Chapter 49 Solusi dari Kenji

Sebelum ke rumah Kenji, aku memutuskan untuk mampir ke rumah terlebih dahulu. Siapa tahu Kenji sedang berada di rumah bersama Gisel. Dugaanku ternyata salah. Gisel mengatakan bahwa tadi Kenji sempat mampir ke sini untuk memberitahu adikku bahwa aku akan pulang terlambat. Kenji juga minta maaf tidak bisa menemani Gisel karena ada urusan dengan bosnya. Maka dari itu, setelah memberi beberapa pesan ke Gisel, aku berjalan menuju rumah Kenji sambil berharap ia telah menyelesaikan pekerjaannya.

Benar saja, sewaktu aku dan Rika berada di belokan menuju rumah Kenji, kami berpapasan dengannya. Ia tidak menampakkan wajah yang terkejut, sehingga aku curiga ia sudah memprediksi aku akan membawa Rika ke rumahnya. Sungguh berbahaya berhadapan dengan bocah Jepang ini.

“Wah ada angin apa ini tiba-tiba kalian datang ke rumahku bersamaan?” kata Kenji sewaktu kami sudah duduk di ruang tamu, tidak lupa dengan tiga cangkir the buatannya.

“Jadi Kenji, Rika mempunyai masalah dan kita harus membantunya.”

Maka aku segera menceritakan ulang apa yang terjadi di dalam kelas, termasuk tindakan-tindakan yang aku lakukan kepada Rika. Selama aku berbicara, Rika hanya memandang kosong ke arah lain seolah malu rahasia keluarganya harus dibicarakan di hadapannya secara langsung. Demi kebaikan Rika, aku memutuskan untuk tetap melanjutkan cerita ini.

Kenji menyimak ceritaku dengan mata tertutup sambil memain-mainkan jarinya. Mungkin ia sedang memproses fakta-fakta yang tersedia sebelum membuat kesimpulan tentang tindakan apa yang harus dilakukan. Aku mengakhiri ceritaku dengan menyebutkan usulku agar Rika tinggal bersama Sarah.

“Aku turut bersedih atas apa yang menimpamu Rika. Sungguh, itu merupakan bukti bahwa kamu adalah wanita yang tangguh.” kata Kenji setelah aku selesai bercerita. Rika tidak memberikan tanggapan apa-apa atas pujian Kenji.

“Terkait usulmu Le,” tambah Kenji, “bagaimana caranya Rika pergi dari rumah?”

“Ya tinggal keluar saja dan bilang kepada om dan tantenya bahwa ia akan pergi dari rumah.”

“Lalu kamu yakin mereka akan mengiyakan begitu saja?”

“Tentu, toh selama ini mereka memperlakukan Rika dengan begitu buruk. Mereka tentu akan merasa senang jika tidak ada Rika.”

“Pertanyaannya adalah, jika teorimu benar, lantas mengapa mereka tidak melakukan itu dari dulu?”

“Maksudmu?”

“Mengapa mereka tidak menaruh Rika di panti asuhan misalnya. Berdasarkan ceritamu, Rika sangat memungkinkan untuk dimasukkan panti asuhan.”

“Entahlah.”

“Itu artinya,” Kenji menegakkan posisi duduknya, “ada suatu alasan yang mengharuskan Rika berada di rumah itu, meskipun mereka kurang menyukainya.”

Aku terdiam mendengar logika yang keluar dari Kenji. Mengapa hal tersebut tidak pernah terpikirkan olehku? Kulirik Rika, ia pun nampak terkejut dengan teori yang dikemukakan oleh Kenji. Selain kepadaku, Kenji memang jarang mengeluarkan kemampuan deduksinya yang di atas rata-rata.

“Yah, itu hanya sebatas pendapatku kok, belum pasti benar, hahaha.” kata Kenji, ekspresi serius telah hilang dari wajahnya.

“Lalu bagaimana menurutmu? Bagaimana cara kita menolong Rika?”

