Connect with us

Nonfiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Makanya, Mikir!

Published

on

Sebenarnya, Penulis bukan merupakan penggemar Abigail Limuria dan Cania Citta, meskipun tentu harus diakui kalau keduanya adalah generasi muda yang hebat dan inspiratif.

Walau begitu, ketika tahu mereka berdua merilis buku berjudul Makanya, Mikir!, tentu Penulis jadi penasaran. Apalagi, acara launching buku ini berhasil mempertemukan Anies Baswedan dan Ahok dalam satu forum!

Ekspektasi Penulis ketika membeli buku ini adalah Penulis jadi mengetahui bagaimana kerangka berpikir yang benar. Jangan-jangan, ada yang salah dari cara Penulis berpikir selama ini.

Apakah ekspektasi ini tercapai? Sayangnya tidak.

Detail Buku Makanya, Mikir!

  • Judul: Makanya, Mikir!
  • Penulis: Abigail Limuria dan Cania Citta
  • Penerbit:
  • Cetakan: Ke-7
  • Tanggal Terbit: September 2025
  • Tebal: 290 halaman
  • ISBN: 9786238944026
  • Harga: Rp138.000

Apa Isi Buku Makanya, Mikir!

Berdasarkan sinopsis yang terletak di bagian belakang, buku ini berusaha untuk memberikan berbagai kerangka berpikir (mental models) beserta studi kasusnya. Ini selaras dengan judulnya, yang mengajak kita untuk berpikir.

Sebenarnya bukan berarti kedua penulis buku ini menuduh kita tidak pernah berpikir. Bisa saja selama ini kita berpikir, tapi tidak berpikir dengan benar. Nah, buku ini berusaha memberi insight mengenai bagaimana berpikir yang benar.

Ada total delapan bab di buku ini, yakni:

  1. Peta Realitas dan Cara Menentukan Tujuan Hidup
  2. Kerangka Berpikir Dua Ranah: Pentingnya Membedakan Realitas dan Preferensi
  3. Pola Pikir Ilmiah: Yang Pede dan Ngotot Belum Tentu yang Pintar
  4. Bagaimana Menentukan Cost dan Benefit: Kenalan dengan Objective-Oriented Principle
  5. Sesat Pikir dan Bias dalam Pengambilan Keputusan
  6. Menentukan Prioritas: Sumber Daya Terbatas, Mana yang Harus Diutamakan?
  7. Kecerdasan Sosial: Buat Apa Pintar Kalau Nyebelin

Di bab-bab tersebut, ada banyak sekali teori berpikir yang akan kita pelajari, walau memang bisa dibilang hanya di permukaan saja. Semuanya dipaparkan dengan bahasa sederhana yang tidak membuat kita kebingungan.

Beberapa hal yang dijabarkan di buku ini adalah bagaimana menentukan tujuan hidup, perbedaan ranah realitas dan preferensi (yang kerap menjadi sumber utama polarisasi), konsep Cost-Benefit Analysis (CBA) yang membantu kita membuat keputusan dan prioritas, bias berpikir, dan lain sebagainya.

Setelah Membaca Makanya, Mikir!

Dua nama yang menulis buku ini adalah orang-orang yang Penulis anggap cerdas, sehingga ada ekspektasi tinggi ketika membaca buku ini. Jika membaca buku self-improvement dari Barat, biasanya Penulis tidak mengenal siapa penulisnya.

Nah, Penulis membutuhkan waktu yang relatif cukup singkat untuk menyelesaikan buku ini. Apakah itu tanda kalau buku ini begitu menarik? Sayangnya bukan, karena memang isinya yang bagi Penulis relatif sedikit.

Dengan harga yang relatif cukup mahal (hampir Rp140 ribu), sayang isi buku ini bisa dibilang terasa hanya permukaan saja. Sebenarnya wajar, karena buku ini full color dan memiliki banyak sekali gambar, yang terkadang memakan hampir dua halaman penuh.

Memang, dalam podcast bersama Raditya Dika, Abigail Limuria mengatakan bahwa buku ini memang berusaha tidak mengintimidasi pembacanya dengan buku yang full dengan tulisan. (FYI, Radit yang pernah punya percetakan juga terlihat kaget dengan harganya yang cukup mahal).

