Connect with us

Nonfiksi

Setelah Membaca Menikmati Kepergianmu

Published

on

Melepaskan seseorang dari kehidupan kita bisa menjadi hal yang berat, entah karena kematian, pertengkaran, jarak, dan alasan lainnya. Keterikatan, banyaknya momen yang tercipta, adanya kebutuhan, menjadi beberapa alasan mengapa melepaskan menjadi berat

Penulis pun merasakannya, sehingga secara iseng mencoba membeli buku karya Alfiaghazi berjudul Menikmati Kepergianmu yang satu ini. Padahal, biasanya tipe-tipe buku seperti ini adalah yang paling jarang dibeli.

Namun, dengan tujuan “riset” dan merasa topik yang dibahas selaras dengan stoik (kepergian orang lain berada di luar kendali kita), maka Penulis mencoba untuk membacanya dengan harapan lebih bisa mengendalikan dirinya ketika ada yang meninggalkan dirinya.

Detail Buku Menikmati Kepergianmu

  • Judul: Menikmati Kepergianmu
  • Penulis: Alfiaghazi
  • Penerbit: Penerbit Sahima
  • Cetakan: Ketiga
  • Tanggal Terbit: 2022
  • Tebal: 194 halaman
  • ISBN: 978-602-6744-57-9

Sinopsis Menikmati Kepergianmu

Aku pernah takut menghadapi kepergian sebab cintaku sudah menancap terlalu dalam.

Namun sebanyak apa pun aku berkorban, sekuat apa pun aku mencoba bertahan, kepergian tetap tak pernah bisa terhindarkan.

Maka, bila sudah begitu, apalagi yang bisa aku lakukan selain menikmatinya? Sederas-derasnya hujan, kelak pasti akan reda juga.

Kepergianmu memang menyisakan luka, tapi yang membawaku kepada kebahagiaan yang sesungguhnya.

Sebab bagi orang yang terlalu mencintai sepertiku, patah hati adalah anugerah.

Darinya, aku mengerti ternyata sesakit itu berharap kepada sesuatu yang semu; manusia.

Yang terbaik, pilihan Allah.

Isi Buku Menikmati Kepergianmu

Menikmati Kepergianmu berisikan tentang tulisan-tulisan pendek yang menurut Penulis tidak terlalu memiliki kesinambungan antara satu dengan yang lainnya. Artinya, Pembaca bisa membuka halaman secara acak tanpa perlu membaca halaman-halaman sebelumnya.

Topik yang dihadirkan pun seputar permasalahan percintaan, terutama tentang kegalauan penulis buku ini tentang melepaskan seseorang yang sangat dicintai. Kita akan dibuat merasakan betapa beratnya melakukan hal tersebut.

Tak jarang isi buku ini juga terasa seperti curahan hati sang penulis buku dengan menyelipkan kisah-kisah yang terasa benar-benar terjadi di kehidupannya. Yang jelas, Penulis merasa kalau buku ini lebih banyak menimbulkan perasaan pedih daripada motivasi untuk bangkit.

Di antara tulisan-tulisan pendek, ada banyak quote yang bisa jadi akan related dengan apa yang sedang dialami oleh pembacanya. Ada satu quote yang paling Penulis sukai dari buku ini, yakni:

“Tidak ada cara pergi yang baik, semua selalu menyakitkan.”

Mengingat jumlah halamannya yang sedikit dan terkadang tulisannya ada yang tidak sampai satu halaman, maka buku ini bisa diselesaikan dengan cepat. Apalagi, bahasa yang digunakan bukan bahasa puitis yang ambigu dan susah untuk dipahami.

Setelah Membaca Menikmati Kepergianmu

Meskipun akan terasa related bagi sebagian pembacanya, Penulis justru merasakan kalau esensi yang ditawarkan pada bagian sinopsis tidak terlalu ditonjolkan, yakni tentang bagaimana kita seharusnya hanya berharap kepada Tuhan.

