Chapter 73 Setelah Pertemuan

Kami semua terkejut mendengar pernyataan Kenji. Bagaimana mungkin anak secerdas dia tidak akan melanjutkan studinya di universitas?

“Saya sudah punya rencana untuk membuka tempat kursus di rumah. Tabungan dari bekerja selama ini rencananya akan saya gunakan untuk membeli meja lipat, sehingga murid-murid saya nanti tidak perlu repot-repot membawa meja,” jelas Kenji.

“Tapi Kenji, kamu anak yang cerdas, sayang sekali kalau kecerdasan itu tidak dimanfaatkan untuk menuntut ilmu,” kata paman yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

“Tanpa bermaksud sombong, ilmu bisa didapat dari mana saja kok paman. Saya merasa sudah saatnya saya berbagi ilmu yang saya miliki kepada orang lain. Mungkin jika saatnya tiba, saya juga akan melanjutkan studi. Yang jelas, setelah kelulusan ini saya belum ada rencana untuk kuliah.”

“Apa masalah biaya? Kalau itu, paman bisa bantu kamu,” Paman Anton masih mendesak Kenji untuk mengubah keputusannya. Sayang, nampaknya Kenji sudah membulatkan tekadnya.

“Paman sudah begitu baik kepada saya selama ini. Saya tidak ingin menambah hutang budi ke paman, apalagi paman juga sudah membantu saya melunasi mobil yang dirusakkan ayah saya. Saya merasa tidak bisa menerima bantuan paman lebih dari ini.”

Paman nampak kehabisan kata-kata dalam menghadapi Kenji. Lihatlah, wajahnya tetap setenang danau tanpa terlihat sedikitpun bentuk emosi. Entah sejak kapan ia memiliki rencana ini, ia belum pernah bercerita tentang hal ini sebelumnya.

Setelah itu, Kenji berupaya untuk mengalihkan topik pembicaraan menjadi sekadar basa-basi. Aku hanya diam mengamati tanpa tertarik untuk ikut di dalam percakapan. Fakta yang baru aku ketahui ini telah membuatku menyimpan banyak pertanyaan untuknya nanti.

Ketika hari telah menjelang sore, paman dan ayah pun berpamitan. Seperti biasa, paman meminta kami untuk menghubunginya jika ada apa-apa. Ia juga tak lupa memberiku sebuah amplop yang pasti berisikan uang. Di sisi lain, ayah hanya berdiri diam di dekat mobil dan memandangi kami semua. Mata kami sempat bertatapan dengan dingin, seolah kata damai tak akan pernah kami temukan.

“Leon, bisa bicara berdua sama kamu?” tanya paman tiba-tiba setelah ia selesai berpamitan dengan Gisel.

Aku mengiyakan permintaan tersebut dan mengajaknya untuk kembali masuk ke dalam rumah. Ayah, Gisel, dan Kenji tetap di luar agar tidak mengetahui isi pembicaraan kamu. Aku sendiri tidak memiliki bayangan apa yang akan paman bicarakan denganmu.

“Dengar Leon, paman mendukungmu seratus persen kalau kamu ingin kuliah di universitas terbaik. Paman benar-benar senang jika seandainya kamu benar-benar masuk ke sana. Tapi, paman punya satu pertanyaan untuk kamu.”

“Apa itu?”

“Gimana dengan Gisel? Tidak mungkin kan kamu meninggalkan Gisel sendirian di sini ketika kamu merantau ke ibu kota?”

Pertanyaan dari paman ini membuatku tercekat. Aku memang belum pernah memikirkan untuk kuliah di mana sehingga hal ini belum pernah terlintas di benakku. Tentu saja aku tidak akan tega meninggalkan Gisel sendirian di sini.

“Aku bisa kuliah yang dekat sini saja. Bagiku sama saja.”

“Tapi kamu punya kesempatan untuk belajar di tempat terbaik Leon, jangan sia-siakan kesempatan itu. Oleh karena itu paman mengusulkan,” paman berhenti sejenak, “agar ayahmu kembali tinggal di sini untuk menemani Gisel. Tidak untuk sekarang, tapi ketika kamu sudah waktunya untuk berangkat. Paman tidak minta jawabanmu sekarang, tapi coba pikirkan baik-baik. Ini demi Gisel, adikmu. Kamu memang benci setengah mati kepada ayahmu, tapi paman sudah melihat perubahannya selama beberapa tahun terakhir ini. Berilah ayahmu kesempatan untuk memulai ulang hidupnya lagi.”

Aku tidak merespon permintaan paman. Aku benar-benar belum bisa memberi jawaban karena munculnya pilihan yang serba dilematis itu. Untungnya paman juga tidak memburuku dan sabar menungguku membuat keputusan.