Jika memang target pasarnya adalah pembaca baru atau yang baru ingin membangun kebiasaan pembaca, maka keputusan tersebut tepat. Hanya saja, bagi Penulis yang memang dari dulu hobinya membaca, Penulis merasa sedikit rugi telah mengeluarkan uang sebanyak itu untuk isi yang “hanya” segini.

Penulis adalah tipe reviewer buku yang menilai buku berdasarkan dampak yang diberikan oleh buku tersebut dan membandingkan dengan “investasi” yang Penulis keluarkan untuk membeli buku tersebut. Jujur saja, ini adalah “investasi” yang kurang worth it.

Tentu ada banyak insight-insight menarik yang Penulis temukan di buku ini, terutama bagian CBT yang pernah Penulis praktekkan. Hanya saya, ya kembali lagi, rasanya kurang sepadan dengan uang yang sudah dikeluarkan.

Gaya penulisannya yang seperti mendengarkan teman yapping juga menjadi salah satu kelebihan buku ini, terutama untuk pembaca pemula. Setiap poin yang ingin dibahas berusaha dijabarkan dengan bahasa yang sesederhana mungkin.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, buku ini juga selalu memberikan studi kasus agar kita lebih paham lagi. Hanya saja, terkadang Penulis merasa studi kasus yang diberikan terlalu banyak dan berulang-ulang.

Buku ini mungkin cocok bagi banyak orang, apalagi di Indonesia yang tingkat literasinya cukup rendah. Namun, bagi orang yang memang sudah lama hobi membaca seperti Penulis, buku ini akan terasa kurang “daging”.

Skor: 6/10


Lawang, 26 Februari 2026, terinspirasi setelah membaca Makanya, Mikir! karya Abigail Limuria dan Cania Citta

Nonfiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Merawat Luka Batin

Published

on

By

Kesehatan mental menjadi salah satu concern Penulis dalam beberapa tahun terakhir ini. Bukan hanya demi dirinya sendiri, tapi juga karena ingin tahu bagaimana Penulis harus bersikap jika ada orang dekatnya yang sedang mengalami struggle dengan hal tersebut.

Tak hanya itu, Penulis juga ingin memahami dunia psikologi lebih dalam lagi, walaupun mungkin Penulis hanya akan paham dari sisi permukaan. Penulis jelas tidak berniat ingin jadi psikolog abal-abal, hanya ingin pengetahuannya seputar hal tersebut semakin luas.

Dengan alasan-alasan tersebut, Penulis pun mencoba untuk membaca buku-buku yang berhubungan dengan kesehatan mental. Salah satunya adalah Merawat Luka Batin karya dr. Jiemy Adrian Sp.KJ.

Disclaimer: Penulis mengetahui bahwa belum lama ini, penulis buku ini yakni dr. Jiemy baru saja mendapatkan tuduhan pelecehan seksual dan terbukti tidak bersalah. Buku ini hanya akan fokus membahas isi bukunya.

Detail Buku Merawat Luka Batin

  • Judul: Merawat Luka Batin
  • Penulis: dr. Jiemy Adrian Sp.KJ
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan:
  • Tanggal Terbit:
  • Tebal: 326 halaman
  • ISBN: 9786020661520
  • Harga: Rp98.000

Apa Isi Buku Merawat Luka Batin?

Melalui sinopsis yang ada di bagian belakang buku ini, sebenarnya inti dari Merawat Luka Batin adalah tentang proses berpikir. Namun, kita tidak diajak untuk selalu berpikir positif seperti kata-kata motivator, tapi juga memahami saat kita berpikir negatif.

Buku ini dibagi menjadi 8 bab, yakni:

  1. Apa Itu Depresi?
  2. Memersepsi Realitas
  3. Memahami Sisi Gelap Diri Kita: Pikiran yang Liar
  4. Menerangi Gelapnya Pikiran dan Perasaan
  5. Berlatih Mindfullness
  6. Bagaimana Menghadapi Dorongan untuk Menyakiti Diri Sendiri
  7. Mencegah Depresi Hidup Kembali
  8. Mengasihi Seseorang dengan Depresi: Sebuah Langkah bagi Keluarga dan Sahabat

Dari daftar isi di atas, kita bisa mendapatkan gambaran apa saja langkah-langkah yang diberikan oleh dr. Jiemy untuk bisa memahami pikiran dan perasaan kita sendiri. Kita diberi deskripsi dan mengapa hal tersebut muncul terlebih dahulu untuk lebih bisa memahaminya.