Penulis juga berharap kalau buku ini akan bisa membuat Penulis bisa menikmati kepergian orang-orang penting dalam hidupnya. Seperti yang sudah disinggung di atas, Penulis tidak bisa mengendalikan siapa-siapa yang mau stay di kehidupan Penulis.

Alih-alih, buku ini lebih terasa kepada curhatan penulis buku yang ingin “mengomersialkan” kisahnya. Meskipun di belakang buku tertulis genre buku ini “Motivasi”, kenyataannya tidak banyak motivasi yang Penulis dapatkan.

Jika menengok kebiasaan manusia yang justru akan mendengarkan musik galau ketika sedang galau, maka buku galau ini pun bisa menjadi teman yang pas untuk bergalau ria. Namun, jika niat membaca ingin uplifting, jangan berharap terlalu banyak dari buku ini.

Jadi, jika Pembaca sedang galau dan memang sedang mencari bacaan galau, mungkin buku ini akan menjadi pilihan yang menarik. Apalagi, ada banyak quote yang bisa dijadikan sebagai aesthetic story.

Skor: 5/10


Lawang, 24 Oktober 2023, terinspirasi setelah membaca Menikmati Kepergianmu karya Alfiaghazi

Nonfiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Merawat Luka Batin

Published

on

By

Kesehatan mental menjadi salah satu concern Penulis dalam beberapa tahun terakhir ini. Bukan hanya demi dirinya sendiri, tapi juga karena ingin tahu bagaimana Penulis harus bersikap jika ada orang dekatnya yang sedang mengalami struggle dengan hal tersebut.

Tak hanya itu, Penulis juga ingin memahami dunia psikologi lebih dalam lagi, walaupun mungkin Penulis hanya akan paham dari sisi permukaan. Penulis jelas tidak berniat ingin jadi psikolog abal-abal, hanya ingin pengetahuannya seputar hal tersebut semakin luas.

Dengan alasan-alasan tersebut, Penulis pun mencoba untuk membaca buku-buku yang berhubungan dengan kesehatan mental. Salah satunya adalah Merawat Luka Batin karya dr. Jiemy Adrian Sp.KJ.

Disclaimer: Penulis mengetahui bahwa belum lama ini, penulis buku ini yakni dr. Jiemy baru saja mendapatkan tuduhan pelecehan seksual dan terbukti tidak bersalah. Buku ini hanya akan fokus membahas isi bukunya.

Detail Buku Merawat Luka Batin

  • Judul: Merawat Luka Batin
  • Penulis: dr. Jiemy Adrian Sp.KJ
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan:
  • Tanggal Terbit:
  • Tebal: 326 halaman
  • ISBN: 9786020661520
  • Harga: Rp98.000

Apa Isi Buku Merawat Luka Batin?

Melalui sinopsis yang ada di bagian belakang buku ini, sebenarnya inti dari Merawat Luka Batin adalah tentang proses berpikir. Namun, kita tidak diajak untuk selalu berpikir positif seperti kata-kata motivator, tapi juga memahami saat kita berpikir negatif.

Buku ini dibagi menjadi 8 bab, yakni:

  1. Apa Itu Depresi?
  2. Memersepsi Realitas
  3. Memahami Sisi Gelap Diri Kita: Pikiran yang Liar
  4. Menerangi Gelapnya Pikiran dan Perasaan
  5. Berlatih Mindfullness
  6. Bagaimana Menghadapi Dorongan untuk Menyakiti Diri Sendiri
  7. Mencegah Depresi Hidup Kembali
  8. Mengasihi Seseorang dengan Depresi: Sebuah Langkah bagi Keluarga dan Sahabat

Dari daftar isi di atas, kita bisa mendapatkan gambaran apa saja langkah-langkah yang diberikan oleh dr. Jiemy untuk bisa memahami pikiran dan perasaan kita sendiri. Kita diberi deskripsi dan mengapa hal tersebut muncul terlebih dahulu untuk lebih bisa memahaminya.

