannya. Tak jarang Penulis akan melamun tak jelas ke mana arahnya. Sebagai orang yang pemikir, biasanya Penulis seperti ini ketika sedang ada sesuatu yang dipikirkan. Penulis tidak bisa membaginya di sini, tapi ada yang sedang membebani. Lantas tadi siang ketika kerja, tanpa sengaja Penulis mendengar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/repetisi-dalam-kehidupan/">Repetisi Dalam Kehidupan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis mengakui kalau akhir-akhir ini dirinya kerap merasa sedang penuh pikirannya. Tak jarang Penulis akan melamun tak jelas ke mana arahnya.</p>
<p>Sebagai orang yang pemikir, biasanya Penulis seperti ini ketika sedang ada sesuatu yang dipikirkan. Penulis tidak bisa membaginya di sini, tapi ada yang sedang membebani.</p>
<p>Lantas tadi siang ketika kerja, tanpa sengaja Penulis mendengar <a href="https://whathefan.com/musikfilm/%eb%a6%ac%ec%8c%8d-%ed%9e%99%ed%95%a9-%eb%93%80%ec%98%a4-%ec%bd%94%eb%a6%ac%ec%95%84/">lagu dari LeeSsang</a> yang berjudul <strong>회상</strong> atau <strong><em>Remembrance</em></strong>.</p>
<p>Lagu ini lagu lama dari album <em>AsuRa BalBalTa</em> yang rilis pada tahun 2011 alias 9 tahun yang lalu. Walaupun begitu, lagu ini selalu ada di <em>playlist </em>Penulis dan mendapat bintang 5.</p>
<p>Nah, entah mengapa Penulis merasa <strong>lagu ini <em>ngena </em>di hati Penulis</strong>. Padahal Penulis tidak tahu bagaimana atau arti liriknya, mong lagunya Bahasa Korea.</p>
<p>Karena penasaran, Penulis memutuskan untuk mencarinya di Google. Ketika membaca arti lirik di bagian <em>reff</em>, Penulis langsung tersenyum sendiri.</p>
<blockquote><p>오르락내리락 반복해<br />
기쁨과 슬픔이 반복돼<br />
사랑과 이별이 반복돼<br />
내 삶은 돌고 도네</p>
<p>Repetitions of ups and downs<br />
Repetitions of joy and sadness<br />
Repetitions of love and separation<br />
My life turns and turns</p></blockquote>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Jika dipikir-pikir lagi, kehidupan kita ini <strong>memang ada banyak sekali repetisi</strong>. Repetisi yang membuat kita merasa naik turun ketika berusaha menjalani kehidupan.</p>
<p>Kadang merasa begitu semangat dan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/motivasi-itu-omong-kosong/">penuh motivasi</a>, kadang bisa merasa <em>down </em>sampai stres depresi. <em>Repeat</em>.</p>
<p>Kadang merasa menjadi orang paling bahagia sedunia, kadang merasa menjadi <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/hidupku-hancur-aku-adalah-orang-paling-menderita-di-dunia/">orang yang paling menderita sedunia</a>. <em>Repeat</em>.</p>
<p>Kadang kita <a href="https://whathefan.com/rasa/apa-itu-cinta/">merasakan indahnya cinta</a>, kadang kita merasakan pahitnya perpisahan. <em>Repeat</em>.</p>
<p>Semuanya berulang-ulang, seperti peribahasa terkenal: <em>hidup itu bagaikan roda, kadang di atas kadang di bawah</em>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Jika hidup ini hanya serangkaian repetisi, mengapa <strong>kita kerap melakukan kesalahan yang sama</strong> berkali-kali?</p>
<p>Artinya, <strong>kita tidak belajar dari pengalaman</strong>. Kita gagal memetik hikmah dari kejadian-kejadian yang sudah pernah kita lalui di masa lampau.</p>
<p>Penulis merasa dirinya seperti ini. Dalam beberapa aspek, dirinya gagal belajar dari pengalaman dan akhirnya mengulangi kesalahan yang sama.</p>
<p>Kenapa bisa seperti itu? Penulis sendiri belum menemukan jawabannya. Penulis hanya bisa menjadikannya sebagai bahan interopeksi diri.</p>
<p>Mungkin, kita hanya perlu <strong>mengalami repetisi lebih banyak</strong> dibandingkan yang lain agar bisa benar-benar belajar.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Rasanya, tidak ada kehidupan yang lurus begitu saja mulai lahir sampai mati. Pasti ada saja<strong> gejolak yang menjadi bumbu kehidupan.</strong></p>
<p>Jika memang demikian, kenapa masih merasa sedih, galau, putus asa, menyerah, kehilangan gairah hidup, dan lain sebagainya?</p>
<p>Merasa seperti itu sebenarnya sangat manusiawi. Hanya saja, kalau terlalu sering dan berlarut-larut juga kurang baik buat diri sendiri.</p>
<p>Penulis ingin berusaha mengingat hal ini ketika merasa dirinya sedang di bawah. Sekarang mungkin sedang di masa-masa susah, tapi pasti akan ada saatnya Penulis kembali berada di atas.</p>
<p>Percaya saja, <strong>semua yang terjadi pada kita pasti memiliki hikmahnya.</strong> <em>Every cloud has a silver lining</em>.</p>
<p>Lagipula, Tuhan tidak mungkin memberikan cobaan yang melebihi kemampuan umat-Nya. <a href="https://whathefan.com/renungan/hidup-untuk-hari-ini/">Jalani saja hari ini</a> dengan sebaik mungkin.</p>
<p>Karena sejatinya,<strong> kehidupan ini hanyalah perulangan dari hal-hal yang sudah pernah terjadi sebelumnya</strong>, baik suka maupun duka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 25 Februari 2021, terinspirasi setelah mendengarkan lagu <em>Remembrance </em>dari Leessang ketika sedang bekerja</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@tvschaitanya?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Chaitanya Tvs</a></p>
<p>Sumber Lirik: <a href="https://colorcodedlyrics.com/2014/03/leessang-remembrance-feat-baek-ji-young">ColorCodedLyric</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/repetisi-dalam-kehidupan/">Repetisi Dalam Kehidupan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/repetisi-dalam-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
