Chapter 74 Mimpi Teman-Teman Akselerasi

Setelah jam tambahan sepulang sekolah berakhir, aku mulai memasukkan buku dan alat tulisku ke dalam tas. Sepulang sekolah ini, aku akan beristirahat sebentar sebelum kembali belajar. Tidak seperti teman-teman lain yang harus menjalani kursus hampir setiap hari di berbagai tempat, aku memutuskan untuk belajar sendiri, terkadang bersama Kenji yang juga tidak mengambil kursus. Bukan karena aku sombong dan merasa pintar, aku memang lebih nyaman belajar seperti ini.

Oleh karena itu, aku sering merasa kesal jika ada teman-teman yang bilang “kalian sih enak udah dari sananya pinter”. Walaupun yang mengucapkan teman sekelas yang sudah kuanggap saudara sendiri, aku benar-benar membenci kalimat yang menghakimi tersebut. Aku bisa di titik ini karena aku telah mati-matian belajar selama ini. Jika boleh jujur, kondisi kehidupanku selulus SD benar-benar tidak ideal bagi seorang anak untuk belajar. Akan tetapi, aku memutuskan untuk mendobrak situasi tersebut demi membuktikan kalau aku bisa. Sayang, tidak semua orang mengetahui perjuangan ini dan menganggap kepandaian yang kumiliki adalah anugerah, bukan hasil kerja keras.

“Ngelamun aja mas,” kata Rika membuyarkan lamunanku yang membuat aktivitas beres-beres mejaku terhenti.

“Ah iya, maaf Rika.”

“Hihihi, ngapain minta maaf Leon? Kamu enggak salah apa-apa kok.”

“Mau langsung pulang ke rumah? Atau ada jadwal les?”

“Ada sih, tapi masih satu jam lagi, makanya mau nunggu aja sebentar daripada balik dulu ke rumah. Tadi Sarah ngajakin makan, tapi aku masih kenyang.”

“Oh begitu,” timpalku tanpa harus tahu melontarkan pertanyaan apa lagi. Untuk mencari topik pembicaraan, aku memang tergolong payah.

“Kemarin jadi ketemu sama ayahmu?” tanya Rika.

“Ah iya, maaf lupa memberitahumu sebelumnya. Iya, dia dan paman jadi datang kemarin.”

“Kamu enggak ngamuk lagi, kan?”

“Syukurnya tidak.”

“Tuh, kan! Dibilangi juga apa, kamu pasti bisa nahan emosi di pertemuan kemarin.”

“Iya, terima kasih Rika. Berkat telepon denganmu pada malam sebelumnya, aku jadi lebih bisa menahan diri kemarin.”

“Sama-sama Leon, senang bisa membantu dirimu. Jadi, kali ini ada cerita apa?”

Maka aku menceritakan semua yang ayah ceritakan kepadaku kemarin, mulai dari siapa saja orang yang ada di foto tersebut, apa aktivitas mereka yang membuat nyawa mereka terancam, hingga nama orang di balik semua kejadian tersebut. Rika mendengarkan dengan penuh perhatian, membuatku benar-benar merasa dihargai.

“Setelah itu, paman bertanya aku akan melanjutkan studi ke mana.”

“Aku juga penasaran dengan itu! Kamu beberapa hari kemarin kayak susah banget buat dideketin, aku jadi enggak enak buat mau tanya.”

“Iya, maaf untuk itu.”

“Hahaha, kamu itu gampang banget minta maaf ya. Santai aja Leon, enggak apa-apa kok.”

“Seperti yang kau tahu, aku ingin menjadi seorang dokter. Ketika paman menanyakan pertanyaan itu, aku belum menyiapkan jawaban. Tapi Kenji malah menjawab kalau sebaiknya kuliah di UI. Menurut gimana?”

Kalimat terakhirnya mengubah raut muka Rika yang ceria menjadi sedikit muram. Kepalanya jadi menunduk dan matanya mengarah ke arah lantai. Dengan satu tarikan napas panjang, ia kembali ke mode cerianya.

“Aku setuju sih sama Kenji. Kamu selalu ingin menjadi yang terbaik, kan? Kalau begitu, kamu juga harus menempuh ilmu di tempat terbaik pula.”

“Kenji pun mengucapkan hal yang senada. Kau sendiri, rencana mau kuliah di mana?”

“Aku kuliah di sini aja Le, paling ambil jurusan Sastra Indonesia untuk ngasah kemampuan nulisku. Aku enggak tahu nilai rapotku bakal tembus jalur undangan atau enggak, tapi kalau enggak pun enggak masalah. Aku masih bisa ambil jalur tes tulis.”