Depresi bisa dibilang menjadi salah satu pusat buku ini, terutama yang disebabkan oleh trauma masa lalu, sehingga memiliki bab tersendiri dan ditaruh paling depan pula. Banyak informasi dasar seputar depresi mulai dari definisi, ciri-ciri, hingga cara mengatasinya.

Setelah lebih memahami apa yang terjadi dengan proses berpikir kita dan mengapa perasaan kita bereaksi secara tertentu, ada bagian-bagian yang membagikan tips praktis untuk menangani hal tersebut. Jadi sederhananya, kita harus mengenali dan memahami sesuatu terlebih dahulu untuk bisa mencari solusinya.

Selain itu, buku ini juga menyiapkan bab khusus untuk membantu para caregiver yang mungkin memiliki keluarga atau teman yang sedang bermasalah dengan kesehatan mentalnya. Bukan untuk menggantikan profesional tentu saja, tapi setidaknya kita bisa melakukan beberapa hal untuk membantu mereka.

Setelah Membaca Merawat Luka Batin

Sepanjang membaca buku ini, Penulis menemukan banyak sekali langkah-langkah praktis yang bisa kita lakukan, bahkan buat yang merasa tidak memiliki masalah dengan kesehatan mental sekali pun. Sarannya pun bisa dipertanggungjawabkan mengingat daftar pustaka di bagian belakang buku ini cukup panjang.

Contoh, pola tidur yang buruk bisa memengaruhi kesehatan mental kita, sehingga ada beberapa bagian buku ini yang memberikan beberapa tips untuk membantu kita bisa tidur melalui penerapan Sleep Hygiene. Tips tersebut bisa digunakan siapa saja, bukan?

Tak hanya itu, sepanjang buku ini kita tidak akan merasa dihakimi atau digurui, mungkin karena yang menulis memang seorang psikolog yang kerap berhadapan dengan berbagai jenis pasien. Jadinya, ya kita merasa enjoy ketika membacanya.

Bahasanya juga sebisa mungkin menghindari kata-kata yang sulit dipahami, sehingga Penulis pun bisa menandaskan buku ini dengan lumayan cepat. Mungkin di bab 1 ada beberapa bagian yang lumayan teknis, tapi selain itu semua relatif mudah dicerna oleh orang awam.

Penulis merasa setuju kalau buku ini berusaha mengajak kita untuk memahami proses berpikir, apalagi Penulis adalah orang yang mudah overthinking. Ada banyak hal yang dijelaskan mengenai cara mengatasi pikiran-pikiran “liar” yang kerap muncul tiba-tiba tanpa diundang.

Apalagi, ada beberapa quote menarik di buku ini yang bisa menjadi pengingat di masa-masa sulit. Berikut beberapa di antaranya:

  • (h. 221) “Tidak ada yang baru dari masa lalu. Tidak ada yang pasti dari masa depan. Yang kita miliki hanya masa kini, di sini.”
  • (h. 226) “Kita akan mendapatkan kontrol dengan melepaskan keinginan untuk mengontrol. Tenangkan egomu dan menyerahlah.”

Salah satu poin yang benar-benar masuk ke kepala Penulis adalah memahami mengapa orang berpikiran untuk mengakhiri hidupnya. Menurut dr. Jiemy, sebenarnya mereka bukan ingin mati begitu saja, tapi ingin menghilangkan rasa sakit yang mereka alami. Bunuh diri adalah cara permanen untuk mengatasi masalah yang sementara.

Nah, buku ini banyak sekali memberikan tips apa yang perlu dilakukan jika “serangan” depresi maupun keinginan untuk mengakhiri hidup datang. Tidak hanya dari sisi korban, tapi juga dari sisi kita sebagai orang-orang terdekatnya.

Kesimpulannya, buku ini membuat kita merasa dipahami tanpa merasa dihakimi. Membaca buku ini sedikit terasa seperti sesi psikologi yang menyenangkan, walau tentu saja bagi orang-orang tertentu disarankan untuk tetap datang ke psikolog sungguhan.