“Selain itu, coba bujuk kembali Kenji agar melanjutkan studinya. Sayang, ia anak yang sangat cerdas.”

“Baik paman.”

Setelah itu, kami berdua pun kembali ke halaman depan. Aku melepas kepergian mereka dengan perasaan yang tidak karuan. Hanya dalam waktu beberapa jam, ada banyak sekali kejadian dan fakta yang mengaduk-aduk perasaanku.

“Kalau begitu, aku juga pamit ya Leon. Besok kita masih sekolah, kan? Hahaha.”

Aku segera memegang pundak Kenji dengan sedikit keras. Ia terlihat sedikit terkejut dengan hal tersebut.

“Kau berhutang penjelasan kepadaku, tak akan kubiarkan kau pulang begitu saja.”

“Hahaha, sudah kuduga akan seperti ini. Baiklah, yuk masuk. Kita ngobrol santai sambil makan kue yang dibawakan pamanmu tadi.”

Maka kami bertiga pun kembali masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tengah. Gisel segera mencomot salah satu kue berwarna merah muda dan memasukkannya ke dalam mulut secara terburu-buru hingga ia tersedak.

“Kalau makan pelan-pelan Gisel, jadi kesedak kan,” tegurku dengan nada yang sedikit tinggi.

“Hehe iya maaf kak. Dari tadi Gisel udah ngincer kue yang ini, tapi sungkan karena masih ada paman dan ayah.”

“Sekarang kau Kenji. Coba jelaskan semuanya kepadaku mengenai rencana studi dan lain sebagainya.”

“Sebentar Leon, kurang lengkap rasanya jika kue ini tidak dibarengi dengan teh hangat. Aku buatkan bentar, ya.”

Ia pun segera melangkahkan kaki menuju dapur. Baiklah, aku akan menantinya sambil merangkum kembali fakta-fakta yang baru aku ketahui dari cerita ayah hari ini. Aku pun meminta Gisel untuk mengambilkan bolpoin dan kertas apapun untuk mencatat semuanya. Dengan mencatat, pikiranku akan lebih sistematis dan tidak terurai ke mana-mana.

Orangtuaku adalah aktivis. Aksi mereka membuat gerah orang bernama Wijaya Hardikusumo sehingga entah bagaimana caranya ia membungkam para aktivis tersebut. Ketika menuliskan fakta-fakta ini, aku baru sadar bahwa baru sebatas inilah yang baru aku ketahui. Aku tidak tahu harus aku apakan fakta-fakta ini. Ingin balas dendam? Bagaimana caranya? Mengadukan Wijaya ke pihak kepolisian untuk kasus yang tak jelas? Iya kalau ia masih hidup, kalau sudah mati? Apa yang akan aku lakukan? Melupakan semuanya dan fokus menjalani hidup baru? Aku benar-benar bingung dengan keinginanku sendiri.

“Nampaknya kamu masih kepikiran mengenai cerita-cerita tadi ya, Leon?” tanya Kenji sembari membawa senampan teh dengan asap yang masih mengepul.

“Tepat sesuai dugaanmu. Rasanya aku buntu dengan semua ini. Masih samar-samar.”

“Pelan-pelan Leon, kita akan rangkai puzzle ini bersama-sama. Seperti yang aku pernah bilang, setelah Ujian Nasional, kita akan mulai mendalami kasus ini lebih intens lagi. Apalagi kalau kamu diterima jalur undangan, waktu luang kita akan bertambah.”

“Baguslah kau mengungkit hal itu. Kenapa kau tidak ingin lanjut kuliah?”

“Hahaha, kan kamu sudah dengar alasannya ketika tadi pamanmu tanya. Masalah utamanya ya biaya sih, selain karena aku memang ingin membuka tempat kursus.”

“Kau dengar sendiri tadi kalau paman akan membantumu.”

“Kalau kamu ada di posisiku, kamu juga akan menolak bantuan itu, kan? Enggak enak rasanya Leon jika orang lain membantu kita terlalu banyak tanpa bisa membalasnya.”

Aku diam. Kata-kata yang ia ucapkan memang masuk akal. Seandainya aku ada di posisi Kenji, pasti aku juga akan menolak bantuan tersebut.

“Rencana ini sudah muncul sejak lama, tapi memang aku belum pernah menceritakannya kepadamu. Bukan apa-apa, hanya karena belum menemukan waktu yang pas saja. Kamu tahu sendiri, mengajar adalah salah satu passion-ku.”

“Tapi kau bisa jadi guru atau bahkan dosen!”

“Iya memang, tapi untuk saat ini rasanya belum mungkin. Tenang Leon, kalau memang rezekinya aku juga bakal kuliah kok.”