“Rika, apakah mungkin aku berbicara langsung kepada om dan tantemu itu?” tanya Kenji sambil memandang lembut Rika. Keraguan yang sangat kentara terlihat dari ekspresi yang ditunjukan oleh Rika. Bahkan aku pun mengetahui apa maksud dari ekspresi itu, ia ragu Kenji bisa melakukan itu.

“Rasanya tidak mungkin Ken, mereka bisa-bisa langsung mengusirmu keluar rumah. Selama ini aku tidak pernah membawa teman ke rumah.” ujar Rika pada akhirnya.

“Ah, lantas apakah mungkin jika kamu berterusterang bahwa kamu ingin keluar dari rumah itu?”

“Bisa saja, tapi…” Rika menggantungkan kalimatnya.

“Tapi kamu bisa mendapatkan konsekuensi yang buruk ya Rik.”

Rika menganggukan kepalanya.

“Apakah mungkin kamu bisa memberitahu sanak saudaramu yang lain tentang kejadian ini?”

“Aku tidak tahu caranya Ken, aku tidak punya nomer telepon mereka. Aku juga tidak tahu di mana mereka tinggal.”

“Kira-kira, jika kamu memutuskan untuk kabur dari rumah, apa yang akan terjadi?”

“Entahlah, mungkin mereka akan menghubungi polisi.”

Kenji kembali menyandarkan tubuh ke kursi, lalu menutup kedua matanya sembari meletakkan tangannya di belakang kepala. Permasalahan pelik ini rasanya cukup membuat otak jenius Kenji berpikir dengan keras. Aku pun tidak bisa memberikan solusi yang tepat.

“Kalian tahu KPAI?” tanya Kenji setelah berpikir 2 menit.

Kami berdua sama-sama menggelengkan kepala.

“Entah karena kebetulan atau tidak, sewaktu aku ke kantor tadi, aku membaca artikel tentang KPAI alias Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Rika bisa mengadukan perlakukan kurang menyenangkan dari orangtuanya sehingga ia akan mendapatkan pembelaan. Tentu nanti diperlukan pemeriksaan visum untuk mengetahui apakah Rika benar-benar mengalami penyiksaan. Kebetulan aku membawa artikel yang mencantumkan nomer telepon dan alamat KPAI Malang. Nanti aku bantu untuk membuat pelaporan. Apakah setelah dibantu KPAI Rika bisa pindah ke rumah Sarah, itu urusan nanti.”

Aku dan Rika sama-sama terbengong mendengarkan penuturan Kenji. Bagaimana mungkin ia bisa mengeluarkan solusi yang sama sekali tidak terpikirkan oleh kami? Aku selalu mengagumi kemampuan Kenji untuk menyelesaikan permasalahan, dan hari ini aku semakin dibuat kagum olehnya.

“Permasalahannya adalah, apakah kamu benar-benar ingin pergi dari rumah itu Rik?” tanya Kenji. Nampaknya meskipun sudah memberikan solusi, ia masih bimbang terkait hubungan Rika dengan om dan tantenya itu.

“Iya Ken, aku sudah tidak kuat lagi menderita di sana. Entah bagaimana caranya aku bertahan hidup, yang jelas aku butuh keluar dari rumah itu terlebih dahulu. Mungkin aku bisa berusaha menciptakan novel dan menerbitkannya.”

“Apakah kepergianmu akan membuat situasi membaik?”

“Tentu aku akan merasa lebih baik.”

“Bukan kamu Rika, om dan tantemu, yang kamu panggil dengan sebutan orangtua, apakah mereka akan merasa lebih baik dengan kepergianmu?”

“Aku rasa iya, mereka mungkin bisa bernafas lega dengan kepergianku, walaupun mereka tidak punya lagi sesuatu untuk melampiaskan kekesalan mereka.”

“Baiklah, rasanya pertemuan kali ini cukup sekian. Aku akan mencoba menelepon KPAI besok sepulang sekolah karena hari ini sudah terlalu larut. Apakah tidak apa-apa Rika?”