Penulis merasa kalau buku ini bisa membantu banyak orang yang sedang struggle dengan kesehatan mentalnya, terutama di era modern seperti sekarang. Tak perlu merasa malu jika kita merasa butuh membaca buku ini, karena hidup ini memang tanggung jawab kita, bukan orang lain.

Selain itu, buku ini juga mengajak kita untuk lebih bisa berempati kepada orang-orang yang mengalami masalah kesehatan mental. Hal tersebut terjadi bukan sekadar karena “kurang bersyukur” atau “kurang dekat dengan Tuhan.” Kalau tidak bisa membantu, minimal berempati dengan keadaannya, tidak perlu menghakimi seenak hati.

SKOR: 8/10


Lawang, 19 Oktober 2026, terinspirasi setelah membaca Merawat Luka Batin karya dr. Jiemy Adrian Sp.KJ

Continue Reading

Nonfiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Esensialisme

Published

on

By

Setelah membaca buku Effortless yang cukup berkesan, Penulis pun memutuskan untuk membeli buku Greg McKeown lainnya yang telah dirilis terlebih dahulu, yakni Esensialisme. Apalagi, buku ini disebutkan beberapa kali di buku Effortless.

Selain karena alasan tersebut, Penulis juga merasa dirinya kadang kurang bisa memilah mana yang penting bagi dirinya dan mana yang tidak perlu diperhatikan. Oleh karena itu, Penulis berharap kalau buku ini dapat menjadi semacam panduan untuk itu.

Sayangnya, tampaknya ekspektasi Penulis terlalu tinggi, yang salah satunya disebabkan oleh buku Effortless. Secara singkat, impresi Penulis terhadap buku ini sama dengan buku Start with Why. Penulis akan menjabarkan alasannya di bawah ini.

Detail Buku Esensialisme

  • Judul: Esensialisme
  • Penulis: Greg McKeown
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-7
  • Tanggal Terbit: Desember 2025
  • Tebal: 354 halaman
  • ISBN: 9786020656151
  • Harga: Rp108.000

Apa Isi Buku Esensialisme?

Dengan tagline “Pentingkan yang Penting Saja”, sebenarnya kita bisa menebak kalau isi buku ini akan mengajak kita belajar memprioritaskan mana yang penting dan mengabaikan apa yang kurang esensial.

Buat orang yang suka ruwet dengan pikirannya sendiri, jelas buku ini terasa menarik. Apalagi, di bagian cover ini terdapat semacam ilustrasi garis ruwet dengan tanda panah mengarah ke sebuah lingkaran dengan tulisan “ini” di tengah-tengahnya.

Berbeda dengan buku Effortless, buku ini terbagi menjadi ke dalam empat bagian, yakni:

Bagian I: Intisari

  1. Esensialis
  2. MEMILIH: Kekuatan Tak Terkalahkan dari Kemampuan Memilih
  3. MELIHAT DAN MENCERMATI: Yang Tidak Penting pada Hampir Segala Hal
  4. TRADE-OFF: Masalah Mana yang Ingin Saya Pecahkan?

Bisa dibilang, ini adalah bagian “pembukaan” untuk memahami apa yang dimaksud dengan Esensialisme. Akan ada banyak istilah di bagian ini yang akan muncul kembali di bab selanjutnya, terutama bagian trade-off atau menukar apa yang tidak esensial menjadi esensial.

Bagian II: Eksplorasi

  1. MEMBEBASKAN DIRI: Manfaat Tak Terduga dari Menjadi yang Tak Tersedia
  2. MENCERMATI: Melihat Mana yang Sungguh Penting
  3. BERMAIN: Mengambil Kearifan Kanak-Kanak Dalam Diri Anda
  4. TIDUR: Melindungi Aset
  5. MEMILIH: Kedahsyatan Kriteria Ekstrem

Dalam bagian ini, kita diajak untuk mengeksplorasi diri untuk menemukan apa yang benar-benar penting dalam kehidupan kita. Ada dua bab yang menarik di sini, yakni “bermain” dan “tidur”. Aktivitas yang kerap dianggap tidak produktif ini ternyata esensial!