Depresi bisa dibilang menjadi salah satu pusat buku ini, terutama yang disebabkan oleh trauma masa lalu, sehingga memiliki bab tersendiri dan ditaruh paling depan pula. Banyak informasi dasar seputar depresi mulai dari definisi, ciri-ciri, hingga cara mengatasinya.

Setelah lebih memahami apa yang terjadi dengan proses berpikir kita dan mengapa perasaan kita bereaksi secara tertentu, ada bagian-bagian yang membagikan tips praktis untuk menangani hal tersebut. Jadi sederhananya, kita harus mengenali dan memahami sesuatu terlebih dahulu untuk bisa mencari solusinya.

Selain itu, buku ini juga menyiapkan bab khusus untuk membantu para caregiver yang mungkin memiliki keluarga atau teman yang sedang bermasalah dengan kesehatan mentalnya. Bukan untuk menggantikan profesional tentu saja, tapi setidaknya kita bisa melakukan beberapa hal untuk membantu mereka.

Setelah Membaca Merawat Luka Batin

Sepanjang membaca buku ini, Penulis menemukan banyak sekali langkah-langkah praktis yang bisa kita lakukan, bahkan buat yang merasa tidak memiliki masalah dengan kesehatan mental sekali pun. Sarannya pun bisa dipertanggungjawabkan mengingat daftar pustaka di bagian belakang buku ini cukup panjang.

Contoh, pola tidur yang buruk bisa memengaruhi kesehatan mental kita, sehingga ada beberapa bagian buku ini yang memberikan beberapa tips untuk membantu kita bisa tidur melalui penerapan Sleep Hygiene. Tips tersebut bisa digunakan siapa saja, bukan?

Tak hanya itu, sepanjang buku ini kita tidak akan merasa dihakimi atau digurui, mungkin karena yang menulis memang seorang psikolog yang kerap berhadapan dengan berbagai jenis pasien. Jadinya, ya kita merasa enjoy ketika membacanya.

Bahasanya juga sebisa mungkin menghindari kata-kata yang sulit dipahami, sehingga Penulis pun bisa menandaskan buku ini dengan lumayan cepat. Mungkin di bab 1 ada beberapa bagian yang lumayan teknis, tapi selain itu semua relatif mudah dicerna oleh orang awam.

Penulis merasa setuju kalau buku ini berusaha mengajak kita untuk memahami proses berpikir, apalagi Penulis adalah orang yang mudah overthinking. Ada banyak hal yang dijelaskan mengenai cara mengatasi pikiran-pikiran “liar” yang kerap muncul tiba-tiba tanpa diundang.

Apalagi, ada beberapa quote menarik di buku ini yang bisa menjadi pengingat di masa-masa sulit. Berikut beberapa di antaranya:

  • (h. 221) “Tidak ada yang baru dari masa lalu. Tidak ada yang pasti dari masa depan. Yang kita miliki hanya masa kini, di sini.”
  • (h. 226) “Kita akan mendapatkan kontrol dengan melepaskan keinginan untuk mengontrol. Tenangkan egomu dan menyerahlah.”

Salah satu poin yang benar-benar masuk ke kepala Penulis adalah memahami mengapa orang berpikiran untuk mengakhiri hidupnya. Menurut dr. Jiemy, sebenarnya mereka bukan ingin mati begitu saja, tapi ingin menghilangkan rasa sakit yang mereka alami. Bunuh diri adalah cara permanen untuk mengatasi masalah yang sementara.

Nah, buku ini banyak sekali memberikan tips apa yang perlu dilakukan jika “serangan” depresi maupun keinginan untuk mengakhiri hidup datang. Tidak hanya dari sisi korban, tapi juga dari sisi kita sebagai orang-orang terdekatnya.