Setelah itu, hening menghampiri kami sesaat. Aku bukan orang yang peka terhadap perasaan orang, namun logikaku mampu menuntunku untuk menemukan jawaban mengapa ekspresi wajah Rika tadi berubah sesaat.

“Kau merasa sedih ya karena ada kemungkinan kita akan terpisah jarak yang cukup jauh?”

Yang ditanya hanya menganggukkan kepalanya sembari menyembunyikan kepalanya. Rika terlihat sedang menyembunyikan air matanya yang mulai menggenang. Kami berdua telah mengalami banyak sekali hal bersama, sehingga perpisahan yang belum tentu terjadi pun akan membuat kami merasa sedih.

“Walaupun kita terpisah, aku akan tetep sayang kamu kok, Leon,” kata Rika sambil menghapus air mata yang mulai mengaliri pipinya. Melihat ia sedih seperti ini, aku pun mencoba menghiburnya.

“Aku bisa kuliah di sini juga, jadi kita masih bisa sering ketemu.”

“Jangan Leon, aku enggak setuju. Kamu harus bisa meraih mimpimu, jangan sampai aku jadi penghalangmu.”

“Aku tidak pernah menganggapmu sebagai penghalang, Rika. Aku juga sedih jika harus jauh dirimu.”

“Kalau begitu, tetaplah berusaha mengejar impian tersebut, meskipun itu harus membuatmu jauh dari aku, Kenji, bahkan Gisel. Enggak ada makan siang yang gratis, Leon. Semua ada harganya.”

Aku memutuskan untuk menganggukkan kepala. Setelah itu, aku menanyakan jurusan yang diinginkan oleh teman-teman lainnya. Sarah akan melanjutkan studi ke Jerman mengambil jurusan kedokteran hewan. Rika sendiri sebenarnya juga diajak ke sana oleh orangtua angkatnya, namun ia menolak tawaran tersebut dan memilih untuk kuliah di sini. Sang ketua kelas, Bejo, katanya ingin mencoba mendaftar Akpol. Pilihan yang tepat, mengingat Bejo sudah sering melatih tubuhnya sehingga rasanya ia akan dengan mudah lolos tes fisik.

Pierre, sebagai jenius komputer, tentu saja mengambil jurusan Informatika. Juna yang pendiam akan mengambil jurusan matematika sesuai dengan keahliannya. Ve, yang ibunya merupakan seorang kepala sekolah di tempatnya Gisel, memutuskan untuk menjadi seorang guru dengan mengambil antara Pendidikan Kimia atau Pendidikan Fisika. Gita ingin mengambil jurusan yang ada hubungannya dengan desain, namun belum memutuskan yang mana. Nita masih bimbang antara Sastra Inggris atau Sastra Indonesia. Rena sendiri kemungkinan besar akan mengambil jurusan Psikologi.

“Kau sendiri rencananya setelah lulus akan kerja sebagai apa, Rik?”

“Kalau bisa sih jadi penulis Le, hehehe. Tapi ya lihat nantilah, aku juga belum terlalu punya gambaran bakal kerja apa. Yang jelas, aku inginnya kerja di bidang yang ada kaitannya dengan tulis-menulis.”

“Teman-teman yang lain juga rasanya bakal kerja sesuai bidangnya masing-masing, ya.”

“Iya, Le. Kalau bisa kerja ya sesuai dengan jurusan kuliah yang diambil. Tenang, teman-teman kita bukan tipe orang yang hidup tanpa tujuan kok, hehehe.”

Senang mendengar bahwa teman-teman kelas telah memiliki impiannya masing-masing. Sedihnya, aku teringat akan Kenji yang memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah.

“Kalau Kenji sendiri sebenarnya mau ke mana sih, Le? Setiap kita tanya kok jawabannya selalu berkelit-kelit.”

“Sebaiknya kau tanyakan sendiri kepada yang bersangkutan.”

“Ih Leon, kan aku udah bilang kalau dia selalu berkelit-kelit kalau ditanya. Kamu kan teman terdekatnya, masa dia enggak cerita ke kamu?”

Karena tak pandai berbohong, aku pun memutuskan untuk diam dan pura-pura sibuk memeriksa isi tas. Rika yang tahu aku menyembunyikan sesuatu pun beralih ke mode cemberut dan buru-buru meninggalkanku sendirian di kelas. Maaf Rika, jika Kenji memutuskan untuk belum menceritakannya ke kalian, artinya aku juga belum punya hak untuk menceritakannya.

***

Menjelang Ujian Nasional, kami semakin dibuat sibuk dengan materi dan soal-soal yang harus kami kerjakan. Ujian Praktek juga mulai datang menghampiri di sela-sela try out yang dikeluarkan oleh pihak sekolah ataupun pemerintah. Tekanan-tekanan ini membuat kami semua menjadi stres. Bahkan, Rika yang sering terlihat ceria pun lebih sering terlihat dengan wajah yang bermuram durja. Hanya Kenji yang terlihat mampu mengendalikan diri dan berusaha menyebarkan energi positif yang ia miliki.