Bagian III: Eliminasi

  1. KLARIFIKASI: Sebuah Keputusan yang Meniadakan Seribu Keputusan
  2. BERANI: Kedahsyatan Jawaban “Tidak” yang Anggun
  3. MELEPAS KOMITMEN: Menang Besar dengan Menghentikan Proyek Rugi
  4. MENYUNTING: Seni yang Tidak Kelihatan
  5. BATAS: Kebebasan Berkat Menetapkan Batasan-Batasan

Selain melakukan eksplorasi untuk menemukan yang esensial, memahami mana yang tidak esensial juga tak kalah penting. Oleh karena itu, bagian ini akan mengajak kita untuk melakukan eliminasi terhadap hal-hal yang tidak esensial.

Bagian IV: Eksekusi

  1. PENYANGGA: Keunggulan yang Tidak Wajar
  2. MENGURANGI: Maju Lebih Pesat dengan Menghilangkan Hambatan
  3. KEMAJUAN: Kedahsyatan Kemenangan-Kemenangan Kecil
  4. ALIRAN (FLOW): Hebatnya Sebuah Rutin
  5. FOKUS: Apa yang Penting Sekarang?
  6. JADILAH: Hidup Seorang Esensialis

Menemukan apa yang esensial, sudah. Mengetahui apa yang tidak esensial, sudah. Maka langkah terakhir yang perlu kita ketahui adalah bagaimana mengeksekusi semua teori Esensialisme ke dalam hidup kita sehari-hari.

Setelah Membaca Buku Esensialisme

Sebenarnya, pekerjaan Penulis sebagai seorang editor juga berkaitan erat dengan Esensialisme. Dalam menyunting artikel, tentu Penulis harus cermat dalam menentukan mana yang Esensial, mana yang Nonesensial dan dihapus dari artikel. Mungkin itu juga yang membuat Penulis tertarik untuk membaca buku ini.

Karena buku Effortless, jujur ekspektasi Penulis terhadap buku ini cukup tinggi. Sayangnya, ekspektasi tersebut harus runtuh karena secara keseluruhan, isi buku ini cukup “umum” dan penuh dengan hal-hal klise yang mungkin kita sudah tahu.

Memang, setiap babnya diceritakan dengan mudah dan aplikatif. Hanya saja, banyak yang terasa terlalu general dan kurang spesifik. Lebih parahnya lagi, terkadang beberapa bab terasa dragging dan cukup repetitif.

Ketika membaca buku ini, Penulis merasakan sensasi seperti ketika membaca buku Start with Why, di mana penulis buku ini terlalu menglorifikasi teori Esensialisme yang sedang dibahas sekaligus terlalu menyederhanakan semua permasalahan yang disebutkan di sini.

Di setiap babnya, ada semacam tabel yang terdiri dari dua kolom, yakni Nonesensialis dan Esensialis. Tentu saja bagian Nonesensialis menjadi bagian yang buruk dan Esensialis menjadi bagian yang baik.

Jadinya, cuma ada dua kutub ekstrem antara Nonesensialis dan Esensialis. Kalau bukan seorang Esensialis, berarti otomatis kita adalah Nonesensialis. Padahal, dalam kenyataannya hidup tidak sehitam-putih dan sesederhana itu.

Secara konsep, teori Esensialisme memang penting, apalagi bagi orang yang kerap overthinking seperti Penulis. Justru karena merasa itu penting, Penulis butuh elaborasi yang lebih mendalam.

Ketika membaca buku ini, Penulis sudah membiasakan diri untuk mencatat berbagai hal menarik dari buku yang sedang dibaca. Nah, buku ini termasuk yang catatannya sedikit karena jujur tidak banyak poin menarik yang Penulis temukan.

Walau begitu, ada satu quote dari buku ini yang Penulis benar-benar ingat dari halaman 135, yakni “No more yes, it’s either HELL YEAH or no!” yang maknanya adalah kita harus melakukan sesuatu yang benar-benar membuat kita langsung bersemangat.