“Iya Ken, aku rasa tidak apa-apa, terima kasih banyak.”

Kami berdua mengantar Rika hingga ke jalan raya. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya, mungkin karena melihat adanya harapan untuk keluar dari neraka dunianya tersebut. Lihatlah kepolosannya, bagaimana ada manusia yang tega berbuat kasar kepadanya. Rika telah menghadapi dunia yang berat, dan kami harus bisa membantu mengarunginya,

Setelah Rika masuk ke dalam angkot hijau butut, aku dan Kenji berjalan kembali ke rumah. Aku segera menanyakan apa yang ada di pikiranku sejak tadi.

“Kau sudah memprediksi semuanya ya?”

“Ah tidak semua kok, tapi sebagian besar iya.”

“Kau tahu Rika mendapatkan perlakukan tidak menyenangkan dari keluarganya?”

“Aku berasumsi demikian, namun fakta bahwa orangtuanya tidak ada dan Rika diasuh oleh adik ibunya sama sekali tidak kusangka.”

“Dan kau sengaja ke agen koranmu untuk mencari informasi mengenai KPAI?”

“Hahaha, aku memang ada urusan kok Le, sambil menunggu pak Sholeh aku memang mencari-cari informasi tentang KPAI.”

“Bagaimana kau bisa mengetahui kekerasan yang dialami oleh Rika?”

“Seperti biasa Le, mengumpulkan semua kemungkinan dan membuang semua yang mustahil.”

“Sebelum menanyakan tentang KPAI kepada kami, kau sempat terdiam beberapa menit. Apa yang kau pikirkan?”

“Aku hanya sedang menimbang-nimbang apakah keputusan untuk melaporkan kasus ini ke KPAI cukup bijaksana dan membuat Rika merasa lebih baik. Setelah menimbang-nimbang dengan matang, aku condong percaya bahwa KPAI memang jalan yang paling rasional.”

“Seperti mediasi?”

“Ya, benar sekali Le. Dalam hati aku berharap Rika akan tetap tinggal bersama om dan tantenya. Dengan adanya teguran dari KPAI tersebut, semoga saja bisa mengubah perlakukan mereka ke Rika.”

“Lalu apa peranku di sini?”

“Kamu berhasil membuat Rika membicarakan masalahnya kepadaku, itulah yang terpenting. Semua dugaan dan penyelesaianku tidak akan bisa terlaksana apabila Rika tidak bercerita kepadaku.”

Aku tidak memberikan respon atas penjelasan Kenji. Ia selalu dan selalu bisa menjabarkan dengan baik alasan dari segala perbuatannya. Mungkinkah kakeknya yang mantan intel Jepang menurunkan gen detektif kepadanya? Sangat mungkin.

“Omong-omong, kamu benar-benar memeluk Rika?”

“Iya, memangnya kenapa?”

“Aku kaget saja sewaktu kamu menceritakannya. Ada alasan?”

“Entahlah, rasanya tidak ada alasan khusus, aku melakukannya karena instuisiku sebagai laki-laki.”

Aku terdiam sesaat sebelum menambahkan kalimat selanjutnya.

“Mungkin aku melakukan itu karena ibuku juga melakukannya ketika aku sedih. Pelukannya selalu bisa menenangkanku, sehingga aku juga berharap aku bisa menenangkan Rika dengan pelukanku.”

“Ah, begitu ya Le.”

Kami berdua terdiam hingga kami tiba di rumah Kenji. Sebelum beranjak pulang, aku menanyakan satu pertanyaan terakhir.

“Menurutmu, apakah Rika bisa bertahan hingga kita berhasil membuat laporan ke KPAI?”

“Pasti bisa, ia telah melewati segala cobaan selama ini dengan baik, menambahnya beberapa hari tidak akan terlalu berat untuknya.”

***

Sayangnya kali ini Kenji salah. Keesokan harinya, hingga dua hari kemudian, Rika tidak masuk sekolah tanpa ada surat keterangan.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.