Aku kehabisan argumen untuk digunakan. Aku merasa tidak berdaya karena tidak ada bantuan yang bisa aku tawarkan.

“Hidup ini singkat, Le. Dalam waktu yang singkat itu, kita harus bisa bermanfaat untuk orang lain sebanyak-banyaknya,” katanya tiba-tiba.

“Ucapanmu seperti orang yang akan menghadapi ajal, Ken.”

“Hahaha, umur siapa yang tahu, Le,” kata Kenji sambil tersenyum dengan mata yang seolah sedang menatap ke masa depan.

“Kalau Kak Kenji beneran buka tempat kursus, Gisel mau jadi murid pertamanya!” kata adikku setelah ia menandaskan kue di tangannya.

“Kamu memang sudah menjadi murid pertamaku Gisel,” timpal Kenji.

Adikku berteriak girang mendengar kalimat itu. Segala bentuk emosi dan kekesalan yang menumpuk dari tadi sedikit mereda melihat mereka berdua. Aku pun teringat dengan ucapan paman tadi. Jika aku benar-benar harus kuliah di sana, artinya aku harus meninggalkan mereka, meninggalkan orang-orang yang sangat berharga bagiku.

“Menurutmu, apa sebaiknya aku tetap mencoba kuliah di UI atau di kampus sekitar sini?”

“Kamu adalah orang yang selalu mengincar posisi tertinggi Leon. Tentu aku akan merekomendasikan kamu untuk kuliah di UI.”

“Tapi jika aku kuliah di sana..,” aku tak kuasa melanjutkan kalimatku.

“Artinya kamu akan meninggalkan kami semua, itu benar. Gisel rasanya juga enggak mungkin kamu ajak ke Jakarta, kan? Gisel harus menyelesaikan sekolahnya di sini.”

Gisel nampaknya baru menyadari kemungkinan ini, sehingga wajahnya berubah menjadi cemberut. Aku tahu ia ingin bilang kalau dirinya ingin ikut aku, tapi di sisi lain ia juga menyadari bahwa dirinya harus menyelesaikan sekolah yang telah kami perjuangkan bersama-sama selama ini. Hal tersebut membuat ia memutuskan untuk diam dan masuk ke dalam kamarnya.

“Pasti akan berat bagi Gisel ketika kamu harus meninggalkannya. Bahkan aku pun merasa berat. Hanya saja, selalu ada harga yang harus dibayar untuk meraih impian. Kamu tetap ingin menjadi dokter spesialis paru-paru terbaik, kan?”

Aku menganggukkan kepala.

“Dan artinya, ada peluang kalau ayahmu akan tinggal di sini lagi untuk menemani Gisel, kan? Rasanya itu tadi yang dibicarakan Paman Anton kepada dirimu.

Sekali lagi aku menganggukkan kepala. Kemampuan analisa Kenji selalu terlihat sempurna.

“Kamu masih bingung bukan akan menerima hal tersebut atau tidak? Hanya saja membayangkan Gisel akan sendirian membuatmu akan menerima hal tersebut?”

“Rasanya kau tak perlu menanyakannya, kau terlihat seperti sudah mengetahui semua.”

“Hahaha, aku kan hanya memastikan. Masih ada peluang kalau hipotesaku ternyata keliru.”

“Terserah kau sajalah.”

“Tadi aku juga bilang kalau teman-teman kelas mulai membicarakan rencananya masing-masing. Itu kami lakukan ketika kamu sering melamun di kelas. Dipanggil berkali-kali pun jarang menyahut.”

“Baik baik aku yang salah.”

Hening menghampiri kami berdua. Pikiranku melayang ke mana-mana hingga terpikirkan betapa tidak adilnya dunia ini. Lihat Kenji, bocah tercerdas yang pernah kutemui harus menerima nasib tidak bisa kuliah karena terbentur biaya. Sebaliknya, banyak anak yang menyia-nyiakan kesempatan kuliah dengan bermalasan. Sampai kapan sistem pendidikan kita akan seperti ini?

“Kamu sebaiknya nengok Gisel ke kamar deh. Pasti dia kepikiran.”

Aku menuruti nasehat Kenji dan masuk ke dalam kamar Gisel. Ia terlihat sedang meringkuk sambil memeluk guling. Aku duduk di pinggir tempat tidur, namun lidahku terasa kelu. Merasa tidak bisa mengucapkan apa-apa, aku memutuskan untuk ikut berbaring di sebelah Gisel. Seingatku, aku belum pernah tidur bersama adikku ini. Aku tahu ia belum tidur. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk merangkulnya dari belakang dengan harapan perasaanku akan sampai kepadanya, perasaan tentang betapa sedihnya aku jika membayangkan harus berpisah darinya.