Di halaman 192, yang termasuk ke dalam bagian Eliminasi, ada juga pengingat tentang komitmen yang sangat masuk untuk Penulis. Ternyata, salah satu hal yang membuat kita melepaskan komitmen adalah sink-cost bias.

Singkatnya, sink-cost bias adalah kondisi di mana kita sudah merasa “berinvestasi” banyak sehingga merasa sayang jika melepaskan suatu komitmen. Padahal, jika kita terus mempertahankan komitmen tersebut, kerugian yang kita derita akan semakin besar.

Penulis memang merasa kurang puas dengan buku ini karena berharap isinya bisa lebih detail. Namun, buat Pembaca yang kerap merasa overwhelmed dengan kehidupannya, buku ini akan memberi cara bagaimana mengurainya secara sistematis.

Skor: 6/10


Lawang, 9 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca Esensialisme karya Greg McKeown

Continue Reading

Nonfiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Start with Why

Published

on

By

Ketika sedang bingung ingin membeli buku apa, Penulis biasanya mempertimbangkan genre apa yang sedang habis di rumah. Nah, salah satu yang kerap habis adalah buku-buku self-improvement, karena memang biasanya relatif mudah dicerna dan inspiratif.

Mengingat buku self-improvement ada begitu banyak macamnya, tentu memilih salah satunya juga menjadi PR tersendiri. Kalau tidak memilih yang sedang Penulis rasa butuhkan, maka Penulis akan memilih yang populer dan banyak dibaca orang.

Oleh karena itu, ketika mengetahui buku Start with Why dari Simon Sinek merilis “Edisi 15 Tahun”, tentu Penulis jadi penasaran mengapa buku ini bertahan sekian lama di peredaran. Apakah isi bukunya memang sedahsyat itu?

Detail Buku Start with Why

  • Judul: Start with Why (Dengan Materi yang Diperbarui)
  • Penulis: Simon Sinek
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-23
  • Tanggal Terbit: Oktober 2025
  • Tebal: 366 halaman
  • ISBN: 9786020628837
  • Harga: Rp100.000

Apa Isi Buku Start with Why

Dari judulnya, sebenarnya kita bisa menerka kalau isi buku ini akan mengajak kita untuk mencari MENGAPA dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan memiliki MENGAPA yang jelas, kita akan lebih terdorong untuk melakukan sesuatu.

Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi lima bagian utama sebagai berikut:

  • Bagian 1: Dunia yang Tidak Dimulai dengan Pertanyaan Mengapa
  • Bagian 2: Sudut Pandang Alternatif
  • Bagian 3: Pemimpin Butuh Pengikut
  • Bagian 4: Cara Menggalang Orang-Orang yang Percaya
  • Bagian 5: Tantangan Terbesar adalah Sukses

Seperti kebanyakan buku-buku self-improvement pada umumnya, buku ini juga diselipi oleh kisah inspiratif dari tokoh-tokoh hebat. Beberapa yang paling sering diulang adalah Steve Jobs dan Apple, Wright Bersaudara (penemu pesawat terbang), Southwest Airlines, hingga Martin Luther King Jr.

Nama-nama tokoh yang disebutkan di dalam buku ini diceritakan selalu memiliki MENGAPA yang jelas, baik dalam membuat produk hingga mengajak dan menginspirasi orang. Yang melekat pada mereka adalah MENGAPA mereka melakukannya, bukan APA yang dilakukannya. Ini dibahas panjang lebar di Bagian 3 dan 4.

Satu bagian yang bagi Penulis menarik ada di Bagian 2, Bab “Lingkaran Emas”. Di dalam bab tersebut, ada tiga lingkaran yang terdiri dari APA (lingkaran terluar), BAGAIMANA (lingkaran tengah), baru MENGAPA (lingkaran terdalam).

Kebanyakan orang akan berhenti di APA YANG DILAKUKAN, atau paling mentok di BAGAIMANA MELAKUKANNYA. Namun, orang-orang hebat akan selalu memiliki MENGAPA MELAKUKANNYA.