Kesimpulannya, buku ini membuat kita merasa dipahami tanpa merasa dihakimi. Membaca buku ini sedikit terasa seperti sesi psikologi yang menyenangkan, walau tentu saja bagi orang-orang tertentu disarankan untuk tetap datang ke psikolog sungguhan.

Penulis merasa kalau buku ini bisa membantu banyak orang yang sedang struggle dengan kesehatan mentalnya, terutama di era modern seperti sekarang. Tak perlu merasa malu jika kita merasa butuh membaca buku ini, karena hidup ini memang tanggung jawab kita, bukan orang lain.

Selain itu, buku ini juga mengajak kita untuk lebih bisa berempati kepada orang-orang yang mengalami masalah kesehatan mental. Hal tersebut terjadi bukan sekadar karena “kurang bersyukur” atau “kurang dekat dengan Tuhan.” Kalau tidak bisa membantu, minimal berempati dengan keadaannya, tidak perlu menghakimi seenak hati.

SKOR: 8/10


Lawang, 19 Oktober 2026, terinspirasi setelah membaca Merawat Luka Batin karya dr. Jiemy Adrian Sp.KJ

Continue Reading

Nonfiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Esensialisme

Published

on

By

Setelah membaca buku Effortless yang cukup berkesan, Penulis pun memutuskan untuk membeli buku Greg McKeown lainnya yang telah dirilis terlebih dahulu, yakni Esensialisme. Apalagi, buku ini disebutkan beberapa kali di buku Effortless.

Selain karena alasan tersebut, Penulis juga merasa dirinya kadang kurang bisa memilah mana yang penting bagi dirinya dan mana yang tidak perlu diperhatikan. Oleh karena itu, Penulis berharap kalau buku ini dapat menjadi semacam panduan untuk itu.

Sayangnya, tampaknya ekspektasi Penulis terlalu tinggi, yang salah satunya disebabkan oleh buku Effortless. Secara singkat, impresi Penulis terhadap buku ini sama dengan buku Start with Why. Penulis akan menjabarkan alasannya di bawah ini.

Detail Buku Esensialisme

  • Judul: Esensialisme
  • Penulis: Greg McKeown
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-7
  • Tanggal Terbit: Desember 2025
  • Tebal: 354 halaman
  • ISBN: 9786020656151
  • Harga: Rp108.000

Apa Isi Buku Esensialisme?

Dengan tagline “Pentingkan yang Penting Saja”, sebenarnya kita bisa menebak kalau isi buku ini akan mengajak kita belajar memprioritaskan mana yang penting dan mengabaikan apa yang kurang esensial.

Buat orang yang suka ruwet dengan pikirannya sendiri, jelas buku ini terasa menarik. Apalagi, di bagian cover ini terdapat semacam ilustrasi garis ruwet dengan tanda panah mengarah ke sebuah lingkaran dengan tulisan “ini” di tengah-tengahnya.

Berbeda dengan buku Effortless, buku ini terbagi menjadi ke dalam empat bagian, yakni:

Bagian I: Intisari

  1. Esensialis
  2. MEMILIH: Kekuatan Tak Terkalahkan dari Kemampuan Memilih
  3. MELIHAT DAN MENCERMATI: Yang Tidak Penting pada Hampir Segala Hal
  4. TRADE-OFF: Masalah Mana yang Ingin Saya Pecahkan?

Bisa dibilang, ini adalah bagian “pembukaan” untuk memahami apa yang dimaksud dengan Esensialisme. Akan ada banyak istilah di bagian ini yang akan muncul kembali di bab selanjutnya, terutama bagian trade-off atau menukar apa yang tidak esensial menjadi esensial.

Bagian II: Eksplorasi

  1. MEMBEBASKAN DIRI: Manfaat Tak Terduga dari Menjadi yang Tak Tersedia
  2. MENCERMATI: Melihat Mana yang Sungguh Penting
  3. BERMAIN: Mengambil Kearifan Kanak-Kanak Dalam Diri Anda
  4. TIDUR: Melindungi Aset
  5. MEMILIH: Kedahsyatan Kriteria Ekstrem

Dalam bagian ini, kita diajak untuk mengeksplorasi diri untuk menemukan apa yang benar-benar penting dalam kehidupan kita. Ada dua bab yang menarik di sini, yakni “bermain” dan “tidur”. Aktivitas yang kerap dianggap tidak produktif ini ternyata esensial!