“Kau jadi minta pihak sekolah untuk tidak mendaftarkan namamu untuk jalur undangan?” tanyaku pada suatu hari sepulang sekolah.

“Jadi, Le. Bukannya mau sombong, tapi nilaiku di rapot rasanya akan membuatku bisa diterima di jurusan apapun. Kalau aku sampai diterima dan mengundurkan diri, dampaknya akan mengenai adik kelas kita. Oleh karena itu, keputusan ini adalah yang terbaik untuk semuanya.”

“Bagaimana tanggapan para guru?”

“Awalnya mereka keberatan dan berusaha mengubah pendirianku. Setelah aku jelaskan alasannya, akhirnya mereka menerima keputusan tersebut walaupun dengan sedikit berat hati.

“Aku tetap merasa sayang dengan kemampuan otak yang kau miliki.”

“Hohoho, tenang saja, Le. Meskipun aku tidak kuliah, aku berani jamin kalau kemampuanku enggak akan kalah dari kamu, wahai calon mahasiswa UI! Hahaha.”

Aku tersenyum kecil mendengar celetukan dari Kenji. Entah bagaimana caranya ia selalu bisa mengeluarkan energi positif seperti ini. Padahal, jika melihat kehidupan pribadinya, banyak sekali kejadian buruk yang menimpa dirinya. Hidup sebatang kara bagi anak seusia kami jelas bukan hal yang enteng. Berbeda denganku yang sempat memasuki masa-masa kegelapan, Kenji berhasil berdamai dengan itu semua dan tidak menyebar kesedihan yang ia derita. Bagiku, Kenji adalah seorang kawan yang sangat berharga.

“Apa kau punya cita-cita, Ken?”

“Tentu saja, Le. Aku selalu ingin menjadi guru. Tapi untuk menjadi seorang guru kan enggak harus kuliah dulu. Selama ini aku sudah menjadi guru buat Gisel, setelah ini aku akan menjadi guru untuk murid-murid yang lebih banyak lagi.”

“Memang cocok untukmu. Tapi Ken, jika aku diterima di UI, kita akan terpisah jauh.”

“Tentu saja Le, aku pun pasti akan sedikit banyak merasa kehilangan. Bagaimanapun, kamu sudah seperti saudaraku sendiri. Berpisah dengan saudara adalah hal yang menyedihkan.”

“Aku titip Gisel ya Kenji. Aku tidak mungkin membawanya ke tempatku.”

“Bukankah lebih baik ia dititipkan ke ayahnya sendiri?”

“Iya iya, aku tahu, aku masih mempertimbangkan kemungkinan tersebut. Tapi maksudku, aku ingin kau menjaga Gisel dan menjadi sosok kakak baginya. Dengan begitu, Gisel tidak akan terlalu merasa kehilangan.”

“Rasanya Gisel masih akan merasa sangat kehilangan sih, tapi baiklah kapten! Akan aku laksanakan perintahmu.”

“Mau mampir dulu ke dalam?” tanyaku kepadanya ketika kami berdua telah sampai di depan rumahku.

“Rasanya hari ini enggak dulu, Le. Ada beberapa materi hari ini yang ingin kudalami, dan belajar sendirian terkadang akan membuat kita bisa memahaminya dengan mudah.”

“Aku setuju. Baiklah kalau begitu, hati-hati Kenji.”

Kenji pun berjalan menuju rumahnya. Ada sebuah dorongan yang membuatku tetap berdiri di depan rumah memandangi Kenji berjalan. Lihatlah, di balik tubuh mungil yang terlihat ringkih itu tersimpan sebuah otak jenius dan hati yang mulia. Aku merasa bahwa orang-orang seperti Kenji sangatlah sulit ditemukan di dunia ini, sehingga aku bersyukur bisa bertemu dengan dirinya sekarang dan mengubah kehidupanku sepenuhnya.

Sebelum berbelok menuju rumahnya, Kenji terlihat berhenti sambil meletakkan tangannya di depan mulutnya seperti orang yang sedang batuk. Karena jarak, aku tidak bisa melihatnya begitu jelas. Yang jelas ia cukup lama berhenti di posisi itu sehingga terbesit pikiran untuk menghampirinya. Kenji menyadari kalau aku dari tadi masih memperhatikan dirinya dan ia melambaikan tangannya seolah sebagai tanda bahwa ia baik-baik saja. Entah mengapa perasaanku menjadi tidak enak karena sebuah peristiwa sepele seperti itu.