Bagian lain yang bagi Penulis menarik adalah bagian Manipulasi vs Inspirasi. Sederhananya, APA dan BAGAIMANA itu masih bagian dari memanipulasi orang lain, sedangkan MENGAPA sudah masuk ke bagian yang menginspirasi orang lain.

Setelah Membaca Buku Start with Why

Sebagai pengagum Steve Jobs dan Apple, selalu menyenangkan rasanya ketika mereka digunakan sebagai contoh di buku self-improvement. Namun, tidak di buku ini, karena penggunaan mereka sebagai contoh benar-benar terlalu banyak!

Hampir di setiap bab, mereka akan dijadikan contoh dalam setiap topik yang sedang dijelaskan. Dengan tebal buku yang mencapai 366 halaman, bisa dibilang contoh public figure atau perusahaan yang digunakan di buku ini kurang dari 10!

Hal ini tentu menjadi ironi, karena Sinek seolah menegaskan bahwa tak banyak kesuksesan karena benar-benar mengandalkan MENGAPA seperti katanya. Jika contohnya banyak, mengapa tidak dibuat contoh-contoh yang bervariasi?

Selain itu, Penulis merasa kalau buku ini adalah contoh dari apa yang pernah Coach Justin pernah katakan tentang buku-buku Amerika: inti bukunya satu, dijelasinnya ribuan kali. Itulah yang Penulis rasakan ketika membaca buku ini, terutama mulai dari bagian pertengahan.

Saat awal-awal membaca, Penulis masih bisa menikmati karena diberi insight mengapa MENGAPA itu sangat penting dalam berbagai aktivitas, entah itu di kerjaan maupun keseharian. Penulis akui penting untuk menemukan MENGAPA sebelum melakukan sesuatu.

Namun, makin ke belakang, Penulis merasa kalau isi bukunya hanya berputar-putar di hal yang sama. Hal ini diperparah dengan contoh yang digunakan juga hanya berputar-putar pada tokoh dan perusahaan yang itu-itu aja, seperti yang sudah Penulis singgung di atas.

Selain itu, sepanjang buku ini Sinek juga seolah ingin menekankan kalau ingin berhasil, harus punya MENGAPA. Kalau tidak, pasti akan gagal dengan menyebutkan beberapa contoh, seperti Walmart yang kehilangan MENGAPA-nya sejak meninggalnya sang founder.

Penulis jadi menangkap kalau teori yang ia paparkan menjadi bersifat mutlak, padahal belum tentu juga. Sinek juga terasa terlalu menyederhanakan penggunaan MENGAPA dalam perusahaan-perusahaan yang sukses.

Contoh, Sinek mengatakan kalau orang-orang memilih Apple karena MENGAPA yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Padahal, tidak sesederhana itu. Bisa saja orang membeli produk Apple karena APA yang mereka jual, untuk flexing, dan lain sebagainya.

Dengan kata lain, ada banyak sekali peluang kita tidak menggunakan MENGAPA ketika membeli sebuah produk atau memilih sebuah layanan. Mungkin kita punya MENGAPA kita memilih mereka, tapi kita kemungkinan tidak terlalu peduli dengan MENGAPA mereka.

Jika buku ini hanya berfokus pada inti yang ingin disampaikan, mungkin sebenarnya tidak akan butuh lebih dari 100 halaman, bukan lebih dari 300 halaman. Penulis bahkan sudah tidak ingat mayoritas bagian di akhir buku, karena memang sudah terasa membosankan.

Sejujurnya, Penulis tidak terlalu berani merekomendasikan buku ini kepada Pembaca, mengingat jumlah halamannya yang cukup tebal. Nantinya, waktu yang dihabiskan untuk membaca buku ini tidak terasa worth it dengan apa yang didapatkan.

Skor: 5/10

Seandainya saja isinya lebih to the point, dengan contoh yang lebih bervariasi, dan isi halaman yang lebih sedikit (yang otomatis membuat harganya lebih terjangkau), mungkin Penulis akan memberikan skor yang lebih tinggi lagi.


Lawang, 16 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca buku Start with Why karya Simon Sinek

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018