Bagian III: Eliminasi

  1. KLARIFIKASI: Sebuah Keputusan yang Meniadakan Seribu Keputusan
  2. BERANI: Kedahsyatan Jawaban “Tidak” yang Anggun
  3. MELEPAS KOMITMEN: Menang Besar dengan Menghentikan Proyek Rugi
  4. MENYUNTING: Seni yang Tidak Kelihatan
  5. BATAS: Kebebasan Berkat Menetapkan Batasan-Batasan

Selain melakukan eksplorasi untuk menemukan yang esensial, memahami mana yang tidak esensial juga tak kalah penting. Oleh karena itu, bagian ini akan mengajak kita untuk melakukan eliminasi terhadap hal-hal yang tidak esensial.

Bagian IV: Eksekusi

  1. PENYANGGA: Keunggulan yang Tidak Wajar
  2. MENGURANGI: Maju Lebih Pesat dengan Menghilangkan Hambatan
  3. KEMAJUAN: Kedahsyatan Kemenangan-Kemenangan Kecil
  4. ALIRAN (FLOW): Hebatnya Sebuah Rutin
  5. FOKUS: Apa yang Penting Sekarang?
  6. JADILAH: Hidup Seorang Esensialis

Menemukan apa yang esensial, sudah. Mengetahui apa yang tidak esensial, sudah. Maka langkah terakhir yang perlu kita ketahui adalah bagaimana mengeksekusi semua teori Esensialisme ke dalam hidup kita sehari-hari.

Setelah Membaca Buku Esensialisme

Sebenarnya, pekerjaan Penulis sebagai seorang editor juga berkaitan erat dengan Esensialisme. Dalam menyunting artikel, tentu Penulis harus cermat dalam menentukan mana yang Esensial, mana yang Nonesensial dan dihapus dari artikel. Mungkin itu juga yang membuat Penulis tertarik untuk membaca buku ini.

Karena buku Effortless, jujur ekspektasi Penulis terhadap buku ini cukup tinggi. Sayangnya, ekspektasi tersebut harus runtuh karena secara keseluruhan, isi buku ini cukup “umum” dan penuh dengan hal-hal klise yang mungkin kita sudah tahu.

Memang, setiap babnya diceritakan dengan mudah dan aplikatif. Hanya saja, banyak yang terasa terlalu general dan kurang spesifik. Lebih parahnya lagi, terkadang beberapa bab terasa dragging dan cukup repetitif.

Ketika membaca buku ini, Penulis merasakan sensasi seperti ketika membaca buku Start with Why, di mana penulis buku ini terlalu menglorifikasi teori Esensialisme yang sedang dibahas sekaligus terlalu menyederhanakan semua permasalahan yang disebutkan di sini.

Di setiap babnya, ada semacam tabel yang terdiri dari dua kolom, yakni Nonesensialis dan Esensialis. Tentu saja bagian Nonesensialis menjadi bagian yang buruk dan Esensialis menjadi bagian yang baik.

Jadinya, cuma ada dua kutub ekstrem antara Nonesensialis dan Esensialis. Kalau bukan seorang Esensialis, berarti otomatis kita adalah Nonesensialis. Padahal, dalam kenyataannya hidup tidak sehitam-putih dan sesederhana itu.

Secara konsep, teori Esensialisme memang penting, apalagi bagi orang yang kerap overthinking seperti Penulis. Justru karena merasa itu penting, Penulis butuh elaborasi yang lebih mendalam.

Ketika membaca buku ini, Penulis sudah membiasakan diri untuk mencatat berbagai hal menarik dari buku yang sedang dibaca. Nah, buku ini termasuk yang catatannya sedikit karena jujur tidak banyak poin menarik yang Penulis temukan.

Walau begitu, ada satu quote dari buku ini yang Penulis benar-benar ingat dari halaman 135, yakni “No more yes, it’s either HELL YEAH or no!” yang maknanya adalah kita harus melakukan sesuatu yang benar-benar membuat kita langsung bersemangat.

Di halaman 192, yang termasuk ke dalam bagian Eliminasi, ada juga pengingat tentang komitmen yang sangat masuk untuk Penulis. Ternyata, salah satu hal yang membuat kita melepaskan komitmen adalah sink-cost bias.

Singkatnya, sink-cost bias adalah kondisi di mana kita sudah merasa “berinvestasi” banyak sehingga merasa sayang jika melepaskan suatu komitmen. Padahal, jika kita terus mempertahankan komitmen tersebut, kerugian yang kita derita akan semakin besar.

Penulis memang merasa kurang puas dengan buku ini karena berharap isinya bisa lebih detail. Namun, buat Pembaca yang kerap merasa overwhelmed dengan kehidupannya, buku ini akan memberi cara bagaimana mengurainya secara sistematis.

Skor: 6/10


Lawang, 9 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca Esensialisme karya Greg McKeown

Continue Reading

Nonfiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Start with Why

Published

on

By

Ketika sedang bingung ingin membeli buku apa, Penulis biasanya mempertimbangkan genre apa yang sedang habis di rumah. Nah, salah satu yang kerap habis adalah buku-buku self-improvement, karena memang biasanya relatif mudah dicerna dan inspiratif.

Mengingat buku self-improvement ada begitu banyak macamnya, tentu memilih salah satunya juga menjadi PR tersendiri. Kalau tidak memilih yang sedang Penulis rasa butuhkan, maka Penulis akan memilih yang populer dan banyak dibaca orang.

Oleh karena itu, ketika mengetahui buku Start with Why dari Simon Sinek merilis “Edisi 15 Tahun”, tentu Penulis jadi penasaran mengapa buku ini bertahan sekian lama di peredaran. Apakah isi bukunya memang sedahsyat itu?

Detail Buku Start with Why

  • Judul: Start with Why (Dengan Materi yang Diperbarui)
  • Penulis: Simon Sinek
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-23
  • Tanggal Terbit: Oktober 2025
  • Tebal: 366 halaman
  • ISBN: 9786020628837
  • Harga: Rp100.000

Apa Isi Buku Start with Why

Dari judulnya, sebenarnya kita bisa menerka kalau isi buku ini akan mengajak kita untuk mencari MENGAPA dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan memiliki MENGAPA yang jelas, kita akan lebih terdorong untuk melakukan sesuatu.

Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi lima bagian utama sebagai berikut:

  • Bagian 1: Dunia yang Tidak Dimulai dengan Pertanyaan Mengapa
  • Bagian 2: Sudut Pandang Alternatif
  • Bagian 3: Pemimpin Butuh Pengikut
  • Bagian 4: Cara Menggalang Orang-Orang yang Percaya
  • Bagian 5: Tantangan Terbesar adalah Sukses

Seperti kebanyakan buku-buku self-improvement pada umumnya, buku ini juga diselipi oleh kisah inspiratif dari tokoh-tokoh hebat. Beberapa yang paling sering diulang adalah Steve Jobs dan Apple, Wright Bersaudara (penemu pesawat terbang), Southwest Airlines, hingga Martin Luther King Jr.

Nama-nama tokoh yang disebutkan di dalam buku ini diceritakan selalu memiliki MENGAPA yang jelas, baik dalam membuat produk hingga mengajak dan menginspirasi orang. Yang melekat pada mereka adalah MENGAPA mereka melakukannya, bukan APA yang dilakukannya. Ini dibahas panjang lebar di Bagian 3 dan 4.

Satu bagian yang bagi Penulis menarik ada di Bagian 2, Bab “Lingkaran Emas”. Di dalam bab tersebut, ada tiga lingkaran yang terdiri dari APA (lingkaran terluar), BAGAIMANA (lingkaran tengah), baru MENGAPA (lingkaran terdalam).

Kebanyakan orang akan berhenti di APA YANG DILAKUKAN, atau paling mentok di BAGAIMANA MELAKUKANNYA. Namun, orang-orang hebat akan selalu memiliki MENGAPA MELAKUKANNYA.

Bagian lain yang bagi Penulis menarik adalah bagian Manipulasi vs Inspirasi. Sederhananya, APA dan BAGAIMANA itu masih bagian dari memanipulasi orang lain, sedangkan MENGAPA sudah masuk ke bagian yang menginspirasi orang lain.

Setelah Membaca Buku Start with Why

Sebagai pengagum Steve Jobs dan Apple, selalu menyenangkan rasanya ketika mereka digunakan sebagai contoh di buku self-improvement. Namun, tidak di buku ini, karena penggunaan mereka sebagai contoh benar-benar terlalu banyak!

Hampir di setiap bab, mereka akan dijadikan contoh dalam setiap topik yang sedang dijelaskan. Dengan tebal buku yang mencapai 366 halaman, bisa dibilang contoh public figure atau perusahaan yang digunakan di buku ini kurang dari 10!

Hal ini tentu menjadi ironi, karena Sinek seolah menegaskan bahwa tak banyak kesuksesan karena benar-benar mengandalkan MENGAPA seperti katanya. Jika contohnya banyak, mengapa tidak dibuat contoh-contoh yang bervariasi?

Selain itu, Penulis merasa kalau buku ini adalah contoh dari apa yang pernah Coach Justin pernah katakan tentang buku-buku Amerika: inti bukunya satu, dijelasinnya ribuan kali. Itulah yang Penulis rasakan ketika membaca buku ini, terutama mulai dari bagian pertengahan.

Saat awal-awal membaca, Penulis masih bisa menikmati karena diberi insight mengapa MENGAPA itu sangat penting dalam berbagai aktivitas, entah itu di kerjaan maupun keseharian. Penulis akui penting untuk menemukan MENGAPA sebelum melakukan sesuatu.

Namun, makin ke belakang, Penulis merasa kalau isi bukunya hanya berputar-putar di hal yang sama. Hal ini diperparah dengan contoh yang digunakan juga hanya berputar-putar pada tokoh dan perusahaan yang itu-itu aja, seperti yang sudah Penulis singgung di atas.

Selain itu, sepanjang buku ini Sinek juga seolah ingin menekankan kalau ingin berhasil, harus punya MENGAPA. Kalau tidak, pasti akan gagal dengan menyebutkan beberapa contoh, seperti Walmart yang kehilangan MENGAPA-nya sejak meninggalnya sang founder.

Penulis jadi menangkap kalau teori yang ia paparkan menjadi bersifat mutlak, padahal belum tentu juga. Sinek juga terasa terlalu menyederhanakan penggunaan MENGAPA dalam perusahaan-perusahaan yang sukses.

Contoh, Sinek mengatakan kalau orang-orang memilih Apple karena MENGAPA yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Padahal, tidak sesederhana itu. Bisa saja orang membeli produk Apple karena APA yang mereka jual, untuk flexing, dan lain sebagainya.

Dengan kata lain, ada banyak sekali peluang kita tidak menggunakan MENGAPA ketika membeli sebuah produk atau memilih sebuah layanan. Mungkin kita punya MENGAPA kita memilih mereka, tapi kita kemungkinan tidak terlalu peduli dengan MENGAPA mereka.

Jika buku ini hanya berfokus pada inti yang ingin disampaikan, mungkin sebenarnya tidak akan butuh lebih dari 100 halaman, bukan lebih dari 300 halaman. Penulis bahkan sudah tidak ingat mayoritas bagian di akhir buku, karena memang sudah terasa membosankan.

Sejujurnya, Penulis tidak terlalu berani merekomendasikan buku ini kepada Pembaca, mengingat jumlah halamannya yang cukup tebal. Nantinya, waktu yang dihabiskan untuk membaca buku ini tidak terasa worth it dengan apa yang didapatkan.

Skor: 5/10

Seandainya saja isinya lebih to the point, dengan contoh yang lebih bervariasi, dan isi halaman yang lebih sedikit (yang otomatis membuat harganya lebih terjangkau), mungkin Penulis akan memberikan skor yang lebih tinggi lagi.


Lawang, 16 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca buku Start with Why karya Simon Sinek

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018